Anda di halaman 1dari 7

III TEORI

Diazepam : Valium, Stesolid, Mentalium


Di samping khasiat anksiolitis, relaksasi otot dan hipnotiknya, senyawa benzodiazepin ini (1961)
juga berdaya antikonvulsi. Berdasarkan khasiat ini, diazepam digunakan pada epilepsi dan dalam
bentuk injeksi i.v. terhadap status epilepticus. Pada penggunaan oral dan dalam klisma (retiole),
resorpsinya baik dan cepat tetapi dalam bentuk suppositoria lambat dan tidak sempurna. K.l. 97-
99% diikat pada protein plasma. Di dalam hati diazepam dibiotransformasi menjadi antara lain N-
desmetilidiazepam yang juga aktif dengan plasma-t1/2 panjang, antara 40-120 jam. Plasma-t1/2
diazepam sendiri berkisar antara 20-54 jam. Toleransi dapat terjadi terhadap efek
antikonvulsinya, sama seperti efek hipnotiknya. Efek sampingnya adalah lazim untuk kelompok
benzodiazepim, yakni mengantuk, termenung-menung, pusing dan kelemahan otot.
Dosis : 2-4 dd 2-10 mg dan i.v. 5-10 mg dengan perlan-lahan (1-2 menir), bila perlu diulang
estela 30 menit; pada anak-anak 2-5 mg. Pada status epilepticus dewasa dan anak di atas usia 5
tahun 10 mg (retiole); pada anak-anak di bawah 5 tahun 5 mg sekali. Pada konvulsi demam;
anak-anak 0,25 – 0,5 mg/kg berat badan (rectiole), bayi dan anak-anak di bawah 5 tahun 5 mg,
setelah 5 tahun 10 mg, juga secara prevent pada demam (tinggi). (Tan Hoan Tjay dan Kirana
Rahardja, 2007)
mekanisme kerja diazepam
Bekerja pada sistem GABA, yaitu dengan memperkuat fungsi hambatan neuron GABA.
Reseptor Benzodiazepin dalam seluruh sistem saraf pusat, terdapat dengan kerapatan yang tinggi
terutama dalam korteks otak frontal dan oksipital, di hipokampus dan dalam otak kecil. Pada
reseptor ini, benzodiazepin akan bekerja sebagai agonis. Terdapat korelasi tinggi antara aktivitas
farmakologi berbagai benzodiazepin dengan afinitasnya pada tempat ikatan. Dengan adanya
interaksi benzodiazepin, afinitas GABA terhadap reseptornya akan meningkat, dan dengan ini
kerja GABA akan meningkat. Dengan aktifnya reseptor GABA, saluran ion klorida akan terbuka
sehingga ion klorida akan lebih banyak yang mengalir masuk ke dalam sel. Meningkatnya jumlah
ion klorida menyebabkan hiperpolarisasi sel bersangkutan dan sebagai akibatnya, kemampuan sel
untuk dirangsang berkurang.

PROFIL FARMAKOKINETIKA

• t½ : Diazepam 20-40 jam, DMDZ 40-100 jam. Tergantung pada variasi


subyek. t½ meningkat pada mereka yang lanjut usia dan bayi neonatus serta penderita gangguan
liver. Perbedaan jenis kelamin juga harus dipertimbangkan.
• Volume Distribusi : Diazepam dan DMDZ 0,3-0,5 mL/menit/Kg. Juga
meningkat pada mereka yang lanjut usia.

• Waktu untuk mencapai plasma puncak : 0,5 – 2 jam.

• Distribusi dalam Darah : Plasma (perbandingan dalam darah) Diazepam 1,8


dan DMDZ 1,7.Ikatan Protein : Diazepam 98 – 99% dan DMDZ 97%. Didistribusi secara luas.
Menembus sawar darah otak. Menembus plasenta dan memasuki ASI.

• Jalur metabolisme : Oksidasi

• Dimetabolisme terutama oleh hati. Beberapa produk metabolismenya bersifat


aktif sebagai depresan SSP.

• Metabolit klinis yang signifikan : Desmetildiazepam (DMDZ) , temazepam &


oksazepam.

PENGGUNAAN TERAPI

Indikasi

Diazepam digunakan untuk memperpendek mengatasi gejala yang timbul seperti


gelisah yang berlebihan, diazepam juga dapat diinginkan untuk gemeteran, kegilaan dan
dapat menyerang secara tiba-tiba. Halusinasi sebagai akibat mengkonsumsi alkohol.
diazepam juga dapat digunakan untuk kejang otot, kejang otot merupakan penyakit neurologi.
dizepam digunakan sebagai obat penenang dan dapat juga dikombinasikan dengan obat lain.

Kontraindikasi

1. Hipersensitivitas
2. Sensitivitas silang dengan benzodiazepin lain
3. Pasien koma
4. Depresi SSP yang sudah ada sebelumnya
5. Nyeri berat tak terkendali
6. Glaukoma sudut sempit
7. Kehamilan atau laktasi
8. Diketahui intoleran terhadap alkohol atau glikol propilena (hanya injeksi)
EFEK SAMPING & PERHATIAN

Efek Samping

Sebagaimana obat, selain memiliki efek yang menguntungkan diazepam juga


memiliki efek samping yang perlu diperhatikan dengan seksama. Efek samping diazepam
memiliki tiga kategori efek samping, yaitu :

1. Efek samping yang sering terjadi, seperti : pusing, mengantuk


2. Efek samping yang jarang terjadi, seperti : Depresi, Impaired Cognition
3. Efek samping yang jarang sekali terjadi,seperti : reaksi alergi, amnesia,
anemia, angioedema, behavioral disorders, blood dyscrasias, blurred vision, kehilangan
keseimbangan, constipation, coordination changes, diarrhea, disease of liver, drug
dependence, dysuria, extrapyramidal disease, false Sense of well-being, fatigue, general
weakness, headache disorder, hypotension, Increased bronchial secretions, leukopenia,
libido changes, muscle spasm, muscle weakness, nausea, neutropenia disorder,
polydipsia, pruritus of skin, seizure disorder, sialorrhea, skin rash, sleep automatism,
tachyarrhythmia, trombositopenia, tremors, visual changes, vomiting, xerostomia.

Perhatian

Peringatan – peringatan yang perlu diperhatikan bagi pengguna diazepam sebagai


berikut :

1. Pada ibu hamil diazepam sangat tidak dianjurkan karena dapat sangat
berpengaruh pada janin. Kemampuan diazepam untuk melalui plasenta tergantung pada
derajat relativitas dari ikatan protein pada ibu dan janin. Hal ini juga berpengaruh pada
tiap tingkatan kehamilan dan konsentrasi asam lemak bebas plasenta pada ibu dan janin.
Efek samping yang dapat timbul pada bayi neonatus selama beberapa hari setelah
kelahiran disebabkan oleh enzim metabolism obat yang belum lengakp. Kompetisi antara
diazepam dan bilirubin pada sisi ikatan protein dapat menyebabkan hiperbilirubinemia
pada bayi neonatus.
2. Sebelum menggunakan diazepam harap kontrol pada dokter terlebih dahulu.
3. Jika berusia diatas 65 tahun dosis yang diberikan tidak boleh terlalu tinggi
karena dapat membahayakan jiwa pasien tersebut. Usia lanjut dapat mempengaruhi
distribusi, eliminasi dan klirens dari benzodiazepine.
4. Obat ini tidak diperbolehkan diminum pada saat membawa kendaraan karena
obat ini menyebabkan mengantuk.
5. Pada pasien yang merokok harus konsultasi pada dokter lebih dahulu sebelum
menggunakan diazepam, karena apabila digunakan secara bersamaan dapat menurunkan
efektifitas diazepam.
6. Jangan menggunakan diazepam apabila menderita glukoma narrowangle
karena dapat memperburuk penyakit
7. Katakan pada dokter jika memiliki alergi.
8. Hindarkan penggunaan pada pasien dengan depresi CNS atau koma, depresi
pernafasan, insufisiensi pulmonari akut,, miastenia gravis, dan sleep apnoea
9. Hati-hati penggunaan pada pasien dengan kelemahan otot serta penderita
gangguan hati atau ginjal, pasien lanjut usia dan lemah.
10. Diazepam tidak sesuai untuk pengobatan psikosis kronik atau obsesional
states.

INTERAKSI OBAT

Obat-obat :

1. Alkohol, antidepresan, antihistamin dan analgesik opioid – pemberian bersama


mengakibatkan depresi SSP tambahan.
2. Simetidin, kontrasepsi oral, disulfiram, fluoksetin, isoniazid, ketokonazol,
metoprolol, propoksifen, propranolol, atau asam valproat dapat menurunkan metabolisme
diazepam, memperkuat kerja diazepam.
3. Dapat menurunkan efisiensi levodopa.
4. Rifampicin atau barbiturat dapat meningkatkan metabolisme dan mengurangi
efektifitas diazepam.
5. Efek sedatifnya dapat menurun karena teofilin.
6. Ikatan plasma dari diazepam dan DMDZ akan direduksi dan konsentrasin obat
yang bebas akan meningkat, segera setelah pemberian heparin secara intravena.
7. Diazepam yang diberikan secara oral akan sangat cepat diabsorbsi stelah
pamberian metoclorpropamida secara intravena. Perubahan motilitas dari gastrointestinal
juga memberikan pengaruh terhadap proses absorbsi.
8. Benzodiazepin tidak digunakan bersamaan dengan intibitor protease-HIV, termasuk
alprazolam, clorazepate, diazepam, estazolam, flurazepam, dan triazolam.(aisyah
, 2007)
KONSENTRASI DAN RESPON OBAT
Hubungan antara konsentrasi obat dan respon obat
Respons terhadap dosis obat yang rendah biasanya meningkat sebanding langsung
dengan dosis. Namun, dengan meningkatnya dosis penigkatan respon menurun. Pada
akhirnya, tercapailah dosis yang tidak dapat meningkatkan respon lagi. Pada system ideal
atau system in vitro hubungan antara konsentrasi obat dan efek obat digambarkan dengan
kurva hiperbolik di mana E adalah efek yang diamati pada konsentrasi C, Emaks adalah
respons maksimal yang dapat dihasilkan oleh obat. EC50 adalah konsentrasi obat yang
menghasilkan 50% efek maksimal. Hubungan dosis dan respons bertingkat
1.Efikasi (efficacy). Efikasi adalah respon maksimal yang dihasilkan suatu obat. Efikasi
tergantung pada jumlah kompleks obat-reseptor yang terbentuk dan efisiensi reseptor yang
diaktifkan dalam menghasilkan suatu kerja seluler
2.Potensi.Potensi yang disebut juga kosentrasi dosis efektif, adalah suatu ukuran berapa bannyak
obat dibutuhkan untuk menghasilkan suatu respon tertentu. Makin rendah dosis yang dibutuhkan
untuk suatu respon yang diberikan, makin poten obat tersebut.Potensi paling sering dinyatakan
sebagai dosis obat yang memberikan 50% dari respon maksimal (ED50). Obat dengan ED50
yang rendah lebih poten daripada obat dengan ED50 yang lebih besar.
3.Slope kurva dosis-respons. Slope kurva dosis-respons bervariasi sari suatu obat ke obat lainnya.
Suatu slope yang curam menunjukkan bahwa suatu peningkatan dosis yang kecil menghasilkan
suatu perubahan yang besar . Dosis yang menimbulkan efek terapi pada 50% individu (ED50)
disebut juga dosis terapi median. Dosis letal median adalah dosis yang emnimbulkan kematian
pada 50% individu , sedangkan TD50 adalah dosis toksik 50%.
Indeks terapeutik
Indeks terapeutik suatu obat adalah rasio dari dosis yang menghasilkan toksisitas dengan dosis
yang menghasilkan suatu respon yang efektif dan diinginkan secara klinik dalam suatu populasi
individu(1)
Indeks terapeutik = dosis toksik/dosis efektif(1)
Indeks terapeutik bisa juga dituliskan sebagai berikut:
Indeks terapeutik = atau (2)

Jadi indeks terapeutik merupakan suatu ukuran keamanan obat, karena nilai yang besar
menunjukkan bahwa terdapat suatu batas yang luas/lebar diantara dosis-dosis yang efektif dan
dosis-dosis yang toksik
Indeks terapeutik ditentukan dengan mengukur frekuensi respons yang diinginkan dan
respons toksik pada berbagai dosis obat.Pada gambar berikut diperlihatkan indeks terapeutik yang
berbeda dari dua jenis obat

Suatu obat dengan indeks terapeutik yang besar. Penisilin aman diberikan dalam dosis
tinggi jauh melebihi dosis minimal yang dibutuhkan untuk mendapatkan respon yang
diinginkan(1)

Obat ideal menimbulkan efek terapi pada semua pasien tanpa menimbulkan efek toksik
pada seorang pasienpun, oleh karena itu, (2)
Indeks terapi = adalah lebih tepat
Dan untuk obat ideal : ≥ 1(aulia, 2009)

Reseptor Barbiturat
Barbiturat merupakan depresan yang lebih hebat daripada BDZ (benzodiazepin) karena pada
dosis yang lebih tinggi barbiturat meningkatkan konduktansi Cl- secara langsung dan
menurunkan sensivitas membran pascasinaps neuron terhadap transmitor eksitasi.
Dahulu barbiturat banyak digunakan, tetapi saat ini penggunaannya terbatas untuk efek hipnotik
dan ansiolitiknya karena barbiturat mudah menyebabkan ketergantungan psikologis dan fisik,
menginduksi enzim mikrosomal, dan overdosis yang relatif bisa terjadi tanpa efek jangka panjang
yang serius. Barbiturat (misalnya tiopental) tetap penting dalam anastesia dan tetap digunakan
sebagai antikonvulsan (misalnya fenobarbital). (M. J. Neal , 2006)
Uji toksisitas akut merupakan salah satu uji pra-klinik. Uji ini dilakukan
untuk mengukur derajat efek toksik suatu senyawa yang terjadi dalam waktu
singkat, yaitu 24 jam, setelah pemberiannya dalam dosis tunggal. Tolak ukur
kuantitatif yang paling sering digunakan untuk menyatakan kisaran dosis letal
atau toksik adalah dosis letal tengah (LD50).
Ketoksikan akut adalah derajat efek toksik suatu senyawa yang
terjadi secara singkat (24 jam) setelah pemberian dalam dosis tunggal.
Jadi yang dimaksud dengan uji toksisitas akut adalah uji yang dilakukan
untuk mengukur derajat efek suatu senyawa yang diberikan pada hewan
coba tertentu, dan pengamatannya dilakukan pada 24 jam pertama setelah
perlakuan dan dilakukan dalam satu kesempatan saja6,14
Data kuantitatif uji toksisitas akut dapat diperoleh melalui 2 cara,
yaitu dosis letal tengah (LD50) dan dosis toksik tengah (TD50). Namun
yang paling sering digunakan adalah dengan metode LD50.
Lethal Dose 50 adalah suatu besaran yang diturunkan secara statistik, guna
menyatakan dosis tunggal sesuatu senyawa yang diperkirakan dapat mematikan
atau menimbulkan efek toksik yang berarti pada 50% hewan coba setelah
perlakuan6,16
Pada umumnya, semakin kecil nilai LD50, semakin toksik senyawa
Tersebut
Beberapa hal yang dapat mempengaruhi nilai LD50 antara lain spesies,
strain, jenis kelamin, umur, berat badan, gender, kesehatan nutrisi, dan isi perut
hewan coba. Teknis pemberian juga mempengaruhi hasil, yaitu meliputi waktu
pemberian, suhu lingkungan, kelembaban dan sirkulasi udara. Selain itu,
kesalahan manusia juga dapat mempengaruhi hasil ini. Oleh karena itu, sebelum
melakukan penelitian, kita harus memperhatikan faktor – faktor yang
mempengaruhi hasil ini.(sulastry, 2009)
Dosis yang menimbulkan efek terapi pada 50% individu disebut dosis terapi median atau
dosis efektif median(ED50). ED50 ini biasa digunakan untuk menentukan indeks terapi,. Dalam
suatu farmakodinamik, indeks terapi suatu obat dapat dinyatakan dalm suatu rasio
LD50/ED50(Frank, 2005)
Daftar Pustaka
Aisyah.2009.profil diazepam.http://rgmaisyah.wordpress.com/2009/01/05/profil-
diazepam/ (diakses tanggal 20 maret 2011)
Aulia. 2009. farmakologi. http://4uliedz.wordpress.com/category/farmakologi/ (diakses
tanggal 20 maret 2011)
Frank, C. Lu. 2005. toksikologi dasar. Terjemahan oleh Edi Nugroho. Jakarta: UI Press
Neal, Michael J. 2006. At a Glance Farmakologi Medis. Edisi Kelima. Jakarta : Penerbit
Erlangga.
Sulastry, Feny. 2009. UJI TOKSISITAS AKUT YANG DIUKUR DENGAN
PENENTUAN LD50 EKSTRAK DAUN PEGAGAN (Centella
asiatica (L.) Urban) TERHADAP MENCIT BALB/C.
http://eprints.undip.ac.id/8068/1/Feni_Sulastry.pdf. (diakses tanggal 20 maret 2011)
Tjay, Tan Hoan dan Kirana Rahardja. (2007). Obat-Obat Penting : Khasiat, Penggunaan,
dan Efek-Efek Sampingnya. Edisi Keenam, Cetakan Pertama. Jakarta : PT. Elex Media
Komputindo
.