Anda di halaman 1dari 9

UJI RESISTENSI

I. PENDAHULUAN
Uji resistensi merupakan pengujian yang dilakukan untuk mengetahui kepekaan
bakteri terhadap suatu antibiotik. Penggunaan antibiotik yang berlebih atau tidak
terkendali menyebabkan efek samping yang berbahaya, yang menyebabkan bakter-
bakteri tertentu resisten (tahan) terhadap antibiotik. Antibiotik umumnya terbuat dari
kapang. Pada praktikum ini bakteri akan ditumbuhkan pada lempeng agar, dan dieramkan
selama 24 jam pada suhu 37ºC. Ketahanan bakteri akan dilihat berdasarkan daerah
hambat yang terbentuk disekitar tablet antibiotik.
Berapa jenis bakteri resisten terhadap antobiotika tertentu. Sifat resistensi ini dapat
diamati pada praktikum ini. Uji resistensi untuk menguji daya tahan suatu bakteri
terhadap antibiotika tertentu. Antibiotika merupakan obat yang representatif untuk
menjaga kesterilan dengan membunuh bakteri atau jamur yang patogen.

II. MAKSUD dan TUJUAN


• Mengetahui bakteri-bakteri yang resisten terhadap antibiotika.
• Mengetahui ketahanan bakteri terhadap antibiotika berdasarkan daerah hambat
yang terbentuk disekeliling kertas antibiotik
• Mengetahui hubungan antara resistensi bakteri terhadap jenis antibiotik tertentu.

III. IDENTIFIKASI MASALAH


1. Bagaimanakah resistensi bakteri terhadap masing-masing antibiotika?
2. Mengapa bakteri tersebut menjadi resisten?
3. Mengapa bakteri tersebut tidak resisten?

IV. TINJAUAN PUSTAKA


Zat kemoterapeutik ialah zat kimia yang digunakan untuk mengobati penyakit
menular atau mencegah penyakit. Zat ini diperoleh dari mikroorganisme atau tumbuhan
atau disintesis di dalam laboratorium. Secara umum, zat kimia demikian yang terdapat di
alam dapat dibedakan dari persenyawaan sintetik dengan digunakannya kata antibiotik.
Kata antibiotik diberikan pada produk metabolik yang dihasilkan suatu organisme
tertentu, yang dalam jumlah amat kecil bersifat merusak atau menghambat
mikroorganisme lain. Suatu zat antibiotik kemoterapeutik yang ideal hendaknya memiliki
sifat-sifat sebagai berikut :
1. harus mempunyai kemampuan untuk merusak atau menghambat
mikroorganisme patogen spesifik. Makin besar jumlah dan macam
mikroorganisme yang dipengaruhi makin baik.
2. tidak mengakibatkan berkembangnya bentuk-bentuk resisten terhadap parasit
3. Tidak menimbulkan efek samping yang tidak dikehendaki pada inangm seperti
reaksi alergis, kerusakan pada saraf, iritasi pada ginjal.
4. tidak melenyapkan flora mikrobe normal pada inan.
5. Harus dapat diberikan melalui mulut tanpa diinaktifkan oleh asam lambung,
atau melalui suntikan (parenteral) tanpa terjadi pengikatan dengan protein
darah.
6. memiliki taraf kelarutan yang tinggi dalam zat alir tubuh.
7. konsentrasi antibiotik di dalam jaringan atau darah harus dapat mencapai taraf
cukup tinggi sehingga mampu menghambat atau mematikan penyebab infeksi.
Penggunan antibiotik sebagai obat dari penyakit yang disebabkab mikroorganisme
terutama bakteri sangatlah ampuh. Oleh karena itu antibiotik digunakan secara luas dan
umum. Penggunann antibiotik yang terus menerus menyebabkan berkembangnya
resistensi mikroorganisme terutama bakteri terhadap antibiotik. Resistensi tersebut dapat
disebabkan oleh suatu faktor yang sudah ada pada mikroorganisme itu sebelumnya atau
mungkin juga faktor itu diperoleh kemudian. Sebagai contoh, resistensi terhadap penisilin
pada suatu organisme dapat disebabkan oleh produksi penisilinase, suatu enzim yang
menginaktifkan penisilin. Resistensi yang diperoleh ini pun disebabkan oleh galur-galur
mikroorganisme yang secara genetis telah teradaptasi. Penjelasan lain mengenai
terbentuknya resistensi , setidaknya pada beberapa bakteri gram negatif ialah organisme
resisten mempunyai gen yang berfungsi untuk melindungi bakteri tersebut dari pengaruh
antibiotik. Gen semacam itulah yang menghasilkan penisilinase pada stafilokokus yang
resisten terhadap penisilin. Gen resisten ini dapat dipindahsebarkan melalui konjugasi,
transformasi dari bakteri lain selama berlangsungnya pengobatan dengan antibiotik. Gen
tersebut atau faktor R ada dalam plasmid, merupakan unit-unit DNA berukuran kecil
ekstrakromosonal, dapat memperbanyak diri, dan ekstra-nuklir atau diluar nukleus.
Resistensi antibiotik merupakan masalah gawat, dan kini telah dilakukan banyak usaha
untuk memahami mekanisme yang terlibat dan untuk mencegah terjadinya hal tersebut.
Terbentuknya resistensi dapat dikurangi dengan cara :
1. Mencegah pemakaian antibiotik tanpa pembedaan pada kasus-kasus yang
tidak membutuhkannya
2. Menghentikan penggunaan antibiotik pada infeksi biasa atau sebagai obat
luar
3. Menggunakan antibiotik yang tepat dengan dosis yang tepat agar infeksi
cepat sembuh
4. Menggunakan kombinasi antibiotik yang telah terbukti keefektifannya
5. menggunakan antibiotik yang lain bila ada tanda-tanda bahwa organisme
tersebut menjadi resisten terhadap antibiotik yang digunakan semula.
Tiap spesies atau galur mikroorganisme memilikin tingkatan kerentanan yang
berbeda-beda terhadap antibiotik dan kerentanan tersebut dapat berubah selama masa
pengobatan. Oleh karena itu diperlukan suatu uji kerentanan terhadap mikroorganisme
terhadap antibiotik. Kerentanan suatu mikroorganisme terhadap antibiotik dan zat
kemoterapeutik lain dapat ditentukan dengan teknik “pengenceran tabung” (tube dilution)
atau teknik cawan “piringan kertas” (paper disk plate). Teknik pengenceran tabung
menetapkan jumlah terkecil zat kemoterapeutik yang dibutuhkan untuk menghambat
pertumbuhan organisme in vitro, jumlah tersebut disebut KHM (konsentrasi hambatan
minimum).
Metode cawan piringan kertas merupakan teknik yang paling umum dipakai untuk
menetapkan kerentanan mikroorganisme terhadap zat kemoterapeutik. Piringan-piringan
kertas kecil diresapi obat yang berbeda-beda dalam jumlah tertentu dan diletakkan pada
permukaan cawan.
Metode “piringan tunggal” adalah teknik yang mempunyai standarisasi yang
tinggi yang dianjurkan oleh badan makanan dan obat-obatan Amerika (FDA). Am teknik
ini, jumlah zat antimikrobial yang terkandung dalam piringan kertas harus diketahui
begitu pula dengan medium ujinya, keadaan inkubasi dan perincian lainnya juga harus
diketahui.
Antibiotik umumnya dibuat dari kapang, misalnya Penicillium notatum,
penicillium chisogenum, dan lain sebagainya. Antibiotik yang dihasilkan Penicillium sp,
dikenal sebagai penisilin. Ketahanan bakteri terhadap antibiotika dilihat berdasarkan
daerah hambatnya. Daerah hambat tersebut adalah :
1. Daerah hambat dengan diameter lebih dari 30 mm menunjukkan bahwa bakteri
tersebut peka terhadap antibiotika.
2. Daerah hambat dengan diameter antra 20-30 mm menunjukkan bahwa bakteri
tersebut agak resisten terhadap antibiotika.
3. Daerah hambat dengan diameter kurang dari 20 mm menunjukkan bahwa bakteri
tersebut resisten terhadap antibiotika.
Tiap spesies mikroorganisme memiliki tingkatan kerentanan yang berbeda-beda
terhadap antibiotik dan kerentanan tersebut dapat berubah selama masa pengobatan. Oleh
karena itu diperlukan suatu uji kerentanan terhadap mikroorganisme terhadap antibiotik.
Kerentanan suatu mikroorganisme terhadap antibiotik dan zat kemoterapeutik lain dapat
ditentukan dengan teknik “pengenceran tabung” (tube dilution) atau teknik cawan
“piringan kertas” (paper disk plate). Teknik pengenceran tabung menetapkan jumlah
terkecil zat kemoterapeutik yang dibutuhkan untuk menghambat pertumbuhan organisme
in vitro, jumlah tersebut disebut KHM (konsentrasi hambatan minimum).
Penggunann antibiotik sebagai obat dari penyakit yang disebabkab mikroorganisme
terutama bakteri sangatlah ampuh. Penggunann antibiotik yang terus menerus
menyebabkan berkembangnya resistensi mikroorganisme terutama bakteri terhadap
antibiotik. Resistensi tersebut dapat disebabkan oleh suatu faktor yang sudah ada pada
mikroorganisme itu sebelumnya atau mungkin juga faktor itu diperoleh kemudian.
Sebagai contoh, resistensi terhadap penisilin pada suatu organisme dapat disebabkan oleh
produksi penisilinase, suatu enzim yang menginaktifkan penisilin. Resistensi yang
diperoleh ini pun disebabkan oleh galur-galur mikroorganisme yang secara genetis telah
teradaptasi. Pada beberapa bakteri gram negatif yaitu organisme resisten mempunyai gen
yang berfungsi untuk melindungi bakteri tersebut dari pengaruh antibiotik. Gen semacam
itulah yang menghasilkan penisilinase pada stafilokokus yang resisten terhadap penisilin.
Gen resisten ini dapat dipindahsebarkan melalui konjugasi, transformasi dari bakteri lain
selama berlangsungnya pengobatan dengan antibiotik. Gen tersebut atau faktor R ada
dalam plasmid, merupakan unit-unit DNA berukuran kecil ekstrakromosonal, dapat
memperbanyak diri, dan ekstra-nuklir atau diluar nukleus.
Untuk mengetahui bakteri-bakteri yang telah resisten terhadap antibiotika, maka
uji resistensi ini dilakukan. Bakteri ditumbuhkan pada lempeng Agar Nutrisi (NA) dan
antibiotik yang berbentuk tablet diletakan pada lempeng agar tersebut.

V. ALAT dan BAHAN


1. Alat
 Cawan petri steril
 Pipet volum
 Kertas antibiotika
 Inkubator
 Penggaris
2. Bahan
 Agar nutrisi cair
 Biakkan murni bakteri 24 jam (Bakteri Escherhia coli dan Sthapylococcus
aureus)
 Tablet antibiotik dari dokter : Amoxillin (AMX), Clorom Penikol
 Tablet antibiotik dari laboratorium: Acide Nali Dexique(AND),
Amphicillin(AMP)
 Tablet antibiotik ketumbar

VI. PROSEDUR
Biakan murni bakteri 24 jam, yang berbeda, disuspensikan ke dalam NaCl
fisiologis steril. Kemudian, Masing-masing biakan diambil sebanyak 1 ml dan dimasukan
ke dalam dua cawan petri yang sudah disterilisasi.Lalu, Nutrient agar dicairkan,
didinginkan sampai suhunya sekitar 40ºC. Jika nutrient agar terlalu panas, bakteri dapat
mati.Sesudah itu, masukkan nutrient agar secukupnya, kurang lebih sebanyak 20 ml.
Lalu, Cawan petri diaduk perlahan-lahan, jangan terlalu cepat karena dapat merusak
struktur agar, dengan cara memutar cawan petri hingga nutrient agar dan suspensi bakteri
menjadi homogen. Setelah itu cawan petri didiamkan sebentar sampai benar-benar
membeku. Kemudian, tablet antibiotika diambil dengan menggunakan pinset steril, lalu
diletakkan pada permukaan agar yang telah membeku pada kedua cawan petri. Lima
buah pada masing-masing cawan petri. Dua tablet antibiotik ketumbar, dua tablet
antibiotik dari laborotorium, dan satu tablet antibiotik dari dokter. Jarak antara tablet
antibiotika diatur sedemikian rupa sehingga jaraknya tidak terlalu dekat satu sama lain
dan tidak terlalu dekat juga dengan tepi cawan petri.Semua perlakuan dilakukan di dekat
pembakar bunsen agar aseptis.Kedua lempeng agar tersebut kemudian dieramkan pada
suhu 37ºC selama 24 jam.Setelah 24 jam, amati reaksi kedua jenis bakteri pada masing-
masing petri.

VII. HASIL dan PEMBAHASAN


Terbentuk daerah hambat (zona bening) disekeliling tablet antibiotika
mennujukkan resistensi bakteri terhadap antibiotika.
A.Bakteri Staphylococcus aureus
Diameter daerah hambat antibiotiknya adalah
1. Acide Nali Dexique(AND) : 48 mm
2. Amphicillin(AMP) : 1 mm
3. Amoxillin (AMX) : 14 mm
4. Ketumbar 1 : 17 mm
5. Ketumbar 2 : 18 mm
Diantara ke lima antibiotik ini tidak ada terdapat kerja sama atau hubungan kerja
untuk membunuh bakteri atau menghambat pertumbuhan bakteri. Hubungan antara ke
lima antibiotik ini bersifat antagonis.

B. Bakteri Escherichia coli


Diameter daerah hambat antibiotiknya adalah
1. Acide Nali Dexique(AND) : 21 mm
2. Amphicillin(AMP) : 10 mm
3. Cloram Penikol : 22 mm
4. Ketumbar 1 : 12 mm
5. Ketumbar 2 : 22 mm
Dari ke lima tablet antibiotik ini ada dua tablet yang bekerja sama atau ada
hubunga kerja kerja untuk membunuh bakteri atau menghambat pertumbuhan bakteri
yaitu ketumbar 1 dengan Amoxillin. Hubungan antara kedua antibiotik ini bersifat
sinergis.
Berdasarkan dari data yang di dapatkan pada bakteri Staphylococcus aureus
antibiotik Acide Nali Dexique(AND) memiliki daerah hambat dengan diameter lebih dari
30 mm menunjukkan bahwa bakteri tersebut peka terhadap antibiotika. Pada
Amphicillin(AMP), Amoxillin (AMX), Ketumbar 1, dan Ketumbar 2 memiliki daerah
hambat dengan diameter kurang dari 20 mm menunjukkan bahwa bakteri tersebut
resisten terhadap antibiotika.
Dan berdasarkan dari data yang di dapatkan pada bakteri Escherichia
coli antibiotik Acide Nali Dexique(AND), Cloram Penikol, dan Ketumbar 2 memiliki
daerah hambat dengan diameter antra 20-30 mm menunjukkan bahwa bakteri tersebut
agak resisten terhadap antibiotika. Sedangkan, Amphicillin(AMP) dan Ketumbar 1
memiliki daerah hambat dengan diameter kurang dari 20 mm menunjukkan bahwa
bakteri tersebut resisten terhadap antibiotika.
Bakteri tersebut menjadi resisten karena pertama, suatu faktor yang memang sudah
ada pada mikroorganisme tersebut sebelumnya, kedua, organisme impermaebel terhadap
antibiotic, dan ketiga organisme mempunyai struktur yang menghambat masuknya
antibiotik . Sebagai contoh, resisten terhadap penicillin pada suatu organisme dapat
disebabkan oleh produksi penicillin yaitu suatu enzim yang menginaktifkan penicillin.
Jika bakteri tidak resisten disebabkan oleh karena tidak mempunyai gen yang
berfungsi melindungi bakteri tersebut dari pengaruh bakterisidal suatu obat /antibiotik.

VII. KESIMPULAN
1. Bakteri Escherhia coli dan Sthapylococcus aureus yang diberi tablet antibiotik
dari dokter bersifat agak resisiten terhadap antibiotika. Pada tablet antibiotik dari
laboratorium ada yang bersifat peka, agak, dan resistensi terhadap antibiotik. Dan
pada tablet antibiotik ketumbar bersifat resisten terhadap bakteri.
2. Bakteri menjadi resisten diantaranya karena organisme impermaebel terhadap
antibiotik, dan organisme mempunyai struktur yang menghambat masuknya
antibiotic.
3. Bakteri tidak resisten karena antibiotik yang digunakan sangatt kuat sehingga
dapat menghambat atau membunuh pertumbuhan bakteri.
DAFTAR PUSTAKA

Holt, J. G. Et al. 1994. Bergey’s Manual of Determinative Bacteriology ninth edition.


:The Wavery Company
Pelczar, M.J., dan E.S.C. Chan. 2005. Dasar-Dasar Mikrobiologi 1. Jakarta:
UI-Perss.
Stainier, Roger y., John L. Ingraham, et al. 1986. The Microbial World, 5 th ed. New
Jersey, USA.