Anda di halaman 1dari 34

PPEEN

NEER
RAAPPA
ANNM
MOOD
DEELL SSIIN
NEEK
KTTIIK
K

D
DAALLA
AMMM
MEEN
NIIN
NGGK
KAATTK
KAAN
NKKR
REEA
ATTIIVVIITTA
ASS M
MEEN
NUULLIISS

(Studi Kuasi Eksperimen dalam Pembelajaran Menulis

pada Siswa Kelas I SMPN di Kota Palembang)

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Memasuki milenium ketiga, lembaga pendidikan dihadapkan pada tantangan

yang sangat krusial, berkaitan dengan penyiapan dan pengembangan sumber daya

manusia yang berkualitas dan mampu berkompetisi dalam masyarakat global, yang

diwarnai oleh ketatnya kompetisi dan revolusi informasi sebagai dampak dari

kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pendidikan diselenggarakan untuk menyiapkan peserta didik menjadi pribadi-

pribadi anggota masyarakat yang mandiri. Pribadi yang mandiri adalah pribadi yang

secara mandiri mampu berpikir, menemukan dan menciptakan sesuatu yang baru,

melihat permasalahan serta menemukan cara pemecahan baru yang bernalar dan lebih

dapat dipertanggungjawabkan. Dengan kata lain pendidikan dapat dimaknai sebagai

proses mengubah tingkah laku anak didik agar menjadi manusia dewasa yang mampu

hidup mandiri dan sebagai anggota masyarakat dalam lingkungan alam sekitar

dimana individu itu berada (Sagala, 2005:3), melainkan juga mampu melakukan

perubahan dan menciptakan sesuatu yang baru. Kemandirian ini terbentuk melalui

1
kemampuan berpikir nalar dan kemampuan berpikir kreatif yang mewujudkan

kreativitas. Sumber daya manusia seperti itu sungguh diperlukan oleh bangsa kita

dalam rangka mewujudkan kehidupan masyarakat yang demokratis, menjunjung

tinggi supremasi hukum, egalitarian, dan religius.

Suatu pendekatan baru yang menarik dalam mengembangkan kreativitas telah

dirancang oleh Gordon dengan nama sinektik. Model sinektik ini merupakan strategi

pengajaran yang baik sekali untuk mengembangkan kemampuan kreatif dalam

menulis (Joyce dan Weil, 1980:182).

Dalam proses pengajaran bahasa, pengembangan dimensi kreativitas sangat

penting dan dapat dilaksanakan melalui berbagai kegiatan berbahasa. Kreativitas

merupakan hal yang penting dan menjadi salah satu ciri manusia yang berkualitas.

Munandar (1992:46) mengatakan bahwa kreativitaslah yang memungkinkan manusia

meningkatkan kualitas hidupnya. Untuk mencapai hal itu, perlulah sikap dan perilaku

kreatif dipupuk sejak dini.

Hasil-hasil penelitian mengungkapkan bahwa pengajaran beberapa bidang

studi dengan model sinektik cukup berhasil. Hasil-hasil penelitian tersebut antara

lain: (1) hasil penelitian yang dilakukan Heavilin di Indiana (1982) menunjukkan

bahwa perkuliahan English 104 (komposisi) yang berorientasi sinektik lebih berhasil

meningkatkan sikap positif terhadap mata kuliah 104 daripada sebelumnya; (2) hasil

penelitian yang dilakukan oleh Dodd di Maine (1988) menunjukkan bahwa para guru

yang diajar melalui program pelatihan yang berbasis sinektik meningkat

kemampuannya khususnya dalam perilaku kognitif (pelatihan dilakukan selama 8

2
bulan terhadap 12 guru); (3) hasil penelitian yang dilakukan oleh Ahmad

Mulyadiprana (1997:81) menunjukkan bahwa penerapan model sinektik dalam

mengembangkan kreativitas siswa terbukti secara menyakinkan lebih efektif daripada

model pembelajaran konvensional, baik dalam mengembangkan keterampilan

berpikir maupun dalam meningkatkan prestasi belajar.

Model pembelajaran sinektik ini tampaknya belum banyak diterapkan dalam

ilmu-ilmu sosial (termasuk dalam pembelajaran bahasa Indonesia). Oleh karena itu,

model pembelajaran sinektik ini perlu dicoba untuk diuji efektivitasnya dalam

meningkatkan kreativitas menulis pada siswa kelas I SMP. Apakah penerapan model

pembelajaran sinektik dapat meningkatkan prestasi siswa.

1.2 Rumusan Masalah

Sesuai dengan ruang lingkup masalah seperti yang telah dituangkan di atas, maka

masalah pokok penelitian ini dirumuskan sebagai berikut. Apakah model sinektik

yang dikembangkan dalam penelitian ini dapat meningkatkan keterampilan menulis?

Pertanyaan itu dirinci lagi seperti berikut.

1) Seberapa besar tingkat keterlibatan atau aktivitas siswa kelas I SMP Negeri 13

Palembang dalam proses belajar mengajar menulis dengan menggunakan model

sinektik?

2) Aspek-aspek manakah yang dapat ditingkatkan dengan penerapan model

sinektik?

3) Aspek-aspek manakah yang berpengaruh terhadap peningkatan kreativitas siswa

dalam menulis?

3
4) Dalam proses belajar mengajar menulis, model pembelajaran manakah yang lebih

efektif meningkatkan kreativitas siswa, model sinektik atau model konvensional?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang telah disampaikan di atas, maka tujuan

penelitian ini adalah sebagai berikut.

1) Mengkaji seberapa besar tingkat keterlibatan atau aktivitas siswa kelas I SMP

Negeri 13 dalam proses belajar mengajar menulis dengan menggunakan model

sinektik.

2) Mengkaji aspek-aspek yang dapat ditingkatkan dengan penerapan model sinektik.

3) Mengkaji aspek-aspek yang berpengaruh terhadap peningkatan kreativitas siswa

dalam menulis.

4) Menguji efektivitas model pembelajaran di antara model pembelajaran sinektik

dan model pembelajaran konvensional dalam meningkatkan kreativitas menulis

siswa kelas I SMP Negeri 13 Palembang.

1.4 Asumsi Penelitian

Penelitian ini didasarkan atas sejumlah asumsi sebagai berikut:

1) Setiap siswa memiliki kemampuan menulis dan kemampuan berpikir kreatif


dengan tingkat yang berbeda-beda.
2) Kemampuan menulis merupakan kemampuan dasar yang harus dikuasai siswa.

3) Kemampuan menulis dapat dipelajari dan dilatih.

4) Kemampuan menulis dapat diukur melalui tes.

4
5) Kreativitas menulis siswa dapat ditingkatkan.

1.5 Hipotesis Penelitian

Untuk menguji hipotesis kerja (Hi) penelitian ini diperlukan beberapa asumsi

yang harus dipenuhi. Hi diterima jikalau: (1) tidak ada perbedaan yang signifikan

antara kemampuan awal kelompok kontrol dengan kelompok eksperimen, (2) ada

perbedaan yang signifikan antara kemampuan awal dengan prestasi hasil belajar

dalam kelompok eksperimen, (3) ada perbedaan yang signifikan antara prestasi hasil

belajar kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol, (4) perubahan skor dalam

kelompok eksperimen menunjukkan peningkatan.

1.6 Definisi Operasional

Untuk menghindari adanya salah pengertian tentang konsep-konsep yang akan

dikaji dalam penelitian ini, maka perlu adanya penjelasan beberapa istilah seperti

yang dituangkan di bawah ini.

1) Model Sinektik dapat dipahami sebagai strategi mempertemukan berbagai macam

unsur, dengan menggunakan kiasan untuk memperoleh satu pandangan baru

(Gordon,1980:168).

2) Model kuasi kuasi eksperimen didefinisikan sebagai model pembelajaran yang

diterapkan pada kelas eksperimen, yang di dalamnya ditandai dengan kegiatan-

kegiatan: penyajian materi pelajaran dalam bentuk permasalahan untuk

dipecahkan sendiri oleh siswa, bimbingan guru berupa jawaban-jawaban singkat

5
atau pertanyaan-pertanyaan pengarah sedemikian rupa sehingga siswa dapat

menemukan cara untuk memecahkan permasalahan yang dihadapinya.

3) Model Konvensional didefinisikan sebagai model pembelajaran yang diterapkan

pada kelas kontrol/pembanding, yang di dalamnya ditandai dengan penyajian

pengalaman-pengalaman yang berkaitan dengan konsep yang akan dipelajari,

dilanjutkan dengan pemberian informasi oleh guru, pemberian ilustrasi atau

contoh soal oleh guru, diskusi dan tanya jawab sampai akhirnya guru merasa apa

yang telah diajarkannya dapat dimengerti oleh siswa.

4) Kreativitas dapat dipahami sebagai kemampuan seseorang untuk melahirkan

sesuatu yang baru, baik berupa gagasan maupun karya nyata, yang relatif berbeda

dengan apa yang telah ada sebelumnya (Supriadi,1994:7). Kreatifitas juga

didefinisikan sebagai kemampuan umum untuk mencipta sesuatu yang baru,

sebagai kemampuan untuk memberi gagasan-gagasan baru yang dapat diterapkan

dalam pemecahan masalah, atau kemampuan untuk melihat hubungan-hubungan

baru antara unsur-unsur yang sudah ada sebelumnya. Dengan kata lain kreativitas

merupakan proses merasakan dan mengamati adanya masalah, membuat dugaan

tentang kekurangan (masalah) ini, menilai dan menguji dugaan atau hipotesis,

kemudian mengubah dan mengujinya lagi, dan akhirnya menyampaikan hasilnya.

5) Kemampuan Menulis adalah kemampuan siswa dalam menulis karangan dengan

memperhatikan aspek kebahasaan yang tercermin dalam penggunaan kata,

kalimat, dan mekanika penulisan.

1.7 Manfaat Penelitian

6
Hasil penelitian ini akan berupa temuan empiris dari penerapan model

sinektik dalam meningkatkan kreativitas menulis dalam konteks pembelajaran

menulis di SMP. Temuan tersebut dipandang penting untuk dua kegunaan: teoretis

dan praktis. Untuk kegunaan teoretis diharapkan dapat memberi sumbangan

konseptual pada pendidikan bahasa, khususnya dalam pembelajaran menulis di SMP.

Penerapan konsep tersebut diharapkan dapat memberdayakan Konsep Cara Belajar

Siswa Aktif (CBSA). Secara konseptual temuan tersebut akan menjadi khazanah

keilmuan yang dapat dirujuk oleh para peneliti, pengambil kebijakan, para guru

bahasa Indonesia, atau siapa saja yang menaruh minat pada perkembangan inovasi di

bidang pembelajaran bahasa Indonesia, khususnya pembelajaran menulis melalui

model sinektik.

Temuan untuk kegunaan praktis diharapkan dapat memberikan sumbangan

substansial, khususnya kepada para guru, berupa produk program dan proses

penyusunannya. Guru-guru, baik secara perseorangan maupun kelompok, dapat

menerapkan, menguji, dan mengembangkan lebih lanjut dalam upaya menolong

siswa tumbuh menjadi anggota masyarakat yang literat.

2. METODE PENELITIAN

Penelitian ini bernuansa kuantitatif dengan menggunakan rancangan kuasi

eksperimen. Desain yang digunakan adalah The Matching Only Pretest-Postest

Control Group (Fraenkel & Wallen, 1993:243).

7
3. LANDASAN TEORI

3.1. Penerapan Model Sinektik dalam Meningkatkan Kreativitas Menulis

3.1.1 Hakikat Model

Pada hakekatnya kata “model” memiliki definisi yang berbeda-beda sesuai

dengan bidang ilmu atau pengetahuan yang mengadopsinya. Salah satu definisi

model seperti yang dikemukakan Dilworth (1992:74) berikut, “A model is an abstract

representation of some real world process, system, subsystem. Model are used in all

aspect of life. Model are useful in depicting alternatives and in analysing their

performance”. Berdasarkan pendapat tersebut dapat dikatakan bahwa model

merupakan representasi abstrak dari proses, sistem, atau subsistem yang konkret.

Model digunakan dalam seluruh aspek kehidupan. Model bermanfaat dalam

mendeskripsikan pilihan-pilihan dan dalam menganalisis tampilan-tampilan pilihan

tersebut.

3.1.2 Model Pembelajaran Sinektik

Menurut Joyce, Weil, dan Calhoun (2000:135) semua model mengajar

mengandung unsur model berikut: (1) orientasi model, (2) urutan kegiatan (syntax),

sistem sosial (social system), (4) prinsip reaksi (principle of reaction), (5) sistem

penunjang (support system), dan (6) dampak instruksional dan penyerta (instructional

and nurturant effect). Dalam hal ini model pembelajaran sinektik juga harus

mencakup semua unsur tersebut.

8
1. Orientasi Model

Istilah sinektik berasal dari bahasa Yunani yang berarti penggabungan unsur-

unsur atau gagasan-gagasan yang berbeda-beda yang tampaknya tidak relevan.

Menurut William J.J. Gordon (1980:168), sinektik berarti strategi mempertemukan

berbagai macam unsur, dengan menggunakan kiasan untuk memperoleh satu

pandangan baru. Selanjutnya Model Sinektik yang ditemukan dan dirancang oleh

William JJ Gordon ini berorientasi meningkatkan kemampuan pemecahan masalah,

ekspresi kreatif, empati dan wawasan dalam hubungan sosial.

2. Rangkaian Kegiatan

Unsur kegiatan atau sintaksis merujuk pada rincian atau tahapan kegiatan

model sehingga fase-fase kegiatan model tersebut teridentifikasi dengan jelas. Unsur

kedua pembangun model sinektik ini adalah proses belajar mengajar sebagai struktur

model pembelajaran.

Ada dua strategi dari model pembelajaran sinektik, yaitu strategi

pembelajaran untuk menciptakan sesuatu yang baru (creating something new) dan

strategi pembelajaran untuk melazimkan terhadap sesuatu yang masih asing (making

the strange familiar). Kedua strategi dari model pembelajaran sinektik dapat dilihat

pada tabel berikut.

9
Tabel 3.1 Strategi Sinektik I: Menciptakan Sesuatu yang Baru

Tahap Pertama: Tahap Kedua:

Mendeskripsikan kondisi nyata pada Analogi langsung

saat itu Siswa mengajukan analogi langsung,

Guru mengharapkan siswa mampu memilih salah satu, dan menjelaskan


lebih lanjut
mendeskripsikan situasi atau topik

sebagaimana yang dilihat pada saat itu

Tahap Ketiga: Tahap Keempat:

Analogi langsung Konflik kempaan

Siswa melakukan analogi sebagaimana Siswa membuat deskripsi sesuai tahap

yang mereka pilih pada tahap kedua I dan II, dan mengembangkan konflik

kempaan, dan memilih salah satu

Tahap Kelima: Tahap Keenam:

Analogi langsung Ujicoba terhadap tugas semula

Siswa mengembangkan dan Guru meminta siswa meninjau kem-

Menyeleksi analogi langsung lainnya bali tugas semula dan menggunakan


analogi terakhir dan atau memasukkan
berdasarkan kempaan
pengalaman sinektik

10
Tabel 3.2 Strategi Sinektik II: Melazimkan Sesuatu yang Asing

Tahap Pertama: Tahap Kedua:

Input Substantif Analogi Langsung

Guru memberi informasi topik baru Guru mengajukan analogi langsung

dan meminta siswa mendeskripsikan

analogi tersebut

Tahap Ketiga: Tahap Keempat:

Analogi Personal Membandingkan Analogi

Guru meminta siswa membuat analogi Siswa mengidentifikasi dan

personal Menjelaskan butir-butir yang sama di

antara materi sedang dibahas dan

analogi langsung

Tahap Kelima: Tahap Keenam:

Menjelaskan berbagai perbedaan Eksplorasi

Siswa menjelaskan analogi-analogi Siswa menjelaskan kembali topik

yang salah atau berbeda semula menurut bahasanya sendiri

Tahap Ketujuh:

Memunculkan Analogi Baru

11
Siswa memberikan analoginya sendiri

dan menjelaskan mana yang sama atau

berbeda

Berdasarkan dua strategi di atas, penelitian ini menggunakan strategi kedua.

Alasannya, strategi ini baik sekali untuk mengembangkan kemampuan kreatif dalam

menulis.

3. Sistem Sosial

Sistem sosial menandakan hubungan yang terjalin antara guru dan siswa,

termasuk norma atau prinsip yang harus dianut dan dikembangkan untuk

pelaksanaan model. Model ini menuntut agar antara guru dan siswa terdapat

hubungan yang kooperatif di mana guru menjalankan dwifungsi sebagai

pemrakarsa dan pengontrol aktivitas siswa pada setiap tahap. Selain itu guru

menjadi fasilitator bagi kegiatan siswa dalam proses belajar mengajar.

4. Prinsip Reaksi

Prinsip reaksi bermakna sikap dan perilaku guru untuk menanggapi dan merespon

bagaimana siswa memproses informasi, menggunakannya sesuai pertanyaan yang

diajukan oleh guru. Tugas penting yang diemban guru pada tahap ini adalah

menangkap kesiapan siswa menerima informasi baru dan aktivitas mental baru untuk

dipahami dan diterapkan.

12
4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Analisis Pascaperlakuan

4.1.1 Perbedaan Kemampuan Menulis Siswa SMPN 13 Palembang Sebelum

dan Sesudah Penerapan Model Sinektik

Secara umum kemampuan menulis siswa sebelum model sinektik

diberlakukan termasuk dalam kategori sedang yaitu 61,74%. Hal ini disebabkan oleh

kurangnya motivasi guru untuk melatih siswa menulis. Kegiatan menulis atau

mengarang biasanya diminta guru dilakukan siswa setelah libur sekolah. Tema cerita

seputar kegiatan liburan. Tulisan atau karangan siswa secara substansi tidak

menyentuh aspek kognitif apalagi aspek afektif.

Setelah model pembelajaran model sinektik diberlakukan, keterampilan

menulis siswa meningkat menjadi 75,41%. Ini berarti bahwa kemampuan menulis

siswa termasuk dalam kategori baik.

Taraf signifikansi antara kemampuan awal (prates) dan kemampuan akhir

(pascates) siswa SMPN 13 Palembang tergolong baik. Artinya, kemampuan awal

siswa baik maka kemampuan akhir dalam menulis tergolong baik pula. Hal ini

terbukti dengan didapatkannya nilai signifikansi prates-pascates kemampuan menulis

yang lebih kecil dari batas nilai signifikansi 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa

rata-rata nilai prates-pascates berbeda secara signifikan.

Secara teoretis, hubungan antara hasil prates dan pascates menunjukkan

tingkat signifikansi yang tinggi karena proses pembelajaran yang menggunakan

13
model sinektik sangat mendukung kebermaknaan hubungan tersebut. Tahap-tahap

pembelajaran diawali dengan membaca cerpen “Sampah Bulan Desember” dan

dilanjutkan dengan tujuh tahap sinektik yang dirangkaikan dengan kolaborasi

sehingga memunculkan satu model baru yang diberi nama sinekborasi.

4.1.2.Perbedaan Kemampuan Menulis Siswa di Kelas Eksperimen dan Kelas

Kontrol

Perbedaan kemampuan menulis siswa kelas 1 SMPN 13 Palembang antara

kelompok eksperimen dan kelompok kontrol adalah signifikan. Temuan ini

berdasarkan hasil uji-t yang menunjukkan adanya perbedaan kemampuan menulis

antara kelas yang menerapkan model sinektik dengan kelas yang menerapkan model

pembelajaran konvensional. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa model

sinektik dapat mengembangkan keterampilan menulis siswa.

Perbedaan kemampuan menulis tersebut dapat diketahui berdasarkan hasil

pengukuran kemampuan awal siswa terhadap menulis, yakni rata-rata 61,74 menjadi

75,41 setelah perlakuan model sinektik. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa

kemampuan menulis sebelum perlakuan model sinektik rendah, sedangkan

kemampuan menulis setelah perlakuan model sinektik meningkat. Meningkatnya

kemampuan menulis siswa menunjukkan bahwa model sinektik yang didasari oleh

model berpikir induktif berkualitas. Hal ini sejalan dengan temuan Joyce, dkk. (1996)

bahwa model tersebut meningkatkan kualitas menulis siswa.

14
4.1.3 Keefektifan Model Pembelajaran Sinektik

Untuk mengukur keefektifan sinektik di kelompok kuasi eksperimen

digunakan dua bentuk pengujian yaitu uji-t dan uji gain. Berdasarkan analisis data

pada Bab IV dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran sinektik efektif

digunakan di kelompok kuasi eksperimen. Keefektifan model tersebut sejalan dengan

temuan Joyce, dkk. (2000:138) bahwa latihan yang dilakukan secara mandiri yang

merupakan kontribusi dari model berpikir induktif sebagai fondasi penyusunan model

sinektik dapat meningkatkan keefektifan. Kesimpulan tersebut didukung pula oleh

pembahasan tentang kualitas proses pembelajaran sinektik.

Uji-t merupakan pengukuran pertama yang dilakukan untuk mengidentifikasi

keefektifan model sinektik yaitu dengan membuktikan tingkat signifikansi perbedaan

antara kemampuan menulis kelas kuasi eksperimen dengan kelas kontrol. Hasil yang

diperoleh dari pengukuran tersebut adalah terdapat perbedaan yang signifikan antara

kemampuan akhir menulis siswa kelas 1 SMPN 13 Palembang di kelas kuasi

eksperimen (model pembelajaran sinektik) dan kelas kontrol (model pembelajaran

konvensional). Berdasarkan uji-t didapatkan bahwa gain skor total keterampilan

menulis kelompok eksperimen (13,29) lebih tinggi dari pada kelompok kontrol

(9,09). Berdasarkan uji lebih lanjut ditemukan perbedaan ini signifikan sampai

tingkat kepercayaan 95% (yaitu dengan nilai t = 3,345 dan taraf signifikansi 0,001)

dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa model sinektik lebih efektif dibandingkan

model konvensional untuk meningkatkan keterampilan menulis siswa. (Hasil

selengkapnya untuk uji-t disajikan pada lampiran)

15
Sementara itu, pengukuran lainnya untuk mengidentifikasi keefektifan model

sinektik adalah uji gain. Berdasarkan uji gain dapat disimpulkan bahwa model

sinektik efektif. Hal ini terbukti dengan adanya peningkatan atau pengembangan

kemampuan menulis setelah diukur dengan gain yang membandingkan selisih antara

prates dan pascates.

Kedua pengukuran di atas diperkuat pula oleh kualitas pembelajaran menulis

dengan model sinektik sehingga tingkat keefektifan model tersebut memiliki tingkat

validasi yang tinggi. Berdasarkan hasil observasi terhadap tahap-tahap pembelajaran

di kelas kuasi eksperimen menunjukkan bahwa kualitas PBM di kelas tersebut baik

karena model pembelajaran yang diberlakukan di kelas tersebut diinformasikan

kepada siswa, data informasi dinilai dan dikaji oleh siswa, hasil interpretasi data

disusun menjadi tulisan atau karangan, didukung oleh komponen pembelajaran dan

suasana kelas yang demokratis.

5. Simpulan

Berdasarkan hasil temuan, pembahasan, dan analisis data, dapat diambil

simpulan sebagai berikut.

5.1. Simpulan Umum

Pelaksanaan pembelajaran menulis berdasarkan model sinektik dirancang

berdasarkan model personal, yaitu suatu model pembelajaran yang menekankan

kepada proses mengembangkan kepribadian individu siswa dengan memperhatikan

kehidupan emosional. Model sinektik sendiri memfasilitasi siswa mengembangkan

16
tiga aspek utama yang dimiliki siswa yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor secara

serempak.

Model pembelajaran ini terdiri atas 7 tahap yaitu input substantif, analogi

langsung, analogi personal, membandingkan analogi, menjelaskan berbagai

perbedaan, eksplorasi, dan memunculkan analogi baru.

Pembelajaran bahasa untuk mengembangkan keterampilan menulis

dilaksanakan dengan tahap-tahap berikut.

1) Input substantif: guru membagikan bacaan kepada siswa.

2) Analogi langsung: guru menjelaskan tentang bacaan kepada siswa.

3) Analogi personal: siswa membuat karangan sendiri berdasarkan bacaan.

4) Membandingkan analogi: siswa diskusi dengan teman dengan cara kelompok.

5) Menjelaskan berbagai perbedaan: siswa mengadakan diskusi kelas.

6) Eksplorasi: siswa diskusi dengan teman dengan cara kelompok.

7) Memunculkan analogi baru: siswa memberikan karangan yang sudah direvisi.

Berdasarkan hasil analisis proses belajar model sinektik dan penilaiannya,

penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut.

1) Pertemuan I

Berdasarkan hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa sikap siswa pada

umumnya positif. Mereka senang ketika diberitahu bahwa karangannya akan dinilai

dan dipajang bagi yang mendapat penilaian yang baik. Pembagian cerpen kepada

siswa disambut dengan antusias. Siswa segera membaca cerpen yang diberikan guru

dan mendengarkan penjelasan-penjelasan yang diberikan guru selanjutnya.

17
2) Pertemuan II

Berdasarkan hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa siswa mulai menulis

gagasan-gagasan di kertas buram sambil berdiskusi dengan teman sebangkunya dan

sekali-kali bertanya pada guru tentang apa yang belum dipahaminya.

3) Pertemuan III

Hasil observasi mengidentifikasikan bahwa siswa mulai mengembangkan

gagasan-gagasan di kertas buram menjadi beberapa kalimat. Beberapa siswa

mengaku kesulitan untuk mengembangkan kerangka karangannya. Namun setelah

gurunya membantu dengan memberikan kalimat pertama pada lembar karangannya,

mereka mulai berkonsentrasi.

4) Pertemuan IV

Hasil observasi mengidentifikasikan bahwa siswa sudah dapat

mengembangkan beberapa kalimat menjadi karangan. Mereka tidak takut

karangannya akan dinilai, dan senang pula bisa membaca karangan teman-temannya.

Mereka rata-rata menginginkan karangannya di pajang di kelasnya.

5) Pertemuan V

Berdasarkan hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa siswa memperbaiki

draf karangannya. Sungguh mengharukan, siswa saling membaca draf karangan dan

memberi saran perbaikan secara berpasangan. Awalnya mereka berpasangan dengan

teman sebangkunya, tetapi kemudian terjadi saling intip, bergerak menemui teman

lainnya, berbeda pendapat, dan meminta penjelasan guru.

18
6) Pertemuan VI

Berdasarkan hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa proses pada

pertemuan V terjadi juga pada pertemuan VI yaitu pada waktu kegiatan mengedit

karangan.

7) Pertemuan VII

Berdasarkan hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa siswa saling

membaca karangan teman dalam kelompok kecil (4-5 orang), kemudian memberikan

umpan balik terhadap tulisan-tulisan tersebut, kemudian dilanjutkan membaca tulisan

setiap kelompok dan memberikan umpan balik terhadap kelompok lain. Dalam tahap

umpan balik ini, guru dapat memanggil siswa dan membicarakan konsep mereka

yang sekarang maupun karangan mereka sebelumnya. Setelah itu, mereka siap untuk

membuat naskah akhir.

8) Pertemuan V

Berdasarkan hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa siswa pada tahap ini

telah siap untuk menulis naskah, dengan memperhatikan petunjuk-petunjuk revisi.

Pada tahap ini mereka diminta untuk betul-betul memperhatikan tujuan dari karangan

mereka dan memperhatikan para calon pembaca yang akan membaca tulisan mereka.

Setelah naskah akhir selesai dan direvisi, para siswa bekerja berpasangan-pasangan

untuk menyunting pekerjaan mereka. Tahap ini bertujuan untuk memberikan

kesempatan kepada siswa untuk mengetahui kesalahan-kesalahan tersebut setidak-

tidaknya mereka menyadari sendiri kesalahan-kesalahan yang telah dilakukannya itu

untuk dijadikan sebagai pengalaman.

19
9) Pertemuan IX

Berdasarkan hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa siswa pada tahap ini

saling membaca draf karangan dan mengedit karangan hasil perbaikannya. Pertama

mereka berpasangan dengan teman sebangkunya, kemudian bergerak menemui

teman-teman lainnya. Siswa juga memperbaiki karangannya sekali lagi dengan

menulisnya pada lembar karangan yang disediakan dan menyimpan karangan jadi

pada map masing-masing.

10) Pertemuan X

Berdasarkan hasil observasi dapat disimpulkan bahwa siswa pada kegiatan

memilih dan memajang karangan, situasi kelas terlihat ramai. Pertama mereka saling

membaca karangan teman dalam kelompok kecil (4-5 orang), kemudian memilih satu

karangan terbaik dikelompoknya. Setiap kelompok ramai mendiskusikan pilihannya

dengan kriteria masing-masing. Dalam diskusi kelas. siswa yang karangannya

diunggulkan diminta membacakan karangan di depan kelas. Siswa yang lain

menilainya. Para siswa tampak terbiasa mengikuti proses pembelajaran seperti itu.

Berikut adalah catatan yang berhubungan dengan kriteria karangan yang baik

menurut siswa yaitu: karangan tersebut baik, setiap kalimat dimulai dengan huruf

besar dan diakhiri dengan tanda baca yang tepat, awal paragraf ditulis agak menjorok

ke dalam, dan dibacanya lancar.

20
5.2 SIMPULAN Dalam MENJAWAB PERTANYAAN PENELITIAN

Berdasarkan hasil analisis dari pengembalian instrumen penelitian pada

penelitian dapat disimpulkan jawaban terhadap pertanyaan penelitian seperti berikut

ini.

1) Untuk pertanyaan apakah proses belajar mengajar dengan menggunakan model

sinektik dapat meningkatkan keterlibatan atau aktivitas siswa kelas I SMPN 13

Palembang dalam keterampilan menulis dapat disimpulkan bahwa model sinektik

dapat meningkatkan keterlibatan atau aktivitas siswa kelas I SMPN 13 Palembang

dalam keterampilan menulis. Hal ini tampak dari data bahwa siswa kelompok

eksperimen yang tadinya dari angket hanya 67,45% yang menjawab “YA”

mempunyai peningkatan gain keterampilan menulis dengan rata-rata 11,38

dibandingkan dengan kelompok kontrol dari jawaban “YA” 72,16% hanya

meningkat gainnya sebesar 9,09. Berdasarkan uji lebih lanjut ditemukan bahwa

perbedaan ini signifikan sampai tingkat kepercayaan 95% (yaitu dengan nilai t =

3,345)

2) Untuk pertanyaan mengenai aspek-aspek karangan yang dapat ditingkatkan

melalui penerapan model sinektik dapat dijawab bahwa semua aspek dapat

ditingkatkan, dan terjadi perbedaan signifikan pada aspek-aspek isi karangan dan

pengorganisasian ide dengan nilai t = 3,32 dan 3,30 yang signifikan sampai taraf

95%. Jadi dapat disimpulkan bahwa pengajaran dengan model sinektik dapat

meningkatkan semua aspek, terutama aspek isi karangan dan aspek

pengorganisasian ide. Hal ini dapat dipahami mengingat bahwa siswa yang belajar

21
dengan model sinektik meningkat daya imajinasinya sehingga lebih mampu

mengorganisasi ide dan berimajinasi untuk isi karangan.

3) Untuk pertanyaan aspek-aspek karangan yang berpengaruh terhadap peningkatan

kreativitas siswa dalam menulis setelah menggunakan model pembelajaran

sinektik dapat disimpulkan dari hasil uji berikut. Melalui analisis dengan regresi

sederhana untuk model pertama yang menguji pengaruh aspek Isi Karangan

terhadap peningkatan kreativitas siswa dalam menulis karangan setelah mengikuti

pembelajaran dengan model sinektik, ternyata diperoleh harga koefisien Beta (R

hitung) hanya sebesar -0,017, dengan taraf signifikansi 0,917. Ini berarti

pengaruhnya terhadap peningkatan kreativitas siswa dalam menulis karangan

melalui model pembelajaran sinektik tidak signifikan atau tidak ada. Pengujian

pengaruh Aspek Pengorganisasian Ide terhadap aktivitas siswa diperoleh harga

koefisien β sebesar 0.351, dengan taraf signifikansi 0.086. Dalam hal ini

walaupun tidak signifikan sampai taraf 95%, tapi dapat kita katakan bahwa

pengaruhnya dapat dipercaya sampai 91,4%. Pengujian pengaruh Aspek

Pemilihan Kata terhadap diperoleh harga koefisien β sebesar -0.091, dengan taraf

signifikansi 0,682 atau tidak terdapat pengaruhnya terhadap aktivitas siswa.

Pengujian pengaruh Aspek Tata Bahasa terhadap diperoleh harga koefisien β

sebesar 0,442, dan taraf signifikansi 0,028. Ini berarti terdapat pengaruh aspek

tata bahasa terhadap aktivitas siswa melalui model pembelajaran sinektik.

Pengujian pengaruh Aspek Mekanika Penulisan terhadap diperoleh harga

22
koefisien β sebesar 0,307, dengan taraf signifikansi 0,018. Dalam hal ini dapat

dikatakan terdapat pengaruh aspek mekanika penulisan terhadap peningkatan

kreativitas siswa dalam menulis karangan melalui model pembelajaran sinektik.

Kesimpulannya bahwa dari kelima aspek karangan yang mampu mempengaruhi

aktivitas atau keterlibatan siswa dalam menulis karangan melalui pembelajaran

dengan menggunakan model sinektik ada dua aspek yang lebih signifikan

memberikan pengaruh yang berarti, yaitu aspek tata bahasa dan aspek mekanika

penulisan. Adapun aspek yang lainnya masih belum signifikan sampai tingkat

kepercayaan 95% (Perlu menjadi perhatian bahwa aspek pengorganisasian ide

memberi pengaruh sampai 91%).

4) Untuk pertanyaan apakah model sinektik lebih efektif daripada model

konvensional dalam meningkatkan kreativitas siswa dalam pembelajaran menulis di

SMPN 13 Palembang dapat disimpulkan dari hasil uji t hasil tes instrumen hasil

belajar berkaitan dengan skor total keterampilan menulis siswa dalam menulis

karangan, dimana didapatkan bahwa gain skor total keterampilan menulis kelompok

eksperimen (13,29) lebih tinggi dari pada kelompok kontrol (9,09). Berdasarkan uji

lebih lanjut ditemukan bahwa perbedaan ini signifikan sampai tingkat kepercayaan

95% (yaitu dengan nilai t = 3,345 dan taraf signifikansi 0,001). Dalam hal ini dapat

kita simpulkan bahwa model sinektik lebih efektif dibandingkan model konvensional

untuk meningkatkan keterampilan menulis siswa. Dari kedua analisis yang dilakukan

tersebut dapat disimpulkan bahwa proses belajar mengajar menulis dengan

23
menggunakan model sinektik mampu memberikan tingkat keefektifan yang lebih

tinggi daripada proses pembelajaran dengan menggunakan model konvensional di

SMP 13 Palembang. Selain itu, berkaitan dengan kualitas pembelajaran menulis dapat

juga disimpulkan:

1) Model sinektik dalam pembelajaran menulis mempunyai keunggulan dalam

mengembangkan dua ranah taksonomi yaitu kognitif dan afektif/emosional.

Model ini tidak hanya mengasah aspek kognitif, tetapi juga menajamkan aspek

afektif/emosional siswa. Artinya model ini mendukung tujuan pembelajaran

menulis berdasarkan kurikulum 1994 yang telah disesuaikan dengan suplemen

GBPP 1999 yakni meningkatkan kemampuan berbahasa, berpikir, bernalar, dan

memperluas wawasan, dan sesuai juga dengan KBK.

2) Model sinektik dalam pembelajaran menulis tidak luput dari kelemahan juga.

Secara umum, model ini menghabiskan waktu cukup lama karena siswa harus

merespons tahap demi tahap sampai tujuh tahap sehingga membuahkan hasil yang

optimal. Secara spesifik, model ini memfasilitasi respons siswa dengan

pertanyaan pemandu sampai tahap terakhir tahap ketujuh yaitu memunculkan

analogi baru sehingga seluruh tahap-tahap sinektik dapat dilakukan oleh siswa.

3) Hasil penilaian pembelajaran menulis dengan menggunakan model sinektik

ditinjau dari tes mengarang dan tes pengetahuan menulis cukup berhasil. Hal

tersebut dilihat dari nilai tes mengarang dan tes pengetahuan menulis yang

mengalami peningkatan yang cukup tinggi. Aspek kebahasaan siswa dapat

dijelaskan bahwa rata-rata siswa mampu membuat kalimat tunggal dan kalimat

24
majemuk. Kemampuan menulis kalimat sudah cukup baik yaitu hadirnya subjek,

predikat, dan objek di tempat yang sesuai.

4. Bentuk tes yang digunakan untuk mengevaluasi pembelajaran menulis adalah tes

objektif pilihan ganda biasa dengan empat pilihan yang digunakan untuk

mengevaluasi tes pengetahuan menulis siswa dan untuk mengevaluasi tes

mengarang digunakan penilaian hasil karangan yang bersifat analitis yang

meliputi aspek logika dan aspek linguistik. Aspek logika meliputi isi dan

pengorganisasian karangan dan aspek linguistik meliputi pemilihan kata,

pengkalimatan, dan mekanika penulisan. Angket berupa penilaian terhadap diri

sendiri digunakan untuk melengkapi data pada pelaksanaan perlakuan.

5.3. Implikasi

Bertolak dari berbagai temuan yang diperoleh sejak proses hingga hasil akhir

penelitian ini dapat dikemukakan implikasi teoretis dan praktis berikut.

1) Wujud implikasi teoretis dari studi ini adalah pembelajaran bahasa untuk

mengembangkan keterampilan menulis siswa SMP akan efektif bila respons siswa

difasilitasi dengan pertanyaan-pertanyaan pemandu sehingga dapat menggiring

siswa pada pembelajaran menulis yang kreatif di mana siswa mampu berpikir

kreatif dan mampu terlibat secara psikologis dengan tulisan yang sedang

dibuatnya. Dengan cara demikian, tulisan yang dibuatnya bermakna di dalam diri

siswa dan membangkitkan kreativitas. Dalam proses menulis, pengembangan

dimensi kreativitas ini sangat penting dan dapat dilaksanakan dengan berbagai cara

atau metode, salah satu caranya melalui sinektik.

25
Model sinektik ini mendukung pembelajaran menulis yang selama ini

diterapkan di berbagai jenjang pendidikan. Adalah hal yang sia-sia mengharapkan

siswa mampu menulis secara kreatif tanpa melibatkan perasaan dan pikiran siswa

dalam proses penulisan karena hal ini merupakan syarat penting pengembangan

kreativitas itu sendiri. Dengan demikian, pembelajaran dan pendidikan tidak hanya

mengeksploitasi siswa untuk menguasai tujuan pembelajaran semata tetapi proses

pembelajaran dan pendidikan dapat mencuat ke permukaan sesuai dengan tujuan

kurikulum 1994 dan kurikulum yang berbasis kompetensi.

2) Implikasi Praktis. Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk mengembangkan

pembelajaran menulis di seluruh jenjang pendidikan. Sudah saatnya bagi guru-

guru untuk menjadi agen pembaharuan (innovator) dalam pembelajaran menulis

sehingga pembelajaran menulis mampu mengembangkan keterampilan berbahasa

siswa. Untuk siswa sekolah menengah pertama, materi ajar yang dibutuhkan

adalah bacaan yang mudah dipahami, mengandung kegiatan sehari-hari dan yang

dapat membangkitkan kreativitas siswa dalam menulis sehingga mereka dapat

merespons dengan menggunakan tahap-tahap yang berhubungan dengan itu seperti

tahap-tahap sinektik.

Untuk jenjang perguruan tinggi, bentuk pertanyaan pemandu harus lebih

disederhanakan lagi sedangkan bacaan sebagai materi ajar dapat menyeleksi bacaan-

bacaan yang tepat dengan tingkat kesulitan yang cukup tinggi.

26
5.4 Saran

Meningkatnya kemampuan menulis siswa dengan mengimplementasikan

model sinektik dalam pembelajaran bahasa membuktikan bahwa model tersebut

disamping mempunyai kelebihan juga mempunyai kelemahan-kelemahan yang sudah

pasti tidak dapat dihindari.

Harapan yang ingin dicapai dengan mencuatnya model pembelajaran menulis

ini adalah terciptanya masyarakat literat yang bermoral baik sejak dini yaitu

tumbuhnya minat baca dan meningkatnya kesadaran pentingnya mengekspresikan

hasil bacaan ke dalam kegiatan menulis. Kegiatan tulis-menulis inilah yang menjadi

cikal bakal munculnya penulis-penulis andal dan bermoral baik yang dapat

mengkomunikasikan ilmu di bidangnya masing-masing. Dengan demikian, secara

makro masyarakat Indonesia mampu mengemukakan ilmu di bidangnya baik secara

lisan maupun tulisan.

Untuk mewujudkan harapan di atas, berikut ini dikemukakan saran untuk

penerapan model dan penelitian lanjutan.

1) Saran untuk Penerapan Model

Bila ditinjau dari keunggulan model pembelajaran menulis yang berbasis

sinektik maka perlu diupayakan penyebarluasan penerapan model di berbagai jenjang

pendidikan. Para pembuat kurikulum, penyusun buku ajar, pekerja bahasa dan sastra

(penulis ilmiah dan cerita), pemilik stasiun TV, dan guru dapat mempelajari model

tersebut berawal dari asumsi-asumsi, landasan teoretis model, dan langkah-langkah

pembelajaran.

27
Bagi pembuat kurikulum, tujuan pembelajaran bahasa khususnya menulis

berdasarkan kurikulum 1994 yang telah disesuaikan dengan suplemen GBPP 1999

dan KBK sudah sangat jelas untuk dipahami. Sayangnya, implementasi KBK untuk

pembelajaran bahasa khususnya menulis belum terakomodir dengan baik sehingga

kurikulum yang telah dirancang dengan baik tersebut baru sebatas wacana karena

materi pokok pembelajaran bahasa khususnya menulis masih dalam taraf abstraksi

sehingga para guru di lapangan menghadapi kesulitan menerjemahkan sinyal-sinyal

yang secara eksplisit tertuang dengan jelas di dalam kurikulum. Untuk itu, tujuan

pembelajaran bahasa khususnya menulis yang sudah sesuai dengan harapan yaitu

mampu mengekspresikan berbagai pikiran, gagasan, pendapat, dan perasaan dalam

berbagai ragam tulisan maka perlu ditambahkan ke dalam kurikulum tersebut sebuah

pernyataan yang disertai dengan penjelasan pembelajaran menulis yang kreatif

dengan berorientasi pada sinektik yang melibatkan dua ranah taksonomi sehingga

terwujud aspek kognitif dan afektif/emosional yang terasah tajam dan seimbang.

Bagi penyusun buku ajar, mengingat karya sastra khususnya cerpen hanya

mendapat porsi yang sedikit dalam buku ajar bahasa Indonesia, cerita-cerita yang

ditampilkan dalam buku ajar untuk SMP khususnya diupayakan cerita-cerita yang

dialognya bersifat alamiah, sesuai dengan usia mereka, alur ceritanya yang akrab

dengan keseharian mereka, dan yang dapat membangkitkan kreativitas menulis

mereka. Dengan demikian, para penyusun buku turut mendukung tujuan

pembelajaran bahasa khususnya menulis berdasarkan kurikulum 1994 dan KBK yaitu

mampu mengekspresikan berbagai pikiran, gagasan, pendapat, dan perasaan dalam

28
berbagai ragam tulisan siswa. Untuk dapat mencapai tujuan tersebut, penyusun buku

dapat menjadikan pedoman berikut ini sebagai panduan menyusun pertanyaan untuk

cerita-cerita yang sudah diadopsi dari berbagai sumber.

a. Aspek kognitif mencakup tahap penggambaran, penafsiran, penyimpulan, dan

perenungan.

b. Aspek afektif/emosional mencakup intrapersonal/hubungan diri sendiri,

interpersonal/orang lain, lingkungan, dan si alamat.

Bagi para pekerja bahasa, sastra, dan penulis cerita anak. Berdasarkan hasil

penelitian ini diharapkan buku-buku bahasa dan sastra yang layak dikonsumsi oleh

siswa SMP sesuai dengan latar belakang keseharian siswa, dialog-dialog sesuai

dengan usia mereka, alur cerita sesuai dengan tahap perkembangan kognitif dan

emosi mereka, dan juga yang dapat membangkitkan kreativitas siswa dalam menulis.

Untuk pekerja bahasa, sastra dan penulis cerita di media cetak, harapan-harapan di

atas sudah terakomodir dengan baik. Sayangnya, ditemukan oknum pekerja bahasa,

sastra dan penulis cerita anak dan remaja untuk media elektronik (televisi) lebih

mementingkan nilai komersial yang mengeruk keuntungan besar ketimbang nilai-

nilai agama, moral dan budaya. Hal ini terindikasi dengan adanya cerita anak dan

remaja dengan latar cerita dan alur cerita yang banyak menyimpang dari norma-

norma tersebut sehingga meracuni moral anak dan remaja, misal: film yang berjudul

“Buruan Cium Gue” yang sempat ditayangkan di bioskop di Indonesia. Sia-sialah

usaha pemerintah melalui Depdiknas dengan KBKnya bila cerita-cerita anak dan

29
remaja dalam media elektronik berseberangan dengan cerita-cerita anak dan remaja

dalam media cetak.

Bila ditilik dari perspektif kepentingan, rekomendasi untuk pekerja bahasa,

sastra dan penulis cerita anak dan remaja di media elektronik berhubungan dengan

para pemilik stasiun televisi swasta. Bahwa untuk kepentingan perkembangan moral

anak, pemilik stasiun televisi perlu mempertimbangkan tayangan-tayangan cerita

anak dan remaja yang tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku. Sudah saatnya

membangun Indonesia yang terpuruk dan krisis moral lewat media elektronik karena

media tersebut pada kenyataannya lebih disenangi dan diakrabi oleh anak dan remaja.

Bagi para guru, hasil penelitian ini dapat digunakan untuk mengembangkan

pembelajaran bahasa yang mampu meningkatkan keterampilan menulis siswa

disamping mencerdaskan moral mereka. Guru dapat menyeleksi buku-buku bahasa

dan sastra anak dan remaja dari berbagai sumber sebagai bahan ajar dengan

mengutamakan latar cerita dan alur cerita yang sesuai dengan keseharian siswa, dan

yang dapat memancing kreativitas siswa dalam menulis.

2) Saran untuk Penelitian Lanjutan

Model sinektik dan kolaborasi merupakan gabungan dua metode yang berbeda

yang membutuhkan banyak waktu dalam penerapannya. Gabungan dua metode ini

dinamakan “Sinekborasi”. Dalam rangka mengembangkan keterampilan menulis

siswa, para peneliti yang berminat menekuni masalah peningkatan keterampilan

berbahasa khususnya menulis dapat mengembangkan penelitian ini dengan metode

30
penelitian tindakan kelas yang bernuansa kualitatif karena tes mengarang dan tes

pengetahuan menulis dapat ditinjau dari dua perspektif yaitu penelitian yang

menganalisis aspek kebahasaan dan aspek substansi berupa respons siswa itu sendiri

(kognitf dan afektif/emosional).

Penelitian replikasi (perluasan) yang menyangkut variabel penelitian dan

subjek penelitian baik pada tingkat pendidikan yang sama maupun sekolah menengah

atas atau pendidikan tinggi dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan

komparatif.

Penelitian dengan latar eksperimen semu pun masih dapat diujicobakan

dengan sedikit modifikasi. Untuk tingkat SMA, tahap-tahap dalam sinektik dan

kolaborasi dapat ditingkatkan melalui pertanyaan-pertanyaan pemandu yang dapat

mengiring siswa menulis secara kreatif. Begitu juga penelitian yang sama dapat

dilakukan pada mahasiswa.

Hal lain yang dapat dilakukan adalah penelitian terhadap variabel yang

berbeda untuk menciptakan suatu model pembelajaran bahasa khususnya menulis.

Model ini dapat juga meningkatkan keterampilan berbahasa lainnya seperti

keterampilan membaca, berbicara, dan menyimak dengan tidak menghilangkan salah

satu perangkat dari sinektik dan kolaborasi yang diangkat di dalam penelitian ini

31
DAFTAR PUSTAKA

Akhadiah, S., Arsjad, M.G., dan Riwan, S.H., (1988). Pembinaan Kemampuan
Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga.

Akhadiah, M.K., S. (1998). Pengembangan Kemampuan Bernalar, Kreativitas, dan


Budaya tulis Melalui Jalur Pendidikan dalam Rangka Peningkatan Sumber
Daya Manusia. Bahasa Menjelang Tahun 2002: Risalah Kongres Bahasa
Indonesia VI. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Alderson, J.C., Alan B. [ed.]. (1992). Evaluating Second Language Education.


Cambridge: Cambridge University.

Alwasilah, A.C. (1999). Respon Penulis Terhadap Koreksi Pembaca: Studi Kasus
Tulisan Mahasiswa Pascasarjana IKIP Bandung. Bandung: Lembaga
Penelitian Universitas Pendidikan Indonesia.

Alwasilah, A.C. (2001). “Membangun Kota Berbudaya Literat”. Artikel dalam Media
Indonesia. Jakarta, Sabtu 6 Januari 2001.

Alwi, H., Dardjowidjoyo, S., Lapoliwa, H., dan Moeliono, A.M. (1998). Tata Bahasa
Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Baynham, M. (1995). Literacy Practices: Investigation Literacy in Social Context.


New York: Longman Group Limited.

Dahlan, M. D. (1990). Model-model Mengajar. Bandung: Diponegoro.

32
Dilworth, J.B. (1992). Operations Management: Design, Planing and Control for
Manufacturing Services. New York: McGraw-Hill, Inc.

Dodd, J. (1988). A Detailed Study of the Learning Behaviors of In-Service Teachers


Learning to Use Two New Models of Teaching. (Online). Tersedia:
http://www.Us.gov. (5 September 2001).

Feldhusen, J.F. dan D.J. Treffinger. (1986). Creative Thinking and Problem Solving
in Gifted Education. Iowa: Kendall/Hunt Publ. Co.

Frankel, J.R. & Wallen, N.E. (1993). How to Design and Evaluate Research in
Education. Toronto: McGraw – Hill Inc.
Fuad, N.S.L. (1990). Aspek Logika dan Aspek Linguistik dalam Keterampilan
Menulis. Tesis Magister pada PPS IKIP Bandung: tidak diterbitkan.

Gipayana, M. (1998). Efektivitas Pembelajaran Menulis dengan Pendekatan Bertahap


dan Portofolio terhadap Keterampilan Menulis Siswa Sekolah Dasar. Tesis
Magister pada PPS IKIP Bandung: tidak diterbitkan.

Heavilin, B.A. (1982). The Use of Synectics as an Aid to Invention in College


Composition. (Online). Tersedia: http://www.Us.gov (5 September 2001)

Jacobs, H.L., dkk. (1981). Testing ESL Composition: A Practical Approach. Rowley,
Massachusetts: Newbury House Publishers, Inc.

Joyce, B. dan Weil, M. (1980). Models of Teaching. Second Edition. Englewood New
Jersey: Prentice-Hall,Inc.

33
Joyce, B. dan Weil, M. (1996). Models of Teaching. Second Edition. Englewood New
Jersey: Prentice-Hall,Inc.

Joyce, B. dan Weil, M. dan Calhoun, E. (2000). Models of Teaching. Boston-London:


Allyn and Bacon.

Munandar, S.C.U. (1985). Pengembangan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah.


Jakarta: Gramedia.

Munandar, S.C.U. (1992). Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak. Jakarta:


Gramedia.

Munandar, S.C.U. (1992). Mengembangkan Anak Berbakat. Jakarta: Depdikbud.

Munandar, S.C.U. (2002). Kreativitas dan Keberbakatan: Strategi Mewujudkan


Potensi Kreativitas dan Bakat. Jakarta: Gramedia Pustaka.

Sagala, S. (2005). Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.


Supriadi, D. (1994). Kreativitas, Kebudayaan dan Perkembangan IPTEK.
Bandung: Alfabeta.

Tilaar, H.A.R. (1999). Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional dalam


Perspektif Abad 21. Magelang: Tera Indonesia.

Wilkinson, A (1983). “Assesing Language Development: The Credition Project”.


dalam Learning to Write First Language. London and Newyork: Longman.

34