Anda di halaman 1dari 8

PENGARUH SEBELUM DAN SESUDAH BERKUMUR

DENGAN LARUTAN BUAH JERUK NIPIS TERHADAP


PERUBAHAN pH SALIVA

Karya Tulis Ilmiah


Diajukan kepada
Jurusan Kesehatan Gigi Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang
Untuk memenuhi salah satu syarat dalam menyelesaikan
Program Diploma III Kesehatan Gigi
Oleh:
ANA TRIYANTI
P17425007102

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SEMARANG
JURUSAN KESEHATAN GIGI
SEMARANG
2010

INTISARI

Triyanti, A., 2010 ”Pengaruh Sebelum dan Sesudah Berkukur Dengan Larutan Buah Jeruk Nipis
Terhadap Perubahan pH saliva”. Karya Tulis Ilmiah, Jurusan Kesehatan Gigi Politeknik
Kesehatan Semarang.
Penguji : Prasko, Nany Kristiani, Suwarsono
Kata Kunci: Buah Jeruk Nipis, pH saliva.

Buah jeruk nipis mengandung sejenis asam khusus yang disebut asam sitrat sehingga jeruk nipis
memiliki rasa yang sangat masam. Rasa asam yang terkandung dalam buah jeruk nipis dapat
menyebabkan perubahan pH saliva. pH saliva adalah derajad keasaman saliva yang dinyatakan
dalam satuan pH. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh sebelum dan sesudah
berkumur dengan larutan buah jeruk nipis terhadap perubahan pH saliva dengan konsentrasi
10%, 20%, 30%, 40% dan 50%.
Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimen semu (quasi experiment) dengan
pendekatan pre test dan post test. Sampel penelitian ini adalah 35 siswa kelas V SDN Srondol
Wetan 05 yang dibagi menjadi 5 kelompok perlakuan yaitu untuk kelompok I berkumur dengan
kosentrasi 10%, untuk kelompok II berkumur dengan kosentrasi 20%, kelompok III berkumur
dengan kosentrasi 30%, kelompok IV berkumur dengan kosentrasi 40%, dan kelompok V
berkumur dengan kosentrasi 50%. Pengukuran pH saliva dilakukan sebelum dan sesudah
perlakuan untuk melihat perubahan pH saliva seselum dan sesudah berkumur.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata pengaruh perubahan pH saliva sebelum dan
sesudah berkumur yaitu pada konsentrasi 50% sebelumnya rata-rata pH saliva 7,66 kemudian
turun menjadi 5,23. Kemudian untuk kelompok konsentrasi 40% rata-rata pH saliva 7,17 turun
menjadi 5,43. Kelompok konsentrasi 30% rata-rata pH saliva 6,94 turun menjadi 5,54.
Kelompok konsentrasi 20% rata-rata pH saliva 7,09 turun menjadi 5,86. Sedangkan kelompok
konsentrasi 10% rata-rata pH saliva 7,03 turun menjadi 6,37.
Berdasarkan hasil penelitian dapat diambil kesimpulan bahwa larutan buah jeruk nipis efektif
terhadap perubahan pH saliva pada konsentrasi 50%, 40%,dan 30%. Sehingga semakin besar
konsentrasi terlarut yang digunakan akan semakin efektif terhadap perubahan pH saliva.

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Kesehatan gigi sebagai salah satu aspek dari kesehatan secara keseluruhan, masalah utama dalam
rongga mulut masih sekitar pada karies gigi dan gingivitis (Depkes RI, 2000). Karies adalah
penyakit pada jaringan keras gigi yang disebabkan oleh kerja mikroorganisme. Karies gigi
ditandai oleh adanya demineralisasi mineral-mineral email dan dentin, diikuti oleh kerusakan
bahan-bahan organiknya (Kidd dan Smith, 2000). Karies disebabkan berbagai faktor, diantaranya
adalah : karbohidrat, mikroorganisme, saliva, permukaan dan bentuk gigi (Tarigan, 1990).
Mengkonsumsi makanan atau minuman tertentu dapat mempengaruhi pH saliva yang dapat
mengganggu kesehatan gigi dan mulut. Makanan atau minuman yang mengandung asam sitrat
serta memiliki pH rendah seperti sari lemon dan jeruk yang kita konsumsi akan menyebabkan
keasaman dalam mulut meningkat, sehingga menyebabkan turunnya pH saliva. Kemudian dapat
mengakibatkan proses demineralisasi gigi karena jaringan gigi dapat larut dalam keadaan asam .
Dalam hal ini saliva sangat berperan dalam mengatur keasaman pH rongga mulut, dimana saliva
bertindak sebagai buffer (Resmi, 2009). Keasam-basaan pH adalah derajat asam suatu larutan
yang mempunyai ukuran tertentu sesuai dengan derajat keasamannya yang dinyatakan dengan
satuan pH (Amerongen, 1991).
Derajat asam saliva (pH) dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya adalah kuatnya rangsangan
(stimulasi), stimulasi ini dapat berupa rangsangan rasa asam dan manis yang selanjutnya
mempengaruhi demineralisasi gigi geligi (Amerongen, 1991). Menurut Bassiouny, 2009 erosi
gigi merupakan proses berkurangnya mineral yang mengakibatkan jaringan gigi rusak (seperti
enamel dan dentin). Proses ini mengakibatkan sebagian struktur gigi menjadi tidak kuat lagi
akibat dari asam pada gigi. Terlalu banyak mengkonsumsi minuman asam dalam waktu yang
lama menjadi resiko penyebab kerusakan gigi.
Jeruk nipis dapat diolah menjadi salah satu minuman asam. Jeruk nipis disamping untuk
minuman juga dapat dimanfaatkan sebagai obat. Sehubungan dengan tingginya kadar vitamin C
pada buah jeruk nipis, maka buah jeruk nipis dapat menyembuhkan penyakit gingivitis (gusi
berdarah) dan penyakit influenza (Anonim, 1994). Menurut Vincentius Bellovacensis, seorang
ahli kimia menyatakan bahwa sari buah jeruk nipis mengandung sejenis asam khusus, yang
dewasa ini dikenal dengan nama asam sitrat. Asam sitrat yang terkandung dalam jeruk nipis
dapat mengikis lapisan pelindung gigi hingga 84% sehingga membuat gigi lebih mudah tererosi,
sehingga lapisan gigi akan terkikis (Anonim, 2009).
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan dari uraian latar belakang diatas, dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
“Apakah ada pengaruh berkumur dengan larutan jeruk nipis terhadap perubahan pH saliva”.

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui pengaruh sebelum dan sesudah berkumur dengan larutan jeruk nipis dengan
konsentrasi 10%, 20%, 30%, 40%, 50% terhadap pH saliva.
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui pH saliva sebelum berkumur dengan larutan jeruk nipis dengan konsentrasi 10%,
20%, 30%, 40%, 50%.
b. Mengetahui pH saliva sesudah berkumur dengan larutan jeruk nipis dengan konsentrasi 10%,
20%, 30%, 40%, 50%.
c. Mengetahui perubahan pH saliva antara sebelum dan sesudah berkumur dengan larutan jeruk
nipis.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Telaah Pustaka
1. Berkumur
a. Pengertian
Kumur-kumur adalah membasuh mulut dengan air kemudian menggerakkan air dalam mulut
secara berulang-ulang (Depdiknas, 2001).
b. Teknik Berkumur
Menurut Vinco (2008) cara penggunaan obat kumur yaitu berkumur dengan cara gigi digigitkan,
bibir ditutup dan ambil nafas melalui hidung, hingga pipi mengembang-mengempis kurang lebih
30 detik.
2. Jeruk Nipis (Citrus aurantium subspes, Swingle)
a. Morfologi buah jeruk nipis
Jeruk nipis (Citrus aurantium subspes, Swingle) termasuk salah satu jenis citrus jeruk. Jeruk
nipis termasuk jenis tumbuhan perdu yang banyak memiliki dahan dan ranting. Tingginya sekitar
0,5-3,5 m. Batang pohonnya berkayu ulet, berduri, dan keras. Sedang permukaan kulit luarnya
berwarna tua dan kusam. Daunnya majemuk, berbentuk ellips dengan pangkal membulat, ujung
tumpul, dan tepi beringgit. Panjang daunnya mencapai 2,5-9 cm dan lebarnya 2-5 cm. Sedangkan
tulang daunnya menyirip dengan tangkai bersayap, hijau dan lebar 5-25 mm. Bunganya
berukuran majemuk atau tunggal yang tumbuh di ketiak daun atau di ujung batang dengan
diameter 1,5-2,5 cm, kelopak bungan berbentuk seperti mangkok berbagi 4-5 dengan diameter
0,4-0,7 cm berwama putih kekuningan dan tangkai putik silindris putih kekuningan, daun
mahkota berjumlah 4-5, berbentuk bulat telur atau lanset dengan panjang 0,7-1,25 cm dan lebar
0,25-0,5 cm berwarna putih. Tanaman jeruk nipis pada umur 2 1/2 tahun sudah mulai berbuah.
Buahnya berbentuk bulat sebesar bola pingpong dengan diameter 3,5-5 cm berwarna (kulit luar)
hijau atau kekuning-kuningan. Tanaman jeruk nipis mempunyai akar tunggang. Buah jeruk nipis
yang sudah tua rasanya asam. Pada umumnya tanaman jeruk menyukai tempat-tempat yang
terkena sinar matahari secara langsung (Anonim, 2009).
b. Kandungan buah jeruk nipis
Jeruk nipis mengandung asam sitrat, asam amino (triptofan, lisin), minyak atsiri ( sitral, limonen,
felandren, lemon kamfer, kadinen, gerani-lasetat, lenali-lasetat, aktilaldehid, nonildehid) dan
vitamin B (Admin, 2006). Kandungan jeruk nipis yang paling banyak adalah asam sitrat,
sebanyak 8,7%. Asam sitrat murni berupa kristal putih jernih, tidak berwarna, tidak berbau,
tetapi rasanya asam sekali. Sifatnya mudah larut dalam air, dan sedikit larut dalam alkohol atau
eter (Sarwo, 1993).
3. Saliva
a. Pengertian saliva
Saliva adalah cairan kental yang diprosuksi oleh kelenjar ludah. Saliva yang terbentuk di dalam
rongga mulut dihasilkan oleh kelenjar sub lingualis, kelenjar sub mandibularis, dan kelenjar
parotis (Amerongen, 1999).
b. Susunan
Saliva terdiri 99% air, sisanya terdiri dari bermacam-macam zat seperti zat kapur (kalsium),
fosfor, natrium, magnesium, mucin dan beberapa enzim seperti amylase dan lipase.
1. Kalsium merupakan zat yang membantu menguatkan tulang gigi.
2. Mucin adalah suatu bahan yang dapat menyebabkan sifat air menjadi lebih kental dan licin.
3. Amylase adalah enzim yang dapat memecah, mencerna, dan menghaluskan tepung (glukosa)
sehingga mudah diserap dinding usus halus.
4. Lipase adalah enzim yang bertugas mencerna lemak dengan cara memecah atau merusak
dinding sel bakteri (Amirongen, 1999).
B. Pertanyaan Penelitian
“Apakah ada pengaruh sebelum dan sesudah berkumur larutan jeruk nipis dengan konsentrasi
10%, 20%, 30%, 40%, 50% terhadap perubahan pH saliva?”
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen semu (quasi experiment) dimana percobaan
dilakukan tanpa ada kelompok kontrol, tujuannya yaitu untuk mengetahui suatu gejala atau
pengaruh yang timbul sebagai akibat dari adanya perlakuan tertentu (berkumur larutan jeruk).
Adapun pendekatan yang dilakukan adalah dengan pendekatan pre test dan post test tanpa
kontrol (Notoadmojo, 2002).
Dapat digambarkan sebagai berikut :
0X1

Keterangan :
0 : Pengukuran pH saliva sebelum berkumur
X : Berkumur dengan larutan jeruk nipis
1 : Pengukuran pH saliva setelah berkumur

B. Subyek Penelitian
1. Populasi
Populasi dapat didefinisikan sebagai sekumpulan keseluruhan subyek-subyek atau individu yang
mempunyai sifat yang sama (Arikunto, 2002).
Populasi dalam penelitian ini adalah siswa keles V SD N Srondol Wetan 05 kecamatan
Banyumanik dengan jumlah sebanyak 35 siswa.
2. Sampel
Sampel adalah sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti. Apabila subyek kurang dari 100
maka diambil semua menjadi sampel dan disebut penelitian populasi (Arikunto, 1998). Teknik
pengambilan sampel secara total sampling yaitu sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah
keseluruhan siswa kelas V SD N Srondol Wetan 05 Banyumanik Semarang dengan jumlah 35
siswa.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian.
1. Deskripsi Data
Penelitian dengan judul ”Pengaruh Sebelum dan Sesudah Berkumur Dengan Larutan Buah Jeruk
Nipis Terhadap Perubahan pH Saliva” telah dilaksanakan di SD N Srondol Wetan 05 pada
tanggal 24-25 Mei 2010. Jumlah sampel penelitian ini adalah sebanyak 35 anak yang dibagi
menjadi 5 kelompok. Dimana masing-masing kelompok diberi perlakuan yang berbeda yaitu
kelompok I berkumur dengan larutan buah jeruk nipis dengan konsentrasi 10%, kelompok II
berkumur dengan larutan buah jeruk nipis dengan konsentrasi 20%, kelompok III berkumur
dengan larutan buah jeruk nipis dengan konsentrasi 30%, kelompok IV berkumur dengan larutan
buah jeruk nipis dengan konsentrasi 40%, dan kelompok V berkumur dengan larutan buah jeruk
nipis dengan konsentrasi 50%. Adapun hasil penelitian sebagai berikut:

Tabel 4.1 Hasil pengamatan setiap kelompok penelitian sebelum dan sesudah berkumur dengan
larutan buah jeruk nipis.

Dari tabel 4.1 dapat diketahui perubahan terbesar rata-rata pH saliva setelah diberi perlakuan
berkumur dengan larutan buah jeruk nipis adalah pada kelompok konsentrasi 50% dimana
sebelumnya rata-rata pH saliva 7,66 kemudian turun menjadi 5,23. Kemudian untuk kelompok
konsentrasi 40% rata-rata pH saliva 7,17 turun menjadi 5,43. Untuk kelompok konsentrasi 30%
rata-rata pH saliva 6,94 turun menjadi 5,54. Untuk kelompok konsentrasi 20% rata-rata pH saliva
7,09 turun menjadi 5,86. Sedangkan kelompok konsentrasi 10% rata-rata pH saliva 7,03 turun
menjadi 6,37.

Tabel 4.2 Distribusi Kriteria Nilai pH Saliva Sebelum dan Sesudah Berkumur Dengan Larutan
Buah Jeruk Nipis
Kriteria Sebelum berkumur dengan konsentrasi larutan 10%,20%,30%,40%,dan 50% Sesudah
berkumur dengan konsentrasi larutan 10%,20%,30%,40%,dan 50%

Tabel 4.2 terlihat bahwa kriteria pH saliva sebelum yang terbesar adalah berkriteria basa yaitu
sebanyak 30 (85,7%) siswa sedangkan 5 (14,3%) siswa yang lain berkriteria netral. Kemudian
kriteria pH saliva setelah berkumur dengan larutan buah jeruk nipis yang paling mendominasi
adalah berkriteria asam yaitu sebanyak 28 (80%) siswa kemudian 4 (11,4%) siswa dengan
kriteria basa dan 3 (8,6%) siswa berkriteria netral. Kemudian kriteria pH saliva setelah berkumur
dengan larutan buah jeruk nipis adalah pada kriteria asam yaitu sebanyak 28 siswa yang
sebelumnya 0. Kemudian untuk kriteria netral yang sebelumnya 5 siswa menjadi 4 siswa
sedangkan untuk kriteria basa dari 30 siswa menjadi 3 siswa
Dari tabel 4.1 dapat diketahui perbandingan antara sebelum dan sesudah berkumur dengan
larutan buah jeruk nipis. Sedangkan dari tabel 4.2 dapat diketahui perbandingan kriteria nilai pH
saliva antara sebelum dan sesudah berkumur dengan larutan buah jeruk nipis. Hasil penelitian pH
saliva sebelum berkumur dengan larutan buah jeruk nipis adalah basa. Sedangkan hasil dominan
penelitian pH saliva sesudah berkumur dengan larutan buah jeruk nipis adalah asam, kemudian
netral untuk konsentrasi larutan 10% dan tidak ada yang basa. Dapat disimpulkan bahwa hasil
penelitian pH saliva sesudah berkumur dengan larutan buah jeruk nipis adalah asam, namun
prosentasi asam lebih besar yaitu pada konsentrasi larutan 50%.

B. Pembahasan
Berdasarkan penelitian tentang pengaruh sebelum dan sesudah berkumur dengan larutan buah
jeruk nipis terhadap perubahan pH saliva pada siswa kelas V SDN Srondol Wetan 05 Kecamatan
Banyumannik Semarang diperoleh hasil bahwa sebelum berkumur dengan larutan buah jeruk
nipis pH saliva terbanyak adalah basa, kemudian netral dan tidak ada yang asam. Sehingga pH
saliva sebelum berkumur dengan larutan buah jeruk nipis cenderung kearah basa. Sedangkan
setelah berkumur dengan larutan buah jeruk nipis diperoleh hasil pH saliva terbanyak yaitu asam,
kemudian netral dan 3 siswa berkriteria basa. Sehingga pH saliva berkumur dengan larutan buah
jeruk nipis turun kearah asam.
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan ternyata sesudah berkumur dengan larutan buah jeruk
nipis terjadi penurunan pH saliva kearah asam. Namun, penurunan pH saliva sesudah berkumur
dengan larutan buah jeruk nipis paling besar pada konsentrasi 50%. Menurut peneliti hal ini
disebabkan karena semakin besar konsentrasi terlarut yang digunakan akan semakin efektif
terhadap perubahan pH saliva..
Nany (2009), menyatakan bahwa asam yang masuk dalam enamel akan melarutkan calcium yang
terdapat dalam enamel. Apabila asam yang masuk sudah banyak, maka jumlah calcium yang
larut bertambah banyak kemudian calcium akan keluar dari enamel. Pada proses yang
berkelanjutan akan menyebabkan gigi menjadi karies.
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari hasil penelitian dan pembahasan tentang ”Pengaruh Sebelum dan Sesudah Berkumur
Dengan Larutan Buah Jeruk Nipis Terhadap Perubahan pH Saliva”, dapat ditarik kesimpulan
sebagai berikut :
1. Rata-rata pengaruh sebelum dan sesudah berkumur dengan laruan jeruk nipis terhadap pH
saliva pada siswa kelas V SDN Srondol Wetan 05 Kecamatan Banyumanik Semarang yaitu
dengan konsentrasi 10% adalah 0,66, pada konsentrasi 20% adalah 1,23, pada konsentrasi 30%
adalah 1,40, pada konsentrasi 40% adalah 1,74, sedangkan pada konsentrasi 50% adalah 2,23.
2. Rata-rata pH saliva siswa kelas V SDN Srondol Wetan 05 Kecamatan Banyumanik Semarang
yaitu:
a. Sebelum berkumur dengan larutan buah jeruk nipis dengan kosentrasi 10% yaitu 7,03, dengan
konsentrasi 20% yaitu 7,09, dengan konsentrasi 30% yaitu 6,94, dengan konsentrasi 40% yaitu
7,17, sedangkan pada konsentrasi 50% yaitu 7,66.
b. Sesudah berkumur dengan larutan buah jeruk nipis dengan konsentrasi 10% yaitu 6,37, pada
konsentrasi 20% yaitu 5,86, pada konsentrasi 30% yaitu 5,43, pada konsentrasi 40% yaiu 5,54,
sedangkan pada konsentrasi 50% yaitu 5,23.
c. Perubahan rata-rata pH saliva antara sebelum dan sesudah berkumur dengan larutan buah jeruk
nipis yaitu pada konsentrasi 10% mengalami perubahan sebanyak 0,66, pada konsentrasi 20%
mengalami perubahan sebanyak 1,23, pada konsentrasi 30% mengalami perubahan sebanyak
1,40, pada konsentrasi 40% mengalami perubahan sebanyak 1,74, sedangkan pada konsentrasi
50% mengalami perubahan sebanyak 2,43.

DAFTAR RUJUKAN

Admin, 2009, Khasiat Jeruk Nipis, http :// www.Iptek.net.id

, 2008, Manfaat Jeruk Nipis, http : // www. Lifestyle.okezone.com

Amerongen, A Van Nieuw, 1991, Ludah dan Kelenjar Ludah Arti Bagi Kesehatan Gigi, Gajah
Mada University Press, Yogyakarta

Anonim, 2009, Jus Jeruk Kikis Email Gigi, http :// banjarmasinpost.co.id

, 2009, Khasiat Jeruk Nipis,


http ://www.khasiat jeruk nipis_INFOKESEHATAN.htm

, 2009, Hindari Asam Agar Gigi Tak Erosi,


http ://www.interaktif.com

, 1994, Budi Daya Tanaman jeruk, Kaninus, Yogjakarta

Arikunto, 2002, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Rineka Cipta, Jakarta

Besford, 1996, Mengenal Gigi Anda, Arcan, Jakarta

Depkes, 2000, Manajemen Kesehatan Gigi dan Mulut, Depkes R. I, Jakarta.

, 1999, Manajemen Kesehatan Gigi dan Mulut, Depkes R. I, Jakarta.

Houwink, B., Dirks, OB., Cramwincklel A.B., Crielaers, P.J.A., Dermaut, L.R., Eijkman, M.A.J.,
Huis In’t Veld, J.H.J., Koning, K.G., Moltzer, G., Helderman V.H., Pilot, T., Roukema, P.A.,
Schautteet, H., Tan, H.H., Velden-Veldkamp, M.I.V.D., Woltgens, J.H.M, 1993, Ilmu
Kedokteran Gigi Pencegahan, Universitas Gajah Mada, Yogjakarta

Ircham, 1993, Penyakit-Penyakit Gigi dan Mulut Pencagahan dan Perawatannya, Liberty,
Yogjakarta

Kidd, E.A.M., Smith, B.G.N., 2000, Manual Konservasi Restoratif Menurut Pickard, Widya
Medika, Jakarta
Notoatmodjo, S., 2002, Metodologi Penelitian Kesehatan, Rineka Cipta, Jakarta.
Kristiani, N., 2009, Preventive Dentistry II, Politeknik Kesehatan, Semarang
Ramang, M., 2005, Pengaruh pH Dan Konsentrasi Asam Sitrat Terhadap Demineralisasi Email
Gigi,
http : // www. Ip. uh. org.
Resmi, S., 2009, Kenikmatan yang Menngerus Gigi,
http://www.koran-jakarta.com
Rukmana, R., 1996, Jeruk Nipis, Kanisius, Jakarta.
Sarwo, B., 1993, Jeruk dan Kerabatnya, Penebar Swadaya, Jakarta.
Srigupta, A.A., 2004, Perawatan Gigi dan Mulut, Presentasi Pustaka Publisher, Jakarta
Sriyono, N.W., 2005, Pengantar Ilmu Kedokteran Gigi Pencegahan, Medika.
Sugiarti F., 2008, Efektifitas Berkumur Dengan Larutan Buah Jeruk Nipis Terhadap Perubahan
Warna Gigi 2008, KTI Jurusan Kesehatan Gigi Politeknik Semarang, Semarang.
Tarigan, Rasinta., 1990, Karies Gigi, Hipokrates, Jakarta
Undang-undang RI, 2009, Kesehatan, Jakarta
http://www.mallpraktik-prasko.blogspot.com
Vinco, 2008, Tanya Jawab Tentang Kesehatan Gigi Dan Mulut? Di Sini!!,
http://www. indicina.net

RIWAYAT HIDUP
Ana Triyanti lahir di Semarang pada tanggal 29 Mei 1988. Anak ketiga dari 3 bersaudara,
pasangan Bapak Rasito dan Ibu Ruminah. Pendidikan pertama ditempuh dari TK III Pertiwi
Semarang selama 1 tahun, kemudian melanjutkan ke pendidikan Sekolah Dasar di SDN
Tembalang 02, Semarang selama 6 tahun dan lulus pada tahun 2001. Pendidikan Sekolah
Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) ditempuh di MTs An-Nawawi, Purworejo selama 3 tahun dan
lulus pada tahun 2004, pendidikan selanjutnya ditempuh di SMA Mardisiswa 01,Semarang
selama 3 tahun dan lulus pada tahun 2007.
Setelah lulus dari SMA, pendidikan terakhir yang saya tempuh yaitu di kampus Politeknik
Kesehatan Semarang (POLTEKKES Semarang) dari tahun 2007 sampai sekarang. Banyak suka
duka yang dilalui di kampus ini, dan tahun ini insya ALLAH adalah tahun terakhir saya
menjalani pendidikan di kampus ini. Saya sangat mengharapkan untuk bisa lulus dengan nilai
yang baik, dan setelah saya lulus dari kampus ini, saya dapat segera mendapatkan pekerjaan
sekaligus menimba ilmu yang lebih banyak dari pekerjaan yang saya dapat atau menjalani
pendidikan yang lebih tinggi lagi.

Sumber Gambar :
vyranianisa.wordpress.com