Anda di halaman 1dari 12

KEBUTUHAN OKSIGENASI

Kebutuhan oksigenasi merupakan kebutuhan dasar manusia yang digunakan untuk


kelangsungan metabolisme sel tubuh mempertahankan hidup dan aktifitas berbagai
organ atau sel.

II. TUJUAN PEMBERIAN OKSIGENASI


1. Untuk mempertahankan oksigen yang adekuat pada jaringan
2. Untuk menurunkan kerja paru-paru
3. Untuk menurunkan kerja jantung

III. ANATOMI SISTEM PERNAPASAN


A. Saluran Nafas Atas
1.Hidung
Terdiri atas bagian eksternal dan internal
• Bagian eksternal menonjol dari wajah dan disangga oleh tulang hidung dan kartilago
• Bagian internal hidung adalah rongga berlorong yang dipisahkan menjadi rongga
hidung kanan dan kiri oleh pembagi vertikal yang sempit, yang disebut septum
• Rongga hidung dilapisi dengan membran mukosa yang sangat banyak mengandung
vaskular yang disebut mukosa hidung
• Permukaan mukosa hidung dilapisi oleh sel-sel goblet yang mensekresi lendir secara
terus menerus dan bergerak ke belakang ke nasofaring oleh gerakan silia
• Hidung berfungsi sebagai saluran untuk udara mengalir ke dan dari paru-paru
• Hidung juga berfungsi sebagai penyaring kotoran dan melembabkan serta
menghangatkan udara yang dihirup ke dalam paru-paru
• Hidung juga bertanggung jawab terhadap olfaktori (penghidu) karena reseptor
olfaktori terletak dalam mukosa hidung, dan fungsi ini berkurang sejalan dengan
pertambahan usia

2. Faring
• Faring atau tenggorok merupakan struktur seperti tuba yang menghubungkan hidung
dan rongga mulut ke laring
• Faring dibagi menjadi tiga region : nasal (nasofaring), oral (orofaring), dan laring
(laringofaring)
• Fungsi faring adalah untuk menyediakan saluran pada traktus respiratorius dan
digestif

3. Laring
• Laring atau organ suara merupakan struktur epitel kartilago yang menghubungkan
faring dan trakea
• Laring sering disebut sebagai kotak suara dan terdiri atas :
- Epiglotis : daun katup kartilago yang menutupi ostium ke arah laring selama
menelan
-Glotis : ostium antara pita suara dalam laring
- Kartilago tiroid : kartilago terbesar pada trakea, sebagian dari kartilago ini
membentuk jakun (Adam’s apple)
- Kartilago krikoid : satu-satunya cincin kartilago yang komplit dalam laring (terletak
di bawah kartilago tiroid)
- Kartilago aritenoid : digunakan dalam gerakan pita suara dengan kartilago tiroid
- Pita suara : ligamen yang dikontrol oleh gerakan otot yang menghasilkan bunyi
suara (pita suara melekat pada lumen laring)
• Fungsi utama laring adalah untuk memungkinkan terjadinya vokalisasi
• Laring juga berfungsi melindungi jalan nafas bawah dari obstruksi benda asing dan
memudahkan batu

4. Trakea
• Disebut juga batang tenggorok
• Ujung trakea bercabang menjadi dua bronkus yang disebut karina

B. Saluran Nafas Bawah


1. Bronkus
• Terbagi menjadi bronkus kanan dan kiri
• Disebut bronkus lobaris kanan (3 lobus) dan bronkus lobaris kiri (2 bronkus)
• Bronkus lobaris kanan terbagi menjadi 10 bronkus segmental dan bronkus lobaris
kiri terbagi menjadi 9 bronkus segmental
• Bronkus segmentalis ini kemudian terbagi lagi menjadi bronkus subsegmental yang
dikelilingi oleh jaringan ikat yang memiliki : arteri, limfatik dan saraf

2. Bronkiolus
• Bronkus segmental bercabang-cabang menjadi bronkiolus
•Bronkiolus mengadung kelenjar submukosa yang memproduksi lendir yang
membentuk selimut tidak terputus untuk melapisi bagian dalam jalan napas

3. Bronkiolus Terminalis
• Bronkiolus membentuk percabangan menjadi bronkiolus terminalis (yang tidak
mempunyai kelenjar lendir dan silia)

4. Bronkiolus respiratori
• Bronkiolus terminalis kemudian menjadi bronkiolus respiratori
• Bronkiolus respiratori dianggap sebagai saluran transisional antara jalan napas
konduksi dan jalan udara pertukaran gas

5. Duktus alveolar dan Sakus alveolar


• Bronkiolus respiratori kemudian mengarah ke dalam duktus alveolar dan sakus
alveolar
• Dan kemudian menjadi alveoli

6. Alveoli
• Merupakan tempat pertukaran O2 dan CO2
• Terdapat sekitar 300 juta yang jika bersatu membentuk satu lembar akan seluas 70
m2
• Terdiri atas 3 tipe :
- Sel-sel alveolar tipe I : adalah sel epitel yang membentuk dinding alveoli
- Sel-sel alveolar tipe II : adalah sel yang aktif secara metabolik dan mensekresi
surfaktan (suatu fosfolipid yang melapisi permukaan dalam dan mencegah alveolar
agar tidak kolaps)
- Sel-sel alveolar tipe III : adalah makrofag yang merupakan sel-sel fagotosis dan
bekerja sebagai mekanisme pertahanan
PARU
• Merupakan organ yang elastis berbentuk kerucut
• Terletak dalam rongga dada atau toraks
• Kedua paru dipisahkan oleh mediastinum sentral yang berisi jantung dan beberapa
pembuluh darah besar
• Setiap paru mempunyai apeks dan basis
• Paru kanan lebih besar dan terbagi menjadi 3 lobus oleh fisura interlobaris
• Paru kiri lebih kecil dan terbagi menjadi 2 lobus
• Lobos-lobus tersebut terbagi lagi menjadi beberapa segmen sesuai dengan segmen
bronkusnya

PLEURA
• Merupakan lapisan tipis yang mengandung kolagen dan jaringan elastis
• Terbagi mejadi 2 :
- Pleura parietalis yaitu yang melapisi rongga dada
- Pleura viseralis yaitu yang menyelubungi setiap paru-paru
• Diantara pleura terdapat rongga pleura yang berisi cairan tipis pleura yang berfungsi
untuk memudahkan kedua permukaan itu bergerak selama pernapasan, juga untuk
mencegah pemisahan toraks dengan paru-paru
• Tekanan dalam rongga pleura lebih rendah dari tekanan atmosfir, hal ini untuk
mencegah kolap paru-paru

IV. FISIOLOGI SISTEM PERNAPASAN


Bernafas / pernafasan merupkan proses pertukaran udara diantara individu dan
lingkungannya dimana O2 yang dihirup (inspirasi) dan CO2 yang dibuang (ekspirasi).

PROSES RESPIRASI
Proses respirasi merupakan proses pertukaran gas yang masuk dan keluar melalui
kerjasama dengan sistem kardiovaskuler dan kondisi hematologis. Oksigen di
atmosfir mengandung konsentrasi sebesar 20,9 % akan masuk ke alveoli melalui
mekanisme ventilasi kemudian terjadi proses pertukaran gas yang disebut proses
difusi. Difusi adalah suatu perpindahan/ peralihan O2 dari konsentrasi tinggi ke
konsentrasi rendah dimana konsentrasi O2 yang tinggi di alveoli akan beralih ke
kapiler paru dan selanjutnya didistribusikan lewat darah dalam 2 (dua) bentuk yaitu :
(1) 1,34 ml O2 terikat dengan 1 gram Hemoglobin (Hb) dengan persentasi kejenuhan
yang disebut dengan “Saturasi O2” (SaO2), (2) 0,003 ml O2 terlarut dalam 100 ml
plasma pada tekanan parsial O2 di arteri (PaO2) 1 mmHg.
Kedua bentuk pengangkutan ini disebut sebagai kandungan O2 atau “Oxygen
Content” (CaO2) dengan formulasi : CaO2 = (1,34 x Hb x SaO2) + (0,003 x PaO2)
Sedangkan banyaknya O2 yang ditransportasikan dalam darah disebut dengan
“Oxigen Delivery” (DO2) dengan rumus : DO2 = (10 x CaO2) x CO Dimana CO
adalah “Cardiac Output” (Curah Jantung). CO ini sangat tergantung kepada besar dan
ukuran tubuh, maka indikator yang lebih tepat dan akurat adalah dengan
menggunakan parameter “Cardiac Index” (CI). Oleh karena itu formulasi DO2 yang
lebih tepat adalah : DO2= (10 x CaO2) x CI Selanjutnya O2didistribusikan ke
jaringan sebagai konsumsi O2(VO2) Nilai VO2 dapat diperoleh dengan perbedaan
kandurngan O2 arteri dan vena serta CI dengan formulasi sebagai berikut : VO2a=
(CaO2– CvO2) x CI Selain faktor difusi dan pengangkutan O2 dalam darah maka
faktor masuknya O2 kedalam alveoli yang disebut sebagai ventilasi alveolar.
VENTILASI ALVEOLAR
Ventilasi alveolar adalah salah satu bagian yang penting karena O2 pada tingkat
alveoli inilah yang mengambil bagian dalam proses difusi. Besarnya ventilasi alveolar
berbanding lurus dengan banyaknya udara yang masuk keluar paru, laju nafas, udara
dalam jalan nafas serta keadaan metabolik. Banyaknya udara masuk keluar paru
dalam setiap kali bernafas disebut sebagai “Volume Tidal” (VT) yang bervariasi
tergantung pada berat badan. Nilai VT normal pada orang dewasa berkisar 500 – 700
ml dengan menggunakan “Wright’s Spirometer”. Volume nafas yang berada di jalan
nafas dan tidak ikut dalam pertukaran gas disebut sebagai “Dead Space” (VD)(Ruang
Rugi) dengan nilai normal sekitar 150 - 180 ml yang terbagi atas tiga yaitu : (1)
Anatomic Dead Space, (2) Alveolar Dead Space, (3) Physiologic Dead Space.
Anatomic Dead Space yaitu volume nafas yang berada di dalam mulut, hidung dan
jalan nafas yang tidak terlibat dalam pertukaran gas. Alveolar Dead Space yaitu
volume nafas yang telah berada di alveoli, akan tetapi tidak terjadi pertukaran gas
yang dapat disebabkan karena di alveoli tersebut tidak ada suplai darah. Dan atau
udara yang ada di alveoli jauh lebih besar jumlahnya dari pada aliran darah pada
alveoli tersebut. Ventilasi alveolar dapat diperoleh dari selisih volume Tidal dan ruang
rugi, dengan laju nafas dalam 1 menit. VA = (VT – VD) x RR Sedangkan tekanan
parsial O2 di alveolar (PaO2) diperoleh dari fraksi O2 inspirasi (FiO2) yaitu 20,9 %
yang ada di udara, tekanan udara, tekanan uap air, tekanan parsial CO2 di arteri
(PaCO2). PaO2 = FiO2 (760 – 47) – (PaCO2 : 0,8).
Demikian faktor-faktor yang mempengaruhi proses respirasi dimana respirasi tidak
saja pertukaran gas pada tingkat paru (respirasi eksternal) tetapi juga pertukaran gas
yang terjadi pada tingkat sel (respirasi internal).

Proses bernafas terdiri dari 3 bagian, yaitu :


1. Ventilasi yaitu masuk dan keluarnya udara atmosfir dari alveolus ke paru-paru atau
sebaliknya.
Proses keluar masuknya udara paru-paru tergantung pada perbedaan tekanan antara
udara atmosfir dengan alveoli. Pada inspirasi, dada ,mengembang, diafragma turun
dan volume paru bertambah. Sedangkan ekspirasi merupakan gerakan pasif.
Faktor-faktor yang mempengaruhi ventilasi :
a. Tekanan udara atmosfir
b. Jalan nafas yang bersih
c. Pengembangan paru yang adekuat

2. Difusi yaitu pertukaran gas-gas (oksigen dan karbondioksida) antara alveolus dan
kapiler paru-paru.
Proses keluar masuknya udara yaitu dari darah yang bertekanan/konsentrasi lebih
besar ke darah dengan tekanan/konsentrasi yang lebih rendah. Karena dinding alveoli
sangat tipis dan dikelilingi oleh jaringan pembuluh darah kapiler yang sangat rapat,
membran ini kadang disebut membran respirasi.
Perbedaan tekanan pada gas-gas yang terdapat pada masing-masing sisi membran
respirasi sangat mempengaruhi proses difusi. Secara normal gradien tekanan oksigen
antara alveoli dan darah yang memasuki kapiler pulmonal sekitar 40 mmHg.
Faktor-faktor yang mempengaruhi difusi :
a. Luas permukaan paru
b. Tebal membran respirasi
c. Jumlah darah
d. Keadaan/jumlah kapiler darah
e. Afinitas
f. Waktu adanya udara di alveoli

3. Transpor yaitu pengangkutan oksigen melalui darah ke sel-sel jaringan tubuh dan
sebaliknya karbondioksida dari jaringan tubuh ke kapiler.
Oksigen perlu ditransportasikan dari paru-paru ke jaringan dan karbondioksida harus
ditransportasikan dari jaringan kembali ke paru-paru. Secara normal 97 % oksigen
akan berikatan dengan hemoglobin di dalam sel darah merah dan dibawa ke jaringan
sebagai oksihemoglobin. Sisanya 3 % ditransportasikan ke dalam cairan plasma dan
sel-sel.
Faktor-faktor yang mempengaruhi laju transportasi :
a. Curah jantung (cardiac Output / CO)
b. Jumlah sel darah merah
c. Hematokrit darah
d. Latihan (exercise)

V. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERNAPASAN


Faktor-faktor yang mempengaruhi oksigenasi adalah :
1. Tahap Perkembangan
Saat lahir terjadi perubahan respirasi yang besar yaitu paru-paru yang
sebelumnya berisi cairan menjadi berisi udara. Bayi memiliki dada yang kecil dan
jalan nafas yang pendek. Bentuk dada bulat pada waktu bayi dan masa kanak-
kanak, diameter dari depan ke belakang berkurang dengan proporsi terhadap
diameter transversal. Pada orang dewasa thorak diasumsikan berbentuk oval. Pada
lanjut usia juga terjadi perubahan pada bentuk thorak dan pola napas.

2. Lingkungan
Ketinggian, panas, dingin dan polusi mempengaruhi oksigenasi. Makin tinggi
daratan, makin rendah PaO2, sehingga makin sedikit O2 yang dapat dihirup
individu. Sebagai akibatnya individu pada daerah ketinggian memiliki laju
pernapasan dan jantung yang meningkat, juga kedalaman pernapasan yang
meningkat.
Sebagai respon terhadap panas, pembuluh darah perifer akan berdilatasi, sehingga
darah akan mengalir ke kulit. Meningkatnya jumlah panas yang hilang dari
permukaan tubuh akan mengakibatkan curah jantung meningkat sehingga
kebutuhan oksigen juga akan meningkat. Pada lingkungan yang dingin sebaliknya
terjadi kontriksi pembuluh darah perifer, akibatnya meningkatkan tekanan darah
yang akan menurunkan kegiatan-kegiatan jantung sehingga mengurangi
kebutuhan akan oksigen.

3. Gaya Hidup
Aktifitas dan latihan fisik meningkatkan laju dan kedalaman pernapasan dan
denyut jantung, demikian juga suplay oksigen dalam tubuh. Merokok dan
pekerjaan tertentu pada tempat yang berdebu dapat menjadi predisposisi penyakit
paru.

4. Status Kesehatan
Pada orang yang sehat sistem kardiovaskuler dan pernapasan dapat
menyediakan oksigen yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Akan tetapi
penyakit pada sistem kardiovaskuler kadang berakibat pada terganggunya
pengiriman oksigen ke sel-sel tubuh. Selain itu penyakit-penyakit pada sistem
pernapasan dapat mempunyai efek sebaliknya terhadap oksigen darah. Salah satu
contoh kondisi kardiovaskuler yang mempengaruhi oksigen adalah anemia, karena
hemoglobin berfungsi membawa oksigen dan karbondioksida maka anemia dapat
mempengaruhi transportasi gas-gas tersebut ke dan dari sel.

5. Narkotika
Narkotika seperti morfin dan dapat menurunkan laju dan kedalam pernapasan
ketika depresi pusat pernapasan dimedula. Oleh karena itu bila memberikan obat-
obat narkotik analgetik, perawat harus memantau laju dan kedalaman pernapasan.

6. Perubahan/gangguan pada fungsi pernapasan


Fungsi pernapasan dapat terganggu oleh kondisi-kondisi yang dapat
mempengarhi pernapasan yaitu :
a. Pergerakan udara ke dalam atau keluar paru
b. Difusi oksigen dan karbondioksida antara alveoli dan kapiler paru
c. Transpor oksigen dan transpor dioksida melalui darah ke dan dari sel
jaringan.
Gangguan pada respirasi yaitu hipoksia, perubahan pola napas dan obstruksi
sebagian jalan napas.
Hipoksia yaitu suatu kondisi ketika ketidakcukupan oksigen di dalam tubuh
yang diinspirasi sampai jaringan. Hal ini dapat berhubungan dengan ventilasi,
difusi gas atau transpor gas oleh darah yang dapat disebabkan oleh kondisi yang
dapat merubah satu atau lebih bagian-bagian dari proses respirasi. Penyebab lain
hipoksia adalah hipoventilasi alveolar yang tidak adekuat sehubungan dengan
menurunnya tidal volume, sehingga karbondioksida kadang berakumulasi didalam
darah.
Sianosis dapat ditandai dengan warna kebiruan pada kulit, dasar kuku dan
membran mukosa yang disebabkan oleh kekurangan kadar oksigen dalam
hemoglobin. Oksigenasi yang adekuat sangat penting untuk fungsi serebral.
Korteks serebral dapat mentoleransi hipoksia hanya selama 3 - 5 menit sebelum
terjadi kerusakan permanen. Wajah orang hipoksia akut biasanya terlihat cemas,
lelah dan pucat.

7. Perubahan pola nafas


Pernapasan yang normal dilakukan tanpa usaha dan pernapasan ini sama
jaraknya dan sedikit perbedaan kedalamannya. Bernapas yang sulit disebut
dyspnoe (sesak). Kadang-kadang terdapat napas cuping hidung karena usaha
inspirasi yang meningkat, denyut jantung meningkat. Orthopneo yaitu
ketidakmampuan untuk bernapas kecuali pada posisi duduk dan berdiri seperti
pada penderita asma.

8. Obstruksi jalan napas


Obstruksi jalan napas lengkap atau sebagaian dapat terjadi di sepanjang
saluran pernapasan di sebelah atas atau bawah. Obstruksi jalan napas bagian atas
meliputi : hidung, pharing, laring atau trakhea, dapat terjadi karena adanya benda
asing seperti makanan, karena lidah yang jatuh kebelakang (otrhopharing) bila
individu tidak sadar atau bila sekresi menumpuk disaluran napas.
Obstruksi jalan napas di bagian bawah melibatkan oklusi sebagian atau lengkap
dari saluran napas ke bronkhus dan paru-paru. Mempertahankan jalan napas yang
terbuka merupakan intervensi keperawatan yang kadang-kadang membutuhkan
tindakan yang tepat. Onbstruksi sebagian jalan napas ditandai dengan adanya
suara mengorok selama inhalasi (inspirasi).

SISTEM YANG BERPERAN DALAM KEBUTUHAN OKSIGENASI


1. Saluran pernapasan atas; Hidung, Faring, Laring, Epiglotis
2. Saluran pernapasan bawah: Trakhea, Bronkus, Bronkiolus
3. Paru

PROSES OKSIGENASI
Terdiri dari 3 tahap :
1. Ventilasi
2. Difusi Gas
3. Transportasi gas.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBUTUHAN OKSIGENASI


1. Saraf Otonom
2. Hormon dan Obat
3. Alergi pada saluran nafas
4. Perkembangan
5. Lingkungan
6. Perilaku

JENIS PERNAPASAN

MASALAH KEBUTUHAN OKSIGEN

# HIPOKSIA :
merupakan kondisi tidak tercukupinya pemenuhan kebutuhan oksigen dalam tubuh
akibat defisiensi oksigen atau peningkatan penggunaan oksigen dalam tingkat sel,
ditandai adanya warna kebiruan pada kulit(sianosis). Secara umum terjadinya
hipoksia disebabkan oleh menurunnya kadar Hb, menurunnya difusi O2 dari alveoli
ke dalam darah, menurunnya perfusi jaringan atau gangguan ventilasi yang dapat
menurunkan konsentrasi oksigen.

Perubahan Pola Pernapasan


1. Tachypnea
2. Bradypnea
3. Hiperventilasi
4. Kusmaul
5. Hipoventilasi.
6. Dipsnea
7. Orthopnea
8. Cheyne Stokes
9. Pernapasan Paradoksal
10. Biot
11. Stridor.

# OBSTRUKSI JALAN NAPAS/BERSIHAN JALAN NAPAS :


Merupakan kondisi pernapasan yang tidak normal akibat ketidakmampuan batu
secara efektif, dapat disebabkan oleh sekresi yang kental atau berlebihan akibat
penyakit infeksi, immobilisasi, stasis sekresi, dan batuk tidak efektif karena penyakit
persarafan seperti CVA(Cerebro Vaskular Accident), efek pengobatan sedatif dll.
Tanda Klinis:
1. Batuk tidak efektif
2. Tidak mampu mengeluarkan sekresi di jalan napas
3. Suara napas menunjukkan adanya sumbatan
4. Jumlah, irama, dan kedalaman pernapasan tidak normal.

# PERTUKARAN GAS
Pertukaran Gas merupakan kondisi penurunan gas, baik oksigen maupun
karbondioksida antara alveoli paru dan sistem vaskular, dapat disebabkan oleh
sekresi yang kental atau imobilisasi akibat penyakit saraf, depresi susunan saraf
pusat, atau penyakit radang pada paru. Terjadinya pertukaran gas ini menunjukkan
kapasitas difusi menurun, antara lain disebabkan oleh penurunan luas permukaan
difusi, penebalan membran alveolar kapiler, terganggunya pengangkutan O2 dari
paru ke jaringan akibat rasio ventilasi perfusi tidak baik, anemia, keracunan CO2, dan
terganggunya aliran darah.
Tanda Klinis :
1. Dispnea pada usaha nafas
2. Napas dengan bibir pada fase ekspirasi yang panjang
3. Agitasi
4. Lelah, letargi
5. Meningkatnya tahanan vaskular paru
6. Menurunnya saturasi oksigen, meningkatnya pCO2
7. Sianosis.

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN KEBUTUHAN OKSIGENASI

A. Pengkajian Keperawatan
1. Riwayat Keperawatan
- Ada dan tidaknya riwayat gangguan pernafasan (gangguan
hidung dan tenggorokan): Epistaksis (akibat
kecelakaan,gangguan pada sistem peredaran darah),Obstruksi
nasal (kondisi akibat polip¸tumor dan influenza),dan keadaan
lain yang menyebabkan gangguan pernafasan.
- Keluhan/gejala yang harus diperhatikan adalah keadaan
infeksi kronis dari hidung,nyeri pada daerah sinus, otitis
media, nyeri tenggorokan, kenaikan suhu tubuh seekitar 38,5
derajad celcius, sakit kepala, lemas, sakit perut hingga
muntah (pada anak-anak), faring berwarna merah, adanya
edema.
2. Pola Batuk dan Produksi Sputum
- Apakah batuk kering ataukah batuk produktif/berdahak.
- Pengkajian sputum dilakukan dengan cara memeriksa warna,
bau, kejernihan, kekentalan, apakah disertai darah.
- Pengkajian terhadap lingkungan tempat tinggal pasien
( apakah berdebu,penuh asap, dan adanya kecenderungan
mengakibatkan alergi).

3. Nyeri Dada
- Pengkajian terhadap sakit dada dilakukan untuk mengetahui
bagian yg sakit, luas, intensitas, faktor yg menyebabkan rasa
sakit, perubahan nyeri dada apabila posisi berubah, serta ada
tidaknya hubungan antara waktu inspirasi dan ekspirasi
dengan rasa sakit.

4. Pengkajian Fisik
• Inspeksi
Pengkajian ini meliputi:
- Penentuan jalan napas, apakah bernapas spontan melalui
hidung, mulut, oral, nasal atau menggunakan selang
endotrakheal atau tracheostomi.
- Pengkasjian kebersihan jalan napas: Ada dan tidaknya sekret,
perdarahan , bengkak atau obstruksi mekanik.
- Sifat pernafasan: Torakal, abdominal, atau kombinasi
keduanya
- Irama pernafasannya, perbandingan natara inspirasi dan
ekspirasi. Pada keadaan normal ekspirasi lebih lama
dibanding inspirasi ( 2:1), ekspirasi yang lebih pendek dari
inspirasi terjadi pada klien yang sesak nafas.
• Palpasi
- Pemeriksaan ini bertujuan untuk mendeteksi kelainan,
seperti nyeri tekan yang dapat timbul akibat luka,
peradangan setempat, metastasis tumor ganas, pleuritis,
atau pembengkakan dan benjolan pada dada. Melalui
palpasi dapat diteliti gerakan dinding thoraks pada saat
inspirasi dan ekspirasi terjadi.Cara ini juga dapat
dilakukan dari belakang dengan meletakkan kedua
tangan pada kedua sisi tulang belakang. Jika pada
puncak paru terdapat fibrosis, proses tuberkulosis atau
suatu tumor, maka tidak akan ditemukan
pengembangan bagian stas pada thoraks. Kelainan pada
paru seperti getaran suara atau fremitus lokal,dapat
dideteksi bila terdapat getaran sewaktu pemeriksa
meletakkan tangannya pada dada pasien ketika ia
berbicara. Fremitus lokalk yang jelas mengeras dapat
disebabkan oleh konsolidasi paru seperti pada pnemonia
lobaris, tuberkulosis kaseosa pulmonum, tumor paru,
atelektasis atau kolaps paru dengan bronkus yang utuh
dan tidak tersumbat. Fremitus vokal menjadi lemah atau
hilang sama sekali jika rongga pleura berisi air, darah,
nanah, atau udara, bahkan jaringan pleura manjadi tebal,
bronkus tersumbat, jaringan paru tidak lagi
elastis(emfisema), paru menjadi fibrosis, dan terdapat
kaverna dalam paru yang letaknya jauh dari permukaan.
Getaran yang terasa oleh tangan pemeriksa dapat juga
ditimbulkan oleh dahak dalam bronkus yang bergetar
pada waktu inspirasi dan ekspirasi atau oleh pergeseran
antara kedua membran pleura pada pleuritis.
• Perkusi
Pengkajian ini bertujuan untuk menilai normal atau
tidaknya suara perkusi paru. Suara perkusi normal
adalah suara perkusi sonor yang bunyinya seperti kata
“dug-dug” Suara perkusi lain yang dianggap tidak
normal adalah redup, seperti pada infiltrasi, konsolidasi,
dan efusi pleura. Pekak, seperti suara yang terdengar
bila kita memperkusi paha kita, terdapat pada rongga
pleura yang terisi oleh cairan nanah, tumor pada
permukaan paru, atau fibrosis paru dengan penebalan
pleura. Hipersonor bila udara relatif lebih padat,
ditemukan pada emfisema, kavitas besar yang letaknya
perifer, dan pneumothoraks. Timpani, bunyinya seperti
ucapan “dang-dang-dang” Suara ini menunjukkan
bahwa di bawah tempat yang diperkusi terdapat
penimbunan udara, seperti pada pneumothoraks dan
kavitas dekat permukaan paru. Batas atas paru dapat
ditentukan dengan perkusi pada suprakavikularis kedua
sisi. Bila didapatkan suara perkusi yang kurang sonor,
maka kita harus menafsirkan bagian atas paru yang
sehat terletak lebih bawah dari biasa. Pada umumnya
hal ini menunjukkan proses tuberkulosis di puncak
paru. Dari belakang, apeks paru dapat diperkusi di
daerah otot trapesius antara otot leher dan pergelangan
bahu yang akan memperdengarkan seperti sonor. Batas
bawah paru dapat ditentukan dengan perkusi, dimana
suara sonor pada orang sehat dapat didengar sampai iga
keenam garir midaksilaris, iga kedelapan garis
midaksilaris, dan iga kesepuluh garis skapularis. Batas
bawah pada orang tua agak lebih rendah, sedangkan
pada anak-anak agak lebih tinggi. Batas bawah
meninggi pada proses fibrosis paru, konsolidasi, efusi
pleura, dan asites tumor intraabdominal. Turunnya batas
bawah paru didapati pada emfisema dan
pneumothoraks.
• Auskultasi
Pemeriksaan ini bertujuan untuk menilai adanya suara
napas diantaranyasuara napas dasar dan suara napas
tambahan

5. Pemeriksaan Lab
Selain pemeriksaan laboratorium Hb, leukosit, dll yang
dilakukansecara rutin yaitu pemeriksaan sputum untuk melihat kuman
dengan cara mikroskopis.Uji resistensi dapat dilakukan secara kultur,
untuk melihat sel tumor dengan pemeriksaan sitologi.
6. Pemeriksaan Diagnostik
• Rontgen Dada
• Fluoroskopi
• Bronkografi
• Angiografi
• Endoskopi
• Radio Isotop
• Mediastinoskopi

B. Diagnosa Keperawatan
1. Bersihan Jalan napas tidaj efektif berhubungan dengan :
2. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan:
3. Kerusakan Pertukaran gas berhubungan dengan:
4. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan:

C. Perencanaan Keperawatan
Tujuan:
1. Mempertahankan jalan nafas agar efektif
2. Mempertahankan pola pernafasan agar kembali efektif
3. Mempertahankan pertukaran gas
4. Memperbaiki perfusi jaringan.
Rencana Tindakan:
1. Mempertahankan jalan nafas agar efektif
- Awasi perubahan status jalan napas dengan memonitor
jumlah, bunyi atau status kebersihannya.
- Berikan humidifier (pelembab)
- Lakukan tindakan pembersihan jalan napas dengan fibrasi,
clapping, atau postural drainase (jika perlu dilakukan suction)
- Ajarkan taknik batuk efektif dan cara menghindari alergen.
- Pertahankan jalan napas agar tetap terbuka dengan memasang
jalan napas buatan, seperti oropharingeal/nasopharingeal
airway, intubasi endotrakheostomi sesuai dengan indikasi.
- Kerjasama dengan tim medis dalam memberikan obat
bronkodilator.

2. Mempertahankan pola pernafasan agar kembali efektif


- Awasi perubahan status pola pernafasan.
- Atur posisi sesuai dengan kebutuhan (semi fowler)
- Berikan oksigenasi
- Ajarkan tehnik bernapas dan relaksasi yang benar.

3. Mempertahankan pertukaran gas


- Awasi perubahan status pernapasan
- Atur posisi sesuai dengan kebutuhan (semi fowler)
- Berikan oksigenasi
- Lakukan suction bila memungkinkan
- Berikan nutrisi tinggi protein dan rendah lemak.
- Ajarkan tehnik bernapas dan relaksasi yang benar.
- Pertahankan berkembangnya paru dengan memasang
ventilasi mekanis, chest tube, dan chest drainase sesuai
dengan indikasi.

4. Memperbaiki perfusi jaringan.


- Kaji perubahan tingkat perfusi jaringan (capilary refill time).
- Berikan oksigenasi sesuai dengan kebutuhan.
- Pertahankan asupan dan pengeluaran.
- Cegah adanya perdarahan.
- Hindari terjadinya valsava manuver seperti mengedan,
menahan napas dan batuk.
- Pertahankan perfusi dengan tranfusi sesuai dengan indikasi.

D. Implementasi/ Tindakann Keperawatan


1. Latihan Nafas
2. Latihan Batuk Efektif
3. Pemberian Oksigen
4. Fisioterapi Dada
5. Penghisapan lendir.

E. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi Terhadap masalah kebutuhan oksigen secara umum dapat dinilai dari
adanya kemampuan dalam:
1. Mempertahankan jalan nafas efektif yang ditunjukkan dengan adanya
kemampuan untuk bernapas, jalan napas bersih, tidak ada sumbatan,
frekwensi, Irama, dan kedalaman napas normal serta tidak ditemukan
adanya tanda hipoksia.
2. Mempertahankan pola napas secara efektif yang ditunjukkan dengan
adanya kemampuan untuk bernapas, frekwensi, irama, dan kedalaman
napas normal, tidak ditemukan adanya tanda hipoksia, serta
kemampuan paru berkembang dengan baik.
3. Mempertahankan pertukaran gas secara efektif yang ditunjukkan
dengan adanya kemampuan untuk bernapas, tidak ditemukan dipsnea
pada usaha napas, inspirasi dan ekspirasi dalam batas normal, serta
saturasi oksigen dan PCO2 dalam keadaan normal.
4. Meningkatkan perfusi jaringan yang ditunjukkan dengan adannya
kemampuan pengisian kapiler, frekwensi, irama, kekuatan nadi dalam
batas normal dan status hidrasi normal.