Anda di halaman 1dari 8

LATAR BELAKANG

 ICSID (International Center for the Settlement of


Investment Disputes) adalah badan yang dilahirkan
Bank Dunia. Konvensi yang mendirikan badan ini, yaitu
konvensi ICSID (Convention on the Settlement of
Investmen Dispute between states and Nationals of
Other States), atau disebut juga Konvensi Washington,
ditandatangani di Washington D.C., 18 Maret 1965.
Badan arbitrase ICSID atau the Centre berkedudukan di
Washington dan berafiliasi dengan Bank Dunia.
 Terbentuknya Konvensi adalah sebagai akibat dari situasi
perekonomian dunia pada waktu 1950-1960an yaitu
khususnya dikala beberapa negara berkembang
menasionalisasi atau mengekspropriasi perusahaan-
perusahaan asing yang berada di dalam wilayahnya.
Tindakan ini mengakibatkan konflik-konflik ekonomi
yang dapat berubah menjadi sengketa politik atau
bahkan sengketa terbuka (perang).

Ada
• Yang2pertama,
tujuanmenjembatani
utama dibentuknya
jurang atau mengisi
Konvensi.
kekosongan upaya hukum dalam menyelesaikan
kasus-kasus penanaman modal yakni dengan
memberikan suatu mekanisme khusus berupa
fasilitas arbitrase atau konsiliasi
• Kedua, mendorong dan melindungi arus modal dari
negara maji kepada negara ketiga (developing
countries).

Konvensi ICSID ditujukan untuk menangani


penyelesaian sengketa antara investor dengan negara
tuan rumah. Conditio sine quo non yang berlaku agar
suatu sengketa dapat tercakup dalam dan arbitrase
ICSID ini adalah sepakat.
Kasus Posisi

Dalam kasus AMCO ASIA melawan Republik
Indonesia, para pihak yang bersengketa antara
lain:
 Penggugat : AMCO yang membentuk
konsorsium dan terdiri atas :
• 1. Amco Asia Corporation
• 2. Pan American Development
• 3. PT. Amco Indonesia
 Tergugat : Pemerintah Republik Indonesia
diwakili oleh Badan Koordinasi Penanaman
Modal (BKPM).


Yang menjadi permasalahan dalam sengketa ini
adalah pencabutan izin investasi yang telah diberikan
oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) terhadap
AMCO untuk pengelolaan Hotel Kartika Plaza, yang
semula diberikan untuk jangka waktu 30 tahun. Namun
BKPM mencabut izin investasi tersebut ketika baru
memasuki tahun ke 9.

• Tuntutan diajukan kepada lembaga arbitrase


ICSID yang bertempat di Washington DC, Amerika
Serikat oleh para investor yang membentuk
konsorsium pada tanggal 15 Januari1981.


Identifikasi Masalah

 Apakah yang menjadi permasalahan pokok


pada pengajuan gugatan oleh AMCO
terhadap Pemerintah Indonesia yang
diwakili oleh BKPM dalam perkara Hotel
Kartika Plaza di Indonesia?
 Dalam hal apa dan bagaimana
pelanggaran yang dilakukan oleh
Pemerintah Indonesia yang diwakili
BKPM?
 Apakah keputusan yang dikeluarkan oleh
ICSID dalam kasus ini sudah sesuai
dengan prinsip-prinsip hukum
ANALISIS
 Dalam kasus AMCO ASIA melawan Indonesia, Indonesia
melakukan pencabutan izin investasi penanaman modal
AMCO berpandangan dari ketentuan pasal 2 the united
nations charter of economic rights and duties of states
yaitu pasal tersebut menyatakan bahwa negara tuan
rumah tidak disyaratkan untuk memberi perlakuan
khusus (preferential treatment) kepada perusahaan-
perusahaan asing. Dan bahwa negara-negara sedang
berkembang memiliki kekuasaan untuk mengubah dan
merundingkan kembali kontrak-kontrak yang telah
dibuatnya dengan perusahaan-perusahaan asing.
 Akan tetapi Yang dilakukan oleh Indonesia dengan
mencabut izin investasi penanaman modal AMCO
terhadap pengelolaan hotel kartika plaza merupakan
pelanggaran prinsip perjanjian penanaman modal atau
bilateral investment treaty (BIT). Diantara prinsip-prinsip
yang dilanggar adalah fair and equitable treatment yaitu
prinsip yang menyatakan bahwa negara tuan rumah
akan memberikan perlakuan yang adil kepada modal
yang ditanam investornya.
Penyelesaian melalui arbitrasi dipilih
karena :
 Keputusannya final dan mengikat ( tidak mengenal appeal )
 Keputusannya diakui secara internasional. Berdasarkan Konvensi
New York 1958, keputusan sidang arbitrasi diakui oleh 134
negara (bandingkan dengan keputusan pengadilan yang
hanya berlaku di negara tersebut).
 Netral. Pihak yang bersengketa bisa memilih lokasi sidang,
bahasa yang digunakan, prosedur/dasar hukum yang
digunakan (biasanya sudah disebut dalam perjanjian kontrak)
dan arbitrator dari berbagai nationality.
 Memilih Arbitrator yang sesuai dan ahli di bidang tersebut. Pihak
yang bersengketa bisa memilih arbitrator independent untuk
duduk dalam sidang (untuk tribunal dengan 3 arbitrator : 2
dipilih oleh pihak yang bersengketa, 1 ditentukan oleh badan
arbitrasi)
 Prosesnya lebih cepat dan lebih murah dibanding pengadilan.
Dalam proses sidang arbitrasi, kedua pihak diberi kesempatan
untuk mempresentasikan kasusnya/memberi sanggahan,
menyajikan bukti-bukti, memilih arbitrator yang sesuai untuk
duduk di arbitral tribunal, dst sehingga akhirnya didapat
keputusan sidang. (arbitration process berdasarkan ICC rules)
KELOMPOK 5
• Disusun oleh:
• Retzsa Megantara 110110060069
• Rendy Indira 110110060077
• Egia Rendy 110110060081
• RomiJonathan 110110060094
• Akmal Farad 110110060097
• Muhammad Faiz Faisal 110110060099
• Yuda Perwira S. 110110060101
• M. Teguh Tri Putra 110110060102
• Trisno Romadi 110110060106
• I Made Arya Sutisna 110110060120
• Achmad Ziki 110110060123
• Radiansyah Pradana P. 110110060130
• Achmad Yezar 110110060131