Anda di halaman 1dari 1

Beberapa kali sempat disinggung mengenai one gene one polypeptide, namun belum ada yang

membuka topik tentang ini. Maka, saya memberanikan diri memberikan suatu uraian sederhana
mengenai hal tersebut. Mungkin nanti bisa ditambahi oleh bang milmi, bung hendy, atau om syx....
Kandungan informasi genetik berupa DNA dengan urutan nukleotidanya yang spesifik diwariskan
sepenjang generasi. Namun, bagaimana DNA mengatur sifat-sifat yang dimiliki oleh organisme?
Bagaimana pesan yang terdapat pada DNA bisa diterjemahkan menjadi sifat yang tampak mata
seperti rambut pirang, badan tinggi, atau mata lebar? Ingat pada percobaan kacang ercis Gregor
Mendel. Sifat pendek yang resesif terhadap sifat tinggi terbukti dapat diwariskan. Namun,
bagaimana mekanismenya sehingga organisme yang homozigot untuk alel pendek tersebut bisa
sungguh-sungguh pendek? Bagaimanakah cara kerja gen? Ilmuwan menemukan bahwa ternyata
ercis pendek yang diberi giberelin mampu tumbuh normal seperti saudaranya yang lain. Ternyata,
kacang ercis tersebut tidak memiliki enzim yang dibutuhkan dalam sintesa hormon giberelin. Protein
adalah suatu jembatan yang menghubungkan antara genotip dan fenotip!

Archibald Garrod adalah orang yang pertama kali mengusulkan bahwa orang yang menderita
penyakit herediter mewarisi ketidakmampuan membuat enzim tertentu dalam tubuh.
Dicontohkannya adalah Alkaptonuria, dimana urine penderita akan berwarna hitam karena zat
alkapton yang dalam kondisi normal bisa dipecah oleh tubuh. Penderita penyakit ini mengalami
ketidakmampuan mensintesa enzim yang digunakan dalam memecah alkapton.

Bukti tambahan mengenai hipotesa tersebut ialah percobaan Edward Tatum dengan cendawan roti.
Ketika Wild Type bisa hidup dengan medium minimum, ternyata ada beberapa versi mutan yang
baru bisa hidup ketika mediumnya diberi asam amino tertentu. Tatum menyimpulkan bahwa
macam-macam mutan tadi mengalami ketidakmampuan mensintesa enzim tertentu, memblok jalur
sintesa asam amino yang dibutuhkan. Cacat ini dialami oleh gen tunggal.

Ilmuwan pun mulai merumuskan hipotesa one gene – one enzyme, namun begitu disadari bahwa
ternyata banyak sekali protein (produk dari gen juga) yang bukan enzim, ambil contoh insulin (suatu
hormon), ahli biologi molekuler meralat hipotesa sebelumnya dan menggantinya dengan one gene –
one protein. Namun, banyak protein yang nyatanya terdiri dari beberapa jenis polipeptida yang
masing-masing sintesanya diarahkan oleh gen yang berbeda, seperti hemoglobin yang terdirid ari
dua jenis polipeptida. Maka, istilah yang lebih tepat adalah one gene – one polypeptide, satu gen
mengarahkan sintesa satu polipeptida (walaupun hal ini sekarang terbukti kurang tepat). Bagaimana
cara gen mengarahkan sintesa polipeptida? Silahkan cari informasi mengenai “transkripsi”, yakni
sintesa mRNA berdasar arahan DNA dan “translasi”, yakni sintesa protein berdasarkan arahan mRNA
di ribosom. Bandingkan pula dengan istilah “triplet nukleotida” dan “kodon”.

Seperti yang disebutkan diatas, ternyata istilah one gene – one polypeptide kurang tepat, ada
beberapa pengecualian dimana satu gen bisa mengarahkan sintesa lebih dari satu polipeptida
fungsional. Bagaimana caranya? Kuncinya adalah pengaturan bagian mana yang menjadi ekson, dan
mana yang menjadi intron selama pemrosesan mRNA.