Anda di halaman 1dari 6

Visi dan Misi

VISI
GEREJA SEHAT, DINAMIS, DAN MISIONER

MISI
Membangun jemaat melalui IBADAH
Memberdayakan jemaat melalui PEMBINAAN
Mengakrabkan jemaat melalui PERSEKUTUAN
Membimbing jemaat Melalui PENGGEMBALAAN
Menyalurkan kasih dan karunia jemaat melalui PELAYANAN
Memobilisir jemaat untuk PENGINJILAN

NILAI-NILAI
KASIH - KEBENARAN - KEKUDUSAN

SEMANGAT
SALING MEMBANGUN DALAM KASIH

1/6
Visi dan Misi

P e n j e l a sa n
VISI: Gereja Sehat, Dinamis, dan Misioner
SEHAT berarti gereja yang dapat memfungsikan semua organnya dengan baik dan optimal,
sehingga menghasilkan esensi kualitas yang baik dalam ibadah, pembinaan, persekutuan,
penggembalaan, pelayanan, dan penginjilan.

DINAMIS berarti gereja yang terbuka terhadap perubahan untuk menjadi semakin baik, tidak
monoton dan tidak menutup diri terhadap perkembangan. Inti Injil tidak boleh berubah, tapi cara
menyampaikannya perlu terus di-evaluasi. Gereja harus berani melangkah dan mencoba
cara-cara yang baru, serta memanfaatkan berbagai kemajuan teknologi demi kemajuannya.

MISIONER berarti gereja yang mengarahkan seluruh potensinya untuk mendukung semua
usaha pekabaran Injil dan memenangkan jiwa bagi Kristus, baik di gereja-gereja lokal,
yayasan-yayasan dan dalam pengutusan misi dunia.

_________________________________________

MISI: Membangun jemaat melalui ibadah


Kita percaya bahwa jemaat yang menghadiri ibadah gereja di mana kehadiran Allah begitu
jelas dirasakan dan berita firman Allah dimengerti dengan baik, maka ibadah itu akan
membangun kerohanian jemaat, yang diperlihatkan dengan hal-hal sebagai berikut: iman
menjadi lebih kuat, harapan menjadi lebih terang, kasih menjadi lebih dalam, simpati menjadi
lebih luas, hati menjadi lebih murni, dan kehendak melakukan kehendak Tuhan menjadi lebih
bulat.
Mengingat Allah membangun kerohanian umat-Nya melalui ibadah, maka gereja harus
mempersiapkan setiap bagian ibadah (lagu puji-pujian, iringan musik, khotbah, doa, pengakuan
iman, persembahan, dll.) dengan secermat dan sebaik mungkin. Puji-pujian yang dinaikkan
haruslah yang dapat mengagungkan Tuhan dan mengangkat hati jemaat. Demikian pula firman
Allah yang disampaikan harus praktis, mudah dimengerti, dan dapat menjawab
pergumulan-pergumulan hidup jemaat sehari-hari.

MISI: Memberdayakan jemaat melalui pembinaan

2/6
Visi dan Misi

Pembinaan yang melakukan pemberdayaan adalah pembinaan yang berusaha memberi daya,
mengisi, melatih, memperlengkapi pekerja dan calon pekerja, sehingga mereka merasa siap
untuk menerima atau menjalankan suatu pelayanan rohani. 
Merupakan tanggung jawab dari pimpinan-pimpinan gereja untuk secara aktif membagikan visi,
memobilisir, memperlengkapi, memberdayakan, dan mendukung orang-orang Kristen awam
dalam pelayanan di gereja dan masyarakat. Robert Slocum dengan tepat berkata: “Ketika kita
berada di penghujung abad XX, kita harus bertanya: Gereja jenis yang apa yang akan efektif
pada abad XXI? Saya yakin bahwa gereja yang efektif adalah gereja secara aktif memobilisir,
memperlengkapi, memberdayakan, dan mendukung orang-orang Kristen awam dalam
pelayanan.”

MISI: Mengakrabkan jemaat melalui persekutuan


Setiap manusia mempunyai beberapa pencarian kehidupan dalam dirinya, salah satu adalah
pencarian komunitas. Pencarian komunitas adalah pencarian untuk mendapatkan akar, rasa
memiliki dan dimiliki dalam suatu kelompok, di mana melaluinya ia dapat membangun suatu
relasi yang penting dan membagi sukacita dan beban hidup serta mampu saling
mempedulikan.”
Gereja memiliki potensi yang amat besar untuk memenuhi kebutuhan di atas melalui
persekutuan-persekutuan di gereja atau kelompok-kelompok kecil. Untuk mengukur nilai kasih,
dapat dinilai dari seberapa banyak waktu yang dihabiskan oleh anggota-anggota gereja secara
bersama? Seberapa besar jemaat saling menghargai dan memberi hormat? Adakah suasana
keakraban di dalam gereja? Gereja yang bertumbuh dikenal sebagai Gereja yang memiliki
persekutuan yang hangat dan saling memperhatikan yang tulus.

MISI: Membimbing jemaat melalui penggembalaan


Kalimat ”Tuhan adalah Gembalaku” (Mzm. 23:1) mengungkapkan suatu pengakuan Daud akan
ketergantungan hidupnya yang mutlak kepada Tuhan sebagai Gembalanya. Dalam Perjanjian
Lama, umat Allah selalu dilukiskan sebagai domba-domba yang membutuhkan seorang
gembala (Mzm. 100:3; 44:22). Bersyukur, bahwa Tuhan yang menjadi Gembala umat-Nya
adalah Tuhan yang mempunyai kasih yang amat besar. ”Oleh karena engkau berharga di
mata-Ku dan mulia, dan Aku mengasihi engkau... Janganlah takut, sebab Aku ini menyertai
engkau,” demikian tulis nabi Yesaya (Yes. 43:4-5). Dalam Yeremia 31:3 juga tertulis: ”Aku

3/6
Visi dan Misi

mengasihi engkau dengan kasih yang kekal, sebab itu Aku melanjutkan kasih setia-Ku
kepadamu.” Gembala yang baik mendemonstrasikan jiwa kebapaan yang diwujudkan dalam
perhatian, kasih, belas kasihan, dan disiplin. Tuhan Yesus, sebagai Gembala yang Agung rela
mengorbankan nyawa-Nya bagi gereja-Nya (Yoh. 10:11).
Sebagaimana Tuhan yang adalah Gembala umat-Nya dan telah menunjukkan kasih dan
perhatian yang demikian besar, maka rasul Petrus menasihati para penatua: ”Gembalakanlah
kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai
dengan kehendak Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan
pengabdian” (1Ptr. 5:2). Mereka yang telah dipanggil Allah untuk menggembalakan umat-Nya,
harus melakukannya dengan kasih dan bertanggung jawab.
Gembala gereja yang baik, harus mengenyangkan domba-dombanya dengan makanan rohani
yang sehat, sehingga mereka tidak akan berkelana ke padang rumput yang lain untuk mencari
makanan, atau mati kelaparan. Gembala yang baik juga harus melindungi domba-dombanya
dari serangan serigala-serigala yang ganas, yakni guru-guru palsu yang ingin menyesatkan
jemaat Allah. Selain itu, gembala yang baik juga akan mengobati jemaat yang terluka, dan
menuntun mereka yang salah ke jalan yang benar. Dengan seribu permasalahan yang sedang
dihadapi oleh jemaat, maka hamba Tuhan, Majelis dan Pengurus, perlu mengunjungi,
membimbing dan mendoakan jemaat sehingga mereka dapat menjadi sehat dan kuat.

MISI: Menyalurkan kasih dan karunia jemaat melalui pelayanan


Greg Odgen berkata: “Semua umat Allah terpanggil untuk melayani” (All God’s people are
called to ministry). Tapi
sayang sekali, menurut survei yang dilakukan Schwarz terhadap 1600 orang Kristen aktif di
Eropa yang berbahasa Jerman, ada 80 persen jemaat yang tidak dapat mengenali karunia
mereka. Ini merupakan suatu tragedi karena menurut Schwarz, “Kekuatan terbesar dari tiap
gereja adalah harta karunia rohani yang Allah sudah berikan kepada anggotanya.”
Setiap orang percaya pasti menerima minimal satu karunia dalam pelayanan. Karunia-karunia
rohani diberikan demi kepentingan bersama, bukan untuk kepentingan pribadi. Dengan adanya
karunia-karunia rohani, orang-orang percaya perlu belajar saling melayani dan membangun,
sehingga seluruh anggota tubuh bertumbuh dalam kesatuan iman dan kesempurnaan dalam
Kristus Yesus. Greg Odgen berkata, “Ketika karunia-karunia rohani dilakukan sesuai dengan
kehendak Allah, hasilnya adalah kuasa Ilahi.”
Selanjutnya, perlu kita hayati pula bahwa pelayanan kepada Tuhan tidak semata-mata hanya
di gereja, terbatas pada gereja lokal, tapi seharusnya juga di dalam dunia. Alkitab tidak berkata
bahwa kita adalah terang dan garam gereja, tapi kita adalah terang dan garam dunia (Mat.
5:13,14). Oleh sebab itu, peran dan panggilan Gereja di tengah dunia adalah secara aktif
menyatakan kasih Kristus (Mat. 22:37-39) dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,
khususnya dalam bidang pendidikan, kesehatan dan kepedulian sosial.

4/6
Visi dan Misi

MISI: Memobilisir jemaat untuk penginjilan


Gereja dapat bertumbuh menjadi besar karena memperoleh anggota-anggota yang baru
melalui tiga cara: (1) Biologis, yakni anak-anak dari keluarga-keluarga Kristen yang tumbuh
menjadi dewasa, dilayani oleh gereja, dibawa kepada Kristus dan dipersiapkan untuk menjadi
anggota-anggota gereja yang bertanggung jawab. Sebagian besar dari gereja-gereja di seluruh
dunia tumbuh dengan cara yang seperti ini; (2) Perpindahan anggota gereja dari suatu gereja
ke gereja yang lain. Ini terjadi misalnya gereja-gereja di kota menerima perpindahan dari
anggota-anggota gereja dari kota-kota kecil karena kebutuhan sekolah atau pekerjaan; (3)
Pertobatan jiwa-jiwa baru, yakni hasil pemberitaan Injil, dan menjadi anggota-anggota gereja.
Gereja perlu memberikan prioritas bagi pertumbuhan melalui memenangkan jiwa-jiwa baru, ini
dikarenakan gereja Tuhan ada adalah untuk melaksanakan Amanat Agung. Gereja adalah
duta-duta Kristus untuk menginjili dan memenangkan jiwa-jiwa yang terhilang. Tugas
mengabarkan Injil sudah begitu penting sehingga tidak hanya sekadar tanggung jawab kita, tapi
suatu kewajiban yang tak dapat dielakkan lagi.

_________________________________________

NILAI-NILAI: Kasih - Kebenaran - Kekudusan


Dalam pergaulan dan pelayanan, anak-anak Tuhan harus menerapkan kasih, kebenaran dan
kekudusan. Nilai-nilai ini merupakan ciri-ciri anak-anak Tuhan yang berintegritas dan dapat
dipercaya. Tanpa didukung oleh kasih, kebenaran dan kekudusan, betapa hebat dan
berkarunia seorang anak Tuhan, semuanya akan menjadi sia-sia.

_________________________________________

SEMANGAT: Saling membangun dalam kasih


Agar hubungan sesama jemaat dan pekerja dalam gereja harmonis, maka harus diterapkan
semangat saling membangun dalam kasih. Dalam semangat ini, anak-anak Tuhan akan
menghindarkan diri dari perbuatan-perbuatan yang tidak memuliakan Tuhan, seperti saling

5/6
Visi dan Misi

mencurigai, saling melukai, dendam, dan membicarakan kejelekan sesama rekan di belakang.
Bila ada perbedaan pendapat muncul, anak-anak Tuhan seharusnya belajar menyelesaikan
perbedaan itu dengan arif dan bijaksana. Ini seperti nasihat Paulus kepada jemaat Korintus:
”Supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir” (1Kor. 1:10b).

6/6