Anda di halaman 1dari 3

ANALISA PUTUSAN PENGADILAN

No : 1159/Pid/B/2010/PN.Jkt.Tim

Kasus posisi

Terdakwa Ahyarudin alias ucok sekitar bulan juli 2010 bertempat didalam warung
sembako Jl. Persahabatan Timur III No.21 RT.010/018 kel.Cipinang Kec.Pulogadung
Jakarta Timur melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan, memaksa, melakukan tipu
muslihat, serangkaian kebohongan atau membujuk anak untuk atau membiarkan
dilakukan perbuatan cabul.

Saksi korban dengan menggunakan kaos oblong bercorak garis hitam dan abu-abu serta
memakai celana jeans warna biru bergambar bunga datang ke warung yang dijaga oleh
terdakwa untuk membeli kue bolu dan setelah diwarung tersebut kemudian terdakwa
memanggil saksi korban untuk masuk kedalam warung lalu saksi korban bertanya pada
terdakwa “Ada apa Om ?” lalu dijawab oleh terdakwa “Ga apa-apa” sambil memasukan
jarinya kedalam vagina saksi korban dengan cara tangan terdakwa diselipkan kedalam
celana saksi Ghefira Desviana Putri yang pada saat itu saksi korban dalam posisi berdiri
disamping terdakwa. Setelah tangan terdakwa selesai memasukan jari tangannya kedalam
vagina saksi korban lalu terdakwa langsung memberikan uang Rp.2000,- kepada saksi
korban selanjutnya saksi korban pulang kerumah.

Atas kejadian teresebut saksi korban bercerita kepada saksi Fitria Lestari “kalau jajan di
warung Ucok pipik Fira suka dipegangi” mendengar hal tersebut selanjutnya pada
tanggal 26 juli 2010 saksi Fitria Lestari melaporkan kejadian tersebut.
Analisa Hukum

1. Apakah terdakwa telah melakukan perbuatan cabul terhadap anak?

1. Berdasakan UU No.23 Tahun 2002 Tentang perlindungan anak dalam Pasal 82

bahwa “setiap orang dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman


kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan atau
membujuk anak untuk melakukan atau untuk membiarkan dilakukan perbuatan
cabul”.

2. Berdasarkan UU No.23 Tahun 2002 Tentang perlindungan anak dalam Pasal 1

angka 1 bahwa anak adalah seorang yang belum berusia 18 (delapan belas tahun),
termasuk anak yang masih dalam kandungan.

Dari kedua dasar hukum tersebut dengan jelas terlihat :

1. Berdasarkan Berdasarkan kutipan Akta kelahiran No : AI.500.0311553 tanggal 14

desember 2005 menerangkan bahwa pada tanggal 14 Desember 2005 telah lahir
Ghefira Desviana Putri, artinya saksi korban masih dikategorikan anak.

2. Dalam kasus dari fakta-fakta yang terungkap dipersidangan, yaitu keterangan

saksi, keterangan terdakwa dan visum et repertum, majelis hakim berpendapat


bahwa unsur-unsur Pasal 82 yaitu :

• Barang siapa

• Dengan sengaja

Terdakwa memanggil saksi korban untuk masuk kedalam warung


• Melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan, memaksa, melakukan tipu
muslihat, serangkaian kebohongan atau membujuk anak untuk melakukan atau
untuk membiarkan dilakukan perbuatan cabul.

Sambil memasukan jarinya kedalam vagina saksi Ghefira Desviana Putri


dengan cara tangan terdakwa diselipkan kedalam celana saksi Ghefira
Desviana Putri yang pada saat itu saksi korban dalam posisi berdiri disamping
terdakwa

Unsur-unsur tersebut telah terpenuhi dalam perbuatan terdakwa

Majelis hakim dalam putusannya menyatakan terdakwa secara sah dan meyakinkan
melakukan tindak pidana dengan sengaja membujuk anak melakukan cabul dengannya
dan menghukum terdakwa dengan pidana penjara 6 tahun serta denda Rp.60.000.000,-.

Saya sependapat dengan majelis hakim, karena perbuatan terdakwa dapat membuat
trauma seumur hidup terhadap saksi korban dan meresahkan masyarakat. Padahal
terdakwa seharusnya mengetahui bahwa saksi korban adalah anak yang perlu dilindungi
sesuai dengan ketentuan dalam UU No.23 Tahun 2002 Tentang perlindungan anak.

Pendapat hukum

1. Anak adalah seorang yang belum berusia 18 (delapan belas tahun), termasuk anak
yang masih dalam kandungan.

2. Perbuatan terdakwa dengan memasukan jarinya kedalam vagina saksi korban


adalah perbuatan cabul terhadap anak.