Anda di halaman 1dari 3

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Cahaya adalah suatu bagian dari gelombang elektromagnetik. Dalam


fisika, cahaya dan semua spektrum dalam radiasi gelombang elektromagnetik
lainnya (radio, inframerah, ultraviolet, sinar-X dan sinar gamma), dapat
bersifat partikel dan dalam hal lain bersifat sebagai gelombang. Sifat
Dualisme ini sebelumnya diluar anggapan umum, namun itulah yang termati
dari eksperimen – eksperimen yang di lakukan. Ini adalah hakikat fisik
cahaya. Pengetahuan tentang hakikatnya tersebut digunakan untuk
mendeteksi, merekam dan menafsirkan pesan – pesan yang di bawanya.
Hakikat fisik cahaya hanya melihat proses fisika sebagai sebab timbulnya atau
terpancarkannya cahaya itu. Untuk mendukung teknik pecahayaan buatan
yang benar, tentu saja perlu diketahui seberapa besar intensitas cahaya yang
di butuhkan, tentu saja membutuhkan suatu alat yang dapat digunakan untuk
mengukur besarnya cahaya dalam satuan lux.

Namun pada umumnya peralatan elektronika seperti luxmeter digital ini


masih merupakan perlatan yang menggunakan sistem analog. Dengan adanya
pengetahuan tentang semikonduktor yang maju pesat, hampir semua peralatan
elektronika dapat dibuat dalam bentuk digital, dalam ukuran yang kecil dan
ringan. Hal ini disebabkan karena alat – alat semikonduktor dapat digunakan
untuk menggantikan tabung – tabung hampa yang sebelumnya merupakan
komponen elektronika yang penting. Selain itu perkembangan –
perkembangan dalam teknik pulsa juga cukup berarti yang memungkinkan
adanya bermacam – macam alat digital dengan ketelitian atau akurasi yang
tinggi, besaran – besaran analog yang berubah secara terus menerus dapat
diubah dan diperlihatkan sebagai besaran – besaran digital yang diskrit.

Dengan melihat penjelasan di atas, maka tepat untuk membuat suatu alat
ukur cahaya digital (lux meter digital) dalam bentuk portable dengan ukuran

1
2
sekecil mungkin sehingga dapat mempermudah dalam pengukuran besarnya
intensitas cahaya. Tentu saja hasil pengukuran yang didapat dalam bentuk
digital bukan analog lagi sehingga hasil pengukurannya dapat lebih akurat dan
teliti. Sealain itu lux meter yang terdapat di pasaran cukup tinggi harganya
sehingga dengan adanya alat ini tentu saja dapat menghemat biaya.

1.2 Rumusan Masalah

Dari latar belakang diatas maka dapat dirumuskan masalah sebagai


berikut:

1. Bagaimana rancangan rangkaian luxmeter digital inframerah berbasis


phototransistor TOPS-030ATB2.
2. Bagaimana karakteristik phototransistor TOPS-030ATB2 sebagai sensor
cahaya.

1.3 Tujuan

Tujuan dari penelitian tugas akhir ini adalah :


1. Merancang rangkaian luxmeter digital inframerah berbasis photransistor
TOPS-030ATB2.
2. Mengetahui karakteristik phototransistor TOPS-030ATB2 seabagai sensor
cahaya.

1.4 Batasan Masalah


Penelitian tentang pengukur intensitas cahaya inframerah menggunakan
sensor phototransistor TOPS-030ATB2 akan dibatasi pada beberapa hal:

1. Sumber cahaya yang digunakan adalah inframerah.


2. Karakteristik phototransistor TOPS-030ATB2.

1.5 Manfaat Penelitian


Manfaat dari hasil penelitian ini :

1. Secara umum bagi masyarakat adalah alat ini dapat digunakan untuk
menghitung intensitas cahaya inframerah yang ada di tempat.
3

2. Secara khusus bagi mahasiswa jurusan Fisika FMIPA Universitas


Udayana adalah dapat menambah ilmu pengetahuan mengenai sensor yang
di aplikasikan sebagai pengukur intensitas cahaya inframerah.