Anda di halaman 1dari 20

Ajaran moral tentang perkawinan ibu dan anak dalam

naskah cariyosipun tiyang kalang karya tumenggung arung


binang (suatu tinjauan struktural dan moralitas)
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Karya sastra adalah hasil budi daya manusia yang menarik, yang berupalisan dan tulisan. Karya
sastra diciptakan untuk dinikmati dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Oleh karena itu pelestarian
dan pengembangan kebudayaankebudayaan daerah yang merupakan peninggalan dari nenek
moyang perlu dilaksanakan, sebab tanpa cara tersebut maka warisan leluhur yang sudah

terkenal diberbagai negara asing ini niscaya akan mati dinegaranya sendiri.

Karya sastra diciptakan oleh sastrawan untuk dinikmati, dipahami, dan dimanfaatkan oleh
masyarakat. Sastrawan itu sendiri adalah anggota masyarakat, yang terikat oleh status sosial
tertentu. Sastra adalah lembaga sosial yang menggunakan bahasa sebagai medium, bahasa itu
sendiri merupakan ciptaan sosial. Dalam pengertian ini, kehidupan mencakup hubungan antar
masyarakat, antara masyarakat dengan orang-orang, antar manusia dan antar peristiwa yang

terjadi dalam batin seseorang. Bagaimanapun juga, peristiwa yang terjadi dalam batin seseorang
itu merupakan pantulan hubungan seseorang dengan orang lain atau masyarakat (Sapardi Djoko
Damono, 1987:1)

Sebuah karya sastra biasanya mengungkapkan tentang masalah kehidupan sosial manusia.
Tentang makna hidup manusia yang meliputi perjuangan manusia, penderitaan, kasih sayang,
kebencian, nafsu, dan segala sesuatu yang dialami manusia. Sastra terlebih-lebih bukan karena
yang tersurat melainkan yang tersirat (dalam Darmanto Jatman, 1985: 96)

Karya sastra Jawa yang berupa naskah di dalamnya tersirat kehidupan manusia serta harapan-
harapan, keputusannya, siasatnya, serta dimensi dari peristiwa kehidupan yang menyeluruh.
Sastra klasik secara kultural dipengaruhi oleh kebudayaan asing, terutama oleh kebudayaan India
dan Arab, maka teksteks itu sudah pasti banyak mengandung kata-kata Arab dan Sanskerta,

disamping Jawa Kuno yang paling banyak didokumentasikan (Sulastin Sutrisno, 1981: 20). Agar
dapat mengetahui dan mengungkapkan isinya sesuai dengan maksud pengarang maka teks perlu
diterjemahkan dalam bahasa yang mudah ditangkap dan dimanfaatkan oleh masyarakat umum.

Objek yang akan di kaji dalam penelitian ini adalah naskah berjudul Cariyosipun Tiyang Kalang
(selanjutnya disingkat CTK). CTK merupakan hasil karya Raden Tumenggung Arung Binang,
Bupati Kebumen, ditulis pada tahun 1878. Hal tersebut terlihat dalam kutipan teks CTK sebagai
berikut:
Kutipan:

Cariyosipun tiyang kalang, pikantuk saking Bok Kaji Ngabdul

Baki ing Dhusun Wanayasa, Dhistrik sarta Kabupatèn Kebumèn

Parésidhènan Bagelèn, ing nalika taun 1878……… (Transl. CTK, p: 1)

Terjemahan :

Cerita Tiyang Kalang, berasal dari bok Kaji Ngabdul Baki dari

Desa Wanayasa Kabupaten Kebumen Karesidenan Bagelen, pada tahun 1878……… (Transl.
CTK, p: 1)

Naskah asli CTK dalam bentuk prosa (gancaran) ditulis dalam huruf Jawa menggunakan bahasa
Jawa ragam ngoko, dan juga bahasa Jawa Kuno. CTK ditinjau secara leksikal dari kata Kalang
menurut Kamus Jawa Kuna- Indonesia (L. Mardiwarsito, 1986, h.261) berarti Kalangan,
lingkaran, lingkungan, gelanggang, sedangkan kata Kalang dalam naskah CTK menurut Kamus
Bausastra Jawa-Indonesia (S. Prawiro Atmojo.1993, h.201) berasal dari kata Wong-Kalang yang
berarti segerombolan orang kuno yang tidak tetap tempat tinggalnya. Arti Kalang sendiri dalam
naskah CTK terdapat dalam paragraf 54

Kutipan:

Ing wingking anak putunipun wisuda sami lampah dagang sarta

mituhu welingipun sudarmi, mila saéngga dumugi jaman punika dipun

wastani tiyang kalang, sabab wektu Rara Sulastri medal saking wana

badhé sowan ing rama Ratu Baka, tansah dipun kalang-kalang déning

tiyang kathah, utawi wêktu nusul kang putra Jaka Karung Kala

angalang-ngalang saéngga nglangut botên pinanggih,………

(Transl. CTK, p: 54)

Terjemahan :

Akhirnya semua anak cucu bekerja sesuai dengan pesan orang

tuanya, hingga sampai saat ini dinamakan orang kalang karena pada

saat Rara Sulastri keluar dari hutan akan mencari ayahnya Ratu Baka
selalu dikelilingi orang banyak terhalang-halangi oleh orang banyak,

atau waktu menyusul sang putra Jaka Karung Kala terhalang-halang

sehingga tidak dapat bertemu,……… (Trans. CTK, p: 54)

Jadi dalam naskah CTK mempunyai makna orang yang hidupnya selalu mengembara mencari
sesuatu dengan dihalangi berbagai kesulitan dan penderitaan. Naskah CTK sudah dikerjakan oleh
Sugiyarti pada tahun 2001, Mahasiswi Sastra Daerah Fakultas Sastra Daerah Univesitas Sebelas
Maret Surakarta dengan judul skripsi Cariyosipun Tiyang Kalang (Sebuah Tinjauan Filologis).

Adapun tinjauannya secara filologis, dan mengukapkan isi CTK yang meliputi etika Jawa, unsur-
unsur mitos (sugesti, simbolisme) dan juga membahas fungsi CTK bagi pembaca.

Seperti yang diungkapkan di atas, naskah CTK digunakan sebagai objek penelitian karena isi
dari naskah tersebut mengandung ajaran moral dan etika yang masih ada relevansinya dalam
masyarakat saat ini. Adapun yang melatarbelakangi penelitian tentang ajaran moral dan etika
yang terkandung dalam CTK yaitu sebagai berikut :

Pertama, naskah CTK baru dikaji secara filologis, jadi untuk lebih memudahkan penikmat dalam
menelaah isi serta ajaran yang ada perlu dikaji dari sudut pandang lain.

Kedua, melihat secara mendalam fungsi apa yang dapat ditarik oleh penikmat karya sastra itu
sendiri.

Ketiga, apresiasi sastra yaitu bagaimana masyarakat luas dapat mengenal kesusastraan dan usaha
untuk menggelutinya secara keseluruhan karena merupakan warisan budaya bangsa yang
mengandung nilai tinggi dan berhubungan dengan aturan tata cara pergaulan dalam kehidupan
sehari-hari.

Cerita yang hendak disampaikan dalam isi dari CTK tersebut sangat unik dan menarik yang
melibatkan kisah asmara yang terjalin antara ibu dan putranya sendiri yang seharusnya tidak
boleh terjadi hingga sampai ke sebuah perkawinan.

Perkawinan adalah pintu gerbang yang wajar atau biasa dilalui oleh umum nya umat manusia.
Dimanapun, dimuka bumi ini dijumpai dua jenis manusia yang berbeda antara pria dan wanita
hidup sebagai pasangan suami isteri.

Menurut Notopuro, perkawinan diartikan sebagai ikatan lahir batin antara seorang pria dan
seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk sebuah keluarga (rumah tangga)
yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. (Notopuro, 1983:17).

Berdasarkan pendapat di atas, dapat diambil suatu pengertian bahwa pada hakikatnya setiap
orang memasuki pintu gerbang kehidupan berumah tangga melalui perkawinan, tentu
menghendaki terciptanya keluarga yang bahagia dan sejahtera lahir dan batin, serta memperoleh
keselamatan di dunia dan di akhirat.
Dari keluarga yang bahagia dan sejahtera inilah diharapkan akan terwujud masyarakat yang
rukun, damai, adil, dan makmur secara materiil dan sprirituil. Bagi orang-orang beragama,
pengesahan hubungan perkawinan berdasarkan ketentuan-ketentuan hukum Tuhan adalah syarat
mutlak yang tidak bisa ditawartawar lagi. Pada perkawinan ideal suami-isteri menetapkan tujuan
bersama yang harus dilaksanakan. Masing-masing memiliki peran yang saling melengkapi satu

sama lain bukan saling menyaingi. Perkawinan tidak ideal apabila masingmasing pihak tidak
tahu posisi dan kewajibannya, maka keluarga yang dibina akan hancur. Seperti bangunan yang
tidak tersusun rapi hingga lama-lama bangunan tersebut akan runtuh. Begitu pula yang terdapat
dalam cerita ini, bahwa dalam rumah tangga orang tua sangat berperan penting dalam mendidik

keluarga khususnya anak. Orang tua dituntut memiliki pandangan yang jauh ke depan. Untuk itu
anak-anak harus dibekali dengan pendidikan yang cukup dan baik agar jika dia dewasa dapat
menjadi mandiri serta paham tentang halal dan haram.

Cerita CTK ini dimulai dengan perjalanan Ratu Baka di hutan sampai diketahui oleh Rara Senti,
putri dari Ratu Babi hutan yang bernama Prabu Gendhahulungan. Cerita berlanjut sampai Rara
Senti memiliki anak bernama Rara Sulastri dari ratu Baka. Kisah perjalanan hidup Rara Sulastri
baru saja dimulai ketika dia bertemu ayahnya Ratu Baka dan sampai memiliki anak dari seekor
anjing. Sampai akhirnya terjalin kisah asmara yang terjalin antara ibu dan anak yang seharusnya
tidak boleh dilakukan., sehingga membuahkan keturunan, yang seharusnya tidak boleh terjadi
yaitu antara Rara Sulastri dengan putranya yang bernama Jaka Karung Kala.

Perkawinan antara Rara Sulastri dan Jaka Karung Kala tersebut apabila dilihat dari segi moral
dan etika, seharusnya tidak boleh terjadi karena menikah dengan darah daging sendiri yang akan
berdampak buruk pada keturunan yang dihasilkan, seperti contohnya bisa membuat cacat bagi
keturunan dari perkawinan sedarah (Incest). Apabila dilihat dari kacamata Ilmu Kedokteran

(Kesehatan Keluarga) perkawinan antara keluarga yang berhubungan darah yang terlalu dekat itu
akan mengakibatkan keturunannya kelak kurang sehat dan sering cacat bahkan kadang-kadang
inteligensinya kurang cerdas.

Motif cerita yang sama juga terdapat dalam cerita Sangkuriang di Jawa Barat dalam judul
“Sangkala Gunung Gupak”. Dalam kisah ini menceritakan tentang perjalanan Syeh Maidin yang
mencari tempat, kemudian di hutan terdapat seekor celeng yang ingin mempunyai anak berujud
manusia. Syeh Maidin merasa ingin buang air kecil kemudian kencing di dalam tempurung
kelapa. Air tempurung tersebut diminum oleh celeng hingga habis dan cerita berlanjut hingga
celeng tersebut mengandung dan melahirkan seorang bayi perempuan yang berujud manusia dan
diberi nama Nyi Artati.

Nyi Artati setelah dewasa menyukai pekerjaan menenun, pada suatu ketika teropongnya jatuh
dan ia malas untuk mengambilnya. Kemudian ia berujar pada diri sendiri, “Barang siapa yang
dapat menolong mengambilkan teropong, kalau wanita akan dijadikan saudara, kalau laki-laki
akan dijadikan suami”. Singkat cerita ada Si Tumang (seekor anjing) yang mengambilkan
teropong akhirnya dengan sangat terpaksa Nyi Artati harus menjadikan suami sesuai dengan
janjinya. Akhirnya Nyi Artati melahirkan seorang anak laki-laki dan diberi nama Sangkuriang,
setelah dewasa ia senang berburu, didampingi oleh Si Tumang. Ketika ada celeng selalu saja Si
Tumang menghalau sehingga membuat Sangkuriang jengkel dan akhirnya dibunuh.

Nyi Artati terkejut dan marah setelah mengetahui suaminya dibunuh, ia kemudian mengambil
sendok besar dan memukul Sangkuriang dikepala yang mengakibatkan luka yang cukup besar.
Setelah itu Sangkuriang diusir dari rumah oleh Nyi Artati.

Sangkuriang bertemu dengan Nyi Artati Setelah bertahun-tahun mereka berpisah dan akhirnya
saling jatuh cinta. Ketika mereka sedang memadu kasih, secara tidak sengaja Nyi Artati melihat
luka yang terdapat pada kepala Sangkuriang dan bertanya bagaimana kejadiannya. Sangkuriang
cerita semuanya dan membuat Nyi Artati terkejut bahwa dia telah melakukan perbuatan tercela
dengan anak kandung sendiri. Begitulah cerita dalam Sangkala Gunung Gupak (Sangkuriang)
yang merupakan legenda dari Daerah Jawa Barat.

Cerita Babad Prambanan juga terdapat motif cerita yang sama dalam episode “Jaka Burdan”
terdapat pada Pupuh XXII Tembang Sinom yang bercerita tentang Rara Temon sedang menenun
dan teropongnya jatuh ke tanah di bawah gubug. Rara Temon takut untuk mengambil karena di
bawah banyak harimau. Pada saat yang membingungkan itu Rara Temon berucap bahwa siapa

saja yang dapat mengambilkan teropongnya, kalau putri dijadikan saudara, kalau laki-laki
dijadikan suami.

Jaka Burdan yang telah menjadi anjing akibat dari kutukan yang diberikan oleh Bandung
Bandawasa saat itu sedang berada di bawah mendengar-kan ucapan Rara Temon, kemudian
langsung mengambilkan teropong dan diserahkan pada Rara Temon. Setelah menerangkan
tentang keadaan dirinya lalu terjadilah hubungan jasmani antara keduanya di gubuk itu.

Beberapa waktu kemudian Rara Temon melahirkan bayi laki-laki dan diberi nama Jaka Truka.
Jaka Truka senang sekali berburu dan sering mengajak anjingnya yaitu Burdan, suatu hari ada
binatang buruan dan anjing Burdan disuruh untuk mengejar tetapi selalu saja ditolak dan
mengakibatkan kemarahan Jaka Truka. Akibat dari kemarahan Jaka Truka, anjing Burdan
kemudian dibunuh. Setelah sampai dirumah Jaka Truka menceritakan kejadian tersebut

kepada ibunya. Rara Temon marah dan segera menyalakan api dan akhirnya bunuh diri.

Babad Tanah Jawi dalam episode “Watugunung” juga hampir sama. Ketika Prabu Watugunung
bercerita kepada isterinya Dewi Sinta perihal luka yang ada di kepalanya. Setelah mendengarkan
cerita tersebut Dewi Sinta baru mengetahui kalau Prabu Watugunung adalah anaknya sendiri.

Melihat motif cerita dalam Sangkuriang, Babad Prambanan dan Babad Tanah Jawi yang hampir
sama dengan naskah CTK membuat penelitian ini sangat menarik, karena terdapat ajaran moral
dan etika dalam hidup manusia khususnya tentang perkawinan sedarah (incest), tetapi penelitian
ini hanya berpusat pada satu naskah cerita saja yaitu CTK.
Naskah CTK tersebut di atas mengandung banyak nilai yang patut digali dan dilestarikan,
misalnya nilai etika dan moralitas dalam naskah CTK diambil nilai baiknya sehingga dapat
dijadikan cermin dalam kehidupan sekarang. Hal-hal yang buruk dapat dijadikan sebagai
pengetahuan agar tidak melakukan hal yang dapat merugikan diri sendiri, contoh ajaran moral
yang perlu diperhatikan dalam CTK yaitu ajaran tentang memilih jodoh.

Tradisi Jawa terdapat kebiasaan yang berlaku sebelum melangsungkan pernikahan, yaitu
menentukan atau memilih pasangan dengan tujuan agar hidup bahagia, rukun, dan damai dalam
keluarga. Maka sebagian masyarakat masih memperhatikan “bibit, bobot, dan bebet” sebagai
fatwa yang diberikan oleh orang tua kepada anak-anaknya yang hendak mencari pasangan hidup.

Bertolak dari anggapan di atas maka penelitian ini diberi judul Ajaran Moral tentang Perkawinan
Antara Ibu dan Anak dalam Naskah “Cariyosipun Tiyang Kalang “ Karya Tumenggung Arung
Binang (Suatu Tinjauan Struktural dan Moralitas).

1.2 Perumusan Masalah

Perumusan masalah dibuat dalam penelitian ini bertujuan untuk memfokuskan topik penelitian
agar tidak melebar kemana-mana. Adapun perumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

1. Bagaimanakah struktur CTK yang meliputi tema, amanat, penokohan, alur, dan setting?

2. Bagaimana ajaran moral perkawinan antara ibu dan anak yang terkandung CTK ?

3. Bagaimanakah relevansi cerita CTK tersebut terhadap kehidupan masyarakat sekarang ini ?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian yang ingin dicapai meliputi :

1. Mendeskripsikan struktur dari CTK yang meliputi tema, amanat, penokohan, alur, dan setting.

2. Mendeskripsikan ajaran moral tentang perkawinan antara ibu dan anak yang terkandung dalam
CTK.

3. Mendeskripsikan relevansi CTK dengan kehidupan masyarakat sekarang.

1.4 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi siapapun

secara teoritis maupun praktis, yaitu :

1. Manfaat Teoritis
Secara teoritis hasil penelitian naskah CTK ini diharapkan dapat memperkaya ilmu pengetahuan
dan menambah wawasan khususnya dalam Bidang Sastra Jawa yang berupa karya sastra naskah
klasik.

2. Manfaat Praktis

Secara praktis dapat memberi pengetahuan tentang unsur-unsur struktural yang terdapat dalam
naskah CTK, yaitu meliputi tema, alur, setting, penokohan, dan amanat) juga ajaran moral yang
terkandung dalam naskah CTK dan relevansi yang patut dijadikan pedoman dalam kehidupan

masyarakat sekarang ini.

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Pendekatan Struktural

Analisis struktural merupakan langkah awal untuk menapak pada penelitian selanjutnya.
Pendekatan struktural bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat, seteliti,
semendetail, dan semendalam mungkin keterjalinan semua anasir aspek karya sastra yang
bersama-sama menghasilkan makna menyeluruh ( A. Teeuw, 1988:135 ).

Teori struktural pada dasarnya mempunyai tiga prinsip yaitu :

1. Internal Coherence (Koherensi Intrinsik) : bagian-bagiannya menyesuaikan diri dengan


seperangkat kaidah intrinsik yang menentukan baik keseluruhan struktur maupun bagian-
bagiannya.

2. Transformation ( Transformasi ) : struktur itu menyanggupi prosedurprosedur transformasi


yang terus-menerus memungkinkan pembentukan bahan-bahan baru.

3. Self Regulation ( Regulasi Diri ) : struktur tidak memerlukan hal-hal di luar dirinya untuk
mempertahankan prosedur transformasinya, struktur itu otonom terhadap rujukan pada sistem-
sistem lain ( A. Teeuw, 1988: 141)

Pendekatan Struktural merupakan pendekatan terhadap karya sastra yang menekankan pada
sosok karya sastra, otonom dan terlepas dari hal-hal yang ada di luar karya sastra. Pendekatan
struktural memperhatikan keutuhan karya sastra yang terdiri dari berbagai komponen-komponen
yang saling terkait, memandang dan menelaah sastra dari segi instrinsik yang membangun suatu
karya sastra.

Komponen-komponen atau unsur-unsur yang membentuk suatu struktur yang dikaji secara utuh.

Unsur-unsur yang membangun suatu karya sastra tersebut antara lain yaitu; tema, alur, latar,
penokohan, dan amanat. Pendekatan struktural memang berusaha untuk objektif dan analisisnya
bertujuan untuk melihat karya sastra sebagai suatu sistem. Nilai-nilai yang diberikan kepada
sistem itu amat tergantung kepada nilai-nilai komponen yang ikut terlibat di dalamnya (Atar

Semi 1989 : 137 ).

Tujuan dari pendekatan struktural adalah untuk membongkar dan memaparkan secermat, sedetail
dan sedalam mungkin keterkaitan dan keterjalinan semua anasir dan aspek sastra yang bersama-
sama menghasilkan makna yang menyeluruh. (A Teeuw, 1983 : 135).

Panuti Sudjiman mempunyai pendapat bahwa struktural adalah tata hubungan antara bagian-
bagian karya sastra dan merupakan kebulatan (1986: 141). Jadi pada dasarnya pandangan
tersebut menyatakan bahwa unsur-unsur merupakan sebuah kesatuan dan tidak bermakna
sendiri-sendiri.

Analisis struktur merupakan prioritas utama sebelum pendekatan yang lain, tanpa analisis itu
kebulatan makna instrinsik yang hanya dapat digali dari karya sastra itu sendiri tidak terungkap
(R. Djoko Pradopo, 2002:72). Renne Wellek mengatakan bahwa penelitian sastra sewajarnya
bertolak dari interpretasi dan analisis karya sastra itu sendiri (Wellek dan Werren, 1990:38).
Sejalan dengan pendapat tersebut kegiatan menganalisa suatu karya sastra dengan pendekatan
apapun akan selalu didahului analisis tentang struktur karya sastra itu sendiri. Struktur adalah
tata hubungan antara bagian-bagian suatu kartya sastra yang meliputi unsur alur, penokohan,
latar, sudut pandang, gaya bahasa, tema, dan amanat yang saling menunjang dan mendukung
serta merupakan suatu kesatuan yang bulat dan utuh. Sedangkan menurut Asia Padma Puspita,

unsur-unsur struktural karya sastra meliputi lima kegiatan yaitu:

1. Judul, ide dan tema.

2. Pelaku, perwatakan, dan dramatik konflik.

3. Titik pandang deskripsi awal dan akhir.

4. Struktur waktu dan ruang.

5. Konvensi (1984:11)

Berdasar pada pendapat-pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa pendekatan struktural


merupakan pendekatan awal dalam melakukan pendekatan selanjutnya yang bertujuan untuk
membongkar unsur-unsur pembentuk karya sastra dari dalam karya sastra itu sendiri

1. Tema

Tema adalah pokok pikiran atau dasar cerita. Menurut Sudira Satoto tema merupakan gagasan,
ide atau pikiran utama di dalam karya sastra yang terungkap maupun tidak (1996:10)
Tema merupakan sesuatu yang menjadi pikiran, persoalan gagasan ide pengarang atau muncul
dalam cerita rakyat tersebut. Tema masih bersifat netral belum ada tendensi memihak karena
sifatnya masih berupa persoalan (Sundari, 1994:51)

Tema merupakan kesimpulan dari pembaca tentang hakikat eksistensi pengalaman yang
dipaparkan di dalam karya sastra. Sebuah karya sastra harus mempunyai tujuan yang hendak
disampaikan pada pembaca atau penikmat. Kemudian penikmat yang menelaah sendirikira-kira
tema dan amanat apa yang ada dalam karya sastra tersebut. Tema adalah hasil kontemplasi
pengarang yang berkaitan dengan masalah kemanusiaan serta masalah lain yang bersifat

universal. Tema dalam hal ini tidaklah berada di luar cerita tetapi inklusif di dalamnya. (Brooks
dalam Aminudin, 1987:92). Ada tiga macam cara untuk menentukan tema cerita, yaitu :

a. Melihat persoalan yang menonjol.

b. Secara kuantitatif yaitu persoalan yang paling banyak menimbulkan konflik yang melahirkan
peristiwa.

c. Menghitung waktu penceritaan, yaitu diperlukan untuk menceritakan peristiwa-peristiwa atau


tokoh-tokoh dalam sebuah karya sastra. (Mursal Esten, 1991:56)

2. Amanat

Amanat berarti pesan. Dalam struktur karya sastra amanat adalahy pesan yang hendak
disampaikan oleh pengarang kepada pembaca. Sebuah karya sastra ada kalanya dapat diangkat
suatu ajaran moral, atau pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang, maka jalan keluarnya
itulah yang disebut amanat.

Jika permasalahan yang diajukan dalam cerita juga diberi jalan keluarnya oleh pengarang, maka
jalan keluarnya itu yang disebut amanat. (Panuti Sudjiman, 1988: 57).

Menurut Sundari amanat merupakan pemecahan dari tema. Di dalam amanat terlihat pandangan
hidup atau cita-cita pengarang. Amanat dapat diutamakan secara eksplisit maupun implisit, yang
disampaikan terangterangan atau tersirat saja (1994:51).

Amanat dapat disimpulkan secara eksplisit bila pengarang pada tengah atau akhir cerita
menyampaikan seruan atau saran, nasehat, anjuran berkenaan dengan gagasan yang mendasari
cerita. Sedang implisit bila jalan keluar atau ajaran moral yang ingin disampaikan pengarang
hanya diisyaratkan dalam tingkah laku tokoh atau peristiwa dalam cerita.

Pesan atau amanat yang disampaikan dari pengarang kepada pembaca biasanya menyangkut hal-
hal yang berkenaan dengan kepercayaan (agama), kesadaran moral, kesadaran tingkah laku atau
sopan santun dan sebagainya yang bersumber daripada kehidupan manusia sehari-hari.

Jadi, amanat adalah pesan, ajakan, larangan, nasehat atau ajaran moral yang ingin disampaikan
pengarang melalui karyanya, baik yang disampaikan secara implisit maupun eksplisit.
3. Alur

Alur adalah jalinan peristiwa di dalam karya sastra untuk mencapai efek tertentu. Alur adalah
rangkaian peristiwa yang direka dan dijalin dengan seksama, yang menggerakkan jalan cerita
melalui rumitan ke arah klimaks dan penyelesaian (Panuti Sudjiman, 1990: 4)

Menurut Sri Widati Pradopo, alur sebagai rangkaian cerita tersebut merupakan suatu susunan
yang membentuk kesatuan yang utuh. Keutuhan yang menyangkut masalah logis atau tidaknya
suatu peristiwa. Jika tidak disusun berdasarkan hukum sebab-akibat, tidak dapat disebutkan alur
melainkan cerita (1985:17)

Dalam merangkai suatu peristiwa, pengarang menggunakan bermacammacam penyusunan alur.


Keanekaragaman penyusunan alur tersebut untuk mendapatkan kesan menarik dan artistik dalam
karyanya. Secara garis besar susunan alur terdiri dari perkenalan, pertikaian dan penyelesaian.
(Rahmat Djoko Pradopo, 1975:26). Kemudian Mochtar Lubis mengklasifikasikan penyusunan
alur menjadi lima bagian yaitu :

a. Situation : pengarang mulai melukiskan suatu keadaan.

b. Generating circumstances : peristiwa yang bersangkut-paut mulai bergerak.

c. Rising action : keadaan mulai memuncak.

d. Climax : peristiwa mencapai puncak.

e. Denouement : pemecahan persoalan dari semua peristiwa. (1981:17)

Kutipan dari beberapa pendapat tersebut di atas secara umum dapat disimpulkan bahwa alur
adalah jalinan peristiwa yang saling berkesinambungan dan merupakan hubungan sebab-akibat
yang dialami oleh para pelakunya.

4. Penokohan

Penokohan adalah gambaran mengenai diri pelaku baik dipandang dari segi fisik, segi psikis, dan
segi sosiologis. Segi psikis adalah watak pelaku bila dilihat dari cara berbicara, pola pikirnya dan
ciri psikis lainnya. Sedangkan segi sosiologisnya adalah watak dari perilaku bila dilihat atau
tercermin dari sosialisasi dilingkungannya, atau dengan kata lain ia pandai bergaul dimasyarakat

atau sebaliknya.

Penokohan merupakan salah satu unsur yang sangat penting dalam struktur naskah CTK. Tokoh
dalam naskah CTK adalah penggerak jalannya cerita. Pelaku di dalam naskah CTK dapat dibagi
dalam dua macam yaitu, tokoh utama atau disebut tokoh sentral, dan tokoh tambahan. Mochtar
Lubis berpendapat mengenai penokohan dengan membaginya ke dalam beberapa teknik, yaitu :

a. physical deskription (pelukisan bentuk lahir tokoh)


b. portroyal of tought streem or consious thought ( melukiskan jalan pemikiran tokoh, atau apa
yang melintas dalam pikirannya)

c. reaction ofeven ( reaksi pelaku atau tokoh terhadap kejadian)

d. direct author analysis ( pengarang langsung menganalisa watak tokoh)

e. discution of enfiroment (pelukisan sekitar keadaan tokoh)

f. reaction of other to character (pandangan pelaku lain tentang tokoh lain ) (1981: 18).

Jadi watak tokoh dapat disimpulkan dari segi bahasa yang digunakan pengarang dalam mengacu
pada tokoh yang dibawakan. Sifat dan karakteristik membuat cerita yang dibawakan menjadi
lebih hidup dan lebih menarik. Oleh karena itu sangat berperan dalam pembentukan cerita dan
keberadaannya bias diharapkan pembaca terbawa oleh jalan pikiran seorang tokoh yang

diidolakannya

5. Latar / Setting

Latar adalah keterangan mengenai waktu, ruang dan suasana terjadinya peristiwa dalam karya
sastra. Fungsinya sebagai pendukung dari perwatakan, gambaran yang tepat akan memperjelas.
Menurut Henry Guntur Tarigan (1984:136) latar depat dipergunakan untuk beberapa maksud dan
tujuan antara lain :

a. Suatu latar yang dapat mudah dikenal kembali, dan juga yang dilukiskan dengan terang dan
jelas serta mudah diingat biasanya cenderung untuk memperbesar keyakinan terhadap tokoh dan
gerak serta tindakan.

b. Latar suatu cerita dapat mempunyai relasi yang lebih langsung dengan arti keseluruhan dan
arti yang umum dari suatu cerita.

c. Kadang-kadang mungkin juga terjadi bahwa latar itu dapat bekerja bagi maksud-maksud yang
lebih tertentu dan terarah

2.2 Pengertian Perkawinan

Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami
istri dengan tujuan untuk membentuk keluarga atau rumah tangga yang bahagia dan kekal
berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. (Pasal 1 UU Perkawinan No. 1 / 1974) Dengan kata
lain perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai
suami istri, sedangkan tujuan perkawinan adalah membentuk keluarga atau rumah tangga yang
bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Pada hakekatnya perkawinan merupakan hal yang sangat penting bagi pria dan wanita dalam
lintasan hidupnya. Melalui perkawinan seseorang akan mengalami perubahan status bujangan
menjadi status sosial yaitu dari status bujangan menjadi status berkeluarga dan diperlakukan
sebagai anggota penuh oleh masyarakat.

Suatu perkawinan, yang terpenting pada life cycle dari semua manusia diseluruh dunia adalah
saat peralihan dari tingkat kehidupan remaja ke tingkat kehidupan berkeluarga ialah perkawinan.
(Koentjaraningrat 1981:90).

Perkawinan dalam kehidupan manusia merupakan suatu hal yang penting karena dengan
perkawinanlah seseorang baru akan dianggap sebagai warga penuh dari masyarakat dimana ia
berada. Perkawinan yang dilakukan setiap orang mempunyai tujuan-tujuan tertentu, antara lain
untuk memperoleh keturunan. Perkawinan merupakan peristiwa bersejarah dalam kehidupan

manusia, dalam hal ini seorang pria dengan seorang wanita sudah disatukan menjadi suami istri
dalam suatu pernikahan. Suatu perkawinan akan berarti dengan mempunyai nilai sejarah jika
perkawinan itu dapat abadi dan bahagia. Oleh karena itu dalam perkawinan diperlukan saling
pengertian antara suami istri serta ada batas-batas tanggung jawab tertentu, baik harus dapat
mengikuti karier suami, sedang seorang suami harus dapat bertanggung jawab serta dapat

melindungi keluarga.

Cita-cita normatif orang Jawa bahwa sepasang suami istri hendaknya saling menunjukkan cinta
kasih, tetapi mereka tidak menyukai bentuk tingkah laku pernyataan cinta kasih di muka umum.
(Koentjaraningrat, 1984:266) Dalam menjaga kestabilan hubungan cinta kasih tersebut, orang
Jawa lebih cenderung menghindari perselisihan.

2.3 Pengertian Cinta

Cinta adalah karunia yang sangat agung, manusia hidup pasti akan merasakan apa yang namanya
cinta, selain itu manusia tentunya juga akan merasakan dicintai dan mencintai baik oleh, maupun
dari orang lain, teman, adik, kakak, ayah ibu, dan sebagainya. Cinta bersumber pada unsur rasa,
yang merupakan ungkapan perasaan, didukung oleh unsur karsa, yang dapat berupa tingkah laku
dan dipertimbangkan dengan akal yang menimbulkan tanggung jawab. Dalam cinta ada pula rasa
kasih sayang, kemesraan, rasa belas kasihan, pengabdian, dan pengorbanan. Cinta yang disertai
tanggung jawab menciptakan keserasian, keseimbangan dan kedamaian antara sesama manusia,
antara manusia dengan lingkungan, serta manusia dengan Tuhan.

Sheed berpendapat bahwa cinta itu muncul diberbagai bentuk seperti persahabatan, kencan, sex,
dan saling menyenangkan dalam berteman. (dalam Andi M,1983:149). Menurut Drijarkara
(1981:95) bahwa untuk mengembangkan dirinya manusia memerlukan komunikasi dengan
manusia yang lain agar hubungan manusia yang satu dengan yang lain merupakan hubungan
yang pribadi maka dalam hubungan itu harus didasarkan pada cinta. Berdasarkan

dengan cinta manusia dapat merasakan kebahagiaan, kedamaian dan ketentraman dalam hidup,
namun dengan cinta itu pula manusia dapat mengalamai kesedihan, kegelisahan maupun
kedukaan yang sangat mendalam. Hal ini biasanya dikarenakan oleh adanya keterikatan dalam
jalinan cinta, hasrat cinta yang begitu mendalam akan terungkap bila masing-masing insan
memiliki rasa saling menyayangi.

John Powell berpendapat sebagai berikut :

1. Cinta bukanlah perasaan semata-mata.

2. Cinta itu suatu ikatan yang lahir dari keputusan yang matang.

3. Cinta efektif adalah cinta yang tidak bersyarat.

4. Cinta itu abadi.

5. Ikatan cinta berarti keputusan

6. Pemberian cinta terbesar ialah memulihkan harga diri seseorang.

7. Cinta berarti mengakui, bukan memiliki orang yang dicintai. (1986 : 33).

Berdasarkan pada pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa cinta adalah perasaan kasih
sayang, kemesraaan, belas kasihan dan pengabdian yang diungkapkan dengan tingkah laku yang
bertanggung jawab.

2.4 Moralitas

Kata moral, berasal dari bahasa latin mos ( jamak : mores) yang berarti juga kebiasaan, adat.
Dalam bahasa Inggris dan banyak bahasa lain termasuk bahasa Indonesia, kata mores masih
dipakai dalam arti yang sama. Moral adalah sesuatu yang berkaitan atau ada hubungannya
dengan kemampuan menentukan benar salahnya suatu tingkah laku (Cheppy Haricahyono, 1995
: 221). Istilah moralitas adalah sifat moral atau keseluruhan asas dan nilai yang berkenaan

dengan baik dan buruk.

Moralitas menurut Poespoprodjo adalah kualitas dalam perbuatan manusia yang dengan itu kita
berkata bahwa perbuatan itu benar atau salah, baik atau buruk (1986:102). Moralitas mencakup
pengertian tentang baik buruknya perbuatan manusia. Sedangkan ajaran moral maksudnya
ajaran, wejanganwejangan, khotbah-khotbah, patokan, kumpulan peraturan dan ketetapan baik
lisan maupun tertulis tentang bagaimana manusia harus hidup dan bertindak agar menjadi
manusia yang baik (Franz Magnis Suseno, 1988 : 15).

Pendapat di atas menunjukkan bahwa moral adalah sama dengan adat kebiasaan perbuatan
manusia yang dikatakan baik jika sesuai dengan adat kebiasaan budi pekertinya. Jadi moralitas
mencakup pengertian baik atau buruknya perbuatan seseorang. Menurut Imanuel Kant (dalam
Franz Magnis Suseno, 1988:143) mengemukakan pendapatnya bahwa moralitas sebagai
kesesuaian sikap dan perbuatan dengan norma atau hukum batiniah yang kita pandang sebagai
kewajiban. Moralitas akan tercapai bila kita menaati hokum lahiriah bukan lantaran hal itu
membawa moralitas akibat yang menguntungkan.

Pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa mendidik moral adalah membentuk budi pekerti dan
watak anak, agar dapat membedakan antara perbuatan baik dan perbuatan buruk, serta
menanamkan sikap pribadi yang baik pada anak. Budi pekerti yang baik selalu ditanamkan oleh
orang tua kepada anaknya dengan tujuan membentuk moral yang baik.

2.5 Pengertian Etika

Etika berasal dari kata Yunani ethos yang berarti “kebiasaan”. Dalam bahasa latin kata untuk
kebiasaan adalah mos, dari sinilah kata moral atau moras secara etimologinya. Etika mempelajari
kebiasaan manusia yang sebagian terdiri dari konvensi-konvensi seperti cara berpakaian, tata
cara, tata krama, etiket dan semacam itu ( W. Poespoprojo, 1988: 2)

Etika mempermasalahkan baik dan buruk akibat dari pengaruh perilaku manusia dalam
berhubungan dengan Tuhan. Disini terdapat adanya baik dan buruk yang dalam kehidupan
manusia selalu berhadapan. Namun karena tujuan manusia adalah kesempurnaan, maka
pertentangan baik dan buruk harus dapat diatasi dengan kesabaran.

Masalah etika adalah kepantasan tergantung kepada tradisi dan normanorma yang berlaku
setempat. Masalah sesungguhnya dalam membicarakan etika adalah ketika kita berhadapan pada
pilihan antara baik dan buruk. Baik dan buruk dalam arti etis memainkan peranan dalam hidup
setiap manusia. Etika merupakan nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi pegangan bagi
seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. K. Bartens berpendapat

bahwa etika adalah ilmu tentang apa yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat kebiasaan
(1993: 4).

Masyarakat Jawa hidup berkelompok dalam sebuah komunitas yang mempunyai sebuah tatanan
yang rumit, dari hal yang kecil sampai mengangkat hidup yang selaras. Kata etika dalam arti
yang sebenarnya berarti filsafat mengenai bidang moral. Jadi etika merupakan ilmu atau refleksi
sistematik mengenai pendapat-pendapat, norma-norma, dan istilah-istilah moral (Franz Magnis
Suseno, 1993:6). Etika adalah teori tentang baik dan buruknya sepanjang yang ditentukan oleh
akal. Nilai baik dipegang oleh masyarakat dan anggota masyarakat menuntut untuk
mengamalkannya disebut moral (Sidi Gazalba, 1988 : 109).

Beberapa pendapat di atas akan menuju suatu kesimpulan bahwa ciri dari etika Jawa yang perlu
ditekankan adalah unsur pengertian, semuanya tergantung dari apakah orang mengetahui tempat
sosialnya.

BAB III

METODE PENELITIAN
Metode Penelitian merupakan suatu cara untuk memperoleh pengetahuan dan pemecahan
masalah yang dihadapi, pada dasarnya merupakan suatu metode ilmiah atau scientific method
(Sutrisno Hadi, 1981: 2). Metode penelitian juga merupakan suatu cara kerja untuk memahami
objek yang menjadi sasaran ilmu yang bersangkutan (Koentjaraningrat, 1983: 7). Jadi, metode
penelitian adalah suatu cara untuk memperoleh pengetahuan dan rumusan untuk memahami
fenomena yang digunakan untuk meneliti persoalan penelitian yang bisa mencapai

hasil sesuai harapan peneliti.

3.1 Bentuk Penelitian

Bentuk penelitian ini adalah penelitian sastra, yaitu usaha pencarian pengetahuan dan
pemberimaknaan dengan hati-hati dan kritis secara terusmenerus terhadap masalah sastra. Dalam
hal ini, tentulah metode kualitatif lebih serasi digunakan dalam penelitian sastra. Penelitian
kualitatif memusatkan perhatian berupa deskripsi yang berupa kata-kata dan kalimat (Atar Semi,
1993: 18-19).

3.2 Sumber Data dan Data

Sumber data dalam penelitian ini, diperoleh dari Perpustakaan Fakultas Sastra Universitas
Sebelas Maret dengan judul naskah Cariyosipun Tiyang Kalang (Sebuah Tinjauan Filologis).
CTK sudah dikerjakan dalam bentuk Filologis oleh Sugiyarti pada tahun 2001, Mahasiswi Sastra
Daerah Fakultas Sastra Universitas Sebelas Maret Surakarta. Data dalam penelitian ini terbagi

atas dua kelompok, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari aspek-aspek
struktural serta aspek-aspek moral dan etika yang ada di dalam naskah CTK. Data sekunder
diperoleh dari buku-buku referensi, majalah, dan artikel yang terkait dengan tujuan penelitian ini,
serta dengan wawancara.

3.3 Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data ini dilakukan dengan teknik analisis isi, hal ini untuk memperoleh data literer
atau data tertulis. Adapun teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Teknik Content Analysis

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik content analysis,
teknik ini merupakan analisis isi (Sutrisno Hadi, 1981:13). Menurut Robert Philip Weber dalam
Lexy Moleong (1990:46) mengemukakan bahwa kajian isi adalah metodologi penelitian yang

memanfaatkan seperangkat prosedur untuk menarik kesimpulan yang sahih dari sebuah buku
atau dokumen. Teknik analisis ini ditempuh dengan teknik simak-catat. Teknik simak-catat
dilakukan dengan cara menyimak secara teliti isi CTK dalam buku referensi lain, kemudian
mencatat hal-hal penting yang dapat digunakan dalam penelitian. Dengan kata lain dapat
menggunakan dengan cara teknik studi pustaka atau teknik library research, yaitu studi pustaka
dengan cara mengumpulkan informasi melalui bukubuku, majalah-majalah, serta dokumen-
dokumen yang terdapat dalam perpustakaan

2. Teknik Wawancara

Teknik wawancara adalah teknik yang dipakai untuk memperoleh informasi dari masyarakat.
Wawancara juga merupakan cara untuk memperoleh data dengan percakapan, yaitu antara
pewawancara dengan yang diwawancarai ( Moleong, 1990: 135). Dalam penelitian ini

mengadakan wawancara bebas dengan masyarakat dengan maksud mengumpulkan informasi.


Caranya adalah dengan menyebar angket secara acak kepada responden dengan jumlah yang
sekiranya mewakili pendapat dari masyarakat secara umum.

3.4 Teknik Pengolahan Data

Langkah selanjutnya setelah data terkumpul adalah mengklasifikasikan data berdasarkan faktor-
faktornya. Selanjutnya pengolahan data dilakukan dengan cara menghubungkan data dengan
kondisi sosial masyarakat. Dalam pengolahan data, peneliti menggunakan alat sebagai berikut :

1. Deskripsi Data

Data yang sudah terkumpul dari berbagai sumber berupa buku-buku, skripsi maupun laporan
ilmiah, naskah-naskah lain yang relevan dengan penelitian, serta hasil dari wawancara yang telah
dilakukan untuk langkah awalnya dideskripsikan, yaitu dengan cara memaparkan data-data yang
telah dikumpulkan tersebut.

2. Analisis Data

Data yang sudah diklasifikasikan dengan pendekatan structural sebagai dasar penelitian,
kemudian analisis ajaran moral dan etika, dan relevansinya dalam masyarakat.

3. Interpretasi Data

Data yang telah dianalisis, kemudian diinterpretasikan atau diada-kan penafsiran dan
pembongkaran pemahaman terhadap analisis data.

4. Tahap Evaluasi

Tahap ini merupakan tahap akhir semua proses data atau penganalisaan data, yaitu penilaian
terhadap keseluruhan proses dari penelitian yang dilakukan.

DAFTAR PUSTAKA

Andi Mappiare, 1983. Psikologi Remaja. Jakarta : Usaha Nasional


Anton Moeliono. 1992. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia

Atar Semi. 1993. Metode Penelitian Sastra. Bandung : Angkasa

Bushar Mohammad, Prof, SH, 1988. Pokok-Pokok Hukum Adat. Jakarta: PT. Pratnya Paramita

Cheppy Haricahyono. 1995. Dimensi-Dimensi Pendidikan Moral. Semarang: IKIP

Christiana Dwi Wardhana, 1990. Roman Canting Karya Arswendo Atmowiloto Sebuah Analisis
Sosiologi Sastra (makalah). Bandung: Fakultas Pascasarjana Universitas Padjadjaran

Darusuprapto. 1975. Penulisan Sastra Sejarah di Indonesia,. Tinjauan

Percobaan Tentang Struktur Tema dan fungsi. Leiden

Drijarkara, 1981. Percikan Filsafat. Jakarta : Pembangunan

—————————–. 1993. Etika Jawa Sebuah Arah Filsafat tentang

Kebijaksanaan Hidup. Jakarta : Gramedia

Henry GunturTarigan. 1990. Prinsip-Prinsip Dasar Sastra. Bandung :

Angkasa

H. Hilman Hadikusuma, Prof.,SH. 1990 Hukum Perkawinan Adat.

Bandung: PT Citra Aditya Bakti.

Idris Ramulyo, Mohd. Sh, MH. Hukum Perkawinan Islam (Suatu Analisis

Dari Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 Dan

Komplikasi hukum Islam). Jakarta: Bumi Aksara

K. Bertens. 1997. Etika. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka

Koentjaraningrat. 1983. Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan.

Jakarta : Gramedia

Lexy J. Moleong. 1990. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung : Remaja

Rosda Karya

L. Mardiwarsita. 1986. Kamus Jawa Kuna-Indonesia. Flores NTT : Nusa


Indah

Magnis Suseno, Frans. 1988. Etika Jawa Sebuah Analisa Falsafi tentang

Kebijaksanaan Hidup Jawa. Jakarta : Gramedia Pustaka

Utama

——————–. 1991. Metodologi Penelitian Masyarakat. Jakarta :

Gramedia

Milles dan Huberman. 1992. Analisis Data Kualitatif (Terjemahan).

Jakarta : UI Press

Mulyadi, SWR. 1991. Naskah dan Kita. Fakultas Sastra Universitas

Indonesia

Mursal Esten, 1982. Kritik Sastra Indonesia. Bandung: Angkasa

Ngadiyono, 1995. Problem Cinta dalam Cerbung Jiretmu Jiretku

(Skripsi). Fakultas Sastra Universitas Sebelas Maret

Surakarta

Panuti Sudjiman, 1984. Petunjuk Penelitian Karya Ilmiah. Jakarta::

Kelompok Pengajaran Bahasa Indonesia

Powell, John, 1986. Rahasia Cinta Lestari. Jakarta : Cipta Loka Caraka

Prabowo Utomo, 1984. Ilmu Budaya Dasar. Surakarta: Universitas

Sebelas Maret

Sapardi Djoko Damono, 1979. Sosiologi Sebuah Pengantar Ringkas.

Jakarta : Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Sarlito W. Sarwawono, 1994. Psikologi Remaja. Jakarta : PT. Raja


Grafindo Persada

S. De Jong, Dr. 1976. Salah Satu Sikap Hidup Orang Jawa. Yoyakarta:

Yayasan Kanisius

Sidi Gazalba, 1988. Islam dan Kesenian. Jakarta: pustaka Al Husna

Sri Widati Pradopo, 1988. Struktur Cerita Pendek Jawa. Jakarta : Pusat

Pembinaan dan Pengembangan Bahasa

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Sudiro Satoto,1986. Kajian Drama. Surakarta : Sebelas Maret University

Press.

Sugiyarti. 2001. Cariyosipun Tiyang Kalang Sebuah Tinjauan Filologis

(Skripsi). Fakultas Sastra : UNS

Sulastin Sutrisno, 1981. Relevansi Studi Filologi. Yogyakarta; Gadjah

Mada University Press.

Sundari, 1997. Pengantar Pengkajian Sastra, BPK, Surakarta; Sebelas

Maret University Press

Sutrisno Hadi. 1981. Metode Research. Yogyakarta : Fakultas Psikologi

UGM

S. Prawiroatmojo. 1993. Kamus Bausastra Jawa-Indonesia. Jakarta : Haji

Mas Agung

Sutopo, HB. 2002. Metode Penelitian Kualitatif. Surakarta : UNS Press

Teeuw, A. 1983. Membaca dan Menilai Sastra. Jakarta : PT Gramedia

Pustaka Utama

Tim, 1994. Pedoman Skripsi. Surakarta : Fakultas Sastra Universitas


Sebelas Maret Surakarta.

Wellek, Rene dan Austin Warren. (Terjemahan). (Ed. Abdul Yunan).1993.

Teori Kesusastraan. Jakarta : Gramedia.

W. Poespoprodjo, DR, Sh, SS, B.Ph, L.Ph. 1986. Filsafat Moral

(Kesusilaan Dalam Teori Dan Praktek. Bandung:

Pustaka Grafika

Wirjono Prodjodikoro, R. Dr, SH, 1974. Hukum Perkawinan di Indonesia.

Bandung: Sumur Bandung

Zainuddin Fananie. 2000. Telaah Sastra. Surakarta : Muhammadiah

University Press.

Zoetmulder, P.J 1983. Kalangwan: Sastra Jawa Kuna Selayang Pandang

(terjamahan oleh Dick Hartaka). Jakarta: Djambatan