Anda di halaman 1dari 17

Topik 7. Kualitas Air Irigasi-d.

Kusnadi kalsim 1

Topik 7. Kualitas Air Irigasi

Februari, 2004

Pendahuluan

Tujuan instruksional khusus: mahasiswa memahami kriteria penilaian kualitas air


untuk irigasi dan kepekaan tanaman terhadap beberapa parameter kualitas air

Bahan Ajar

Bahan Ajar terdiri dari: (1) Kualitas Air irigasi untuk Pertanian, (2) Kualitas Air
untuk Keperluan Umum. Dalam File Tambahan Topik 7. Kualitas Air anda dapat
menambah wawasan dengan membaca beberapa hasil studi tentang (a) Water Quality
Brantas System Jawa Timur, (b) Water Quality Monitoring System Seputih-
Sekampung, Lampung.
1
1. KUALITAS AIR IRIGASI UNTUK PERTANIAN

Satuan
Satuan tahanan listrik adalah ohm, sedangkan daya hantar listrik (DHL) atau EC
(electrical conductivity) adalah kebalikan dari tahanan dan mempunyai satuan
kebalikan dari ohm yakni mho. Maka satuan DHL adalah mhos/cm dibakukan pada
suhu air 250 C. Salinitas air dinyatakan dengan satuan: 1 mhos/cm pada suhu air 250
C = 1.000 mmhos/cm (millimhos/cm) = 1.000.000 µ mhos/cm (mikromhos/cm).
Siemen/meter (S/m) = 10 mmhos/cm; mS/cm = mmhos/cm; µS/cm = µmhos/cm.

1
Sumber: Ayers, R.S.; D.W. Westcot, 1976. Water Quality for Agriculture, FAO, Rome.

Teknik Irigasi dan Drainase (TEP 321)


Topik 7. Kualitas Air Irigasi-d. Kusnadi kalsim 2

Formula Konversi Satuan:


1 meq/liter ≈ 10 x EC (mmhos/cm); ppm (part per million) ≈ 1 mg/liter ≈ 640 x EC
(mmhos/cm); 1 mg/liter = eq.weight x meq/liter

Parameter yang mempengaruhi kualitas air irigasi untuk tanaman adalah:

(1) Salinitas
Masalah salinitas terjadi jika kuantitas garam pada air irigasi cukup besar
sehingga akumulasi garam di daerah perakaran tanaman akan sedemikian rupa
sehingga tanaman tidak mampu lagi mengisap air (lengas) tanah di daerah
perakaran. Penurunan isapan air oleh akar menyebabkan terganggunya
pertumbuhan tanaman sehingga gejala nya seperti kekurangan air (tanaman layu).
Tanaman mengisap sebagian besar air dari bagian atas zone perakaran, sehingga
kondisi salinitas di bagian ini sangat berpengaruh daripada di bagian bawah zone
perakaran. Mengelola bagian atas perakaran dengan proses pencucian (leaching)
menjadi sangat penting untuk lahan berkadar garam tinggi.

(2) Permeabilitas
Laju infiltrasi tanah akan berkurang akibat dari kandungan garam tertentu atau
kekurangan garam tertentu dalam air irigasi. Faktor yang berpengaruh adalah:
(a) kandungan Na relatif terhadap Ca dan Mg, (b) kandungan bikarbonat dan
karbonat, dan (c) total kandungan garam dalam air.

(3) Toksisitas atau keracunan terhadap Boron (B), Chlorida (Cl) dan Natrium (Na)

(4) Lainnya. Masalah lainnya dalam air irigasi yakni pertumbuhan terlalu cepat,
tergenang, dan perlambatan pematangan akibat dari kandungan Nitrogen
berlebih. Bercak putih pada daun dan buah akibat kandungan berlebih
Bicarbonate dalam irigasi curah dan pH abnormal.

Kualitas air dan masalah drainase sering berkaitan, sehinga pengendalian kedalaman
airtanah menjadi sangat penting. Garam akan berakumuluasi pada bagian atas muka
airtanah yang asin, sehingga jika muka airtanah terlalu dekat dengan perakaran
tanaman maka tanaman akan terpengaruh. Drainase bawah permukaan sangat
diperlukan dalam masalah ini.

Suatu petunjuk (guidelines) dalam evaluasi kualitas air irigasi diajukan dengan
prosedur sebagai berikut:
(a) Tingkat kandungan unsur tertentu dalam air yang diduga mengakibatkan
masalah tertentu untuk tanaman
(b) Mekanisme interkasi tanah-air-tanaman yang menyebabkan pengurangan
produksi
(c) Tingkat bahaya yang akan terjadi pada waktu yang lama
(d) Alternatif pengelolaan untuk mencegah, memperbaiki atau memperlambat
akibat negatif

Teknik Irigasi dan Drainase (TEP 321)


Topik 7. Kualitas Air Irigasi-d. Kusnadi kalsim 3

Tabel 1. Petunjuk untuk interpretasi kualitas air irigasi

Tingkat Masalah
Masalah irigasi Tak ada Masalah
Bermasalah
masalah besar
Salinitas (mempengaruhi ketersedian air
untuk tanaman), ECw 2(mmhos/cm) < 0.75 0.75 ~ 3.0 > 3.0
Permeabilitas (mempengaruhi laju infiltrasi
tanah)
Adj. SAR untuk tipe liat:
Montmorillonite (2:1 crystal lattice) <6 6~9 >9
Illite-Vermiculite (2:1 crystal lattice) <8 8 ~ 16 > 16
Kaolinite-sesquioxides (1:1 crystal lattice) < 16 16 ~ 24 > 24
Toksik ion khusus (mempengaruhi tanaman
yang peka)
Sodium (adj. SAR) <3 3~9 >9
Chlorida (meq/l) <4 4 ~ 10 > 10
Boron (meq/l) < 0.75 0.75 ~ 2.0 > 2.0
Pengaruh lainnya:
NO3-N atau NH4-N (mg/l) <5 5 ~ 30 > 30
HCO3 (meq/l) untuk irigasi curah < 1.5 1.5 ~ 8.5 > 8.5
pH Normal antara 6.5 ~ 8.4

Perhitungan adj. SAR 3


Na
SAR (Sodium Adsorption Ratio) = ; Na, Ca, dan Mg adalah konsentrasi
Ca + Mg
2
dinyatakan dalam meq/liter.

adj. SAR =
Na
[1 + (8.4 − pHc]
Ca + Mg
2

pHc = ( pK 2′ − pK c′ ) + p(Ca + Mg ) + p( Alk )

pK’2 - pK’c didapat dari Jumlah (Ca+Mg+Na) dengan menggunakan Tabel 3.


p(Ca+Mg) didapat dari Jumlah (Ca+Mg) dengan menggunakan Tabel 3. p(Alk)
didapat dari Jumlah (CO3+HCO3) dengan menggunakan Tabel 3.

2
ECw: salinitas air
3
Adjusted SAR: Sodium Adsorption Ratio yang disesuaikan

Teknik Irigasi dan Drainase (TEP 321)


Topik 7. Kualitas Air Irigasi-d. Kusnadi kalsim 4

Tabel 2. Analisis laboratorium yang diperlukan untuk evaluasi kualitas air

No Parameter Simbol Satuan Berat ekivalen


1 Hantaran listrik ECw mmhos/cm
2 Kalsium Ca meq/l 20
3 Magesium Mg meq/l 12.2
4 Natrium Na meq/l 23
5 Karbonat CO3 meq/l 30
6 Bikarbonat HCO3 meq/l 61
7 Khlorida Cl meq/l 35.4
8 Sufat SO4 meq/l 48
9 Boron B mg/l
10 Nirat-Nitrogen 1) NO3-N mg/l 14
11 Acidity-Alkalinity2) pH pH
12 Ajusted Sodium Adsorption Ratio3) Adj. SAR
13 Kalium (potassium)4) K meq/l 39.1
4)
14 Lithium Li mg/l 7
15 Besi4) Fe mg/l
16 Ammonium-Nitrogen4) NH4-N mg/l 14
4)
17 Posfat Phosphorous PO4-P mg/l 31
1)
NO3-N berarti Nitrogen dalam bentuk Nitrat (NO3), NH4-N berati Nitrogen dalam bentuk
Amonium (NH4)
2)
Acidity (pH 1~7), Alkalinity (pH 7~14), Netral (pH 7)
3)
Prosedur perhitungn diberikan di bawah
4)
Diperlukan hanya pada kondisi khusus

Beberapa contoh hasil analisis air dan penilaian kualitasnya tercantum pada Tabel 4.
Pada contoh analisis air (Tabel 4), contoh air dari Sungai Tigris ditinjau dari nilai
ECw dan adj.SAR termasuk tidak ada masalah. Contoh air di Pakistan dan New
Mexico memperlihatkan ECw lebih besar dari 3.0, dan adj. SAR yang besar,
kemungkinan akan menimbulkan masalah besar karena salinitas. Diperlukan
pemilihan jenis tanaman yang toleran terhadap salinitas (Tabel 5).

Masalah Salinitas

Kebanyakan garam dari air irigasi akan tinggal di daerah perakaran tanaman dan
terakumulasi. Untuk mencegah akumulasi garam melewati batas tertentu, diperlukan
sejumlah air untuk berperkolasi dan melarutkan garam tersebut (leaching). Jumlah
untuk pencucian (leaching) merupakan leaching fraction (LF) didefinisikan sebagai
bagian dari air irigasi yang berperkolasi di daerah perakaran tanaman.

Petunjuk pada Tabel 1, menggunakan asumsi rerata salinitas dalam tanah (ECe)
adalah tiga kali dari salinitas air irigasi (ECw), dan LF sekitar 15%. Jika pengelolaan
air aktual menggunakan LF yang lebih besar dari 15%, maka akumulasi garam akan
lebih kecil, sehingga salinitas air irigasi yang sedikit lebih besar masih dapat
digunakan. Jika LF kurang dari 15%, maka penurunan produksi akan terjadi pada
ECw yang lebih kecil daripada Tabel 1.

Teknik Irigasi dan Drainase (TEP 321)


Topik 7. Kualitas Air Irigasi-d. Kusnadi kalsim 5

Perbandingan tersebut digambarkan pada Gambar 1, dimana rerata salinitas tanah


(ECe) yang akan terjadi akibat dari salinitas air irigasi (ECw) pada berbagai tingkat
LF. Pada Petunjuk Tabel 1 digunakan asumsi 3 ECw = ECsw, 1.5 ECw = ECe, dan 2
ECe = ECsw. ECw: hantaran listrik air, ECe: hantaran listrik ekstrak tanah, ECsw:
hantaran listrik lengas tanah dalam satuan mmhos/cm.

Pengaruh salinitas tanah pada hasil tanaman

Keperluan dasar untuk pertumbuhan optimum adalah evapotranspirasi tanaman (ET)


yang terdiri dari dua komponen evaporasi (E) dan transpirasi (T). Lengas tanah
tersedia untuk tanaman dinyatakan dengan potensial lengas tanah yang mengukur
besarnya gaya dimana air ditahan oleh partikel tanah. Salinitas mempengaruhi
ketersediaan air menjadi lebih kecil, karena adanya dampak tekanan osmotik. Secara
umum besarnya tekanan osmotik dapat dihitung dengan persamaan:

OP = - 0.36 x EC

OP: potensial osmotik (bar), EC: hantaran listrik larutan (mmmhos/cm), -0.36 adalah
faktor konversi tanda negatif menunjukkan bahwa gaya bekerja pada arah potensial
yang berkurang.

Jika dua jenis tanah dengan lengas tanah yang sama, tetapi berada pada tanah yang
bebas garam (A) dan yang kandungan garamnya tinggi (B). Maka tanaman yang
sama akan mampu mengekstrak air lebih banyak pada tanah A daripada tanah B.

Pengaruh salinitas terhadap ketersediaan air digambarkan seperti pada Gambar 2.


Pada suatu jenis tanah pada ECsw = 3 mmhos/cm mempunyai Total Air Tanah
Tersedia (TAT) = 16,5 cm air per meter kedalaman tanah. Jika ECsw = 15
mmhos/cm maka TAT akan berkurang menjadi sekitar 12 cm/m. Pada ECsw =
mmhos/cm maka TAT berkurang lagi menjasd sekitar 6 cm/m. Pada contoh ini jika
tanaman dengan ET = 6 mm/hari, kedalaman akar 1 meter. Maka pada ECsw = 3
mmhos/cm tersedia pasok lengas tanah selama 27,5 hari (165/6), pada ECsw = 15
mmhos/cm tersedia 20 hari, pada ECsw = 30 mmhos/cm tersedia 10 hari. Ilustrasi ini
sesuai dengan pengalaman lapangan dimana interval irigasi lebih sering pada air
irigasi bersalinitas tinggi.

Dengan menggunakan rumus adj. SAR, anda dapat mencek kembali hasil
perhitungan adj. SAR pada Tabel 4.

Teknik Irigasi dan Drainase (TEP 321)


Topik 7. Kualitas Air Irigasi-d. Kusnadi kalsim 6

Tabel 3. Tabel untuk menghitung pHc 4

Jumlah konsentrasi
pK’2-pK’c p(Ca+Mg) p(Alk)
(meq/l)
0.05 2.0 4.6 4.3
0.10 2.0 4.3 4.0
0.15 2.0 4.1 3.8
0.20 2.0 4.0 3.7
0.25 2.0 3.9 3.6
0.30 2.0 3.8 3.5
0.40 2.0 3.7 3.4
0.50 2.1 3.6 3.3
0.75 2.1 3.4 3.1
1.00 2.1 3.3 3.0
1.25 2.1 3.2 2.9
1.50 2.1 3.1 2.8
2.0 2.2 3.0 2.7
2.5 2.2 2.9 2.6
3.0 2.2 2.8 2.5
4.0 2.2 2.7 2.4
5.0 2.2 2.6 2.3
6.0 2.2 2.5 2.2
8.0 2.3 2.4 2.1
10.0 2.3 2.3 2.0
12.5 2.3 2.2 1.9
15.0 2.3 2.1 1.8
20.0 2.4 2.0 1.7
30.0 2.4 1.8 1.5
50.0 2.5 1.6 1.3
80.0 2.5 1.4 1.1

Contoh perhitungan pHc dan adj. SAR:

Perhitungan Adj SAR untuk Kualitas Air


Hasil analisis air meq/l Hasil analisis air meq/l
Ca 2.32 CO3 0.42
Mg 1.44 HCO3 3.66
Na 7.73
Jml Ca+Mg+Na 11.49 Jml CO3+HCO3) 4.08

Dari Tabel
Jml Ca+Mg+Na pK2-pKc SAR 5.64
11.49 2.3
adj.SAR 11.28
Jml Ca+Mg p(Ca+Mg)
3.76 2.7

Jml (CO3+HCO3) p(Alk)


4.08 2.4

pHc 7.4

4
pHc adalah teoritis, pH air irigasi dalam kondisi kontak dengan kapur equilibrium dengan CO2 tanah

Teknik Irigasi dan Drainase (TEP 321)


Topik 7. Kualitas Air Irigasi-d. Kusnadi kalsim 7

Gambar 1. Pengaruh salinitas air irigasi pada salinitas tanah


pada berbagai pengelolaan air

Teknik Irigasi dan Drainase (TEP 321)


Topik 7. Kualitas Air Irigasi-d. Kusnadi kalsim 8

Tabel 4. Hasil analisis air irigasi di beberapa lokasi

Miligram per
Miliequivalent per liter
ECw liter
Air Tanggal (mmhos/cm) Jml Jml NO3- NH4-
Lokasi Na Ca Mg Cl SO4 CO3 HCO3 B pH Adj.SAR
Irigasi sampling Kation Anion N N
Sungai 1966-
Bagdad, Irak 0.51 1.4 2.6 2.2 6.2 1.50 1.60 0.30 2.60 6.00 * 1.80 * 7.80 1.90
Tigris 1969
Sumur Proyek Mona, 7 Des
3.60 32.00 2.50 4.00 38.50 25.00 8.90 0.00 4.50 38.40 * * * 7.70 38.16
116 Pakistan 1968
Sungai Carlsbad, New
1946 3.21 11.50 17.30 9.20 38.00 12.00 23.10 0.00 3.20 38.30 * * * 8.21
Pecos Mexico USA

* tidak diukur

Teknik Irigasi dan Drainase (TEP 321)


Topik 7. Kualitas Air Irigasi-d. Kusnadi kalsim 9

Gambar 2. Ketersediaan air tanah teoritis pada berbagai salinitas lengas tanah

Teknik Irigasi dan Drainase (TEP 321)


Topik 7. Kualitas Air Irigasi-d. Kusnadi kalsim 10

Tabel 5. Toleransi tanaman terhadap salinitas 5

Fields Crops
Tanaman Maks
Penurunan Hasil (%) 1)

0 10 25 50
ECe ECw ECe ECw ECe ECw ECe ECw ECe
Kapas (Gossypium hirsutum) 7.7 5.1 9.6 6.4 13 18.4 17 12 28
Gandum (Triticum aestivum) 6.0 4.0 7.4 4.9 9.5 6.4 13 8.7 20
Kedelai (Glycine max) 5.0 3.3 5.5 3.7 6.2 4.2 7.5 5.0 10
Sorghum (Sorghum bicolor) 4.0 2.7 5.1 3.4 7.2 4.8 11 7.2 18
Kacang tanah (Arachis hipogea) 3.2 2.1 3.5 2.4 4.1 2.7 4.9 3.3 6.5
Padi (Oriza sativa) 3.0 2.0 3.8 2.6 5.1 3.4 7.2 4.8 11.5
Sesbania (Sesbania macrocarpa) 2.3 1.5 3.7 2.5 5.9 3.9 9.4 6.3 16.5
Jagung (Zea mays) 1.7 1.1 2.5 1.7 3.8 2.5 5.9 3.9 10
Kacang (Phaseolus vulgaris) 1.0 0.7 1.5 1.0 2.3 1.5 3.6 2.4 6.5
Tanaman buah-buahan
Korma (Phoenix dactylifera) 4.0 2.7 6.8 4.5 10.9 7.3 17.9 12 32
Zaitun (Olea europaea) 2.7 1.8 3.8 2.6 5.5 3.7 8.4 5.6 14
Jeruk (Citrus sinensis) 1.7 1.1 2.3 1.6 3.2 2.2 4.8 3.2 8
Apel (Pyrus malus) dan Pear
1.7 1.0 2.3 1.6 3.3 3.2 4.8 3.2 8
(Pyrus communis)
Anggur (Vitis sp) 1.5 1.0 2.5 1.7 4.1 2.7 6.7 4.5 12
Alpukat (Persea americana) 1.3 0.9 1.8 1.2 2.5 1.7 3.7 2.4 6
Strawberi (Fragaria spp) 1.0 0.7 1.3 0.9 1.8 1.2 2.5 1.7 4
Sayuran
Brokoli (Brassica italica) 2.8 1.9 3.9 2.6 5.5 3.7 8.2 5.5 13.5
Tomat (Lycopersicon esculantum) 2.5 1.7 3.5 2.3 5.0 3.4 7.6 5.0 12.5
Timun (Cucumis sativus) 2.5 1.7 3.3 2.2 4.4 2.9 6.3 4.2 10
Bayem (Spinacia oleracea) 2.0 1.3 3.3 2.2 5.3 3.5 8.6 5.7 15
Kubis (Brassica oleracea
1.8 1.2 2.8 1.9 4.4 2.9 7.0 4.6 12
capitata)
Kentang (Solaum tuberosum) 1.7 1.1 2.5 1.7 3.8 2.5 5.9 3.9 10
Ubi jalar (Ipomea batatas) 1.5 1.0 2.4 1.6 3.8 2.5 6.0 4.0 10.5
Lada (Capsicum frutescens) 1.5 1.0 2.2 1.5 3.3 2.2 5.1 3.4 8.5
Bawang (Allium cepa) 1.2 0.8 1.8 1.2 2.8 1.8 4.3 2.9 7.5
Wortel (Daucus carota) 1.0 0.7 1.7 1.1 2.8 1.9 4.6 3.1 8
1)
Nilai maksimum ECe tanaman masih tumbuh tapi hasilnya nol.

5
Sumber : Ayers, R.S.; D.W. Westcot, 1976. Water Quality for Agriculture, FAO, Rome. Halaman 26-31

Teknik Irigasi dan Drainase (TEP 321)


Topik 7. Kualitas Air Irigasi-d. Kusnadi kalsim 11

2. Kualitas Air untuk Perikanan 6

Tulisan ini diambil dari Hasil Penelitian: Model Mitigasi Lingkungan Pesisir Pantai
Timur Lampung, 2004. Fakultas Perikanan, Institut Pertanian Bogor. Lokasi Penelitian
tercantum pada Gambar 2.1.

Sumberdaya air mempunyai peranan vital dalam kegiatan budidaya, karena air adalah
media hidup dan kehidupan udang dan ikan. Untuk mendukung kegiatan dan
keberhasilan budidaya udang dan ikan, air yang tepat mutu, tepat jumlah, dan tepat
waktu serta tepat cara penggunaan sangatlah diharapkan. Untuk itu ketersediaan sarana
dan prasarana tata air, terutama berupa saluran suplai dan saluran pembuang, perlu
diusahakan. Dari sisi kualitas air, air sumber harus mempunyai sifat-sifat fisik, kimia
dan biologi yang mendukung dalam pelaksanaan kegiatan perikanan.

Pengukuran kualitas air dilakukan secara langsung di lapangan maupun di laboratorium.


Parameter yang diukur secara langsung di lapangan seperti suhu dengan thermometer,
pH dengan pH meter dan oksigen terlarut dengan metode titrasi serta salinitas
menggunakan salinometer. Sedangkan parameter yang lainnya seperti BOD5, Nitrat,
silika, ortho-phosphat, bahan organik total (TOM), padatan tersuspensi (TSS) dan
terlarut (TDS) dianalisa di laboratorium. Kesesuaian kualitas sumber air untuk areal
budidaya perikanan dinilai berdasarkan parameter-parameter yang berpengaruh dalam
kegiatan budidaya perikanan, baik untuk kebutuhan wadah budidaya (kontruksi)
maupun terhadap ikan yang dipelihara. Untuk menentukan tingkat kesesuaian,
parameter kualitas sumber air yang dihasilkan dibandingkan dengan kriteria kualitas
sumber air bagi budidaya perikanan, yang antara lain sebagai berikut :

- Suhu berkisar antara 26 – 32 oC (Boyd, 1988)


- pH berkisar antara 6,5 - 8,5 (Wedemeyer, 1984)
- Nitrat < 1.0 mg/L (Wedemeyer, 1984)
- Oksigen terlarut berkisar antara > 5 mg/l (Boyd, 1988)
- BOD (Biological Oxygen Demand) 0,5 – 7,0 mg/l (Jeffrei dan Mills,
1996)

Sampel air sebanyak kurang lebih 1.5 liter diambil pada beberapa lokasi dan diambil
pada pertengahan kolom air tambak dan saluran pembuang serta di laut. Selanjutnya
penanganan sampel air mengikuti prosedur standard pengangkutan sampel air untuk
analisa fisika-kimianya di laboratorium.

6
Sumber: Model Mitigasi Lingkungan Pesisir Pantai Timur Lampung, 2004. Fakultas Perikanan, Institut
Pertanian Bogor.

Teknik Irigasi dan Drainase (TEP 321)

Way Penet
Topik 7. Kualitas Air Irigasi-d. Kusnadi kalsim 12

Gambar 2.1. Lokasi Kegiatan Mitigasi Lingkungan Pesisir antara Way Penet sampai
Way Sekampung

Tabel 2.1. Hasil Analisa Kualitas Fisika-Kimia Air di Lokasi Studi

A. Air Tambak
No. TSS TDS TOM
Lokasi ppm
1 Tambak Sri Minosari 1 148 27,312 78.24
2 Tambak Sri Minosari 2 56 31,368 29.89
3 Tambak Karya Makmur 104 24,712 76.35
4 Tambak Purworejo 68 41,316 87.09

Teknik Irigasi dan Drainase (TEP 321)


Topik 7. Kualitas Air Irigasi-d. Kusnadi kalsim 13

B. Saluran Pembuang dan Laut


Nitrat Silika Ortho-P Suhu Salinitas DO BOD5
Lokasi pH
mg/L °C ppt mg/L

Saluran Sri Minosari 0.031 20.105 0.163 27.5 8.0 27.5 11.02 10.12
Laut Sri Minosari 0.151 3.319 0.034 32.8 8.0 30 6.94 0.51

Saluran Karya 0.037 3.805 0.089 33.8 8.0 29 8.20 0.65


Makmur
Laut Karya Makmur 0.037 2.957 0.019 35 7.0 28 9.30 1.14

Saluran Purworejo 0.046 3.621 0.109 33.8 8.0 29 9.26 5.38


Laut Purworejo 0.106 3.306 0.034 35 8.0 31 9.89 1.63

Dari hasil analisa kualitas air (Tabel 2.1) terlihat bahwa kandungan oksigen terlarut
berkisar antara 6,94 – 11.02 mg/l dan nilai ini masih berada dalam kisaran optimum
bagi kegiatan budidaya ikan (minimal 5 mg/l). Sedangkan BOD di lokasi studi
semuanya masih dalam kisaran optimum bagi ikan yang sebesar 0,5 – 7,0 mg/l.
Salinitas dan pH air di semua saluran pembuang di lokasi studi umumnya relatif tinggi
mendekati nilai salinitas dan pH air laut, yaitu masing-masing sebesar 27.5 - 29 ppt dan
7.0 – 8.0. Kandungan nitrat, silika dan ortho-phosphat di lokasi studi masing-masing
berkisar antara 0.031 – 0.151 mg/L, 2.957 – 20.105 mg/L dan 0.019 – 0.163 mg/L.
Nilai-nilai kualitas air buang maupun air laut diatas masih dalam kisaran yang layak
untuk budidaya udang dan ikan dan diduga kecil kemungkinan untuk menyebabkan
proses eutrofikasi di perairan tersebut.

Sementara hasil pengukuran kadar TSS, TDS dan TOM yang terkandung dalam air
tambak di lokasi studi menunjukkan bahwa sebagian besar (> 50%) bahan penyusun
TSS adalah partikulat atau bahan organik sedang sisanya diduga merupakan partikulat
non-organik atau partikulat tanah/liat. Nilai TSS, TDS dan TOM masing-masing
berkisar antara 56 – 148 mg/L, 24,712 – 41,316 mg/L dan 29.89 – 87.09 mg/L. Dari
seluruh paramater kualitas air yang di ukur di atas, secara umum semuanya masih dalam
kisaran normal untuk kehidupan udang atau ikan, sehingga dari sisi kualitas air masuk
maupun buangan, belum ada indikasi pencemaran air yang dapat mengganggu produksi
udang di lokasi studi.
7
3. Kualitas Air untuk Keperluan Umum

3.1. Umum

Adanya pertambahan penduduk dan peningkatan kegiatan industri maka beban polusi
pada sumber-sumber air cenderung semakin meningkat, dan pada gilirannya akan
menurunkan kualitas air. Polusi organik dari limbah manusia dan buangan sampah yang
langsung dialirkan masuk ke sistem sungai/saluran akan menimbulkan permasalahan
kualitas air. Selain itu, polusi industri di banyak tempat menunjukkan peningkatan
yang berarti dan bahkan kandungan bahan kimia dengan konsentrasi tinggi seperti
kromium, kadmium, merkuri dan selenium sering menimbulkan keracunan bagi
manusia dan binatang.

7
Disusun oleh Ir Puguh Saktiono, MSc, 2003. Konsultan pada GGWRM

Teknik Irigasi dan Drainase (TEP 321)


Topik 7. Kualitas Air Irigasi-d. Kusnadi kalsim 14

Berkaitan dengan gambaran kondisi kualitas air di sistem sungai maka dapat ditinjau
melalui nilai-nilai parameter yang diukur. Dari banyak parameter, yang sering menjadi
parameter utama untuk menggambarkan tingkat polusi dalam sebuah wilayah sungai
seperti DO, BOD, COD, fecal coliform (terutama air limbah rumah tangga), pH dan
logam berat. Uraian singkat mengenai parameter utama dijelaskan dibawah ini.

3.2. Oksigen Terlarut, Dissolved Oxygen (DO)

Jumlah oksigen terlarut (DO) dalam air sangat penting untuk kehidupan dalam air. Jika
sungai tidak terpolusi atau polusinya sedikit maka kandungan oksigennya akan tinggi
dan ikan atau organisme air lainnya dapat hidup baik. Tingkat konsentrasi maksimum
DO dalam air (disebut tingkat kejenuhan) sangat tergantung pada suhu, misalnya pada
suhu 200 C tingkat kejenuhan akan mendekati 9,2 mg oksigen per liter, namun pada
suhu 300 C tingkat kejenuhan oksigen akan turun mencapai 7,6 mg oksigen per liter.
Polutan biologi yang dapat terurai akan memakai oksigen selama penguraian, jadi hal
ini akan mengurangi tingkat DO dalam air. Apabila tingkat polusi tinggi maka dapat
menyebabkan tingkat oksigen terlarut menjadi nol (non aerobik) sehingga dapat
menimbulkan kematian bagi ikan dan organisme dalam air.

Perbedaan antara tingkat kejenuhan dan DO yang terukur adalah indikasi dari derajat
polusi. Untuk menetapkan tingkat kejenuhan, maka suhu harus diketahui. Jika DO
rendah dibanding tingkat kejenuhan maka oksigen tambahan akan diserap dari udara ke
dalam air. Semakin besar kekurangan maka semakin cepat penyerapan oksigen dari
udara (re-oksigenasi). Selain itu, luas permukaan air sangat berhubungan dengan
volume air dalam meningkatkan pengisian udara. Oleh karena itu, pengisian udara
dalam gerakan air yang berputar (seperti air terjunan, kincir angin dll) akan lebih tinggi
daripada air diam.

3.3. Suhu

Suhu dibutuhkan untuk menentukan tingkat kejenuhan oksigen terlarut dalam air. Untuk
mengukur DO tanpa mengetahui suhu airnya maka kurang berguna, karena kekurangan
oksigen yaitu dari perbedaan tingkat kejenuhan dan DO terukur tidak dapat ditentukan
karena suhu air tidak diketahui. Misalnya tingkat DO 6 mg/l akan mengindikasikan
kekurangan 9,2 – 6 mg/l = 3,2 mg/l jika suhu air adalah 200 C. Hal ini mengindikasikan
bahwa tingkat polusi tergolong tinggi. Apabila suhu sebesar 300 C dan tingkat
kejenuhan 7,6 mg/l, maka kekurangannya menjadi 7,6 – 6 mg/l = 1,6 mg/l. Disini
menunjukan tingkat polusi jauh lebih rendah.

3.4. pH (Tingkat Keasaman)

pH adalah logaritma negatif dari konsentrasi ion-ion hidrogen (ion H+). Dalam air
murni konsentrasi H+ adalah 10-7, jadi pH adalah 7. Misalnya suatu asam ditambahkan
dalam cairan yang pH-nya 7, maka angka H+ pada cairan tersebut akan meningkat,
katakanlah menjadi 10-3 maka cairan tersebut pH-nya menurun menjadi 3. Apabila
larutan alkali (basa) ditambahkan maka pH akan meningkat ke tingkat diatas 7. Air
dikatakan asam apabila nilai pH-nya < 7, netral pH = 7 dan basa pH < 7.

Teknik Irigasi dan Drainase (TEP 321)


Topik 7. Kualitas Air Irigasi-d. Kusnadi kalsim 15

3.5. Kebutuhan Oksigen Biokimia, Biochemical Oxigen Demand (BOD)

Kebutuhan oksigen bio-kimia (BOD) adalah jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk
penguraian (proses oksidasi) polutan dalam air dengan cara bio-kimia. BOD adalah
parameter yang berguna karena nilainya ditentukan melalui proses alami yang terjadi
didalam air. Sebagai contoh limbah manusia yang langsung dari toilet akan membusuk
lebih cepat daripada sepotong kayu, dan untuk penguraian limbah manusia ini akan
lebih banyak membutuhkan oksigen. Sebagai akibatnya adalah oksigen terlarut dalam
air akan menurun (disini tingkat DO rendah). Melalui pengisian udara secara alami akan
mempercepat DO menjadi normal kembali.

Pada pengujian laboratorium BOD, disimulasikan melalui proses penguraian polutan


dari molekul besar menjadi lebih kecil secara alami. BOD ditentukan dengan jumlah
oksigen yang dibutuhkan dalam 5 hari oleh suatu sampel pada suhu standar 200 C. Jika
suhu dinaikkan, maka BOD akan meningkat akibat proses bio-kimia yang lebih cepat.

3.6. Kebutuhan Oksigen Kimia, Chemical Oxigen Demand (COD)

Kebutuhan oksigen kimia (COD) adalah jumlah oksigen (mg O2)yang diperlukan untuk
oksidasi komponen-komponen polutan (organis) dalam air dengan cara kimia, yaitu
dengan menambah bahan kimia peng-oksidasi pada polutan. Bahan kimia (oksidator)
K2Cr2O7 banyak digunakan sebagai sumber oksigen dalam pengujian di laboratorium.
Secara prinsip sebagaian besar zat organis akan dioksidasi oleh K2Cr2O7 dalam keadaan
asam mendidih, dan reaksi berlangsung selama ± 2 jam. Angka COD akan menjadi
ukuran bagi pencemaran air oleh zat-zat organis yang secara alami dapat dioksidasikan
melalui proses mikrobiologis dan mengakibatkan berkurangnya oksigen terlarut dalam
air.

3.7. Nitrit, Nitrat dan Fosfat

Pengukuran nitrit, nitrat dan fosfat penting khususnya untuk air di waduk-waduk dan
danau-danau. Adanya cairan limbah yang mengandung nitrat dan fosfat yang tinggi, air
waduk dan danau yang terpolusi mempunyai potensi lebih besar untuk pertumbuhan
ganggang air secara berlebihan. Sebaliknya, jika kekurangan nitrat dan fosfat maka
pertumbuhan ganggang menjadi terbatas. Selain dari cairan limbah, pupuk juga dapat
menjadi sumber lain peningkatan kandungan nitrit, nitrat dan fosfat, yaitu melalui aliran
balik dari daerah irigasi yang masuk ke sungai.

3.8. Koliform

Pengukuran koliform terutama ditujukan jika ada indikasi bahwa air sungai terpolusi
oleh air limbah rumah tangga. Semakin banyak koliform yang terukur, maka semakin
banyak limbah rumah tangga yang masuk ke dalam sungai. Sebaliknya, jika konsentrasi
koliform rendah (dan BOD relatif tinggi), berarti polusi disebabkan oleh limbah
industri.

3.9. Daya Hantar Listrik, Electrical Conductivity (EC)

Sebagai sebuah parameter untuk polusi pengukuran Daya Hantar Listrik tidak begitu
relevan terutama pada bagian hulu sungai. Namun pengukuran menjadi penting pada

Teknik Irigasi dan Drainase (TEP 321)


Topik 7. Kualitas Air Irigasi-d. Kusnadi kalsim 16

bagian muara di mana air laut dapat masuk ke sungai sehingga mengakibatkan kadar
garam menjadi meningkat (nilai EC tinggi). Jika kadar garam tinggi maka air sungai
tidak layak sebagai air baku untuk air minum dan irigasi.

3.10. Logam Berat

Logam berat sebagian besar diakibatkan oleh kegiatan-kegiatan industri. Kandungan


logam dalam air dapat mengakibatkan keracunan bagi manusia maupun organisme
lainnya yang hidup di air. Logam beracun misalnya kadmium, kromium, tembaga,
merkuri, nikel, seng dan timah. Umumnya pengukuran logam berat dilakukan di bagian
hilir dari daerah industri.

Penutup

Pertanyaan:

(1) Parameter apa saja yang menentukan kualitas air irigasi dan apa pengaruhnya
terhadap tanaman
(2) Apa yang dimaksud dengan : “electrical conductivity”?
(3) Apa satuan yang digunakan untuk EC dan bagaimana konversinya
(4) Bagaimana kepekaan tanaman terhadap salinitas
(5) Apa yang dimaksud dengan leaching (pencucian)
(6) Bagaimana menghitung kebutuhan air untuk pencucian
(7) Terangkan standard kualitas air untuk irigasi?
(8) Apa satuan yang biasa digunakan?
(9) Apa hubungnnya nilai EC dengan penurunan hasil?
(10) Apa yang dimaksud dengan SAR ?
(11) Sebutkan Parameter kualitas air:
(12) Bagaimana hubungan antara DO dan BOD dalam air?
(13) Hal penting apa saja yang perlu diperhatikan dalam parameter kualitas air irigasi
(termasuk irigasi sprinkler dan drip)?
(14) Apa yang dimaksud dengan salinitas (EC: mmhos/cm) pada kualitas air irigasi
dan sejauh mana pengaruhnya pada tanaman?
(15) Pencegahan apa yang dilakukan pada unsur beracun yang terdapat pada air
irigasi?

Kunci Jawaban

(11) Parameter kualitas air:


a. Parameter fisik: suhu, warna, bau, rasa, turbidity (kekeruhan)
b. Parameter kimia: BOD, COD, DO, pH, padatan terlarut, padatan
tersuspensi, Fe, Cu, Mg, B, Na, Cl, NH, NO2, NO3, N
c. Paramerer biologi: total mikroba, total koliform
(12) DO (dissolved oxygen): kadar oksigen terlarut dalam air. BOD (biological
oxygen demand): kebutuhan oksigen untuk aktivitas mikro-organisma dalam
air. Nilai BOD yang tinggi menandakan adanya aktivitas mikro-organisma
yang tinggi dan banyak membutuhkan oksigen sehingga kadar aoksigen
menjadi berkurang DO menurun

Teknik Irigasi dan Drainase (TEP 321)


Topik 7. Kualitas Air Irigasi-d. Kusnadi kalsim 17

(13) pH, Sodium Adsorption Ratio (SAR), Electrical conductivity (EC) dan unsur
beracun (Boron, Natrium dan Chlorida), untuk irigasi sprinkler dan drip
perlu dipertimbangkan padatan terlarut
(14) Salinitas merupakan ukuran banyaknya kadar garam yang ada dalam air. Di
daerah perakaran lengas tanah dengan kadar garam tinggi menyebabkan
tekanan osmotik yang lebih besar sehingga air tidak dapat diserap oleh akar
tanaman. EC antara 1 – 4 mmhos/cm tidak mengakibatkan penurunan
produksi. EC antara 6 – 25 mmhos/cm mengakibatkan tanaman tidak
berproduksi.
(15) (a) irigasi lebih sering, (b) penambahan air untuk pencucian (leaching), (b)
penambahan zat penetral, (d) pencampuran dengan air lain yang lebih baik

Daftar Pustaka

1. Anonimous, 2004. Model Mitigasi Lingkungan Pesisir Pantai Timur Lampung,


2004. Fakultas Perikanan, Institut Pertanian Bogor.
2. Ayers, R.S.; D.W. Westcot. 1976. Water Quality for Agriculture. FAO. Irrigation
and Drainage Paper No 29, Rome.
3. Puguh Saktiono, 2003. Kualitas Air di WS Seputih-Sekampung, Provinsi Lampung.
Konsultan pada GGWRM

Teknik Irigasi dan Drainase (TEP 321)