Anda di halaman 1dari 16

“KISAH NABI KHIDIR AS “

(Tugas Pendidikan Agama Islam)

SMP NEGERI 1 DOMPU


Jl. Lele Swete Kel. Bali I Dompu – NTB Telp.
(0373)21412
DAFTAR ISI

Hal
Kata Pengantar____________________________________________
Daftar Isi_________________________________________________
Khidir AS Mengungkapkan Rahasia Menegakkan Tembok

Firman Alloh SWT dalam Qur'an Surat Kahfi :82 ,


"WA AMMAAL JIDAARU FAKAANA LIGHULAMAINI FIL MAIINATI WAKAANA
TAHTAHU KANZUN LAHUMAA WA KAANA ABUUHUMAA SHOOLIHAN
FA=AROODA ROBBUKA AN YABLUGHOO ASYUDDA HUMAA WAYAS
TAKHRI JAA KANZAHUMAA ROHMATAN MIN ROBBIKA WAMAA
FA'ALTUHU'AN AMRII DZAALIKA TA'WIILU MAALAM TASTHI' 'ALAIHI
SHOBRON"

Artinya : " Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang
anak muda yang yatim dikota Intiqoyah dan di bawahnya ada harta
benda simpanan bagi mereka ber dua. Sedang ayahnya adalah
seorang yang sholeh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya
mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan
simpanannya itu sebagai Rohmat Tuhanmu, dan bukanlah aku
melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah
tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar
terhadapnya" .

Sebagaimana keterangan terdahulu, di kota Intiqoyah itu ada orang


sholeh (Ahli Ibadah kepada Alloh SWT), namanya KASIKHUN,
mempunyai dua orang anak. Anak nomor satu namanya ASROM dan
anak nomor dua namanya SHORIM.

Sewaktu kecil sudah ditinggal wafat kedua orangtuanya, sehingga


kedua anak itu menjadi YATIM. Dan Kasikhun itu mempunyai
peninggalan EMAS yang dipendam dibawah tembok rumah, dengan
harapan ada yang diberi tanggungjawab untuk mengurus harta itu,
dengan maksud dari Kasikhun agar anaknya kelak setelah besar
simpanan EMAS itu menjadi penghidupannya, ini dilakukan menjelang
maut.

Dan orang diberi tanggungjawab adalah orang yang dapat dipercaya.

Sedangkan saudara-saudara Bapaknya itu ada tujuh.

Lama kelamaan tembok rumah itu jadi akan Roboh, padahal ASROM
dan SHORIM masih kecil, maka emasnya akan terlihat dan dijadikan
rebutan orang-orang Intiqoyah.

Kota itu penduduknya sangat kikir, Nabi Khidir dan Nabi Musa bertamu
tak ditolak dan tak diberi apa-apa walaupun seteguk air, malah disuruh
pergi.

Nah dengan sifatnya yang rakus harta itu maka emas lempengan itu
akan jadi rebutan orang-orang Intiqoyah. Bagaimana dengan Nasib dua
anak yatim itu.

Dari dasar inilah adanya Nabi Khidir membangun kembali tembok


yang sudah mau roboh dan dibawahnya ada harta/emas anak yatim.

Ingat apa kata Nabi Khidir kepada Nabi Musa," Jadi Aku menegakan
kembali tembok itu tidak untuk mendapat upah, dan upah itu untuk
beli makanan dan minuman."
Padahal yang ada dalam fikiran Nabi Musa dengan menegakkan
tembok bisa dapat upah untuk menghilangkan lapar dan haus
keduanya.

Dibawah tembok itu ada 5 atau 7 lempengan emas yang masing-


masing lempengan itu ada tulisannya.
Diantara tulisan itu adalah :
v Ajaib bagi orang orang yang percaya adanya takdir, bagaimana dia
kok khawatir/takut.
v Ajaib bagi orang yang meyakini adanya rizqi , bagaimana dia kok
kesulitan.
v Ajaib bagi orang yang meyakini dirinya akan mati, bagaimana dia
kok senang-senang.
v Ajaib bagi orang yang percaya akan dihisab, bagaimana dia setiap
hari kok mengumpulkan harta.

Begitu besar perhatian ALLOH SWT terhadap anak yatim, sehingga


Nabi-Nya disuruh menyelamatkan harta anak yatim putera orang yang
sholeh.

Bagaimana dengan kita apakah belum cukup jelas bahwa kita WAJIB
memperhatikan anak yatim, dengan menganjurkan menyantuni,
menyantuni itu sendiri.

Maka Alloh pun mempertanyakan ke-aslian, kesungguhan kita


beragama Islam ini dengan menyebut orang orang yang tak
menyantuni anak yatim dan memberi makan orang miskin sebagai
Kadzib Ad Diin. PENDUSTA AGAMA.

Sholatnya Bohong, Haji nya Bohong, Bacaan Qur'annya Bohong,


Berjubah dan bersorbannya Bohong, mengaji sana sini juga Bohong,
jika tidak dibarengi dengan aktualisasi menyantuni anak yatim dan
menolong orang-orang miskin.
Asal mula Nabi Khidir bisa berumur panjang

Kisah ini diriwayatkan ole Ats-tsa labi dari imam Ali, yang bermula dari Raja
Iskandar Zulkarnain yang disebut The Great Alexander (Iskandar yang
agung). Sebutan The Great Alexander kepada Raja Iskandar Zulkarnain
karena beliau adalah seorang kaisar yang mampu menaklukkan dunia barat
dan timur.Beliau disegani dan ditakuti orang di seluruh dunia pada
zamannya.Walau demikian, posisi ini tidak menjadikan beliau sombong,
beliau adalah salah seorang raja yang beriman dan bertakwa kepada Allah
SWT.
Suatu ketika raja Iskandar Zulkarnain pada tahun 322 SM berjalan di atas
bumi menuju ke tepi bumi (istilah ke tepi bumi ini disebut orang sebelum
Columbus menemukan benua Amerika pada tahun 1492 pada saat itu
anggapan orang bumi itu tidak bulat). Allah mewakilkan seorang malaikat
yang bernama Rafa’il untuk mendampingi Raja Iskandar Zulkarnain.

Di tengah perjalanan mereka berbincang-bincang dan raja Iskandar


Zulkarnain berkata kepada malaikat Rafa’il : “wahai malaikat Rafa’il
ceritakanlah kepadaku tentang ibadah para malaikat di langit.” Malaikat
Rafa’il berkata:”ibadah para malaikat di langit di antaranya ada yang berdiri
tidak mengangkat kepalanya selama-lamanya. Ada yang sujud tidak
mengangkat kepala selama-lamanya, dan ada pula yang rukuk tidak
mengangkat kepala selama-lamanya.” Mendengar keterangan ini Raja
termenung. Dalam benaknya timbul keinginan bisa melakukan hal yang sama
seperti malaikat. Niatnya hanya satu agar dapat beribadah kepada Allah. Lalu
malaikat Rafa’il berkata: “Sesungguhnya Allah telah menciptakan sumber air
di bumi, namanya Ainul hayat yang artinya sumber air hidup, maka barang
siapa yang meminumnya seteguk,maka tidak akan mati sampai hari kiamat
atau sehingga ia memohon kepada Allah agar supaya dimatikan.”
Kemudian raja bertanya kepada malikat Rafa’il:” apakah kau tahu dimana
tempat ainul hayat itu.” Malaikat rafa’il menjawab: “ Bahwa sesungguhnya
Ainul hayat itu berada di bumi yang gelap.”Setelah raja mendengar
keterangan dari malaikat Rafa’il tentang Ainul hayat, maka raja segera
mengumpulkan alim ulama pada zaman itu. Raja bertanya kepada mereka
tentang Ainul hayat itu tetapi mereka menjawab: kita tidak tahu kabarnya,
namun ada seorang yang alim di antara mereka menjawab :” sesungguhnya
aku pernah membaca di dalam wasiat nabi Adam AS, beliau berkata bahwa
sesungguhnya Allah meletakkan Ainul Hayat itu di bumi yang gelap.”
Dimanakah tempat bumi yang gelap itu ? Tanya raja. Dan dijawab, yaitu di
tempat keluarnya matahari.

Kemudian raja bersiap-siap untuk mendatangi tempat itu, lalu raja bertanya
kepada sahabatnya: “ kuda apa yang sangat tajam penglihatannya di waktu
gelap? Dan sahabat menjawab, yaitu kuda betina yang perawan. Kemudian
raja mengumpulkan 1000 ekor kuda betina yang masih perawan, lalu raja
memilih di antara tentaranya yang sebanyak 6000 orang dipilih yang
cendekiawan dan yang ahli mencambuk.
Di antara mereka adalah Nabi Khidir AS berjalan di depan pasukannya.
Setelah menempuh perjalanan jauh maka mereka jumpai dalam
perjalanan,bahwa tempat keluarnya matahari itu tepat pada arah kiblat.
Kemudian mereka tidak berhenti menempuh perjalanan dalam waktu 12
tahun, sehingga sampai di tepi bumi yang gelap itu, ternyata gelapnya itu
seperti asap, bukan seperti gelapnya waktu malam.

Kemudian seorang yang sangat cendekiawan mencegah raja masuk ke


tempat gelap itu dan tentara-tentaranya berkata kepada raja. “ Wahai raja,
sesungguhnya raja-raja yang terdahulu tidak ada yang masuk ke tempat
gelap ini karena tempat ini gelap dan berbahaya “. Raja berkata : “Kita harus
memasukinya, tidak boleh tidak “. Kemudian raja hendak masuk, maka
mereka semua membiarkannya siapakah yang berani membantah perintah
maharaja yang disegani dunia barat dan dunia timur. Kemudian raja berkata
kepada pasukannya : “ Diamlah, kalian di tempat ini selama 12 tahun, jika
aku bisa datang kepada kalian dalam masa 12 tahun itu maka kita pulang
bersama, jika aku tidak datang selama 12 tahun maka pulanglah kembali ke
negeri kalian.

Kemudian raja berkata kepada Malaikat Rifail : “ Apabila kita melewati


tempat yang gelap ini apakah kita dapat melihat kawan-kawan kita ? “. “
Tidak bisa kelihatan “ , jawab Malaikat Rifail : “ Akan tetapi aku memberimu
sebuah mutiara, jika mutiara itu ke atas bumi maka mutiara tersebut dapat
menjerit dengan suara yang keras dengan demikian maka teman-teman
kalian yang tersesat jalan dapat kembali kepada kalian” . Kemudian Raja
Zulkarnain masuk ke tempat tersebut dengan didampingi oleh Nabi Khidir.
Disaat mereka jalan Allah memberikan wahyu kepada Nabi khidir As, “ Bahwa
sesungguhnya Ainul Hayat itu berada di sebelah kanan jurang dan Ainul
Hayat itu Aku khususkan untuk kamu “. Setelah Nabi Khidir menerima wahyu
tersebut kemudian beliau berkata kepada sahabat-sahabatnya : “ Berhentilah
kalian di tempat kalian masing-masing dan janganlah kalian meninggalkan
tempat kalian sehingga aku datang kepada kalian “.

Lalu beliau berjalan menuju ke sebelah kanan jurang maka didapatilah oleh
beliau sebuah Ainul Hayat yang dicarinya itu. Kemudian Nabi Khidir turun dari
kudanya dan beliau langsung melepas pakaiannya dan turun dari kudanya
dan beliau langsung melepas pakaiannya dan turun ke “ Ainul Hayat “
( sumber air hidup ) tersebut, dan beliau terus mandi dan minum sumber air
hidup tersebut maka dirasakan oleh beliau airnya lebih manis dibanding
madu. Setelah beliau mandi dan minum Ainul hayat tersebut terus menemui
Raja Iskandar Dzulkarnain sedangkan raja tidak pernah tahu apa yang terjadi
pada Nabi Khidir As yaitu pada saat Nabi Khidir melihat Ainul Hayat dan
mandi.

Raja Iskandar Dzulkarnain keliling di dalam tempat yang gelap itu selama 40
hari, tiba-tiba tampak oleh Raja sinar seperti kilat maka terlihat oleh Raja,
bumi yang berpasir merah dan terdenganr oleh Raja suara gemericik di
bawah kaki kuda. Kenudian Raja berkata kepada Malaikat Rafail “ Suara
apakah yang gemerincing di bawah kaki kuda tersebut ? “, Malaikat Rafail
menjawab : “ gemericik adalah suara benda apabila seseorang
mengambilnya niscaya ia akan menyesal dan apabila tidak mengambilnya
niscaya ia akan menyesal juga. Suara gemericik itu membuat orang jadi
penasaran namun semua orang ragu-ragu dalam mentukan sikapnya,
mengambil benda itu atau tidak ?. Kemudian diantara pasukan ada yang
mengambilnya namun hanya sedikit setelah mereka keluar dari tempat yang
gelap itu ternyata bahwa benda tersebut adalah permata yakut berwarna
merah dan jambrut yang berwarna hijau; maka menyesallah pasukan yang
mengambil itu karena mengambilnya hanya sedikit, apalagi para pasukan
yang tidak mengambilnya pasti lebih menyesal lagi kenapa mereka begitu
bodoh tidak mengambil permata yang mahal harganya itu.

Demikianlah kisah asal mula Nabi Khidir berumur panjang. Bukti bahwa Nabi
Khidir berumur panjang adalah dari adanya kisah-kisah yang menyebutkan
bahwa beliau sudah ada sejak zaman Nabi Musa As, lalu beliau juga pernah
bertemu dengan Rosullullah SAW dan bahkan pernah berguru Ilmu Fiqih
kepada Imam Anu Hanifah.

***
Salah satu kisah Al-Qur'an yang sangat mengagumkan dan dipenuhi
dengan misteri adalah, kisah seseorang hamba yang Allah SWT memberinya
rahmat dari sisi-Nya dan mengajarinya ilmu. Kisah tersebut terdapat dalam
surah al-Kahfi di mana ayat-ayatnya dimulai dengan cerita Nabi Musa, yaitu:

"Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya: 'Aku tidak akan
berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku
akan berjalan-jalan sampai bertahun-tahun." (QS. al-Kahfi: 60)

Kalimat yang samar menunjukkan bahwa Musa telah bertekad untuk


meneruskan perjalanan selama waktu yang cukup lama kecuali jika beliau
mampu mencapai majma' al-Bahrain (pertemuan dua buah lautan). Di sana
terdapat suatu perjanjian penting yang dinanti-nanti oleh Musa ketika beliau
sampai di majma' al-Bahrain. Anda dapat merenungkan betapa tempat itu
sangat misterius dan samar. Para musafir telah merasakan keletihan dalam
waktu yang lama untuk mengetahui hakikat tempat ini. Ada yang
mengatakan bahwa tempat itu adalah laut Persia dan Romawi. Ada yang
mengatakan lagi bahwa itu adalah laut Jordania atau Kulzum. Ada yang
mengatakan juga bahwa itu berada di Thanjah. Ada yang berpendapat, itu
terletak di Afrika. Ada lagi yang mengatakan bahwa itu adalah laut Andalus.
Tetapi mereka tidak dapat menunjukkan bukti yang kuat dari tempat-tempat
itu.

Seandainya tempat itu harus disebutkan niscaya Allah SWT akan


rnenyebutkannya. Namun Al-Qur'an al-Karim sengaja menyembunyikan
tempat itu, sebagaimana Al-Qur'an tidak menyebutkan kapan itu terjadi.
Begitu juga, Al-Qur'an tidak menyebutkan nama-nama orang-orang yang
terdapat dalam kisah itu karena adanya hikmah yang tinggi yang kita tidak
mengetahuinya. Kisah tersebut berhubungan dengan suatu ilmu yang tidak
kita miliki, karena biasanya ilmu yang kita kuasai berkaitan dengan sebab-
sebab tertentu. Dan tidak juga ia berkaitan dengan ilmu para nabi karena
biasanya ilmu para nabi berdasarkan wahyu. Kita sekarang berhadapan
dengan suatu ilmu dari suatu hakikat yang samar; ilmu yang berkaitan
dengan takdir yang sangat tinggi; ilmu yang dipenuhi dengan rangkaian tabir
yang tebal.

Di samping itu, tempat pertemuan dan waktunya antara hamba yang


mulia ini dan Musa juga tidak kita ketahui. Demikianlah kisah itu terjadi tanpa
memberitahumu kapan terjadi dan di tempat mana. Al-Qur'an sengaja
menyembunyikan hal itu, bahkan Al-Qur'an sengaja menyembunyikan
pahlawan dari kisah ini. Allah SWT mengisyaratkan hal tersebut dalam
firman-Nya:

"Seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami


berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan
kepadanya ilmu dari sisi Kami." (QS. al-Kahfi: 65)

Al-Qur'an al-Karim tidak menyebutkan siapa nama hamba yang


dimaksud, yaitu seorang hamba yang dicari oleh Musa agar ia dapat belajar
darinya. Nabi Musa adalah seseorang yang diajak bebicara langsung oleh
Allah SWT dan ia salah seorang ulul azmi dari para rasul. Beliau adalah
pemilik mukjizat tongkat dan tangan yang bercahaya dan seorang Nabi yang
Taurat diturunkan kepadanya tanpa melalui perantara. Namun dalam kisah
ini, beliau menjadi seorang pencari ilmu yang sederhana yang harus belajar
kepada gurunya dan menahan penderitaan di tengah-tengah belajarnya itu.
Lalu, siapakah gurunya atau pengajarnya? Pengajarnya adalah seorang
hamba yang tidak disebutkan namanya dalam Al-Qur'an meskipun dalam
hadis yang suci disebutkan bahwa ia adalah Khidir as.
Musa berjalan bersama hamba yang menerima ilmunya dari Allah SWT
tanpa sebab-sebab penerimaan ilmu yang biasa kita ketahui. Mula-mula
Khidir menolak ditemani oleh Musa. Khidir memberitahu Musa bahwa ia tidak
akan mampu bersabar bersamanya. Akhirnya, Khidir mau ditemani oleh Musa
tapi dengan syarat, hendaklah ia tidak bertanya tentang apa yang dilakukan
Khidir sehingga Khidir menceritakan kepadanya. Khidir merupakan simbol
ketenangan dan diam; ia tidak berbicara dan gerak-geriknya menimbulkan
kegelisahan dan kebingungan dalam diri Musa. Sebagian tindakan yang
dilakukan oleh Khidir jelas-jelas dianggap sebagai kejahatan di mata Musa;
sebagian tindakan Khidir yang lain dianggap Musa sebagai hal yang tidak
memiliki arti apa pun; dan tindakan yang lain justru membuat Musa bingung
dan membuatnya menentang. Meskipun Musa memiliki ilmu yang tinggi dan
kedudukan yang luar biasa namun beliau mendapati dirinya dalam keadaan
kebingungan melihat perilaku hamba yang mendapatkan karunia ilmunya
dari sisi Allah SWT.

Ilmu Musa yang berlandaskan syariat menjadi bingung ketika


menghadapi ilmu hamba ini yang berlandaskan hakikat. Syariat merupakan
bagian dari hakikat. Terkadang hakikat menjadi hal yang sangat samar
sehingga para nabi pun sulit memahaminya. Awan tebal yang menyelimuti
kisah ini dalam Al-Qur'an telah menurunkan hujan lebat yang darinya
mazhab-mazhab sufi di dalam Islam menjadi segar dan tumbuh. Bahkan
terdapat keyakinan yang menyatakan adanya hamba-hamba Allah SWT yang
bukan termasuk nabi dan syuhada namun para nabi dan para syuhada
"cemburu" dengan ilmu mereka. Keyakinan demikian ini timbul karena
pengaruh kisah ini.

Para ulama berbeda pendapat berkenaan dengan Khidir. Sebagian


mereka mengatakan bahwa ia seorang wali dari wali-wali Allah SWT.
Sebagian lagi mengatakan bahwa ia seorang nabi. Terdapat banyak cerita
bohong tentang kehidupan Khidir dan bagaimana keadaannya. Ada yang
mengatakan bahwa ia akan hidup sampai hari kiamat. Yang jelas, kisah Khidir
tidak dapat dijabarkan melalui nas-nas atau hadis-hadis yang dapat dipegang
(otentik). Tetapi kami sendiri berpendapat bahwa beliau meninggal
sebagaimana meninggalnya hamba-hamba Allah SWT yang lain. Sekarang,
kita tinggal membahas kewaliannya dan kenabiannya. Tentu termasuk
problem yang sangat rumit atau membingungkan. Kami akan menyampaikan
kisahnya dari awal sebagaimana yang dikemukakan dalam Al-Qur'an.

Nabi Musa as berbicara di tengah-tengah Bani Israil. Ia mengajak


mereka untuk menyembah Allah SWT dan menceritakan kepada mereka
tentang kebenaran. Pembicaraan Nabi Musa sangat komprehensif dan tepat.
Setelah beliau menyampaikan pembicaraannya, salah seorang Bani Israil
bertanya: "Apakah ada di muka bumi seseorang yang lebih alim darimu
wahai Nabi Allah?" Dengan nada emosi, Musa menjawab: "Tidak ada."

Allah SWT tidak setuju dengan jawaban Musa. Lalu Allah SWT mengutus
Jibril untuk bertanya kepadanya: "Wahai Musa, tidakkah engkau mengetahui
di mana Allah SWT meletakkan ilmu-Nya?" Musa mengetahui bahwa ia
terburu-buru mengambil suatu keputusan. Jibril kembali berkata kepadanya:
"Sesungguhnya Allah SWT mempunyai seorang hamba yang berada di
majma' al-Bahrain yang ia lebih alim daripada kamu." Jiwa Nabi Musa yang
mulia rindu untuk menambah ilmu, lalu timbullah keinginan dalam dirinya
untuk pergi dan menemui hamba yang alim ini. Musa bertanya bagaimana ia
dapat menemui orang alim itu. Kemudian ia mendapatkan perintah untuk
pergi dan membawa ikan di keranjang. Ketika ikan itu hidup dan melompat
ke lautan maka di tempat itulah Musa akan menemui hamba yang alim.

Akhirnya, Musa pergi guna mencari ilmu dan beliau ditemani oleh
seorang pembantunya yang masih muda. Pemuda itu membawa ikan di
keranjang. Kemudian mereka berdua pergi untuk mencari hamba yang alim
dan saleh. Tempat yang mereka cari adalah tempat yang sangat samar dan
masalah ini berkaitan dengan hidupnya ikan di keranjang dan kemudian ikan
itu akan melompat ke laut. Namun Musa berkeinginan kuat untuk
menemukan hamba yang alim ini walaupun beliau harus berjalan sangat jauh
dan menempuh waktu yang lama.

Musa berkata kepada pembantunya: "Aku tidak memberimu tugas apa


pun kecuali engkau memberitahuku di mana ikan itu akan berpisah
denganmu." Pemuda atau pembantunya berkata: "Sungguh engkau hanya
memberi aku tugas yang tidak terlalu berat." Kedua orang itu sampai di
suatu batu di sisi laut. Musa tidak kuat lagi menahan rasa kantuk sedangkan
pembantunya masih bergadang. Angin bergerak ke tepi lautan sehingga ikan
itu bergerak dan hidup lalu melompat ke laut. Melompatnya ikan itu ke laut
sebagai tanda yang diberitahukan Allah SWT kepada Musa tentang tempat
pertamuannya dengan seseorang yang bijaksana yang mana Musa datang
untuk belajar kepadanya. Musa bangkit dari tidurnya dan tidak mengetahui
bahwa ikan yang dibawanya telah melompat ke laut sedangkan
pembantunya lupa untuk menceritakan peristiwa yang terjadi. Lalu Musa
bersama pemuda itu melanjutkan perjalanan dan mereka lupa terhadap ikan
yang dibawanya. Kemudian Musa ingat pada makanannya dan ia telah
merasakan keletihan. Ia berkata kepada pembantunya: "Coba bawalah
kepada kami makanan siang kami, sungguh kami telah merasakan keletihan
akibat dari perjalanan ini."

Pembantunya mulai ingat tentang apa yang terjadi. Ia pun mengingat


bagaimana ikan itu melompat ke lautan. Ia segera menceritakan hal itu
kepada Nabi Musa. Ia meminta maaf kepada Nabi Musa karena lupa
menceritakan hal itu. Setan telah melupakannya. Keanehan apa pun yang
menyertai peristiwa itu, yang jelas ikan itu memang benar-benar berjalan dan
bergerak di lautan dengan suatu cara yang mengagumkan. Nabi Musa
merasa gembira melihat ikan itu hidup kembali di lautan dan ia berkata:
"Demikianlah yang kita inginkan." Melompatnya ikan itu ke lautan adalah
sebagai tanda bahwa di tempat itulah mereka akan bertemu dengan
seseorang lelaki yang alim. Nabi Musa dan pembantunya kembali dan
menelusuri tempat yang dilaluinya sampai ke tempat yang di situ ikan yang
dibawanya bergerak dan menuju ke lautan.

Perhatikanlah permulaan kisah: bagaimana Anda berhadapan dengan


suatu kesamaran dan tabir yang tebal di mana ketika Anda menjumpai suatu
tabir di depan Anda terpampang maka sebelum tabir itu tersingkap Anda
harus berhadapan dengan tabir-tabir yang lain. Akhirnya, Musa sampai di
tempat di mana ikan itu melompat. Mereka berdua sampai di batu di mana
keduanya tidur di dekat situ, lalu ikan yang mereka bawa keluar menuju laut.
Di sanalah mereka mendapatkan seorang lelaki. Kami tidak mengetahui
namanya, dan bagaimana bentuknya, dan bagaimana bajunya; kami pun
tidak mengetahui usianya. Yang kita ketahui hanyalah gambaran dalam yang
dijelaskan oleh Al-Qur'an: "Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di
antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahrnat dari
sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami. "

Inilah aspek yang penting dalam kisah itu. Kisah itu terfokus pada
sesuatu yang ada di dalam jiwa, bukan tertuju pada hal-hal yang bersifat fisik
atau lahiriah. Allah SWT berfirman:

"Maka tatkala mereka berjalan sampai ke pertemuan dua buah laut itu,
maka mereka lalai akan ikannya, lalu ikan itu melompat mengambil jalannya
ke laut itu. Tatkala mereka berjalan lebih jauh, berkatalah Musa kepada
muridnya: 'Bawalah ke rnari makanan kita; sesungguhnya kita merasa letih
karena perjalanan hita ini.' Muridnya menjawab: 'Tahukah kamu tatkala kita
mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa
(menceritakan tentang) ikan itu dan tidak adalah yang melupakan aku untuk
menceritakannya kecuali setan dan ikan itu mengambil jalannya ke laut
dengan cara yang aneh sekali.' Musa berkata: 'Itulah (tempat) yang kita cari;
lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula. Lalu mereka
bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah
Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan
kepadanya ilmu dari sisi Kami. " (QS. al-Kahfi: 61-65)

Bukhari mengatakan bahwa Musa dan pembantunya menemukan Khidir


di atas sajadah hijau di tengah-tengah lautan. Ketika Musa melihatnya, ia
menyampaikan salam kepadanya. Khidir berkata: "Apakah di bumimu ada
salam? Siapa kamu?" Musa menjawab: "Aku adalah Musa." Khidir berkata:
"Bukankah engkau Musa dari Bani Israil. Bagimu salam wahai Nabi dari Bani
Israil." Musa berkata: "Dari mana kamu mengenal saya?" Khidir menjawab:
"Sesungguhnya yang mengenalkan kamu kepadaku adalah juga yang
memberitahu aku siapa kamu. Lalu, apa yang engkau inginkan wahai Musa?"
Musa berkata dengan penuh kelembutan dan kesopanan: "Apakah aku dapat
mengikutimu agar engkau dapat mengajariku sesuatu yang engkau telah
memperoleh karunia dari-Nya." Khidir berkata: "Tidakkah cukup di tanganmu
Taurat dan bukankah engkau telah mendapatkan wahyu. Sungguh wahai
Musa, jika engkau ingin mengikutiku engkau tidak akan mampu bersabar
bersamaku."

Kita ingin memperhatikan sejenak perbedaan antara pertanyaan Musa


yang penuh dengan kesopanan dan kelembutan dan jawaban Khidir yang
tegas di mana ia memberitahu Musa bahwa ilmunya tidak harus diketahui
oleh Musa, sebagaimana ilmu Musa tidak diketahui oleh Khidir. Para ahli tafsir
mengemukakan bahwa Khidir berkata kepada Musa: "Ilmuku tidak akan
engkau ketahui dan engkau tidak akan mampu sabar untuk menanggung
derita dalam memperoleh ilmu itu. Aspek-aspek lahiriah yang engkau kuasai
tidak dapat menjadi landasan dan ukuran untuk menilai ilmuku. Barangklali
engkau akan melihat dalam tindakan-tindakanku yang tidak engkau pahami
sebab-sebabnya. Oleh karena itu, wahai Musa, engkau tidak akan mampu
bersabar ketika ingin mendapatkan ilmuku." Musa mendapatkan suatu
pernyataan yang tegas dari Khidir namun beliau kembali mengharapnya
untuk mengizinkannya menyertainya untuk belajar darinya. Musa berkata
kepadanya bahwa insya Allah ia akan mendapatinya sebagai orang yang
sabar dan tidak akan menentang sedikit pun.

Perhatikanlah bagaimana Musa, seorang Nabi yang berdialog dengan


Allah SWT, merendah di hadapan hamba ini dan ia menegaskan bahwa ia
tidak akan menentang perintahnya. Hamba Allah SWT yang namanya tidak
disebutkan dalam Al-Qur'an menyatakan bahwa di sana terdapat syarat yang
harus dipenuhi Musa jika ia bersikeras ingin menyertainya dan belajar
darinya. Musa bertanya tentang syarat ini, lalu hamba yang saleh ini
menentukan agar Musa tidak bertanya sesuatu pun sehingga pada saatnya
nanti ia akan mengetahuinya atau hamba yang saleh itu akan
memberitahunya. Musa sepakat atas syarat tersebut dan kemudian mereka
pun pergi. Perhatikanlah firman Allah SWT dalam surah al-Kahfi:

"Musa berkata kepadanya: 'Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu


mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah
diajarkan kepadamu ?' Dia menjawab: 'Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak
akan sanggup sabar bersamaku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas
sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal
itu?' Musa berkata: 'Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang
yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan pun.'
Dia berkata: 'Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan
kepadaku tentang sesuatu pun, sampai aku sendiri menerangkannya
kepadamu.'" (QS. al-Kahfi: 66-70)
Musa pergi bersama Khidir. Mereka berjalan di tepi laut. Kemudian
terdapat perahu yang berlayar lalu mereka berbicara dengan orang-orang
yang ada di sana agar mau mengangkut mereka. Para pemilik perahu
mengenal Khidir. Lalu mereka pun membawanya beserta Musa, tanpa
meminta upah sedikit pun kepadanya. Ini sebagai bentuk penghormatan
kepada Khidir. Namun Musa dibuat terkejut ketika perahu itu berlabuh dan
ditinggalkan oleh para pemiliknya, Khidir melobangi perahu itu. Ia mencabut
papan demi papan dari perahu itu, lalu ia melemparkannya ke laut sehingga
papan-papan itu dibawa ombak ke tempat yang jauh.

Musa menyertai Khidir dan melihat tindakannya dan kemudian ia


berpikir. Musa berkata kepada dirinya sendiri: "Apa yang aku lakukan di sini,
mengapa aku berada di tempat ini dan menemani laki-laki ini? Mengapa aku
tidak tinggal bersama Bani Israil dan membacakan Kitab Allah SWT sehingga
mereka taat kepadaku? Sungguh Para pemilik perahu ini telah mengangkut
kami tanpa meminta upah. Mereka pun memuliakan kami tetapi guruku
justru merusak perahu itu dan melobanginya." Tindakan Khidir di mata Musa
adalah tindakan yang tercela. Kemudian bangkitlah emosi Musa sebagai
bentuk kecemburuannya kepada kebenaran. Ia terdorong untuk bertanya
kepada gurunya dan ia lupa tentang syarat yang telah diajukannya, agar ia
tidak bertanya apa pun yang terjadi. Musa berkata: "Apakah engkau
melobanginya agar para penumpangnya tenggelam? Sungguh engkau telah
melakukan sesuatu yang tercela." Mendengar pertanyaan lugas Musa, hamba
Allah SWT itu menoleh kepadanya dan menunjukkan bahwa usaha Musa
untuk belajar darinya menjadi sia-sia karena Musa tidak mampu lagi
bersabar. Musa meminta maaf kepada Khidir karena ia lupa dan mengharap
kepadanya agar tidak menghukumnya.

Kemudian mereka berdua berjalan melewati suatu kebun yang dijadikan


tempat bermain oleh anak-anak kecil. Ketika anak-anak kecil itu sudah letih
bermain, salah seorang mereka tampak bersandar di suatu pohon dan rasa
kantuk telah menguasainya. Tiba-tiba, Musa dibuat terkejut ketika melihat
hamba Allah SWT ini membunuh anak kacil itu. Musa dengan lantang
bertanya kepadanya tentang kejahatan yang baru saja dilakukannya, yaitu
membunuh anak laki-laki yang tidak berdosa. Hamba Allah SWT itu kembali
mengingatkan Musa bahwa ia tidak akan mampu bersabar bersamanya.
Musa meminta maaf kepadanya karena lagi-lagi ia lupa. Musa berjanji tidak
akan bertanya lagi. Musa berkata ini adalah kesempatan terakhirku untuk
menemanimu. Mereka pun pergi dan meneruskan perjalanan. Mereka
memasuki suatu desa yang sangat bakhil. Musa tidak mengetahui mengapa
mereka berdua pergi ke desa itu dan mengapa tinggal dan bermalam di
sana. Makanan yang mereka bawa habis, lalu mereka meminta makanan
kepada penduduk desa itu, tetapi penduduk itu tidak mau memberi dan tidak
mau menjamu mereka.

Kemudian datanglah waktu sore. Kedua orang itu ingin beristirahat di


sebelah dinding yang hampir roboh. Musa dibuat terkejut ketika melihat
hamba itu berusaha membangun dinding yang nyaris roboh itu. Bahkan ia
menghabiskan waktu malam untuk memperbaiki dinding itu dan
membangunnya seperti baru. Musa sangat heran melihat tindakan gurunya.
Bagi Musa, desa yang bakhil itu seharusnya tidak layak untuk mendapatkan
pekerjaan yang gratis ini. Musa berkata: "Seandainya engkau mau, engkau
bisa mendapat upah atas pembangunan tembok itu." Mendengar perkataan
Musa itu, hamba Allah SWT itu berkata kepadanya: "Ini adalah batas
perpisahan antara dirimu dan diriku." Hamba Allah SWT itu mengingatkan
Musa tentang pertanyaan yang seharusnya tidak dilontarkan dan ia
mengingatkannya bahwa pertanyaan yang ketiga adalah akhir dari
pertemuan.

Kemudian hamba Allah SWT itu menceritakan kepada Musa dan


membongkar kesamaran dan kebingungan yang dihadapi Musa. Setiap
tindakan hamba yang saleh itu—yang membuat Musa bingung—bukanlah
hasil dari rekayasanya atau dari inisiatifnya sendiri, ia hanya sekadar menjadi
jembatan yang digerakkan oleh kehendak Yang Maha Tingi di mana
kehendak yang tinggi ini menyiratkan suatu hikmah yang tersembunyi.
Tindakan-tindakan yang secara lahiriah tampak keras namun pada
hakikatnya justru menyembunyikan rahmat dan kasih sayang. Demikianlah
bahwa aspek lahiriah bertentangan dengan aspek batiniah. Hal inilah yang
tidak diketahui oleh Musa. Meskipun Musa memiliki ilmu yang sangat luas
tetapi ilmunya tidak sebanding dengan hamba ini. Ilmu Musa laksana setetes
air dibandingkan dengan ilmu hamba itu, sedangkan hamba Allah SWT itu
hanya memperoleh ilmu dari Allah SWT sedikit, sebesar air yang terdapat
pada paruh burung yang mengambil dari lautan. Allah SWT berfirman:

"Maka berjalanlah heduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu


lalu Khidir melobanginya. Musa berkata: 'Mengapa kamu melobangi perahu
itu yang akibatnya hamu menenggelamkan penumpangnya? Sesungguhnya
kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar.' Dia (Khidir) berkata:
'Bukankah aku telah berkata: 'Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan
sabar bersama dengan aku.' Musa berkata: 'Janganlah kamu menghukum
aku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu
kesulitan dalam urusanku.' Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala
keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khidir membunuhnya. Musa
berkata: 'Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih itu, bukan karena dia
membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang
mungkar.' Khidir berkata: 'Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa
sesungguhnya kamu tidak akan sabar bersamaku?' Musa berkata: 'Jika aku
bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, maka janganlah
engkau memperbolehkan aku menyertairnu, sesungguhnya kamu sudah
cukup memberikan uzur kepadaku.' Maka keduanya berjalan; hingga tatkala
keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu
kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu
mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah
yang hampir roboh, maka Khidir menegakkan dinding itu. Musa berkata:
'Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu.' Khidir berkata:
'Inilah perpisahan antara aku dengan kamu. Aku akan memberitahukan
kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar
terhadapnya. Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang
bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di
hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera. Dan
adapun anak itu maka kedua orang tuanya adalah orang-orang mukmin dan
kami khawatir bahwa dia ahan mendorong orang tuanya itu kepada
kesesatan dan kekafiran. Dan kami menghendaki supaya Tuhan mereha
mengganti bagi mereka dengan anak yang lebih baik kesuciannya dari
anaknya itu dan lebih dalam dari hasih sayangnya (kepada ibu dan
bapaknya). Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan anak yatim di kota
itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang
ayahnya seseorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki supaya
mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu,
sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakuhannya itu menurut
kemauanku sendvri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang
kamu tidak dapat sabar terhadapnya.'" (QS. al-Kahfi: 71-82)

Hamba saleh itu menyingkapkan dua hal pada Musa: ia


memberitahunya bahwa ilmunya, yakni ilmu Musa sangat terbatas, kemudian
ia memberitahunya bahwa banyak dari musibah yang terjadi di bumi justru di
balik itu terdapat rahmat yang besar. Pemilik perahu itu akan menganggap
bahwa usaha melobangi perahu mereka merupakan suatu bencana bagi
mereka tetapi sebenarnya di balik itu terdapat kenikmatan, yaitu kenikmatan
yang tidak dapat diketahui kecuali setelah terjadinya peperangan di mana
raja akan memerintahkan untuk merampas perahu-perahu yang ada. Lalu
raja itu akan membiarkan perahu-perahu yang rusak. Dengan demikian,
sumber rezeki keluarga-keluarga mereka akan tetap terjaga dan mereka
tidak akan mati kelaparan. Demikian juga orang tua anak kecil yang terbunuh
itu akan menganggap bahwa terbunuhnya anak kecil itu sebagai musibah,
namun kematiannya justru membawa rahmat yang besar bagi mereka
karena Allah SWT akan memberi mereka—sebagai ganti darinya—anak yang
baik yang dapat menjaga mereka dan melindungi mereka pada saat mereka
menginjak masa tua dan mereka tidak akan menampakkan kelaliman dan
kekufuran seperti anak yang terbunuh. Demikianlah bahwa nikmat terkadang
membawa sesuatu bencana dan sebaliknya, suatu bencana terkadang
membawa nikmat. Banyak hal yang lahirnya baik temyata justru di balik itu
terdapat keburukan.

Mula-mula Nabi Allah SWT Musa menentang dan mempersoalkan


tindakan hamba Allah SWT tersebut, kemudian ia menjadi mengerti ketika
hamba Allah SWT itu menyingkapkan kepadanya maksud dari tindakannya
dan rahmat Allah SWT yang besar yang tersembunyi dari peristiwa-peristiwa
yang terjadi.

Selanjutnya, Musa kembali menemui pembatunya dan menemaninya


untuk kembali ke Bani Israil. Sekarang, Musa mendapatkan keyakinan yang
luar biasa. Musa telah belajar dari mereka dua hal: yaitu ia tidak merasa
bangga dengan ilmunya dalam syariat karena di sana terdapat ilmu hakikat,
dan ia tidak mempersoalkan musibah-musibah yang dialami oleh manusia
karena di balik itu terdapat rahmat Allah SWT yang tersembunyi yang berupa
kelembutan-Nya dan kasih sayang-Nya. Itulah pelajaran yang diperoleh Nabi
Musa as dari hamba ini. Nabi Musa mengetahui bahwa ia berhadapan dengan
lautan ilmu yang baru di mana ia bukanlah lautan syariat yang diminum oleh
para nabi. Kita berhadapan dengan lautan hakikat, di hadapan ilmu takdir
yang tertinggi; ilmu yang tidak dapat kita jangkau dengan akal kita sebagai
manusia biasa atau dapat kita cerna dengan logika biasa. Ini bukanlah ilmu
eksperimental yang kita ketahui atau yang biasa terjadi di atas bumi, dan ia
pun bukan ilmu para nabi yang Allah SWT wahyukan kepada mereka.

Kita sekarang sedang membahas ilmu yang baru. Lalu siapakah pemilik
ilmu ini? Apakah ia seorang wali atau seorang nabi? Mayoritas kaum sufi
berpendapat bahwa hamba Allah SWT ini dari wali-wali Allah SWT. Allah SWT
telah memberinya sebagian ilmu laduni kepadanya tanpa sebab-sebab
tertentu. Sebagian ulama berpendapat bahwa hamba saleh ini adalah
seorang nabi. Untuk mendukung pernyataannya ulama-ulama tersebut
menyampaikan beberapa argumentasi melalui ayat Al-Qur'an yang
menunjukkan kenabiannya.

Pertama, firman-Nya:

"Lalu mereka bertemu dengan searang hamba di antara hamba-ham-ba


Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang
telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami."

Kedua, perkataan Musa kepadanya:

"Musa berkata kepadanya: 'Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu


mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah
diajarkan kepadamu?' Dia menjawab: 'Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak
akan sanggup sabar bersamaku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas
sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal
itu ?' Musa berkata: 'lnsya Allah kamu akan mendapati aku sebagai
orangyang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan
pun.' Dia berkata: 'Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu
rmnanyakan kepadaku tentang sesuatu pun, sampai aku sendiri
menerangkannya kepadamu,'" (QS. al-Kahfi: 66-70)
Seandainya ia seorang wali dan bukan seorang nabi maka Musa tidak
akan berdiaog atau berbicara dengannya dengan cara yang demikian dan ia
tidak akan menjawab kepada Musa dengan jawaban yang demikian. Bila ia
bukan seorang nabi maka berarti ia tidak maksum sehingga Musa tidak harus
memperoleh ilmu dari seseorang wali yang tidak maksum.

Ketiga, Khidir menunjukkan keberaniannya untuk membunuh anak kecil


itu melalui wahyu dari Allah SWT dan perintah dari-Nya. Ini adalah dalil
tersendiri yang menunjukkan kenabiannya dan bukti kuat yang menunjukkan
kemaksumannya. Sebab, seorang wali tidak boleh membunuh jiwa yang tidak
berdosa dengan hanya berdasarkan kepada keyakinannya dan hatinya. Boleh
jadi apa yang terlintas dalam hatinya tidak selalu maksum karena terkadang
ia membuat kesalahan. Jadi, keberanian Khidir untuk membunuh anak kacil
itu sebagai bukti kenabiannya.

Keempat, perkataan Khidir kepada Musa:

"Sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukannya itu


menurut kemauanku sendiri. " (QS. al-Kahfi: 82)

Yakni, apa yang aku lakukan bukan dari doronganku sendiri namun ia
merupakan perintah dari Allah SWT dan wahyu dari-Nya. Demikianlah
pendapat para ulama dan para ahli zuhud. Para ulama berpendapat bahwa
Khidir adalah seorang Nabi sedangkan para ahli zuhud dan para tokoh sufi
berpendapat bahwa Khidir adalah seorang wali dari wali-wali Allah SWT.

Salah satu pernyataan Kliidir yang sering dikemukakan oleh tokoh sufi
adalah perkataan Wahab bin Munabeh, Khidir berkata: "Wahai Musa, manusia
akan disiksa di dunia sesuai dengan kadar kecintaan mereka atau
kecenderungan mereka terhadapnya (dunia)." Sedangkan Bisyir bin Harits al-
Hafi berkata: "Musa berkata kepada Khidir: "Berilah aku nasihat." Khidir
menjawab: "Mudah-mudahan Allah SWT memudahkan kamu untuk taat
kepada-Nya." Para ulama dan para ahli zuhud berselisih pendapat tentang
Khidir dan setiap mereka mengklaim kebenaran pendapatnya. Perbedaan
pendapat ini berujung pangkal kepada anggapan para ulama bahwa mereka
adalah sebagai pewaris para nabi, sedangkan kaum sufi menganggap diri
mereka sebagai ahli hakikat yang mana salah satu tokoh terkemuka dari ahli
hakikat itu adalah Khidir. Kami sendiri cenderung untuk menganggap Khidir
sebagai seorang nabi karena beliau menerima ilmu laduni. Yang jelas, kita
tidak mendapati nas yang jelas dalam konteks Al-Qur'an yang menunjukkan
kenabiannya dan kita juga tidak menemukan nas yang gamblang yang dapat
kita jadikan sandaran untuk menganggapnya sebagai seorang wali yang
diberi oleh Allah SWT sebagian ilmu laduni.

Barangkali kesamaran seputar pribadi yang mulia ini memang disengaja


agar orang yang mengikuti kisah tersebut mendapatkan tujuan utama dari
inti cerita. Hendaklah kita berada di batas yang benar dan tidak terlalu jauh
mempersoalkan kenabiannya atau kewaliannya. Yang jelas, ketika kami
memasukkannya dalam jajaran para nabi karena ia adalah seorang guru dari
Musa dan seorang ustadz baginya untuk beberapa waktu.

***
Kisah Perjalanan Ladunni Nabi Musa AS bersama muridnya serta
Nabi Khidir AS merupakan kisah yang telah lama kita kenal dan sebut-
sebutkan untuk menjadi contoh tauladan kepada manusia yang berilmu.

Kisah ini mengandungi pengertian yang sangat dalam dalam


ertikata mengenal Sang Pencipta yang Maha Besar. Di mana tempat
‘jumpanya’ ilmu itu? Itulah dia di tempat pertemuan antara dua laut. Di
situlah bermulanya Ladunni yang di sebut-sebut para Ahli Sufi. Kisah
perjalanan Ladunni Nabi Musa AS dan Nabi Khidir AS dinukilkan di dalam
terjemahan Firman Allah SWT di dalam Surah Al-Kahfi (ayat 60 hingga
82). semoga mendapat manfaat bersama.

Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya: “Aku tidak akan
berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau
aku akan berjalan sampai bertahun-tahun”. Maka tatkala mereka sampai
ke pertemuan dua buah laut itu, mereka lalai akan ikannya, lalu ikan itu
melompat mengambil jalannya ke laut itu. Maka tatkala mereka berjalan
lebih jauh, berkatalah Musa kepada muridnya: “Bawalah ke mari
makanan kita; sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan
kita ini”.

Muridnya menjawab: “Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat


berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan
tentang) ikan itu dan tidak adalah yang melupakan aku untuk
menceritakannya kecuali setan dan ikan itu mengambil jalannya ke laut
dengan cara yang aneh sekali.” Musa berkata: “Itulah (tempat) yang kita
cari”.

Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula. Lalu mereka


bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang
telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah
Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami. Musa berkata kepada Khidir:
“Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu
yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?”

Dia menjawab: “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup


sabar bersamaku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang
kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?”
Musa berkata: “Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai seorang
yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan
pun”. Dia berkata: “Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu
menanyakan kepadaku tentang sesuatu apa pun, sampai aku sendiri
menerangkannya kepadamu”.

Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu


Khidir melobanginya. Musa berkata: “Mengapa kamu melobangi perahu
itu yang akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya?”
Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar. Dia
(Khidir) berkata: “Bukankah aku telah berkata: “Sesungguhnya kamu
sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku”

Musa berkata: “Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku dan


janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam
urusanku”. Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya
berjumpa dengan seorang anak, maka Khidir membunuhnya. Musa
berkata: “Mengapa kamu bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia
membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang
mungkar”. Khidir berkata: “Bukankah sudah kukatakan kepadamu,
bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?”
Musa berkata: “Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah
(kali) ini, maka janganlah kamu memperbolehkan aku menyertaimu,
sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur padaku”.

Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada


penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri
itu tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian
keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir
roboh, maka Khidir menegakkan dinding itu. Musa berkata: “Jikalau kamu
mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu”. Khidir berkata: “Inilah
perpisahan antara aku dengan kamu; Aku akan memberitahukan
kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar
terhadapnya.

Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja


di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan
mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera. Dan adapun
anak itu maka kedua orang tuanya adalah orang-orang mukmin, dan
kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu
kepada kesesatan dan kekafiran. Dan kami menghendaki, supaya Tuhan
mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik
kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada
ibu bapaknya).

Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di
kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka
berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu
menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan
mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan
bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian
itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar
terhadapnya”.

Itulah kisah perjalanan Musa AS bersama Khidir AS. Itulah dia Ilmu yang
diajarkan Allah kepada Khaidir AS yang di sebalik Hitam dan Putih.

…di mana ada aku, di situ ada DIA…

***