Anda di halaman 1dari 48

MODUL: 1

KONSEPSI PENDIDIKAN
Durasi: 5 x Pertemuan

1. Pentingnya Pendidikan Bagi Manusia


Beberapa Pandangan yang membahas pentingnya pendidikan bagi
manusia:

Kaum Psikoanalitik (Freud)


- Manusia didorong oleh sejumlah instink atau
naluri. Pandangan ini menggambarkan manusia
seperti hewan yang dikendalikan oleh naluri.
- Manusia memiliki struktur kepribadian yang terdiri
dari komponen ; Id, Ego, dan Superego. Id adalah
dorongan untuk memenuhi kebutuhan dan
dorongan yang paling menonjol adalah dorongan
seks dan agresi. Ego sebagai pengontrol atau
penyeimbang terhadap kekuatan Id. Ego berpungsi
untuk menjembatani gerak Id dan bersifat realitas.
Superego adalah sejumlah aturan, aksioma,
norma, adat-istiadat, kaidah dan sejenisnya.
Manusia tidak dapat mengontrol diri dengan hanya
mengandalkan ego. Manusia dalam memenuhi
kebutuhannya akan berhubungan dengan
lingkungan, sehingga diperlukan aturan
(superego). Kaidah diatur dan diterapkan atas
kesadaran dan ini sebagai tindakan pendidikan.

b. Kaum Neoanalitik: mengatakan tidak selalau manusia bertindak


berdasarkan atas kekuatan Id, tetapi neoanalitik masih tetap mengakui
bahwa manusia melangkah berdasarkan atas tiga komponen tersebut
(sebagaimana diungkapkan kaum psikoanalitik).

c. Kaum Humanistik (Rogers):


- Tidak mengakui pandangan kaum psikoanalitik
- Perilaku manusia terkontrol, tersosialisasikan, dan
rational
- Manusia selalu membentuk dirinya (on becoming;
tidak pernah selesai, tidak pernah sempurna)

1
- Adler berpendapat manusia memeliki tanggung
jawab sosial.
d. Kaum Behavioristik (Thorndike, Skinner)
- Manusia sebagai makhluk reaktif dan perilakunya
dikontrol oleh lingkungan .
- Kepribadian manusia berkembang atas perpaduan
dirinya dengan lingkungannya
- Skinner mengatakan manusia sebagai binatang
yang bermoral yang terbentuk oleh adanya
kegiatan belajar
- Manusia bertindak diatur oleh hukum belajar,
seperti: pembiasaan (conditioning) dan peniruan
(imitasi)

e. Pandangan Martin Buber (termasuk Teologis)

- Manusia sebagai keberadaan yang penuh potensi,


namun terbatas
- Manusia tidak pada dasarnya jahat (secara faktual
tidak esensi), dan inilah keterbatasan manusia
bahwa manusia berpontensi untuk jahat

e. Pandangan Budayawan
- Manusia makhluk berbudaya yang mampu
menguasai alam dan membentuk berbagai norma,
dan nilai untuk kesejahteraan hidupnya.
- Manusia aktif yang dimungkinkan oleh adanya
pikiran (intelek), dorongan, dan perasaan.
- Pengembangan kemampuan diri yang berlangsung
atas penyerahan kepandaian, norma, dan nilai yang
disebut usaha pendidikan.
- Adanya sumber-sumber dan berbagai
kemungkinan kealaman yang dapat diolah dan
dikembangkan manusia untuk memenuhi
keperluannya.

2. Pengertian Pendidikan

2
• Pendidikan : Usaha sadar dari manusia untuk meningkatkan
kepribadiannya dengan jalan membina potensi pribadinya
jasmani (pacaindera dan keterampilan), dan rokhani (cipta, rasa,
karsa, pikir, dan budinurani).
• Mendidik: membimbing anak untuk mencapai kedewasaan.
• Proses pendidikan dan mendidik sebatas membantu karena anak
telah berpontensi untuk berkembang (jadikanlah anak didik
sebagai subjek dan bukan objek pendidikan).
• Prinsip proses pendidikan itu; “Ing ngarso sung tulodo, Ing
madya mangun karso, Tut wuri handayani “(Ki Hajar
Dewantara).

3. Makna Kedewasaan
Sasaran pendidikan atau mendidik adalah anak mencapai kedewasaan
yang bertanggung jawab.
• Kedewasaan dapat dipahami dari sisi:
 Fisik (Biologis)
Terjadinya peristiwa menstruasi dan ejakulasi pada
anak
 Hukum
Sesuai persyaratan peraturan dan perundangan yang
berlaku ( syarat membuat SIM atau perkawinan)
 Psikologis
Berpikir dengan tepat, tidak emosi, mampu
mengendalikan kemauan, telah memiliki pertimbangan
dalam bertindak

3
 Pedagogik
- mengenal wibawa
- bertanggung jawab
- mengambil keputusan sendiri, berdiri swndiri
- adaptif di masyarakat
• Bertanggung Jawab berarti siap menerima resiko dari
tindakannya.
4. Objek Pendidikan adalah tindakan pendidikan itu, bukan anak didik.

Anak didik adalah sebagai subjek pendidikan (manusia yang memiliki


potensi, harkat dan martabat, sehingga dia mempunyai harga diri, emosi
dan perasaan)
Tindakan pendidikan itu adalah proses pergaulan (pergaulan
pendidikan) yang terjadi antara pendidik dengan anak didik yang
mempunyai tujuan tertentu yang disebut tujuan pendidikan.
Tindakan Pendidikan: tindakan yang memiliki syarat:
• Dilakukan dengan sadar atau sengaja (ingat
pendidikan secara etis untuk mencapai kesejahteraan
umat manusia)
• Bertanggung jawab untuk mengantarkan anak
kepada tujuan pendidikan
• Persamaan perasaan antara pendidik dengan anak
didik (rasa kasih sayang yang sesungguhnya,
ketulusan, pengabdian (pendidik menghamba
kepada sang anak).
• Bertujuan artinya tindakan pendidik terarah dan
terikat kepada tujuan pendidikan.

4
Agar tindakan pendidikan selalau dapat diciptakan oleh pendidik,
hendaknya dia selalu dalam keadaan sadar (memiliki kesadaran). Tiga
pilar yang dapat menopang lahirnya kesadaran pendidik yaitu
pemahaman atas hakekat (filosofis) usaha pendidikan tersebut yang
dapat digambarkan dalam pemikiran ontologis, epistemologis, dan
axiologis.

♦ ONTOLOGIS

Ontologis : sesuatu yang metafisis (dibelakang fisik) berupaya untuk


membelah persoalan hakekat sesuatu, termasuk eksistensi
kosmologis.

Apa ?

Realita Alam

Aktivitas Pendidikan

Sifat: Monoisme Eksistensi pendidikan


Dualisme (5W + 1 H)
Pluralisme anak memahami alam semesta

Hakekat pendidikan dipadukan dengan pokok-pokok ontologi:

1. Ada (eksistensi) kesemestaan: Tuhan


2. Ada alam semesta: makrokosmos
3. Ada subjek manusia: individu, sosial, umat manusia
4. Ada tata budaya: martabat manusia
5. Ada subjek manusia yang bermoral dan berprestasi
6. Ada pribadi unik dari manusia
7. Ada pengalaman dan penghayatan
8. Ada jangkauan potensi manusia: hubungan fungsional antara
realitas alam semesta, manusia, nilai sosialbudaya dan eksis
bangsa dan negara.

5
ET

EBN WSB
P

EAS ESM

ET : Eksistensi Tuhan
EBN : Eksistensi Bangsa dan Negara
EAS : Eksistensi Alam semesta
ESB : Eksistensi Sosialbudaya
ESM : Eksistensi Subjek manusia
P : Eksistensi Pribadi mandiri

Implementasi Ontologis dalam pendidikan: Pengalaman


manusia memperkaya kepribadian manusia (sosial, spiritual,
fisik mengenai realitas tetap dan dinamis.

• EPISTEMOLOGI
Membedah tentang proses,batas, sumber, syarat, validitas, dan
hakekat pengetahuan

Bromeld: dengan epistemologi memberikan jaminan dan


kepercayaan bagi guru bahwa dia telah memberikan kebenaran
kepada muridnya

Secara sinergis antara guru dengan siswa sadar dan percaya diri
bahwa yang dibahas bersma sebagai suatu yang benar.

Kesadaran akan kebenaran yang ditransfer kepada murid sebagai


sumber wibawa (gezaag) pendidik.

6
TEORI KEBENARAN

1. Korespondensi (correspondence theory)


Jika ide (kesan) yang dihayati subjek sesuai dengan kenyataan,
realita objektif, maka sesuatu itu benar. Kebenaran didasari
oleh hubungan subjek dengan objek yang didasarinya
(kebenaran berdasarkan atas faktor eksternal (an objective
warld).
2. Konsistensi (Consistency Theory)
Makin konsisten dan reliabel ide yang diterima subjek tentang
objek yang sama, makin benarlah ide tersebut.

Korespondensi diuji oleh konsistensi yang berhubungan


dengan realita objektif

3. Pragmatis (Pragmatis theory)


Suatu ide itu benar jika teruji dalam pelaksanaan (berguna bagi
pemakai). Pragmatis menekankan kepada upaya manusia untuk
menyesuaikan diri dengan tuntutan.
4. Religius (Religious Theory)
Kebenaran tidak cukup diterima oleh akal, ratio, dan kemauan
individu. Tetapi mengatasi rasio dan kemauan individu.
Kebenaran objektif, universal, mutlak, supernatural, dan
superartional. Kebenaran yang bersumber dari Tuhan sebagai
kebenaran tertinggi mengatasi kebenaran indera, ilmiah, dan
filosofis. Bagi kaum non agama, kebenaran ini dipandang
sebagai kebenaran “dogmatis” (kebenaran yang diterima tanpa
kritik).

• AXIOLOGIS

Axiologi= nilai yang dianggap berharga atau baik. Sesuatu yang


baik direkomendasikan sebagai objektivasi pendidikan. Secara
etis Pendidikan sebagai tindakan yang menciptakan
kesejahteraan hidup manusia (segala tindakan yang tidak
mensejahterakan hidup umat manusia bukan tindakan
pendidikan).

Bromeld menyebutkan ada tiga bagian nilai:

7
1. Tindakan Moral (Moral Conduct), yang melahirkan etika

2. Ekspresi keindahan (esthetic Expression) yang


melahirkan estetika, dan

3. Kehidupan sosial-politik (Socio-Political) yang


melahirkan filsafat sosio-politik.

Implementasi: Pendidikan menguji dan mengintegrasikan


semua nilai tersebut dalam kehidupan anak didik untuk
membina kepribadian anak.

Karakteristik Nilai (baik)

1. Hedonisme: baik jika menyenangkan dan memuaskan (hadiah coklat,


ciki)
2. Otoritarisme: ukuran dan kewibawaan seseorang (taat tanpa kritik)
3. Instrumental good (kebaikan instrumen sebagai alat mencapai
tujuan=obat)
4. Immediate good: kebaikan langsung sebagai tujuan bukan instrumen
5. Estetic good: nilai estetika (cita rasa seni)
6. Social good: nilai baik sosial, kebenaran yang universal.

Nilai berfungsi untuk memotivasi tingkah laku dalam upaya


memenuhi kebutuhan dan membimbing pribadi anak didik.

Tingkatan Nilai:

1. Objektif dan instrinsik : nilai baik kodrati, bukan untuk sesuatu yang
lain, melainkan bersumber dari dalam diri sendiri (bebas nilai)
2. Subjektif: memihak, sesuatu baik jika sesuai ukurannya (sarat nilai)
3. Instrumental: relatif dan subjektif, sesuatu bernilai karena bernilai
untuk sesuatu yang lain.

5. Hukum Dasar Pendidikan

8
Usaha pendidikan dilakukan oleh manusia berdasarkan atas keyakinan
(hukum dasar) sebagai titik tolak mulainya kegiatan pendidikan.
• Hukum atau Teori Nativisme
Bersumber pada filsafat Idealisme menyatakan bahwa
perkembangan manusia (pribadi) ditentukan oleh faktor hereditet yaitu
faktor dalam yang kodrati (pembawaan). Athur Schopenhauer sebagai
pelopor teori ini mengatakan pembawaan yang kodrati dari kelahiran tidak
dapat diubah dan tidak dipengaruhi oleh lingkungan (menjadi aliran yang
psimistik Nativisme (nativus=terlahir) yang bermakna pembawaan. Bakat
dan pembawaan seperti apa akan berpengaruh kepada anak, dan pendidikan
(lingkungan) tidak dapat mengaturnya (aliran yang ekstrem).

• Hukum Emperisme
Konsepsi dasar aliran ini (sebagai aliran ekstrem) menyatakan
perkembangan individu manusia tergantung pada pengalaman hidupnya.
Tabularasa (John Locke sebagai tokohnya) anak lahir sebagai kertas
kosong/ putih/ meja berlapis lilin, bertulis seperti apa tergantung pada
penulisnya (pendidik/ stimulannya) yang disebut sebagai lingkungan sekitar
anak. Begitu optimisnya dengan hasil pendidikan atau pengaruh lingkungan
sehingga aliran ini disebut sebagai aliran optimisme.

• Aliran Naturalisme
J.J Rousseau dalam buku: Emile diungkapkan bahwa manusia baik
sejak dilahirkan dan menjadi buruk ditangan manusia. Anak lahir dengan
pembawaan baik, tidak satupun yang terlahir dengan pembawaan buruk.
Mengingat pesimisnya aliran ini terhadap pengaruh lingkungan (pendidikan)

9
sehingga aliran ini disebut sebagai aliran negativisme. Untuk itu kembali
kepada alam menjadi ciri utama dari aliran negativisme. Pendidikan jangan
memberikan pengaruh yang terlalu dibuat-buat (artificial), untuk itu
pendidikan hendaknya menyediakan situasi dan kondisi dengan pendekatan
demokratis. Pelajaran agama dan moral amat penting dari aliran ini.

• Aliran Konvergensi (Memadukan)


William Stern dan Clara Stern memadukan konsep berpikir aliran
Nativisme dan Emperisme, sehingga ini bersifat lebih moderat.Bakat dan
pembawaan baik atau buruk akan berkembang dengan baik, jika dipengaruhi
atau dibimbing oleh lingkungan (pendidikan). Oleh karena itu upaya sadar
untuk mengkelola lingkungan menjadi tanggung jawab pendidik. Teori ini
bersifat lebih realistik untuk membentuk kepribadian anak didik.

• Secara ilmiah menurut psikologi hukum perkembangan


kepribadian manusia dinyatakan dengan:
P = fH x E yaitu Personality (P) adalah fungsi kerjasama
antara heredity (H) dengan Environment (E), atau K = fP x L
yaitu kepribadian (K) adalah hasil kerjasama antara potensi
(bawaan) dengan lingkungan (L) lingkungan hidup alamiah,
sosialbudaya, dan pendidikan.

6. Tanggung Jawab Lembaga Pendidikan

• Keluarga
- Dorongan cinta kasih yang tulus (kodrati)

10
- Sebagai konskuensi dari posisi atau kedudukan
orang tua (tanggung jawab moral)
- Tanggung jawab sosial, sebagai konskuensi dari
dimensi sosial manusia sebagai bagian masyarakat,
bangsa, negara.
• Sekolah
- Tanggung jawab formal sebagai lembaga yang
melaksanakan tugas pendidikan
- Tanggung jawab keilmuan sebagai pusat
kebudayaan
- Tanggung jawab fungsional sebagai tanggung
jawab profesional penglelo dan pelaksana
pendidikan karena jabatannya.
• Masyarakat
- Sebagai sumber belajar yang realita ada di
masyarakat
- Pemberi teladan dan pengguna hasil pendidikan

• Pemerintah
- Tanggung jawab kenegaraan dan kemasyarakatan
- Tanggung jawab struktural kelembagaan atau
tanggung jawan yuridis-konstitusional.
7. Pergaulan Pendidikan
Pendidikan berlangsung dalam situasi pergaulan
Pergaulan pendidikan dicirikan oleh hubungan yang bertanggung jawab menuju
kedewasaan anak (mengandung tindakan pendidikan)

11
Pergaulan anak dengan anak sebagai pergaulan sosial yang tidak mengandung
tindakan pendidikan
Pergaulan orang dewasa dengan anak dikatakan sebagai pergaulan pendidikan
jika mengandung tindakan pendidikan.
Pergaulan yang kurang pedagogik (tidak kondusif ) untuk mendidik harus
diubah kearah situasi yang pedagogik atau edukatif.
Pendidik adalah orang dewasa yang melakukan pergaulan dengan anak
bersendikan tindakan pendidikan (tidak semua orang tua dapat bertindak
sebagai orang dewasa).
8. Alat Pendidikan

• Orang dewasa untuk melakukan tindakan pendidikan


memerlukan alat pendidikan.
• Alat pendidikan merupakan seperangkat pengetahuan mengenai
tindakan atau situasi yang sengaja diciptakan untuk mencapai
tujuan pendidikan.
• Alat pendidikan seperti sanjungan, perintah, , nasehat, petunjuk,
sindiran, teguran, hukuman, hadiah, ganjaran, dsb.nya.
• Alat pendidikan pada hakekatnya bertujuan untuk menyadarkan
anak didik kepada tujuan pendidikan (menciptakan
kesejahteraan hidupnya).
• Alat pendidikan jangan menciptakan kondisi yang sebaliknya
atau menyimpang dari tujuan pendidikan.

Statement Kunci:

12
1. Pendidikan sebagai kekuatan dinamis yang mempengaruhi seluruh
aspek kepribadian dan kehidupan individu manusia
2. Pendidikan hakekatnya mengandung tujuan (mencapai
kedewasaan) dilalui secara gradual.
3. Pendidikan diarahkan kepada perkembangan manusia sebagai
makhluk individu, sosial, susila dan religius.
4. Pendidikan sebagai interaksi manusiawi dari manusia dewasa
kepada manusia yang belum deawasa
5. Pendidikan berlangsung berdasarkan tujuan, kesamaan tindakan,
dan rasa tanggung jawab
6. Usaha pendidikan hendaknya memperhatikan:
♦ Anak didik adalah individu sedang berkembang,
dilaksanakan atas kewibawaan, tanggung jawab pendidik,
kebebasan dan keterikatan anak didik, serta motivasi dan
kegiatan anak didik
♦ Usaha pendidikan menjangkau kegiatan lebih jauh dari
pengajaran
♦ Pendidikan sebagai sarana pengembangan masyarakat
(dalam hubungan yang konstruktif)

PENALARAN TERHADAP TEORI PENDIDIKAN

13
FILOSOFIS PENDIDIKAN

Hakekat menjawab persoalan das-solen Usaha sadar kearah


pendewasa-an anak
- ada tujuan
- usaha sadar, terencana
- di dalam lingkungan
sosial
Pengkajian “Ontologis”

Pengkajian “Epistemologis”

Pengkajian “ Axiologis”

Pengkajian yang hakikat memberi konklusi kepada upaya mempersempit


jurang das-solen dengan das-sain dalam dunia pendidikan

9. Landasan / Asas Pendidikan


Ada 3 landasan atas asas pendidikan :
9.1 Landasan Filosofis
- Filsafat : Pengetahuan tentang kebenaran
: Cara berpikir radikal, mendasar dan menyeluruh
: induk semang ilmu pengetahuan
: system nilai artinya filsafat hidup/ pandangan
hidup manusia dalam mengarungi kehidupan
: studi tentang hakikat realita, kahikat ilmu
pengetahuan, hakikat system nilai, hakikat nilai kebaikan, hakikat
keindahan, dan hakikat pikiran (yang menjadi dasar pijak penyelenggaraan
pendidikan bagi kesejahteraan hidup umat manusia).

14
- Hubungan filsafat dengan tujuan pendidikan:
- Filsafat membahas apa yang ingin diketahui,
bagaimana cara mendapatkannya, apa nilai
kegunaannya.
- Filsafat pendidikan : pola pikir filsafat berkenaan
dengan perencanaan dan implementasi pendidikan.
- Filsafat pendidikan sbg perangkat nilai yg melandasi
dan membimbing kearah pencapaian tujuan
pendidikan.
- Karena itu filsafat suatu bangsa akan berpengaruh
terhadap pola pendidikan yang dianutnya.
- Tujuan pendidikan pada hakikatnya sebagai rumusan
komperhensif tentang hasil yang ingin dicapai.
Sebagai pernyataan yang memuat berbagai
kompetensi yang diharapkan dimiliki oleh peserta
didik selaras dengan system nilai dan falsafah yang
dianut.
- Manfaat Filsafat Pendidikan
- Sebagai penentu arah (direction) kemana anak didik
dibawa.
- Hasil (output) yang ingin diharapkan
- Penentu cara dan proses dalam mencapai tujuan
- Memberi kesatuan yang bulat (unity) tentang usaha
pendidikan yang dilakukan.

15
- Memberi pedoman yang jelas bagi pengelola
pendidikan untuk melakukan penilaian tentang
rencana dan implementasi pendidikan.

9.2 Landasan Sosiologis


Pendidikan sebagai upaya memanusiakan manusia. Dengan
landasan sosilogis pendidikan menyadarkan manusia tentang:
- manusia mahluk sempurna dibekali akal pikiran
sehingga dapat mengembangkan diri sebagai manusia
berbudaya
- kemampuan tsb. Dikembangkan melalui interaksi
dengan lingkungan social dan fisiknya.
- Manusia sebagai mahluk social terikat oleh system
social dengan segala komponennya seperti pranata
social, tatanan hidup kemasyarakatan dsbnya.
- Pendidikan sebagai proses social budaya untuk
meningkatkan harkat dan martabat manusia
(eksternalisasi, objektivasi, internalisasi)
- Garapan pendidikan merupakan proses sosialisasi
antarwarga melalui interaksi insani menuju
masyarakat berbudaya.
- Anak didik diarahkan menuju masyarakat berbudaya
dengan acuan format budaya bangsa.
- Ada tiga gejala (Nana Sudjana) yang diwujudkan
dalam kebudayaan umat manusia:

16
1. ide dan gagasan seperti; konsep, nilai, norma,
peraturan sebagai hasil cipta karya manusia
ide, gagasan bersifat abstrak dan menjadi
motivasi dan memberi jiwa /rokh serta makna
perilaku manusia. Norma sebagai hasil
kebudayaan tersebut.
2. kegiatan seperti tindakan berpola dari manusia
dalam bermasyarakat
aktivitas manusia dalam berinteraksi dengan
lingkungannya ebagai system social, konkret.
3. hasil karya cipta manusia
hasil cipta manusia sesuai dengan ide dan
normatifnya.
- Membina dan membimbing anak didik tidak terlepas
dari aspek social budaya masyarakatnya.
- Garapan pendidikan diarahkan disesuaikan dengan
perkembangan ipteks
- Jangan sekali-kali memusatkan kepada kepentingan
masyarakat (society centered) yang menyebabkan
ketidakseimbangan karena kurang sesuai dengan
tingkat perkembangan anak didik, karena itu perlu
diarahkan berorientasi kepada siswa (student
centered)

9.3 Landasan Ilmiah dan Teknologis


Perkembangan IPTEKS berpengaruh terhadap garapan
pendidikan.

17
- ilmu pengetahuan sebagai isi dari kurikulum
- program pendidikan merupakan penetapan dari
tuntutan masyarakat tentang isi atau ilmu.
- Perkembangan iptek memberi corak bagi perencanaan
dan pelaksanaan bidang pendidikan.
- Arah pembinaan manusia berberbudaya ditujukan
kepada (menurut Daoed Joesoef) adalah pikiran
(logika), perasaan (estetika), dan kemauan (etika).
- 5 harapan (Oemar hamalik) keterkaitan perkembangan
iptek dengan pembinaan pendidikan:
1. perkembangan iptek berada dalam
keseimbangan yang dinamis dan efektif
dengan pembinaan SDM.
2. pembangunan iptek ditujukan untuk
peningkatan kualitas SDM yakni kualitas
kesejahteraan manusia
3. selaras dengan nilai-nilai agama, nilai luhur
budaya bangsa, kondisi social budaya dan
lingkungan hidup.
4. berpijak kepada peningkatan produktivitas,
efisiensi dan efektivitas penelitian dan
pengembangan yang lebih tinggi.
5. seyogyanya berdasarkan kepada asas
pemamfaatannya yang dapat memberi nilai
tambah dan solusi konkret masalah
pembangunan bangsa.

18
MODUL II

ILMU PENDIDIKAN SEBAGAI ILMU PENGETAHUAN


Durasi: 2 x Pertemuan

1. Ilmu Pendidikan Bersifat Normatif


• Sebagai ilmu pengetahuan normatif, ilmu pendidikan merumuskan
kaidah atau pedoman atau ukuran tingkah laku manusia. Sesuatu yang
normatif berarti berbicara masalah baik atau buruk dari perilaku
manusia. Ilmu Pendidikan merumuskan peraturan-peraturan tentang
bertingkah laku manusia untuk mencapai keteraturan hidup.
Keteraturan hidup akan menjamin kelangsungan keeratan (kohesi)
antarmanusia (hubungan sosial manusia).

• Karena Ilmu Pendidikan bersifat normatif berarti pula bersifat praktis


karena ilmu pendidikan sebagai bahan ajar yang patut diterapkan
sehingga pendidik bertugas menanamkan sistem-sistem norma
bertingkah laku manusia yang dibanggakan, dihormati, dan dijunjung
tinggi oleh masyarakat ( kondisi sebaliknya menimbulkan anak akan
dijauhi dari pergaulan masyarakatnya).
Secara etis ilmu pendidikan diarahkan untuk menciptakan
kesejahteraan hidup manusia, sebaliknya tindakan yang ditujukan
untuk menistakan atau melaratkan manusia dikatakan di luar
perbuatan pendidikan.

19
• Ilmu Pengetahuan normatif selalu menjunjung tinggi nilai-nilai
kehidupan yang tidak hanya diperoleh dari pengalaman dan praktek
mendidik ataupun pendidikan, tetapi juga didapat dari sumber
normatif yaitu norma masyarakat, norma filsafat (pandangan hidup
seseorang atau masyarakat), keyakinan beragama atau rasa spirit
keagamaan yang dianutnya.
• Ilmu Pengetahuan normatif erat kaitannya dengan pengetahuan
filsafat sehingga melahirkan Filsafat Pendidikan. Guru atau
pendidikan harus selalu mengikat diri sesuai kaidah Filsafat
Pendidikan.

• Ilmu Pengetahuan normatif seperti Ilmu Pendidikan meliputi


pendidikan agama, etika, budi pekerti yang tergolong pendidikan
pengembangan kepribadian anak (sesuai amanat UU Nomor 20 tahun
2003), menentukan dasar-dasar dan tujuan hidup manusia (anak didik)
karena sangat menentukan kerangka perilaku ataupun tindakan anak
dalam kehidupan dan penghidupannya.

• Isi moral pendidikan atau tujuan intermidiit berisi perumusan norma-


norma atau nilai spiritual ethis yang nantinya menjadi nilai pendidikan
atau konsep dasar nilai moral pendidikan yang berlaku disemua jenis
dan jenjang pendidikan.

• Filsafat pendidikan sebagai lapangan studi yang bertugas merumuskan


secara normatif dasar-dasar dan tujuan pendidikan, hakekat dan sifat
hakekat manusia, hakekat dan segi-segi pendidikan, isi moral
pendidikan, sistem pendidikan meliputi kepemimpinan pendidikan,

20
kepemimpinan pendidikan dan metodologi pengejaran, pola-pola
alkulturasi dan peran pendidikan dalam pembangunan masyarakat
(bangsa dan negara).

2. Ilmu Pendidikan Sebagai Pengetahuan Teoritis dan Praktis


• Ilmu Pendidikan termasuk pengetahuan normatif karena berkaitan erat
dengan pandangan tentang manusia, nilai dan norma hidup yang
membentuk keperibadian manusia (anak didik).
• Ilmu Pendidikan bersifat teoritis dan praktis karena berkaitan dengan
strategi tindakan mendidik atau praktek mendidik

• Pemikiran teoritis mencakup pemikiran gambaran manusia yang ingin


dicapai, seprti:
 Tujuan yang ingin dicapai
 Gambaran tentang anak didik yang berkembang melalui proses
pendidikan
 Pengetahuan tentang diri pendidik sendiri
 Alat dan faktor pendidikan serta pengaruhnya bagi proses
pendidikan
 Pengetahuan tentang ekologi pendidikan (lingkungan insani dan
fisik)

3. Konsep dasar Pendidikan atas pertimbangan Nilai:

21
1. Proses pendidikan sebagai pengenalan dan transformasi nilai baik
(secara normatif), sehingga secara etis menciptakan kesejahteraan
manusia.
2. Pendidikan sebagai konsep dasar untuk mengahantarkan umat
manusia ke arah martabat dan harkat yang hakiki
3. anak sebagai subjek yang sedang berkembang (fisik dan psikis)
memerlukan pelayanan dan bimbingan dari pendidik dengan
karakteristik:
-psikologis : bertanggung jawab, berwibawa
-biologis : kedewasaan ditandai oleh berakhirnya masa
pubertas
- Mental : akuratsi kepribadian, intelegensi, emosional
set, kecerdasan social (respontif)
- Formal/akademis: keilmuan dan keilmiahan

4. Pendidik adalah orang dewasa yang bertanggung jawab secara moral,


keilmuan, dan spiritual untuk mengantarkan anak mencapai
kedewasaan.
5. Batas bawah pendidikan :
- anak mengerti arti kewibawaan
- pendidikan yang sebenarnya, dalam arti konsep sosial,
ilmu pengetahuan
- pendidikan yang fundamental
- konsep pendidikan prenatal-postnatal sebagai
prakondisi untuk mengerti kewibawaan
- pemahaman konsep pendidikan dalam arti pergaulan.

22
Hendaknya disiasati bahwa tidak semua pergaulan
berarti pendidikan
Pergaulan yang pedagogik-edukatif: bertujuan,
bertanggung jawab, melindungi, dan persamaan
perasaan.

6. Batas atas pendidikan : tercapainya kedewasaan


- Mikro : tingkat sekolah dasar- perguruan tinggi
(terminal)
- Makro : dapat hidup di masyarakat (global-
universal)

Pendidikan seumur hidup (life long education)

Ilmu pengetahuan rokhani yang normatif


Bersumber pada nilai, tujuan sebagai norma pendidikan
Ilmu pengetahuan teoritis
Pendidikan sistematis dan historis
Ilmu pengetahuan praktis : diterapkan

Melalui seluruh jalur dan jenjang pendidikan, mencapai

Sumber Daya manusia yang MIS

Nilai Pendidikan berfungsi : - Konservatif dan Progresif-inovatif


untuk mendapatkan SDM yang memenuhi tujuan makro yaitu:

- Kepekaan individu terhadap pembangunan


- Pembinaan mental Pancasila
- Pembinaan ketahanan
- Pembinaan HAM

23
- Pembinaan tindakan sesuai hukum (role of low)
- Pembinaan hidup efisien, efektif, produktif
- Pembinaan IPTEK dan IMTAK

7. Tujuan Pendidikan

• Tujuan Umum Pendidikan : mencapai kedewasaan, sebagai


tujuan akhir pendidikan.(pahami tujuan pendidikan seperti dimuat pada
UUSPN nomor 20/ 2003 yaitu mengembangkan manusia Indonesia yang
seutuhnya ……..dst)
• Tujuan Khusus disesuaikan dengan indikator:
 Jenis kelamin anak
 Pembawaan anak
 Usia anak/ tingkat perkembangan anak
 Tugas lembaga yang mendidik anak
 Filsafat negara
 Kesanggupan pendidik
 Keadaan intern dan ekstern anak
 Keadaan negara (damai-darurat)
• Tujuan Insidentil; tujuan sesaat saja (untuk menenamkan
rasa patuh, dan pada saat lain untuk tujuan kebersamaan)
• Tujuan Sementara; sesuai dengan tahap perkembangan anak
(berjalan langkah awal untuk bisa berlari, bagaimana dengan tujuan
menulis?)
• Tujuan Tak Lengkap berkaitan dengan aspek kepribadian
anak (aspek estetis, emosional, kecerdasan dsb).

24
• Tujuan Intermidiit (perantara) berkaitan dengan tuntutan
penguasaan teknis. Misalnya agar anak dapat menulis dengan baik,
diajarkan cara memegang pensil.

MODUL III

PERKEMBANGAN MANUSIA (ANAK DIDIK)


Durasi: 3 x Pertemuan

1. Hakekat Perkembangan Anak Didik


 Manusia berbeda dengan binatang, karena manusia memiliki
kehidupan rokhaniah sedangkan binatang lebih banyak
berdasarkan naluri.
 Manusia sebagai makhluk berbudaya, maka unsur rokhaniah
lebih berperan dibandingkan instink/naluri.
 Manusia mempunyai unsur rokhaniah seperti intelegensi,
pikiran, imajinasi, fantasi, kehendak, dorongan, perasaan yang
menyebabkan dirinya dapat berkembang menuju
kesempurnaan.
 Manusia bersifat dinamis, sedangkan binatang statis
 Sumadi Suryabrata menyebutkan bahwa perkembangan
hakeketanya sebagai suatu perubahan ke arah lebih maju, lebih
dewasa, sehingga perubahan sebagai suatu proses.
 Perubahan yang direncanakan itu sebagai proses pendidikan
(pembangunan).

25
 Perkembangan anak didik melalui tahapan atau priodisasi
artinya setiap anak didik sebagai individu yang sedang
bertumbuh dan berkembang dimulai saat kelahirannya sampai
tingkat kedewasaan.
 Proses perkembangan tersebut melalui priodisasi meliputi aspek
pisik dan psikis.
 Ingatlah bahwa setiap anak didik mempunyai keindividuan
dalam perkembangan dengan irama dan tempo
perkembangannya dan keterbatasannya.
 Umumnya perkembangan itu dapat dibedakan dengan cirinya
berdasarkan fase atau priodisasi masa bayi, masa kanak-kanak,
masa usia sekolah, masa remaja, dan masa dewasa.
 Masa Bayi sejak lahir (postnatal) sampai berumur 2 tahun,

menunjukkan perkembangan yang cepat sebagai dasar


perkembangan selanjutnya seperti belajar makan, merangkak,
berjalan, berbicara dan bersosial (eksplorasi).
 Masa Kanak-Kanak, umur 3-5 tahun yang dicirikan dengan

penguasaan bahasa lisan berkembang pesat (intruksikan dasar


berbicara etik), mulai bergaul (bersosialitas) sekaligus ada
penyadaran akan dirinya sebagai individu (egois, keras kepala).
Hal yang bertentangan tampak anak sangat tergantung pada
orang dewasa untuk memperoleh kasih sayang (sadar jangan
sampai salah mencari pola asuhannya). Ada kemauan besar
meniru perlakuan orang dewasa, tampak dari perilakunya main
dokter-dokteran, pencuri, guru dsb. Sering anak itu kurang

26
dapat membedakan realitas dengan hayalan, dan usia ini senang
bertanya, dan masa bermain.
 Masa Usia Sekolah, umur 6- 12 tahun dengan penguasaan

motorik dan perkembangan fisik yang pesat. Moment yang


tepat untuk mengembangkan sifat-sifat dasar dan keterampilan
dasar untuk kepentingan hidupnya. Bermain dan jiwa
kompetitifnya tinggi, perkembangan sosialnya tinggi,
cenderung tertarik untuk melkukan tindakan yang menyimpang
dari biasanya, karena diperlukan bimbingan dan sumber
identifikasi diri bagi anak didik. Intelegensi berkembang pesat
dan disebut sebagai masa tenang tanpa cobaan.
 Masa Remaja umur 13 – 20 tahun, yang didahului oleh masa

pueral yang dicirikan oleh sifat-sifat malu-malu karena


berkembangnya kelenjar seksual. Masa remaja atau adolesen
sebagai masa pancaroba, umumnya pada masa ini prestasi
menjadi menurun, disebut sebagai masa romantis, sering
mengidentifikasikan dengan tokoh idolanya. Kenakalan
menjadi ciri khusus masa ini karenanya perlu diarahkan secara
seksama.
 Masa Dewasa umur diatas 20 tanun, dicirikan adanya

dirikesadaran untuk hidup mandiri dan kontrol diri telah ada.


2. Hukum-Hukum Perkembangan Anak
Manusia mengalami pertumbuhan dan perkembangan (tumbuh
kembang) sejak masa pranatal sampai akhir hayatnya.

Dalam perkembangannya manusia dihadapkan dengan tugas-tugas


perkembangan (dirumuskan oleh pendidik) dengan pertimbangan:

27
- Perkembangan jasmaniah dan rokhaniah, dan tuntutan
social budaya

HUKUM PERKEMBANGAN:

♦ HUKUM TEMPO PERKEMBANGAN: Lambat-


cepatnya perkembangan seseorang anak untuk suatu aspek
tertentu.

♦ HUKUM IRAMA PERKEMBANGAN: gerak maju


mundurnya perkembangan seseorang anak baik jasmani
maupun rokhani.

3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan


 Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan anak didik
sesuai dengan konsepsi-konsepsi perkembangan menyangkut
konsepsi nativisme, emperisme, naturalisme, dan konvergensi
yang tergolong aliran konvensional dalam pendidikan.
 Konsepsi yang bersifat tradisional dan maju berkembang di
Amerika yang berpengaruh pula terhadap perkembangan anak
yaitu konsepsi Perenialisme, Progresivisme, Esensialisme, dan
Rekonstruksionalisme (G.F. Kneller).
 Perenialisme, menolak segala sesuatu perubahan, dan
mengarahkan kepada prinsip bersifat abadi (absolut).
Menurutnya keadaan yang tetap lebih nyata dari pada
perubahan, lebih ideal. Tujuan pendidikan adalah
mempertahankan yang menetap. Pendidikan hendaknya sama
bagi semua anak, karena semua anak hakekatnya sama,
penalaran menjadi hal penting, dan pendidikan bukan suatu
peniruan hidup tetapi persiapan untuk hidup.

28
 Progresivisme, (John Dewey) adalah perubahan sebagai inti

dari kenyataan. Pendidikan sebagai proses perubahan, karena


itu pendidikan harus mampu menyesuaikan metode dan
pendekatan sesuai dengan perubahan lingkungan. Karena itu
pendidikan adalah kehidupan itu sendiri bukan persiapan hidup,
pembelajaran hendaknya sesuaikan dengan minat anak, belajar
pemecahan masalah, guru hendaknya memberi nasehat,
mengembangkan kerja sama, bukan memberi petunjuk dan
persaingan, dan demokrasi sistem yang baik untuk
ditumbuhkembangkan.
 Esensialisme, mengutamakan hal yang paling pokok atau

penting (esensial) sehingga perlu melakukan penelaahan isi


kurikulum, memisahkan kegiatan yang esensi dengan yang
tidak, membangun kembali kewibawaan guru di kelas.
Menurutnya belajar sebagai kegiatan yang memerlukan kerja
keras, ide berasal dari guru, proses pendidikan adalah
terserapnya bahan pelajaran, menerapkan metode tradisional
dalam belajar, bukan learning bay doing yang hanya cocok
untuk bahan dan anak tertentu saja.
 Rekonstruksionisme, tanggung jawab pendidikan adalah
melakukan pembaharuan (rekonstruksi) di masyarakat.
Pendidikan harus dapat melakukan tatanan sosial yang baru
berdasarkan tatanan nilai dasar budaya yang berlaku sambil
menyesuaikan dengan perubahan, terciptanya masyarakat yang
demokratis, mampu meyakinkan murid tentang kebenaran.
4. Tugas-Tugas Perkembangan

29
 Havighurst menyebutkan pendidikan memberi pelayanan
sesuai dengan perkembangan anak sebagai tugas perkembangan
(developmental taks).
 Tujuan perkembangan sejak bayi sampai dewasa bersifat
berkesinambungan.
 Tugas perkembangan anak disesuaikan dengan sifat-sifat yang

terbentuk dalam setiap priodisasi perkembangan anak didik.


 Sebagai contoh tugas perkembangan masa remaja seperti:
mencapai hubungan baru dengan teman sebaya, mematangkan
peranan sosial (sesuai kelamin), mencapai kemandirian,
menyiapkan diri menekuni pekerjaan dsbnya.
 Tugas perkembangan pada setiap priodisasi ditentukan oleh
faktor; perkembangan jasmani, perkembangan rohani, dan
tuntutatn sosialbudaya.

5. Arah Pendidikan
Kegiatan pendidikan diarahkan untuk mencapai empat segi
pembentukan kepribadian manusia yaitu; perkembangan manusia
sebagai mahluk individu, sosial, mahluk susila, dan mahluk beragama
(religius).
 Sebagai makhluk individual, dicirikan oleh terbentuknya
kemampuan berdiri sendiri. Perlu pelayanan konsep, prinsip,
generalisasi, inisiatif, kreativitas, kehendak, emosi (afeksi,
tanggung jawab, keterampilan.
 Sebagai Makhluk Sosial, mampu berinteraksi sosial,
mengenali objek sosial di luar dirinya.

30
 Makhluk Susila, mengenal nilai dan norma kehidupan ,

sehingga mengenal baik dan buruk, mengenal nilai dan norma


di lingkungan dirinya, keluarga, masyarakat dan kehidupan
berbangsa.
 Makhluk Beragama (religius), menyadari dirinya dalam

hubungan kehidupan makrokosmos yang bersumber kepada


yang hakekat, sumber dari sumber nilai yaitu Tuhan Yang
Maha Esa. Mempunyai keyakinan dan ketaqwaan kepada
perintah dan larangan tuhan, sehingga anak dapat hidup sebagai
anggata masyarakat.
6. Usaha Pendidikan.
Aspek pokok dari pada pelaksanaan pendidikan adalah (a) anak didik
sebagai individu yang sedang berkembang, (b) Kewibawaan dan
tanggung jawab pendidik, (c) kebebasan dan keterikatan anak didik,
(d) motivasi dalam kegiatan pendidikan, dan (e) asas aktivitas dan
kegiatan pendidikan
 Anak didik sebagai individu sedang berkembang,
pendidikan di sekolah hendaknya mampu untuk
mengembangkan kemampuan anak didik dalam aspek
intelektual sesuai pola perkembangan intelektual anak didik
(Jean Piaget). Menurutnya ada empat faktor yang menunjang
perkembangan mental anal yaitu kematangan (maturation),
pengalaman jasmani (phycical experience), pengalaman sosial
(social exsperience), dan keseimbangan (equalibration).
o Kematangan; proses perubahan fisiologis dan anatomis,
proses pertumbuhan tubuh, otak dan sistem saraf.

31
o Pengalaman jasmani; in teraksi dengan likungan fisik,
manifulasi objek di sekitarnya,
o Pengalaman sosial; interaksi dengan teman atau orang
lain, hilangnya sifat egosentris.
o Keseimbangan; proses respon terhadap perangsang
secara mental yang dibedakan atas dua macam (J Peaget)
yaitu (1) Asimilasi menerima informasi dari lingkungan
dan menggabungkannya ke dalam bagian atau struktur
konsep tertentu; dan (2) Akomodasi yaitu memodifikasi
bagan-bagan atau struktur konsep untuk menerima bahan
atau informasi baru.
 Kewibawaan dan Tanggung jawab Pendidik, pendidikan

berlangsung dalam suasana interaktif antara anak dengan


pendidik. Interaksi menjadi efektif jika anak didik secara aktif
ikut serta dalam situasi pergaulan tersebut (interaksi dialogis/
sosial). Tentunya diperlukan norma dan nilai untuk menjadi
panutan pergaulan tersebut. Dalam hal ini pendidik harus
memahami, menghayati, norma tersebut dalam arti pendidik
harus mempunyai sifat rajin dan disiplin sehingga dapat
berwibawa sebagai pangejawantahan tanggung jawab dari
pendidik.
 Kebebasan dan Keterikatan Anak didik, kebebasan dalam

arti berkait dengan kehidupan individual, sehingga anak


berkembang sesuai kodratnya. Keterikatan berkait dengan
hubungannya dengan kehidupan sosial (bermasyarakat)
 Motivasi dalam kegiatan pendidikan, diharapkan secara ideal

naka didik memiliki motivasi internal, hal ini berarti anak telah

32
mengerti tujuan belajarnya atau proses yang dialaminya. Jika
ini telah terjadi maka pendidik hanya berperan sebagai
pendamping, pembimbing dan mediator dengan cara
menerapkan berbagai metode dan memahami anak sebagai
subjerk berpribadi, menumbuhkan rasa cinta, dan menguasai
pengetahuan atau tugasnya secara luas.
 Asas aktivitet dalam kegiatan pendidikan, anak harus aktif

dalam proses pendidikan, sehingga pendidikan dipolakan untuk


dapat memberikan pengalaman kepada anak, dapat memberi
atau menciptakan umpan balik (feed back).

33
MODUL IV

USAHA PENDIDIKAN SEBAGAI SUATU SISTEM


Durasi: 3x Pertemuan

1. Konsep Sistem Pendidikan


o Sistem adalah kumpulan atau keseluruhan dari sejumlah

komponen (bagian) yang saling berhubungan dan berkaitan


dalam mencapai tujuan (goal) pendidikan.
o Sistem (oleh Ryans) keterkaitan dari sejumlah elemen (setiap
elemen dapat dikenali) sebagai suatu kesatuan organis yang
teratur dan berfungsi untuk mencapai tujuan.
o Jenis system dipahami dari wujudnya (G.B.Davis, W.A.Shrode,
dan D. Voice):
 Sistem fisik: computer, radio, dll.
 Sistem konseptual: ilmu, filsafat
 Sistem biologic: tubuh manusia, batang pohon, dll.
 Sistem social: keluarga, sekolah, masyarakat, dll.
o Jenis Sistem dari asal usul kejadiannya:

34
 Sistem alamiah: system tata surya
 Sistem buatan manusia: computer, motor
o Jenis Sistem dari daya geraknya:
 Sistem mekanistik (deterministic); jam tangan, sepeda
motor
 Sistem organismik (probabilistic); hewan, organisasi
o Jenis system dari hubungannya dengan lingkungan:
 Sistem terbuka ; berinteraksi dan memiliki
ketergantungan dengan lingkungan, mengambil input
dan memberi output kepada lingkungan.
 Sistem tertutup,; merupakan balikan dari system
terbuka.
o Ciri-Ciri Umum sebuah system:
 Goal seeking : ada tujuan
 Hierachy: ada sejumlah subsistem atau komponen
 Differentiation: memiliki daya beda
 Interrelated and interdevedence: setiap komponen

membentuk system saling hubungan dan saling


ketergantungan
 Wholism: hub antarkomponen sebagai keseluruhan
yang kompleks dan terorganisir.
 Setiap system berada dalam suprasistem yang dapat
membentuk system lebih besar.
 Boundaries: memeiliki batas pemisah dari system
lainnya.
 Bersifat terbuka dan tertutup

35
 Transformation: mengubah input menjadi output
 Feedback and correction: ada fungsi control untuk
mempertahankan prestasinya.
 Equifinality: setiap system dapat mengakhiri
seseuatu melalui cara yang berbeda.

o Model system: Model adalah suatu refresentatif


system yang nyata atau yang direncanakan (Elias M. Awad)
yang digambarkan sebagai:

Input proses output

Instrumental input
Kurikulum,pendidik,gedung,dll

Raw input Proses pendidikan output


(input mentah)
Siswa/ peserta didik

Environmental input
Lingk.sosial,ekonomi,budaya
feedback

Ada 12 komponen pokok system pendidikan (pendidikan nasional):


1. tujuan dan prioritas: berfungsi mengarahkan kegiatan
2. anak didik: berfungsi belajar untuk mencapai kedewasaan

3. pengelolaan: berfungsi merencanakan, mengkoordinasikan

36
4. struktur dan jadwal: berfungsi mengatur waktu dan pengelompokan
anak didik
5. isi (kurikulum) berfungsi bahan ajar
6. pendidik (guru) berfungsi menyediakan materi, mengkoordinasikan
7. alat Bantu ajar berfungsi agar pembelajaran menarik, lengkap dan
bervariasi
8. fasilitas berfungsi tempat terselenggaranya aktivitas pendidikan
9. teknologi berfungsi memperlancar pendidikan
10.pengawasan mutu berfungsi membina peraturan dan standar
pendidikan
11.penelitian berfungsi mengedmbangkan pengetahuan, penampilan
system, hasil kerja system.
12.biaya berfungsi sebagai petunjuk efisiensi system

2. Model Suprasistem Pendidikan Nasional

Masyarakat Internasional

Masyarakat Nasional

SisPolNas SisEkNas

Sis Pen Nas Tujuan Pemb.Nas


Tujuan Nasional

37
Sis SosBud Nas Sistem lainnya

Secara umum terdapat dua bentuk transformasi di dalam system


pendidikan nasional:
a. Pengelolaan pendidikan, baik dalam skala makro (tingkat
nasional/pusat), pengelolaan tingkat meso (daerah), maupun
dalam tingkat satuan pendidikan.
b. proses pendidikan, baik ditingkat satuan pendidikan di jalur
sekolah, maupun pada satuan pendidikan di jalur luar sekolah.

3. Jalur ,Jenjang, dan Jenis Pendidikan


a. Sesuai dengan Undang- Undang No.20 Th. 2003 Sistem
Pendidikan Nasional dijelaskan ada jalur pendidikan sekolah dan
jalur pendidikan luar sekolah.
b. Pada tiap jalur terdapat satuan pendidikan yang menyelenggarakan
kegiatan pembelajaran pada jenjang pendidikan tertentu.
c. Pada jalur pendidikan sekolah terdapat satuan pendidikan jenjang
pendidikan prasekolah, pendidikan dasar, pendidikan menengah,
dan satuan pendidikan jenjang pendidikan tinggi.
d. Pada jalur pendidikan luar sekolah terdapat pula satuan pendidikan
jenjang pendidikan tertentu, seperti keluarga, kursus, kejar dsbnya.

4. Elemen Usaha Pendidikan


o Elemen usaha pendidikan yaitu anak didik, pendidik , dan
elemen interaksi.

38
o Elemen anak didik dengan ciri-cirinya berupa jumlahnya,
tingkat perkembangannya, pembawaannya, tingkat
kesiapannya, minatnya, aspirasinya.
o Elemen pendidik dengan ciri-cirinya; umur pendidik, statusnya,
pembawaannya, kemampuannya, tingkat kesiapannya,
wataknya, wibawanya, dsb.
o Elemen interaksi pendidikan; isi interaksinya, alat interaksinya,
metode interaksi, bahasa yang dipakai, penampilan subjek yang
berinteraksi, dsb.
o Tiga elemen ini sebagai tinjauan mikro terhadap usaha
pendidikan, sedangkan tinjauan secara makro meliputi elemen
lebih luas seperti karyawan, yayasan, pengembang usaha
pendidikan
o Saling hubungan antarelemen, maka pendidik dan anak didik
sebagai elemen sentral dalam usaha pendidikan.
5. Ruang Lingkup dan Batas-batas Pendidikan
5.1 Ruang lingkup pendidikan
o Lingkup pendidikan dalam keluarga, sebagai bentuk hubungan
pendidikan yang bersifat dorongan instinktif dan tanggung
jawab moral.
o Lingkup pendidikan formal, bersifat lebih konflek dan spesifik
karena telah menyangkut pada tujuan yang lebih bersifat
institusional (tujuan institusional). Formal karena berhubungan
dengan syarat-syarat formal yang distandarisasikan.
o Lingkup pendidikan masyarakat (luar sekolah/ luar keluarga),
bersifat non-formal karena berada pada posisi antara pendidikan

39
keluarga yang informal dengan pendidikan sekolah yang
formal. Berbagai usaha pendidikan yang dilakukan dengan
memiliki tujuan untuk mensejahterakan anak didik.
o Ketiga ruang lingkup pendidikan ini saling berhubungan secara
proporsional sehingga tidak terjadi tumpang tindih.
o Dari sisi tanggung jawab moral dan sosial pendidik dapat
melaksanakan tugas mendidik menjangkau batas pendidikan
keluarga, sekolah dan masyarakat.

5.2 Batas-Batas Pendidikan


o Batas pendidikan pada anak didik, dapat terjadi sesuai

dengan ciri dari anak didik itu yaitu pertumbuhan dan


perkembangannya sangat tergantung kepada bakat, minat,
motivasi, perhatian, watak, pengetahuan, semangat yang
dimilikinya. Pendidik memberikan arahan sesuai dengan
potensi anak didik, dan potensi inilah yang membatasi
perkembangan anak didik.
o Batas pendidikan pada pendidik, keterbatasan pendidik yang

tidak dapat ditolerir adalah keterbatasan diri pendidik yang


berakibat tidak terjadinya interaksi pendidikan. Pendidi seperti
ini disebut pendidik yang tidak profesional dan memiliki
komitmen sebagai pendidik.
o Batas pendidikan dalam lingkungan dan sarana
pendidikan, dapat dipahami dari aspek kultur, kebendaan,
sosial, dan kemampuan berkomunikasi.

40
6. Akontabilitas Usaha Pendidikan.
6.1 Konsepsi Akontabilitas Pendidikan
o Akontabilitas pendidikan dimaksudkan sebagai
pertanggungjawaban tugas pendidikan.
o Akontabilitas meliputi komponen tujuan, kegiatan, penilaian,
dan umpan balik.
o Tujuan hendaknya jelas (sesuai gradualnya) jabarannya menjadi
tujuan khusus.
o Kegiatannya dapat diawasi sehingga dapat mengarah kepada
pencapaian tujuan.
o Kegiatan penilaian melahirkan hasil yang efektif karena sesuai
tujuan, dan prosesnya efisien dengan mengingat sumber yang
ada.
o Mekanisme umpan balik diperlukan untuk penyempurnaan
usaha pendidikan.
o Akointabilitas usaha pendidikan tidak mudah, karena
banyaknya komponen yang terkait dalam melaksanakan konsep
akontabilitas itu antara lain ada siswa, pendidik, administrator
pendidikan, lembaga pendidikan, tenaga kependidikan,
masyarakat, termasuk pemerintah, semuanya itu hendaknya
mempunyai komitmen dalam usaha pendidikan.

6.2 Jenis-Jenis Akontabilitas Pendidikan

Ada 3 jenis akontabilitas pendidikan yaitu akontabilitas keberhasilan,

akontabilitas profesional, dan akontabilitas sistem.

41
o Akontabilitas keberhasilan yaitu usah untuk mempersempit
jurang antara keadaan awal dengan keadaan akhir dari proses
pendidikan, sehingga diperlukan adanya kejelasan tugas-tugas
yang dipelajari, alat atau cara untuk melakukan pengukuran dan
penilaian secara objektif, dan diterapkannya suatu rentangan
atau range keberhasilan.
o Akontabilitas profesional, dalam hal ini perlu dipertanyakan

standar praktis tentang sikap, keterampilan, dan teknik guru


untuk mencapai hasil pendidikan (Kompetensi Pedagogik)
o Akontabilitas sistem, keterandalan sistem pendidikan dalam
menciptakan proses pendidikan untuk melahirkan keluaran
yang diharapkan oleh masyarakat.

Penyimpangan terhadap akontabilitas usaha pendidikan


Dapat terjadi karena tindakan-tindakan seperti: (menurut A.Ridwan
Halim) penekanan terhadap anak didik (motif komersial dan sentimen
pribadi), memenuhi kemauan pendidik, tindakan tidak wajar, pendidik
yang malas, picik, dan tidak menguasai bahan ajar atau menguasai
prinsip-prinsip pendidikan, tidak berwibawa, dsb.

Penggunaan alat pendidikan


Akontabilitas usaha pendidikan terkait erat pula dengan penggunaan
atau penerapan alat pendidikan. Alat pendidikan ialah suatu tindakan
atau situasi yang sengaja diadakan untuk tercapainya suatu tujuan
pendidikan. Memilih alat pendidikan berdasarkan (1) Tujuan yang
ingin dicapai; (2) Siapa yang akan menggunakan; (3) terhadap
siapakah alat itu ditujukan; (4) apakah alat untuk mencapai efek

42
tambahan yang merugikan? Alat pendidikan ada beberapa
karakteristiknya yaitu : (1) alat pendidikan yang positif (misalnya
pujian, pembiasaan, perintah, ganjaran) dan negatif seperti ancaman,
larangan, celaan, peringatan, hukuman; (2) alat pendidikan preventif
(untuk pencegahan seperti pembiasaan, perintah, pujian , ganjaran)
dan korektif ( untuk memperbaiki seperti celaan, ancaman, hukuman);
(3) alat pendidikan yang menyenangkan (menimbulkan perasaan
senang seperti hadiah, ganjaran, pujian) dan yang tidak
menyenangkan seperti hukuman dan celaan.
Apapun bentuk alat pendidikan itu dipergunakan untuk tujuan
mengarahkan anak kepada pencapaian tujuan pendidikan.

Masalah-Masalah Pokok Pendidikan


o Masalah-masalah seperti kuantitas anak didik, kualitas
pendidikan (sumber daya manusia) dan dana, Biaya pendidikan
semakin mahal (efisiensi), ketidak tepatan hasil (link and match
atau relevansi), dan kelambanan dan ketidak efektivitas sistem
pendidikan (akan bertahan kepada kemapanan), betapapun
masalah ini sudah lama disadari dan dirasakan tetapi diera
reformasi ini masih tetap urgensi.
o Hal yang menarik dan mengkhawatirkan ke depan adalah

semakin tingginya angka ketidak mampuan masyarakat dalam


menyesuaikan diri terhadap perubahan yang ada. A.Toffer
menyebutkan sebagai future shock , dan kemiskinan semakin
meningkat. Ini semua sebagai tugas yang besar bagi dunia
pendidikan dalam upaya meningkatkan sumber daya manusia.

43
o Upaya untuk memperkecil atau mempersempit kesenjangan
antara nilai yang diharapkan (das-solen value) dengan nilai
senyatanya (das-sein value), dan kesenjangan antara norma dan
nilai menjadi suatu tuntutan yang harus dicermati.

MODUL V

INOVASI PENDIDIKAN
Durasi: 3x Pertemuan

1. Pengertian Inovasi Pendidikan


Perubahan yang diadakan dan diupakan baik dalam bentuk gagasan,
objek, ataupun praktek pendidikan yang secara kualitatif berbeda dari
keadaan sebelumnya, untuk meningkatkan kemampuan guna mencapai
tujuan tertentu dalam bidang pendidikan.

2. Ciri-Ciri Inovasi Pendidikan:


Perubahan relative bari berbeda dengan keadaan sebelumnya
Lebih bersifat kualitatif ketimbang kuantitatif
c. Meliputi semua aspek yang ada dalam system pendidikan baik
dalam skala makro maupun mikro, aspek manajerial maupun aspek
oprasional
d. Perubahan berdasarkan fakta tentang masalah yang dihadapi bukan
berdasarkan senang atau tidak senang

44
e. Menuju kepada tujuan yang jelas yang dirumuskan pada
perencanaan yang matang.
f. Perubahan dilakukan dalam rangka perubahan system dan
meningkatkan kemampuan system pendidikan secara seoptimal
mungkin.
g. Pembaharu dapat memfaatkan sumber dana yang ada dan mungkin
terbatas tetapi dapat mencapai hasil yang maksimal.

3. Inovasi Pendidikan pada dasarnya memiliki visi dan misi


meningkatkan mutu system pendidikan dan memperluas kesempatan
belajarsesuai dengan potensi masyarakat, meningkatkan efisiensi dan
efektivitas pendidikan, serta relevansi pendidikan dengan kebutuhan
masyarakat dan pembangunan.
4. Sumber asal terjadinya inovasi pendidikan dapat dating dari
atas (top down) dan dapat pula dating dari bawah, yang meliputi
seluruh aspek dari system yang disesuaikan dengan kondisi sosekpol
setempat.
5. proses berlangsungnya inovasi pendidikan melalui tahapan
tertentu. Tahap inovasi dari sudut pandang pencipta dan pendorongnya;
(1) tahap pengenalan masalah, (2) tahap pengembangan meliputi saran
alternative pemecahan masalah, percobaan kembali, penilaian, dst. (3)
tahap penyebaran yang meliputi penerangan (persuasive),
pengorganisasian, pemberian restu dan sanksi, pengendalian dan
pengawasan, (4) tahap pencatatan (monitoring) dan penilaian. Dan dari
sudut pandang pihak yang menerima inovasi terdapat tahapan: (1) tahap
kesadaran (awareness), (2) tahap perhatian (interest), (3) tahap

45
penialaian (evaluation), (4) tahap percobaan (trial), dan (5) tahap
penerimaan (adoption).
6. Cepat lambatnya proses adopsi inovasi sangat tergantung
kepada sifat yang nmempengaruhinya seperti keuntungan relatif,
mamfaat, tingkat kesepadanan dengan norma setempat, tingkat
kerumitannya, dan mudah tidaknya untuk dicoba dan diamati hasilnya.
7. Alasan pentingnya inovasi pendidikan:
a. sumber-sumber makin terbatas, dan belum dimanfaatkannya
sumber yang ada secara efektif dan efisien.
b. system pendidikan yang lemah dengan tujuan yang masih
kabur, kurikulum yang belum serasi, suasana belajar yang kurang
mendukung,
c. dan pengelolaan pendidikan yang belum mantap dan belum
peka terhadap perubahan.

8. Jenis Inovasi pendidikan:


c. Inovasi dalm jenis hubungan antarorang missal pembaharuan
dalam peran guru, tata laksana baru.
d. Inovasi dalam jenis software (piranti lunak) seperti perubahan
mengenai tujuan dan struktur kurikulum, model system
penyampaian, dan cara penilaian kurikulum dan pendidikan
e. Inovasi dalam jenis hardware (piranti keras) misalkan perubahan
dan bentuk ruangan kelas karena tuntutan baru, metode mengajar,
system komputerisasi, proyeksi, laboratorium.
1. Beberapa upaya inovasi dalam pendidikan di Indonesia:
a. Pembaharuan dalam aspek tujuan pendidikan, sesuai dengan
perubahan kurikulum

46
b. Perubahan dalam aspek struktur dan perencanaan pendidikan
c. Perubahan dalam aspek yuridis dengan adanya perubahan
undang-undang pendidikan.
d. Perubahan dalam aspek kurikulum (KBK sampai KTSP).
e. Pembaharuan dalam aspek teknologi pendidikan
f. Pembaharuan dalam aspek proses pendidikan, seperti
pwnggunaan multimedia, multimetode, penggunaan inquiry-
discovery dan CBSA, penilaian program pengajaran dan
pendidikan.

8. bidang inovasi pendidikan meliputi bidang struktur pendidikan


nasional, mencakup jenis pendidikan, jenjang pendidikan, lembaga
pendidikan, dan mobilitas pendidikan, bidang kurikulum berupa
bahan kurikulum, komposisi kurikulum (kurnas atau kurlok/institusi),
system penyampaian dan evaluasi , dan bidang tenaga pendidikan
berupa pengadaan, pengangkatan, pembinaan system prestasi, status
dan penghargaan serta etika jabatan tenaga pendidikan.

Buku Bacaan:

 Pengantar Pendidikan: H. Dinn Wahyudin dkk, UT


 Mengasuh anak dengan Visi, Lauram Ramirez, 2004
 Dasar-Dasar Kependidikan, IKIP-Malang
 Filsafat Pend & Dasar Fil.Pend. Pancasila, Moh. Noor Syam
 Pend. Keluarga & Masalah Kewibawaan, Perquin- Russen
 Sejarah Pendidikan, Djumhur, H. Danasuparta
 Pengantar Pendidikan, Suwarno.
 Pendidikan dan Psikologi Anak, Ibnu Hasan & Mohamed A. Khalfan

47
 Autisme, Triantoro Safaria
 Modul Teori/ Pengantar Pendidikan, Akta V

48