Anda di halaman 1dari 154

Perpustakaan Nasional RI: Data Katalog Dalam Terbitan (KDT)

Prosiding seminar inovasi teknologi pertanian untuk pengembangan agribisnis industrial pedesaan di wilayah marjinal/penyunting, Muryanto [et al.]. - - Ungaran: Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Tengah,

2007.

723 hlm; ills.; 20 cm.

ISBN:

1. Inovasi Teknologi Pertanian - - Seminar Nasional

I. Judul III. BPTP Jawa Tengah

Penyunting:

Muryanto Teguh Prasetyo Susanto Prawirodigdo Yulianto Agus Hermawan Ekaningtyas Kushartanti Sudi Mardiyanto Sumardi

Redaksi Pelaksana:

Tota Suhendrata Isnani Herianti M.D. Meniek Pawarti Herwinarni E.M. Ariarti Tyasdjaja

Perancang Grafis:

F. Rudi Prasetyo Hantoro

II. Muryanto

Dibiayai oleh:

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Tengah Bukit Tegalepek, Sidomulyo, Kotak Pos 101 Ungaran 50501

Telp.

: (024) 6924965 – 6924967

Fax.

: (024) 6924966

Email

: bptpjtg@indosat.net.id;

jateng@litbang.deptan.go.id; Website : http://jateng.litbang.deptan.go.id

PROSIDING SEMINAR

INOVASI TEKNOLOGI PERTANIAN UNTUK PENGEMBANGAN AGRIBISNIS INDUSTRIAL PEDESAAN DI WILAYAH MARJINAL

8 NOVEMBER 2007

Penyunting

Muryanto Teguh Prasetyo Susanto Prawirodigdo Yulianto Agus Hermawan Ekaningtyas Kushartanti Sudi Mardiyanto Sumardi

Hermawan Ekaningtyas Kushartanti Sudi Mardiyanto Sumardi BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERTANIAN BALAI BESAR

BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERTANIAN

BALAI BESAR PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN TEKNOLOGI PERTANIAN

2007

PENGANTAR

Seminar Nasional dengan tema Inovasi dan Alih Teknologi Pertanian untuk Pengembangan Agribisnis Industrial Pedesaan di Wilayah Marginal merupakan kegiatan yang dikemas untuk menyampaikan infomasi hasil penelitian di wilayah marjinal. Seminar Nasional telah dilaksanakan pada 8 November 2007 di Semarang, Jawa Tengah, dan diikuti oleh para ilmuwan lingkup Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Provinsi Jawa Tengah, Perguruan Tinggi, dan LSM. Selain itu juga diikuti oleh para praktisi, penentu kebijakan, pengguna teknologi, dan mahasiswa. Tujuan seminar adalah untuk mengkomunikasikan hasil-hasil penelitian, pengkajian, dan gagasan serta menjaring umpan balik untuk akselerasi inovasi dan alih teknologi pertanian dalam rangka pengembangan agribisnis industrial pedesaan.

Prosiding ini adalah kumpulan dari bahan Seminar Nasional Inavasi dan Alih Teknologi Pertanian untuk Pengembangan Agribisnis Industrial Pedesaan di Wilayah Marginal. terdiri dari 3 buku.

Buku I berisi empat makalah utama yang membahas masalah kebijakan di bidang teknologi pertanian dan pengembangan agribisnis, serta 13 makalah penunjang yang berisi informasi teknologi pasca-produksi hasil kajian di lapangan pada berbagai komoditas. Buku II berisi teknologi produksi yang terdiri atas 44 makalah, dalam upaya peningkatan produksi di lahan marjinal untuk meningkatkan pendapatan petani. Teknologi yang dibahas antara lain terkait dengan budidaya dan usahatani berbagai komoditas, pakan, dan pemanfaatan sumber daya lahan. Buku III berisi alih teknologi dan sosial ekonomi pertanian yang terdiri atas 27 makalah, dalam upaya inovasi teknologi dan peningkatan kinerja usahatani. Teknologi yang dibahas meliputi kelembagaan, model diseminasi, dan pemasaran.

Pada kesempatan ini disampaikan penghargaan serta ucapan terima kasih kepada scmua pihak yang telah memberikan kontribusi dan berpartisipasi dalam penyusunan prosiding ini. Semoga prosiding ini bermanfaat bagi kita semua.

Ungaran, Desember 2007

Kepala Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Dr. Ir. Muhrizal Sarwani, MS NIP. 080 069 528

ii

DAFTAR ISI

Halaman

PENGANTAR

ii

DAFTAR ISI

iii

HASIL PERUMUSAN

v

MAKALAH UTAMA

1. Teknologi kelembagaan dan strategi alih teknologi pertanian untuk pengembangan agribisnis industrial pedesaan di wilayah marjinal Dr.Ir. Muhrizal Sarwani, M.Sc

1

2. Penyiapan infrastruktur bagi pengembangan agribisnis Dra. Sri Yuwanti, MA, MPd

9

3. Pengembangan agroindustri dalam mendukung agribisnis Dr. Ir. S Joni Munarso, MS

21

4. Keragaan pengembangan model peningkatan pendapatan petani melalui inovasi teknologi pertanian Dr. E. Eko Ananto

29

MAKALAH PENUNJANG BUKU I: INOVASI TEKNOLOGI PASCA PRODUKSI

1. Mutu benang sutera di KPH Pati Jawa Tengah Agus Budiyanto dan Mulyana Hadipernata

41

2. Pemberdayaan kelompok petani kecil Desa Getas Kabupaten Temanggung melalui inovasi teknologi produksi kerupuk jagung aneka rasa Dwi Nugraheni, Agus Sutanto, dan Kendriyanto

48

3. Minuman air kelapa sebagai alternatif produk olahan buah kelapa

Heny Herawati

dan Agus Nurawan

53

4. Kajian perbaikan kualitas produk dan peningkatan kapasitas produksi olahan lempuyang wangi di Kabupaten Blora Indrie Ambarsari, Sarjana dan Budi Hartoyo

58

5. Prospek usaha pengolahan keripik pisang di lahan kering dataran rendah Kabupaten Banjarnegara Indrie Ambarsari, A, Choliq, dan Samsul Bahri

66

6. Pemanfaatan tomat sebagai produk minuman jus tomat di sub terminal agribisnis Bayongbong Kabupaten Garut Sunarmani dan Iceu Agustinisari

74

7. Pengkajian penggunaan alat/mesin perontok padi dalam upaya mendukung alih teknologi perontokan padi kepada petani. (Studi kasus di Desa Sukoreno, Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulon Progo) Nugroho Siswanto dan Rob. Mudjisihono

83

8. Pemanfaatan buah semu jambu mete menjadi sirup di Kecamatan Todanan Kabupaten Blora Dwi Nugrahaeni, Budi Hartoyo, dan Kendriyanto

91

iii

9. Pembu atan pasta tomat medium dengan blower evaporator dan analisis mutunya Ermi Sukasih, Sunarmani, dan Iceu Agustinisari

95

10. Pengaruh pengupasan dan waktu penyangraian terhadap sifat minuman bubuk kedelai Rob. Mudjisihono, Heni Purwaningsih dan Nugraho Siswanto

105

11. Kinetika perubahan mutu fisikokimia beberapa pasta tomat Sunarmani dan Ermi Sukasih

116

12. Cara penyimpanan biji jagung dengan hermetic system Agus Sutanto dan Kendriyanto

126

13. Kajian pengolahan jagung untuk bahan pangan Agus Sutanto dan Dwi Nugrahaeni

132

DAFTAR PESERTA

141

iv

RUMUSAN HASIL SEMINAR

Wilayah marjinal sebagai tema seminar dialamatkan untuk mengangkat kondisi lahan dan perekonomian masyarakat marjinal menjadi fokus perhatian sebagai pokok bahasan. Sehubungan dengan itu dalam seminar ini telah dibahas berbagai topik makalah yang berkaitan dengan lahan marjinal dan/atau masyarakat tani berstatus ekonomi lemah. Rumusan dari hasil seminar ini adalah sebagai berikut.

Lahan marjinal mempunyai keterbatasan dalam hal sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Di samping itu pada umumnya topografinya juga kurang sesuai untuk berusahatani. Oleh sebab itu lahan marjinal dicirikan dengan status hara dan kapasitas menahan air sangat rendah, fungsi hidrologi rusak, bahan organik kritis sebagai akibat erosi air maupun angin, terjadi pencemaran, dan konsekuensinya keadaan perekonomian masyarakat juga lemah. Kondisi tersebut merupakan salah satu penyebab tingkat kesejahteraan petani di lahan marjinal rendah.

Beberapa cara yang perlu dilakukan untuk meningkatkan produktivitas lahan marjinal di antaranya adalah pemakaian varietas tanaman unggul berumur genjah, penerapan pola tanam sesuai dengan curahan hujan, perbaikan teknik budidaya tanaman, serta usaha konservasi lahan. Namun kenyataannya, pengembangan teknologi pertanian di lahan marjinal yang merupakan konsentrasi petani miskin, kurang mendapat prioritas dibanding di lahan irigasi. Demikian juga dengan dukungan kelembagaan dan ketersediaan sarana/prasarana, serta akses informasi masih sangat terbatas. Kondisi seperti ini menempatkan masyarakat/petani semakin terpuruk dalam perangkap kemiskinan.

Sehubungan dengan kondisi ini diperlukan suatu upaya terprogram yang dirancang untuk dapat menjawab permasalahan di wilayah marjinal.

Kesejahteraan/pendapatan petani miskin seharusnya ditingkatkan melalui inovasi pertanian mulai dari tahap produksi sampai pemasaran hasil. Untuk itu diperlukan peningkatan akses petani terhadap informasi pertanian, dukungan pengembangan inovasi pertanian, serta upaya pemberdayaan petani.

Pendekatan partisipatif dalam perencanaan dan pelaksanaan, pengembangan kelembagaan serta perbaikan sarana/prasarana yang dibutuhkan di desa, merupakan alternatif dalam pemberdayaan petani untuk meningkatkan kemampuan mengadopsi inovasi.

Dalam upaya program peningkatan produktivitas lahan dan peningkatan pendapatan petani hendaknya dilakukan melalui pendekatan kawasan, pemberdayaan masyarakat, agribisnis, dan kelembagaan yang di dukung oleh sarana prasarana memadai. Sebagai alternatif program dapat digunakan sebagai pertimbangan adalah model Primatani dan Agropolitan.

Dalam program tersebut diperlukan dukungan pengembangan penyebarluasan inovasi pertanian, yang dimaksudkan untuk melakukan reorientasi dalam melakukan penelitian dan pengkajian pengembangan inovasi pertanian yang sesuai untuk kebutuhan para petani di lahan marjinal, serta untuk mendukung pelaksanaan diseminasi guna menginformasi kan potensi inovasi kepada petani dalam rangka meningkatkan produksi pertanian.

Beberapa inovasi teknologi hasil penelitian, kelembagaan dan diseminasi yang dapat dipertimbangkan sebagai referensi untuk mendukung upaya peningkatan produktivitas lahan dan pendapatan petani di wilayah marjinal. Inovasi-inovasi tersebut di antaranya adalah:

Sub-Sektor tanaman pangan dan obat

- Peningkatan produktivitas jagung, padi gogo, cabai kacang tanah, ubi jalar tanaman obat dengan lebih mengefisiensikan penggunaan pupuk NPK, aplikasi komponen-komponen pengelolaan tanaman terpadu (PTT), mengobtimalkan pemanfaatan embung, dan mengunakan varietas sesuai lahan.

v

- Pengendalian serangan organisme pengganggu tanaman bawang merah dan cabai secara simultan dengan pemupukan berimbang dan penggantian varietas

Sub-Sektor peternakan

- Pengembangan ternak ruminansia menggunakan strategi penyediaan pakan (hijauan maupun limbah pertanian/perkebunan) dengan konsep terprogram dan teknologi terapan.

- Peningkatan produktivitas/reproduksi sapi perah dengan memperbaiki manajemen laktasi dan perbaikian pakan pada periode gestasi (flushing)

Panen dan pasca-panen

- Peningkatan nilai tambah hasil pertanian melalui perbaikan teknik panen, penggunaan alat untuk memanen, penyimpanan hasil, deversivikasi olahan hasil panen (teknologi pasca panen) yang dilengkapi dengan sertifikasi produk halal.

Kelembagaan

- Inovasi yang mencakup kelembagaan input produksi, proses produksi, pasca produksi hingga kelembagaan pasar. Di samping itu juga perlu adanya dukungan kemitraan usaha dengan swasta/pihak terkait.

Diseminasi dan alih teknologi

- Strategi diseminasi/mempercepat alih teknologi melalui kegiatan gelar, pelatihan, dan pendampingan teknologi yang dikemas dalam bentuk yang mudah dimengerti oleh petani (contohnya media cetak komik dan VCD)

- Kegiatan diseminasi yang dikaitkan dengan PRIMATANI dan P4MI

Diperlukan keterpaduan antara materi penelitian/pengkajian dengan peneliti/pengkaji yang sesuai dengan keahliannya.

vi

Prosiding Seminar Nasional

UPAYA PERCEPATAN ALIH TEKNOLOGI UNTUK PENGEMBANGAN AGRIBISNIS INDUSTRIAL PEDESAAN DI WILAYAH MARJINAL

Muhrizal Sarwani Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

PENDAHULUAN

Usahatani di lahan marjinal dihadapkan pada berbagai kendala. Utamanya adalah bagaimana mengelola air yang menjadi faktor pembatas dalam berusahatani, sehingga produktivitas lahan dapat ditingkatkan. Selain itu lahan marjinal mempunyai keterbatasan seperti sifat fisik, kimia, dan biologi tanah yang tidak baik serta topografi lahan yang kurang mendukung dalam berusahatani. Berbagai keterbatasan yang dihadapi di lahan marjinal berdampak pula pada aspek sosial budaya masyarakat. Petani lahan marjinal relatif terbelakang dibandingkan petani di lahan-lahan yang subur. Implementasi program untuk pengembangan agribisnis di lahan marjinal memerlukan pendekatan khusus dengan tidak hanya memperhatikan implementasi teknologi kepada petani, akan tetapi juga perlu didukung dengan implementasi kelembagaan yang betul- betul sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat.

Untuk meningkatkan produktivitas di lahan marjinal yang umumnya berupa lahan kering, ada beberapa cara yang dapat dilakukan antara lain pemakaian varietas tanaman unggul berumur genjah, penerapan pola tanam yang sesuai dengan curahan hujan, perbaikan teknik budidaya tanaman, serta usaha konservasi lahan sehingga kelestarian lahan dapat dijaga. Untuk menjaga keberlanjutan pengembangan agribisnis di suatu wilayah perlu sedini mungkin adanya pemahaman akan potensi, kendala dan peluang serta tantangan dalam berusahatani yang digali secara partisipatif dengan melibatkan semua pihak terkait, khususnya petani sebagai pelaku utamanya.

Prima Tani merupakan salah satu upaya Badan Litbang Pertanian dalam percepatan diseminasi inovasi pertanian, termasuk untuk kegiatan pertanian di lahan marjinal. Makalah ini mencoba memotret permasalahan umum di lahan marjinal serta upaya Badan Litbang Pertanian melalui Prima Tani mengembangkan agribisnis industrial pedesaan dengan memadukan berbagai pendekatan.

PERMASALAHAN PERTANIAN DI LAHAN MARJINAL

Lahan marginal dicirikan oleh tanah dengan status hara dan kapasitas menahan air sangat rendah, telah mengalami kerusakan dan kehilangan fungsi hidrologis maupun ekonomi yang diakibatkan oleh erosi air atau angin, selain itu telah mengalami penurunan status unsur hara, bahan organik serta aktifitas biologi tanah, terjadi salinitas dan pencemaran. Masalah utama pada lahan marginal adalah rendahnya kesuburan dan kemampuan tanah untuk mendukung pertumbuhan tanaman pada kondisi iklim dan lingkungan yang sesuai. Untuk mempertahankan produksi tetap lestari maka cara untuk memelihara atau mempertahankan kesuburan adalah dengan menciptakan penggunaan lahan dalam kondisi ekosistem alami (Barrow, 1991). Pengusahaan pertanian intensif secara monokultur yang menerapkan berbagai teknologi high-input pada areal yang lebih subur telah mengakibatkan lahan marginal semakin luas (Reijntjes, 1999).

Bentuk-bentuk degradasi lahan antara lain: degradasi secara fisik (erosi tanah baik oleh air ataupun angin), kimia (kemasaman tinggi dan penurunan kandungan unsur hara), dan biologi (penurunan kandungan bahan organik tanah dan aktivitas biologi tanah), salinisasi dan pencemaran tanah (Young, 1997). Degradasi lahan adalah masalah penggunaan tanah secara inherent yang mempunyai kesuburan rendah atau mempunyai potensi relatif rendah sehingga disebut juga sebagai lahan “fragile” atau “marginal”. Oleh karena itu, lahan marginal dan terdegradasi adalah lahan yang dicirikan oleh tanah dengan status hara dan kapasitas menahan air sangat rendah dan telah mengalami kerusakan serta kehilangan fungsi hidrologi dan ekonomi (Barrow, 1991).

Perubahan lingkungan daerah tropika berkaitan erat dengan pembukaan hutan, terjadinya pergeseran lahan pertanian ke daerah tengah dan hulu dengan kemiringan lahan lebih curam dan beresiko tinggi terhadap erosi.

Prosiding Seminar Nasional

degradasi lahan dan perluasan lahan kritis. Permasalahan tersebut mendorong munculnya upaya untuk mengenali dan mengembangkan sistem agroforestri yang telah diterapkan petani sejak dulu di daerah tropika termasuk di Indonesia.

Keberlanjutan sistem penggunaan lahan sangat tergantung pada fleksibilitasnya dalam keadaan lingkungan yang terus berubah. Adanya keanekaragaman sumberdaya genetik yang tinggi pada tingkat usahatani akan menunjang fleksibilitas ini (Reijntjes, 1999). Menurut FAO (1995), pertanian berkelanjutan adalah pengelolaan dan konservasi sumberdaya alam yang berorientasi teknologi dan perubahan institusi untuk menjamin tercapainya kebutuhan manusia saat ini dan generasi yang akan datang. Pembangunan berkelanjutan seperti itu akan melindungi sumberdaya lahan, air, tanaman, dan sumberdaya genetik hewan dengan teknologi yang cocok, serta menguntungkan secara ekonomi dan dapat diterima secara sosial tanpa kerusakan lingkungan.

Pada lingkup Badan Litbang Pertanian, terjadinya kesenjangan ketersediaan inovasi teknologi pada tingkat Balit/Puslit dan kebutuhan pengguna merupakan suatu masalah yang memerlukan perhatian kita semua.

Penyebab utama masalah ini adalah masih kurangnya perhatian Balit/Puslit terhadap kebutuhan inovasi teknologi pertanian di lahan marginal. Selama ini, penciptaan inovasi teknologi pertanian yang lebih diprioritaskan oleh Balit/Puslit adalah inovasi teknologi pertanian untuk lahan non-marginal atau sentra produksi yang telah mapan. Hal ini tercermin dari kecilnya persentase anggaran penelitian yang dialokasikan untuk lahan marginal di Balit/Puslit. Pada enam tahun terakhir ini, dari 9 institusi yang dapat ditelusuri alokasi anggaran penelitiannya menunjukkan bahwa 4 institusi yaitu Balit Serealia, Balitsa, BPTP Jabar dan BPTP Sulsel rata-rata pertahun mengalokasikan anggaran untuk penelitian lahan marginal kurang dari 10%, sedangkan Balitpa dan BB Mektan sekitar 12% dari total anggaran penelitiannya (Tabel 1). Akibat rendahnya alokasi anggaran penelitian untuk lahan marginal tersebut, maka yang terjadi adalah sebagai berikut:

- Inovasi teknologi pertanian yang dibutuhkan pengguna di lahan marginal tidak tersedia di tingkat Balit/Puslit

- Inovasi teknologi pertanian lahan marginal yang tersedia di Balit/Puslit masih kurang lengkap.

tingkat Balit/Puslit - Inovasi teknologi pertanian lahan marginal yang tersedia di Balit/Puslit masih kurang lengkap. 2

2

Prosiding Seminar Nasional

UPAYA PERCEPATAN DISEMINASI INOVASI DI LAHAN MARJINAL

Badan Litbang Pertanian sebagai lembaga yang melakukan penelitian untuk pengembangan telah banyak menghasilkan inovasi pertanian, beberapa di antaranya telah digunakan secara luas dan terbukti menjadi tenaga pendorong utama pertumbuhan dan perkembangan agribisnis berbagai komoditas pertanian. Salah satu contoh yang tergolong fenomenal ialah Revolusi Hijau pada agribisnis padi dan jagung hasil dari penemuan varietas unggul dengan berbagai komponen teknologi penunjangnya. Dukungan teknologi perbenihan unggul juga telah mampu mendorong perkembangan agribisnis dan beberapa komoditi unggulan lainnya antara lain mendorong agribisnis perkebunan kelapa sawit dengan sangat pesat. Namun demikian, evaluasi eksternal maupun internal menunjukkan bahwa kecepatan dan tingkat pemanfaatan inovasi yang dihasilkan Badan Litbang Pertanian cenderung melambat, bahkan menurun. Masalah (bottle neck) utamanya adalah pada segmen rantai pasok terutama pada subsistem penyampaian (delivery subsystem) dan subsistem penerima (receiving subsystem).

Berkaitan dengan hal-hal tersebut di atas, diperlukan suatu “jembatan penghubung” antara Badan Litbang Pertanian sebagai pemasok teknologi (generating system) dengan pengguna, agar inovasi pertanian spesifik lokasi yang telah dihasilkan dapat segera diterapkan dengan cepat dan tepat. Untuk itu, mulai tahun 2005, Badan Litbang Pertanian telah melaksanakan Prima Tani (Program Rintisan dan Akselerasi Pemasyarakatan Inovasi Teknologi Pertanian) yang berfungsi sebagai jembatan penghubung langsung ke pengguna, antara Badan Litbang Pertanian (generating system) dengan lembaga penyampaian (delivery system) maupun pelaku agribisnis (receiving system) dan secara langsung merupakan wahana pengkajian partisipatif. Prima Tani adalah model atau konsep baru diseminasi teknologi yang dipandang dapat mempercepat penyampaian informasi dan bahan dasar inovasi baru yang dihasilkan Badan Litbang Pertanian.

Prima Tani dirancang melalui proses yang cukup panjang dan konsisten (konsep dirancang sejak tahun 2004), serta secara

kontinu dilakukan berbagai penyempurnaan yang disesuaikan dengan perkembangan di lapangan dan dinamika kebijakan di Departemen Pertanian. Prima Tani pertama kali diimplementasikan pada tahun 2005 di 14 propinsi meliputi 21 kabupaten, yaitu Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan. Pada tahun 2006, pelaksanaan kegiatan Prima Tani diperluas lagi di 11 propinsi baru mencakup 11 kabupaten (sehingga total ada di 25 propinsi meliputi 32 kabupaten) yaitu NAD, Riau, Jambi, Bengkulu, Banten, DI Yogyakarta, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, dan DKI Jakarta. Pada tahun 2007, dengan pertimbangan agar Prima Tani dapat dicontoh oleh lebih banyak daerah maka pelaksanaannya diperluas hingga di 33 propinsi yang mencakup 201 desa.

Tujuan Prima Tani

Prima Tani bertujuan untuk mempercepat waktu, meningkatkan kadar, dan memperluas prevalensi adopsi teknologi inovatif yang dihasilkan Badan Litbang Pertanian serta untuk memperoleh umpan balik dari pengguna mengenai karakteristik teknologi tepat guna spesifik pengguna dan lokasi, yang merupakan informasi esensial dalam rangka mewujudkan penelitian untuk pengembangan.

Keluaran Prima Tani

Keluaran akhir Prima Tani adalah terbentuknya AIP (Agribisnis Industrial Pedesaan)/Sistem Usahatani Intensifikasi Diversifikasi (SUID). Keluaran Prima Tani tersebut pada prinsipnya adalah pembangunan industrial pedesaan dimana memiliki dampak yaitu perubahan tingkat usahatani, tingkat pendapatan rumah tangga dan pembangunan tingkat desa. Secara rinci keluaran program ini adalah sebagai berikut:

a. Model kelembagaan sistem dan usaha agribisnis berbasis pengetahuan dan teknologi inovatif.

b. Model pengadaan sistem teknologi dasar (antara lain benih dasar, prototipe, alsintan, usaha pasca panen skala komersial) secara luas dan disentralistik.

Prosiding Seminar Nasional

c. Model penyediaan sistem informasi, konsultasi dan sekolah lapang bagi praktisi agribisnis.

d. Model pembinaan kemampuan masyarakat dan pemerintah setempat untuk melanjutkan pengembangan dan pembinaan percontohan sistem dan usaha agribisnis berbasis pengetahuan dan teknologi secara mandiri.

Strategi Prima Tani

Dalam upaya mencapai tujuan yang telah ditarget, maka strategi pelaksanaan Prima Tani adalah sebagai berikut: (1) Menerapkan teknologi tepat guna sehingga mampu menjawab permasalahan dan kebutuhan pengguna, (2) Membangun model percontohan agribisnis progresif berbasis teknologi inovatif, (3) Mendorong proses difusi dan replikasi model percontohan teknologi inovatif, (4) Menyelaraskan dan mensinergiskan dengan program-program lingkup Deptan termasuk dengan program pemda setempat di lokasi Prima Tani, dan (5) Menggunakan pendekatan partisipatif.

Pendekatan Prima Tani

Paling tidak ada lima pendekatan yang dilakukan dalam implementasi Prima Tani secara partisipatif dalam suatu desa atau laboratorium agribisnis, yaitu (1) Agroeko- sistem: sawah, lahan kering dan lahan rawa, (2) Agribisnis, (3) Wilayah, (4) Kelembagaan, dan (5) Pemberdayaan masyarakat.

Penggunaan pendekatan agroekosistem berarti Prima Tani diimplementasikan dengan memperhatikan kesesuaian dengan kondisi bio-fisik lokasi yang meliputi aspek lahan, air, wilayah komoditas, dan komoditas dominan. Pendekatan agribisnis berarti implementasi Prima Tani telah memperhatikan keterkaitan subsistem penyediaan input, usahatani, pascapanen, pemasaran, dan penunjang dalam satu sistem. Pendekatan wilayah dalam kaitannya optimasi penggunaan lahan untuk pertanian dalam satu kawasan dengan pemberian proritas pengembangan pada komoditas unggulan. Sementara pendekatan kelembagaan tidak hanya memperhatikan keberadaan dan fungsi suatu organisasi, tetapi juga melihat secara komprehensif kaitannya dengan modal, sosial, norma, dan aturan yang sudah berjalan di lokasi Prima Tani. Pendekatan pemberdayaan masyarakat menekankan perlunya penumbuhan

kemandirian petani dalam memanfaatkan potensi sumberdaya setempat secara arif dan bijaksana dengan mengedepankan prinsip ekonomi dan konservasi sumberdaya alam.

Prima Tani Merupakan Implementasi Paradigma Baru Litbang

Prima Tani pada dasarnya merupakan pelaksanaan dari paradigma baru penelitian dan pengembangan yang dilakukan oleh Badan Litbang Pertanian. Pada masa lalu, paradigma yang dianut dapat disebut sebagai penelitian dan pengembangan (Research and Development) dengan fokus melaksanakan penelitian dan pengembangan untuk menemukan atau menciptakan teknologi. Kegiatan diseminasi lebih dominan pada mempublikasikan karya ilmiah dan menginformasikan keberadaan inovasi teknologi. Dengan paradigma lama tersebut tugas dan tanggung jawab Badan Litbang Pertanian ditafsirkan sempit, terbatas pada menyediakan dan menginformasikan teknologi inovatif. Penyebaran teknologi inovatif yang dihasilkan tersebut dipandang sebagai di luar mandat Badan Litbang Pertanian.

Dengan paradigma penelitian dan pengembangan itu pula maka sasaran Badan Litbang Pertanian berorientasi pada menghasilkan teknologi inovatif dan mempublikasikan karya ilmiah sebanyak- banyaknya. Keseuaian teknologi yang dihasilkan dengan preferensi pengguna menjadi kurang diperhatikan. Penyaluran (delivery) dan penerapan (receiving/adopsi) teknologi yang dihasilkan dipandang sebagai di luar tugas pokok Badan Litbang Pertanian. Kegiatan yang dihasilkan cenderung bersifat ”Penelitian untuk Peneltian” (Research for Research) dan ”Penelitian untuk Publikasi” (Research for Publication). Barangkali paradigma inilah salah satu penyebab utama fenomena lamban dan rendahnya tingkat penerapan teknologi yang dihasilkan Badan Litbang Pertanian oleh pengguna.

Menyadari hal itu, Badan Litbang Pertanian menerapkan paradigma baru dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, yaitu ”Penelitian untuk Pembangunan” (Research for Development). Dengan paradigma baru ini, orientasi kerja Badan Litbang Pertanian adalah menghasilkan

4

Prosiding Seminar Nasional

teknologi inovatif untuk diterapkan sebagai mesin penggerak (prime mover) pembangunan Pertanian. Untuk itu kegiatan penelitian dan pengembangan haruslah berorientasi pada pengguna (user oriented) sehingga teknologi inovatif yang dihasilkan lebih terjamin benar- benar tepat guna spesifik lokasi dan pemakai. Penelitian dan pengembangan haruslah dilaksanakan secara partisipatif dengan melibatkan perwakilan calon pengguna outputnya.

Dalam paradigma “Penelitian untuk Pembangunan”, peran kegiatan diseminasi diposisikan sama penting dengan kegiatan penelitian dan pengembangan. Kalau pada masa lalu, diseminasi praktis hanya untuk menginformasikan dan menyediakan teknologi sumber/dasar secara terpusat di Balai Penelitian, maka kini dengan paradigma “Penelitian untuk Pembangunan”, diseminasi diperluas dengan juga melaksanakan pengembangan percontohan sistem dan usaha agribisnis berbasis teknologi inovatif dan penyediaan teknologi dasar secara terdesentralisasi sebagai inisiatif untuk merintis pemasyarakatan teknologi yang dihasilkan Badan Litbang Pertanian. Sasaran kegiatan diseminasi juga disesuaikan, dari tersebarnya informasi kepada masyarakat pengguna teknologi menjadi tersedianya contoh konkrit penerapan teknologi di lapangan.

Prima Tani merupakan strategi dalam mengimplementasikan paradigma baru Badan Litbang Pertanian tersebut. Dipandang dari segi pelaksanaan kegiatan penelitian dan pengembangan, Prima Tani merupakan wahana untuk pelaksanaan penelitian dan pengembangan partisipatif dalam rangka mewujudkan penelitian dan pengembangan berorientasi konsumen/pengguna (Consumer Oriented Research and Development). Dilihat dari segi pelaksanaan kegiatan diseminasi, Prima Tani merupakan wahana untuk menghubungkan secara langsung Badan Litbang Pertanian sebagai penyedia teknologi sumber/dasar dengan masyarakat luas atau pengguna teknologi secara komersial maupun lembaga-lembaga penunjang pembangunan sehingga adopsi teknologi yang dihasilkan Badan Litbang Pertanian tidak saja tepat guna, tetapi juga langsung diterapkan dalam sistem dan usaha agribisnis, setidaknya dalam tahapan rintisan atau percontohan. Rintisan

atau percontohan diharapkan menjadi titik awal difusi massal teknologi inovatif yang dihasilkan Badan Litbang Pertanian.

Inovasi Pertanian dan Keterkaitan Antar Komponen

Tujuan akhir dari Prima Tani adalah terwujudnya Agribisnis Industrial Pedesaan (AIP) yang mampu menyediakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan bagi masyarakat setempat. Untuk mewujudkan AIP tersebut dapat ditempuh melalui inovasi pertanian yang meliputi inovasi teknologi dan inovasi kelembagaan, serta adanya keterkaitan dan saling ketergantungan antara komponen dalam pelakasanaan Prima Tani.

Inovasi Teknologi

Inovasi pertanian adalah teknologi dan kelembagaan agribisnis yang unggul hasil temuan atau ciptaan Badan Litbang Pertanian, dimana Prima Tani merupakan wahana untuk mengintroduksikan teknologi dan kelembagaan tersebut. Oleh karena itu, karakteristik teknologi Prima Tani adalah teknologi unggul dan matang yang telah dihasilkan oleh Balit Komoditas maupun Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP). Dengan demikian, Prima Tani pada dasarnya ialah metode penelitian dan pengembangan yang juga salah satu modus diseminasi teknologi, keduanya termasuk dalam mandat institusional Badan Litbang Pertanian. Dengan teknologi yang prima akan tercipta sistem dan usaha agribisnis yang prima pula.

Inovasi Kelembagaan

Inovasi kelembagaan dibutuhkan untuk menghantarkan inovasi teknologi dalam peningkatan produksi dan pendapatan petani secara maksimal dan berkelanjutan. Dalam inovasi kelembagaan juga dibutuhkan kemampuan untuk melakukan identifikasi dan analisis aspek kelembagaan yang sedang berjalan. Oleh karena itu, penumbuhan kelembagaan Agribisnis Industrial Pedesaan (AIP) pada lokasi Prima Tani perlu mempertimbangkan tujuh prinsip yaitu, kebutuhan, efektivitas, efisiensi, fleksibilitas, manfaat, pemerataan dan keberlanjutan. Elemen kelembagaan AIP yang dikembangkan dapat berupa kelembagaan produksi, sarana produksi, penyuluhan, klinik agribisnis, pasca panen dan pemasaran hasil, jasa alsintan, pengelolaan hasil dan

Prosiding Seminar Nasional

permodalan. Selain berfungsi, keterkaitan fungsional antar kelembagaan AIP harus ditempatkan dalam bingkai hubungan keterkaitan institusional dan harus tercermin dalam hubungan sharring system yang adil berdasarkan kesepakatan bersama.

Keterkaitan Antar Komponen

Prima Tani pada intinya adalah membangun model percontohan sistem dan usaha agribisnis progresif berbasis teknologi inovatif yang memasukkan sistem inovasi dan sistem agribisnis. Dalam model ini, Badan Litbang Pertanian tidak lagi hanya berfungsi sebagai produsen teknologi sumber/dasar, tetapi juga terlibat aktif dalam memfasilitasi penggandaan, penyaluran dan penerapan teknologi inovatif yang dihasilkannya. Prima Tani pada dasarnya adalah model terpadu Penelitian – Penyuluhan – Agribisnis – Pelayanan Pendukung (Research – Extension – Agribusiness – Supporting Service Linkages).

Pembentukan jejaringan kerja terpadu Penelitian – Penyuluhan – Agribisnis – Pelayanan merupakan salah satu terobosan kelembagaan dalam Prima Tani yang dapat diuraikan sebagai berikut:

Prima Tani akan merajut ulang hubungan sinergis Penelitian – Penyuluhan (Research – Extension Linkages) yang cenderung semakin melemah atau bahkan terputus di beberapa wilayah sebagai akibat dari belum mantapnya pelaksanaan otonomi daerah. Kegiatan yang akan dilakukan Badan Litbang Pertanian melalui Prima Tani ialah mengintegrasikan kegiatannya dengan lembaga penyuluhan pertanian di daerah melalui penelitian, pengembangan, pengkajian partisipatif di dalam “laboratorium lapang”, membekali penyuluh dengan pengetahuan dan bahan penyuluhan mengenai teknologi inovatif yang diintroduksikan serta menyediakan teknologi sumber/dasar hasil temuan atau ciptaannya. Dengan demikian, Prima Tani dapat berfungsi untuk mensinergikan kegiatan penelitian dan kegiatan penyuluhan. Pengembangan Prima Tani dapat dipandang sebagai bagian dari inisiatif untuk revitalisasi penyuluhan yang kini terkesan mengalami kejenuhan.

Prima Tani merajut hubungan sinergis Badan Litbang Pertanian dengan petani dan

praktisi agribisnis secara umum (Research – Agribusiness Linkages), baik secara tidak langsung melalui perantara penyuluh lapang dan lembaga pelayanan, maupun secara langsung melalui kolaborasi dalam pembangunan dan pengembangan Prima Tani. Bidang usaha meliputi usaha pertanian (on-farm), produksi dan penyediaan sarana dan prasarana pertanian serta penanganan, pengolahan dan pemasaran pasca panen. Prima Tani tidak saja berfungsi untuk memperkuat atau merajut ulang hubungan tradisional tidak langsung yang telah ada selama ini tetapi yang lebih penting lagi adalah membangun hubungan baru secara langsung. Dengan begitu, teknologi inovatif yang dihasilkan Badan Litbang Pertanian akan lebih terjamin tepat guna bagi praktisi agribisnis, penyuluh maupun lembaga pemerintah pelayan agribisnis.

Prima Tani merajut hubungan sinergis Badan Litbang Pertanian dengan lembaga- lembaga Pelayanan Pendukung Agribisnis, utamanya lembaga pemerintah, tidak saja melalui penyediaan informasi dan penyediaan paket rekomendasi teknologi yang sudah berjalan selama ini, tetapi juga dalam upaya percepatan penerapan dan difusi teknologi inovatif. Prima Tani merupakan wahana untuk mengadvokasikan difusi adopsi teknologi melalui program pembangunan pemerintah.

Dengan demikian, Prima Tani mengandung dua unsur pembaruan, yaitu (1) Inovasi teknologi tepat guna siap terap dan manajemen usaha agribisnis (2) Inovasi kelembagaan yang memadukan sistem atau rantai pasok inovasi (innovation system) dan sistem agribisnis (agribusiness system).

Peranan Pemda Sebagai Pemegang Tongkat Estafet Keberlanjutan Prima Tani

Sasaran akhir Prima Tani adalah diterapkannya teknologi inovatif yang dihasilkan Badan Litbang Pertanian oleh praktisi agribisnis secara cepat, tepat, dan luas (massal), yang bermuara pada terbentuknya Agribisnis Industrial Pedesaan (AIP) yang berbasis pemanfaatan sumberdaya setempat secara optimal dalam upaya meningkatkan kegiatan usaha dan kesejahteraan masyarakat setempat. Namun demikian, walaupun pada awalnya program ini diinisiasi oleh Badan

Prosiding Seminar Nasional

Litbang Pertanian, maka dalam pelaksanaan tahap berikutnya peran Pemda setempat diharapkan sangat dominan. Pada dasarnya, dengan pendekatan yang benar bahwa kegiatan inovasi dan diseminasi teknologi yang dilakukan Badan Litbang Pertanian pada program Prima Tani hanyalah membuktikan bahwa teknologi yang dihasilkan Badan Litbang mampu menjawab kebutuhan dan permasalahan petani atau tepat guna dan unggul sehingga mereka yakin dan mengadopsinya. Kegiatan diseminasi yang dilakukan Badan Litbang Pertanian hanya dalam skala terbatas dan sementara waktu saja. Sehingga fasilitasi difusi dan replikasi atau perluasan Prima Tani diharapkan akan dilakukan oleh instansi pemerintah yang bertugas untuk itu, terutama dari pihak Pemda setempat. Dengan demikian, pemda setempat berkewajiban untuk menerima tongkat estafet pelaksanaan Prima Tani yang selama ini dilakukan oleh Badan Litbang Pertanian. Ke depan, paling tidak ada dua kewajiban Pemda setempat yang perlu mendapat perhatian lebih serius, yaitu (1) Menjaga keberlanjutan pelaksanaan Prima Tani di lokasi pengembangan Prima Tani selama ini sehingga tujuan akhir dari Prima Tani dalam mewujudkan Agribisnis Industrial Pedesaan (AIP) bisa tercapai dan (2) Mengingat pelaksanaan Prima Tani selama ini masih terbatas pada beberapa lokasi/desa, maka agar percepatan pembangunan pertanian secara nasional bisa tercapai, maka Pemda setempat berkewajiban untuk memassalkan Prima Tani ke lokasi lainnya. Dalam kaitan ini, Badan Litbang Pertanian bukan berarti lepas tangan. Badan Litbang Pertanian tetap berkewajiban sebagai pemasok teknologi yang dibutuhkan dalam pengembangan Prima Tani tersebut.

Fokus Inovasi Teknologi ke Depan

Seperti diungkap sebelumnya, bahwa peranan inovasi teknologi yang sesuai kebutuhan pengguna dan alih teknologi sangat vital bagi pembangunan pertanian ke depan. Perbaikan inovasi teknologi yang bermuara ke pengguna perlu terus diupayakan seiring dengan perubahan lingkungan strategis. Oleh kerena itu, penyempurnaan pengembangan dan aplikasi iptek dalam pembangunan pertanian dalam era globalisasi sekarang ini, agenda kebijakan ke depan perlu menyesuaikan dengan perubahan kelembagaan yang juga berkembang demikian

cepat. Apabila dahulu, fokus kebijakan lebih banyak pada pembahasan kuantitas input yang digunakan, kini fokus tersebut telah bergeser pada efisiensi penggunaan teknologi biologi- kimiawi seperti benih unggul, pupuk dan pestisida, perubahan aransemen kelembagaan yang menyertai pengembangan teknologi tidak dapat dilakukan secara sambilan (ad- hoc), tetapi harus secara holistik dan dilengkapi dengan kebijakan yang memadai. Kajian dan penelusuran lebih dalam tentang hubungan fungsional antara tingkat penggunaan input produksi pertanian dengan aspek kelembagaan serta kondisi sosial ekonomi yang melingkupi proses produksi masih harus terus menerus dilakukan.

Di tingkat lapangan, hal tersebut perlu diterjemahkan melalui penelaahan yang terus menerus untuk menemukan spesifikasi produksi pertanian yang tepat, sesuai dengan kondisi agroklimat serta setting kelembagaan suatu daerah tertentu. Perbaikan kondisi sosial ekonomi serta fungsi-fungsi kelembagaan tersebut, dapat ditempuh melalui desentralisasi perumusan kebijakan teknologi di bidang pertanian. Para peneliti dan perumus kebijakan juga masih harus bekerja keras untuk menyempurnakan adaptasi teknologi biologi-kimiawi, bukan sekedar adopsi pada beberapa kondisi ekologis dan sosial ekonomi masyarakat. Dalam jangka panjang, desentralisasi seperti ini dapat mengurangi perbedaan tingkat efisiensi penggunaan faktor produksi serta produktivitas pertanian antar wilayah, seperti yang dialami oleh pulau Jawa dan luar Jawa selama ini.

Keterbatasan dana yang dialokasikan untuk kegiatan litbang pertanian juga perlu dikelola secara khusus. Dengan anggaran yang terbatas tersebut, kegiatan litbang pertanian harus fokus pada sedikit komoditas (prioritas) agar dapat diselesaikan secara tuntas dalam kurun waktu yang tidak terlalu lama. Salah satu dampak dari paradigma ”penelitian untuk penelitian" atau bahkan ”penelitian untuk peneliti" adalah kegiatan litbang yang tidak fokus, mencakup banyak komoditas karena mengikuti kemauan peneliti bukan berdasarkan kebutuhan pengguna. Ke depan, paling tidak tiga komoditas pangan yang tetap akan menjadi fokus perhatian, yaitu padi, jagung, kedelai, selain komoditas tebu (gula) dan daging sapi.

Prosiding Seminar Nasional

PENUTUP

Potensi lahan marjinal dalam mencukupi kebutuhan pangan penduduk ke depan sangat menjanjikan, persoalannya sekarang perhatian terhadap lahan marjinal masih belum seperti yang diharapkan, sehingga kegiatan pertanian di lahan ini belum digarap secara maksimal. Prima Tani diharapkan dapat menjadi media untuk menjadikan isu mengenai lahan marjinal semakin banyak mendapat perhatian dalam kegiatan penelitian yang dilaksanakan Badan Litbang Pertanian ke depan.

Prima Tani merupakan program terobosan Departemen Pertanian dalam upaya akselerasi diseminasi inovasi teknologi ke pengguna untuk mempercepat pembangunan pertanian di daerah. Prima Tani merupakan model dan percontohan untuk pengentasan kemiskinan dan pengangguran, dan dirancang dengan mengintegrasikan berbagai pihak dan instansi terkait baik lingkup Deptan maupun luar Deptan. Inovasi pertanian yang mencakup inovasi teknologi dan inovasi kelembagaan serta adanya keterkaitan yang erat dan kuat antar komponen dalam Prima Tani akan mempercepat tujuan akhir dari program ini dalam mewujudkan Agribisnis Indsutrial Pedesaan (AIP) yang mampu menyediakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.

Prima Tani pada dasarnya merupakan implementasi dari perubahan paradigma dari “Penelitian dan Pengembangan” (Research and Development) ke Penelitian untuk Pembangunan” (Research for Development). Dengan begitu, kegiatan Badan Litbang akan lebih terarah pada pemenuhan preferensi stakeholders. Dengan strategi baru tersebut, maka Badan Litbang Pertanian terintegrasi langsung sebagai salah satu elemen esensial dalam pelaksanaan Prima Tani.

Pemerintah Daerah mempunyai kewajib- an sebagai pemegang tongkat estafet keberlanjutan Prima Tani di desa yang telah dikembangkan oleh Badan Litbang Pertanian dan sekaligus berkewajiban untuk memassal- kan di desa sekitarnya.

Prosiding Seminar Nasional

DUKUNGAN PRASARANA SARANA ( INFRASTRUKTUR )

Sri Yuwanti Dinas Permukiman dan Prasarana Wilayah Provinsi Jawa Tengah

LATAR BELAKANG

pemberi

sumbangan

pendapatan

nasional

• Adanya kesenjangan pembangunan yang tinggi antara wilayah perkotaan dan perdesaan (yang berbasis pertanian)

Daerah Perkotaan cenderung mengeksploitasi sumber daya perdesaan sebaliknya daerah perdesaan tidak mampu memanfaatkan perkotaan dengan baik bahkan menjadi beban kota

• Daerah perkotaan harus dapat berperan sebagai penggerak pembangunan perdesaan (Habitat: Cities As Engine of Rural Development)

• Kawasan Perdesaan seharusnya sebagai suatu kesatuan pengembangan dengan kawasan perkotaan (dalam konsep urban- rural linkages) dan mempunyai hubungan yang bersifat interdependensi/timbal balik yang harmonis dan dinamis.

• Kawasan-kawasan perdesaan (kawasan yang menjadi sentra produksi pertanian) perlu dikembangkan menjadi kawasan pertumbuhan ekonomi daerah, dengan Pengembangan Agropolitan sebagai penggerak pembangunan (engine of development) bagi kawasan-kawasan disekitarnya.

• Program Pengembangan Agropolitan adalah program yang dianggap paling pas dikembangkan saat ini, terutama dalam menghadapi ’krisis multi dimensi’ yang sampai saat ini masih berkepanjangan.

PERMASALAHAN PENGEMBANGAN PERDESAAN

• Daerah perdesaan dihuni oleh sebagian besar penduduk Indonesia (60%) dengan mata pencaharian utamanya adalah bertani, dengan hasil pertanian dalam bentuk primer (belum diolah)

Kawasan perdesaan berperan sebagai :

(1) penjamin ketersediaan pangan, bahan mentah industri, lapangan kerja &

(2) secara de facto penjamin kelestarian sumberdaya - lingkungan serta pengembang kultur daerah dalam menjaga kelestarian kebudayaan.

• Pertanian di Indonesia akhir-akhir ini menghadapi masa sulit dan kurang mempunyai daya saing seiring meningkatnya jumlah penduduk di Indonesia, dapat menimbulkan kerisauan akan timbulnya “kerawanan pangan” di masa yang akan datang

KONSEP PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN

Tiga Konsep Pengembangan Kawasan (Rondinelli, 1985):

Konsep kutub pertumbuhan (growth pole); Menekankan investasi masif pada industri-industri padat modal di pusat-pusat urban utama sebagai prime mover yang menstimulasi dan menciptakan penyebaran pertumbuhan (spread effect) dan efek penetesan (trickle effect)

Integrasi (keterpaduan) fungsional- spasial. Mengembangkan sistem pusat- pusat pertumbuhan dengan berbakai ukuran (termasuk kota-kota skala kecil-menengah) dan karakteristik fungsional secara terpadu.

Pendekatan “Decentralized territorial

Pendekatan Pengembangan Kawasan Agropolitan

• Rekomendasi Friedman dan Douglass (1975) untuk pembangunan perdesaan di Asia dan Afrika : Aktivitas pembangunan yang terkonsentrasi di wilayah perdesaan berpenduduk 50.000 - 150.000 jiwa

Prosiding Seminar Nasional

• Konsep agropolitan dipandang sebagai konsep yang menjanjikan teratasinya permasalahan ketidakseimbangan

pembangunan

antara perdesaan-perkotaan

selama ini

• Pembangunan perdesaan dilakukan dengan meningkatkan keterkaitan – menghubung- kan perdesaan dengan pembangunan wilayah perkotaan (Urban-Rural Linkages)

Prasyarat

Kawasan Agropolitan

1. Meningkatkan pembangunan infrastruktur yang dapat mendukung peningkatan produktivitas hasil pertanian, pengolahan dan pemasaran hasil serta adanya jasa penunjang, yang diawali dengan penyusunan rencana tata ruang/master plan kawasan agropolitan serta ketersediaan peta komoditas hasil pertanian

Pengembangan

:

Keberhasilan

2. Meningkatkan daya saing produk bukan hanya berbentuk primer tetapi sampai

kepada produk olahan (Intermediate Product dan Final Product) di kawasan agropolitan sehingga mendapatkan nilai tambah (value added)

3. Menciptakan sistem pemasaran produk/tata niaga yang berpihak kepada petani

4. Perkuatan

dan

revitalisasi

lembaga

penyuluhan pertanian, pemberdayaan penyuluh swakarsa

melalui

5. Mengembangkan

kemitraan

antara

pemerintah,

masyarakat

dan

pihak

swasta, yang

berlandaskan ”kesetaraan”

6. Memperkuat

lembaga

keuangan dan

permodalan di daerah

7. Memperkuat keberadaan dan posisi tawar petani sebagai stakeholder utama pengembangan kawasan agropolitan

8. Terciptanya political will dari pemerintah daerah sebagai penggerak utama pengembangan kawasan agropolitan

/ Pusat kawasan Agropolitan Dusun
/
Pusat kawasan Agropolitan
Dusun

Prosiding Seminar Nasional

STRATEGI PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN

Tujuan Pengembangan Kawasan Agropolitan

Menyeimbangkan pembangunan antara perkotaan dan pedesaan melalui pendekatan pengembangan wilayah, sehingga diharapkan akan dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat, mempercepat pertumbuhan ekonomi, dengan mendorong berkembangnya sistim dan usaha agribisnis.

Pengembangan kawasan agropolitan juga diposisikan sebagai bagian dari upaya untuk mengatasi masalah2 yang timbul di perdesaan, antara lain : mengurangi kemiskinan, mengurangi kesenjangan sosial, menciptakan lapangan pekerjaan, dan mengurangi arus migrasi dari desa ke kota, karena dengan mengembangkan kawasan agropolitan diharapkan akan dapat menjadikan suasana kehidupan mirip dengan di perkotaan.

Kawasan Agropolitan juga akan didorong menjadi kawasan Agrowisata.

Strategi Pengembangan Kawasan Agropolitan

Lintas Departemen

1. Strategi pengembangan sumber daya manusia (dengan Departemen Pertanian).

2. Strategi pengembangan sistem kelembagaan (dengan Departemen Dalam Negeri)

3. Strategi pengembangan permodalan (dengan Meneg KUKM dan Perbankan)

4. Strategi pengembangan Infrastruktur (dengan Departemen PU )

Latar belakang Pengembangan Infrastruktur dalam Kawasan Agropolitan

Infrastruktur

fisik

sebagai modal sosial

masyarakat,

terkait

kuat

dengan

kesejahteraan masyarakat

Observasi menunjukkan daerah yang memiliki kelengkapan infrastruktur yang lebih baik dibandingka daerah lainnya,

memiliki

kehidupan

ekonomi

yang

lebih

baik pula

Lingkup

infrastruktur

dalam

mendukung

kawasan agropolitan bertujuan untuk:

Meningkatkan

ekonomi

kawasan

yang

pada akhirnya

mengarah

pada

peningkatan kesejahteraan masyarakat

Meningkatkan keterkaitan desa-kota, sehingga terjadi penurunan tingkat urbanisasi dan merupakan embrio kota Agro

usaha

Mendukung

peningkatan

Agribisnis

Pendekatan Pembangunan Infrastruktur di Kawasan Agropolitan

Pembangunan Prasarana dan Sarana dilakukan dengan pendekatan wilayah mengidentifikasi Sumberdaya Alam, Sumberdaya Buatan dan Sumberdaya Manusia.

berbasis

Pengembangan

Infrastruktur

tingkat perkembangan kawasan agropolitan

Pendekatan Wilayah mensinergikan / menterpadukan antara Pusat – Propinsi – Kabupaten, antar sektor (infrastruktur jalan, irigasi, listrik, telekomunikasi) , serta antar stakeholders (pemerintah, swasta dan masyarakat)

Infrastruktur dalam lingkup ke pu an meliputi:

Prasarana dan Sarana Jalan, sebagai prasarana dan sarana distribusi lalu lintas barang dan manusia serta pembentuk struktur ruang wilayah.

Prasarana dan Sarana Sumber Daya Air, sebagai prasarana dan sarana penyimpanan, pendistribusian dan pengendalian daya rusak air.

Prasarana dan Sarana Perumahan dan Permukiman, baik di Perkotaan maupun Perdesaan, mencakup pelayanan air bersih dan air baku, sanitasi lingkungan, persampahan, drainase, limbah domestik maupun perumahan dll.

11

Prosiding Seminar Nasional

Strategi Kebijakan Bidang Ke PU an (infrastruktur) Dalam Pengembangan Kawasan Agropolitan

1. Produktivitas :

Meningkatkan produktivitas dengan memfokuskan pada produk yang berorientasi kebutuhan pasar yang didukung faktor produksi (baik langsung seperti air, maupun tidak langsung seperti jalan) yang memadai terutama di sentra produksi

2. Pemasaran :

Memberikan nilai tambah produk terutama di pusat Kaw. Agropolitan

termasuk peningkatan pelayanan prasarana dan sarana terutama jalan dan pasar. Meningkatkan pemasaran dan mengembangkan pasar baru ke luar Kaw. Agropolitan / Eksternal.

3. Lingkungan permukiman

Meningkatkan pelayanan prasarana dan sarana lingkungan perumahan dan permukiman terutama untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia sebagai pelaku utama pengembangan Kawasan Agropolitan.

.

PRIORITASPRIORITAS DUKUNGANDUKUNGAN BIDANGBIDANG PRASARANAPRASARANA DANDAN SARANASARANA KIMPRASWILKIMPRASWIL DUKUNGAN
PRIORITASPRIORITAS DUKUNGANDUKUNGAN BIDANGBIDANG PRASARANAPRASARANA DANDAN SARANASARANA KIMPRASWILKIMPRASWIL
DUKUNGAN PRASARANA KIMPRASWIL
UNTUK
No
TIPOLOGI
MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS
DESA
INTERNAL
EXTERNAL
SENTRA PRODUKSI
DPP/PUSAT KAWASAN
AKSES
KEWILAYAHAN
1
DESA
1.
Irigasi tertier (termasuk air
1. Kios
1. Air baku
PERTANIAN
baku
2. Gudang
(saluran
PANGAN,
ternak)
3. Air untuk produksi pengolahan
pembawa)
PETERNAKAN
2. Jalan usaha tani (on farm)
4. Jalan dari Sentra Produksi dan di
3. Penjemuran
DPP
4. Kios Saprotan
2
DESA
1. Jalan on farm
1. Air bersih
PERKEBUNAN
2. Gudang
2. Air industri pengolahan hasil
3. Air baku dan air bersih
perkebunan
3. Pengolahan air limbah
4. Gudang
5. Jalan off farm
3
DESA
1. Dermaga sandar
1. Cold storage
NELAYAN
2. Penjemuran
2. Bengkel
3. Air baku tambak
3. SPBU
4. Jalan lingkungan
4. Fasilitas tempat pemb. es batu
5. Terminal desa
5. Jalan ke Sentra Produksi dan di DPP
6. Pelabuhan kecil (Jetti)
4
DESA
1. Jalan lingkungan
1. Jalan lingkungan
1. Akses jalan
AGROWISAT
2. Air bersih
2. Gudang
primer
A
3. Tempat pembuangan
3. banjir
Pengendalian
sampah
4. Sanitasi

Prosiding Seminar Nasional

PRIORITASPRIORITAS DUKUNGANDUKUNGAN BIDANGBIDANG PRASARANAPRASARANA DANDAN SARANASARANA KIMPRASWILKIMPRASWIL DUKUNGAN
PRIORITASPRIORITAS DUKUNGANDUKUNGAN BIDANGBIDANG PRASARANAPRASARANA DANDAN SARANASARANA KIMPRASWILKIMPRASWIL
DUKUNGAN PRASARANA KIMPRASWIL
UNTUK
N
TIPOLOGI
MENINGKATKAN PEMASARAN
o
DESA
INTERNAL
EXTERNAL
SENTRA PRODUKSI
DPP/ PUSAT KAWASAN
AKSES
KEWILAYAHAN
1
DESA
1. Jalan (on farm)
1.Jalan off farm
1.
Akses jalan
PERTANIAN
2. Terminal
2. Terminal
primer
PANGAN,
3. Gudang
PETERNAKAN
4. Air bersih
2
DESA
1. Jalan (on farm)
1. Jalan off farm
1.
Akses jalan
PERKEBUNAN
2. Air bersih .
2. Air bersih
primer
3. Gudang
4. Pasar/kios
5. Terminal
3
DESA
1. Terminal
NELAYAN
1.Jalan dari Sentra Produksi dan di
DPP
1.
Akses jalan
primer
2. TPI
4
DESA
1. Air bersih
1. Pasar/kios
1.
Akses jalan
AGROWISATA
2. Sanitasi
2. Jalan lingkungan
primer
3. Tempat pembuangan
sampah
3. Air bersih/ sanitasi
2.
Fasilitas
4. Drainase pengendalian banjir
peristirahatan
4. Jalan sebagai fasilitas
olahraga dan rekreasi
5. Terminal
/
gardu pandang
PRIORITASPRIORITAS DUKUNGANDUKUNGAN BIDANGBIDANG PRASARANAPRASARANA DANDAN SARANASARANA KIMPRASWILKIMPRASWIL DUKUNGAN
PRIORITASPRIORITAS DUKUNGANDUKUNGAN BIDANGBIDANG PRASARANAPRASARANA DANDAN SARANASARANA KIMPRASWILKIMPRASWIL
DUKUNGAN PRASARANA KIMPRASWIL
UNTUK
N
TIPOLOGI
MENINGKATKAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN
o
DESA
INTERNAL
EXTERNAL
SENTRA PRODUKSI
DPP/PUSAT KAWASAN
AKSES
KEWILAYAHAN
1
DESA
1. Jalan lingk perumahan
1. Jalan lingk perumahan
PERTANIAN
2. Air bersih/sanitasi
2. Air bersih/sanitasi
PANGAN,
3. Drainase/ pencegah banjir
3. Perbaikan perumahan
PETERNAKAN
4. Perbaikan perumahan
2
DESA
1. Jalan lingk perumahan
1. Jalan lingk perumahan
PERKEBUNAN
2. Air bersih/sanitasi
2. Air bersih/sanitasi
3. Drainase/ pencegah banjir
3. Perbaikan perumahan
4. Perbaikan perumahan
permukiman
3
DESA
1. Jalan lingk perumahan
1. Jalan lingk perumahan
NELAYAN
2. Air bersih/sanitasi
2. Air bersih/sanitasi
3. Drainase/ pencegah banjir
3. Perbaikan perumahan
4. Perbaikan perumahan
permukiman
4
DESA
1. Jalan lingk perumahan
1. Jalan lingk perumahan
AGROWISATA
2. Air bersih/sanitasi
2. Drainase pencegah
3. Drainase/ pencegah banjir
banjir
4. Pemugaran perumahan

13

Prosiding Seminar Nasional

Illustrasi Jenis Produk dan Kebutuhan Konstruksi Jalan Karakteristik Produk Kebutuhan minimal No Tipologi Jenis
Illustrasi
Jenis Produk dan Kebutuhan Konstruksi Jalan
Karakteristik Produk
Kebutuhan
minimal
No
Tipologi
Jenis
DayaTahan
Kepekaan
Desa
Produk
Konstruksi Jalan
1
Pertanian
Sayur
Pendek
Sangat
Jalan Beraspal
(Lapisan lenetrasi)
Pangan
Peka
Beras
Sedang
Sedang
Jalan diperkeras
(Lapisan sirtu)
2
Perkebunan
Buah- Pendek
Sangat
Jalan Beraspal
buahan
Peka
(Lapisan penetrasi)
Bunga
Pendek
Sangat
Jalan Beraspal
Peka
(Lapisan penetrasi)
Karet
Panjang
Tidak
Jalan diperkeras
(Lapisan sirtu)
Peka
Kopi Biji
Panjang
Tidak Peka
Jalan diperkeras
(Lapisan sirtu)
3
Nelayan
Ikan, Udang
Pendek
Sangat
Jalan Beraspal
(Lapisan penetrasi)
Peka
4
Hasil Hutan
Kayu,bambu
Panjang
Tidak Peka
Jalan diperkeras
rotan
(Lapisan sirtu)
5
Pariwisata
Jalan Beraspal
(Lap. penetrasi)
KAW.AGROPOLITAN DALAM SISTEM PEMASARAN EKSTERNAL Ibukota Propinsi Kota Jenjang I Kawasan Agropolitan Jalan Arteri
KAW.AGROPOLITAN
DALAM SISTEM
PEMASARAN
EKSTERNAL
Ibukota Propinsi
Kota Jenjang I
Kawasan Agropolitan
Jalan Arteri Primer
Jalan Kolektor Primer
Ibukota Propinsi
Kota Jenjang I
Kota Jenjang II
Kawasan Agropolitan
Kawasan Agropolitan
Jalan Arteri Primer
Outlet Pelabuhan

Prosiding Seminar Nasional

PETA KEWENANGAN PEMERINTAH DALAM PENGEMBANGAN AGROPOLITAN (Kewenangan pemerintah Kabupaten, Provinsi dan Pusat)
PETA KEWENANGAN PEMERINTAH DALAM
PENGEMBANGAN AGROPOLITAN
(Kewenangan pemerintah Kabupaten, Provinsi dan Pusat)
PEMERINTAH
PEMERINTAH
PEMERINTAH
PUSAT
PROVINSI
KABUPATEN
Menyusun
pedoman Umum
dan Standar
Teknis (NSPM)
Koordinasi program &
kebijakan pengemb.
Kaw.Agrop. Diwilayah
Provinsi
Merumuskan program,
kebijakan operasional,
pernc. dan
pelaksanaan
pengembangan
Menfasilitasi
kerjasama lintas
provinsi dan
Pelayanan dan
fasilitasi kerjasama
lintas kabupaten
internasional
Mendorong
partisipasi dan
swadaya masy,
pelaksanaan
pengemb. Agropolitan
Membangun PS yg
bersifat strategis
Membangun PS yang
bersifat strategis
Menumbuhkembang-
kan kelembagaan PS
di kawasan Agrop.
Melakukan Tugas
Pembinaan dan
Pengawasan
Membantu pemecahan
masalah jika diminta
pem. Kab.
Ilustrasi pada jalan yang menunjang kawasan agropolitan Klasifikasi dan Kewenangan Penyelenggaraan Jalan Jaringan
Ilustrasi pada jalan yang menunjang kawasan agropolitan
Klasifikasi dan Kewenangan Penyelenggaraan Jalan
Jaringan
Klasifikasi Fungsi
Klasifikasi
Wewenang
Turbin
Jalan
administrasi
penyelenggara
was
an
(pembangunan
)
Sistem
Arteri
Jalan Tol
Pusat dan
Primer
Daerah
Pusat
Jalan
Pusat
K1
Nasional
K2
Jalan Propinsi
Propinsi
Kolektor
Pusat
K3
K4
Lokal
Jalan
Kabupaten
Kabupaten
Pusat
Sistem
Arteri Kolektor
Jalan Kota
Kota
Sekunder
Lokal
Pusat

15

Prosiding Seminar Nasional

Pembiayaan Infrastruktur Kawasan Agropolitan

1. Pembiayaan Infrastruktur kawasan agropolitan membutuhkan biaya yang besar. 2. Pengembangan pembiayaan Infrastruktur Kawasan Agropolitan bertumpu dana APBD, masyarakat dan swasta. 3. Dukungan Pemerintah Pusat sifatnya stimulan dan disesuaikan tingkat perkembangan kawasan :

belum

Stimulan

untuk

kawasan

berkembang

Untuk kawasan sedang dan telah berkembang sifat dukungan fasilitas dan bantuan teknik

4. Sumber pembiayaan Infrastruktur Kawasan dari APBN dapat melalui Dana Pusat berupa : DAU( Dana Alokasi Umum) dalam bentuk Block Grand ; DAK (Dana Alokasi Khusus) Untuk Propinsi dan Kabupaten

antar daerah ,

sebagai penyeimbang

misalnya DAK untuk air dan jalan

DUKUNGAN INFRASTRUKTUR ( PRASARANA DAN SARANA )

Bantuan Teknis:

Bantuan Teknis: Identifikasi Lokasi, Penyiapan Master Plan, RPJM-PSK, Profil Kawasan dan DED Kawasan Agropolitan Penyelenggaraan Sosialisasi dan Sinkronisasi Program Pengembangan Agropolitan di Tingkat Provinsi, Kabupaten dan Kawasan Perumusan Kebijakan Prasarana dan Sarana untuk Mendukung Pengembangan Agropolitan

Sejak Tahun 2004 Kebijakan Pemerintah Pusat untuk Studi Identifikasi, Penyusunan Master Plan dan Penyusunan Rencana Jangka Menengah (RPJM), menjadi tugas Pemerintah Kabupaten, termasuk prasyarat Kabupaten untuk mendapatkan stimulan Fisik dari Pusat maupun Provinsi.

Stimulans Fisik:

Pembangunan Prasarana dan Sarana al.:

Air Baku, irigasi Tetes dan Sprinkler, Jalan Poros Desa, Jalan Usaha Tani (Farm Road), Pasar/Kios/Los dan pelataran Pasar, Sub Terminal Agribisnis (STA), Packing House, Sarana Produksi, Holding Ground dan Halte Agribisnis.

SEBARAN KAWASAN AGROPOLITAN DI JAWA TENGAH S/D TA-2008 KAWASAN KAWASAN KAWASAN AGROPOLITAN AGROPOLITAN AGROPOLITAN
SEBARAN KAWASAN AGROPOLITAN
DI JAWA TENGAH S/D TA-2008
KAWASAN
KAWASAN
KAWASAN
AGROPOLITAN
AGROPOLITAN
AGROPOLITAN
CANDIGARON
WALISORBAN
WALIKSARIMADU
TA 2003-2005
TA 2005-2007
TA-2003-2005
KAB SEMARANG
KAB BATANG
KAB PEMALANG
KAWASAN
AGROPOLITAN
SUTHOMA
KAWASAN AGROPOLITAN
LARANGAN
TA 2008-2010
KAB BREBES
DANSIH
TA 2006-2008
KAB
KARANGANYAR
KAWASAN
AGROPOLITAN BUNGA
KONDANG
KAWASAN
KAWASAN
TA 2005-2007
AGROPOLITAN
AGROPOLITAN
KAB PURBALINGGA
ROJONOTO
GOASEBO
TA 2004-2006
TA 2008-2010
KAB WONOSOBO
KAB BOYOLALI
KAWASAN
KAWASAN
AGROPOLITAN
AGROPOLITAN
JAKABAYA
MERAPI MERBABU
TA 2008-2010
TA 2005-2007
KAB
KAB MAGELANG
BANJARNEGARA

Prosiding Seminar Nasional

PENDANAAN KAWASAN AGROPOLITAN JATENG S/D TA 2008

1. PELAKSANAAN T A. 2003

Kab. Semarang Kec Sumowono

- Peningkatan jalan poros desa 4.730 m Rp.620.000.000 APBN

- Peningkatan jalan usaha tani 860 m Rp.50.000.000 APBN

- Peningkatan jalan usaha tani 860 m Rp. 50.000.000 APBN

- Rehabilitasi jembatan 1 unit Rp.50.000.000 APBN

- Pembuatan pasar desa & terminal desa 1 unit Rp. 443.904.000 APBN

- Pembuatan bangunan penampungan hasil kopi & Bangunan penjemuran kopi 3 unitRp. 350.700.000 APBN

Kab Pemalang (WALIKSARIMADU)

- Peningkatan jalan poros desa 2.000 m Rp.400.000.000 APBN

- Peningkatan jalan poros desa 1.979 m Rp.395.800.000 APBN

- Peningkatan pasar desa 1 unit Rp.852.837.000 APBN

Non fisik :

Identifikasi kebutuhan prasarana & sarana Kimpraswil untuk mendukung Agropolitan Kabupaten Semarang dan Pemalang Rp.49.660.000 APBN Penyusunan DED Kawasan Agropolitan Kab Semarang & Pemalang Rp. 49.700.000 APBN

TOTAL Rp. 3.190.601.000,-

2. PELAKSANAAN T A. 2004

Kab Semarang (Kec Sumowono)

- Peningkatan jalan poros desa 2.345 m Rp. 469.000.000 APBN

- Pembuatan jembatan antar desa 2 unit Rp.

260.000.000 APBN

- Penyempurnaan PAsar 1 unit

100.000.000 APBN

Rp.

Kab Pemalang (WALIKSARIMADU)

- Peningkatan jalan poros desa 3.375 m Rp.675.000.000 APBN

- Penyempurnaan pasar 1 unit Rp.

100.000.000 APBN

- Pembuatan bangunan produksi peternakan 1 unit Rp. 230.261.000 APBN

Kab Wonosobo (ROJONOTO)

- Peningkatan jalan poros desa 1.700 m Rp.

340.000.000 APBN

- Peningkatan jalan poros desa 1.800 m Rp.

360.000.000 APBN

- Pengembangan terminal agropolitan 1

unit Rp. 300.000.000 APBN

Kab Batang (SORBANWALI)

- Rehab dermaga pusat pendaratan ikan 1 unit Rp.250.000.000 APBN

- Penyusunan RPJM Kawasan 1 paket Rp.100.000.000 APBN

Non fisik :

Kabupaten Semarang, Pemalang, Wonosobo, Batang Penyusunan Profil Kawasan Agropolitan 1 paket Rp.49.500.000 APBN Penyusunan DED PSK Agro 1 paket Rp. 49.200.000 APBN

TOTAL Rp. 3.282.961.000,-

3. PELAKSANAAN T A. 2005

Kab. Semarang (Kec Sumowono)

- Peningkatan jalan poros desa Rp.600.000.000 APBN

- Pembangunan bangunan pencucian sayur Rp. 100.000.000 APBD

Kab Pemalang (WALIKSARIMADU)

- Pembuatan bangunan produksi perkebunan Rp. 800.000.000 APBN

- Penyempurnaan bangunan produksi peternakan Rp.136.000.000 APBN

- Bangunan gudang penmpungan hasil

150.000.000 APBN

Rp.

- Bangunan penyulingan minyak

Rp.100.000.000 APBN

- Pembuatan gerbang kawasan Rp.44.000.000 APBN

- Bangunan treatmen limbah RPH

150.000.000 APBD

- Balai pelatihan & pertemuan hasil produkasi Rp. 168.000.000,-

Kab Wonosobo (ROJONOTO)

- Peningkatan jalan poros desa Rp.650.000.000 APBN

- Penyempurnaan pasar desa Rp.186.000.000 APBN

- Pembuatan STA Rp.153.767.000 APBN

- Pembuatan gerbang kawasan Rp.44.000.000 APBN

17

Prosiding Seminar Nasional

- Peningkatan jaln usaha tani Rp.225.000.000 APBN

Kab. Batang (SORBANWALI)

- Bangunan penampungan pupuk Rp.50.000.000 APBN

- Peningkatan jaln usaha tani Rp.150.000.000 APBN

- Perbaikan balai pertemuan & pelatihan hasil produksi Rp.106.714.000 APBN

- Pembuatan gerbang kawasan Rp.44.000.000 APBN

- Pembuatan STA Rp. 300.000.000 APBN

- Rehab saluran irigasi Rp. 100.000.000 APBN

- Pembangunan tempat penampungan teh Rp. 50.000.000 APBN

Kab Magelang (MERAPI MERBABU)

- STA Rp. 750.000.000 APBN

- Pembuatan sarana komposting

100.000.000 APBN

Rp.

Kab Purbalingga (BUNGAKONDANG)

- Peningkatan jalan poros desa Rp. 400.000.000 APBN

- Peningkatan jalan poros desa

Rp.

260.000.000

APBD

- Pembangunan pasar desa

Rp.

260.000.000

APBD

Non fisik :

Penyusunan DED Fisisk 6 kabupaten

Rp.

100.000.000

Supervisi pelaksanaann & studi

 

pengembangan P/S Rp. 100.000.000 Studi pengembangan P/S Agro

Rp.

100.000.000

DANA TAMBAHAN (REVISI)

Rp.

200.000.000

TOTAL Rp 6.129.701.000,-.

4. PELAKSANAAN T A. 2006

Non fisik Penyusunan DED TA.2006 Wonosobo, Batang, Magelang, Purbalingga, Karanganyar Rp.100.000.000 APBN Penyusnan RPJM Wonosobo, Batang, Magelang, Purbalingga, Karanganyar Karanganyar Rp. 50.000.000 ABPN Supervisi fisik Rp. 150.000.000 Wonosobo, Batang, Magelang, Purbalingga, Karanganyar

Evaluasi kinerja P2 S Agropolitan Rp.50.000.000 Wonosobo, Batang, Magelang, Purbalingga, Karanganyar

Fisik :

Kab. Pemalang

- Pembangunan jalan poros desa Rp. 350.000.000 APBD

- Pembangunan sarana komposting Rp.150.000.000 APBD

- Pembangunan bangunan penyulingan minyak Rp. 194.800.000 APBD

Kab. Wonosobo

- Pembangunan jalan poros desa Rp. 250.000.000 APBD

- Pembangunan sarana komposting Rp.150.000.000 APBD

- Peningkatan jalan poros desa Rp.1.190.000.000 APBN

- Peningkatan jalan usaha tani Rp. 315.000.000 APBN

Kab. Batang

- Pembangunan jalan poros desa Rp. 200.000.000 APBD

- Bangunan pengumpul pupuk kandang Rp. 100.000.000 APBD

- Bangunan penampungan pupuk Rp. 75.000.000 APBN

- Pembuatan sarana komposting Rp. 300.000.000 APBN

Kab. Magelang

- Pembangunan jalan poros desa Rp. 250.000.000 APBD

- Pemb stasiun terminal agribisnis ( STA) Ngablak Rp. 500.000.000 APBN

- Peningkatan jalan usaha tani Rp. 105.000.000 APBN

- Pembuatan sarana komposting Rp. 150.000.000 APBN

Kab. Purbalingga

- Pembangunan jalan poros desa Rp. 250.000.000 APBD

- Pembangunan jalan poros desa Rp. 280.000.000 APBN

Kab. Karanganyar

- Pembangunan STA Tawangmangu Rp. 350.000.000 APBN

- Pembuatan bangunan pengering jahe Rp. 104.000.000 APBN

- Peningkatan jalan usaha tani Rp. 105.000.000

Prosiding Seminar Nasional

DANA TAMBAHAN (REVISI) 1.000.000.000,- APBN

Rp.

TOTAL APBD Rp 968.400.000,- APBN Rp. 7.729.701.000,-

5. PELAKSANAAN T A. 2007

Kab. Batang

- Bangunan pemasaran hasil produksi (BTG-01) Rp. 452.924.000 APBN

- Peningkatan jalan usaha tani (BTG-02) Rp. 258.000.000 APBN

- Peningkatan jalan poros desa (BTG-03) Rp. 639.900.000 APBN

Magelang

- Penyempurnaan STA Ngablak (MGL-01) Rp. 425. 984.000 APBN

- Pembuatan Gerbang Kawasan Agropolitan (MGL-02) Rp. 150.000.000 APBN

- Bangunan pemasaran hasil produksi (MGL-03) Rp. 300.000.000 APBN

- Peningkatan jalan usaha tani (MGL-04) Rp. 516.000.000 APBN

- Bangunan pendukung agrowisata (MGL-05) Rp. 300.000.000 APBN

- Peningkatan jalan usaha tani (MGL-06) Rp. 790.000.000

Kab. Karanganyar

- Bangunan pendukung agrowisata (KRA-01) Rp.300.000.000 APBN

- Penyempurnaan STA Tawangmangu (KRA-02) Rp. 500.000.000 APBN

- Peningkatan jalan usaha tani (KRA-03) Rp. 365.844.000 APBN

Kab. Purbalingga

- Peningkatan jalan poros desa (PBL-01) Rp. 797.900.000 APBN

- Bangunan pemasaran hasil produksi (PBL-02) Rp. 250.000.000 APBN

APBD PROVINSI

Kab. Pemalang

- Rehab balai penyuluhan

Rp.100.000.000,-

- STA / Halte Sayuran Rp.264.275.000,-

Kab. Wonosobo

- Peningkatan jalan poros desa Kec Sukoharjo Rp. 150.000.000

- Peningkatan jalan poros desa Kec Kaliwiro Rp. 150.000.000

Kab. BATANG

- Peningkatan jalan poros desa Kec. Tersono Rp. 150.000.000

- Peningkatan jalan poros desa Kec. Bawang Rp. 150.000.000

Kab. PURBALINGGA

- Peningkatan jalan poros desa Kec.Pengadegan Rp. 150.000.000

Kab. MAGELANG

- Peningkatan jalan poros desa Kec. Dukun Rp. 150.000.000

TOTAL APBD Rp 1.264.275.000,- APBN Rp. 7.000.000.000,- TAMBAHAN REVISI SHT (Sisa Hasil Tender) Rp. 1.294.000,- TOTAL APBN Rp. 8.294.000.000,-

6. RENCANA TA 2008 APBN

Kab. Karanganyar

- Jalan Poros Desa 2,125 km Rp. 500.000.000 APBN

- Jalan Usaha Tani 2,887 km Rp. 500.000.000 APBN

- Perluasan STA Tawangmangu Rp. 602.500.000 APBN

- Perluasan Agrowisata Rp. 600.000.000 APBN

- Bangunan Pengumpul Wortel 2 UNIT Rp. 600.000.000 APBN

Kab. Brebes

- Jalan Poros Desa 2,345 km Rp. 500.000.000 APBN

- STA Bawang Merah Rp. 600.000.000 APBN

Kab. Boyolali

- Jalan Poros Desa 1,562 km Rp. 400.000.000 APBN

- STA Sayuran Ampel Rp. 700.000.000 APBN

- MINA POLITAN KEC SAWIT Rp. 350.000.000,- APBN

Kab. Banjarnegara

- Jalan Poros Desa 2,000 km Rp. 500.000.000 APBN

- STA Sayuran Rp. 8000.000.000 APBN

- Jalan Usaha Tani 2,000 km Rp. 300.000.000 APBN

NON FISIK Rp. 647.500.000,- TOTAL Rp 7.500.000.000,-

19

Prosiding Seminar Nasional

RENCANA TA 2008 APBD PROVINSI

Kab. Pemalang

- Rehab Balai Penyuluhan Pertanian 1unit Rp. 200.000.000

- Jalan Poros Desa 1pkt Rp. 350.000.000

Kab. Wonosobo

- Jalan Poros Desa 1pkt Rp. 600.000.000

- Jalan Poros Desa 1pkt Rp. 300.000.000

- Pemasaran Hasil Produksi 1 unit Rp. 250.000.000

Batang

- Jalan Poros Desa 1pkt Rp. 300.000.000

- Pemb Pengolahan 1 unit Rp. 250.000.000

- Penyempurnaan Balai Pelatihan 1 unit Rp. 200.000.000

Magelang

- Jalan Poros Desa 1pkt Rp. 350.000.000

- Bangunan Pengepakan 1 unit Rp. 200.000.000

- Bangunan Pendukung Agrowisata 1 unit Rp. 300.000.000

Purbalingga

- Jalan Poros Desa 1 km Rp. 300.000.000

Cost sharing

- Bangunan Penampungan Hasil Produksi 1 unit Rp. 200.000.000

- Perluasan Pasar Sinduraja 1 unit Rp. 300.000.000

Kab. Semarang

- Jalan Poros Desa 1 km Rp. 300.000.000

Karanganyar

- Jalan Poros Desa 1 km Rp.300.000.000

- Bang Pengumpul Sayuran 1 unit Rp. 250.000.000

Kab. Brebes

- Jalan Poros Desa 1 km 1 pkt

Rp.300.000.000

- Bangunan Pengumpul Hsl Tani 1 unit Rp. 200.000.000

Kab. Boyolali

- Jalan Poros Desa 1 km Rp.300.000.000

- Bangunan Pengumpul 1 unit Rp. 200.000.000

TOTAL YANG DIUSULKAN Rp. 5.000.000.000,- TOTAL SEMENTARA YANG DISETUJUI Rp. 2.000.000.000,-

NO

TAHUN

KABUPATEN

KAWASAN

ANGGARAN APBD I & APBN

APBD II

 

1 - 2005

2003 Pemalang

 

Waliksarimadu

Rp.

4.202.118.000

6.780.598.000

Semarang

Candigaron

Rp.

3.093.604.000

798.718.000

2 - 2006

2004 Wonosobo

Rojonoto

Rp

4.331.767.000

12.071.321.000

3 - 2007

2005 Batang

Sorbanwali

Rp

3.126.538.000

8.758.374.000

Magelang

Merapi Merbabu

Rp

4.486.984.000

23.253.729.000

Purbalingga

Bungakondang

Rp

2.647.900.000

37.073.678.000

4 - 2008

2006 Karanganyar

Suthomadansih

Rp

5.724.844.000

1.130.250.000

5 S/D 2008

Banjarnegara

Jakabaya

Rp

2.000.000.000

Brebes

Larangan

Rp

2.000.000.000

Boyolali

Goasebo

Rp

2.000.000.000

TOTAL

Rp

33.623.735.000

89.866.668.000

APBD I

4.127.475.000

APBN

29.496.260.000

Prosiding Seminar Nasional

PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI DALAM MENDUKUNG AGRIBISNIS DI WILAYAH MARJINAL

S. Joni Munarso, Muryanto dan Agus Sutanto Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Tengah

ABSTRAK

Pengembangan agroindustri dalam mendukung agribisnis di pedesaan merupakan salah satu opsi yang sangat perlu dipertimbangkan karena berpotensi dapat meningkatkan cadangan devisa serta penyediaan lapangan kerja. Pengembangan agroindustri perlu dilakukan secara terpadu dan berkesinambungan dengan pengertian terjadi keterkaitan usaha sektor hulu dan hilir, dengan memanfaatkan teknologi dan sumberdaya yang melibatkan kelompok/lembaga masyarakat serta pemerintah pada semua aspek. Namun demikian pengembangan agroindustri di pedesaan masih mengalami berbagai kendala, yaitu permodalan, pasar dan teknologi. Di Jawa Tengah, agroindustri pedesaan menghadapi tantangan yaitu peningkatan mutu, nilai tambah dan daya saing. Secara internal, tantangan yang dihadapi justru berasal dari dalam sistem usaha tani yang ada saat ini. Terdapat dua permasalahan yang masih memerlukan solusi bersama yaitu : Pertama, agroindustri dijalankan oleh para pelaku secara parsial sehingga secara agregat belum terjadi sinergi antar kegiatan dan antar pelaku, akibatnya sistem agroindustri yang utuh tidak terwujud. Kedua, kegiatan off farm (penanganan dan pengolahan ) hasil pertanian masih merupakan titik lemah dalam keseluruhan rantai agribisnis. Sedangkan secara eksternal, agroindustri memerlukan dukungan perangkat lunak yang dapat memfasilitasi pengembangan produk. Berdasarkan potensi dan masalah tersebut serta dipadukan dengan referensi konsep pengembangan agribisnis dan didukung dengan penerapan konsep tersebut di lapangan, maka disusun strategi pengembangan agroindustri dalam mendukung agribisnis di pedesaan. Strategi tersebut meliputi tahapan – tahapan sebagai berikut : 1. Pemahaman produk agroindustri, tahap ini meliputi inventarisasi potensi dan masalah produk agroindustri, pemilihan produk agroindustri, analisis potensi dan masalah, analisis peluang inovasi, analisis peluang kegagalan/ keberhasilan usaha dan analisis finansial, 2. Penyusunan Rencana Pengembangan Produk Agroindustri, meliputi penyiapan input produksi, sarana prasarana, sumber daya manusia, kelembagaan, kebijakan / regulasi, prediksi keuntungan (roadmap usaha) dan strategi promosi, 3. Monitoring dan evaluasi.

PENDAHULUAN

Dalam upaya meraih kembali predikat sebagai negara yang swa sembada beras belum pernah sampai, karena produktivitas padi saat ini dianggap stagnan atau dalam keadaan ‘levelling off’ setelah pada tahun 80an mengalami kenaikan produktivitas padi yang cukup signifikan. Berbagai upaya telah ditempuh baik dari segi peningkatan lahan maupun intensifikasinya. Namun upaya tersebut tetap saja masih belum mengangkat peningkatan produktivitas yang berarti.

Sejarah pencapaian swa sembada beras pada masa itu memang telah menjadi kejadian yang monumental, karena pada waktu itu masyarakat pedesaan banyak mengalami perubahan yang menggembirakan dengan adanya peningkatan produksi padi. Dengan meningkatnya produksi padi dapat pula meningkatkan pendapatan rumah tangganya. Mungkin kalau kita masih berpikiran seperti demikian, bahkan akan tejerumus pada jalan yang semakin salah, karena peningkatan pendapatan petani saat itu bukan dari produksi

beras saja. Pendapatan petani dapat diperoleh dari berbagai sumber dan lingkungan yang mendukung. Pangsa pasar beras pada masa tersebut sangat baik, sehingga petani merasa tidak kesulitan untuk memperoleh natura dengan segera. Berbeda pada saat ini, bahwa pengetahuan dan pengalaman telah menempa pada orang – orang yang ingin maju. Demikian pula keinginan orang terhadap suatu ekonomi yang ingin lebih baik lagi.

Yang terjadi pada saat ini adalah apabila masa panen (komoditi apapun), selalu harga barang panenan menjadi murah, dalam artian tidak dapat menutup biaya input yang sudah dikeluarkan. Yang merugi adalah masyarakat tani, karena produknya tidak mampu untuk disimpan. Oleh karena itu pembangunan pertanian tidak mungkin bertumpu pada orientasi peningkatan produksi saja, namun harus juga berorientasi pada agribisnis dan agroindustri. Dengan berubahnya visi pembangunan pertanian ke arah agribisnis, maka semakin jelas tantangan demi tantangan yang akan ditemui oleh produsen pertanian.

Prosiding Seminar Nasional

Apalagi pengaruh ekonomi global yang semakin terbuka lebar memasuki pasaran. Beberapa tantangan yang dihadapi sektor pertanian seperti membanjirnya impor produk pertanian, produksi beras yang belum stabil, degradasi sumber daya alam dan lingkungan, melemahnya daya beli, kesenjangan produksi yang belum dapat teratasi dengan baik, dsb.

Pengembangan pertanian yang berorientasi agribisnis mempunyai arti bahwa para pelaku telah siap berkompetisi dengan yang lain. Ciri utama kompetisi adalah efisiensi, produktivitas, mutu dan kontinyuitas jaminan yang terus menerus selalu ditingkatkan. Produk – produk pertanian, baik komoditi tanaman pangan (hortikultura), perikanan, perkebunan dan peternakan menghadapi pasar dunia yang dikemas dengan kualitas yang tinggi dan memiliki standar tertentu. Produk – produk yang bermutu dapat dihasilkan melalui suatu proses yang menggunakan muatan teknologi standar pula.

Gambaran diatas menunjukkan bahwa sektor pertanian akan tetap penting dalam perekonomian serta tetap berperan dalam pembangunan nasional. Terlebih jika wacana pembangunan yang terintegrasi antara pertanian, industri dan perdagangan dipandang sebagai suatu sistem entity yang utuh. Kaitan yang erat antara pertanian dan industri serta perdagangan senantiasa menuntut perkembangan kebijakan pembangunan pertanian yang dinamis sejalan dengan transformasi perekonomian yang sedang terjadi.

PENDEKATAN MASALAH

Perubahan orientasi atau wacana pembangunan pertanian di Indonesia telah banyak dibahas dalam berbagai kesempatan. Pada dasarnya ada keinginan untuk merubah arah pandangan pembangunan pertanian, dari memproduksi bahan pertanian dalam bentuk primer atau on farm agribisnis ke arah pandangan industrialisasi pertanian atau pertanian berwawasan agribisnis (Saragih, 1997).Pandangan tersebut banyak dipengaruhi oleh perubahan paradigma ekonomi global atau globalisme yang berciri kompetitif dalam harga, kualitas, dan kontinyuitas dengan memanfaatkan teknologi sebagai landasan utamanya.

Agroindustri pedesaan merupakan salah satu roda penggerak perekonomian pedesaan. Dengan berkembangnya agroindustri pedesaan terutama industri pengolahan hasil pertanian diharapkan dapat menyerap hasil – hasil pertanian di pedesaan. Dalam pembangunan pertanian yang berwawasan agroindustri, maka konsep kewilayahan menjadi kurang dominan atau tidak mendiskreditkan suatu wilayah. Pengembang- an agroindustri merupakan upaya peningkatan kinerja pertanian di pedesaan untuk menghasilkan produk – produk industri usahatani baik dalam zona wilayah yang marjinal sekalipun.Dengan demikian beberapa wilayah yang semula didalam kelompok marjinal, mempunyai kesempatan yang sama dalam keterlibatan agribisnis.

Pengembangan agribisnis di wilayah marjinal akhir – akhir ini menjadi isu sentral dalam peningkatan pembangunannya. Wilayah marjinal kadang – kadang mempunyai keunggulan produk – produk agribisnis, misalnya komoditi organik : padi organik, buah –buahan organik, dsb. Pengertian marjinal dapat dilihat dari dua aspek, yaitu terhadap sumberdaya alam dan sumber daya manusianya. Marjinal terhadap sumber daya alam dilihat dari aspek potensi lahan yang mempunyai keterbatasan lahan yang miskin hara dalam tanah. Keterbatasan hara ini disebabkan memang kandungan hara yang minimal dalam tanah atau karena adanya pengelolaan yang berlebihan (over produksi). Sedangkan marjinal terhadap sumber daya manusia, dilihat dari aspek suatu lahan yang mempunyai jumlah penduduk sedikit atau populasi sedikit, sehingga lahan tidak mampu berproduksi secara optimal.

Lahan marjinal di Jawa Tengah masih cukup banyak, baik yang berupa kekurangan unsur hara, over eksploitasi dan populasi sumber daya manusia yang sedikit. Lahan marjinal yang mempunyai populasi penduduk tinggi menjadi tidak marjinal, karena penggarapan lahan menjadi semakin intensif. Strategi pembangunan pertanian di lahan marjinal yaitu dengan meningkatkan intensitas kegiatan usahatani dan pengolahan produk – produk hasil pertanian. Satu komoditas pertanian, dapat diupayakan menjadi beberapa produk – produk yang mempunyai nilai ekonomi melalui penerapan inovasi teknologi yang telah ada. Penanganan produk – produk

Prosiding Seminar Nasional

primer diupayakan untuk diolah menjadi produk sekunder yang mempunyai nilai tambah tinggi, sedangkan limbahnya dapat diusahakan menjadi produk – produk yang ekonomis. Sehingga dengan pelaksanaan ini akan diperoleh suatu sistem pengembangan usahatani yang berorientasi agroindustri.

Penanganan pertanian di wilayah marjinal dapat juga ditempuh dengan meningkatkan pengetahuan masyarakatnya. Pengetahuan dan ketrampilan menjadi kunci ke arah pengembangan agribisnis pada wilayah marjinal. Sumberdaya manusia yang terdidik dapat menurunkan klasifikasi marjinal tersebut. Untuk penanganan lahan secara bijaksana dan peningkatan sumberdaya manusia di wilayah marjinal akan sangat membantu pembangunan agroindustri di pedesaan.

Sebagai industri berbasis sumber daya, agroindustri berpotensi dapat meningkatkan cadangan devisa serta penyediaan lapangan kerja. Hal ini dinilai strategis mengingat Indonesia merupakan satu dari sedikit negara di daerah tropis yang memiliki keragaman hayati (biodiversity) cukup besar. Untuk sektor perkebunan saja tidak kurang dari 145 komoditi yang tercatat sebagai komoditi binaan, sementara yang memiliki nilai ekonomis dapat diandalkan baru sekitar 10 % diantaranya kelapa sawit, karet, jambu mete (Saragih, 2002). Pengembangan agroindustri akan sangat strategis apabila dilakukan secara terpadu dan berkelanjutan. Pengertian terpadu adalah keterkaitan usaha sektor hulu dan hilir (backward and forward linkage), serta pengintegrasian kedua sektor tersebut secara sinergis dan produktif. Sedangkan dengan konsepsi berkelanjutan, diartikan sebagai pemanfaatan teknologi konservasi sumberdaya dengan melibatkan kelompok/ lembaga masyarakat serta pemerintah pada semua aspek.

MASALAH PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI PEDESAAN

Agroindustri pedesaan merupakan salah satu roda penggerak perekonomian pedesaan. Dengan berkembangnya agroindustri pedesaan terutama industri pengolahan hasil pertanian diharapkan dapat menyerap hasil – hasil pertanian di pedesaan. Namun demikian pengembangan agroindustri pedesaan masih mengalami berbagai kendala, yaitu :

permodalan, pasar, dan teknologi yang tepat. Ketiga masalah tersebut saling bersinergi saling mempengaruhi.

Kondisi lapangan khususnya usaha agroindustri pedesaan dalam skala kecil/ rumah tangga, proses kegiatan pemilihan bahan, pengolahan, pengemasan sampai penyimpanan, umumnya masih dilakukan secara sederhana dengan menggunakan teknologi sederhana sehingga produk yang dihasilkan mutunya masih rendah dan kurang kompetitif. Oleh karena itu untuk mewujudkan industri pedesaan yang mampu menghasilkan produk – produk olahan yang bermutu dan memiliki daya saing, maka perlu dikembangkan cara – cara pengolahan hasil pertanian yang berorientasi Good Manufacturing Practices (GMP). Selain itu, untuk menjamin mutu produk yang dihasilkan perlu diterapkan HACCP (hazards analysis critical control point). Dengan menerapkan GMP dan HACCP pada industri pengolahan di pedesaan diharapkan dapat meningkatkan mutu, nilai tambah dan daya saing secara optimal sehingga dapat memberikan kontribusi yang signifikan pada perekonomian pedesaan (Dirjen BP2HP, 2005).

Di Jawa Tengah peningkatan mutu, nilai tambah dan daya saing produk agroindustri saat ini sedang menghadapi tantangan, baik eksternal maupun internal. Tantangan internal yang paling menentukan keberhasilan pengembangan agroindustri berasal dari dalam sistem usahatani sendiri. Terdapat dua persoalan utama yang teridentifikasi dalam sistem usahatani. Pertama, agroindustri dijalankan oleh para pelakunya secara parsial (fragmented) sesuai dengan sisi pandang masing – masing. Secara agregat, belum terjadi sinergi antar kegiatan dan antar pelaku, akibatnya sistem agroindustri yang utuh tidak terwujud. Kedua, kegiatan off farm (penanganan pasca panen dan pengolahan hasil) oleh kalangan petani masih merupakan titik lemah dalam keseluruhan rantai agribisnis (Dewan Riset Daerah Jateng, 2006).

Pembangunan agroindustri pedesaan adalah suatu proses yang harus dikondisikan agar berjalan sesuai arah yang konsisten. Setiap proses dalam perjalanan tersebut memerlukan penyesuaian – penyesuaian langkah pada setiap tahapan, efeknya pada sebagian maupun pada sebagian besar faktor – faktornya. Membangun agroindustri di

Prosiding Seminar Nasional

wilayah marjinal perlu pemahaman yang sangat mendalam menyangkut beberapa aspek dan visinya. Kegiatan ini dapat dilakukan identifikasinya secara mendalam dengan metode PRA (participation rural appraisal). Yang perlu ditentukan dalam kegiatan tersebut adalah mengenai apa yang akan diharapkan atau dikerjakan terhadap wilayah yang spesifik tersebut. Harapan tersebut semestinya merupakan proyeksi keinginan atau cerminan keinginan masyarakatnya.

Agroindustri pedesaan seharusnya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat atas dasar penggalian potensi yang telah tersedia. Oleh karena itu dalam penyajian dan penyampaian informasi harus memberikan data yang lebih akurat, dapat dipercaya kebenarannya. Data yang akurat kemudian diproses dengan metode analisis yang tepat, kecermatan pemilihan analisis memerlukan suatu pengetahuan ilmiah yang terampil. Sehingga dapat diperoleh suatu perencanaan yang mempunyai alur tujuan yang terarah sesuai dengan kondisi setempat (spesifik lokal) untuk pengembangan agroindustri.

Penggalian potensi dan sumber daya adalah tanggung jawab kita bersama, bukan untuk dipertentangkan namun untuk diakumulasi dan dianalisis dengan cermat. Dalam upaya untuk menumbuhkan agroindustri di pedesaan bukan saja diarahkan untuk peningkatan produksi atau produktivitas saja, namun lebih jauh dari itu adalah untuk meningkatkan nilai tambah terhadap produksi yang telah dihasilkan. Menggali dari hasil yang belum dimanfaatkan menjadi bernilai ekonomi. Pemanfaatan limbah padi, limbah ternak menjadi pupuk organik dan bernilai ekonomi tinggi adalah merupakan upaya kearah agribisnis yang lebih nyata.

Lebih jauh untuk membangun keunggulan bersaing terhadap produk agroindustri diperlukan suatu roadmap pengembangan agroindustri. Roadmap yang dimaksud bergerak dari agroindustri yang dihela oleh pemanfaatan sumberdaya alam dan sumberdaya manusia (SDM) yang belum terampil atau factor – driven, kemudian bergerak ke agroindustri yang dihela pemanfaatan modal dan SDM yang lebih terampil atau capital – driven, dan kemudian melangkah maju pada agroindustri yang dihela pemanfaatan ilmu pengetahuan –

teknologi dan SDM terampil atau innovation – driven (Saragih, 2007).

Selanjutnya dinyatakan bahwa secara agregat agroindustri Indonesia masih berada pada fase awal, antara fase factor-driven dan capital-driven. Hal ini dicirikan antara lain oleh produktivitas dan nilai tambah yang masih relatif rendah. Agroindustri yang masih pada fase ini juga terkait dengan sektor penghasil bahan baku, yakni sektor pertanian yang sebagian besar masih pada fase factor- driven. Secara keseluruhan, produksi agregat pertanian sebagian besar masih bersumber dari perluasan areal pertanian dan masih sedikit disumbang oleh produktivitas. Oleh karena itu hal mendesak yang perlu dilakukan pada agroindustri adalah pendalaman industri sehingga nilai tambah yang dinikmati menjadi lebih besar.

Tahap berikutnya adalah mendorong agroindustri memasuki fase innovation-driven. Pada fase ini produk utama agroindustri akan didominasi produk-produk bernilai tambah tinggi, barang-barang modal bermuatan padat teknologi, hak paten atau royalti, produk- produk bioteknologi tinggi, dan lainnya. Untuk mendukung agroindustri pada fase ini, maka peranan lembaga penelitian sangat diharapkan. Lembaga penelitian milik pemerintah maupun perguruan tinggi banyak yang sudah memiliki SDM peneliti kelas dunia. Namun karena agroindustri kita belum banyak yang memanfaatkannya, penelitian- penelitian yang dihasilkan lembaga penelitian tersebut berhenti pada tahap invention.

STRATEGI PENGEMBANGAN AGRO INDUSTRI

Strategi pengembangan agroindustri dalam mendukung agribisnis khususnya di pedesaan disusun berdasarkan atas beberapa referensi konsep pengembangan agribisnis dan agroindustri dan pengalaman dalam menerapkan konsep tersebut di lapangan khususnya di Provinsi Jawa Tengah (Badan Litbang Pertanian, 2004a, 2004b, 2005a dan 2005b, Pramono et al., 2005, Subiharta et al., 2007, Kholik et al., 2007 dan Muryanto et al.,

2007).

Atas dasar referensi dan pengalaman tersebut disusun tahapan pengembangan suatu produk agroinsustri dalam mendukung

Prosiding Seminar Nasional

agribisnis di pedesaan. Tahapan-tahapan tersebut adalah sebagai berikut :

1. Pemahaman produk agroindustri

Pemahaman produk agroindustri dimaksudkan untuk mengidentifikasi masalah dan peluang pengembangan suatu produk agroindustri yang akan dikembangkan. Pemahaman wilayah tersebut dilakukan secara partisipatif dengan semua calon pelaku. Beberapa langkah yang perlu dipertimbangkan diantaranya :

a) Inventarisasi potensi dan masalah produk agroindustri.

Inventarisasi yang dimaksud meliputi aspek teknis dan aspek kelembagaan yang meliputi bidang input produksi (bahan baku, alat dan mesin), bidang produksi (produksi eksisting dan kemungkinan pengembangan- nya), aspek pasca panen (ketersediaan alat/mesin), dan bidang pemasaran hasil (fluktuasi harga). Hasil dari tahap ini diperoleh informasi beberapa produk agroindustri yang akan dikembangkan.

Inventarisasi potensi dan masalah disusun berdasarkan daerah tujuan produk agroindustri tersebut dipasarkan, sehingga penelusurannya dapat dimulai dari tingkat kelompok/kecamatan, kabupaten, propinsi dan seterusnya.

b) Pemilihan produk agroindustri .

Berdasarkan hasil inventarisasi potensi dan masalah produk-produk agroindustri yang akan dipilih selanjutnya ditentukan skala prioritas masalah yang harus diatasi. Dasar penentuan skala prioritas yang utama adalah pangsa pasar diikuti dengan budidaya (teknologi), ketersediaan sarana prasarana meliputi sarana produksi, peralatan dan mesin, ketersediaan tenaga kerja dan modal.

Berdasarkan prioritas yang disusun, maka dipilih satu produk yang akan dikembangkan untuk satu desa. Hal ini didasarkan pada pertimbangan bahwa semakin banyak produk yang dipilih maka tingkat kesulitan dan keberhasilannya akan semakin tinggi.

c) Analisis potensi dan masalah.

Analisis ini dilakukan secara berurutan sesuai dengan skala prioritas potensi dan masalah yang telah ditetapkan. Dalam analisis

ini perlu dilakukan prinsip triangulasi yang dapat ditempuh melalui pemeriksaan silang dan konfirmasi (cross check and recheck). Sehingga pada tahap ini perlu dilakukan penelusuran terhadap alur agribisnis mulai dari hulu sampai hilir terhadap produk agroindustri yang akan diproduksi.

d) Analisis peluang inovasi

Pengembangan suatu produk diperlukan adanya inovasi meliputi inovasi teknologi dan kelembagaan. Peluang inovasi dapat diartikan sebagai kegiatan inovasi yang secara teknis dapat dilakukan untuk meningkatkan pendapatan para pelaku. Walaupun inovasi tersebut belum merupakan kebutuhan yang mendesak, namun perlu dianalisis peluangnya terhadap peningkatan produksi dan keuntungan yang didapat dari pengembangan suatu produk agoindustri.

Sebagai contoh, penyediaan peralatan pasca panen yang lebih modern, walaupun dengan alat yang sekarang digunakan sudah mendapatkan penghasilan, namun analisis terhadap alat yang lebih modern tetap diperlukan, misalnya analisis terhadap kemampuan alat yang mampu menekan biaya produksi dan peningkatan volume produksi. Contoh lain adalah apabila produk agroindustri yang diproduksi akan dikembangkan, maka diperlukan analisis kelembagaan yang akan digunakan. Hal ini didasarkan pada pengertian bahwa semakin besar produk agroindustri, maka dibutuhkan sistem atau organisasi kelembagaan yang lebih besar. Hal sebaliknya dapat dilakukan apabila produktivitas produk agroindustri yang saat ini diproduksi kurang efisien, maka diperlukan analisis efisiensi kelembagaan.

e) Analisis peluang kegagalan/keberhasilan usaha

Analisis ini dibutuhkan menghindari terjadinya kegagalan dan untuk menyusun strategi pengembangan produk agroindustri yang akan dikembangkan. Cakupan dari analisis ini meliputi faktor-faktor teknis, sosial, finansial, kelembagaan, dan potensi sumber daya yang tersedia. Berdasarkan daftar faktor yang telah teridentifikasi selanjutnya disusun urutan faktor-faktor yang harus diperhatikan sebagai upaya antisipasi yang diperlukan.

Prosiding Seminar Nasional

f) Analisis finansial

Analisis finansial dilakukan untuk seluruh alur agribisnis mulai dari hulu sampai hilir dalam rangka memproduksi suatu produk agroindustri. Inovasi teknologi berupa sarana produksi, alat/mesin yang diintroduksi dianalisis kelayakannya, demikian juga dengan biaya untuk operasional kelembagaan termasuk kegiatan promosi.

Analisis finansial tersebut meliputi kebutuhan dana untuk implementasi kegiatan inovasi dan dampak finansial yang ditimbulkan mulai dari tingkat industri kecil, menengah dan besar sesuai dengan sasaran produk agroindustri yang diproduksi. Sasaran produk yang dimasksud adalah sasaran kapasitas produksi mulai dari pangsa pasar kelompok/desa, kabupaten dan seterusnya.

Alat analisis yang digunakan untuk semua inovasi yang diintroduksikan dilakukan dengan metode before dan after, sedang secara parsial dari masing-masing inovasi menggunakan analisis input-output, analisis investasi NPV, IRR, R/C rasio, (Amir dan Knipscheer, 1989, Kay, 1988). Untuk analisis inovasi kelembagaan dilakukan dengan analisis deskriptif.

2. Penyusunan Rencana Pengembangan Produk Agroindustri.

Rencana pengembangan produk agroindustri disusun dalam kurun waktu 1 – 5 tahun. Penyusunan rencana ini mencakup keterkaitan aspek-aspek yang mempengaruhi keberlanjutan dari pengembangan suatu produk agroindustri. Oleh karena itu diperlukan informasi-informasi pendukung yang diperlukan dalam rangka mengembangkan produk agroindustri yang dipilih. Informasi-informasi tersebut meliputi 4 aspek yaitu :

a) Penyiapan Input Produksi

Penyiapan ini memegang peranan penting khususnya dalam mendukung usaha pengembangan agroindustri, meliputi pengadaan bahan baku, alat/mesin, sarana prasarana, dan promosi. Pada aspek ini faktor bahan baku memegang peranan penting karena sangat berpengaruh terhadap keberlanjutan usaha agroindustri. Kuantitas, kualitas dan kontinyuitas ketersediaan bahan baku tersebut hendaknya dapat terjamin. Selanjutnya diperlukan informasi harga dan

lokasi dimana terdapat bahan baku tersebut. Antara harga dan lokasi bahan baku mempunyai keterkaitan, semakin dekat lokasi, maka kemungkinan biaya operasional dalam pengadaan bahan baku tersebut akan semakin rendah.

Faktor lain yang terkait dalam aspek ini adalah permodalan, hal ini disebabkan karena dalam pengadaan input produksi membutuhkan biaya sehingga informasi permodalan dibutuhkan dalam mengembangkan suatu produk agroindustri.

Selain itu, faktor penting lainnya adalah ketersediaan teknologi yang mendukung pengembangan agroindustri. Dengan teknologi yang tepat maka produk yang dihasilkan dapat ditingkatkan kualitasnya, kuantitasnya sekaligus dapat menurunkan biaya produksi.

b) Penyiapan Sarana Prasarana

Penyiapan sarana prasarana meliputi pengadaan sarana fisik diantaranya bangunan, tranportasi dan alat/mesin yang diperlukan untuk mendukung seluruh kegiatan proses produksi, pasca produksi sampai pemasaran.

c) Penyiapan Sumberdaya Manusia

Penyiapan sumberdaya manusia yang dibutuhkan adalah jumlah tenaga kerja yang diperlukan dan tingkat ketrampilan tenaga dalam memproduksi suatu produk agroindustri. Aspek ini akan semakin baik apabila dipertimbangkan mulai dari penyediaan bahan baku (budidaya), proses produksi, pasca produksi hingga pemasaran.

d) Penyiapan Kelembagaan

Secara keselurahan pengembangan produk agroindustri memerlukan suatu kelembagaan yang saling terkait dan merupakan alur usaha agribisnis. Pada masing-masing aspek dari alur agribisnis (input produksi, proses produksi, pasca produksi) memerlukan sub kelembagaan yang dapat melayani dan melakukan kegiatan produksi suatu produk agroindustri.

e) Penyiapan kebijakan/regulasi

Keberhasilan usaha pengembangan agroindustri sangat berkaitan kondisi pasar dari produk yang dihasilkan. Pelaku usaha tidak dapat sepenuhnya mengendalikan harga produk yang dihasilkan, sehingga sering

Prosiding Seminar Nasional

terjadi kondisi yang kontradiktif yaitu produksi dapat ditingkatkan namun harga produknya menurun, akibatnya mengalami kerugian. Oleh karena itu, perlu diperhatikan kebijakan-kebijakan dari pemerintah yang terkait dengan pengembangan suatu produk agroindustri. Informasi kebijakan-kebijakan pemerintah yang diperlukan antara lain kebijakan keamanan produk, skala usaha, permodalan, ekspor impor dan lain-lain, sehingga diperlukan adanya sertifikasi produk yang menjamin bahwa produk yang dihasilkan aman bagi kesehatan atau bila diperlukan dibuatkan sertifikasi produk halal serta produk tersebut mempunyai orientasi Good Manufacturing Practices (GMP) dan untuk menjamin mutu produk yang dihasilkan perlu diterapkan Hazards Analysis Critical Control Point / HACCP (Dirjen Bina Pengolahan dan Pemasaran hasil Pertanian, 2005).

Selain itu perlu dipelajari kebijakan pemerintah yang mengatur mengenai permodalan dan pemasaran produk, diharapkan dari informasi ini akan didapatkan kemudahan dalam memperoleh fasilitas permodalan usaha dan pemasaran produk.

Pada penyiapan ini juga perlu mempertimbangkan adanya aturan kesepakatan dalam menjalankan usaha produksi produk agroindustri. Hal ini diperlukan agar usaha yang dilakukan dapat berkelanjutan. Oleh karena itu diperlukan adanya kesepakatan antar pelaku usaha mulai dari penyediaan bahan baku dan produk usaha baik kuantitas, kualitas dan kontinyuitas sampai pada pemasaran produk.

f) Memprediksi target keuntungan (Roadmap usaha)

Usaha agroindustri memerlukan suatu analisis untuk memprediksi target keuntungan. Keuntungan yang didapat dari waktu ke waktu diharapkan terus meningkat. Untuk itu diperlukan beberapa informasi diantaranya sasaran produksi berdasarkan pangsa pasar, ketersediaan tenaga kerja, modal dan sarana prasana. Sasaran produksi dapat dimulai dengan memenuhi pangsa pasar lokal mulai dari desa, kecamatan, kabupaten, dilanjutkan beberapa kabupaten, propinsi, beberapa propinsi, nasional dan ekspor. Sasaran produksi yang terkait dengan target keuntungan yang ingin didapatkan disusun

dalam kurun waktu tertentu sesuai dengan pangsa pasar yang ingin diraih.

g) Penyiapan strategi promosi

Strategi ini diperlukan khususnya dalam meraih pangsa pasar yang lebih besar. Promosi ini memerlukan biaya yang tidak terbatas, sehingga diperlukan analaisis yang mendalam dan disesuaikan dengan kemampuan, pangsa pasar dan media yang digunakan.

Pada usaha agroindustri skala kecil atau rumah tangga, strategi ini sering tidak dilakukan. Hal ini disebabkan karena pada umumnya pelaku usaha skala rumah tangga mempunyai keterbatasan pengetahuan dibidang kewirausahaan. Oleh karena itu, diperlukan dukungan dari pemerintah melalui instansi terkait untuk memfasilitasi promosi produk agroindustri skala kecil. Dukungan ini dapat berupa bantuan mengikutsertakan pada kegiatan pameran-pameran (ekspose) mulai dari tingkat kecamatan, kabupaten, provinsi dan seterusnya.

Dukungan pemerintah dalam mengembangkan produk agroindustri bisa diwujudkan memberikan fisilitas agar produk yang dihasilkan dijadikan produk khas lokal seperti Salak Pondoh Yogya, Getuk Trio Magelang, Strawbery Organik Magelang, Wingko Babad Semarang, Tahu Sumedang dan lain-lain.

Secara keseluruhan strategi promosi merupakan suatu upaya dalam mengkomunikasikan kepada konsumen terhadap kualitas produk agroindustri yang baik karena diproses dengan sistem pengolahan yang sehat dan bermutu. Upaya ini terus-menerus dilakukan sehingga terbentuk persepsi/image bahwa produk tersebut dibutuhkan (brand image). Dengan upaya ini maka produk agroindustri mempunyai nilai jual tinggi dimata konsumen, contohnya seperti Kopi Kapal Api, minyak goreng Bimoli dan sambal ABC (Joewono,

2001).

3. Monitoring dan Evaluasi

Monitoring dan evaluasi diperlukan guna mengukur kinerja dari masing-masing pelaku terhadap produk yang dihasilkan dan keuntungan yang didapat. Monitoring dan evaluasi (Monev) dilakukan secara internal dan eksternal. Hasil Monev secara internal

Prosiding Seminar Nasional

dapat dijadikan sebagai dasar pertimbangan untuk memperbaiki kualitas produk, meningkatkan kapasitas produksi dan mengefisiensikan proses produksi atau meningkatkan keuntungan usaha. Sedangkan Monev secara eksternal dilakukan terhadap pelaku-pelaku usaha yang tidak terkait secara langsung dengan proses produksi, namun berpengaruh terhadap kelangsungan usaha, misalnya pangsa pasar, dampak usaha seperti adanya produk ikutan atau limbah. Hasil Monev secara eksternal dapat dijadikan sebagai pertimbangan untuk memperbesar kapasitas produksi, mengembangkan produk ikutan/limbah, mendiversifikasikan produk, contohnya menambah keberagaman warna dan rasa, memperbaiki kemasan dll.

KESIMPULAN

Berdasarkan potensi dan masalah yang dihadapi pada kegiatan agroindustri di pedesaan yang dipadukan dengan referensi konsep pengembangan agribisnis dan didukung dengan penerapan konsep tersebut di lapangan, maka disusun strategi pengembangan agroindustri dalam mendukung agribisnis di pedesaan. Strategi tersebut meliputi tahapan-tahapan sebagai berikut: 1. Pemahaman produk agroindustri, tahap ini meliputi inventarisasi potensi dan masalah produk agroindustri, pemilihan produk agroindustri, analisis potensi dan masalah, analisis peluang inovasi, analisis peluang kegagalan/keberhasilan usaha dan analisis finansial, 2. Penyusunan Rencana Pengembangan Produk Agroindustri, meliputi penyiapan input produksi, sarana prasarana, sumberdaya manusia, kelembagaan, kebijakan/regulasi, prediksi keuntungan (roadmap usaha) dan strategi promosi, 3. Monitoring dan Evaluasi.

PUSTAKA

Badan Litbang Pertanian, 2004a. Pedoman Umum Prima Tani. Jakarta. Badan Litbang Pertanian, 2004b. Rancangan Dasar Prima Tani. Jakarta

Badan

Litbang

Pertanian,

2005a.

Petunjuk

Teknis Participatory

Rural

Appraisal

(PRA) Prima Tani. Jakarta.

Badan

Litbang

Pertanian,

2005b.

Panduan

Penyusunan

Petunjuk

Teknis

Rancang

Bangun Laboratorium Agribisnis Prima Tani. Jakarta

Dewan Riset Daerah Jawa Tengah. 2006. Penyusunan Hasil Penelitian”Pemetaan Jejaring Agroindustri di Jawa Tengah Alur Pasokan dan Distribusi Peran. Semarang.

Dirjen Bina Pengolahan dan Pemasaran hasil Pertanian, 2005. Revitalisasi Pertanian Melalui Agroindustri Pedesaan. Jakarta.

Joewono H.H. 2001. Managing Service

Education & Chapter

Presiden IMA Jakarta. Pemasaran Agroindustri. CPM Asia Pacifik. http://www.kompascybermedia. com.

Partner Mark Plus

Kholik,

A.,

et

al.,

2007.

Petunjuk

Teknis

Prima

Tani

Kabupaten

Batang.

BPTP

Jawa Tengah.

Muryanto et al., 2007. Petunjuk Teknis Prima Tani Kabupaten Rembang. BPTP Jawa Tengah.

Pramono, J. et al., 2007. Petunjuk Teknis Prima Tani Kabupaten Magelang. BPTP Jawa Tengah.

Sa’id, G., 2001. Menuju Perdagangan Bebas :

Produk Agroindustri Kalah Sebelum Bertanding. http://www.kompascybermedia.com.

SUARA AGRIBISNIS :

Agroindustri Sebagai Penggerak Utama.

Saragih, B. 2007

Subiharta, et al., 2007. Petunjuk Teknis Prima Tani Kabupaten Pemalang. BPTP Jawa Tengah.

Prosiding Seminar Nasional

MODEL PENINGKATAN PENDAPATAN PETANI P4MI MELALUI INOVASI TEKNOLOGI PERTANIAN

E. Eko Ananto Penanggung Jawab Program Peningkatan Pendapatan Petani Melalui Inovasi – P4MI Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

ABSTRAK

Upaya mengentasan kemiskinan di lahan marginal (lahan kering/tadah hujan) telah dilakukan Badan Litbang Pertanian dengan meluncurkan Program Peningkatan Pendapatan Petani Melalui Inovasi (P4MI) sejak tahun 2003 yang mencakup sekitar 1000 desa di lima kabupaten, dengan tujuan untuk meningkatkan pendapatan petani dengan meningkatkan kemampuan petani mengembangkan inovasi pertanian. Kata kunci dari program ini adalah: (i) Petani miskin, merupakan masalah yang ingin diselesaikan, (ii) Peningkatan pendapatan, merupakan target yang harus dicapai, dan (iii) Inovasi pertanian, merupakan cara untuk mencapai target peningkatan pendapatan petani. Untuk mencapai tujuan, P4MI dirancang terdiri dari: (i) Pemberdayaan petani, (ii) Pengembangan sumber informasi, dan (iii) Pengembangan inovasi pertanian dan diseminasi. Pemberdayaan petani sebagai komponen utama P4MI dilaksanakan melalui kegiatan mobilisasi kelompok tani dan pengembangan kapasitas petani dalam perencanaan; pengembangan kelembagaan pedesaan; dan kegiatan investasi desa. Keseluruh kegiatan ini mengikutsertakan petani dan kelompok tani mulai dari identifikasi masalah, perencanaan, pelaksanaan, pemanfaatan, hingga pemeliharaan hasil kegiatan mereka. Kegiatan investasi desa yang berupa pembangunan infrastruktur pertanian pedesaan seperti cek dam, embung, saluran irigasi, jalan usaha tani dan pasar desa. Sumbangan petani dalam kegiatan ini mencapai rata-rata 28,33% yaitu diatas target 20%. Untuk menjamin keberlanjutan pemanfaatan hasil investasi, masyarakat desa telah merumuskan mekanisme operasional pemeliharaan sesuai dengan kondisi sosial budaya masyarakat. Proses pemberdayaan ini terbukti mampu membantu petani mengembangkan kemandirian melalui perubahan pola pikir dan wawasannya yang akhirnya menumbuhkan karsa untuk berusaha memenuhi kebutuhan dan menyiapkan masa depannya lebih baik. Disisi lain upaya pengenalan teknologi juga dilakukan secara partisipatif dengan memperhatikan ketersediaan sumberdaya lokal. Setelah P4MI berjalan selama sekitar 3 tahun, hasil sinergi pemberdayaan dan inovasi terbukti secara signifikan mendukung upaya pengentasan kemiskinan di pedesaan seperti ditunjukkan dari hasil kajian terhadap manfaat dan dampak awal investasi desa dari 42 desa, dimana NPV mempunyai nilai positif antara Rp. 21.208.899 - 1,017.464.985, Finansial IRR antara 14 sampai 102 %, B/C rationya lebih dari satu. Hasil-hasil yang dicapai tersebut merupakan keberhasilan awal yang masih rentan dan rapuh terhadap tekanan internal dan eksternal, sehingga diperlukan penguatan dan pemantapan hasil yang telah dicapai, khususnya kegiatan pasca investasi desa dengan pembekalan jiwa kewirausahaan untuk mempercepat inovasi pertanian dan peningkatan pendapatan petani.

Kata kunci: pemberdayaan petani, inovasi teknologi dan peningkatan pendapatan

PENDAHULUAN

Kantong-kantong kemiskinan di pedesaan sangat signifikan dijumpai pada daerah lahan tadah hujan yang marginal. Ketertinggalan pembangunan pertanian di wilayah tersebut hampir dijumpai di semua bidang, baik kesuburan lahan, infrastruktur, kelembagaan usahataninya maupun akses informasi untuk petani miskin yang kurang mendapat perhatian, disamping kondisi agroekologi wilayah yang relatif sangat rapuh (fragile). Kondisi ini menempatkan mereka semakin terpuruk dalam perangkap kemiskinan. Untuk meningkatkan pendapatan dan keluar dari perangkap kemiskinan, petani harus mampu

melakukan

pemasaran hasilnya.

Produktivitas pertanian di wilayah ini umumnya masih rendah dan tidak stabil. Upaya peningkatan produktivitas pertanian belum dapat dilakukan secara optimal mengingat berbagai kendala biofisik dan sosial ekonomi budaya. Faktor internal petani juga merupakan kendala yang tidak kecil pengaruhnya, seperti misalnya keterbatasan kemampuan teknis dan modal, kekhawatiran atas resiko terhadap teknologi baru. Selama ini alih teknologi dengan masukan tinggi telah berhasil pada lahan-lahan dimana petaninya mampu membiayai masukan yang tinggi. Pola

dan

inovasi

produksi

pertanian

Prosiding Seminar Nasional

seperti ini pada kenyataannya kurang berhasil pada daerah marjinal yang menghadapi banyak kendala. Sebagian besar kegagalan tersebut juga disebabkan oleh tidak adanya keterlibatan masyarakat setempat karena masih menganggap petani terbelakang, tidak tahu dan tidak inovatif. Pengembangan teknologi partisipatif diyakini akan mampu meminimalisasi kegagalan tersebut. Teknologi yang akan dikembangkan harus lebih unggul dari pada teknologi yang ada, dan harus dapat diterapkan dan dikembangkan oleh petani. Diharapkan upaya pengentasan kemiskinan menjadi lebih efektif melalui peningkatan kemampuan inovasi petani, dari pada hanya mengandalkan bantuan fisik dan finansial yang telah dibuktikan dari berbagai proyek mengalami banyak kegagalan. Untuk menjawab masalah tersebut di atas, Badan Litbang Pertanian melalui Program Peningkatan Pendapatan Petani Melalui Inovasi-P4MI berusaha untuk meningkatkan kemampuan petani miskin dalam mengembangkan inovasi produksi pertanian dan pemasaran, dengan melalui pemberdayaan petani dan meningkatkan akses petani terhadap informasi, serta menyediakan teknologi pertanian yang sesuai dengan kebutuhan di lahan marginal (lahan kering/tadah hujan).

KERANGKA PEMBANGUNAN PEDESAAN P4MI

Program Peningkatan Pendapatan Petani Melalui Inovasi (P4MI) merupakan salah satu program Deptan dengan dukungan ADB yang tengah dilaksanakan adalah bertujuan untuk pemberdayaan petani miskin di daerah lahan kering marjinal dalam upaya meningkatkan pendapatannya. Program ini mencakup 4 komponen yaitu: (i) pemberdayaan petani termasuk pengembangan kelembagaannya dan perbaikan infrastruktur desa guna memenuhi kebutuhan petani dalam rangka meningkatkan inovasi; (ii) pengembangan sumber informasi nasional dan lokal, dalam rangka memperbaiki akses informasi bagi petani; (iii) memperkuat dukungan pengembangan dan diseminasi inovasi pertanian; dan (iv) manajemen proyek.

Pemberdayaan petani dalam kegiatan P4MI pada dasarnya dilakukan untuk membantu mengembangkan kemandirian petani melalui perubahan pola pikir dan wawasan guna

membuka kesadarannya tentang apa yang bisa dicapai dengan kemampuannya. Proses ini terbukti mampu mengembangkan karsa masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya dan menyiapkan masa depannya. Demikian pula halnya dengan dukungan informasi teknologi dan pengembangan teknologi yang diperlukan petani di lahan marginal telah menampakkan hasilnya dalam peningkatan produktivitas tanaman dan ternak serta manfaat lainnya dalam upaya meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani. Pendekatan partisipatif dan bottom-up planning yang diterapkan P4MI terbukti menunjukkan hasil yang efektif dalam menggerakkan kemauan dan kemampuan petani untuk mulai melepaskan diri dari ketidak-berdayaannya. Dengan pemberdayaan dan pengembangan kapasitas petani dalam kegiatan P4MI, pada dasarnya membantu mengembangkan kemandirian petani melalui perubahan pola pikir dan wawasan guna membuka kesadarannya tentang apa yang bisa dicapai dengan kemampuannya.

Rancangan dan pelaksanaan P4MI secara keseluruhan dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Perencanaan dan pelaksanaan proses pemberdayaan dilakukan secara partisipatif dari beneficiaries (petani, masyarakat desa lainnya) dan stakeholders (aparat pemerintahan dari desa hingga kabupaten dan dinas dan institusi atau organisasi lain yang terkait), agar dapat menimbulkan rasa memiliki (ownership) .

2. Perencanaan dari bawah (bottom up planning), dimana beneficiaries menentukan sendiri jenis investasi desa yang mereka butuhkan untuk mengembangkan inovasi pertanian. Ini merupakan perubahan mendasar dibanding berbagai proyek/program sebelumnya yang berorientasi top down dimana beneficiaries hanya menerima apa yang telah direncanakan dari atas.

3. Masyarakat diberikan kepercayaan mengelola sendiri dana pembangunan tanpa campur tangan birokrat. Dana pembangunan tersebut disalurkan langsung ke rekening masyarakat/KID, tetapi kontrol penggunaan dana tetap dilakukan baik oleh petani, masyarakat maupun penanggung-jawab program di daerah.

Prosiding Seminar Nasional

4. Kegiatan pembangunan memberikan peluang kepada petani/masyarakat untuk berkontribusi dalam berbagai bentuk sesuai kemampuannya, antara lain berupa penyerahan lahan (termasuk tanaman di atasnya), material bangunan, konsumsi, tenaga kerja, dana, dan lain-lain. Kontribusi ini merupakan bentuk pengejawantahan budaya gotong royong yang akhir-akhir ini kurang nampak lagi.

5. Pelibatan tokoh masyarakat sebagai pimpinan non-formal seperti tokoh agama/adat untuk memacu partisipasi masyarakat. Dengan terlibatnya turun kebawah tokoh panutan, masyakat merasa terpanggil dan lebih antusias dalam melaksanakan kegiatan pembangunan.

6. Membangun transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan dana pembangunan oleh KID dengan fungsi kontrol oleh masyarakat.

7. Keberlanjutan manfaat pembangunan perlu dijaga dengan merancang operasional pemanfaatan dan pemeliharaan hasil pembangunan itu dalam bentuk peraturan/mekanisme yang disepakati bersama, sehingga seluruh masyarakat ikut bertanggungjawab dan merasa memiliki aset yang harus dipertahankan keberlanjutannya.

Rancangan pemberdayaan tersebut di atas telah menciptakan keberhasilan yang pantas dibanggakan seperti akan dijelaskan dalam keragaan kegiatan P4MI. Pemberdayaan petani dilakukan melalui pengembangan atau peningkatan kapasitas/ kemampuan petani secara fisik maupun non-fisik, pengembangan kelembagaan desa, dan investasi desa untuk membangun infrastruktur desa yang dibutuhkan petani, dan selama ini menjadi kendala bagi petani dalam mengembangkan inovasi pertanian. Kegiatan investasi desa sebagian besar dananya (sekitar 90%) digunakan untuk pembangunan atau perbaikan infrastruktur desa seperti jalan usaha tani, irigasi sederhana (dam, embung, pompa air, saluran irigasi, dll.), gudang penyimpanan hasil panen, dan pasar desa. Hanya sebagian kecil dana (sekitar 10%) digunakan untuk kegiatan investasi non-infrastruktur seperti pembuatan demplot, pelatihan petani dan pengembangan informasi.

Ketidak berdayaan, ketidak mampuan, maupun keputusasaan yang sebelumnya

membelenggu petani, sekarang telah berangsur berubah menjadi lebih percaya diri, antusias dan optimis dengan kemampuannya sendiri dalam menyongsong hidup masa depan yang lebih baik dan sejahtera. Sinergi antara pengembangan kapasitas petani dan pembangunan infrastruktur pertanian di desa terbukti secara efektif dapat merangsang kemampuan petani untuk berinovasi dalam kegiatan pertanian seperti ditunjukkan dari hasil kajian dampak awal. Beberapa parameter teknis, sosial dan ekonomi dalam kajian ini menunjukkan nilai positif. Dampak program yang telah dilaksanakan P4MI dalam pembangunan pedesaan yang berujung pada peningkatan kualitas hidup masyarakat pedesaan diharapkan dapat cepat terwujud.

KONSEP DAN LANGKAH PENGEMBANGAN INOVASI

Konsep pengembangan inovasi pertanian pada P4MI adalah mendukung pemanfaatan secara optimal sumberdaya alam yang marginal disertai pelestarian lingkungannya untuk dapat meningkatkan pendapatan petani secara berkelanjutan dalam suatu kerangka model agribisnis. Konsep tersebut akan dapat diwujudkan apabila petani mampu menerapkan teknologi inovasi yang unggul berdasarkan kondisi wilayah dan komoditas dan berorientasi pasar. Untuk itu, petani dan kelembagaan yang ada ditingkatkan kemampuannya untuk menangkap informasi serta membaca situasi dan memanfaatkan peluang pasar.

Pengembangan inovasi harus dilaksanakan secara partisipatif dengan melibatkan beneficiaries (petani miskin) dan stakeholders. Pengembangan teknologi partisipatif dalam konteks pemberdayaan petani miskin melalui pengembangan agribisnis dilakukan dengan menggunakan kombinasi pendekatan sistem demand driven dan driving demand. Kombinasi kedua sistem tersebut perlu diterapkan karena berbagai alasan, antara lain:

1. Kebutuhan petani akan teknologi dalam suatu wilayah mungkin akan beragam karena perbedaan kondisi sosial ekonomi dan faktor-faktor eksternal yang berkaitan dengan kekuatan-kekuatan intervensi dan perubahan dari luar. Prioritas teknologi yang akan dikembangkan dengan sendirinya tidak sepenuhnya bersifat demand driven

Prosiding Seminar Nasional

karena sebagian teknologi yang dibutuhkan petani tidak terpenuhi.

2. Di lahan-lahan kritis dimana diperlukan teknologi konservasi sumberdaya alam yang akan memberikan manfaat dalam jangka menengah/panjang, merupakan prioritas penting yang bersifat driving demand. Bagi petani miskin teknologi konservasi tersebut mungkin bukan prioritas penting walau keberlanjutan usaha tani mereka terancam.

3. Pengembangan sistem usahatani berorientasi agribisnis untuk menciptakan pasar pada hakekatnya bersifat driving demand. Orientasi baru ini dengan sendirinya memerlukan upaya pengarahan, sosialisasi, dan pelatihan yang intensif agar dapat mengubah pola pikir petani.

4. Pengembangan wilayah yang didasarkan atas tata ruang dengan keterkaitan antar sektor merupakan suatu acuan setiap pembangunan. Penata-ruangan wilayah komoditas yang terkait dengan pengembangan agribisnis merupakan suatu sistem driving demand.

Lahan marginal merupakan wilayah yang komplek dan sarat dengan berbagai kendala. Sebagai konsekuensinya diperlukan suatu paket teknologi yang mampu menjawab berbagai masalah yang dilakukan secara terpadu (integrated) dan menyeluruh (holistic). Pemecahan masalah secara parsial diyakini tidak akan memberikan manfaat. Oleh karena itu:

1. Pengembangan teknologi untuk wilayah ini harus dirancang dari berbagai di-siplin IPTEK dan lintas komoditas untuk mendapatkan alternatif yang optimal.

2. Kemampuan mendiagnostik permasalahan yang dihadapi petani dan menilai potensi kemampuan petani dalam inovasi teknologi secara akurat menjadi faktor penting sebagai dasar dalam merancang teknologi.

3. Program pengembangan teknologi di lahan marginal memerlukan suatu tim peneliti dari kelembagaan litbang yang bersifat lintas disiplin IPTEK dan lintas komoditas sejak identifikasi masalah, perencanaan dan pelaksanaannya maupun evaluasi hasilnya.

Langkah Pengembangan

Teknologi yang akan dikembangkan harus bersifat holistik dan terpadu yang

mencakup dimensi dan aspek vertikal (dari budidaya, pascapanen hingga ke pemasaran), horizontal (dengan pemanfaatan lebih dari satu komoditas dalam rangka optimasi lahan dan peningkatan keuntungan usahatani) dan diagonal (seperti kelestarian sumberdaya alam/lingkungan dan manajemen usahatani berorientasi agribisnis).

Pengembangan teknologi harus didasari hasil kajian kondisi biofisik dan sosial ekonomi budaya, serta mengacu pada kebutuhan petani maupun Pemda sesuai dengan kerangka pengembangan wilayah, agar tepat sasaran dan efisien. Oleh karena itu masukan dari beneficiaries dan stakeholders sangat diperlukan dalam penyusunan program. Teknologi setempat/local indigeneous technologies perlu mendapat perhatian untuk dikembangkan dengan menggunakan kaidah- kaidah ilmiah.

Kriteria Teknologi

Kriteria teknologi disusun dalam suatu kerangka pencapaian tujuan, batasan waktu pelaksanaan dan partisipasi kelembagaan yang terlibat serta ketersediaan dana.

1. Teknologi harus menunjukkan kinerja unggul perlu diantisipasi sejak perencanaan sehingga penerapannya mampu meningkatkan pendapatan petani secara cukup signifikan. Diupayakan teknologi yang low input dan low risk. Analisa ekonomi sejak awal perlu disertakan agar keengganan petani menggunakan teknologi baru yang beresiko dapat diminimalisasi dan motivasi penerapan teknologi menjadi lebih kuat.

2. Pengembangan teknologi harus secara partisipatif dengan keterlibatan beneficiaries dan stakeholders agar dapat langsung dimanfaatkan dan terintegrasi dengan program pembangunan di daerah, sehingga kontribusinya akan lebih nyata dalam pembangunan wilayah dan pengentasan kemiskinan pada khususnya.

3. Teknologi harus mampu menjawab masalah/ endala yang dihadapi di wilayah yang sangat komplek sehingga diperlukan lintas disiplin IPTEK dan komoditas.

4. Teknologi yang akan dikembangkan harus spesifik lokasi, sesuai dengan kondisi wilayah terutama kemampuan petani,

Prosiding Seminar Nasional

mampu mendukung pengembangan suatu sistem agribisnis yang berkelanjutan (termasuk potensi pasar bagi komoditas yang akan diproduksi). Teknologi yang akan dikembangkan merupakan teknologi yang dapat segera diterapkan petani miskin, sesuai dengan kondisi sumber daya lokal dan berdampak pada peningkatan pendapatan petani miskin. Pemilihan komditas diarahkan pada komoditas yang umum diusahakan atau dapat diusahakan petani.

5. Inovasi yang dikembangkan harus mempunyai bobot kegiatan diseminasi lebih besar agar dapat lebih cepat diadopsi. Oleh karena itu teknologi yang akan digunakan harus yang telah tersedia/telah teruji, sehingga tahap perintisan dapat dieliminasi dan hanya tinggal proses penyesuaian.

KERAGAAN KEGIATAN P4MI:

KEBERHASILAN DAN KEGAGALAN

.

Pendekatan secara partisipatif dan bottom up planning yang diterapkan P4MI terbukti menunjukkan hasil yang efektif dalam menggerakkan kemauan dan kemampuan petani untuk mulai melepaskan diri dari ketidak-berdayaannya. Selama kurang lebih 3 tahun pelaksanaannya, P4MI telah mampu membangun optimisme tinggi dalam meningkatkan pendapatan petani. Hasil kegiatan P4MI selama ini cukup signifikan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi di pedesaan berlahan kering marjinal di 5 kabupaten.

Komponen pemberdayaan petani merupakan fokus kegiatan P4MI, dan meliputi mobilisasi kelompok tani untuk meningkatkan kemampuan, pengembangan kelembagaan desa dan investasi desa untuk membangun infrastruktur desa. Sampai akhir Desember 2006, kegiatan ini telah dilaksanakan di 591 desa (Tabel 1). Secara keseluruhan kegiatan telah diselesaikan. Kelompok Tani telah dimobilisasi dan diberdayakan serta prioritas kebutuhan investasi desa mereka telah diidentifikasi dan disetujui.

Tabel 1. Rekapitulasi kegiatan investasi desa dari tahun 2003 - 2007

Kabupaten

No.

Tahun

 

Tmg

Blora

Lotim

Ende

Dongg

Total

1

2003

rencana

10

10

10

10

10

50

 

realisasi

10

0

0

10

0

20

2

2004

rencana

33

32

33

37

65

200

 

realisasi

30

40

10

17

10

107

3

2005

rencana

57

72

55

30

65

279

 

realisasi

57

72

55

30

65

279

rencana

35

48

17

30

56

186

4

2006

realisasi Realisasi s/d 2006

35

132

48

160

17

82

30

87

55

131

186

591

5

2007

rencana

102

135

30

85

110

462

Rencana dan Realisasi s/d 2007

234

295

112

172

240

1053

Partisipasi masyarakat dalam kegiatan P4MI, baik laki maupun perempuan, dewasa atau remaja, sangat menggembirakan karena sejak perencanaan, pelaksanaan, hingga pemanfaatan dan pemeliharaan investasi desa, petani dengan penuh antusias menyumbangkan tenaga kerja, bahan lokal dan aset lahan. Cara partisipatif ini telah menumbuhkan rasa memiliki dan tanggung jawab atas hasil kegiatan investasi desa. Tingkat kontribusi petani, dalam kegiatan

investasi desa rata-rata 28%, melampaui target 20% (Tabel 2), dan cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Untuk menjamin keberlanjutan hasil kegiatan investasi desa telah disusun mekanisme operasionalisasi pemanfaatan dan pemeliharaannya, meski masih beragam, tergantung pada kondisi sosial budaya petani setempat. Beberapa Desa telah merumuskan mekanisme tersebut secara tegas dalam bentuk peraturan desa (Perdes).

Prosiding Seminar Nasional

Tabel 2. Jumlah kontribusi masyarakat dalam Investasi desa dibanding dana Loan

No.

Kabupaten

 

Sumber Dana

Loan ADB

%

Swadaya petani

%

Jumlah

1

Blora

36,976,000,000

82.46

7,865,380,000

17.54

44,841,380,000

2

Temanggung

31,489,274,450

66.73

15,702,518,704

33.27

47,191,793,154

3

Lombok Timur

17,393,611,904

60.51

11,351,851,080

39.49

28,745,462,984

4

Ende

19,140,000,000

78.35

5,290,294,954

21.65

24,430,294,954

5

Donggala

27,476,718,000

69.34

12,151,603,500

30.66

39,628,321,500

 

Jumlah

132,475,604,354

71.67

52,361,648,238

28.33

184,837,252,592

Dalam kegiatan pemberdayaan petani, pengembangan kapasitas petani pada dasarnya untuk membantu mengembangkan kemandirian petani melalui perubahan pola pikir dan wawasan. Rasa ketidakberdayaan, ketidakmampuan, maupun keputusasaan yang sebelumnya membelenggu petani, sekarang telah berangsur berubah menjadi lebih percaya diri, antusias serta optimis akan kemampuan sendiri didalam menyongsong masa depan yang lebih baik. Sinergi antara pengembangan kapasitas petani dan pembangunan infrastruktur pertanian, terbukti secara efektif telah merangsang kemampuan petani untuk berinovasi dalam kegiatan pertanian seperti ditunjukkan dari hasil kajian dampak awal, dimana investasi desa yang berkaitan dengan pengembangan pertanian telah mampu meningkatkan luas lahan garapan, produktivitas, dan produksi, serta pendapatan.

Program ini telah menunjukkan beberapa keberhasilan yang dapat dibanggakan, tetapi beberapa mengalami stagnasi. Berikut beberapa contoh hasil kegiatan P4MI yang dianggap berhasil dalam memberikan manfaat dan dampak positif bagi petani:

1. Pembangunan Bendung Mini. Pembangun- an infrastruktur pertanian ini merupakan suatu prestasi luar biasa dalam kegiatan investasi desa yang dilakukan secara partisipatif di Desa Jenggik Utara, Lombok Timur. Bendung seluas 0,82 hektar, kedalaman 7,50 m, dengan daya tampung air sekitar 7000 m3 ini menghabiskan total dana sebesar Rp 894.800.000 dimana kontribusi dana masyarakat mencapai 4 kali lipat (Rp. 708.500.000) dibandingkan dana yang berasal dari dana pinjaman ADB yang hanya sebesar Rp. 186.300.000,- Bendung dapat mengairi sawah seluas 420 ha dan meningkatkan produksi padi dari 4 t/ha menjadi 5–6 t/ha serta indeks tanam

dari 200% menjadi 300% (padi-padi- palawija/sayuran/tembakau). Lokasi ini direncanakan untuk dikembangkan sebagai pusat penangkaran benih padi. Selain itu, air juga dimanfaatkan sebagai sumber air bersih.

2. Pembangunan saluran irigasi. Dengan perbaikan saluran irigasi sederhana yang dilakukan masyarakat secara partisipatif di Desa Limboro, Donggala, lahan sawah bero seluas 30 ha selama 3 tahun akhirnya dapat difungsikan kembali. Penanaman padi dapat dilakukan 2 kali per tahun, sehingga pendapatan petani meningkat hingga 143 %. Sedangkan di Desa Rarang, Lombok Timur dibangun saluran air secara pompanisasi dan pipanisasi dengan memanfaatkan sebagian air sungai yang mengalir sepanjang tahun ke kolam penampungan seluas 890 m 3 . Air dari kolam ini kemudian dinaikkan ke tangki air setinggi 12 m dengan kapasitas 18 m 3 dengan pompa berkekuatan 10 HP (akan ditingkatkan menjadi 24 HP dengan dana swadaya). Dari tangki, air dialirkan melalui dua pipa (diameter 4 inci) sepanjang 518 m ke bak pembagi dengan daya tampung 400 m 3 . Dari bak pembagi inilah air dialirkan ke lahan/sawah seluas 100 ha. Keberhasilan ini kemudian dilanjutkan dengan pembangunan sistem penyediaan air minum dengan cara yang sama dan sepenuhnya menggunakan dana swadaya masyarakat sendiri.

3. Pengembangan agroindustri skala rumah tangga. Wanita tani di Blora, Temanggung, Lombok Timur, dan kabupaten lain telah mengembangkan industri rumah tangga berupa pengolahan hasil-hasil pertanian yang ada di desanya menjadi berbagai produk olahan seperti keripik, sirup, dodol, dsb. Hasil industri rumah tangga ini mampu menambah pendapatan keluarga. Beberapa

Prosiding Seminar Nasional

produk olahan hasil kegiatan kelompok wanita tani bahkan telah memperoleh nomor registrasi dari Dinas Kesehatan, Temanggung. Dengan memiliki nomor registrasi ini akan membuka peluang produk olahan dapat menjangkau pasar dan diterima konsumen lebih luas.

4. Inovasi teknologi tanaman padi di Kabupaten Donggala. Kegiatan inovasi ini merupakan tindak lanjut pembangunan sarana irigasi dari kegiatan investasi desa. BPTP Sulawesi Tengah bekerjasama dengan instansi terkait telah melakukan gelar teknologi berupa pengelolaan tanaman terpadu (PTT) padi sawah di Desa Limboro, Tolongano dan beberapa desa lainnya. Hasil litkaji dan gelar teknologi memberikan manfaat dalam peningkatan produksi padi sawah sekitar 75 -105% dan penghematan benih hingga mencapai 68,75% per hektar atau terjadi penghematan biaya sebesar Rp 330.000 per musim per hektar. Sementara itu demplot jagung varitas unggul (Srikandi Kuning) dengan pemupukan berimbang telah dapat meningkatkan produksi hingga 4 t dibandingkan dengan penggunaan varitas lokal dan pemupukan urea saja yang hanya menghasilkan 2,1 t tongkol jagung.

5. Inovasi teknologi budidaya kakao di Kabupaten Donggala. Kakao sebagai komoditas unggulan di Kabupaten Donggala dengan luas mencapai 42.407 ha, menghadapi beberapa masalah dalam budidayanya antara lain produktivitas rendah sekitar 300-600 kg/ha/tahun dan kualitas biji kakao juga rendah (hanya mencapai grade 3). Rendahnya kuantitas dan kualitas produksi kakao berkaitan dengan serangan hama dan penyakit antara lain penggerek buah kakao (PBK), Vascular Streak Dieback (VSD) dan busuk buah kakao. Untuk menangani permasalahan tersebut, kegiatan litkaji dan gelar teknologi dalam bentuk sekolah lapang dan demplot telah dilakukan dengan kegiatan- kegiatannya antara lain PsPSP (Panen sering, Pemangkasan, Sanitasi dan Pemupukan), sarungisasi, rehabilitasi tanaman kakao melalui sambung samping atau sambung pucuk, penanaman penaung kakao dan integrasi kakao-kambing. Penerapan hasil litkaji dan gelar teknologi ini telah meningkatkan produksi kakao hingga 1.382 kg/ha/tahun dari sekitar 200-

300 kg/ha/tahun. Guna mengatasi kesulitan mendapatkan entris kakao unggul, telah dibangun kebun entris di dua desa (Tolongano dan Bulili). Keahlian sambung samping telah menjadi sumber pendapatan petani (Rp 5.000 per sambungan) dengan prosentase keberhasilan 50%.

6. Inovasi teknologi padi Kabupaten Blora. Kendala utama yang dihadapi petani Blora adalah ketersediaan dan kecukupan air di tingkat petani, sehingga ketergantungan akan air hujan untuk usahatani tanaman pangan sangat tinggi dan ketersediaan benih unggul dilahan kering juga masih kurang. Oleh karena itu program penyediaan air melalui investasi desa merupakan salah satu alternatif dalam usaha memenuhi kebutuhan air untuk lahan pertanian. Inovasi ini merupakan kelanjutan kegiatan investasi desa berupa (a) pengembangan tangkapan dan simpanan air hujan (dalam bentuk embung), (b) penggalian dan pemanfaatan air tanah, (c) revitalisasi waduk dan bendung yang ada, dan (d) reboisasi dan konservasi lahan dan air. Dengan dibangunnya sarana-sarana tersebut, suatu inovasi dalam pengembangan usaha tani hemat air telah dilakukan melalui penerapan teknologi padi gogorancah (GORA). Dengan dibangunnya embung, pengembangan padi gora di lahan tadah hujan desa Kemiri seluas 250 ha, menunjukkan kenaikan produktivitas dari 5- 6 ton/ha dengan pola tanam padi-jagung- bera, menjadi 6.53–10.662 ton/ha pola tanam menjadi padi-padi-jagung. Dari hasil wawancara, petani mengatakan bahwa dengan harga gabah yang cukup baik saat ini (Rp 2.350,- sampai dengan 2.400,-/kg GKP), usahatani padi tersebut dapat memberi penghasilan yang baik. Penghasilan bersih dari penjualan gabah dapat mencapai antara Rp 9-11 Juta /ha.

7. Inovasi padi di Lombok Timur. Padi merupakan salah satu komoditas pangan utama di Kabupaten Lombok Timur namun permasalahan yang dihadapi adalah lambannya proses penggunaan varietas unggul baru. Dalam rangka koordinasi dan sinkronisasi antar komponen dalam kegiatan P4MI di desa Jenggik Utara, Kecamatan Montong Gading Kab. Lotim, dilakukan introduksi inovasi teknologi tanaman padi di areal yang dicakup oleh

Prosiding Seminar Nasional

kegiatan investasi desa berupa embung atau bendungan. Inovasi teknologi yang dilakukan adalah teknologi PTT (Pengelolaan Tanaman Terpadu) Padi Sawah; meliputi: varietas unggul, tanam jajar biasa dan legowo, penggunaan pupuk

organik dan pemupukan an organik berimbang dengan BWD, Pengendalian hama terpadu (PHT). Produksi dari masing- masing varietas unggul baru padi yang diintroduksikan adalah sebagai berikut Tabel 3.

Tabel 3. Produksi dari masing-masing varietas unggul baru padi

Varietas

Produksi (ton/ha GKP)

Teknologi PTT

Teknologi Petani

Situ Pagendit

8,435

7,100

Kalimas

8,531

7,322

Cigeulis

8,926

7,385

Ciherang

8,806

7,708

Cibogo

9,203

7,800

Mekongga

9,238

7,338

Cimelati

8,896

7,389

Tukad Unda

9,182

7,430

Cilosari

9,227

7,460

Ciliwung

8,896

6,988

Aek Sibundong

8,889

8,050

8. Inovasi pengembangan teknologi terpadu pisang di Lombok Timur. Kegiatan ini merupakan satu lagi contoh keberhasilan inovasi paket teknologi tanpa dukungan investasi infrastruktur pertanian terlebih dulu. Suatu paket dari rangkaian teknologi dari hulu ke hilir komoditas pisang telah diintroduksi kepada para petani. Paket teknologi mencakup budidaya (penggunaan varitas potensial, jarak tanam, tanaman sela, pemupukan, pemeliharaan tanaman, pengendalian hama dan penyakit, dan pengerudungan buah), dan pasca panen termasuk pengolahan produk (pembuatan kripik, sale dan tepung pisang). Introduksi teknologi ini mampu meningkatkan total pendapatan petani hingga Rp 18, 1 juta per ha per tahun dengan rincian sebagai berikut:

penjualan pisang saja Rp 12 juta, tanaman sela Rp 2,35 juta. penjualan anakan pisang sebagai bibit Rp 3,75 juta. Hingga saat ini teknologi budidaya pisang telah diadopsi dan dikembangkan pada lahan seluas 200 ha karena komoditas ini mempunyai pasar yang potensial di Bali. Untuk pengolahan hasil difokuskan pada pengolahan keripik pisang yang setiap minggunya mampu menghasilkan 150 – 160 bungkus dengan harga Rp. 500,- per bungkus dengan keuntungan satu kali pembuatan/produksi sebanyak Rp. 50.000 - Rp. 60.000. Usaha pengolahan keripik pisang ini sudah mampu menyerap tenaga sebanyak 4-5

orang, khususnya untuk tenaga pengemasan.

9. Pengembangan biogas untuk energi rumah tangga. Kelompok tani Pasanggani, desa Limboro, Banawa Selatan di kabupaten Donggala telah mulai mengembangkan teknologi biogas untuk mencukupi kebutuhan energi rumah tangga. Teknologi ini pertama kali diperkenalkan oleh BPTP Sulawesi Tengah kepada kelompok tani yang menjadi desa sasaran P4MI. Pengembangan teknologi ini mempunyai dampak yang luas terhadap masyarakat, seperti mengurangi biaya rumah tangga dengan menggantikan kebutuhan minyak tanah dari 20 liter menjadi hanya 5 liter, sisa kotoran sapi dapat dijadikan pupuk siap pakai, mencegah perambahan hutan untuk mencari kayu bakar, khusus di kabupaten Donggala berdampak terhadap pengandang- an sapi.

DAMPAK AWAL

Manfaat inovasi teknologi yang dikembangkan telah dirasakan oleh petani. Hasil awal analisis finansial terhadap pelaksanaan P4MI menunjukkan, bahwa secara umum sinergi kegiatan pemberdayaan petani dan investasi desa yang ditindak lanjuti inovasi teknologi, telah mampu memberikan manfaat dan dampak positif. Hal ini ditunjukkan oleh nilai NPV, B/C rasio dan IRR dari 42 desa yang telah melaksanakan investasi desa, dimana NPV rata-rata Rp

Prosiding Seminar Nasional

426.988, Finansial IRR antara 14 sampai 102 %, B/C ratio rata-rata 1,43 (1,04 – 2,04),

seperti ditunjukkan pada Tabel 4.

Tabel 4. Kelayakan finansial kegiatan investasi di setiap desa P4MI

No.

Kabupaten/Desa

NPV (Rp)

IRR (%)

B/C

I

BLORA

 
 

1.

Getas

424,285,205

80.19

1.24

2.

Brabowan

429,137,084

70.57

1.22

3.

Sambong

551,686,335

86.80

1.20

4.

Andong rejo

509,036,669

80.33

1.10

5.

Kemiri

325,079,331

65.51

1.21

6.

Kedungwungu

482,959,894

76.58

1.26

7.

Gotputuk

397,145,904

66.12

1.20

8.

Bogem

586,208,041

84.29

1.29

9.

Nginggil

359,734,616

61.34

1.35

10.

Sendangrejo

384,203,570

64.44

1.24

11.

Sembongin

443,214,733

73.44

1.32

II

DONGGALA

 

12. Langaleso

450,842,840

66.74

1.66

13. Solutome

767,526,196

109.35

1.87

14. Panii

79,642,431

24.07

1.23

15. Lompio

711,601,112

102.91

2.17

16. Limboro

495,183,987

77.53

1.62

17. Tuva

409,824,491

66.19

1.61

18. Mbuvu

240,466,567

45.96

1.52

19. Jono Oge

399,126,383

69.43

1.94

III

ENDE

20. Detusoko Barat

475,220,763

79.09

1.32

21. Bokasape

404,651,520

69.09

1.48

22. Wologai

140,045,654

33.98

1.24

23. Watuneso

274,896,810

60.27

1.56

24. Hobatua

21,208,899

16.27

1.06

25. Kotabaru

440,161,136

74.65

1.95

 

26. Tou

296,510,598

55.90

1.59

IV

LOMBOK TIMUR

 

27. Lenek

763,926,711

81.50

1.24

28. Kelayu Jorong

1,017,464,985

78.51

1.34

29. Dasan Lekong

373,064,133

58.94

1.17

30. Padamara

426,253,958

42.88

1.25

31. Montong Betok

150,184,125

32.33

1.20

32. Jenggik Utara

976,322,142

50.39

1.46

V

TEMANGGUNG

 

33. Bumiayu

313,063,942

56.76

1.44

34. Langgeng

31,053,884

14.74

1.04

35. Wonokerso

358,636,850

43.28

1.33

36. Ngabeyan

496,954,818

67.52

1.96

37. Canggal

354,899,480

63.46

1.45

38. Nglondong

806,255,617

82.71

1.74

39. Nguwet

338,024,953

56.63

1.50

40. Guntur

503,229,327

84.01

1.39

41. Tempuran

362,442,216

52.50

1.70

42. Klepu

265,479,365

38.45

1.43

Prosiding Seminar Nasional

Selain keberhasilan, P4MI juga menghadapi berbagai hambatan, antara lain:

1. Pemberdayaan merupakan proses yang memerlukan waktu cukup panjang karena memerlukan perubahan pola pikir dan perilaku serta penumbuhan rasa percaya diri dan kemandirian petani.

2. Kegiatan P4MI dilaksanakan sesuai dengan ketentuan siklus anggaran bagi kegiatan program/proyek yang didanai pemerintah. Sementara keadaan di lapangan sering tidak dapat dikompromikan dengan aturan tersebut, dengan segala akibatnya bagi masyarakat awam yang tidak memahami birokrasi.

3. Intervensi dari proyek/program lain yang berbeda pendekatannya dengan P4MI menyebabkan motivasi masyarakat menurun. Keberadaan program tersebut yang mempunyai pendekatan top down dan non-partisipatif telah meracuni mentalitas masyarakat yang berakibat menghambat kegiatan P4MI.

4. Demikian juga bagi daerah-daerah yang terlalu sering menerima program/proyek yang di drop dari atas, mentalitas masyarakat kurang bergairah dalam melaksanakan kegiatan yang bersifat partisipatif. Kebiasaaan masyarakat yang hanya menerima berbagai bantuan tanpa upaya apapun dan juga aparat pemerintahan desa atau kecamatan yang lebih berfungsi sebagai kontraktor atau broker penyaluran bantuan sangat mengganggu kelancaran kegiatan P4MI karena mereka apatis bila harus berupaya dalam berpartisipasi untuk kegiatan-kegiatan yang sebagian harus dipikul mereka sendiri.

5. Beberapa wilayah memiliki kondisi geografi terpencil yang sukar dijangkau, tidak hanya sulit untuk mencapai lokasi, tetapi juga sulit untuk mengadakan pertemuan, dan juga sulit untuk dapat memobilisasi mereka dalam rangka pembinaan.

6. Sulit untuk mendapatkan tenaga dengan kualitas SDM yang memadai di beberapa daerah yang masih terbelakang. Sebagai konsekuensinya kegiatan-kegiatan P4MI di beberapa daerah terbelakang masih kurang optimal.

Beberapa hal dapat dipetik sebagai pelajaran dari keberhasilan dan kegagalan kegiatan P4MI, yaitu:

1. Petani dalam kondisi sosial ekonomi terendahpun dapat dibimbing dan ditingkatkan kemampuannya bila tujuan pemberdayaan dapat diterima dan dipahami mereka.

2. Dengan pendekatan partisipatif, petani/ masyarakat dapat dimobilisasi untuk mencapai tujuan pemberdayaan dan mereka memberikan kontribusi dalam berbagai bentuk sesuai kemampuannya dalam proses pembangunan secara signifikan.

3. Proses pemberdayaan memerlukan waktu relatif lama dan harus berlangsung secara kontinyu, hingga minimum mencapai tahap stabil dan manfaat hasil pembangunan dapat berlangsung secara berkelanjutan.

4. Kegiatan-kegiatan di lapangan sering menghadapi kendala ketentuan administratif birokrasi yang mengganggu suatu proses yang sedang berjalan. Fleksibilitas diperlukan dalam administrasi tanpa mengurangi azas akuntabilitas dan transparansi.

5. Pemangkasan kewenangan administratif keuangan dengan menyalurkan dana investasi langsung ke petani dan dapat dikelola oleh petani sendiri, telah menumbuhkan kepercayaan dan rasa tanggung jawab mereka.

6. Kegiatan investasi desa yang diusu