Anda di halaman 1dari 3

Awal hidup

Xaverius terlahir bernama Francisco de Jaso y Azpilcueta di Kastil Xavier (dalam


bahasa Spanyol modern Javier, bahasa Basque Xabier, bahasa Katalan Xavier) deka
t Sangüesa dan Pamplona, di Navarro, Spanyol. Lahir sebagai putera bangsawan Basqu
e di Navarro. Pada tahun 1512, Kastilla menginvasi Navarro. Banyak benteng yang
dihancurkan, termasuk kastil keluarga, dan tanah-tanah disita. Ayah Fransiskus m
eninggal dunia pada tahun 1515.
Pada usia 19 tahun, Fransiskus Xaverius masuk Universitas Paris, di mana dia lul
us dengan licence ès arts pada tahun 1530. Dia kemudian melanjutkan studi dalam bi
dang teologi di kota itu, dan berkenalan dengan Ignatius Loyola. Bersama dengan
Ignatius, Pierre Favre dan empat orang lainnya, Xaverius mengikat janji di Montm
artre dan membentuk Serikat Yesus pada 15 Agustus 1534, dengan mengucapkan kaul
kemiskinan dan kesucian.
Karya misi
Fransiskus Xaverius mengabdikan sebagian besar dari masa hidupnya bagi karya mis
i di negeri-negeri terpencil. Karena Raja Yohanes III (Bahasa Portugis: Dom João I
II) dari Portugal menghendaki agar para misionaris Yesuit berkarya di Hindia-Por
tugis, maka ia pun diutus ke sana pada tahun 1540. Ia bertolak dari Lisboa pada
tanggal 7 April 1541, bersama dua Yesuit lainnya dan Martin de Sousa raja muda y
ang baru , dengan menumpang kapal Santiago. Dari Bulan Agustus 1541 hingga bulan
Maret 1542, ia singgah di Mozambik, dan kemudian mencapai Goa, India, ibukota k
oloni Portugis, pada tanggal 6 Mei. Jabatan resminya di Goa adalah Nuncio Aposto
lik. Tiga tahun berikutnya digunakannya untuk berkarya di Goa.
Pada tanggal 20 September 1542, ia mengadakan perjalanan misinya yang pertama di
antara kaum Parava, para penyelam mutiara di sepanjang pesisir Timur India Sela
tan, sebelah Utara dari tanjung Comorin. Ia kemudian berusaha mengkristenkan Raj
a Travancore, di pesisir Barat, dan juga mengunjungi Sailan. Tidak puas akan has
il upayanya, di kembali ke Timur pada tahun 1545, dan menyusun rencana perjalana
n misi ke Makassar, di Pulau Sulawesi.
Setelah tiba di Malaka pada bulan Oktober tahun itu dan selama tiga bulan menung
gu kapal tumpangan ke Makassar yang tak kunjung tiba, akhirnya ia membatalkan tu
juan semula dari pelayarannya. Ia bertolak dari Malaka pada tanggal 1 Januari 15
46 dan berlabuh di Amboina, kemudian tingal di pulau itu hingga pertengahan bula
n Juni. Setelah itu ia mengunjungi pulau-pulau lainnya di Maluku, termasuk Terna
te dan Moro. Segera setelah hari raya Paskah tahun 1546, ia kembali ke pulau Amb
on, dan kemudian menuju Malaka. Misi di Ambon ini menjadi salah satu awal sejara
h Gereja Katolik di Indonesia. Selama rentang waktu tersebut, disebabkan kekecew
aannya terhadap para petinggi Goa, Santo Fransiskus menulis sepucuk surat kepada
Raja Dom João III meminta diberlakukannya Inkuisisi di Goa. Meskipun demikian, in
kuisisi Goa baru mulai dijalankan delapan tahun setelah kematiannya.
Pada bulan Desember 1547, di Malaka, Fransiskus Xaverius berjumpa dengan seorang
bangsawan Jepang dari Kagoshima bernama Anjiro. Anjiro telah mendengar kabar me
ngenai Fransiskus pada tahun 1545 dan berlayar dari Kagoshima ke Malaka dengan m
aksud bertemu dengannya. Anjiro melarikan diri dari Jepang setelah dituduh melak
ukan pembunuhan. Ia lalu mencurahkan isi hatinya kepada Fransiskus Xaverius, men
ceritakan riwayat hidupnya serta adat dan budaya tanah airnya. Anjiro adalah seo
rang Samurai sehingga dapat membantu Xaverius dengan keahliannya sebagai mediato
r dan penerjemah dalam karya misi di Jepang yang kini tampaknya semakin dapat te
rwujud. Saya bertanya [kepada Anjiro] apakah orang-orang Jepang bersedia menjadi
Kristen jika saya pergi bersamanya ke negeri itu, dan dia menjawab bahwa mereka
tidak akan serta-merta menjadi Kristen, namun terlebih dahulu akan mengajukan ba
nyak pertanyaan lalu melihat apa saja yang saya ketahui. Di atas segala-galanya,
mereka akan mencermati apakah hidup saya sesuai dengan ajaran saya Semua pedagan
g Portugis yang kembali dari Jepang meyakinkan saya bahwa dengan pergi ke sana s
aya dapat mempersembahkan lebih banyak pelayanan bagi Allah Tuhan kita, lebih da
ri pada di antara orang-orang India, karena orang Jepang adalah suatu ras yang a
mat mementingkan akal budi. Karena diyakinkan sedemikian rupa, Xaverius membaptis
Anjiro dengan nama baptis Paulo de Santa Fe dan mulai menyusun rencana suatu misi b
agi negeri yang belum lama ditemukan itu. Anjiro membantu Fransisku Xaverius men
erjemahkan beberapa paragraf ajaran Kristiani ke dalam fonem Bahasa Jepang yang
kemudian dihafal oleh Xaverius.
Ia kembali ke India pada bulan Januari 1548. Selama 15 bulan berikutnya ia disib
ukkan dengan berbagai perjalanan dan urusan-urusan administrasi di India. Karena
tidak senang dengan apa yang dianggapnya sebagai sikap hidup yang tidak-Kristian
i dari orang-orang Portugis, yang menghambat usaha penyebaran agama Kristen, ia b
erangkat dari Selatan ke Timur Benua Asia. Ia meninggalkan Goa pada tanggal 15 A
pril 1549, singgah di Malaka dan mengunjungi Kanton dengan ditemani Anjiro, dua
pria Jepang lain, Pastur Cosme de Torrès dan Bruder Juan Fernandez. Ia juga membaw
a serta hadiah-hadiah bagi "Raja Jepang" karena ia beniat memperkenalkan diri se
bagai Nuncio Apostolik.
Xaverius mencapai Jepang pada tanggal 27 Juli 1549, namun baru pada tanggal 15 A
gustus ia menginjakkan kakinya di Kagoshima, pelabuhan utama provinsi Satsuma di
Pulau Kyushu. Ia disambut dengan ramah-tamah dan dijamu oleh keluarga Anjiro hi
ngga bulan Oktober 1550. Dari Oktober hingga Desember 1550, ia berdiam di Yamagu
chi. Tak lama sebelum Natal, ia menuju Kyoto namun gagal bertemu Kaisar. Ia kemb
ali ke Yamaguchi pada bulan Maret 1551 dan diizinkan berkhotbah oleh daimyo prov
insi itu. Akan tetapi karena kurang lancar berbahasa Jepang, ia hanya membacakan
dengan lantang terjemahan katekismus. Xaverius diterima dengan baik oleh para r
ahib Shingon karena ia menggunakan kata Dainichi untuk Allah Kristen. Begitu Xaver
ius mendalami makna religius dari kata itu, ia menggantinya dengan kata Deusu dari
kata Latin dan Portugis Deus . Para rahib pun sadar, Xaverius tengah menyebarkan s
uatu agama tandingan.
Seiring berjalannya waktu, kehadirannya di Jepang dapat dianggap membuahkan hasi
l yakni dibentuknya jemaat-jemaat Kristiani di Hirado, Yamaguchi dan Bungo. Xave
rius berkarya lebih dari dua tahun di Jepang dan menyaksikan lahirnya Yesuit-Yes
uit penerusnya. Ia kemudian memutuskan untuk kembali ke India. Dalam pelayaranny
a itu, suatu badai dahsyat memaksanya untuk singgah di sebuah pulau dekat Guangz
hou, Tiongkok tempat ia berjumpa dengan Diégo Pereira, seorang pedagang kaya-raya,
sabahat lamanya dari Cochin, yang memperlihatkan padanya sepucuk surat dari ora
ng-orang Portugis yang dipenjarakan di Guangzhou yang minta agar seorang duta be
sar Portugal diutus kepada Kaisar Tiongkok guna membahas nasib mereka. Selanjutn
ya dalam pelayarannya itu, ia singgah di Malaka pad tanggal 27 Desember 1551, la
lu sampai di Goa pada bulan Januari 1552.
Pada tanggal 17 April ia berlayar bersama Diégo Pereira, meninggalkan Goa dengan m
enumpang kapal Santa Cruz menuju Tiongkok. Ia memperkenalkan diri sebagai Nuncio
Apostolik dan Pereira sebagai duta besar dari Raja Portugal. Tak lama setelah b
erlayar, ia baru menyadari bahwa surat penunjukannya sebagai Apostolic Nuncio te
lah tertinggal. Sampai di Malaka, ia digugat oleh Capitan Alvaro de Ataide de Ga
ma yang kini memegang kendali penuh atas bandar itu. Sang capitan menolak untuk
mengakui gelar Nuncio-nya, meminta Pereira mengundurkan diri dari jabatannya seb
agai duta besar, mengganti para awak kapal, serta menuntut agar hadiah-hadiah ba
gi Kaisar Tiongkok ditinggalkan di Malaka.
Di awal September 1552, Santa Cruz mencapai pulau Shangchuan di Tiongkok, 14 km
jauhnya dari pesisir Selatan daratan Tiongkok, dekat Taishan, Guangdong, 200 km
ke arah Barat Daya dari tempat yang kelak bernama Hong Kong. Saat itu, ia hanya
ditemani seorang murid Yesuit, Alvaro Ferreira, seorang pria Tionghoa bernama An
tonio dan seorang pelayan Malabar bernama Khristoforus. Sekitar pertengahan Nove
mber, ia mengirim sepucuk surat yang dalam isinya ia berkata bahwa seorang pria
sudah setuju untuk membawanya ke daratan Tiongkok jika dibayar dengan sejumlah b
esar uang. Dengan mengirim pulang Alvaro Ferreira, ia tinggal seorang diri bersa
ma Antonio.
Wafat
Pada tanggal 21 November, ia pingsan seusai merayakan Misa. Ia meninggal dunia d
i pulau itu pada tanggal 2 Desember 1552, pada umur 46 tahun, tanpa pernah mengi
njakkan kakinya di daratan utama Tiongkok.
Awalnya ia dimakamkan di sebuah pantai di Shangchuan. Jenazahnya yang masih utuh
dipindahkan dari pulau itu pada bulan Februari 1553 dan disemayamkan sementara
waktu di gedung gereja Santo Paulus di Malaka pada tanggal 22 Maret 1553. Sebuah
makam terbuka dalam gereja itu saat ini menandai tempat jenazah Xaverius pernah
disemayamkan. Pereira tiba dari Goa pada tanggal 15 April 1553, dan tak lama ke
mudian ia memindahkan jenazah Xaverius ke rumahnya.
Pada tanggal 11 Desember 1553, jenazah Xaverius kembali dibawa berlayar, diangku
t dengan sebuah sampan berhias. Peti jenazah ditempatkan dalam sebuah kabin dike
lilingi tirai sutera di tengah-tengah lilin-lilin bernyala dan wewangian yang di
bakar, diiringi lambaian perpisahan dari seisi bandar Malaka. Ketika melewati se
lat antara Pulau Penang dan pantai, sampan itu sempat kandas pada gugus pasir na
mun tiba-tiba bertiup angin kencang yang mendorongnya kembali ke perairan dalam.
Setelah singgah sebentar di Sailan, kemudian Cochin, akhirnya jenazah Xaverius
tiba di Goa pada tanggal 15 Maret 1554.
Keesokan harinya seluruh masyarakat mengiringi pengantaran jenazah orang kudus i
tu ke katedral. Peti jenazah dibuka dan setelah 16 bulan isinya masih saja segar
. Selama tiga hari dan tiga malam berikutnya masyarakat diijinkan memberikan pen
ghormatan terakhir. Ribuan pria dan wanita menciumi kaki jenazah Xaverius dan ba
nyak mujizat dilaporkan terjadi. Jenazah yang tidak membusuk itu kini disemayamk
an di Basilika Bom Jésus di Goa, dalam sebuah peti perak pada tanggal 2 Desember 1
637. Peti perak itu diturunkan untuk dilihat oleh umum hanya dalam penyelenggara
an pameran umum yang berlangsung selama 6 minggu, tiap 10 tahun sekali, terakhir
kali diselenggarakan pada tahun 2004. Ada silang pendapat mengenai bagaimana je
nazah Xaverius tetap utuh sedemikian lama. Beberapa orang berpendapat bahwa jena
zahnya telah dimumikan, sementara yang lain menganggapnya sebagai suatu Mujizat.
Lengan depan (siku hingga pergelangan) sebelah kanan, yang digunakan Xaverius un
tuk memberkati dan membaptis orang, dipisahkan oleh Prefektur Jenderal Serikat Y
esus Claudio Acquaviva pada tahun 1614 dan kini dipamerkan dalam sebuah relikuar
ium (Tempat penyimpanan Relikui) perak dalam gereja Il Gesù[1], gereja utama Yesui
t di Roma.
[sunting] Pengakuan
Fransiskus Xaverius diakui sebagai seorang santo oleh Gereja Anglikan dan Katoli
k. Ia dibeatifikasi oleh Sri Paus Paulus V pada tanggal 25 Oktober 1619, dan dik
anonisasi oleh Sri Paus Gregorius XV pada tanggal 12 Maret 1622, bersamaan denga
n kanonisasi Ignatius Loyola.
Sophia University di Tokyo, Jepang didirikan pada tahun 1913 untuk menghormatiny
a .
Pada tahun 1839, Theodore James Ryken mendirikan Xaverian Brothers, atau Kongreg
asi Santo Fransiskus Xaverius (CFX). Kini, sebanyak 20 kolose atau SMU merupakan
Xaverian Brothers Sponsored Schools (XBSS).
Dia adalah santo pelindung Australia, Kalimantan, Tiongkok, Hindia Timur, Goa, J
epang, dan Selandia Baru. Perayaan peringatannya ditetapkan tiap tanggal 3 Desem
ber.
Banyak gereja di seluruh dunia dinamakan menurut namanya. Salah satunya adalah G
ereja Katedral Santo Fransiskus Xaverius, Keuskupan Amboina, Ambon. Basilika San
to Fransiskus Xaverius di Dyersville, Iowa adalah salah satu dari 52 basilika mi
nor di Amerika Serikat dan satu-satunya yang berada di luar kawasan metropolitan
.
Ada pula sebuah universitas terkenal di Kanada yang dinamakan menurut namanya di
Antigonish, Nova Scotia yakni St. Fransiskus Xaverius University.
Javierada adalah ziarah tahunan dari Pamplona ke Xavier yang dimulai sejak tahun
1940-an.
Xaverius adalah salah satu dari sedikit nama yang dimulai dengan huruf X. Fransi
skus Xaverius umum digunakan sebagai nama diri, di Indonesia biasanya disingkat
F.X. "Xavier" adalah nama laki-laki yang populer di Portugal, Brazil, Spanyol da
n negara-negara berbahasa Spanyol, Perancis dan Belgia. Di Austria dan Bavaria n
ama ini ditulis Xaver (diucap Ksaber dan kerap mengikuti nama Francis yakni Franz-
Xaver)