Anda di halaman 1dari 225

Iskandar Muda

TEKNIK SURVEI
DAN PEMETAAN
JILID 2

SMK

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan


Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
Departemen Pendidikan Nasional
Hak Cipta pada Departemen Pendidikan Nasional
Dilindungi Undang-undang

TEKNIK SURVEI
DAN PEMETAAN
JILID 2

Untuk SMK
Penulis : Iskandar Muda

Perancang Kulit : TIM

Ukuran Buku : 18,2 x 25,7 cm

MUD MUDA, Iskandar.


t Teknik Survei dan Pemetaan Jilid 2 untuk SMK oleh
Iskandar Muda ---- Jakarta : Direktorat Pembinaan Sekolah
Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan
Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional, 2008.
x, 193 hlm
Daftar Pustaka : Lampiran. A
Glosarium : Lampiran. B
Daftar Tabel : Lampiran. C
Daftar Gambar : Lampiran. D
ISBN : 978-979-060-151-2
ISBN : 978-979-060-153-6

Diterbitkan oleh
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
Departemen Pendidikan Nasional
Tahun 2008
KATA SAMBUTAN

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan karunia
Nya, Pemerintah, dalam hal ini, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah
Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
Departemen Pendidikan Nasional, pada tahun 2008, telah melaksanakan
penulisan pembelian hak cipta buku teks pelajaran ini dari penulis untuk
disebarluaskan kepada masyarakat melalui website bagi siswa SMK.

Buku teks pelajaran ini telah melalui proses penilaian oleh Badan Standar
Nasional Pendidikan sebagai buku teks pelajaran untuk SMK yang
memenuhi syarat kelayakan untuk digunakan dalam proses pembelajaran
melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 12 tahun 2008.

Kami menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada seluruh


penulis yang telah berkenan mengalihkan hak cipta karyanya kepada
Departemen Pendidikan Nasional untuk digunakan secara luas oleh para
pendidik dan peserta didik SMK di seluruh Indonesia.

Buku teks pelajaran yang telah dialihkan hak ciptanya kepada Departemen
Pendidikan Nasional tersebut, dapat diunduh (download), digandakan,
dicetak, dialihmediakan, atau difotokopi oleh masyarakat. Namun untuk
penggandaan yang bersifat komersial harga penjualannya harus memenuhi
ketentuan yang ditetapkan oleh Pemerintah. Dengan ditayangkannya soft
copy ini akan lebih memudahkan bagi masyarakat untuk mengaksesnya
sehingga peserta didik dan pendidik di seluruh Indonesia maupun sekolah
Indonesia yang berada di luar negeri dapat memanfaatkan sumber belajar
ini.

Kami berharap, semua pihak dapat mendukung kebijakan ini. Selanjutnya,


kepada para peserta didik kami ucapkan selamat belajar dan semoga dapat
memanfaatkan buku ini sebaik-baiknya. Kami menyadari bahwa buku ini
masih perlu ditingkatkan mutunya. Oleh karena itu, saran dan kritik sangat
kami harapkan.

Jakarta,
Direktur Pembinaan SMK
ii

PENGANTAR PENULIS

Penulis mengucapkan puji syukur ke Hadirat Allah SWT karena atas ridho-Nya buku
teks “Teknik Survei dan Pemetaan” dapat diselesaikan dengan baik. Buku teks “Teknik
Survei dan Pemetaan” ini dibuat berdasarkan penelitian-penelitian yang pernah dibuat,
silabus mata kuliah Ilmu Ukur Tanah untuk mahasiswa S1 Pendidikan Teknik Sipil dan D3
Teknik Sipil FPTK UPI serta referensi-referensi yang dibuat oleh penulis dalam dan luar
negeri.
Tahap-tahap pembangunan dalam bidang teknik sipil dikenal dengan istilah SIDCOM
(survey, investigation, design, construction, operation and mantainance). Ilmu Ukur Tanah
termasuk dalam tahap studi penyuluhan (survey) untuk memperoleh informasi spasial
(keruangan) berupa informasi kerangka dasar horizontal, vertikal dan titik-titik detail yang
produk akhirnya berupa peta situasi.
Buku teks ini dibuat juga sebagai bentuk partisipasi pada Program Hibah Penulisan
Buku Teks 2006 yang dikoordinir oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada
Masyarakat, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Penulis mengucapkan terima kasih :
1. Kepada Yth. Prof.Dr. H. Sunaryo Kartadinata, M.Pd, selaku Rektor Universitas
Pendidikan Indonesia di Bandung,
2. Kepada Yth. Drs. Sabri, selaku Dekan Fakultas Pendidikan Teknologi dan Kejuruan
Universitas Pendidikan Indonesia di Bandung,
atas perhatian dan bantuannya pada proposal buku teks yang penulis buat.
Sesuai dengan pepatah “Tiada Gading yang Tak Retak”, penulis merasa masih
banyak kekurangan-kekurangan yang terdapat dalam proposal buku teks ini, baik
substansial maupun redaksional. Oleh sebab itu saran-saran yang membangun sangat
penulis harapkan dari para pembaca agar buku teks yang penulis buat dapat terwujud
dengan lebih baik di masa depan.
Semoga proposal buku teks ini dapat bermanfaat bagi para pembaca umumnya dan
penulis khususnya serta memperkaya khasanah buku teks bidang teknik sipil di perguruan
tinggi (akademi dan universitas). Semoga Allah SWT juga mencatat kegiatan ini sebagai
bagian dari ibadah kepada-Nya. Amin.

Bandung, 26 Juni 2008


Penulis,

Dr.Ir.H.Iskandar Muda Purwaamijaya, MT


NIP. 131 930 250

ii
iii

DAFTAR ISI Dasar Vertikal 91


4.3. Prosedur Pengukuran Sipat Datar
JILID 1 Kerangka Dasar Vertikal 95
4.4. Pengolahan Data Sipat Datar
Pengantar Direktur Pembinaan SMK i Kerangka Dasar Vertikal 103
Pengantar Penulis ii 4.5. Penggambaran Sipat Datar
Daftar Isi iv Kerangka Dasar Vertikal 104
Deskripsi Konsep xvi
Peta Kompetensi xvii 5. Proyeksi Peta, Aturan Kuadran dan
Sistem Kordinat 120

1. Pengantar Survei dan Pemetaan 1 5.1. Proyeksi Peta 120


5.2. Aturan Kuadran 136
1.1. Plan Surveying dan Geodetic 5.3. Sistem Koordinat 137
Surveying 1 5.4. Menentukan Sudut Jurusan 139
1.2. Pekerjaan Survei dan Pemetaan 5 JILID 2
1.3. Pengukuran Kerangka Dasar
Vertikal 6
1.4. Pengukuran Kerangka Dasar 6. Macam Besaran Sudut 144
Horizontal 11
1.5. Pengukuran Titik-Titik Detail 18
6.1. Macam Besaran Sudut 144
6.2. Besaran Sudut dari Lapangan 144
2. Macam-Macam Kesalahan dan 6.3. Konversi Besaran Sudut 145
Cara Mengatasinya 25
6.4. Pengukuran Sudut 160

2.1. Kesalahan-Kesalahan pada 7. Jarak, Azimuth dan Pengikatan ke


Survei dan Pemetaan 25 Muka 189
2.2. Kesalahan Sistematis 46
2.3. Kesalahan Acak 50 7.1. Mengukur Jarak dengan Alat
2.4. Kesalahan Besar 50 Sederhana 189
7.2. Pengertian Azimuth 192
7.3. Tujuan Pengikatan ke Muka 197
3. Pengukuran Kerangka Dasar
7.4. Prosedur Pengikatan Ke muka 199
Vertikal 60
7.5. Pengolahan Data Pengikatan
Kemuka 203
3.1. Pengertian 60
3.2. Pengukuran Sipat Datar Optis 60 8. Cara Pengikatan ke Belakang
3.3. Pengukuran Trigonometris 78 Metoda Collins 208
3.4. Pengukuran Barometris 81

4. Pengukuran Sipat Datar Kerangka 8.1. Tujuan Cara Pengikatan ke


Dasar Vertikal 90 Belakang Metode Collins 210
8.2. Peralatan, Bahan dan Prosedur
Pengikatan ke Belakang Metode
4.1. Tujuan dan Sasaran Pengukuran Collins 211
Sipat Datar Kerangka Dasar 8.3. Pengolahan Data Pengikatan ke
Vertikal 90 Belakang Metode Collins 216
4.2. Peralatan, Bahan dan Formulir 8.4. Penggambaran Pengikatan ke
Ukuran Sipat Datar Kerangka Belakang Metode Collins 228
iv

9. Cara Pengikatan ke Belakang Metoda 13. Garis Kontur, Sifat dan


Cassini 233 Interpolasinya 378

9.1. Tujuan Pengikatan ke Belakang 13.1. Pengertian Garis Kontur 378


Metode Cassini 234 13.2. Sifat Garis Kontur 379
9.2. Peralatan, Bahan dan Prosedur 13.3. Interval Kontur dan Indeks Kontur 381
Pengikatan ke Belakang Metode 13.4. Kemiringan Tanah dan Kontur
Cassini 235 Gradient 382
9.3. Pengolahan Data Pengikatan ke 13.5. Kegunaan Garis Kontur 382
Belakang Metode Cassini 240 13.6. Penentuan dan Pengukuran Titik
9.4. Penggambaran Pengikatan ke Detail untuk Pembuatan Garis
Belakang Metode Cassini 247 Kontur 384
13.7. Interpolasi Garis Kontur 386
13.8. Perhitungan Garis Kontur 387
10. Pengukuran Poligon Kerangka
13.9. Prinsip Dasar Penentuan Volume 387
Dasar Horisontal 252
13.10. Perubahan Letak Garis Kontur
di Tepi Pantai 388
10.1. Tujuan Pengukuran Poligon 13.11. Bentuk-Bentuk Lembah dan
Kerangka Dasar Horizontal 252 Pegunungan dalam Garis Kontur 390
10.2. Jenis-Jenis Poligon 254 13.12.Cara Menentukan Posisi, Cross
10.3. Peralatan, Bahan dan Prosedur Bearing dan Metode
Pengukuran Poligon 264 Penggambaran 392
10.4. Pengolahan Data Pengukuran 13.13 Pengenalan Surfer 393
Poligon 272
10.5. Penggambaran Poligon 275 14. Perhitungan Galian dan
Timbunan 408
11. Pengukuran Luas 306
14.1. Tujuan Perhitungan Galian dan
Timbunan 408
11.1. Metode-Metode Pengukuran Luas 306 14.2. Galian dan Timbunan 409
11.2. Prosedur Pengukuran Luas 14.3. Metode-Metode Perhitungan
dengan Perangkat Lunak Galian dan Timbunan 409
AutoCAD 331 14.4. Pengolahan Data Galian dan
Timbunan 421
14.5. Perhitungan Galian dan Timbunan 422
JILID 3 14.6. Penggambaran Galian dan
Timbunan 430
12. Pengukuran Titik-titik Detail Metoda
Tachymetri 337 15. Pemetaan Digital 435

12.1.Tujuan Pengukuran Titik-Titik 15.1. Pengertian Pemetaan Digital 435


Detail Metode Tachymetri 337 15.2. Keunggulan Pemetaan Digital
12.2.Peralatan, Bahan dan Prosedur Dibandingkan Pemetaan
Pengukuran Tachymetri 351 Konvensional 435
15.3. Bagian-Bagian Pemetaan Digital 436
12.3. Pengolahan Data Pengukuran 15.4. Peralatan, Bahan dan Prosedur
Tachymetri 359 Pemetaan Digital 440
12.4. Penggambaran Hasil Pengukuran 15.5. Pencetakan Peta dengan Kaidah
Tachymetri 360 Kartografi 463
v

16. Sistem Informasi Geografis 469

16.1. Pengertian Dasar Sistem


Informasi Geografis 469
16.2. Keuntungan SIG 469
16.3. Komponen Utama SIG 474
16.4. Peralatan, Bahan dan Prosedur
Pembangunan SIG 479
16.5. Jenis-Jenis Analisis Spasial
dengan Sistem Informasi
Geografis dan Aplikasinya pada
Berbagai Sektor Pembangunan 488

Lampiran
Daftar Pustaka ........... A
Glosarium ............................... B
Daftar Tabel ............................ C
Daftar Gambar ........................ D
vi

DESKRIPSI

Buku Teknik Survei dan Pemetaan ini menjelaskan ruang lingkup Ilmu ukur
tanah, pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan pada Ilmu Ukur tanah untuk
kepentingan studi kelayakan, perencanaan, konstruksi dan operasional pekerjaan
teknik sipil. Selain itu, dibahas tentang perkenalan ilmu ukur tanah, aplikasi teori
kesalahan pada pengukuran dan pemetaan, metode pengukuran kerangka dasar
vertikal dan horisontal, metode pengukuran titik detail, perhitungan luas, galian
dan timbunan, pemetaan digital dan sistem informasi geografis.

Buku ini tidak hanya menyajikan teori semata, akan tetapi buku ini
dilengkapi dengan penduan untuk melakukan praktikum pekerjaan dasar survei.
Sehingga, diharapkan peserta diklat mampu mengoperasikan alat ukur waterpass
dan theodolite, dapat melakukan pengukuran sipat datar, polygon dan tachymetry
serta pembuatan peta situasi.
vii

PETA KOMPETENSI

Program diklat : Pekerjaan Dasar Survei


Tingkat : x (sepuluh)
Alokasi Waktu : 120 Jam pelajaran
Kompetensi : Melaksanakan Dasar-dasar Pekerjaan Survei

Pembelajaran
No Sub Kompetensi
Pengetahuan Keterampilan
1 Pengantar survei dan a. Memahami ruang lingkup plan Menggambarkan diagram
pemetaan surveying dan geodetic alur ruang lingkup pekerjaan
b. Memahami ruang lingkup survei dan pemetaan
pekerjaan survey dan
pemetaan
c. Memahami pengukuran
kerangka dasar vertikal
d. Memahami Pengukuran
kerangka dasar horisontal
e. Memahami Pengukuran titik-
titik detail
2 Teori Kesalahan a. Mengidentifikasi kesalahan-
kesalahan pada pekerjaan
survey dan pemetaan
b. Mengidentifikasi kesalahan
sistematis (systematic error)
c. Mengidentifikasi Kesalahan
Acak (random error)
d. Mengidentifikasi Kesalahan
Besar (random error)
e. Mengeliminasi Kesalahan
Sistematis
f. Mengeliminasi Kesalahan
Acak
3 Pengukuran kerangka a. Memahami penggunaan sipat Dapat melakukan
dasar vertikal datar kerangka dasar vertikal pengukuran kerangka dasar
b. Memahami penggunaan vertikal dengan
trigonometris menggunakan sipat datar,
c. Memahami penggunaan trigonometris dan
barometris barometris.
4 Pengukuran sipat dasar a. Memahami tujuan dan Dapat melakukan
kerangka dasar vertikal sasaran pengukuran sipat pengukuran kerangka dasar
datar kerangka dasar vertikal vertikal dengan
b. Mempersiapkan peralatan, menggunakan sipat datar
bahan dan formulir kemudian mengolah data
pengukuran sipat datar dan menggambarkannya.
kerangka dasar vertikal
c. Memahami prosedur
pengukuran sipat datar
kerangka dasar vertikal
d. Dapat mengolah data sipat
datar kerangka dasar vertikal
Dapat menggambaran sipat
datar kerangka dasar vertikal
viii

Pembelajaran
No Sub Kompetensi
Pengetahuan Keterampilan
5 Proyeksi peta, aturan a. Memahami pengertian Membuat Proyeksi peta
kuadran dan sistem proyeksi peta, aturan kuadran berdasarkan aturan kuadran
koordinat dan sistem koordinat dan sisten koordinat
b. Memahami jenis-jenis
proyeksi peta dan aplikasinya
c. Memahami aturan kuadran
geometrik dan trigonometrik
d. Memahami sistem koordinat
ruang dan bidang
e. Memahami orientasi survei
dan pemetaan serta aturan
kuadran geometrik
6 Macam besaran sudut a. Mengetahui macam besaran Mengaplikasikan besaran
sudut sudut dilapangan untuk
b. Memahami besaran sudut pengolahan data.
dari lapangan
c. Dapat melakukan konversi
besaran sudut
d. Memahami besaran sudut
untuk pengolahan data

7 Jarak, azimuth dan a. Memahami pengertian jarak Mengukur jarak baik dengan
pengikatan kemuka pada survey dan pemetaan alat sederhana maupun
b. Memahami azimuth dan sudut dengan pengikatan ke
jurusan muka.
c. Memahami tujuan pengikatan
ke muka
d. Mempersiapkan peralatan,
bahan dan prosedur
pengikatan ke muka
e. Memahami pengolahan data
pengikatan ke muka
f. Memahami penggambaran
pengikatan ke muka

8 Cara pengikatan ke a. Tujuan Pengikatan ke Mencari koordinat dengan


belakang metode Belakang Metode Collins metode Collins.
collins b. Peralatan, Bahan dan
Prosedur Pengikatan ke
Belakang Metode Collins
c. Pengolahan Data Pengikatan
ke Belakang Metoda Collins
d. Penggambaran Pengikatan ke
Belakang Metode Collins

9 Cara pengikatan ke a. Memahami tujuan pengikatan Mencari koordinat dengan


belakang metode ke belakang metode cassini metode Cassini.
Cassini b. Mempersiapkan peralatan,
bahan dan prosedur
pengikatan ke belakang
metode cassini
c. Memahami pengolahan data
pengikatan ke belakang
metoda cassini
d. Memahami penggambaran
pengikatan ke belakang
metode cassini
ix

Pembelajaran
No Sub Kompetensi
Pengetahuan Keterampilan
10 Pengukuran poligon a. Memahami tujuan Dapat melakukan
kerangka dasar pengukuran poligon pengukuran kerangka dasar
horisontal b. Memahami kerangka dasar horisontal (poligon).
horisontal
c. Mengetahui jenis-jenis poligon
d. Mempersiapkan peralatan,
bahan dan prosedur
pengukuran poligon
e. Memahami pengolahan data
pengukuran poligon
f. Memahami penggambaran
poligon
11 Pengukuran luas a. Menyebutkan metode-metode Menghitung luas
pengukuran luas bedasarkan hasil dilapangan
b. Memahami prosedur dengan metoda saruss,
pengukuran luas dengan planimeter dan autocad.
metode sarrus
c. Memahami prosedur
pengukuran luas dengan
planimeter
d. Memahami prosedur
pengukuran luas dengan
autocad
12 Pengukuran titik-titik a. Memahami tujuan Melakukan pengukuran titik-
detail pengukuran titik-titik detail titik dtail metode tachymetri.
metode tachymetri
b. Mempersiapkan peralatan,
bahan dan prosedur
pengukuran tachymetri
c. Memahami pengolahan data
pengukuran tachymetri
d. Memahami penggambaran
hasil pengukuran tachymetri

13 Garis kontur, sifat dan a. Memahami pengertian garis Membuat garis kontur
interpolasinya kontur berdasarkan data yang
b. Menyebutkan sifat-sifat garis diperoleh di lapangan.
kontur
c. Mengetahui cara penarikan
garis kontur
d. Mengetahui prosedur
penggambaran garis kontur
e. Memahami penggunaan
perangkat lunak surfer

14 Perhitungan galian dan a. Memahami tujuan Menghitung galian dan


timbunan perhitungan galian dan timbunan.
timbunan
b. Memahami metode-metode
perhitungan galian dan
timbunan
c. Memahami pengolahan data
galian dan timbunan
d. Mengetahui cara
penggambaran galian dan
timbunan
x

Pembelajaran
No Sub Kompetensi
Pengetahuan Keterampilan
15 Pemetaan digital a. Memahami pengertian
pemetaan digital
b. Mengetahui keunggulan
pemetaan digital
dibandingkan pemetaan
konvensional
c. Memahami perangkat keras
dan perangkat lunak
pemetaan digital
d. Memahami pencetakan peta
dengan kaidah kartografi
16 Sisitem informasi a. Memahami pengertian sistem
geografik informasi geografik
b. Memahami keunggulan
sistem informasi geografik
dibandingkan pemetaan
digital perangkat keras dan
perangkat lunak sistem
informasi geografik
c. Mempersiapkan peralatan,
bahan dan prosedur
pembangunan sistem
informasi geografik
d. Memahami jenis-jenis analisis
spasial dengan sistem
informasi geografik dan
aplikasinya pada berbagai
sektor pembangunan
6 Macam Sistem Besaran Sudut 144

6. Macam Sistem Besaran Sudut

6.1 Macam besaran sudut 6.2 Besaran sudut dari lapangan

Pengukuran sudut merupakan salah satu 6.2.1 Sistem besaran sudut seksagesimal
aspek penting dalam pengukuran dan
Sistem besaran sudut seksagesimal
pemetaan horizontal atau vertikal, baik
disajikan dalam besaran derajat, menit dan
untuk pengukuran dan pemetaan kerangka
sekon. Janganlah satuan sudut sekon
maupun titik-titik detail.
disebut detik, karena detik lebih baik
Sistem besaran sudut yang dipakai pada digunakan untuk satuan waktu.
beberapa alat berbeda antara satu dengan
Cara seksagesimal membagi lingkaran
yang lainnya. Sistem besaran sudut pada
dalam 360 bagian yang dinamakan derajat,
pengukuran dan pemetaan dapat terdiri dari:
sehingga satu kuadran ada 90 derajat. Satu
a. Sistem besaran sudut seksagesimal
derajat dibagi dalam 60 menit dan satu
b. Sistem besaran sudut sentisimal
menit dibagi lagi dalam 60 sekon. Dengan
c. Sistem besaran sudut radian
kata lain, satu derajat (1o) sama dengan
Dasar untuk mengukur besaran sudut ialah enam puluh menit (60’), satu menit (1’)
lingkaran yang dibagi dalam empat bagian, sama dengan enam puluh sekon (60”),
yang dinamakan kuadran. dengan demikian satu derajat (1o) sama
Penggunaan nilai sudut yang diolah berbeda dengan tiga ribu enam ratus sekon (3600”).
dengan nilai sudut yang diukur. Nilai sudut
Atau dituliskan sebagai berikut :
yang diolah biasanya digunakan sistem
1o = 60’ 1’ = 60” 1o = 3600”
seksagesimal, terutama jika kita gunakan
alat kalkulator standard. 6.2.2 Sistem besaran sudut sentisimal

Jika kita menggunakan bantuan PC Sistem besaran sudut sentisimal disajikan


(Personal Computer) maka nilai sudut yang dalam besaran grid, centigrid dan centi-
digunakan biasanya adalah sistem radian. centigrid. Cara sentisimal membagi
lingkaran dalam 400 bagian, sehingga satu
kuadran mempunyai 100 bagian yang
dinamakan grid. Satu grid dibagi lagi dalam
100 centigrid dan 1 centigrid dibagi lagi
dalam 100 centi-centigrid. Dapat dituliskan
sebagai berikut :
6 Macam Sistem Besaran Sudut 145

1g = 100c Hubungan antara satuan cara seksagesimal


c cc
1 = 100 dan satuan cara sentisimal dapat dicari
g cc
1 = 10000 dengan dibaginya lingkaran dalam 360
bagian cara seksagesimal dan dalam 400
Cara sentisimal ini lambat laun
bagian cara sentisimal, jadi :
menyampingkan cara seksagesimal, karena
3600 = 400g
untuk pengukuran, apalagi hitungan cara
sentisimal lebih mudah digunakan daripada
6.3 Konversi besaran sudut
cara seksagesimal.

Tetapi meskipun demikian, cara sentisimal Besaran-besaran sistem sudut yang


tidaklah dapat mengganti cara seksagesimal berbeda dapat dikonversikan dari satu
seluruhnya, karena pada ilmu astronomi, sistem ke sistem lain. Pendekatan untuk
ilmu geografi tetap digunakan cara menkonversinya adalah nilai sudut dalam
seksagesimal untuk penentuan waktu, bujur satu putaran. Dalam satu putaran nilai sudut
dan lintang tempat-tempat di atas adalah sama dengan 360 derajat atau 400
permukaan bumi. grid atau 2S radian. Dengan demikian jika
kita akan menggunakan suatu alat
6.2.3 Sistem besaran sudut radian
pengukuran dan pemetaan yang
Sistem besaran sudut radian disajikan mempunyai pengukur sudut, baik horizontal
dalam sudut panjang busur. Sudut pusat di maupun vertikal, maka kita harus teliti
dalam lingkaran yang mempunyai busur terlebih dahulu sistem sudut yang kita
sama dengan jari-jari lingkaran adalah gunakan untuk alat yang kita pakai.
sebesar satu radian. Hubungan antara ketiga satuan tersebut
Karena keliling lingkaran ada adalah sebagai berikut:

2 S r = 2S rad. x Konversi dari derajat ke grid


Misal :
6.2.4 Sistem waktu (desimal)
45o45’35” = .............g
Sistem waktu digunakan dalam pengukuran Maka :
o g
astronomi. Nilai sudut desimal maksimal 45 45’35” x 400
adalah 360. Atau : 360o

360o = 24 jam = 45 + 45/60 + 35/3600 x 400g


0
1 jam = 15o 360
= 50,8441358
g c cc
= 50 84 41 ,358
6 Macam Sistem Besaran Sudut 146

x Konversi dari derajat ke radian Atau dengan perhitungan sebagai berikut:


Misal : 2S = 360o = 400g
78o49’40” = .............. rad maka :
Maka : 1o = 1g,1111............... 1g = 0o,9
78o49’40” x 2S 1’ = 1c,85185185........ 1c = 0’,54
3600 1” = 3cc,08641975...... 1cc = 0”,324
= 78 + 49/60 + 40/3600 x 2S Satu radial (disingkat dengan U) menjadi :
3600 U = 360o = 360 x 60’ = 360 x 60 x 60”
= 1,376358025 rad 2S 2S 2S
U = 400 = 400 x 100 = 400 x 100 x 100cc
g c
x Konversi dari grid ke derajat
Misal : 2S 2S 2S
g c cc
104 58 77 ,75 = ...........
o Atau
o g
Maka : U = 57 ,295,779..... U = 63 ,661,977....
g c
104 58 77 ,75 x 360
cc o U = 3437’,7467....... U = 6,366c,1977..
400
g
U = 206264”,8........ U = 636619cc,77..
58 77,75
= 104 + /100 + /10000 x 360
g
400
= 94,1289975
o
94 (0,1289975 x 60)
7’ (0,73985 x 60)
44,391”
Jadi :
94o 07’ 44,391”

x Konversi dari grid ke radian


Misal :
120g28c10cc = ................. rad
Maka:
120g28c10cc x 2S
400g
= 120 + 28/100 + 10/10000 x 2S
400
= 1,89013 rad
6 Macam Sistem Besaran Sudut 147

Perhitungan Cara Tabel (Daftar)


Daftar I : Dari cara sentisimal ke cara seksagesimal

Tabel 9. Cara Sentisimal ke cara seksagesimal


6 Macam Sistem Besaran Sudut 148

Daftar II : Dari cara sentisimal ke cara radian

Tabel 10. Cara Sentisimal ke cara radian


6 Macam Sistem Besaran Sudut 149

Daftar III : Dari cara seksagesimal ke cara


radian

Tabel 11. Cara seksagesimal ke cara radian


6 Macam Sistem Besaran Sudut 150

Daftra IV : Dari cara radian ke cara S rad = 100 g ;


sentisimal 1 rad = 63,661 977 237 g
Tabel 12. Cara radian ke cara sentisimal
6 Macam Sistem Besaran Sudut 151

Daftar V : Dari cara seksagesimal ke cara


radian
Tabel 13. Cara seksagesimal ke cara radian
6 Macam Sistem Besaran Sudut 152

Contoh-contoh : Tabel 9 :
Tabel 9 : 1. D = 148o48’16”
1. D = 137g36c78cc Cara 1 : 148o = 164g,44.444
137g = 123o18’ 48’ = 0 ,88.889
c
36 = 00 19’26”,4 16” = 0 ,00.494
cc o
78 = 00 00 25”,3 148 48’16” = 165g,33.827
137g36c78cc = 123o37’51”,7
Cara 2 : 100o = 111g,11.111
2. D = 216g41c56cc 48o = 53,33.333
g o
Cara 1 : 200 = 180 00’00” 48’ = 0,88.889
g o
16 = 14 24’00” 16” = 0,00.494
o
41 c
= o
00 22’08”,4 148 48’16” = 165g,33.827
56cc = 00o00’18”,1
2. D = 208o17’15”
g c cc o
216 41 56 = 194 46’26”,5
Cara 1 : 180o = 200g,00.000
Cara 2 : 100g = 90o00’00” 28o = 31 ,11.111
g o
116 = 104 24’00” 17’ = 0 ,31.481
c o
41 = 00 22’08”,4 15” = 0 ,00.463
cc o o
56 = 00 00’18”,1 208 17’15” = 231g,43.055
216g41c56cc = 194o46’26”,5
Cara 2 : 100o = 111g,11.111
3. D = 317 08 39
g c cc
108o = 120 ,00.000
g o
Cara 1 : 200 = 180 00’00” 17’ = 0 ,31.481
g o o
117 = 105 18’00” 15 = 0 ,00.463
o
08 c
= o
00 04’19”,2 208 17’15” = 231g,43.055
39cc = 00o00’12”,6
3. D = 332o28’09”
g c cc o
317 08 39 = 285 22’31”,8
Cara 1 : 180o = 200g,00.000
Cara 2 100g = 90o00’00” 152o = 168 ,88.889
g o
200 = 180 00’00” 28’ = 0 ,51.852
g o
17 = 15 18’00” 09” = 0 ,00.278
c o o
08 = 00 04’19”,2 332 28’09” = 369g,41.019
39cc = 00o00’12”,6
317g08c39cc = 285o22’31”,8
6 Macam Sistem Besaran Sudut 153

Cara 2 100o = 111g,11.111 Tabel 13 :


o
180 = 200 ,00.000 1. D = 67o19’48”
52o = 57 ,77.778 67o = 1,169.370.6 rad
28’ = 0 ,51.852 19’ = 0,005.526.9 rad
09” = 0 ,00.278 48” = 0,000.232.7 rad
o g o
332 28’09” = 369 ,41.019 67 19’48” = 1,175.130.2 rad

Tabel 10: 2. D = 179o21’15”


1. D = 78g,4921 170o = 2,967.058.7 rad
o
78g = 1,225.211 rad 9 = 0,157.079.6 rad
o
49c = 0,007.697 rad 21 = 0,006.108.7 rad
o
21cc = 0,000.035 rad 15 = 0,000.072.7 rad
o
78g49c21cc = 1,232.943 rad 179 21’15” = 3,130.320.7 rad

2. D = 116g,1682 3. D = 212o42’26”
100g = 1,570.796 rad 200o = 3,490.658.5 rad
16g = 0,251.327 rad 12o = 0,209.439.5 rad
16 c
= 0 002.513 rad 42’ = 0,212.317.3 rad
82 cc
= 0,000.129 rad 26” = 0,000.126.1 rad
o
g c
116 16 82 cc
= 1,824.765 rad 212 42’26” = 3,712.441.4 rad

3. D = 262g,0856 Petunjuk singkat pemakaian alat ukur


g
100 = 1,570.796 rad Theodolite Boussole
g
100 = 1,570.796 rad
g Sebelum menggunakan alat ukur Theodolite
62 = 0,973.894 rad
perlu diperhatikan agar menjauhkan barang-
08c = 0,001.257 rad
barang metal yang dapat mempengaruhi
56cc = 0,000.008 rad
jarum magnet. Sudut jurusan yang didapat
262g08c56cc = 4,116.831 rad
adalah sudut jurusan magnetis.
Tabel 12 :
I. Urutan pengaturan serta pemakaian.
D = 1,26.486 rad
(contoh untuk pesawat T.O. wild)
1,26 rad = 80g,214.091
a. Pasanglah statif dengan dasar atas
0,00.48 rad = 0 ,035.577
tetap di atas piket dan sedatar
0,00.006 rad = 0 ,003.820
mungkin.
1,26.489 rad = 80g,253.488
b. Keraskan skrup-skrup kaki statif.
6 Macam Sistem Besaran Sudut 154

c. Letakkan alat T.O. di atasnya lalu j. Jelaskan benang diafragma dengan


keraskan skrup pengencang alat. skrup pengatur benang diafragma
kemudian jelaskan bayangan dari
d. Tancapkan statif dalam-dalam pada
titik yang dibidik dengan
tanah, sehingga tidak mudah
menggeser-geserkan lensa oculair.
bergerak.
k. Dengan menggunakan skrup
e. Pasanglah unting-unting pada skrup
penggerak halus horizontal dan
pengencang alat.
vertikal, kita tepatkan target yang
f. Bila ujung unting-unting belum tepat dibidik (skrup-skrup pengencang
di atas paku, maka geserkan alat horizontal dan vertikal harus
dengan membuka skrup kencang terlebih dahulu).
pengencang alat, sehingga ujung
l. Setelah i, j, k, dilakukan, maka
unting-unting tepat di atas paku
pengukuran dapat dimulai.
pada piket.
II. Pembacaan sudut mendatar
g. Gelembung pada nivo kotak kita
1. Terlebih dahulu kunci boussole atau
ketengahkan dengan menyetel
pengencang magnet kita lepaskan,
ketiga skrup penyetel, buka
kemudian akan terlihat skala
pengunci magnit, gerakan
pembacaan bergerak; sementara
kebelakang dan kedepan, setelah
bergerak kita tunggu sampai skala
magnit diam, magnit di kunci lagi.
pembacaan diam, kemudian kita
h. Setelah a, b, c, d, e, f, dan g, kunci lagi.
dikerjakan dengan baik, maka alat 2. Pembacaan bersifat koinsidensi
T.O. siap untuk melakukan dengan mempergunakan tromol
pengamatan. mikrometer.

i. Dengan membuka skrup (Berarti pembacaan dilakukan pada

pengencang lingkaran horizontal angka-angka yang berselisih 1800

dan vertikal arahkan teropong ke atau 200gr).

titik yang dibidik dengan pertolongan Pembacaan puluhan menit/centi grade dan
visir secara kasaran, kemudian satuannya dilakukan pada tromol
skrup-skrup tersebut kita mikrometer.
kencangkan kembali.
6 Macam Sistem Besaran Sudut 155

Untuk pembacaan biasa, tromol mikrometer


berada sebelah kanan. Untuk pembacaan
luar biasa; tromol berada di sebelah kiri.
Untuk dapat melihat angka-angka
pembacaan pada keadaan biasa maupun
luar biasa, kita putar penyetel angka
pembacaan (angka pembacaan dapat
diputar baik menurut biasa/ luar biasa Tiap kolom mempunyai satuan 1 menit
o
Pembacaan seluruhnya 48 17.3”
0 gr
dengan berselisih 180 atau 200 ). Gambar 116. Pembacaan menit

Puluhan/ ratusan derajat


o
(lihat angka bawah yang berselisih 180 dengan
o
angka di atasnya = 40 )
Satuan derajat
(Berapa kolom yang ada antara angka di atas =
o
80 48”) Gambar 117. Pembacaan centigrade

Gambar 114. Pembacan derajat III. Pembacaan sudut miring / jurusan


1. Terlebih dahulu ketengahkan
gelembung skala vertikal dengan
menggunakan skrup collimator.
2. Sistem pembacaan dengan
menggunakan angka yang sama/
sebelah kiri bawah dengan
sebelah kanan atas.
Bagian skala antara angka yang
sama mempunyai satuan puluhan
Puluhan/ ratusan grade
gr
(lihat angka bawah yang berselisih 200 dengan menit.
gr
angka di atasnya = 400 )
Satuan derajat
(Berapa kolom yang ada antara angka di atas =
gr g
8 48 )

Gambar 115. Pembacaan grade


6 Macam Sistem Besaran Sudut 156

IV. Pembacaan rambu


1. Untuk pembacaan jarak, benang
atas kita tepatkan di 1 m atau 2 m
pada satuan meter dari rambu.
Kemudian baca benang bawah dan
tengah.
2. Untuk pembacaan sudut miring,
arahkan benang tengah dari
teropong ke tinggi alatnya, sebelum
pembacaan dilakukan, gelembung
nivo vertikal harus diketengahkan
Gambar 118. Sudut jurusan dahulu. (tinggi alat harus diukur dan
dicatat).

10 11 12

-
12 11 10

o
12 46”
Untuk sudut miring negatif pembacaan dilakukan dari
kiri ke kanan.

14 13 12 11 10

+ 9 10 11 12 13

Kalau sudut miring positif pembacaan dilakukan dari


o
kanan ke kiri. 12 43”

Gambar 119. Sudut miring

Gambar 120. Cara pembacaan sudut mendatar dan


sudut miring
6 Macam Sistem Besaran Sudut 157

V. Keterangan centigrid per kolom, atau ada yang


1. Pada pembacaan sudut miring perlu mempunyai harga 2 menit (2c) per
diperhatikan tanda positif atau kolom.
negatif, sebab tidak setiap angka
5. Sistem pembacaan lingkaran
mempunyai tanda positif atau
vertikal ada 2 macam yaitu:
negatif.
x Sistem sudut zenith.
2. Pada pembacaan sudut miring di x Sistem sudut miring.
0
dekat 0 perlu diperhatikan tanda
6. Sudut miring yang harganya negatif,
positif atau negatif, sebab tandanya
pembacaan dilakukan dari kanan ke
tidak terlihat, sehingga meragukan
kiri, sedangkan untuk harga positif
sipembaca.
pembacaan dari kiri ke kanan.
Sebaiknya teropong di stel pada
7. Perlu diyakinkan harga sudut miring
posisi mendatar 00 dengan
positif atau negatif.
menggunakan skrup halus.
Kemudian teropong kita arahkan
lagi ke titik yang ditinjau, dan
setelah diputar kita melihat tanda + 110° = sudut zenith

pada skala bawah : apabila angka


nol di atas berada di sebelah kanan, 10°

menunjukkan bahwa harga sudut


sudut miring = 90qzenith
miring tersebut positif. i = 90q 110q = 10q

3. Perlu diperhatikan sistem


pembacaan dari pada pos alat ukur
tersebut : 10°

x Sistem centesimal (grid).


10°
x Sistem seksagesimal
(derajat).
sudut miring
4. Perlu diperhatikan, bahwa Gambar 121. Arah sudut zenith (sudut miring).
pembacaan skala tromol untuk
pembacaan satuan menit atau
satuan centigrid ada yang
mempunyai harga 1 menit atau 1
6 Macam Sistem Besaran Sudut 158

Gambar 122. Theodolite T0 Wild

Keterangan 6. Sekrup mikrometer untuk lingkaran


1. Sekrup-sekrup setel. tegak.
2. Permukaan nivo pesawat. 7. Tombol untuk memainkan permukaan 8.
3. Jepitan untuk lingkaran mendatar. 8. Permukaan untuk pinggiran tegak.
4. Sekrup mikrometer untuk lingkaran 9. Okuler dari teropong arah.
mendatar. 10. Cincin untuk pengatur diafragma.
5. Jepitan untuk lingkaran tegak. 11. Mikroskop untuk pinggiran tegak.
12. Okuler untuk pinggiran busole.
6 Macam Sistem Besaran Sudut 159

13. Tombol untuk mengubah arah sinar- 5. Sekrup gerak halus naik-turun garis
sinar cahaya. bidik.
14. Jendela penerangan. 6. Nivo pesawat.
15. Tombol mikrometer. 7. Nonius sudut datar.
16. Tuas untuk mengeratkan busole pada 8. Sekrup gerak halus lingkaran dalam.
bagian bawah. 9. Sekrup pengunci lingkaran dalam.

Gambar 123. Theodolite

Keterangan 10. Sekrup pengunci piringan dasar.


1. Nivo teropong. 11. Sekrup penyetel peasawat.
2. Lensa oculair. 12. Nivo pesawat.
3. Sekrup pengunci teropong. 13. Sekrup pengunci magnit.
4. Skrup pengatur diafragma. 14. Sekrup gerak halus lingkaran luar.
15. Sekrup pengunci lingkaran luar.
6 Macam Sistem Besaran Sudut 160

16. Nivius sudut tegak.


17. Lensa pembidik titik polygon.
18. Utara magnit.

6.4. Pengukuran sudut

6.4.1 Arti pengukuran sudut


Pengukuran sudut berarti mengukur suatu
sudut yang terbentuk antara suatu titik dan
dua titik lainnya. Pada pengukuran ini
diukur arah dari pada dua titik atau lebih
yang dibidik dari satu titik kontrol dan jarak
Gambar 124. Metode untuk menentukan arah titik A.
antara titik-titik diabaikan. Pada Gbr. 123
terlihat skema sebuah bola dengan
panjang jari-jari yang tak terbatas. Dengan
titik pusat bola 0 sebagai titik referensi,
garis kolimasi OA dari 0 ke A memotong
permukaan bola tersebut pada titik A'. OXY
adalah bidang horizontal dan OZ adalah
sumbu tegak lurus pada bidang itu jadi
dapat dianggap sebagai sumbu vertikal.
Lingkaran besar yang melintasi 0' dan A'
memotong bidang OXY pada titik A".
Sudut ‘ A" OA' disebut sudut elevasi.

Selanjutnya, jika diambil sebagai contoh, di


mana terdapat dua titik sasaran A dan B Gambar 125. Metode untuk menentukan arah titik A

seperti yang tertera pada Gbr. 124 maka dan titik B.

sudut A" OB" disebut sudut horizontal dari


A ke B. 6.4.2 Instrumen pengukuran sudut
1. Bagian umum theodolite: Sampai
pada tingkat-tingkat tertentu, berbagai
macam teodolit mempunyai perbedaan
baik bagian dalamnya, maupun
6 Macam Sistem Besaran Sudut 161

penampilannya, tergantung dari lurus terhadap lingkaran graduasi


pengerjaannya, pabrik pembuatannya horizontal.
dan lain-lain, akan tetapi secara umum d. Pelat-pelat sejajar dan sekrup
mempunyai prinsip mekanisme yang sekrup penyipat datar untuk
sama seperti yang tertera pada Gbr. menghorizontalkan theodolite
125 Secara umum teodolit dapat secara keseluruhan.
dipisahkan menjadi bagian atas dan
Pelat atas dan pelat bawah dapat berputar
bagian bawah.
mengelilingi sumbu vertikal dengan bebas
Bagian atas terdiri dari : di mana terdapat sekrup-sekrup tangens
a. Pelat atas yang langsung untuk sedikit menggeser kedua pelat
dipasangkan pada sumbu vertikal. tersebut.
b. Standar yang secara vertikal
Agar dapat dipergunakan untuk
dipasangkan pada a).
pengukuran sudut vertikal, maka pada
c. Sumbu horizontal didukung oleh
teodolit dipasang niveau teleskop dan
a) dan b).
dilengkapi pula dengan sekrup klem untuk
d. Teleskop tegak lurus sumbu
mengencangkan teleskop dan sekrup
horizontal dan dapat berputar
tangennya.
mengelilingi sumbunya.
e. Lingkaran graduasi vertikal Theodolit seperti yang tertera pada Gbr.

dengan sumbu horizontal sebagai 125 dinamakan teodolit tipe sumbu ganda

pusatnya. dan digunakan untuk pengukuran dengan

f. Dua buah (kadang-kadang hanya ketelitian yang rendah. Terdapat pula

sebuah) niveau tabung dengan teodolit yang tidak mempunyai klem bawah

sumbu-sumbunya yang saling dan hanya mempunyai sumbu dalam,

tegak lurus satu dengan lainnya. karena bagian yang berputar dengan tabung

g. Dua pembacaan graduasi yang sumbu luar dan pelat atas sejajar disatukan.

berhadapan. Tipe ini disebut theodolit tipe sumbu tunggal


(periksa Gbr. 126).
Bagian bawah terdiri dari :
a. Pelat bawah. Theodolit tipe ganda mempunyai dua buah

b. Lingkaran graduasi horizontal sumbu pada bagian dalam dan bagian luar,

mengelilingi a). sehingga memungkinkan pengukuran sudut

c. Tabung sumbu luar dari sumbu dengan pengulangan (repetition) tertentu,

vertikal yang dipasangkan tegak yang akan diuraikan kemudian. Akan tetapi
6 Macam Sistem Besaran Sudut 162

dalam pembuatannya di pabrik amatlah


sulit untuk membuat sedemikian rupa
sehingga kedua sumbu tersebut sungguh-
sungguh terpusat, maka theodolit tipe ini
tidak cocok untuk pengukuran teliti.

Theodolit tipe sumbu tunggal kadang-


kadang disebut instrumen pengukuran satu
arah dan teodolit tipe sumbu ganda
disebut instrumen pengukuran dengan
perulangan.

A : Sumbu dalam
B : Sumbu luar
Gambar 127. Teodolite (tipe sumbu tunggal)/
Reiterasi

2. Bagian-bagian utama theodolit : bagian-


bagian utama theodolit terdiri dari
teleskop, niveau, lingkaran graduasi &
pembacaan, perlengkapan pengukur
sudut vertikal, perlengkapan pengukur
sipat-datar dan alat penegak.
a. Teleskop. Teleskop terdiri dari

A : Sumbu dalam
bagian-bagiannya yaitu, benang
B : Pelat sejajar atas silang, sistem pembidik dan
C : Sumbu luar (lingkaran graduasi tabung (periksa Gbr. 127).
horizontal)

Gambar 126. Teodolite (tipe sumbu ganda)/


Repetisi

Gambar 128. Sistem lensa teleskop


6 Macam Sistem Besaran Sudut 163

I. Sistem lensa obyektif: kegunaan Pada diameter lensa obyektif


teleskop adalah untuk mengetahui tertentu, dengan semakin
arah sasaran (garis kolimasi). meningkatnya pembesaran
Karena itu disyaratkan agar bidang bayangan, maka bidang pandangan
pandangan harus terang, akan semakin buram. Karenanya,
pembesaran harus cukup memadai apabila cahaya yang melalui lensa
dan bayangan harus nyata. Bagian diteliti, semakin pendek gelombang
ini direncana sesuai dengan daya cahaya tersebut, maka cahaya yang
penglihatan mata (kira-kira 60 detik), terpantul akan semakin banyak pula
graduasi dengan pembacaan yang (Gbr. 128). Karena sinar putih terdiri
teliti dan lain sebagainya. dari kombinasi dari berbagai cahaya
yang mengandung bermacam-
Cahaya yang menimpa lensa,
macam panjang gelombang, maka
sebagian dipantulkan oleh
bayangan yang diperoleh menjadi
permukaan lensa. Untuk mengurangi
buram. Fenomena ini dinamakan
pantulan cahaya tersebut, maka
penyimpangan kromatik (chromatic).
lensa tersebut dilapisi dengan
Apabila berkas cahaya sejajar
magnesium fluoride setebal 1/4
menimpa sebuah lensa (Gbr. 129),
panjang gelombang cahaya yang
berkas cahaya yang berada dekat
menimpa lensa tersebut sehingga
dengan sumbu optik, panjang
berkas cahaya yang dipantulkan dari
fokusnya lebih besar, sedang yang
permukaan berlapis magnesium
berada lebih jauh dari sumbu optik,
fluoride dapat disimpangkan
panjang fokusnya lebih kecil.
setengah panjang golombang
Fenomena ini disebut penyimpangan
pantulan cahaya dari permukaan
speris lensa. Terdapat juga
gelas secara bertahap untuk
penyimpangan-penyimpangan lensa
mengurangi jumlah pantulan cahaya.
lainnya dan pengaruh-pengaruh ini
Pada sistem 5 lensa tanpa lapisan,
dapat dihilangkan dengan suatu
bagian cahaya yang terpantul
kombinasi lensa pembalik pantulan
kembali adalah 20%, sedang sistem
(lensa negatif). Pada umumnya
lensa dengan lapisan hanya 6% yang
sistem lensa obyektif teleskop untuk
terpantul kembali yang berarti suatu
pengukuran terdiri dari dua atau lebih
perbaikan yang cukup besar juga.
kombinasi lensa.
6 Macam Sistem Besaran Sudut 164

berarti pula posisi garis kolimasi


dapat digeser-geser dan
disesuaikan dengan empat buah
sekrup. Tipe benang silang dapat
dilihat pada Gbr. 131.

Gambar 129. Penyimpangan kromatik

Gambar 131. Diafragma (benang silang)

Gambar 130. Penyimpangan speris

II. Benang silang: titik perpotongan


benang silang (cross-hair) adalah
untuk menempatkan sasaran pada
titik tertentu dalam teleskop. Garis
lurus yang menghubungkan pusat
optik obyektif dengan titik tersebut
dinamakan garis kolimasi. Berbagai
macam cara untuk pembuatan Gambar 132. Tipe benang silang
benang silang, antara lain dengan
menggunakan benang sarang III. Sistem pembidik: pada dasarnya

labah-labah, atau benang nylon pembidik adalah kombinasi dari

yang direntangkan pada bingkai sebuah lensa pandang (field view

melingkar atau garis-garis halus lens) dan lensa bidik (eye piece).

yang diguratkan pada lempeng Umumnya digunakan tipe Ramsden,

gelas yang tebalnya kira-kira 1 dan untuk mengurangi

sampai 3μ seperti yang tertera pada penyimpangan-penyimpangan, maka

Gbr. 130. Posisi benang silang yang kedua lensa harus mempunyai
panjang fokus yang sama serta
6 Macam Sistem Besaran Sudut 165

penempatan jarak kedua lensa sama x Teleskop pengfokus dalam


dengan 3/4 panjang fokusnya (periksa (internal focussing telescope) di
Gbr. 132). mana di antara obyektif dan
benang silang ditempatkan
sistem lensa cekung (lensa
fokus) (periksa Gbr. 133).

Gambar 133. Pembidik Ramsden

IV. Tombol fokus: Sasaran yang diukur


Gambar 134. Teleskop pengfokus dalam
meliputi jarak-jarak yang amat
b. Niveau
pendek sampai puluhan kilometer
I. Niveau tabung: pengukuran sudut
dan karenanya apabila jarak antara
dimulai dengan menempatkan sumbu
sistem obyektif dan benang silang
vertikal teodolit sedemikian rupa
sudah tertentu, maka bayangan yang
sehingga berimpit dengan vertikal
jelas dari sasaran tak selalu muncul
dan kemudian dilakukan pembacaan
pada bidang benang silang.
sudut horizontal dan sudut
Karenanya pada teleskop terdapat
vertikalnya. Pengukuran ini dilakukan
tombol penyetel agar bayangan dari
dengan pertolongan niveau. Niveau
sasaran dapat terlihat jelas pada
bekerja pada prinsip bahwa cairan
bidang benang silang. Ditinjau dari
akan berada dalam keadaan tenang,
cara pengfokusannya, maka terdapat
jika permukaannya dalam posisi
2 tipe teleskop yaitu:
vertikal terhadap arah gaya tarik
x Teleskop pengfokus luar bumi. Terdapat dua tipe niveau, yaitu
(external focussing telescope) di niveau tabung batangan (bar bubble
mana lensa obyektif yang tube) dan niveau tabung bundar
digeser-geser dan kelemahannya (circular bubble tube). Niveau
adalah bahwa penggeseran tabung batangan (periksa Gbr. 134)
obyektif, mengakibatkan mudah dibuat dengan membentuk busur
bergesernya titik pusat teleskop lingkaran pada dinding dalam
dan selanjutnya garis (inside surface) bagian atas tabung
koliminasinya bergeser pula. gelas dengan arah axial yang
6 Macam Sistem Besaran Sudut 166

kemudian sebagian diisi dengan Rș =S


campuran alkohol dan ether, serta
dT 1 dS
sebagian lagi masih terisi udara. ? atau dT
dS R R
Sedang niveau tabung bundar
Apabila dS = 2 mm, dan dș
dibuat dengan mengasah dinding
dinyatakan dalam detik, maka akan
dalam bagian atas tabung sehingga
diperoleh:
berbentuk speris dan kemudian diisi
cairan seperti tipe pertama (periksa 1
dT " 413 x
Gbr. 135). Kedua tipe tersebut R
mempunyai prinsip kerja yang sama Secara internasional untuk
tetapi niveau tabung bundar lebih menentukan kepekaan niveau tabung
baik karena kemiringannya ke segala telah disepakati dengan kemiringan
arah dapat diketahui dengan segera. tertentu dari niveau tersebut,
Sebaliknya untuk kepekaan yang sehingga menyebabkan pergeseran
lebih tinggi, maka niveau gelembung sebesar 2 mm. Dengan
memerlukan tabung dengan ukuran demikian harga-harga dș dan R
yang lebih besar, sedangkan disesuaikan seperti pada tabel di
tabung ukuran besar tidaklah akan bawah ini:
serasi untuk dipasang pada Kepekaan (detik) 30 20 10
instrumen pengukuran, karena itu Jari-Jari lengkung (m) 14 21 41
hanya diproduksi niveau tabung
dengan kepekaan yang rendah yang
digunakan untuk instrumen-instrumen
pengukuran berketelitian rendah atau
untuk alat penyipat-datar pertama
pada instrumen-instrumen Gambar 135. Niveau tabung batangan
pengukuran berketelitian tinggi.

II. Kepekaan niveau tabung: apabila


kemiringan niveau tabung adalah ș
(periksa Gbr. 136), maka gelembung
niveau bergerak dari titik A ke titik B
dan akan diperoleh persamaan
sebagai berikut:
Gambar 136. Niveau tabung bundar.
6 Macam Sistem Besaran Sudut 167

ganda dan vernir lipat ganda (double


folded v e r n i e r ) .
Seperti yang tertera pada Gbr. 137,
untuk vernir langsung graduasinya
adalah panjang dari pembagian ( n -
1 ) skala besar, dibagi lagi dengan n
bagian sama panjang. Apabila satu
interval graduasi dari pada skala
besar adalah LM, maka akan terjadi
Gambar 137. Hubungan antara gerakan
gelembung dan inklinasi.
hubungan berikut:

(n – 1) LM = nLV
c. Lingkaran graduasi dan pembacaan
(n  1) LM LM
I. Lingkaran graduasi: lingkaran ?L M  L V LM 
n n
graduasi umumnya terbuat dari
Karena itu LM / n adalah unit minimum
bahan baja atau gelas. Akan tetapi
untuk memungkinkan pengukuran
sifat baja yang mudah
dengan vernir. Pecahan-pecahan
berdeformasi, akibat berat sendiri
dapat dibaca dari graduasi vernir,
sehingga tidak dapat digunakan
apabila skala besar dan vernir
untuk teodolit berketelitian tinggi.
berimpit satu dengan lainnya (Gbr.
Sebagai pembacaan pada lingkaran
138). Umpamanya pembacaan
graduasi baja umumnya digunakan
dengan vernir dibutuhkan untuk 20"
vernir atau mikrometer. Dewasa ini
pada interval-interval graduasi
lingkaran graduasi umumnya
minimum pada skala besar 20', 20"=
terbuat dari gelas dengan graduasi
LM/n=20'/60 jadi 59 graduasi pada
yang sangat halus (hanya beberapa
skala besar harus dibagi menjadi 60
mikron saja). Kelebihan dari bahan
bagian yang sama seperti graduasi
gelas ini adalah ringan, transparan,
pada vernir. Vernir tidak langsung
seragam, dan lain-lain sehingga
mempunyai graduasi yang dibuat
sangat cocok untuk perlengkapan
dengan membagi rata panjang
teodolit. Lingkaran graduasi
graduasi ( n - 1 ) pada skala besar
mempunyai skala besar pada vernir:
menjadi n bagian dan gambar
vernir terdiri dari empat tipe yaitu
graduasi pada vernir berlawanan
vernir langsung (direct vernier), vernir
dengan skala besar (Gbr. 139). Ada
mundur (refrograde vernier), vernir
6 Macam Sistem Besaran Sudut 168

juga teodolit yang mempunyai dua


graduasi pada kedua arah dan
karenanya terdapat vernir dengan
graduasi pada kedua sisinya dengan
0 sebagai pusatnya yang disebut Gambar 140. Pembacaan vernir langsung
vernir ganda. Karena vernir ganda
tersebut umumnya panjang, terdapat
vernir dengan dua graduasi dalam
dua arah dan tipe ini dinamakan
vernir ganda balik. Gbr. 141
menunjukkan contoh-contoh Gambar 141. Pembacaan vernir mundur 20,7.
pembacaan vernir.

Gambar 138. Berbagai macam lingkaran


graduasi.

Gambar 139. Vernir langsung.


6 Macam Sistem Besaran Sudut 169

graduasi skala kecil dari satuan


graduasi skala besar, ditempatkan
pada bidang fokus dari lensa
obyektif (Gbr. 142).

III. Mikrometer optik: untuk


menghilangkan kesalahan eksentris
lingkaran graduasi, haruslah dibaca
Pembacaan Skala besar 32040’
suatu graduasi 180° yang terpisah
Pembacaan vernir + 3’40”
pada lingkaran graduasi tersebut.
32043’40”
Wild menemukan cara di mana arah
Gambar 142. Pembacaan berbagai macam vernir
masuk berkas cahaya dipindahkan
secara paralel dengan
menggunakan lempeng gelas datar
sejajar dan pergeseran mikrodial
akibat perpindahan diperbesar
untuk pengukuran. Cara ini amat
mempermudah pengukuran sudut
dan memungkinkan pengukuran
sampai 0, 1". Prinsip ini ditunjukkan
Gambar 143. Sistem optis theodolite untuk pada Gbr. 143 A dan B menunjukkan
mikrometer skala
bayangan graduasi 180° terpisah
satu dengan lainnya. Bayangan-
bayangan graduasi dapat terlihat
melalui lempeng gelas sejajar dan
sistim gelas prisma. Pada saat
pelaksanaan pengukuran, mikrodial
digeser agar A dan B yang
berlawanan dapat berhimpit. Dial
atau piringan tempat angka-angka
Gambar 144. Pembacaan mikrometer skala mempunyai graduasi berputar yang
halus dan graduasi ini juga masuk
II. Mikrometer skala: mikrometer skala
dalam bidang pandangan
adalah mikrometer yang
mikrometer sehingga dapat dibaca
mempunyai lempeng gelas dengan
6 Macam Sistem Besaran Sudut 170

bersama skala besar. Dewasa ini


penggunaan lempeng gelas sejajar
untuk mekanisme pembacaan
instrumen pengukuran sudah sangat
populer.

IV.

Gambar 147. Sistem optis theodolite dengan


Gambar 145. Sistem optis mikrometer pembacaan tipe berhimpit.
tipe berhimpit.
d. Instrumen pengukuran sudut vertikal.
Akibat dari terjadinya ayunan berkas
cahaya yang melintasi udara
terbuka, maka pengukuran-
pengukuran sudut vertikal
menghasilkan ketelitian yang rendah,
sehingga dimensi lingkaran graduasi
vertikal umumnya dibuat lebih kecil
dibandingkan dengan lingkaran
graduasi horizontalnya. Karena
pengukuran sudut vertikal
dilaksanakan sesuai dengan arah
vertikal, teodolit dilengkapi dengan
Gambar 146. Contoh pembacaan mikrometer tipe alat penyipat-datar yang mempunyai
berhimpit.
ketelitian relatif tinggi dari kelas 10"
sampai 20" atau tabung libel silang
khusus.
6 Macam Sistem Besaran Sudut 171

e. Alat penyipat datar: alat penyipat- plumbing device). Gbr. 150


datar (leveling device) pada teodolit menunjukkan potongah melintang
digunakan untuk membuat agar sebuah unting-unting.
sumbu vertikal teodolit berhimpit
Gbr. 150 menunjukkan alat penegak
dengan garis vertikal. Tipe alat
optik yang banyak digunakan pada
penyipat-datar terdiri dari alat
teodolit. Alat ini adalah suatu
penyipat-datar speris (spherical
teleskop kecil untuk melihat
leveling device) dan alat penyipat-
permukaan tanah dari sumbu vertikal
datar tipe sekrup (screw type
teodolit dan memungkinkan
leveling device). Alat penyipat-datar
penempatan sentris teodolit pada
speris digunakan pada instrumen-
sebuah stasion.
instrumen berketelitian rendah (Gbr.
147). Gbr. 148 menunjukkan alat
penyipat-datar tipe tiga sekrup,
(three screw type leveling device).
Untuk penyetelannya mula-mula
kemiringan dikoreksi dengan dua
sekrup penyetel sambil mengamati
suatu niveau yang ditempatkan pada
posisi sejajar dengan garis hubung
antara dua sekrup tadi. Kemudian
kemiringan disetel dengan sebuah
Gambar 148. Alat penyipat datar speris.
sekrup penyetel yang tegak lurus
dengan arah tadi sambil mengamati
niveau yang dipasang pada arah ini.
Ada juga alat penyipat-datar tipe
empat sekrup, (fourscrew type
leveling device) tetapi saat ini
sudah tidak banyak digunakan lagi.

f. Alat penegak: alat penegak


(flumbing device) umumnya terdiri
dari tipe unting-unting (plumb bob) Gambar 149. Alat penyipat datar dengan
sentral bulat.
dan tipe penegak optik (optical
6 Macam Sistem Besaran Sudut 172

Alat ini adalah suatu teleskop kecil


untuk melihat permukaan tanah dari
sumbu vertikal teodolit dan
memungkinkan penempatan sentris
teodolit pada sebuah stasion.

6.4.2 Kesalahan-kesalahan instrumen


dan cara-cara meniadakannya

Gambar 150. Unting-unting 1. Kesalahan sudut kolimasi: titik di


mana sumbu kolimasi, sumbu
horizontal dan vertikal suatu teodolit
bertemu pada sudut siku-siku
dianggap sebagai titik 0 dan dianggap
adanya satuan speris di sekitar titik
tersebut. Pada Gbr. 151, AOB adalah
sumbu horizontal, ADBE adalah
lingkaran graduasi dan CD adalah
tempat kedudukan sumbu kolimasi
yang berputar mengelilingi sumbu
Gambar 151. Alat penegak optis.
horizontal. Apabila sasaran S dibidik
dengan teodolit pada kemiringan garis
kolimasi sebesar sudut D (pada Gbr.
152 tempat kedudukan garis kolimasi
adalah seperti yang digambarkan
dengan garis terputus-putus). Dengan
maksud untuk membidik sasaran S
dengan teodolit di mana sumbu
horizontal sungguh-sungguh tegak
lurus terhadap sumbu kolimasi,
teleskop diputar sebesar sudut E .E
disebut kesalahan sumbu kolimasi.
Apabila SH adalah busur yang tegak
lurus terhadap CD, maka SH = D .
Gambar 152. Kesalahan sumbu kolimasi. Apabila sudut elevasi sasaran = h,
6 Macam Sistem Besaran Sudut 173

maka dari rumus segitiga bola sin D tan h / tan(90 0  i )


sin D = sin C sin (90° - h) tan h tan i
? sin C sinD sec h
Karena D dan i biasanya sangat
Karena C dan D sangat kecil,
kecil, persamaan dapat menjadi
kesalahan sumbu kolimasi dihitung
dengan pcrsamaan: D i tan h

E C D sec h Apabila teleskop dipasang dalam


posisi kebalikan, tanda kesalahan
Apabila teleskop ditempatkan
menjadi negatif dan apabila sudut
dalam posisi kebalikan, kesalahan
yang dicari dengan teleskop dalam
sumbu kolimasi menjadi – dan
posisi-posisi normal dan kebalikan di
karenanya dengan merata-ratakan
rata-rata maka kesalahan sumbu
nilai-nilai yang diperoleh dari posisi
horizontal dapat dihilangkan.
teleskop normal dan posisi
kebalikan, maka kesalahan sumbu 3. Kesalahan sumbu vertikal:
kolimasi dapat ditiadakan. kesalahan yang timbul akibat tidak
berhimpitnya sumbu vertikal teodolit
2. Kesalahan sumbu horizontal:
dengan arah garis vertikal disebut
kesalahan yang terjadi akibat sumbu
kesalahan sumbu vertikal. Pada Gbr.
horizontal tidak tegak lurus sumbu
153, diperlihatkan sumbu vertikal
vertikal disebut kesalahan sumbu
teodolit X' miring membentuk sudut v
horizontal. Pada Gbr. 6.27, apabila
terhadap arah garis vertikal X. AB
tidak terdapat kesalahan sumbu,
adalah arah kemiringan maximum
tempat kedudukan garis kolimasi
lingkaran graduasi horizontal. Apabila
dengan teleskop yang mengarah
teleskop berputar mengelilingi sumbu
pada S berputar mengelilingi sumbu
horizontal dengan sasaran S pada
horizontal adalah CSD. Apabila
sudut elevasi h dalam keadaan di
sumbu horizontal miring sebesar i
mana sumbu vertikal teodolit
menjadi A'B', tempat kedudukannya
berhimpit dengan arah garis vertikal
adalah C'SD'. Dalam segitiga bola
akan diperoleh posisi lintasan
SDD', DD’ = D adalah kesalahan
teleskop CSD dalam arah sebesar u
sumbu horizontal, apabila sumbu
dari arah kemiringan maximum,
horizontal miring sebesar i. Dari
sedang dalam keadaan di mana
rumus segitiga bola,
6 Macam Sistem Besaran Sudut 174

sumbu vertikal teodolit miring dalam posisi kebalikan, maka


sebesar v terhadap arah garis pengukuran haruslah dilaksanakan
vertikal akan diperoleh posisi dengan hati-hati, terutama pada saat
lintasan teleskop C'SD' dalam arah pengukuran untuk sasaran dengan
sebesar u' dari kemiringan sudut elevasi yang besar.
maximumnya. Dari kedua macam
4. Kesalahan eksentris: kesalahan yang
lintasan teleskop tersebut, maka
timbul apabila sumbu vertikal teodolit
akan diperoleh gambar segitiga bola
tidak berhimpit dengan pusat lingkaran
SCC' dan dari segitiga ini
graduasi horizontal disebut kesalahan
kesalahan sumbu vertikal E eksentris (eccentric error). Pada Gbr.
dapat dinyatakan dengan 154, 0' adalah pusat sumbu vertikal
persamaan sebagai berikut: dan 0 adalah pusat lingkaran
E u 'u v sin u ' cot(90  h)
0
graduasi. Meskipun sudut sasaran A

v sin u ' tan h dan B pada 0' adalah T , T1 dan T2


terbaca pada lingkaran graduasi,

2 D = T 2 , 2E T, D  E T sehingga
T1 T2 1
T D E  (T1  T 2 )
2 2 2
Apabila graduasi yang berhadapan
dibaca untuk masing-masing sasaran
Gambar 153. Kesalahan sumbu horizontal
dan di rata-rata, kesalahan eksentris
lingkaran graduasi dapat ditiadakan.

5. Kesalahan luar: kesalahan yang timbul


akibat sumbu kolimasi teleskop tidak
melewati sumbu vertikal disebut
kesalahan luar. Pada Gbr. 155
teleskop ditempatkan terpisah dari
Gambar 154. Kesalahan sumbu vertikal.
sumbu vertikal sejauh R. Apabila
Karena kesalahan sumbu vertikal tak sasaran A dibidik dengan teleskop
dapat dihilangkan dengan merata- pada posisi normal, pembacaannya
ratakan dari observasi dengan adalah r dan pada posisi kebalikan,
teleskop dalam posisi normal dan pembacaannya adalah l. Apabila
6 Macam Sistem Besaran Sudut 175

sasaran B dibidik, pembacaannya 6. Kesalahan graduasi: kesalahan


masing-masing adalah r' dan l, Sudut graduasi umumnya dinyatakan
yang diperoleh dengan teleskop pada dengan deret Fourier. Apabila
posisi normal adalah a dan pada posisi kesalahan graduasi sudut adalah dș:
kebalikan adalah b. Sudut yang maka
dibentuk oleh A dan B adalah T.
dT a1 sin(T  c1 )  a 2 sin(2T  c 2 )  ..
T E D  b, T D E a n

¦a i sin(iT  ci ) ………………(6.9)
1 i 1
Jadi T (a  b)
2 Apabila graduasi dibaca pada sisi
Apabila sudut-sudut yang diukur yang berlawanan dengan 180° dan
dengan teleskop dalam posisi normal kedua harga tersebut dirata-ratakan,
dan posisi kebalikan, kemudian maka
dirata-ratakan, maka besarnya sudut
T dapat diketahui. dT  d (T  180 0 )
2
a 2 sin(2T  c 2 )  a 4 sin(4T  c 4 )  ..
Bagian-bagian bilangan ganjil pada
persamaan (6.9) dihilangkan. Apabila
hasil-hasil pengukuran di rata-rata
pada T dengan sudut 0°, 45°, 90° dan
135°, maka hanya tinggal bagian ke

Gambar 155. Kesalahan eksentris. delapan ke atas yang memungkinkan


penghapusan hampir semua
kesalahan graduasi biasa. Dalam
praktek di lapangan biasanya
dilakukan dengan merubah posisi
lingkaran graduasi seperti misalnya 0°
dan 90° atau 0°, 60° dan 120°.

Penyetelan theodolite

Pada bab sebelumnya telah diuraikan


bahwa kesalahan-kesalahan instrumen
Gambar 156. Kesalahan luar. umumnya dapat dihilangkan dengan
6 Macam Sistem Besaran Sudut 176

observasi-observasi melalui theodolit menyimpang, maka untuk


dengan teleskopnya dalam posisi menempatkan teodolit pada posisi yang
normal dan dalam posisi kebalikan. dikehendaki, dengan sekrup pengatur
Untuk angka kesalahan sumbu yang niveau diatur sedemikian sehingga
kecil, bagian berpangkat dua dari setengah simpangan dan setengahnya
persamaan-persamaan yang telah lagi diatur dengan sekrup-sekrup
diterangkan terdahulu dapat diabaikan, penyipat-datar.
akan tetapi pada kesalahan sumbu
dengan angka yang besar, maka
bagian yang berpangkat dua tersebut
harus diperhitungkan.
1. Penyetelan niveau pelat:
penyetelan ini adalah untuk Gambar 157. Penyetelan sekrup-sekrup
menempatkan agar sumbu tabung penyipat datar

gelembung dari pada niveau pelat


berada pada sudut-sudut siku-siku 2. Penyetelan benang silang :

terhadap sumbu vertikal. Apabila a. Penyetelan agar garis bujur benang


syarat ini terpenuhi sumbu vertikal silang tegak lurus sumbu vertikal :
dapat ditempatkan pada posisi yang Titik sasaran sejauh kira-kira 50 meter
betul-betul vertikal. Apabila teodolit dibidik dengan teleskop yang
telah dipasang, gelembung niveau pelat digerakkan secara vertikal sedikit
ditempatkan pada posisi di tengah- demi sedikit dengan hanya memutar
tengah dengan mengatur sekrup- sekrup tangens vertikal dan semua
sekrup penyipat datar A dan B (Gbr. sekrup-sekrup masing-masing bagian
157). Selanjutnya gelembung niveau dikencangkan. Apabila garis bujur
yang tegak lurus terhadapnya benang silang tidak tegak lurus
ditempatkan pula pada posisi di sumbu horizontal, tempat kedudukan
tengah-tengah dengan sekrup C. Pelat sasaran tidak akan berhimpit dengan
atas teodolit diputar 180° dan posisi garis bujur benang silang (Gbr. 158).
gelembung pada niveau dibaca. Apabila Pada keadaan ini, bingkai benang
gelembung niveau tetap berada di silang harus diputar untuk
tengah-tengah berarti sumbu niveau penyesuaian.
sudah tegak lurus terhadap sumbu
vertikal. Apabila gelembung
6 Macam Sistem Besaran Sudut 177

tidak berhimpit, posisi pusat benang


silang ditandai dengan B2. B1 dan B2
dihubungkan menjadi satu garis lurus
dan titik pada 1/4 B2B1 dari B2 ke B1
ditandai dengan C. Penyetelan
dilakukan dengan sekrup pengatur
Gambar 158. Penyetelan benang silang
(Inklinasi). horizontal benang silang untuk
menempatkan pusat benang silang
b. Penyetelan agar garis kolimasi tegak pada C. Penempatan 1/4 B 2B1
lurus sumbu horizontal: theodolite dilakukan seperti yang tertera pada
ditempatkan pada sebuah lapangan Gbr. 158.
yang datar, sehingga dapat
diletakkan sasaran-sasaran masing-
masing 50 m dari kedua sisinya.
Sebuah sasaran ditempatkan pada
sebuah sisi di titik A dan pada sisi
yang lain ditempatkan sebuah pelat
di titik B, tetapi titik A dan titik B
mempunyai jarak yang sama Gambar 159. Penyetelan benang silang
(Penyetelan garis longitudinal).
terhadap teodolit tersebut. Mula-
mula A dibidik dengan teleskop c. Penyetelan sumbu horizontal:
dalam posisi normal dan dengan setelah menyetel sumbu vertikal,
teleskop dalam posisi kebalikan suatu titik yang jelas pada tempat
diputar mengelilingi sumbu yang tinggi dibidik dan teleskop
horizontal, sedang posisi pusat diputar mengelilingi sumbu
benang silang ditandai pada horizontal untuk membidik tanah.
permukaan pelat sebagai B1. Posisi pusat benang silang ditandai
Kemudian dengan teleskop dalam dengan titik A. Dengan membalik
posisi kebalikan, A dibidik dan teleskop, P dibidik lagi. Kemudian
teleskop dibalik lagi memutari teleskop diputar untuk membidik titik
sumbu horizontal mencapai posisi tanah B dan apabila titik B berhimpit
normal. Apabila pusat benang silang dengan A maka tidak diperlukan
berhimpit dangan B 1, maka penyetelan. Apabila tidak berhimpit,
penyetelan tidak diperlukan. Apabila titik C sebagai titik tengah AB dibidik
6 Macam Sistem Besaran Sudut 178

dan kemudian dengan teleskop Apabila ternyata gelembung


diarahkan ke P, sedang penyetelan menyimpang, maka penempatan
dilakukan dengan menggunakan gelembung agar berada di tengah-
sekrup horizontal untuk tengah dengan sekrup pengatur
menempatkan pusat benang silang niveau. Apabila niveau ketinggian
berhimpit dengan P (Gbr.160). tidak terdapat pada teodolit, posisi
vernir harus diatur dengan
mengoreksi pembacaan-pembacaan
untuk konstanta ketinggian.

f. Penyetelan agar garis kolimasi


teleskop pada alat penegak optik
berhimpit dengan sumbu vertikal:
Setelah teodolit disipat-datarkan,
Gambar 160. Penyetelan sumbu horizontal. alat ini diputar mangelilingi sumbu
vertikal setiap 90° untuk menggeser
d. Penyetelan sipat datar teleskop: alat penegak optik dan posisi-posisi
penyetelan ini diadakan agar sumbu sentris dari pada benang silang
kolimasi sejajar dengan sumbu ditandai pada selembar kertas yang
niveau dan harus sesuai dengan diletakkan di atas tanah di tengah-
"metode pengaturan patok" (peg tengah statif. Setiap dua titik yang
adjusment method). berhadapan 180° dihubungkan
e. Penyetelan posisi vernir duri pada dengan garis dan penyetelan
lingkaran graduasi vertikal: suatu dilakukan agar pusat benang silang
sasaran tertentu diobservasi dengan teleskop terletak pada titik potong.
teleskop dalam posisi normal dan Apabila alat penegak optik tidak
posisi kebalikan untuk memperoleh dapat digerakkan mengitari sumbu
kesalahan duga (fiducial error) atau vertikal digantungkan unting-unting
konstanta garis ketinggian (periksa dan diatur agar pusat benang silang
metode observasi sudut vertikal). alat penegak optik berhimpit
Pada teodolit dengan niveau dengannya.
ketinggian, maka pengaturan harus
diadakan dengan sekrup tangens
tabung tersebut untuk mengoreksi
pembacaan konstanta ketinggian.
6 Macam Sistem Besaran Sudut 179

Metode-metode observasi sudut horizontal Contoh pencatatan ke dalam buku


lapangan dapat dilihat pada Tabel 11
1. Pengukuran sudut tunggal dan
Pengukuran r A , r B , lB dan lA disebut
jumlah observasi: Gbr. 160
satu seri pengukuran. Untuk
menunjukkan suatu contoh
menambah jumlah seri pengukuran
pengukuran sebuah sudut 0 dengan
guna meningkatkan ketelitiannya,
membidik A dan B dari titik observasi
penempatan posisi lingkaran
0 Prosedurnya adalah sebagai
graduasi harus sesuai dengan tabel
berikut:
15.
a.Memasang dan menyipat-datarkan
teodolit pada titik O.
b.Membidik sasaran A dengan tepat
dan mengencangkan sekrup klem.
Menyetel lingkaran graduasi pada
kira-kira angka 0°.
c. Menempatkan sasaran pada pusat
Gambar 161. Pengukuran sudut tunggal.
benang silang teleskop dengan
memutar sekrup tangens 2. Pengukuran sudut dengan repetisi :
horizontal. Pengukuran sudut dengan repetisi
d.Membaca lingkaran graduasi hanya dapat dilakukan dengan
horizontal ... observasi A dengan teodolit tipe sumbu ganda dan dapat
teleskop dalam posisi normal (rA) ... mengurangi pengaruh kesalahan
Pembacaan permulaan. pembacaan meskipun dengan
e.Kendorkan sekrup klem dan bidik teodolit bergraduasi horizontal yang
sasaran B dengan tepat, kasar. Untuk mengukur sudut dalam
Kencangkan kembali sekrup klem. berbagai arah, cara ini akan
f. Teleskop dibalik dan bidikan kea membutuhkan waktu yang lama, jadi
rah B, graduasi dibaca … hanya efektif untuk pengukuran sudut
observasi B dengan teleskop tunggal seperti misalnya pengukuran
dalam posisi kebalikan (lB) jaring-jaring. Prosedur repetisi sudut
g.Teleskop diputar ke arah A, bidik n kali adalah sebagai berikut:
dan baca graduasinya ... observasi a. Menempatkan lingkaran graduasi
A dengan teleskop dalam posisi tepat pada posisi 0° sedang
kebalikan (lA). teleskop dalam posisi normal.
6 Macam Sistem Besaran Sudut 180

b. Mengencangkan klem atas dan c. Membidik berturut-turut C, D dan E


mengendorkan klem bawah. dengan cara yang sama dan
Membidik A dengan memutar pelat membaca graduasi masing-masing
bawah untuk membaca D0 . sasaran tersebut.
d.Kemudian membidik E, D, C, B dan A
c. Mengencangkan pelat bawah dan
dengan teleskop dalam posisi
mengendorkan klem atas membidik
kebalikan dan membaca graduasinya.
B dengan memutar pelat atas

untuk membaca D1 ( D1 adalah Rangkaian observasi di atas dinamakan


satu seri observasi. Di mana perlu,
untuk mengontrol).
jumlah seri observasi dapat ditambah.
d. Mengendorkan pelat bawah dan
Dan Tabel 15 menunjukkan contoh
memutar pelat atas yang sudah
pencatatan metode arah tersebut.
kencang untuk membidik A lagi.
e. Dengan pelat bawah dikencangkan, 4. Metode sudut: observasi untuk arah
membidik B dengan memutar pelat yang banyak, tetapi dengan
atas. pengukuran sudut tunggal disebut
f. Mengulangi pekerjaan d) dan e) n metode sudut. (periksa-Gbr. 163),
kali untuk membaca Dn . Metode sudut umumnya digunakan

g. Melakukan observasi yang sama untuk observasi yang teliti tetapi metode

dengan teleskop dalam posisi ini dianggap tidak efisien.

kebalikan. 5. Limitasi penggunaan angka-angka hasil


observasi, sudut ganda dan perbedaan:
3. Metode arah: metode ini digunakan
apabila observasi dilakukan untuk arah dianjurkan agar mengambil jumlah dari
rangkaian angka-angka observasi yang
yang banyak seperti tampak pada Gbr.
162 dan prosedurnya adalah sebagai logis serta sistematis dan tidak

berikut: menggunakan angka-angka lainnya


dengan kesalahan tak disengaja yang
a.Membidik A dengan tepat dengan
terlalu besar. Dalam pengukuran sudut
teleskop dalam posisi normal dan
horizontal, perbedaan sudut ganda dan
tempatkan lingkaran graduasi
perbedaan observasi ditentukan dan
mendekati angka 00, dan membaca
dihitung seperti yang tertera pada
graduasinya.
Tabel 16.
b.Membidik ke arah B dan membaca
graduasinya.
6 Macam Sistem Besaran Sudut 181

Yang dimaksud dengan perbedaan sehingga observasi pada saat-saat


sudut ganda dan perbedaan observasi tersebut haruslah tidak dilaksanakan.
adalah sebagai berikut: apabila Prosedur observasi sudut vertikal
kesalahan kwadrat rata-rata dari pada adalah sebagai berikut:
pembidikan untuk satu titik-a dan
a.Menyipat-datarkan theodolit.
kesalahan kwadrat rata-rata
b.Mengendorkan sekrup horizontal dan
pembacaan skala-b, maka kesalahan
sekrup vertikal dan mengarahkan
kwadrat rata-rata M untuk observasi
sasaran ke dalam bidang
satu arah adalah: M r a b .
2 2
pandangan dengan teleskop dalam
Karena observasi diadakan dalam dua posisi normal.
arah untuk pengukuran satu sudut, c. Mengencangkan sekrup horizontal
kesalahan kwadrat rata-rata untuk dan sekrup vertikal.
observasi satu sudut adalah d.Menempatkan gelembung niveau
observasi sudut vertikal di tengah-
M r 2a 2  2b 2 . Karena itu
tengah.
kesalahan kwadrat rata-rata yang
e.Mengatur sekrup tangens vertikal
termasuk dalam sudut ganda dan
untuk menempatkan sasaran pada
perbedaan bidikan/pembacaan adalah
garis h or i z on t a l b e n a ng s i l a n g .
r a b .
2 2 2
Mengenai kesalahan f. Membaca graduasi dengan vernir
sistimatis telah diuraikan pada point vertikal.
6.4.3. Hal-hal tersebut di atas dapat g.Membalikkan teleskop dan kemudian
disusun seperti yang tertera pada mengulangi lagi urutan langkah
Tabel 6.6. Karena perbedaan sudut tersebut di atas.
ganda hanya meliputi kesalahan Adapun urutan langkah-langkah b)
graduasi, maka limitasinya lebih sedikit sampai dengan g) adalah merupakan
dari pada perbedaan observasi. satu seri observasi. Dewasa ini, telah
6. Metode observasi sudut vertikal dan mulai dipasarkan alat koreksi otomatis
konstanta-konstanta ketinggian untuk posisi pembuat tanda indeks
seperti yang tertera pada Gbr. 163 dan
- Metode obervasi sudut vertikal: pada
cara pengerjaannya sedikit agak
umumnya sulit untuk mengukur sudut
berbeda. Tabel 17 menunjukkan contoh
vertikal dengan sasaran yang jauh,
pencatatan data-data hasil pengukuran.
karena kondisi udara yang tidak stabil,
terutama pada pagi dan malam hari,
6 Macam Sistem Besaran Sudut 182

- Konstanta ketinggian: metode (r  l )


D  90 0
perhitungan sudut elevasi dan 2
konstanta ketinggian W tergantung dari W = 2S = r+ l = 360°.
pembagian skala lingkaran graduasi W = 2S disebut konstanta ketinggian
vertikal serta cara p e m as a ng an - atau perbedaan titik nol dan
p em as a ngan t el es k o p dan senantiasa tetap konstan walaupun
l i ngk ar an g r adu as i v ertik a l n y a. sasaran berubah kecuali apabila
B e rik ut i ni adalah contoh pembacaan instrumen diatur kembali. Karenanya
r dan l dengan teleskop dalam posisi perbedaan harga-harga W yang
normal dan posisi k ebal ikan. diperoleh dari pembacaan r dan l
a. G br. 164 : menunjukkan variasi kesalahan yang
Graduasi 0° o 90° o 180° o 270° tak disengaja terutama dengan
o 360°, posisi teleskop normal, kesalahan pembidikan, kesalahan
horizontal, 0°. pembacaan dan kesalahan sentris dari
r = 360° - D +S l = 180°+ D +S pada niveau sudut elevasi dan
180  ( r  l ) (r  l ) perbedaan harga-harga W tersebut
? 90 
2 2 digunakan sebagai dasar dalam
W = 2S = (r + l) - 540°. penentuan angka-angka ukur.

b. G br. 165 :
Graduasi 180° m 90° m 0° o 90°
o 180°, posisi teleskop horizontal,
90°.
r= D + S, l = 180° - D S
r l
90 0 
2
W = 2 + 180° = r - l.

c. G br. 166 :
Graduasi 0° o 90° o 180° o 270°
o 360', posisi teleskop normal,
Gambar 162. Metode arah
horizontal, 90°.
r = 90° - D + S, l = 270° + D+S
6 Macam Sistem Besaran Sudut 183

Gambar 163. Metode sudut. Gambar 164. Koreksi otomatis untuk sudut elevasi

Tabel 14. Buku lapangan untuk pengukuran sudut dengan repitisi.

Tabel 15. Metode perhitungan perbedaan sudut ganda dan perbedaan observasi.
6 Macam Sistem Besaran Sudut 184

Tabel 16. Arti dari perbedaan sudut ganda dan perbedaan observasi.

Tabel 17. Buku lapangan sudut vertikal.

Gambar 164. Koreksi otomatis untuk sudut elevasi


6 Macam Sistem Besaran Sudut 185

Gambar 165. Metode pengukuran sudut vertikal (1).

Gambar 167. Metode observasi sudut vertika (3)l

Gambar 166. Metode observasi sudut vertikal (2)


6 Macam Sistem Besaran Sudut 186

Model DiagramModel
Alir IlmuDiagram
Ukur TanahAlir
Pertemuan ke-09
Macam Sistem Besaran Sudut
Macam
Dosen Penanggung Jawab :Sistem Besaran Muda
Dr.Ir.Drs.H.Iskandar Sudut
Purwaamijaya, MT

Pengukuran Sudut

Pengukuran & Pemetaan Horisontal Pengukuran & Pemetaan Vertikal


Poligon, Tachymetri Trigonometris

Pengukuran & Pemetaan Kerangka Pengukuran & Pemetaan Titik-Titik


Pengikatan Ke Muka, Pengikatan ke Detail
Belakang, Poligon Tachymetri

Sistem Besaran Sudut

Seksagesimal Sentisimal Desimal


Radian
(Degree) (Grid)

g, c, cc
o, ', "
phi radian 0,000000
(Grid, Centigrid,
(Derajat, Menit, Second)
Centicentigrid)

1 putaran = 400 grid


1 putaran = 360 derajat 1 putaran =
1 grid = 100 centigrid
1 derajat = 60 menit 2.phi.radian = 1 putaran = 360
1 centigrid = 100
1 menit = 60 second 2 . 22/7 . radian
centicentigrid

Konversi Sudut Konversi Sudut


x derajat/y grid = 360 / 400 x radian/y desimal = 2.phi / 360
x derajat = 360 / 400 . y grid x radian = 2.phi / 360 . y desimal
y grid = 400 / 360 . x derajat y desimal = 360 / 2.phi. x radian

Sin, Cos, Tgn (dihitung dalam Sin, Cos, Tgn (dihitung dalam
sistem degree) sistem degree)

Gambar 168. Diagram alir macam sistem besaran sudut


6 Macam Sistem Besaran Sudut 187

Rangkuman

Berdasarkan uraian materi bab 2 mengenai teori kesalahan, maka dapat


disimpulkan sebagi berikut:

1. Sistem besaran sudut pada pengukuran dan pemetaan dapat terdiri dari:
a. Sistem besaran sudut seksagesimal
Sistem besaran sudut ini disajikan dalam besaran derajat, menit dan sekon.
b. Sistem besaran sudut sentisimal
Sistem besaran sudut ini disajikan dalam besaran grid, centigrid dan centi-centigrid.
c. Sistem besaran sudut radian
Sistem besaran sudut ini disajikan dalam sudut panjang busur. Sudut pusat di dalam
lingkaran yang mempunyai busur sama dengan jari-jari lingkaran adalah sebesar
satu radian
d. Sistem waktu (desimal)
Sistem waktu digunakan dalam pengukuran astronomi. Nilai sudut desimal maksimal
adalah 360.
2. Dasar untuk mengukur besaran sudut ialah lingkaran yang dibagi dalam empat bagian,
yang dinamakan kuadran.
a. Cara seksagesimal membagi lingkaran dalam 360 bagian yang dinamakan derajat,
sehingga satu kuadran ada 90 derajat. Satu derajat dibagi dalam 60 menit dan satu
menit dibagi lagi dalam 60 sekon.
1o = 60’ 1’ = 60” 1o = 3600”
b. Cara sentisimal membagi lingkaran dalam 400 bagian, sehingga satu kuadran
mempunyai 100 bagian yang dinamakan grid. Satu grid dibagi lagi dalam 100 centigrid
dan 1 centigrid dibagi lagi dalam 100 centi-centigrid.
1g = 100c 1c = 100cc 1g = 10000cc
c. Sudut pusat di dalam lingkaran yang mempunyai busur sama dengan jari-jari lingkaran
adalah sebesar satu radian.
2 S r = 2S rad.

d. Hubungan antara satuan cara seksagesimal dan satuan cara sentisimal dapat dicari
dengan dibaginya lingkaran dalam 360 bagian cara seksagesimal dan dalam 400
bagian cara sentisimal, jadi :
3600 = 400g
6 Macam Sistem Besaran Sudut 188

Soal Latihan

Jawablah pertanyaan-pertanyaan dibawah ini !

1. Diketahui sudut-sudut :
S1 = 78049’40”
S2 = 3150 51’16”
S3 = 177002’08”
Gantilah sudut-sudut ini ke dalam harga sentisimal dan radian!
2. Diketahui sudut-sudut :
S4 = 46g, 2846
S5 = 117g, 0491
S6 = 297g, 2563
Gantilah sudut-sudut ini ke dalam harga seksagesimal dan radian!
3. Sebutkan tahapan-tahapan yang harus ditempuh ketika akan menggunakan alat ukur
theodolite Boussole?
4. Sebutkan fungsi bagian-bagian utama dari theodolite?
5. Sebutkan kesalahan-kesalahan pada instrumen dan cara-cara meniadakannya?
7 Jarak, Azimuth dan Pengikatan ke Muka 189

7. Jarak, Azimuth dan Pengikatan ke Muka

7.1 Jarak pada survei dan Cara pengukuran jarak horizontal yang
pemetaan sederhana pada daerah miring adalah
sebagai berikut. Untuk jarak pendek
Mengukur jarak adalah mengukur panjang
dilakukan dengan merentangkan pita dan
penggal garis antar dua buah titik tertentu.
menggunakan waterpass sehingga
Penggal garis ini merupakan sambungan
mendekati horizontal. Untuk jarak yang
penggal-penggal garis lurus yang lebih kecil.
panjang dilakukan secara bertahap. Jarak
Pengukuran jarak adalah penentuan jarak
horizontal A - D adalah d1 + d2 + d3.
antara, dua titik di permukaan bumi,
biasanya yang digunakan adalah jarak Untuk daerah datar, pengukuran jarak tidak
horizontalnya atau pekerjaan pengukuran mengalami masalah. Namun ada kalanya
antara dua buah titik baik secara langsung pada daerah yang datar terdapat hambatan.
maupun tidak langsung yang dilaksanakan Hambatan ini terutama terjadi pada daerah
secara, serentak atau dibagi menjadi datar yang memiliki garis ukur yang
beberapa bagian, yaitu jarak horizontal dan panjang, yaitu adanya obyek penghalang
jarak miring. seperti sungai atau kolam. Membuat garis
tegak lurus terhadap garis ukur pada titik A
Jarak horizontal adalah jarak yang apabila
sehingga diperoleh garis AC. Menempatkan
diukur maka perbedaan tingginya adalah 0.
titik D tepat ditengah-tengah AC. Kemudian
Sedangkan jarak miring adalah hasil
menarik garis dari B ke D hingga di bawah
pengukurannya melibatkan kemiringan.
titik C. Kemudian membuat garis tegak lurus
Perlu Anda ketahui bahwa jarak yang dapat
ke bawah terhadap garis AC dari titik C,
digambarkan secara langsung pada peta
sehingga terjadi perpotongan (titik E).
adalah jarah horizontal, bukan jarak miring.
Jarak antara dua buah titik di bidang datar
Oleh karena itu, jarak horizontal AB yang
(2 dimensi) dapat diketahui dengan cara
akan digambarkan pada peta.
akar dari pertambahan selisih kuadran absis

an
B dengan selisih kuadrat ordinat kedua titik
miring tersebut. Tahap-tahap Pengukuran Jarak
ke
ak
Jar dan Arah Berikut ini, adalah tahap-tahap
.
A B’ yang harus Anda lakukan dalam memetakan
Jarak Horizontal
suatu wilayah dengan alat bantu meteran
Gambar 169. Pengukuran Jarak
dan kompas.
7 Jarak, Azimuth dan Pengikatan ke Muka 190

Misalnya, kita akan memetakan suatu jalur diproyeksikan terlebih dahulu pada suatu
jalan A – B bidang referensi.
a. Lakukan pengukuran garis-garis ukur
pokok, meliputi ukur pokok ditunjukkan
7.1.1. Pengklasifikasian Pengukuran
oleh garis 1 - 2, 2 - 3, 3 - 4, dan 4 - 5.
Jarak
Azimuth magnetis diukur dari utara
a. Pengukuran jarak langsung
magnetis (UM) ke garis pokok.
Pengukuran jarak langsung biasanya
b. Apabila di sepanjang jalur jalan tersebut
menggunakan instrument atau alat ukur
terdapat obyek, seperti bangunan,
jarak langsung, misalnya pita ukur
pagar, atau aliran sungai, maka objek
langkah, alat ukur jarak elektronik dan
tersebut dapat dipetakan dengan cara
lain-lain. Alat-alat yang digunakan dalam
mengukur jarak tegak lurus dari titik
pengukuran jarak secara langsung
pada garis ukur pokok ke titik yang
diantaranya adalah : Kayu ukur, Rantai
mewakili obyek tersebut. Garis ini
ukur.
disebut offset. Pada contoh di bawah ini,
terdapat obyek rumah di pinggir garis Syarat pengukuran dengan rantai ukur :

ukur pokok 1 - 2. Lihat gambar. 1. Jika panjang satu jalur melebihi


panjang rantai, maka jalan rantai
tersebut ditandai dengan batang
penentu yang berwarna terang
2. Jalur-jalur rantai menjangkau
daerah-daerah yang penting
lainnya.
3. Titik yang diukur saling terlibat.
Gambar 170. Lokasi Patok 4. Tim minimum 2 orang

Pada gambar 171 offset 01, 02, 03, 04 dan  Mistar,

05 dibuat tegak lurus terhadap garis ukur  Pita ukur metalik,


dari titik A ke titik A'. panjang offset 02  Pita ukur serat-serat gelas,
diukur dari titik a ke titik a', dan seterusnya.  Pita ukur dari baja,
 Pita ukur invar,
Reduksi jarak ukur pada suatu bidang
 Roda ukur,
referensi. sebelurn digunakan, biasanya
 Speedometer,
suatu jarak ukur (measured distance),
(umumnya berupa jarak miring)
7 Jarak, Azimuth dan Pengikatan ke Muka 191

pada pekerjaan sipat datar. Pada


hakekatnya sangatlah sukar untuk
mempertahankan jarak langkah yang
tetap dan pengalaman menunjukkan
bahwa untuk jarak ukur 100 m seorang
petugas yang berpengalamann pun
dapat membuat kesalahan sampai
beberapa meter.
Gambar 171. Spedometer
b. Pita Ukur. Dewasa ini pita ukur (tapes)
 Curvimeter dan, digunakan dalam pekerjaan pengukuran
 Pedometer jarak biasa. Tipe yang banyak

b. Pengukuran jarak tidak langsung digunakan adalah pita ukur fiber, pita

Pengukuran ini biasanya menggunakan ukur baja, dan pita ukur invar (invar

instrument ukur jarak tachymetry dan adalah bahan campuran tahan panas

metode optic. terdiri dari baja dan nikel).

Pengukuran jarak tidak langsung ada Pita Ukur fiber. Yang termasuk tipe ini

beberapa macam diantaranya adalah pita ukur yang terbuat dari serat

pengukuran jarak dengan kira-kira. Cara rami dan diperkuat dengan anyaman

ini dapat menggunakan langkah dan kawat halus, pita ukur yang terbuat dari

menggunakan skala pada peta. campuran serat rami dan serta katun
dan pita ukur yang terbuat dari
Tujuan yang akan dicapai dalam
campuran serat gelas dan kimia.
pengukuranjarak adalah membuat garis
Biasanya pita ukur ini dibungkus dengan
yang benar-benar lurus sehingga
semacam lapisan cat, di atas mana
jaraknya dapat diukur dengan pasti.
angka-angka/tanda-tanda graduasi
ditempatkan. Kelebihan-kelebihan dari
7.1. 2. Bebagai macam instrumen ukur
pita ukur ini adalah sifatnya yang ringan,
jarak dan cara penggunaanya
tidak mudah bengkok serta mudah
a. Langkah. Karena ketelitiannya yang
pemakaiannya terutama pita ukur serat
rendah, dewasa ini langkah (pacing)
gelas. Akan tetapi, kelemahannya yang
hanya digunakan untuk membantu
paling mencolok adalah sangat mudah
penempatan instrumen sipat datar di
memuai dan menyusut, akibat pengaruh
tengah-tengah antara dua buah rambu
kelembaban udara. Dengan demikian,
7 Jarak, Azimuth dan Pengikatan ke Muka 192

tidak dapat digunakan untuk d. Instrumen yang menggunakan


pengukuran teliti. Dimensi pita ukur gelombang-gelombang elektromagnetik
biasanya adalah dengan panjang 10 m, Instrumen pengukuran jarak elektronik
20 m, 30 m, 50 m dan seterusnya dan saat ini telah digunakan untuk mengukur
dengan graduasi 5 mm lebar jarak langsung dengan tepat.
pitaumumnya 16 mm.
7. 2. Azimuth dan Sudut Jurusan
Pita ukur baja umumnya mempunyai
ketelitian yang lebih tinggi dari pita ukur
Azimuth ialah besar sudut antara utara
fiber dan ketahannyapun cukup lama.
magnetis (nol derajat) dengan titik/sasaran
Karenanya pita ukur tipe ini
yang kita tuju, azimuth juga sering disebut
dipergunakan untuk pengukuran teliti,
sudut kompas, perhitungan searah jarum
misalnya pengukuran untuk
jam. Ada tiga macam azimuth yaitu :
pelaksanaan konstruksi dan
penempatan titik-titik kontrol. Pita ini a) Azimuth Sebenarnya, yaitu besar sudut
terbuat dari baja karbon atau baja anti yang dibentuk antara utara sebenarnya
karat yang dibungkus dengan cat putih, dengan titik sasaran;
cat metalik atau cat-cat berwarna b) Azimuth Magnetis, yaitu sudut yang
lainnya. dibentuk antara utara kompas dengan
titik sasaran;
Pita ukur invar biasanya digunakan
c) Azimuth Peta, yaitu besar sudut yang
untuk mengukur garis basis dimana
dibentuk antara utara peta dengan titik
kesalahan relatif yang diizinkan hanya
sasaran.
sebesar 1/500.000 – 1/1.000.000.
Back Azimuth adalah besar sudut
c. Instrumen pengukuran jarak yang
kebalikan/kebelakang dari azimuth. Cara
didasarkan pada metode optik. Metode
menghitungnya adalah bila sudut azimuth
dimana suatu jarak antara dua buah titik
lebih dari 180 derajat maka sudut azimuth
diukur secara tidak langsung disebut
dikurangi 180 derajat, bila sudut azimuth
Tachymetri. Pada prinsipnya metode ini
kurang dari 180 derajat maka sudut azimuth
dilakukan dengan penempatan sebuah
dikurangi 180 derajat, bila sudut azimuth =
instrumen ukur jarak pada ujung titik
180 derajat maka back azimuthnya adalah 0
permulaan dan instrumen tersebut
derajat atau 360 derajat. Azimuth adalah
diarahkan pada titik sasaran yang
suatu sudut yang dimulai dari salah satu
ditempatkan pada ujung lainnya.
ujung jarum magnet dan diakhiri pada ujung
7 Jarak, Azimuth dan Pengikatan ke Muka 193

objektif garis bidik yang besamya sama menggunakan kompas maka perlu diberikan
dengan angka pembacaan. Azimuth suatu penjelasan bahwa utara yang digunakan
garis adalah sudut antara garis meridian dari adalah utara magnetis.
garis tersebut, diukur searah dengan jarum
Contoh:
jam, biasanya dari titik antara garis meridian
Azimuth Magnetis AB (Az, AB) = 70°
(dapat pula dari arah selatan). Besarnya
Azimuth Magnetis AC (Az, AC) = 310°
sudut azimuth antara 0 – 360 derajat.

Arah orientasi merupakan salah satu unsur


utama dalam proses pengukuran untuk
membuat peta, khususnya peta umum.
Pada umumnya setiap peta merniliki arah
utama yang ditunjukkan ke arah atas
(utara). Terdapat 3 (tiga) arah utara yang
sering digunakan dalam suatu peta.

a. Utara magnetis, yaitu utara yang


menunjukkan kutub magnetis.
b. Utara sebenarnya (utara geografis), atau
utara arah meridian.
C. Utara grid, yaitu utara yang berupa garis Gambar 172. Pembagian kuadran azimuth

tegak lurus pada garis horizontal di


Azimuth dapat diperoleh dengan cara arcus
peta.
tangent dari pembagian selisih absis
Ketiga macam arah utara itu dapat berbeda terhadap selisih ordinat. Besarnya sudut
pada setiap tempat. Perbedaan ketiga arah azimuth tersebut berrgantung dari nilai
utara ini perlu diketahui sehingga tidak positif atau negatifnya selisih absis atau
terjadi kesalahan dalam pembacaan arah ordinat.
pada peta. Arah utara magnetis merupakan
1. Jika selisih absis bernilai positif dan
arah utara yang paling mudah ditetapkan,
selisih ordinatnya bernilai positif maka
yaitu dengan pertolongan kompas
azimuth berada di kuadran I yang
magnetik. Perbedaan sudut antara utara
nilainya sama dengan sudut tersebut.
magnetis dengan arah dari suatu obyek ke
2. Jika selisih absis bernilai positif dan
tempat obyek lain searah jarum jam disebut
selisih ordinat bernilai negatif maka
sudut arah atau sering disebut azimuth
azimuth berada di kuadran II yang
magnetis. Pada peta yang dibuat dengan
7 Jarak, Azimuth dan Pengikatan ke Muka 194

nilainya sama dengan 180 dikurangi berada di kuadran empat yang nilai
sudut tersebut . sudutnya sama dengan 360° dikurang besar
sudut tersebut.
3. Jika selisih absis bernilai negatif dan
selisih ordinat bernilai negatif maka Selain dari jarak informasi yang lain yang
azimuth berada di kuadran III yang dapat diketahui dari dua buah titik yang
nilainya sama dengan 180 ditambah sudah diketahui koordinatnya yaitu Azimuth
sudut tersebut. atau sudut jurusan. Maka sudut jurusan AB
4. Jika selisih absis berniali negatife dan yang didapat dari titik A (Xa,Ya) dan B
selisih ordinat bernilai positif maka (Xb,Yb) dapat dicari dengan persamaan
azimuth berada di kuadran IV yang sebagai berikut:
nilainya sama dengan 360 dikurangi
besar sudut tersebut. Xb  Xa
DAB Tan 1
Yb  Ya
Penggunaan azimuth

Azimuth dapat diperoleh dengan cara arcus Setelah alat ukur B.T.M diukur, sehingga
tangen dari pembagian selisih absis bagian-bagian yang penting berada di dalam
terhadap selisih ordinat. Besarnya sudut keadaan yang baik dan sebelum alat ukur
jurusan atau azimuth tersebut bergantung apakah yang dibaca pada lingkaran
pada nilai positif atau negatifnya selisih mendatar dan pada lingkaran tegak. Pada
absis atau ordinat. Jika selisih absis bernilai lingkaran tegak diukur sudut-sudut miring
positif dan selisih ordinat bernilai positif yang besarnya sama dengan pembacaan
maka azimuth berada di kuadran satu yang pada skala lingkaran tegak dengan
nilainya sama dengan besar sudut tersebut. menggunakan nonius. Pada lingkaran
Jika selisih absis bernilai positif dan selisih mendatar tidaklah ada nonius untuk
ordinat bernilai negatif maka azimuth berada melakukan pembacaan pada skala lingkaran
di kuadran dua yang nilainya sama dengan mendatar.
180° dikurang besar sudut tersebut. Jika
Dilakukan pada ujung utara lingkaran jarum
selisih absis bernilai negatif dan selisih
magnet yang berada di cos D
ordinat bernilai negatif maka azimuth berada
bersama-sama dengan skala lingkaran
di kuadran tiga yang nilai sudutnya sama
mendatar.
dengan 180° ditambah besar sudut tersebut.
dan jika selisih absis bernilai negatif dan Yang dibaca pada lingkaran mendatar
selisih ordinat bernilai positif maka azimuth adalah suatu sudut yang dinamakan
azimuth yaitu suatu sudut yang dimulai dari
7 Jarak, Azimuth dan Pengikatan ke Muka 195

salah satu ujung jarum magnet da diakhiri menghubungkan dua buah tititk P1 dan P2
pada ujung objektif garis bidik dan besarnya di atas permukaan bumi dinyatakan dengan
sama dengan angka pembacaan. Menurut azimuth. Azimuth diukur degan metode
ketentuan di atas azimuth harus dimulai dari astronomis dengan menggunakan alat-alat
salah satu ujung magnet sedangkan dua seperti jarum magnet, gyrocompas, dll.
ujung dan sudut azimuth dapat diputar dari Pengukuran azimuth diadakan untuk
kiri kekanan atau dari kanan ke kiri, maka menghilangkan kesalahan akumulatif pada
didapatlah 2x2 = 4 macam azimuth yang sudut-sudut terukur dalam jaringan
biasa disebut bearing. triangulasi atau dalam pengukuran jaring-
jaring, penentuan azimuth untuk titik-titik
3 Cara menentukan macam azimuth
kontrol yang tidak terlihat serta dengan
1. Tentukan garis skala yang berimpit
lainnya, penentuan sumbu X untuk kordinat
dengan ujung Utara jarum magnet.
bidang datar pada pekerjaan pengukuran
Angka pada garis skala ini menentukan
yang bersifat lokal.
besarnya suatu busur yang dimulai dari
garis nol skala dan diakhiri pada angka Macam – macam azimuth
itu. 1. Azimuth kompas
2. Tentukan busur yang besarnya Dalam pekerjaan pengukuran yang
dinyatakan oleh angka pembacaan sederhana, maka pengukuran azimuth
3. Carilah suatu sudut yang dimulai dari awal ataupun akhirnya hanya dilakukan
salah satu ujung jarum magnet dan dengan menggunakan alat penunjuk
yang diakhiri pada ujung objektif yang arah Utara (kompas). Umumnya
sama besarnya dengan busur lingkaran azimuth magnetis jenis ini dikenal
yang dinyatakan oleh pembacaan. dengan nama sudut jurusan. Untuk
4. Cara pernutaran sudut itu. merupakan maksud tersebut pengukuran dilakukan
macam azimuth. skala lingkaran hanya pada satu sisi poligon saja
mendatar turut berputar dengan (2 sisi poligon lebih baik). Prosedur
teropong dan jarum magnet tetap pengukuran adalah sebagai berikut :
kearah Utara - Selatan magnetis.
¾ Memasang dan mendatarkan
Mengetahui arah sebuah garis yang theodolite pada salah satu titik
menghubungkan dua buah titik P1 dan P2 di poligon.
atas permukaan bumi adalah hal yang ¾ Menempatkan lingkaran graduasi
0
terpenting dalam pengukuran. Pada pada 0 00’00’’, kemudian klem atas
umumnya arah sebuah garis yang dikencangkan (pada titik B).
7 Jarak, Azimuth dan Pengikatan ke Muka 196

¾ Klem bawah dibuka, maka arahkan 2. Azimuth matahari


teropong kearah utara dengan Pada prinsipinya pengukuran tinggi
bantuan kompas yang telah matahari yang dilakukan adalah untuk
diletakkan pada sisi teodolite, lalu menentukan azimuth matahari ( a ) pada
klem bawah dikencangkan dan klem saat pembidikan tinggi ( t ) dilakukan
atas dibuka. Mengukur tinggi matahari dengan
¾ Bidikan teropong diarahkan ke salah melakukan penadahan bayangan matahari
satu titik poligon lain yang satu sisi pada selembar kertas. Dari hubungan
dengan tempat berdiri alat, misal A segitiga diatas, kutub utara dan matahri
dan catat lingkaran graduasinya. pada saat tertentu akan didapatkan
Maka diperoleh azimuth di titik B hubungan matematis di atas permukaan
terhadap titik A. Cara dalam bola langit sebagai berikut:
menentukan azimuth tadi, dapat cos(90 0  G ) sin h sin - +cosh cos -
pula dilakukan dengan cara Repetisi
cosa Apabila lintang diketahui secara
agar diperoleh hasil yang teliti.
pendekatan (umumnya cukup hasil
Untuk melengkapi pengukuran
interpolasi dari peta topografi) dan harga
sudut ini dengan segala
deklinasi matahari dapat dicari tabel
kelengkapannya, maka selanjutnya
matahari, maka dengan mudah segera akan
akan diturunkan penentuan azimuth
didapatkan harga azimuth matahri (a).
kontrol dengan mengukur tinggi
Dengan mempunyai harga sudut mendatar
matahari.

kutub utara equator

timur

selatan
utara

barat

kutub selatan
bola langit

Gambar 173. Azimuth Matahari


7 Jarak, Azimuth dan Pengikatan ke Muka 197

antara matahari dan target , maka : mendatar matahari, Arah mendatar


A=a+s ke target di ujung sisi lainnya.
Prosedur pengukurannya dapat dilakukan ¾ Dari tabel deklinasi matahari untuk

dengan berbagai cara, hal ini disebabkan tahun yang bersangkutan dapat
ditentukan dapat ditentukan deklinasi
¾ Mengukur matahari dengan memakai
matahari pad saat terbidik (pencarian
filter khusus pada lensa objektifnya.
dilakukan dengan argumen waktu ( t )
¾ Mengukur tinggi matahari dengan
yang di dapat dari hasil pengkuran.
memakai prisma roelofs.
¾ Carilah nilai lintang dari peta topografi
Dengan memilih salah satu peralatan dan dengan cara melakukan interpolasi.
mengukur waktu pengukran (t), maka dapat ¾ Hitung besarnya azimuth matahari
ditentukan harga deklinasi matahari dari dengan rumus :
tabel matahari yang selalu dikeluarkan cos(90  G ) sin h sin - + cos h
setiap tahun oleh Jawatan Topografi Darat cos cos a
ataupun Jurusan Geodesi ITB dan dapat ¾ Hitung besarnya sudut mendatar
dimiliki olehmu. antara matahari dan target.
Prosedurnya adalah sebagai berikut : Maka azimuth sisi didapat dengan
memakai rumus A = a + s.
¾ Atur kedudukan alat pada titik dari sisi
yang akan ditentukan azimuthnya.
7. 3. Tujuan Pengikatan Ke Muka
¾ Tempatkan filter atau prisma roelofs di
muka lensa objektif apabila
penadahan bayangan yang dilakukan, Pengikatan ke muka adalah suatu metode
maka lakukan pemfokuskan lensa pengukuran data dari dua buah titik di
untuk tak hingga ke arah bukan lapangan tempat berdiri alat untuk
matahari. memperoleh suatu titik lain di lapangan
¾ Setelah matahari dekat sasaran tempat berdiri target (rambu ukur/benang,
(benang silang), persiapkan penunjuk unting–unting) yang akan diketahui
tanda waktu yang telah dibicarakan koordinatnya dari titik tersebut. Garis antara
dengan tanda waktu yang benar . kedua titik yang diketahui koordinatnya
¾ Tepat matahari memasuki benang dinamakan garis absis. Sudut dalam yang
silang, catat : Waktu, Tinggi, Arah dibentuk absis terhadap target di titik B
dinamakan sudut beta. Sudut beta dan alfa
diperoleh dari lapangan.
7 Jarak, Azimuth dan Pengikatan ke Muka 198

Pada metode ini, pengukuran yang dari azimuth titik A terhadap titik B
dilakukan hanya pengukuran sudut. Bentuk ditambahkan 180 dan ditambahkan
yang digunakan metode ini adalah bentuk terhadap sudut beta. Jarak A terhadap
segitiga. Akibat dari sudut yang diukur target dan B terhadap target diperoleh dari
adalah sudut yang dihadapkan titik yang rumus perbandingan sinus. Jarak A
dicari, maka salah satu sisi segitiga tersebut terhadap target sama dengan perbandingan
harus diketahui untuk menentukan bentuk jarak absis dibagi sudut 1800 dikurang D
dan besar segitiganya. dan E dikalikan dengan sinus E. Jarak B

P terhadap target sama dengan perbandingan


jarak basis dibagi sinus sudut 1800 dikurang
D dan E dikalikan dengan sudut D.
¾ Mencari koordinat P dari titik A :
Xp = Xa + da . Sin ap
D
Yp = Ya + da . Cos ap
A (Xa,Ya) ¾ Mencari koordinat C dari titik B:
E
Xp = Xb + dbp . Sin bp
B (Xb,Yb) Yp = Yb + dbp . Cos bp

Gambar 174. Pengikatan Kemuka


Koordinat target dapat diperoleh dari titik A
dan B. Absis target sama dengan jarak A
Pada pengolahan data, kita mencari terlebih terhadap target dikalikan dengan sinus
dahulu jarak dengan rumus akar dan azimuth A terhadap target kemudian
penjumlahan selisih absis dan selisih ditambahkan dengan absis titik A. Ordinat
ordinat. target sama dengan jarak A terhadap target
dikalikan dengan cosinus azimuth A
dab ( xb  xa) 2 ( yb  ya) 2
terhadap target kemudian ditambahkan
Azimuth titik A terhadap B kita cari dengan
dengan ordinat titik A. Absis target sama
rumus arcus tangen pembagian selisih absis
dengan jarak B terhadap target dikalikan
dan ordinat .
dengan sinus azimuth B terhadap target
Xb  Xa
Tgn -1 DAB kemudian ditambahkan dengan absis titik B
Yb  Ya terhadap target kemudian ditambahkan
Azimuth titik A terhadap target kita peroleh
dengan ordinat titik B. Nilai koordinat target
dari azimuth basis dikurang sudut alfa.
merupakan nilai koordinat yang diperoleh
Azimuth titik B terhadap target kita peroleh
dari titik A dan B.
7 Jarak, Azimuth dan Pengikatan ke Muka 199

Hitungan dengan logaritma


7. 4. Prosedur Pengikatan Ke Muka
a. Mencari sudut jurusan
Diketahui bahwa :
Titik P diikat pada titik A (Xa, Ya) dan B(Xb, Tg Įab= (Xb – Xa) : (Yb - Ya)
Yb), diukur sudut-sudut alfa dan beta yang = (Xb – Xa) : sin Įab
terletak pada titik A dan titik B. Dicari absis = (Yb-Ya) : cos Įab
X dan ordinat Y titik P. Carilah selalu lebih
b. Xp dan Yp dicari dari titik A :
dahulu sudut jurusan dan jarak yang
diperlukan Įap dan dap
diperlukan. Koordinat-koordinat titik P akan
dap : sin ȕ = dab : sin {(1800 – (Į + ȕ)}
dicari dengan menggunakan koordinat-
Atau
koordniat titik-titik A dan B sehingga akan
d ab
didapat dua pasang X dan Y yang harus dap= sin E m sin E
sin(D  E )
sama besarnya, kecuali perbedaan kecil
antara dua hasil hitungan. Diperlukan lebih d ab
Bila m
dahulu sudut jurusan dan jarak yang tentu sin(D  E )
sebagai dasar hitungan. Setelah Įap dan dap diketahui, maka
Xp = Xa + dap sin Įap
Yp = Ya + dap cos Įap

c. Xp dan Yp dicari dari titik B,


diperlukan Įbp dan dbp
Diketahui bahwa Įba = Įab + 1800
karena sudut jurusan dan arah yang
berlawanan berselisih 1800,
selanjutnya dapat dilihat dari
gambar bahwa Įbp = (Įba + ȕ) – 3600
= Įbp = (Įab + ȕ) – 1800. Dengan
rumus sinus di dalam segitiga ABP
didapat :
dbp : sin Į = dab : sin {1800 – (Į+ȕ)}
Gambar 175. Pengikatan ke muka atau dbp = m sin Į
Mka didapatlah :
Xp = Xb + dbp sinD bp
Yp = Yb + dbp cos D bp
7 Jarak, Azimuth dan Pengikatan ke Muka 200

d. Hitungan dilakukan berturut-turut Ya = + 963, 84


dengan rumus-rumus : Yb = - 144,23
Tg D ab = (Xb – Xa) : (Yb – Ya) E = 62038’42’’
dab = (Xb – Xa) : sin Įab
Catatan pada contoh :
= (Yb – Ya) : cos Įab
D ap = Įab - Į Hitungan dilakukan dengan cara logaritmis

m = dab : sin (Į + ȕ) dan untuk hitungan digunakan suatu formulir

dap = m sin ȕ supaya hitungan berjalan dengan rapi dan

Xp = Xa + dap sinD ap teratur dan bila ada kesalahan dapat

= Ya + dap cos D ap
dengan mudah diketemukan.
Yp
ǹbp = m sin Į Formulir dibagi dalam dua bagian, bagian
Xp = Xb + dbp sinD bp atas diisi dengan angka-angka sebenarnya

Yp = Yb + dbp cos D bp dan bagian bawah diisi dengan harga-harga

Contoh : A = Xa = - 1. 246, 78 logaritma angka-angka itu.

B = Xb = +1091, 36
0 ’ ’’
Į = 56 15 16
Tabel 18. Daftar Logaritma
7 Jarak, Azimuth dan Pengikatan ke Muka 201

Empat lajur pertama kedua bagian Kalau yang akan dicari koordinat-koordinat
digunakan untuk menghitung angka-angka titk P sebagai titik nomor 2, maka X2 = Xp
yang diperlukan untuk menghitung dan Y2 = Yp.
koordinat-koordinat, sedangan dua lajur
Dan titik A (Xa,Ya) dan titik B (Xb,Yb)
terakhir digunakan untuk menghitung sudut-
digunakan sebagai titik-titik pengikat, maka
sudut yang diperlukan.
untuk titik A berlaku X1 = Xa dan Y1 = Ya.
Lajur-lajur yang bernomor ganjil menyatakan Dan untuk titik B berlaku X1 = Xb danY1=Yb.
besaran-besaran dengan huruf, sedangkan Maka dengan titik A sebagai titik pengikat
lajur lainnya yang bernomor genap memuat x p  xa
terdapat tgD ap
besarnya besaran-besaran itu dengan y p ya
angka.
Dan dengan titik B sebagai titik pengikat
Dari kumpulan rumus terbukti bahwa lebih x p  xb
dahulu harus dicari Įab dan dab dengan didapat : tgD bp
y p  yb
menggunakan selisih absis dan selisih
Dengan menguraikan kedua persamaan di
ordinat titik-titik A dan B; xb – xa dan yb – ya.
atas, didapat :
maka pada lajur 1 dan lajur 3 bagian atas
ditulis dengan xb dan yb, sekarang tidak ( y p  y a )tgD ap X p  Xa
ditulis dengan segera di bawahnya xa dan ya ( y p  y b )tgD bp X p  Xb
untuk dapat mengurangi xb dengan xa atau
y p tgD ap  y a tgD ap X p  Xa
karena nanti diperlukan untuk mencari
koordinat-koordinat titik P yang dicari dari y p tgD bp  y b tgD bp X p  Xb
koordinat-koordinat titik B karena. Karena
xp = xb + dbp sin Įbp dan yp = yb + dbp cos Įbp.
Salah satu dari dua anu xp dan yp haruslah
langsung di bawah xb dan yb ditulis dbp sin bp
dihilangkan supaya mendapat satu
dan dbp cosĮbp dan dibawahnya lagi ruang
persamaan dengan satu anu. Maka dengan
untuk xp dan yp.
mengambil 3, 4 kolom hilangkan dengan
mudah xp. 3, 4 memberi satu persamaan
Hitungan dengan kalkulator
dengan satu anu yp = yp
Rumus umum yang akan digunakan Tg Įap – ya tg Įap – yp tg Įbp + yb tg Įbp =
adalah xb – xa
x 2  x1 Atau yp (tg Įap – tg Įbp) = ( xb – xa) + ya
tgD 12
y 2  y1 tg Įap – yb tg Įb
7 Jarak, Azimuth dan Pengikatan ke Muka 202

Atau Dengan mudah dapat ditentukan untuk P


( xb  x a )  y a tgD ap  y b tgD bp terletak di sebelah selatan garis AB :
Yp Įap = Įab + Į dan Įbp = Įab + 180 – ȕ
tgD ap  tgD bp
Sudut-sudut Į dan ȕ adalah sudut-sudut
Setelah yp diketahui, maka dari 1
yang berada di titik-titik pengikat A (Xa,,Ya)
didapat;
dan B (Xb,Yb).
(yp – ya) tg Įap = xp – xa
Hitungan berjalan sebagai berikut :
Atau xp = xa + (yp – ya) tg Įap
- Tentukan dengan rumus tg Įab =
Tinggal dua besaran yang harus dicari
Xb  Xa
untuk menghitung xp dan yp dari 6 dan 5 sudut Įab diketahui.
Yb  Ya
kolom ialah Įap dan Įbp.
Įap dan Įbp ditentukan dengan - Tentukan Įap Įbp adalah :

menggunakan Įab dari garis AB dengan Įap = Įab - Į dan Įbp = Įab + 180 – ȕ

titik A (xa,ya) dan titik B (xb,yb) untuk titik P terletak di sebelah utara

Maka tg Įab garis AB


- Tentukan Yp dengan rumus :
xb  x a
tg D ab ( X b  X a )  Ya tgD ap  Yb tgD bp
yb  y a Yp
tgD ap  tgD bp
Untuk titik P terletak di sebelah utara garis
AB maka Įab = Įab - Į dan Įbp = Įab + 180 + Xp X a  (Y p  Ya )tgD ap
ȕ

Gambar 176. Pengikatan ke Muka


7 Jarak, Azimuth dan Pengikatan ke Muka 203

7. 5. Pengolahan Data Pengikatan Ke


Muka

Gambar 177. Pengikatan ke Muka


A : Xa = - 2206, 91 D bp 180 o  E
Ya = + 1563, 58
137 o 38'24"  180 o  74 o10'34"
B : Xb = + 3148, 26
Yb = -4309,31
243o 29'28"
0
Į = 55 10 34
’ ’’ x a  xb  y a tgD ap  y b tgD bp
yp
o
ȕ = 74 08’56” tgD ap  tgD ap  tgD bp
Hitungan dengan kalkulator
3148,26  2206,91  (1563,58)(0,227 )  (4309,31)(2,00491)
X 2  X1
tg D ab (0,22749 )  ( 2,00491)
Y 2  Y1
 3.148,26  (2.206,91) = - 8073,86

 4.309,31  1563,58 xp x a  y p tgD ap  y a tgD ap


 5.355,17 = -2.206,91 + (-8.073,86)(0,22749)-
0,91184
 5.872,89 (1563,58)(0,22749)
= - 4.399,33
D ab 137 o 38'24"
D ap D ab  D 137 o 38'24"  55 o10'34"

192 o 48'58"
7 Jarak, Azimuth dan Pengikatan ke Muka 204

Tabel 19. Hitungan dengan cara logaritma


7 Jarak, Azimuth dan Pengikatan ke Muka 205

Model DiagramModel
Alir IlmuDiagram
Ukur TanahAlir
Pertemuan ke-06
Jarak, Azimuth dan Pengikatan Ke Muka
Jarak, Azimuth
Dosen Penanggung dan Pengikatan
Jawab : Dr.Ir.Drs.H.Iskandar KePurwaamijaya,
Muda Muka MT

Pengukuran Kerangka Dasar Horisontal


Titik Tunggal

Diikat oleh 2 Titik Ikat


Menggunakan Alat Theodolite (Benchmark)
A (Xa, Ya) ; B (Xb, Yb)

Pengukuran Pengikatan Ke Muka

Alat Theodolite berdiri di atas


Benchmark A dan B dan dibidik ke titik C

Sudut Alfa dan Beta

dab (Jarak ab) = [(Xb-Xa)^2+(Yb-Ya)^2]^0.5

Alfa ac = fungsi (Alfa ab ; Alfa)


= Alfa ab - Alfa
Alfa bc = fungsi (Alfa ba ; Beta)
= Alfa ba + Beta - 360 Alfa ab = Tan^-1 [(Xb-Xa)/(Yb-Ya)]

dbc = dab/sinus(180-Alfa-Beta).sinus Alfa


dac = dab/sinus(180-Alfa-Beta).sinus Beta

Xc(a) = Xa + dac . sin Alfa ac Xc(b) = Xb + dbc . sin Alfa bc


Yc(a) = Ya + dac . cos Alfa ac Yc(b) = Yb + dbc . cos Alfa bc

Xc = [ Xc(a) + Xc(b) ] / 2
Yc = [ Yc(a) + Yc(b) ] / 2

Gambar 178. Model Diagram Alir Jarak, Azimuth dan Pengikatan Ke Muka
7 Jarak, Azimuth dan Pengikatan ke Muka 206

Rangkuman

Berdasarkan uraian materi bab 7 mengenai jsrsk, azimuth, dan pengikatan ke muka,
maka dapat disimpulkan sebagi berikut:

1. Mengukur jarak adalah mengukur panjang penggal garis antar dua buah titik tertentu.
2. Jarak horizontal adalah jarak yang apabila diukur maka perbedaan tingginya adalah 0.
Sedangkan jarak miring adalah hasil pengukurannya melibatkan kemiringan.
3. Klasifikasi pengukuran jarak :
a. Pengukuran jarak langsung
b. Pengukuran jarak tidak langsung
4. Alat-alat yang digunakan dalam pengukuran jarak secara langsung diantaranya adalah :
a. Mistar;
b. Pita ukur metalik;
c. Pita ukur serat-serat gelas;
d. Pita ukur dari baja;
e. Pita ukur invar;
f. Roda ukur; dan
g. Speedometer.
5. Azimuth ialah besar sudut antara utara magnetis (nol derajat) dengan titik/sasaran yang
kita tuju, azimuth juga sering disebut sudut kompas, perhitungan searah jarum jam.
6. Back Azimuth adalah besar sudut kebalikan/kebelakang dari azimuth.
7. Macam-macam azimuth yaitu :

a. Azimuth Sebenarnya, yaitu besar sudut yang dibentuk antara utara sebenarnya
dengan titik sasaran;
b. Azimuth Magnetis, yaitu sudut yang dibentuk antara utara kompas dengan titik
sasaran;
c. Azimuth Peta, yaitu besar sudut yang dibentuk antara utara peta dengan titik
sasaran.
8. 3 (tiga) arah utara yang sering digunakan dalam suatu peta.

a. Utara magnetis, yaitu utara yang menunjukkan kutub magnetis.


b. Utara sebenarnya (utara geografis), atau utara arah meridian.
c. Utara grid, yaitu utara yang berupa garis tegak lurus pada garis horizontal di peta.
7 Jarak, Azimuth dan Pengikatan ke Muka 207

Soal Latihan

Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini !

1. Jelaskan pengertian jarak !


2. Mengapa pengukuran jarak dengan menggunakan langkah kurang efektif ? Jelaskan !
3. Sebutkan dan jelaskan macam-macam dari azimuth !
4. Sebutkan dan jelaskan tujuan dari metode pengikatan ke muka !
5. Carilah koordinat titik P ditinjau dari titik A dan titik B dengan menggunakan
perhitungan secara logaritmis dan kalkulator dengan data-data di bawah ini :
A: Xa = - 2206, 91
Ya = + 1563, 58
B: Xb = + 3148, 26
Yb = -4309,31
Į = 55010’34’’
ȕ = 74o08’56”
8 Cara Pengikatan ke Belakang Metode Collins 208

8. Cara Pengikatan ke Belakang Metode Collins

Pada materi sebelumnya telah dibahas Pengikatan ke belakang, dilakukan pada


mengenai sistem koordinat dan cara saat kondisi lapangan tidak memungkinkan
menentukan titik koordinat dengan menggunakan pengukuran pengikatan ke
pengikatan ke muka. Bab selanjutnya muka, dikarenakan alat theodolite tidak
membahas mengenai cara menentukan titik mudah untuk berpindah-pindah posisi, dan
koordinat dengan pengikatan ke belakang. kondisi lapangan yang terdapat rintangan.

Perbedaan cara pengikatan ke muka dan ke


belakang dalam menentukan suatu titik
koordinat adalah data awal yang tersedia,
prosedur pengukuran di lapangan serta
keadaan lapangan yang menentukan cara
mana yang cocok digunakan.

Pada pengikatan ke muka dapat dilakukan


apabila kondisi lapangan memungkinkan
untuk berpindah posisi pengukuran yaitu
pada daerah-daerah yang mudah seperti Gambar 180. Kondisi alam yang dapat dilakukan

pada dataran rendah yang mempunyai cara pengikatan ke belakang

permukaan datar, sehingga keadaan


Terdapat perbedaan pada gambar 179 dan
lapangan tersebut dapat memungkinkan
180, yaitu kondisi lapangan yang menjadi
dilakukan pengikatan ke muka.
lokasi pengukuran. Pada gambar 180
menunjukan daerah dataran yang lebih
cocok menggunakan pengukuran cara
pengikatan ke muka karena theodolite
dengan mudah dapat berpindah-pindah dari
titik satu ke titik yang lain. Gambar 180
menunjukan adanya rintangan berupa
sungai yang menyulitkan dalam pekerjaan
pengukuran, sehingga diperlukan cara
pengikatan ke belakang, apabila akan
Gambar 179. Kondisi alam yang dapat dilakukan
mengukur titik yang terpisah rintangan
cara pengikatan ke muka
tersebut.
8 Cara Pengikatan ke Belakang Metode Collins 209

Data awal yang diperlukan pada pengikatan Pada pengikatan ke belakang, harus
ke muka adalah 2 titik koordinat yang telah terdapat 3 titik awal yang diketahui,
diketahui, misalkan titik tersebut adalah titik misalnya titik-titik tersebut adalah A, B, dan
A dan B , sedangkan titik yang akan dicari C. prosedur pengukuran di lapangan alat
adalah titik P, sehingga alat theodolite theodolite hanya diletakan di titik yang akan
dipasang di dua titik yaitu titik A dan B dicari koordinatnya, misalnya titik tersebut
kemudian diukur berapa besar sudut adalah titik P kemudian diukur sudut-sudut
D yang dibentuk oleh titik P dan B ketika mendatar yang dibentuk oleh 3 titik
berada di titik A begitupula pada sudut E. koordinat yang telah diketahui yaitu sudut

Sudut yang dibentuk ditunjukan pada D dan E seperti pada gambar 182.

gambar 181.
Terdapat 2 macam cara yang dapat dipakai
dalam menentukan titik koordinat dengan
P cara pengikatan ke belakang, yaitu cara
pengikatan ke belakang metode Collins dan
cara pengikatan ke belakang metode
Cassini.

D Cara pengikatan ke belakang metode


Collins merupakan cara perhitungan
A (Xa,Ya)
E dengan menggunakan logaritma, karena

B (Xb,Yb) pada saat munculnya teori ini belum


terdapat mesin hitung atau kalkulator tetapi
Gambar 181. Pengikatan ke muka pada saat ini pada proses perhitungannya
dapat pula dihitung dengan bantuan
kalkulator.
A (Xa,Ya) B (Xb,Yb)
Cara pengikatan ke belakang metode
Cassini muncul pada tahun 1979, pada saat
itu teknologi mesin hitung sudah mulai
C (Xc,Yc)
berkembang, sehingga dalam proses
D E perhitungannya lebih praktis, karena telah
dibantu dengan menggunakan mesin hitung.
P
Cara pengikatan ke belakang metode

Gambar 182. Pengikatan ke belakang


Cassini dibahas lebih lanjut pada bab 9.
8 Cara Pengikatan ke Belakang Metode Collins 210

apa yang dapat dipakai sesuai dengan


8.1.Tujuan cara pengikatan ke kondisi alam tersebut.
belakang metode Collins

Cara pengikatan ke belakang metode


Collins merupakan salah satu model
perhitungan yang berfungsi untuk
menentukan suatu titik koordinat, yang
dapat dicari dari titik-titik koordinat lain yang
sudah diketahui, dengan cara pengikatan ke
belakang.
Gambar 183. tampak atas permukaan bumi
Metode ini di temukan oleh Mr.Collins tahun
1671. Pada saat itu alat hitung masih belum Seperti dalam menentukan koordinat pada
berkembang sehingga menggunakan tempat yang terpisah oleh jurang atau
bantuan logaritma dalam perhitungannya. sungai yang lebar, dimana titik koordinat di
Oleh karena itu cara pengikatan ke seberangnya telah diketahui.
belakang yang dibuat oleh Collins dikenal
Untuk mengatasi masalah tersebut, seorang
dengan nama metode logaritma. Akan tetapi
surveior dapat menggunakan cara
pada pengolahan data perhitungan pada
pengikatan ke belakang metode Collins
saat ini, dapat dibantu dengan mesin
yang dapat dihitung dengan bantuan
hitung atau kalkulator, sehingga lebih
logaritma atau kalkulator, sehingga
mudah dalam pengolahannya.
koordinat dari titik yang terpisah oleh sungai
Dalam pelaksanaan pekerjaan survei atau atau jurang tersebut dapat ditentukan.
pengukuran tanah di lapangan biasanya
terdapat kendala-kendala yang dihadapi,
diantaranya adalah keadaan alam dan
kontur permukaan bumi yang tidak
beraturan. Bentuk permukaan bumi seperti
ditunjukan pada gambar 183.

Terdapat berbagai kondisi alam seperti


bukit, lembah, sungai, gunung dan lain
sebagainya pada permukaan bumi.
Gambar 184. Pengukuran yang terpisah sungai
sehingga dapat ditentukan jenis pengukuran
8 Cara Pengikatan ke Belakang Metode Collins 211

Setiap peralatan dan bahan yang digunakan


8.2. Peralatan, bahan dan mempunyai fungsi masing-masing dalam
prosedur pengikatan ke
belakang metode Collins pemanfaatannya pada pengikatan ke
belakang cara Collins, antara lain :

Dalam pelaksanaan pekerjaan pengukuran Theodolite, adalah alat yang digunakan


tanah dan pengolahan data, diperlukan untuk membaca sudut azimuth, sudut
sejumlah prosedur yang harus dipenuhi dan vertikal dan bacaan benang atas, bawah
apa saja yang harus dipersiapkan, hal dan tengah dari rambu ukur. Pada
tersebut perlu dilakukan sehingga setiap penentuan koordinat cara Collins alat ini
tahapan menjadi lebih terarah dan jelas. digunakan untuk mengukur besaran sudut
Begitupula pada pekerjaan penentuan titik datar yang dibentuk dari titik koordinat yang
koordinat cara pengikatan ke belakang. akan dicari titik-titik lain yang telah diketahui
koordinatnya.
Terdapat peralatan dan perlengkapan yang
diperlukan pada saat pengukuran di
lapangan. dan langkah pengolahan data
hasil pengukuran di lapangan. Peralatan,
bahan dan prosedur dalam penentuan titik
cara pengikatan ke belakang metode Collins
dijelaskan sebagai berikut :

8.2.1. Peralatan dan bahan

Peralatan yang digunakan pada


pengukuran pengikatan ke belakang cara
Collins seperti peralatan yang digunakan Gambar 185. Alat Theodolite
pada umumnya dalam pekerjaan
Rambu ukur, digunakan sebagai patok
pengukuran dan pemetaan, antara lain
yang diletakan di titik-titik yang telah
sebagai berikut :
diketahui koordinatnya untuk membantu
a. Theodolite, dalam menentukan besaran sudut yang
b. Rambu ukur, dibentuk dari beberapa titik yang telah
c. Statif, diketahui koordinatnya, sehingga pada
d. Unting-unting, keperluan pengukuran ini tidak diperlukan
e. Benang, data pada rambu ukur seperti benang
f. Formulir ukur dan alat tulis. tengah, benang atas, dan benang bawah.
8 Cara Pengikatan ke Belakang Metode Collins 212

Unting-unting, dipasang tepat di bagian


bawah alat theodolite, sehingga
penempatan alat theodolite tepat berada di
atas permukaan titik yang akan dicari
koordinatnya. Terdapat berbagai bentuk
yang tetapi memiliki fungsi yang sama.

Gambar 186. Rambu ukur

Statif, digunakan sebagai penopang dan


tempat diletakannya theodolite. Ketinggian
Gambar 188. Unting-unting
statif dapat diatur dengan cara mengatur
skrup yang ada di bagian bawah setiap kaki 8.2.2 Pengukuran di Lapangan
statif, setelah disesuaikan tingginya yang
Dimisalkan terdapat suatu lokasi
disesuaikan dengan orang yang akan
pengukuran tanah, seperti terlihat pada
menggunakan alat theodolite, putar skrup
gambar. akan ditentukan koordinat suatu
sehingga kaki statif terkunci.
titik yang terpisah oleh sungai, titik tersebut
berada di bagian kiri sungai. sedangkan
beberapa titik di bagian kanan sungai telah
diketahui koordinatnya.

Gambar 187. Satitf

Gambar 189. Contoh lokasi pengukuran


8 Cara Pengikatan ke Belakang Metode Collins 213

Pada pelaksanaan di lapangan, sebelumnya mendatar yang dibentuk oleh garis AP dan
terdapat 3 titik yang telah diketahui berapa BP serta sudut yang dibentuk oleh garis PB
koordinat masing-masing. Misal titik-titik dan PC.
yang telah diketahui tersebut adalah titik A,
B, dan C.
Akan dicari suatu koordinat titik tambahan
diluar titik A,B, dan C untuk keperluan
tertentu yang sebelumnya tidak diukur,
misalkan titik tersebut adalah titik P, yang
terletak di seberang sungai.

A (Xa,Ya)
Gambar 191. Pemasangan Theodolite di titik P

B (Xb,Yb) Sudut yang dibentuk oleh garis PA dan PB


kita sebut sebagai sudut alfa (Į) sedangkan
P(Xp,Yp) sudut yang dibentuk oleh garis PB dan PC
kita sebut sudut beta (ȕ).
C (Xc,Yc)

Gambar 190. Penentuan titik A,B,C dan P


A (Xa,Ya)
Alat theodolite dipasang tepat diatas titik P
yang akan dicari koordinatnya, dengan cara
B (Xb,Yb)
dipasang pada bagian atas statif dan Į
P(Xp,Yp)
digantungkan unting-unting yang diikatkan ȕ
dengan benang pada bagian bawah
theodolite, sehingga penempatan theodolite C (Xc,Yc)

benar-benar tepat di atas titik P. Pasang


rambu ukur yang berfungsi sebagai patok Gambar 192. Penentuan sudut mendatar
tepat pada titik yang telah diketahui
koordinatnya yaitu titik A, B, dan C, Untuk menghitung titik koordinat dengan

sehingga terdapat 3 patok dan 2 ruang antar menggunakan pengikatan ke belakang cara

patok yaitu ruang AB dan BC. Baca sudut Collins, data yang diukur di lapangan adalah
8 Cara Pengikatan ke Belakang Metode Collins 214

besarnya sudut Į dan sudut ȕ. Koordinat titik x Bila ujung unting-unting belum tepat di
A, B, dan C telah ditentukan dari atas paku, maka geserkan alat dengan
pengukuran sebelumnya. Sehingga data membuka skrup pengencang alat,
awal yang harus tersedia adalah sebagai sehingga ujung unting-unting tepat di
berikut : atas paku dan piket.
x Gelembung pada nivo kotak kita
a. titik koordinat A ( Xa, Ya )
ketengahkan dengan menyetel ketiga
b. titik koordinat B ( Xb, Yb )
skrup penyetel.
c. titik koordinat C ( Xc, Yc )
d. besar sudut Į, dan x Setelah tahapan di atas telah dilakukan,

e. besar sudut ȕ alat theodolite siap untuk melakukan


pengamatan.
Cara pengaturan dan pemakaian alat
x Dengan membuka skrup pengencang
theodolite :
lingkaran horizontal dan vertikal arahkan
x Pasang statif dengan dasar atas tetap di
teropong ke titik yang dibidik dengan
atas piket dan sedatar mungkin
pertolongan visir secara kasaran,
x Keraskan skrup kaki statif kemudian skrup-skrup kita kencangkan
x Letakan alat theodolite diatasnya lalu kembali.
keraskan skrup pengencang alat x Jelaskan benang diafragma dengan
x Tancapkan statif dalam-dalam pada skrup pengatur benang diafragma
tanah, sehingga tidak mudah bergerak kemudian jelaskan bayangan dari titik
x Pasanglah unting-unting pada skrup yang dibidik dengan menggeser-
pengencang alat. geserkan lensa oculair.

Gambar 193. Pemasangan statif Gambar 194. Pengaturan pembidikan theodolite


8 Cara Pengikatan ke Belakang Metode Collins 215

x Dengan menggunakan skrup penggerak 8.2.3 Prosedur pengikatan ke belakang


halus horizontal dan vertikal, kita metode Collins
tepatkan target yang dibidik (skrup-
Dari data yang telah tersedia diantaranya
skrup pengencang horizontal dan
adalah koordinat titik A,B dan C, serta sudut
vertikal harus kencang terlebih dahulu).
Į dan ȕ yang diperoleh dari pengukuran di
x Setelah seluruh tahapan akhir telah
lapangan, selanjutnya menentukan daerah
dilakukan, maka pengukuran dapat
lingkaran yang melalui titik A, B dan P
dimulai.
dengan jari-jari tertentu, lingkaran tersebut
Pembacaan sudut mendatar merupakan suatu cara yang membantu
x Terlebih dahulu kunci boussole atau dalam proses perhitungan, yang pada
pengencang magnet kita lepaskan, kenyataanya tidak terdapat di lapangan. titilk
kemudian akan terlihat skala C berada di luar lingkaran, tarik garis yang
pembacaan bergerak; sementara menghubungkan titik P terhadap titik C.
bergerak tunggu sampai skala Sehingga garis PC memotong lingkaran, titik
pembacaan diam, kemudian kunci lagi. perpotongan itu kita sebut sebagai titik
x Pembacaan bersifat koinsidensi dengan penolong Collins yaitu titik H.
mempergunakan trombol mikrometer.
x (Berarti pembacaan dilakukan pada A (Xa,Ya)

angka-angka yang berselisih 180o atau


200gr)
P B (Xb,Yb)
x Pembacaan puluhan menit/ Centi grade
dan satuannya dilakukan pada trombol
mikrometer. H
C (Xc,Yc)
x Untuk pembacaan biasa, trombol
mikrometer berada sebelah kanan. Gambar 195. Penentuan titik penolong Collins

x Untuk pembacaan luar biasa ; trombol


Titik P kemudian kita cari dengan metode
berada di sebelah kiri. Untuk dapat
pengikatan ke muka melalui basis AB.
melihat angka-angka pembacaan pada
Perhitungan diawali terlebih dahulu dengan
keadaan biasa maupun luar biasa, kita
menghitung koordinat titik penolong H.
putar penyetel angka pembacaan
Setelah diketahui azimuth-azimuth lain
(angka pembacaan dapat diputar baik
maka kita akan memperoleh sudut bantu Ȗ.
menurut biasa/ luar biasa dengan
Dari rumus tersebut maka akan diperoleh
berselisih 180o atau 200gr )
8 Cara Pengikatan ke Belakang Metode Collins 216

azimuth AP dan BP. Jarak dap dan dbp di


peroleh melalui persamaan sinus sudut 8.3. Pengolahan data pengikatan
ke belakang metode Collins
terhadap jarak.

Titik P selanjutnya di peroleh melalui 8.3.1 Cara Perhitungan Secara Detail


pengikatan ke muka dari A dan B. dengan Titik P diikat dengan cara ke belakang pada
demikian hitungan Collins untuk mengikat titik A, B, dan C. Buatlah sekarang suatu
cara ke belakang di kembalikan ke hitungan lingkaran sebagai tempat kedudukan melalui
dengan cara ke muka yang harus di lakukan titik-titk A, B dan P hubungkanlah titik P
dua kali. Yaitu satu kali untuk mencari dengan titik C maka garis CP dimisalkan
koordinat-koordinat titik penolong Collins H memotong lingkaran tadi di titik H yang di
dan satu kali lagi untuk mencari koordinat- namakan titik penolong Collins.
koordinat titik P sendiri. Untuk menentukan
titik penolong Collins H dan titik yang akan A (Xa,Ya)

dicari yaitu titik P, dapat dicari baik dari titik


A atau titik B.
P
D
E B (Xb,Yb)
Koordinat target dapat di peroleh dari titik A
dan B. Absis target sama dengan jarak A
terhadap target dikalikan dengan sinus H

azimuth A terhadap target kemudian C (Xc,Yc)


ditambahkan dengan absis titik A. Ordinat
Gambar 196. Besar sudut Į dan ȕ
target sama dengan jarak A terhadap target
dikalikan dengan cosinus azimuth A Untuk menentukan koordinat-koordinat titik
terhadap target ditambahkan dengan ordinat H yang telah di gabungkan dengan titik
titik A. Absis target sama dengan jarak B tertentu C, tariklah garis AH dan BH. Maka
terhadap target dikalikan dengan sinus
sudut BAH = E dan sudut ABH sebagai
azimuth B terhadap target kemudian di
sudut segiempat tali busur dalam lingkaran
tambahkan dengan absis titik B. Ordinat
sama dengan 1800 - ( D + E ) dengan
target sama dengan jarak B terhadap target
dikalikan dengan cosinus azimuth B demikian sudut-sudut pada titik pengikat A

terhadap target kemudian di tambahkan dan B diketahui, hingga titik H diikat dengan

dengan ordinat titik B. Nilai koordinat target cara kemuka pada titik-titik A dan B.

merupakan nilai koordinat rata-rata yang di Sekarang akan dicari koordinat-koordinat

peroleh dari titik A dan B. titik P sendiri. Supaya titik P diikat dengan
8 Cara Pengikatan ke Belakang Metode Collins 217

cara ke muka pada titik A dan B, maka Maka koordinat titik H tersebut adalah
haruslah diketahui sudut BAP dan sudut Xh = Xa + dah sinD ah
ABP, ialah sudut-sudut yang ada pada titik Yh = Ya + dah cos D ah
yang telah tentu. Sudut ABP akan dapat di
hitung bila diketahui sudut BAP.
A (Xa,Ya) D ah

A (Xa,Ya)

dah
D B (Xb,Yb)
P E

H C (Xc,Yc) H (Xh,Yh)

Gambar 197. Garis bantu metode Collins Gambar 198. Penentuan koordinat H dari titik A

Untuk menentukan koordinat P dari A, B dan


D ah dapat dicari dengan rumus :
C dipergunakan metoda perpotongan ke
D ah = D ab + E seperti terlihat pada
belakang secara numeris Collins dan cara
gambar berikut :
grafis

Lingkaran melalui A, B dan P memotong A Įab


garis PC di H, yang selanjutnya disebut titik Įah

penolong Collins. Titik penolong Collins ini


ȕ
dapat pula terletak pada garis PB atau PA. B

Masing-masing lingkaran. dah

Melalui titik A, C dan P serta melalui titik B,


C dan P dengan data pada segitiga ABH
H
dapat dihitung.
Gambar 199. Menentukan sudut Įah
Titik A telah diketahui koordinatnya yaitu
( Xa,Ya ). Selanjutnya akan dicari koordinat Sedangkan sudut jurusan D ab sendiri dicari
titik H. Apabila jarak kedua koordinat dengan rumus :
tersebut adalah dah, dan sudut jurusan yang xb  x a
tgD ab
dibentuk oleh kedua titik tersebut adalah yb  y a
D ah.
8 Cara Pengikatan ke Belakang Metode Collins 218

Untuk mencari dah, diperlukan nilai dab


sehingga dah dapat ditentukan dengan B (Xb,Yb)
menggunakan perbandingan antara sinus D bh
sudut dengan garis sehadap sudut tersebut.

dbh
A

ȕ dab H (Xh,Yh)

B Gambar 201. Penentuan koordinat H dari titik B


dah o
180 -(ȕ+Į)
D bh dapat dicari dengan rumus :
Į
D bh = D ab + ( D + E ) seperti terlihat pada
H gambar berikut :

Gambar 200. Menentukan rumus dah

Dari gambar di atas dapat dijelaskan bahwa A

terdapat persamaan sebagai berikut : B


Įab
d ah d ab
Į+ȕ
sin ^180  (D  E )` sin D
dbh Įbh
Sehingga
d AB
d AH . sin ^180  D  E `
sin D H

Sedangkan dab dicari dengan rumus :


Gambar 202. Menentukan sudut Įbh
X b  X a
d ab Untuk mencari dbh, diperlukan nilai dab
sin D
Perhitungan diatas untuk menentukan titik H sehingga dbh dapat ditentukan dengan

yang dicari dari titik A, yang sebetulnya menggunakan perbandingan antara sinus

dapat pula dicari dari titik B, yaitu dengan sudut dengan garis sehadap sudut tersebut.

rumus :
Dari gambar berikut dapat dijelaskan bahwa
Xh = Xb + dbh sin D bh terdapat persamaan :
Yh = Yb + dbh cos D bh d bh d ab
sin E sin D
8 Cara Pengikatan ke Belakang Metode Collins 219

gambar berikut :

ȕ
dab A Įab
Ȗ Įap
B
180o-(ȕ+Į) B
P
Į dbh

H Gambar 205. Menentukan sudut Įap

Gambar 203. Menentukan rumus dbh mengikuti aturan sudut. Maka besarnya
sudut J sama dengan sudut BHC, seperti
Sehingga
terlihat pada gambar berikut ini
d ab
d bh . sin E
sin D
B
Setelah koordinat titik penolong Collins H
diketahui, selanjutnya menentukan koordinat
titik P, yang dapat dicari dari titik A maupun Įhb Įhc
H Ȗ
B.
Bila dicari dari titik A, maka rumusnya
adalah :
Xp = Xa + dap sinD ap
C
Yp = Ya + dap cos D ap
Gambar 206. Menentukan sudut Ȗ

A (Xa,Ya) Dari gambar diatas besar J dapat disusun


D ap dengan rumus
J = D hc - D hb
dap
P (Xp,Yp) D hb didapat dari D bh + 180o. Sedangkan
D hc didapat dari rumus berikut :
xc  x h
Gambar 204. Penentuan koordinat P dari titik A tgD hc
yc  yh
D ap dapat dicari dengan rumus :
D ap = D ab + J seperti terlihat pada
8 Cara Pengikatan ke Belakang Metode Collins 220

Kembali pada segitiga ABP, dap dapat


ditentukan dengan rumus
d ap A
d ab
sin J  D sin D
Sehingga BĮ
ab
P Į+Ȗ
. sin J  D
d ab
d ap
sin D Į bp

A Gambar 209. Menentukan sudut Įbp


Ȗ
dab
dap dbp dapat ditentukan dengan rumus
o(
180 ī+ Į ) d bp d ab
Į
P B
sin J sin D

Gambar 207. Menentukan rumus dap


Sehingga
d ab
Bila menentukan koordinat titik P dari titik B, d bp . sin J
sin D
mempunyai rumus sebagai berikut
Xp = Xb + dbp sinD bp
A
Yp = Yb + dbp cos D bp Ȗ
dab

180o ( ī+ Į )
Į
P dbp B
B (Xb,Yb)
dbp D bp
Gambar 210. Menentukan rumus dbp
P (Xb,Yb)
8.3.2 Langkah-Langkah Pekerjaan
Gambar 208. Penentuan koordinat P dari titik B
Menentukan D ab dan dab
D bp dapat dicari dengan rumus : D ab adalah sudut-sudut yang di bentuk
D bp = D ab + ( D + J ) seperti terlihat pada oleh garis penarikan titik AB dengan garis
gambar berikut : lurus yang di tarik dari koordinat A menuju
utara, yang di cari dengan rumus :
tg D ab = (xb - xa) : (yb - ya)
8 Cara Pengikatan ke Belakang Metode Collins 221

dab adalah jarak yang di bentuk oleh


dbh : sin E = dab : sin D
dbh = m sin E
penarikan koordinat A terhadap koordinat B
xh = xb + dbh sin D bh
yang dapat di ketahui dengan rumus yh = yb + dbh cos D bh
dab = (xb - xa) : sin D ab = (yb - ya) : cos D ab
Į adalah besar sudut yang dibentuk garis
Menentukan koordinat-koordinat titik BA dan PA merupakan komponen yang bisa
penolong mencari koordinat titik P, untuk mencari
Garis H merupakan garis penolong Collins besarnya Į harus di ketahui Į hc.
yang terbentuk dari perpotongan garis Menentukan D hc dan J
penarikan titik P terhadap titik C pada tg D hc = (xc - xb) : (yc - yh)
lingkaran yang dibentuk oleh titik P, A dan B
dengan dicarinya Į hc. Maka dapat di hitung
Untuk mencari titik koordinat H dapat dicari besarnya J
dengan 2 cara : J = D hc - D hb = D hc – ( D bh - 1800) =
H dicari dari titik A diperlukan D ah dan dah. D hc + 1800 - D bh
Untuk mengihitung koordinat titik H yang di Menentukan koordinat titik P
cari dari titik A diperlukan Įah dan dah. Įah Koordinat titik P dapat dicari dengan
merupakan sudut jurusan AH dan dah pengikatan terhadap titik A dan B, dimana
merupakan jarak yang dibentuk oleh garis perhitungan harus dicari terlebih dahulu
AH dicari dengan rumus: sudut-sudut yang terkait didalamnya.

D ah - D ab + E Dicari dari titik A diperlukan D ap dan D bp

dah : sin { 1800 –( D + E )} = dab : sin D D ap = D ab + J


d ap d ab
dah = m sin ( D + E)
sin 180 0  (D  J ) sin D
bila m = dab : sinD dap = m sin ( D + J )
xh = xa + dah sin D ah
xp = xa + dap sinD ap
yh = ya + dah cos D ah
yp = ya + dap cos D ap
Untuk mengihitung koordinat titik H yang di Dicari dari titik B diperlukan D bp dan dbp
cari dari titik B diperlukan Įbh dan dbh. Įah D bp = D ab ( D + J)
merupakan sudut jurusan BH dan dah
merupakan jarak yang dibentuk oleh garis
d bp d ab dbp = m sin J
sinJ sin D
BH dicari dengan rumus:
xp = xb + dbp sinD bp
D bh = D ab + ( D + E) yp = yb + dbp cos D bp
8 Cara Pengikatan ke Belakang Metode Collins 222

A Įah Įab
B
Ȗ į Įbh
ȗ

Į
Įph ȕ
P
Į
į Ȗ
H

C
Gambar 211. Cara Pengikatan ke belakang metode Collins

8.3.3 Contoh Soal (x b - x a )


D ab = tg-1 (y - y )
Contoh 1 b a

Hitunglah koordinat titik P ( Xp, Yp ) dengan (23.373,83 - 23.231,58)


pengikatan ke belakang cara Collins, = arctg (90.179,61 - 91.422,92)
dengan data sebagai berikut :
= - 6o31’37,07“
A : x = +23.231,58 Berada di kuadran 2 sehingga
y = + 91.422,92 D ab = 180o – Į
B : x = + 23.373,83 = 180o - 6o31’37,07“
y = +90.179,61 = 173 o 28’22,9“
C : x = + 24.681,92
(x b - x a )
y = + 90.831,87 dab =
sinD ab
Į = 64º47’03’’
ȕ = 87º11’28’’ (23.373,83 - 23.231,58)
=
sin 173 o 28'22,9“
Jawaban : = 1.251,42
Dengan bantuan mesin hitung Menentukan koordinat H dan P dari titik A

Menentukan Įab dan dab Menentukan Įah dan dah

tg D ab = (xb - xa) : (yb - ya) D ah = D ab + E = 173 o 28’22,9“ + 87º11’28’’


8 Cara Pengikatan ke Belakang Metode Collins 223

= 260 o 39’50,9” = - 42 o 22’39,61“


d ab
dah = sin D  E
sin D Menentukan Įap dan dap

1.251,42 D ap = D ab + Ȗ
= sin 64º4703  87º1128
sin 64º4703 = 173 o 28’22,9“ - 42 o 22’39,61“

= 649,91 = 131 o 5’43,29“

sin D  J
Sehingga koordinat H adalah; d ab
dap =
xh = xa + dah sin D ah sin D
= 23.231,58 + 649,91 sin 260 o 39’50,9” = 1.251,42 sin 64º4703  42 o 2239,61“
sin 64º4703
= 22.590,28
= 527,25252
yh = ya + dah cos D ah
Sehingga koordinat P adalah ;
= 91.422,92+ 649,91 cos 260 o 39’50,9”
= 91.317,48
xp = xa + dap sin D ap
= 23.231,58+527,25252 sin131o5’43,29“
Menentukan Įhc dan Ȗ
= 23.628,92
yp = ya + dap cos D ap
tg D hc = (xc - xb) : (yc - yh) o
= 91.422,92+527,25252 cos131 5’43,29“
(x c - x b ) = 91.076,349
D hc = arctg
(yc - y h )
Menentukan koordinat H dan P dari titik B
(24.681,92 - 22.590,28) Menentukan Įbh dan dbh
= arctg
(90.831,87 - 91.317,48) D bh = D ab + ( D + E )
= - 76o55’45,71”
=173 o 28’22,9“ + 89º11’28’’+ 64º47’03’’
Berada di kuadran 2 sehingga = 327o 26’53,9”
d ab
D hc = 180o – Į dbh = sin E
sin D
= 180o - 76o55’45,71”
1.251,42
= 103 o 4’14,29“ = sin 87º1128
sin 64º4703
Ȗ = D hc+180 - D bh = 1.381,567
D bh = D ab + ( D + E )
Sehingga koordinat H adalah ;
= 173 o 28’22,9“ +
xh = xb + dbh sin D bh
(64º47’03’’+87º11’28’’)
= 23.373,83+1.381,567 sin327o26’53,9”
o
= 325 26’53,9“
= 22.630,4636
Ȗ = 103 o 4’14,29“+180 - 325o26’53,9“
yh = yb + dbh cos D bh
8 Cara Pengikatan ke Belakang Metode Collins 224

= 90.179,61+1.381,567 cos327o26’53,9” besarnya besaran-besaran itu dengan


= 91.344,141 angka.
Menentukan Įbp dan dbp
Tahap awal yang dilakukan adalah mencari
D bp = D ab + ( D +Ȗ)
nilai-nilai logaritma dari data yang diperlukan
=173o28’22,9“+64º47’03’’+42o22’39,61“
dalam perhitungan, kemudian isi nilai
= 195o 52’46,2“
tersebut di kolom bagian bawah. seperti nilai

dap =
d ab
sin J log sin D , log (xb – xa) dan lain sebagainya.
sin D
Kolom paling atas didisi nilai sebenarnya
= 1.251,42 sin - 42 o 2239,61“
sin 64º4703 dari besaran yang dihitung. Seperti pada
= -932,316 baris pertama kolom bagian kiri diisi
Sehingga koordinat P adalah ; pencarian koordinat titik H yang dicari baik
xp = xb + dbp sin D bp dari titik A maupun titik B.
o
= 23.373,83+(- 932,31 sin195 52’46,2“) Baris pertama diisi dengan nilai koordinat
= 23.628,92 titik B untuk Xb disamping kiri dan Yb
yp = yb + dbp cos D bp disamping kanan. Selanjutnya diisi nilai dbh
o
= 90.179,61+(- 932,31 cos195 52’46,2“) sin D bh. Kemudian isi nilai koordinat Xh,
= 91.076,348 yang merupakan penambahan anatara nilai

Dengan Bantuan Logaritma


koordinat Xb dengan sin D bh, begitupula
untuk Yb.
Hitungan yang dilakukan dengan cara
Lakukan hal yang sama untuk mencari nilai
logaritmis maka untuk hitungan digunakan
koordinat H yang dihitung dari titik A,
suatu formulir, supaya hitungan tertata
sehingga diperlukan Xa, dan dah sin D ah
dengan rapi dan teratur, sehingga bila
untuk menghitung Xh. Dan diperlukan Ya dan
terdapat kesalahan dapat dengan mudah
dah cos D ah untuk menghitung Yh.
ditemukan dan diperbaiki.
Kolom bagian kiri digunakan untuk
Formulir dibagi dalam dua bagian. bagian
menghitung koordinat titik P, dapat dicari
atas diisi dengan angka-angka sebenarnya
dari titik A maupun B. bila dari titik A
dan bagian bawah yang diisi dengan harga-
diperlukan Xa dan dap sin D ap untuk
harga logaritma angka-angka itu.
menghitung Xp, dan diperlukan Ya dan dap
Lajur-lajur yang bernomor ganjil menyatakan cos D untuk menghitung Yp.
ap
besaran-besaran dengan huruf, sedangkan
lajur lainnya yang bernomor genap memuat
8 Cara Pengikatan ke Belakang Metode Collins 225

Tabel 20. Hitungan cara logaritma


8 Cara Pengikatan ke Belakang Metode Collins 226

Contoh 2 Menentukan koordinat H dan P dari titik A

Hitunglah koordinat titik P ( Xp, Yp ) dengan Menentukan Įah dan dah


pengikatan ke belakang cara Collins, D ah = D ab + E
dengan data sebagai berikut : = 157 o 29’14,8“ + 41º08’19’’

A : x = - 2.904,28 = 198 o 37’33,8”


d ab
sin D  E
y = + 4.127,31
dah =
B : x = - 2.168,09 sin D
y = + 2.351,09 1.922,741
= sin 47º16'30"41º08'19"
C : x = + 4.682,09 sin 47º16'30"
y = - 2.375,92 = 2.616,329
Į = 47º16’30’’ Sehingga koordinat H adalah ;
ȕ = 41º08’19’’ xh = xa + dah sin D ah
o
= -2.904,28+2.616,329 sin 198 37’33,8”
Jawaban : = - 3.739,91
Dengan bantuan mesin hitung yh = ya + dah cos D ah
Menentukan Įab dan dab = 4.127,31+ 2.616,329 cos 198o37’33,8”
tgD ab = (xb - xa) : (yb - ya) = 1.648,016
(x b - x a )
D ab = tg-1 (y - y ) Menentukan Įhc dan Ȗ
b a
tg D hc = (xc - xb) : (yc - yh)
(-2.168,09  2.904,28)
(x c - x b )
= arctg (2.351,09 - 4.127,31) D hc = arctg
(yc - y h )
= - 22o30’45,15“
(4.682,09  3.739,91)
Berada di kuadran 2 sehingga = arctg
(-2.375,92 - 1.648,016)
D ab = 180o – Į o
= -64 27’43,2”
= 180o - 22o30’45,15“
= 157 o 29’14,8“ Berada di kuadran 2 sehingga

(x b - x a ) D hc = 180o – Į
dab = = 180o-64o27’43,2”
sinD ab
= 115 o 32’16,5“
(-2.168,09 - 2.904,28)
=
sin 157 o 29'14,8“ Ȗ= D hc+180 - D bh
= 1.922,741 D bh = D ab + ( D + E )
= 157 o 29’14,8“+(47º16’30’’+41º08’19’’)
8 Cara Pengikatan ke Belakang Metode Collins 227

= 245o54’3,8“ = - 3.739,91
o
Ȗ = 115 32’16,5“180 - 245 54’3,8“ o
yh = yb + dbh cos D bh
o
= 49 38’12,7“ =2.351,09+1.721,898 cos 245o 54’3,8”
= 1.648,015
Menentukan Įap dan dap
D ap = D ab + Ȗ Menentukan Įbp dan dbp
o o
= 157 29’14,8“+ 49 38’12,7“ D bp = D ab + ( D +Ȗ)
o
= 207 7’27,5“ =157o29’14,8“+47º16’30’’+49o 38’12,7“
= 254o 23’57,5“
sin D  J
d ab
dap =
sin D d ab
dap = sin J
= 1.922,741 sin 47º16'30"49 o 38'12,7“ sin D
sin 47º16'30"
= 1.922,741 sin 49 o 38'12,7“
= 2.598,311 sin 47º16'30"
Sehingga koordinat P adalah ; = 1.994,289
xp = xa + dap sin D ap Sehingga koordinat P adalah ;
o
= -2.904,28+ 2.598,311sin 207 7’27,5“ xp = xb + dbp sin D bp
= - 4.088,908 = -2.168,09+1.994,289 sin254o23’57,5“
yp = ya + dap cos D ap = - 4.088,908
= 4.127,31+ 2.598,311cos 207 7’27,5“o
yp = yb + dbp cos D bp
= 1.814,758 = 2.351,09+1.994,289 cos254o23’57,5“
= 1.814,763
Menentukan koordinat H dan P dari titik B
Menentukan Įbh dan dbh
D bh = D ab + ( D + E )
= 157 o 29’14,8“ + (47º16’30’’+41º08’19’’)
= 245o 54’3,8”
d ab
dah = sin E
sin D
1.922,741
= sin 41º08'19"
sin 47º16'30"
= 1.721,898
Sehingga koordinat H adalah ;
xh = xb + dbh sin D bh
=-2.168,09+1.721,898 sin245o 54’3,8”
8 Cara Pengikatan ke Belakang Metode Collins 228

8.4. Penggambaran pengikatan


kebelakang metode Collins A (Xa,Ya)

ȕ
Pada A dan B lukiskan sudut E dan sudut B(Xb,Yb
– ( D  E ). Kedua garis A dan B
o
180 180- (ȕ + Į)
berpotongan di H. hubungkan C – H, ukur
dengan busur derajat sudut J. kemudian

lukiskan di A sudut J. Maka garis CH dan


CD akan berpotongan di A, selanjutnya Ȗ
H
bacalah koordinat titik P tersebut.
C(Xc,Yc)
Langkah-langkah pekerjaan, dapat disusun
sebagai berikut :
Gambar 213. Menentukan koordinat titik penolong
1. Menentukan titik A, B dan C, Collins
2. mengukur sudut E di titik A dan sudut
5. Ukur sudut J di titik A, kemudian tarik
180o – ( D  E ) di titik B.
garis yang dibentuk sehingga
berpotongan dengan perpanjangan
A (Xa,Ya) garis CH. Titik perpotongan tersebut kita

ȕ sebut sebagai titik P


B(Xb,Yb 6. Baca koordinat titik P tersebut

180- (ȕ + Į) A (Xa,Ya)

Ȗ
B(Xb,Yb

Gambar 212. Menentukan besar sudut Į dan ȕ 180- (ȕ + Į)


3. Perpanjang garis yang dibentuk oleh
sudut masing-masing, sehingga garis
tersebut berpotongan, Kita sebut titik
perpotongan itu sebagai titik H. Ȗ
P (Xp,Yp) H
4. Tarik garis yang menghubungkan titik H
dan titik C, kemudian ukur sudut yang C(Xc,Yc)
dibentuk oleh garis CH dan BH. Kita
sebut sebagai sudut J . Gambar 214. Menentukan titik P
8 Cara Pengikatan ke Belakang Metode Collins 229

Cara grafis lainnya dapat pula dilakukan 3. Pada kertas transaran lukislah sudut
dengan langkah yang berbeda, yaitu D dan E dari suatu titik.
sediakan 2 macam masing-masing kertas 4. Pasanglah kertas transparan tadi yang
transparan dan kertas grafik. telah dilengkapi lukisan sudut tepat
Pada kertas grafik lukiskan titik A, B dan C, diatas kertas grafik yang telah
sedangkan pada kertas transparan lukiskan ditentukan titik titik A,B dan C.

sudut D dan E . Letakkan kertas transparan


di atas kertas grafik, atur sedemikian rupa
agar jurusan garis PA, PB dan PC tetap di
Į
titik A,B dan C. ȕ

Bila tujuan tersebut tercapai, tusuklah titik P


sehingga membekas pada kertas grafik
kemudian bacalah koordinat titik P tersebut. Gambar 216. Garis yang dibentuk sudut Į dan ȕ

Cara diatas dapat disusun langkah kerjanya,


sebagai berikut: 5. Sesuaikan kertas transparan, sehingga

1. Sediakan kertas grafik dan kertas garis-garis pada transparan tepat

transparan melewati semua titik.

2. Pada kertas grafik lukislah titik A,B dan 6. Baca koordinat titik P tersebut.

C yang telah disesuaikan dengan letak


koordinat masing-masing A
B)

Į
ȕ
B(Xb,Yb P C
A (Xa,Ya)

Gambar 217. Pemasangan transparansi pada


C(Xc,Yc) kertas grafik

Gambar 215. Menentukan koordinat titik A,B dan C


pada kertas grafik
8 Cara Pengikatan ke Belakang Metode Collins 230

Model Diagram Alir Ilmu Ukur Tanah Pertemuan ke-07


Model Diagram Alir
Pengikatan Ke Belakang Metode Collins
DosenCara Pengikatan
Penanggung Ke Belakang Metode
Jawab : Dr.Ir.Drs.H.Iskandar Collins MT
Muda Purwaamijaya,

Pengukuran Kerangka Dasar Horisontal


Titik Tunggal

Disusun dari 3 Titik Ikat


Benchmark A (Xa, Ya) dan B
Menggunakan Alat Theodolite
(Xb, Yb) -> Basis
Benchmark C (Xc, Yc)

Pengukuran Pengikatan Ke Belakang


Metode Collins (Logaritmis)
Lingkaran melalui
Benchmark A & B
serta titik P
Alat Theodolite berdiri di atas Titik P dan
dibidik ke Benchmark A, B dan C

Ditarik garis dari P ke C


Perpotongan lingkaran
dengan
Sudut Alfa = < APB Sudut Beta = < BPC
Garis PC adalah titik
penolong H

dab (Jarak ab) = [(Xb-Xa)^2+(Yb-Ya)^2]^0.5


Dengan Prinsip :

1. Rumus Sinus
2. Segitiga sehadap Alfa ab = Tan^-1 [(Xb-Xa)/(Yb-Ya)]
3. Jumlah sudut dalam segitiga

Xh(a) = Xa + dah . sin Alfa ah


Alfa ah = fungsi (Alfa ab ; Beta) Yh(a) = Ya + dah . cos Alfa ah
= Alfa ab + Beta
Alfa bh = fungsi (Alfa ba ; 180-Alfa-Beta) Xh(b) = Xb + dbh . sin Alfa bh
= Alfa ba - (180-Alfa-Beta) Yh(b) = Yb + dbh . cos Alfa bh

dah = (dab/sinus Alfa) . sinus (180-Alfa-Beta) Xh = [ Xh(a) + Xh(b) ] / 2


dbh = (dab/sinus Alfa) . sinus Beta Yh = [ Yh(a) + Yh(b) ] / 2

Sudut Delta = Alfa ap - Alfa ab - Beta Alfa ph = Alfa hc


Alfa hc = Tan^-1 [(Xc-Xh) / (Yc-Yh)]
dap = (dab/sin Alfa) . sin (180-Alfa-Beta-Delta)
dbp = (dab/sin Alfa} . sin (Beta + Delta) Alfa pb = Alfa ph - Beta
Alfa bp = Alfa pb + 180
Xp = Xa + dap . sin Alfa ap ; Xp = Xb + dbp . sin Alfa bp
Yp = Ya + dap . cos Alfa ap ; Yp = Yb + dbp . cos Alfa bp Alfa pa = Alfa ph + 360 - (Alfa + Beta)
Alfa ap = Alfa pa - 180

Gambar 218. Model Diagram Alir Cara Pengikatan ke Belakang Metode Collins
8 Cara Pengikatan ke Belakang Metode Collins 231

Rangkuman

Berdasarkan uraian materi bab 8 mengenai cara pengikatan kebelakang metode


collins, maka dapat disimpulkan sebagi berikut:

1. Perbedaan pengikatan ke muka dan ke belakang dalam menentukan suatu titik


koordinat adalah data awal yang tersedia, prosedur pengukuran di lapangan serta
keadaan lapangan yang menentukan cara mana yang cocok digunakan.

2. Pengikatan ke muka dapat dilakukan apabila kondisi lapangan memungkinkan untuk


berpindah posisi pengukuran yaitu pada daerah-daerah yang mudah seperti pada
dataran rendah yang mempunyai permukaan datar, sehingga keadaan lapangan
tersebut dapat memungkinkan dilakukan pengikatan ke muka.

3. Pengikatan ke belakang, dilakukan pada saat kondisi lapangan tidak memungkinkan


menggunakan pengukuran pengikatan ke muka, dikarenakan alat theodolite tidak
mudah untuk berpindah-pindah posisi, dan kondisi lapangan yang terdapat rintangan.

4. Theodolite, adalah alat yang digunakan untuk membaca sudut azimuth, sudut vertikal
dan bacaan benang atas, bawah dan tengah dari rambu ukur.

5. Fungsi Theodolite digunakan untuk mengukur besaran sudut datar yang dibentuk dari
titik koordinat yang akan dicari titik-titik lain yang telah diketahui koordinatnya.

6. Rambu ukur, digunakan sebagai patok yang diletakan di titik-titik yang telah diketahui
koordinatnya untuk membantu dalam menentukan besaran sudut yang dibentuk dari
beberapa titik yang telah diketahui koordinatnya, sehingga pada keperluan pengukuran
ini tidak diperlukan data pada rambu ukur seperti benang tengah, benang atas, dan
benang bawah.

7. Statif, digunakan sebagai penopang dan tempat diletakannya theodolite.

8. Unting-unting digunakan agar penempatan alat theodolite tepat berada di atas


permukaan titik yang akan dicari koordinatnya.

9. Untuk menghitung titik koordinat dengan menggunakan pengikatan ke belakang cara


Collins, data yang diukur di lapangan adalah besarnya sudut Į dan sudut ȕ.
8 Cara Pengikatan ke Belakang Metode Collins 232

Soal Latihan

Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini !

1. Sebutkan dan Jelaskan fungsi dari peralatan dan bahan yang digunakan pada
pengukuran pengikatan ke belakang dengan cara Metode Collins?
2. Bagaimana cara pengaturan dan pemakaian alat theodolite?
3. Bagaimana cara pembacaan sudut mendatar pada alat theodolite?
4. Jelaskan dan gambarkan cara menentukan titik-titik koordinat pada pengikatan
kebelakang dengan metode Collins?
5. Hitunglah koordinat titik P ( Xp, Yp ) dengan pengikatan ke belakang cara Collins,
dengan data sebagai berikut :
A : x = +23.231,58 B : x = + 23.373,83 C : x = + 24.681,92 Į = 64º47’03’’
y = + 91.422,92 y = + 90.179,61 y = + 90.831,87 ȕ = 87º11’28’’
9 Cara Pengikatan ke Belakang Metode Cassini 233

9. Cara pengikatan ke belakang metode Cassini

Pengikatan ke belakang adalah sebuah


metode orientasi yang dipakai jika planset
menempati kedudukan yang belum di
tentukan lokasinya oleh peta. Pengikatan ke
belakang dapat diartikan sebagai
pengukuran ke rambu yang ditegakkan di
stasion (titik dimana theodolite diletakkan)
yang diketahui ketinggiannya. Secara umum
rambunya disebut rambu belakang.

Pada bab delapan telah dibahas cara


pengikatan ke belakang metode Collins,
yang menjelaskan secara umum pada saat Gambar 219. Pengukuran di daerah tebing
kapan menggunakan cara pengikatan ke
belakang, yaitu pada saat akan menentukan
koordinat dari suatu titik, yang dihitung dari
titik koordinat lain yang telah diketahui
koordinantnya.

Pengukuran tersebut tidak dilakukan dengan


cara pengikatan ke muka, karena tidak
seluruh kondisi alam dapat mendukung cara
tersebut. Khususnya pada kondisi alam
yang terpisah oleh rintangan, maka dapat
dilakukan dengan cara pengikatan ke
belakang. Seperti pada pengukuran yang
terpisah oleh jurang, sungai dan lain Gambar 220. Pengukuran di daerah jurang
sebagainya.

Seperti terlihat pada gambar-gambar berikut Karena kondisi alam tidak memungkinkan

adalah contoh pengukuran yang dilakukan dilakukan pengukuran seperti biasanya,

pada kondisi alam yang sulit baik daerah sehingga diperlukan cara pengikatan ke

jurang maupun daerah tebing. belakang cara Collins maupun Cassini.


9 Cara Pengikatan ke Belakang Metode Cassini 234

Dengan adanya metode pengolahan data ini


9.1. Tujuan pengikatan ke belakang
memudahkan surveyor dalam teknis
Metode Cassini
pelaksanaan pengukuran di lapangan,
khususnya pada kondisi alam yang sulit.
Cara pengikatan ke belakang metode
Cassini merupakan salah satu model
perhitungan yang berfungsi untuk
mengetahui suatu titik koordinat, yang dapat
dicari dari titik-titik koordinat lain yang sudah
diketahui.

Metode ini dikembangkan pada saat alat


hitung sudah mulai ramai digunakan dalam
berbagai keperluan, sehingga pada
perhitungannya dibantu dengan mesin
hitung. Oleh karena itu cara pengikatan ke
belakang yang dibuat oleh Cassini dikenal
dengan nama metode mesin hitung.

Pengikatan ke belakang metode Collins


ataupun metode Cassini seperti telah
dibahas sebelumnya bertujuan untuk
mengukur atau menentukan koordinat titik
Gambar 221. Pengukuran terpisah jurang
jika kondisi alam tidak memungkinkan dalam
pengukuran biasa atau dengan pengukuran Yang membedakan metode Cassini
pengikatan ke muka. Sehingga alat dengan metode Collins adalah asumsi dan
theodolite hanya ditempatkan pada satu titik, pengolahan data perhitungan. Sedangkan
yaitu tepat diatas titik yang akan dicari pada proses pelaksanaan pengukuran di
koordinatnya, kemudian diarahkan pada lapangan kedua metode tersebut sama,
patok-patok yang telah diketahui yang diukur adalah jarak mendatar yang
koordinatnya, dibentuk antara patok titik koordinat yang
sudah diketahui.
Biasanya cara ini dilakukan ketika akan
mengukur suatu titik yang terpisah jurang Pengolahan data metode Cassini
atau sungai dengan bantuan titik-titik lain diasumsikan titik koordinat berada pada dua
yang telah diketahui koordinantnya. buah lingkaran dengan dua titik penolong.
9 Cara Pengikatan ke Belakang Metode Cassini 235

Pada pengikatan ke belakang metode


9.2. Peralatan, bahan dan prosedur
Collins diperlukan cukup satu titik penolong
pengikatan ke belakang
Collins yaitu titik H, yang dicari sehingga metode Cassini
didapatkan sudut J , yang digunakan dalam
langkah menentukan titik P. Kedua titik 9.2.1. Peralatan dan bahan
tersebut baik titik H maupun titik P dapat Peralatan yang digunakan pada pengukuran
dicari dari titik A maupun B. Atau keduanya pengikatan ke belakang cara Cassini seperti
kemudian hasilnya dirata-ratakan. peralatan yang digunakan pada pengukuran
A (Xa,Ya) pengikatan ke belakang cara Collins, antara
lain sebagai berikut :
a. Theodolite
B (Xb,Yb) b. Rambu ukur
c. Statif
D d. Unting-unting
P E e. Benang
C (Xc,Yc)
H f. Formulir ukur dan alat tulis

Setiap peralatan dan bahan yang digunakan


Gambar 222. Pengikatan ke belakang metode
Collins
mempunyai fungsi masing-masing dalam
Pada pengikatan ke belakang metode pemanfaatannya khususnya pada
Cassini dibutuhkan dua titik bantu yaitu titik pengikatan ke belakang cara Cassini, antara
R dan S. Titik R dicari dari titik A sedangkan lain:

titik S dari titik C. Untuk menentukan titik P Theodolite, adalah alat yang digunakan
dapat dicari dari titik R dan S. untuk mengukur besaran sudut datar dari
titik koordinat yang akan dicari terhadap titik-
A B C
titik lain yang telah diketahui koordinatnya,
penggunaan tersebut khususnya pada
pekerjaan pengukuran pengikatan ke
Įȕ belakang.

Fungsi lain dari theodolite adalah


Q P R
menentukan besaran sudut vertikal, karena
tidak hanya dapat digerakan secara

Gambar 223. Pengikatan ke belakang metode


horizontal saja, tetapi dapat pula diputar ke
Cassini arah vertikal. lain halnya pada alat sipat
9 Cara Pengikatan ke Belakang Metode Cassini 236

datar optis yang hanya dapat diputar arah tengah, benang atas dan benang bawah
horizontal saja. yang biasa dibaca dengan theodolite pada
kebanyakan pengukuran.
Keunggulan theodolite selain dapat
digunakan dalam pengukuran kerangka Rambu ukur ini diletakan tepat pada titik-titik
dasar vertikal dapat pula digunakan pada yang telah diketahui koordinantnya, yang
pengukuran kerangka dasar horizontal mana pada pengikatan ke belakang
sehingga dapat digunakan pada daerah dibutuhkan tiga titik yang telah harus
bukit dari permukaan bumi, yaitu pada diketahui koordinantnya.
kemiringan 15 % – 45%.

Gambar 225. Rambu ukur

Gambar 224. Theodolite

Rambu ukur, digunakan sebagai patok yang


diletakan di titik-titik yang telah diketahui
koordinatnya untuk membantu dalam
menentukan dari titik mana yang akan dicari
besaran sudutnya. Sehingga pada
keperluan pengukuran ini tidak diperlukan
Gambar 226. Statif
angka pada rambu ukur seperti benang
9 Cara Pengikatan ke Belakang Metode Cassini 237

Statif, digunakan sebagai penopang dan tersebut adalah A, B dan C.


tempat diletakannya theodolite. Ketinggian
Akan dicari suatu koordinat titik tambahan
statif dapat diatur menurut kebutuhan yang
diluar titik A,B, dan C untuk keperluan
disesuaikan dengan orang yang akan
tertentu yang sebelumnya tidak diukur,
menggunakan alat theodolite.
misalkan titik tersebut adalah titik P.
Unting-unting, dipasang tepat di bawah alat
Alat theodolite dipasang tepat diatas titik P
theodolite dengan menggunakan benang,
yang akan dicari koordinatnya dengan
sehingga penempatan alat theodolite tepat
bantuan statif. Pasang rambu ukur yang
berada di atas permukaan titik yang akan
berfungsi sebagai patok tepat pada titik yang
dicari koordinatnya.
telah diketahui yaitu titik A, B, dan C,
sehingga terdapat 3 patok dan 2 ruang antar
patok yaitu ruang AB dan BC. Baca sudut
mendatar yang dibentuk oleh titik A, B dan
titik B, C.

Sudut yang dibentuk oleh titik A dan B kita


sebut sebagai sudut alfa (α) sedangkan
sudut yang dibentuk oleh titik B dan C kita
sebut sudut beta (β).

Untuk menghitung titik koordinat dengan


menggunakan pengikatan ke belakang cara
Collins data yang diukur di lapangan adalah
Gambar 227. Unting-unting besarnya sudut α dan sudut β. Koordinat titik
A, B, dan C telah ditentukan dari
9.2.2 Pengukuran di lapangan
pengukuran sebelumnya. Sehingga data
Pada pelaksanaan pengukuran di lapangan awal yang harus tersedia adalah sebagai
yang datanya akan diolah dengan berikut :
menggunakan metode Cassini sama halnya a. titik koordinat A ( Xa, Ya )
pada praktek pengukuran metode Collins, b. titik koordinat B ( Xb, Yb )
yaitu sebagai berikut. c. titik koordinat C ( Xc, Yc )
Terdapat 3 titik koordinat yang telah d. besar sudut α
diketahui berapa koordinat masing-masing. e. besar sudut β
Misalkan titik-titik yang telah diketahui
9 Cara Pengikatan ke Belakang Metode Cassini 238

B C
A

Į ȕ

Gambar 228. Pengukuran sudut Į dan ȕ di lapangan.

9.2.3 Prosedur pengikatan ke belakang


metode Cassini A

90o
Dari data yang telah tersedia diantaranya
adalah koordinat titik A, B dan C, serta sudut E
mendatar α dan β yang diperoleh dari
pengukuran di lapangan, selanjutnya cara R

hitungan Cassini diperlukan dua tempat


Į
kedudukan sebagai titik bantu, misalkan
P
kedua titik tersebut adalah titik R dan titik S.

Cassini membuat garis yang melalui titik A


dibuat tegak lurus pada AB dan garis ini Gambar 229. Lingkaran yang menghubungkan titik
memotong tempat kedudukan yang melalui A, B, R dan P.

A dan B di titik R. Demikian pula dibuat garis lurus melalui titik


Karena segitiga BAR adalah 900 maka garis C tegak lurus pada BC dan garis ini
BR menjadi garis tengah lingkaran, memotong tempat kedudukan yang melalui
sehingga segitiga BPR menjadi menjadi 900 titik B dan C di titik S. BS pun merupakan
pula. garis tengah lingkaran, jadi segitiga BPS
9 Cara Pengikatan ke Belakang Metode Cassini 239

sama dengan 900. Karena segitiga BPR Hubungkanlah titik R, titik P dan titik S.
0
sama dengan 90 sehingga segitiga BPS maka titik R, titik P dan titik S tersebut akan
0
sama dengan 90 . terletak pada satu garis lurus, karena sudut
yang dibentuk oleh BPR dan BPS adalah
900. Titik R dan S dinamakan titik-titik
B
penolong Cassini, yang membantu dalam
menentukan koordinat titik P

90o C
Terlebih dahulu akan dicari koordinat-
ȕ koordinat titik penolong Cassini R dan S
P
agar dapat dihitung sudut jurusan garis RS
karena PB tegak lurus terhadap RS maka

S didapat pula sudut jurusan PB. Sudut


jurusan PB digunakan untuk menghitung
koordinat titik P dari koordinat B.

Gambar 230. Lingkaran yang menghubungkan titik


B, C, S dan P.

A (Xa, Ya)

d ab
B (Xb, Yb)
dar

d cb
C (Xc, Yc)
D
R
D E
dcs

E
P
S

Cassini (1679)
Gambar 231. Cara pengikatan ke belakang metode Cassini
9 Cara Pengikatan ke Belakang Metode Cassini 240

Rumus umum yang akan digunakan adalah :


A
x2 – x1 = d12 sin α12 dab
y2 – y1 = d12 cos α12
90o B
dar
( x2  x1 )
d12
sin D12 Į
( y2  y1 ) R
d12
cos D12
x2 – x1 = ( y2 – y1 ) tg α12 Gambar 232. Menentukan dar

y2 – y1 = ( x2 – x1 ) cotg α12
Įab
( x2  x1 ) A
tgD12
( y2  y1 ) 90o
Įar B

9.3 Pengolahan data pengikatan ke


belakang metode Cassini R

Gambar 233. Menentukan αar


9.3.1 Cara perhitungan secara detail
Selanjutnya adalah :
Bila P letaknya tertentu, maka melalui titik-
titik A, B, P dan B, C, P dapat dibuat xr  xa d ar sin D ar
lingkaran dengan m1 dan m2 sebagai pusat. d ab cot gD sin D ab  90q
Jika di A ditarik garis AB dan C ditarik garis
d ab cos D ab cot gD
tegak lurus BC, maka garis-garis tersebut
akan memotong lingkaran m1 dan m2 masing yb ya cot gD
masing di R dan S. Titik R dan S ini disebut xr xa  yb  ya cot gD
titik Penolong Cassini. Maka dapat terbukti
yr  ya d ar cos D ar
bahwa R, P dan S terletak dalam satu garis
lurus dan PB tegak lurus terhadap RS. d ab cot gD cos D ab  90q

Koordinat-koordinat titik R dicari dengan d ab sin D ab cot gD


menggunakan segitiga BRA yang siku-siku
 xb  xa cot gD
dititik A, maka dar = dab cotg α dan αar = αab +
90o. yr Ya  xb  xa cot gD

Seperti yang ditunjukan pada gambar 235 Koordinat-koordinat titik S dicari dalam
segitiga ABR untuk menentukan dar dan segitiga BSC yang siku-siku di titik C, maka
gambar 236 menghitung αar. d cs d cb cot gE dan D cs D bc  90q
9 Cara Pengikatan ke Belakang Metode Cassini 241

diakui, yaitu koordinat-koordinat titik A, B


B dbc dan C dan sudut-sudut α dan β yang diukur.
C
90o Sekarang dapatlah ditentukan sudut jurusan

dcs garis RS dengan rumus,


ȕ tgD rs xs  xr : ys  yr dan misalkan
S
tgD rs n, maka cotg αrs==1:n.
Gambar 234. Menentukan das Selanjutnya Cassini menulis untuk
memasukkan koordinat-koordinat titik P ;
 yb  y p  y p  yr
C
B Įbc yr  yb
 xb  x p cot gD pb  x p  xr cot gD rp
90o Įcs

S
Karena D pb D rs  90q dan D rs , maka
dapatlah ditulis :
Gambar 235. Menentukan αas
y r  yb  xb  x p cot g D rs  90q  x p  xr cot gD rs
jadi berlakulah :
x s  xc d cs sin D cs  xb  x p tgD rs  x p  xr cot gD rs

d bc cot gE sin D cb  90q x  x p n  x p  xr


1
b
d bc cos D bc cot gE n
1 § 1·
yc  yb cot gE nxb  xr  ¨ n  ¸ xp atau,
n © n¹
xs xc  yc  yb cot gE . ­ 1 ½ § 1·
xp ®nxb  xr  yb  yr ¾ : ¨ n  ¸
ys  yc d cs cos D cs ¯ n ¿ © n¹

d bc cot gE cos D bc  90q xt  xb  xb  x p  x p  xr


 yb  y p tgD pb  yb  yr tgD rp
d bc sin D bc cot gE
 yb  y p tg D rs  90q  y p  yr tgD rs
ys yc  xc  xb cot gE .
 xc  xb cot gE
y b  y p cot gD rs  y p  yr tgD rs

Dari uraian diatas dan dari rumus-rumus


y b  y p  y p  yr n
1
n
untuk xr, yr, xs dan ys dapat dilihat, bahwa 1 § 1·
yb  nyr  ¨ n  ¸ y p
besaran-besaran ini dapat dihitung dengan n © n¹
segera dari besaran-besaran yang telah
9 Cara Pengikatan ke Belakang Metode Cassini 242

­1 ½ § 1· B : x = + 23.373,83
yp ® yb  nyr  xb  xr ¾ : ¨ n  ¸
¯n ¿ © n¹ y = +90.179,61
C : x = + 24.681,92
9.3.2 Langkah-langkah perhitungan y = + 90.831,87

Menentukan koordinat penolong R dan S α = 64º47’03’’

Koordinat R β = 87º11’28’’

Rumus yang digunakan : Jawaban :


xr xa  ( yb  ya ) cot gD
Menentukan koordinat titik R
yr ya  ( xb  xa ) cot gD Menentukan xr
Koordinat S Menggunakan rumus :
xs xc  ( yc  yb ) cot gE
xr x a  ( y b  y a ) cot gD
ys yc  ( xc  xb ) cot gE
( yb  ya ) = 90.179,61 - 91.422,92
Menentukan n
= - 1.243,31
( xs  xr )
n tgD rs Cotg α = Cotg 64º47’03’’
( y s  yr ) = 0,47090
( yb  ya ) cot gD = -1.243,31 x 0,47090
Menentukan koordinat P
= - 585,47
§ 1 ·
¨ n xb  xr  yb  yr ¸ Xr = 23.231,58 - 585,47
xp © n ¹
1 = 22.646,11
(n  )
n
Menentukan yr
§ 1 ·
¨ n yr  yb  xb  xr ¸ Menggunakan rumus :
yp © n ¹
1 yr y a  ( xb  x a ) cot gD
(n  )
n
( xb  xa ) = 23.373,83 - 23.231,58

9.3.3 Contoh Soal = 142,25


Cotg α = Cotg 64º47’03’’
Contoh Soal 1 = 0,47090
Hitunglah koordinat titik P ( Xp, Yp ) dengan
( xb  xa ) cot gD = 142,25 x 0,47090
pengikatan ke belakang cara Cassini
= 66,99
dengan data sebagai berikut :
yr = 91.422,92 + 66,99
A : x = +23.231,58
=91.355,93
y = + 91.422,92
9 Cara Pengikatan ke Belakang Metode Cassini 243

Menentukan koordinat titik s Dicari dari titik R


Menentukan xs Menentukan Xp
Menggunakan rumus : § 1 ·
¨ n xb  x r  y b  y r ¸
xs xc  ( y c  y b ) cot gE © n ¹
xp
1
( yc  yb ) = 90.831,87- 90.179,61 (n  )
n
= 652,26
n xb = - 3.51,531 x 23.373,83
Cotg β = Cotg 87º11’28’’
= 0,04906 = - 82.166,26
1 1
xr = x 22.646,11
( yc  yb ) cot gE = 652,26x 0,04906 n - 3.51,531
= - 6.442,14
= 32,00
Xs = 24.681,92+ 32,00 ( yb  yr ) = 90.179,61 - 91.355,93
= 24.713,92 = - 1.176,32
Menentukan ys 1 1
(n  ) = - 3.51,531
Menggunakan rumus : n - 3.51,531

y c  ( xc  xb ) cot gE § 1 ·
ys ¨ nXb  Xr  Yb  Yr ¸ = ( - 82.166,26 -
© n ¹
( xc  xb ) = 24.681,92- 23.373,83
6.442,14 - 1.176,32) = - 89.784,72
= 1.308,99
- 89.784,72
Cotg β = Cotg 87º11’28’’ xp = 23.628,93
- 3.79,978
= 0,04906
( xc  xb ) cot gE = 1.308,99x 0,04906 Menentukan yp

= 64,17 § 1 ·
¨ n y r  y b  xb  x r ¸
yr = 90.831,87+ 64,17 yp © n ¹
1
= 90.767,70 (n  )
n
Menentukan n
n yr = - 3.51,531 x - 91.355,93
( xs  xr )
n tgD rs = - 321.144,41
( ys  yr )
1 1
(24.713,92  22.646,11) yb = x 90.179,61
n - 3.51,531
(90.767,70  91.355,93)
= - 25.653,39
= - 3.51,531
( xb  xr ) = 23.373,83 – 22.646,11
9 Cara Pengikatan ke Belakang Metode Cassini 244

= 727,72
Menentukan yp
1 1
(n  ) = - 3.51,531 § 1 ·
n - 3.51,531 ¨ n y s  y b  xb  x s ¸
yp © n ¹
§ 1 · 1
¨ nYr  Yb  Xb  Xr ¸ = (-321.144,41- (n  )
© n ¹ n
25.653,39 + 727,72) = - 346.070,08 n yr = - 3.51,531 x - 90.767,70
- 346.070,08 = - 319.0776,6035
yp = 91.076,35
- 3.79,978 1 1
yb = x 90.179,61
Sehingga dari perhitungan di atas, dapat n - 3.51,531
disimpulkan bahwa koordinat titik P adalah = - 25.653,39
(Xp = 23.628,93 dan Yp= 91.076,35 )
( xb  x s ) = 23.373,83 – 24.713,92
Dicari dari titik S = -1.340,09
Menentukan Xp
1 1
(n  ) = - 3.51,531
§ 1 · n - 3.51,531
¨ n xb  x s  y b  y s ¸
© n ¹
xp § 1 ·
1
(n  ) ¨ nYs   Yb  Xb  Xs ¸ =
n © n ¹
(-319.0776,6035 - 25.653,39 -1.340,09)
n xb = - 3.51,531 x 23.373,83
= - 346.070,08
= - 82.166,26
- 346.070,08
1 1 yp = 91.076,35
xs = x 24.713,92 - 3.79,978
n - 3.51,531
Sehingga dari perhitungan di atas, dapat
= - 7.030,367
disimpulkan bahwa koordinat titik P adalah
( y b  y s ) = 90.179,61 – 90.767,70 (Xp = 23.628,93 dan Yp= 91.076,35 ) baik
= - 588,09 jika diukur dari koordinat titik R maupuan S.

1 1
(n  ) = - 3.51,531
n - 3.51,531
§ 1 ·
¨ nXb  Xs  Yb  Ys ¸ = ( - 82.166,26 -
© n ¹
7.030,367 - 588,09) = - 89.784,72
- 89.784,72
xp = 23.628,93
- 3.79,978
9 Cara Pengikatan ke Belakang Metode Cassini 245

Contoh Soal 2 Cotg α = Cotg 47º16’30’’


Hitunglah koordinat titik P ( Xp, Yp ) dengan = 0.9238
pengikatan ke belakang cara Cassini ( xb  xa ) cot gD = 736,19 x 0.9238
dengan data sebagai berikut :
= 680,10439
A : x = - 2.904,28 yr = 4.127,31 + 680,10439
y = + 4.127,31 =4.807,41
B : x = - 2.168,09
y = +2.351,09 Menentukan koordinat titik s
C : x = + 4.682,09 Menentukan xs
y = - 2.375,92 Menggunakan rumus :
α = 47º16’30’’ xs xc  ( y c  y b ) cot gE
β = 41º08’19’’
( yc  yb ) = - 2.375,92 – 2.351,09
Jawaban :
= - 4.727,01

Menentukan koordinat titik R Cotg β = Cotg 41º08’19’’

Menentukan xr = 1,14476

Menggunakan rumus :
( yc  yb ) cot gE = - 4.727,01 x 1,14476
xr x a  ( y b  y a ) cot gD
= -5.411,307
( yb  ya ) = 2.168,09 – 4.127,31 Xs = 4.682,09 – 5.411,307

= - 1.959,22 = - 729,218

Cotg α = Cotg 47º16’30’’ Menentukan ys


= 0.9238 Menggunakan rumus :
( yb  ya ) cot gD = - 1.959,22x 0.9238
ys y c  ( xc  xb ) cot gE
= - 1.809,499
( xc  xb ) = 4.682,09 – 2.168,09
Xr = -2.904,28 – 1.809,499
= -4.713,779 = 6.850,18

Menentukan yr Cotg β = Cotg 41º08’19’’

Menggunakan rumus : = 1,1448

yr y a  ( xb  x a ) cot gD ( xc  xb ) cot gE = 6.850,18 x 1,1448


= 7.841.833
( xb  xa ) = -2.168,09 – 2.904,28
yr = -2.375,92 + .841.833
= 736,19
= 5.465,913
9 Cara Pengikatan ke Belakang Metode Cassini 246

Menentukan n § 1 ·
¨ n y r  y b  xb  x r ¸
( xs  xr ) © n ¹
n tgD rs yp
( ys  yr ) 1
(n  )
n
(729,218  4.713,779)
(5.465,913  4.807,41) n yr = 6,0509 x 4.807,41
= 6,0509 = 29.087,157
Dicari dari titik R 1 1
yb = x 2.351,09
Menentukan Xp n 6,0509
1 = 388,552
nXb  Xr  Yb  Yr
Xp n ( xb  xr ) = - 2.168,09 + 4.713,779
§ 1·
¨n  ¸ = 2.545,689
© n¹
1 1
n xb = 6,0509 x -2.168,09 (n  ) = 6,0509
n 6,0509
= - 13.118,896
= 6,21616
1 1
xr = x -4.713,779 § 1 ·
n - 3.51,531 ¨ nYr  Yb  Xb  Xr ¸ = (29.089,157 +
© n ¹
= - 779,021
388,552
( yb  yr ) = 2.351,09 – 4.807,41 + 2.545,659)
= - 2.456,32 = 32.623,368
1 1 32.623,368
(n  ) = 6,0509 yp = 5.151,632
n 6,0509 6,21616
= 6,21616 Sehingga dari perhitungan di atas, dapat

§ 1 · disimpulkan bahwa koordinat titik P adalah


¨ nXb  Xr  Yb  Yr ¸ = (- 13.118,896- (Xp = - 2.630,922 dan Yp = 5.151,632)
© n ¹
779,021 Dicari dari titik R
- 2.456,32) Menentukan Xp
= - 16.354,232 § 1 ·
¨ n xb  x s  y b  y s ¸
- 16.354,232 © n ¹
xp = - 2.630,922 xp
- 6,21616 1
(n  )
n
Menentukan yp
n xb = 6,0509 x -2.168,09
= - 13.118,896
9 Cara Pengikatan ke Belakang Metode Cassini 247

1 1 § 1 ·
xs = x – 729,218 ¨ nYs  Yb  Xb  Xs ¸ = (33.073,69 +
n 6,0509 © n ¹
= - 120,518 388,552 - 1.438,57 = 32.623,368
( y b  y s ) = 2.351,09 – 5.465,913 32.623,368
yp = 5.151,632
= - 3.114,822 6,21616
1 1 Sehingga dari perhitungan di atas, dapat
(n  ) = 6,0509 = 6,21616
n 6,0509 disimpulkan bahwa koordinat titik P adalah
(Xp = - 2.630,922 dan Yp = 5.151,632) baik
§ 1 ·
¨ nXb  Xs  Yb  Ys ¸ = (- 13.118,896- diukur dari titik penolong R maupun S.
© n ¹
3.114,822 9.4. Penggambaran pengikatan ke
- 120,518) belakang metode Cassini
= - 16.354,232
Selain dengan cara hitungan dengan
- 16.354,232
xp = - 2.630,922 metode Cassini, koordinat titik P dapat pula
- 6,21616
dicari dengan menggunakan metode grafis.
Menentukan yp Secara garis besar dijelaskan sebagai
1 berikut :
nYs  Yb  Xb  Xs
Yp n
a. Lukis di titik B sudut
G1 90 0
D
§ 1·
¨n  ¸ G2 90 0
E
© n¹
dan,
n y s = 6,0509 x 5.465,913 b. Lukis sudut 90o di A dan di C, sehingga
= 33.073,69 garis-garis tersebut akan berpotongan di
1 1 R dan S,
yb = x 2.351,09
n 6,0509 c. Maka garis tegak lurus dari B pada garis

= 388,552 RS akan memberikan titik P yang dicari.

( xb  x s ) = - 2.168,09 + 729,218 Langkah-langkah pekerjaan :

= - 1.438,872 1. menentukan titik A, B dan C yang telah


1 1 disesuaikan dengan koordinat masing-
(n  ) = 6,0509
n 6,0509 masing baik absis maupun ordinatnya
= 6,21616 ke dalam kertas grafik.
9 Cara Pengikatan ke Belakang Metode Cassini 248

Gambar 238. Penentuan titik R dan S

C (Xc,Yc) 4. hubungkan titik koordinat R dan S


A (Xa,Ya)
tersebut, sehingga kedua titik terdapat
B (Xb,Yb) dalam satu garis lurus.

A
Gambar 236. Penentuan koordinat titik A, B dan C.
B C

2. lukislah sudut 90o – α pada arah


o
koordinat A dan sudut 90 – β pada arah
koordinat B. S
R
A
Gambar 239. Penarikan garis dari titik R ke S.
C
B 5. tarik garis dari titik B terhadap garis RS,
90 - Į
o
90 - ȕ
o
sehingga menjadi garis yang membagi
garis RS dengan sudut sama besar yaitu
saling tegak lurus 90o.

Gambar 237. Menentukan sudut 90o – Į dan 90o - ȕ


A

3. lukis sudut 90o di titik A sehingga akan C


B
berpotongan dengan sudut yang
o
dibentuk oleh sudut 90 – α. Titik
90o 90o
perpotongan tersebut kita sebut titik R. S
o
dan lukis sudut 90 di titik B sehingga P (Xp,Yp)
R
akan berpotongan dengan sudut yang
Gambar 240. Penentuan titik P
dibentuk oleh sudut 90o – β. Titik
perpotongan tersebut kita sebut titik S. 6. Bacalah koordinat titik P tersebut

90o C
B
90o

S
R
9 Cara Pengikatan ke Belakang Metode Cassini 249

Model DiagramModel
Alir IlmuDiagram
Ukur TanahAlir
Pertemuan ke-08
Cara Pengikatan
Pengikatan KeKe Belakang
Belakang Metode
Metode Cassini Cassini
Dosen Penanggung Jawab : Dr.Ir.Drs.H.Iskandar Muda Purwaamijaya, MT

Pengukuran Kerangka Dasar Horisontal


Titik Tunggal

Disusun dari 3 Titik Ikat


Benchmark A (Xa, Ya) dan
Menggunakan Alat Theodolite B (Xb, Yb) -> Basis
Benchmark B (Xb, Yb) dan
C (Xc, Yc) -> Basis

Pengukuran Pengikatan Ke Belakang 2 Lingkaran melalui


Metode Cassini (Mesin Hitung) Benchmark A, B, C
dan titik P

Alat Theodolite berdiri di atas Titik P dan Ditarik garis tegak lurus
dibidik ke Benchmark A, B dan C dari AB & BC
Perpotongan lingkaran
dengan
Garis tegak lurus AB &
Sudut Alfa = < APB Sudut Beta = < BPC BC adalah
Titik Penolong R dan S

dab (Jarak ab) = [(Xb-Xa)^2+(Yb-Ya)^2]^0.5


dbc (Jarak bc) = [(Xc-Xb)^2+(Yc-Yb)^2]^0.5
Dengan Prinsip :

1. Rumus Sinus
Alfa ab = Tan^-1 [(Xb-Xa)/(Yb-Ya)]
2. Segitiga sehadap
Alfa bc = Tan^-1 [(Xc-Xa)/(Yc-Ya)]
3. Jumlah sudut dalam segitiga

Xr = Xa + dar . sin Alfa ar


Alfa ar = Alfa ab + 90 Yr = Ya + dar . cos Alfa ar
Alfa cs = Alfa cb - 90
Xs = Xc + dcs . sin Alfa dcs
dar = (dab/sinus Alfa) . sinus Gamma Ys = Yc + dcs . cos Alfa dcs
dcs = (dbc/sinus Beta) . sinus Delta

Alfa rs = Tan^-1 (Xs-Xr)/(Ys-Yr) Kappa = Alfa rs - Alfa rb


Alfa ps = Alfa rs ; Alfa pr = Alfa rs - 180 Epsilon = Alfa sb - Alfa sr

Xp(a) = Xa + dap . sin Alfa ap Alfa pb = Alfa ps + 270


Yp(a) = Ya + dap . cos Alfa ap Alfa pa = Alfa ps + 270 - Alfa
Alfa pc = Alfa ps + 270 + Beta
Xp(b) = Xb + dbp . sin Alfa bp
Yp(b) = Yb + dbp . cos Alfa bp dpb = (dbr/sin 90) . sin Kappa
dpa = (dab/sin Alfa) . sin (Alfa+Kappa)
Xp(c) = Xc + dcp . sin Alfa cp dpc = (dbc/sin Beta). sin (Beta+Epsilon)
Yp(c) = Yc + dcp . cos Alfa cp

Gambar 241. Model diagram alir cara pengikatan ke belakang metode cassini
9 Cara Pengikatan ke Belakang Metode Cassini 250

Rangkuman

Berdasarkan uraian materi bab 9 mengenai pengikatan kebelakang metode cassini,


maka dapat disimpulkan sebagi berikut:

1. Cara pengikatan ke belakang metode Cassini merupakan salah satu model perhitungan
yang berfungsi untuk mengetahui suatu titik koordinat, yang dapat dicari dari titik-titik
koordinat lain yang sudah diketahui.

2. Pengikatan ke belakang metode Cassini bertujuan untuk mengukur atau menentukan


koordinat titik jika kondisi alam tidak memungkinkan dalam pengukuran biasa atau
dengan pengukuran pengikatan ke muka. Sehingga alat theodolite hanya ditempatkan
pada satu titik, yaitu tepat diatas titik yang akan dicari koordinatnya, kemudian diarahkan
pada patok-patok yang telah diketahui koordinatnya, Yang membedakan metode
Cassini dengan metode Collins adalah asumsi dan pengolahan data perhitungan.
Sedangkan pada proses pelaksanaan pengukuran di lapangan kedua metode tersebut
sama, yang diukur adalah jarak mendatar yang dibentuk antara patok titik koordinat
yang sudah diketahui.

3. Peralatan yang digunakan pada pengukuran pengikatan ke belakang cara Cassini,


antara lain sebagai berikut :Theodolite, Rambu ukur, Statif, Unting-unting, Benang,
Formulir ukur dan alat tulis.

4. Langkah-langkah penggambaran Pengikatan ke belakang metode Cassini :

a. menentukan titik A, B dan C yang telah disesuaikan dengan koordinat masing-


masing baik absis maupun ordinatnya ke dalam kertas grafik.
b. lukislah sudut 90o – Į pada arah koordinat A dan sudut 90o – ȕ pada arah koordinat
B.
c. lukis sudut 90o di titik A sehingga akan berpotongan dengan sudut yang dibentuk
oleh sudut
90o – Į.
d. hubungkan titik koordinat R dan S tersebut, sehingga kedua titik terdapat dalam satu
garis lurus.
e. tarik garis dari titik B terhadap garis RS, sehingga menjadi garis yang membagi garis
RS dengan sudut sama besar yaitu saling tegak lurus 90o.
f. Bacalah koordinat titik P tersebut
9 Cara Pengikatan ke Belakang Metode Cassini 251

Soal Latihan

Jawablah pertanyaan-pertanyaan dibawah ini !

1. Apa yang dimaksud pengukuran pengikatan ke belakang ? Mengapa dilakukan


pengukuran pengikatan ke belakang ?
2. Jelaskan pengertian dan tujuan pengikatan ke belakang metode Cassini?
3. Jelaskan persamaan dan perbedaan metode Collins dan Cassini?
4. Diketahui koordinat X1 = 19.268,27 Y1 =86.785,42 , X2 = 26.578.33 Y2 =95.423,13
sudut yang dibentuk adalah 43o. Berapa jarak koordinat 1 dan 2 (d12)….
5. Hitunglah koordinat titik P ( Xp, Yp ) dengan pengikatan ke belakang cara Cassini
dengan data sebagai berikut :

A : x = - 3.587,17 B : x = - 3.255,33 C : x = + 6.147,23 α = 52º31’50’’


y = + 6.356,26 y = +2.963,45 y = - 3.346.37 β = 32º24’13’’
10 Pengukuran Poligon Kerangka Dasar Horisontal
252

10. Pengukuran Poligon Kerangka Dasar Horizontal

Pengikatan ke muka dilakukan dengan


10.1 Tujuan pengukuran
kerangka dasar horizontal cara Theodolite berdiri di atas titik/patok
yang telah diketahui koordinatnya dan
rambu ukur diletakkan di atas titik yang
Untuk mendapatkan hubungan mendatar
ingin diketahui koordinatnya.
titik-titik yang diukur di atas permukaan
2. Dengan cara mengikat ke belakang
bumi, maka perlu dilakukan pengukuran
pada titik tertentu dan yang diukur
mendatar yang disebut dengan istilah
adalah sudut-sudut yang berada dititik
Pengukuran Kerangka Dasar Horizontal.
yang akan ditentukan koordinatnya.
Jadi, untuk hubungan mendatar diperlukan Pengikatan ke belakang dilakukan
data sudut mendatar yang diukur pada skala dengan : Theodolite berdiri di titik yang
lingkaran yang letaknya mendatar. belum diketahui koordinatnya, target/
rambu ukur didirikan di atas patok yang
Kerangka dasar horizontal adalah sejumlah
telah diketahui koordinatnya.
titik yang telah diketahui koordinatnya dalam
Pada cara mengikat ke belakang ada
suatu sistem koordinat tertentu. Sistem
dua metode hitungan yaitu cara :
koordinat disini adalah sistem koordinat
a. Collins
kartesian dimana bidang datarnya
Metode yang menggunakan satu
merupakan sebagian kecil dari permukaan
lingkaran sebagai bentuk geometrik
ellipsoida bumi.
pembantu
Dalam pengukuran kerangka dasar b. Cassini
horizontal pada prinsipnya adalah Metode yang menggunakan dua
menentukan koordinat titik-titik yang diukur, lingkaran sebagai bentuk geometrik
yang terbagi dalam dua cara yaitu : pembantu.

Cara menentukan koordinat satu titik Menentukan koordinat beberapa titik

yaitu suatu pengukuran untuk suatu yang terdiri dari beberapa metode

wilayah yang sempit, cara ini terbagi sebagai berikut :

menjadi dua metode yaitu : 1. Cara poligon yaitu digunakan

1. Dengan cara mengikat ke muka pada apabila titik-titik yang akan dicari

titik tertentu dan yang diukur adalah koordinatnya terletak memanjang/

sudut-sudut yang ada di titik pengikat.


10 Pengukuran Poligon Kerangka Dasar Horisontal
253

menutup sehingga membentuk segi dan arahnya telah ditentukan dari


banyak (poligon) pengukuran di lapangan.
2. Cara triangulasi yaitu digunakan
Syarat pengukuran poligon adalah :
apabila daerah pengukuran
1. Mempunyai koordinat awal dan akhir
mempunyai ukuran panjang dan
2. Mempunyai azimuth awal dan akhir
lebar yang sama, maka dibuat jaring
segitiga. Pada cara ini sudut yang Untuk mencapai ketelitian tertentu (yang

diukur adalah sudut dalam tiap-tiap dikehendaki), pada suatu poligon perlu

segitiga. ditetapkan hal-hal sebagai berikut :

3. Cara trilaterasi yaitu digunakan 1. Jarak antara titik-titik poligon


apabila daerah yang diukur ukuran 2. Alat ukur sudut yang digunakan
salah satunya lebih besar daripada 3. Alat ukur jarak yang digunakan
ukuran lainnya, maka dibuat 4. Jumlah seri pengukuran sudut
rangkaian segitiga. Pada cara ini 5. Ketelitian pengukuran jarak
sudut yang diukur adalah semua 6. Pengamatan matahari, meliputi :
sisi segitiga. - Alat ukur yang digunakan
4. Cara Kwadrilateral yaitu sebuah - Jumlah seri pengamatan
bentuk segiempat panjang tak - Tempat-tempat pengamatan
beraturan dan diagonal, yang 7. Salah penutup sudut antara 2
seluruh sudut dan jaraknya diukur. pengamatan matahari

Pengukuran dan pemetaan poligon 8. Salah penutup koordinat dan lain-lain

merupakan salah satu metode pengukuran Ketetapan untuk poligon :


dan pemetaan kerangka dasar horizontal 1. Jarak antara titik : • 0.1 km – 2 km
untuk memperoleh koordinat planimetris (X, 2. Alat pengukur sudut : Theodolite1 sekon
Y) titik-titik ikat pengukuran. Misal : WILD T2

Metode poligon adalah salah satu cara 3. Jumlah seri pengukuran : 4 seri

penentuan posisi horizontal banyak titik 4. Ketelitian pengukuran jarak : 1 : 60.000

dimana titik satu dengan lainnya 5. Pengamatan matahari

dihubungkan satu sama lain dengan - Alat ukur yang digunakan :

pengukuran sudut dan jarak sehingga Theodolite 1 sekon

membentuk rangkaian titik-titik (poligon). - Jumlah seri pengamatan : 8


- Tempat pengamatan :
Dapat disimpulkan bahwa poligon adalah
selang 20 - 25 detik
serangkaian garis berurutan yang panjang
10 Pengukuran Poligon Kerangka Dasar Horisontal
254

6. Salah penutup sudut antara dua - Pengukuran-pengukuran rencana

pengamatan matahari : 10” N jalan raya / kereta api


- Pengukuran-pengukuran rencana
7. Salah penutup koordinat 1 : 10.000
saluran air
Keterangan :
Poligon digunakan untuk daerah yang
N menyatakan jumlah titik tiap sudut
besarnya sedang (tidak terlalu besar atau
poligon antara dua pengamatan
terlalu kecil) karena dalam pengukuran
matahari.
mempergunakan jarak ukur langsung,
Salah penutup koordinat artinya adalah
seperti : pita ukur, atau jarak tidak langsung
Bila S adalah salah penutup koordinat,
seperti: EDM (Electronic Distance
fx adalah salah penutup absis, fy adalah
Measure). Untuk pengukuran jarak jauh
salah penutup ordinat dan D adalah
mempergunakan alat-alat yang
jarak (jumlah jarak) anatara titik awal
menggunakan cahaya.
dan titik akhir, maka yang diartikan
dengan salah penutup koordinat adalah
10.2 Jenis-jenis poligon
2 2
fx  f y
S
D Pengukuran poligon dapat ditinjau dari
Ada ketentuan dimana S harus ” 1 : bentuk fisik visualnya dan dari
10.000 (tergantung dari kondisi medan geometriknya.
pengukuran)
Tinjauan dari bentuk fisik visualnya terdiri
Pengukuran poligon dilakukan untuk dari :
merapatkan koordinat titik-titik di lapangan
Poligon terbuka (secara geometris
dengan tujuan sebagai dasar untuk
dan matematis), terdiri atas
keperluan pemetaan atau keperluan teknis
serangkaian garis yang berhubungan
lainnya.
tetapi tidak kembali ke titik awal atau
Tujuan Pengukuran Poligon
terikat pada sebuah titik dengan
Untuk menetapkan koordinat titik-titik
ketelitian sama atau lebih tinggi
sudut yang diukur seperti : panjang sisi
ordenya. Titik pertama tidak sama
segi banyak, dan besar sudut-sudutnya.
dengan titik terakhir.
Guna dari pengukuran poligon adalah
- Untuk membuat kerangka daripada
peta
- Pengukuran titik tetap dalam kota
10 Pengukuran Poligon Kerangka Dasar Horisontal
255

Gambar 242. Poligon terbuka Gambar 243. Poligon tertutup


Poligon terbuka biasanya digunakan untuk : Poligon tertutup biasanya dipergunakan
x Jalur lintas / jalan raya. untuk :
x Saluran irigasi. x Pengukuran titik kontur.
x Kabel listrik tegangan tinggi. x Bangunan sipil terpusat.
x Kabel TELKOM. x Waduk.
x Jalan kereta api. x Bendungan.
x Kampus UPI.
Poligon tertutup
x Pemukiman.
Pada poligon tertutup :
x Jembatan (karena diisolir dari 1
x Garis-garis kembali ke titik awal,
tempat).
jadi membentuk segi banyak.
x Kepemilikan tanah.
x Berakhir di stasiun lain yang
x Topografi kerangka.
mempunyai ketelitian letak sama
atau lebih besar daripada ketelitian Poligon bercabang
letak titik awal.

Poligon tertutup memberikan


pengecekan pada sudut-sudut dan jarak
tertentu, suatu pertimbangan yang
sangat penting.

Titik sudut yang pertama = titik sudut


yang terakhir

Gambar244. Poligon bercabang


10 Pengukuran Poligon Kerangka Dasar Horisontal
256

Poligon kombinasi x Terikat sudut dengan koordinat


akhir tidak diketahui
Poligon tidak terikat
Dikatakan poligon tidak terikat, apabila :
x Hanya ada titik awal, azimuth awal,
dan jarak. Sedangkan tidak
diketahui koordinatnya.
x Tidak terikat koordinat dan tidak
terikat sudut.

Poligon Terbuka
Poligon terbuka bermacam-macam, antara

Gambar 245. Poligon kombinasi lain :

Dilihat dari geometris, poligon terbagi Poligon terbuka tanpa ikatan

menjadi 3, yaitu: Pada poligon ini tidak ada satu ttitik pun

Poligon terikat sempurna yang diketahui baik itu koordinatnya

Dikatakan poligon terikat sempurna, maupun sudut azimuthnya.

apabila : Pengukuran ini terjadi pada daerah yang


x Sudut awal dan sudut akhir tidak memiliki titik tetap dan sulit untuk
diketahui besarnya sehingga terjadi melakukan pengamatan astronomis.
hubungan antara sudut awal
E E E
dengan sudut akhir.
x Adanya absis dan ordinat titik awal B E
D E
F
1 2 3 4 5 6
atau akhir
C E G
x Koordinat awal dan koordinat akhir
E Sudut yang diukur
diketahui.  Jarak yang diukur
$% Tempat pesawat theodolite
Poligon terikat sebagian.
Gambar 246. Poligon terbuka tanpa ikatan
Dikatakan poligon terikat sebagian,
Pengukuran poligon terbuka tanpa ikatan
apabila :
biasanya terjadi pada daerah terpencil dan
x Hanya diikat oleh koordinat saja
berhutan lebat.
atau sudut saja
Pengukuran metode ini dihitung
berdasarkan orientasi lokal, azimuth dibuat
10 Pengukuran Poligon Kerangka Dasar Horisontal
257

sembarang, misalkan sudut azimuth awal Poligon terbuka, salah satu ujung terikat
yaitu antara 1 dan 2. Koordinat juga dibuat azimuth.
sembarang, kita misalkan salah satu titik
Pada poligon ini salah satu titik pengukuran
pengukuran memiliki koordinat awal. Tidak
diketahui sudut azimuthnya, baik itu titik
ada koreksi sudut dan koreksi koordinat
awal pengukuran maupun titik akhir
pada pengukuran metode poligon terbuka
pengukuran.
tanpa ikatan,yang ada hanyalah orientasi
lokal dan koordinat lokal.

E E E

B E E
1 2 3
D 5
F
4 6

A C E G
E Sudut yang diukur
 Jarak yang diukur
$% Tempat pesawat theodolite
Titik yang diketahui koordinatnya

Gambar 247. Poligon terbuka salah satu ujung terikat azimuth

Sudut Azimuth setiap poligon dapat dihitung Poligon terbuka salah satu ujung terikat
dari azimuth awal yang telah diketahui sudut koordinat.
azimuthnya. Koordinat masih merupakan Pada poligon ini salah satu ujung
koordinat lokal karena tidak ada satu titik pengukuran diketahui koordinatnya
pun yang diketahui koordinatnya. sedangkan titik lainnya tidak diketahui baik
itu koordinat maupun azimuthnya.

D$ E E E

E E
E B 2 3
D 5
F
1 4 6

A C E G
E Sudut yang diukur
 Jarak yang diukur
$% Tempat pesawat theodolite
D$ Azimuth yang diketahui
Titik yang diketahui koordinatnya
Gambar 248. Poligon terbuka salah satu ujung terikat koordinat
10 Pengukuran Poligon Kerangka Dasar Horisontal
258

Pada poligon ini dapat dilakukan apabila Poligon terbuka salah satu ujung terikat
salah satu ujung poligon diukur azimuthnya azimuth dan koordinat
(dengan kompas atau azimuth matahari),
Pada poligon jenis ini salah satu ujung
dengan diketahuinya azimuth dan koordinat
terikat penuh sedangkan ujung lainnya
pada salah satu titik maka azimuth pada
bebas. Salah satu ujung pada poligon ini
semua sisi dapat dihitung. Tidak ada koreksi
memiliki keterangan yang cukup jelas
sudut, koreksi koordinat pada poligon jenis
karena diketahui koordinat dan azimuth.
ini. Pada dasarnya poligon ini sama saja
dengan jenis poligon terbuka tanpa ikatan.
Relatif sulit dalam pengukuran.

D$ E E E

B E E
E
1 2 3
D 5
F
4 6

A C E G
E Sudut yang diukur
 Jarak yang diukur
$% Tempat pesawat theodolite
D$ Azimuth yang diketahui
Titik yang diketahui koordinatnya

Gambar 249. Poligon terbuka salah satu ujung terikat azimuth dan koordinat

Sudut azimuth pada setiap titik dapat dan translasi, jadi poligon ini terletak pada
dihitung karena diketahui sudut azimuth satu koordinat yang benar.
awal, begitu juga dengan koordinat,
Poligon terbuka kedua ujung terikat
koordinat akan lebih mudah ditentukan
azimuth
karena koordinat awal sudah diketahui
Kedua ujung pengukuran pada poligon ini
sebelumnya. Dengan demikian tidak ada
terikat oleh sudut azimuth.
koreksi sudut dan koordinat. Orientasi dan
Azimuth awal dan akhir diketahui, maka
koordinat benar atau bukan lokal. Poligon
ada koreksi sudut pada pengukuran ini,
tipe ini jauh lebih baik dibandingkan tipe
syarat :
poligon sebelumnya karena tidak ada rotasi
6>E@^ n-2)` DakhirDawal
10 Pengukuran Poligon Kerangka Dasar Horisontal
259

D$ E E E DG

E E
E B 2 3
D 5
F E
1 4 6

A C E G
E Sudut yang diukur
 Jarak yang diukur
$% Tempat pesawat theodolite
D$DG Azimuth yang diketahui

Gambar 250. Poligon terbuka kedua ujung terikat azimuth

Setelah semua sudut diberi koreksi, maka Poligon terbuka, salah satu ujung terikat
semua sisi poligon dapat dihitung juga, azimuth sedangkan sudut lainnya terikat
karena tidak ada satupun titik yang diketahui koordinat
koordinatnya, terpaksa salah satu titik
Dengan diketahuinya Ddan E maka semua
dimisalkan sebagai koordinat awal.
sudut azimuth dapat dihitung selisih–selisih
Dengan demikian koordinat poligon adalah absis ( S Sin D) dan selisih-selisih ordinat
koordinat lokal. Pada pengukuran ini ada (S Cos D). Dengan data tersebut dan
koreksi sudut namun tidak terdapat koreksi koordinat G, maka koordinat titik A, B, C,...
koordinat, orientasi benar (global) dapat dihitung walaupun secara mundur.
sedangkan koordinat lokal. Dapat disimpulkan bahwa tidak ada koreksi
sudut, tidak ada koreksi koordinat, orientasi
benar, dan koordinat benar (bukan lokal).

D$ E E E

B E E
E
1 2 3
D 5
F
4 6

A C E G
E Sudut yang diukur
 Sudut yang diukur
$% Sudut yang diukur
D$ Azimuth yang diketahui
Titik yang diketahui koordinatnya

Gambar 251. Poligon terbuka, salah satu ujung terikat azimuth sedangkan sudut lainnya terikat koordinat
10 Pengukuran Poligon Kerangka Dasar Horisontal
260

Poligon terbuka, kedua ujung terikat


koordinat.

E E E

B E E
1 2 3
D 5
F
4 6

A C E G
E  S udut yang diukur
  S udut yang diukur
$ %   S udut yang diukur
 T itik yang dike tahui koordinatnya
Gambar 252. Poligon terbuka kedua ujung terikat koordinat

Pada pengukuran ini titik awal dan akhir ordinat yang baru (S Cos D) sebagai Si
pengukuran diketahui koordinatnya.
Cos Di.
Langkah perhitungan sudut pada poligon ini
adalah sebagai berikut : x Hitung (S Sin CDҗҏ) dan (S CosCDҗ).

x Misalkan diketahui sudut azimuth pada x Hitung


salah satu titik dengan harga (V'X) = (Xq - Xp) - (S SinCD 
sembarang.
(V'Y) = (Yq - Yp) - (S CosCD 
x Menghitung azimuth pada setiap titik
Hitung ҏkoreksiҏ setiap Si CosCDi
dengan dasar titik sebelumnya yang
ditentukan dengan harga sembarang. sebesar

x Menghitung selisih absis (S Sin D) dan V'Xi = Si (V'X) / (S)


ordinat (S Cos D). V'Yi = Si (V'Y) / (S)
x Hitung (S Sin D) dan (S Cos D). (S) = 6 jarak
x J` ҏarc tan (S Sin D) / (S Cos D). Si = jarak
x Jҏ ҏarc tan (Xq-Xp) / (Yq-Yp). x Hitung koordinat titik A, B, C,…
menggunakan :
x 'J JJC
(Si SinCDi + V'Xi) , (Si Cos `ai + V'Yi)
x Beri koreksi setiap sudut azimuth
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa
poligon sebesar 'Jѽҏ sehingga diperoleh
pada pengukuran poligon tipe ini tidak ada
n
CD  koreksi sudut,yang ada hanya rotasi,

x Hitung selisih –selisih absis yang baru koreksi koordinat ada, orientasi benar dan
koordinat benar.
(S Sin D), sebagai Si Sin Di dan selisih
10 Pengukuran Poligon Kerangka Dasar Horisontal
261

Poligon terbuka, salah satu ujung terikat


koordinat dan azimuth sedangkan ujung
lainnya hanya terikat azimuth.

D E E E
awal
D
akhir

B E E E
E
1 2 3
D 5
F
4 6

A C E G
E Sudut yang diukur
 Jarak yang diukur
$% Tempat pesawat theodolite
D Azimuth yang diketahui
Titik yang diketahui koordinatnya

Gambar 253. Poligon terbuka salah satu ujung terikat koordinat dan azimutk
sedangkan yang lain hanya terikat azimuth

Langkah perhitungan poligon tipe ini : KBC = Si Cos DBC


x Menghitung koreksi setiap sudut
x Dengan selisih absis (H) dan selisih
VEi ={(Dawal -Dakhir)–(6E)+ n.1800}/ n
ordinat (K) serta koordinat titik A (XA,
Ei E + vEi
YA) maka koordinat titik B, C, D,...
x Menghitung azimuth setiap titik poligon dapat dihitung :
berdasarkan Dawal dan E i, E XB = XA + HAB
DA-B=Dawal +CE1 YB = YA + KAB
DB-C= DAB + CEҏ– 1800 XC = XB + HBC
DC-D= DBC + CEҏ– 1800, dst. YC = YB + KBC
x Menghitung selisih absis dan selisih
Dapat disimpulkan bahwa tidak ada koreksi
ordinat dengan data azimuth dan
koordinat, ada koreksi sudut, orientasi
panjang poligon :
benar dan koordinat benar.
HAB = Si Sin DAB
KAB = Si Cos DAB
HBC = Si Sin DBC
10 Pengukuran Poligon Kerangka Dasar Horisontal
262

Poligon terbuka, satu ujung terikat azimuth dan koordinat sedangkan ujung lainnya
hanya terikat koordinat.

Dawal
E E E

E E
E B 2 3
D 5
F
1 4 6

A(XA,YA) C E G(XG,YG)
E Sudut yang diukur
 Jarak yang diukur
$% Tempat pesawat theodolite
D Azimuth yang diketahui
Titik yang diketahui koordinatnya

Gambar 254. Poligon terbuka salah satu ujung terikat azimuth dan koordinat sedangkan
ujung lain hanya terikat koordinat

(V'X) = (XG - XA ) – ('X)


x Semua sisi poligon dihitung azimuthnya
Jumlah koreksi ordinat
dengan data Dawal dan E sebagai
(V'Y) = (YG - YA ) – ('Y)
berikut :
x Menghitung masing – masing koreksi
DAB = Dawal +ҏEң absis dan koreksi ordinat :
R
DBC = D$%+ҏE V'Xi = (Si . V 'X) / S

x Hitung selisih absis (H) dan ordinat (K) V'Yi = (Si . V 'Y) / S

dengan data – data sebagai berikut : x Menghitung koordinat titik B, C, D, ….


XB = XA+'XAB
HAB = SAB Sin DAB
YB = YA+'YAB
KAB= SAB Cos DAB
XC = XB+'XBC
HBC = SBC Sin DBC YC = YB+'YBC
KBC= SBC CosDBC XD = XC+'XCD

x Selisih absis (S Sin D) dijumlahkan, YD = YC+'YCD

demikian pula dengan ordinat (S Cos XE = XD+'XDE


YE = YD+'YEF
D).
Harga-harga ini harus sama dengan harga
x Dari koordinat titik A (XA, YA) dan G (XG, XG dan YG yang sudah diketahui
YG), maka dapat dihitung : sebelumnya. Bila tidak sama, tentu ada
Jumlah koreksi absis kesalahan pada hitungan. Dapat ditarik
10 Pengukuran Poligon Kerangka Dasar Horisontal
263

kesimpulan bahwa pada pengukuran ini Dakhir harus sama dengan Dakhir yang telah
tidak terdapat koreksi sudut, ada koreksi diketahui sebelumnya, maka dapat ditarik
koordinat, orientasi benar dan koordinat kesimpulan bahwa ada koreksi sudut dan
benar. ada koreksi koordinat, orientasi benar dan
koordinat benar.
Poligon terbuka kedua ujung terikat
azimuth dan koordinat. Poligon Tertutup

G
D E E E H
awal D
akhir
F

E E
E B 2 3
D 5
F E
1 4 6

A C I E
E G
E Sudut yang diukur
 Jarak yangdiukur
$% Tempat pesawat theodolite
D Azimuthyang diketahui A D

Gambar 255. poligon terbuka kedua ujung B C


terikat azimuth dan koordinat

Gambar 256. Poligon tertutup


Poligon tipe ini merupakan tipe poligon yang
paling baik karena kedua ujung poligon Langkah-langkah hitungan pada poligon ini
terikat penuh. adalah sebagai berikut :
x Menghitung sudut-sudut ukuran a. Jumlahkan semua sudut poligon.
x Menghitung selisih Dawal dan Dakhir b. Menghitung koreksi sudut :
x Menghitung jumlah koreksi sudut : VEҏ= (n-2).180 – (6E  sudut E di
0
(VE) = (Dakhir - Dawal) – (6E) +n.180 dalam

x Membagi jumlah koreksi sudut kepada c. Membagi koreksi tersebut kepada


semua sudut :
setiap sudut yang diukur VEҏҡn
VB
x Menghitung azimuth setiap sisi poligon Vi
n
DAB = Dҏawal + Eң +VEң
d. Bila salah satu sisi poligon itu diketahui
DBC = DABҏ + E +VE misal Dmaka azimuth sisi yang lain
DCD = DCDҏ + E +VE dapat dihitung sbb:

DEF = DDEҏ + E +VE D D12+E2+V2-1800

Dakhir = DFGҏ + E +VE D D23+E3+V3-1800


Dҏ D23+E4+V4-1800
10 Pengukuran Poligon Kerangka Dasar Horisontal
264

D D45+E5+V5-1800 lingkaran. Pada tepi lingkaran ini

D D56+E6+V6-1800 dibuat skala lms yang dinamakan


limbus.
D D71+E7+V7-1800
b. Bagian tengah, terdiri atas suatu sumbu
Sebagai kontrol dihitung : yang dimasukkan kedalam tabung
0
D D71+E1+V1-180 harus sama dengan bagian bawah. Sumbu ini sumbu tegak

Dҏ yang sudah ҏdiketahui. Pembahasan atau sumbu kesatu S1. Di atas sumbu
S1 diletakkan lagi suatu pelat yang
yang penting terutama untuk poligon terikat
berbentuk lingkaran dan mempunyai
sempurna baik tertutup maupun terbuka.
jari-jari kurang dari jari-jari pelat bagian
Poligon terikat sempurna yaitu suatu poligon bawah. Pada dua tempat di tepi
yang diikatkan oleh dua buah titik pada awal lingkaran di buat pembaca no yang
pengukuran dan dua buah titik pada akhir berbentuk alat pembaca nonius. Diatas
pengukuran yang masing-masing telah nonius ini ditempatkan dua kaki yang
mempunyai koordinat definitif dari hasil penyangga sumbu mendatar. Suatu
pengukuran sebelumnya. Nilai sudut-sudut nivo diletakkan di atas pelat nonius
dalam atau luar serta jarak mendatar antara untuk membuat sumbu kesatu tegak
titik-titik poligon diperoleh atau diukur dari lurus.
lapangan menggunakan alat pengukur c. Bagian atas, terdiri dari sumbu
sudut dan pengukur jarak yang mempunyai mendatar atau sumbu kedua yang
tingkat ketelitian tinggi. diletakkan diatas kaki penyangga
sumbu kedua S2. Pada sumbu kedua
10. 3 Peralatan, bahan dan
ditempatkan suatu teropong tp yang
prosedur pengukuran
poligon mempunyai diafragma dan dengan
demikian mempunyai garis bidik gb.
10.3.1 Peralatan Yang Digunakan :
Pada sumbu kedua diletakkan pelat
1. Pesawat Theodolite
yang berbentuk lingkaran dilengkapi
Alat pengukur Theodolitee dapat
dengan skala lingkaran tegak ini
mengukur sudut-sudut yang mendatar
ditempatkan dua nonius pada kaki
dan tegak. Alat pengukur sudut
penyangga sumbu kedua.
theodolite dibagi dalam 3 bagian yaitu:
Jika di lihat dari cara pengukuran dan
a. Bagian bawah, terdiri atas tiga sekrup
konstruksinya, bentuk alat ukur Theodolite
penyetel SK yang menyangga suatu
di bagi dalam dua jenis, yaitu :
tabung dan pelat yang berbentuk
10 Pengukuran Poligon Kerangka Dasar Horisontal
265

a. Theodolite reiterasi, yaitu jenis - Pembacaan Sudut : 1/5”


Theodolite yang pelat lingkaran skala - Internal Memory : 24.000 Points
mendatar dijadikan satu dengan tabung - Display : 2 Muka
yang letaknya di atas tiga sekerup. - Jarak ukur 1 Prisma : 3.000 M
Pelat nonius dan pelat skala mendatar - Jarak ukur 3 Prisma : 4.000 M
dapat diletakkan menjadi satu dengan
sekrup kl, sedangkan pergeseran kecil
dari nonius terhadap skala lingkaran,
dapat digunakan sekrup fl. Dua sekrup
kl dan fl merupakan satu pasang ;
sekerup fl dapat menggerakkan pelat
nonius bila sekerup kl telah dikeraskan.

b. Theodolite repetisi, yaitu jenis


Theodolite yang pelatnya dengan skala
Gambar 257. Topcon total station-233N
lingkaran mendatar ditempatkan
sedemikian rupa sehingga pelat dapat
2. Statif
berputar sendiri dengan tabung pada
Statif merupakan tempat dudukan
sekrup penyetel sebagai sumbu putar.
alat dan untuk menstabilkan alat
Perbedaan jenis repetisi dengan
seperti Sipat datar. Alat ini
reiterasi adalah jenis repetisi memiliki
mempunyai 3 kaki yang sama
sekrup k2 dan f2 yang berguna pada
panjang dan bisa dirubah ukuran
pengukuran sudut mendatar dengan
ketinggiannya. Statif saat didirikan
cara repetisi. (Gambar Terlampir)
harus rata karena jika tidak rata dapat
Selain menggunakan Theodolite, mengakibatkan kesalahan saat
pengukuran poligon Kerangka Dasar pengukuran
Horizontal dapat menggunakan Topcon.

Alat Pengukur Sudut (Topcon)


Negara Asal : Jepang
Keterangan :
Topcon Total Station GTS-233N
- Ketelitian Sudut : 3”
- Ketelitian Jarak : ± - (2mm+2ppmxD)
- Pembesaran Lensa : 30x Gambar 258. Statif
10 Pengukuran Poligon Kerangka Dasar Horisontal
266

3. Unting-Unting x Patok Beton atau Besi


Unting-unting terbuat dari besi atau Patok yang terbuat dari beton atau
kuningan yang berbentuk kerucut besi biasanya merupakan patok tetap
dengan ujung bawah lancip dan di ujung yang akan masih dipakai diwaktu
atas digantungkan pada seutas tali. lain.
Unting-unting berguna untuk
memproyeksikan suatu titik pada pita
ukur di permukaan tanah atau
sebaliknya.

Gambar 259. Unting-unting

4. Patok
Patok dalam ukur tanah berfungsi untuk
memberi tanda batas jalon, dimana titik
setelah diukur dan akan diperlukan lagi Gambar 260. Jalon
pada waktu lain. Patok biasanya
ditanam didalam tanah dan yang 5. Rambu Ukur
menonjol antara 5 cm-10 cm, dengan Rambu ukur dapat terbuat dari kayu,
maksud agar tidak lepas dan tidak campuran alumunium yang diberi skala
mudah dicabut. Patok terbuat dari dua pembacaan. Ukuran lebarnya r 4 cm,
macam bahan yaitu kayu dan besi atau panjang antara 3m-5m pembacaan
beton. dilengkapi dengan angka dari meter,
x Patok Kayu desimeter, sentimeter, dan milimeter.
Patok kayu yang terbuat dari kayu,
berpenampang bujur sangkar dengan
ukuran r 50 mm x 50 mm, dan bagian
atasnya diberi cat.
10 Pengukuran Poligon Kerangka Dasar Horisontal
267

7. Meja lapangan (meja dada)

8. Pita Ukur (meteran)


Pita ukur linen bisa berlapis plastik atau
tidak, dan kadang-kadang diperkuat
dengan benang serat. Pita ini tersedia
dalam ukuran panjang 10 m, 15 m, 20
m, 25 m atau 30 m.Kelebihan dari alat
ini adalah bisa digulung dan ditarik
kembali, dan kekurangannya adalah
kalau ditarik akan memanjang, lekas
rusak dan mudah putus, tidak tahan air.

Gambar 260. Rambu Ukur

6. Payung
Payung ini digunakan atau memiliki
Gambar 263. Pita ukur
fungsi sebagai pelindung dari panas dan
hujan untuk alat ukur itu sendiri. Karena 10.1.1 Bahan Yang Digunakan :
bila alat ukur sering kepanasan atau 1. Formulir Ukur
kehujanan, lambat laun alat tersebut Formulir pengukuran digunakan
pasti mudah rusak (seperti; jamuran, untuk mencatat kondisi di
dll). lapangan dan hasil
perhitungan-perhitungan/
pengukuran di lapangan. (Lihat
tabel 24, 25 dan 26)

Gambar 262. Payung


10 Pengukuran Poligon Kerangka Dasar Horisontal
268

Gambar 265. Benang

Gambar 264. Formulir dan alat tulis


6. Paku
2. Peta wilayah study Paku terbuat dari baja (besi) dengan
Peta digunakan agar mengetahui di ukuran ± 10 mm. Digunakan sebagai
daerah mana akan melakukan tanda apabila cat mudah hilang dan
pengukuran patok kayu tidak dapat digunakan,
3. Cat dan koas dikarenakan rute (jalan) yang
Alat ini murah dan sederhana akan digunakan terbuat dari aspal.
tetapi peranannya sangat penting sekali
ketika di lapangan, yaitu digunakan 10.3.3 Prosedur Pemakaian Alat Pada

untuk menandai dimana kita mengukur Poligon

dan dimana pula kita meletakan rambu


Cara mengatur dan sentering alat theodolite
ukur. Tanda ini tidak boleh hilang
adalah sebagai berikut :
sebelum perhitungan selesai karena
kemungkinan salah ukur dan harus 1. Pasang statif alat kira-kira diatas titik

diukur ulang. poligon

4. Alat tulis - keraskan sekrup-sekrup statif

Alat tulis digunakan untuk mencatat - usahakan dasar alat statif sedatar

hasil pengukuran di lapangan. mungkin untuk memudahkan

5. Benang mengatur nivo mendatar

Benang berfungsi sebagai: 2. Pasang alat theodolite di atas statif,


keraskan sekrup pengencang alat
a. menentukan garis lurus
3. Pasang unting-unting pada sekrup
b. menentukan garis datar
pengencang di bawah alat.
menentukan pasangan yang lurus
4. Jika ujung-ujung belum tepat di atas
c. meluruskan plesteran
paku aturlah dengan menggeser atau
d. menggantungkan unting-unting
10 Pengukuran Poligon Kerangka Dasar Horisontal
269

menaik turunkan kaki alat dengan - Periksa gelembung nivo kotak jika
bantuan sekrup kaki sehingga unting- berubah atur lagi dan ulangi
unting tepat di atas paku pekerjaan.
- kaki alat diinjak kuat-kuat sehingga
6. Atur nivo tabung dengan 3 sekrup
masuk ke dalam tanah.
penyetel A, B, C.
5. Ketengahkan gelembung nivo kotak
Cara mengaturnya :
dengan bantuan ketiga sekrup penyetel
a. Putar teropong hingga nivo tabung
sekaligus
terletak ejajar dengan 2 sekrup
penyetel A dan B
NIVO KOTAK
C

Gambar 266. Nivo kotak A B

Gambar 267. Nivo tabung


Catatan :
Jika alat mempunyai sentering optis T.2
C
Sokisha, Topcon, Th3 Zeis dll, maka
cara melakukan sentering optis adalah
sebagai berikut :
- Lepaskan unting-unting
A B
- Lihat melalui teropong sentering
optis Gambar 268. Nivo tabung

- Jika benang silang optis belum b. Ketengahkan gelembung dengan salah


tepat di tengah-tengah paku, satu sekrup penyetel A atau B
longgarkan sekrup-sekrup c. Putar teropong 180o jika gelembung
pengencang, geserkan alat translasi menggeser n skala, maka kembalikan n
sehingga benang silang tepat di ½ n dengan salah satu sekrup penyetel
atas paku (tengah-tengah paku) d. Pekerjaan (a), (b), (c) dilakukan
kemudian kencangkan kembali berulang-ulang sehingga teropong
sekrup sebelum dan sesudah diputar 180o
gelembung tetap di tengah.
10 Pengukuran Poligon Kerangka Dasar Horisontal
270

e. Putar teropong 90o, jika gelembung atas patok, berbeda dengan


menggeser ketengahkan dengan sekrup pengukuran sipat datar kerangka dasar
penyetel C. vertikal dengan alat yang berdiri di
f. Maka alat siap untuk digunakan antara 2 buah titik (patok)
pengukuran 2. Target diletakkan di atas patok-patok
yang mengapit tempat alat sipat datar
Catatan :
berdiri. Gelembung nivo tabung
- Dalam melakukan pengukuran sudut
diketengahkan dengan cara memutar
horizontal, nivo vertikal tidak perlu diatur
dua buah sekrup kaki kiap ke arah
- Sekrup repetisi (jika ada), jika tidak
dalam saja atau keluar saja serta
diperlukan agar tetap terkunci
memutar sekrup kaki kiap kearah kanan

10.3.4 Prosedur pengukuran poligon atau kiri. Teropong diarahkan ke target


belakang dan dibaca sudut
Pengukuran harus dilaksanakan horizontalnya pada posisi biasa.
berdasarkan ketentuan – ketentuan yang Teropong kemudian diputar ke arah
ditetapkan sebelumnya. target muka dibaca pula sudut
Ketentuan-ketentuan pengukuran Kerangka horizontalnya pada posisi biasa.
dasar Horizontal adalah sebagai berikut : 3. Teropong diubah posisinya menjadi luar
a. Jarak antara dua titik, sekurang- biasa dan diarahkan ke target muka
kurangnya diukur 2 kali. serta dibaca sudut horizontalnya.
b. Sudut mendatar, sekurang-kurangnya 4. Alat theodolite dipindahkan ke patok
diukur 2 seri selanjutnya dan dilakukan hal yang
c. Pengukuran astronomi (azimuth), sama seperti pada patok sebelumnya.
sekurang-kurangnya di ukur 4 seri Pengukuran dilanjutkan sampai seluruh
masing-masing untuk pengukuran pagi patok didirikan alat theodolite.
dan sore hari. 5. Data diperoleh dari lapangan kemudian

Prosedur pengukuran poligon kerangka diolah secara manual atau tabelaris

dasar horizontal adalah sebagai berikut : dengan menggunakan bantuan

1. Dengan menggunakan patok-patok teknologi digital komputer. Pengolahan

yang telah ada yang digunakan pada data poligon dapat diselesaikan dengan

pengukuran sipat datar kerangka dasar metode Bowditch atau Transit.

vertikal, dirikan alat theodolite pada titik Pada metode Bowditch, bobot koreksi

(patok) awal pengukuran. Pada absis dan ordinat diperoleh dari

pengukuran poligon, alat didirikan di perbandingan jarak resultante dengan


10 Pengukuran Poligon Kerangka Dasar Horisontal
271

total jarak pengukuran poligon,


sedangkan pada metode Transit bobot 10.3.5 Cara pembidikan titik sudut
koreksi absis / ordinat diperoleh jarak untuk daerah yang terbuka
pada arah absis dibandingkan dengan a. Garis bidik diusahakan harus tepat
total jarak pada arah absis / ordinat. mengincar pada titik poligon.
6. Pengukuran poligon kerangka dasar b. Benang tengah harus tepat di atas titik
horizontal selesai. poligon

Gambar 269. Jalon di atas patok

Untuk daerah yang terhalang


Pada titik poligon yang terhalang
ditempatkan :
a. Rambu ukur dengan garis tengah
rambu ukur tepat di atas titik pusat
poligon.
b. Unting-unting yang ditahan oleh 3 buah
jalon.
x Garis bidik diarahkan pada garis
tengah rambu ukuran atau pada
benang unting- unting.
Gambar 270. Penempatan rambu ukur
10 Pengukuran Poligon Kerangka Dasar Horisontal
272

x Pada titik-titik poligon yang akan menjadi rumus-rumus terprogram dalam

dibidik ditempatkan : bentuk digital.

- unting-unting yang ditahan oleh 3 Pengolahan data poligon dikontrol terhadap


buah jalon. sudut-sudut dalam atau luar poligon dan
- dapat pula paku, ujung pensil, dikontrol terhadap koordinat baik absis
sapu lidi yang lurus sebagai maupun ordinat. Pengolahan data poligon
pembantu. dimulai dengan menghitung sudut awal dan
sudut akhir dari titik-titik ikat poligon.

Perhitungan meliputi :
- mengoreksi hasil ukuran
- mereduksi hasil ukuran, misalnya
mereduksi jarak miring menjadi jarak
mendatar dan lain-lain
- menghitung azimuth pengamatan
matahari
Gambar 271. Penempatan unting-unting
- menghitung koordinat dan ketinggian
setiap titik
Hasil yang diperoleh dari praktek
Catatan :
pengukuran poligon di lapangan adalah
1. Apabila Kerangka Dasar Horizontal
koordinat titik-titik yang diukur sebagai titik-
akan dihitung pada proyeksi tertentu
titik ikat untuk keperluan penggambaran
misalnya Polyeder atau U.T.M, maka
titik-titik detail dalam pemetaan.
sebelumnya harus dilakukan hitungan

10.4 Pengolahan data poligon reduksi data ukuran ke dalam proyeksi


peta yang bersangkutan
2. Sesuai dengan bentuk jaringannya,
Pengolahan data dapat dilakukan secara
hitungan koordinat atau ketinggian
manual langsung dikerjakan pada formulir
dapat dilakukan dengan peralatan
ukuran atau secara tabelaris menggunakan
sederhana (bertingkat-tingkat) atau
lembar elektrolis (spreadsheet) di komputer,
dengan perataan kuadarat terkecil.
contohnya : adalah perangkat lunak Lotus
Dasar-dasar perhitungan pengukuran
atau Excell.
poligon adalah sebagai berikut :
Rumus-rumus dasar pengolahan data Menghitung Sudut Jurusan Awal yang
ditransfer dari penyajiannya secara analog telah diketahui koordinatnya
10 Pengukuran Poligon Kerangka Dasar Horisontal
273

(XA, YA) dan (XB, YB), maka : poligon terhadap pengurangan sudut

(X B  X A) akhir dengan sudut awal poligon.


D AB = arctan
(YB  Y A ) Koreksi sudut poligon yang diperoleh
kemudian dibagi secara merata tanpa
XB  XA
bobot terhadap sudut-sudut poligon
YB  YA
hasil pengukuran dan pengamatan di
Menghitung Sudut Jurusan Akhir yang
lapangan.
telah diketahui koordinatnya
Menghitung Sudut-sudut jurusan antara
(XC, YC) dan (XD, YD), maka :
titik-titik poligon :
X D  XC
DCD = arc Tgn Sudut-sudut jurusan titik poligon
YD  YC
terhadap titik poligon berikutnya
Menghitung Koreksi Penutup Sudut
mengacu terhadap sudut awal poligon
melalui syarat penutup sudut dengan :
dijumlahkan terhadap sudut poligon
E adalah sudut-sudut dalam / luar yang telah dikoreksi.
poligon hasil pengukuran dari lapangan
Untuk perhitungan awal dapat dihitung,
dan n adalah jumlah titik-titik poligon
yaitu:
yang diukur sudut-sudutnya, maka
- Jika putaran sudut-sudut tidak
D akhir - D awal = ™E - (n – 2) . 180q+kE
melebihi 1 putaran atau sudut 360o,
kE = D akhir - D awal -™E + (n – 2). 180q
maka :
Menghitung Sudut-sudut Dalam / Luar D A1 = D AB + E0k
Poligon yang telah dikoreksi terhadap
- Jika putaran sudut-sudut melebihi 1
Kesalahan Penutup Sudut :
putaran atau sudut 360o, maka :
E0k = E0 + (kE / n)
D A1 = D AB + E0k - 360o
E1k = E1 + (kE / n)*
...... ..... ........... Untuk selanjutnya dapat dihitung, yaitu :
Enk = En + (kE / n) - Jika putaran sudut-sudut tidak
melebihi 1 putaran atau sudut 360o,
* Menghitung Sudut-Sudut Jurusan
maka :
antara titik-titik poligon
D 12 = D A1 + 180o + E1k
Kontrol sudut poligon diawali terlebih - Jika putaran sudut-sudut melebihi 1
dahulu dilakukan yaitu untuk putaran atau sudut 360o, maka :
memperoleh koreksi sudut poligon D 12 = D A1 + 180o + E1k - 360o
dengan cara mengontrol jumlah sudut D 12 = D A1 + E1k - 180o
10 Pengukuran Poligon Kerangka Dasar Horisontal
274

Menghitung Koreksi Absis dan Ordinat awal dikurangi serta dibandingkan


Koreksi absis dan ordinat ini dapat terhadap jumlah proyeksinya terhadap
didekati melalui metode Bowditch dan absis dan ordinat. Koreksi absis dan
Transit. Koreksi metode Bowditch ordinat akan diperoleh dan dibagikan
meninjau bobot jarak dari proyeksi pada dengan mempertimbangkan bobot
absis dan ordinat sedangkan koreksi kepada masing-masing titik poligon.
metode Transit meninjau bobot jarak Bobot koreksi didekati dengan cara
dari resultante jarak absis dan ordinat. perbandingan jarak pada suatu ruas
garis terhadap jarak total poligon dari
Mengkoreksi absis dan ordinat melalui
awal sampai akhir pengukuran.
syarat absis dan ordinat, dengan d
adalah jarak datar / sejajar bidang nivo Untuk menghitung Toleransi adalah
dan D adalah sudut jurusan: sebagai berikut :
Syarat Absis : 1. Toleransi Sudut
X akhir – X awal = ™d . sin D + kx Jika digunakan alat Theodolite

Kx = X akhir – X awal - ™d . sin D berdasarkan estimasi maximum

Syarat Ordinat : ditentukan bahwa

Y akhir – Y awal = ™d . cos D + ky salah penutup sudut poligon = K = i n


Ky = Y akhir – Y awal - ™d . cos D i = ketelitian dalam satuan detik (sekon)

Menghitung Koordinat – Koordinat Maka : fE harus ” i n


Definitif titik-titik poligon dengan Metode dimana : n adalah banyak titik sudut
Bowditch :
2. Toleransi Jarak
X1 = XA + dA1 . sin DA1 + kx (dA1 / ™d)
Jika digunakan pita ukur, ditentukan
Y1 = YA + dA1 . cos DA1 + ky (dA1 / ™d) 1
toleransi ketelitian jarak linier =
Menghitung koordinat – koordinat 2500

definitif titik-titik poligon dengan metode


Salah Linier = L = fx 2  fy 2
transit :
Maka :
X1 = XA + dA1 . sin DA1 + kx (dA1 . sin DA1 /
Toleransi salah linier harus memenuhi :
™d . sin D)
Y1 = YA + dA1 . cos DA1 + ky (dA1 . cos DA1 fx  fy 2 1
d
/ ™d . cos D) (¦ d ) 2500

Kontrol koordinat berbeda dengan


kontrol sudut yaitu koordinat akhir dan
10 Pengukuran Poligon Kerangka Dasar Horisontal
275

Untuk menghitung koordinatnya, disamping lintang dan bujur geografi ini dapat
sudut dan jarak mendatar diperlukan pula ditentukan koordinat (X , Y) dalam sisitem
minimal satu jurusan awal dan satu titik umum.
yang telah diketahui koordinatnya.
- Bila tidak terdapat titik Triangulasi dan
Untuk jurusan Awal dapat ditentukan tidak dikehendaki koordinat dalam sistem
sebagai berikut : umum, maka salah satu titik kerangka
- Bila di sekitar titik-titik kerangka dasar dasar dapat dipilih sebagai titik awal
terdapat 2 titik Triangulasi, sudut jurusan dengan koordinat sembarang, misalnya :
dihitung dari titik-titik Triangulasi dapat X = 0, Y = 0. Sistem demikian dinamakan
digunakan sebagai jurusan awal Koordinat Setempat (lokal)

Apabila jurusan awal ini yang akan Titik awal tersebut sebaiknya dipilih yang
digunakan, maka jaring titik-titik kerangka terletak di tengah wilayah yang
dasar harus disambungkan ke tiitk dipetakan.
Triangulasi tersebut.
Bila tidak terdapat dari pengamatan
10.5 Penggambaran poligon
astronomi (pengamatan matahari atau
bintang); dari pengukuran menggunakan
Penggambaran poligon kerangka dasar
Theodolite Kompas atau ditentukan
horizontal dapat dilakukan secara manual
sembarang.
atau digital.
Untuk koordinat Awal dapat ditentukan
Penggambaran secara manual harus
sebagai berikut :
memperhatikan ukuran lembar yang
- Bila dikehendaki koordinat dalam sistem digunakan dan skala gambar, sedangkan
umum (sistem yang berlaku di wilayah penggambaran secara digital lebih
suatu negara) digunakan tiitk Triangulasi menekankan kepada sistem koordinat yang
(cukup satu titik saja). Dengan demikian digunakan serta satuan unit yang akan
kerangka dasar harus diikatkan ke titik dipakai dalam gambar digital yang
Triangulasi tersebut. berhubungan dengan keluaran akhir.
- Bila dikehendaki koordinat dalam sistem Penggambaran poligon kerangka dasar
umum tetapi terdapat tiitk Triangulasi, hoizontal akan menyajikan unsur-unsur :
maka di salah satu titik kerangka dasar sumbu absis, sumbu ordinat, dan garis
dilakukan pengukuran astronomi untuk hubung antara titik-titik poligon.
menentukan lintang dan bujurnya. Dari
10 Pengukuran Poligon Kerangka Dasar Horisontal
276

Penggambaran secara manual pada poligon


kerangka dasar horizontal memiliki skala A1

yang sama pada arah sumbu absis dan


sumbu ordinat karena jangkauan arah
sumbu absis dan ordinat memiliki ukuran
A3 A2
yang sama.

Informasi ukuran kertas yang demikian A4


menjadi hal utama yang harus diperhatikan.

Ukuran kertas untuk penggambaran hasil


Pembagian Kertas Seri A
pengukuran dan pemetaan terdiri dari :
Gambar 272. Pembagian kertas seri A
Tabel 21. Ukuran kertas seri A
Unsur-Unsur yang harus ada dalam
Ukuran Panjang Lebar
penggambaran hasil pengukuran dan
Kertas (milimeter) (milimeter)
pemetaan adalah :
A0 1189 841
A1 841 594 Legenda
A2 594 420 Yaitu suatu informasi berupa huruf,
A3 420 297
simbol dan gambar yang menjelaskan
A4 297 210
mengenai isi gambar. Legenda memiliki
A5 210 148
ruang di luar muka peta dan dibatasi
oleh garis yang membentuk kotak-
Ukuran kertas yang digunakan untuk
kotak.
pencetakkan peta biasanya Seri A. Dasar
ukuran adalah A0 yang luasnya setara Tanda-tanda atau simbol-simbol yang
dengan 1 meter persegi. Setiap angka digunakan adalah untuk menyatakan
setelah huruf A menyatakan setengah bangunan-bangunan yang ada di atas
ukuran dari angka sebelumnya. Jadi, A1 bumi seperti jalan raya, kereta api,
adalah setengah A0, A2 adalah seperempat sungai, selokan, rawa atau kampung.
dari A0 dan A3 adalah seperdelapan dari Juga untuk bermacam-macam keadaan
A0. Perhitungan yang lebih besar dari SAO dan tanam-tanaman misalnya ladang,
adalah 2A0 atau dua kali ukuran A0. padang rumput, atau alang-alang,
perkebunan seperti : karet, kopi,
kelapa, untuk tiap macam pohon diberi
tanda khusus.
10 Pengukuran Poligon Kerangka Dasar Horisontal
277

Untuk dapat membayangkan tinggi


1 0.5 0
rendahnya permukaan bumi, maka 1 2 3 4

digunakan garis-garis tinggi atau


Kilometer
tranches atau kontur yang
menghubungkan titik-titik yang tingginya
sama di atas permukaan bumi. Gambar 273. Skala grafis

Muka Peta Skala grafis memiliki kelebihan

Yaitu ruang yang digunakan untuk dibandingkan dengan skala numeris

menyajikan informasi bentuk permukaan dan skala perbandingan karena tidak

bumi baik informasi vertikal maupun dipengaruhi oleh muai kerut bahan dan

horizontal. Muka peta sebaiknya perubahan ukuran penyajian peta.

memiliki ukuran panjang dan lebar yang Orientasi arah utara


proporsional agar memenuhi unsur Yaitu simbol berupa panah yang
estetis. biasanya mengarah ke arah sumbu Y

Skala Peta positif muka peta dan menunjukkan

Yaitu simbol yang menggambarkan orientasi arah utara. Orientasi arah

perbandingan jarak di atas peta dengan utara ini dapat terdiri dari : arah utara

jarak sesungguhnya di lapangan. Skala geodetik, arah utara magnetis, dan arah

peta terdiri dari : skala numeris, skala utara grid koordinat proyeksi. Skala

perbandingan, dan skala grafis. peta grafis biasanya selalu disajikan


untuk melengkapi skala numeris atau
Skala numeris yaitu skala yang
skala perbandingan untuk
menyatakan perbandingan perkecilan
mengantisipasi adanya pembesaran
yang ditulis dengan angka, misalnya :
dan perkecilan peta serta muai susut
skala 1 : 25.000 atau skala 1 : 50.000.
bahan peta.
Skala grafis yaitu skala yang digunakan
untuk menyatakan panjang garis di peta Sumber gambar yang dipetakan

dan jarak yang diwakilinya di lapangan Untuk mengetahui secara terperinci

melalui informasi grafis. proses dan prosedur pembuatan peta,


sumber peta akan memberikakan
tingkat akurasi dan kualitas peta yang
dibuat.
10 Pengukuran Poligon Kerangka Dasar Horisontal
278

Tim pengukuran yang membuat peta 2. menentukan ukuran kertas yang akan
Untuk mengetahui penanggung jawab dipakai
pengukuran di lapangan dan 3. membuat tata jarak peta, meliputi muka
penyajiannya di atas kertas, personel peta dan ruang legenda
yang disajikan akan memberikan 4. menghitung panjang dan lebar muka
informasi mengenai kualifikasi personel peta
yang terlibat. 5. mendapatkan skala jarak horizontal

Instalnsi dan simbol dengan membuat perbandingan

Instalasi dan simbol yang memberikan panjang muka peta dengan kumulatif

pekerjaan dan melaksanakan pekerjaan jarak horizontal dalam satuan yang

pengukuran dan pembuatan peta. sama. Jika hasil perbandingan tidak

Instalnsi dan simbol instalnsi ini akan menghasilkan nilai yang bulat maka

memberikan informasi mengenai nilai skala dibulatkan ke atas dan

karakteristik tema yang biasanya memiliki nilai kelipatan tertentu

diperlukan bagi instalnsi yang 6. membuat sumbu mendatar dan tegak

bersangkutan. yang titik pusatnya memiliki jarak


tertentu terhadap batas muka peta,
Peralatan yang harus disiapkan untuk
menggunakan pinsil
menggambar sipat datar kerangka dasar
7. menggambarkan titik-titik yang
vertikal meliputi :
merupakan posisi tinggi hasil
1. Lembaran kertas milimeter dengan
pengukuran dengan jarak-jarak tertentu
ukuran tertentu
serta menghubungkan titik-titik tersebut,
2. Penggaris 2 buah (segitiga atau lurus)
menggunakan pinsil
3. Pinsil
8. membuat keterangan – keterangan
4. Penghapus
nilai tinggi dan jarak di dalam muka
5. Tinta
peta serta melengkapi informasi
Prosedur penggambaran untuk poligon legenda, membuat skala, orientasi
kerangka dasar horizontal pengukuran, sumber peta, tim
Prosedur penggambaran untuk poligon pengukuran, nama instnasi dan
kerangka dasar horizontal adalah sebagai simbolnya, menggunakan pinsil
berikut : 9. menjiplak draft penggambaran ke atas
1. menghitung kumulatif jarak horizontal bahan transparan, menggunakan tinta.
pengukuran poligon
10 Pengukuran Poligon Kerangka Dasar Horisontal
279

Prosedur penggambaran untuk poligon horizontal serta menghubungkan titik-


kerangka dasar horizontal secara manual, titik tersebut, menggunakan pinsil
adalah sebagai berikut : 10. membuat keterangan – keterangan
nilai tinggi dan jarak di dalam muka
1. menghitung range absis pengukuran
peta serta melengkapi informasi
poligon kerangka dasar horizontal
legenda, membuat skala, orientasi
2. menghitung range ordinat pengukuran
pengukuran, sumber peta, tim
poligon kerangka dasar horizontal
pengukuran, nama instansi dan
3. membandingkan nilai range absis
simbolnya, menggunakan pinsil
dengan range ordinat pengukuran
11. menjiplak draft penggambaran ke atas
poligon kerangka dasar horizontal. Nilai
bahan yang tansparan menggunakan
range yang lebih besar merupakan nilai
tinta.
untuk menetapkan skala peta.
4. menentukan ukuran kertas yang akan Untuk penggambaran poligon kerangka
dipakai dasar horizontal secara digital dapat
5. membuat tata letak peta, meliputi muka menggunakan perangkat lunak Lotus,
peta dan ruang legenda Exceell, atau AutoCAD. Penggambaran
6. menghitung panjang dan lebar muka dengan masing-masing perangkat lunak
peta yang berbeda akan memberikan hasil
7. menetapkan skala peta dengan keluaran yang berbeda pula.
membuat perbandingan panjang muka
Untuk penggambaran menggunakan Lotus
peta dengan nilai range absis dan
atau Excell yang harus diperhatikan adalah
ordinat yang lebih besar dalam satuan
penggambaran grafik dengan metode
yang sama. Jika hasil perbandingan
Scatter, agar gambar yang diperoleh pada
tidak menghasilkan nilai yang bulat
arah tertentu (terutama sumbu horizontal)
maka nilai skala dibulatkan ke atas dan
memiliki interval sesuai dengan yang
memiliki nilai kelipatan tertentu
diinginkan, tidak memiliki interval yang
8. membuat sumbu mendatar dan tegak
sama. Penggambaran dengan AutoCAD
yang titik pusatnya memiliki jarak
walaupun lebih sulit akan menghasilkan
tertentu terhadap batas muka peta,
keluaran yang lebih sempurna dan sesuai
menggunakan pinsil
dengan format yang diiinginkan.
9. menggambarkan titik-titik yang
merupakan posisi koordinat hasil
pengukuran poligon kerangka dasar
10 Pengukuran Poligon Kerangka Dasar Horisontal
280

Contoh hasil pengukuran poligon kerangka dasar horizontal

Dari lapangan didapat ;

PENGOLAHAN DATA

Diketahui : Data hasil Pengukuran Poligon Tertutup dengan titik Poligon 1


(786488 ; 9240746).

Tabel 22. Bacaan sudut Tabel 23. Jarak

Bacaan Sudut Bacaan


Sudut Jarak
Sudut
d1 23
q

Desimal
d2 11
D12 = E1 96 48 0 96,80000
d3 35
E2 191 4 30 191,07500
d4 15
E3 171 54 0 171,90000
d5 31
E4 100 34 30 100,57500
d6 28
E5 158 30 0 158,50000
51
d7
E6 87 36 30 87,60833
d8 21
E7 185 51 0 185,85000 d9 12

E8 88 46 0 88,76667 6d 227

E9 180 53 30 180,89167

6E 1256 356 120 1261,96667


10 Pengukuran Poligon Kerangka Dasar Horisontal
281

Ditanyakan : Koordinat titik P2, P3, P4, P5, P6, P7, P8, dan P9 dengan Metode
Bowditch dan Metode Transit, serta cari luas Poligon Tertutup
dengan Metode Sarrus ?
Jawaban :
I. POLIGON TERTUTUP METODE BOWDITCH
A. Syarat 1

lDakhir - Dawall = 6E - (n-2) . 180q + fE

l96,8 – 96,8l = 1261,96667 – (9 – 2) . 180Û + fȕ

0 = 1,96667 + fȕ

fȕ = -1,96667
Mencari E Koreksi :

x E1 = E1 + (fE : 9) = 96,80000 + (-1,96667 : 9) = 96,58148


x E2 = E2 + (fE : 9) = 191,07500 + (-1,96667 : 9) = 190,85648
x E3 = E3 + (fE : 9) = 171,90000 + (-1,96667 : 9) = 171,68148
x E4 = E4 + (fE : 9) = 100,57500 + (-1,96667 : 9) = 100,35648
x E5 = E5 + (fE : 9) = 158,50000 + (-1,96667 : 9) = 158,28148
x E6 = E6 + (fE : 9) = 87,60833 + (-1,96667 : 9) = 87,38981
x E7 = E7 + (fE : 9) = 185,85000 + (-1,96667 : 9) = 185,63148
x E8 = E8 + (fE : 9) = 88,76667 + (-1,96667 : 9) = 88,54815
x E9 = E9 + (fE : 9) = 180,89167 + (-1,96667 : 9) = 180,67315
Mencari D Koreksi :

x D12 = Dawwal + E1 = 96,80000 + 96,58148 = 193,38148


x D23 = D12 + E2 = 193,38148+ 190,85648 – 180 = 204,23796
x D34 = D23 + E3 = 204,23796+ 171,68148 – 180 = 195,91944
x D45 = D34 + E4 = 195,91944+ 100,35648 – 180 = 116,27593
x D56 = D45 + E5 = 116,2759 + 158,28148 – 180 = -94,55741
10 Pengukuran Poligon Kerangka Dasar Horisontal
282

x D67 = D56 + E6 = 94,55741 + 87,38981 – 180 = 1,94722


x D78 = D67 + E7 = 1,94722 + 185,63148 – 180 = 7,57870
x D89 = D78 + E8 = 7,57870 + 88,54815 – 180 = -83,87315
x D91 = D89 + E9 = -83,87315 + 180,67315 – 180 = -83,20000

B. Syarat 2
6'X = 6d Sin D
6'X = (23 . Sin 193,40333) + (11 . Sin 204,28167) + (35 . Sin 195,985) +
(15 . Sin 116,36333) + (31 . Sin 94,66667) + (28 . Sin 2,07833) +
(51 . Sin 7,73167) + (21 . Sin -83,698333) + (12 . Sin -
83,00333)

6'X = -0,20463

6'Y = 6d Cos D
6'Y = (23 . Cos 193,40333) + (11 . Cos 204,28167) + (35 . Cos 195,985)
+ (15 . Sin 116,36333) + (31 . Cos 94,66667) + (28 . Cos 2,07833)
+ (51 . Cos 7,73167) + (21 . Cos -83,698333) + (12 . Cos -
83,00333)
6'Y = -0,29105
Mencari Bobot X
x Bobot X P1 = ('X12 : 6'X) = (-5,32297 : -0,20463) = 26,01208
x Bobot X P2 = ('X23 : 6'X) = (-4,51580 : -0,20463) = 22,06763
x Bobot X P3 = ('X34 : 6'X) = (-9,59999 : -0,20463) = 46,91286
x Bobot X P4 = ('X45 : 6'X) = (13,45009 : -0,20463) = -65,72735
x Bobot X P5 = ('X56 : 6'X) = (30,90198 : -0,20463) = -151,01059
x Bobot X P6 = ('X67 : 6'X) = (0,95141 : -0,20463) = -4,64930
x Bobot X P7 = ('X78 : 6'X) = (6,72628 : -0,20463) = -32,86973
x Bobot X P8 = ('X89 : 6'X) = (-20,88005 : -0,20463) = 102,03579
10 Pengukuran Poligon Kerangka Dasar Horisontal
283

x Bobot X P9 = ('X91 : 6'X) = (-11,91559 : -0,20463) = 58,22861

Mencari Bobot Y
x Bobot Y P1 = ('Y12 :6 'Y) = (-22,37557 : -0,29105) = 76,87877
x Bobot Y P2 = ('Y23 :6 'Y) = (-10,03033 : -0,29105) = 34,46257
x Bobot Y P3 = ('Y34 :6 'Y) = (-33,65769 : -0,29105) = 115,64230
x Bobot Y P4 = ('Y45 :6 'Y) = (-6,64042 : -0,29105) = 22,81539
x Bobot Y P5 = ('Y56 :6 'Y) = (-2,46320 : -0,29105) = 8,46314
x Bobot Y P6 = ('Y67 :6 'Y) = ( 27,98383 : -0,29105) = -96,14785
x Bobot Y P7 = ('Y78:6 'Y) = ( 50,55450 : -0,29105) = -173,69695
x Bobot Y P8 = ('Y89 :6 'Y) = (-2,24133 : -0,29105) = 7,70084
x Bobot Y P9 = ('Y91 : 6'Y) = (-1,42085 : -0,29105) = 4,88180

Mencari Nilai Koreksi 'X


x Koreksi 'X1 = 'X12 - (6'X . Bobot X P1)
= -5,32297 – (-0,20463 . 26,01208) = -0,000118
x Koreksi 'X2 = 'X23 - (6'X . Bobot X P2)
= -4,51580 - (-0,20463 . 22,06763) = -0,000101
x Koreksi 'X3 = 'X34 - (6'X . Bobot X P3)
= -9,59999 – (-0,20463 . 46,91286) = -0,000211
x Koreksi 'X4 = 'X45 - (6'X . Bobot X P4)
= 13,45009 – (-0,20463 . -65,72735) = 0,000302
x Koreksi 'X5 = 'X56 - (6'X . Bobot X P5)
= 30,90198 – (-0,20463 . -151,01059) = 0,000683
x Koreksi 'X6 = 'X67 - (6'X . Bobot X P6)
= 0,95141 - (-0,20463 . -4,64930) = 0,000024
x Koreksi 'X7 = 'X78 - (6'X . Bobot X P7)
= 6,72628 - (-0,20463 . -32,86973) = 0,000147
10 Pengukuran Poligon Kerangka Dasar Horisontal
284

x Koreksi 'X8 = 'X89 - (6'X . Bobot X P8)


= -20,88005 - (-0,20463 . 102,03579) = -0,000466
x Koreksi 'X9 = 'X91 - (6'X . Bobot X P9)
= -11,91559 - (-0,20463 . 58,22861) = -0,000270
Mencari Nilai Koreksi 'Y

x Koreksi 'Y1 = 'Y12 - (6'Y . Bobot Y P1)


= -22,37557 - (-0,29105 . 76,87877) = 0,000685
x Koreksi 'Y2 = 'Y23 - (6'Y . Bobot Y P2)
= -10,03033 - (-0,29105 . 34,46257) = -0,000290
x Koreksi 'Y3 = 'Y34 - (6'Y . Bobot Y P3)
= -33,65769 - -(0,29105 . 115,64230) = -0,001106
x Koreksi 'Y4 = 'Y45 - (6'Y . Bobot Y P4)
= -6,64042 - (-0,29105 . 22,81539) = 0,000276
x Koreksi 'Y5 = 'Y56 - (6'Y . Bobot Y P5)
= -2,46320 - (-0,29105 . 8,46314) = -0,000334
x Koreksi 'Y6 = 'Y67 - (6'Y . Bobot Y P6)
= 27,98383 - (-0,29105 . -96,14785) = 0,000882
x Koreksi 'Y7 = 'Y78 - (6'Y . Bobot Y P7)
= 50,55450 - (-0,29105 . -173,69695) = 0,001537
x Koreksi 'Y8 = 'Y89 - (6'Y . Bobot Y P8)
= -2,24133 - (-0,29105 . 7,700840) = 0,000182
x Koreksi 'Y9 = 'Y91 - (6'Y . Bobot Y P9)
= -1,42085 - (-0,29105 . 4,88180) = 0,000091
10 Pengukuran Poligon Kerangka Dasar Horisontal
285

Mencari Nilai Setelah Koreksi 'X

x Setelah Koreksi 'X1 = 'X12 + Koreksi 'X1


= -22,37557 + 0,000685 = -5,32309
x Setelah Koreksi 'X2 = 'X23 + Koreksi 'X2
= -4,51580 + -0,000101 = -4,51590
x Setelah Koreksi 'X3 = 'X34 + Koreksi 'X3
= -9,59999 + -0,000211 = -9,60020
x Setelah Koreksi 'X4 = 'X45 + Koreksi 'X4
= 13,45009 + 0,000302 = 13,45039
x Setelah Koreksi 'X5 = 'X56 + Koreksi 'X5
= 30,90198 + 0,000683 = 30,90267
x Setelah Koreksi 'X6 = 'X67 + Koreksi 'X6
= 0,95141 + 0,000024 = 0,95143
x Setelah Koreksi 'X7 = 'X78 + Koreksi 'X7
= 6,72628 + 0,000147 = 6,72643
x Setelah Koreksi 'X8 = 'X89 + Koreksi 'X8
= -20,88005 + -0,000466 = -20,88052
x Setelah Koreksi 'X9 = 'X91 + Koreksi 'X9
= -11,91559 + -0,000270 = -11,91586

Mencari Nilai Setelah Koreksi 'Y

x Setelah Koreksi 'Y1 = 'Y12 + Koreksi 'Y1


= -22,37557 + 0,000685 = -22,37488
x Setelah Koreksi 'Y2 = 'Y23 + Koreksi 'Y2
= -10,03033 + -0,000290 = -10,03062
x Setelah Koreksi 'Y3 = 'Y34 + Koreksi 'Y3
= -33,65769 + -0,001106 = -33,65880
10 Pengukuran Poligon Kerangka Dasar Horisontal
286

x Setelah Koreksi 'Y4 = 'Y45 + Koreksi 'Y4


= -6,64042 + 0,000276 = -6,64014
x Setelah Koreksi 'Y5 = 'Y56 + Koreksi 'Y5
= -2,46320 + -0,000334 = -2,46353
x Setelah Koreksi 'Y6 = 'Y67 + Koreksi 'Y6
= 27,98383 + 0,000882 = 27,98471
x Setelah Koreksi 'Y7 = 'Y78 + Koreksi 'Y7
= 50,55450 + 0,001537 = 50,55603
x Setelah Koreksi 'Y8 = 'Y89 + Koreksi 'Y8
= -2,24133 + 0,000182 = -2,24115
x Setelah Koreksi 'Y9 = 'Y91 + Koreksi 'Y9
=-1,42085 + 0,000091 = -1,42076

C. Mencari Koordinat Dengan Metode Bowditch


TITIK 2
x X2 = X1 + Setelah Koreksi 'X1 = 786488 + -5,32309 = 786482,68
x Y2 = Y1 + Setelah Koreksi 'Y1 = 9240746 + -22,37488 = 9240723,62

TITIK 3
x X3 = X2+ Setelah Koreksi 'X2 = 786482,68+ -4,51590 = 786478,16
x Y3 = Y2+ Setelah Koreksi 'Y2 =9240723,62+ -10,03062= 9240713,59

TITIK 4
x X4 = X3+ Setelah Koreksi 'X3 = 786478,16+-9,60020 = 786468,56
x Y4 = Y3+ Setelah Koreksi 'Y3=9240713,59+ -33,65880 = 9240679,94

TITIK 5
x X5 = X4+ Setelah Koreksi 'X4 = 786468,56+ 13,45039 = 786482,06
x Y5 = Y4+ Setelah Koreksi 'Y4 = 9240679,94+ -6,64014 = 9240673,30
10 Pengukuran Poligon Kerangka Dasar Horisontal
287

TITIK 6
x X6 = X5+ Setelah Koreksi 'X5 = 786482,06+ 30,90267 = 786512,97
x Y6 = Y5+ Setelah Koreksi 'Y5 = 9240673,30+-2,46353 = 9240670,83

TITIK 7
x X7 = X6+ Setelah Koreksi 'X6 = 786512,97+ 0,95143 = 786513,92
x Y7 = Y6+ Setelah Koreksi 'Y6 = 9240670,83+ 27,98471= 9240698,82

TITIK 8
x X8 = X7+ Setelah Koreksi 'X7 = 786513,92+ 6,72643 = 786520,64
x Y8 = Y7+ Setelah Koreksi 'Y7 = 9240698,82+ 50,55603 = 9240749,37

TITIK 9
x X9 = X8+ Setelah Koreksi 'X8 = 786520,64+-20,88052 = 786499,76
x Y9 = Y8+ Setelah Koreksi 'Y8 = 9240749,37+ -2,24115 = 9240747,13

CONTROL
x X1 = X9+ Setelah Koreksi 'X9 = 786499,76+-11,91586 = 786488
x Y1 = Y9+ Setelah Koreksi 'Y9 = 9240747,13+ -1,42076 = 9240746

II. POLIGON TERTUTUP METODE TRANSIT


A. Syarat 1

lDakhir - Dawall = 6E - (n-2) . 180q + fE

l96,8 – 96,8l = 1261,96667 – (9 – 2) . 180Û + fȕ

0 = 1,96667 + fȕ

fȕ = -1,96667
10 Pengukuran Poligon Kerangka Dasar Horisontal
288

Mencari E Koreksi :
x E1 = E1 + (fE : 9) = 96,80000 + (-1,96667 : 9) = 96,58148
x E2 = E2 + (fE : 9) = 191,07500 + (-1,96667 : 9) = 190,85648
x E3 = E3 + (fE : 9) = 171,90000 + (-1,96667 : 9) = 171,68148
x E4 = E4 + (fE : 9) = 100,57500 + (-1,96667 : 9) = 100,35648
x E5 = E5 + (fE : 9) = 158,50000 + (-1,96667 : 9) = 158,28148
x E6 = E6 + (fE : 9) = 87,60833 + (-1,96667 : 9) = 87,38981
x E7 = E7 + (fE : 9) = 185,85000 + (-1,96667 : 9) = 185,63148
x E8 = E8 + (fE : 9) = 88,76667 + (-1,96667 : 9) = 88,54815
x E9 = E9 + (fE : 9) = 180,89167 + (-1,96667 : 9) = 180,67315

Mencari D Koreksi :

x D12 = D12 + E1 = 96,80000 + 96,58148 = 193,38148


x D23 = D12 + E2 = 193,38148+ 190,85648 – 180 = 204,23796
x D34 = D23 + E3 = 204,23796+ 171,68148 – 180 = 195,91944
x D45 = D34 + E4 = 195,91944+ 100,35648 – 180 = 116,27593
x D56 = D45 + E5 = 116,2759 + 158,28148 – 180 = -94,55741
x D67 = D56 + E6 = 94,55741 + 87,38981 – 180 = 1,94722
x D78 = D67 + E7 = 1,94722 + 185,63148 – 180 = 7,57870
x D89 = D78 + E8 = 7,57870 + 88,54815 – 180 = -83,87315
x D91 = D89 + E9 = -83,87315 + 180,67315 – 180 = -83,20000
10 Pengukuran Poligon Kerangka Dasar Horisontal
289

B. Syarat 2
6'X = 6d Sin D
6'X = (23 . Sin 193,40333) + (11 . Sin 204,28167) + (35 . Sin 195,985) +
(15 . Sin 116,36333) + (31 . Sin 94,66667) + (28 . Sin 2,07833) +
(51 . Sin 7,73167) + (21 . Sin -83,698333) + (12 . Sin -83,00333)

6'X = -0,20463

6'Y = 6d Cos D
= (23 . Cos 193,40333) + (11 . Cos 204,28167) + (35 . Cos 195,985)
+ (15 . Sin 116,36333) + (31 . Cos 94,66667) + (28 . Cos 2,07833)
+ (51 . Cos 7,73167) + (21 . Cos -83,698333) + (12 . Cos -
83,00333)
6'Y = -0,29105

Mencari Nilai Koreksi 'X

x Koreksi 'X1 = ('X12 . 6'X) : d1


= (-9,59999 . -0,20463): 23 = 0,04736
x Koreksi 'X2 = ('X23 . 6'X) : d2
= (6,38807 . -0,09514) : 11 = 0,08401
x Koreksi 'X3 = ('X34 . 6'X) : d3
= (-9,59999 . -0,20463) : 35 = 0,05613
x Koreksi 'X4 = ('X45 . 6'X) : d4
= (13,45009 . -0,20463) : 15 = -0,18349
x Koreksi 'X5 = ('X56 . 6'X) : d5
= (30,90198 . -0,20463) : 31 = -0,20399
x Koreksi 'X6 = ('X67 . 6'X) : d6
= (0,95141 . -0,20463) : 28 = -0,00695
x Koreksi 'X7 = ('X78 . 6'X) : d7
10 Pengukuran Poligon Kerangka Dasar Horisontal
290

= (6,72628 . -0,20463) : 51 = -0,02699


x Koreksi 'X8 = ('X89 . 6'X) : d8
= (-20,88005 . -0,20463) : 21 = 0,20347
x Koreksi 'X9 = ('X91 . 6'X) : d9
= (-11,91559 . -0,20463) : 12 = 0,20320
Mencari Nilai Koreksi 'Y

x Koreksi 'Y1 = ('Y12 . 6'Y) : d1


= (-22,37557 . -0,29105) : 23 = 0,28315
x Koreksi 'Y2 = ('Y23 . 6'Y) : d2
= (-10,03033 . -0,29105) : 11 = 0,26540
x Koreksi 'Y3 = ('Y34 . 6'Y) : d3
= (-33,65769 . -0,29105) : 35 = 0,27989
x Koreksi 'Y4 = ('Y45 . 6'Y) : d4
= (-6,64042 . -0,29105) : 15 = 0,12885
x Koreksi 'Y5 = ('Y56 . 6'Y) : d5
= (-2,46320 . -0,29105) : 31 = 0,02313
x Koreksi 'Y6 = ('Y67 . 6'Y) : d6
= (27,98383 . -0,29105) : 28 = -0,29089
x Koreksi 'Y7 = ('Y78 . 6'Y) : d7
= (50,55450 . -0,29105) : 51 = -0,28851
x Koreksi 'Y8 = ('Y89 . 6'Y) : d8
= (-2,24133 . -0,29105) : 21 = 0.03106
x Koreksi 'Y9 = ('Y91 . 6'Y) : d9
= (-1,42085 . -0,29105) : 12 = 0,03446
10 Pengukuran Poligon Kerangka Dasar Horisontal
291

Mencari Nilai Setelah Koreksi 'X

x Setelah Koreksi 'X1 = 'X12 + Koreksi 'X1


= -9,59999 + 0,04736 = -5,27561
x Setelah Koreksi 'X2 = 'X23 + Koreksi 'X2
= 6,38807 + 0,08401 = -4,43179
x Setelah Koreksi 'X3 = 'X34 + Koreksi 'X3
= -9,59999 + 0,05613 = -9,54386
x Setelah Koreksi 'X4 = 'X45 + Koreksi 'X4
= 13,45009 + -0,18349 = 13,26660
x Setelah Koreksi 'X5 = 'X56 + Koreksi 'X5
= 30,90198 + -0,20399 = 30,69800
x Setelah Koreksi 'X6 = 'X67 + Koreksi 'X6
= 0,95141 + -0,00695 = 0,94445
x Setelah Koreksi 'X7 = 'X78 + Koreksi 'X7
= 6,72628 + -0,02699 = 6,69929
x Setelah Koreksi 'X8 = 'X89 + Koreksi 'X8
= -20,88005 + 0,20347 = -20,67658
x Setelah Koreksi 'X9 = 'X91 + Koreksi 'X9
= -11,91559 + 0,20320 = -11,71239
Mencari Nilai Setelah Koreksi 'Y

x Setelah Koreksi 'Y1 = 'Y12 + Koreksi 'Y1


= -22,37557 + 0,28315 = -22,09241
x Setelah Koreksi 'Y2 = 'Y23 + Koreksi 'Y2
= -10,03033 + 0,26540 = -9,76493
x Setelah Koreksi 'Y3 = 'Y34 + Koreksi 'Y3
= -33,65769 + 0,27989 = -33,37780
10 Pengukuran Poligon Kerangka Dasar Horisontal
292

x Setelah Koreksi 'Y4 = 'Y45 + Koreksi 'Y4


= -6,64042 + 0,12885 = -6,51157
x Setelah Koreksi 'Y5 = 'Y56 + Koreksi 'Y5
= -2,46320 + 0,02313 = -2,44007
x Setelah Koreksi 'Y6 = 'Y67 + Koreksi 'Y6
= 27,98383 + -0,29089 = 27,69295
x Setelah Koreksi 'Y7 = 'Y78 + Koreksi 'Y7
= 50,55450 + -0,28851 = 50,26598
x Setelah Koreksi 'Y8 = 'Y89 + Koreksi 'Y8
= -2,24133 + 0.03106 = -2,21027
x Setelah Koreksi 'Y9 = 'Y91 + Koreksi 'Y9
= -1,42085 + 0,03446 = -1,38639

C. Mencari Koordinat Dengan Metode Transit


TITIK 2
x X2 = X1 + Setelah Koreksi 'X1 = 786488 + -5,27561 = 786482,22
x Y2 = Y1 + Setelah Koreksi 'Y1 = 9240746 + -22,09241 = 9240723,91
TITIK 3
x X3 = X2+ Setelah Koreksi 'X2 = 786482,22 + -4,43179 = 786472,29
x Y3 = Y2+ Setelah Koreksi 'Y2 = 9240723,91 + -9,76493 =9240714,14
TITIK 4
x X4 = X3+ Setelah Koreksi 'X3 = 786472,29 + -9,54386 = 786468,75
x Y4 = Y3+ Setelah Koreksi 'Y3 = 9240714,14+ -33,37780= 9240680,76
TITIK 5
x X5 = X4+ Setelah Koreksi 'X4 = 786468,75 + 13,26660 =786482,02
x Y5 = Y4+ Setelah Koreksi 'Y4 = 9240680,76 + -6,51157 =9240674,25
10 Pengukuran Poligon Kerangka Dasar Horisontal
293

TITIK 6
x X6 = X5+ Setelah Koreksi 'X5 = 786482,02 + 30,69800 =786512,71
x Y6 = Y5+ Setelah Koreksi 'Y5 = 9240674,25 +-2,44007 = 9240671,81
TITIK 7
x X7 = X6+ Setelah Koreksi 'X6 = 786512,71 + 0,94445 =786513,66
x Y7 = Y6+ Setelah Koreksi 'Y6 = 9240671,81+ 27,69295 =9240699,51
TITIK 8
x X8 = X7+ Setelah Koreksi 'X7 = 786513,66+ 6,69929 =786520,36
x Y8 = Y7+ Setelah Koreksi 'Y7 = 9240699,51+ 50,26598 =9240749,77
TITIK 9
x X9 = X8+ Setelah Koreksi 'X8 = 786520,36+-20,67658 =786499,68
x Y9 = Y8+ Setelah Koreksi 'Y8 = 9240749,77+ -2,21027 =9240747,56
CONTROL
x X1 = X9+ Setelah Koreksi 'X9 = 786499,68+-11,71239 =786488
x Y1 = Y9+ Setelah Koreksi 'Y9 =9240747,56+ -1,38639 =9240746

III. LUAS POLIGON TERTUTUP METODE SARRUS


Diketahui : X1 = 786488 Y1 = 9240746
X2 = 786482,68 Y2 = 9240723,62
X3 = 786478,16 Y3 = 9240713,59
X4 = 786468,56 Y4 = 9240679,94
X5 = 789482,06 Y5 = 9240673,30
X6 = 786512,97 Y6 = 9240670,83
X7 = 786513,92 Y7 = 9240698,82
X8 = 786520,64 Y8 = 9240749,37
X9 = 786499,76 Y9 = 9240747,13
X1’ = 786488 Y1’ = 9240746
10 Pengukuran Poligon Kerangka Dasar Horisontal
294

Ditanyakan : Luas Poligon Tertutup ?

Penyelesaian :

X1 X2 X3 X4 X5 X6 X7 X8 X9 X1

Y1 Y2 Y3 Y4 Y5 Y6 Y7 Y8 Y9 Y1
2L123456789 = ™Xn . Yn+1 - ™Xn . Yn+1
= (X1.Y2) + (X2 .Y3) + (X3 .Y4) + (X4 . Y5) + (X5 .Y6) + (X6
.Y7) + (X7.Y8) + (X8.Y9) + (X9.Y1) - (Y1. X2) + (Y2
.X3) + (Y3 . X4) + (Y4 . X5) + (Y5 . X6) + (Y6 . X7) + (Y7.
X8) + (Y8.X9) + (Y9.X1)

= (786488 . 9240723,62) + (786482,68 . 9240713,59) +


(786478,16 . 9240679,94) + (786468,56 . 9240673,30) +
(786482,06 . 9240670,83) + (786512,97 . 9240698,82) +
(786513,92 . 9240749,37) + (786520,64 . 9240747,13) +
(786499,76 . 9240746) - (9240746 . 786482,68) +
(9240723,62 . 786478,16) + (9240713,59 . 786468,56) +
(9240679,94 . 786482,06) + (9240673,30 . 786512,97) +
(9240670,83 . 786513,92) + (9240698,82 . 786520,64) +
(9240749,37 . 786499,76) + (9240747,13 . 786488)

= 7,26772 . 1012 + 7,26766 . 1012 + 7,26759 . 1012 + 7,26749 .


1012 + 7,26762 . 1012 + 7,26793 . 1012 + 7,26798 . 1012 +
7,26804 . 1012 + 7,26784 . 1012 - 7,26769 . 1012 + 7,26763 .
1012 + 7,26753 . 1012 + 7,26763 . 1012 + 7,26791 . 1012 +
7,26792 . 1012 + 7,26800 . 1012 + 7,26785 . 1012 + 7,26774 .
1012
10 Pengukuran Poligon Kerangka Dasar Horisontal
295

= 1,3082169 . 1013 - 1,3082168994307 . 1013

= 5693

L123456789 = (5693) / 2

= 2846,5 m2

Jadi Luas poligon tersebut adalah 2846,5 m2


10 Pengukuran Poligon Kerangka Dasar Horisontal
296

Tabel 24. Formulir pengukuran poligon 1

PENGUKURAN POLIGON

Laboratorium Ilmu Ukur Tanah Jurusan Teknik Bangunan No.Lembar dari


Pengukuran Poligon Tertutup Cuaca Mendung
Lokasi Gedung Olah Raga Alat Ukur T.0 Wild
Diukur Oleh Kelompok 8 Tanggal Instruktur

Titik Biasa Tinggi Bacaan Sudut Benang Benang Jarak


/ luar Alat/ Horizontal Benang (m) Ket
Ukur Biasa Patok Atas
Tengah
o ' '' Bawah o ' '' Miring Datar
Dari Ke

Sketsa :
10 Pengukuran Poligon Kerangka Dasar Horisontal
297

Tabel 25. Formulir pengukuran poligon 2

PENGUKURAN POLIGON

Laboratorium Ilmu Ukur Tanah Jurusan Teknik Bangunan No.Lembar dari


Pengukuran Poligon Tertutup Cuaca Mendung
Lokasi Gedung Olah Raga Alat Ukur T.0 Wild
Diukur Oleh Kelompok 8 Tanggal Instruktur

Titik Biasa Tinggi Bacaan Sudut Benang Benang Jarak


/ luar Alat/ Horizontal Benang (m) Ket
Ukur Biasa Patok Atas
Tengah
o ' '' Bawah o ' '' Miring Datar
Dari Ke
6 7 B1 92 54 00 28
LB1 92 52 00
6 5 B2 180 1 00 31
LB2 180 58 00

7 8 B1 88 54 00 51
LB1 88 52 00
7 6 B2 263 18 00 28
LB2 262 46 00

8 9 B1 182 43 00 21
LB1 182 20 00
8 7 B2 271 24 00 51
LB2 271 11 00

9 1 B1 172 29 00 12
LB1 172 40 00
9 8 B2 6 26 30 21
LB2 6 26 30

Sketsa :
10 Pengukuran Poligon Kerangka Dasar Horisontal
298

Tabel 26. Formulir pengukuran polygon 3

PENGUKURAN POLIGON

Laboratorium Ilmu Ukur Tanah Jurusan Teknik Bangunan No.Lembar dari


Pengukuran Poligon Tertutup Cuaca Mendung
Lokasi Gedung Olah Raga Alat Ukur T.0 Wild
Diukur Oleh Kelompok 8 Tanggal Instruktur

Titik Biasa Tinggi Bacaan Sudut Benang Benang Jarak


/ luar Alat/ Horizontal Benang (m) Ket
Ukur Biasa Patok Atas
Tengah
o ' '' Bawah o ' '' Miring Datar
Dari Ke
1 2 B1 268 11 00 23
LB1 268 13 00
1 9 B2 5 00 00 12
LB2 5 00 00

2 3 B1 251 45 00 11
LB1 251 49 00
2 1 B2 85 20 00 23
LB2 80 23 00

3 4 B1 263 11 00 35
LB1 263 11 00
3 2 B2 75 5 00 11
LB2 75 5 00

4 5 B1 344 7 00 15
LB1 344 6 00
4 3 B2 84 42 00 35
LB2 84 40 00

5 6 B1 357 14 00 31
LB1 357 12 00
5 4 B2 155 28 00 15
LB2 155 58 00

Sketsa : 28
7 51
6 8
87 185 88
31
21

158
180
5 9
100 191
15 171 96 12

4 1
3 11
2 23
35
CATATAN
N

P8
P7 X = 786520.56
Y = 9240749.37
X = 786513.84
Y = 9240698.88 101,4

55,43
INSTITUSI
Luar Biasa 2 = 180°58' Luar Biasa 2 = 263°18' Luar Biasa 2 = 271°11'
Biasa 2 = 262°46' Biasa 2 = 271°24'
Biasa 2 = 180°1'
Luar Biasa 1 = 182°20'
Biasa 1 = 182°43'

P6 Luar Biasa 1 = 92°52' E


X = 786512.89 88
Biasa 1 = 92°54' °4
Y = 9240670.93 Biasa 1 = 88°54' 6'

Luar Biasa 1 = 88°52'

''
'
41,6


q
''


E 185°51' MATA PELAJARAN

'30

E
Luar Biasa 2 = 354°6'
Biasa 2 = 352°50'
Luar Biasa 1 = 172°40'
P9
10 Pengukuran Poligon Kerangka Dasar Horisontal

Biasa 1 = 172°29' X = 786499.70

E 180°53
Y = 9240747.13

8'
Luar Biasa 2=8°

°4
Biasa 2=8°

96

61,57
Luar Biasa 2 = 75°5'

E
Biasa 2 = 75°5'
Luar Biasa 2 = 80°23' Luar Biasa 1=271°19' 23,57
Biasa 2 = 155°28' DI GAMBAR
Luar Biasa 2 = 155°58' 0'' Biasa 2 = 85°20' Biasa 1=271°11'
4'3
9 1°
1

E 15
Luar Biasa 1 = 357°12' E P1

8
'
54 X = 786488
Biasa 1 = 357°14' 1° Biasa 1 = 251°45'

°30'
17 Y = 9240746
E Luar Biasa 1 = 251°49'
P5 E Biasa 1 = 263°11'
X = 786482.02
10 Luar Biasa 1 = 263°11'
45,4
0°3 2
Y = 9240673.39 4'3
0''

29
21 P2

,56
Luar Biasa 2 = 84°40' X = 786482.68
,49

Biasa 2 = 84°42' Y = 9240723.65


Biasa 1 = 357°14' P3
Luar Biasa 1 = 357°12'

Gambar 274. Situasi titik-titik KDH polygon tertutup metode transit


X = 786478.17
Y = 9240713.64
69,4
1
P4
X = 786468.58
Y = 9240680.02

LEGENDA JUDUL GAMBAR

SITUASI TITIK-TITIK KDH POLYGON TERTUTUP


Azimuth
(METODE TRANSIT)
Rute Pengukuran
SKALA 1 : 200
Bacaan Sudut DIPERIKSA
Jalan
N

Arah Utara
299
CATATAN
N

P7
X = 786513.92
P8
Y = 9240698.82 X = 786520.64
Y = 9240749.37
101,4

55,43 INSTITUSI
Luar Biasa 2 = 180°58' Luar Biasa 2 = 263°18' Luar Biasa 2 = 271°11'
Biasa 2 = 262°46' Biasa 2 = 271°24'
Biasa 2 = 180°1'
Luar Biasa 1 = 182°20'
Biasa 1 = 182°43'

P6 Luar Biasa 1 = 92°52' E


88
X = 786512.92 Biasa 1 = 92°54' °4
Y = 9240670.83 Biasa 1 = 88°54' 6'

Luar Biasa 1 = 88°52'

''

41,6

'

q
''


E 185°51'

E
'30
MATA PELAJARAN
Luar Biasa 2 = 354°6'
Biasa 2 = 352°50'
10 Pengukuran Poligon Kerangka Dasar Horisontal

Luar Biasa 1 = 172°40' P9


Biasa 1 = 172°29' X = 786499.76

E 180°53
Y = 9240747.13

8 '
Luar Biasa 2=8°

°4
Biasa 2=8°

61,57
96
Luar Biasa 2 = 75°5'
23,57

E
Biasa 2 = 75°5' Luar Biasa 1=271°19'
Biasa 2 = 155°28' Luar Biasa 2 = 80°23'
0 '' Biasa 1=271°11' DI GAMBAR
Luar Biasa 2 = 155°58' Biasa 2 = 85°20'
4'3

 19

E 15
E
Luar Biasa 1 = 357°12'
'


Biasa 1 = 357°14' 54 Biasa 1 = 251°45'
P1

30'
17 Luar Biasa 1 = 251°49' X = 786488
E Y = 9240746
P5 E Biasa 1 = 263°11'
X = 786482.06 10
Luar Biasa 1 = 263°11'
45,4
0°3 2
Y = 9240673.30 4'3
0''

29
P2

,56
21
Luar Biasa 2 = 84°40' X = 786482.68
,49

Biasa 2 = 84°42' Y = 9240723.62


Biasa 1 = 357°14' P3
Luar Biasa 1 = 357°12'
X = 786478.16
Y = 9240713.59
69,4
1
P4
X = 786468.56
Y = 9240679.94

JUDUL GAMBAR

Gambar 275. Situasi titik-titik KDH polygon tertutup metode bowditch


LEGENDA
SITUASI TITIK-TITIK POLYGON TERTUTUP
Azimuth (METODE BOWDITCH)
Rute Pengukuran
SKALA 1 : 200
Bacaan Sudut DIPERIKSA
Jalan
N

Arah Utara
300
CATATAN

INSTITUSI

P8

P6 P7

MATA PELAJARAN
10 Pengukuran Poligon Kerangka Dasar Horisontal

P9

DI GAMBAR
P1

P5 P2
LEGENDA
P3
Atap

Asbes Gelombang
P4
Potongan

Gambar 276. Situasi lapangan metode transit


Jalan
JUDUL GAMBAR
Rute Pengukuran

Pohon

Gedung PKM

Rumput
SITE PLAN PENGUKURAN KDH POLYGON TERTUTUP DIPERIKSA
Dak Beton (METODE BOWDITCH)

Paving Block SKALA 1 : 195


301
CATATAN

INSTITUSI

P8

P6 P7

MATA PELAJARAN
10 Pengukuran Poligon Kerangka Dasar Horisontal

P9

DI GAMBAR
P1
P5 P2
LEGENDA P3
Atap

Asbes Gelombang P4
Potongan

Gambar 277. Situasi lapangan metode bowditch


Jalan
JUDUL GAMBAR
Rute Pengukuran

Pohon

Gedung PKM

Rumput SITE PLAN PENGUKURAN KDH POLYGON TERTUTUP DIPERIKSA


Dak Beton (METODE BOWDITCH)

Paving Block SKALA 1 : 195


302
10 Pengukuran Poligon Kerangka Dasar Horisontal
303

Model Diagram Model


Alir Ilmu Diagram
Ukur TanahAlir
Pertemuan ke-10
Pengukuran Kerangka
Pengukuran PoligonDasar Horizontal
Kerangka Metode Poligon
Dasar Horisontal
Dosen Penanggung Jawab : Dr.Ir.Drs.H.Iskandar Muda Purwaamijaya, MT

Poligon

Tinjauan Visual Tinjauan Geometris

Terikat Terikat
Terbuka Tertutup Tidak Terikat
Sempurna Sebagian

Terikat :
a. Sudut Terikat Sudut Terikat Absis
b. Absis saja & Ordinat saja
c. Ordinat

Pengukuran di Lapangan :
Azimuth Biasa & Luar Koordinat Titik-Titik Basis
Biasa Sudut Jurusan Awal &
Jarak horisontal (datar) // Sudut Jurusan Akhir
bidang nivo

Kontrol Sudut
| Azimuth Akhir - Azimuth Awal | = Jumlah Sudut Beta - (n-2).180 + fB (total koreksi beta)
fB = |Azimuth Akhir - Azimuth Awal| - Jumlah Sudut Beta + (n-2).180
n = Jumlah Titik Sudut Beta

Beta Koreksi = Beta + (fB/n)


Azimuth ij = Jurusan Awal + Bo (+/- 360)
Azimuth jk = Azimuth ij + 180 (+/- 360)

Kontrol Absis
X Akhir - X Awal = Jumlah (d . sin Azimuth) + fX (total koreksi absis)
fX = X Akhir - X Awal - Jumlah (d. sin Azimuth)
Kontrol Ordinat
Y Akhir - Y Awal = Jumlah (d. cos Azimuth) + fY (total koreksi ordinat)
fY = Y Akhir - Y Awal - Jumlah (d. cos Azimuth)

Koreksi Metode Bowditch : Koreksi Metode Transit


Xj = X i + dij.sin Aij + fX.(dij/Jumlah (d)) Xj = X i + dij.sin Aij + fX.(dij.sin Aij/Jumlah(d.sin A))
Yj = Yi + dij.cos Aij + fY.(dij/Jumlah (d)) Yj = Yi + dij.cos Aij + fY.(dij.cos Aij/Jumlah(d.cos A))

Gambar 278. Model diagram alir pengukuran kerangka dasar horizontal metode poligon
10 Pengukuran Poligon Kerangka Dasar Horisontal
304

RANGKUMAN
Berdasarkan uraian materi bab 10 mengenai pengukuran poligon kerangka dasar
horisontal, maka dapat disimpulkan sebagi berikut:

1. Kerangka dasar horizontal adalah sejumlah titik yang telah diketahui koordinatnya dalam
suatu sistem koordinat tertentu. Tujuan pengukuran ini ialah untuk mendapatkan
hubungan mendatar titik-titik yang diukur di atas permukaan bumi.

2. Cara menentukan koordinat titik-titik KDH yang diukur :


a. Menentukan koordinat satu titik yaitu suatu pengukuran untuk suatu wilayah yang
sempit, cara ini terbagi menjadi dua metode yaitu : pengikatan kemuka dan
pengikatan kebelakang.
b. Menentukan koordinat beberapa titik yang terdiri dari beberapa metode, yaitu : Cara
poligon, Cara triangulasi, Cara trilaterasi dan Cara Kwadrilateral.

3. Poligon adalah serangkaian garis berurutan yang panjang dan arahnya telah ditentukan
dari pengukuran di lapangan. Sedangkan metode poligon adalah salah satu cara
penentuan posisi horizontal banyak titik dimana titik satu dengan lainnya dihubungkan
satu sama lain dengan pengukuran sudut dan jarak sehingga membentuk rangkaian
titik-titik (poligon).

4. Syarat pengukuran poligon adalah :


a) Mempunyai koordinat awal dan akhir,
b) Mempunyai azimuth awal dan akhir

5. Tujuan Pengukuran poligon yaitu untuk menetapkan koordinat titik-titik sudut yang
diukur.

6. Jenis – jenis pengukuran poligon dapat ditinjau dari bentuk fisik visualnya dan dari
geometriknya.

7. Peralatan yang digunakan dalam pengukuran poligon : Pesawat Theodolite, Statif,


Unting-Unting, Patok, Rambu Ukur, Payung, Meja lapangan (meja dada),Pita Ukur
(meteran). Bahan yang digunakan dalam pengukuran poligon: Formulir Ukur, Peta
wilayah study, Cat dan koas, Alat tulis, Benang dan Paku.
8. Sebelum melakukan pengukuran, sebaiknya prosedur penggunaan alat,

dan prosedur pengukuran dipahami terlebih dahulu. Dalam pengolahan


10 Pengukuran Poligon Kerangka Dasar Horisontal
305

data dan penggambaran poligon KDH bias dilakukan secara manual atau
digital.
SOAL LATIHAN

Jawablah pertanyaan-pertanyaan dibawah ini !

1. Jelaskan pengertian dan tujuan pengukuran poligom kerangka dasar horizontal!


2. Apa kegunaan dari pengukuran poligon?
3. Apa yag dimaksud dengan theodolit reiterasi dan theodolite repetisi dan apa
perbedaannya?
4. Bagaimana cara mengatur nivo tabung agar ketengah?

5. Diketahui : Data hasil Pengukuran Poligon Tertutup dengan titik Poligon 1 (716,50 ;
826,25) dan D12 = 81q01
01

= 81,016944

Bacaan Sudut Bacaan Sudut


Sudut Jarak (m)
q

Desimal

E1 73 58 59 73,983056 d1 75,6

E2 198 0 01 198,00027 d2 69,2

E3 88 58 02 88,96722 d3 64,9

E4 121 01 59 121,03306 d4 79,7

E5 128 59 01 128,98361 d5 80,6

E6 108 0 58 108,01611 d6 100,3

Ditanyakan : Koordinat titik P2, P3, P4, P5, dan P6 dengan Metode Bowditch dan Metode
Transit, serta cari luas Poligon Tertutup dengan Metode Sarrus ?
11 Perhitungan Luas 306

11. Perhitungan Luas

Perhitungan dan informasi luas merupakan luas dengan mini komputer. Metode
salah satu informasi yang dibutuhkan pengukuran luas ada dua macam :
perencana dari hasil pengukuran lapangan. a. Diukur pada gambar situasi
Pengukuran luas ini dipergunakan untuk b. Dihitung dengan menggunakan data
berbagai kepentingan, yaitu hukum jarak dan sudut yang langsung
pertanahan, perubahan status hukum tanah, diperoleh dari pengukuran di lapangan.
pajak bumi dan lain sebagainya.
Luas yang diukur pada gambar situasi
disebut pengukuran tak langsung, karena
11.1 Metode-metode luas diperoleh secara tak langsung dengan
pengukuran
menggunakan instrumen dan gambar
situasi.
Luas adalah jumlah area yang terproyeksi
pada bidang horizontal dan dikelilingi oleh Luas yang dihitung dengan menggunakan

garis-garis batas. Pekerjaan pengukuran data jarak dan sudut yang langsung

luas secara kasaran dapat diklasifikasikan diperoleh dari pengukuran dilapangan

menjadi pekerjaan studio dan pekerjaan disebut pengukuran langsung, karena luas

lapangan. diperoleh secara langsung tanpa gambar


dengan melakukan pengukuran yang
Suatu luas dapat dihitung dengan mengukur
dibutuhkan untuk menghitung luas
kertas hasil penggambaran dengan garis-
dilapangan.
garis batas yang diukur dilapangan atau
dapat juga diketahui dengan perhitungan Metode pengukuran langsung lebih tinggi

koordinat titik-titik potong garis batas. Untuk ketelitiannya bila dibandingkan dengan

mengukur luas terdapat berbagai macam pengukuran tak langsung karena lapangan

instrumen dan akhir-akhir ini dikembangkan besarnya skala gambar, harga yang

metode dimana koordinat-koordinat dari titik diperoleh dari gambar selalu kurang teliti

potong garis batas. Untuk mengukur luas dibandingkan dengan harga dari

terdapat berbagai macam instrumen dan pengukuran dilapangan.

akhir-akhir ini dikembangkan metode Selain itu, perhitungan luas dapat dilakukan
dimana koordinat-koordinat dari titik potong secara numeris analog, mekanis planimetris
batas dari gambar dimasukkan dengan dan numeris digital. Perhitungan luas secara
menggunakan plotter x-y untuk menghitung numeris analog menggunakan Metode
11 Perhitungan Luas 307

Sarrus, yaitu menggunakan koordinat- beraturan dengan jumlah segmen banyak


koordinat titik batas sebagai masukan untuk serta berjarak kecil-kecil.
perhitungan luas. Bentuk daerah yang
Perhitungan luas metode numeris digital
dihitung luas daerahnya dengan metode
relatif lebih disukai dan lebih unggul
sarrus ini haruslah beraturan dengan
dibandingkan metode numeris analog dan
segmen garis yang jelas.
metode mekanis planimetris. Tingkat akurasi
Perhitungan luas secara mekanis dan keamanan penyimpanan data pada
planimetris menggunakan suatu alat serupa numeris digital merupakan salah satu
pantograph (dibentuk dari dua buah mistar keunggulan dibandingkan metode numeris
penggaris) yang dinamakan alat planimeter. analog dan metode planimetris.
Alat planimeter ini dilengkapi dengan suatu
alat penunjuk angka yang dapat berputar 11.1.1 Penentuan luas
ketika posisi mistar-mistar planimeter ini
bergerak. Perhitungan luas dengan Yang dimaksud luas suatu daerah disini

planimeter ini harus dilengkapi pula dengan adalah proyeksi luas diatas permukaan bumi

skala peta beserta penetapan titik awal pada bidang mendatar yang dikelilingi oleh

perhitungan luas. Bentuk daerah yang akan garis-garis batas.

dihitung luasnya dengan alat planimetris ini Tergantung dari cara pengukuran dan
harus sudah disajikan dalam bentuk peta ketelitian yang dikehendaki penentuan dapat
dengan skala tertentu dan bentuknya dapat dilakukan dengan cara-cara antara lain :
tidak beraturan. a) Dengan mengunakan angka-angka

Perhitungan luas secara numeris digital koordinat.

menggunakan bantuan perangkat lunak b) Dengan cara grafis.

CAD (Computer Aided Design) dan c) Dengan cara setengah grafis.

perangkat keras komputer. Daerah yang 11.1.2 Metode pengukuran luas


akan dihitung luasnya harus sudah a. Metode diagonal dan tegak lurus
C
dimasukan ke dalam bentuk digital melalui
papan ketik (keyboard), digitizer (alat
digitasi) atau scanner. Koordinat batas- b
h
a

batas daerah yang akan masuk ke dalam


memori komputer dan diolah secara digital
A c B
ini dapat berbentuk beraturan dengan
jumlah segmen terbatas atau tidak Gambar 279. metode diagonal dan tegak lurus
11 Perhitungan Luas 308

Bila pada suatu segitiga dasarnya = c, = 4,226


tingginya = h dan luasnya = s, maka Log s = 2,1131
1 s = 129,76 m2
s cb
2
c. Metode trapesium
Apabila sudut A antara sisi b dan c
diketahui, maka : Bila batas atas dan batas bawah trapesium
1 masing-masing adalah b1 dan b2 tingginya
s ch sin A
2 (h) dan panjang garis lurus yang
menghubungkan titik tengah kedua sisi (b1),
b. Metode pembagian segitiga
maka luasnya adalah :
1
Bila sisi suatu segitiga adalah a, b, c maka S = 1 b1 h  1 b2 h = h(b1  b2 ) = bh
2 2 2
luasnya adalah :
b1  b2
Dimana b
s s ( s  a )( s  b)( s  c) ,dimana 2
1
s (a  b  c)
2

Metode pembagian segitiga digunakan


sebagai metode lapangan dan dalam hal ini
sering digunakan perhitungan logaritmis
sebagai berikut :
Gambar 280. metode trapesium
2 log s = log s + log (s-a) + log (s-b)
+ log (s-c) d. Metode offset

Contoh Soal Metode ini sering digunakan baik di


Bila pada suatu segitiga panjang sisi-sisinya lapangan maupun di studio. Dalam metode
adalah 20, 15 dan 18, maka: ini, panjang-panjang offset dari suatu garis
1 lurus tertentu diukur dan areal-areal yang
s (a  b  c) 26,5 m
2 dibatasi masing-masing offset dihitung

s  a 6,5m sebagai trapesium.

s  b 11,5m Offset dengan intervalnya tidak tetap :


sc 8,5m Pada gambar berikut terdapat offset-offset
y1, y2, y3, y4 dan y5 dan intervalnya masing-
2 log s = 1,432+ 0,8129+ 1,0607+ 0,9294
masing adalah d1, d2, d3 dan d4. Untuk
11 Perhitungan Luas 309

menyederhanakannya ditentukan S1 = d1 , i n

S2 = d1 + d2 , S3 = d2 + d3 , S4 = d3 + d4 , S5
= l ¦h
i 1
1

= d4.

Hal ini bisa ditulis sebagai persamaan


umum berikut :
1
A ( S1 y1  S 2 y 2  S 3 y 3  .......  S n y n )
2

Gambar 282. offset sentral

f. Metoda simpson

Metoda simpson digunakan dalam keadaan


apabila batasnya merupakan lengkung yang
merata.
Gambar 281. offset dengan interval tidak tetap
e c

Offset dengan interval yang sama :


d
Metode ini sering digunakan untuk
mengukur panjang sisi pada gambar. Disini A1

Y0 Y1 Y2
d1 = d2 = d3 = d4, jadi :
I I
a b
A
d
^ y1  y 2  2 y 2  2 y 3  2 y 4 ` 2I
2

­ y  y2 ½ Gambar 283. metoda simpson


A d® 1  y2  y3  y4 ¾
¯ 2 ¿
Offset ditempatkan pada interval yang
Persamaan umumnya menjadi :
sama. Biasanya perhitungan dibuat dengan
­ y  y2 ½
A d® 1  y 2  y 3 ..........  y n 1 ¾
¯ 2 ¿ menganggap lengkung sebagai parabola.

e. Metode offset pusat Dengan anggapan ini terdapat cara-cara


sebagai berikut :
Seperti yang tertera pada gambar berikut,
Cara 1/3 Simpson,
apabila offset dapat ditempatkan pada titik-
Maksud dari 1/3 simpson adalah 2 bagian
titik pusat, perhitungannya menjadi mudah.
yang dianggap 1 set.
A lh1  lh2  lh3  lh4 .......  lh9
Luas A1 = (trapesium abcd + parabola cde)
l (h1  h2  h3 ......  h9
11 Perhitungan Luas 310

§ y  y1 · 2 § y  y2 · Apabila n bukan merupakan kelipatan,


21x¨ 0 ¸  ¨ y1  0 ¸ x 21
© 2 ¹ 3© 2 ¹ bagian terakhir dihitung dengan cara
1
^3 y 0  y 2  4 y1  2 y 0  2 y 2 ` pertama Simpson atau dengan metode
3
1 trapesium.
y0  4 y1  y 2
3
g. Metode jarak meridian ganda
Apabila terdapat banyak offset, secara
Untuk mengetahui luas bentuk jaring-jaring
umum luas total A adalah
polygon (jaring-jaring tertutup), digunakan
1
^y0  yn  4 y2  y4  y6... yn1  2 y3  y5... yn2 ` dua kali panjang garis-garis tegak lurus dari
3
titik tengah masing-masing garis
Cara 3/8 Simpson, pengukuran ke garis batas (axis ordinat)
Maksud dari 3/8 simpson adalah tiga bagian yaitu garis bujur ganda. Metode inilah yang
dianggap satu set. dinamakan metode jarak meridian ganda.
Pada gambar berikut ini, luas A1 adalah : Luas polygon merupakan ™ {(garis lintang
A1 = (trapesium abcd) + (parabola cdf)
tiap garis pengukuran) x (garis bujur garis
pengukuran)}.

™ merupakan jumlah aljabar harga-harga


perkalian garis lintang dan garis bujur garis
pengukuran dengan tanda yang diubah.
Untuk mempermudah perhitungan, maka
bagian kiri dan kanan dari persamaan
tersebut dikali dua.

Luas ganda polygon = ™ {(garis lintang tiap


garis pengukuran) x (garis bujur ganda garis
Gambar 284. metoda 3/8 simpson
pengukuran)}. Dalam hal ini biasanya garis
Sehingga luas Ai dapat diperoleh melalui
lintang ke arah N dihitung dengan tanda
penurunan persamaan berikut ini :
plus dan ke arah S dengan tanda minus.
§ y  y 3 · 3 § y1  y 2 y 0  y 3 ·
¨ 31x 0 ¸ ¨  ¸31
© 2 ¹ 4© 2 2 ¹
3
1^4 y 0  y 3  5 y1  y 2  y 0  y 3 `
8
3
1 y 0  3 y 2  y 3
8
11 Perhitungan Luas 311

D'

O' D
O'
C C F

N' N
B' B
M' M

S H
(A)

N
D
D'
G

C A'
C'
F
B B' B
S'
E (b)
A'

Gambar 285. garis bujur ganda pada polig+on


metode koordinat tegak lurus
11 Perhitungan Luas 312

Contoh Soal
S ABB1 A1  BCC1B1  CDD1C1  AEC1 A1
Berdasarkan gambar di atas diperoleh data  EDE1C1 .
seperti pada tabel berikut ini.
­ x2  x1 y2  y1  x3  x2 y3  y2 ½
1° °
® x4  x3 y4  y3  x5  x1 y5  y1 ¾
Tabel 27. Contoh perhitungan garis bujur ganda
S
2° °
Garis Garis Simpang Garis Bujur ¯ x4  x5 y4  y5 ¿
Pengukuran Lintang (m) Timur (m) Ganda (m)
AB +32,38 +16,28 16,28
BC +8,21 +33,21 65,77 1 § x2 y1  x1 y2  x3 y2  x2 y3  x4 y3  x3 y4  x5 y4 ·
¨ ¸¸
CD -16,93 +14,95 113,93 2 ¨©  x4 y5  x1 y5  x5 y1 ¹
DE -21,12 -6,33 122,55
EF -35,06 -18,75 97,47
FG -11,22 -29,46 49,26
GA +43,74 -9,90 9,90 1 ­x1 y5  y2  x2 y1  y3  x3 y2  y4 ½
® ¾
2 ¯ x4 y3  y5  x5 y4  y1 ¿
Hitunglah luas daerah tersebut dengan
metoda garis bujur ganda. Apabila garis-garis tegak lurusnya
Penyelesaian : digambarkan terhadap sumbu y dari
Luas Ganda ( + ) = 1500,144 masing-masing titik pengukuran, maka :

Luas Ganda ( - ) = - 8487,086


1 ­ y1 x2  x5  y2 x3  x1  y3 x4  x2 ½
S ® ¾
Sehingga luas sesungguhnya, 2 ¯ y4 x5  x3  y5 x1  x4 ¿
A = (8487,086 - 1500,144) : 2 = 3493,471 m2 Persamaan umumnya menjadi :
1
h. Menghitung luas dengan koordinat
S ¦ X n  Yn1 YnYn1
2 n 1, 2,..

tegak lurus 1
atau ¦ Yn1  Yn X n  X n1
2 n 1, 2,...

1
atau ¦ X n ˜ Yn1  X n1 ˜ Yn
2 n 1, 2,...

Persamaan manapun dapat dipakai dan


karena luas suatu areal itu selalu positif,
apabila hasilnya ternyata negatif dapat
dianggap sebagai positif (jadi diambil harga
mutlaknya).
Gambar 286. metode koordinat tegak lurus
i. Metode kisi-kisi
Seperti tertera pada gambar 286, garis-garis
Pada lembar kertas kalkir atau plastik
tegak lurus digambarkan dari masing-
transparan digambarkan garis-garis
masing titik pengukuran ke sumbu X.
memanjang dan melintang (kisi-kisi) pada
Apabila koordinat masing-masing titik
interval tertentu dan ditempatkan di atas
diketahui (lihat gambar), luas total S adalah :
11 Perhitungan Luas 313

gambar untuk menghitung jumlah petakan k. Metode pengukuran luas dengan


yang berada di dalam garis-garis batas. planimeter
Apabila garis batas memotong petakan-
Planimeter adalah instrumen pengukuran
petakan maka bagian-bagiannya harus
luas yang dilengkapi dengan ujung pelacak
dibaca secara proposional.
untuk mengukur luas suatu areal pada peta.
Adapun caranya adalah dengan menelusuri
garis batas areal tersebut dengan ujung
pelacak instrumen tersebut. Pada instrumen
tersebut terdapat sebuah roda yang dapat
berputar bersamaan dengan gerakan dari
ujung pelacak. Dari jumlah putaran yang

Gambar 287. metode kisi-kisi


diperoleh dikalikan dengan konstanta
tertentu, maka dengan mudah dapat
j. Metode lajur
diketahui luas areal tersebut.
Pada lembar kertas kalkir atau plastik
Planimeter yang pada saat ini banyak
transparan digambarkan garis-garis dengan
digunakan adalah planimeter tipe kutub.
interval tertentu d dan kemudian
Instrumen tipe ini mempunyai ujung jarum
ditempatkan di atas gambar yang diukur
tetap dan tangkai pelacak yang dilengkapi
luasnya untuk menghitung panjang garis
dengan ujung pelacak yang berfungsi
tengah (l) dari pada masing-masing lajur
memindahkan gerakan ujung pelacak ke
yang dikelilingi garis-garis batas. Luas tiap
sebuah roda di ujung lainnya. Gerakannya
jalur adalah dl, jadi luas total adalah jumlah
dibaca pada suatu cakra dan gerakan halus
dari masing-masing luas.
yang lebih kecil dari satu graduasi roda
l
dibaca pada suatu vernir (V1). Roda dapat
diusahakan bergerak lambat dengan
d menggunakan sekrup gerak lambat. Apabila
klem-klemnya dikendorkan akan
menggelincir pada tangkai pelacak dan
dapat dicocokan ke posisi yang diinginkan.

Posisi vernir lainnya (V2) ditentukan sesuai


dengan skala gambar, guna menentukan
konstanta pengali untuk satu putaran roda.
Gambar 288. metode lajur
11 Perhitungan Luas 314

Ujung lain dari tangkai jarum dengan ujung Macam-macam Planimeter,


jarum tetap dihubungkan oleh suatu poros
Planimeter di lapangan terbagi atas dua
dengan ujung roda yang terjauh dan
macam, yaitu : (1) Planimeter Fixed Index
membentuk ujung tetap yang dapat berputar
Model (Model Tetap), (2) Planimeter Sliding
bebas sesuai dengan gerakan ujung
Bar Model (Model disetel).
pelacak.
1. Planimeter Fixed Index Model (Model
Harga planimeter kutub relatif murah dan
Tetap).
kebanyakan mencakup 5 sampai 10 mm2
dengan pembacaan minimum satu (1 Planimeter fixed index model merupakan

graduasi vernir). Ada juga planimeter kutub planimeter yang tracer larmnya tidak dapat

ganda yang sering digunakan untuk disetel, juga pembacaan pada tracer arm

menghitung luas potongan melintang dan tidak ada. Konstruksi dari model ini terdiri

planimeter tepi piringan yang mahal yang dari :

kualitasnya agak lebih baik dan pembacaan a. Planimeter yang dilengkapi zero setting.
minimum 2 – 5 mm2. b. Planimeter yang tidak dilengkapi dengan
zero setting.

Bagian-bagian dari Planimeter fixed index


model, terdiri dari :

Gambar 289. planimeter fixed index model


11 Perhitungan Luas 315

Nama-nama Bagian : a. Trace arm yang dilengkapi dengan zero


1. Pole weight (pemberat katup)
setting
2. Pole arm (batang katup)
3. Tracer arm (batang penelusur) b. Trace arm yang tidak dilengkapi zero
4. Tracer magnifier (lensa penelusur)
setting
5. Zero seitting (penyetel nol)
6. Recording dial (roda pencatat)
7. Measuring wheel (nonius roda Pada tempat penyimpanan alat ini, terdapat
pembaca) satu daftar. Daftar ini sangat penting sekali
jika kita akan menggunakan alat ini untuk
2. Planimeter Sliding Bar Model (Model
pekerjaan menentukan luas. Daftar tersebut
disetel)
setiap planimeter berlainan.
Planimeter sliding bar model adalah
Seandainya daftar tersebut tidak ada,
planimeter yang dilengkapi dengan
terlebih dahulu kita tentu akan membuatnya
pembacaan pada trace arm.
terlebih dahulu. Menurut bentuknya dan
Trace arm dapat disetel sesuai dengan konstruksinya planimeter sliding bar model
penggunaannya yang tergantung pada skala ini terbagi atas dua macam.
gambar/figure. Sama halnya dengan
a. Sliding bar mode dengan skrup
planimeter fixed index model, sliding bar
penghalus
model ini konstruksinya terbagi dua macam,
yaitu :

Gambar 290. sliding bar mode dengan skrup


Penghalus
11 Perhitungan Luas 316

Pada alat sliding yang pertama, dilengkapi 9. Fine movement screw (roda pencatat)
dengan pembacaan pada tracer fine 10. Measuring wheel (roda pengukur)
movement screw, sehingga sewaktu 11. Measuring wheel vernier (nonius roda
menyetel bacaan pada tracer arm akan lebih pengukur)
mudah. 12. Zero setting (penyetel roda)
13. Carriage (pembawa)
Planimeter polar kompensasi, terdiri dari
beberapa bagian, antara lain :
b. Sliding bar model tanpa skrup
1. Pole weight (pemberat katup) penghalus
2. Pole arm (batang katup)
Pada alat macam kedua, tracer armnya
3. Tracing magnifier (pembesar penelusur)
langsung saja disetel, jadi alat ini tidak ada
4. Tracing arm (batang penelusur)
fine movement screw.
5. Tracer arm vernier (nonius batang
penelusur) Bagian-bagian dari macam kedua, antara
6. Idler wheel (penahan roda) lain :
7. Clamp screw (skrup pengikat) 1. Pole weight (pemberat katup)
8. Fine movement screw (skrup penggerak 2. Pole arm (batang katup)
halus)

Gambar 291. sliding bar mode tanpa skrup


penghalus
11 Perhitungan Luas 317

3. Tracing magnifier (pembesar pengukuran dengan skala pada


penelusur), dapat diganti dengan tracing peta/figure).
pin c. Keraskan skrup pengikat/ clamp screw.
4. Tracing arm (batang penelusur) d. Tepatkan bacaan dengan memutar
5. Tracer arm vernier (nonius batang fine movement screw.
penelusur)) e. Keraskan skrup pengikat.
6. Clamp screw (skrup pengikat) f. Baca dan catat hasil bacaan.
7. Recording dial (alat pencatat)
4. Hasil pengamatan
8. Measuring wheel (roda pengukur)
9. Measuring wheel vernier (nonius roda
pengukur)
10. Zero setting (penyetel roda)

Bacaan ' = 0.6


Penyetelan dan pembacaan/ nonius pada
trace arm.

Prosedur penyetelan dan pembacaan pada


trace arm adalah sebagai berikut :

1. Alat-alat
a. Planimeter sliding bar model.
b. Buku catatan dan alat-alat tulis.
2. Persiapan
Gambar 292. Pembacaan nonius model 1 dan 2
a. Periksa dan teliti alat yang akan
digunakan. Model 1
b. Perhatikan daftar yang ada dalam Hasil bacaan = 146 + 0,6 (dihitung pada
kotak. garis nonius yang
3. Langkah kerja berimpit)
a. Longgarkan seluruh skrup-skrup Hasil Bacaan = 146 + 0,6 = 146,6
pengikat (skrup pengikat ini ada dua Model 2
atau satu saja). Hasil bacaan = 139 + 0,8 (dihitung pada
b. Setel nonius pada bacaan satuan, garis nonius yang
sesuai dengan daftar dalam box berimpit)
(bacaan dalam box itu disesuaikan Hasil Bacaan = 139 + 0,8 = 139,8
pula nantinya waktu pengerjaan
11 Perhitungan Luas 318

Pembacaan roda pengukur, h. Baca bacaan pada roda pengukur.


Bacaan disini terdapat dua bacaan,
Prosedur pembacaan roda pengukuran
yaitu :
dapat sebagai berikut :
- Bacaan measuring wheel
1. Alat-alat (misalnya MW = 100).
a. Planimeter sliding bar model. - Bacaan measuring wheel vernier
b. Buku catatan dan alat tulis. (misalnya MWV = 3).

2. Persiapan i. Jumlahkan hasil bacaan. Hasil tersebut

a. Periksa dan teliti alat yang akan merupakaan bacaan yang sebenarnya.

digunakan. Misalnya : BD = 1000

b. Perhatikan daftar yang ada dalam MW = 100

kotak. MWV = 3
1103
3. Langkah kerja
Format daftar penggunaan planimeter.
a. Letakan figure betul-betul datar diatas
4. Gambar kerja
meja.
M EA SU R IN G L EV EL R ECO R D IN G D IA L (R D )
b. Letakan pemberat/pole weight diluar
figure dan tracing magnifier kira-kira
5
6 4
ditengah figure yang mana tracing arm 3

7 3
dan pole weight membuat sudut ± 900 10
2 8 2
5 9 1
c. Garis batas figure dicoba ditelusuri. 0
0
1
d. Tracing magnifier/tracing pen diletakan
pada titik yang ditentukan (titik awal).
Gambar 293. bacaan roda pengukur
e. Tekan zero setting untuk menolkan
bacaan.
f. Telusuri garis batas figure dari titik
yang ditentukan perlahan-lahan
sampai kembali ke titik yang ditentukan
perlahan-lahan sampai kembali ke titik
yang ditentukan itu (gerakan searah
jarum jam).
g. Baca bacaan pada jarum
penunjuk/recording dial dan catat
(misalnya RD = 1000).
11 Perhitungan Luas 319

Tabel 28. format daftar planimeter tipe 1

Value of vernier unit


Scales Setting of Area of circle
Planimeter Relative Absolute constanta
1:M tracer arm of test ruler
V1 : M V1 : 1
2 2 2
Type : 30115 1 : 100 200.00 10 m 10 mm 23853 10002 mm
2 2
1 : 500 159.70 2m 8 mm
2 2
No. 142739 1 : 2500 127,40 40 m 6,4 m
2 2
1 : 2000 99,20 20 m 5m
2 2
1 : 5000 79,00 100 m 4m

Keterangan : 4. Konstanta = 23853 (kolom 6),ini untuk


Misalnya skala peta yang dicari luasnya mencari luas peta/figure, harga konstan
skala 1 : 500 (kolom 2). berlaku untuk setiap skala.
1. Posisi tracer arm (batang penelusur) 5. Luas lingkaran dari test ruler atau
= 159,70 (kolom 3) checking bar (batang pengecek) =
2 2
2. Satuan nonius = 2 m (kolom 4), ini 10002 m , ini untuk mengecek ketelitian
untuk mencari luas lokasi melalui planimeter dan juga untuk mencari
gambar di kertas. satuan nonius.
3. Kalau diperlukan untuk mencari luas
figura/peta di dalam gambar saja, maka
satuan nonius = 8 m2 (kolom 5).

Tabel 29. format daftar planimeter tipe 2

Value of the vernier


Position of vernier
Scales unit on the measuring constanta
on the tracer arm
roler
2
10 10 mm
1 : 1000 2
m
148,6 2
0,4 10 mm
1 : 200 2
m
2
20 8,8 mm
1 : 1500 130,1 2 23077
m
2 2 23577
1 : 1500 2m 8 mm
2 24236
115,2 0,5 8 mm
1 : 250 2
m
2 2
1 : 400 86,0 1m 6,25 mm
2 2
1 : 1000 65,1 5m 5 mm
2 2
1 : 500 47,9 1m 4 mm
11 Perhitungan Luas 320

Keterangan : 2. Langkah Kerja


1. Untuk skala1 : 1000 dan 1 : 200 posisi a. Siapkan peta dan letakkan betul-betul
tracer arm adalah sama yaitu = 14,8 rata diatas meja/ papan.
hanya satuan nonius yang tidak sama. b. Setel tracer arm sesuai dengan skala
Untuk 1 : 1000 satuan nonius (vernier) peta dan tabel dalam kotak planimeter.
2
= 10 m (kolom 3) Misalnya skala peta = 1 : 1000
2
Untuk 1 : 200 satuan nonius = 0,4 m Posisi tracer arm = 200 (ini pada
(kolom 3) setiap planimeter berlainan).
2. Untuk skala 1 : 1000 posisi tracer arm c. Check ketelitian planimeter dengan
= 148,6 dapat juga di setel = 65,1 (lihat checking bar.
baris 7). d. Letakkan pemberat (pole weight) di
Jika skala 1 : 1000 dengan posisi luar figure (dan antara pole arm
tracer arm = 148,6 satuan nonius = 10 dengan tracer arm berbentuk ± 900).
m2. e. Tandai titik permulaan (awal) dimana
Jika skala 1 : 1000 dengan posisi tracler magnifer akan mulai menelusuri
2
tracer arm= 65,1 satuan nonius = 5 m . figure.
3. Penggunaan kolom lainnya sama f. Telusuri batas figure perlahan-lahan
seperti pada contoh I. searah jarum jam, sampai kembali
tepat pada titik awal.
Pengukuran peta (figure) dengan
g. Baca dan catat hasil bacaan, misalnya:
planimeter sliding bar model yang
Recording dial RD = 1000
dilengkapi zero setting (pole weight
Measuring wheel MW = 740
diluar figure).
Measuring Wheel Vernier = 9
Prosedur pengukuran peta (figure) dengan = 1749
planimeter sliding bar model yang dilengkapi
h. Satuan nonius = 10 mm2
zero setting (pole weight diluar figure),
i. Luas dengan plancimeter = 1749 x 10
sebagai berikut :
m2 =17490 m2.
1. Alat-alat
Jika ingin dibuktikan ketelitian dari
a. Planimeter sliding model dengan zero
pengukuran luasnya dengan matematika.
setting.
b. Figure dengan skala tertentu. 150  200
Luas x 100 x 1 m2 17500 m2
c. Meja/ papan datar. 2
Selisih 17500 m2 – 17400 m2 = 10 m2
11 Perhitungan Luas 321

Dalam pengamatan ini ketelitian sangat 1. Mengecek ketelitian planimeter dengan


tergantung dari : checking bar.
1. Keampuhan alat tersebut. 2. Pengukuran dua atau tiga kali
2. Ketelitian pengoperasian planimeter. kemudian hasilnya dirata-rata.
3. Mengecek keadaan planimeter,sekrup-
Dalam pengukuran luas sebenarnya, sekrup dan sebagainya.
karena bentuk yang diukur tidak 4. Meja benar-benar mendatar.
beraturan, maka tidaklah dicari luasnya
dengan matematika cukup dengan :

P OLE WEIGHT

P OS IS I 1

T IT IK AWAL

P OS IS I II

90°

Gambar 294. penempatan planimeter


Jika luas peta dicari,
Setelah melakukan pengamatan, hasil = 1749 x 10 mm2 = 17490 mm2
bacaan masukan dalam gambar kerja
dengan memuat hal-hal berikut :
1. No.Planimeter
2. Skala Gambar
3. Satuan nonius (untuk luas persil)
4. Satuan nonius (untuk luas peta)

Gambar 295. gambar kerja


Contoh Soal
Hasil bacaan = 1749
Luas persil (tanah),
= 1749 x 10 m2 = 17490 m2
11 Perhitungan Luas 322

Pengukuran peta (figure) dengan h. Gerakan tracer magnifer perlahan-


planimeter sliding bar model yang tidak lahan searah jarum jam menelusuri
dilengkapi zero setting (pole batas figure sampai kembali ke titik
weight/diluar kutub). awal.
i. Catat hasil bacaan kedua,misalnya :
Prosedur pengukuran peta (figure) dengan
3245 ... (bacaan II).
planimeter sliding bar model yang tidak
j. Hasil bacaan yang sebenarnya adalah
dilengkapi zero setting (pole weight/diluar
: 3245 - 1424 = 1821 atau dengan kata
kutub), adalah sebagai berikut :
lain,
1. Alat-alat bacaan II – Bacaan I = hasil bacaan
a. Planimeter sliding bar model tanpa sebenarnya.
zero setting. k. Lihat satuan nonius pada box
b. Peta (figure). planimeter, misalnya = 2, 55 m . 2

c. Meja kerja datar. l. Luas situasi (daerah) = 1821 x 2,55 m2


d. Catatan + alat tulis. atau luas = (bacaan II – Bacaan I) x

2. Langkah Kerja satuan nonius.

a. Taruhlah peta betul-betul mendatar Kalau dicari luas peta (gambar) maka
diatas meja. luas bacaan x satuan nonius (lihat kolom
b. Setel tractor arm vernier sesuai 5 pada contoh daftar planimeter 1). Luas
dengan skala, misalnya untuk peta = 1821 x 8 mm2.
planimeter nomor .... dengan skala 1
: 500 adalah 159,70. C

c. Tempatkan planimeter, dimana pole


weight berada diluar figure.
69

d. Coba telusuri grafis batas figure.


,9
33
96 m

e. Tandai titik awal sebagai tempat


4 0 ,5

tracing magnifer mulai bergerak.


f. Tempatkan tracer magnifer perlahan-
lahan searah jarum jam menelusuri
A
batas figure sampai kembali ke titik
awal. B

g. Catat hasil bacaan kedua, misalnya


Gambar 296. gambar pengukuran peta dengan
1424 ... (bacaan I). planimeter sliding bar model yang tidak dilengkapi zero
setting (pole weight/diluar kutub).
11 Perhitungan Luas 323

Keterangan yang harus tercantum dalam Perlu diperhatikan hasil pekerjaan ini
gambar kerja, didapat dua macam hasil bacaan, yaitu :
Skala gambar = .........
1. Hasil bacaan positif
NO Planimeter = .........
Posisi tracer arm = ......... Didapat apabila luas figure lebih besar dari

Satuan nonius = ......... lingkaran dasar/konstanta. Gerakan jarum

Bacaan awal (I) = 1278 dari 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6 dan seterusnya.

Bacaan akhir (II) = 1843


BAT AS F IGURE

Hasil bacaan = bacaan II – bacaan I LINGKARAN DAS AR

= 1843 – 1278
= 565 P E MBE RAT ( P OLE WE IGHT )

Luas = hasil bacaan x satuan nonius


= 565 x 2 m2 = 1130 m2
T RACING MAGNIF IE R

Gambar 297. hasil bacaan positif


Penggunaan planimeter dengan pole
weight berada didalam figure. Langkah kerja,
a. Telusuri terlebih dahulu pinggiran figure
Pekerjaan ini dilakukan apabila luas peta
dan lihat jarum pengukur, bila gerakan
yang akan dicari luasnya itu mempunyai
jarum pengukur mulai dari 1, 2, ,3 ,
ukuran besar. Sebenarnya dapat juga diukur
4, 5 dan seterusnya, maka bacaannnya
dengan cara membagi-bagi peta tersebut
adalah bacaan positif dan gerakan
menjadi bagian-bagian kecil. Kemudian
dinamakan gerakan positif.
hasilnya masing-masing bagian itu
b. Letakan tracing magnifier pada titik yang
dijumlahkan. Tetapi dalam pekerjaan ini
ditandai pada pinggiran figure yang
diperlukan harga konstan. Yang dimaksud
akan ditelusuri.
dengan harga konstan adalah lingkaran
c. Bacaan pada roda pengukur dinolkan.
dasar dengan jari-jari batang kutub lingkaran
d. Telusuri pinggiran figure perlahan-lahan
tersebut didapat waktu pen penelusur
sampai kembali ke titik awal.
menelususri pinggiran figur yang diukur.
e. Baca dan catat hasil bacaan pada roda
Konstanta dinyatakan dengan nonious yang
pengukur.
dapat dilihat dalam kotak planimeter bagian
f. Bacaan akhir = konstanta + bacaan
konstanta (ditetapkan oleh pabrik).
11 Perhitungan Luas 324

g. Luas figure = (konstanta + bacaan) e. Baca dan catat hasil bacaan.


x satuan nonius f. Hasil bacaan = 10.000 bacaan.
g. Bacaan akhir = konstanta – hasil
2. Hasil bacaan negatif
bacaan
Didapat apabila luas figure lebih kecil dari h. Luas figure (konstanta – hasil bacaan ) x
lingkaran dasar/konstanta. Gerakan jarum satuan nonius.
dari 0, 9, 8, 7, 6, 5 dan seterusnya.
Pada langkah kerja yang diuraikan
Langkah kerja, diatas, keadaan planimeter sudah
a. Coba dahulu telusuri pinggiran figure keadaan siap untuk digunakan (nonius
dan perhatikan jarum pengukur.bila pada tracer arm sudah disetel sesuai
gerakan jarum pengukur mulai dari 0, 9, dengan skala).
8, 7, 6, 5 dan seterusnya,maka bacaan Contoh Soal
yang didapat adalah bacaan negatif dan
Suatu peta (figure) bentuk bujur sangkar
gerakannya dikatakan negatif.
berukuran 500 x 500 m dengan skala 1 :
b. Letakan tracing magnifer pada titik yang
1000. Hitunglah luas figure (peta) dengan
telah ditandai pada pinggiran figure
menggunakan planimeter dan dengan
yang akan ditelusuri.
matematika.

LINGKARAN DASAR
(BASED CIRCLE)

BATAS FIGURE

PEMBERAT (POLE WEIGHT)

TRACING MAGNIFIER

Gambar 298. hasil bacaan negatif

c. Bacaan jarum pengukur dinolkan.


d. Telusuri pinggiran figure perlahan-lahan
sampai kembali ketitik awal.
11 Perhitungan Luas 325

Penyelesaian : 6. Tandai titik awal.


Langkah kerja menggunakan planimeter : 7. Tempatkan pen penelusur (tracing
1. Sebelum pengukuran catat dari daftar, magnifier) tepat pada titik awal,
hal–hal yang perlu dipergunakan untuk sementara itu nolkan bacaan dengan
menghitung luas. penyetel nol.
Planimeter No.142705 8. Gerakan tracing magnifer perlahan-
Harga konstan 23844 lahan searah jarum jam (clock wise)
Skala 1 : 1000 sampai kembali ke titik awal.
Posisi tracer arm = 200.00 9. Baca pada unit pengukur = 1157
2
Satuan nonius = 10 m Harga konstan = 23844
2. Tempatkan peta pada tempat (papan) Hasil bacaan = 25001
2
benar-benar rata-rata. 10. Luas peta = 25001 x 10 m
3. Setel batang penelusur (tracer arm) = 250010 m2
sesuai tabel = 200.00 11. Luas berdasarkan matematika
4. Tempatkan planimeter dengan L = 500 x 500 = 250000 m2
pemberat katup (pole weight) di dalam 12. Selisih luas = 250010 – 250000
peta. = 10 m2
5. Telusuri peta percobaan, apakah batas
Keterangan :
peta dapat ditelusuri semua, dan lihat
Bila dicari luas peta sesungguhnya (luas
gerakan jarum (terutama pada waktu
gambar), maka luas peta sesungguhnya :
akan kembali ke titik awal) disini
Luas = Hasil bacaan x satuan nonius
gerakan dari 0,1,2,3,4 dan seterusnya,
(mm2)
jadi gerakannya adalah positif.
= 25001 x 10 mm2 = 250010 mm2

BATAS FIGURE

LINGKARAN DASAR

PEMBERAT (POLE WEIGHT)

TRACING MAGNIFIER

Gambar 299. pengukuran luas peta pole weight (pemberat kutup) di dalam peta
11 Perhitungan Luas 326

Keterangan : 8. Baca pada unit pengukur misalnya =


Harga lingkaran dasar (based circle) sama 7167.
dengan constante dapat dilihat pada tabel 9. Karena gerakan (hasil) negatif, maka :
dan harga konstan setiap planimeter tidak 10. Bacaan = 10.000 – 7167 = 2833.
sama, tergantung dari pengecekan pabrik. 11. Harga konstan pada daftar 23077
12. Hasil bacaan = harga konstan –
Contoh Soal bacaan
Suatu peta (figure) bentuk bujur sangkar 13. Satuan nonius pada daftar untuk skala
berukuran 450 x 450 m dengan skala 1 : 1 : 1000 = 10 m2
1000. hitunglah luas figure (peta) dengan 14. Luas peta = 20224 x 10 m2
menggunakan planimeter dan dengan = 202440 m2
matematika (sebagai koreksi).
Keterangan :
Penyelesaian, Untuk menghasilkan bacaan yang teliti
Langkah kerja menggunakan planimeter : maka pengukuran dapat dilakukan dua atau
1. Tempatkan figure pada papan/meja tiga kali, kemudian hasilnya dirata-rata.
yang betul-betul rata, dengan selotape.
2. Stel batang penelusur sesuai daftar, Perhitungan dengan matematika,

untuk planimeter no. 54722, dengan Luas peta = 450 x 450 x 1 m2

skala 1 : 1000 adalah = 148,6. = 202500 m2

3. Tempatkan planimeter (pole weight) di Selisih luas = 202500 – 202440

tengah figure. = 60 m2

4. Telusuri figur percobaan, apakah dapat Selisih ini tergantung dari ketelitian pada
terjangkau semua dan lihat gerakan waktu pengukuran dan juga dari planimeter
jarum, disini jarum bergerak dari 0,9, 8, itu sendiri. Oleh karena itu, sebelum
7, jadi ini gerakan negatif. diadakan pengukuran dengan planimeter
5. Tandai titik awal. harus dicheck dahulu dengan cecking bar.
6. Terdapat pen penelusur (tracing
magnifier tepat pada titik awal)
sementara itu nolkan bacaan dengan
penyetel nol.
7. gerakan tracing magnifier perlahan-
lahan searah jarum jam (clock wise),
sampai kembali tepat pada titik awal.
11 Perhitungan Luas 327

LINGKARAN DASAR A
(BASED CIRCLE)

BATAS FIGURE

PEMBERAT (POLE WEIGHT)

TRACING MAGNIFIER
D E

B C

Gambar 301. pembagian luas yang sama dengan


Gambar 300. pengukuran luas peta pole weight garis lurus sejajar salah satu segitiga
(pemberat kutup) di dalam peta segitiga

11.1.3 Pembagian dan Penyesuaian 2. Pembagian garis lurus dengan titik

Luas tertentu pada segitiga

Pembagian daerah kebanyakan diadakan Agar perbandingan ¨BPQ : ACPQ = m : n,


dengan menggunakan ilmu ukur bidang. BQ dapat dihitung dengan persamaan
Tipe-tipe dasar umum pembagian daerah
AB.BC n
adalah sebagai berikut : BQ x
BP mn
1. Pembagian dengan garis lurus sejajar Apabila m = n, maka :
pada segitiga 1 AB.BC
BQ
2 BP
a) Pembagian luas yang sama : Apabila
3. Pembagian dengan garis lurus melalui
' ABC = M dan ' ADE = m, gbr. 301 AD
sudut puncak
dan AE dapat dihitung dari

AD AB
m a. Pembagian luas yang sama
M
Apabila 'ABCD = M dan 'ABCD = m,
m
AE AC
M maka diperoleh dengan persamaan:
titik D dan E dapat dihubungkan. m
BD .BC
b) Pembagian-pembagian tetap : Agar M
¨ADE : DECB = m : n, AD dan AE
dihitung dengan persamaan :
m
AD AB
mn
m
AE AC
mn
titik D dan E dapat dihubungkan.
11 Perhitungan Luas 328

4. Pembagian garis lurus melalui sudut


segi empat
Apabila ! ABCD = M, ! ABCP = n dan
¨CPD = m, maka :
m 1
Luas 'CPD M PD.CE
mn 2

Gambar 302. pembagian luas yang sama dengan


garis lurus melalui sudut puncak segitiga

b. Pembagian dengan perbandingan a:b:c


sesuai dengan skema gambar 303,
maka PQ dan QC dihitung dengan Gambar 304. pembagian dengan perbandingan
persamaan-persamaan berikut: m : n oleh suatu garis lurus melalui salah
satu sudut segiempat
a
BP BC
abc 5. Pembagian garis sejajar dasar
b trapesium
BQ BC
abc
Pembagian dengan perbandingan m:n, PQ
c dan BP dapat dihitung dengan rumus-
QC BC
abc rumus:

m. AD 2  n.BC 2
PQ
mn
AB ( PQ  BC )
BP
AD  BC

Gambar 303. pembagian dengan perbandingan


a:b:c

Gambar 305. pembagian dengan garis lurus sejajar


dengan trapesium
11 Perhitungan Luas 329

6. Pembagian suatu polygon garis lurus PQ yang melalui titik P

Pembagian diadakan dengan garis lurus daripada BC ?


melalui titik P dan luas M diperoleh. Tarik B
garis dari P ke F sejajar sisi AB Luas ! F
A
ABFP adalah :
h1 h2
1 G
P
A = ! ABFP = ( AB  FP ) h1 Q
2
Apabila titik yang dicari adalah Q C
1
'PFQ MA PF .h2
2
Jadi, apabila Q adalah titik potong antara E D
garis yang sejajar PF dan memisahkan h 2 Gambar 306. pembagian suatu poligon

dengan garis BC maka PQ adalah garis Penyelesaian (lihat gambar 307):


yang diinginkan. Panjang Q harus ditentukan agar dua kali
Contoh Soal luas segiempat ABPQ sama dengan luas
Dalam suatu daerah segi empat ABCD segi empat ABCD. Apabila titik yang dicari
seperti tampak pada gambar 307 diadakan adalah Q, luas segiempat ABPQ adalah
pengukuran meja lapangan pada skala 1: jumlah luas segitiga ABP dan APQ.
500 dan panjang-panjang diukur pada Sedangkan luas segiempat ABCD adalah
gambar sehingga diperoleh : sama dengan jumlah luas segitiga ABD dan
BCD. Oleh karena itu persamaan berikut ini
AB 42,4 mm dapat dibentuk.
AE 28,0 mm § AQ xPH AP xBG · BD xAE BD xCF
2¨¨  ¸ 
34,0 mm 2 2 ¸ 2 2
BC © ¹
AP 47,8 mm 1 ­ BD .( AE  CE ) ½
AQ ®  AP xBG ¾
CD 65,6 mm PH ¯ 2 ¿
BG 13,0 mm 1
^35,0(280  32,0)  (51,4 x13,0)`
51,2
PH 51,2 mm
1
(2100  668,2) 28,0mm
Berapa seharusnya panjang garis dari titik A 51,2
sampai Q pada garis AD dilapangan (dalam
meter) agar luas segi empat terbagi dua
11 Perhitungan Luas 330

Panjang di lapangan adalah 28 mm x 500 =


14,0 mm. Jadi, Q dapat ditempatkan 14 m

dari titik A pada garis AD .

11.1.4 Penyesuaian Garis Batas

Tipe-tipe dasar penyesuaian garis batas


adalah sebagai berikut :

1. Perubahan segiempat menjadi


trapesium Gambar 308. perubahan segiempat menjadi
trapesium
Pada gambar berikut, AB dan DC
diperpanjang hingga berpotongan di E
2. Pengurangan jumlah sisi polygon
(lihat gambar 308), maka EM dapat
tanpa merubah luas
dihitung dengan persamaan :
Pada gambar 309, BD sejajar AC dan D
BC ˜ EG ˜ EF
EM ditempatkan pada persilangan antara BD
AD
dan EC, Jadi ABCD dirubah menjadi ACDB.
dimana, EG  BC dan EF  AD.

Selanjutnya, jika garis PR ditarik melalui


M sejajar AD, maka garis PQ adalah
garis batas yang dicari.

Gambar 309. pengurangan jumlah sisi polygon


tanpa merubah luas

3. Perubahan garis batas yang berliku


menjadi lurus

Gambar 307. penentuan garis batas


Untuk menentukan garis batas baru (AP)
melalui A, yang ditarik dengan mata dan
kemudian dilakukan pengukuran luas untuk
a, b, c, d, dan e. Selanjutnya dilakukan
perhitungan (a+c+e) - (b+d) = s.
11 Perhitungan Luas 331

Agar s = 0, maka P digeser sejauh 2s/AP


11.2 Prosedur pengukuran
= h dan AP adalah garis yang diminta.
luas dengan prangkat
lunak autocad

Salah satu cara mengukur luas suatu


daerah/ lokasi lainnya adalah dengan
menggunakan perangkat lunak AutoCAD.
Gambar 310. perubahan garis batas yang berliku-
Secara praktis prosedur perhitungan luas
liku menjadi garis lurus
dengan perangkat lunak AutoCAD, sebagai
4. Perubahan garis lengkung menjadi berikut :
garis lurus 1. Pastikan softwere AutoCAD yang akan
Pada gambar berikut, ditarik garis digunakan telah terinstal di komputer.
sembarangan PA dan offset-offset 2. Klik Start – All Program – Folder Autocad
digambarkan terhadap garis lengkung untuk 2002 s/d Autocad 2006.
mengukur luas a, b, dan, c dan jika (a = c) –
b = s, maka diperoleh h = 2s/AP agar AC 
AP dan AC  h, titik-titik C dan P
dihubungkan. PQ merupakan garis batas
Gambar 312. posisi start yang harus di klik
yang baru setelah didapat perpotongan
antara garis AQ dan garis CQ yang sejajar
AP.

Gambar 311. perubahan garis batas lengkung


menjadi garis lurus
Gambar 313. start – all Program – autocad 2000
11 Perhitungan Luas 332

3. Tunggu sampai muncul worksheet Khusus untuk gambar yang di scan


Autocad. terlebih dahulu atur skala gambar
sesungguhnya dengan skala di autocad.
Gunakan perintah scale.

5. Misalkan akan dihitung volume galian


untuk pondasi setempat. Volume
merupakan luas penampang dikalikan
dengan satu satuan panjang.

Gambar 314. worksheet autocad 2000

4. Buka gambar yang telah di scan


sebelumnya atau gambar yang digambar
langsung di autocad.

Gambar 317. gambar penampang yang akan


dihitung Luasnya

6. Untuk menghitung luas digunakan


perintah AREA. Pada kasus seperti ini
pertama menghitung luas galian pondasi
seluruhnya. Pada Command ketik AREA
Gambar 315. open file
kemudian enter.

Kemudian akan muncul specify next


corner point or press ENTER for total, klik
batas daerah yang akan dihitung luasnya.

Setelah di klik dari pointer satu ke point


lainnya, akhir point harus kembali ke titik
semula.

Gambar 316. open file


11 Perhitungan Luas 333

8. Ulangi perhitungan galian untuk


menghitung luas pondasi. Diperoleh hasil
sebagai berikut :
Area = 103,5217 m2
Perimeter = 115,0470 m

9. Maka luas galian tanah pondasi dapat


diperoleh dari selisih luas galian tanah
pondasi dengan luas pondasi telapak.

Gambar 318. klik poin untuik menghitung luas Luas penampang galian tanah pondasi :

7. Setelah selesai di-klik tekan enter maka 355,1432 - 103,5217 = 251,6251 m2


Misalkan panjang galian pondasi 10 m,
akan muncul tampilan berikut.
Maka volume galian tanah pondasi
sebagai berikut :
251,6251 m2 x 10 m = 2516,251 m3.

Gambar 319. klik poin untuk menghitung luas

Hasil perhitungan sebagai berikut :


Area/luas penampang galian = 355,1432
m2
Perimeter/ keliling = 95,0845 m
11 Perhitungan Luas 334

Model Diagram Alir


ModelIlmu Diagram
Ukur Tanah Pertemuan ke-11
Alir
Metode Perhitungan Luas
Perhitungan Luas
Dosen Penanggung Jawab : Dr.Ir.Drs.H.Iskandar Muda Purwaamijaya, MT

Informasi Luas

Kepastian Hukum Pajak Teknis


Komoditas Bisnis
Penguasaan Lahan Ekonomi SDA Daerah Kajian

Metode Perhitungan Luas

Numeris Analog Mekanis Planimetris Numeris Digital

Perangkat Lunak
Metode Sarrus Alat Planimeter AutoCAD

Koordinat-Koordinat Penelusuran Batas Area Komputasi Elektronis


Titik-Titik Batas Area oleh Pointer Planimeter Batas Area Digital

Batas Area Batas Area sudah


Area Beraturan
Dapat Tidak Beraturan di Input menjadi
Segmen Garis Jelas
Harus Ada Skala Peta Data Digital

Command : polyline (enter)


Luas = | Jumlah Xn.Yn+1 - Jumlah Yn.Xn+1| . 1/2 Command : area (enter)

Penelusuran bentuk area sederhana bujur sangkar menggunakan pointer planimeter


Pencatatan nilai counter awal dan akhir bujur sangkar
Perhitungan luas area bujur sangkar dari selisih counter dan skala peta
Penelusuran bentuk area yang ingin diketahui luasnya
Luas area = (selisih counter area/bujur sangkar).luas bujur sangkar.skala peta

Gambar 320. Diagram alir perhitungan luas


11 Perhitungan Luas 335

Rangkuman

Berdasarkan uraian materi bab 11 mengenai perhitungan luas, maka dapat


disimpulkan sebagai berikut :

1. Luas adalah jumlah area yang terproyeksi pada bidang horizontal dan dikelilingi oleh
garis-garis batas.

2. Luas yang diukur pada gambar situasi disebut pengukuran tak langsung.

3. Luas yang dihitung dengan menggunakan data jarak dan sudut yang langsung
diperoleh dari pengukuran dilapangan disebut pengukuran langsung.

4. Metode Sarrus, yaitu menggunakan koordinat-koordinat titik batas sebagai masukan


untuk perhitungan luas.

5. Metode pengukuran luas, terdiri dari : Metode diagonal dan tegak lurus, Metode
pembagian segitiga, Metode trapesium, Metode offset, Metode offset pusat, Metode
simpson, Metode jarak meridian ganda, Metode kisi-kisi, Metode lajur, Metode
pengukuran luas dengan planimeter.

6. Planimeter terbagi atas dua macam, yaitu planimeter fixed index model (model
tetap), planimeter sliding bar model (model disetel).
11 Perhitungan Luas 336

Soal Latihan

Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini !


1. Apa yang dimaksud dengan luas ?
2. Sebutkan cara-cara pengukuran dan ketelitian yang dikehendaki ?
3. Sebutkan macam-macam metode pengukuran luas ? Jelaskan !
4. Sebutkan macam-macam planimeter ? Jelaskan !
5. Sebutkan tipe-tipe dasar penyesuaian garis batas ?
Lampiran : A

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. (1983). Ukur Tanah 2. Jurusan Hasanudin, M. dan kawan-kawan. 2004.


Teknik Sipil PEDC. Bandung Survai dengan GPS. Pradnya Paramita.
Jakarta.
Barus, B dan U.S. Wiradisastra. 2000.
Sistem Informasi dan Geografis. Hendriatiningsih, S. 1990. Engineering
Bogor. Survey. Teknik geodesi FPTS ITB.
Bandung.
Budiono, M. dan kawan-kawan. 1999. Ilmu
Ukur Tanah. Angkasa. Bandung. Hayati, S. 2003. Aplikasi Geographical
Information System untuk Zonasi
Darmaji, A. 2006. Aplikasi Pemetaan Digital Kesesuaian Lahan Perumahan di
dan Rekayasa Teknik Sipil dengan Kabupaten Bandung. Lembaga
Autocad Development. ITB. Bandung. Penelitian UPI. Bandung.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jurusan Pendidikan Teknik Bangunan.


1999. Kurikulum Sekolah Menengah 2005. Struktur Kurikulum Program Studi
Kejuruan. Depdikbud. Jakarta. Pendidikan Teknik Sipil FPTK UPI.
Jurusan Diktekbang FPTK UPI.
Departemen Pendidikan Nasional RI. 2003. Bandung.
Standar Kompetensi Nasional Bidang
SURVEYING. Bagian Proyek Sistem Kusminingrum, N. dan G. Gunawan. 2003.
Pengembangan. Jakarta. Evaluasi dan Strategi Pengendalian
Pencemaran Udara di Kota-Kota Besar
Gayo, Yusuf., dan kawan-kawan. 2005. di Indonesia. Jurnal Litbang Jalan
Pengukuran Topografi dan Teknik Volume 20 No.1 Departemen Pekerjaan
Pemetaan. PT. Pradjna Paramita. Umum. Bandung.
Jakarta.
Lanalyawati. 2004. Pengkajian Pengelolaan
Gumilar, I. 2003. Penggunaan Computer Lingkungan Jalan di Kawasan Hutan
Aided Design (CAD) pada Biro Arsitek. Lindung (Bedugul Bali). Jurnal Litbang
Jurusan Pendidikan Teknik Bangunan Jalan Volume 21 No.2 Juli. Departemen
FPTK UPI. Bandung. Pekerjaan Umum. Bandung.

Gunarta, I.G.W.S. dan A.B. Sailendra. 2003. Marina, R. 2002. Aplikasi Geographical
Penanganan Masalah Jalan Tembus Information System untuk Evaluasi
Hutan secara Terintegrasi : Kajian Kemampuan Lahan di Kabupaten
terhadap Kebutuhan Kelembagaan Sumedang.
Stakeholders. Jurnal Litbang Jalan
Volume 20 No.3 Oktober. Departemen Masri, RM. 2007. Kajian Perubahan
Pekerjaan Umum. Bandung. Lingkungan Zona Buruk untuk
Perumahan. SPS IPB. Bogor.
Gunarso, P. dan kawan-kawan. 2004. Modul
Pelatihan SIG. Pemkab Malinau Mira, S. 1988. Poligon. Teknik Geodesi
FTSP ITB. Bandung.

A-1
Lampiran : A

Mira, S. R.M. 1988. Ukuran Tinggi Teliti. Bandung Jawa Barat). Sekolah
Teknik Geodesi FTSP ITB. Bandung. Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.
Purworaharjo,U. 1986. Ilmu Ukur Tanah Seri
Melani, D. 2004. Aplikasi Geographical A Pengukuran Tinggi. Teknik Geodesi
Information System untuk Zonasi Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan
Kesesuaian Lahan Perumahan di Institut Teknologi Bandung.
Kabupaten Sumedang. Jurusan
Pendidikan Teknik Bangunan FPTK Purworaharjo,U. 1986. Ilmu Ukur Tanah Seri
UPI. Bandung. B Pengukuran Horisontal. Teknik
Geodesi Fakultas Teknik Sipil dan
Mulyani, S.Y.R dan Lanalyawati. 2004. Perencanaan Institut Teknologi
Kajian Kebijakan dalam Pengelolaan Bandung.
Lingkungan Jalan di Kawasan Sensitif.
Jurnal Litbang Jalan Volume 21 No.1 Purworaharjo,U. 1986. Ilmu Ukur Tanah Seri
Maret. Departemen Pekerjaan Umum. C Pemetaan Topografi. Teknik Geodesi
Bandung. Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan
Institut Teknologi Bandung.
Parhasta, E. 2002. Tutorial Arcview SIG
Informatika. Bandung. Purworaharjo,U. 1982. Hitung proyeksi
Geodesi (Proyeksi Peta). Teknik
Purwaamijaya, I.M. 2006. Ilmu Ukur Tanah Geodesi Fakultas Teknik Sipil dan
untuk Teknik Sipil. FPTK UPI. Bandung. Perencanaan Institut Teknologi
Bandung.
Purwaamijaya, I.M. 2005a. Analisis
Kemampuan Lahan di Kecamatan- Staf Ukur Tanah. 1982. Petunjuk
Kecamatan yang Dilalui Jalan Penggunaan Planimeter. Pusat
Soekarno-Hatta di Kota Bandung Jawa Pengembangan Penataran Guru
Barat. Jurnal Permukiman ISSN : 0215- Teknologi. Bandung.
0778 Volume 21 No.3 Desember 2005.
Departemen Pekerjaan Umum. Badan Supratman, A.. 2002. Geometrik Jalan
Penelitian dan Pengembangan. Raya. FPTK IKIP. Bandung.
Bandung.
Supratman, A.,dan I.M Purwaamijaya. 1992.
Purwaamijaya, I.M. 2005b. Analisis Pengukuran Horizontal. Bandung.:
Kemampuan Lahan sebagai Acuan FPTK IKIP.
Penyimpangan Gejala Konversi Lahan
Sawah Beririgasi Menjadi Lahan Supratman, A.,dan I.M Purwaamijaya.
Perumahan di Koridor Jalan Soekarno- (1992). Modul Ilmu Ukur Tanah. FPTK
Hatta Kota Bandung. Jurnal Informasi IKIP. Bandung.
Teknik ISSN : 0215-1928 No.28 – 2005.
Departemen Pekerjaan Umum. Badan Susanto dan kawan-kawan. (1994). Modul :
Penelitian dan Pengembangan. Pemindahan Tanah Mekanis. FPTK
Penelitian dan Pengembangan IKIP. Bandung.
Sumberdaya Air. Balai Irigasi. Bekasi.
Wongsotjitro. 1980. Ilmu Ukur Tanah.
Purwaamijaya, I.M. 2005c. Pola Perubahan Kanisius .Yogyakarta.
Lingkungan yang Disebabkan oleh
Prasarana dan Sarana Jalan (Studi Yulianto, W. 2004. Aplikasi AUTOCAD 2002
Kasus : Jalan Soekarno-Hatta di Kota untuk Pemetaan dan SIG. Gramedia.
Jakarta.

A-2
Lampiran : B

GLOSARIUM

Absis : Posisi titik yang diproyeksikan terhadap sumbu X yang arahnya


horizontal pada bidang datar.
Analog : Sistem penyajian peta secara manual.
Astronomis : Ilmu yang mempelajari posisi relatif benda-benda langit terhadap
benda-benda langit lainnya.
Automatic level : Sipat datar optis yang mirip dengan tipe kekar tetapi dilengkapi
dengan alat kompensator untuk membuat garis bidik mendatar
dengan sendirinya.
Azimuth : Sudut yang dibentuk dari garis arah utara terhadap garis arah
suatu titik yang besarnya diukur searah jarum jam.
Barometri : Alat atau metode untuk mengukur tekanan udara yang
diaplikasikan untuk menghitung beda tinggi antara beberapa
titik di atas permukaan bumi yang berkategori gunung (slope >
40 %).
Benchmark : Titik ikat di lapangan yang ditandai oleh patok yang dibuat dari
beton dan besi dan telah diketahui koordinatnya hasil
pengukuran sebelumnya.
Bowditch : Metode koreksi absis dan ordinat pada pengukuran polygon yang
bobotnya adalah perbandingan antara jarak resultante terhadap
total jarak resultante.
BPN : Badan Pertanahan Nasional (Kantor Agraria / Pertanahan).
CAD : Computer Aided Design. Penyajian gambar secara digital
menggunakan perangkat keras dan perangkat lunak komputer.
Cassini : Metode pengikatan ke belakang (alat berdiri di atas titik yang
ingin diketahui koordinatnya) yang menggunakan bantuan 2 titik
penolong dan dua buah lingkaran.
Collins : Metode pengikatan ke belakang (alat berdiri di atas titik yang
ingin diketahui koordinatnya) yang menggunakan bantuan 1 titik
penolong dan satu buah lingkaran.
Coordinate Set : Pengaturan koordinat peta analog agar sesuai dengan koordinat
pada sistem koordinat peta digital yang titik-titik ikat acuannya
adalah titik-titik di peta analog yang memiliki nilai-nilai
koordinat.
Cosinus : Besar sudut yang dihitung dari perbandingan sisi datar
terhadap sisi miring.
Cross hair : Benang silang diafragma yang tampak pada lensa objektif
teropong sebagai acuan untuk membaca ketinggian garis bidik
pada rambu ukur.
Cross Section : Profil melintang. Penampang pada arah lebar yang
menggambarkan turun naiknya permukaan suatu bentuk objek.
Datum : Titik perpotongan antara ellipsoid referensi dengan geoid (datum
relatif). Pusat ellipsoid referensi berimpit dengan pusat bumi
(datum absolut).
Digital : Sistem penyajian informasi (grafis atau teks) secara biner
elektronis.

B-1
Lampiran : B

Digitizer : Alat yang digunakan untuk mengubah peta-peta analog menjadi


peta-peta digital dengan menelusuri detail-detail peta satu
persatu.
Distorsi : Perubahan bentuk atau perubahan informasi geometrik yang
disajikan pada bidang lengkung (bola/ellipsoidal) terhadap
bentuk atau informasi geometrik yang disajikan pada bidang
datar.
DGN : Datum Geodesi Nasional, datum sistem koordinat nasional.
Dumpy level : Sipat datar optis tipe kekar, sumbu tegak menjadi satu dengan
teropong.
Ellipsoid : Bentuk 3 dimensi dari ellips yang diputar pada sumbu pendeknya
dan merupakan bentuk matematis bumi. Spheroid persamaan
kata ellipsoid.
Equator : Garis khatulistiwa yaitu garis yang membagi bumi bagian utara
dan bumi bagian selatan sama besar.
Flattening : Kegepengan. Nilai yang diperoleh dari pembagian selisih radius
terpendek dengan radius terpanjang ellipsoida terhadap radius
terpendek.
Fokus : Ketajaman penampakan objek pada teropong dan dapat diatur
dengan tombol fokus.
Fotogrametri : Ilmu pengetahuan dan teknologi yang mempelajari mengenai
geometris foto-foto udara yang diperoleh dari pemotretan
menggunakan pesawat terbang.
Geodesi : Ilmu pengetahuan dan teknologi yang mempelajari dan
menyajikan informasi bentuk permukaan bumi dengan
memperhatikan kelengkungan bumi.
Geodesic : Kurva terpendek yang menghubungkan dua titik pada permukaan
ellipsoida.
Geoid : Bentuk tidak beraturan yang mewakili permukaan air laut di
bumi dan memiliki energi potensial yang sama.
Geometri : Ilmu yang mempelajari bentuk matematis di atas permukaan
bumi.
Gradien : Besarnya nilai perbandingan sisi muka terhadap sisi samping
yang membentuk sudut tegak lurus (90o)
Grafis : Penyajian hasil pengukuran dengan gambar.
Greenwich : Kota di Inggris yang dilewati oleh garis meridian
(longitude/bujur) 0o.
Grid : Bentuk empat persegi panjang yang merupakan referensi posisi
absis dan ordinat yang diletakkan di muka peta yang panjang dan
lebarnya bergantung pada unit posisi X dan Y yang ditetapkan oleh
pembuat peta berdasarkan kaidah kartografi (pemetaan).
Hexagesimal : Sistem besaran sudut yang menyajikan sudut dengan sebutan
derajat, menit, second. Satu putaran = 360o. 1o=60’. 1’=60”.
Higragirum : Hg, air raksa yang dipakai sebagai cairan penunjuk nilai tekanan
udara pada alat barometer.
Horisontal : Garis atau bidang yang tegak lurus terhadap garis atau bidang
yang menjauhi pusat bumi.
Indeks : Garis kontur yang penyajiannya lebih tebal atau lebih ditonjolkan
dibandingkan garis-garis kontur lain setiap selang ketinggian
tertentu.

B-2
Lampiran : B

Interpolasi : Metode perhitungan ketinggian suatu titik di antara dua titik


yang dihubungkan oleh garis lurus.
Intersection : Nama lain dari pengikatan ke muka, yaitu pengukuran titik
tunggal dari dua buah titik yang telah diketahui koordinatnya
dengan menempatkan alat theodolite di atas titik-titik yang telah
diketahui koordinatnya.
Galat : Selisih antara nilai pengamatan dengan nilai sesungguhnya.
GIS : Geographical Information System. Suatu sistem informasi yang
mampu mengaitkan database grafis dengan data base tekstualnya
yang sesuai.
GPS : Global Positioning System. Sistem penentuan posisi global
menggunakan satelit buatan Angkatan Laut Amerika Serikat.
Gravitasi : Gaya tarik bumi yang mengarah ke pusat bumi dengan nilai +
9,8 m2/detik.
GRS-1980 : GeodeticReference System tahun 1984, adalah ellipsoid terbaik
yang memiliki penyimpangan terkecil terhadap geoid (lihat
istilah geoid).
Hardcopy : Dokumentasi peta-peta digital dalam bentuk lembaran-lembaran
peta yang dicetak dengan printer atau plotter.
Hardware : Perangkat keras computer yang terdiri CPU (Central Processing
Unit), keyboard (papan ketik), printer, mouse.
Informasi : Sesuatu yang memiliki makna atau manfaat.
Inklinasi : Sudut vertical yang dibentuk dari garis bidik (dinamakan juga
sudut miring).
Interpolasi : Suatu rumusan untuk mencari ketinggian suatu titik yang diapit
oleh dua titik lain dengan konsep segitiga sebangun.
Jalon : Batang besi seperti lembing berwarna merah dan putih dengan
panjang + 1,5 meter sebagai target bidikan arah horizontal.
Jurusan : Sudut yang dihitung dari selisih absis dan ordinat dengan acuan
sudut nolnya arah sumbu Y positif searah jarum jam.
Kalibrasi : Suatu prosedur untuk mengeliminasi kesalahan sistematis pada
peralatan pengukuran dengan menyetel ulang komponen-
komponen dalam peralatan.
Kartesian : Sistem koordinar siku-siku.
Kompas : Alat yang digunakan untuk menunjukkan arah suatu garis
terhadap utara magnet yang dipengaruhi magnet bumi.
Kontrol : Upaya mengendalikan data hasil pengukuran di lapangan agar
Memenuhi syarat geometrik tertentu sehingga kesalahan hasil
pengukuran di lapangan dapat memenuhi syarat yang ditetapkan
dan kesalahan-kesalahan acaknya telah dikoreksi.
Kontur : Garis khayal di permukaan bumi yang menghubungkan titik-titik
dengan ketinggian yang sama dari permukaan air laut rata-rata
(MSL). Garis di atas peta yang menghubungkan titik-titik dengan
ketinggian yang sama dari permukaan air laut rata-rata dan
kerapatannya bergantung pada ukuran lembar penyajian (skala
peta).
Konvergensi : Serangkaian garis searah yang menuju suatu titik pertemuan.
Konversi : Proses mengubah suatu besaran (sudut/jarak) dari suatu sistem
menjadi sistem yang lain.
Koordinat : Posisi titik yang dihitung dari posisi nol sumbu X dan posisi nol
sumbu Y.

B-3
Lampiran : B

Koreksi : Nilai yang dijumlahkan terhadap nilai pengamatan sehingga


diperoleh nilai yang dianggap benar. Nilai koreksi = - kesalahan.
Kuadran : Ruang-ruang yang membagi sudut satu putaran menjadi 4
ruang yang pusat pembagiannya adalah titik 0.
Kuadrilateral : Bentuk segiempat dan diagonalnya yang diukur sudut-sudut dan
jarak-jaraknya untuk menentukan koordinat titik di lapangan.
Latitude : Nama lain garis parallel. Garis-garis khayal yang tegak lurus
garis meridian dan melingkari bumi. Paralel nol berada di
equator atau garis khatulistiwa.
Leveling head : Bagian yang terdiri dari tribach dan trivet, disebut juga kiap.
Logaritma : Nilai yang diperoleh dari kebalikan fungsi pangkat.
Longitude : Nama lain garis meridian. Garis-garis khayal di permukaan bumi
yang menghubungkan kutub utara dan kutub selatan bumi.
Meridian nol berada di Kota Greenwich, Inggris.
Long Section : Profil memanjang. Penampang pada arah memanjang yang
menggambarkan turun naiknya permukaan suatu bentuk objek.
Loxodrome : Nama lain adalah Rhumbline. Garis (kurva) yang
menghubungkan titik-titik dengan azimuth yang tetap.
Mapinfo : Desktop Mapping Software. Perangkat lunak yang digunakan
untuk pembuatan peta digital berinformasi yang dibuat dengan
spesifikasi teknis perangkat keras untuk pemakai tunggal dan
dibuat oleh perusahaan Mapinfo Corporation yang berdomisili di
Kota New York Amerika Serikat.
MSL : Mean Sea Level (permukaan air laut rata-rata yang diamati
selama periode tertentu di pinggir pantai). Sebagai acuan titik nol
pengukuran tinggi di darat.
Mistar : Papan penggaris berukuran 3 meter yang dapat dilipat dua
sebagai target pembacaan diafragma teropong untuk mengukur
tinggi garis bidik (benang atas, benang tengah, benang bawah).
Meridian : Garis-garis khayal di permukaan bumi yang menghubungkan
kutub utara dan kutub selatan bumi. Meridian nol berada di Kota
Greenwich, Inggris.
Nivo : Gelembung udara dan cairan yang berada pada tempat berbentuk
bola atau silinder sebagai penunjuk bahwa teropong sipat datar
atau theodolite telah sejajar dengan bidang yang memiliki energi
potensial yang sama.
Normal : Proyeksi peta yang sumbu putar buminya berimpit dengan garis
normal bidang perantara (datar, kerucut, silinder).
Oblique : Proyeksi peta yang sumbu putar buminya membentuk sudut
tajam (< 90o) dengan garis normal bidang perantara (datar,
kerucut, silinder).
Offset : Metode pengukuran menggunakan alat-alat sederhana (prisma,
pita ukur, jalon).
Ordinat : Posisi titik yang diproyeksikan terhadap sumbu Y yang arahnya
vertical pada bidang datar.
Orientasi : Pengukuran untuk mengetahui posisi absolute dan posisi relative
Objek-objek di atas permukaan bumi.
Orthodrome : Proyeksi garis geodesic pada bidang proyeksi.
Overlay : Suatu fungsi pada analisis pemetaan digital dan GIS yang
Menumpangtindihkan tema-tema dengan jenis pengelompokkan
yang berbeda.

B-4
Lampiran : B

Pantograph : Alat yang digunakan untuk memperbesar atau memperkecil


objek gambar.
Paralel : Garis-garis khayal yang tegak lurus garis meridian dan
melingkari bumi. Paralel nol berada di equator atau garis
khatulistiwa.
Pegas : Gulungan kawat berbentuk spiral yang dapat memanjang dan
memendek karena gaya tekan atau tarik yang digunakan pada
alat sipat datar.
Pesawat : Istilah untuk alat ukur optis waterpass atau theodolite.
Phytagoras : Ilmuwan yang menemukan rumusan kuadrat garis terpanjang di
suatu segitiga dengan salah satu sudutnya 90o adalah sama
dengan perjumlahan kuadrat 2 sisi yang lain.
Planimeter : Alat untuk menghitung koordinat secara konvensional.
Planimetris : Bidang datar (2 dimensi) yang dinyatakan dalam sumbu X dan Y
Point Set : Pengaturan koordinat peta analog agar sesuai dengan koordinat
pada sistem koordinat peta digital yang titik-titik ikat acuannya
adalah titik-titik di peta analog yang identik dengan titik-titik di
peta digital yang telah ada.
Polar : Sistem koordinat kutub (sudut dan jarak).
Polyeder : Sistem proyeksi dengan bidang perantara kerucut, sumbu putar
bumi berimpit dengan garis normal kerucut, informasi geometric
yang dipertahankan sama adalah sudut (conform) dan tangent.
Polygon : Serangkaian garis-garis yang membentuk kurva terbuka atau
Tertutup untuk menentukan koordinat titik-titik di atas
permukaan bumi.
Profil : Potongan gambaran turun dan naiknya permukaan tanah baik
memanjang atau melintang.
Proyeksi peta : Proses memindahkan informasi geometrik dari bidang lengkung
(bola/ellipsoidal) ke bidang datar melalui bidang perantara
(bidang datar, kerucut, silinder).
Radian : Sistem besaran sudut yang menyajikan sudut satu putaran =
2 ʌ ҏradian. ʌ = 22/7 = 3,14……
RAM : Random Acces Memory. Bagian dalam komputer yang
digunakan sebagai tempat menyimpan dan memroses fungsi-
fungsi matematis untuk sementara waktu.
Raster : Penyajian peta atau gambar secara digital menggunakan unit-unit
terkecil berbentuk bujur sangkar. Ketelitian unit-unit terkecil
dinamakan dengan resolusi.
Remote Sensing : Penginderaan jauh. Pemetaan bentuk permukaan bumi
menggunakan satelit buatan dengan ketinggian tertentu yang
direkam secara digital dengan ukuran-ukuran kotak tertentu yang
dinamakan pixel.
Resiprocal : Salah satu metode pengukuran beda tinggi dengan menggunakan
2 alat sipat datar dan rambunya yang dipisahkan oleh halangan
alam berupa sungai atau lembah dan dilakukan bolak-balik untuk
meningkatkan ketelitian hasil pengukuran.
Reversible level : Sipat datar optis tipe reversi yang teropongnya dapat diputar
pada sumbu mekanis dan disangga oleh bagian tengah yang
mempunyai sumbu tegak.
Rotasi : Perubahan posisi suatu objek karena diputar pada suatu sumbu
putar tertentu.

B-5
Lampiran : B

Sarrus : Orang yang menemukan rumusan perhitungan luas dengan nilai-


nilai koordinat batas kurva.
Scanner : Alat yang mengubah gambar-gambar atau peta-peta analog
Menjadi gambar-gambar/peta-peta digital dengan cara
mengkilas.
Sentisimal : Sistem besaran sudut yang menyajikan sudut dengan sebutan grid,
centigrid, centicentigrid. Satu putaran = 400g, 1g=100c, 1c=100cc.
Simetris : Bagian yang dibagi sama besar oleh suatu garis diagonal.
Sinus : Besar sudut yang dihitung dari perbandingan sisi muka terhadap
sisi miring.
Skala : Nilai perbandingan besaran jarak atau luas di atas kertas terhadap
jarak dan luas di lapangan.
Softcopy : Dokumentasi peta-peta digital dalam bentuk file-file digital.
Software : Perangkat lunak computer untuk berbagai macam kepentingan.
Stadia : Benang tipis berwarna hitam yang tampak di dalam teropong
alat.
Statif : Kaki tiga untuk menyangga alat waterpass atau theodolite optis.
Tachymetri : Metode pengukuran titik-titik detail menggunakan alat theodolite
yang diikatkan pada pengukuran kerangka dasar vertikal dan
horisontal.
Tangen : Besar sudut yang dihitung dari perbandingan sisi muka terhadap
sisi miring.
Tilting level : Sipat datar optis tipe jungkit yang sumbu tegak dan teropong
Dihubungkan dengan engsel dan sekrup pengungkit.
TM-3 : Sistem proyeksi Universal Transverse Mercator dengan faktor
o
Skala di meridian sentral adalah 0,9999 dan lebar zone = 3 .
Topografi : Peta yang menyajikan informasi di atas permukaan bumi baik
unsur alam maupun unsur buatan manusia dengan skala sedang
dan kecil.
Total Station : Alat ukur theodolite yang dilengkapi dengan perangkat elekronis
untuk menentukan koordinat dan ketinggian titik detail secara
otomatis digital menggunakan gelombang elektromagnetis.
Trace : Serangkaian garis yang merupakan garis tengah suatu bangunan
(jalan, saluran, jalur lintasan).
Transit : Metode koreksi absis dan ordinat pada pengukuran polygon yang
bobotnya adalah perbandingan antara jarak proyeksi pada sumbu
X atau Y terhadap total jarak proyeksi pada sumbu X atau Y.
Transversal : Proyeksi peta yang sumbu putar buminya tegak lurus
(membentuk sudut 90o) dengan garis normal bidang perantara
(datar, kerucut, silinder).
Triangulasi : Serangkaian segitiga yang diukur sudut-sudutnya untuk
Menentukan koordinat titik-titik di lapangan.
Triangulaterasi : Serangkaian segitiga yang diukur sudut-sudut dan jarak-jaraknya di
lapangan untuk menentukan koordinat titik-titik di lapangan.
Tribach : Penyangga sumbu kesatu dan teropong.
Trigonometri : Bagian dari ilmu matematika yang diaplikasikan untuk
Menghitung beda tinggi antara beberapa titik di atas permukaan
bumi yang berkategori bermedan bukit (8%< slope < 40 %).
Trilaterasi : Serangkaian segitiga yang diukur jarak-jaraknya untuk
Menentukan koordinat titik-titik di lapangan.

B-6
Lampiran : B

Trivet : Bagian terbawah dari alat sipat datar dan theodolite yang dapat
dikuncikan pada
statif.
Unting-unting : Bentuk silinder-kerucut terbuat dari kuningan yang digantung di
bawah alat waterpass atau theodolite sebagai penunjuk arah titik
nadir atau pusat bumi yang mewakili titik patok.
UTM : Universal Transverse Mercator. Sistem proyeksi peta global yang
memiliki lebar zona 6o sehingga jumlah zona UTM seluruh dunia
adalah 60 zona. Bidang perantara yang digunakan adalah silinder
dengan posisi transversal (sumbu putar bumi tegak lurus
terhadap garis normal silinder), informasi geometrik yang
dipertahankan sama adalah sudut (konform) dan secant.
Vektor : Penyajian peta atau gambar secara digital menggunakan garis,
titik dan kurva. Ketelitian unit-unit terkecil dinamakan dengan
resolusi.
Vertikal : Garis atau bidang yang menjauhi pusat bumi.
Visual : Penglihatan kasat mata.
Waterpass : Alat atau metode yang digunakan untuk mengukur tinggi
garis bidik di atas permukaan bumi yang berkategori bermedan
datar (slope < 8 %).
WGS-84 : World Geodetic System tahun 1984, adalah ellipsoid terbaik yang
Memiliki penyimpangan terkecil terhadap geoid (lihat istilah
geoid).
Zenith : Titik atau garis yang menjauhi pusat bumi dari permukaan bumi.
Zone : Kurva yang dibatasi oleh batas-batas dengan kriteria tertentu.

B-7
Lampiran : C

DAFTAR TABEL

No Teks Hal No Teks Hal

1 Ketelitian posisi horizontal (x,y) 30 Formulir pengukuran titik detail 366


titik triangulasi 14 31 Formulir pengukuran titik detail
2 Tingkat Ketelitian Pengukuran posisi 1 367
Sipat Datar 60 32 Formulir pengukuran titik detail
3 Tingkat Ketelitian Pengukuran posisi 2 368
Sipat Datar 95 33 Formulir pengukuran titik detail
4 Ukuran kertas untuk posisi 3 369
penggambaran hasil 34 Formulir pengukuran titik detail
pengukuran dan pemetaan 107 posisi 4 370
5 Formulir pengukuran sipat 35 Formulir pengukuran titik detail
datar 114 posisi 5 371
6 Formulir pengukuran sipat 36 Formulir pengukuran titik detail
datar 115 posisi 6 372
7 Kelas proyeksi peta 122 37 Formulir pengukuran titik detail
8 Aturan kuadran trigonometris 139 posisi 7 373
9 Cara Sentisimal ke cara 38 Formulir pengukuran titik detail
seksagesimal 147 posisi 8 374
10 39 Bentuk muka tanah dan
Cara Sentisimal ke cara radian 148
interval kontur. 382
11 Cara seksagesimal ke cara
40 Tabel perhitungan galian dan
radian 149
timbunan 422
12 Cara radian ke cara sentisimal 150 41 Daftar load factor dan
13 Cara seksagesimal ke cara procentage swell dan berat dari
radian 151 berbagai bahan 424
14 Buku lapangan untuk 42 Daftar load factor dan
pengukuran sudut dengan procentage swell dan berat dari
repitisi. 183 berbagai bahan 425
15 Metode perhitungan perbedaan 43 Keunggulan dan kekurangan
sudut ganda dan perbedaan pemetaan digital dengan
observasi 183 konvensional 435
16 Arti dari perbedaan sudut 44 Contoh keterangan warna
ganda dan perbedaan gambar 458
observasi. 184 45 Keterangan koordinat 458
17 Buku lapangan sudut vertikal. 184 46 Kelebihan dan kekurangan
18 Daftar Logaritma 200 pekerjaan GIS dengan
19 Hitungan dengan cara manual/pemetaan Digital 470
logaritma 204 47 Pendigitasian Konvensional di
20 Hitungan cara logaritma 225 banding pendigitasian GPS 486
21 Ukuran Kertas Seri A 276 48 Beberapa fungsi tetangga
22 sederhana 497
Bacaan sudut 280 49 Perbandingan Bentuk Data
23 Jarak 280 Raster dan Vektor 499
24 Formulir pengukuran poligon 1 296
25 Formulir pengukuran poligon 2 297
26 Formulir pengukuran poligon 3 298
27 Contoh perhitungan garis bujur
ganda 312
28 format daftar planimeter tipe 1 319
29 format daftar planimeter tipe 2 319

C-1
Lampiran : D

DAFTAR GAMBAR No Teks Hal

37 Kesalahan Skala Nol Rambu 42


No Teks Hal 38 Bukan rambu standar 43
39 Sipat Datar di Suatu Slag 47
1 Anggapan bumi 2 40 Rambu miring 54
2 Ellipsoidal bumi 3 41 Kelengkungan bumi 55
3 Aplikasi pekerjaan 42 Kelengkungan bumi 55
pemetaan pada 43
bidang teknik sipil 6 Refraksi atmosfir 56
4 44 Model diagram alir teori
Staking out 6 kesalahan 57
5 Pengukuran sipat datar optis 7 45 Pengukuran sipat datar optis 61
6 Alat sipat datar 9 46 Keterangan pengukuran sipat
7 Pita ukur 9 datar 63
8 Rambu ukur 9 47 Cara tinggi garis bidik 63
9 Statif 9 48 Cara kedua pesawat di tengah-
10 tengah 65
Barometris 10 49
11 Keterangan cara ketiga 65
Pengukuran Trigonometris 10
50 Cotoh pengukuran resiprokal 67
12 Pengukuran poligon 12 51 Sipat datar tipe jungkit 67
13 Jaring-jaring segitiga 15
52 Contoh pengukuran resiprokal 68
14 Pengukuran pengikatan ke
muka 16 53 Dumpy level 72
15 Pengukuran collins 17 54 Tipe reversi 73
16 Pengukuran cassini 18 55 Dua macam tilting level 74
17 Macam – macam sextant 18 56 Bagian-bagian dari tilting level 75
18 Alat pembuat sudut siku cermin 19 57 Instrumen sipat datar otomatis 76
19 Prisma bauernfiend 19 58 Bagian-bagian dari sipat datar
20 otomatis 76
Jalon 19
59 Rambu ukur 78
21 Pita ukur 19 60 Contoh pengukuran
22 Pengukuran titik detail trigonometris 79
tachymetri 21
61 Gambar koreksi trigonometris 80
23 Diagram alir pengantar survei
dan pemetaan 22 62 Bagian-bagian barometer 81
24 Kesalahan pembacaan rambu 26 63 Barometer 82
25 Pengukuran sipat datar 27 64 Pengukuran tunggal 84
26 Prosedur Pemindahan Rambu 27 65 Pengukuran simultan 85
27 Kesalahan Kemiringan Rambu 28 66 Model diagram alir pengukuran
28 kerangka dasar vertikal 87
Pengaruh kelengkungan bumi 29
67 Proses pengukuran 91
29 Kesalahan kasar sipat datar 30
68 Arah pengukuran 91
30 Kesalahan Sumbu Vertikal 31 69 Alat sipat datar 92
31 Pengaruh kesalahan kompas
theodolite 36 70 Rambu ukur 92
32 Sket perjalanan 37 71 Cara menggunakan rambu
33 Gambar Kesalahan Hasil ukur di lapangan 93
Survei 37 72 Statif 93
34 Kesalahan karena penurunan 73 Unting-unting 93
alat 39 74 Patok kayu dan beton/ besi 94
35 Pembacaan pada rambu I 40 75 Pita ukur 94
36 Pembacaan pada rambu II 41 76 Payung 94

D-1
Lampiran : D

No Teks Hal No Teks Hal

77 Cat dan kuas 95 104 Peta statistik 134


78 Pengukuran sipat datar 98 105 Peta sungai 134
79 Pengukuran sipat datar rambu 106 Peta jaringan 135
ganda 99 107 Peta dunia 135
80 Pengukuran sipat datar di luar
108 Sistem koordinat geografis 138
slag rambu 100
81 Pengukuran sipat datar dua 109 Bumi sebagai spheroid. 138
rambu 101 110 Sudut jurusan 140
82 Pengukuran sipat datar 111 Aturan kuadran geometris 140
menurun 101 112
83 Aturan kuadran trigonometris 140
Pengukuran sipat datar menaik 102 113 Model diagram alir sistem
84 Pengukuran sipat datar tinggi koordinat proyeksi peta dan
bangunan 102 aturan kuadran 141
85 Pembagian kertas seri A 107 114 Pembacan derajat 155
86 Pengukuran kerangka dasar 115
vertikal 116 Pembacaan grade 155
87 Diagram alir pengukuran sipat 116 Pembacaan menit 155
datar kerangka dasar vertikal 117 117 Pembacaan centigrade 155
88 Jenis bidang proyeksi dan 118 Sudut jurusan 156
kedudukannya terhadap 119 Sudut miring 156
bidang datum 123
120 Cara pembacaan sudut
89 Geometri elipsoid. 124 mendatar dan sudut miring 156
90 Rhumbline atau loxodrome 121 Arah sudut zenith (sudut
menghubungkan titik-titik 124 miring). 157
91 Oorthodrome dan loxodrome 122 Theodolite T0 Wild 158
pada proyeksi gnomonis dan
123 Theodolite 159
proyeksi mercator. 124
92 Proyeksi kerucut: bidang datum 124 Metode untuk menentukan
dan bidang proyeksi. 125 arah titik A. 160
93 Proyeksi polyeder: bidang 125 Metode untuk menentukan
datum dan bidang proyeksi. 125 arah titik A dan titik B. 160
94 Lembar proyeksi peta polyeder 126 Theodolite (tipe sumbu ganda) 162
di bagian lintang utara dan 127 Theodolite (tipe sumbu
lintang selatan 126 tunggal) 162
95 Konvergensi meridian pada 128 Sistem lensa teleskop 162
proyeksi polyeder. 126 129 Penyimpangan kromatik 164
96 Kedudukan bidang proyeksi
130 Penyimpangan speris 164
silinder terhadap bola bumi
pada proyeksi UTM 128 131 Diafragma (benang silang) 164
97 Proyeksi dari bidang datum ke 132 Tipe benang silang 164
bidang proyeksi. 129 133 Pembidik Ramsden 165
98 Pembagian zone global pada 134
proyeksi UTM. 129 Teleskop pengfokus dalam 165
99 Konvergensi meridian pada 135 Niveau tabung batangan 166
proyeksi UTM 130 136 Niveau tabung bundar. 166
100 Sistem koordinat proyeksi peta 137 Hubungan antara gerakan
UTM. 131 gelembung dan inklinasi. 167
101 Grafik faktor skala proyeksi 138 Berbagai macam lingkaran
peta UTM 131 graduasi. 168
102 Peta kota Bandung 133 139 Vernir langsung. 168
103 Peta Geologi 133 140 Pembacaan vernir langsung 168
141 Pembacaan vernir mundur
20,7. 168

D-2
Lampiran : D

No Teks Hal No Teks Hal

142 Pembacaan berbagai macam 176 Pengikatan ke muka 202


vernir. 169 177 Pengikatan ke muka 203
143 Sistem optis theodolite untuk 178 Model Diagram Alir Jarak,
mikrometer skala. 169 Azimuth dan Pengikatan Ke
144 Pembacaan mikrometer skala 169 Muka 205
145 Sistem optis mikrometer tipe 179 Kondisi alam yang dapat
berhimpit. 170 dilakukan cara pengikatan
146 Contoh pembacaan mikrometer ke muka 208
tipe berhimpit. 170 180 Kondisi alam yang dapat
147 Sistem optis theodolite dengan dilakukan cara pengikatan ke
pembacaan tipe berhimpit 170 belakang 208
148 Alat penyipat datar speris. 171 181 Pengikatan ke muka 209
149 Alat penyipat datar dengan 182 Pengikatan ke belakang 209
sentral bulat. 171 183 Tampak atas permukaan bumi 210
150 Unting-unting 172 184 Pengukuran yang terpisah
151 Alat penegak optis 172 sungai 210
152 Kesalahan sumbu kolimasi. 172 185 Alat Theodolite 211
153 Kesalahan sumbu horizontal 174 186 Rambu ukur 212
154 Kesalahan sumbu vertikal. 174 187 Statif 212
155 Kesalahan eksentris. 175 188 Unting-unting 212
156 Kesalahan luar. 175 189 Contoh lokasi pengukuran 212
157 Penyetelan sekrup-sekrup 190 Penentuan titik A,B,C dan P 213
penyipat datar 176 191 Pemasangan Theodolite di titik
158 Penyetelan benang silang P 213
(Inklinasi). 177 192 Penentuan sudut mendatar 213
159 Penyetelan benang silang
193 Pemasangan statif 214
(Penyetelan garis longitudinal). 177
160 194 Pengaturan pembidikan
Penyetelan sumbu horizontal. 178
theodolite 214
161 Pengukuran sudut tunggal. 179 195 Penentuan titik penolong
162 Metode arah 182 Collins 215
163 Metode sudut. 183 196 Besar sudut Į dan ȕ 216
164 Koreksi otomatis untuk sudut 197 Garis bantu metode Collins 217
elevasi 183 198 Penentuan koordinat H dari titik
165 Metode pengukuran sudut A 217
vertikal (1). 185 199 Menentukan sudut Įah 217
166 Metode observasi sudut
200 Menentukan rumus dah 218
vertikal (2). 185
167 Metode observasi sudut 201 Penentuan koordinat H dari titik
vertikal (3). 185 B 218
168 Diagram alir macam sistem 202 Menentukan sudut D bh 218
besaran sudut 186 203 Menentukan rumus dbh 219
169 Pengukuran Jarak 189 204 Penentuan koordinat P dari titik
170 Lokasi Patok 190 A 219
171 205 Menentukan sudut Įap 219
Spedometer 191
172 206 Menentukan sudut Ȗ 219
Pembagian kuadran azimuth 193
173 207 Menentukan rumus dap 220
Azimuth Matahari 196
174 208 Penentuan koordinat P dari titik
Pengikatan Kemuka 198
B 220
175 Pengikatan ke muka 199

D-3
Lampiran : D

No Teks Hal No Teks Hal

209 Menentukan sudut Įbp 220 240 Penentuan titik P 248


210 Menentukan rumus dbp 220 241 Model diagram alir cara
211 Cara Pengikatan ke belakang pengikatan ke belakang
metode Collins 222 metode cassini 249
212 Menentukan besar sudut Į dan 242 Poligon terbuka 255
ȕ 228 243 Poligon tertutup 255
213 Menentukan koordinat titik 244 Poligon bercabang 255
penolong Collins 228
245 Poligon kombinasi 256
214 Menentukan titik P 228
246 Poligon terbuka tanpa ikatan 256
215 Menentukan koordinat titik A,B
dan C pada kertas grafik 229 247 Poligon Terbuka Salah Satu
216 Garis yang dibentuk sudut Į Ujung terikat Azimuth 257
dan ȕ 229 248 Poligon Terbuka Salah Satu
217 Pemasangan transparansi Ujung Terikat Koordinat 257
pada kertas grafik 229 249 Poligon Terbuka Salah Satu
218 Model diagram alir cara UjungTerikat Azimuth dan
pengikatan ke belakang Koordinat 258
metode collins 230 250 Poligon Terbuka Kedua Ujung
219 Terikat Azimuth 259
Pengukuran di daerah tebing 233
251 Poligon terbuka, salah satu
220 Pengukuran di daerah jurang 233 ujung terikat azimuth
221 Pengukuran terpisah jurang 234 sedangkan sudut lainnya
222 Pengikatan ke belakang terikat koordinat 259
metode Collins 235 252 Poligon Terbuka Kedua Ujung
223 Pengikatan ke belakang Terikat Koordinat 260
metode Cassini 235 253 Poligon Terbuka Salah Satu
224 Theodolite 236 Ujung Terikat Koordinat dan
225 Azimutk Sedangkan Yang Lain
Rambu ukur 236
Hanya Terikat Azimuth 261
226 Statif 236 254 Poligon Terbuka Salah Satu
227 Unting-unting 237 Ujung Terikat Azimuth dan
228 Pengukuran sudut Į dan ȕ di Koordinat Sedangkan Ujung
lapangan. 238 Lain Hanya Terikat Koordinat 262
229 Lingkaran yang 255 Poligon Terbuka Kedua Ujung
menghubungkan titik A, B, R Terikat Azimuth dan Koordinat 263
dan P. 238 256 Poligon Tertutup 263
230 Lingkaran yang 257 Topcon Total Station-233N 265
menghubungkan titik B, C, S
258 Statif 265
dan P. 239
231 Cara pengikatan ke belakang 259 Unting-Unting 266
metode Cassini 239 260 Patok Beton atau Besi 266
232 Menentukan dar 240 261 Rambu Ukur 267
233 Menentukan Įar 240 262 Payung 267
234 Menentukan das 241 263 Pita Ukur 267
235 Menentukan Įas 241 264 Formulir dan alat tulis 268
236 Penentuan koordinat titik A, B 265 Benang 268
dan C. 248
266 Nivo Kotak 269
237 Menentukan sudut 900 – Į dan
0
90 - ȕ 248 267 Nivo tabung 269
238 Penentuan titik R dan S 248 268 Nivo tabung 269
239 Penarikan garis dari titik R ke S 248 269 Jalon Di Atas Patok
271

D-4
Lampiran : D

No Teks Hal No Teks Hal

270 Penempatan Rambu Ukur 271 301 Pembagian luas yang sama
271 Penempatan Unting-Unting 272 dengan garis lurus sejajar
272 salah satu segitiga 327
Pembagian Kertas Seri A 276
302 Pembagian luas yang sama
273 Skala Grafis 277 dengan garis lurus melalui
274 Situasi titik-titik KDH poligon sudut puncak segitiga 328
tertutup metode transit 299 303 Pembagian dengan
275 Situasi titik-titik KDH poligon perbandingan a : b : c 328
tertutup metode bowdith 300 304 Pembagian dengan
276 Situasi lapangan metode transit 301 perbandingan m : n oleh suatu
277 Situasi lapangan metode garis lurus melalui salah satu
Bowditch 302 sudut segiempat 328
278 Model Diagram Alir kerangka 305 Pembagian dengan garis lurus
dasar horizontal metode sejajar dengan trapesium 328
poligon 303 306 Pembagian suatu poligon 329
279 Metode diagonal dan tegak 307 Penentuan garis batas 330
lurus 307
308 Perubahan segi empat menjadi
280 Metode trapesium 308 trapesium 330
281 Offset dengan interval tidak 309 Pengurangan jumlah sisi
tetap 309 polygon tanpa merubah luas 330
282 Offset sentral 309 310 Perubahan garis batas yang
283 Metoda simpson 309 berliku-liku menjadi garis lurus 331
284 Metoda 3/8 simpson 310 311 Perubahan garis batas
285 Garis bujur ganda pada poligon lengkung menjadi garis lurus 331
metode koordinat tegak lurus 311 312 Posisi start yang harus di klik 331
286 Metode koordinat tegak lurus 312 313 Start – all Program – autocad
287 2000 331
Metode kisi-kisi 313 314
288 Worksheet autocad 2000 332
Metode lajur 313 315
289 Open file 332
Planimeter fixed index model 314 316
290 Sliding bar mode dengan skrup Open file 332
penghalus 315 317 Gambar penampang yang
291 Sliding bar mode tanpa skrup akan dihitung Luasnya 332
penghalus 316 318 Klik poin untuk menghitung
292 Pembacaan noneus model 1 luas 333
dan 2 317 319 Klik poin untuik menghitung
293 luas 333
Bacaan roda pengukur 318 320
294 Diagram alir perhitungan luas 334
Penempatan planimeter 321 321
295 Prinsip tachymetri 339
Gambar kerja 321 322
296 Gambar pengukuran peta Sipat datar optis luas 341
dengan planimeter liding bar 323 Pengukuran sipat datar luas 350
model yang tidak dilengkapi 324 Tripod pengukuran vertikal 350
zero setting (pole weight/diluar 325 Theodolite Topcon 353
kutub) 322 326 Statif 353
297 Hasil bacaan positif 323 327 Unting-unting 353
298 Hasil bacaan negatif 324 328 Jalon di atas patok 354
299 Pengukuran luas peta pole
329 Pita ukur 354
weight (pemberat kutup) di
dalam peta 325 330 Rambu ukur 354
300 Pengukuran luas peta pole 331 Payung 354
weight dalam peta 332 Formulir Ukur 354
327

D-5
Lampiran : D

No Teks Hal No Teks Hal

333 Cat dan Kuas 355 359 Letak garis pantai dan garis
334 Benang 355 kontur 1m 389
335 360 Perubahan garis pantai dan
Segitiga O BT O’ 358
garis kontur sesudah kenaikan
336 Pengukuran titik detail
muka air laut. 389
tachymetri 359
361 Garis kontur lembah,
337 Theodolit T0 wild 361 punggungan dan perbukitan
338 Siteplan pengukuran titik detail yang memanjang. 390
tachymetri 362 362 Plateau 391
339 Kontur tempat pengukuran titik
363 Saddle 391
detail tachymetri 363
340 Pengukuran titik detail 364 Pass 391
tachymetri dengan garis kontur 365 Menggambar penampang 393
1 364 366 Kotak dialog persiapan Surfer 394
341 Pengukuran titik detail
367 Peta tiga dimensi 395
tachymetri dengan garis kontur
2 365 368 Peta kontur dalam bentuk dua
342 Diagram alir Pengukuran titik- dimensi. 395
titik detail metode tachymetri 375 369 Lembar worksheet. 396
343 Pembentukan garis kontur 370 Data XYZ dalam koordinat
dengan membuat proyeksi kartesian 396
tegak garis perpotongan 371 Data XYZ dalam koordinat
bidang mendatar dengan decimal degrees. 397
permukaan bumi. 378 372 Jendela editor menampilkan
344 Penggambaran kontur 379 hasil perhitungan volume. 397
345 Kerapatan garis kontur pada 373 Jendela GS scripter 398
daerah curam dan daerah 374 Simbolisasi pada peta kontur
landai 380 dalam surfer. 399
346 Garis kontur pada daerah 375 Peta kontur dengan kontur
sangat curam. 380 interval I. 399
347 Garis kontur pada curah dan 376 Peta kontur dengan interval 3 400
punggung bukit. 381 377 Gambar peta kontur dan model
348 Garis kontur pada bukit dan 3D. 401
cekungan 381 378 Overlay peta kontur dengan
349 Kemiringan tanah dan kontur model 3D 401
gradient 382 379 Base map foto udara. 402
350 Potongan memanjang dari 380 Alur garis besar pekerjaan
potongan garis kontur 383 pada surfer. 402
351 Bentuk, luas dan volume 381
daerah genangan berdasarkan Lembar plot surfer. 403
garis kontur. 383 382 Obyek melalui digitasi. 404
352 Rute dengan kelandaian 383 Model diagram alir garis kontur,
tertentu. 383 sifat dan interpolasinya 405
353 Titik ketinggian sama 384 Sipat datar melintang 410
berdasarkan garis kontur 384 385 Tongkat sounding 410
354 Garis kontur dan titik ketinggian 384 387 Potongan tipikal jalan 411
355 Pengukuran kontur pola spot 388 Contoh penampang galian dan
level dan pola grid. 385 timbunan 412
356 Pengukuran kontur pola radial. 385 389 Meteran gulung 413
357 Pengukuran kontur cara 390 Pesawat theodolit 413
langsung 386
391 Jalon 413
358 Interpolasi kontur cara taksiran 387

D-6
Lampiran : D

No Teks Hal No Teks Hal

392 Rambu ukur 413 421 Hasil Foto Udara yang


393 Stake out pada bidang datar 413 dilakukan di daerah Nangroe
394 Stake out pada bidang yang Aceh Darussalam yang
berbeda ketinggian 414 dilakukan pasca Tsunami,
395 Stake out beberapa titik untuk keperluan Infrastruktur
sekaligus 414 Rehabilitasi dan Konstruksi 445
396 Volume cara potongan 422 Contoh Hasil pemetaan Digital
melintang rata-rata 415 Menggunakan AutoCAD 453
397 423 Contoh : Hasil pemetaan
Volume cara jarak rata-rata 415
Digital Menggunakan AutoCAD 453
398 Volume cara prisma 416 424 Hasil pemetaan Digital
399 Volume cara piramida kotak 416 Menggunakan AutoCAD 454
400 Volume cara dasar sama bujur 425 Hasil pemetaan Digital
sangkar 416 Menggunakan AutoCAD 454
401 Volume cara dasar sama – 426 Tampilan auto cad 455
segitiga 416 427 Current pointing device 456
402 volume cara kontur 417 428 Grid untuk pengujian digitizer 457
403 Penampang melintang jalan
429 Grid untuk peta skala 1:25.000. 459
ragam 1 421
404 Penampang melintang jalan 430 Bingkai peta dan grid UTM per
ragam 2 421 1000 m 460
405 Penampang melintang jalan 431 Digitasi jalan arteri dan jalan
ragam 3 422 lokal, (a) peta asli, (b) hasil
406 digitasi jalan, kotak kecil adalah
Penampang trapesium 425
vertex (tampil saat objek
407 Penampang timbunan 426 terpilih). 461
408 Koordinat luas penampang 426 432 Perbesaran dan perkecilan 462
409 Volume trapesium 427 433 Model Digram Alir Pemetaan
410 Penampang galian 428 Digital 466
411 Penampang timbunan 429 434 Contoh : Penggunaan
412 Penampang galian dan Komputer dalam Pembuatan
timbunan 430 Peta 470
413 Penampang melintang galian 435 Contoh : Penggunaan
dan timbunan 431 Komputer dalam Pembuatan
414 Diagram alir perhitungan galian Peta 470
dan timbunan 432 436 Komputer sebagai fasilitas
415 pembuat peta 471
Perangkat keras 436 437
416 Foto udara suatu kawasan 471
Perangkat keras Scanner 436 438 Contoh : Peta udara Daerah
417 Peta lokasi 441 Propinsi Aceh 471
418 Beberapa hasil pemetaan 439 Data grafis mempunyai tiga
digital, yang dilakukan oleh elemen : titik (node), garis (arc)
Bakosurtanal 442 dan luasan (poligon) 472
419 Salah satu alat yang dipakai 440 Peta pemuktahiran pasca
dalam GPS type NJ 13 443 bencana tsunami 472
420 Hasil Foto Udara yang 441 Komponen utama SIG 474
dilakukan di daerah Nangroe 442
Aceh Darussalam yang Perangkat keras 474
dilakukan pasca Tsunami, 443 Perangkat keras keyboard 475
untuk keperluan Infrastruktur 444 Perangkat keras CPU 475
Rehabilitasi dan Konstruksi 444 445 Perangkat keras Scanner 475

D-7
Lampiran : D

No Teks Hal No Teks Hal

446 Perangkat keras monitor 475 466 Peta Vegetasi Indonesia 492
447 Perangkat keras mouse 475 (Tahun 2004)
448 Peta arahan pengembangan 467 Peta perubahan penutupan
komoditas pertanian kabupaten lahan pulau Kalimantan 492
Ketapang, Kalimantan Barat 478 468 Peta infrastruktur di daerah
449 Peta Citra radar Tanjung Nangreo Aceh Darussalam 494
Perak, Surabaya 478 469 Garis interpolasi hasil program
450 Peta hasil foto udara daerah Surfer 505
Nangroe Aceh Darussalam 470 Garis kontur hasil interpolasi 505
Pasca Tsunami 479 471 Interpolasi Kontur cara taksiran 506
451 NPS360 for robotic Total 472 Mapinfo GIS 507
Station 479
473 Model Diagram Alir Sistem
452 NK10 Set Holder dan Prisma
Informasi Geografis 508
Canister 479
453 NK12 Set Holder dan Prisma 479
454 NK19 Set 479
455 GPS type NL 10 480
456 GPS type NL 14 fixed adapter 480
457 GPS type NJ 10 with optical
plummet 480
458 GPS type NK 12 Croth single
prism Holder Offset : 0 mm 480
459 GPS type CPH 1 A Leica
Single Prism Holder Offset : 0
mm 480
460 Peta digitasi kota Bandung
tentang perkiraan daerah
rawan banjir 481
461 Peta hasil analisa SPM
(Suspended Particular Matter) 481
462 Peta prakiraan awal musim
kemarau tahun 2007 di daerah
Jawa 481
463 Peta kedalaman tanah efektif di
daerah jawa barat Bandung 490
464 Peta Curah hujan di daerah
Jawa Barat-Bandung 490
465 Peta Pemisahan Data vertikal
dipakai untuk penunjukan
kawasan hutan dan perairan
Indonesia 491

D-8