Anda di halaman 1dari 15

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

UNIVERSITAS GADJAH MADA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN FISIKA
PROGRAM STUDI GEOFISIKA

PROPOSAL
PENELITIAN GEOFISIKA LINGKUNGAN

“PENGUKURAN FREKUENSI NATURAL, GERAKAN PARTIKEL DAN


DISPLACEMENT JEMBATAN KONSTRUKSI BETON DAN BAJA ”

DISUSUN OLEH :

KELOMPOK 4
YOHANES DWI K. (07/253238/PA/11579)
FRANSISCA DYAH K. (07/253482/PA/11680)
DICKY AHMAD ZACKY (07/257115/PA/11804)
LUTHFIAN RUSDI D. ()
NOHAN MUNTHAQO ()
PRADIKA PRIYA EKA ()
SITI FATIMAH (07/250354/PA/11328)
GAMA PERKASA (07/257545/PA/11834)
ABDULLAH ()

YOGYAKARTA
2010
A. PENDAHULUAN
a. Latar Belakang

Yogyakarta sebagai kota besar tentunya mempunyai infrastruktur yang


mendukung untuk kegiatan kota terutama bagi penduduknya dimana salah satunya
adalah jembatan yang menghubungkan satu daerah dengan daerah lain yang
dipisahkan oleh sungai atau gap yang digunakan untuk alat transportasi berpindah
dari tempat satu ke tempat lainnya, dan ada juga kereta api yang mendukung
transportasi di Yogyakarta yang tentunya membutuhkan rel untuk tempatnya
berjalan dan ada juga rel yang dibentuk jembatan juga untuk menghubungkan dua
tempat yang terpisah gap agar kereta api tetap bisa lewat.

Daerah Istimewa Yogyakarta juga merupakan daerah dengan kondisi


seismisitas tinggi, dalam artian sering terjadi gempa bumi baik dengan skala kecil
yang tidak merusak maupun gempa skala besar yang menyebabkan kerusakan
parah. Oleh karena itu, untuk mengetahui seberapa besar efek kendaraan dan
gempa terhadap beberapa jembatan yang berada di Yogyakarta dan apakah sebuah
jembatan masih layak digunakan atau seberapa besar beban yang mampu
ditanggung oleh sebuah jembatan maka dapat dibuat studi untuk mengetahui
seberapa besar frekuensi diri jembatan. Sedangkan untuk jembatan rel kereta api
perlu diketahui apakah jembatan tersebut masih bertahan dengan kereta yang
lewat setiap hari apalagi berat kereta dan getarannya sangat besar. Frekuensi diri
perlu diketahui karena apabila suatu benda yang melintas diatas jembatan tersebut
dengan frekuensi yang sama maka jembatan akan mengalami kerusakan berat
begitu pula dengan jembatan rel yang mengalami getaran dari lewatnya kereta api.
Selain itu, kita juga dapat membuat studi arah pergerakan partikel dan seberapa
besar simpangan terhadap arah vertical yang dialami jembatan bila ada sesuatu
yang melintas diatasnya.

b. Tujuan Penelitian

Tujuan diadakannya penelitian ini adalah:

• Menentukan frekuensi natural jembatan (beton) dan jembatan rel kereta


api (besi)
• Menentukan arah partikel jembatan bila dikenai gaya

• Menentukan seberapa besar displacement yang dialami jembatan bila ada


sesuatu yang melintas diatasnya

• Menentukan efek getaran saat kereta api lewat terhadap jembatan rel
kereta api

c. Waktu dan Tempat

Tanggal : Sabtu, 23 Oktober 2010

Waktu : Pukul 09.00 WIB - selesai

Tempat : - Jembatan Sayidan untuk jembatan konstruksi beton

- Jembatan rel Kotabaru untuk jembatan konstruksi baja

B. Dasar Teori

1. Gelombang Seismik

Gelombang seismik adalah gelombang yang menjalar di dalam bumi.


Gelombang seismik timbul akibat adanya gempa bumi atau ledakan. Gelombang
seismik diukur dengan menggunakan seismometer. Gelombang seismik dibagi
menjadi 2 yaitu:

1.1 Gelombang badan.

1.2 Gelombang permukaan.

1.1 Gelombang Badan

Gelombang badan menjalar melalui interior bumi dan efek kerusakannya


cukup kecil. Gelombang badan dibagi menjadi 2 yaitu:

1.1.1 Gelombang P atau gelombang longitudinal atau gelombang


kompresi.
Gelombang P merupakan gelombang yang waktu penjalarannya paling
cepat. Kecepatan gelombang P antara 1,5 km/s sampai 8 km/s pada kerak
bumi. Kecepatan penjalaran gelombang P dapat dihitung dengan
persamaan :

…………..(1)

Dengan:

Vp= kecepatan gelombang P

µ = modulus geser

k = modulus bulk

ρ = densitas material yang dilalui gelombang

Arah gerakan partikel gelombang P searah dengan arah rambat


gelombangnya. Gelombang P dapat menjalar pada semua medium baik
padat, cair maupun gas.

1.1.2 Gelombang S atau gelombang transversal

Waktu penjalaran gelombang S lebih lambat daripada gelombang P.


kecepatan gelombang S biasanya 60 – 70 % dari kecepatan gelombang P.
kecepatan gelombang S dapat diperlihatkan dengan persamaan :

…………….(2)

Dengan:

Vs = kecepatan gelombang S

ρ = densitas material yang dilalui gelombang

µ = modulus geser

Arah gerakan partikel dari gelombang S tegak lurus dengan arah


rambat gelombangnya. Gelombang S hanya dapat menjalar pada medium
padat. Gelombang S terdiri dari dua komponen yaitu gelombang SV dan
gelombang SH. Gelombang SV adalah gelombang S yang gerakan
pertikelnya terpolarisasi pada bidang vertical, sedangkan gelombang Sh
adalah gelombang S yang gerakan partikelnya horizontal.

Kegunaan gelombang P dan S dalam ilmu kegempaan adalah untuk


menentukan posisi epicenter gempa. Amplitude gelombang P juga
digunakan dalam perhitungan magnitude gempa.

1.2 Gelombang Permukaan

Gelombang permukaan bisa diandaikan seperti gelombang air


yang menjalar di atas permukaan bumi. Gelombang permukaan
memiliki waktu penjalaran yang lebih lambat daripada gelombang
badan. Karena frekuensinya yang rendah, gelombang permukaan lebih
berpotensi menimbulkan kerusakan pada bangunan daripada
gelombang badan. Amplitude gelombang permukaan akan mengecil
dengan cepat terhadap kedalaman. Hal ini disebabkan oleh adanya
dispersi pada gelombang permukaan, yaitu penguraian gelombang
berdasarkan panjang gelombangnya sepanjang perambatan gelombang.

Ada dua tipe gelombang permukaan, yaitu:

1.2.1 Gelombang Love

1.2.2 Gelombang Rayleigh

1.2.1 Gelombang Love

Gelombang love diperkelnalkan oleh A.E.H Love, seorang ahli


matematika dari Inggris pada tahun 1911. Gelombang Love
merambat pada permukaan bebas medium berlapis dengan
gerakan partikel seperti gelombang SH.

Gelombang Love adalah gelombang permukaan yang


menyebabkan tanah mengalami pergeseran ke arah horizontal.
Gelombang love dapat ditulis dengan persamaan :
……….(3)

Dengan

H = ketebalan lapisan

c = kecepatan fase

d dan d’ = perpindahan dari komponen transversal

ω = frekuensi angular

Vs = kecepatan gelombang S

Gelombang love terbentuk karena adanya interferensi


konstruktif dari gelombang Sh (SS, SSS, SSSS, SSSSS, dst)
pada permukaan bebas. Awal gelombang terbentuk ketika
gelombang SH yang datang membentur permukaan bebas pada
sudut postkritis sehingga energy terperangkap pada lapisan
tersebut. Sebagian besar energy kemudian direfleksikan
kembali menuju permukaan (SHR), sedang sebagian kecil
energi lainnya akan ditransmisikan melalui lapisan (SHT).

1.2.2 Gelombang Rayleigh

Gelombang Rayleigh diperkenalkan oleh Lord Rayleigh


pada tahun 1885. Gelombang Rayleigh merambat pada
permukaan bebas medium berlapis maupun homogen. Gerakan
dari gelombang Rayleigh adalah eliptik. Pada saat terjadi
gempa bumi besar, gelombang Rayleigh terlihat pada
permukaan tanah yang bergerak ke atas dan ke bawah. Waktu
perambatan gelombang Rayleigh lebih lambat daripada
gelombang Love.

Gelombang Rayleigh dapat ditulis dengan persamaan:


………..(4)

Denagn c = kecepatan fase

Vp = kecepatan gelombang P

Vs = kecepatan gelombang S.

Terbentuknya gelombang Rayleigh adalah karena adanya


interaksi antara bidang gelombang SV dan P pada permukaan bebas
yang kemudian merambat secara parallel terhadap permukaan.

Gerakan partikel gelombang Rayleigh adalah vertical, sehingga


gelombang Rayleigh hanya ditemukan pada komponen vertical
seismogram. Karena gelombang Rayleigh adalah gelombang permukaan,
maka sumber yang lebih dekat ke permukaan akan menimbulkan
gelombang Rayleigh yang lebih kuat dibadingkan sumber yang terletak
di dalam bumi (Lay dan Wallace, 1995). Gelombang Rayleigh adalah
gelombang yang dispersive dimana periode yang lebih panjang akan
mencapai material yang lebih dalam dan sampai sebelum periode
pendek. Hal ini menjadikan gelombang Rayleigh sebagai alat yang
sesuai untuk menentukan struktur keras suatu area.

1.2.3 Gelombang Stonely

Gelombang stonely adalah gelombang permukaan yang


merambat pada bidang batas dua medium dengan gerakan
partikel serupa dengan gelombang SV.
2.1 Periode Dominan Tanah

Dalam mencari nilai percepatan tanah di suatu tempat, perlu digunakan nilai
periode dominan tanah di tempat itu. Berdasarkan hubungan :

(5)

Dengan T = periode (s) dan f = frekuensi (Hz)

Maka nilai periode dominan tanah di suatu tempat dapat dicari dengan mencari
nilai frekuensi dominannya terlebih dahulu. Untuk mencari nilai frekuensi dominan
tanah, bisa digunakan teknik Horizontal to Vertical spectral Ratio (HVSR).

3.1 Transformasi Fourier

Transformasi Fourier digunakan untuk mengubah data kawasan waktu menjadi


kawasan frekuensi. Transformasi fourier dinyatakan dalam :

……………(6)

Dengan F(t) adalah transformasi dari f(ω) yang masih berada dalam kawasan

waktu. Karena maka persamaan 6 menjadi :

……………(7)

4.1 Pentapisan
Tujuan dari pentapisan atau filtering adalah untuk memodulasi atau menyaring
sinyal sehingga sinyal tersebut dapat dianalisis. Dikenal ada tiga jenis tapis, baik
dalam kawasan waktu (time domain) maupun frekuensi domain (frequency domain)
yaitu :

1. Tapis lolos rendah (low pass), yaitu berfungsi untuk meloloskan data pada
frekuensi rendah.

2. Tapis lolos tinggi (high pass), yang berfungsi meloloskan sinyal pada frekuensi
tinggi

3. Tapis lolos pita (band pass), yang berfungsi meloloskan sinyal pada rentang
frekuensi tertentu.

Gambar 5. Macam-macam Filter (low pass, high pass, band pass)

Tanda A, B, C, D pada band pass filter merupakan frekuensi sudut (corner frequency).

5.1 Peraturan Pembebanan Jembatan

Dalam perhitungan struktur jembatan kita harus mencermati beban-beban yang


bekerja yang disesuaikan dengan peraturan yang berlaku Peraturan Pembebanan
Jembatan Jalan Raya Tahun 1987 (PPJJR 1987)

5.1.1 Data Beban


Beban dapat dikategorikan dalam :

a. Beban Primer

1. Beban mati

Yang dimaksud beban mati ialah beban bahan bangunan setempat.

2. Beban hidup

Beban hidup pada jembatan dinyatakan dalam dua macam, yaitu beban “ T” yang
merupakan beban terpusat untuk lantai kendaraan dan beban “D” yang merupakan
beban jalur untuk sepanjang jembatan.

3. Beban sesaat

Beban akibat pengaruh-pengaruh getaran dan pengaruh-pengaruh dinamis lainnya.

Koefisien sesaat ditentukan dengan rumus :

……………… (8)

Dengan:

K = koefisien sesaat,

L = panjang bentang (m)

Panjang bentang ditentukan oleh tipe konstruksi jembatan (keadaan statis)

4. Gaya akibat tekanan tanah

Bagian bangunan jembatan yang menahan tanah harus direncanakan dapat


menahan tekanan tanah sesuai rumus-rumus yang ada. Beban kendaraan dan
bangunan yang didirikan di atas tanah diperhitungkan senilai dengan muatan tanah
setinggi 60 cm.

a. Beban Sekunder
Yang termasuk beben sekunder ialah :

1. Beban angin

Pengaruh beben angin sebesar 150 kg/m2 pada jembatan ditinjau berdasarkan
bekerjanya beban angin horizontal terbagi rata pada bidang vertical jembatan,
dalam arah tegak lurus sumbu memanjang jembatan. Jumlah luas bidang vertical
bangunan atas jembatan yang dianggap terkena oleh angin ditetapkan sebesar
suatu prosentase tertentu terhadap luas bagian-bagian sisi jembatan dan luas
bidang vertical beban hidup.

2. Beban akibat perbedaan suhu

Perbedaan suhu menimbulkan tegangan-tegangan struktural dimana perbedaan


suhu itu sendiri ditetapkan sesuai dengan data perkembangan suhu setempat.
Pada umumnya perbedaan suhu dapat dihitung dengan mengambil perbedaan
suhu

a. Bangunan baja :

 Perbedaan suhu maksimum-minimum = 30° C

 Perbedaan suhu antara bagian-bagian jembatan = 15 °C

b. Bangunan beton :

 Perbedaan suhu maksimum-minimum = 15° C

3. Beban akibat muai dan susut

Besarnya pengaruh tersebut apabila tidak ada ketentuan lain, dapat dianggap
senilai dengan gaya yang timbul akibat turunnya suhu sebesar 15 °C.

4. Gaya rem dan traksi

Gaya rem sebagai gaya yang bekerja dalam arah memanjang jembatan sehingga
gaya re mini dianggap bekerja horizontal dalam arah sumbu jembatan dengan titik
tangkap setinggi 1,8 meter diatas permukaan lantai kendaraan.

5. Gaya-gaya akibat gempa bumi


Pengaruh-pengaruh gempa bumi pada jembatan dihitung senilai dengan pengaruh
suatu gaya-gaya lain yang berpengaruh seperti gaya gesek, tekanan hidro-dinamik
akibat gempa,tekanan tanah akibat gempa dan gaya angkat apabila pondasi yang
direncanakan merupakan pondasi terapung atau pondasi langsung.

6. Gaya gesekan pada tumpuan-tumpuan bergerak

Gaya gesek yang timbul hanya ditinjau akibat beban mati saja, sedang besarnya
ditentukan berdasarkan koefisien gesek pada tumpuan yang bersangkutan.

Tumpuan-tumpuan khusus harus disesuaikan dengan persyaratan spesifikasi dari


pabrik material yang bersangkuatan atau didasarkan atas hasil percobaan dan
mendapat persetujuan pihak yang berwenang.

c. Beban Khusus

Yang termasuk beban khusus ialah :

1. Gaya sentrifugal

2. Gaya tumpuk pada jembatan layang

3. Gaya dan beban selama pelaksanaan

4. Gaya aliran air dan tumbukan benda-benda hanyutan

2.4 Simpangan Maksimum Jembatan

Simpangan maksimum pada jembatan yang masih mampu ditanggung oleh jembatan
sesuai dengan rumus :

…………… (9)

Diamana : x= besar simpangan

L = jarak antar pilar


C. Metode Penelitian

a. Alat dan Bahan

• Accelerometer

• Aki

• Kabel

• Alat tulis

• Jam

• Disket

• Computer PC

• Perangkat lunak

b. Area Penelitian
( Jembatan rel kereta di Kotabaru, konstruksi baja)

(Jembatan Sayidan. Konstruksi beton)

c. Parameter dan Asumsi yang digunakan

Parameter yang digunakan pada proses akuisisi adalah:

o Sampling time : 10 ms

o Waktu akuisisi : 30 menit

Asumsi yang digunakan pada proses pengolahan data untuk displacement titik 2
(yang berada di tengah jembatan) memiliki displacement yang lebih besar.

d. Design Survey

Akusisi data diambil pada posisi tengah jembatan dan 2 titik diluar jembatan,
seperti digambarkan pada sketsa dibawah ini.
D. Estimasi Biaya

Sewa Seperangkap alat Microseismic (1 hari) Rp 500.000,00

Disket (5 buah, @ Rp 5.000,00) Rp 25.000,00

Sewa GPS Navigasi (1 hari) Rp 25.000,00

Sewa Pick Up (1 hari) Rp 100.000,00

Bensin Rp 30.000,00

Logistik ( 9 orang, @ Rp 7.000,00) Rp 63.000,00

Total Rp 743.000,00

E. Penutup

Dukungan moral, material, maupun sumbang pemikiran dari semua pihak


yang terlibat sangat kami harapkan demi kelancaran kegiatan survei geofisika dengan
metode microseismic di jembatan berkonstruksi beton dan baja yang kami ajukan.