Anda di halaman 1dari 11

Pendahuluan

Harta Karun Kapal Karam di Indonesia

Keadaan geografi dan demografi Indonesia sebagai Negara terbesar di antara


Negara-negara Asia Tenggara merupakan Negara kepulauan terdiri dari 13.667 pulau-
pulau besar dan kecil,dengan 6.044 di antaranya memakai nama, dan lain-lainnya
belum dikenal namanya.
Indonesia merupakan Negara bahari. Sebagai Negara bahari, wilayah Indonesia
tentunya menjadi lintasan angkutan laut yang ramai di dunia dikarenakan Indonesia
sebagai suatu Negara yang terdiri dari ribuan pulau-pulau besar dan kecil, dan
mempunyai wilayah perairan yang dikeilingi oleh samudra-samudra yang sangat
luas ,yaitu Samudra Indonesia dan Samudra Pasifik, dan juga diapit oleh kedua
benua,yaitu Australia dan Asia.
Menurut sejarah, ribuan kapal tenggelam di laut wilayah Indonesia. Kapal-kapal
tersebut membawa muatan yang cukup banyak dan kini muatan tersebut menjadi
harta karun. Penemuan kapal-kapal karam yang memuat harta karun tersebut menarik
perhatian masyarakat internasional. Perburuan harta karun menjadi persoalan besar
sebab selain berkaitan dengan asal usul budaya bangsa juga berkaitan dengan status
kepemilikan secara hukum, nilai ekonomi, nilai kepengetahuan, dan lain-lain, baik
bagi bangsa Indonesia maupun bangsa lain.
Sebagai berikut contoh, berdasarkan kajian histories dari rute perdagangan
Nusantara antara tahun 1511 hingga akhir 1800-an di perairan Laut Jawa tercatat
berbagai musibah sehingga mengakibatkan kapal tenggelam.

Tabel 1.Sejarah kapal-kapal yang tenggelam di perairan Laut Indonesia 1601-1617


Tahun Keterangan
1601 Pada tanggal 26 Desember, terjadi perang laut antara Armada Belanda
dan Portugis di lepas pantai Bantam (Jawa Barat),Armada Belanda terdiri
dari empat kapal layar dan satu kapal perang, yaitu GUELDERLAND (520

1
ton), SEALAND (400 ton), UTRECHT (240 ton), WATCHER (120 tn) dan
DOVE (50 ton). Armada portugis terdiri dari 8 kapal layer besar dan 22
kapal perang (nama tidak diketahui). Perang ini berlangsung selama enam
atau tujuh hari. Dua kapal layar dan tiga kapal perang portugis mengalami
kerusakan berat sehingga awak kapal mencoba mengelabui lawan dengan
cara membakar kapal tersebut, tetapi armada belanda dapat
menghindarinya. Tidak satu pun kapal Belanda yang hilang dalam
pertempuran ini.

1601 Kapal PIE dibawah komando Pereira De Sande, dalam perjalanan dari
Malaka menuju Ambon ketika hilang di bebatuan Peressada di timur laut
jawa. Kapl tersebut di perkirakan membawa emas dan perak.

1611 TRADES INCREASE, Kapal EIC seberat 1239 ton sedang berada di
pelabuhan Banten melapisi kapal dan belum satu bagian selesai dilapisi
kapal terjatuh pada satu sisinya dan rusak total. Peristiwa ini menyebabkan
banyak awak kapal dan pekerja jawa yang tewas.

1613 DES INCREASE, kapal EIC seberat 1100 ton dibawah komando Sir Henry
Middleton berlayar adri Eropa ke bagian timur pada tanggal 1 April 1610.
Kapal menabrak sebuah batu ketika memasuki Banten sehingga
mengalami kebocoran.

1617 HECTOR, kapal EIC dengan Kapten William Edwardes, hilang pada
bulan juni di lepas pantai jawa.

2
Pengangkatan harta karun telah dilakukan oleh pihak-pihak tertentu di beberapa
wilayah Indonesia, misalkan di Tuban, Bali, dan Riau, tanpa sepengetahuan
pemerintah Indonesia. Pada tahun 1980-an dan tahun 1990-an, pengangkatan harta
karun kapal karam menjadi sebuah kontroversi yang besar. Keberadaan harta karun
tersebut baru diketahui setelah ada lelang besar di Balai Lelang di London.

3
Permasalahan

Sejak dulu kala Indonesia tersohor sebagai Negara Maritim. Secara geografis
pun letak Indoneia sangat strategis, yakni di jalur persimpangan perniagaan dunia.
Tak mengherankan, jika lautan Nusantara banyak menyimpan harta karun dari kapal-
kapal abad lampau yang karam.
Dengan banyaknya kapal karam yang terjadi di laut Indonesia dan menjadi
sebuah harta karun ,banyak menjadi sorotan dari dalam maupun dari luar Negari
disekitar Indonesia untuk mengeksploitasi harta karun yang terdapat pada kapal yang
telah karam di laut Indonesia. Pada tahun1980-an dan 1990-an ,pengangkatan harta
karun kapal karam menjadi sebuah kontroversi yang besar. Dimata lain ,armada dan
SDM (Sumber Daya Manusia) dibidang pengawasan hukum yang dimiliki sangat
sedikit tidak sebanding dengan luas lautan yang diawasi.
Dar, pencurian harta karun kerap terjadi, terutama dalam satu dasawarsa
terakhir. Perburuan harta karun pun tak kenal musim. Bayangkan, puluhan ribu harta
peninggalan masa lampau dijarah dari dasar samudra. Pelakunya tak hanya dari dalam
negri, pihak asing pun turut bermain. Adapun nilai kerugian akibat pencurian itu
sangatlah besar, paling tidak mencapai triliunan rupiah. Suatu jumlah yang besar
mengingat saat ini Indonesia masih didera krisis.
Harta karun. Mendengar sebutan saja pasti terbayang seonggok emas, keramik
kuno atau benda berharga lainnya. Tentu ini menggiurkan banyak pihak. Contohnya
saja kota belitung, Provinsi Bangka Belitung. Perairan Bangka Belitung pun strategis
Karena bertetangga dengan Selat Malaka. Sejak beberapa abad silam, bahkan ribuan
tahun lampau selat ini merupakan salah satu jalur laut tersibuk di dunia. Lantaran
itulah, sekitar perairan tersebut, tepatnya di dasar laut diyakini menyimpan banyak
harta karun.
Alhasil perdagangan benda-benda yang diangkat dari kapal-kapal karam begitu
marak di wilayah barat laut Indonesia ini. Sebut saja jual beli keramik-keramik
bernilai histories tinggi. Kota Belitung pun kerap menjadi lokasi pertemuan antara
penemu lokasi harta karun dan investor. Kedua pihak biasanya memakai jasa broker

4
atau perantara. Salah satu broker bernama Ali. Ia kerap menjadi penghubung
transaksi maupun renacana perburuan harta karun. Itu semua dilakukan di rumahnya.
Perburuan harta karun di perairan Belitung, Bahkan menyeret-nyeret nama-nama
besar pemburu harta karun dunia, seperti Michael Hatcher dan Tilman Walterfang.
Hatcher, seorang pemburu harta karun kelas kakap dari Austria berhasil mengangkat
lebih dari 400 ribu keramik dari Dinasti Ching (1644-1911) dan membawa terbang
ke balai lelang di Jerman. Dari proyek pengangkatan hart karun kapal Tek Sing ini,
Hatcher menangguk untung sekitar 6,7 juta mark Jerman atau setara 32 Miliar.
Sementara pemerintah Indonesia hanya kebagian 1.400 keping keramik dan Rp 4,2
miliar.
Tak jauh berbeda dengan yang dilakukan Tilman Walterfang. Warga Jerman ini
disebut-sebut mengeruk harta karun Kapal Tang Cargo hampir 50 ribu keping artefak.
Umumnya berupa keramik asal abad IX Masehi. Nilai ditaksir mencapai US $ 40
juta . Ironisnya, sebagian pemilik saham sah, Indonesia hanya kebagian lima
persennya saja atau sekitar Rp 22 miliar. Itu pun setelah melalui negosiasi a lot.
Tilman sukses membawa kabur artefak kuno itu ke Selandia Baru dengan desalinasi
atau proses pencucian. Tapi harta karun itu tak pernah kembali ke Bumi Pertiwi.
Dalam penelusuran baru-baru ini oleh beberapa wartawan di Indonesia,
menemukan dokumen izin pencucian ke Selandia Baru yang ditandatangani kepala
Biro Politik dan Keamanan yang saat itu dijabat Handi Yohand. Pemerintah lagi-lagi
kecolongan.
Anehnya, perhatian serius datang dari pihak asing, seperti Peter Schwarts, ahli
keramik Cina. Menurut dia, pihaknya sudah berusaha memberitahukan pemerintah
Indonesia tentang pencurian harta karun dari lautan di Indonesia. Sayangnya tidak
mendapat respons.
Tidak hanya terjadi di kota Biletung, Provinsi Bangka Belitung saja.Contoh
lainnya berada di Laut Jawa. Harta karun peninggalan jaman Dinasti Ming yang
berada di dasar Laut Jawa diduga dijarah dan dijadikan "bancakan" oleh sejumlah
pihak. Polisi mensinyalir, kegiatan perburuan yang terjadi selama beberapa bulan
terakhir ini illegal karena tidak mengantongi perijinan dan tidak ada koordinasi
dengan kepolisian.

5
Perburuan harta karun peninggalan abad 15 itu, berdasarkan informasi yang
diperoleh "PR", diduga juga telah merugikan negara. Karena benda kuno seperti
peralatan dapur dari mangkok, piring, gelas keramik itu diduga tidak masuk ke kas
negara dan tidak ada kejelasan penjualannya.
"Padahal benda-benda kuno itu nilainya bisa mencapai puluhan miliar rupiah.
Selama beberapa bulan ini diburu dan tidak koordinasi dengan kepolisian," tutur
sumber "PR" di kepolisian.
Perburuan benda kuno yang diduga ilegal itu belakangan memperoleh perhatian
serius pihak kepolisian. Tidak hanya Polairud dan Polresta Cirebon, kasus harta karun
di perairan Laut Jawa juga memperoleh perhatian serius Polda Jabar dan Mabes Polri.
"Belum lama ini, Mabes Polri dan Polresta Cirebon bahkan melakukan gelar perkara
khusus kasus perburuan harta karun itu. Gelar perkara itu diikuti tim dari Polda Jabar
dan Mabes Polri," tutur sumber "PR" di Polresta Cirebon.
Gelar perkara tersebut dipimpin langsung Kapolresta Cirebon, AKBP Drs.
Wisnu Sanjaya. Bahkan Kapolresta Wisnu memberi penjelasan panjang lebar
mengenai kasus perburuan harta karun di perairan Laut Jawa dalam gelar perkara
yang memperoleh perhatian Mabes Polri.
Jajaran kepolisian tampak sangat serius dengan kasus kasus itu. Karena
perburuan yang dilakukan selama ini, diperkirakan telah berhasil mengangkat banyak
benda-benda berharga, tapi tidak ada kejelasan kemana dijualnya dan kewajiban
pemburu harta karun untuk menyetorkan hasil penjualan ke negara.
Polresta Cirebon sendiri, sejauh ini masih merahasiakan kasus perburuan harta
karun di laut lepas itu. Selama ini, pihak kepolisian di Cirebon sempat kebingungan
menangani kegiatan perburuan benda kuno itu.
Semula Polairud Cirebon mencoba menangani, namun terbentur dengan
persoalan wilayah. Hal itu dikarenakan, kegiatan perburuan itu di luar wilayah
perairan Jabar. Bahkan setelah diadakan penyelidikan, wilayahnya justru lebih dekat
ke perairan Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. Dari situlah, kemudian
Polda Jabar dan Bareskrim Mabes Polri turun tangan. Perburuan harta karun yang
diduga ilegal itu juga sedang dikoordinasikan dengan Depertamen LH dan Disbudpar
Jabar. Harta karun berupa keramik, mangkuk, guci dan cepuk peninggalan abad XVI

6
di Banten Lama dijarah. Pengambilan secara liar yang dilakukan pemburu harta karun
di kawasan situs Purbakala Banten Lama itu sampai saat ini masih berlangsung.
Beberapa warga yang ditemui mengaku mereka melakukan pengambilan harta karun
karena bisa dijual dengan harga yang tinggi. " Kepala Balai Pelestarian Peninggalan
Purbakala Kabupaten Serang, Imam Sunaryo mengatakan, pihaknya sudah beberapa
memperingatkan para penjarah liar itu untuk menghentikan kegiatan mereka.
Mengingat benda yang dijarah tersebut bernilai sejarah tinggi.
"Tapi kegiatan itu masih berlangsung secara sembunyi-sembunyi," ujar Imam.
Dia mengatakan, penjarahan secara liar itu dilakukan oleh penduduk setempat. Tetapi
tetap melanggar dan bisa dikenakan sanksi melanggar Undang-Undang Nomor 5
tahun 1992 tentang benda cagar budaya.
Tidak hanya berupa barang-barang saja yang berhasil dijarah oleh para nelayan.
Contohnya lainnya di Kabupaten Pandeglang saja, harta karun berupa Timah dari
reruntuhan kapal VOC. Polres Pandeglang memeriksa secara intensif Hubes, Direktur
Utama PT Samudera Kembar Jaya (SKJ). Hubes diduga kuat menjarah harta karun
timah hitam dari reruntuhan kapal VOC yang tenggelam tahun 1803 di dekat Pulau
Panaitan, Kawasan Taman Nasional (TN) Ujungkulon, Kabupaten Pandeglang,
Banten.
”Kami melakukan upaya tegas untuk menindaklanjuti kasus timah hitam. Pada
Dirut PT SKJ sudah dipanggil untuk dimintai keterangan,” kata AKBP Tanto Isyadi,.
Seraya menambahkan Hubes tidak ditahan karena masih berstatus dimintai
keterangan, bukan tersangka.
Isyadi mengatakan pemeriksaan terhadap Hubes merupakan lanjutan dari
penangkapan terhadap 17 tersangka penjarahan timah hitam oleh Polsus (Polisi
Khusus) Balai TN Ujungkulon, belum lama ini. Ke-17 tersangka itu terdiri dari
nakhoda KM Setia Kawan dan para pekerja yang bertugas mengambil timah hitam di
perairan Pulau Panaitan.
Namun, Isyadi mengaku sangat berhati-hati dalam menangani kasus penjarahan
harta karun itu. Dia belum menentukan tersangka dan tuduhan apa yang bakal
dikenakan. Semuanya harus disertai saksi dan bukti-bukti yang kuat. Isyadi juga
menghindar komentar apakah Dirut PT SKJ akan dikenakan tuduhan melanggar UU

7
No.5 tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam dan sumber hayati.
Dilindungi
Direktur Eksekutif Lembaga Advokasi Masalah Publik (LAMP) Suhada menilai
Polres Pandeglang tidak tegas dalam menangani kasus penjarahan timah hitam dan
terkesan melindungi kebijakan yang jelas-jelas telah melanggar ketentuan pemerintah
pusat mengenai konservasi sumber daya alam dan sumber hayati.
”Menteri Kehutanan RI sudah menolak izin yang diterbitkan Pemkab
Pandeglang kepada PT SKJ untuk mengekspolitasi harta karun di TN Ujungkulon.
Apa aparat di sini tidak tahu TN Ujungkulon itu tidak hanya milik Indonesia, tapi
masuk dalam salah satu warisan dunia dengan adanya hewan badak bercula satu?”
ujar Suhada.
Penjarahan timah hitam ini semakin merajalela setelah Pemkab Serang
menerbitkan izin untuk PT SKJ dengan SK No.541.16/526-Pem/2003 tanggal 30
Oktober 2003 dan ditandatangani Wakil Bupati Pandeglang Moch Mudjio A Satiri.
Meski Menhut RI menolak izin itu, Bupati Pandeglang Achmad Dimyati
Natakusumah mengemukakan izin itu sah dan berlaku sesuai dengan UU No.22 tahun
1999 tentang pe-merintah daerah atau otonomi daerah (Otda).
Menurut catatan LAMP, lokasi tenggelamnya kapal VOC itu di Pantai Pulau
Panaitan yang termasuk kawasan TN Ujungkulon. Desember 2003, sebanyak 160
batang timah hitam yang rata-rata beratnya 100 kg berhasil diangkat. Januari 2004,
sekitar 120 batang.
Diperkirakan, sekitar 5.000 batang timah hitam masih terpendam di sana.
Para pemerhati lingkungan mengkhawatirkan penjarahan itu merusak lingkungan TN
Ujungkulon. Pasalnya, reruntuhan kapal dan muatan timah hitam itu telah berubah
menjadi semacam terumbu karang, yaitu penyedia makanan bagi ikan-ikan.
Pengambilan timah hitam berarti menghancurkan terumbu karang yang terbentuk
ratusan tahun lalu.
”Perusakan ini berarti melanggar UU No.5 tahun 1990, dan bisa menghancurkan
biota laut di TN Ujungkulon yang dilindungi dunia,” ujar Suhada.

8
Analisa

Dari analisa yang kami ketahui dan kami menyimpulkan bahwa kurangnya
kepedulian masyarakat tentang Kapal karam yang menjadi harta karun di laut. Dan
armada dan SDM (Sumber Daya Manusia) dibidang pengawasan hukum yang
dimiliki sangat sedikit tidak sebanding dengan luas lautan yang diawasi. Begitu juga
dengan pelakunya tak hanya dari dalam negri, pihak asing pun turut bermain. Adapun
nilai kerugian akibat pencurian itu sangatlah besar, paling tidak mencapai triliunan
rupiah.
Suatu jumlah yang besar mengingat saat ini Indonesia masih didera krisis.
Contohnya saja dari pelaku peminat harta karun yang berbagai upaya dilakukan untuk
menjual hasil harta karunnya. Pelaku melakukan transaksi di lokasi pertemuan antara
penemu lokasi harta karun dan investor. Kedua pihak biasanya memakai jasa broker
atau perantara. Salah satu broker bernama Ali. Ia kerap menjadi penghubung
transaksi maupun renacana perburuan harta karun. Itu semua dilakukan di rumahnya.
Perburuan harta karun di perairan Belitung, Bahkan menyeret-nyeret nama-nama
besar pemburu harta karun dunia, seperti Michael Hatcher dan Tilman Walterfang.
Hatcher, seorang pemburu harta karun kelas kakap dari Austria berhasil mengangkat
lebih dari 400 ribu keramik dari Dinasti Ching (1644-1911) dan membawa terbang
ke balai lelang di Jerman.
Dalam penelusuran baru-baru ini oleh beberapa wartawan di Indonesia,
menemukan dokumen izin pencucian ke Selandia Baru yang ditandatangani kepala
Biro Politik dan Keamanan yang saat itu dijabat Handi Yohand. Pemerintah lagi-lagi
kecolongan.
Anehnya, perhatian serius datang dari pihak asing, seperti Peter Schwarts, ahli
keramik Cina. Menurut dia, pihaknya sudah berusaha memberitahukan pemerintah
Indonesia tentang pencurian harta karun dari lautan di Indonesia. Sayangnya tidak
mendapat respons.

9
Saran-Saran Penyelesaian

Dalam berbagai kasus yang terungkap, adapun kasus–kasus yang sebenarnya


dapat ditangani. Dapat terlihat kekurangan-kekurangan berupa kurangnya Armada
kapal dan SDM (Sumber Daya Manusia) untuk menjaga perairan Indonesia.
Sedangkan saran-saran yang dapat kami sampaikan adalah penambahan Armada
kapal dan peralatan yang menunjang untuk melindungi harta karun yang bernilai
triliunan, seperti Radar dan persenjataan.

10
DAFTAR PUSTAKA

• Supangat, Agus. 2006. Berburu Harta Karun di Laut – INOVASI. Jakarta.

• Tempo Interaktif. 2006. Warga Jarah Harta Karun. Jakarta.

11