Anda di halaman 1dari 4

Ê  

   
       

  
 
‘
× 

Indonesia merupakan negara yang rawan akan terjadinya konflik horizontal, mengingat
keragaman budaya, etnis, agama dan suku bangsa yang ada. Hal ini terbukti dengan banyaknya
konflik yang terjadi di Indonesia dalam beberapa tahun belakangan ini. Secara alami, konflik
merupakan suatu keniscayaan, yang pasti akan terjadi selama manusia ada di muka bumi, baik
yang terjadi antar individu, kelompok, maupun masyarakat.

Yang menjadi masalah adalah apabila konflik tidak dapat ditangani dan diselesaikan, yang akan
menjurus kepada terjadinya perpecahan dan kekacauan yang berkepanjangan. Padahal di satu
sisi konflik dapat bermanfaat apabila dapat diselesaikan dengan baik, terutama dapat
menciptakan kreativitas dan perubahan sosial yang konstruktif, membangun keterpaduan
kelompok dan meningkatkan fungsi kekeluargaan/kebersamaan.

Banyak penelitian yang telah dilakukan untuk mencari solusi bagi penanganan konflik yang
terjadi di Indonesia. Salah satunya yang dilakukan oleh UI untuk melihat penyebab utama
meletusnya konflik sosial di masyarakat (FISIP UI 1999). Dari penelitian tersebut dapat
disimpulkan bahwa penyelesaian konflik dalam masyarakat harus dilakukan secara komprehensif
dan melibatkan seluruh elemen sosial secara majemuk. Selain itu hubungan dengan masyarakat
berbeda etnis seperti dengan etnis Cina harus mendapat perhatian serius, baik oleh masyarakat
sendiri maupun pemerintah.

Dalam konflik, komunikasi merupakan hal penting yang menjadi inti dari permasalahan. Seperti
dikatakan oleh Putnam dan Poole (1987) dalam Mao (2010) bahwa komunikasi merupakan
esensi dari konflik yang mendasari terbentuknya isu-isu yang bertentangan, membingkai persepsi
dari konflik, menerjemahkan emosi dan persepsi menjadi perilaku konflik, serta menjadikan
dasar bagi konflik yang mendatang. Gudykunst dan teman-teman telah membuktikan bahwa

c
budaya merupakan faktor yang menentukan dalam manajemen konflik (Gudykunst & Nishida,
1986; Gudykunst & Ting-Toomey,1988 dalam Mao 2010). Komunikasi antar budaya menurut
Samovar dan Porter (1972) dalam Lubis (2002) terjadi manakala bagian yang terlibat dalam
kegiatan komunikasi tersebut membawa serta latar belakang budaya pengalaman yang berbeda
yang mencerminkan nilai yang dianut oleh kelompoknya berupa pengalaman, pengetahuan, dan
nilai.

Dari uraian di atas, menarik untuk mengkaji komunikasi antar budaya yang terjadi antar etnis di
Kota Medan, mengingat masyarakat di Kota Medan termasuk yang jarang terlibat konflik antar
etnis. Padahal di Kota Medan bermukim cukup banyak etnis yang beragam, seperti etnis
Tionghoa, Batak, Melayu, Minang, Karo, Mandailing, Jawa, Nias, Tamil dan lainnya. Kota
Medan menjadi salah satu wilayah geografis yang kerap dijadikan contoh untuk menampilkan
wajah Indonesia yang pluralis. Medan bahkan kerap dijadikan barometer kondusivitas politik
nasional karena tidak adanya letupan-letupan sosial yang berarti (Buntomi, 2009).

Masih kuat melekat dalam ingatan warga Medan ketika pada akhir tahun 2000, sejumlah
peristiwa ledakan bom terjadi di beberapa gereja. Peristiwa tersebut menyebabkan puluhan umat
yang sedang melakukan ibadah terluka. Banyak pihak menilai aksi pengeboman itu merupakan
upaya provokasi untuk memecah belah umat beragama di Kota Medan. Apalagi saat itu
beberapa daerah lain di Indonesia seperti Ambon, Poso, Kupang sedang diguncang µteror bom¶.
Namun jika di wilayah lain peristiwa tersebut mampu memunculkan konflik lanjutan di
masyarakat, hal itu tidak terjadi di Kota Medan, dimana umat beragama tidak terpancing untuk
mengobarkan konflik horizontal (Buntomi, 2009).

Ê 

 
Dari uraian di atas, dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
1.‘ Bentuk komunikasi antar budaya seperti apa yang telah berlangsung di Kota Medan?
2.‘ Apa saja faktor-faktor pemicu terjalinnya komunikasi antar budaya di Kota Medan?

£
[

Ê    
1.‘ Mengetahui bentuk komunikasi antar budaya yang telah berlangsung di Kota Medan
2.‘ Mengetahui faktor-faktor pemicu terjalinnya komunikasi antar budaya di Kota Medan.

Ê    
Penelitian ini berguna untuk mengetahui bentuk-bentuk komunikasi antar budaya di Kota Medan
dan faktor-faktor yang memicu hal tersebut agar dapat dijadikan contoh bagi daerah-daerah lain
dalam menghadapi konflik antar etnis.

ü
Daftar Pustaka

Buntomi. 2009. Media Massa dan Kabar Kebencian. Disitasi dari


http://buntomijanto.wordpress.com/2009/06/18/media-massa-dan-kabar-kebencian/ pada
tanggal 26 Desember 2010.

Ida,Laode Drs., dkk. 1999. Laporan Kegiatan Penelitian Tahap I Perguruan Tinggi, Penelitian
Hibah Bersaing, Moder Penanggulangan Konflik dalam Masyarakat Secara Partisipatif
(Studi tentang Konflik Manifest), Pusat Antar Universitas Ilmu Sosial, Universitas
Indonesia
Mao,Yuping. August 2010. Does Culture Matter? Relating Intercultural Communication
Sensitivity to Conflict Management Styles, Technology Use, and Organizational
Communication Satisfaction in Multinationals in China. A dissertation presented to the
faculty of the Scripps College of Communication of Ohio University. ProQuest LLC.