Anda di halaman 1dari 54

KATA PENGANTAR

Segala puji hanya milik Allah SWT, yang telah memberikan kenikmatan
kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan penulisan buku ajar ini. Buku ajar
ini digunakan oleh penulis sebagai bahan mengajar mata kuliah Kalkulus II. Materi
yang terdapat pada buku ajar ini ditujukan bagi mahasiswa S1 Jurusan Teknik Elektro,
Teknik Informatika, dan Teknik Industri yang sedang mengikuti kuliah kalkulus II pada
Program Perkuliahan Dasar Umum di STT Telkom.
Buku ajar ini terdiri dari lima bab, yaitu : Persamaan Diferensial Biasa, Fungsi
Dua Peubah, Fungsi Vektor, Integral Lipat, serta Integral Garis dan Integral Permukaan.
Semua materi tersebut merupakan bahan kuliah yang sesuai dengan kurikulum silabus
yang berlaku di STT Telkom.
Dalam kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan terima kasih yang
setulus-tulusnya kepada berbagai pihak atas segala bantuan dan dukungannya
sehingga penulis dapat menyelesaikannya.
Mudah-mudahan buku ajar kuliah ini dapat memberikan manfaat bagi para
mahasiswa yang ingin mempelajari materi kuliah terkait. Akhirnya, penulis mohon
maaf jika dalam tulisan ini masih banyak kekurangan, sumbangan ide dan kritik yang
membangun untuk perbaikan buku ajar ini sangat penulis harapkan.

Bandung, Juni 2001

Penulis,

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ….………………………………………………………… i


DAFTAR ISI …………….………………………………………………………. ii
BAB I Persamaan Diferensial Biasa ………………………………………….. . 1
1.1 Persamaan Diferensial Orde satu …………………………………………... …. 1
1.2 Trayektori Ortogonal …………………………………………………………… 3
1.3 Persamaan Diferensial Orde Dua ……………………………………………… 5
1.3.1 Persamaan Diferensial Orde Dua Homogen …..……………………….. 5
1.3.2 Persamaan Diferensial Orde Dua Tak Homogen ………………………. 6
BAB II Fungsi Dua Peubah …………………………………………………….. 10
2.1 Bentuk Permukaan di Ruang ..…………………………………………………. 10
2.2 Domain dan Kurva Ketinggian Fungsi Dua Peubah ……………………….…. 13
2.3 Turunan Parsial ………………………………………………………………… 15
2.4 Vektor Gradien,Turunan Berarah dan Bidang Singgung ………………………. 17
2.5 Bidang Singgung ………………………………………………………………. 18
2.6 Nilai Ekstrim ……………………………………………. ……………………. 19
BAB III Fungsi Vektor .. …………………………………………………….…. 22
3.1 Daerah Definisi dan Grafik …………………………………………………… 22
3.2 Limit, kekontinuan dan Turunan Parsial ……..………………………………. 24
3.3 Kinematika Pertikel ……………………………………………………………. 24
3.4 Kelengkungan …………………………………………………………………. 25
BAB IV Integral Lipat ………………………………. ………………………… 28
4.1 Integral Lipat Dua ……………………………………………………………. 28
4.1.1 Integral Lipat Dua pada Koordinat Kartesius ……………………….. 29
4.1.2 Integral Lipat Dua pada Koordinat kutub (Polar) ………………….… 32
4.2 Integral Lipat Tiga ...………………………………………………………… 34
4.2.1 Integral Lipat Tiga dengan Koordinat Kartesius ….………………… 34
4.2.2 Integral Lipat Tiga dengan Koordinat Tabung dan Bola …..……….. 35
BAB V Integral Garis dan Integral Permukaan …………………..…………. 39

ii
5.1 Integral Garis ……………………………………………………………………39
5.2 Integral Garis Bebas Lintasan ……………………………………….…………. 42
5.3 Teorema Green …………………………………………………………….….. 44
5.4 Integral Permukaan …………………………………………………………….. 45
5.5 Teorema Divergensi dan Sokes ….…………………………………………….. 47
DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………….. .50

iii
1
KALKULUS II

BAB I
PERSAMAAN DIFERENSIAL BIASA

Persamaan Diferensial adalah suatu persamaan yang mengandung satu atau beberapa
turunan dari peubah tak bebasnya. Jika persamaan diferensial tersebut mengandung peubah tak
bebas yang hanya bergantung pada satu peubah bebasnya maka persamaan diferensial tersebut
dinamakan persamaan diferensial biasa. Sedangkan jika peubah bebasnya lebih dari satu
dinamakan persamaan diferensial parsial. Orde suatu persamaan diferensial adalah turunan
tertinggi pada persamaan diferensial tersebut.
Contoh Persamaan Diferensial Biasa :
dy
1. + 2 sin x = 0 , persamaan diferensial orde satu dimana y sebagai peubah tak bebas dan x
dx
merupakan peubah bebas.
d 2r dr
2. 2
+ 2 + 1 = 0 , persamaan diferensial orde dua dimana r sebagai peubah tak bebas dan
dt dt
t merupakan peubah bebas.
Notasi persamaan diferensial bisa dalam beberapa bentuk, antara lain notasi pada contoh
kedua, selain diatas dapat pula ditulis sebagai berikut :
r ” + 2r’ +1 = 0 atau rtt + 2rt + 1 = 0
Persamaan diferensial dikatakan linear, apabila persamaan diferensial tersebut mempunyai
peubah tak bebas maupun turunannya bersifat linear.
Definisi solusi suatu persamaan diferensial :
Misal ada suatu persamaan diferensial dimana y sebagai peubah tak bebas yang bergantung
pada peubah bebas x.
Suatu fungsi f(x) disubstitusikan untuk y dalam persamaan diferensial, persamaan yang
dihasilkan merupakan suatu kesamaan untuk setiap x dalam suatu selang, maka f(x)
dinamakan solusi persamaan diferensial tersebut.
Contoh :
Diketahui persamaan diferensial y’ + 2 sinx = 0
f(x) = 2 cos x + C merupakan solusi persamaan diferensial diatas,
dimana C adalah konstanta yang bergantung pada syarat awal persamaan diferensial
tersebut.

1.1 Persamaan Diferensial Orde Satu


Bentuk umum persamaan diferensial orde satu adalah:
dy f ( x)
=
dx g ( y )
Beberapa metode untuk menyelesaikan persamaan diferensial orde satu, antara lain :
a. Peubah Terpisah
Bentuk umum :
dy f ( x) dy g ( y )
= atau =
dx g ( y ) dx f ( x)
Cara penyelesaian dengan integral biasa dari kedua ruas di bawah ini :
ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
2
KALKULUS II

∫ g ( y)dy = ∫ f ( x)dx
Contoh :
dy y
Tentukan solusi umum dari persamaan diferensial =
dx 1 + x
Penyelesaian :
dy y dy dx
= ⇒ =
dx 1 + x y 1+ x
⇒ ln y = ln(1 + x) + C
⇒ y = C (1 + x)

b. Faktor Integrasi
Bentuk umum merupakan persamaan diferensial linear, yaitu :
y’ + p(x) y = q(x)
Solusi persamaan diferensial diatas adalah :
1
u ( x)q ( x)dx + C dimana u ( x) = e ∫
p ( x ) dx
y=
u ( x) ∫
Bukti :
Kalikan persamaan diferensial (*) dengan u(x) sehingga menjadi :
u(x) y’ + u(x) p(x) y = u(x) q(x)
u(x) y’ + u’(x) y - [ u’(x) y - u(x) p(x) y ] = u(x) q(x)
Ambil u’(x) y - u(x) p(x) y = 0 (**)
Sehingga u(x) y’ + u’(x) y = u(x) q(x)
[ u(x) y ]’ = u(x) q(x)
1
y= ∫
u ( x)
u ( x)q ( x)dx + C

Dari (**) kita mempunyai u’(x) y - u(x) p(x) y = 0


u ( x) = e ∫
p ( x ) dx
Dengan metode peubah terpisah diperoleh : ΘΘΘ

Contoh :
dy y 1
Tentukan solusi umum dari persamaan diferensial + = 2
dx x x
Penyelesaian :
1
p(x) = 1/x u(x) = exp ∫ dx = x
x
1 1 1
y=
x∫x 2 dx = ( ln x + C )
x x

f(x, y) adalah fungsi homogen jika f(kx, ky) = kn f(x, y), untuk k ∈ skalar riil dan n merupakan
orde dari fungsi tersebut.
dy S( x, y )
Beberapa persamaan diferensial orde satu tak linear yang dapat ditulis = , dimana S,
dx T( x, y )
T merupakan fungsi homogen berderajat sama maka solusi persamaan diferensial dapat dicari
dengan menggunakan metode substitusi sehingga menjadi bentuk persamaan diferensial

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
3
KALKULUS II

dengan peubah terpisah. Misal, kita dapat mensubstitusi peubah tak bebas y dengan ux, yaitu :
y = ux dimana u = u(x), sehingga y’ = u’x + u.
Contoh :
dy x + y
Tentukan Solusi umum dari persamaan diferensial =
dx x
Penyelesaian :
Misal y = ux, dimana u = u(x)
Oleh karena itu y’ = u’ x + u
Dengan mensubstitusi pada persamaan diferensial di atas ke persamaan diferensial, di
peroleh :
x + ux
u'x + u =
x
u ' x + u =1 + u
1
u' = ⇒ u = ln x + C
x
Maka
y = x lnx + cx

1.2 Trayektori Ortogonal


Salah satu aplikasi dari persamaan diferensial orde satu adlaah menentukan trayektori
ortogonal dari suatu fungsi persamaan. Trayektori ortogonal dari suatu keluarga kurva adalah
keluarga kurva yang memotong tegak lurus keluarga kurva tersebut.
Langkah-langkah menetikan trayektori ortogonal dari suatu keluarga kurva f(x,y)= C, sebagai
berikut :
Turunkan f(x,y) = C secara implisit terhadap x, Misal Df(x,y)
Jika turunan pertama mengandung C (parameter) maka substitusikan C(x,y) dari
persamaan awal.
Trayektori Ortogonal akan memenuhi persamaan diferensial berikut :
dy 1
=− ,
dx Df ( x, y )
artinya solusi persamaan diferensial diatas merupakan trayektori ortogonal dari
persamaan f(x,y)= C
Contoh :
Tentukan trayektori ortogonal dari keluarga kurva x2 + y2 = C
Penyelesaian :
Turunan implisit dari fungsi di atas adalah : 2x + 2y y‘ = 0
x
Sehingga Df(x,y) = −
y
Trayektori ortogonal akan memenuhi persamaan diferensial :
dy 1 dy y
=− =
dx Df ( x, y ) dx x
Trayektori ortogonalnya adalah y = Cx

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
4
KALKULUS II

Latihan
Tentukan solusi umum dari persamaan diferensial orde satu berikut :

dy
1. = 1 + y2
dx
dy x 2 + 3 xy + y 2
2. =
dx x2
dy
3. + 2 y = 6x
dx
dy y cos x
4. =
dx 1 + 2 y 2
dy
5. x − 2 y = x 3e x
dx
dy y x
6. − − =0
dx 2 x 2 y

Tentukan solusi khusus dari persamaan diferensial orde satu berikut :


dy
7. x − 3y = x4 ; y (1) = 4
dx

8. (
1 + ex )
dy
dx
+ ex y ; y (0) = 1

Tentukan trayektori ortogonal dari fungsi berikut :

9. y = C e −2 x
10. x2 − y2 = C
11. y = C x2
12. x 2 + (y − c )2 = C 2

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
5
KALKULUS II

1.3 Persamaan Diferesial Orde Dua


Bentuk umum persamaan diferensial orde dua :
y” + a y’ + b y = f(x)
Jika f(x) = 0 maka persamaan diferensial diatas disebut persamaan diferensial
homogen, sedangkan jika f(x) ≠ 0 maka dinamakan persamaan diferensial tak
homogen.

1.3.1 Persamaan Diferensial Orde Dua Homogen


Misalkan ada dua fungsi f(x) dan g(x), dikatakan bebas linier pada interval I,
jika persamaan yang merupakan kombinasi linier dari keduanya, yaitu : m f(x) + n g(x)
= 0 untuk setiap x ∈ I hanya dipenuhi oleh m = n = 0. Jika tidak demikian maka
kedua fungsi tersebut dikatakan bergantung linier. Andai fungsi yang diberikan yaitu
f(x) dan g(x) terdiferensialkan untuk setiap x ∈ ℜ. Maka Wronskian dari f(x) dan
g(x) didefinisikan sebagai berikut :
f(x ) g (x )
W (f(x ), g (x )) =
f' (x ) g ' (x )
Keterkaitan antara kebebasan linier dan wronskian dari dua fungsi tersebut dapat
dikatakan sebagai berikut : Dua fungsi f(x) dan g(x) dikatakan bebas linier pada I
jika dan hanya jika wronskian dari kedua fungsi tersebut tidak sama dengan nol, untuk
suatu x ∈ I.
Misal u1 dan u2 adalah solusi persamaan diferensial orde dua dan wronskian
(determinan wrosnki) dari keduanya didefinisikan oleh :
u1 u2
W (u1, u2)=
u1 ' u2 '
Jika W ≠ 0 maka u1 dan u2 saling bebas linear artinya u1 dan u2 merupakan basis
solusi, sehingga kombinasi linear dari u1 dan u2 , yaitu y = c1u1 + c2u2 juga
merupakan solusi dari persamaan diferensial orde dua.
Misal u ( x) = e rx solusi persamaan diferensial orde dua maka dengan
mensubstitusikan pada persamaan diperoleh : e (r + ar + b) = 0
rx 2

Oleh karena e rx ≠ 0 maka r2 + ar + b = 0 (dinamakan persamaan karakteristik)


Solusi umum dari persamaan diferensial orde dua homogen bergantung pada akar
persamaan karakteristik.
Tiga kemungkinan solusi umum persamaan diferensial orde dua :
Persamaan karakteristik mempunyai 2 akar riil yang berbeda (r1 dan r2) maka
solusi umumnya berbentuk :
y ( x) = c1e r1 x + c2 e r2 x
Persamaan karakteristik mempunyai 2 akar riil kembar (r1 = r2 = r) maka solusi
umumnya berbentuk :
y ( x) = c1e rx + c2 xe rx
Persamaan karakteristik mempunyai 2 akar kompleks (r = p ± qi) maka solusi
umumnya berbentuk :
y ( x) = e px (c1 sin qx + c2 cos qx )
Tunjukan (sebagai latihan) bahwa untuk setiap kasus, wronskian ≠ 0.

Contoh :

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
6
KALKULUS II

Tentukan solusi umum persamaan diferensial berikut :


a. y” + y’ – 2y = 0
b. y” + 4y‘ + 4y = 0
c. y” + 9y = 0
Penyelesaian :
a. Persamaan karakteristik yang sesuai adalah
r2 + r – 2 = 0
(r – 1) (r + 2) = 0
mempunyai dua akar real berbeda, yaitu : 1 dan -2
Sehingga solusi umumnya : y ( x) = c1e x + c2e −2 x
b. Persamaan karakteristik yang sesuai adalah
r2 + 4r + 4 = 0
(r – 2) 2 = 0
mempunyai dua akar real kembar, yaitu : 2
Sehingga solusi umumnya : y ( x) = c1e 2 x + c2 xe 2 x
c. Persamaan karakteristik yang sesuai adalah
r2 + 9 = 0
r2 = – 9
r=3i
mempunyai akar kompleks, yaitu : 3i
Sehingga solusi umumnya : y ( x) = c1 sin 3x + c2 cos 3x

1.3.2 Persamaan Diferensial Orde Dua Tak Homogen


Bentuk umum persamaan diferensial orde dua :
y” + a y’ + b y = f(x)
Solusi umum dari persamaan diferensial orde dua tak homogen adalah y = yh + yp,
dimana yh merupakan solusi homogen dan yp solusi pelengkap.
Solusi homogen diperoleh dari persamaan diferensial orde dua homogen (ambil f(x) =
0), sedangkan untuk menentukan solusi pelengkap ada dua metode, yaitu :
• Koefisien Tak Tentu
• Variasi Parameter

Metode Koefisien Tak Tentu


Metode ini sangat berguna manakala fungsi f (x) berupa polinom, eksponensial sinus,
dan cosinus. Metode ini bisa dikatakan metode coba-coba, untuk memudahkan
perhatikan tabel berikut :
f (x) yp
n n
Cx bnx + ….+ b1x + b0
Ceax Aeax
Cxeax Aeax + Bxeax
Csin ax A sin ax + Bcos ax
Bcos ax A sin ax + Bcos ax
Ket : C, B, A, a, b0 , b1 , …, bn adalah konstanta riil.
Aturan 1 : Jika f (x) merupakan fungsi seperti pada kolom pertama, pilih yp dari
kolom kedua yang bersesuaian (terletak pada baris yang sama)

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
7
KALKULUS II

Aturan 2 : Jika f (x) sama dengan salah satu dari solusi homogen maka kalikan yp
dengan x atau dengan x2 jika f (x) sama dengan salah satu dari solusi
homogen yang berasal dari dua akar kembar.
Aturan 3 : Jika f (x) penjumlahan dari fungsi dalam kolom satu maka pilih yp sebagai
penjumlahan dari baris-baris yang bersesuaian.
Setelah memilih yp yang diinginkan, dengan mensubstitusikan yp tersebut pada
persamaan diferensial, kita berusaha menetukan koefisien yang yp. sehingga diperoleh
solusi umum dari persamaan diferensial tersebut yaitu penjumlahan dari solusi
homogen (yh) dengan solusi pelengkap (yp).
Contoh :
Tentukan solusi umum persamaan diferensial berikut :
d2y dy
2
−3 − 4 y = 2 sin x
dx dx
Penyelesaian :
Kita mempunyai solusi umum homogen
yh = c1e − x + c2 e 4 x
Untuk menentukan solusi pelengkap, kita pilih :
yp = Asinx + B cosx
Substitusikan ke persamaan diferensial, sehingga diperoleh :
(– A + 3B – 4A) sinx + (– B – 3A – 4B) cosx = 2 sinx
Maka ada dua persamaan yaitu :
– 5A + 3B = 2
– 5B – 3A = 0
Oleh karena itu A = – 5/17 dan B = 3/17
Solusi umum dari persamaan diferensial diatas adalah :
5 3
y ( x) = c1e − x + c2 e 4 x − sin x + cos x
17 17

Metode Variasi Parameter


Metode ini lebih umum dari metode sebelumnya, artinya jika kondisi persamaan
diferensial seperti di atas, metode ini dapat digunakan dalam menentukan solusinya.
Jika f (x) tidak sama dengan fungsi-fungsi pada kolom pertama tabel maupun
penjumlahannya, bisa berupa perkalian atau pembagian dari fungsi-fungsi tersebut,
kondisi ini mendorong kita untuk menggunakan metode variasi parameter.
Solusi pelengkap dari persamaan diferensial dengan menggunakan metode variasi
parameter adalah :
yp = v1u1 + v2u2
dimana u1, u2 merupakan solusi homogen yang bebas linear, sedangkan
−u 2 f ( x) u1 f ( x)
v1 = ∫ [u u '−u u ']dx
1 2 2 1
dan v2 = ∫ [u u '−u u ']dx
1 2 2 1
Bukti :
Misal yp = v1u1 + v2u2 solusi persamaan diferensial.
Substitusikan sehingga diperoleh:
v1’u1’ + v2’u2’ + v1u1” + v2u2” + a (v1’u1 + v2’u2 + v1u1’+ v2u2’)
+ b(v1u1+ v2u2)= f (x)

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
8
KALKULUS II

v1’u1’ + v2’u2’ + a (v1’u1 + v2’u2)


+ v1u1” + v2u2” + a(v1u1’+ v2u2’) + b(v1u1+ v2u2)= f (x)
v1’u1’ + v2’u2’ + a (v1’u1 + v2’u2)
+ v1(u1” + au1’+ bu1) + v2 (u2” + au2’ + bu2)= f (x)
u1, u2 merupakan solusi homogen, oleh karena itu :
v1’u1’ + v2’u2’ + a (v1’u1 + v2’u2) = f (x)
Ambil v1’u1 + v2’u2 = 0, sehingga v1’u1’ + v2’u2’ = f (x)
Dengan memperhatikan dua persamaan terakhir, yaitu :
v1’u1 + v2’u2 = 0
v1’u1’ + v2’u2’ = f (x)
Dapat ditulis dalam bentuk perkalian matriks berikut :
 u1 u 2   v1 '   0 
  = 
u1 ' u 2 ' v2 '  f ( x)
Dengan aturan Cramer diperoleh :
0 u2 u1 0
f ( x) u 2 ' u1 ' f ( x)
v1 ' = dan v2 ' =
u1 u2 u1 u2
u1 ' u 2 ' u1 ' u 2 '
Dengan jaminan bahwa u1, u2 merupakan solusi homogen yang bebas linear maka
u1 u2
W (u1, u2)= ≠0 ΘΘΘ
u1 ' u2 '

Contoh :
Tentukan solusi umum persamaan diferensial y “ + y = sec x
Penyelesaian :
Kita mempunyai solusi umum homogen y h = c1 sin x + c2 cos x
Untuk menentukan solusi pelengkap, kita menghitung wronskian terlebih
dahulu, yaitu :
cos sin x
W ( u1 , u 2 ) =
− sin x cos x
= cos2 x + sin 2 x
=1
oleh karena itu
− sin x sec x cos x sec x
v1 = ∫ 1
dx = ln cos x dan v2 = ∫ 1
dx = x

Sehingga yp = cosx ln |cosx| + x sinx


Maka solusi umum persamaan diferensial di atas adalah :
y ( x) = c1 sin x + c2 cos x + cos x ln cos x + x sin x

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
9
KALKULUS II

Latihan
Tentukan solusi umum (khusus) persamaan diferensial berikut :
1. y ” + 4y = 3sin2x ; y(0) = 2 dan y’(0) = -1
2. y ” + 2y’ + y = 2e-x
3. y “ + 9y = sinx + e2x
4. y ” + 2y’ = 3 + 4 sin2x
5. y ” + y = csc x
6. y ” + 2y’ + y = e-x cosx
7. y “ + 2y’ + y = 4e-x ln x ; y(1) = 0 dan y’(1) =-e-1
8. y ” + 4y’ + 4y = x-2 e-2x

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
11
KALKULUS II

BAB II
FUNGSI DUA PEUBAH

2.1 Bentuk Permukaan di Ruang


Sebelum belajar tentang fungsi dua peubah, terlebih dahulu kita mengenal
permukaan di ruang dan cara membuat sketsa suatu permukaan di ruang (R3). Berikut
beberapa fungsi permukaan di ruang, antara lain :
a. Bola, mempunyai bentuk umum :
x2 + y2 + z2 = a2 a>0
Jejak di bidang XOY, z = 0 x 2 + y 2 = a 2 , berupa lingkaran
Jejak di bidang XOZ, y = 0 x 2 + z 2 = a 2 , berupa lingkaran
Jejak di bidang YOZ, x = 0 y 2 + z 2 = a 2 , berupa lingkaran

b. Elipsoida, mempunyai bentuk umum :


x2 y2 z2
+ + =1 a, b, c > 0
a2 b2 c2
x2 y2
Jejak di bidang XOY, z = 0 + = 1, berupa ellips
a2 b2
x2 z2
Jejak di bidang XOZ, y = 0 + = 1, berupa ellips
a2 c2
y2 z2
Jejak di bidang YOZ, x = 0 + = 1, berupa ellips
b2 c2
Z

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
12
KALKULUS II

c. Hiperboloida berdaun satu , mempunyai bentuk umum :


x2 y2 z2
+ − =1 a, b, c > 0
a2 b2 c2
x2 y2
Jejak di bidang XOY, z = 0 + = 1, berupa ellips
a2 b2
x2 z2
Jejak di bidang XOZ, y = 0 − = 1, berupa hiperbol
a2 c2
y2 z2
Jejak di bidang YOZ, x = 0 − = 1, berupa hiperbol
b2 c2

d. Hiperboloida berdaun dua, mempunyai bentuk umum :


x2 y2 z2
2
− 2
− =1 a, b, c > 0
a b c2

y2 z2 x2
2
+ 2
= −1 maka terdefinisi saat x ≤ - a atau x ≥ a
b c a2

x2 y2
Jejak di bidang XOY, z = 0 2
− = 1, berupa hiperbol
a b2

x2 z2
Jejak di bidang XOZ, y = 0 − = 1, berupa hiperbol
a2 c2

Jejak di bidang, x = k (konstanta), k > a atau k < - a , berupa ellips

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
13
KALKULUS II

e. Paraboloida eliptik , mempunyai bentuk umum :


x2 y2 z
2
+ 2
= a, b, c > 0
a b c

Cara membuat sketsa di ruang, dengan menelusuri setiap jejak di bidang yaitu :
Jejak di bidang z = k (konstanta positif), berupa ellips
x2 z
Jejak di bidang XOZ, y = 0 2
= , berupa parabol
a c

y2 z
Jejak di bidang YOZ, x = 0 2
= , berupa parabol
b c

f. Paraboloida hiperbolik, mempunyai bentuk umum :

y2 x2 z
2
− 2 = a, b, c > 0
b a c
Cara membuat sketsa di ruang, dengan menelusuri setiap jejak di bidang yaitu :

y2 x2
Jejak di bidang XOY, z = 0 − = 0 , berupa garis
b2 a2
Jika z = konstanta berupa hiperbol

x2 z
Jejak di bidang XOZ, y = 0 − 2
= , berupa parabol
a c

y2 z
Jejak di bidang YOZ, x = 0 2
= , berupa parabol
b c
Sehingga sketsa dari paraboloida hiperbolik, adalah

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
14
KALKULUS II

g. Kerucut, mempunyai bentuk umum :


x2 y2 z2
2
+ 2
= a, b, c > 0
a b c2

x2 y2 k2
Jejak di bidang XOY, z = k (konstanta) ≠ 0 + = , berupa ellips
a2 b2 c2

x2 z2
Jejak di bidang XOZ, y = 0 2
= , berupa garis
a c2

y2 z2
Jejak di bidang YOZ, x = 0 2
= , berupa garis
b c2

2.2 Daerah Definisi dan Kurva Ketinggian Fungsi Dua Peubah


Definisi fungsi dua peubah :
Misal A ⊆ R2, suatu fungsi f : A R adalah suatu aturan yang memasangkan
setiap unsur di A dengan tepat satu unsur di R. Aturan fungsi f dapat ditulis sebagai

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
15
KALKULUS II

z = f(x, y). Dalam kasus ini daerah definisi f adalah A, sedangkan daerah hasil fungsi f
= Rf = {z ∈ R | z = f(x,y), x, y ∈ A}
Derah definisi fungsi dua peubah f (x,y) merupakan daerah pada bidang XOY sehingga
fungsi tersebut akan terdefinisi.
Contoh :
Tentukan dan gambarkan daerah definisi fungsi :
ln(2 + x)
f ( x, y ) =
y −1

Penyelesaian :
Syarat f(x,y) terdefinisi :
• ln (2 + x) terdifinisi jika (2 + x) > 0 ,
oleh karena itu x > - 2
• y −1 tedefinisi jika (y - 1) ≥ 0,

tapi karena penyebut tidak boleh sama dengan nol maka (y - 1) ≥ 0, oleh
karena itu y > 1
Sehingga daerah definisi (Df) dari fungsi diatas adalah :

Df = { (x, y) | x > -2 dan y > 1, x, y ∈ℜ}


Sketsa daerah definisi pada kartesius adalah :
y

Df
y=1

x
x=2
Kurva ketinggian dari suatu fungsi f(x,y) adalah proyeksi dari perpotongan permukaan
f(x,y) dengan bidang z = k (konstanta) pada bidang XOY.
Contoh :
Tentukan dan gambarkan kurva ketinggian dari fungsi f(x,y) = x2 + y2
untuk z = 0, 1, 4

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
16
KALKULUS II

Penyelesaian :
z=0 0 = x2 + y2 , kurva ketinggian berupa titik di (0, 0, 0)
z=1 1 = x2 + y2 , kurva ketinggian berupa lingkaran dengan jari-jari satu
z=4 4 = x2 + y2 , kurva ketinggian berupa lingkaran dengan jari-jari dua
y

z=1

z=0 x
z=4

Latihan :
Tentukan dan gambarkan daerah definisi fungsi berikut :

1. f ( x, y ) = 1 − x 2 − y 2

x
2. f ( x, y ) =
1− y

xy 2
3. f ( x, y ) =
x2 − y2

Tentukan dan gambarkan kurva ketinggian dari fungsi berikut :


x+ y
4. z = f ( x, y ) = , untuk z = 0, 1, 2, 3
x−y

5. z = f ( x, y ) = x + y 2 , untuk z = -2, -1, 0, 1, 2

x2
6. z = f ( x, y ) = , untuk z = -4, -1, 0, 1, 4
y

2.4 Turunan Parsial


Diketahui fungsi dua peubah f(x,y), denganmengambil nilai y = b (konstanta) maka
fungsi menjadi f(x, b), ini dapat dipandang sebagai fungsi satu peubah x. Seperti pada

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
17
KALKULUS II

kalkulus fungsi satu peubah, kita dapat mendefinisikan fungsi satu turunan dari z = g(x) =
f(x, b), yaitu g’(x). Dengan menggunakan limit, turunan parsial fungsi f(x,b) terhadap
x dapat ditulis :
∂f ( x , b ) dg ( x) f ( x + h), b) − f ( x, b)
= = lim
∂x dx h → 0 h

asalkan limitnya ada.


Secara geometris, turunan parsial diatas dapat diartikan sebagai berikut :
Perpotongan bidang y = b dengan fungsi permukaan f(x,y) berupa sebuah kura
(lengkungan s) pada permukaan tersebut. Turunan parsial fungsi f(x,y) di titik (a,b)
merupakan gradien garis singgung terhadap kurva s pada titik (a, b, f(a,b)) dalam
arah sejajar sumbu x.

(a,b)

∂f (a, b)
Notasi dari turunan parsial di atas adalah atau f x ( a, b)
∂x

Secara analog dengan cara di atas, kita dapat memperoleh turunan parsial f(x,y) terhadap
peubah y.
Contoh :
Tentukan turunan parsial pertama, kedua, dan campuran terhadap masing-masing
peubah fungsi f(x,y) = 2x2y + 3x2y3
Penyelesaian :
fx (x, y) = 4xy + 6xy3

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
18
KALKULUS II

fy (x, y) = 2x2 + 9x2y2

fxx (x, y) = 4y + 6y3

fyy (x, y) = 18 x2y

fxy (x, y) = 4x + 18x y2 ; fyx (x, y) = 4x + 18x y2 fxy = fyx

fxy dan fyx dinamakan turunan parsial campuran.

Latihan :
Tentukan turunan parsial pertama, kedua, dan campuran dari fungsi berikut :
xy
1. f(x, y) = e–

2. f(x, y) = y cos (x2 + y2)

2.5 Vektor Gradien dan Turunan Berarah


Jika f fungsi dua peubah yang dapat didiferensialkan di p =(a, b) maka
df (a, b) ˆ df (a, b) ˆ
∇ f ( a, b ) = i+ j
dx dx

disebut vektor gradien dari f di titik (a, b)


Misal p adalah proyeksi dari suatu titik di permukaan f pada bidang XOY.
Untuk setiap vektor satuan u , andaikan
f ( p + hu ) − f ( p )
Du f ( p ) = lim
h→ 0 h

limit ini ada, maka D u f(p) disebut turunan berarah f di titik p pada arah u .
Andaikan f dapat didiferensialkan di (a, b), maka turunan berarah di (a, b) pada arah
vector satuan u = u1i + u2j adalah hasilkali titik antara vector gradien dengan vector
satuan tersebut. Dengan demikian dapat ditulis :
Du f ( p ) = ∇ f ( p) • u atau D u f(a, b) = fx (a, b)u1 + fy (a, b)u2

Contoh :
Tentukan turunan berarah dari f(x,y) =2x2 + xy – y2 di titik (3, – 2) dalam arah
vector a = iˆ − ˆj !

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
19
KALKULUS II

Penyelesaian
fx (x, y) = 4x + y fx (3, – 2) = 10

fy (x, y) = x – 2y fy (3, – 2) = 7
oleh karena itu :
∇ f ( x, y ) = (4 x + y )iˆ + ( x − 2 y ) ˆj sehingga ∇ f (3,−2) = 10iˆ + 7 ˆj

a 1 ˆ 1 ˆ
sedangkan u = = i− j
a 2 2

10 7 3
Maka Du f (3,−2) = ∇ f (3,−2) • u = − =
2 2 2

2.6 Bidang Singgung


Definisi bidang singgung :
Andai F(x, y, z) = k (konstanta) merupakan suatu permukaan dan misalkan dapat
didiferensialkan di sebuah titik P(a, b, c) dari permukaan dengan ∇f (a, b, c) ≠ 0 .
Maka bidang yang melalui P yang tegak lurus ∇ f (a, b, c) dinamakan bidang
singgung.
Untuk permukaan F(x, y, z) = k, persamaan bidang singgung di titik (a, b, c) adalah :
Fx(a, b, c) (x – a) + Fy(a, b, c) (y – b) + Fz (a, b, c) (z – c) = 0
Jika permukaan z = f(x, y) maka persamaan bidang singgung di (a, b, F(a, b)) adalah :
z – F(a, b) = Fx(a, b) (x – a) + Fy(a, b) (y – b)
Contoh :
Tentukan persaman bidang singgung dan garis normal terhadap permukaan :
x 2 + y 2 + 2z 2 = 23 di titik (1, 2, 3) !
Penyelesaian :
Andaikan F(x,y,z) = 23 sehingga ∇ f ( x , y, z) = 2 x î + 2 y ĵ + 4z k̂ dan

∇ f (1,2,3) = 2î + 4 ĵ + 12k̂ . Maka persamaan bidang singgung di titik (1,2,3)


adalah :
2( x – 1 ) + 4 ( y – 2 ) + 12( z – 3 ) = 0
Sedangkan persamaan simetri dari garis normal yang melalui (1, 2, 3) adalah :

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
20
KALKULUS II

x −1 y − 2 z − 3
= =
2 4 12
Andaikan z = f(x, y), dengan f suatu fungsi yang dapat didiferensialkan, dan andaikan
dx dan dy (disebut diferensial dari x dan y) berupa peubah. Difenesial total dari peubah
tak bebas (dz) disebut juga diferensial total f (df (x, y)), didefinisikan oleh :
dz = df (x, y) = fx (x, y) dx + fy (x, y) dy

Latihan :
Tentukan turunan parsial pertama, kedua, dan campuran dari fungsi berikut :
− xy
1. f(x,y) = e

2. f(x,y) = y cos( x 2 + y 2 )
( x + y)
3. f(x,y) = ln
( x − y)
Tentukan
4. f(x,y) = e − x cos y di titik P( 0, π/3) dalam arah menuju ke titik asal !

5. f(x,y) = 2 x 2 + xy − y 2 di titik P(3, – 2 ) dalam arah vektor yang membentuk sudut


300 dengan arah sumbu – x positif !
3y
6. Tentukan persamaan bidang simggung permukaan z = 2 e cos 2 x di titik P(π/3, 0, -
1) !

2.7 Nilai Ekstrim


Definisi titik kritis :
Misal (a, b) suatu titik pada daerah asal f(x, y). Titik (a, b) disebut titik kritis dari
fungsi f(x, y) jika ∇f = 0 atau tidak mempunyai turunan parsial untuk setiap peubah
bebasnya.

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
21
KALKULUS II

Jadi fungsi f(x, y) yang mempunyai turunan parsial, pada titik kritis, bidang singgung
terhadap f (x, y) adalah sejajar dengan bidang XOY.
Jenis titik kritis, antara lain :
• Titik batas
• Titik stasioner
• Titik singular
Misal (a, b) suatu titik pada daerah asal f(x, y) maka (a, b) dinamakan titik stasioner jika
ρ ρ
dan hanya jika ∇f ( x, y) = 0
Dengan kata lain :
∂f (a, b) ∂f (a, b)
= 0 dan =0
∂x ∂y

Definisi nilai maksimum dan nilai minimum :


Diketahui fungsi dua peubah f(x, y) dimana S merupakan daerah definisinya.
f(a,b) disebut nilai maksimum global jika f(a, b) ≥ f(x, y) untuk setiap x, y di S
f(a,b)) disebut nilai minimum global jika f(a, b) ≤ f(x, y) untuk setiap x, y di S.
Definisi yang sama berlaku dengan kata global digantikan oleh kata lokal jika
pertidaksamaan di atas hanya berlaku pada suatu hmpunan bagian S. Jika f(a, b)
merupakan nilai maksimum atau nilai minimum maka f(a, b) dinamakan nilai ekstrim
pada S.
Diketahui f(x, y) fungsi dua peubah yang mempunyai turunan kedua kontinu di
suatu lingkungan dari (a, b). Misal (a,b) merupakan titik kritis dari f(x, y), dan
D = fxx(a,b)fyy(a,b) - [fxy(a,b)]2
Maka :
Jika D > 0 dan
fxx > 0 maka f(a, b) merupakan nilai minimum
fxx < 0 maka f(a, b) merupakan nilai maksimum
Jika D < 0 maka titik (a,b, f(a,b)) merupakan titik pelana (sadel)
Jika D = 0, pengujian gagal, titik kritis yang demikian disebut titik kritis trivial.
Contoh :

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
22
KALKULUS II

Tentukan nilai ekstrim dan jenisnya dari fungsi


f(x,y) = 2x 4 − x 2 + 3y 2 !
Penyelesaian :
Turunan parsial dari fungsi tersebut adalah :
3
fx (x, y) = 8x – 2x dan fy (x, y) = 6y
2
Sedangkan fxx (x, y) = 24x – 2, fyy (x, y) = 6, serta fxy(x, y) = 0
Karena fungsi di atas merupakan fungsi polinom yang berarti bahwa
terdiferensialkan di daerah definisinya, maka titik kritisnya merupakan titik
ρ ρ
stasioner yang memenuhi ∇f ( x, y) = 0 , sehingga titik kritis dari fungsi tersebut
adalah : (0, 0), ( ½ , 0), dan ( – ½ , 0)
Untuk (0, 0) D = – 12 < 0
Untuk ( ½ , 0) D = 24 > 0 dan fxx ( ½ , 0) = 4 > 0

Untuk ( – ½ , 0) D = 24 > 0 dan fxx (– ½ , 0) = 4 > 0


Jadi nilai ekstrim untuk fungsi di atas adalah :
f ( ½ , 0) = f (– ½ , 0) = – 1/8 merupakan minimum lokal, sehingga titik
minimumnya adalah ( ½ , 0, – 1/8) dan (– ½ , 0, – 1/8).
Sedangkan (0, 0, 0) merupakan titik pelana (sadel).

Latihan :
Tentukan titik kritis, nilai ekstrim dan jenisnya (jika ada) dari fungsi berikut :
1. f(x,y) = xy 2 − 6 x 2 − 3y 2
2 2
2. f(x,y) = xy + +
x y

−  x 2 + y 2 − 4 y 
3. f(x,y) = e  

1 2
4. f(x,y) = x 3 − 3xy + y
2

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
23
KALKULUS II

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
22
KALKULUS II

BAB III
FUNGSI VEKTOR

3.1 Daerah Definisi dan Grafik


Definisi fungsi vektor :
Fungsi vektor merupakan aturan yang mengkaitkan daerah asal himpunan riil
dengan daerah hasil yang berupa vektor (R2 atau R3)
Notasi : F (t) = f1(t) i + f2(t) j Î fungsi vektor di bidang
F (t) = f1(t) i + f2(t) j + f3(t) k Î fungsi vektor di ruang
dimana i, j, k, masing-masing merupakan vektor satuan untuk arah x, y, dan z,
sedangkan f1(t), f2(t), f3(t) merupakan fungsi parameter yang bernilai riil.

Daerah asal
Misal F (t) merupakan fungsi vektor, maka daerah asal F (t) = D F =

{t | t ∈ D f1 ∩ D f2 } untuk F (t) di bidang, sedangkan untuk F (t) di ruang

maka D F = {t | t ∈ D f1 ∩ D f 2 ∩ D f3 } , dimana D f , D f 2 , D f 3 merupakan


1

daerah asal untuk masing-masing fungsi parameter.


Contoh :
–½
Tentukan daerah asal dari fungsi F (t) =ln |1– t | i + (t–5) j

Penyelesaian :

f1 = ln |t – 1 | Î D f 1 = { t | t > 1, t ∈ ℜ}
½
f2 = ( t – 5) – Î D f 2 = { t | t > 5, t ∈ ℜ}

Maka D F = { t | t > 5, t ∈ ℜ}

Grafik Fungsi
Grafik dari fungsi vektor adalah berupa lengkungan di R2(3) yang mempunyai arah
tertentu.
Contoh :
F (t) = 3 cos t i + 2 sin t j, untuk 0 < t < π

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
23
KALKULUS II

Penyelesaian :
x = 3 cos t dan y = 2 sin t
maka cos t = x/3 dan sin t = y/2
kita tahu bahwa : cos2 t + sin2 t = 1
oleh karena itu grafik fungsi F (t) adalah berupa ellips :
x2 y2
+ =1
32 22

dimana saat t = 0 Î x = 3 dan y = 0


saat t = π Î x = – 3 dan y = 0
ini merupakan titik pangkal dan ujung dari lengkungan (kurva) tersebut
sehingga grafiknya sebagai berikut :

x
–3 3

Latihan :
Tentukan daerah asal dari fungsi vektor berikut :
1 ˆ
1. r (t ) = i + 4 + t ˆj
t−2

1 ˆ
2. g (t ) = t 2 − 1 iˆ + j
t−2

Gambarkan grafik dari fungsi vektor berikut :


3. ( )
f (t ) = (t + 1) iˆ + t 2 − 2t ˆj ; untuk -1 ≤ t ≤ 2

t ˆ
4. r (t ) = i + 4 − t 2 ˆj ; untuk 0 ≤ t ≤ 2
2

3.2 Limit, Kekontinuan dan Turunan Fungsi Vektor


Misal F (t) = f1(t) i + f2(t) j, fungsi vektor di bidang. F (t) dikatakan
mempunyai limit di c jika dan hanya jika f1(t) mempunyai limit di c dan f2(t)
mempunyai limit di c, sehingga berlaku :

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
24
KALKULUS II

   
lim F (t ) =  lim f1 (t ) iˆ +  lim f 2 (t ) ˆj
t→ c t → c  t → c 

Semua sifat limit berlaku untuk fungsi vektor. Demikian pula dalam hal
kekontinuan, yaitu F (t) kontinu di c apabila lim F (t ) = F (c) .
t→ c

Dengan demikian, kita dapat mendefinisikan turunan dari fungsi vektor sebagai
berikut :
dF (t ) F (t + h) − F (t )
= lim
dt h → 0 h
= lim
( f1 (t + h) + f 2 (t + h) ) − ( f1 (t ) + f 2 (t ) )
h→ 0 h
df1 (t ) df 2 (t )
= +
dt dt
Dengan cara yang sama, kita dapat medefinisikan untuk fungsi vektor di ruang (R3).

Contoh :
t
Tentukan turunan pertama dan kedua fungsi F (t) = (t2 + t) i + e j
Penyelesaian :
t
F ’(t) = (2t + 1) i + e j
t
F ”(t) = 2 i +e j

3.3 Kinematika Partikel


Misalkan r(t) = x(t) i + y(t) j + z(t) k, untuk a ≤ t ≤ b merupakan vektor
posisi untuk titik P = P(t) yang menyusuri kurva selama t bertambah besar. Misal
r’(t) ada dan kontinu dan r’(t) ≠ 0 (sehingga disebut kurva mulus). Panjang bususr
s dari P(a) ke P(t) diberikan oleh :
t t 2 2 2
dr  dx   dy   dz 
s= ∫
a du
du = ∫
a
  +   +   du
 du   du   du 
Jika t mengukur waktu, kita dapat mendefinisikan kecepatan, laju dan percepatan,
yaitu :
Kecepatan : v(t) = r ’(t)
Laju : ds/dt = | r ’(t) | = | v(t) |
Percepatan : a(t) = r “ (t)
Contoh :

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
25
KALKULUS II

Tentukan vektor kecepatan, laju dan vektor percepatan dari vektor posisi r
2 3
(t) = 3t i + t j , saat t = 2
Penyelesaian :
Kecepatan = v (t) = r ‘ (t) = 6 t i + 3t2 j Î v (t=2) = 12 i + 12 j
½
Laju = ds/dt = | r ’(t) | = | v(t) | = (122+122) = 12 2
Percepatan = a (t) = v’ (t) = 6 i + 6t j Î a ( t = 2) = 6 i + 12 j

Latihan :
Tentukan turunan pertama dan kedua dari fungsi vektor berikut :
1. r (t) = (2t + 3)2 i – e2t j
2. r (t) = cos 2t i – sin3 t j
Tentukan vektor kecepatan, laju dan vektor percepatan saat t = t1 dari vektor posisi
berikut :
3. r (t) = e –t i + e t j ; untuk t1 = 1
4. r (t) = 2 cos t i – 3 sin2 t j; untuk t1 = π /3
5. r (t) = cos t i – 2 tan t j ; untuk t1 = – π /4
6. r (t) = et/2 i + e –t j ; untuk t1 = 2

3.4 Kelengkungan
Diketahui vektor posisi r (t) = f1(t) i + f2(t) j untuk a ≤ t ≤ b dan titik P(t)
pada bidang. Andaikan r‘ (t) ada, kontinu dan tidak pernah nol pada selang [a, b].
Maka apabila t bertambah nilainya, P akan bergerak sepanjang sebuah kurva mulus,
panjang lintasan s = h(t) dari P(a) ke P(t) ditentukan oleh :
t t
s = h(t ) = ∫ [f 1 ' (u )] + [f 2 ' (u )]
2 2
du = ∫ r ' (u ) du
a a

Oleh karena r‘ (t) ≠ 0, maka | v(t) | > 0. Dengan demikian s naik apabila t naik,
sehingga s mempunyai fungsi invers, yaitu : t = h–1(s) dan
dt 1 1
= =
ds ds v (t )
dt

Misal, T(t) adalah vektor singgung satuan di P(t), didefinisikan sebagai :

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
26
KALKULUS II

r ' (t ) v (t )
T (t ) = =
r ' (t ) v (t )

Apabila P(t) bergerak sepanjang kurva, vektor satuan T(t) merubah arahnya.
Perbandingan perubahan T terhadap panjang busur s, yaitu : dT / ds dinamakan
vektor kelengkungan di P. Akhirnya kita definisikan kelengkungan κ (kappa) di P
ditentukan sebagai besaran dT / ds, jadi κ = | dT / ds |.
Dengan demikian vektor kelengkungan dapat ditulis :
dT dT dt T ' (t )
= =
ds dt ds v (t )

sedangkan kelengkungannya adalah :

dT T ' (t )
κ= =
ds v (t )

Andaikan x = f(t) dan y = g(t) adalah persamaan parameter kurva mulus. Maka
x' y"− y ' x"
κ=
[x ' 2
+ y' 2 ]
3
2

Khusus untuk kurva dengan persamaan y = h(x), berlaku :


y"
κ=
[1 + y ' ] 2
3
2

Contoh :
Tentukan kelengkungan ellips x =3cos t, y = 2sin t pada titik t = 0 dan t = π/2 !
Penyelesaian :
x ‘ (t) = –3 sin t Î x “ (t) = –3 cos t
y ‘ (t) = 2 cos t Î y “ (t) = –2 sin t

x' y"− y ' x" 6 sin 2 t + 6 cos 2 t 6


κ = κ (t ) = = =
[x ' 2
+ y' 2 ]
3
2
[9 sin 2
t + 4 cos 2 t ]
3
2
[5 sin 2
t+4 ]
3
2

Sehingga κ (0) = ¾ dan κ (π/2) = 2/9


Terlihat bahwa κ (0) > κ (π/2), cocok dengan kenyataan.

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
27
KALKULUS II

Latihan :
Tentukan vektor singgung satuan dan kelengkungan saat t = t1 dari vektor posisi
berikut :
1. r (t) = 4t2 i + 4t j ; t1 = ½
2. r (t) = 4cos t i + 3 sin t j ; t1 = π/4
3. r (t) = e t sin t i + e t cos t j ; t1 = π/2
Tentukan kelengkungan di titik yang diberikan dari fungsi berikut :
4. y2 = x + 4 ; (– 3 , – 1)
5. y = ln x ; (1, 0)
6. y = ex – x ; (0, 1)
7. y = cos ½ x ; (0, 1)

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
28
KALKULUS II

BAB IV
INTEGRAL LIPAT

3.1 Integral Lipat Dua

Misalkan R merupakan suatu persegi panjang tertutup, yaitu :


R = {(x, y) : a ≤ x ≤ b, c ≤ y ≤ d}
Bentuk partisi P dari R yang berupa persegi panjang kecil, dengan luas berukuran
∆Ak = xk yk untuk setiap k = 1, 2, 3, … n jika R dibagi menjadi n buah persegi
panjang kecil. Misal, ( x k , y k ) adalah sembarang titik di dalam persegi panjang kecil
ke-k, maka seperti halnya pengertian integral terdahulu, kita dapat mendefinisikan
integral lipat dua dengan menggunakan Jumlah Riemann.
Definisi integral lipat dua :
Misalkan f suatu fungsi dua peubah yang terdefinisi pada suatu persegi panjang
n
tertutup R. Jika lim
P →0
∑ f ( x , y )∆A
k =1
k k k ada, kita katakan f dapat diintegralkan pada R.

Lebih lanjut ∫∫ f ( x, y)dA ,


R
yang disebut integral lipat dua f pada R diberikan

oleh :
n

∫∫ f ( x, y )dA = lim
P →0
∑ f ( x , y )∆A
k =1
k k k
R

Sifat Integral lipat dua:


• Linear, yaitu :

∫∫ [c
R
1 f ( x, y ) + c2 g ( x, y )]dA = c1 ∫∫ f ( x, y)dA + c ∫∫ g ( x, y)dA
R
2
R

dimana c1 dan c2 adalah konstanta.


• Jika daerah R merupakan gabungan dari dua daerah (R1 dan R2) dengan batas pada
suatu ruas garis maka :
R1 R2
∫∫
R
f ( x, y )dA = ∫∫
R1
f ( x, y )dA + ∫∫R2
f ( x, y )dA

• Jika f(x,y) ≤ g(x,y) untuk setiap (x,y) di R maka

∫∫ f ( x, y)dA ≤ ∫∫ g ( x, y)dA
R R

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
29
KALKULUS II

3.1.1 Integral Lipat Dua pada Koordinat Kartesius


Integral lipat dua atas daerah R dapat dihitung dengan dua integrasi (dalam
integral biasa) secara berturut-turut.
Misalkan R merupakan daerah persegi panjang, yaitu :
R = {(x,y) | a ≤ x ≤ b, c ≤ y ≤ d}
maka integral lipat dua dari fungsi f(x,y) pada daerah R adalah:

d b b d

∫∫ f ( x, y) dA = ∫ ∫ f ( x, y) dx dy = ∫∫ f ( x, y) dy dx
R c a a c

Contoh :
Hitung integral lipat dua berikut ini :

∫∫ (x )
2
+ 2 y 2 dA
R

dimana R = {(x,y) | 0 ≤ x ≤ 6, 0 ≤ y ≤ 4}
Penyelesaian :
4 6

∫∫ (x ) ∫ ∫ (x )
2
+ 2 y 2 dA = 2
+ 2 y 2 dx dy
R 0 0
x =6
b
 x3
= ∫  + 2 y 2 x dy
a 
3 x =0
b

∫ (72 + 12 y ) dy
2
=
a

= 544

Jika R (daerah integrasi) berupa persegi panjang, perubahan urutan


pengintegralan tidak berpengaruh, tetapi jika daerah R bukan persegi panjang, urutan
pengintegralan harus benar-benar diperhatikan.
Jika daerah integrasi R merupakan sembarang (bukan daerah persegi panjang) ada
beberapa hal yang harus diperhatikan. Untuk lebih jelanya, perhatikan dua kasus
berikut dalam hal perhitungan integralnya.

Tinjau 2 kasus berikut :

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
30
KALKULUS II

a. D = {(x,y) | a ≤ x ≤ b , p(x) ≤ y ≤ q(x) }

q(x)
D
p(x)

a x
b

Integral lipat dua pada daerah D dapat dihitung sebagai berikut :


b q( x)

∫∫ f ( x, y)dA = ∫ ∫ f ( x, y) dy dx
D a p( x)

b. D = {(x,y) | r(y) ≤ x ≤ s(y) , c ≤ y ≤ d }

c
r (y) s (y)
x

Integral lipat dua pada daerah D dapat dihitung sebagai berikut :


d s( y)

∫∫
D
f ( x, y )dA = ∫ ∫ f ( x, y) dx dy
c r( y)

Contoh :

∫∫ (2 y e )dA dimana R = {(x,y) | 0 ≤ x ≤ y2, 0 ≤ y ≤ 1}


x
Hitung
R

Penyelesaian :
2
1 y 1 1

∫∫ f ( x, y ) dA = ∫∫ ∫
2 y e x dx dy = 2 y e x y2
0 dy ∫
2
( )
= e y d y 2 − 2 ydy = e − 2
R 0 0 0 0

Urutan pengintegralan dalam integral lipat dua tergantung dari bentuk R


(daerah integrasi). Tetapi dalam tiap kasus, kita seharusnya mengharapkan limit dari

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
31
KALKULUS II

integral sebelah kanan berupa fungsi satu peubah, dan yang paling kiri (luar) berupa
konstanta. Dalam perhitungannya, kadangkala kita perlu merubah urutan
pengintegralan. Hal ini dapat disebabkan dengan perubahan urutan pengintegralan akan
memudahkan dalam proses integrasinya. Oleh karena itu, langkah pertama kita harus
dapat menggambarkan daerah integrasi, selanjutnya kita dapat merubah urutan integrasi
dengan mengacu pada sketsa daerah integrasi yang sama.
Contoh :
4 2

∫ ∫e
y2
Hitung dy dx
0 x
2

Penyelesaian :
Daerah integrasi dari integral lipat dua di atas adalah :

x
y=
2
x

D = {(x,y) | 0 ≤ x ≤ 4 , ½ x ≤ y ≤ 2 } dapat dirubah menjadi


D = {(x,y) | 0 ≤ x ≤ 2y , 0 ≤ y ≤ 2 }, sehingga integral di atas menjadi :
4 2 2 2y 2 2

∫∫ ∫∫ ∫ ∫ e d (y ) = e
2 2 2
y2
e y dy dx = e y dx dy = 2 y e y dy = 2 4
−1
0 x 0 0 0 0
2

Integral lipat dua dapat dipakai untuk menghitung luas suatu daerah. Dengan
menjadikan daerah yang akan dihitung luasnya sebagai daerah integrasi (D) dan fungsi
dalam integralnya sama dengan satu.
3.1.2 Integral Lipat Dua dengan Koordinat Kutub (Polar)
Andai daerah integrasi (D) mempunyai bentuk dasar lingkaran, kardioid, dll.
maka untuk memudahkan dalam perhitungan integral lipat dua digunakan dalam
koordinat polar.

Transformasi peubah (x,y) Î (r, θ)


y
(x, y)
r
ADIWIJAYA
θ SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
x
32
KALKULUS II

x = r cos θ
y = r sin θ
Determinan jacobi dari transformasi ini adalah

∂x ∂x
J (r, θ) = ∂r ∂θ
∂y ∂y
∂r ∂θ
cos θ − r sin θ
=
sin θ − r cos θ
=r

Sehingga integral lipat dua dalam koordinat kutub dapat ditulis :

∫∫ f ( x, y) dy dx = ∫∫ f (r,θ ) r dr dθ
D D*

Contoh :
1 1− x 2

∫ ∫ (x )
3
Hitung 2
+ y2 2 dy dx
−1 0

Penyelsaian :

y
1

x
–1 1

1 1− x 2 π 1

∫ ∫ (x ) ∫∫ (r )
3 3
2 2 2 2 2
+y dy dx = r dr dθ
−1 0 0 0
π 1
π
∫∫ r
4
= dr dθ =
5
0 0

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
33
KALKULUS II

Latihan :
Hitung integral lipat dua di bawah ini :
3 3y

∫ ∫ xe
y3
1. dx dy
1 −y

π
2 cos x
2. ∫ ∫
0
y sin x dy dx
0

1 1

∫∫ e
− y2
3. dx dy
0 x
4 2

∫ ∫e
x3
4. dx dy
0
y

2
1 1− y

∫ ∫ sin( x
2
5. + y 2 ) dx dy
0 0

2 2x − x2

∫ ∫ (x )
2 −1
6. + y2 2
dy dx
1 0

Hitung integral lipat dua pada daerah S, berikut ini :

∫∫ y e
x3
7. dx dy S dikuadran pertama yang dibatasi garis x = ½ y dan x = 1
S

∫∫
3
+ y3 )
8. e −( x dA S adalah lingkaran berjari-jari dua berpusat di (0, 0)
S

Tentukan luas daerah S, dengan menggunakan integral lipat dua :


9. S adalah daerah yang dibatasi oleh lingkaran berjari-jari 1 berpusat di (0, 0),
garis y = x, dan sumbu-y positif.
10. S adalah daerah di dalam lingkaran berjari-jari dua yang berpusat di (0, 2) dan
di luar lingkaran berjari-jari dua berpusat di (0, 0)

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
34
KALKULUS II

4.2 Integral Lipat Tiga


Misal suatu fungsi f tiga peubah yang didefinisikan atas suatu daerah
berbentuk balok B dengan sisi-sisi sejajar sumbu koordinat. Kita tidak dapat lagi
menggambarkan grafik f, tetapi kita dapat menggambar B. bentuklah suatu partisi
P dari B dengan melewatkan bidang-bidang melalui B sejajar bidang koordinat, jadi
memotong B kedalam balok-balok bagian B1, B2, … Bn;
Perhatikan jumlah Riemann :
n
lim
P →0
∑ f ( x , y , z ) ∆V
k =1
k k k k dengan ∆Vk = ∆xk ∆yk ∆zk

merupakan volume balok Bk.


Andaikan panjang norma partisi p ini adalah panjang diagonal terpanjang dari
semua balok bagian. Maka kita definisikan integral lipat tiga dengan
n

∫∫∫ f ( x, y, z )dV = lim


P →0
∑ f ( x , y , z ) ∆V
k =1
k k k k
B

asalkan limit ini ada.

4.2.1 Integral Lipat Tiga dengan Koordinat Kartesius


Misalkan B =[a, b] x [c, d] x [e, f] adalah sebuah kotak, kemudian kotak
tersebut dibagi menjadi n buah kotak-kotak kecil. Kotak kecil tersebut berukuran
panjang ∆x, lebar ∆y dan tinggi ∆z, sehingga volume kotak kecil tersebut adalah ∆V
= ∆x ∆y ∆z. Dengan memisalkan kotak-kotak kecil tersebut sebagai partisi, dengan
pendekatan jumlah Riemann kitapun dapat mendefinisikan integral lipat tiga.
Dalam koordinat kartesius, cara perhitungan integral lipat tiga tidak berbeda
dengan integral lipat dua yang telah diberikan. Masalah urutan pengintegralan
tergantung dari bentuk B, tetapi dalam tiap kasus, kita seharusnya mengharapkan
limit dari integral sebelah kanan berupa fungsi dua peubah, pada integral tengah berupa
fungsi satu peubah, dan yang paling kiri (luar) berupa konstanta.
Bentuk umumnya :
b q( x) s ( x, y )

∫∫∫
B
f ( x, y, z )dV = ∫ ∫ ∫
a p ( x ) r ( x, y )
f ( x, y, z ) dz dy dx , a, b adalah konstanta

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
35
KALKULUS II

Contoh :
x
2 z z
Hitung ∫∫ ∫ 2 x y z dy dx dz
0 1 0

Penyelesaian :
x
2 z z 2 z
y= x
∫∫ ∫ 2x y z dy dx dz = ∫∫ x z y
2 z
dx dz
y =0
0 1 0 0 1
2 z
= ∫ ∫ x z x dx dz
z
0 1
2 z
= ∫ ∫ x 2 dx dz
0 1

2 x=z
x3
= ∫ dz
0 3 x =1
2
 z 1
3
= ∫  − dz
0 3 3
z=2
 z4 z 
=  − 
 12 3  z = 0
2
=
3

Integral lipat tiga dapat dipakai untuk menghitung volume suatu benda di ruang.
Dengan menjadikan benda di ruang yang akan dihitung volumenya sebagai daerah
integrasi (B) dan fungsi dalam integralnya sama dengan satu.

4.2.2 Integral Lipat Tiga dengan Koordinat Tabung dan Bola


Kita akan menggunakan koordinat tabung, pada saat mempunyai benda B
yang simetris terhadap suatu garis, seperti halnya tabung. Koordinat tabung dan
kartesius dihubungkan oleh persamaan-persamaan berikut :
x = r cos θ
y = r sin θ

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
36
KALKULUS II

P(r,θ,z)

z y
r
θ

Transformasi peubah (x, y, z) Î (r, θ, z) memberikan Jacobian = r


Sehingga Integral lipat tiga dapat ditulis :
θ 2 q (θ ) t ( r ,θ )

∫∫∫ f ( x, y, z)dV = ∫ ∫ ∫ f (r cosθ , r sin θ , z) r dz dr dθ


B θ 1 p (θ ) s ( r ,θ )

Seperti pada koordinat tabung, jika kita mempunyai benda B yang simetris
terhadap suatu titik, maka kita lebih baik menghitung integral lipat tiga tersebut
dengan menggunakan koordinat bola.
Koordinat bola dan kartesius dihubungkan oleh persamaan-persamaan berikut :
x = ρ cosθ sin φ
y = ρ sinθ sin φ ;
z = ρ cos φ

z
P(ρ,θ, φ)

ρ
φ

y
θ

Transformasi peubah (x, y, z) Î (ρ, θ, φ) memberikan Jacobian = ρ2 sin φ

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
37
KALKULUS II

Sehingga integral lipat tiga dengan koordinat bola dapat ditulis :


φ 2 q ( φ ) t ( θ, φ)

∫∫∫ f (x, y, z)dV = ∫ ∫ ∫ f (ρ, θ, φ) ρ, sin


2
φ dρ, dθ, dφ
B φ1 p ( φ ) s ( θ, φ )

Contoh :
Hitung dengan menggunakan koordinat tabung, volume suatu ruang V yang
dibatasi oleh z = 12 – 2x2 – 2y2 dan z = x2 + y2 !
Penyelesaian :
Ruang V yang terbentuk mempunyai satu garis simetri, yaitu sumbu-z,
perpotongan kedua permukaan diatas adalah berbentuk lingkaran berjari-jari 4
berpusat di (0, 0). Oleh karena itu volume V dapat dihitung dengan
menggunakan integral lipat tiga dala koordinat tabung, dimana :
Permukaan 1 : f(x,y) = 12 – 2x2 – 2y2 Î f(r,θ) = 12 – 2r2
Permukaan 2 : f(x,y) = x2 + y2 Î f(r,θ) = r2
2 π 2 12 − 2 r 2
Jadi Volume V = ∫∫∫ f (x, y, z)dV = ∫ ∫ ∫ 1 r dz dr dθ
B 0 0 r2
2π 2

∫ ∫ (12r − 3r ) dr dθ
3
=
0 0
2π 2
 2 3 4
= ∫
0
 6r − r  dθ
 4 0

= ∫ (24 − 12) dθ = 24π
0

Latihan :
1
1 0 3

∫ ∫ ∫ (x + 2 y + 3z )
2
1. dz dy dx
0 −1 0
2

2
2 y z
2. ∫ ∫∫ y z dx dy dz
0 −1 1

3 9− x2 2
3. ∫ ∫ ∫
0 0 0
x 2 + y 2 dz dy dx

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
38
KALKULUS II

2 4− x2 4− x2 − y 2

4. ∫ ∫
0 0
∫z
0
4 − x 2 − y 2 dz dy dx

Tentukan volume benda pejal B dengan menggunakan integral lipat tiga !


5. B benda pejal di oktan pertama dari tabung y2 + z2 = 1 dan bidang y = x dan bidang
x=0!
6. B benda pejal yang dibatasi oleh paraboloid z = 4x2 + y2 dan selinder parabolic z
= 4 – 3y2 !
7. B benda pejal dibatas oleh z = x2 + y2, z = 0, dan x2 + (y – 1)2 = 1
8. Tuliskan perbedaan perhitungan volume bola menggunakan :
a. Integral lipat tiga dengan koordinat kartesius
b. Integral lipat tiga dengan koordinat tabung
c. Integral lipat tiga dengan koordinat bola

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
39
KALKULUS II

BAB V
INTEGRAL GARIS DAN INTEGRAL PERMUKAAN

5.1 Integral Garis


Konsep integral garis merupakan generalisasi sederhana dari konsep integral
b
tentu ∫ f ( x) dx .
a
Dalam integral tentu tersebut, kita mengintegralkan f sepanjang

sumbu-x dari a ke b dan yang diintegralkan f adalah fungsi yang terdefinisi pada
setiap titik antara a dan b. Dalam integral garis, kita mengintegralkan sepanjang
kurva (lengkungan) C di dalam ruang dan yang diintegralkan adalah fungsi yang
tedefinisi pada setiap titik di sepanjang kurva (lengkungan) C tersebut.
Misal kurva (lengkungan) C memenuhi persamaan :
r (t) = x(t) i + y(t) j + z(t) k
Kurva C dinamakan kurva mulus C jika d r / dt ≠ 0 untuk setiap t.
Definisi integral garis :
Misal C suatu kurva mulus yang diberikan secara parameter oleh :
x = x(t) dan y = y(t), untuk a < t < b
dengan x’ dan y’ kontinu dan tidak serentak nol pada [a, b], serta C berorientasi
positif (arah positifnya berpadanan terhadap pertambahan nilai t). Jadi C
memiliki titik awal A = (x(a), y(a)) dan titik ujung B = (x(b), y(b)).
Partisi [a, b] sehingga menghasilkan kurva C yang terpotong-potong ke dalam n
bagian, dimana bagian partisi Pi mewakili potongan pada waktu ti. Andaikan ∆si
menyatakan panjang busur yang bersesuaian, dan |P | merupakan partisi yang
terbesar.
Perhatikan sketsa berikut :

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
40
KALKULUS II

f(x,y)
r

Df(x,y)

Maka jumlah Riemann : ∑ f ( x , y ) ∆s


i =1
i i i merupakan luas tirai tegak sepanjang

lengkunga (kurva) C.
C
∫ f ( x, y) ds dinamakan integral garis fungsi f sepanjang

lengkungan C dari A ke B.
Sehingga dapat ditulis :
b 2 2
 dx   dy 
∫ f ( x, y ) ds = ∫ f (x(t ), y (t ) )   +   dt
C a
 dt   dt 

Jika di tulis dalam bentuk tanpa parameter sebagai berikut:


b 2 b 2
 dy   dx 
∫ f ( x, y) ds = ∫ f (x, y ) 1 +   dx atau ∫ f ( x, y) ds = ∫ f (x, y ) 1 +   dy
C a
 dx  C a  dy 

Sifat integral garis :


o ∫ f ( x, y) ds = − ∫ f ( x, y) ds ,
C −C
dimana – C adalah kurva yang sama dengan C namun

berlawanan arah.
o ∫ f ( x, y) ds = ∫ f ( x, y) ds + ∫ f ( x, y) ds ,
C C1 C2
dimana gabungan C1 dengan C2 adalah C.

Contoh :

∫ (x y ) ds dimana C sepanjang x = 3cost, y = 3sin t, 0 ≤ t ≤ π/2


2
Hitung
C

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
41
KALKULUS II

Penyelesaian :
π /2

∫ ∫ (3 cos t ) 3 sin t (− 3 sin t )2 + (3 cos t )2 dt


2
x 2 y ds =
C 0
π /2

∫ cos
2
= 81 t sin tdt = 27
0

Andai bahwa gaya yang bekerja pada suatu titik (x, y, z) dalam ruang
diberikan oleh medan vektor : F (x, y, z) = M(x,y,z) i + N(x,y,z) j + P(x,y,z) k dengan
M, N, P kontinu. Kita ingin menentukan kerja (usaha) W yang dilakukan oleh F
dalam memindahkan partikel menelusuri kurva terarah C. Misalkan, r = x i + y j +
z k merupakan vektor posisi partikel. Jika T adalah vektor singgung satuan dr/ds di
P, maka F • T adalah komponen singgung F di P. Sehingga kita mempunyai
rumusan kerja adalah :
W = ∫ F • T ds
C

dr
= ∫F• ds
C
ds
= ∫ F • dr
C

dimana F • d r sebagai menyatakan kerja yang dilakukan F dalam menggerakan


suatu partikel menelusuri vektor singgung d r yang sangat kecil.

Latihan :
Hitung ∫ F • dr
C
dimana

1. F = x2 i + y2 j ; C kurva y = x2 dari x = -1 dampai x = 1


2. F = y i + x2 j ; C kurva x = 2t dan y = t2 – 1 , 0 ≤ t ≤ 2
3. F = y i + x j ; C kurva y = x2 , 0 ≤ x ≤ 1
Tentukan kerja yang dilakukan oleh medan gaya F untuk memindahkan partikel
sepanjang kurva C, berikut ini :
3
4. F (x,y) = (x – y3) i + xy2 j ; C adalah kurva x = t2, y = t3, -1 ≤ t ≤ 0
2
5. F (x,y) = (x – y) i + (y2 – x) j ; dari (0,1) ke (1,2), jika:
a. C adalah 2 garis lurus dari (0,1) ke(1,1) dan dari (1,1) ke (1,2)

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
42
KALKULUS II

b. C adalah kurva r (t) = t i + (t2 – 1) j


c. C adalah kurva (y – 1)2 = x

5.2 Integral Garis Bebas Lintasan


Dengan mengingat kembali teorema dasar kalkulus, yaitu :
b

∫ f ( x) dx = f (b) − f (a)
a

teorema ini berlaku juga untuk integral garis.


Andaikan C kurva mulus sepotong-sepotong yang secara parameter diberikan oleh r
= r (t) , a ≤ t ≤ b. Jika f dapat didiferensialkan secara kontinu pada suatu himpunan
terbuka yang mengandung C, maka

∫ ∇f (r ) • dr = f (b) − f (a)
C

Misal D tersambung, yaitu jika dua titik sembarang dalam D dapat dihubungkan oleh
sepotong kurva mulus seluruhnya terletak dalam D.

Definisi bebas lintasan :

∫ F (r ) • dr
C
dikatakan bebas lintasan dalam D, jika untuk sembarang dua titik A

dan B dalam D, integral garis mempunyai nilai yang sama untuk sembarang
lintasan dalam D yang secara postif terarah dari A ke B.
Andaikan F ( r ) kontinu pada suatu himpunan tersambung terbuka D. Maka integral

garis ∫ F (r ) • dr
C
dikatakan bebas lintasan dalam D jika dan hanya jika F(r ) = ∇f r

untuk suatu fungsi skalar f. F disebut medan vektor konservatif.


Definisi divergensi dan rotasi dari suatu medan vektor F :
Misal F (x, y, z) = M(x,y,z) i + N(x,y,z) j + P(x,y,z) k suatu medan vektor dan ∇
∂ ˆ ∂ ˆ ∂ ˆ
adalah operator i+ j+ k maka
∂x ∂y ∂z

o Div F = ∇ • F = Mx + Ny + Pz dinamakan divergesi F

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
43
KALKULUS II

î ĵ k̂
∂ ∂ ∂  ∂P ∂N   ∂M ∂P   ∂N ∂M 
o curl F = ∇ x F = =  −  î +  −  ĵ +  −  k̂
∂x ∂y ∂z  ∂y ∂z   ∂z ∂x   ∂x ∂y 
M N P

dinamakan rotasi (Curl) F


Akhirnya, suatu medan vektor F dikatakan konservatif jika dan hanya jika :
Untuk F (x, y, z) = M(x,y,z) i + N(x,y,z) j maka My = Nx
Untuk F (x, y, z) = M(x,y,z) i + N(x,y,z) j + P(x,y,z) k maka curl F = 0

Contoh :
Tentukan apakah F = (4x3 + 9x2y2 ) i + (6x3y + 6y5) j merupakan medan vektor
konservatif ? jika ya, tentukan fungsi skalar f yang memenuhi F = ∇f !
Penyelesaian :
o F =Mi+Nj M(x,y) = 4x3 + 9x2y2 dan N(x,y) = 6x3y + 6y5
My = 18x2y dan Nx = 18x2y
Sehingga My = Nx F konservatif
o Misal f(x,y) adalah fungsi skalar yang memenuhi ∇f = F ,
Maka fx = M dan fy = N
Sehingga fx = 4x3 + 9x2y2 f (x,y) = x4 + 3x3y2 + c(y) ……………(*)
Turunan parsial f(x,y) terhadap y = fy = 6x3y + c’(y)
Kita tahu bahwa fy = N c’(y) = 6y5 c(y) = y6 + c …….…….(**)
Substitusikan (**) pada (*) sehingga diperoleh :
f (x,y) = x4 + 3x3y2 + y6 + c
sebagai fungsi skalar dari fungsi vektor konservatif tersebut.

Latihan :
1. Diketahui sebuah medan vektor F = ex sin y i + ex cos y j,
a. Periksa, apakah medan vektor tersebut konservatif ?
b. Tentukan fungsi potensial f, sehingga F = ∇f
c. Tentukan usaha untuk memindahkan partikel dari (0,0) ke (1, π/2)

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
44
KALKULUS II

2. Diketahui sebuah medan vektor G = (6xy3 + 2z2) i + 9x2 y2 j + (4xz + 1) k,


a. Periksa, apakah medan vektor tersebut konservatif ?
b. Tentukan fungsi potensial f, sehingga F = ∇f
c. Tentukan usaha untuk memindahkan partikel dari (0,0,0) ke (1,1,1)

5.3 Teorema Green


Misal R adalah daerah tertutup yang terbatas didalam bidang xy oleh suatu
lengkungan tertutup C yang terdiri dari sejumlah kurva mulus terhingga. Misal M(x,y)
dan N(x,y) adalah fungsi yang kontinu dan mempunyai turunan paarsial My dan Nx
yang kontinu pada setiap titik dalam beberapa domain yang mengandung R. Maka
 dN dM 
∫ M dx + N dy = ∫∫  dx −
C R
dy
 dx dy

Integrasi yang diambil sepanjang seluruh batasan C dari R sedemikian sehingga R


yang disebelah kiri suatu untegrasi tingkat tinggi.

Contoh :
Diketahui M(x,y) = (y2 – 7y) dan N(x,y) = (2xy + 2x) dan C adalah lingkaran
berpusat di (0,0) dan berjari-jari 1.
Penyelesaian :
o Integral ruas kiri
r (t) = [cost, sint] r ‘ (t) = [ – sint , cost]
Dengan mensubstitusi, kita peroleh :
M(t) = sin2 t – 7 sin t dan N(t) = 2cos t sin t + 2 cos t

∫ [(sin ) ]
 dx dy 
∫ M +N  dt = 2
t − 7 sin t (− sin t ) + 2(cos t sin t + cos t )(cos t ) dt
C
 dt dt 
0
= 0 + 7π + 0 + 2π = 9π

o Integral ruas kanan


 dN dM 
∫∫  dx −
R
dy
 dx dy =

∫∫ [(2 y + 2) − (2 y − 7 )] dx dy
R
2π 1
=9 ∫∫
R
dx dy = 9 ∫ ∫ r dr dθ = 9π
0 0

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
45
KALKULUS II

Bentuk vektor dari teorema green.


Misalkan, C adalah kurva mulus tertutup sederhana pada bidang xy dan berlawanan
arah jarums jam yang membatasi daerah R. Maka
dx ˆ dy ˆ
T = i+ j merupakan vektor singgung satuan, dan
ds ds
dy ˆ dx ˆ
n= i− j adalah vektor normal yang mengarah keluar dari R.
ds ds
Jika F(x, y) = M(x,y) i + N(x, y) j adalah suatu medan vektor maka

∫ F • n ds = ∫∫ div F dA
C R

dinamakan teorema Divergensi Gauss.

Sedangkan ∫F •T
C
ds = ∫∫ (curl F )• kˆ dA
R
disebut teorema Stokes pada bidang.

Latihan :
Hitung integral garis ∫ F (r ) • dr berlawanan arah jarun jam sepanjang C, dengan :
C

1. F = 3x2 i – 4xy j, C adalah ruas garis persegi panjang 0 ≤ x ≤ 4 ; 0 ≤ y ≤ 1


2. F = y i – x j, C adalah lingkaran x2 + y2 = ¼
3. F = (x3 – 3y) i + (x + sin y) j, C adalah ruas garis pada segitiga dengan titik sudut
(0, 0), (1,0) dan (0,2)
x y
4. F = (e – 3y) i + (e + 6x) j, C berupa ellips x2 + 4y2 = 4
5. F = (2xy – x2 ) i + (x + y2) j, C adalah lengkungan tertutup yang dibatasi oleh
y = x2 dan y2 = x

5.4 Integral permukaan


Misakan G suatu permukaan yang diberikan oleh z = f(x, y), dengan (x, y) di R.
Jika f mempunyai turunan parsial pertama yang kontinu dan g(x, y, z) = g(x, y, f(x, y))
Kontinu pada R, maka :

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
46
KALKULUS II

∫∫ g ( x, y, z )dS = ∫∫ g ( x, y, f ( x, y)) secθ dA


G R

= ∫∫ g ( x, y, f ( x, y))
R
f x 2 + f y 2 + 1 dy dx

dimana θ adalah sudut antara normal satuan ke atas n di (x, y, f(x, y)) dan sumbu z
positif.
Andaikan G sutu permukaan dua sisi yang demikian mulus dan anggap dia terendam di
dalam fluida dengan suatu medan kecepatan kontinu F (x,y,z). Jika ∆S adalah luas
sepotong kecil dari G, maka disana F (x,y,z) hampir konstan, dan volume fluida ∇V
yang melewati potongan ini dalam arah normal satuan n adalah ∇V ≈ F • n ∆S
Kita dapat menyimpulkan bahwa :
Fluks F yang melintasi G = ∫∫ F • n dS
G

Persamaan permukaan dapat ditulis


H(x, y, z) = z – f (x, y)
Sehingga
∇H
n =
∇H
∂f ∂f
− î − ĵ + k̂
∂x ∂y
=
2 2
 ∂f   ∂f 
  +   + 1
 ∂x   ∂y 
Maka
 
− f x iˆ − f y ˆj + kˆ 
∫∫ F • n dS = F •
∫∫ ( f x )2 + ( f y )2 + 1 dA
G R
 2
( )
 ( f x ) + f y + 1 
2 

∫∫ [
= F • − f x iˆ − f y ˆj + kˆ dA
R
]
Contoh :
Tentukan fluks ke atas dari F (x, y, z) = x i + y j + z k, yang melewati bagian
permukaan G yang ditentukan oleh fungsi z = 1 – x2 – y2
Penyelesaian :
fx = – 2x dan fy = – 2y
Maka fluks yang melintasi G adalah :
ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
47
KALKULUS II

 ∂z ∂z 
∫∫ F • n dS = ∫∫ F • − ∂x iˆ − ∂y ˆj + kˆ dA
G R

= ∫∫ (x + y + 1) dx dy
2 2

R
2π 1

∫∫ (r )
2 3π
= + 1 r dr dθ =
2
0 0

Latihan :
Hitung ∫∫ g ( x, y, z ) dS
G
:

1. g(x, y, z) = x + y, permukaan G : z = √ 4 –x2 , 0 ≤ x ≤ √ 3 dan 0 ≤ y ≤ 1


2. g(x, y, z) = 2y2 + z, permukaan G : z = x2 – y2, 0 ≤ x2 + y2 ≤ 1

Hitung ∫∫ F • n dS
G
:

3. F (x, y, z) = x i + y j + 2z k, permukaan G : z = 1 – x2 – y2
4. F (x, y, z) = x i + y j + z k, permukaan G : z = √ 9 – x2 – y2
5. F (x, y, z) = z2 k, permukaan G : z = √ 1 – x2 – y2

5.5 Teorema Divergensi dan Stokes


Teorema Divergensi
Andai S suatu benda pejal tertutup dan terbatas dalam ruang dimensi-3, yang
secara lengkap dicakup oleh suatu permukaan mulus sepotong-sepotong ∂ S .
Andai F = M i + N j + P k, berupa medan vektor sedemikian hingga M, N, dan
P mempunyai turunan parsial pertama yang kontinu pada S dan batasnya ∂ S.
Jika n menyatakan normal satuan terluar terhadap ∂ S, maka :

∫∫ F • n dS = ∫∫∫ div F dV
∂S S

Dengan kata lain, fluks F yang melewati batas suatu daerah tertutup dalam ruang
dimensi-3 adalah integral lipat tiga dari divergensinya atas daerah tersebut.

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
48
KALKULUS II

Contoh :
Hitung fluks dari medan vektor
F = x3 i + y3 j + z3 k
yang keluar dari bola B berpusat di (0, 0, 0) berjari-jari 1.
Penyelesaian :
Dengan menggunakan teorema divergensi, fluks yang keluar dari bola adalah :

∫∫ F • n dS = ∫∫∫ div F dV
∂S B

= ∫∫∫3 (x + y + z ) dV
2 2 2

B
2π π 1

∫ ∫ ∫ 3ρ
4
= sin φ dρdφdθ
0 0 0
12π
=
5

Teorema Stokes
Misalkan, S adalah permukaan dua sisi yang dibatasi oleh lengkungan tertutup ∂ S
dengan normal satuan n dan andaikan F = M i + N j + P k, berupa medan vector
sedemikian hingga M, N, dan P mempunyai turunan parsial pertama yang
kontinu pada S dan batasnya ∂ S. Jika T menyatakan vector singgung satuan
terhadap ∂ S, maka

∫ F • T dS = ∫∫ (curl F )• n dS
∂S S

Contoh :
Tentukan integral F = z i – x j – y k sepanjang segitiga yang titik sudutnya
(0, 0, 0), (0, 2, 0), (0, 0, 2). Gunakan teorema stoke !
Penyelesaian :
Curl F = – i + j – k sedangkan normal dari permukaan adalah n = i
Jadi Curl F • n = – 1
Oleh karena itu

∫F •T
C
dS = ∫∫ (curl F )• n dS = −1(luas S ) = −2
S

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
49
KALKULUS II

Latihan :
Tentukan fluks dari medan vektor F yang melewati permukaan S, berikut ini :
1. F = y i – x j + 2 k ; S adalah permukaan z = √ 1-x2 , untuk 0 ≤ x ≤ 5
2. F = x2 i + y2 j + z2 k ; S adalah benda pejal z = √ 4 – x2 – y2 dan z = 0
3. F = 2z i + x j + z2 k ; S adalah benda pejal 0 ≤ x2 + y2 ≤ 4 , 0 ≤ x ≤ 1

Hitung ∫ F • T dS ,
C
dengan C berlawanan arah jarum jam !

4. F = 2z i + x2 j + 3y k ; C adalah ellips perpotongan z = x dan x2 + y2 = 4


5. F = (z – y) i + y j + x k ; C adalah perpotongan tabung x2 + y2 = x dengan
bola x2 + y2 + z2 = 1

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
50
KALKULUS II

DAFTAR PUSTAKA

Anton, H., Calculus with Analytic Geometry, 3rd edition, John Willey & Sons, New

York, 1988

Boyce W. E., DiPrima, R.C. , Elementary Differential Equations and Boundary Value

Problems, 5th edition, John Willey & Sons, Singapore, 1992

Martono, K., Kalkulus Diferensial, Alvagracia, Bandung, 1987

Purcell, E. J., Varberg D., Kalkulus dan Geometri Analitis Jilid 2, Terjemahan I

Nyoman Susila dkk., edisi 5, Erlangga, Jakarta, 1992

Setya Budhi, W., Kalkulus Peubah Banyak dan Penggunaannya, Penerbit ITB,

Bandung, 2001

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM