Anda di halaman 1dari 10

MALARIA

ETIOLOGI
Malaria disebabkan parasit malaria, suatu protozoa darah yang termasuk dalam phyllum
Apicomplexa, kelas Sporozoa, subkelas Coccidiida, ordo EucOccidides,subordo Haemosporidiidea, famili
Plasmodiidae, genus Plasmodium.

Terdapat 4 spesies parasit malaria:


• Plasmodium vivax Malaria Tertiana
• Plasmodium ovale Malaria Ovale
• Plasmodium falciparum Malaria Tropika
• Plasmodium malariae Malaria Kuartana

Penularan manusia dapat dilakukan oleh nyamuk betina dari tribus anopheles.

Masa inkubasi penyakit malaria .


Plasmodium Masa inkubasi (hari)
P. falciparum 9 – 14 (12)
P.vivax 12 – 17 (15)
P.ovale 16 – 18 (17)
P. malariae 18 – 40 (28)

Epidemiologi

Siklus Hidup Parasit Plasmodium


Ada 2 fase :
1. Fase Ekstrinsik pada nyamuk Anopheles
- secara sexual ( sporogoni / gametogoni )
2. Fase Intrinsik pada manusia
fase aseksual
- daur RBC dalam darah ( skizogoni eritrosit )
- daur dalam sel parenkim hati ( skizogoni eksoeritrosit )

Siklus Eksoeritrosit
Sporozoit dalam ludah nyamuk Anopheles betina  pembuluh darah (30 menit-1jam) 
menginfeksi hepatosit-hepatosit  sporozoit berubah bentuk menjadi skizon  skizon pecah  merozoit
(yang akan menginfeksi eritrosit)

Namun, P. ovale dan P. vivax setelah menginfeksi hepatosit akan berkembang menjadi  hipnozoit
(fase dorman hingga bertahun-tahun waktunya); bila relaps : Hipnozoit pecah  merozoit ke aliran darah
tidak difagositosis  infeksi eritrosit

Siklus Eritrosit
Merozoit dalam sirkulasi darah  merozoit menginfeksi sel darah merah (melalui reseptor
permukaan eritrosit*)  trofozoit cincin (parasit berubah menjadi bentuk cincin) diferensiasi menjadi
mikrogametosit dan makrogametosit) Trofozoit matang  skizon muda  skizon matang  merozoit
 menginfeki eritrosit lain.

Waktu yang diperlukan dalam Skizogoni Eritrosit; yaitu sebagai berikut :


P. falciparum, P. vivax, dan P. ovale adalah 48 jam dan pada P. malariae adalah 72 jam. Waktu yang
berbeda-beda ini akan berdampak pada manifestasi klinik spesifik untuk tiap jenis Plasmodium.

Fase Seksual / Sporogoni pada nyamuk Anopheles betina


Nyamuk mengisap darah yang mengandung makrogametosit dan mikrogametosit  fertilisasi 
zigot  ookinet (zigot motil)  ookinet menembus lapisan epitel dan dinding basal lambung nyamuk 
membentuk ookista  mengeluarkan sporozoit  sporozoit migrasi ke kelenjar ludah nyamuk  sporozoit
dapat menginfeksi manusia.

Manifestasi Klinik
Gejala klasik → TRIAS MALARIA, yaitu :
1. Mengigil : 15 - 60 menit
2. Demam : 2 - 6 jam; suhunya sekitar 37,5 – 40 oC, pada penderita hiper parasitemia (> 5%) suhu
meningkat sampai > 40 derajat celsius berlangsung
3. Berkeringat : 2-4 jam, timbul setelah demam terjadi akibat gangguan metabolisme.

Pada kasus :
1. DEMAM
Mekanisme :
infeksi Plasmodium →melepaskan toksin malaria (GPI) →m’aktivasi makrofag →menskresikan IL
1 → sel” endotel hipotalamus →sintesis As.arakhidonat → pe sintesis PG, E2 → set point tubuh >>
→ DEMAM

2. SAKIT KEPALA ( HEADACHE )


Mekanisme :
infeksi Plasmodium →melepaskan toksin malaria (GPI) →m’aktivasi makrofag →menskresikan IL
12 → mengaktivasi sel Th → mensekresikan IL 3 → m’aktivasi sel mast → menskresikan PAF →
m’aktivasi faktor Hagemann → sintesis bradikinin → merangsang serabut saraf (di otak) →nyeri →
SAKIT KEPALA
Atau :
infeksi Plasmodium →melepaskan toksin malaria (GPI) →m’aktivasi makrofag → ∑ TNF α >>
→menstimulasi sel” otak → m’sintesis NO (Nitrit oksida) → SAKIT KEPALA

3. MUAL ( NAUSEA )
Mekanisme :
infeksi Plasmodium →melepaskan toksin malaria (GPI) →m’aktivasi makrofag →menskresikan IL
12 → mengaktivasi sel Th → mensekresikan IL 3 → m’aktivasi sel mast → menskresikan H2 → pe
sekresi As. Lambung → NAUSEA

4. ABDOMINAL DISCOMFORT
rasa tidak nyaman pada saluran cerna (nausea) dan splenomegali → abdominal discomfort.

Pemeriksaan Fisik :
SPLENOMEGALI
Mekanisme :
manusia → digigit nyamuk Anopheles ♀ → sporozoit →menuju sel parenkim hati, terjadi fase
aseksual ( Skizogoni Eksoeritrosit ) → skizont → merozoit →ke sel RES limpa → difagositosis
serta difiltrasi → limpa menghitam & mengeras karena timbunan pigmen EP dan jaringan ikat >>
→ splenomegali

Pemeriksaan Laboratorium
1. ANEMIA
Mekanisme :
Manusia → digigit nyamuk Anopheles ♀ → sporozoit ( setelah 45 menit ) → menuju sel hati
(sebagian kecil mati di darah) → di sel parenkim hati terjadi fase aseksual ( SKIZOGONI
EKSOERITROSIT ) → merozoit → lolos dari filtrasi & fagositosis di limpa → ke sirkulasi darah
menyerang RBC → terbentuk eritrosit parasit (EP) memakan Hb → Hb <<< → anemia
Atau :
Manusia → digigit nyamuk Anopheles ♀ → sporozoit ( setelah 45 menit ) → menuju sel hati
(sebagian kecil mati di darah) → di sel parenkim hati terjadi fase aseksual ( SKIZOGONI
EKSOERITROSIT ) → merozoit → lolos dari filtrasi & fagositosis di limpa → ke sirkulasi
darah → menyerang RBC → terbentuk eritrosit parasit (EP) → bereplikasi scr aseksual
( SKIZOGONI ERITROSIT ) → tropozoit (stadium cincin) → skizon ( stadium mature ) →
molekul adhesif pd permukaan knobnya melekat dgn molekul adhesif pd permukaan endotel
vaskular→ di jaringan mikrovaskular → sekuestrasi → di ginjal → mengalami kerusakan
fungsi → produksi hormon erythropoetin tetrganggu → Hb << → anemia.

2. LEUKOSITOSIS
Manusia → digigit nyamuk Anopheles ♀ → sporozoit ( setelah 45 menit ) → menuju sel hati
(sebagian kecil mati di darah) → di sel parenkim hati terjadi fase aseksual ( SKIZOGONI
EKSOERITROSIT ) → merozoit → lolos dari filtrasi & fagositosis di limpa → ke sirkulasi darah →
menyerang RBC → terbentuk eritrosit parasit (EP) → bereplikasi scr aseksual ( SKIZOGONI
ERITROSIT ) → tropozoit (stadium cincin) → skizon ( stadium mature ) → permukaannya menonjol
& membentuk knob dgn HRP-1 ( Histidin Rich Protein – 1 ) → morogoni → mengaktivasi makrofag
→ menskresikan TNF α → aktivasi leukosit ( mengerahkan dan mengaktivasi neutrofil & monosit)
→ leukosit >> → leukositosis

Patogenesis
Manusia digigit nyamuk Anopheles ♀ sporozoit Menuju sel hati Sebagian mati di darah

Di sel parenkim hati, terjadi fase aseksual


( SKIZOGONI EKSOERITROSIT )

Skizont

Merozoit Ke sel RES limpa

Ke sirkulasi darah difagositosis serta difiltrasi

anemia Hb <<< Memakan Hb Menyerang RBC Kronik, limpa menghitam, keras karena
timbunan pigmen EP dan jaringan ikat >>
Terbentuk Eritrosit Parasit (EP)
Splenomegali
Bereplikasi scra aseksual
( SKIZOGONI ERITROSIT )

Tropozoit ( stadium cincin )

Skizont ( stadium mature )

Peremukaannya menonjol & membentuk knob dgn HRP-1 ( Histidin Rich Protein-1 )

Merogoni

Melepaskan toksin malaria : GP 1 ( glikosilfosfatidilnositol )

Mengaktivasi makrofag

Menskresikan TNF α, IL 1, IL 6, IL 12

IL 12
IL 1 TNFα
(pirogen Endogen )
IFN γ & LT >> IL 3
Mengaktivasi Menstimulasi
Sel-sel endotel leukosit ( t.u Sel-sel otak
Hipotalamus M’aktivasi sel mast
neutrofil &
makrofag
Sintesis NO
Sintesis asam ( nitrit Oksida ) Histamin PAF
arakhidonat
Leukosit >>>
H2 Aktivasi faktor
hagemann
Sintesis asam
arakhidonat leukositosis
Pe set point
tubuh Sintesis
Sintesis Prostaglan- bardikinin
din E2
NAUSEA
Merangsang
serabut saraf di
Abdominal otak
pe setKerangka
point tubuh Konsep discomfort
nyeri

SAKIT
DEMAM KEPALA
Iwan

Pemeriksaan fisik Pemeriksaan laboratorium

Malaria

Gigitan nyamuk Anopheles

Sporozoit

Hipnozoit SKIZOGONI Merozoit


EKSOERITR
Ke sel RES limpa
OSIT
skizon difagositosis serta difiltrasi

Kronik, limpa menghitam, keras karena


Memakan Hb Nyerang RBC Lolos dari filtarsi dan timbunan pigmen EP dan jaringan ikat >>
fagosit di limpa
Hb << Splenomegali
Tropozoit
Anemia Skizon Merozoit
α (Merogoni)
Siklus eritrosit

Melepaskan toksin malaria =GPI

Aktivasi makrofage

Mensekresikan TNF α, IL 1, IL 6, IL 12

IL 1 ( (pirogen endogen) TNF α IL 12

Mengaktivasi leukosit
Sel-sel endotel (Mengerahkan dan IFN Y dan LT (Limfotoksin) IL 3
hipotalamus mengaktivasi netrofil dan
monosit pada sel yang Aktivasi sel mast
terinfeksi )

Asam arakhidonat
Leukosit >> H2 PAF

Prostalglandin E2 leukositosis Peningkatan sekresi asam lambung Sintesis bradikinin

nausea Menstimulate serabut saraf di otak


Peningkatan set point
tubuh Nyeri
Abdominal discomfort

DEMAM Sakit kepala


Diagnosis
Untuk menegakkan diagnosis dapat di tegakkan melalui :
• Anamnesis :
- Penderita dari bepergian ke daerah endemis malaria.
- Adanya rangkaian gejala: menggigil, demam tinggi, berkeringat banyak, yang bersifat serangan
berulang (paroksismal).
- Air seni berwarna merah seperti teh, nyeri kepala dan otot (terutama otot punggung), nafsu makan
menurun.
- Fisik :
malaria tanpa komplikasi :
pucat, anemia, ikterus, hipotensi postural, hepatomegali, splenomegali
malaria dengan komplikasi :
Gangguan kesadaran dalam berbagai derajat, keadaan umum yang lemah (tidak bisa duduk/berdiri),
kejang-kejang, panas sangat tinggi, mata atau tubuh kuning

• Laboratorium :
- Air seni berwarna merah, mengandung urobilin;
- Anemia hemolitik

Diagnosis Banding

Manifestasi
Sakit Abdominal Spleeno
klinis Demam Nausea Petechie Hb WBC
kepala discomfort megali
Penyakit
Malaria + + + + + - ↓ ↑
D. Tifoid + + + + + - ↓ ↓
DBD + + + + +/- + ↓ / ↓/↑

Pemeriksaan penunjang

Adapun pemeriksaan darah tepi yang dapat dilakukan:


1. Pemeriksaan tetes darah untuk malaria
Pemeriksaan mikroskopik darah tepi untuk menemukan adanya parasit malaria sangat penting
untuk menegakkan diagnosa. Pemeriksaan satu kali dengan hasil negative tidak mengenyampingkan
diagnosa malaria. Pemeriksaan darah tepi tiga kali dan hasil negative maka diagnosa malaria dapat
dikesampingkan. Adapun pemeriksaan darah tepi dapat dilakukan melalui :

a. Tetesan preparat darah tebal.


Merupakan cara terbaik untuk menemukan parasit malaria karena tetesan darah cukup banyak
dibandingkan preparat darah tipis.
Preparat dinyatakan negative bila setelah diperiksa 200 lapang pandangan dengan pembesaran
700-1000 kali tidak ditemukan parasit.

b. Tetesan preparat darah tipis.


Digunakan untuk identifikasi jenis plasmodium, bila dengan preparat darah tebal sulit ditentukan.
Bila jumlah parasit > 100.000/ul darah menandakan infeksi yang berat. Hitung parasit penting untuk
menentukan prognosa penderita malaria. Pengecatan dilakukan dengan pewarnaan Giemsa, atau
Leishman’s, atau Field’s dan juga Romanowsky.

2. Tes Antigen : p-f test


Yaitu mendeteksi antigen dari P.falciparum (Histidine Rich Protein II). Deteksi untuk antigen vivaks
sudah beredar dipasaran yaitu dengan metode ICT. Tes sejenis dengan mendeteksi laktat dehidrogenase
dari plasmodium (pLDH) dengan cara immunochromatographic telah dipasarkan dengan nama tes
OPTIMAL. Optimal dapat mendeteksi dari 0-200 parasit/ul darah dan dapat membedakan apakah infeksi
P.falciparum atau P.vivax. Tes ini sekarang dikenal sebagai tes cepat (Rapid test).

3. Tes Serologi
Tes ini berguna mendeteksi adanya antibody specific terhadap malaria atau pada keadaan dimana
parasit sangat minimal. Tes ini kurang bermanfaat sebagai alat diagnostic sebab antibody baru terjadi
setelah beberapa hari parasitemia..

4. Pemeriksaan PCR (Polymerase Chain Reaction)


Pemeriksaan ini dianggap sangat peka dengan tekhnologi amplifikasi DNA, waktu dipakai cukup
cepat dan sensitivitas maupun spesifitasnya tinggi. Keunggulan tes ini walaupun jumlah parasit sangat
sedikit dapat memberikan hasil positif.
Penatalaksaan

Penggunaan obat anti malaria tidak terbatas pada pengobatan kurattif saja, tetapi juga termasuk:

1. Pengobatan pencegahan (profilaksis) bertujuan mencegah terjadinya infeksi atau timbulnya gejala klinis.
Penyembuhan dapat diperoleh dengan pemberian terapi jenis ini pada infeksi malaria oleh P.falciparum
karena parasit ini tidak mempunyai fase ekso-eritrosit

2. Pengobatan kuratif dapat dilakukan dengan obat malaria jenis skizontisid

3. Pencegahan transmisi bermanfaat untuk mencegah infeksi pada nyamuk atau mempengaruhi sporogonik
nyamuk. Obat antimalaria yang dapat digunakan seperti gametosid atau sporontosid.

Pengobatan

Monitoring
• Tensi, nadi, suhu dan pernafasan setiap 30 menit.
• Pemeriksaan derajat kesadaran dengan modifikasi Glasgow coma scale (GCS) setiap 6 jam.
• Hitung parasit setiap 12-24 jam.
• Hb & Ht setiap hari.
• Gula darah setiap 4 jam.
• Parameter lain sesuai indikasi ( misal : ureum, creatinin & kalium darah pada komplikasi gagal
ginjal).

Pencegahan
1.Tidur dengan kelambu sebaiknya dengan kelambu impregnated (dicelup pestisida : pemethrin atau
deltamethrin)
2. Menggunakan obat pembunuh nyamuk
3. Mencegah berada di alam bebas di mana nyamuk dapat mengigit atau harus memakai proteksi
(baju dengan lengan panjang, kaus/stoking). Nyamuk akan menggigit diantara jam 18.00-06.00.
Nyamuk jarang pada ketinggian di atas 2000 m.
4. Penggunaan Kemo-profilaksis : ex.Klorokuin

Komplikasi
1. Malaria serebral
2. Acidemia/asidosis
3. Anemia Berat
4. Gagal ginjal akut
5. Gagal sirkulasi atau syok
6. Perdarahan spontan dari hidung, gusi, slauran cerna
7. Kejang berulang lebih dari 2 kali/24 jam
8. Makroskopik hemoglobinuri

Prognosis
• Prognosis malaria berat tergantung kecepatan diagnosa dan ketepatan & kecepatan pengobatan,
Ketepatan diagnose dan penanganan yang baik, akan membari nilai prognosis yang baik
• Pada malaria berat yang tidak ditanggulangi, maka mortalitas yang dilaporkan pada anak-anak 15 %,
dewasa 20 %, dan pada kehamilan meningkat sampai 50 %.

Kompetensi Dokter
Malaria Serebral :
3b. Mampu membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan-pemeriksaan
tambahan yang diminta oleh dokter (misalnya : pemeriksaan laboratorium sederhana atau X-ray).
Dokter dapat memutuskan dan memberi terapi pendahuluan, serta merujuk ke spesialis yang
relevan (kasus gawat darurat).

Infeksi Malaria Biasa :


4. Mampu membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaanpemeriksaan
tambahan yang diminta oleh dokter (misalnya : pemeriksaan laboratorium sederhana atau X-ray).
Dokter dapat memutuskan dan mampu menangani problem itu secara mandiri hingga tuntas.