MODEL CEMARAN SENG (Zn) DI PERAIRAN SUNGAI DENGAN METODE UPWIND DAN METODE QUICKEST BERDASARKAN PEMBAGANAN ABBOT-IONESCHU

(Studi Kasus : Kaligarang Semarang) Taufiqur Rohman*), Syafrudin**), Badrus Zaman**) ABSTRAK
Kali Garang kondisinya sangat dipengaruhi oleh lingkungan sekitar sungai. Kali Garang juga mempunyai fungsi sebagai buangan limbah industri yang terdapat di sekitar bantaran sungai. Seng (Zn) adalah salah satu polutan logam berat yang terdapat di Kali Garang. Untuk mengetahui besarnya cemaran dan cara yang lebih sederhana dalam proses pemantauan dapat dilakukan dengan membuat model cemaran di perairan sungai tersebut. Penelitian model cemaran ini menggunakan model matematis dengan metode Upwind dan metode Quickest berdasarkan pembaganan Abbot-Ioneschu, kemudian diaplikasikan ke dalam software Delphi 6. Hasil dari penelitian yang dilakukan pada saat pengukuran di sepanjang Kali Garang, diketahui bahwa kandungan Zn di lokasi KG1 (Jembatan Pramuka) sebesar 0,715 – 0,806 mg/l, KG2 (Jembatan Tinjomoyo) sebesar 0,611 – 0,911 mg/l, dan KG3 (Jembatan Tugu Suharto) sebesar 0,826 – 1,420 mg/l. Sedangkan hasil metode Upwind untuk rentang waktu t = 0 – 18 jam mempunyai konsentrasi Zn sebesar 0,561 – 1,495 mg/l dengan nilai kesalahan terhadap data pengukuran masing-masing sebesar 0 % dan hasil metode Quickest untuk rentang waktu t = 0 – 18 jam mempunyai konsentrasi Zn sebesar 0,611 – 1,356 mg/l dengan nilai kesalahan terhadap data pengukuran masing-masing sebesar 0 %. Kata kunci : Kali Garang, Seng (Zn), Pembaganan Abbot-Ioneschu, Upwind, Quickest PENDAHULUAN Sungai merupakan suatu ekosistem yang di dalamnya terjadi suatu proses interaksi antara faktor-faktor biotik, abiotik, dan manusia yang bisa mengakibatkan terjadinya pencemaran. Pencemaran air dapat terjadi akibat adanya unsur/zat lain yang masuk ke dalam air, sehingga menyebabkan kualitas air menjadi turun. Seperti yang terjadi di Kali Garang, ini dibuktikan dari hasil penelitian tanggal 8 Juni 2009 yang dilakukan BLH Provinsi Jawa Tengah menunjukkan bahwa hasil sampling air yang diambil di Tugu Suharto diketahui tercemari seng (Zn) sebesar 0,144 mg/l. Identifikasi cemaran seng (Zn) di permukaan Kali Garang dapat digambarkan dengan model. Model adalah sebuah objek yang kecil biasanya berdasarkan skala, dimana objek yang dimodelkan mempunyai skala yang lebih besar. Model cemaran air merupakan salah satu keterkaitan dalam proses manajemen yang lebih besar. Sebuah model cemaran air biasanya terdiri dari serangkaian matematika yang berkaitan satu atau lebih parameter cemaran air. Model cemaran air dapat digunakan untuk memprediksi bagaimana perubahan proses parameter cemaran air tertentu (ADEM, 2001). Tujuan penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui besar konsentrasi dan identifikasi cemaran seng (Zn) di sepanjang Kali Garang dan mengaplikasikan permodelan dengan menitikberatkan pada cemaran seng (Zn) yang ada di Kali Garang. Model matematis yang digunakan adalah metode Upwind dan metode Quickest berdasarkan pembaganan AbbotIoneschu. Hasil hubungan matematis tersebut, kemudian diaplikasikan ke dalam software Delphi 6. Data Input Data input berasal data primer. Input pada model hidrodinamika untuk simulasi model adalah data kecepatan arus (U) sedangkan input untuk model

*) Mahasiswa Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Diponegoro **) Dosen Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

1

2005) Persamaan Model a.15..2...t) yang dianggap sebagai fungsi kontinu. U∆t ≤1 ∆x C n +1 − C n j j ∆t +U C n+1 − C n j j ∆x =0 dimana  U∆ t  n U∆ t n C n+1 =  1 + C j +1 C j − j ∆x  ∆x  Cr = C n +1 j U∆t maka ∆x = (1 + Cr ) C − CrC n j n j +1 dimana j =1. nilai Cr < 1. 1967 (Cahyono.. Metode statistik yang dapat digunakan pada proses verifikasi model adalah rata-rata kesalahan relatif (Mean Relative Error/MRE). n c.509x30/100 = 0. n Syarat Stabilitas Model Syarat stabilitas untuk model cemaran metode Upwind dan metode Quickest dengan menggunakan syarat berdasarkan bilangan Courant. Dalam proses verifikasi ini. maka model ditolak *) Mahasiswa Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Diponegoro **) Dosen Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Diponegoro 2 . 1997).1993 dalam Syafrudin. maka model diterima Jika MRE > 10 %. Persamaan Dasar Model Cemaran Polutan ∂ C ∂ C +U =0 ∂ t ∂ x b. ditentukan nilai ∆t = 30 detik dan ∆x = 100 meter dengan Umax (Kecepatan maksimum dari hasil studi) = 0. Metode Quickest C n +1 − C n j j ∆t +U C n − C n−1 j j ∆x [x − C] 100 % x n RE MRE = ∑ n 0 RE = Keterangan: RE = Relative Error (%) MRE = Mean Relative Error (%) C = data hasil simulasi X = data lapangan n = jumlah lapangan =0 Jika MRE < 10 %. hanya dilihat sejauh mana kemiripan hasil simulasi terhadap data lapangan.3. dimana : Cr = U∆t ∆x sehingga nilai stabilitasnya menjadi Cr = Gambar 1 Metode beda hingga pembaganan Abbot-Ioneschu (sumber :Kodoatie. sehingga nilai kestabilannya memenuhi syarat.transpor adalah konsentrasi polutan sebagai nilai awal (initial condition).509 meter/detik adalah: Cr = 0. t ∆t n+1 n ∆t n-1 j-1 ∆x j j+1 ∆x x C n +1 = j U∆ t n  U∆ t  n C j −1 +  1 − C j dimana ∆x ∆x   U∆t Cr = maka ∆x C n +1 = CrC n−1 + (1 − Cr ) C n j j j dimana j = 2. Pembaganan Implisit AbbottIoneschu Bentuk pembaganan ini pertama kali diusulkan oleh Abbott-Ioneschu. Verifikasi Model Verifikasi model adalah proses membandingkan data lapangan dan hasil simulasi menggunakan cara statistik.. Menurut Makrup (2001) jaring perhitungan adalah satu setting terbatas dari titik dalam domain pada bidang datar (x.. Metode Upwind Oleh karena itu.

sebagai berikut : Ratio Skewness = (nilai skewness / standar error skewness) Ratio Kurtosis = (nilai kurtosis / standar eror kurtosis) METODOLOGI Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus.Uji Distribusi Normal Uji distribusi normal digunakan untuk mengetahui bahwa distribusi data variabel normal. Berikut ini adalah diagram alir metodologi model cemaran seng (Zn) di perairan Kali Garang Semarang : M u la i P e r siap an P e n e n tu an L o k asi Sa m p lin g P e n gu m p u lan D a ta D ata P r im e r • K o n se n tr a si Zn • K e c e p a tan (U) n gai su D e sa in M o d e l M e to d e U p w in d M e to d e Q u ic k e st C e k K e sta b ila n T id a k Ya V e r ifik asi M o d e l A n a lisis d a n P e m b a h a san K e sim p u la n Se le sa i Gambar 2 Diagram alir metodologi *) Mahasiswa Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Diponegoro **) Dosen Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Diponegoro 3 . Menurut Hadi (1986) bahwa studi kasus berarti penelitian terhadap kasus yang hanya berlaku pada waktu tertentu dan hasilnya belum tentu sama untuk daerah lain meskipun dalam kasus yang sama. Adapun langkah yang digunakan adalah dengan ratio skewness dan ratio kurtosis.

688 KG3 0.228 1.911 0.5 Konsentrasi Zn (mg/l) 1 0. yaitu sepanjang 9537 meter (mulai dari jembatan pramuka sampai jembatan tugu suharto) – Materi analisis adalah Zn di Kali Garang – Perhitungan model cemaran Zn diselesaikan dengan metode Upwind.Desain Model Dalam model digunakan asumsi dan batasan sebagai berikut: – Penelitian dilakukan di Kali Garang Semarang dengan mengabaikan anak-anak sungai yang masuk ke alirannya – Permodelan ini digunakan untuk mengidentifikasi cemaran Zn sepanjang Kali Garang berdasarkan diskrit yang sudah ditentukan.002 L o k a s i Sa m p l in g Gambar 3 Konsentrsi Zn di masingmasing titik sampel (Sumber: Data Primer.715 0. 2010) *) Mahasiswa Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Diponegoro **) Dosen Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Diponegoro 4 .5 0 K G1 t=0 t=6 t=12 t=18 0.826 1. dan metode Quickest berdasarkan pembaganan AbbottIonescchu – Penetapan variabel syarat stabilitas aliran dengan memberikan nilai selang jarak (dx) yaitu 100 meter. – Permodelan dilakukan dengan software Delphi 6 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Sampling Hasil sampling parameter fisik dan kimia dapat ditampilkan pada grafik berikut di bawah ini: Keterangan: 1.611 0.916 0.806 K G2 0. dan nilai selang waktu (dt) yaitu 30 detik.420 1.980 0.728 0.

00 wib t = 6 . 2006).4 1. secara tidak langsung membantu proses aerasi terhadap polutan di air sungai.6 1. Hal ini dikarenakan pengaruh yang berasal dari buangan industri dan masukan polutan dari hulu sungai Kreo yang terdapat tempat pembuangan akhir sampah. pada pukul 10. Dengan demikian dapat diketahui bahwa sumber logam berat dari hasil buangan industri yang berasal dari industri pelapisan logam yang terdapat di bantaran Kali Garang. pukul 22. Hasil Model Dengan Metode Upwind Hasil model dengan metode Upwind dapat dilihat pada grafik berikut ini: Has il Metode Upwin d 1. yang menyatakan bahwa morfologi Kali Garang diketahui agak bergelombang. Menurut Palar (2004). Sumber-sumber alamiah yang masuk ke dalam badan perairan dapat berupa pengikisan dari batu mineral yang banyak di sekitar perairan.00 wib t = 18 . Sedangkan lokasi di KG3 memiliki konsentrasi Zn paling tinggi diantara masing-masing tempat sampel yang lain. Pramuka KG2 = Jembatan Tinjomoyo KG3 = Jembatan Tugu Suharto t = 0 .8 0. pukul 16. pukul 16. Kenyataan ini mungkin dipengaruhi oleh kecepatan aliran sungai dan adanya proses aerasi di air sungai. partikel-partikel dari udara.4 1. pukul 04.4 0. partikel-partikel dari udara.00 wib t = 6 . Hal ini sesuai dengan pendapat Moerniati (2003).00 wib t = 12 . Dengan demikian dapat diketahui bahwa sumber logam berat dari hasil buangan industri yang berasal dari industri pelapisan logam yang terdapat di bantaran Kali Garang. yang menyatakan bahwa morfologi Kali Garang diketahui agak bergelombang. Kondisi itu. secara tidak langsung membantu proses aerasi terhadap polutan di air sungai. Hasil Model Dengan Metode Upwind Hasil model dengan metode Upwind dapat dilihat pada grafik berikut ini: Has il Meto de Upwin d 1.00 wib Konsentrasi Zn di lokasi KG1 terjadi penurunan hingga lokasi KG2.6 1. Pramuka KG2 = Jembatan Tinjomoyo KG3 = Jembatan Tugu Suharto t = 0 .2 t=0 t=1 t=2 t=3 t=4 t=5 t=6 t=8 t=9 t = 10 t = 11 0. Kenyataan ini mungkin dipengaruhi oleh kecepatan aliran sungai dan adanya proses aerasi di air sungai. 2006).8 0.6 J a rak (m eter) J arak (m e ter) *) Mahasiswa Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Diponegoro **) Dosen Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Diponegoro 5 t = 18 . Kondisi itu. Menurut Palar (2004).00 wib t = 12 .KG1 = Jembatan Jln. serta banyak terdapat batu pada bagian hulunya. dan juga hujan (Maslukah.2 t=0 t=1 t=2 t=3 t=4 t=5 t=6 t=7 t=8 t=9 t = 10 t = 11 0. pukul 04. Sumber-sumber alamiah yang masuk ke dalam badan perairan dapat berupa pengikisan dari batu mineral yang banyak di sekitar perairan.2 0 0 400 800 1200 1600 2000 2400 2800 3200 3600 4000 4400 4800 5600 6045 6800 7200 7600 8000 8400 9200 9537 5200 6400 8800 t = 12 t = 13 t = 14 t = 15 t = 16 t = 17 t = 18 t=7 KG1 = Jembatan Jln. pada pukul 10.4 0.6 Konsentrasi (mg/lt) 1 1 0. Sedangkan lokasi di KG3 memiliki konsentrasi Zn paling tinggi diantara masing-masing tempat sampel yang lain.00 wib t = 18 . pukul 22. dan juga hujan (Maslukah. Hal ini sesuai dengan pendapat Moerniati (2003). menyatakan bahwa beberapa kasus pencemaran menunjukkan pelepasan logam berat dalam air permukaan dapat berasal dari sumbersumber alamiah dan dari aktivitas yang dilakukan manusia.00 wib Konsentrasi Zn di lokasi KG1 terjadi penurunan hingga lokasi KG2.2 0 0 400 800 1200 1600 2000 2400 2800 3200 3600 4000 4400 4800 5600 6045 6800 7200 7600 8000 8400 9200 9537 5200 6400 8800 t = 12 t = 13 t = 14 t = 15 t = 16 t = 17 Konsentrasi (mg/lt) 0. serta banyak terdapat batu pada bagian hulunya. menyatakan bahwa beberapa kasus pencemaran menunjukkan pelepasan logam berat dalam air permukaan dapat berasal dari sumbersumber alamiah dan dari aktivitas yang dilakukan manusia. Hal ini dikarenakan pengaruh yang berasal dari buangan industri dan masukan polutan dari hulu sungai Kreo yang terdapat tempat pembuangan akhir sampah.

Pramuka KG2 = Jembatan Tinjomoyo KG3 = Jembatan Tugu Suharto t = 0 . serta banyak terdapat batu pada bagian hulunya. pukul 04. Sumber-sumber alamiah yang masuk ke dalam badan perairan dapat berupa pengikisan dari batu mineral yang banyak di sekitar perairan. pada pukul 10. Sumber-sumber alamiah yang masuk ke dalam badan perairan dapat berupa pengikisan dari batu mineral yang banyak di sekitar perairan. 2006).8 0. partikel-partikel dari udara. dan juga hujan (Maslukah. yang menyatakan bahwa morfologi Kali Garang diketahui agak bergelombang.4 1.00 wib Konsentrasi Zn di lokasi KG1 terjadi penurunan hingga lokasi KG2.2 0 0 400 800 1200 1600 2000 2400 2800 3200 3600 4000 4400 4800 5600 6045 6800 7200 7600 8000 8400 9200 9537 5200 6400 8800 t = 12 t = 13 t = 14 t = 15 t = 16 t = 17 t = 18 t=7 KG1 = Jembatan Jln. partikel-partikel dari udara. Hal ini dikarenakan pengaruh yang berasal dari buangan industri dan masukan polutan dari hulu sungai Kreo yang terdapat tempat pembuangan akhir sampah.00 wib t = 6 . Dengan demikian dapat diketahui bahwa sumber logam berat dari hasil buangan industri yang berasal dari industri pelapisan logam yang terdapat di bantaran Kali Garang. pukul 16.00 wib Konsentrasi Zn di lokasi KG1 terjadi penurunan hingga lokasi KG2. Sedangkan lokasi di KG3 memiliki konsentrasi Zn paling tinggi diantara masing-masing tempat sampel yang lain.00 wib t = 18 . dan juga hujan (Maslukah.8 0. Hal ini sesuai dengan pendapat Moerniati (2003). Sedangkan lokasi di KG3 memiliki konsentrasi Zn paling tinggi diantara masing-masing tempat sampel yang lain. secara tidak langsung membantu proses aerasi terhadap polutan di air sungai. Pramuka KG2 = Jembatan Tinjomoyo KG3 = Jembatan Tugu Suharto t = 0 . Hasil Model Dengan Metode Upwind Hasil model dengan metode Upwind dapat dilihat pada grafik berikut ini: Has il Metode Upwin d 1. serta banyak terdapat batu pada bagian hulunya.6 1. Kondisi itu. Hal ini sesuai dengan pendapat Moerniati (2003).4 0. pukul 22. Kenyataan ini mungkin dipengaruhi oleh kecepatan aliran sungai dan adanya proses aerasi di air sungai. Menurut Palar (2004).2 t=0 t=1 t=2 t=3 t=4 t=5 t=6 t=7 t=8 t=9 t = 10 t = 11 0. Menurut Palar (2004). yang menyatakan bahwa morfologi Kali Garang diketahui agak bergelombang. Hasil Model Dengan Metode Upwind Hasil model dengan metode Upwind dapat dilihat pada grafik berikut ini: Has il Meto de Upwin d 1.00 wib t = 6 . Kondisi itu. Hal ini dikarenakan pengaruh yang berasal dari buangan industri dan masukan polutan dari hulu sungai Kreo yang terdapat tempat pembuangan akhir sampah. menyatakan bahwa beberapa kasus pencemaran menunjukkan pelepasan logam berat dalam air permukaan dapat berasal dari sumbersumber alamiah dan dari aktivitas yang dilakukan manusia. Kenyataan ini mungkin dipengaruhi oleh kecepatan aliran sungai dan adanya proses aerasi di air sungai.6 1.2 t=0 t=1 t=2 t=3 t=4 t=5 t=6 t=8 t=9 t = 10 t = 11 0. pukul 04. secara tidak langsung membantu proses aerasi terhadap polutan di air sungai.00 wib t = 12 .4 0.6 Konsentrasi (mg/lt) 1 1 0.2 0 0 400 800 1200 1600 2000 2400 2800 3200 3600 4000 4400 4800 5600 6045 6800 7200 7600 8000 8400 9200 9537 5200 6400 8800 t = 12 t = 13 t = 14 t = 15 t = 16 t = 17 Konsentrasi (mg/lt) 0.KG1 = Jembatan Jln.00 wib t = 18 . pukul 16. 2006).6 J a rak (m eter) J arak (m e ter) *) Mahasiswa Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Diponegoro **) Dosen Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Diponegoro 6 t = 18 . pada pukul 10. menyatakan bahwa beberapa kasus pencemaran menunjukkan pelepasan logam berat dalam air permukaan dapat berasal dari sumbersumber alamiah dan dari aktivitas yang dilakukan manusia.4 1. Dengan demikian dapat diketahui bahwa sumber logam berat dari hasil buangan industri yang berasal dari industri pelapisan logam yang terdapat di bantaran Kali Garang.00 wib t = 12 . pukul 22.

Meskipun demikian. lokasi KG2 (Jembatan Tinjomoyo) sebesar 0. Perbandingan Hasil Model Perbandingan hasil model dengan metode Upwind dan metode Quickest dilakukan dengan membandingkan nilai standar deviasi. Sebaliknya.67 Ratio Kurtosis -0. *) Mahasiswa Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Diponegoro **) Dosen Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Diponegoro 7 . Masing-masing hasil model dengan metode Upwind dan Quickest mempunyai nilai kesalahan terhadap data pengukuran masing-masing sebesar 0 %. Dengan hasil tersebut.7 di atas. menunjukkan bahwa hasil uji distribusi normal pada masing-masing lokasi KG1. Karena masingmasing metode tersebut memiliki nilai kepercayaan 100 %. Dengan demikian. Distribusi Normal Distribusi Normal Distribusi Normal (Sumber: Data Primer. 2010) Berdasarkan nilai perbandingan nilai standar deviasi tabel 4.232 (Sumber: Data Primer. 3.47 1.196 KG3 Quickest 0. hasil simulasi running di softwaer Delphi 6 dengan metode Upwind secara kesuluruhan memiliki hasil distribusi normal. secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa metode Quickest memiliki data yang homogen dibandingkan dengan metode Upwind. semakin besar standar deviasi maka data semakin heterogen. Tabel 2 Hasil Uji Distribusi Normal Metode Quickest Lokasi KG1 KG2 KG3 Ratio Skewness -1. 2.19 0. menunjukkan bahwa secara keseluruhan hasil simulasi running di softwaer Delphi 6 dengan metode Quickest memiliki hasil distribusi normal. Menurut Hartono (2008). dan KG3 memiliki nilai ratio skewness dan ratio kurtosis lebih kecil dan lebih besar dari + 2.611 – 0.3 Perbandingan Nilai Standar Deviasi Lokasi Metode Standar Deviasi Upwind 0. Kedua metode tersebut dapat digunakan sebagai model cemaran. Pramuka) sebesar 0. Dengan demikian. diketahui konsentrasi Seng (Zn) di lokasi KG1 (Jembatan Jl. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat nilai setandar deviasi kedua metode tersebut.54 Ket.715 – 0.27 -1. menunjukkan bahwa metode Quickest memiliki nilai standar deviasi lebih kecil dibandingkan dengan metode Upwind. Tabel 4. semakin kecil standar deviasi berarti data semakin homogen. Sedangkan pada lokasi KG3 nilai standar deviasi metode Upwind lebih kecil dibandingkan dengan metode Quickest. Metode Quickest memiliki hasil data yang lebih homogen dibandingkan metode Upwind. dan KG3 memiliki nilai ratio skewness dan ratio kurtosis lebih kecil dan lebih besar dari + 2.826 – 1. menyatakan bahwa standar deviasi adalah selisih atau simpangan seluruh skor dengan nilai rata-rata pada masing-masing variabel. berikut di bawah ini. dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. 2010) Berdasarkan tabel di atas.916 mg/l. KESIMPULAN Berdasarkan hasil dan pembahasan terhadap kondisi perairan Kali Garang Semarang.911 mg/l. KG2.267 KG2 Quickest 0. 2010) Hasil uji distribusi normal metode Upwind pada masing-masing lokasi KG1.135 KG1 Quickest 0. KG2.46 0. dan lokasi KG3 (Jembatan Tugu Suharto) sebesar 0.420 mg/l.074 Upwind 0.(Sumber: Data Primer.110 Upwind 0. Dari hasil pengukuran data lapangan di Kali Garang.

2001. 2006. Monitoring air di daerah aliran sungai. Cu dan Zn pada Air laut. Jakarta: PT Rineka Cipta Syafrudin. 1980. Yogyakarta: Andi publisher. 2007. 2003. Kodoatie. H. World Agroforestry Centre Southeast Asia Regional Office. Zakaria.T. Djoko. 2010. Teddy. Daya Tampung BOD. Metodologi Research. 1997. Janner. Telaah Kualitas Air. PSTL Chapra. Mengandung E-coli dan Logam Berat. Semarang: UNDIP Anggraini.com/rsssm/ 26/05/2010 Suripin. Sedimen dan Lokan (Geloina coaxans) di Perairan Pesisir Dumai. Jakarta Butler. Yogayakarta: UGM Luknanto. Layakkah Kali Garang Jadi Sumber Air Minum. 2005. Alabama Department of Enviromental Management Water Division: Water Quality Branch. Mangamar. Daya Tampung COD di Sungai Garang. al. Lalu. Yogyakarta: Andi Publisher Sutrisno. DAFTAR PUSTAKA ADEM.Yogyakarta: Pustaka belajar. Yogayakarta: UGM Makrup. Pengukuran di lapangan perlu dilakukan pembagian rentang diskrit yang lebih dekat sehingga kestabilan batas model hasilnya bisa optimal. 2003. Alabama. Teknologi Penyediaan Air Bersih. Cd. Pemrogaman Delphi untuk Pemula: IDE dan StrukturPemrogaman. Yogyakarta. Steven. 2003. Lintang. Suara Merdeka. Properties. 2001. 1997. Yogyakarta: Kanisius. Pelestarian Sumber Daya Air dan Tanah. Darmawan. 104 p. Perlu dilakukan pengembangan model untuk mengetahui pengaruh musim terhadap pola cemaran di perairan sungai sehingga dibutuhkan data pengukuran selama 1 tahun (untuk mewakili kondisi lingkungan sekitar). New York: NY Cahyorini.SARAN 1. history. Quickest dan Upwind. Pola Sebaran Cd di Muara Sungai.edu *) Mahasiswa Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Diponegoro **) Dosen Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Diponegoro 8 . 2009. et. Yogyakarta: Andi publisher. 2009. 2008. C. Inc. Harahap. Ajeng. Penentuan Kelas Air. Djoko. Tesis. Publisher. Semarang. Jawa Tengah. 2008. 2003.0. Provinsi Riau. Singapore: The McGraw Hill Companies. C. SPSS 16. New York: Harper & Row. Bandung: Program Magister Teknik Lingkungan Program Pasca Sarjana ITB Thomann. Tesis. HidraulikaTerapan. 2008. and uses of Zinc. Andi Offset. 2007. Identifikasi Daya Tampung Beban Cemaran BOD Sungai Dengan Model Qual2E. 2. 1987. 2006. Studi Status Mutu Air Sungai Belawan Sebelum Instalasi Pengolahan Air (IPA) Sunggal dan Sebelum Instalasi Pengoalahan Air (IPA) Hamparan Perak untuk Pemanfaatan Sumber Air Bersih. Metode Numerik Angkutan Ion Khlorida di Perairan Estuari dengan Metode Pembaganan AbbotIoneschu. Bandung: Maranatha. Dasar-dasar Pemrogaman dengan Delphi 7. Luknanto. Principles of Surface Water Quality Modelling and Control. Inc. Subekti. Hidraulika Komputasi Skema Eksplisit dan Implisit. Dewi. Bogor. Semarang. Kirk. Francine. Analisis Kadar Logam Berat Pb. Simarmata. S. Effendi. dkk. Dasar-dasar Analisis Aliran di Sungai dan Muara. Model Matematika. 2009. http://suaramerdeka. 2002. Surfacce Water Quality Modelling. Robert. Hartono. The ADEM Spreadsheet Water Quality Model. Yogyakarta: UII Rahayu. Medan: Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara. Hadi.

.......3 Gambar 3 Konsentrsi Zn di masing-masing titik sampel.................................................3 Perbandingan Nilai Standar Deviasi.........5 Gambar 6 Hasil Simulasi Running di Software Delphi 6....2 Gambar 2 Diagram alir metodologi...............................................................................Gambar 1 Metode beda hingga pembaganan Abbot-Ioneschu..............................................4 Gambar 4 Hasil Model dengan Metode Upwind...............................................................................................................................5 Tabel 2 Hasil Uji Distribusi Normal Metode Quickest....7 *) Mahasiswa Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Diponegoro **) Dosen Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Diponegoro 9 .........................................................5 Gambar 5 Hasil Model dengan Metode Quickest.......7 Tabel 4....5 Tabel 1 Hasil Uji Distribusi Normal Metode Upwind...........................................

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful