Anda di halaman 1dari 34

Topik 6. Sistem Jaringan Irigasi dan Drainase, d.

Kusnadi kalsim, erizal 1

Topik 6. Sistem Jaringan Irigasi/Drainase


Pendahuluan

Tujuan instruksional khusus: mahasiswa memahami nama bangunan, gambar dan


fungsinya di bendungan, jaringan irigasi dan drainase.

Bahan Ajar

BANGUNAN HIDROLIKA

BENDUNGAN/WADUK (DAM)
Waduk adalah suatu wilayah untuk menampung air yang akan dapat digunakan, selain
itu juga dapat mencegah banjir, menjaga lingkungan air atau merubah sifat dari air.
Waduk dapat dibuat dengan membangun bendung yang melintang sebuah lembah.

Parameter utama sebuah waduk adalah : volume, luas genangan dan kisaran ketinggian
fluktuasi muka air.

Jenis-jenis bendungan
1. Berdasarkan ukuran
a. Bendungan besar (large dam) > 15 m, atau 10 – 15 m dengan beberapa syarat
b. Bendungan kecil (small dam, weir, bendung)
2. Berdasarkan tujuan pembangunan
a. Tujuan tunggal (single purpose dam)
b. Serba guna (multi purpose dam)
3. Berdasarkan penggunaan
a. Membentuk waduk (storage dam)
b. Penangkap/pembelok air (diversion dam)
c. Memperlambat jalannya air (detention dam)
4. Berdasarkan jalannya aliran
a. Dilewati aliran (overflow dam)
b. Menahan aliran (non overflow dam)
5. Berdasarkan konstruksi
a. Bendungan urugan (fill dam, earth dam)
b. Bendungan beton (concrete dam)
6. Berdasarkan fungsi
a. Bendungan pengelak pendahuluan (primary cofferdam)
b. Bendungan pengelak (cofferdam)
c. Bendungan utama (main dam)
d. Bendungan sisi (high level dam)
e. Bendungan di tempat rendah (saddle dam)
f. Tanggul (dyke, levee)
g. Bendungan limbah industri (industrial waste dam)
h. Bendungan pertambangan (mine tailing dam)

Teknik Irigasi dan Drainase (TEP 321)


Topik 6. Sistem Jaringan Irigasi dan Drainase, d. Kusnadi kalsim, erizal 2

Komponen :
1. Batas DAS 2. Genangan air
3. Tubuh bendung 4. Saluran pelimpah
5. Pipa distribusi 6. Bak air untuk penduduk
7. Bak air ternak 8. Bak air untuk kebun

Gambar 1. Gambaran umum bendung kecil


SURVEI DAN PERENCANAAN

Pemilihan Lokasi
Agar efisien dibangun pada daerah yang dapat menampung air sebanyak-banyaknya dan
dengan sedikit pengerjaan tanah
• pada daerah yang beralur sempit, kedua sisi lereng relatif curam sehingga akan
dapat menampung air yang banyak, daerah dangkal yang sedikit sehingga
kehilangan air akibat rembesan dan penguapan kecil.
• Pemilihan lokasi juga disesuaikan dengan keperluan
misalnya untuk keperluan domestik, irigasi kebun perkarangan dan minuman ternak,
maka pembangunan pada lokasi yang sedekat mungkin dengan pemakai.

Studi Lokasi Pendahuluan


a. Daerah tangkapan
Jika air permukaan merupakan sumber utama, maka daerah tangkapan harus cukup
luas agar aliran permukaan cukup besar sehingga mencukupi suplai.
Sifat fisik daerah tangkapan yang berpengaruh langsung terhadap ketersediaan air
adalah : kemiringan lereng, infiltrasi, vegetasi penutup lahan dan kapasitas
permukaan.
b. Perlindungan daerah tangkapan
Untuk mempertahankan kedalaman dan volume air, maka aliran yang masuk
hendaknya bebas dari sedimen. Perlindungan yang terbaik adalah dengan
pencegahan erosi pada daerah tangkapan.

Survei Pendahuluan
Setelah lokasi ditentukan, maka dilaksanakan survei pendahuluan. Survei
pendahuluan dengan pengukuran beda tinggi. Pengukuran pada daerah dinding embung,
bangunan pelimpah, lereng sekitar dan daerah yang akan tergenang.

Teknik Irigasi dan Drainase (TEP 321)


Topik 6. Sistem Jaringan Irigasi dan Drainase, d. Kusnadi kalsim, erizal 3

Survei tersebut berpedoman pada arah Utara dan dibuat benchmark permanen di
lokasi dengan tinggi referensi lokal (umumnya + 100.00 m) dan sebaiknya pada lokasi
yang tidak terganggu.

Gambar 2. Bagian-bagian bendung dan terminologinya

Batas daerah tangkapan dihitung menggunakan penentuan kutub Utara kompas,


pita ukur dan inclinometer. Hasilnya diplot dan diukur luasnya dengan planimeter.

Data Perencanaan Bendung

(1) Topografi:
(a) Peta dasar 1: 25.000 atau 1: 50.000 dengan kontur 25 m, untuk gambaran DAS,
(b) Peta situasi sungai 1: 2.000, kontur 0.5 m -1.0 m, 1 km ke hulu dan ke hilir
sungai, 250 m ke kanan dan ke kiri tebing sungai. Untuk pemilihan lokasi
bendung dan kompleks bangunan,
(c) Potongan memanjang dan melintang tiap 50 m, skala 1:200,
(d) Pengukuran detail situasi bendung 1: 200 atau 1:500, kontur 0.25 m seluas 50
Ha (1000 x 500 m).

(2) Data Hidrologi:


Analisis hidrologi yang diperlukan adalah : kebutuhan air, ketersediaan air dan
daya tampung air dari bendungan. Analisa kebutuhan air dilakukan dengan
memperhatikan keperluan untuk domestik, irigasi atau ternak. Ketersediaan air dihitung
berdasarkan besarnya potensi air yang tersedia misalnya dari curah hujan dan debit
sungai dan besarnya kehilangan yang mungkin terjadi yang diakibatkan oleh adanya
penguapan dan rembesan. Daya tampung air merupakan volume maksimum genangan
yang terbentuk karena dibangunnya embung/bendung.
(a) Debit banjir, diperlukan untuk perhitungan banjir rencana,
• Debit banjir dihitung dgn periode ulang (tahun) : 1000, 100, 50, 25, 5.
• Bangunan pengelak Q 100,
• Tanggul banjir Q 1000,
• Elevasi tanggul hilir Q 5-25,
• Saluran pengelak atau bangunan kofer dam Q 5-25,

Teknik Irigasi dan Drainase (TEP 321)


Topik 6. Sistem Jaringan Irigasi dan Drainase, d. Kusnadi kalsim, erizal 4

• Usahakan data aliran sungai (AWLR), tapi sering kali tidak ada. Data hujan
dikonversi ke debit
(b) Debit rendah andalan
Dihitung dengan keandalan 80%, artinya 80% terpenuhi dan 20% gagal.
Sehingga perhitungan Q5 yakni debit banjir dengan periode ulang 5 tahunan.
Idealnya data dari aliran sungai (AWLR), kalau tidak ada memakai curah hujan
untuk mepredksi debit.
(c) Neraca air.
Dihitung untuk rencana alokasi air untuk berbagai keperluan, dihitung dengan
keandalan 80%. Hak atas air, penyadapan hulu dan hilir, keperluan air hilir
untuk lingkungan harus dipertimbangkan.

(3) Data Morfologi sungai :


Bangunan melintang sungai akan mempunya 2 akibat:
(a) Perubahan sungai ke arah horisontal terhambat,
(b) Air dan sedimen dibelokkan, sehingga konsentrasi sedimen berubah.
Data fisik yang diperlukan:
(a) Kandungan dan ukuran sedimen,
(b) Tipe dan ukuran sedimen,
(c) Distribusi ukuran butir,
(d) Banyak sedimen,
(e) Pembagian sedimen secara vertikal dalam sungai,
(f) Data historis degradasi dan agradasi sungai.

(4) Data Geologi Teknik :


Peta Geologi :
(a) Peta daerah skala 1 : 100.000 atau 1 : 50.000,
(b) Peta semi detail 1 : 25.000 atau 1 : 5.000,
(c) Peta detail 1 : 2.000 atau 1 : 100.
Kalau perlu dilakukan pemboran untuk mengetahui lapisan dan tipe batuan. Biasanya
paling tidak lima titik berupa salip. Kedalaman sampai batuan atau sekitar 15 ~ 20 m.

Penyelidikan tambahan adalah:


(a) mencari bahan material: batu, kerikil, pasir;
(b) dimana, kualitas, jumlahnya;
(c) Penyelidikan Mekanika Tanah perlu dilakukan untuk mengetahui sifat fisik
tanah : sudut geser, kohesi, kelulusan air, sifat konsolidasi tanah.

(5) Sungai:
Faktor yang dipertimbangkan:
(a) Kemiringan dasar sungai
Faktor Kemiringan. Upper reach, pegunungan, terjal, batuan sedang dan besar
dalam jumlah besar, kolam olak sering pecah, degradasi, batuan terjun bebas
dibenturkan dasar sungai (Gambar 6).
Pengambilan bebas atau bendung tetap. Lower reach, dekat pantai, hampir datar,
endapan pasir halus, agradasi, kolam olak aman, genangan banjir luas, tanggul
mahal, dilengkapi pintu (barrage). Middle reach, lokasi diantaranya, keadaan
transisi, bisa bendung tetap atau barrage, lihat situasi lapangan. Barrage biaya
OP nya mahal. Semua yang bergerak OP nya mahal.

Teknik Irigasi dan Drainase (TEP 321)


Topik 6. Sistem Jaringan Irigasi dan Drainase, d. Kusnadi kalsim, erizal 5

(b) Sedimen/bahan yang terangkut,


(c) Jumlah air dan distribusi sepanjang tahun,
(d) Morfologi sungai dan geologinya.

Gambar 6. Tipe bendung. A : membawa batu, dasar sungai kuat, batu diterjunkan langsung; B :
endapan pasir krikil, dasar sungai tidak kuat; C : endapan batu besar, di rolling,
loncat ke hilir; D : beda tinggi > 7 m, dibuat double jump

Morfologi sungai
Sungai stabil: tebing dari batuan kokoh, dasar sungai ada outcrop (batuan), atau batu-
batuan besar.
Sungai labil: penuh kerikil dan pasir, tebing tidak kokoh, tidak ada outcrop, alur
berpindah (semi braiding).
Sungai bermeander: berkelok, berpindah-pindah, melewati aluvial, konsentrasi endapan
tinggi, sungai melebar, degradasi tinggi.

Pengecekan untuk bangunan utama:


(a) Terjadi degradasi atau agradasi,
(b) Terjadi meandering atau tidak,
(c) Apakah terjadi perubahan sungai ke arah horisontal atau vertikal,
(d) Kestabilan tebing bagaimana.

Muka air
Ada 4 batasan penentuan elevasi muka air:
(a) Keperluan irigasi untuk lokasi/elevasi sawah paling tinggi,
(b) Beda tinggi energi untuk membilas pada kantong lumpur,
(c) Beda tinggi energi untuk membilas sedimen dekat pintu pengambilan,
(d) Beda tinggi energi untuk meredam energi pada kolam olak.

Untuk keperluan irigasi perlu diperhatikan:


(a) elevasi sawah tertinggi yang akan diairi,
(b) kedalaman air di sawah,

Teknik Irigasi dan Drainase (TEP 321)


Topik 6. Sistem Jaringan Irigasi dan Drainase, d. Kusnadi kalsim, erizal 6

(c) kehilangan tinggi di bangunan dan saluran,


(d) variasi muka air dalam eksploitasi,
(e) kehilangan tinggi di bendung.

Topografi
Pertimbangan yang diperlukan:
(a) Pilih lembah berbentuk V atau sempit karena dapat menghemat biaya material,
(b) Perhatikan keperluan lokasi untuk bangunan pelengkap (kantong lumpur, tanggul
banjir, tanggul penutup, rumah jaga),
(c) Perhatikan arah saluran primer apakah lewat tebing, galian tinggi, atau terowongan.

Penyelidikan geologi teknik


Setelah pembuatan peta, dilakukan penyelidikan geoteknik dengan mengadakan
pemboran dan pembuatan sumur uji. Penyelidikan bertujuan untuk menilai karakteristik
fondasi, bahan bangunan dan dinding bendung.
Karakteristik fondasi yang diperlukan baik sifat fisika maupun mekanika tanahnya yang
perlu dipertimbangkan:
(a) Daya dukung fondasi harus kuat,
(b) Jangan terletak pada daerah sesar atau patahan,
(c) Kekuatan fondasi terhadap erosi air,
(d) Fondasi apakah rapat air atau tidak,
(e) Kestabilan tebing kanan dan kiri,
(f) Ketersediaan bahan bangunan.

Penggambaran
Dari hasil survei pendahuluan, disusun peta kontur dengan beda kontur 1 m dan skala 1
: 500. Selanjutnya bendung direncanakan dan spesifikasi teknik dan penggambaran
disiapkan yang biasanya terdiri dari :
• rencana bendung, bangunan pelimpah dan daerah penampungan dengan beda
kontur 1 m dan skala 1 : 500
• penampang dinding bendung dan daerah penampungan dengan skala horizontal 1 :
500 dan verikal 1 : 200
• dua penampang melalui daerah penampungan dan daerah penggalian dengan skala
horizontal 1 : 500 dan verikal 1 : 200
• peta rencana (tanpa skala) menunjukkan lokasi bendung, jalur pipa, bak
penampungan dan beberapa daerah utama wilayah
• tabel yang menunjukkan ukuran dan keterangan tentang bendung.
• Gambar bak penampung, inlet dan outlet serta kelengkapan lainnya.

Survei Akhir
Setelah pembangunan bendung selesai, perlu dilaksanakan pengukuran baik pada
dinding bendung, bangunan pelimpah, kemiringan dinding dan daerah penampungan.
Selanjutnya disiapkan gambar sebagaimana bendung dibangun yang menunjukkan
ukuran-ukurannya.

Teknik Irigasi dan Drainase (TEP 321)


Topik 6. Sistem Jaringan Irigasi dan Drainase, d. Kusnadi kalsim, erizal 7

Bendungan Urugan (Fill/Earth Dam)


Bendungan yang dibangun dari hasil penggalian bahan tanpa tambahan bahan lain yang
bersifat campuran secara kimia
Tipe bendungan urugan :
• Bendungan urugan serba sama (homogeneous dam)
 Sering disebut sebagai bendungan urugan tanah, tetapi sesungguhnya kurang
tepat.
• Bendungan urugan berlapis-lapis (zone dam, rockfill dam)
 Terdiri atas beberapa lapisan : lapisan kedap air (water tight layer), lap. batu
(rock zone, shell), lap. batu teratur (rip-rap), lap. penyaring (filter zone)
• Bendungan urugan batu dengan lapisan kedap air di muka (impermeable face
rockfill dam)
 Lapisan kedap air (umumnya aspal dan beton bertulang) diletakkan di sebelah
hulu bendungan.

Bendungan Urugan Serba Sama


Bendungan urugan serba sama merupakan bendungan yang lebih dari setengah
volumenya terdiri atas bahan bangunan (tanah, pasir atau kerikil) yang seragam.
• Bendungan urugan tanah (earthfill dam)
• Bendungan urugan pasir dan kerikil

Bendungan urugan tanah (earthfill dam)


• Bendungan urugan tanah merupakan bendungan yang lebih dari setengah
volumenya terdiri atas bahan bangunan tanah atau tanah liat yang seragam.
• Terbagi atas 4 tipe berdasarkan bentuk saluran drainase :
• Keuntungan :
 Karena bahannya seragam, maka cara pemadatannya relatif mudah
 Relatif lebih murah dibandingakan dengan tipe lainnya
• Kerugian :
 Sifat tanah atau tanah liat sangat dipengaruhi oleh kadar air, sehingga pada
waktu pemadatan kadar air harus diperiksa dengan ketat
 Pada musim hujan, pekerjaan sering dihentikan.

Teknik Irigasi dan Drainase (TEP 321)


Topik 6. Sistem Jaringan Irigasi dan Drainase, d. Kusnadi kalsim, erizal 8

Gambar 3. Tipe bendungan urugan

Gambar 4. Penampang melintang Bendungan Ir. H. Pangeran Noor

Teknik Irigasi dan Drainase (TEP 321)


Topik 6. Sistem Jaringan Irigasi dan Drainase, d. Kusnadi kalsim, erizal 9

Gambar 5. Beberapa istilah untuk bendungan urugan


Lapisan-lapisan yang ada
Walaupun disebut serbasama, tetapi terdapat pula bahan lainnya sebagai bahan saluran
drainase dan lapisan untuk menjaga stabilitas lereng.
• Lapisan batu teratur (rip-rap)
Untuk menjaga stabilitas lereng dengan menahan permukaan bendungan sebelah
hulu agar tidak rusak akibat naik turunnya muka air di waduk. Rip-rap dipasang
dari puncak bendungan sampai + 2 m di bawah permukaan air terendah untuk
operasi (MOL, Minimum Operation Level).
Tebal lapisan tergantung pada : kekuatan batu, tinggi bendungan, frekuensi muka
air dan tinggi perkiraan gelombang. Umumnya apabila menggunakan tenaga
manusia + 30 cm, menggunakan alat berat + 50 cm – 100 cm.
• Bahan tanah (soil material) dan tanah liat (clay)
Untuk penimbunan tubuh bendungan dan lapisan kedap air untuk bendungan
urugan batu. Yang sering digunakan untuk lapisan kedap air adalah tanah liat,
dengan beberapa syarat :
- bahan organik < 5 %, untuk mencegah penurunan yg terlalu besar akibat
banyaknya pori-pori.
- koefisien permeabilitas < 10-5 cm/det, mengurangi rembesan.
- kuat tegangan geser yg cukup untuk menghindari terjadinya penggeseran
bendungan.
- pelaksanaan pemadatan yg mudah agar seragam.
- memenuhi gradasi tertentu sehingga dapat tahan terhadap gejala pembuluh
(piping action).
- tahan terhadap gempa.
• Lapisan pasir dan kerikil (gravel pebble layer)
Untuk alasan biaya biasanya diambil langsung dari sumbernya seperti dari sungai
atau darat. Tetapi apabila kadar airnya tinggi harus dikeringkan dahulu.
• Lapisan hilir (downstream)
Apabila kesulitan dalam membuang tanah hasil penggalian, biasanya ditimbun di
bagian hilir setelah sebelumnya dianalisa kestabilannya. Lapisan hilir dapat
ditutup dengan batu belah (rockzone) atau dengan gebalan rumput (sod facing)

Teknik Irigasi dan Drainase (TEP 321)


Topik 6. Sistem Jaringan Irigasi dan Drainase, d. Kusnadi kalsim, erizal 10

Saluran Drainase (pengering)


Dibuat dari pasir dan kerikil yang memenuhi gradasi tertentu dan bersih.
Perkuatan Lereng sebelah Hilir (downstream)
Karena tanah liat, tanah atau pasir umumnya mudah longsor, maka harus diberi
perkuatan agar stabil terhadap tiupan angin dan erosi dari air hujan. Bahan untuk
perkuatan diantaranya : batu belah, batu bulat, dan gebalan rumput.

Perencanaan teknis
Perencanaan teknis embung perlu mempertimbangkan berbagai hal, antara.lain:

A. Pondasi bendung
Bendung dapat dibangun pada berbagai macam pondasi, tetapi jika diadakan
penelitian dan penyelidikan untuk itu, perencanaan dan pelaksanaan
pembangunannya disesuaikan dengan keadaan setempat. Pondasi yang baik adalah
jika terdiri dari atau didasari oleh lapisan yang relatif kedap air yang tebal.

B. Lapisan penyekat untuk memperkuat pondasi


Lapisan penyekat ini untuk memperkuat pondasi yang umumnya dari tanah liat
yang dipadatkan yang memotong sejajar dengan pusat sampai kedalaman ± 0.6 m
pada lapisan kedap air. Lapisan tersebut diperpanjang sampai abutmen dam hingga
ke bahan yang lulus air untuk merembeskan air.
Lapisan penyekat mempunyai lebar dasar tidak kurang dari 2.4 m dan sisi lapisan
harus landai tidak lebih dari 1:2 dan lebih baik kalau 1:1.

C. Lebar dinding
Lebar atas tergantung besar kecilnya embung, umumnya sebesar 4 m, cukup untuk
embung yang mempunyai ketinggian sampai 10 m dan dapat dilalui kendaraan.

D. Kemiringan dinding
Kemiringan dinding suatu embung tergantung terutama pada kestabilan material
timbunan. Semakin besar kestabilan timbunan maka semakin besar kemiringan
dinding yang dapat dibuat. Pada tabel dibawah adalah rekomendasi kemiringan
maksimum untuk bagian dalam dan bagian luar pada berbagai macam material.

Tinggi Embung (m) Rip-rap Kemiringan


Dalam 3:1
0-3
Luar 2.5 : 1
Dalam 3:1
3-7
Luar 3:1
Dalam 3.5 : 1
7-10
Luar 3:1

E. Penutup tanah
Penutup tanah dari lapisan topsoil diletakkan diseluruh timbunan sampai kedalaman
15 – 30 cm dan ditanami rumput yang dapat tumbuh dan menyekat dengan baik.
Jenis rumput yang umum ditanam adalah rumput Kikuyu dan Buffalo.

Teknik Irigasi dan Drainase (TEP 321)


Topik 6. Sistem Jaringan Irigasi dan Drainase, d. Kusnadi kalsim, erizal 11

F. Freeboard
Freeboard adalah tambahan tinggi dinding untuk keamanan terhadap gerakan
permukaan air atau limpasan air hujan. Umumnya tinginya freeboard 1 m biasa
dipakai.
G. Perkiraan penurunan
Perencanaan tinggi embung urugan tanah harus dilebihkan untuk mengantisipasi
adanya penurunan. Penambahan tersebut + 5 % dari tinggi embung yang dipadatkan
dengan mesin pemadat tanah tipe sheepfoot vibrator roller.

H. Tinggi bendung
Tinggi bendung harus ditentukan dengan mempertimbangkan kebutuhan tampungan
air dan keamanannya terhadap peluapan oleh banjir

Hd = Hk + Hb + Hf + Hp
Hd: tinggi bendung, Hk: tinggi air pada kondisi penuh, Hb: tinggi tampungan
banjir, Hf: tinggi jagaan, Hp: tinggi cadangan karena penurunan

I. Bentuk proteksi lainnya


Suatu embung belum lengkap bila perlindungan terhadap gerakan permukaan air, ternak
dll. belum dipersiapkan. Perlindungan lereng tanggul untuk embung jenis urugan
biasanya berupa rerumputan untuk perlindungan terhadap erosi akibat gerakan air dan
pagar untuk menghindari perusakan oleh ternak.

KOMPONEN BANGUNAN IRIGASI

1. Bangunan Utama (Headworks):

Definisi Bendung: Bangunan (atau komplek bangunan) melintang sungai yang


berfungsi mempertinggi elevasi air dan membelokkan air agar dapat mengalir ke saluran
dan masuk ke sawah untuk keperluan irigasi

Secara fisik terdiri dari: (a) Tubuh bendung, (b) Bangunan Pengelak dan Peredam
Energi, (c) Bangunan pembilas, (d) Pintu pengambilan, (e) Kantong Lumpur, (f)
Tanggul banjir, (g) Rumah jaga, (h) Bangunan pelengkap lainnya.

Secara umum bendung dibatasi: (a) Beda tinggi muka air hulu hilir 6 -7 m, (b) Daerah
aliran sungai 500 km2, (c) Pengambilan air irigasi 25 m3/dt. Diluar batasan itu, harus
dikaji spesialis ahli.

Teknik Irigasi dan Drainase (TEP 321)


Topik 6. Sistem Jaringan Irigasi dan Drainase, d. Kusnadi kalsim, erizal 12

Foto 1. Bendung
Katagori bangunan utama:

1.1. Bendung (weir) atau Bendung Gerak (barrage)

Untuk meninggikan air di sungai sampai ketinggian yang diperlukan agar air dapat
dialirkan ke saluran irigasi mengairi lahan irigasi. Bendung gerak adalah bangunan yang
dilengkapi dengan pintu air yang dapat dibuka/ditutup.

Foto 2. Bendung Tetap (weir)


Empang, Bogor

Teknik Irigasi dan Drainase (TEP 321)


Topik 6. Sistem Jaringan Irigasi dan Drainase, d. Kusnadi kalsim, erizal 13

Foto 3. Bendung Gerak

Operasi pintu: Air kecil pintu ditutup, air naik dan membelok ke saluran. Air banjir,
pintu barrage dibuka, pintu pengambilan ditutup, mencegah sedimen masuk ke saluran.
Keuntungan: tanggul banjir rendah, mengurangi daerah genangan.
1.2. Pengambilan bebas (Free Intake)
Bangunan yang dibuat di tepi sungai yang mengalirkan air sungai ke dalam jaringan
irigasi, tanpa mengatur tinggi muka air di sungai.

1.3. Pengambilan dari Waduk (Storage, Reservoir)


Waduk digunakan untuk menampung air pada waktu terjadi kelebihan/surplus air di
sungai agar dapat digunakan pada waktu defisit air. Waduk berukuran besar sering
digunakan juga sebagai pembangkit tenaga listrik.

1.4. Stasiun Pompa

Irigasi dengan pompa dapat dipertimbangkan apabila pengambilan secara gravitasi


ternyata tidak layak baik dari segi teknis maupun ekonomis.

Teknik Irigasi dan Drainase (TEP 321)


Topik 6. Sistem Jaringan Irigasi dan Drainase, d. Kusnadi kalsim, erizal 14

Foto 4. Bendungan Batu Tegi di


Lampung

Gambar 1. Bangunan utama

Teknik Irigasi dan Drainase (TEP 321)


Topik 6. Sistem Jaringan Irigasi dan Drainase, d. Kusnadi kalsim, erizal 15

Gambar 2. Tampak atas suatu bendung

Gambar 3. Denah dan potongan melintang Bendung Gerak dan potongan melintang
Bendung Saringan Bawah

Teknik Irigasi dan Drainase (TEP 321)


Topik 6. Sistem Jaringan Irigasi dan Drainase, d. Kusnadi kalsim, erizal 16

Gambar 4. Denah bendung

Metode Pelaksanaan : Di sungai atau Kopur


Di sungai : Pelaksanaan separuh-separuh, memerlukan kistdam panjang dan mahal,
resiko banjir besar (Gambar 7). Di Kopur/sudetan: Pelaksanaan penuh tanpa kistdam
hanya coffer dam, resiko banjir kecil. Pekerjaan yang harus dipertimbangkan adalah:
saluran pengelak, tanggul penutup, kopur, bendungan, tempat kerja (building pit).

Tubuh Bendung dan Bangunan Pengelak


Pemilihan lokasi: (a) Pilih bagian sungai lurus, tidak ada gerusan; (b) Pilih lembah
yang sempit (biaya murah); (c) Fondasi bendung kokoh; (d) Keperluan elevasi muka
air; (e) Pelaksanaan mudah; (f) Ketersediaan bahan bangunan.

Keperluan elevasi muka air tergantung luas sawah yang diairi. Semakin naik ke hulu
sawah terairi lebih luas, turun ke hilir luas areal sawah terairi berkurang.

Teknik Irigasi dan Drainase (TEP 321)


Topik 6. Sistem Jaringan Irigasi dan Drainase, d. Kusnadi kalsim, erizal 17

Gambar 7. Alternatif pekerjaan pembuatan bendung

Tipe Bangunan
Digolongkan dua bagian besar: (a) Bangunan yang mempengaruhi air di hulu, misalnya
bendung, embung, bendungan, cek dam; (b) Bangunan yang tidak mempengaruhi air di
hulu, misalnya: bendung gerak, pengambilan bebas, pompa, bendung gerak.

Dari jenis bahan bangunan dibedakan: (a) Beton bersifat: mantap, mahal, dari sisi cara
pengerjaan mutu terjamin, lebih homogen, awet, tahan erosi air; (b) Pasangan batu
bersifat: mantap, relatif murah, mutu tergantung masing-masing tukang, kurang
homogen, awet, mudah retak akibat setlemen. Dari segi fungsi pengatur muka air,
dibedakan menjadi: (a) Pengatur muka air, misalnya: bendung, bendung gerak, bendung
karet; (b) Bangunan muka air bebas, misalnya: pengambilan bebas, pompa, bangunan
saringan bawah.

Bendung gerak dapat dipertimbangkan jika: (a) Kemiringan sungai kecil/relatif datar,
(b) Daerah genangan luas dan harus dihindari, (c) Debit banjir besar, kurang aman
dilewatkan pada bendung tetap, (d) Fondasi untuk pilar harus betul-betul kuat, kalau
tidak pintu terancam macet.

Pengambilan bebas dengan syarat: (a) Debit pengambilan kecil dibandingkan debit
sungai, (b) Pada aliran normal, tersedia ketinggian air di sungai untuk mengairi sawah,
(c) Tebing sungai pada pengambilan bebas stabil, (d) Pintu pengambilan terletak pada
tikungan luar, (e) Butir sedimen kecil dan konsentrasi sedimen melayang relatif sedikit.

Bendung saringan bawah (Gambar 8) dapat dipertimbangkan jika: (a) Kemiringan


sungai relatif besar, biasanya di pegunungan, (b) Butir sedimen sedang kecil dan
konsentrasi sedimen sangat tinggi, (c) Mengandung bongkahan batu, (d) Debit
pengambilan jauh lebih kecil dari debit sungai. Untuk keperluan pengurasan diperlukan:
(a) debit air dan kemiringan yang memadai, (b) Sedimen halus akan masuk ke saluran,
yang kasar akan loncat dan melewati bangunan, (c) Sebagian krakal dan krikil ada yang
terjepit pada jeruji, (d) Konsentrasi sedimen yang tinggi akan menyebabkan
penumpukan material di hilir bendung dan mengganggu fungsi bendung.

Teknik Irigasi dan Drainase (TEP 321)


Topik 6. Sistem Jaringan Irigasi dan Drainase, d. Kusnadi kalsim, erizal 18

Gambar 8. Bendung saringan bawah


Pompa
Karakteristik penggunaan pompa pada irigasi umumnya: (a) Biaya Operasi dan
Pemeliharaan mahal (biaya bahan bakar), (b) hanya dipakai kalau betul-betul secara
grafitasi tidak bisa, (c) Debit air irigasi relatif kecil dibanding debit sungai, (d) Fleksibel
membelokkan air, (e) Biaya investasi murah, (f) Perlu studi kelayakan yang cermat.

Perencanaan Hidrolik

Bendung
Lebar bendung: sama dengan lebar rata-rata sungai pada bankfull discharge. Biasanya B
= 120% Bs ( lebar sungai pada banjir tahunan ).

Be = B-2 (n Kp + Ka ) H1

Be: lebar efektif, B: lebar mercu, n : jumlah pilar, Kp: koefisien konstraksi pilar, Ka:
koefisisen konstrasi pangkal bendung, H1: tinggi energi.

Mercu bendung
Di Indonesia umumnya mercu bendung berbentuk bulat dan Ogee. Kedua bentuk ini
cocok untuk beton atau pasangan batu kali. Kemiringan bagian hilir 1:1. Bentuk bulat
memberikan harga koefisien jauh lebih tinggi (44%) dibandingkan dengan ambang
lebar. Mercu berbentuk Ogee adalah berbentuk lengkung memakai persamaan
matematis, sedikit rumit dilaksanakan, tetapi memberikan sifat hidraulis yang baik,
bentuk gemuk dan kekar, menambah stabilitas.

Teknik Irigasi dan Drainase (TEP 321)


Topik 6. Sistem Jaringan Irigasi dan Drainase, d. Kusnadi kalsim, erizal 19

Gambar 9. Mercu bulat dan Ogee

Gambar 10. Pangkal bendung

Teknik Irigasi dan Drainase (TEP 321)


Topik 6. Sistem Jaringan Irigasi dan Drainase, d. Kusnadi kalsim, erizal 20

Gambar 11. Peredam energi

Gambar 12. Kolam locat air dan rumus

v1 = 2g(1/2H1 + z)

Teknik Irigasi dan Drainase (TEP 321)


Topik 6. Sistem Jaringan Irigasi dan Drainase, d. Kusnadi kalsim, erizal 21

y2 2
= 1 / 2 ( 1+8 Fr − 1) =
yu

Lj = 5(n + y2)

v1
Fr =
gyu

Gambar 13. Kolam loncat air tipe USBR

Teknik Irigasi dan Drainase (TEP 321)


Topik 6. Sistem Jaringan Irigasi dan Drainase, d. Kusnadi kalsim, erizal 22

Gambar 14. Kolam loncat air tipe radial

Gambar 15. Kolam loncat air tipe Flugter

Teknik Irigasi dan Drainase (TEP 321)


Topik 6. Sistem Jaringan Irigasi dan Drainase, d. Kusnadi kalsim, erizal 23

Gambar 16. Kolam loncat air tipe MDO, MDL, MDS

Bendung Gerak

Tata letak dapat dilihat pada Gambar 2. Pada Bendung Gerak, paling tidak harus ada
dua buah pintu, untuk mengantisipasi kalau ada kemacetan pintu. Ada dua kriteria yang
bertentangan yakni (a) Bangunan tinggi mahal, sehingga diusahakan bangunan melebar,
(b) Untuk menguras sedimen perlu kecepatan besar, sehingga bangunan sempit.

Komprominya bagaimana?
Pintu :
(a) Pintu sorong, tinggi maksimum 3 m, lebar maksimum 3 m. Kalau lebih besar
terlalu berat, dianjurkan pakai pintu rol atau Stoney.
(b) Pintu sorong/rol rangkap. Tidak saling berhubungan, dapat digerakkan sendiri,
alat angkat ringan. Air lewat atas, bahan terapung hanyut. Air lewat bawah
sedimen terkuras.
(c) Pintu radial/segmen. Tidak ada gesekan, alat angkat ringan. Air bisa lewat
bawah atau atas dengan membuat katup pada puncak.

Teknik Irigasi dan Drainase (TEP 321)


Topik 6. Sistem Jaringan Irigasi dan Drainase, d. Kusnadi kalsim, erizal 24

Gambar 17. Pintu bendung gerak

Pengambilan Bebas, Pompa , Bendung Tyroll

Pengambilan Bebas. Posisi harus tepat agar sedimen tidak masuk.Tinggi ambang
secukupnya untuk menahan sedimen. Tebing sungai harus kokoh.

Pompa

Q×h
HP =
76

Efisiensi : Pompa 75%, mesin 90%, Total 65%

Kapasitas pompa dipertimbangkan dengan menentukan berapa jumlahnya untuk


efisiensi dan keamanan kalau terjadi kemacetan.

Bendung Tyroll. Tidak cocok untuk sungai yang sedimennya tinggi, dasar sungai
rawan gerusan, fondasi harus dalam. Saringan dibuat sederhana, tahan benturan, mudah
dibersihkan. Kantong lumpur: kapasitas memadai untuk sedimen yang masuk, mampu
membilas, perlu kemiringan tinggi. Pada saluran primer dibuat pelimpah.

Bangunan Pengambilan dan Pembilas


Tata Letak
(a) Pengambilan: untuk mengelakkan air agar masuk ke saluran irigasi. Diletakkan
dekat bendung dan pada tikungan luar
(b) Pembilas: mengurangi benda terapung dan sedimen kasar masuk ke saluran

Teknik Irigasi dan Drainase (TEP 321)


Topik 6. Sistem Jaringan Irigasi dan Drainase, d. Kusnadi kalsim, erizal 25

(c) Pengambilan air pada dua sisi, sebaiknya salah satu sisi lewat sipon pada tubuh
bendung.

Bangunan Pengambilan
Kapasitas dibuat 120% kebutuhan air sekarang, untuk fleksibilitas dan antisipasi
penambahan kebutuhan. Tinggi ambang tergantung sedimen yang ada. Tinggi ambang
untuk sedimen lanau, pasir kerikil, dan batu bongkah masing-masing 0,5 m, 1,0 m, dan
1,5 m. Pintu bukaan lebih satu pilar mundur, aliran mulus. Lengkapi sponning untuk
perbaikan. Puncak bukaan di bawah muka air hulu, agar benda terapung tidak masuk.
Kalau sebaliknya harus dilengkapi saringan berupa kisi.

Gambar 18. Tipe pintu pengambilan

Gambar 19. Bangunan pembilas

Teknik Irigasi dan Drainase (TEP 321)


Topik 6. Sistem Jaringan Irigasi dan Drainase, d. Kusnadi kalsim, erizal 26

Pembilas Bawah
Dimaksudkan untuk mencegah sedimen layang masuk ke pengambilan. Plat horisontal
di hulu pintu pembilas membagi 2 aliran. Aliran atas untuk air masuk ke saluran, yang
bawah untuk mengendapkan sedimen dan secara berkala dibilas (60 menit/hari). Benda
terapung mengganggu, diperlukan dua pintu. Buka bawah untuk bilas sedimen, dan
buka atas untuk menghanyutkan benda terapung. Tinggi pembilas bawah harus
memenuhi 3 kriteria: (a) Lebih besar 1,5 x diameter batu di sungai, (b) Lebih besar dari
1 m (untuk keperluan OP), (c) Sekitar 1/3 – ¼ x kedalaman air normal depan
pengambilan.

Gambar 20. Pembilas bawah


Pintu Air
Faktor penting yang perlu dipertimbangkan adalah beban yang bekerja, alat pengangkat
(mesin atau manusia), sekat kedap air, dan bahan bangunan. Beban adalah tekanan air
horizontal bekerja pada plat pintu dan diteruskan ke sponning. Alat pengangkat berupa
pintu kecil dan ringan pakai setang dengan cara manual. Pemakaian mesin tergantung
tersedianya tenaga listrik, biaya OP, mudah/tidaknya OP. Supaya kedap air pintu sorong
dipakai pelat perunggu. Pintu sorong dan radial biasanya memakai karet (Gambar 21).

Teknik Irigasi dan Drainase (TEP 321)


Topik 6. Sistem Jaringan Irigasi dan Drainase, d. Kusnadi kalsim, erizal 27

Bahan bangunan adalah gabungan kayu dan kerangka baja, atau pelat dan kerangka
baja. Pintu pengambilan biasanya dari kayu, kalau kayu mahal bisa diganti baja. Kalau
pintu terlalu tinggi, maka OP nya sulit. Sebaiknya digunakan pintu radial (Gambar 22)

Gambar 21. Sekat air (seal) untuk bagian samping (A), dasar (B) dan atas (C) pada pintu baja

Gambar 22. Pintu pengambilan terbuat dari pintu sorong kayu atau baja

Perencanaan Bangunan

Jenis bahan untuk lindungan permukaan tergantung pada jenis dan ukuran sedimen.
Bahan bangunan harus tahan terhadap gerusan. Berbagai bahan pelindung permukaan
dan karakteristknya adalah (a) batu candi yakni batu alami keras yang dibentuk persegi
secara manual, sangat tahan terhadab abrasi; jenis batu: andesit, basal, gabro, granit,
cocok untuk sungai yang berdaya gerus besar. (b) beton: Kalau batu candi tidak ada
dipakai beton yang tahan gerusan. Beton kekuatan tinggi, agregat kecil, gradasi baik. (c)
Baja: lapisan pelat baja dipakai untuk menahan gerusan. Terutama dipakai pada kolam
olak, blok halang, end sill. Kadang-kadang tubuh bendung diberi lapisan rel.

Teknik Irigasi dan Drainase (TEP 321)


Topik 6. Sistem Jaringan Irigasi dan Drainase, d. Kusnadi kalsim, erizal 28

Gambar 23. Empat jenis pintu bilas

Pasangan batu kosong (rip-rap) dipakai untuk melindungi dasar sungai atau tebing di
hilir bendung. Batu harus keras, padat, awet, BJ ≈ 2,4 t/m 3. Panjang lindungan 4 x R (R:
dalam gerusan). Tebal lapisan 2 ~ 3 x d40 . Nilai d40 tergantung kecepatan air. Lihat
grafik Gambar 24.

Filter dan Bronjong (Gambar 25)


Filter berfungsi untuk mencegah hilangnya bahan dasar halus melalui batu kosong.
Ditempatkan antara tanah dan pasangan batu kosong. Ada tiga macam bahan yakni (a)
kerikil dan pasir dengan sarat gradasi tertentu, (b) sintetis: ikuti spek tek dari pabrik, (c)
ijuk : kurang baik, sebaiknya tidak dipakai.

Bronjong: berbentuk bak dari jala kawat yang diisi batu. Ukuran biasanya 2x1x0,5 m.
Tidak boleh dipakai untuk bagian bangunan permanen. Keuntungannya batu sedang
diikat dalam kawat memberi masa kuat dan konstruksi flexible.

Teknik Irigasi dan Drainase (TEP 321)


Topik 6. Sistem Jaringan Irigasi dan Drainase, d. Kusnadi kalsim, erizal 29

Gambar 24. Grafik penentuan d40

Gambar 25. Filter dan Bronjong

Teknik Irigasi dan Drainase (TEP 321)


Topik 6. Sistem Jaringan Irigasi dan Drainase, d. Kusnadi kalsim, erizal 30

Analisa Stabilitas

Gaya-gaya yang bekerja pada bendung:


(a) Tekanan air: luar dan dalam, hidrostatik dan hidrodinamik.
(b) Tekanan lumpur: menekan horizontal dan membebani vertical
(c) Gaya gempa: tergantung peta gempa di Indonesia. Minimum 0,1g.
(d) Berat bangunan: tubuh bendung
(e) Reaksi fondasi: gaya tekan ke atas terhadap bendung dari reaksi fondasi.

Stabilitas : bendung harus stabil dalam 3 keadaan yakni:


(a) Stabil terhadap amblasnya bendung. Daya dukung fondasi tidak boleh dilampaui
oleh tekanan akibat berat bendung.
(b) Stabil terhadap gelincir. Gaya horizontal tidak boleh melebihi gaya geser yang
melawan pada dasar bendung.
(c) Stabil terhadap guling. Momen yang menggulingkan harus bisa ditahan momen
yang melawannya.

Gambar 26. Analisis stabilitas

Stabilitas Terhadap Erosi Bawah Tanah


Bendung harus dicek stabilitasnya terhadap erosi bawah tanah, naiknya dasar galian
dan patahnya pangkal hilir bangunan.

Metode empiris: Bligh, Lane, Koshla. Metode Lane: disebut metode angka rembesan
Lane. Metode ini membandingkan panjang jalur rembesan di sepanjang kontak
bangunan dengan beda tinggi muka air. Kemiringan lebih 45o dianggap tegak, dan yang
kurang 450 dianggap horisontal. Vertikal dihitung penuh dan horisontal dihitung 1/3.
Rumus yang digunakan:

Teknik Irigasi dan Drainase (TEP 321)


Topik 6. Sistem Jaringan Irigasi dan Drainase, d. Kusnadi kalsim, erizal 31

Stabilitas Terhadap Erosi Bawah Tanah Gambar 27

Gambar 27. Gaya angkat fondasi bendung

Operasi dan Pemeliharaan

Operasi
Operasi adalah pengaturan bukaan pintu untuk penyediaan air. Pengaturan air pada
kondisi normal, kondisi banjir, dan kondisi kering. Kondisi normal adalah aliran sungai
normal, sedimen yang dibawa sedang. Penjediaan air dilakukan sesuai rencana
kebutuhan air irigasi dan keperluan lainnya. Air sungai masih bisa mengalir ke hilir
untuk keperluan lain dan keperluan lingkungan. Pada saat ini pintu pengambilan dibuka
penuh, pintu bilas atas dan bawah ditutup, agar air depan pengambilan tenang sedimen
mengendap. Pintu bilas bawah dibuka 1 jam setiap hari untuk menguras endapan
lumpur. Kalau terdapat benda terapung depan pintu bilas, pintu bilas atas diturunkan
untuk menghanyutkan benda terapung. Dalam keadaan ini biasanya kolam lumpur
sudah penuh pada 5 - 10 hari (tergantung perencanaan). Untuk ini dilakukan pengurasan
lumpur secara hidraulis, dengan prosedur sebagai berikut :

Pintu bilas atas dan bawah ditutup, pintu pengambilan dibuka, pintu ke saluran irigasi
ditutup, pintu penguras dibuka. Lama pengurasan tergantung jumlah sedimen, besaran
fraksi sedimen, besar debit dan kemiringan kantong lumpur yang sudah dihitung dalam
rencana dan model test (biasanya 3-5 jam). Setelah selesai, air irigasi dialirkan kembali.

Teknik Irigasi dan Drainase (TEP 321)


Topik 6. Sistem Jaringan Irigasi dan Drainase, d. Kusnadi kalsim, erizal 32

Operasi adalah pengaturan bukaan pintu untuk penyediaan air. Pengaturan air pada
kondisi normal, kondisi banjir, kondisi kering. Kondisi banjir: aliran sungai besar,
sedimen yang dibawa banyak. Penjediaan air untuk irigasi dan keperluan lainnya
dihentikan sementara, karena di sawah sudah kelebihan air, dan cenderung membuang.
Pada saat ini pintu pengambilan ditutup penuh, pintu bilas atas dan bawah ditutup , agar
sedimen tidak masuk ke saluran irigasi dan sedimen dilewatkan atas bendung. Pada saat
air surut dimana kedalaman air diatas mercu antara 0.5 s/d 1 m pintu pembilas dibuka
untuk menguras lumpur. Setelah lumpur bersih dan air di atas bendung antara 0 – 0.5 m,
pintu pengambilan dibuka dan pintu bilas ditutup. Air irigasi normal kembali. Pada
beberapa bendung dimana debit banjir besar, saluran pembilas dipakai untuk
melewatkan air. Untuk itu pintu bilas dibuka saat banjir. Kalau sungai membawa
batang-batang pohon, kemungkinan bisa menyangkut pada saluran pembilas yang
sempit.

Pengaturan air : kondisi normal, kondisi banjir, kondisi kering. Kondisi kering: aliran
sungai kecil, sedimen yang dibawa sedikit. Penjediaan air untuk irigasi dan keperluan
lainnya dipenuhi tetapi cenderung kurang. Air sungai jangan disadap 100%, karena di
hilir bendung biasanya ada penyadapan untuk keperluan lain dan atau untuk menjaga
lingkungan. Pada saat ini pintu pengambilan dibuka penuh, pintu bilas atas atau bawah
dibuka sebagian, agar air tetap mengalir sebagian ke hilir bendung. Karena air sungai
cenderung bersih maka kandungan sedimen sedikit, maka frekuensi pengurasan lumpur
dapat lebih lama dibanding saat air normal. Cara pengurasan seperti saat air normal,
Cuma karena air sungai dan selisih tinggi minim, air sungai ditampung dulu beberapa
jam didepan bendung dengan menutup pintu pengambilan dan pembilas. Pada saat
elevasi air naik sampai mercu bendung, pembilasan dimulai. Pada saat ini pengecekan
terhadap saluran pembilas bawah dilakukan untuk mengetahui apakah ada sumbatan
batu. Kalau ada inilah saatnya untuk mengatasinya, karena air sungai kecil.

Pemeliharaan
Pemeliharaan adalah kegiatan untuk menjaga agar bangunan berfungsi seperti sedia
kala. Jenis pemeliharaan: Rutin, berkala, darurat, permanen. Pemeliharaan Rutin adalah
kegiatan secara rutin dilakukan, misalnya babat rumput sekitar bendung, menutup
retakan tembok, perbaikan kecil batu kosong, pengambilan benda terapung depan pintu
bilas, pengurasan sedimen pada saluran bawah 1 jam/hari

Pemeliharaan Berkala adalah kegiatan dilakukan secara berkala, misalnya pengecatan


pintu, pemberian stenfet (greesing), pembersihan sedimen pada kantong Lumpur,
pengecatan bangunan pelindung, pembersihan sedimen dan batu menyumbat pada
saluran pembilas, perbaikan bronjong dan pasangan batu kosong, perbaikan pintu
macet.
.
Pemeliharaan Darurat adalah perbaikan darurat agar bendung dapat segera berfungsi.
Hal ini terjadi karena bencana alam atau kelalaian manusia. Perbaikan ini dilakukan
dengan harapan nanti ada dana untuk penyempurnaan berupa perbaikan permanen.

Pemeliharaan Permanen adalah kegiatan perbaikan sebagai peningkatan perbaikan


darurat maupun perbaikan akibat bencana dan kelalaian manusia, sehingga
perbaikannya menjadi permanen, misalnya tanggul penutup longsor, sayap bendung
patah, stang pintu bengkok, gerusan dalam di bawah bendung, kerusakan pada kolam
olak, pelindung talud runtuh, penurunan tubuh bendung.

Teknik Irigasi dan Drainase (TEP 321)


Topik 6. Sistem Jaringan Irigasi dan Drainase, d. Kusnadi kalsim, erizal 33

Foto 5. Bangunan bagi Primer Foto 6. Saluran sekunder

Foto 7. Bangunan Bagi di Sekunder Foto 8. Bangunan Sadap Tersier

Penutup

Pertanyaan:

(1) Apa bedanya bendung dengan bendungan


(2) Buat gambar pandangan atas dan irisan dari suatu bendung dengan bangunan
pelengkapnya
(3) Buat gambar pandangan atas dan irisan dari bangunan pelengkap bendung
yakni: bangunan sadap, pelimpah (spill way), kolam lumpur (sediment trap),
pintu penguras, kolam olakan (stilling basin)
(4) Sebutkan fungsi dari masing-masing bangunan pelengkap
(5) Gambar suatu contoh pada sistem jaringan utama. Bangunan apa saja yang ada
dalam suatu sistem jaringan utama
(6) Gambar suatu contoh pada sistem jaringan utama. Bangunan apa saja yang ada
dalam suatu sistem jaringan tersier
(7) Turunkan persamaan loncatan hidrolik (hydraulic jump) dalam rancangan kolam
olak (stilling basin) pada bangunan terjun?
(8) Apa bedanya talang dengan syphon?
(9) Dari hasil survey perencanaan pembangunan embung didapat: debit puncak
dengan periode ulang 50 tahun, Q50 sebesar 2.75 m3/det; elevasi muka air
normal rencana 550 m dpl ; volume simpan embung adalah 165 m3. Desainlah
dimensi saluran pelimpah apabila diperlukan beserta elevasinya. Apabila tinggi

Teknik Irigasi dan Drainase (TEP 321)


Topik 6. Sistem Jaringan Irigasi dan Drainase, d. Kusnadi kalsim, erizal 34

bendung direncanakan 7.5 m, gambarkan penampang memanjang bendung.


Jelaskan desain Anda.
(10) Didalam perencanaan teknis pembuatan bendungan/embung, hal apa saja yang
harus dipertimbangkan. Jelaskan jawaban Anda !

Daftar Pustaka

1. Departemen Pekerjaan Umum, Republik Indonesia., 1986. KP-02: Kriteria


Perencanaan Bagian Bangunan Utama. Badan Penerbit Pekerjaan Umum,
Jakarta.
2. Ditjen Pengairan, Departemen Pekerjaan Umum, (1986) : KP – 04, Standar
perencanaan irigasi, Kriteria perencanaan bagian bangunan.
3. Stewart,L.U (1961) : Design of Small Dams
4. Sosrodarsono, S. dan Takeda, K. (1976) : Bendungan Tipe Urugan
5. Soedibyo (1993) : Teknik Bendungan.
6. Small dam, USBR.
7. Kraatz, D.B., Mahajan, I.I., (1975). Small Hydraulics Structures. FAO,
Irrigation and Drainage Paper 26/1. Rome.

Teknik Irigasi dan Drainase (TEP 321)