Anda di halaman 1dari 3

Menentukan Fishing Ground Dengan Teknologi Kelautan Melalui BOOST CENTRE

Oleh : Arief Febrianto, S.Pi, M.Si


Analysis BOOST Centre DKP PROV. KEP. BANGKA BELITUNG

Minimnya perusahaan perikanan yang mampu melengkapi armada penangkapannya dengan peralatan
berteknologi maju. umumnya hanya mengandalkan intuisi dan pengalaman.
Thailand, Filipina dan Malaysia dengan perangkat acoustic ( echosounder ) terpasang pada armada
penangkapannya, didukung informasi citra remote sensing (penginderaan jauh satelit), dapat
mengetahui dengan jelas dan pasti posisi (koordinat) lintang-bujur kawanan ikan secara up to date .
Padahal, untuk mengatasi masalah tersebut scientist (peneliti) dan ahli teknologi bidang kelautan dan
perikanan dengan dukungan pemerintah hanya perlu membangun satu instalasi bank data yang bekerja
men-download citra dari satelit atau stasiun yang berisi data klorofil-a dan data parameter oseanografi
(suhu, salinitas, arus, gelombang dan lain-lain) di perairan Indonesia, kemudian diolah menjadi peta
estimasi (pendugaan) fishing ground (daerah penangkapan ikan) yang up to date . Selanjutnya peta
estimasi tersebut langsung di-relay ke armada penangkapan.
Kolaborasi
Untuk keakuratan estimasi fishing ground, yang perlu dilakukan adalah mengkolaborasikan data
acoustic , citra satelit remote sensing dan data oseanografi.
• langkah dasarnya adalah dengan metode remote sensing satelit, secara ex situ kita harus menemukan
perairan yang memiliki klorofil-a (plankton).
• Langkah kedua adalah menganalisis hubungannya dengan data oseanografi (suhu, salinitas dan arus)
yang juga didapatkan dari satelit dan instrumen oseanografi yaitu argo float
• Kemudian hasil analisis data dari dua instrumen tersebut (satelit dan argo float) kemudian dibuat peta
estimasi fishing ground yang up to date . Selanjutnya peta estimasi tersebut di-relay ke armada
penangkapan, berbekal peta estimasi tersebut armada segera menuju lokasi yang telah diestimasi, lalu
mengkolaborasikan peta tersebut dengan data acoustic yang didapatkan dengan echosounder secara in
situ (langsung) pada perairan, kemudian dilakukan pemanfaatan (penangkapan) ikan.
Parameter oseanografi (data suhu, salinitas dan arus) sangat penting dianalisis untuk penentuan fishing
ground. Nontji (1987) menyatakan suhu merupakan parameter oseanografi yang mempunyai pengaruh
sangat dominan terhadap kehidupan ikan khususnya dan sumber daya hayati laut pada umumnya.
Sebagian besar biota laut bersifat poikilometrik (suhu tubuh dipengaruhi lingkungan) sehingga suhu
merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam mengatur proses kehidupan dan penyebaran
organisme (Nybakken, 1988).
Hampir semua populasi ikan yang hidup di laut mempunyai suhu optimum untuk kehidupannya, maka
dengan mengetahui suhu optimum dari suatu spesies ikan, kita dapat menduga keberadaan kelompok
ikan, yang kemudian dapat digunakan untuk tujuan perikanan (Hela dan Laevastu, 1970).
Salinitas adalah kadar garam seluruh zat yang larut dalam 1.000 gram air laut, dengan asumsi bahwa
seluruh Karbonat telah diubah menjadi oksida, semua Brom dan Iod diganti dengan Khlor yang setara
dan semua zat organik mengalami oksidasi sempurna (Forch et al ., 1902 dalam Sverdrup et al ., 1942).
Salinitas mempunyai peran penting dan memiliki kaitan erat dengan kehidupan organisme perairan
termasuk ikan, di mana secara fisiologis salinitas berkaitan erat dengan penyesuaian tekanan osmotik
ikan tersebut.
Arus sangat mempengaruhi penyebaran ikan, Laevastu dan Hayes (1981) menyatakan hubungan arus
terhadap penyebaran ikan adalah: Arus mengalihkan telur-telur dan anak-anak ikan pelagis dari
spawning ground (daerah pemijahan) ke nursery ground (daerah pembesaran) dan ke feeding ground
(tempat mencari makan); migrasi ikan-ikan dewasa disebabkan arus, sebagai alat orientasi ikan dan
sebagai bentuk rute alami; tingkah laku diurnal ikan dapat disebabkan arus, khususnya arus pasut; arus
secara langsung dapat mempengaruhi distribusi ikan-ikan dewasa dan secara tidak langsung
mempengaruhi pengelompokan makanan, atau faktor lain yang membatasinya (suhu); arus
mempengaruhi lingkungan alami ikan, maka secara tidak langsung mempengaruhi kelimpahan ikan
tertentu dan sebagai pembatas distribusi geografisnya.
Jadi, dengan mengetahui nilai suhu, salinitas dan arus pada perairan, akan dapat dianalisis fenomena
yang merupakan daerah potensi ikan.
Hydro Acoustic merupakan suatu teknologi pendeteksian bawah air dengan menggunakan suara atau
bunyi untuk melakukan pendeteksian, sebagaimana diketahui bahwa kecepatan suara di air adalah
1.500 m/detik, sedangkan kecepatan suara di udara hanya 340 m/detik, sehingga teknologi ini sangat
efektif untuk deteksi di bawah air.
Teknologi hydro-acoustic dengan perangkat echosounder paling tepat digunakan untuk pendugaan stok
ikan ( fish stock assessment ) pada suatu perairan, karena dapat memberikan informasi yang detail
mengenai:
• kelimpahan ikan (fish abundance),
• kepadatan (fish density),
• sebaran (fish distribution),
• posisi kedalaman renang (swimming layers)
• ukuran dan panjang (size and length),
• orientasi dan kecepatan renang,
• serta variasi migrasi diurnal-noktural ikan
(Donwill Panggabean ”Hydro-Acoustic: Teknologi canggih untuk eksplorasi dan menunjang eksploitasi
sumber daya kelautan serta perikanan.” Kompas 1/11/2004).
Remote Sensing biasa juga disebut Sistem Penginderaan Jauh merupakan suatu teknologi yang
memanfaatkan gelombang elektromagnetik untuk mendeteksi dan mengetahui karakteristik objek di
permukaan bumi, baik daratan maupun permukaan laut dan perairan tanpa melakukan kontak langsung
dengan objek yang diteliti tersebut (Lillesand dan Kiefer, 1979). Ada dua tipe Remote Sensing yaitu
pasif dan aktif, dengan metode ini dihasilkan citra satelit yang merupakan data dari klorofil-a, arus,
suhu dan posisi koordinat pada permukaan perairan yang dideteksi. Data citra dari satelit tersebut
diproses dan dianalisis, kemudian dikolaborasikan dengan data acoustic dan data dari instrumen argo
float untuk estimasi fishing ground.
Secara umum prinsip kerja satelit-satelit ini adalah dengan memancarkan pulsa gelombang
elektromagnetik ke arah permukaan laut di bawahnya lalu menerima kembali pantulannya (remote
sensing aktif). Waktu perjalanan gelombang elektromagnetik tersebut, dikonversi untuk mendapatkan
jarak antara satelit dan muka laut. Sejumlah koreksi harus diterapkan terhadap data mentah, sebelum
dapat diterapkan dalam bidang oseanografi.
Langkah Maju
Kini terbuka satu peluang untuk mewujudkan maksud dari uraian di atas, karena satu langkah maju
telah dilakukan Dinas Kelautan Perikanan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung melalui BOOST
(Babel Ocean Observation Science and Technologies) Centre yang merupakan pusat penelitian dan
pendidikan khususnya bidang Kelautan dan Perikanan di wilayah Bangka Belitung yang rencananya
didukung 14 titik stasiun pemantauan, di mana BOOST Centre ini melakukan pengumpulan data,
analisis data dan pemantauan sumber daya kelautan untuk memenuhi beberapa tujuan program kerja
yang antara lain:
• Fishing Ground Map;
• National Marine Data Center;
• Bangka Belitung Fisheries Information Center ;
• Bangka Belitung Marine Observing System dan lain-lain.
Instalasi ini men-download data dari stasiun yang nantinya akan terpasang di seluruh wilayah Bangka
Belitung, mengolah dan menganalisis untuk estimasi fishing ground, kemudian me-relay data berupa
estimasi fishing ground yang up to date tersebut beserta posisi koordinatnya melalui stasiun dan dapat
pula dimanfaatkan nelayan atau pelaku pelayaran melalui website dkp-babel.com