Anda di halaman 1dari 6

PETA KEKUATAN POLITIK ISLAM DI NEGARA KAWASAN ASIA

TENGGARA
Studi Kasus peran NU pasca kembali Khittah 1926

Oleh :
Abdul Aziz
NIM : 107033203026

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI


SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2011
1. Pendahuluan
Islam merupakan agama Mayoritas yang ada di Indonesia. bahkan Negara tidak
akan berhasil memngeluarkan kebijakan-kebijakan politik jika mengesampingkan
keberadaan umat Islam.1 Dalam membahas Islam di Indonesia Ada dua
Organisasi yaitu Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama yang merupakan
Organisasi terbesar yang ada di Indonesia.
Nahdlatul Ulama atau biasa di sebut NU yang secara resmi berdiri pada tahun
1926 memiliki perjalanan politik yang sangat menarik untuk dipelajari lebih lanjut
salah satunya adalah peristiwa kembalinya NU ke Khittah 1926 yang terjadi pada
tahun 1984 melalui mukhtamar Situbondo yang ke-27.2

2. Pokok Masalah
Dari latar belakang yang telah di paparkan sebelumnya ada beberapa pokok
permasalahan yang sangat menarik untuk di bahas lebih dalam yaitu:
a. Khittah NU 1926
b. Peran NU Pasca Khittah NU 1926

3. Landasan Teori
Ada beberapa landasan teori yang dapat digunakan untuk menganalisa
hubungan antara NU yang merupakan bagian dari salah satu Organisasi islam
tebesar di Inonesia dengan perpolitikan di Indonesia Pasca Khittah NU 1926.
secara garis besar Teori tersebut dibedakan menjadi tiga paradigma pemikiran
yaitu :

3.1. Paradigma Intergralistik


teori ini menjelas kan bahwa Agama dan Negara merupakan sesuatu yang
tidak dapat dipisahkan. Negara merupakan suatu lembaga politik dan sekaligus
lembaga Agama. Oleh sebab itu dalam Konsep ini tidak mengenal pemisahan
antara agama dan Negara. 3
1
Sudarno Shobron Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama dalam Pentas Politik Nasional
(Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2003), h. 3.
2
Laode Ida, Anatomi Konflik NU Elit Islam dan Negara(Jakarta: Pustaka Sinar
Harapan,1996), h. 138.
3
Saifudien. “Relasi Agama Dan Negara.” Artikel di akses pada 10 januari 2011 dari
http://saifudiendjsh.blogspot.com/2008/06/relasi-agama-dan-negara.html
3.2. Teori Simbiotik
Teori ini menjelaskan Bahwa Agama dan Negara saling membutuhkan
Dalam hal ini Agama memerlukan negara, agar dapat berkembang. Begitu pula
sebaliknya , Negara memerlukan Agama, untuk bimbingan etika dan moral.4

3.3. Teori Sekularistik


Sekularistik artinya pemisahan agama atas Negara. Agama merupakan hak
individu seseorang dan tidak ada hubungannya dengan Negara. Begitu pula
sebaliknya Negara tidak membutuhkan agama.
Demikianlah adanya ketiga teori yang membahas hubungan antara Agama
dan Negara (Politik).5

4. Analisis
4.1 Khittah NU 1926
Khttah NU di putuskan di Situbondo pada tahun 1984 melalui Muktamar
NU yang ke-27.6 Kata Khittah memiliki arti garis lurus. Kata Khittah jika di
hubungkan dengan Nahdlatul Ulama berarti garis pendirian, perjuangan dan
kepribadian Nahdlatu Ulama. Baik itu hubungan yang dilakukan secara
perorangan maupun secara organisasi antara NU dengan agama, maupun dengan
masyarakat.7
Laode Ida dalam bukunya yang berjudul Anatomi Konflik NU,Elit Islam dan
Negara menulis:
KH Ahmad Siddiq, tokohNU asal Jember yang juga berada di belakang
Tokoh-tooh muda NU in menuliskan penjelasan tentang Khittah 1926
dalam sebuah makalahnya yang bejudul “penjelasan Khittah Nahdlatul
Ulama”. Dikatakan bahwa tujuan utama didirikannya NU adalah
memelihara, melestarikan, mengembangkan dan mengamalkan ajaran
Islam yang berhaluan ahlussunnah wal jamaah dan menganut salah satu
mazhab empat.8

4
Saifudien. “Relasi Agama Dan Negara.” Artikel di akses pada 10 januari 2011 dari
http://saifudiendjsh.blogspot.com/2008/06/relasi-agama-dan-negara.html
5
Ibid.
6
Laode Ida, Anatomi Konflik NU Elit Islam dan Negara(Jakarta: Pustaka Sinar
Harapan,1996), h. 138.
7
Ibid., 59.
8
Ibid., 58.
Pada mulanya pemikiran kembali ke Khittah 1926 pernah di usulkan oleh
KH Achyat Chalimi tahun 1959 melalui muktamar NU yang di selenggarakan di
Jakarta namun hal tersebut kurang di tanggapi oleh kebanayakan peserta
muktamar bahkan keinginan kembalinya NU ke Khittah 1926 dianggap sebagai
suatu kemunduran yang tidak kontekstual dengan perkembangan pada waktu itu.9
Dalam Musyawarah Nasional (MUNAS) Alim Ulama NU di situbondo, 18-21
Desember 1983Pemikiran kembali ke Khittah 1926 baru mendapatkan tanggapan
serius, Musyawarah tersebut berakhir dengan di hasilkannya dua keputusan yaitu
yang pertama Pemulihan Khittah 1926 dan kedua tentang pemantapan Pancasila
sebagai asas tunggal. Hasil Munas ini di kuatkan dalam muktamar NU yang ke-27
tahun 1984 di Situbondo.10
Dengan adanya keputusan NU kembali ke Khittah 1926, dengan demikian
berarti NU keluar dari aktivitas politiknya termasuk keluar dari PPP dan kembali
kepada tujuan utamanya awal berdirinya Nahdlatul Ulama’

4.2 Pasca Khittah 1926


Walaupun NU telah memutuskan untuk memisahkan diri dari kegiatan
politik praktis namun dalam kenyataanya Organisasi ini tetap tidak dapat
dipisahkan dari aktivitas perpolitikan di Indonesia. KH Machrus Amin pernah
mengungkapkan, bahwa untuk menjaga dan menyebarluaskan islam ahlussunnah
waljamaah NU tertumpu pada pandangan bahwa NU akan menemukan jalannya
jika memasuki bidang politik.11
Di sisi lain kembalinya NU ke Khittah 1926 ternyata tidak sepenuhnya di
dukung oleh para kyai sesepuh NU misalnya seperti Rois Aam NU periode 1768-
1773 KH Ali Ma’ shum menolak gagasan kembali ke Khittah 1926 dengan alasan
khawatir akan arah NU jika keluar dari Politik formal.12
Para kyai dan anggota kelompok G yang menjadi pengurus Tanfidziyah
ini bahkan selalu menganjurkan warganya agar memilih kontestan yang terbaik,
9
Laode Ida, Anatomi Konflik NU Elit Islam dan Negara (Jakarta: Pustaka Sinar
Harapan,1996), h. 46.
10
Sudarno Shobron, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama dalam Pentas Politik
Nasional (Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2003), h. 98.
11
Ida, Anatomi Konflik, h. 83.
12
Ibid., h.88.
yang di maksudkan terbaik itu adalah golkar (golongan karya). Tokoh tokoh NU
yang merasa kecewa terhadap PPP mewujudkan sikap dengan cara melakukan
upaya-upaya bagaimana agar warga NU memahami eksistensi sikap politik NU
setelah Muktamar situbondo, yang pada akhirnya berujung pada melakukan
gerakan pengembosan secara terus menerus terhadap PPP. Hal tersebut tentu saja
membuat ketua PPP H.J. Naro marah dengan menyatakan pada beberapa
kesempatan terbuka bahwa orang-orang NU yang keluar dari PPP diibaratkan
sebagai telur busuk.13
5. Kesimpulan
Berdasarkan dengan analisis diatas dapat di simpulkan bahwa hubungan
antara NU yang merupakan Organisasi Islam terbesar di Indonesia dengan Negara
(politik) merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan (Integral). kembalinya
NU melalui kembali ke Kittah 1926 yang seharusnya kembali kepada tujuan awal
berdirinya NU ternyata tidak sepenuhnya disetujui oleh para Tokoh-tokoh NU
dengan alasan bahwa NU masih membutuhkan kegiatan politik praktis untuk
mencapai tujuan yang diinginkan oleh NU. Selain itu juga masih banyaknya para
tokoh tokoh NU pasca kembali ke Khittah 1926 yang masih berkiprah di Dunia
politik merupakan bukti bahwa NU dan Politik tidak dapat dipisahkan.

DAFTAR PUSTAKA

13
Laode Ida, Anatomi Konflik NU Elit Islam dan Negara (Jakarta: Pustaka Sinar
Harapan,1996), h. 96
Ida, Laode. Anatomi Konflik NU Elit Islam dan Negara. Jakarta: Pustaka Sinar
Harapan,1996.
Shobron, Sudarno. Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama dalam Pentas Politik
Nasional Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2003.
Saifudien. “Relasi Agama Dan Negara.” Artikel di akses pada 10 januari 2011
dari http:// saifudiendjsh blogspot.com/2008/06/relasi-agama-dan-
negara.html