Anda di halaman 1dari 94

Jalan Puisi , no.

23
• Flickr Photos

More Photos
• Awan Kategori

Gang Rumah Para Cerpenis gang rumah


para penyair halaman esai Kliping Sajak Sajak-sajak Buat Beberapa Nama sajak-
sajak yang sudah terbit sajak perjalanan Sesuatu Apa Saja Sesuatu Tentang Kampung
Sesuatu yang Dikirim kawan Tidak terkategori

• Komentar Terakhir
Esha Tegar Putra on puisi untuk acara diskusi “Per…

Esha Tegar Putra on Cerpen Umar Kayam

Cicy on Cerpen Djenar Maesa Ayu

faisal Tanjung on Rekonstruksi Tarekat Syattariy…

gibic on Cerpen Umar Kayam


September 2008
S S R K J S M
« Feb Okt »
1 2 3 4 5 6 7
8 9 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
September 2008
S S R K J S M
22 23 24 25 26 27 28
29 30

• Arsip
○ Juni 2009
○ Mei 2009
○ Maret 2009
○ Februari 2009
○ Januari 2009
○ Desember 2008
○ Oktober 2008
○ September 2008
○ Februari 2008

• Tulisan Terakhir
○ puisi untuk acara diskusi “Perpuisian Mutakhir Sumatra Barat” di Komunitas Seni
Intro, Payakumbuh, pkl 4 sore hari Sabtu tgl 13 Juni 2009
○ 714
○ Sajak-sajak Esha Tegar Putra, Koran Tempo, Minggu, 15 Maret 2009
○ Sajak-sajak Esha Tegar Putra, Koran Kompas, Minggu, 12 April 2009
○ Lawakan Budaya dalam Kotak

• Blog Stats
○ 38,081 hits

• Halaman
○ Beranda Tamu
○ Kandangpadati
○ Kliping
○ Perca Perjalanan
○ Tentang Saya

• Klik tertinggi
○ pecandubuku.blogspot.com
○ djenar.com
○ irapuspitaningsih.blogspo…

• Tulisan Teratas
○ Cerpen Djenar Maesa Ayu
○ Cerpen Putu Wijaya
○ Cerpen A Mustofa Bisri
○ Cerpen Gde Aryantha Soethama
○ Cerpen Raudal Tanjung Banua
○ Cerpen Puthut EA
○ Cerpen Sunlie Thomas Alexander
○ Cerpen Wildan Yatim
○ Cerpen D. Zawawi Imron
○ Cerpen S Prasetyo Utomo

• VodPodPod

Man in a Blizzard
58 views
29 Dec 10
01

NY's Dumbest; NYC sanitation workers destroy a Ford Explorer


59 views
29 Dec 10
02
December 2010 Blizzard Timelapse
383 views
27 Dec 10
03

Trololo Full Version


660 views
22 Dec 10
04

Vegan Meal Time is Like Epic Meal Time With Glasses


527 views
22 Dec 10
05

follow me on vodpod »
Previous 5
Next 5


Top of Form

Pencarian:
Jalankan

Bottom of Form

• Daftar Blog
○ Aan Mansyur
○ abdullah khusairi
○ Adi Toha
○ Adi Wicaksono
○ Agus Noor
○ An. Ismanto
○ Andy Hardiyanti Hastuti
○ Arif Rizky
○ Belajar Wordpress
○ Binhad Nurrohmat
○ blog nekatz
○ Catur Stanis
○ chairan hafzan yurma
○ damhuri muhammad
○ danau puisi
○ Danuedan Si manusia Goblok
○ Deddy Arsya
○ Dedy Tri Riyadi
○ Dewi Penyair
○ Dian Yunita
○ Djenar Maesa Ayu
○ Dony P Herwanto
○ Eko Putra
○ fahmi amrulloh
○ Faiz Ketjil
○ feni efendi
○ Fina Sato
○ Gunawan Maryanto
○ Hasan Aspahani
○ Hudan Nur
○ Icha P’Mails
○ Indah Suryana
○ Indrian Koto
○ Joko Pinurbo
○ Joni Ariadinata
○ Jusuf An
○ Komang Ira Puspita Ningsih
○ Komunitas Rumah Teduh
○ Komunitas Untuk Indonesia
○ M. Badri
○ Mantagisme: Mak Naih
○ Muhidin M Dahlan
○ Mujibrur Rohmah
○ Mustafa Ismail
○ Mutia Sukma
○ Nanang Suryadi
○ Ndari
○ Nilna R Isna
○ Nirwan Dewanto
○ Ook Nugroho
○ Pakcik Ahmad
○ PANDAPOTAN MT SIALLAGAN
○ penulis muda
○ Pinto Anugrah
○ Rahmadanil P’Mails
○ Ramon Damora
○ Ridwan Munawwar
○ Riki Dhamparan Putra
○ rio sadja, si tukang gambar
○ Rozi Kembara
○ rumah teduh
○ Sangdenai
○ sastra indonesia universitas andalas
○ Sayyid Madhany Syani
○ Seno Gumira Ajidarma
○ Sobirin Zaini
○ Sriti.com
○ Sunlie Thomas Alexander
○ Timur Matahari
○ Ts Pinang
○ Wayan Sunarta
○ Widzar (sireum)
○ Y. Thendra BP
○ Yulisa Farma P’Mails
○ Yusrizal KW
○ Zelfeni Wimra
○ Zulmasri

Cerpen Raudal Tanjung Banua


September 20, 2008, 7:20 am
Diarsipkan di bawah: Gang Rumah Para Cerpenis
Seorang Sopir, Seorang Penumpang, dan Bis yang Berangkat
Cerpen Raudal Tanjung Banua (Dimuat di Suara Karya, 17 April 2005)
SOPIR itu masih bangun, tentu saja, karena bis yang dibawanya masih meluncur di jalan raya.
Semua orang telah tertidur, dan sopir itu masih terus terjaga. Ketika kemudian aku terbangun
oleh rem mendadak yang cukup menyentak dan mengejutkan, tiba-tiba aku merasa telah
kehilangan sesuatu. Entah apa.
Sungguh aneh perasaanku saat terjaga. Sudah sampai di mana? Aku duduk di muka, di bangku
serap di samping sopir, dan pemandangan ke depan terlihat terang-benderang. Tapi tak satupun
ada penanda yang dapat kubaca atau dengan segera kukenali, kecuali satu-dua lentera di rumah-
rumah yang sunyi. Selebihnya hanya kampung yang tidur tenteram, mungkin pula tidak
tenteram, di tepi jalan yang legam. Kampung yang tak bernama, susah-payah kukenali. Berarti
benar, aku telah kehilangan sesuatu. Sesuatu yang tak mungkin lagi kudapatkan, sebaik sang
sopir mendapatkannya. Aku bahkan asing dengan tempatku berada.
Benar, banyak yang bilang padaku selama perjalanan. Sebagai misal, aku tidak tahu posisiku di
mana. Tak tahu, apa gerangan tadi di tengah jalan hingga sopir mendadak ngerem; pasti hanya
dia yang tahu, dia seorang. Apakah ada kendaraan lain yang terlalu menyorong ke tengah?
Apakah sebuah lobang, atau jembatan rusak yang lantainya menganga, atau sesuatu yang
melintas tiba-tiba? Mungkin makhluk halus yang suka menggoda-sebagaimana jamak kudengar
di kampung-atau setidaknya seekor babi menyeruduk mendadak? Mungkin harimau kumbang
yang ke luar dari hutan di kiri-kanan jalan. Entah. Bukankah aku telah kehilangan banyak hal
gara-gara kantuk dan lelah, sehingga membiarkan semua berlalu begitu saja?
Tapi, tidak sopir itu. Lihatlah, ia masih bangun! Ya, matanya terbuka, tangannya bergerak dan
bekerja. Tanpa banyak merokok (gampang disimpulkan ia bukan perokok berat) yang biasanya
jadi alasan buat begadang. Tak ada kopi, apalagi alkohol yang kulihat, hanya air putih dalam
botol mineral dan sesekali saja diteguknya. Tak ada musik, kuduga bahkan tipe-nya sudah tak
ada; bis ini sudah tua, tapi irama putaran rodanya masih terjaga-berkat sang sopir yang bersetia.
Situasi ini benar-benar membuatnya sendirian. Tak ada kawan berbagi, jarang berselisih dengan
kendaraan lain, untuk sekadar membunyikan klakson sebagai bentuk tegur-sapa.
Aku teringat bis-bis di Pulau Jawa. Jika aku naik bis dari Yogya ke Surabaya atau Yogya-
Jakarta, boleh dikatakan sopirnya tidak sendirian. Sebab sepanjang jalan yang dilalui tiada lain
kota demi kota, tempatnya singgah di banyak terminal, dan selalu saja ada penumpang yang
naik-turun. Akibatnya, kondektur tak mungkin ikut tertidur, bahkan penumpang pun tak bisa
benar-benar tertidur karena selalu ada teriakkan kondektur yang membahana. Begitu pula
sepanjang jalan, sopir selalu memiliki hiburan sendiri dengan saling berkejaran sesama bis
malam, berselisih dengan macam-macam kendaraan, dan menyalip dengan liar. Dengan suasana
semacam ini, kuduga sang sopir tidaklah sendirian karena ia punya hiburan.
Tapi, di jalanan Sumatera, entah mengapa, aku merasakan mereka sungguh sendiri. Apalagi
dimalam hari. Hanya jalanan lengang yang mereka hadang, sesekali saja bersirobok dengan
kendaraan lain. Namun, dengan kesunyian seperti itu, aku merasakan ia terlihat lebih tenang
mendapatkan apapun sepanjang perjalanan.
Tiba-tiba aku merasa cemburu kepadanya. Aku pandang wajahnya dari samping, begitu lurus
menatap ke depan, begitu sabar untuk bertahan. Karena memandang dari samping, maka yang
paling tampak menonjol adalah hidungnya yang mancung tapi agak bengkok sedikit seperti
paruh burung gagak atau kakak tua. Rahangnya tidak terlalu tegas, tak jauh beda dengan bahu
atau bagian tubuhnya yang lain, bahkan dengan kemeja coklat tanah yang agak kebesaran, ia
terkesan lebih kurus. Tapi tak ada tanda-tanda tubuh itu akan menyerah oleh jarak dan waktu,
oleh kantuk dan bosan. Atau, tidakkah kantuk dan bosan itu telah terlipat di raut wajah?
Sayang, ia jarang berpaling, katakanlah untuk mengetahui keadaan penumpangnya, sehingga aku
tak bisa tahu sepenuhnya raut wajah itu. Ada memang beberapa kali ia menoleh ke samping kiri-
ke arahku!-tapi entah mengapa aku selalu memilih pura-pura tidak peduli. Dan tampaknya ia pun
benar-benar tak peduli, sebagaimana ia tidak peduli pada penumpangnya yang lain, di mana juga
tak seorang pun yang peduli kepadanya.
Akulah penumpang satu-satunya yang kini bangun bersama dia. Sedang kondekturnya pun tak
mungkin bangun, lihatlah, ia terlelap dalam posisi yang sangat menyedihkan: tubuhnya tergayut
di dinding pintu, kepala terkulai, mengingatkan aku pada gambar nabi yang disalibkan. Ya, tidur
adalah dunia yang damai dan tenteram-kubaca dari raut wajahnya yang kelelahan. Dan sebagai
orang satu-satunya yang bangun, mestinya aku bersikap tenang karena apa bedanya aku dengan
sang sopir? Aku toh menyaksikan juga pemandangan yang sama, jalan yang membelah kampung
dan kawasan hutan, tanpa harus merasa kehilangan.
Tapi tidak. Entah mengapa, hatiku sukar diajak berdamai, malah cemburu dan iri yang terus
kurasakan. Sudah berapa jarak ditempuh sang sopir, berapa kampung dan kota yang ia lewati-
dengan mata terbuka? Semua panorama miliknya. Semua kejadian ia saksikan, dan disimpannya
sendiri dalam kepala. Sedang aku? Aneh, aku merasa tolol dan dungu. Juga orang-orang itu,
penumpang lain yang mendengkur dan bermimpi. Paling mereka hanya akan terjaga, nanti, saat
bis telah berhenti, mungkin di sebuah warung nasi atau di sebuah kota kecil sehabis jalanan
menurun dan mendaki.
Bis terus berjalan, dan sopir itu masih bangun, tentu saja. Tapi sebenarnya ia tak lagi sendiri.
Bukankah ada aku yang berjaga, menemaninya? Adakah ia tahu dan peduli? Aku sengaja
membuat gerakan menggeliat dengan mengangkat tangan untuk memancing perhatiannya, tapi ia
tak hirau sama sekali. Lalu aku menguap dengan menekankan pada efek yang sebaliknya:
menguap bukan pertanda ngantuk, tapi mengisyaratkan keterjagaan. Ia pun tidak peduli dan
dengan segera aku menyesali diri: jangan-jangan aku hanya mengganggu konsentrasinya.
Bukankah menguap, bagaimanapun identik dengan tidur? Ingin aku mengajaknya bercakap,
mungkin dengan bertanya sesuatu entah apa. O, ya, mungkin menanyakan sudah sampai di
mana! Tapi sialan, tak satu kalimat pun dapat kuucapkan.
Padahal benar, aku masih belum mengenali daerah yang dilalui dan dengan susah-payah harus
kuusahakan sendiri. Maklumlah, sudah bertahun-tahun aku tidak pulang. Dulu, semasa
bersekolah di kota kabupaten atau sesekali ke ibukota provinsi, aku selalu melewati jalan ini.
Berangkat dan pulang adalah perjalanan yang menyenangkan karena pemandangannya sangatlah
mengasyikkan. Selepas hutan rimba, kita akan bersua kampung-kampung yang tiba-tiba
membuka pepat hutan, kemudian pasar yang hanya ramai sekali sepekan, kemudian tanjakan
dengan jalan berkelok-kelok, jurang dan ngarai yang berbatasan langsung dengan lautan.
Daerahku memang unik. Diapit Samudera Indonesia dan diapit Bukit Barisan, membuat
hamparan daratannya tidak terlalu luas, hanya memanjang di tepi pantai ratusan kilometer dari
Tapan hingga Tarusan. Kadang aku berpikir, jangan-jangan hutan rimba di kiri-kananku sudah
tidak lagi dapat dipercaya. Maksudku, di bagian sisi jalan saja yang terkesan lebat dan dibiarkan
apa adanya, tapi radius sekian meter di kedalaman sudah berlobang dan bolong-bolong.
BIS terus berjalan. Sebenarnya dengan jarang pulang, aku ingin ke kota Padang dengan naik bis
agak siang, tapi kapal laut dari Teluk Bayur baru akan berangkat pagi hari. Kupikir tidak efektif.
Maka tidak apalah agak sedikit malam, sehingga aku bisa menjaga kantukku melihat kampung-
kampung yang masih bangun. Tapi, aku lupa, transportasi agak jelek, pada hari-hari tertentu
seperti Senin dan Minggu akan penuh. Maka benar, aku yang berangkat petang Minggu malam
Senin-yang dipercayai sebagai hari baik buat perjalanan jauh tidak kunjung mendapat
tumpangan. Satu-satunya bis yang kami tunggu, dan itu sudah larut sekali hanyalah bis dari
Selatan, tepatnya dari Bengkulu atau Sungaipenuh. Dan malam itu, aku akhirnya menaiki bis dari
Bengkulu.
Aku duduk di muka, di bangku serap di samping sopir. Sebab hanya ada satu bangku kosong
yang sudah ditempati Ida, istriku-yang tertidur sambil memeluk Tsabit, anak semata wayangku
yang sebenarnya sedang sakit. Tapi karena kami percaya pada hari baik, kami tak perlu menunda
perjalanan. Ah, kasihan sesungguhnya mereka-Tsabit dan Ida-jauh-jauh kuajak pulang dari Jawa
dengan keadaan cukup menderita.
Bis jalan menanjak. Laut bergemuruh di sisiku. Dalam kelam. Hanya di kejauhan dapat
kusaksikan cahaya lampu bagan (kapal kayu penangkap ikan) bagai ribuan kunang-kunang nun
ke ketengahan-laut yang tak berwatas. Selepas itu, kami memasuki sebuah kampung yang penuh
dengan orang-orang. Rupanya ada helat khitanan atau kawinan yang menanggap organ-tunggal.
Biasanya kesenian tradisional rabab semalam suntuk dengan kaba atau lagu-lagu daerah yang
hiruk-pikuk. Tapi kini orang telah meninggalkan tradisi itu dan memilih organ tunggal yang
membuat siapapun bisa berjoget di jalan-jalan. Seperti malam ini, sudah larut sekali. Tapi
mereka tak hendak minggir ketika bis nyaris berhenti.
Pelan sekali bis yang kunaiki ini membelah kerumunan orang kampung yang sedang dihibur
irama Melayu alunan orgen tunggal. Kebetulan yang bernyanyi seorang perempuan bahenol yang
bergoyang kiri-kanan tak ketulungan.
Sementara orang-orang yang berjoget, sebagian berhenti. Mereka menyadari sebuah bis
terkepung di antara mereka-yang selama ini selalu ngebut-dan mereka seperti berebut
menempelkan telapak tangannya ke dinding dan kaca bis. Beberapa dari telapak tangan itu
tercetak agak kurus di kaca jendela, meninggalkan bekas berembun cukup lama. Dingin.
Sebagian bersorak-sorai tak jelas. Beberapa penumpang terbangun, mengintip di jendela dan
segera saja disergap irama Melayu yang membahana. Beberapa di antara mereka tercengang
sebentar, tapi segera sadar dan terus memandang ke luar. Sementara orang-orang di luar
memandang ke dalam, bagai menembus labirin kaca jendela. Kusaksikan tatapan mereka yang di
luar berpadu dengan tatapan mereka yang di dalam bis. Ada bahasa yang tak terucapkan, antara
mereka yang tinggal dan mereka yang pergi.
Akupun menatap nanap di kaca, beradu pandang dengan mereka yang bergerombol di tepi jalan.
Seorang lelaki berpulun kain sarung jelas menatap ke arahku; aku pun menatap matanya. Kami
bertatapan. Hei, kita bertatapan, bukan? Tapi apa yang kita katakan? Tak satupun yang kami
katakan. Tapi, sebenarnya banyak yang kita katakan, bukan? Kami pasti setuju. Kita bersetuju,
bukan? Ya, kami bersetuju, dalam diam.
Wajah itu masih ngungun di balik pulunan sarung. Seketika mengingatkanku pada karya seorang
perupa di Yogya, Mella Jarsama namanya. Ia pernah berpameran dengan menampilkan sepasang
orang terkungkung pakaian pelepah pisang, lokan dan manik-manik sehingga wajah mereka
seperti tersimpan di balik cadar, penuh tatapan aneh; perpaduan rasa dingin, benci dan misteri.
Kini wajah itu bagai hadir menatapku dalam pulunan kain sarung, di balik kaca yang mulai
mengabur oleh embun. Membuatku kian dipusing rasa asing. Bahkan ketika bis tiba-tiba lepas
dari jebakan, aku merasakan keasingan yang lain; terbebas dari tatapan aneh di luar jendela, aku
merasakan tatapan itu kemudian berpindah ke dalam bis, kepada semua penumpang yang tertidur
terbungkus stelan malam-jacket, sweeter, atau selimut tebal. Aku melihat wajah semua
penumpang seperti menyimpan penderitaan dan ketakutan; menyeringai, ngorok bagai digorok,
lemah pasrah dan teronggok dingin di kursi-kursi yang kusam. Kondektur itu bahkan sudah
serupa orang tergantung di dinding pintu. Juga Ida istriku, juga Tsabit anakku, kulihat wajah
mereka berubah aneh dan dingin dalam temaram cahaya yang jatuh redup dari plafon bis tua ini.
Barulah ketika jalan sedikit menurun, bis berhenti di sebuah rumah makan, aku tersadar telah
sampai di Siguntur, sebuah daerah yang banyak rumah makannya dan biasanya bis-bis berhenti
di sini untuk berbagai-bagai keperluan. Dan sebagaimana kuduga, orang-orang pun bangun
dengan cara yang lazim: seperti orang bego, turun dan melongo, menggeliat sebentar melepas
penat badan, lalu mencari kamar mandi sekadar untuk kencing-tanpa cuci muka-karena
bukankah di bis yang melaju akan melanjutkan tidur lagi? Yang lapar dan punya duit makan,
yang lain merokok di kedai, membeli minuman ringan sambil menonton kondektur mencongkel
ban. Atau mencuri pandang pada perempuan penumpang yang entah mengapa di tengah suasana
malam semacam ini terasa cantik belaka dan meruapkan semacam aroma seksual.
Dua orang bercakap-cakap di sampingku. Yang kurus ceking bertanya dari mana dan hendak ke
mana bis yang ia naiki ini. Aneh juga, pikirku, bagaimana ia bisa menumpang bis yang tidak ia
kenali? Tapi, ah, wajar saja karena mungkin ia naik di lain kota dan tentu tak sepenuhnya bisa
membaca nama dan tujuan. Yang gemuk pendek bercerita bahwa bis berangkat jam dua dari
Bengkulu, dan akan terus ke Medan.
Entah mengapa aku kembali teringat sang sopir. Berapa lama lagi ia harus bertahan? Ataukah
ada yang akan menggantikan? Kondektur menurunkan ban serap, menambah angin, tapi
kudengar ada yang mendesis, dan si kondektur menggerutu, “Sial, bocor!” Ketika bangun
suaranya keras dan menggelegar, saat tidur semua yang ada padanya sempurna ditelan beban dan
lelah malam. Aku masih asing sendiri. Apalagi rumah makan itu di tengah hutan, diapit bukit-
bukit yang tak sepenuhnya terlihat dalam kelam. Rasanya aku baru saja mendarat di ranah asing,
lantas menemukan rumah makan itu, menemukan menu-menu yang sulit kucecap. Aku hanya
memandangi Ida, istriku makan dengan lahap. Tentu saja ia sudah sangat lapar, dan aku melihat
dirinya bagai seseorang yang tersesat.
BIS kemudian melanjutkan perjalanan. Aku tahu, tak lama lagi aku akan memasuki kota Padang-
jalan-jalan sudah kukenal berkat penanda rumah makan di Siguntur. Aku merasa ada yang bakal
hilang. Fajar sebentar lagi menyingsing. Dan aku akan turun di simpang Teluk Bayur, arah jalan
ke pelabuhan. Bis itu lalu akan meninggalkan kami, penuh debu, derak dan deru.
Begitulah, bis akhirnya sampai di persimpangan yang kutuju. Aku minta berhenti. Bis menepi
dan kondektur dengan gerak lamban menurunkan barang-barang kami. Sampai detik terakhir
ketika bis akan melaju, aku tetap tak mampu bercakap dengan sang sopir barang sepatah pun,
bahkan untuk sekadar mengucapkan terima kasih! Ah, lidah yang kelu!
Lalu, dengan perasaan asing, sekaligus haru, aku menatap bis itu melanjutkan perjalanan; tentu,
ia akan singgah sebentar di terminal kota Padang, untuk akhirnya terus ke Medan. Betapa
panjang perjalanan. Di tangga ke kapal, nanti, pasti aku tak bakal melupakan sang sopir yang
entah mengapa tiba-tiba mengundang seluruh rasa dalam diriku. Aku kasihan padanya yang
bertahan dengan pemandangan itu-itu juga, dengan jarak waktu yang sama. Sebagai sopir,
musafir abadi. Sedang aku, sebentar lagi akan menyaksikan lautan luas terbentang, alam tiada
berbatas, cakrawala yang gaib dan ajaib di kejauhan. Tapi, aku juga cemburu kepadanya yang
menyaksikan semua kejadian di sepanjang perjalanannya yang hening.
Ah, bis itu telah berangkat, sopir itu telah membawanya laju, berderak-derak, dalam jarak dan
waktu. Panjang dan jauh. Tapi seorang penumpang masih mengenangnya, sampai sekarang.
Sebab, sebagaimana kau baca di koran-koran (aku juga membacanya sesampai di Tanjung
Priok), sebuah bis Jurusan Bengkulu-Medan terguling di jalan. Badannya remuk masuk ke dalam
sungai. Kernetnya luka pada lambung, mengucur darah. Sopirnya yang berhidung bengkok
seperti paruh burung gagak atau paruh kakak tua dinyatakan hilang, dan tentu saja para polisi,
seperti biasa, dengan enteng menyebutnya melarikan diri. Sebagian percaya ia hanyut ke laut.
Tapi aku lebih percaya bahwa sang sopir yang sempat kukagumi sekaligus kucemburui
sepanjang perjalanan itu, punya nasibnya sendiri. Tak mungkin ia melarikan diri, tentu saja,
karena dalam bayanganku ia telah menjelma burung gagak ajaib yang tatapannya sedingin laki-
laki berpulun kain sarung di tepi jalan, atau orang berkerudung serat batang pisang di sebuah
pameran seni. Paruh bengkoknya terasa gemerincing dalam ingatan, bagai lokan kering
dimainkan jari-jari Maut yang panjang.
* Rumahlebah Yogyakarta, 2004-2005
Tinggalkan sebuah Komentar

Like
Be the first to like this post.
Tinggalkan sebuah Komentar sejauh ini
Tinggalkan komentar

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik
“Cerita pendek dan realitas nyata” pernah menjadi pembicaraan hangat decade 1990-an.
Waktu itu media massa, termasuk majalah dan yang berlabel sastra, disinyalir lebih memilih
cerpen-cerpen dengan latar peristiwa nyata dan faktual. Apapun kecenderungan itu, membawa
pengaruh bagi cerpenisyang berkembang pada waktu itu. Barangkali benar kata Agus Noor,
strategi agar sebuah cerpen bisa lolos seleksi redaktur adalah dengan menulis cerpen
berdasarkan peristiwa yang menjadi “headline” media massa, atau peristiwa-peristiwa nyata
itu sendiri memang memaksa seorang cerpenis untuk menulis.
Apapun alasan seorang cerpenis menulis cerpen, kenyataan “fakta dan fiksi” itu kembali teringat
ketika membaca 18 cerpen Raudal Tanjung Banua dalam buku Pulau Cinta di Peta Buta.
Hampir semua cerpennya berseting wilayah-wilayah yang kita kenali sering menjadi berita
media massa. Aceh, Sulawesi, Timor-Timur, Jakarta, kekumuhan kota, kemiskinan desa, dan
sebagainya.
Wilayah-wilayah itu barangkali tidak digambarkan secara saklak. Tapi plot yang disusun, konflik
yang disandang tokoh cerita, mengingatkan pada wilayah-wilayah seperti ini. Pada dekade 1900-
an itu, atau mungkin masih berlanjut sampai sekarang, wilayah-wilayah konflik menjadi seting
emas para penulis cerpen. Barangkali puluhan cerepnis, atau mungkin ratusan, berkembang pada
waktu itu. Mereka menggali ide, membolak-balikan daya ucap, cara bertutur tentang wilayah
konflik itu. Meski begitu, penulisan cerpen berdasarkan fakta punya tonggak sendiri. Tokoh yang
tidak bisa dilupakan Seno Gumira Ajidarma yang lantang menyatakan “ketika jurnalisme
dibungkam sastra harus bicara”. Salah satu titian popularitas Seno adalah buku kumpulan cerpen
Saksi Mata yang hampir semua cerpennya berseting Timor-Timur. Fakta wilayah operasi militer
itu (sekarang terpisah dari wilayah RI menjadi negara yang berdaulat) oleh Seno dituturkan
menjadi cerita-cerita ajaib. Seorang saksi mata datang ke persidangan tanpa mata, seorang wanita
mengoleksi irisan telinga dari orang-orang yang masih hidup kiriman dari pacarnya.
Kisah ajaib Seno itu tidak saja diikuti oleh banyak penulis muda, tapi simbolisme juga merebak
di kalangan penulis senior. Danarto yang biasa menulis cerpen “wilayah-wilayah langit” yang
tidak gampang disusun, juga salah seorang tonggak percerpenan Indonesia, menulis cerpen-
cerpen berdasarkan fakta seperti dalam cerpen Jejak Tanah dan 7 Sapi Kurus Memakan 7 Sapi
gemuk. Dalam “Jejak Tanah”yang kemudian dinyatakan menjadi cerpen terbaik di sebuah harian
Jakarta, Danarto mengisahkan mayat yang tidak diterima tanah. Setiap dikuburkan mayat itu
muncul lagi ke permukaan, itulah mayat koruptor yang selama hidupnya perilaku korup
berproses menjadi sesuatu yang tidak salah.
Raudal Tanjung Banua tentunya mengenal trend penulisan cerpen waktu itu. Meski tema
menggali fakta untuk fiksi menyemangati cerpen-cerpennya, Raudal mandiri untuk banyak hal.
Trend peristiwa simbolis tidak begitu memengaruhi. Cerpen Raudal termasuk realis meski
imajinasinya mengalir deras. Pilihan terhadap tema berdasar peristiwa faktual sendiri
mempunyai alasan tersendiri, bukan sekedar mengikuti trend dan kecenderungan seleksi redaktur
media massa.
Dalam cerpen “Elegi di Kantor Pos” yang membuka buku terbitan Jendela itu, Raudal berkisah
tentang seseorang penulis yang bertemu seorang gadis yang selalu menjilati perangko-perangko
surat yang akan dikirimkan. Ketika gadis itu tahu orang yang perangkonya selalu dijilati itu
seorang penulis, terjadilah dialog seperti ini.
“Kau tukang cerita? Oh, betapa menyenangkan. Tentu ceritamu dibaca orang banyak, dan kau
dapat menuliskan gejolak hatimu karena ada tempat berbagi. Tentu kau akan menulis tentang
negeri yang rakyatnya miskin dan lapar, sekarat dihajar dendam dan pertikaian…?”
Aku merasa mual diserang malu. Tapi kusembunyikan. Bukankah ia seperti menyindirku? Aku
tidak menulis tanah-tanah yang ditinggalkan, orang-orang yang kehilangan, lapar dan derita.
Ceritaku selalu tentang negeri yang penuh warna. Keluarga bahagia. Percintaan Cinderella.
Adakah ia tahu semua itu? Kalau begitu, siapakah ia sebenarnya, apa maksudnya menguntitku?
(hlm.4)
Rasa malu itu yang mewarnai cerpen-cerpen Raudal. Karenanya dia menuturkan tentang
pemerkosaan terhadap wanita etnis tertentu (cerpen Lengkung Pilu Terompet Waktu), daerah
operasi militer (cerpen Purnama di Serambi, Seekor Kambing Mati Tergantung), daerah
kerusuhan dua etnis atau golongan (cerpen Bis Berhenti di Kampung Lengang, Rendesvouz),
perlawanan buruh kecil terhadap kekuasaan kapitalisme (cerpen Truk Berderak Membelah
Kelam), daerah konflik (cerpen Helena Da Costa, Pertemuan di Jakarta), kolusi pengusaha-
pengusaha (cerpen Lembah Riang dan Kemilau Mata Air) dan sederet kisah tragis dari negeri
yang carut marut.
Kemandirian Raudal Tanjung Banua terasa dalam mengolah cerita sebagai sudut pandang
memotret sederet peristiwa tragis itu. Dia tidak mendramatisir menjadi cerita yang hebat, wah,
ajaib, menakjubkan. Kecuali cerpen “Elegi di Kantor Pos”, semua cerita Raudal biasa saja,
keseharian, realis. Tapi justru cerita sederhana itu kekuatan cerpen-cerpen Raudal. Ada rasa
humor nyantai, tapi terasa lebih getir.
Cerpen “Purnama di Serambi” mengisahkan seorang wanita hamil yang menunggu suaminya di
serambi. Suaminya memang suatu hari “diambil” aparat entah untuk apa. Hampir setiap malam
wanita itu tidak bisa tidur. Dia berharap anaknya yang akan lahir disambut oleh ayahnya. Tapi
yang datang malah sepasukan aparat yang langsung mengepung dan membentak,”Menyerahlah
wanita mata-mata, sepanjang malam engkau tidak tidur!”
Rasa humoris lainnya banyak mewarnai cerpen Raudal lainnya. Cerpen”Seekor Kambing Mati
Tergantung” mengisahkan seorang lelaki yang mau gantung diri. Tapi dia tidak berhasil karena
ketika baru menggantung, sepasukan tentara menyergap, menyuruh menyerah, dan
mengangkutnya ke penjara. Cerpen “Bus Berhenti di Kampung Lengang” juga mengisahkan
seorang sopir bus yang berhenti akan menemui ibunya, busnya dikepung sepasukan tentara.
Cerpen “Tanah Harapan” mengisahkan serombongan imigran gelap dari daerah Lombok,
bermaksud menyeberang ke Malaysia, tapi ditipu makelar, akhirnya mereka mendarat tengah
malam di wilayah Nusa Tenggara Barat juga.
Selain ceritanya yang humoris, kekuatan cerpen Raudal lainnya adalah bahasanya yang puitis.
Ketika trend menulis cerpen mengarahkan para cerpenis muda menulis kekosongan makna
dengan “kemegahan bahasa yang meliuk-liuk”, cerpen Raudal seperti menghindari hal itu.
Bahasanya puitis, meliuk-liuk juga, tapi masih mengikuti jalur cerit. Artinya, ada plot, ada
konflik, dan kecenderungan sebuah cerita lainnya. Kalaupun dianggap sedikit melelahkan,
kadang semangat berpuisi sering kepanjangan. Tapi barangkali harus dimaklumi bahwa Raudal
adalah seorang penulis puisi juga
Ujung Laut Pulau Marwah, Antologi Cerpen Temu Sastrawan
Indonesia
Sabtu, 04/12/2010, 16:18 WIB

" Cerpen-cerpen di dalam


buku ini memiliki
keragaman ekspresi yang
sungguh jamak. Cerpen
warna lokal di antaranya
masih tampak dijadikan
andalan lantaran
memang memberi banyak
kemungkinan, lihat saja
cerpen bermuatan lokal
Betawi, Melayu, Timor,
Madura dan Minang di
sini.

Meski masih belum


terlalu jauh dieksplorasi,
namun sudah cukup
menunjukkan bahwa
lokalitas memberi
kegairahan penciptaan
Istimewa
yang tak kunjung padam.
Jika setia digeluti, perangkat semacam ini niscaya akan menjadi pembeda dengan cerpen
umumnya. Apa yang mereka lakukan mencerminkan masih ada ruang eksplorasi yang luas
bagi penulis Indonesia yang diuntungkan oleh, antara lain, ragam budaya kita yang kaya."

Begitulah tulisan pada bagian atas sampul belakang buku “Ujung Laut Pulau Marwah” yang
diambil dari Pengantar Kuratorial, “Sastra Indonesia Mutakhir: Kritik dan Keragaman”.

Buku ini diterbitkan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang dalam
rangkaian sebuah hajatan budaya, “Temu Sastrawan Indonesia III” (TSI III) di Kota Gurindam
Negeri Pantun itu, pada 28-31 Oktober lalu—setelah TSI I (Jambi, 2008) dan TSI II
(Pangkalpinang, 2009).

Acara yang digelar bertepatan dengan Oktober sebagai bulan bahasa itu dihadiri para sastrawan
dari kota-kota besar dan kecil di seluruh Indonesia, yang diundang oleh Pemerintah Kota
Tanjungpinang, atas hasil rekomendasi tim kurator TSI III yang beranggotakan Abdul Kadir
Ibrahim (Tanjungpinang), Hoesnizar Hood (Tanjungpinang), Joni Ariadinata (Yogyakarta),
Mezra E. Polllondou (Kupang), Raudal Tanjung Banua (Yogyakarta), Said Parman
(Tanjungpinang), Saut Situmorang (Yogyakarta), Syafaruddin (Tanjungpinang), Tan Lioe Ie
(Bali), Triyanto Triwikromo (Semarang), dan Zen Hae (Jakarta).
Tampilnya Tanjungpinang sebagai tuan rumah bukan oleh sebab keberuntungan ataupun “sistem
arisan”. Kota kecil nan indah ini dipilih lantaran sejak beratus tahun lalu mewariskan bahasa
Melayu sebagai lingua franca (bahasa pengantar), yang dikenal kemudian hingga hari ini sebagai
Bahasa Indonesia.

Dari Tanjungpinang pula lahir tokoh bahasa dalam sastra klasik Melayu, Raja Ali Haji (1708-
1783), yang karya monumentalnya, “Gurindam Dua Belas” (1847), lalu disusul “Bustan’l
Katibin” (1857), dan “Kitab Pengetahuan Bahasa” (1859), telah mengantarkan ia sebagai Bapak
Bahasa Indonesia dan oleh Pemerintah RI kemudian dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional pada
2004.

Dan jauh sebelum TSI III digelar, tepatnya sejak akhir Juli 2010, Walikota Tanjungpinang, Hj.
Suryatati A. Manan, dan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang, Drs.
Abdul Kadir Ibrahim, MT, telah mengirimkan kepada 150 orang sastrawan yang diundang, surat
pemberitahuan berisi perihal sisik-melik TSI III disertai himbauan untuk mengirimkan karya
puisi atau cerpennya lantaran akan dibukukan setelah melalui proses seleksi tentunya.

Dan hasilnya, ketika acara berlangsung, para peserta yang hadir sudah memegang buku berisi
karya-karya itu. Karya mereka sendiri, atau karya rekan sastrawan yang lain.

Adalah Joni Ariadinata, Raudal Tanjung Banua, Said Parman, dan Triyanto Triwikromo, yang
menjadi kurator cerpen untuk “Ujung Laut Pulau Marwah”. Merekalah yang menetapkan 33
cerpen karya 33 orang penulis untuk dapat tampil di dalamnya. Karya-karya tersebut disusun di
dalam buku berdasarkan abjad nama para penulisnya, yakni:

“Tuan Guru Sulaiman” (Adi Alimin Arwan, Mamuju, Sulawesi Barat), “Kemarau pun Singgah
di Kampung Kami” (Agustinus Wahyono, Balikpapan, Kalimantan Timur), “Di Ujung Simpul
Rafia” (Andri Medianyah, Tanjungpinang, Kepulauan Riau), “Kabut Kembahang” (Arman AZ,
Bandarlampung, Lampung), “Seperti Natnitnole” (Benny Arnas, Lubuklinggau, Sumatera
Selatan), “Babad Mejayan” (Beni Setia, Caruban, Madiun, Jawa Timur), “Djali-Djali Bintang
Kedjora” (Chairil Gibran Ramadhan, DKI Jakarta).

“Kembalinya Anakku yang Hilang” (Endang Purnama Sari, Tanjungpinang, Kepulauan Riau),
“Anggorok dan Anggodot” (Fahrudin Nasrulloh, Jombang, Jawa Timur), “Semburat Petang di
Lagoi” (Fakhrunnas MA Jabbar, Pekanbaru, Riau), “Koleksi 932013: Fina Sato” (Fina Sato,
Bandung, Jawa Barat), “Kisah si Pemotong Rumput [Seniman Plat Baja]” (Gol A. Gong, Serang,
Banten).

“15 Hari Bulan” (Hasan Al Bana, Medan, Sumatera Utara), “Perempuan Petelur” (Igoy el Fitra,
Padang, Sumatera Barat), “Setelah Rumah” (Indrian Koto, Yogyakarta, DI Yogyakarta),
“Hamsat Mencuri Jambu Klutuk” (Idris Pasaribu, Medan, Sumatra Utara), “Lelaki dengan
Kopiah Resam” (Koko P. Bhairawa, Pangkalpinang, Bangka-Belitung), “Senandung Perih
Dendang Saluang” (M. Raudah Jambak, Medan, Sumatera Utara), “Ujung Laut Perahu
Kalianget” (Mahwi Air Tawar, Yogyakarta, DI Yogyakarta), “Bai Liang” (Marsel Robot,
Kupang, NTT), “Sandal Jepit Yong Dolah” (Maswito, Tanjungpinang, Kepulauan Riau).

“Pacar Elektrik” (Miral Shamsara Ratuloli, Kupang, NTT), “Melawan Rumput” (Mustofa W.
Hasyim, Yogyakarta, DI Yogyakarta), “Lingkaran Luka” (Panda MT Siallagan, Pematang
Siantar, Sumatera Utara), “Tanam Pinang Tumbuh Gading” (Pion Ratulolly, Kupang, NTT),
“Kucing Tua” (Ragdi F. Daye, Padang, Sumatera Barat), “Bentan” (Riawani Elyta,
Tanjungpinang, Kepulauan Riau), “Musim Ikan” (Sunlie Thomas Alexander, Belinyu, Bangka-
Belitung).

“Aroma Bangkai di Depan Rumah Mantan Penghulu” (Tarmizi rumahhitam, Batam, Kepulauan
Riau), “Kecapi Terakhir di Malam Minggu” (Thompson Hs, Pematang Siantar, Sumatera Utara),
“Tetangga Baru” (Unizara, Tanjungpinang, Kepulauan Riau), “Malina Dalam Bus Tua” (Yetti
A.KA, Padang, Sumatera Barat), dan “Air Mata Lelaki Tua di Barak Pengungsi” (Yoss Gerard
Lema, Kupang, NTT).

Dari daftar di atas dapat terlihat bahwa daerah kedatangan masing-masing penulis tidaklah sama
jumlahnya: Sulawesi Barat (1), Kalimantan Timur (1), Kepulauan Riau (6), Lampung (1),
Sumatera Selatan (1), Jawa Timur (2), DKI Jakarta (1), Riau (1), Jawa Barat (1), Banten (1),
Sumatera Barat (3), DI Yogyakarta (3), Sumatera Utara (5), Bangka-Belitung (2), dan NTT (4).

Lepas dari itu, “Ujung Laut Pulau Marwah” terbilang menarik lantaran memuat begitu banyak
cerpen bernuansa lokal yang membawa nilai-nilai budaya etnik dari masing-masing sastrawan.
Wajah keragaman Nusantara pun tercermin di dalam buku setebal 362 halaman ini. Maka buku
ini sedikit-banyak berhasil menyodorkan fakta tentang sisi lain dunia kesusastraan Indonesia
masa kini yang ternyata tak selalu dimenangi oleh cerpen-cerpen bernuansa nasional yang tidak
kentara setting tempatnya.

Namun sangat disesalkan terjadinya ketidaktelitian dalam hal penggarapan isi, hingga terjadi
kesalahan penulisan nama yang sangat fatal pada dua orang sastrawan. “Chairil Gibran
Ramadhan” misalnya, pada daftar isi dan halaman dalam ditulis “Chairil Gilang Ramadhan”
(penulisan secara benar, “Chairil Gibran Ramadhan”, hanya terjadi pada “kesempatan terakhir”,
yang terdapat dalam bagian biodata). Sedangkan “Yoss Gerard Lema” yang pada daftar isi dan
halaman dalam ditulis sama, ternyata pada bagian biodata ditulis “Yos Gamalama”.

Mungkinkah saat pengerjaannya nama kedua sastrawan ini mengingatkan penggarapnya pada
drummer Gilang Ramadhan dan komedian Dorce Gamalama? Lantas dengan cara apa dan
bagaimana orang-orang yang terlibat sebagai panitia dalam TSI III melakukan ralat atas hal ini?

Pada bagian bawah sampul belakang buku “Ujung Laut Pulau Marwah” terdapat kalimat yang
diambil dari Pengantar Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang, Drs.
Abdul Kadir Ibrahim, MT selaku Ketua Pelaksana TSI III: Temu Sastrawan Indonesia (TSI)
III/2010 yang dilangsungkan di Kota Tanjungpinang, dapat dipandang sebagai upaya menyigi
kembali kejayaan sastra Melayu yang pada era Kerajaan Riau pernah meninggi dan memucuk.

Raja Ali Haji adalah salah seorang tokoh, yang berbabit, dengan masa itu, dengan sejumlah
karya pemuncak; ilham bagi masa kini. (Catatan CGR: menyigi adalah sisipan atau celah,
berbabit adalah ikut serta/terlibat secara langsung atau tidak langsung)

Penulis, Chairil Gibran Ramadhan, lahir dan besar di Pondok Pinang, Jakarta Selatan.
Mantan wartawan, kini sastrawan, eseis, dan editor. Cerpennya tampil di berbagai media
nasional serta antologi bersama untuk pasar internasional terbitan The Lontar Foundation:
“Menagerie 5” (ed. Laora Arkeman, 2003) dan “I Am Woman” (ed. John H. McGlynn, 2011).
Antologi tunggal pertamanya “Sebelas Colen di Malam Lebaran” (Masup Jakarta, Oktober
2008), berisi 17 cerpen sastra bernuansa Betawi.

Sebuah cerpen di dalamnya, “Stambul Panjak”, kemudian oleh BLK Jakarta Selatan
dipentaskan sebagai topeng betawi di Yogyakarta (Juli 2010). Akhir 2010 terbit 3 bukunya
dalam antologi bersama: “Ujung Laut Pulau Marwah” (Antologi Cerpen Temu Sastrawan
Indonesia III, Tj. Pinang, Oktober 2010)—dengan kesalahan penulisan nama pada daftar isi
dan halaman dalam (kecuali pada biodata); “Kahlil Gibran di Indonesia” (ed. Eka Budianta,
RUAS, November 2010); serta akan menyusul buku terbitan DKJ dari ajang “Panggung
Sastra Komunitas” di TIM Jakarta (15 Desember 2010).

TERKAIT :
Seniman Betawi, Orang Jawa, dan Award
Pemkot Jakpus Gelar Atraksi Wisata Betawi Tempo Doeloe
23 Seniman Jaktim Wakili DKI Pentas Budaya di Bali
Etnis Betawi akan Miliki Gedung Kesenian Sendiri
Jangan Sampai Betawi Tergusur dari Kampungnya Sendiri, Berpikir Harus Visioner

Nikmati berita terkini di handphone anda http://m.berita8.com


• Home
• Tokoh Sastra
• Kumpulan Puisi
• Kumpulan Cerpen
• Download
<p>Your browser does not support iframes.</p>

AIDA ”KREOL” Cerpen Raudal Tanjung Banua


Share

9 Jul 2009

AIDA ”KREOL”

Cerpen Raudal Tanjung Banua

INI kepulangan yang mendebarkan, setelah lama ia bayangkan bakal menuntaskan kunjungan ke
sebuah kota "yang dibangun dari menara sekaligus terowongan bawah tanah". Ya, ini akan
menjadi kepulangan yang menuntaskan segala sesak di dada Aida, tentu bukan lantaran ia punya
sedikit gejala asma. Meski ia sendiri, sungguh celaka, tak sanggup merumuskan sesak karena
apa. Aneh memang, tiap kali ia mencari tahu apa yang bergolak dalam batinnya (yang
sesungguhnya tidak menyenangkan), yang muncul justru debar. Seolah ia menunggu sesuatu
entah apa, tapi dengan membayangkannya saja semuanya terasa menyenangkan.
Ah, semoga benarlah semua bakal menyenangkan, ia berharap. Ya, mestinya memang demikian.
Ini kepulangan yang kedua kalau dihitung sejak ia bertunangan dengan Kudal, laki-laki
perantauan yang dicintainya. Serta kepulangan pertama sejak Aida menikah dan punya seorang
anak yang gemar melukis bis. Seharusnya pernikahan mereka di kampung juga, tapi malaria
yang menulari mereka di kapal, membuat mereka memasang nawaitu, membulatkan tekad untuk
segera menikah jika sembuh --padahal baru saja datang dari kampung yang jauh.
Maka begitu sembuh, jadilah mereka "pengantin malaria", berkah yang menuntaskan
pertunanganan menjadi perkawinan seketika, mengenyahkan sekian rumus rumit berumah
tangga. (Mengapa tak malaria di kampung saja kalau ternyata membuat kami menikah sekarang
juga? Kata Kudal garuk kepala. O, inilah rahasia jodoh, kata petugas nikah yang arif-bijaksana).
Batal menikah di kampung, tak apa, toh semuanya rampung dengan cepat, di mana mereka
sebagai pengantin pun kaget mendapatkan diri saling pandang di ranjang rumah kontrakan.
Sepasang mata mereka basah. Tapi lalu terbiasa. Termasuk menyiapkan kepulangan kali ini,
sebutlah "membayar hutang" kepulangan yang tertunda --o, mereka pun arif-bijaksana!
Benarkah pulang dengan persiapan yang matang membuat semuanya terasa menyenangkan?
Aida menduga lagi. Menimbang-nimbang. Di sisinya, anak semata wayangnya tengah bermimpi,
dan suaminya terpejam dalam dengkur yang bebal, terbenam empuk bangku beludru. Ia menatap
suaminya, jatuh iba, betapa laki-laki itu teramat penat didera beban hidup. Hanya beberapa jam
lalu saja mereka bercakap-cakap di atas taxi bandara, yang membawa mereka ke kantor travel.
Dan ketika pintu minibus dihempaskan, Kudal segera pula menghempaskan tubuh dan jiwanya
ke alam lain -tidur-- dengan berbisik sesempatnya, "Kita tidur saja, Aida. Kau terutama.
Wajahmu tampak lelah sekali." Aida tersenyum, tadi, lalu ia pun memejamkan mata tapi tidak
tidur, tidak bermimpi. Sampai minibus travel yang membawa mereka entah memasuki jam dan
kilometer berapa, melaju, cepat dan cekatan melewati jalan-jalan sempit di kaki bukit, ia malah
terjaga. Menikmati hijau bukit, dan biru laut di lain sisi. Perihal kendaraan ini sendiri sesuatu
yang menyenangkan, pikirnya. Seingatnya, dulu tak ada pilihan lain dari kota propinsi ke
kampung suaminya, kecuali bis-bis tua yang sesak. Tapi, benarkah ini membuatnya merasakan
rasa senang yang berlebih?
Memang, kepulangan sekarang tidak seperti pulang lima tahun yang lalu di mana mereka tak
punya cukup uang. Meski kepulangan itu penting bagi perkenalan calon mertua dan menantu.
Karenanya, mereka tak peduli biaya perjalanan. Bahkan untuk ongkos kembali ke Yogya
--tempat di mana mereka kuliah-- terpaksa ia menerima pemberian uang dari saudara-saudara
calon suaminya yang jika ia kenang sekarang sangat tidak menyenangkan.
Sebenarnya Aida enggan menerima waktu itu, dengan menyikut tulang rusuk Kudal sambil
bicara dalam bahasa Bali, satu-satunya bahasa daerah yang mereka kuasai, itu pun sebatas
bahasa pergaulan. Toh, orang-orang itu tidak akan mengerti, saat ia mengingatkan Kudal bahwa
sekadar ongkos bis atau kapal, masih bersisa sedikit piis yang mereka persiapkan buat jaga-jaga.
Tapi Kudal bilang, tidak apa-apa. Dan menambahkan (dengan bangga!) bahwa suasana yang
melebihi seperti saat itu pernah terjadi ketika ia merantau untuk pertama kali. Dengan dramatis
tergambarkan, bagaimana saudara-saudaranya mengumpulkan uang, sekadar membantu ongkos
Kudal ke rantau tujuan, Bali, tempat yang mempertemukan mereka sebagai dua sejoli, dan
kemudian sama-sama memutuskan studi di Jawa.
Dan untuk kepulangan kali ini, mereka memang menabung cukup baik. Setamat kuliah, mereka
bekerja keras meski hasilnya tentu sulit dikatakan cukup. Apa yang dianggap cukup, coba, di
tengah harga-harga mencekik, kebijaksanaan pemerintah yang dingin, dan hidup kian kuwalik?
Hik! Tapi setidaknya Aida bisa membawakan oleh-oleh kain batik yang terbaik untuk mertua,
paman dan adik-adik --yang ia kumpulkan dengan cara membeli satu per satu sejak dulu-- kaos
Dagadu Asli, bahkan satu stel surjan dan blangkon Jawa yang dipesan khusus si ponakan, Amri,
waktu ngomong di telpon. Dan semua ini sangat menyenangkan.
***
TAK kalah menyenangkan tentu saja berwisata ke kota lama. Ke sejumlah tempat yang dulu
sempat Aida singgahi dengan berkendara motor tua bersama laki-laki yang dicintainya. Tapi
kunjungan itu sungguh tidak sempurna, serba kilat, sebab minimnya biaya perjalanan. Padahal, ia
ingin sepuasnya menikmati Jam Gadang yang menjulang kokoh dan kuno, masuk Lobang Japang
dan memandang ngarai yang biru.
Menyesal karena mesti bergegas waktu itu, memacu motor tua yang dipinjam dari Paman
Markis. Tapi soalnya adalah, semalam-malam hari mereka mesti sampai di Payakumbuh, agar
dapat menginap di rumah sahabat lama Kudal, dengan dua pertimbangan --tanpa pilihan: tak ada
biaya penginapan, dan mereka belum lagi sepasang suami-istri. Kata Kudal, laki-perempuan
yang hendak menginap di hotel mesti menunjukkan surat nikah jika tak ingin ditolak atau tidur
terpisah.
Ya, ya, Aida mengangguk mahfum. Maklum daerah para buya dan ulama, dulu, bisiknya. Meski
kemudian Aida merasa tertipu ketika sahabat lama Kudal di Payakumbuh yang blak-blakan itu,
dengan enteng bercerita bahwa pemeriksaan surat nikah bagi tamu menginap hanya omong
kosong, setidaknya tinggal cerita. "Buktinya, kalau saya ke Padang sama si Nora (yang
kemudian menjadi istrinya), pasti menginap di losmen dekat Muara," katanya. Terkekeh.
Laki-laki perokok itu pula yang merekomendasikan tempat menginap murah-meriah untuk
mereka, lancar dan hapal di luar kepala, seolah mereka akan menginap pada saat itu juga. "Buat
jaga-jaga, kalau kalian pulang lagi," katanya menyadari. Dan Kudal menjawab mantap, "Pulang
besok, kami sudah jadi suami-istri, Bung!" Sahabat baik itu terbahak. Sementara Aida menyesal
tak bisa menyusuri kota itu, sebagaimana ia membayangkan dirinya sebagai seorang gadis
dengan kisahnya yang manis!
Dulu, itu berlebihan, bisiknya. Tapi sekarang pun, sebenarnya Aida tetap merasakan demikian.
Apa yang istimewa dari sebuah kota wisata dan seorang gadis? Bukankah sebagai gadis Bali
sebenarnya ia tak asing dengan pariwisata, dan dalam sejumlah hal bahkan terasa membosankan?
Kalau mau jujur, ia justru sangat terkesan dan takjub dengan daerah suaminya, sebuah kabupaten
yang memanjang di pantai barat Sumatera, terpencil, mungkin terkucil, hanya dihubungkan satu
jalan utama, dan dengan itu keberadaannya seperti malu-malu muncul di peta Ranah Minang.
Jika ada jalan yang longsor atau jembatan putus, putus pula hubungannya dengan dunia luar.
Menghadap keluasan Samudera Hindia, dan diapit deretan Bukit Barisan, pemandangan bagai
mencipta kegaiban. "Daerah pantai yang tak punya pelabuhan, daerah pebukitan yang hanya
punya satu jalan," begitu suaminya pernah bilang, dan Aida rasakan nada keterhimpitan di situ,
rasa disisihkan.
"Semestinya kau yang jadi bupati," Aida pernah menggoda. "Tidak. Anak kita yang nanti jadi
gubernur," jawab Kudal, nadanya sukar diduga. Mereka tergelak, dan bagi yang mendengar,
susah juga menduga maunya. Bagaimanapun, Aida tak bisa melepaskan pautan hatinya pada
alam daerah ini yang masih terjaga, penuh pesona. Ya, Aida telah jatuh cinta sejak pandangan
pertama, melebihi apa pun yang dikatakan kamus wisata. Ini hanya mungkin dibandingkan
dengan perjumpaan pertamanya dengan Kudal di rumah panggung Nenek Syaodah di
kampungnya --yang juga ia kenang dengan nada ketersisihan.
Lalu di atas semua itu, seorang gadis, apa yang istimewa? Apa artinya?
Ia mencoba berkelit. Beruntung, di saat yang sama ia tiba-tiba ingat nasi kapau dan sate piaman,
yang entah bagaimana cocok belaka dengan lidahnya. Tentu, karena ia dari keluarga "kreol", ibu
Jawa, ayahnya campuran Bugis, Makasar, dan Madura. Ia sendiri seharusnya asli seorang Bali,
karena lahir dan besar di pulau itu, di sebuah kampung tua yang sudah ada sejak berabad-abad
silam. Namun selalu ada yang tak ia mengerti, sesuatu yang membuatnya sukar merumuskan diri
sebagai seseorang yang "asli". Dari segi bahasa misalnya. Ia tidak fasih berbahasa Bali, karena
kampungnya berbahasa Melayu dengan dialek yang kental, serupa lidah Malaysia. Rumah-rumah
di kampungnya tak berbale-bengong, tak bersanggah, seperti rumah Bali, tapi rumah panggung
bertiang tinggi. Tidak ada pura tentu saja, tapi menara masjid yang tua.
Aida tahu, semua itu tak mungkin membuatnya tertolak sebagai orang Bali, karena kampungnya
sendiri sudah menjadi bagian dari sejarah tanah dewata. Tapi secara pribadi, tentu saja ia
memiliki pengalaman-pengalaman tertentu yang membuatnya canggung, susah-payah
merumuskan jatidiri. Ia pun tahu, pengalaman personal itu sangat subjektif sifatnya, semisal
kemiskinan keluarga yang membuatnya tidak percaya diri, tapi ia tak bisa pula melepaskannya
dari pengalaman bersama. Maklum, kemiskinan mendera sebagian besar keluarga di
kampungnya, dengan jalan raya yang dibiarkan rusak dan lapangan kerja yang sulit, pendidikan
anak-anak yang terbengkalai, padahal letaknya hanya berapa ratus meter dari pasar induk
kabupaten.
Bertahun-tahun kampungnya dikenal sebagai kampung udik, dan anak-anaknya yang sedikit
bersekolah itu sering diejek, jika tidak malu sendiri. Ada yang mencoba menyembunyikan diri
sedemikian rupa agar tidak kentara sebagai "anak kampung", tapi tetap saja mereka berbeda
dengan "anak kota", setidaknya penampilan yang kusam. Dan hal dasar yang tak bisa
disembunyikan adalah bahasa ucap mereka. Ya, bahasa Melayu yang kental. Meskipun bahasa
mereka telah menyerap kosa kata dari berbagai bangsa (bukan suku-bangsa!) seperti Bali, Jawa,
Madura dan seterusnya, tetap saja mereka melafalkan vokal "a" sebagai "e", pada setiap akhir
kata.
Inikah yang membuatku terobsesi pada kota itu, dan ingin menjadi gadis lain? Aida bertanya
pada dirinya, dan mulai menyusuri kenangannya sendiri….
***
DALAM komunitas kampungnya yang "udik", Aida tumbuh sebagai gadis pemalu, sedikit gagap
dan tidak percaya diri. Meski diterima di sekolah unggulan, yang ia rasakan lebih banyak
siksaan.
Ia kerap iri melihat kawan-kawannya punya sepeda, atau paling tidak lancar-lancar saja naik
angkutan kota. Sedang ia, jangankan punya sepeda, naik angkot pun tak selamanya bisa. Uang
dari bapaknya pas untuk satu keperluan, padahal Aida membutuhkan sedikitnya dua keperluan
setiap hari: ongkos angkot dan jajan. Maka, kalau ia mau jajan, ia mesti berjalan kaki, atau
sebaliknya. Kerap pula ia tak bisa memilih karena tak setiap hari bapaknya punya uang.
Seringlah ia berjalan kaki, lewat jalan pintas menempuh pematang sawah, masuk gang-gang
sepi, dan tak jarang ia dikejar anjing atau diganggu orang, apalah bedanya.
Ia kemudian belajar mencari uang sendiri dengan membungkus kerupuk di sebuah usaha kecil
tetangga, yang jika ia kenang sekarang sungguh keterlaluan. Bayangkan, untuk berbungkus-
bungkus kerupuk, bayarannya tak cukup buat jajan. Belum lagi kalau ia ingat saat-saat belajar
mengaji, yang menyita banyak waktu dan tenaganya sebab harus mengabdi sepenuhnya kepada
sang guru, tak bisa menolak karena bapaknya keras dalam urusan agama. Ini tak kalah menyiksa.
Seharusnya ia bisa lebih percaya diri, kalau saja guru sekolah memperhatikan bakatnya. Aida
merasa bisa menulis puisi dan mengarang cerita. Tapi dirinya luput setiap kali ada lomba. Ini
menjadi masa sulit bagi Aida. Termasuk ketika ia menyukai teman lelaki, Ida Bagus Suemi. Aida
pun percaya, lewat sorot mata dan tingkahnya, anak itu juga menyukainya. Tapi keduanya tak
menyatakan apa pun. Satu-satunya komunikasi yang diingat Aida ialah ketika mereka naik
angkot yang sama ke sekolah, dan Bagus Suemi membayarkan ongkosnya, tapi Aida menolak.
Lalu, ketika mereka mulai melangkah, Bagus Suemi menginjak sepatu Aida, dan tak dinyana
remaja itu membungkuk membersihkannya. "Aduh, maaf, ya, saya ndak sengaja," katanya kikuk.
Yang lebih kikuk tentu saja Aida, sebab sepatu yang ia kenakan tidak lebih sepatu butut yang
mulai robek di sana-sini, yang jika ia kenang kapan saja, niscaya wajahnya akan sama merahnya
seperti saat itu!
Kenyataan-kenyataan ini, menghilangkan separoh masa remajanya…..
Tapi aneh! Masa-masa yang hilang itu serasa Aida temukan dalam masa lalu suaminya. Salah
satunya, tentang kota lama itu, Bukittinggi, yang digambarkan Kudal sebagai "Kota yang
dibangun dari menara sekaligus terowongan bawah tanah," lantaran di sana kisah-kasihnya
dengan seorang gadis bermula, meski bertahun-tahun kemudian, di sana juga mereka berpisah!
Rosalina, Rosalina Parete, gadis bahagia sekaligus malang itulah, yang terus membayangi
Aida…
Entah kenapa Aida sangat tertarik pada kisah kasih sederhana itu, barangkali ia membayangkan
dirinya sendiri terlibat di dalamnya. Sering Aida menanyakan mengapa Kudal meninggalkan
gadis itu, namun Kudal tak pernah sungguh-sungguh menjawab. "Bukan aku yang
meninggalkannya, dialah yang meninggalkan aku," katanya. Padahal Aida tahu, tak lama setelah
Kudal sampai di Bali, surat si gadis datang tak putus. Aidalah yang mengumpulkan dan
menyimpan surat-surat itu. Hanya beberapa saja dibalas Kudal, tentu dengan menyebut nama
Aida sebagai perempuan yang telah mengisi hidupnya. Aneh, Aida malah balik sedih kepada
gadis itu.
Tapi, tiap kali Aida bertanya kenapa Kudal tega meninggalkan si gadis, Kudal malah
menceritakan yang lain, yang konyol. "Sore itu kami berdiri di atas tebing Ngarai Sianok, dengan
tangan tak lagi saling genggam karena semua sudah kami tuntaskan. Kemudian aku berjalan ke
semak-semak, lebih dekat lagi ke jurang, dan secepat itu pula ia mengejarku, nyaris berteriak
minta tolong. Tentu saja ia takut menyaksikan aku bunuh diri, meloncati tebing dan remuk di
dasar jurang. Tapi siapa yang mau bunuh diri? Wong, aku hanya mau kencing kok!" Ia lalu akan
tertawa, membuat Aida kian penasaran saja, dengan suatu bisikan halus dalam hati, "Huh,
mentang-mentang punya banyak masa lalu untuk dikenang, lalu dibuang-buang.…"
Lantas, pikirnya, "Tapi perlukah aku memungutnya?"
***
AIDA meluruskan kaki, menekan debar, dan bertanya sendiri, letih: Apa iya masa lalu seseorang
bisa dimasuki seorang lain, sekalipun itu orang yang dicintai?
Dengan latar budaya hibrida dan kreol, yang terbiasa merangkai segala yang silam, mungkin saja
Aida bisa. Tapi….untuk apa?…perlukah? Tidak, tidak, aku harus merumuskan masa laluku
sendiri! Cukup bagiku meminang lelakiku, tak perlu masa lalunya!
Ajaib, begitu memasuki kampung suaminya, yang tenang dan sunyi, Aida merasakan sesuatu
memapah dirinya pada kesadaran murni. Ia mendengar suara ombak berdesir di pantai. Ia
melihat cakrawala. Melihat matahari. Dengan desir yang aneh, semua ini mengingatkannya pada
silsilah, garis darah, bahasa, peta-peta, dan sejarah leluhurnya di sebuah kampung tua yang
menyimpan masa lalunya. Sempurna atau retak, itulah milikku! Bisiknya, seperti luluh.
Minibus jalan perlahan, bagai kapal hendak menepi. "Kalau pun besok atau lusa aku ke kota
lama, mungkin bukan untuk mengingat siapa-siapa," ia berbisik di dalam hati, lalu
membangunkan anak dan suaminya. Sebab mereka telah sampai.
/Yogyakarta, Bulan Bahasa, Oktober 2005

Download

Download Puisi Cerpen atau Novel yang lain

Label: Kumpulan Cerpen Karya Terbaik


Artikel Yang Berhubungan
Kumpulan Cerpen Karya Terbaik

• Cerpen Seno Gumira Ajidarma "Rembulan dalam Cappuccino"


• Cerpen Timbul Nadeak "Peti Mati Ompung Mate"
• Cerpen Teguh Winarsho AS "Barbie & Monik"
• Cerpen Putu Fajar Arcana ---Ketika Sunyi Mengusik Sepi
• Cerpen Damhuri Muhammad---B U Y A
• Cerpen Yanusa Nugroho--Bisikan Aneh...
• Cerpen Marhalim Zaini---Jangan Menyebut Dua Frasa Itu
• Cerpen Agus Noor-- Pagi Bening Seekor Kupu-Kupu
• Cerpen Wawan Setiawan--Kupu-Kupu Tidur
• Cerpen Anton Chekhov--Ninochka
• Cerpen Sunaryono Basuki Ks---Lelaki dengan Bekas Luka di Jidatnya
• Cerpen Korrie Layun Rampan----Terbakar
• Cerpen Raudal Tanjung Banua Rumah-rumah menghadap jalan
• Cerpen Lan Fang --- 05.03.2004
• Cerpen: Antoni--- Sang Pengembara
• Cerpen A. Mustofa Bisri---Konvensi
• Cerpen Gunawan Maryanto ---- Rimbi
• Cerpen Susialine Adelia---Lelaki Muda dan Gadis Kecil
• Cerpen Mustafa Ismail---Mimpi tentang Rumah
• Cerpen Ratna Indraswari Ibrahim--Pada Suatu Hari
• Cerpen Guy de Maupassant--Cahaya Bulan
• Cerpen Badai Ekananda---Cerai
• Cerpen Abidah El Khalieqy--Laki-Laki
• Cerpen Ariwibowo--Sepintas Lalu (Paul Sintli Joyodigimin 2)
• Cerpen Yanusa Nugroho--Senja

0 komentar:

Poskan Komentar
Silakan berkomentar, pilihlah Anonim jika anda tidak mempunyai akun blogspot atau google.
terimakasih sudah berkunjung
Link ke posting ini
Raudal Tanjung Banua

Raudal Tanjung Banua, lahir di Lansano, Kenagarian Taratak, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatra Barat, 19 Januari 1975.
Pernah menjadi koresponden Harian Semangat dan Harian Haluan, Padang, untuk akhirnya memutuskan merantau ke
Denpasar, Bali, bergabung dengan Sanggar Minum Kopi dan intens belajar pada penyair Umbu Landu Paranggi; lalu ke
Yogyakarta, menyelesaikan studi di Jurusan Teater Institut Seni Indonesia Yogyakarta, mendirikan Komunitas Rumahlebah
dan bergiat di Lembaga Kajian Kebudayaan AKAR Indonesia - sebuah lembaga budaya yang menerbitkan JURNAL CERPEN
INDONESIA.
Beratus-ratus suku bangsa yang mendiami kepulauan Indonesia, menjadikan Indonesia sebagai
bangsa yang kaya dengan keragaman budaya. Kekayaan ragam budaya itu salah satunya dapat
dilihat dari cerita-cerita rakyat Indonesia.
Cerita-cerita rakyat ini pada mulanya disampaikan secara lisan, turun-temurun dari satu generasi
ke generasi berikutnya. Namun sekarang, cerita-cerita rakyat Indonesia ini juga dapat ditemukan
di berbagai buku kumpulan cerpen cerita rakyat.
Jika dibandingkan dengan cerpen jenis lain, kumpulan Cerpen Cerita Rakyat Indonesia jelas
mengangkat kekayaan budaya Indonesia, termasuk yang sudah mulai banyak dilupakan oleh
generasi muda.
Untuk apa membaca cerpen cerita rakyat? Kuno!
Setting atau latar belakang dalam cerpen cerita rakyat memang kuno (karena sudah berusia
ratusan tahun), namun pesan moral yang terkandung di dalamnya bersifat evergreen. Masih
relevan diletakkan dalam kehidupan masa kini, misanya: hormat pada orang tua, setia kawan,
tolong-menolong, jujur, rajin, mengasihi sesama, dan sebagainya.

Membaca cerpen cerita rakyat antara lain bermanfaat untuk:


Menumbuhkan rasa cinta pada budaya sendiriPewarisan dan pelestarian nilai-nilai
budaya lokalMenumbuhkan imajinasiPendidikan moral

Berikut beberapa buku kumpulan cerpen cerita rakyat yang dapat menjadi bahan bacaan:
366 Cerita Rakyat Nusantara (Adicita Karya Nusa). Berisi 366 cerita dari seluruh
daerah di Indonesia.Buku Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara (Wahyu Media, 2008).
Berisi 67 cerita dari 33 provinsi yang ada di Indonesia.Kumpulan Cerita Rakyat
Nusantara (Grasindo). Terdiri dari 3 jilid Cerita Rakyat Nusantara (Erlangga For
Kids, 2009-2010). Terdiri dari 6 jilid. 33 Cerita Rakyat Menakjubkan (Dar! Mizan,
2009)Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara Terpopuler, Meliputi Legenda, Mitos,
Fabel, Dongeng, dan Epos (Ruang Kata, 2009). Berisi 72 cerita.Kumpulan Cerita
Rakyat Riau (BKPMP dan Adicita, 2007). Berisi 24 cerita.Gadis Yomngga dan Ular
Naga: Kumpulan Cerita Rakyat Papua (Grasindo, 2002). Berisi 16 cerita.Dongeng
Rakyat Kabupaten Rembang (2 jilid. Masing2 terdiri dari 25 dan 23 cerita).Tana
Naripi Sosane Basien : Asal Usul Waita ‘Mangaa’ Kumpulan Cerita Rakyat Papua
(Grasindo, 2002). Terdiri dari 19 cerita.Cerita Rakyat dari Sumatera Barat
(Grasindo). Terdiri dari 3 jilid.Cerita Rakyat dari Jawa Timur (Grasindo, 1996). Berisi
7 cerita.Cerita Rakyat dari Jawa Barat (Grasindo, 1993). Berisi 12 cerita.Cerita
Rakyat dari Yogyakarta (Grasindo, 2003). Terdiri dari 3 jilid. Cerita Rakyat dari
Surakarta (Grasindo, 1998). Terdiri dari 2 jilid.Cerita Rakyat Betawi (Grasindo,
1993). Berisi 7 cerita.Cerita Rakyat dari Bengkulu (Grasindo, 1993).Cerita Rakyat
dari Pandeglang, Banten (Grasindo, 2005). Berisi 10 cerita.Cerita Rakyat dari
Lombok, Nusa Tenggara Barat (Grasindo). Berisi 9 cerita.Cerita Rakyat dari Jember
(Grasindo, 2003)Kumpulan Cerita Rakyat Pakpak (Yayasan Sada Ahmo, 2002)
Mari kita kenali dan cintai kekayaan budaya kita. Jika bukan kita, anak bangsa ini, yang
mencintai dan melestarikan nilai-nilai budaya kita, siapa lagi yang akan melakukannya?
Anda boleh mempublikasikan kembali tulisan di atas pada website atau blog
dengan catatan :
Anda harus mencantumkan sumber tulisan dengan link aktif menuju
www.AnneAhira.comAnda tidak mengubah baik sebagian atau pun keseluruhan
tulisan TERMASUK SEMUA LINK YANG ADA DI DALAM ARTIKEL harus tetap
ada dan aktif.Nama “Anne Ahira” dilindungi oleh Direktorat Jendral HAKI (Hak
Kekayaan Intelektual) Republik Indonesia No.Agenda J00-2007027969

View the original article here


Incoming search terms for the article:
• kumpulan cerita rakyat surakarta
• cerita rakyat nusantara jilid 3 erlangga
• cerpen cerita rakyat
• cerpen rakyat
• kumpulan cerita rakyat nusa tenggara barat
Tags: Cerita, Cerpen, Indonesia, Rakyat
Posted in Belanja | No Comments »

Kepopuleran Cerpen Cinderella


December 2nd, 2010 |
Siapa yang tidak tahu Cinderella? Kisah mengenai Cinderella sudah terkenal di bagian dunia
mana pun. Berbagai versi mengenai kisahnya pun terdengar di penjuru dunia, baik berupa buku
maupun cerpen Cinderella.
Cinderella adalah seorang gadis piatu. Meskipun ibunya telah tiada, Cinderella
hidup bahagia bersama ayahnya. Namun, kebahagiaan Cinderella berakhir setelah
ayahnya menikah lagi. Ibu dan saudara tirinya kerap kali memperlakukan Cinderella
layaknya pembantu ketika ayah Cinderella pergi. Dan, penderitaan Cinderella
semakin menjadi setelah ayahnya meninggal.Cinderella diperlakukan seperti
pembantu dan tidak pernah diperbolehkan keluar rumah, termasuk menghadiri
pesta kerajaan. Di tengah-tengah harapannya menghadiri pesta, muncul ibu peri
yang mengubah Cinderella bak seorang putri raja. Saat datang ke pesta, pangeran
pun jatuh hati. Namun, karena Cinderella diperingatkan ibu peri untuk pulang
sebelum jam 12, Cinderella menolak keinginan pangeran untuk terus berdansa
dengannya.Alhasil, sepatu kaca miliknya tertinggal. Pangeran yang jatuh hati
dengan Cinderella mencari ke seluruh pelosok negeri untuk mengetahui pemilik
sepatu tersebut. Berkat kesabaran dan kebaikannya, nasib Cinderella berubah. Ia
dapat mencoba sepatu kaca yang memang miliknya lalu menikahi pangeran.
Mereka pun hidup bahagia selamanya.Itulah kisah populer Cinderella yang sering
kita dengar. Kisah tersebut merupakan gubahan Charles Perrault, seorang penulis
Prancis. Lain lagi dengan versi Grimm bersaudara, penulis asal Jerman. Dikisahkan,
saudara tiri Cinderella memotong jari-jari kaki mereka agar kakinya bisa masuk ke
dalam sepatu kaca. Pangeran yang tahu tipu daya mereka menyuruh merpati
mematuki mata mereka hingga buta.Hidup Bahagia Selamanya“Hidup bahagia
selamanya” adalah kata-kata yang kemudian tampak seperti stereotip Cinderella.
Kita tidak mungkin bisa “hidup bahagia selamanya” seperti Cinderella. Begitulah
kata-kata yang kemudian sering kita dengar. Cerita Cinderella telah dituang ke
berbagai jenis buku, seperti buku bergambar dan buku cerita.Ceritanya juga
diadaptasi ke dalam film dengan versi cerita yang berbeda. Ada Ever After yang
diperankan oleh Drew Barrymore hingga Cinderella Story yang diperankan oleh
Hillary Duff. Semua kisah tersebut tetap fokus kepada Cinderella, tetapi dibawakan
dengan gaya yang berbeda. Begitu pula dengan cerita Cinderella dalam bentuk
buku.Ada banyak kisah yang menyerupai Cinderella, baik dalam bentuk buku
maupun film, meskipun sebenarnya tokoh dan ceritanya tidak sejalan dengan kisah
Cinderella yang asli. Di Indonesia, ada beberapa judul buku yang menggunakan
nama Cinderella, seperti Cinderella in Paris (Sari Musdar), Three Days Cinderella
(Agnes Jessica), dan Cinderella in Pink (Dyan Nuranindya).Versi Indonesia
ModernCinderella in Paris disebutkan bukan merupakan Cinderella yang biasa.
“Cinderella” dalam cerita ini adalah Saras. Ia adalah seorang perempuan yang
menginjak usia matang tapi belum mengakhiri masa lajangnya. Karena gerah dicap
perawan tua, ia bertekad mengejar karier. Namun, lama kelamaan ia bosan dengan
perjalanan kariernya. Ia pun memilih menjadi backpacker dan pergi ke Eropa.
Hidupnya kemudian diwarnai masalah. Teman dekatnya justru berubah menjadi
musuh. Di tengah-tengah sakit hatinya, Saras bertemu dengan seorang pria. Buku
Three Days Cinderella lain lagi. Ceritanya berkisah tentang dua orang perempuan,
Andini dan Dianne, yang wajahnya mirip dan bertukar peran. Andini yang
merupakan seorang gadis desa tiba-tiba harus berubah peran menjadi Dianne yang
merupakan sosok wanita kosmopolitan. Namun, penyamaran mereka akhirnya
terbongkar.Buku Cinderella in Pink juga berbeda dengan kisah Cinderella pada
umumnya. Oscar adalah seorang cowok yang malas dan hobi berkelahi, tapi punya
hobi fotografi. Sepulangnya dari Amerika, ia pergi ke Jogja karena mengetahui
banyak tempat indah di sana. Dara, seorang cewek yang cuek dan punya
penampilan ajaib berhasil menarik perhatian Oscar. Oscar mulai mengenal Dara
setelah ia jadi sasaran sepatu dekil milik Dara. Dara kesal karena sepatu
kesayangannya hilang. Dan ia semakin kesal saat Oscar mulai ikut campur segala
urusannya.Nah, kenapa ketiga cerita tersebut menggunakan judul Cinderella?
Sebaiknya Anda cari tahu sendiri.Anda boleh mempublikasikan kembali tulisan di
atas pada website atau blog dengan catatan :
Anda harus mencantumkan sumber tulisan dengan link aktif menuju
www.AnneAhira.comAnda tidak mengubah baik sebagian atau pun keseluruhan
tulisan TERMASUK SEMUA LINK YANG ADA DI DALAM ARTIKEL harus tetap
ada dan aktif.Nama “Anne Ahira” dilindungi oleh Direktorat Jendral HAKI (Hak
Kekayaan Intelektual) Republik Indonesia No.Agenda J00-2007027969

View the original article here


Incoming search terms for the article:
• kisah hidup cinderella yang asli
Tags: Cerpen, Cinderella, Kepopuleran
Posted in Belanja | No Comments »

Cerpen Cinta Pertama: Singkong di Ladang Gersang


November 30th, 2010 |
Anda tentu sudah sering mendengar istilah cerita pendek, bukan? Cerpen adalah sebuah bacaan
singkat, pendek, dan memungkinkan selesai dalam sekali baca. Beragam cerita dapat kita
tuangkan dalam sebuah cerpen, salah satunya adalah cerpen tentang cinta pertama.
Berikut adalah sebuah cerpen tentang cinta pertama yang mungkin bisa menginspirasi Anda
untuk mencoba menulis kisah Anda dalam sebuah cerpen.
Singkong di Ladang Gersang
“Kecil sekali singkongnya,” kataku sedih.
“Kalau menanam sekali lagi, kita pupuk ya,” katanya lembut.
“Pakai pupuk apa?” tanyaku lirih tanpa ada asa yang terbayang.
“Pakai kotoran kelinciku,” jawabnya pasti.
“Hebatkah kotoran kelinci?” tanyaku dengan ketakjuban yang tak kusembunyikan.
“Lihat saja nanti,” jawabnya dengan penuh keoptimisan.
“Aku percaya padamu,” kataku senang.
“Jangan,” katanya.
“Apa maksudmu?” tanyaku heran.
“Kau tak percaya aja dulu. Biar nanti tidak terlalu kecewa,” terangnya tanpa menatapku.
“Aku tak mengerti,” kataku masih dengan nada keheranan.
“Lihat saja dulu buktinya. Kau tak harus terlalu percaya dengan apa yang aku katakan. Nanti
kalau memang apa yang aku ucapkan benar, baru kau boleh percaya padaku,” katanya.
Kali ini dia menatapku. Mata coklat itu membuat aku gugup. Baru pertama kalinya aku menatap
mata coklatnya yang indah. Mata itu begitu berbinar penuh semangat hidup. Aku semakin gugup.
Aku pandangi caranya mencabut singkong. Aku pegangi daun-daun singkong yang sudah
dipetiknya.
Seminggu kemudian dia mendatangiku lagi. Aku membeku. Aku gugup sekali. Serba salah dan
salah tingkah. Aku bingung mengapa aku bisa begini. Rasanya aku belum pernah seperti ini.
“Cinta pertamakah ini?” kataku membatin.
Di siang hari yang panas, aku merasa dingin. Aku hampir tak mendengar kata-katanya yang
menerangkan tentang kotoran kelincinya yang berbau menyengat. Aku bengong menatap dirinya.
Kali ini aku tak berani memandang matanya. Saat dia melirik atau melihatku, aku coba palingkan
wajahku. Hatiku berdekup begitu kencang. Tubuhku terasa melayang. Tak sanggup aku berdiri
atau duduk. Aku seperti nyiur melambai ditiup angin. Bergoyang-goyang ke sana kemari.
“Hamburkan ini,” katanya sambil memberikan sekantong kotoran kelinci. Aku mengambil
kantong itu dengan tangan bergetar.
“Ayo, kita mulai dari sini,” ajaknya.
Aku iringi langkahnya. Aku perhatikan kaki-kakinya yang jenjang. Aku berjalan dalam
bayangannya untuk menghindari panasnya sinar matahari. Aku merasa damai. Hatiku begitu
tenang walau degupan jantungku terus saja bergemuruh.
“Ini urin kelinci,” katanya. “Bagus juga untuk pupuk.” Dalam kegugupanku, kali ini aku tak
sanggup mencium bau urin kelinci yang begitu menyengat.
“Bau sekali,” kataku.
“Ya, tapi bau ini kan membuat singkong kita tumbuh lebih subur,” terangnya sambil tersenyum.
“Benarkah?” kataku tak percaya. Aku mulai berpikir untuk tidak percaya sebelum ada buktinya.
Dia tersenyum. Aku tak mengerti makna senyumannya.
“Kau murid yang cerdas. Kini kau mulai dengan tidak percaya. Aku senang. Mari kita buktikan,”
katanya. Tubuhku terasa semakin enteng bak kapas mendengar pujiannya.
Setiap hari aku pandangi stek-stek singkong yang mulai menyembulkan daun-daunnya yang
hijau. Aku bayangkan kami berdua berjalan bersama di ladang singkong itu sambil bercerita
tentang apa yang akan kami lakukan bila panen nanti.Aku berharap bertemu dengannya. Tapi
sejak penanaman itu, aku tak bertemu lagi dengannya hingga panen tiba.
Singkongnya besar-besar. Tapi aku tak bahagia. Aku senang bahwa kotoran dan urin kelinci
memang hebat. Tapi aku tak menemukan kasihku. Memang tak kupupuk cintaku dengan kotoran
dan urin kelinci. Namun rasanya cintaku tumbuh lebih subur dari singkong-singkong yang kami
tanam.
Aku merasakan lara hati dan jiwa karena cinta pertamaku tertanam kembali ke dalam gundukan
tanah tempatku menancapkan stek-stek singkong berikutnya. Ladang gersang itu kini sudah
subur. Tapi cintaku masih seperti singkong di ladang gersang.
***
Nah, Bagaimana, sudahkah Anda mendapatkan gambaran dari cerpen tersebut? Jika Iya, tunggu
apa lagi? Mulailah menulis cerpen versi Anda sendiri. Selamat mencoba!
Anda boleh mempublikasikan kembali tulisan di atas pada website atau blog
dengan catatan :
Anda harus mencantumkan sumber tulisan dengan link aktif menuju
www.AnneAhira.comAnda tidak mengubah baik sebagian atau pun keseluruhan
tulisan TERMASUK SEMUA LINK YANG ADA DI DALAM ARTIKEL harus tetap
ada dan aktif.Nama “Anne Ahira” dilindungi oleh Direktorat Jendral HAKI (Hak
Kekayaan Intelektual) Republik Indonesia No.Agenda J00-2007027969

View the original article here


Incoming search terms for the article:
• cerpen apa kabar cinta
Tags: Cerpen, Cinta, Gersang, Ladang, Pertama, Singkong
Posted in Belanja | No Comments »

Ruang Cerpen Kompas yang Menjadi Idola


November 27th, 2010 |
Harian Kompas adalah surat kabar ternama yang termasuk beroplah tinggi dan beredar cukup
merata di penjuru tanah air. Sajian berita yang lengkap dan mendalam menjadi andalan harian
yang lahir pada 28 Juni 1965 ini.
Salah satu rubrik tetap yang menarik adalah halaman seni dan hiburan. Di bagian seni
khususnya, ruang cerpen dan puisi seolah menjadi penyeimbang berita-berita yang dinamis
setiap harinya.
Cerpen Kompas
Cerpen Kompas seakan-akan telah dianggap sebagai barometer cerpen koran Indonesia yang
terus tumbuh. I Nyoman Darma Putra dalam kata pengantarnya di Buku Kumpulan Cerpen
Pilihan Kompas 2003 menyebutkan bahwa tak sedikit mahasiswa Australia yang meneliti
tentang cerpen lantas mengambil contoh cerpen yang dimuat di Kompas.
Penyebaran Kompas yang cukup luas di tanah air dan kualitas isinya membuat ruang cerpen
harian ini menjadi salah satu yang diminati pula. Ketertarikan para penulis berlomba-lomba
mengirimkan cerpen ke Kompas membuat seleksi yang terjadi cukup ketat hingga terpilih karya
terbaik layak muat.
Tanpa disadari harian Kompas menjadi semacam “standar” bagi seorang penulis agar karyanya
“diakui”. Meskipun tak berarti karya fiksi di harian lain tak kalah apik dan mengesankan.
Namun, nama besar dan penyebaran Kompas yang tak diragukan lagi membuat asumsi ini terus
berkembang sampai sekarang.
Karakteristik Cerpen Kompas
Cerpen yang dimuat rata-rata mempunyai nilai original, yang membuatnya unik dan berbeda
dengan yang lain. Kebaruan (orisinilitas) ini berlaku pada tema, isi, alur, dan cara bercerita.
Penggunaan kata-kata kasar dan kurang beretika dihindari serta tak menyinggung SARA. Dalam
cerpen-cerpen Kompas bisa ditemukan nuansa lokal dan luar yang sama menariknya.
Antologi Cerpen Kompas
Tahun 1992 Kompas memulai tradisi membuat buku kumpulan cerpen yang pernah dimuat di
media tersebut. Dalam penyusunan buku ini dilakukan proses pemilihan cerpen dari semua
naskah yang pernah dimuat dalam Kompas. Editor dan timnya akan menentukan beberapa
cerpen untuk dimasukkan dalam antologi.
Kriteria pemilihan editor terkadang menuai pro dan kontra, mengingat hal ini sangat terkait
dengan selera editor yang bisa jadi berbeda dengan masyarakat awam. Toh tetap saja kumpulan
cerpen Kompas dinanti sebagai pustaka yang menambah kekayaan khasanah sastra tanah air.
Beberapa judul antologi cerpen Kompas yang telah terbit adalah Anjing-Anjing Menyerbu
Kuburan: Kumpulan Cerpen Pilihan Kompas, dan Ripin : Cerpen Kompas Pilihan 2005-2006.
Para penulis yang karyanya telah dimuat di Kompas antara lain Danarto, Eka Kurniawan, Agus
Noor, Ratna Indraswari Ibrahim, Seno Gumira Ajidarma, Djenar Maesa Ayu, dan lainnya.
Anda boleh mempublikasikan kembali tulisan di atas pada website atau blog
dengan catatan :
Anda harus mencantumkan sumber tulisan dengan link aktif menuju
www.AnneAhira.comAnda tidak mengubah baik sebagian atau pun keseluruhan
tulisan TERMASUK SEMUA LINK YANG ADA DI DALAM ARTIKEL harus tetap
ada dan aktif.Nama “Anne Ahira” dilindungi oleh Direktorat Jendral HAKI (Hak
Kekayaan Intelektual) Republik Indonesia No.Agenda J00-2007027969

View the original article here


Tags: Cerpen, Idola, Kompas, Menjadi, Ruang
Posted in Belanja | No Comments »

Menulis Cerpen Narasi Yuk!


November 22nd, 2010 |
Cerpen Narasi terdiri dari dua kata yaitu cerpen dan narasi. Cerpen merupakan singkatan dari
cerita pendek sehingga beberapa ahli bahasa sering mendefenisikannya sebagai sebuah karangan
yang bisa dibaca sekali duduk. Secara lebih khusus cerpen dapat dicirikan sebagai sebuah
karangan yang memiliki efek tunggal dan fokus pada sebuah konflik.

Pengertian
Sedangkan narasi sering diartikan sebagai cerita. Secara sederhana definisi dari narasi adalah
sebuah karangan yang menceritakan sejelas-jelasnya gambaran dari suatu peristiwa atau konflik.
Oleh karena itu karangan narasi sering kita temukan pada cerpen, novel dan karangan fiksi
lainnya. Namun bukan berarti karangan narasi tidak bisa kita temukan pada karangan non-fiksi.
Karangan nonfiksi seperti memoar, kisah inspiratif dan sejenisnya juga memakai karangan
narasi.
Ada tiga hal yang membangun sebuah karangan narasi yaitu:

1. Berupa cerita atau kisah


2. Unsur pelaku sangat menonjol.
3. Susunan yang sistematis
Jadi cerpen narasi adalah suatu istilah yang timbul kemudian yang menggambarkan bahwa
karangan tersebut adalah menceritakan tentang kisah fiktif yang fokus pada satu konflik dan
tidak terlalu panjang.

Fungsi karangan narasi


Fungsi karangan narasi sangat penting dalam sebuah cerpen. Tanpa karangan ini cerpen akan
terasa garing dan sepi. Karangan narasi membuat kita mampu merasakan kisah dalam sebuah
tulisan. Karangan narasi juga memberikan nilai estetika sehingga tulisan kita terlihat lebih
semarak.

Jenis Karangan narasi


Secara umum karangan narasi ada dua jenis yaitu:
1. Narasi ekspositorik (narasi teknis)
Yaitu sebuah narasi yang tersusun atas fakta dan data-data yang sebenarnya. Disusun dengan
gaya bahasa yang logis berdasarkan fakta, tidak memasukkan unsur sugesti didalamnya dan
harus objektif. Tokoh yang ditonjolkan biasanya hanya satu orang. Narasi jenis ini biasanya
banyak ditemukan pada tulisan nonfiksi seperti autobiografi, kisah inspiratif dan sebagainya.
2. Narasi sugestif
Yaitu ada nilai sugesti atau nilai terselubung yang disisipkan dalam karangan tersebut. Disini
pengarang mencoba menyampaikan pesan-pesan melalui kisah-kisah indah yang dirangkaikan
lewat kata-kata. Biasanya kita temukan pada cerita-cerita fiksi seperti cerpen narasi, novel,
novelet dan sejenisnya.
Langkah praktis menyusun cerpen narasi
Setiap penulis memiliki cara-cara tersendiri dalam membuat sebuah cerpen narasi. Kadang ada
yang memulai dari satu tokoh, ada juga yang menyusun ending terlebih dahulu baru menyusun
konflik dan sebagainya. Semua itu sah-sah saja, tergantung dimana kita merasa enjoy untuk
memulai menulis.

Namun secara sederhana dapat diuraikan sebagai berikut:


1. Menentukan sebuah tema yang menarik dan unik.
Terlebih dahulu tentukan tema apa yang akan diangkat menjadi sebuah cerpen narasi yang
memikat. Temukan tema yang unik dari pengalaman pribadi atau orang lain. Atau bisa juga dari
bacaan, tontonan atau hal-hal lain yang mengusik imajinasi kita.
2. Tetapkan pembaca sasaran.
Hal ini bermanfaat nantinya untuk memfokuskan jalan cerita dan gaya bahasa yang dipakai
dalam menulis sebuah cerpen narasi. Selain itu juga bermanfaat untuk menentukan nilai sugestif
apa yang mau diselipkan dalam cerita ini nantinya.
3. Tetapkan tokoh, perwatakan, latar dan sudut pandang.
Empat hal ini nantinya akan berperan penting dalam menciptakan konflik dalam sebuah cerpen
narasi. Semakin unik watak tokoh dan latar yang diciptakan maka konflik yang bisa dirancang
akan semakin menarik.
4. Susun konflik dan alur cerita.
Konflik merupakan nyawa dalam sebuah cerpen narasi. Cerita tidak akan hidup tanpa konflik
yang unik.
5. Gambarkan peristiwa-peristiwa utama.
Peristiwa adalah penjabaran dari konflik dalam sebuah cerita. Tetapkan sebuah peristiwa utama
yang akan terjadi dalam cerpen narasi tersebut.

Ini adalah langkah sistematis yang bisa ditempuh dalam menyusun sebuah cerpen narasi. Namun
untuk menulis yang diperlukan hanyalah tindakan memproduksi kata-kata. Bukan mengurutkan
setiap langkah-langkah. Jadi segeralah menulis dari langkah manapun yang dianggap paling
mudah. Abaikan urutan langkah di atas jika hal itu membuat kita semakin sulit untuk mulai
menulis.
Anda boleh mempublikasikan kembali tulisan di atas pada website atau blog
dengan catatan :
Anda harus mencantumkan sumber tulisan dengan link aktif menuju
www.AnneAhira.comAnda tidak mengubah baik sebagian atau pun keseluruhan
tulisan TERMASUK SEMUA LINK YANG ADA DI DALAM ARTIKEL harus tetap
ada dan aktif.Nama “Anne Ahira” dilindungi oleh Direktorat Jendral HAKI (Hak
Kekayaan Intelektual) Republik Indonesia No.Agenda J00-2007027969

View the original article here


Incoming search terms for the article:
• contoh karangan narasi
• fungsi dari konflik dalam sebuah cerita
• fungsi konflik dalam cerita
• Pengertian konflik & fungsi konflik dalam sebuah cerpen
Tags: Cerpen, Menulis, Narasi
Posted in Belanja | No Comments »

Cerpen Jepang, Pendek tapi Mengena


November 21st, 2010 |
Berbicara soal sastra, berarti kita bicara soal budaya. Karena, karya sastra tercipta dari sebuah
cerminan budaya setempat. Salah satu karya sastra adalah cerpen. Cerpen adalah sebuah cerita
pendek dari satu atau dua alur saja. Yang terdiri dari kisah tokoh utama yang mengalami satu
konflik utama.
Biasanya, sebuah cerpen terdiri atas 500 kata sampai dengan 1000 kata. Kadang, cerpen yang
dimuat di media cetak terbatas oleh kolom sehing sebuah cerpen harus dibatasi agar tidak terlalu
panjang. Cerpen yang dibuat di media cetak biasanya maksimal 750 kata saja.
Cerpen Jepang
Bicara soal cerpen, kali ini kita akan membahas mengenai cerpen Jepang. Cerpen Jepang
biasanya sangat diwarnai budaya lokal yang mereka miliki. Jepang itu sangat mencintai
budayanya dan sangat posesif terhadap apa yang menjadi miliknya. Cerpen-cerpen Jepang
biasanya bermain dalam karakter tokoh.
Mereka cenderung kuat dalam membangun sebuah penokohan dalam cerita. Contoh yang bisa
kita ambil adalah Tokoh Musasi karya Eiji Yoshikawa, memang ini adalah sebuah novel, namun
kita dapat menganilis tokoh yang dibangun dalam novelnya adalah memang seorang samurai
sejati dengan latar budaya Jepang yang sangat kuat.
Untuk menemukan cerpen-cerpen Jepang yang bisa dianalisis dengan mudah, kita bisa
mencarinya pada sebuah situs khusus cerpen Jepang, www.tanpen.jp. Dalam situs tersebut
termuat cerpen-cerpen yang sangat singkat. Cerpen-cerpen yang dibuat maksimal 1000 huruf
saja, bahkan ada yang 200 huruf. Namun, jumlah kata yang sangat terbatas itu tidak membuat
cerpen-cerpen dalam situs tersebut menjadi hambar akan ide dan karakter.
Tokoh dan penokohannya tetap berkarakter. Latar cerita pun tetap kuat dengan kebudayaan
Jepang yang kuat. Meskipun kumpulan cerpen situs ini sangat terbatas oleh kosa kata, pengarang
jepang tetap kuat dalam membangun metafora yang indah. Kebanyakan cerpen-cerpen Jepang
bicara soal tema-tema psikologis. Orang-orang yang penuh dengan paradoks yang hidup dalam
dunia imajiner. Orang-orang kesepian yang merindukan kebebasan. Kesadisan dan kengeringan
sering kali tergambar dalam karya sastra Jepang dengan cara yang paling sinis ketika
disampaikan pada pembaca.
Untuk membuka lebih lanjut tentang cerpen-cerpen Jepang, Anda bisa mengunjungi
yumeko.web.id. atau plza.rakuten.co.id atau top-pdf.com/kumpulan-cerpen-jepang Dalam web
tersebut dibahas mengenai cerpen-cerpen Jepang baik dengan tinjuan semiotik atau sosiologi
sastra.
Selamat membaca dan menyelami cerpen!
Anda boleh mempublikasikan kembali tulisan di atas pada website atau blog
dengan catatan :
Anda harus mencantumkan sumber tulisan dengan link aktif menuju
www.AnneAhira.comAnda tidak mengubah baik sebagian atau pun keseluruhan
tulisan TERMASUK SEMUA LINK YANG ADA DI DALAM ARTIKEL harus tetap
ada dan aktif.Nama “Anne Ahira” dilindungi oleh Direktorat Jendral HAKI (Hak
Kekayaan Intelektual) Republik Indonesia No.Agenda J00-2007027969

View the original article here


Tags: Cerpen, Jepang, Mengena, Pendek

Posted in Belanja | No Comments »

Buku Cerpen = Buku Antologi Cerpen


November 21st, 2010 |
Bila Anda penggemar cerpen, tidak ada salahnya membeli buku cerpen untuk menjadi koleksi
Anda. Cerpen adalah singkatan dari cerita pendek. Sesuai dengan namanya, cerpen biasanya
mempunyai durasi halaman dari 5 sampai 12 halaman ukuran kertas A4 dengan spasi 1,5.
Ciri-ciri cerpen adalah bisa dibaca dalam sekali duduk, mengandung konflik yang padat dan
memberi pesan positif kepada pembacanya.
Buku cerpen adalah sebutan populer bagi orang yang awam dalam dunia kepenulisan dan
perbukuan. Istilah yang tepat untuk buku cerpen adalah buku antologi cerpen. Antologi adalah
kumpulan. Jadi antologi cerpen adalah kumpulan cerpen. Entah itu kumpulan cerpen pribadi atau
kumpulan cerpen bersama.
Saat ini penerbit kurang mau menerbitkan buku cerpen, pasalnya di pasaran, buku cerpen kurang
laku untuk dijual. Padahal masih banyak pelajar, mahasiswa atau khalayak umum yang masih
membutuhkan buku cerpen. Keberadaan buku cerpen sangat berguna bagi masyarakat.
Contoh sederhana saja, di sekolah anak didik diharuskan untuk bisa meresensi sebuah cerpen
atau membuat cerpen sebagai tugas bahasa Indonesia. Tetapi betapa sulitnya mereka menemukan
referensi cerpen yang berkualitas. Dan tidak semua anak didik mampu membeli majalah atau
Koran demi sebuah cerpen. Oleh karena itu keberadaan buku cerpen sangat berarti.
Bila sembilan anak didik patungan untuk membeli sebuah buku cerpen, tentu beban mereka akan
lebih ringan ketimbang membeli sebuah majalah yang hanya memuat satu buah cerpen saja.
Karena biasanya di dalam buku cerpen ada 9 atau 10 cerpen dengan judul berbeda-beda. Jadi
setiap anak didik dapat meresensi satu cerpen dari buku itu.
Membuat Buku Cerpen Bersama-Sama
Bila Anda adalah suka menulis cerpen, pecinta buku atau pecinta cerpen, tentu Anda ingin agar
kuantitas dan kualitas cerpen dalam dunia sastra Indonesia tidak menjadi surut. Salah satu cara
untuk tetap mempertahankan kualitas dan kuantitas cerpen bersama-sama adalah dengan cara
membuat buku cerpen indie.
Membuat buku cerpen indie berarti mengumpulkan naskah sendiri, mengedit sendiri, melay-out
sendiri, mendesain cover sendiri, mencetak buku sendiri dan bahkan memasarkannya pun
sendiri.
Tentu saja karena dicetak secara indie maka biaya pun sendiri. Tetapi bila di dalam satu buku
cerpen itu ada 15 penulis maka ke-15 penulis itu bisa saling patungan untuk biaya mencetak
buku. Niscaya dengan semakin banyaknya bermunculan buku cerpen-buku cerpen yang
diterbitkan secara indie ataupun diterbitkan oleh penerbit, maka keberadaan buku cerpen dalam
dunia sastra pun akan terus tumbuh dan diakui oleh masyarakat.
Tetapi kini sudah ada juga bermunculan majalah-majalah baru yang khusus memuat cerpen-
cerpen. Majalah-majalah khusus cerpen ini harus kita dukung demi perkembangan literasi kita.
Semoga kelak, nasib buku cerpen akan kembali lagi menjadi primadona. Menjadi buku yang
dicari-cari dan best seller di toko buku. Karena dengan semakin sedikitnya buku cerpen yang
terbit maka semakin sedikit juga buku cerpen yang mengalami cetak ulang dan best seller.
Anda boleh mempublikasikan kembali tulisan di atas pada website atau blog
dengan catatan :
Anda harus mencantumkan sumber tulisan dengan link aktif menuju
www.AnneAhira.comAnda tidak mengubah baik sebagian atau pun keseluruhan
tulisan TERMASUK SEMUA LINK YANG ADA DI DALAM ARTIKEL harus tetap
ada dan aktif.Nama “Anne Ahira” dilindungi oleh Direktorat Jendral HAKI (Hak
Kekayaan Intelektual) Republik Indonesia No.Agenda J00-2007027969

View the original article here


Incoming search terms for the article:
• antologi cerpen anak
Tags: Antologi, Cerpen
Posted in Hobi | No Comments »

Berburu Buku Cerpen Novel


November 15th, 2010 |
Seringkali saat hendak membeli buku cerpen novel, kita terjebak oleh covernya. Misalnya, saat
menemukan buku kumpulan cerpen, dengan cover dan endorsmentnya bagus, ternyata terasa
biasa-biasa saja saat kita membaca isinya. Bahkan novel dengan cap ‘Best Seller’ dan dipajang
di rak buku laris, tidak menjamin isinya bagus, keren dan mendidik.
Seringkali kita mendapati novel remaja yang isinya terlalu vulgar, konflik hanya berputar-putar
di masalah cinta. Tentu cerita seperti ini tidak baik jika dibaca terlalu sering oleh remaja.
Terkadang ada juga sampul buku kumpulan cerpen yang misterius dan agak vulgar, tetapi isinya
ternyata mendidik. Jadi, bagaimana, sih, memilih buku cerpen novel, yang covernya oke, isinya
juga oke?
Tips Pencarian Buku Cerpen Novel
Agar tidak kecewa dengan buku yang dibeli, ada baiknya Anda mengikuti tips di bawah ini:
Cover memang menjadi pemikat pertama dalam memilih novel. Tapi, ingat pepatah
lama, “don’t jugde the book by it’s cover”. Jangan melihat buku dari sampul luarnya
saja. Terkadang sampul yang sederhana dan tidak menarik justru menyimpan isi
cerita yang fantastis.Jangan malas untuk membaca sinopsis buku cerpen novel
yang hendak Anda beli. Biasanya sinopsis ada di bagian belakang buku. Bila tidak
ada, Anda tinggal menggunakan fasilitas Google untuk mencari sinopsis buku yang
diincar. Selain itu, cek juga pendapat-pendapat orang tentang buku itu. Bukan
endorsement yang ada di sampul, melainkan pendapat pembaca umum. Apabila
penulis buku cerpen novel incaran sudah sering Anda baca karyanya, tidak perlu
lagi meragukan isi ceritanya. Namun, jika si penulis favorit Anda menulis buku
kumpulan cerpen secara keroyokan, perlu dibaca kembali ulasannya. Hal ini
dilakukan untuk mengantisipasi, seandainya hanya cerita penulis favorit Anda saja
yang keren.Memilih buku cerpen novel tidak harus mencari buku yang best seller.
Bila ingin membaca cerpen novel dengan genre-genre yang agak unik, Anda bisa
memulai pencarian dari rak paling bawah atau paling tersembunyi. Biasanya cerita
yang unik dan melenceng dari pasar, selalu tidak laku. Namun, perlu dicatat bahwa
tidak laku bukan berarti ceritanya jelek. Lihat siapa penerbitnya. Biasanya ada
penerbit yang selalu menerbitkan cerita dengan gaya yang sama. Misal penerbit A
selalu menceritakan cerita gokil, penerbit B selalu memasukkan unsur seks dalam
setiap ceritanya, penerbit C khusus menerbitkan buku islami, dan lain sebagainya.
Lihat tebal tipisnya buku cerpen novel yang kita inginkan. Bila buku novel tebal,
biasanya ceritanya lebih panjang dan lebih asyik untuk dinikmati. Tetapi bukan
berarti novel yang tipis isinya jelek. Lihat harganya. Apabila ingin mencari buku
cerpen novel yang berkualitas dan haus akan bacaan bermutu, maka Anda tetap
harus menyiapkan budget yang sesuai. Karena buku dengan bacaan bermutu dan
bagus, biasanya agak sedikit mahal. Apalagi bila bukunya termasuk best seller atau
hard cover.

Sekarang, saatnya berburu buku cerpen novel yang bermutu ke toko buku. Bila Anda ingin
membeli buku asli di bawah harga pasaran, tunggu saja book fair. Di sana Anda bisa
mendapatkan aneka buku cerpen novel dengan berbagai macam harga. Tapi ingat, pastikan buku
apa yang Anda incar. Selamat membaca.
Anda boleh mempublikasikan kembali tulisan di atas pada website atau blog
dengan catatan :
Anda harus mencantumkan sumber tulisan dengan link aktif menuju
www.AnneAhira.comAnda tidak mengubah baik sebagian atau pun keseluruhan
tulisan TERMASUK SEMUA LINK YANG ADA DI DALAM ARTIKEL harus tetap
ada dan aktif.Nama “Anne Ahira” dilindungi oleh Direktorat Jendral HAKI (Hak
Kekayaan Intelektual) Republik Indonesia No.Agenda J00-2007027969

View the original article here


Incoming search terms for the article:
• buku cerpen
• cerpen dengan genre yang sama
• Cerpen remaja vulgar
• cerpen sinopsis yang ada penerbit dan pengarang
• semua novel remaja tebal yang sinopsisnya panjang
Tags: Berburu, Cerpen, Novel
Posted in Belanja | No Comments »
Beratus-ratus suku bangsa yang mendiami kepulauan Indonesia, menjadikan Indonesia sebagai
bangsa yang kaya dengan keragaman budaya. Kekayaan ragam budaya itu salah satunya dapat
dilihat dari cerita-cerita rakyat Indonesia.
Cerita-cerita rakyat ini pada mulanya disampaikan secara lisan, turun-temurun dari satu generasi
ke generasi berikutnya. Namun sekarang, cerita-cerita rakyat Indonesia ini juga dapat ditemukan
di berbagai buku kumpulan cerpen cerita rakyat.
Jika dibandingkan dengan cerpen jenis lain, kumpulan Cerpen Cerita Rakyat Indonesia jelas
mengangkat kekayaan budaya Indonesia, termasuk yang sudah mulai banyak dilupakan oleh
generasi muda.
Untuk apa membaca cerpen cerita rakyat? Kuno!
Setting atau latar belakang dalam cerpen cerita rakyat memang kuno (karena sudah berusia
ratusan tahun), namun pesan moral yang terkandung di dalamnya bersifat evergreen. Masih
relevan diletakkan dalam kehidupan masa kini, misanya: hormat pada orang tua, setia kawan,
tolong-menolong, jujur, rajin, mengasihi sesama, dan sebagainya.

Membaca cerpen cerita rakyat antara lain bermanfaat untuk:


Menumbuhkan rasa cinta pada budaya sendiriPewarisan dan pelestarian nilai-nilai
budaya lokalMenumbuhkan imajinasiPendidikan moral

Berikut beberapa buku kumpulan cerpen cerita rakyat yang dapat menjadi bahan bacaan:
366 Cerita Rakyat Nusantara (Adicita Karya Nusa). Berisi 366 cerita dari seluruh
daerah di Indonesia.Buku Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara (Wahyu Media, 2008).
Berisi 67 cerita dari 33 provinsi yang ada di Indonesia.Kumpulan Cerita Rakyat
Nusantara (Grasindo). Terdiri dari 3 jilid Cerita Rakyat Nusantara (Erlangga For
Kids, 2009-2010). Terdiri dari 6 jilid. 33 Cerita Rakyat Menakjubkan (Dar! Mizan,
2009)Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara Terpopuler, Meliputi Legenda, Mitos,
Fabel, Dongeng, dan Epos (Ruang Kata, 2009). Berisi 72 cerita.Kumpulan Cerita
Rakyat Riau (BKPMP dan Adicita, 2007). Berisi 24 cerita.Gadis Yomngga dan Ular
Naga: Kumpulan Cerita Rakyat Papua (Grasindo, 2002). Berisi 16 cerita.Dongeng
Rakyat Kabupaten Rembang (2 jilid. Masing2 terdiri dari 25 dan 23 cerita).Tana
Naripi Sosane Basien : Asal Usul Waita ‘Mangaa’ Kumpulan Cerita Rakyat Papua
(Grasindo, 2002). Terdiri dari 19 cerita.Cerita Rakyat dari Sumatera Barat
(Grasindo). Terdiri dari 3 jilid.Cerita Rakyat dari Jawa Timur (Grasindo, 1996). Berisi
7 cerita.Cerita Rakyat dari Jawa Barat (Grasindo, 1993). Berisi 12 cerita.Cerita
Rakyat dari Yogyakarta (Grasindo, 2003). Terdiri dari 3 jilid. Cerita Rakyat dari
Surakarta (Grasindo, 1998). Terdiri dari 2 jilid.Cerita Rakyat Betawi (Grasindo,
1993). Berisi 7 cerita.Cerita Rakyat dari Bengkulu (Grasindo, 1993).Cerita Rakyat
dari Pandeglang, Banten (Grasindo, 2005). Berisi 10 cerita.Cerita Rakyat dari
Lombok, Nusa Tenggara Barat (Grasindo). Berisi 9 cerita.Cerita Rakyat dari Jember
(Grasindo, 2003)Kumpulan Cerita Rakyat Pakpak (Yayasan Sada Ahmo, 2002)

Mari kita kenali dan cintai kekayaan budaya kita. Jika bukan kita, anak bangsa ini, yang
mencintai dan melestarikan nilai-nilai budaya kita, siapa lagi yang akan melakukannya?
Anda boleh mempublikasikan kembali tulisan di atas pada website atau blog
dengan catatan :
Anda harus mencantumkan sumber tulisan dengan link aktif menuju
www.AnneAhira.comAnda tidak mengubah baik sebagian atau pun keseluruhan
tulisan TERMASUK SEMUA LINK YANG ADA DI DALAM ARTIKEL harus tetap
ada dan aktif.Nama “Anne Ahira” dilindungi oleh Direktorat Jendral HAKI (Hak
Kekayaan Intelektual) Republik Indonesia No.Agenda J00-2007027969

View the original article here


Incoming search terms for the article:
• kumpulan cerita rakyat surakarta
• cerita rakyat nusantara jilid 3 erlangga
• cerpen cerita rakyat
• cerpen rakyat
• kumpulan cerita rakyat nusa tenggara barat
Tags: Cerita, Cerpen, Indonesia, Rakyat
Posted in Belanja | No Comments »

Kepopuleran Cerpen Cinderella


December 2nd, 2010 |
Siapa yang tidak tahu Cinderella? Kisah mengenai Cinderella sudah terkenal di bagian dunia
mana pun. Berbagai versi mengenai kisahnya pun terdengar di penjuru dunia, baik berupa buku
maupun cerpen Cinderella.
Cinderella adalah seorang gadis piatu. Meskipun ibunya telah tiada, Cinderella
hidup bahagia bersama ayahnya. Namun, kebahagiaan Cinderella berakhir setelah
ayahnya menikah lagi. Ibu dan saudara tirinya kerap kali memperlakukan Cinderella
layaknya pembantu ketika ayah Cinderella pergi. Dan, penderitaan Cinderella
semakin menjadi setelah ayahnya meninggal.Cinderella diperlakukan seperti
pembantu dan tidak pernah diperbolehkan keluar rumah, termasuk menghadiri
pesta kerajaan. Di tengah-tengah harapannya menghadiri pesta, muncul ibu peri
yang mengubah Cinderella bak seorang putri raja. Saat datang ke pesta, pangeran
pun jatuh hati. Namun, karena Cinderella diperingatkan ibu peri untuk pulang
sebelum jam 12, Cinderella menolak keinginan pangeran untuk terus berdansa
dengannya.Alhasil, sepatu kaca miliknya tertinggal. Pangeran yang jatuh hati
dengan Cinderella mencari ke seluruh pelosok negeri untuk mengetahui pemilik
sepatu tersebut. Berkat kesabaran dan kebaikannya, nasib Cinderella berubah. Ia
dapat mencoba sepatu kaca yang memang miliknya lalu menikahi pangeran.
Mereka pun hidup bahagia selamanya.Itulah kisah populer Cinderella yang sering
kita dengar. Kisah tersebut merupakan gubahan Charles Perrault, seorang penulis
Prancis. Lain lagi dengan versi Grimm bersaudara, penulis asal Jerman. Dikisahkan,
saudara tiri Cinderella memotong jari-jari kaki mereka agar kakinya bisa masuk ke
dalam sepatu kaca. Pangeran yang tahu tipu daya mereka menyuruh merpati
mematuki mata mereka hingga buta.Hidup Bahagia Selamanya“Hidup bahagia
selamanya” adalah kata-kata yang kemudian tampak seperti stereotip Cinderella.
Kita tidak mungkin bisa “hidup bahagia selamanya” seperti Cinderella. Begitulah
kata-kata yang kemudian sering kita dengar. Cerita Cinderella telah dituang ke
berbagai jenis buku, seperti buku bergambar dan buku cerita.Ceritanya juga
diadaptasi ke dalam film dengan versi cerita yang berbeda. Ada Ever After yang
diperankan oleh Drew Barrymore hingga Cinderella Story yang diperankan oleh
Hillary Duff. Semua kisah tersebut tetap fokus kepada Cinderella, tetapi dibawakan
dengan gaya yang berbeda. Begitu pula dengan cerita Cinderella dalam bentuk
buku.Ada banyak kisah yang menyerupai Cinderella, baik dalam bentuk buku
maupun film, meskipun sebenarnya tokoh dan ceritanya tidak sejalan dengan kisah
Cinderella yang asli. Di Indonesia, ada beberapa judul buku yang menggunakan
nama Cinderella, seperti Cinderella in Paris (Sari Musdar), Three Days Cinderella
(Agnes Jessica), dan Cinderella in Pink (Dyan Nuranindya).Versi Indonesia
ModernCinderella in Paris disebutkan bukan merupakan Cinderella yang biasa.
“Cinderella” dalam cerita ini adalah Saras. Ia adalah seorang perempuan yang
menginjak usia matang tapi belum mengakhiri masa lajangnya. Karena gerah dicap
perawan tua, ia bertekad mengejar karier. Namun, lama kelamaan ia bosan dengan
perjalanan kariernya. Ia pun memilih menjadi backpacker dan pergi ke Eropa.
Hidupnya kemudian diwarnai masalah. Teman dekatnya justru berubah menjadi
musuh. Di tengah-tengah sakit hatinya, Saras bertemu dengan seorang pria. Buku
Three Days Cinderella lain lagi. Ceritanya berkisah tentang dua orang perempuan,
Andini dan Dianne, yang wajahnya mirip dan bertukar peran. Andini yang
merupakan seorang gadis desa tiba-tiba harus berubah peran menjadi Dianne yang
merupakan sosok wanita kosmopolitan. Namun, penyamaran mereka akhirnya
terbongkar.Buku Cinderella in Pink juga berbeda dengan kisah Cinderella pada
umumnya. Oscar adalah seorang cowok yang malas dan hobi berkelahi, tapi punya
hobi fotografi. Sepulangnya dari Amerika, ia pergi ke Jogja karena mengetahui
banyak tempat indah di sana. Dara, seorang cewek yang cuek dan punya
penampilan ajaib berhasil menarik perhatian Oscar. Oscar mulai mengenal Dara
setelah ia jadi sasaran sepatu dekil milik Dara. Dara kesal karena sepatu
kesayangannya hilang. Dan ia semakin kesal saat Oscar mulai ikut campur segala
urusannya.Nah, kenapa ketiga cerita tersebut menggunakan judul Cinderella?
Sebaiknya Anda cari tahu sendiri.Anda boleh mempublikasikan kembali tulisan di
atas pada website atau blog dengan catatan :
Anda harus mencantumkan sumber tulisan dengan link aktif menuju
www.AnneAhira.comAnda tidak mengubah baik sebagian atau pun keseluruhan
tulisan TERMASUK SEMUA LINK YANG ADA DI DALAM ARTIKEL harus tetap
ada dan aktif.Nama “Anne Ahira” dilindungi oleh Direktorat Jendral HAKI (Hak
Kekayaan Intelektual) Republik Indonesia No.Agenda J00-2007027969

View the original article here


Incoming search terms for the article:
• kisah hidup cinderella yang asli
Tags: Cerpen, Cinderella, Kepopuleran
Posted in Belanja | No Comments »

Cerpen Cinta Pertama: Singkong di Ladang Gersang


November 30th, 2010 |
Anda tentu sudah sering mendengar istilah cerita pendek, bukan? Cerpen adalah sebuah bacaan
singkat, pendek, dan memungkinkan selesai dalam sekali baca. Beragam cerita dapat kita
tuangkan dalam sebuah cerpen, salah satunya adalah cerpen tentang cinta pertama.
Berikut adalah sebuah cerpen tentang cinta pertama yang mungkin bisa menginspirasi Anda
untuk mencoba menulis kisah Anda dalam sebuah cerpen.
Singkong di Ladang Gersang
“Kecil sekali singkongnya,” kataku sedih.
“Kalau menanam sekali lagi, kita pupuk ya,” katanya lembut.
“Pakai pupuk apa?” tanyaku lirih tanpa ada asa yang terbayang.
“Pakai kotoran kelinciku,” jawabnya pasti.
“Hebatkah kotoran kelinci?” tanyaku dengan ketakjuban yang tak kusembunyikan.
“Lihat saja nanti,” jawabnya dengan penuh keoptimisan.
“Aku percaya padamu,” kataku senang.
“Jangan,” katanya.
“Apa maksudmu?” tanyaku heran.
“Kau tak percaya aja dulu. Biar nanti tidak terlalu kecewa,” terangnya tanpa menatapku.
“Aku tak mengerti,” kataku masih dengan nada keheranan.
“Lihat saja dulu buktinya. Kau tak harus terlalu percaya dengan apa yang aku katakan. Nanti
kalau memang apa yang aku ucapkan benar, baru kau boleh percaya padaku,” katanya.
Kali ini dia menatapku. Mata coklat itu membuat aku gugup. Baru pertama kalinya aku menatap
mata coklatnya yang indah. Mata itu begitu berbinar penuh semangat hidup. Aku semakin gugup.
Aku pandangi caranya mencabut singkong. Aku pegangi daun-daun singkong yang sudah
dipetiknya.
Seminggu kemudian dia mendatangiku lagi. Aku membeku. Aku gugup sekali. Serba salah dan
salah tingkah. Aku bingung mengapa aku bisa begini. Rasanya aku belum pernah seperti ini.
“Cinta pertamakah ini?” kataku membatin.
Di siang hari yang panas, aku merasa dingin. Aku hampir tak mendengar kata-katanya yang
menerangkan tentang kotoran kelincinya yang berbau menyengat. Aku bengong menatap dirinya.
Kali ini aku tak berani memandang matanya. Saat dia melirik atau melihatku, aku coba palingkan
wajahku. Hatiku berdekup begitu kencang. Tubuhku terasa melayang. Tak sanggup aku berdiri
atau duduk. Aku seperti nyiur melambai ditiup angin. Bergoyang-goyang ke sana kemari.
“Hamburkan ini,” katanya sambil memberikan sekantong kotoran kelinci. Aku mengambil
kantong itu dengan tangan bergetar.
“Ayo, kita mulai dari sini,” ajaknya.
Aku iringi langkahnya. Aku perhatikan kaki-kakinya yang jenjang. Aku berjalan dalam
bayangannya untuk menghindari panasnya sinar matahari. Aku merasa damai. Hatiku begitu
tenang walau degupan jantungku terus saja bergemuruh.
“Ini urin kelinci,” katanya. “Bagus juga untuk pupuk.” Dalam kegugupanku, kali ini aku tak
sanggup mencium bau urin kelinci yang begitu menyengat.
“Bau sekali,” kataku.
“Ya, tapi bau ini kan membuat singkong kita tumbuh lebih subur,” terangnya sambil tersenyum.
“Benarkah?” kataku tak percaya. Aku mulai berpikir untuk tidak percaya sebelum ada buktinya.
Dia tersenyum. Aku tak mengerti makna senyumannya.
“Kau murid yang cerdas. Kini kau mulai dengan tidak percaya. Aku senang. Mari kita buktikan,”
katanya. Tubuhku terasa semakin enteng bak kapas mendengar pujiannya.
Setiap hari aku pandangi stek-stek singkong yang mulai menyembulkan daun-daunnya yang
hijau. Aku bayangkan kami berdua berjalan bersama di ladang singkong itu sambil bercerita
tentang apa yang akan kami lakukan bila panen nanti.Aku berharap bertemu dengannya. Tapi
sejak penanaman itu, aku tak bertemu lagi dengannya hingga panen tiba.
Singkongnya besar-besar. Tapi aku tak bahagia. Aku senang bahwa kotoran dan urin kelinci
memang hebat. Tapi aku tak menemukan kasihku. Memang tak kupupuk cintaku dengan kotoran
dan urin kelinci. Namun rasanya cintaku tumbuh lebih subur dari singkong-singkong yang kami
tanam.
Aku merasakan lara hati dan jiwa karena cinta pertamaku tertanam kembali ke dalam gundukan
tanah tempatku menancapkan stek-stek singkong berikutnya. Ladang gersang itu kini sudah
subur. Tapi cintaku masih seperti singkong di ladang gersang.
***
Nah, Bagaimana, sudahkah Anda mendapatkan gambaran dari cerpen tersebut? Jika Iya, tunggu
apa lagi? Mulailah menulis cerpen versi Anda sendiri. Selamat mencoba!
Anda boleh mempublikasikan kembali tulisan di atas pada website atau blog
dengan catatan :
Anda harus mencantumkan sumber tulisan dengan link aktif menuju
www.AnneAhira.comAnda tidak mengubah baik sebagian atau pun keseluruhan
tulisan TERMASUK SEMUA LINK YANG ADA DI DALAM ARTIKEL harus tetap
ada dan aktif.Nama “Anne Ahira” dilindungi oleh Direktorat Jendral HAKI (Hak
Kekayaan Intelektual) Republik Indonesia No.Agenda J00-2007027969

View the original article here


Incoming search terms for the article:
• cerpen apa kabar cinta
Tags: Cerpen, Cinta, Gersang, Ladang, Pertama, Singkong
Posted in Belanja | No Comments »

Ruang Cerpen Kompas yang Menjadi Idola


November 27th, 2010 |
Harian Kompas adalah surat kabar ternama yang termasuk beroplah tinggi dan beredar cukup
merata di penjuru tanah air. Sajian berita yang lengkap dan mendalam menjadi andalan harian
yang lahir pada 28 Juni 1965 ini.
Salah satu rubrik tetap yang menarik adalah halaman seni dan hiburan. Di bagian seni
khususnya, ruang cerpen dan puisi seolah menjadi penyeimbang berita-berita yang dinamis
setiap harinya.
Cerpen Kompas
Cerpen Kompas seakan-akan telah dianggap sebagai barometer cerpen koran Indonesia yang
terus tumbuh. I Nyoman Darma Putra dalam kata pengantarnya di Buku Kumpulan Cerpen
Pilihan Kompas 2003 menyebutkan bahwa tak sedikit mahasiswa Australia yang meneliti
tentang cerpen lantas mengambil contoh cerpen yang dimuat di Kompas.
Penyebaran Kompas yang cukup luas di tanah air dan kualitas isinya membuat ruang cerpen
harian ini menjadi salah satu yang diminati pula. Ketertarikan para penulis berlomba-lomba
mengirimkan cerpen ke Kompas membuat seleksi yang terjadi cukup ketat hingga terpilih karya
terbaik layak muat.
Tanpa disadari harian Kompas menjadi semacam “standar” bagi seorang penulis agar karyanya
“diakui”. Meskipun tak berarti karya fiksi di harian lain tak kalah apik dan mengesankan.
Namun, nama besar dan penyebaran Kompas yang tak diragukan lagi membuat asumsi ini terus
berkembang sampai sekarang.
Karakteristik Cerpen Kompas
Cerpen yang dimuat rata-rata mempunyai nilai original, yang membuatnya unik dan berbeda
dengan yang lain. Kebaruan (orisinilitas) ini berlaku pada tema, isi, alur, dan cara bercerita.
Penggunaan kata-kata kasar dan kurang beretika dihindari serta tak menyinggung SARA. Dalam
cerpen-cerpen Kompas bisa ditemukan nuansa lokal dan luar yang sama menariknya.
Antologi Cerpen Kompas
Tahun 1992 Kompas memulai tradisi membuat buku kumpulan cerpen yang pernah dimuat di
media tersebut. Dalam penyusunan buku ini dilakukan proses pemilihan cerpen dari semua
naskah yang pernah dimuat dalam Kompas. Editor dan timnya akan menentukan beberapa
cerpen untuk dimasukkan dalam antologi.
Kriteria pemilihan editor terkadang menuai pro dan kontra, mengingat hal ini sangat terkait
dengan selera editor yang bisa jadi berbeda dengan masyarakat awam. Toh tetap saja kumpulan
cerpen Kompas dinanti sebagai pustaka yang menambah kekayaan khasanah sastra tanah air.
Beberapa judul antologi cerpen Kompas yang telah terbit adalah Anjing-Anjing Menyerbu
Kuburan: Kumpulan Cerpen Pilihan Kompas, dan Ripin : Cerpen Kompas Pilihan 2005-2006.
Para penulis yang karyanya telah dimuat di Kompas antara lain Danarto, Eka Kurniawan, Agus
Noor, Ratna Indraswari Ibrahim, Seno Gumira Ajidarma, Djenar Maesa Ayu, dan lainnya.
Anda boleh mempublikasikan kembali tulisan di atas pada website atau blog
dengan catatan :
Anda harus mencantumkan sumber tulisan dengan link aktif menuju
www.AnneAhira.comAnda tidak mengubah baik sebagian atau pun keseluruhan
tulisan TERMASUK SEMUA LINK YANG ADA DI DALAM ARTIKEL harus tetap
ada dan aktif.Nama “Anne Ahira” dilindungi oleh Direktorat Jendral HAKI (Hak
Kekayaan Intelektual) Republik Indonesia No.Agenda J00-2007027969

View the original article here


Tags: Cerpen, Idola, Kompas, Menjadi, Ruang
Posted in Belanja | No Comments »

Menulis Cerpen Narasi Yuk!


November 22nd, 2010 |
Cerpen Narasi terdiri dari dua kata yaitu cerpen dan narasi. Cerpen merupakan singkatan dari
cerita pendek sehingga beberapa ahli bahasa sering mendefenisikannya sebagai sebuah karangan
yang bisa dibaca sekali duduk. Secara lebih khusus cerpen dapat dicirikan sebagai sebuah
karangan yang memiliki efek tunggal dan fokus pada sebuah konflik.

Pengertian
Sedangkan narasi sering diartikan sebagai cerita. Secara sederhana definisi dari narasi adalah
sebuah karangan yang menceritakan sejelas-jelasnya gambaran dari suatu peristiwa atau konflik.
Oleh karena itu karangan narasi sering kita temukan pada cerpen, novel dan karangan fiksi
lainnya. Namun bukan berarti karangan narasi tidak bisa kita temukan pada karangan non-fiksi.
Karangan nonfiksi seperti memoar, kisah inspiratif dan sejenisnya juga memakai karangan
narasi.
Ada tiga hal yang membangun sebuah karangan narasi yaitu:

1. Berupa cerita atau kisah


2. Unsur pelaku sangat menonjol.
3. Susunan yang sistematis
Jadi cerpen narasi adalah suatu istilah yang timbul kemudian yang menggambarkan bahwa
karangan tersebut adalah menceritakan tentang kisah fiktif yang fokus pada satu konflik dan
tidak terlalu panjang.

Fungsi karangan narasi


Fungsi karangan narasi sangat penting dalam sebuah cerpen. Tanpa karangan ini cerpen akan
terasa garing dan sepi. Karangan narasi membuat kita mampu merasakan kisah dalam sebuah
tulisan. Karangan narasi juga memberikan nilai estetika sehingga tulisan kita terlihat lebih
semarak.

Jenis Karangan narasi


Secara umum karangan narasi ada dua jenis yaitu:
1. Narasi ekspositorik (narasi teknis)
Yaitu sebuah narasi yang tersusun atas fakta dan data-data yang sebenarnya. Disusun dengan
gaya bahasa yang logis berdasarkan fakta, tidak memasukkan unsur sugesti didalamnya dan
harus objektif. Tokoh yang ditonjolkan biasanya hanya satu orang. Narasi jenis ini biasanya
banyak ditemukan pada tulisan nonfiksi seperti autobiografi, kisah inspiratif dan sebagainya.
2. Narasi sugestif
Yaitu ada nilai sugesti atau nilai terselubung yang disisipkan dalam karangan tersebut. Disini
pengarang mencoba menyampaikan pesan-pesan melalui kisah-kisah indah yang dirangkaikan
lewat kata-kata. Biasanya kita temukan pada cerita-cerita fiksi seperti cerpen narasi, novel,
novelet dan sejenisnya.
Langkah praktis menyusun cerpen narasi
Setiap penulis memiliki cara-cara tersendiri dalam membuat sebuah cerpen narasi. Kadang ada
yang memulai dari satu tokoh, ada juga yang menyusun ending terlebih dahulu baru menyusun
konflik dan sebagainya. Semua itu sah-sah saja, tergantung dimana kita merasa enjoy untuk
memulai menulis.

Namun secara sederhana dapat diuraikan sebagai berikut:


1. Menentukan sebuah tema yang menarik dan unik.
Terlebih dahulu tentukan tema apa yang akan diangkat menjadi sebuah cerpen narasi yang
memikat. Temukan tema yang unik dari pengalaman pribadi atau orang lain. Atau bisa juga dari
bacaan, tontonan atau hal-hal lain yang mengusik imajinasi kita.
2. Tetapkan pembaca sasaran.
Hal ini bermanfaat nantinya untuk memfokuskan jalan cerita dan gaya bahasa yang dipakai
dalam menulis sebuah cerpen narasi. Selain itu juga bermanfaat untuk menentukan nilai sugestif
apa yang mau diselipkan dalam cerita ini nantinya.
3. Tetapkan tokoh, perwatakan, latar dan sudut pandang.
Empat hal ini nantinya akan berperan penting dalam menciptakan konflik dalam sebuah cerpen
narasi. Semakin unik watak tokoh dan latar yang diciptakan maka konflik yang bisa dirancang
akan semakin menarik.
4. Susun konflik dan alur cerita.
Konflik merupakan nyawa dalam sebuah cerpen narasi. Cerita tidak akan hidup tanpa konflik
yang unik.
5. Gambarkan peristiwa-peristiwa utama.
Peristiwa adalah penjabaran dari konflik dalam sebuah cerita. Tetapkan sebuah peristiwa utama
yang akan terjadi dalam cerpen narasi tersebut.

Ini adalah langkah sistematis yang bisa ditempuh dalam menyusun sebuah cerpen narasi. Namun
untuk menulis yang diperlukan hanyalah tindakan memproduksi kata-kata. Bukan mengurutkan
setiap langkah-langkah. Jadi segeralah menulis dari langkah manapun yang dianggap paling
mudah. Abaikan urutan langkah di atas jika hal itu membuat kita semakin sulit untuk mulai
menulis.
Anda boleh mempublikasikan kembali tulisan di atas pada website atau blog
dengan catatan :
Anda harus mencantumkan sumber tulisan dengan link aktif menuju
www.AnneAhira.comAnda tidak mengubah baik sebagian atau pun keseluruhan
tulisan TERMASUK SEMUA LINK YANG ADA DI DALAM ARTIKEL harus tetap
ada dan aktif.Nama “Anne Ahira” dilindungi oleh Direktorat Jendral HAKI (Hak
Kekayaan Intelektual) Republik Indonesia No.Agenda J00-2007027969

View the original article here


Incoming search terms for the article:
• contoh karangan narasi
• fungsi dari konflik dalam sebuah cerita
• fungsi konflik dalam cerita
• Pengertian konflik & fungsi konflik dalam sebuah cerpen
Tags: Cerpen, Menulis, Narasi
Posted in Belanja | No Comments »

Cerpen Jepang, Pendek tapi Mengena


November 21st, 2010 |
Berbicara soal sastra, berarti kita bicara soal budaya. Karena, karya sastra tercipta dari sebuah
cerminan budaya setempat. Salah satu karya sastra adalah cerpen. Cerpen adalah sebuah cerita
pendek dari satu atau dua alur saja. Yang terdiri dari kisah tokoh utama yang mengalami satu
konflik utama.
Biasanya, sebuah cerpen terdiri atas 500 kata sampai dengan 1000 kata. Kadang, cerpen yang
dimuat di media cetak terbatas oleh kolom sehing sebuah cerpen harus dibatasi agar tidak terlalu
panjang. Cerpen yang dibuat di media cetak biasanya maksimal 750 kata saja.
Cerpen Jepang
Bicara soal cerpen, kali ini kita akan membahas mengenai cerpen Jepang. Cerpen Jepang
biasanya sangat diwarnai budaya lokal yang mereka miliki. Jepang itu sangat mencintai
budayanya dan sangat posesif terhadap apa yang menjadi miliknya. Cerpen-cerpen Jepang
biasanya bermain dalam karakter tokoh.
Mereka cenderung kuat dalam membangun sebuah penokohan dalam cerita. Contoh yang bisa
kita ambil adalah Tokoh Musasi karya Eiji Yoshikawa, memang ini adalah sebuah novel, namun
kita dapat menganilis tokoh yang dibangun dalam novelnya adalah memang seorang samurai
sejati dengan latar budaya Jepang yang sangat kuat.
Untuk menemukan cerpen-cerpen Jepang yang bisa dianalisis dengan mudah, kita bisa
mencarinya pada sebuah situs khusus cerpen Jepang, www.tanpen.jp. Dalam situs tersebut
termuat cerpen-cerpen yang sangat singkat. Cerpen-cerpen yang dibuat maksimal 1000 huruf
saja, bahkan ada yang 200 huruf. Namun, jumlah kata yang sangat terbatas itu tidak membuat
cerpen-cerpen dalam situs tersebut menjadi hambar akan ide dan karakter.
Tokoh dan penokohannya tetap berkarakter. Latar cerita pun tetap kuat dengan kebudayaan
Jepang yang kuat. Meskipun kumpulan cerpen situs ini sangat terbatas oleh kosa kata, pengarang
jepang tetap kuat dalam membangun metafora yang indah. Kebanyakan cerpen-cerpen Jepang
bicara soal tema-tema psikologis. Orang-orang yang penuh dengan paradoks yang hidup dalam
dunia imajiner. Orang-orang kesepian yang merindukan kebebasan. Kesadisan dan kengeringan
sering kali tergambar dalam karya sastra Jepang dengan cara yang paling sinis ketika
disampaikan pada pembaca.
Untuk membuka lebih lanjut tentang cerpen-cerpen Jepang, Anda bisa mengunjungi
yumeko.web.id. atau plza.rakuten.co.id atau top-pdf.com/kumpulan-cerpen-jepang Dalam web
tersebut dibahas mengenai cerpen-cerpen Jepang baik dengan tinjuan semiotik atau sosiologi
sastra.
Selamat membaca dan menyelami cerpen!
Anda boleh mempublikasikan kembali tulisan di atas pada website atau blog
dengan catatan :
Anda harus mencantumkan sumber tulisan dengan link aktif menuju
www.AnneAhira.comAnda tidak mengubah baik sebagian atau pun keseluruhan
tulisan TERMASUK SEMUA LINK YANG ADA DI DALAM ARTIKEL harus tetap
ada dan aktif.Nama “Anne Ahira” dilindungi oleh Direktorat Jendral HAKI (Hak
Kekayaan Intelektual) Republik Indonesia No.Agenda J00-2007027969

View the original article here


Tags: Cerpen, Jepang, Mengena, Pendek

Posted in Belanja | No Comments »

Buku Cerpen = Buku Antologi Cerpen


November 21st, 2010 |
Bila Anda penggemar cerpen, tidak ada salahnya membeli buku cerpen untuk menjadi koleksi
Anda. Cerpen adalah singkatan dari cerita pendek. Sesuai dengan namanya, cerpen biasanya
mempunyai durasi halaman dari 5 sampai 12 halaman ukuran kertas A4 dengan spasi 1,5.
Ciri-ciri cerpen adalah bisa dibaca dalam sekali duduk, mengandung konflik yang padat dan
memberi pesan positif kepada pembacanya.
Buku cerpen adalah sebutan populer bagi orang yang awam dalam dunia kepenulisan dan
perbukuan. Istilah yang tepat untuk buku cerpen adalah buku antologi cerpen. Antologi adalah
kumpulan. Jadi antologi cerpen adalah kumpulan cerpen. Entah itu kumpulan cerpen pribadi atau
kumpulan cerpen bersama.
Saat ini penerbit kurang mau menerbitkan buku cerpen, pasalnya di pasaran, buku cerpen kurang
laku untuk dijual. Padahal masih banyak pelajar, mahasiswa atau khalayak umum yang masih
membutuhkan buku cerpen. Keberadaan buku cerpen sangat berguna bagi masyarakat.
Contoh sederhana saja, di sekolah anak didik diharuskan untuk bisa meresensi sebuah cerpen
atau membuat cerpen sebagai tugas bahasa Indonesia. Tetapi betapa sulitnya mereka menemukan
referensi cerpen yang berkualitas. Dan tidak semua anak didik mampu membeli majalah atau
Koran demi sebuah cerpen. Oleh karena itu keberadaan buku cerpen sangat berarti.
Bila sembilan anak didik patungan untuk membeli sebuah buku cerpen, tentu beban mereka akan
lebih ringan ketimbang membeli sebuah majalah yang hanya memuat satu buah cerpen saja.
Karena biasanya di dalam buku cerpen ada 9 atau 10 cerpen dengan judul berbeda-beda. Jadi
setiap anak didik dapat meresensi satu cerpen dari buku itu.
Membuat Buku Cerpen Bersama-Sama
Bila Anda adalah suka menulis cerpen, pecinta buku atau pecinta cerpen, tentu Anda ingin agar
kuantitas dan kualitas cerpen dalam dunia sastra Indonesia tidak menjadi surut. Salah satu cara
untuk tetap mempertahankan kualitas dan kuantitas cerpen bersama-sama adalah dengan cara
membuat buku cerpen indie.
Membuat buku cerpen indie berarti mengumpulkan naskah sendiri, mengedit sendiri, melay-out
sendiri, mendesain cover sendiri, mencetak buku sendiri dan bahkan memasarkannya pun
sendiri.
Tentu saja karena dicetak secara indie maka biaya pun sendiri. Tetapi bila di dalam satu buku
cerpen itu ada 15 penulis maka ke-15 penulis itu bisa saling patungan untuk biaya mencetak
buku. Niscaya dengan semakin banyaknya bermunculan buku cerpen-buku cerpen yang
diterbitkan secara indie ataupun diterbitkan oleh penerbit, maka keberadaan buku cerpen dalam
dunia sastra pun akan terus tumbuh dan diakui oleh masyarakat.
Tetapi kini sudah ada juga bermunculan majalah-majalah baru yang khusus memuat cerpen-
cerpen. Majalah-majalah khusus cerpen ini harus kita dukung demi perkembangan literasi kita.
Semoga kelak, nasib buku cerpen akan kembali lagi menjadi primadona. Menjadi buku yang
dicari-cari dan best seller di toko buku. Karena dengan semakin sedikitnya buku cerpen yang
terbit maka semakin sedikit juga buku cerpen yang mengalami cetak ulang dan best seller.
Anda boleh mempublikasikan kembali tulisan di atas pada website atau blog
dengan catatan :
Anda harus mencantumkan sumber tulisan dengan link aktif menuju
www.AnneAhira.comAnda tidak mengubah baik sebagian atau pun keseluruhan
tulisan TERMASUK SEMUA LINK YANG ADA DI DALAM ARTIKEL harus tetap
ada dan aktif.Nama “Anne Ahira” dilindungi oleh Direktorat Jendral HAKI (Hak
Kekayaan Intelektual) Republik Indonesia No.Agenda J00-2007027969

View the original article here


Incoming search terms for the article:
• antologi cerpen anak
Tags: Antologi, Cerpen
Posted in Hobi | No Comments »

Berburu Buku Cerpen Novel


November 15th, 2010 |
Seringkali saat hendak membeli buku cerpen novel, kita terjebak oleh covernya. Misalnya, saat
menemukan buku kumpulan cerpen, dengan cover dan endorsmentnya bagus, ternyata terasa
biasa-biasa saja saat kita membaca isinya. Bahkan novel dengan cap ‘Best Seller’ dan dipajang
di rak buku laris, tidak menjamin isinya bagus, keren dan mendidik.
Seringkali kita mendapati novel remaja yang isinya terlalu vulgar, konflik hanya berputar-putar
di masalah cinta. Tentu cerita seperti ini tidak baik jika dibaca terlalu sering oleh remaja.
Terkadang ada juga sampul buku kumpulan cerpen yang misterius dan agak vulgar, tetapi isinya
ternyata mendidik. Jadi, bagaimana, sih, memilih buku cerpen novel, yang covernya oke, isinya
juga oke?
Tips Pencarian Buku Cerpen Novel
Agar tidak kecewa dengan buku yang dibeli, ada baiknya Anda mengikuti tips di bawah ini:
Cover memang menjadi pemikat pertama dalam memilih novel. Tapi, ingat pepatah
lama, “don’t jugde the book by it’s cover”. Jangan melihat buku dari sampul luarnya
saja. Terkadang sampul yang sederhana dan tidak menarik justru menyimpan isi
cerita yang fantastis.Jangan malas untuk membaca sinopsis buku cerpen novel
yang hendak Anda beli. Biasanya sinopsis ada di bagian belakang buku. Bila tidak
ada, Anda tinggal menggunakan fasilitas Google untuk mencari sinopsis buku yang
diincar. Selain itu, cek juga pendapat-pendapat orang tentang buku itu. Bukan
endorsement yang ada di sampul, melainkan pendapat pembaca umum. Apabila
penulis buku cerpen novel incaran sudah sering Anda baca karyanya, tidak perlu
lagi meragukan isi ceritanya. Namun, jika si penulis favorit Anda menulis buku
kumpulan cerpen secara keroyokan, perlu dibaca kembali ulasannya. Hal ini
dilakukan untuk mengantisipasi, seandainya hanya cerita penulis favorit Anda saja
yang keren.Memilih buku cerpen novel tidak harus mencari buku yang best seller.
Bila ingin membaca cerpen novel dengan genre-genre yang agak unik, Anda bisa
memulai pencarian dari rak paling bawah atau paling tersembunyi. Biasanya cerita
yang unik dan melenceng dari pasar, selalu tidak laku. Namun, perlu dicatat bahwa
tidak laku bukan berarti ceritanya jelek. Lihat siapa penerbitnya. Biasanya ada
penerbit yang selalu menerbitkan cerita dengan gaya yang sama. Misal penerbit A
selalu menceritakan cerita gokil, penerbit B selalu memasukkan unsur seks dalam
setiap ceritanya, penerbit C khusus menerbitkan buku islami, dan lain sebagainya.
Lihat tebal tipisnya buku cerpen novel yang kita inginkan. Bila buku novel tebal,
biasanya ceritanya lebih panjang dan lebih asyik untuk dinikmati. Tetapi bukan
berarti novel yang tipis isinya jelek. Lihat harganya. Apabila ingin mencari buku
cerpen novel yang berkualitas dan haus akan bacaan bermutu, maka Anda tetap
harus menyiapkan budget yang sesuai. Karena buku dengan bacaan bermutu dan
bagus, biasanya agak sedikit mahal. Apalagi bila bukunya termasuk best seller atau
hard cover.

Sekarang, saatnya berburu buku cerpen novel yang bermutu ke toko buku. Bila Anda ingin
membeli buku asli di bawah harga pasaran, tunggu saja book fair. Di sana Anda bisa
mendapatkan aneka buku cerpen novel dengan berbagai macam harga. Tapi ingat, pastikan buku
apa yang Anda incar. Selamat membaca.
Anda boleh mempublikasikan kembali tulisan di atas pada website atau blog
dengan catatan :
Anda harus mencantumkan sumber tulisan dengan link aktif menuju
www.AnneAhira.comAnda tidak mengubah baik sebagian atau pun keseluruhan
tulisan TERMASUK SEMUA LINK YANG ADA DI DALAM ARTIKEL harus tetap
ada dan aktif.Nama “Anne Ahira” dilindungi oleh Direktorat Jendral HAKI (Hak
Kekayaan Intelektual) Republik Indonesia No.Agenda J00-2007027969

View the original article here


Incoming search terms for the article:
• buku cerpen
• cerpen dengan genre yang sama
• Cerpen remaja vulgar
• cerpen sinopsis yang ada penerbit dan pengarang
• semua novel remaja tebal yang sinopsisnya panjang
Tags: Berburu, Cerpen, Novel
Posted in Belanja | No Comments »
• Tentang Kami
• Sejarah Kami
• Dewan Redaksi
• Hubungi Kami
○ Download
 Blackberry Launcher
Cerpen: Tubuh yang Bersekutu
8Jul2008 Filed under: Cerpen Author: admin
Visited 470 times, 2 so far today

Tubuh yang Bersekutu


Oleh: Raudal Tanjung Banua
Dimuat di harian Koran Tempo, 27 Juni 2004
PADA hari kedelapan kepulangan Nalan, jenjang rumah gadang itu perlahan sepi dari langkah
kaki mereka yang datang bertandang. Kini, satu-satunya yang dinanti Nalan dengan dada
berdebar adalah detak kaki seseorang (kadang dari arah tak biasa) yang iramanya mulai ia hafal.
Pelan, penuh perasaan, dan sesekali terhenti entah pada anak tangga ke berapa – pertanda si
empunya langkah juga tak kalah berdebar – meski ia berhasil luput dari sergapan sepasang mata,
di beranda.
Di kamarnya, Nalan menduga-duga adalah yang dinanti bakal tiba. Tapi hanya gedesau angin
lewat di jendela, lalu berpusing di runcing bubungan rumah. Atau suara kumbang, nyaring
menggirik dinding papan seakan hendak merobohkan, sedikit demi sedikit, kekokohan rumah
gadang – lambang kebesaran masa silam. Jauh di luar, di padang-padang kebun kelapa, tak kalah
nyaring suara genta, ayunan leher sapi-sapi berpunuk; sedikit irama yang tersisa dari masa jaya
kakek-neneknya. Selebihnya, kejayaan yang terpuruk; kakeknya sendiri sudah lama bernisan di
halaman belakang, di antara pohon langsat dan batang pinang.

Tinggal Sang Nenek, perempuan lantang dan taat, tak hendak memakai tongkat. Nenek yang
selalu duduk di beranda, mengunyah sirih, atau berdendang sendirian. Memandang sisa-sisa
kebun kelapa yang menua, sapi tinggal tak seberapa, belukar pandan yang tak teranyam.
Sepasang mata tuanya yang kelabu masih cermat melihat setiap tamu atau orang yang mendekat.
Begitulah caranya memelihara rasa berkuasa. Sejak dahulu: jauh ketika Nalan masih remaja
tanggung di kampung. Setiap kawan Nalan datang, sang Nenek tak langsung mengizinkan
bertemu, sampai selesai bertanya ini-itu: dari mana hendak ke mana, apa urusan dengang sang
cucu. Dan bila yang datang anak perempuan, mungkin kawan satu sekolah dengan Nalan atau
gadis kampung, Nenek akan marah. Padahal, banyak gadis menyenangi Nalan (salah satunya
Muna; Nalan pun menyenanginya).
“He, sudah terbalik zaman sekarang rupanya; anak gadis mencari anak laki. Apa patut kau
mencari cucuku?! Pergilah, nanti belajarnya terganggu. Dasar tak tahu diri!” Itu semisal kalimat
yang kerap terucap, kepada Muna, kepada siapa saja; membuat mereka tak berdaya. Sedang
kepada Nalan ia selalu berkata, “Tak pantas engkau berkarib dengan perempuan; itu terang
melanggar adat dan aturan. Baiknya, selagi menjaga diri, kau jagalah cita-citamu; sekolahmu
musti tinggi, hingga ke seberang tak apa. Nenek ikhlas kau tinggalkan!” Seperti Muna yang
diberi kata-kata, Nalan pun memendam kecewa sebenarnya.
Tahu sikap itu belum hilang, maka seseorang – yang ditunggu Nalan – memilih selalu datang
pada saat Nenek tak di rumah. Atau tengah malam, mengendap dalam gelap, dari arah yang tak
biasa. Pintu dapur!
***
SEMUA sudah diatur. Sejak hari pertama kepulangan Nalan, Paman Umang – yang mengurus
kebun dan sapi – sudah paham apa yang harus dilakukannya. Ia menawarkan, “Kau pasti lelah
dalam perjalanan, Nalan. Bagaimana kalau Paman carikan tukang pijat?”
Nalan tak menolak. “Terima kasih, Paman. Tapi mungkin nanti malam saja.”
“Mmm, sebaiknya sekarang, Nalan, selagi Nenek sibuk menyiapkan kenduri kepulanganmu.
Nah, sebelum itu, tubuhmu mesti dipijat dulu, agar selamat lahir-batin, hahaha…,” laki-laki yang
mulai beruban itu terpingkal. Tanpa buang waktu, ia bergegas menjemput si tukang pijat.
Nalan menatap punggung Paman Umang yang kurus membungkuk. Dan seperti biasa, ia kembali
membayangkan Paman Umang sebagai Si Malanca – sosok dalam cerita kanaknya – yang
mengundang gelak tawa, namun terkadang sukar diduga. Begitulah Sang Paman. Tak jarang
misalnya, di saat gembira, ia termenung tiba-tiba. Atau duduk di tubir jenjang, dengan mata
menerawang. Nalan tahu penyebabnya; si Nenek suka memberinya kata-kata. Terlambat
mengeluarkan sapi di kandang, Nenek dengan enteng – dan lantang – bilang, “Dasar pemalas,
tak tahu diuntung; syukur-syukur sudah ditampung!” Bila Hari Raya, ia meminta uang buat
anak-istrinya (yang tinggal di seberang sungai) Nenek menceramahinya. “Tak guna baju baru
dan lamang-tapai (1). Yang penting ibadahmu, Buyung; sedang kau puasa pun tidak!”
Nalan juga tahu, kepada Paman, Nenek suka membanggakannya. “Lihat, ia sukses di rantau;
punya gelar dan selalu berkirim uang. Dan kau tukang menghabiskan!” Nalan paham itu
menyakitkan, ah memuakkan! Meskin konon, pernah Paman berbalas kata, “Ya, cucu Mak
sukses punya segalanya; tak tidak seorang istri!” Membayangkan ceritanya – disampaikan Etek
Talimah dengan upaya seperti aslinya – Nalan menduga Nenek berpantang kalah. Dan benar. Si
Etek, yang tak lain adik kandung ayah Nalan, fasih benar menirukan Nenek, “Apa katamu! Tak
sembarang cucuku meminang orang, tidak seperti kau: punya istri, ayahnya penjudi! Kau juga
penjudi! Lengkap sudah!” Memang, Paman hanyalah anak pungut – meski masih saudara jauh –
yang ditampung Nenek sejak di masa jaya.
Ah, hidup Paman tak berubah. Tapi pahit hidup tak menjauhkannya dari gelak-tawa; ada saja
bahan, dari pantun gembira, sampai petatah-petitih yang dibengkokkannya. “Hei berakit-rakit tak
sampai hulu, berenang-renang tak sampai tepi; begitulah nasib diriku, nasib banyak lelaki; lama
berenang, tak senang-senang, eh, akhirnya karam sendiri!” begitu katanya berumpama. Lumayan
menghibur, terlebih Paman punya perhatian kepada Nalan. Terbukti, sehari datang, langsung
dicarikan tukang pijat.
Dan ternyata tukang pijak itu Ginjam, kawan lama Nalan yang hubungan mereka pernah sangat
mendalam! Paman cepat mempertemukan mereka sebelum nama Ginjam sempat ditanyakan
Nalan. Ah, ia mengerti belaka hubunga mereka, lebih dari yang diduga.
“Ada berkabar kau pulang, tapi aku ragu datang. Maklum Nenek Guru belum berubah padaku.
Untung Paman mempertemukan kita, walau diam-diam,” kata Ginjam setelah lama saling diam.
Tahulah Nalan mengapa Ginjam mesti dijemput selagi neneknya tak di rumah: bukankah Ginjam
murid mengaji yang dulu tak disukai Nenek? Itu berlanjut sampai remaja, karena Ginjam
dianggap suka berbuat onar. Dan nyatanya sampai sekarang, rasa benci itu tak kunjung hilang.
Entah mengapa.
Nalan seakan tak kuasa menatap Ginjam, kawan yang sudah lama berpisah badan. Selain tambah
hitam, tak banyak yang berubah padanya – ia tahu dari mencuri pandang. “Kau tambah hitam
saja sekarang,” kata Nalan, lalu menyesal.
Untunglah Ginjam tertawa menanggapi. “Tentu saja, Kawan; dari dulu kerjaku tak berubah,
hilir-mudik dari pematang ke pematang, mencari upah. Kau tahu, matahari di kampung kita
tambah garang saja, hahahahaha….”
“Tapi kau sering memijat orang,” potong Nalan, sambil membayangkan tubuh lelaki (tentu, tak
mungkin perempuan) telungkup-telentang di ranjang, menikmati jari-jari Ginjam yang jantang
(2). “Mengapa harus memijat?” tanyanya dengan nada ganjil, seperti menguji, seperti nyeri di
hati.
“Maksudmu, mengapa aku menjadi tukang pijat?”
Ah, Ginjam tak mengerti! Jarak dan waktu, agaknya membuatnya tak lagi mudah memahami
maksud kawan sendiri. “Ya, dari mana kau belajar memijat?” kata Nalan akhirnya.
Ginjam tertawa lagi. “Kau lupa? Kakekku tak hanya pandai bakaba atau bercerita, bukan?”
O, giliran Nalan merasa bodoh! Ia bagai terpukul benda tumpul. Bagaimana ia bisa lupa?
Bukankah kakek Ginjam pernah menjadi bagian hidupnya di kampung, dengan ceritanya yang
liar? Dan si Kakek,
di samping sebagai parewa (3) dan tukang cerita, juga dikenal sebagai “dukun patah”. Nalan
terdiam mengenangnya. Terpaksa Ginjam yang kembali buka suara, tanpa pertimbangan. “Eh,
kau lebih putih, Nalan, meski agak pucat kulihat.”
Nalan terguncang. “Ah, kurasa tidak, kurasa malah kian hitam.”
“Yang jelas, lebih kurus.”
“Karena rantau meminta terlalu banyak,” hampir saja Nalan terisak.
Ginjam terpana, tapi tak mau larut dalam sentimentil itu. Nalan pun begitu. Maka dengan
sebentuk kegeraman, ia merenggut pakaiannya, seperti hendak menuntaskan persoalan badan.
Tak ada waktu untuk bermain perasaan sekarang, karena dengan sarung dan punggung terbuka,
tubuhnya telah telungkup di ranjang! Bagai tak sempat berkedip, seketika itu juga Ginjam mesti
melaksanakan tugasnya memijat, tidak yang lain! Tidak bercerita, bahkan tidak melepas rindu!
Barulah setelah semuanya selesai, Ginjam berkata – antara kiasan dan harfiah, “Badanmu terlalu
lelah, mungkin tak cukup sekali dua kupijatkan.”
“Ya, aku lelah,” jawab Nalan tertekan. Tak ingin kembali sentimentil, ia pun bicara lugas,
manwarkan cara bertemu, “Seringlah kemari, biar lelahku cepat hilang. Kau bisa datang saat
nenek pergi atau dari pintu belakang seperti diatur Paman Umang.”
Rasanya semua bakal tenang. Meski Paman tukang ngoceh, tapi pasti paham keganjilan. Sejak
itu, tanpa ragu, Ginjam datang berulang. Nalan pun pasrah menyerahkan seluruh tubuh, kadang
melebihi pijat sebatang badang. Balsem dan minyak yang biasanya jadi pelicin saat memijat,
kemudian berganti cream atau body lotion. Aromanya! Mengapungkan mereka ke langit-langit
kamar, bersama gairah dan kenangan.
***
SEKARANG pun Nalan terapung dalam kenangan, sambil menunggu Ginjam, si tukang pijat
yang memberinya gairah pertemuan. Ia menginginkan tangga kayu itu segera berdetak-berirama.
Pelan, seakan ragu, lalu muncullah wajah itu dari balik pintu. Tersenyum, memancarkan
harapan. Selalu begitu. Dan begitulah Nalan merasakan cahaya hidup terbangkitkan.
Tanpa dia yang datang, sungguh, hari terasa lebih panjang. Dan lengang. Tapi Nalan tak hendak
bertandang ke tetangga kiri-kanan. Sebab rindu telah terlunaskan. Bertahun-tahun hidup
merantau, menanggung beban rindu, ternyata terbayar oleh sebuah kepulangan. Ah, kalau tahu
begini adat merindu, tentu masih bisa Nalan bertahan, tak hendak tergesa melabuhkan, kepada
Nenek sekali pun! Meski sesungguhnya, bukan, bukan rindu itu benar yang memaskanya pulang!
Kenangan mengapungkan ingatan. Ia teringat saat langkahnya terbata berat di tangga ke pesawat.
Detak ujung sepatu terasa bagai detak jantungnya. Dan langkah penumpang lain yang bergegas
adalah waktu yagn memburu. Ia tak berdaya, bahkan untuk sekadar melambai atau mengucapkan
selamat tinggal, karena sesungguhnya, dialah yang ditinggalkan!
Tidak, tidak! (Kini dan di sini, Nalan berontak, bercakap dengan diri): Akulah yang
meninggalkan semuanya – lebih dari urusan perantauan – ketika sepotong kalimat sakit
bergetar pelan di bibir seorang relawan, seorang dokter. Setelah itu, memang seorang demi
seorang kawan pergi. Juga Hans. Tapi tidak! (Tegas Nalan menolak) Akulah yang secara sadar
meninggalkannya. Memintanya pergi sebelum aku sendiri mengucapkan kata pulang. Dan aku
terdampar di kampung sekarang. Tak seorang pun tahu apa yang tersembunyi di balik
kepulanganku ini. Bahkan Ginjam, kawan lamaku yang setia memijatkan badan, belum lagi
tahu. Padahal, dari gairah dan sorot mataa, sudah kuduga, suatu ketika ia akan melakukan
lebih dari yang ada. (Bimbang Nalan menimbang): Namun, bagaimana menjelaskannya?
Bagaimana cara menolak kalau pertemuan ini kelak mencapai puncak, melebihi perhatian yang
selama ini kuterima? Ia pasti meminta lebih, tak sekadar mesra di kulit tubuh, tapi jauh
menyelami tubuh, seperti dahulu! Sedang aku tak mau lagi mendengar kalimat sakit itu. Cukup
satu kali. Untukku. Tak ingin aku mendengar dua kali. Apalagi untuknya. (Memang, Nalan
punya jalan, tapi bukan tanpa risiko): Aku bisa saja berterus terang, berbagi dari hati terdalam,
lalu menawarkan cara bersetia yang aman. Namun siapa menjamin Gindam tidak mevonisku
sebagai orang yang lancang. Dan itu sama saja dengan kehilangan…
Tiba-tiba anak tangga berdetak, Nalan tersentak dari kenangan. Dadanya berdebar kencang.
Namun bukan langkah yang ia hafal! Sesak dan kecewa, ia keluar dari kamar dan mendapatkan
Nenek di langkan. Sejenak mereka saling tatap; pertemuan dua pasang mata yang sama redup
cahayanya. “Kau tambah kurus Nenek pandangi,” kata Nenek sedih.
Nalan tersenyum, walau retak. “Tidak Nek, sejak dari rantau, begini saja tubuhku.”
“Kalau begitu, rantau yang mengambil tubuhmu diam-diam. Tapi Nenek tak menyesal; rantau
memberimu banyak. Cuma, mengapa engaku pulang seperti rusuh?”
Nalan gelagapan. “Aku hanya lelah, Nek… perjalananku begitu jauh!”
“Tapi bahkan kau tak mau makan. Tak kau sentuh palai bala (4) kesukaanmu. Itu ibumu yang
membuatkan, diantar adikmu dari Marapalam.”
“Baiklah Nek, saya makan sekarang.” Sebisanya Nalan memaksakan diri. Bagaimana pun, dia
tak ingin mengecewakan Nenek. Tahu, perempuan itu kelewat menyayanginya. Semenjak kecil
Nenek merawatnya. Ketika itu orangtua Nalan memutuskan tinggal di ladang, konon, tak tahan
dengan sikap Nenek yang kaku – sampai sekarang, di mana ladang telah menjadi perkampungan
di Bukit Marapalam. Memang, Nenek tak mengizinkan Nalan dibawa serta. Alasannya, tak ingin
pendidikan cucu kesayangannya terganggu karena jarak ladang dan sekolah cukup jauh. Dan
lebih dari itu, Nenek tak ingin kegiatan mengaji Nalan terputus di tengah jalan. Apalagi Nenek
seorang guru mengaji yang dikenal taat dan keras dalam mengajar.
Maka hidup bersama Nenek berarti hidup penuh aturan yang berpantang dilanggar. Pagi sekolah,
malam mengaji. Mandi tak boleh di tepian, sekalipun di tepi-tepi. Air pancuran lebih suci,
katnaya, sembari mencemaskan Nalan terseret arus. Ketika Nalan tetap melanggar, Nenek
menghajarnya dengan pecut rotan. Tentu sambil menyingkap alasan yang sebenarnya, “Sudah
awak bilang, jangan ke tepian! Itu seburuk-buruk tempat dalam kampung, Buyung; tempat aurat
kerap tersingkap dari perempuan mandi telanjang! Lagi pula, siapa menjamin airnya bersih kalau
setiap pekan orang berburu babi (5) di hutan-hutan arah hulu?”
Begitulah cara Nenek berkasih-sayang, meski berat begi Nalan. Masa kanak dan remajanya
terasa karam. Tentu, karena Nalan tak bisa berenang. Padahal siapa tak kenal Kampung Kayu
Gadang? Kalau tidak dari kulit mereka yang terbakar sinar matahari (karena mesti membantu
orangtua di sawah-ladang), ya, dari kelincahan mereka berenang. Inilah yang menjadi penanda
dan pujian. Dan Nalan tak bisa berenang, kulit bersih tak pernah ke ladang (meski orangtuanya
tinggal di ladang). Ia merasa ada yang hilang, tak tertebus sampai sekarang. Bagaimanakah
menebus rasa malu dari masa lalu, hanya karena ia tak bisa mencangkul, misalnya? Itu terjadi
saat gotong royong di sekolah. “Aneh, ada anak Kampung Kayu Gadang tak bisa mencangkul,”
kata Pak Guru Bursal, dan kawan-kawan Nalan tertawa. Hanya Muna yang tidak. Walau terasa
lebih buruk sebetulnya. Tapi kalau ada yang perlu disyukuri dari masa lalunya, mungkin karena
Nalan pandai mengaji. Suaranya merdu dan sudah khatam. Namun sungguh sayang, itu tak
pernah jadi ukuran. Malah jadi penanda yang menyakitkan. Ketiak ada acara Maulud Nabi di
sekolah dan dibuka Nalan denagn membaca Al-Quran, ada saja lontaran yang tak enak didengar.
“Pintar sekali di amengaji. Kok ada ya, anak Kampung Kayu Gadang bisa begitu?” kata seorang
guru.

/>“Wah, itu lewat pembibitan khusus, Pak,” jawab yang lain, sambil tersenyum penuh arti,
seolah hanya mereka yang mengerti. Padahal Nalan juga mengerti karena ungkapan semacam itu
sering dialamatkan ke Kampung Kayu Gadang yang dianggap kampung tertinggal, banyak judi,
dan masih melanggengkan sabung ayam. Di tengah situasi itulah Nenek setia mengajar anak-
anak mengaji.
***
PADA malam tertentu sehabis mengaji, di antara keluh kesahnya pada dunia, Nenek akan
menyampaikan kisah-kisah. Tentang sorga dan neraka. Para nabi dan orang suci. Segala yang
fana dan abadi. Lidi di tangan kiri, kepala Nalan direbahkan di tangan kanan; itu kebiasaan
Nenek saat berkisah. Membuat anak-anak takzim menyimak, tapi yang iri tak kalah banyak.
Salah satunya Ginjam, yang ibunya sudah meninggal dan ayahnya menikah lagi.
Ginjam tinggal bersama neneknya pula, tapi miskin dan tidak peduli kepadanya. Sedang
kakeknya seorang parewa yang menghabiskan hari ke lepau kopi. Kepandaian kakeknya memijat
orang terkilir dan yang patah – ya, “si dukun patah” – kurang berguna, karena ia lebih suka
bercerita. “Suruh pulang saja dulu, aku sedang berada di puncak cerita; belum bisa memijat,”
begitu ia menolak orang, selagi asyik bercerita. Tentang rantau dan negeri jauh. Kepergian dan
kepulangan. Cerita apa saja. Selalu menarik diolahnya. Tanpa pesan dan paksaan. Cukup rokok
sebagai imbalan, segelas kopi, atau main kartu agak sekelok. Membuatnya tak hirau pada
keluarga, dan membuat hidup Ginjam kian terlunta.
Karenanya setiap melihat Nalan disayang Nenek Guru, Ginjam tak senang hati. Tapi anehnya, ia
tak pernahb isa sepenuhnya membenci, karena tahu Nalan juga tertekan. Malahan, mereka
akhirnya merasa dipersatukan. Kalau ada yang mengejek Nalan sebagai “anak nenek”, Ginjam
pasang badan. Kekar tubuh Ginjam melindungi Nalan, meski perasaan ganjil tak pernah hilang.
Iri dan sayang saling bersilang. Kasih dan benci tak terelakkan.
Sebaliknya, kelembutan Nalan mampu menjinakkan kenakalan Ginjam. Di sekolah, Ginjam
sering diajak jajan; dan di rumah, diam-diam diberi makan. Ginjam tak menyia-nyiakan
kesempatan, makan sepuasnya, seolah hendak membalas dendam! Pernah goreng ikan teri
tinggal dedak sambal. Ketika Nenek bertanya, tak ada jalan lain, Nalan mesti berdusta.
“Dimakan kucing, Nek!” Tak dinyana, Nenek menggampar kucing kesayangan Nalan. Padahal,
Nenek selalu bilang kucing air mata Nabi. Membuat Nalan dendam kepada Ginjam, meski di sisi
lain sangat kasih.
Perasaan aneh di antara mereka, mendapat pembenarannya dari sosok Sang Kakek parewa yang
diam-diam lebih dikagumi ketimbang si Nenek Guru. Sebab cerita Kakek yang liar memberi
ruang bagi keganjilan-keganjilan – setidaknya, keganjilan hubungan mereka dulu dan pertemuan
mereka sekarang!
***
BEGITULAH, malam hari Ginjam datang, dari belakang. Nalan yang bosan dan putus asa,
akhirnya mendapatkan orang yang ditunggunya sepanjang siang. Aneh, ia merasa asing. “Rasa
membatu tubuhku menunggumu, Kawan,” katanya bergetar.
“Maaf, aku percaya pada kabar Paman Umang. Katanya malam ini Nenek ada pengajian di Surau
Teleng. Tentu waktu kita lebih panjang,” jawab Ginjam, tak kalah bergetar.
Dalam waktu yang dirasa lebih leluasa dan panjang, untuk pertama kalinya Ginjam ingin
mereguk penuh gairah pertemuan. Ia bukan lagi si tukang pijat yang sabar mencari urat-urat,
yang khidmat mengusap badan. Ia kini si pengisap, lihatlah, ia mengerang, ia meregang, ia ngin
mereguk segala yang hilang! O, inilah saat yang diduga Nalan, saat mabuk dan liar diaduk cemas
dan ketakutan. Haruskah ia biarkan? Tidak! Tidak! Ia berontak, “Jangan! Jangan!” Nyaris
Ginjam terempas, terpana, dan bertanya, “Kenapa? Kita belum lagi pernah, dan aku mau
sekarang!”
“Tidak!” Dada Nalan meledak. “Kumohon tidak! Cukup begini saja!”
Sebutlah Ginjam tukang pijat terkutuk, tapi ia sulit berhenti saat ke puncak. Dan sebutlah Nalan
si perusak gairah pertemuan, tapi ia tak mungkin ke puncak. Walau menyakitkan. “Lihat,”
katanya, menyingkap pangkal paha yang seharusnya rahasia. Ginjam mengeja sebuah nama dari
tatto yang terukir indah di sana. HANS. Ia paham, seseorang di rantau pastilah telah menjadi
sosok yang coba dikekalkan Nalan, walau sebatas tulisan, walau sebatas nama kenangan. Namun
rasa geram mustahil disembunyikan Ginjam, “O, begitu? Kau akan bersetia padanya??” Nalan
tahu ini menyakitkan, tapi haruskah ia menyerah, membiarkan semuanya terjadi? “Ya, aku
bersetia!” katanya pedih. Soalnya, bukan bersetia atau tidak, tapi… Tuhan, berikan suara-
Mu…!!! (6)
Malam itu, lengkung bulan sabi seperti hendak berseteru dengan runcing atap rumah gadang –
yang satu hendak menusuk, yang lain ingin melukai. Tapi sebuah bintang gemilang dalam kabut;
nun di atas menara surau. Di dalam surau yang dingin, seorang tua masih berzikir ketika salah
seorang fakir, tak kalah dingin, membawa kabar, “Mak, ada keributan di rumah gadang. Kawan-
kawan si Umang menangkap basah si Nalan dan si Ginjam sedang baparanak jawi (7)!”
Nenek tua itu bergetar. “Astagfirullah! Tak mungkin! Ini pasti pencurian sapi,” katanya, namun
tak urung terhuyung pulang.
Rumahlebah Yogyakarta, Februari – Juni 2004
Arti:
(1) makanan khas Lebaran
(2) terang, nyata, kekar
(3) lelaki preman, meski arti sebenarnya jauh lebih luas dan kompleks
(4) pepes ikan khas Padang
(5) kegiatan/tradisi memusnahkan hama tanaman, dalam hal ini babi hutan yang masih kuat di
beberapa daerah di Sumatra Barat
(6) dari sebait puisi Goenawan Mohamad, “Tentang Seorang yang Terbunuh di Sekitar Hari
Pemilihan Umum” dalam kumpulan Asmaradana (Grasindo, 1992)
(7) beranak atau diperanak sapi, istilah homoseksual di Minang
Tentang Raudal Tanjung Banua:
Lahir di Lansano, Kenagarian Taratak, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatra Barat, 19 Januari
1975. Menyelesaikan studi jurusan Teater, di Institut Seni Yogyakarta. Mendirikan Komunitas
Rumahlebah dan bergiat di Lembaga Kajian Kebudayaan AKAR Indonesia – sebuah lembaga
budaya yang menerbitkan Jurnal Cerpen Indonesia. Tahun 2004, puisinya “Pengakuan Si Malin
Kundang” memperoleh penghargaan Sih Award dari Jurnal Puisi dan di tahun yang sama,
cerpennya “Cerobong Tua Terus Mendera” memperoleh penghargaan Anugrah Sastra Horison.
Karya dipublikasikan di berbagai surat kabar, majalah, dan jurnal yang terbit di sejumlah kota di
Indonesia, selain termuat dalam antologi bersama. “Tubuh yang Bersekutu” diterbitkan oleh
Koran Tempo 27 Juni 2004 dan termuat dalam kumpulan cerita pendek “Parang tak Berulu”
(Gramedia Pustaka Utama, 2005)
ShareThisShareThis
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response,
or trackback from your own site.
4 Responses to “Cerpen: Tubuh yang Bersekutu”
1. Anonymous
July 12th, 2008 at 12:21 pm

Salut untuk sepocikopi!!!


Entah bagaimana kalian bisa menemukan cerpen2 ini.
Salut! Bravo atas kerja keras kalian! Million thanks for you…
2. Anonymous
July 13th, 2008 at 11:12 am

Mba Lakhs, thanks cerpennya;penulis yang tidak asing lagi.Sangat menarik untuk
direnungkan..Sayang, Nalan dan Ginjam tidak membangun hubungan “baru” mereka
berdasarkan kesadaran dan pilihan hidup. Keduanya terjebak pada kenangan, romantisme
masa lalu.Memang tidak mudah mengelola perasaan dengan kondisi seperti itu.Yaaah,
seandainya saja Nalan dan Ginjam menyadari jika kampung halaman bukanlah tempat
yang ideal bagi kelangsungan hubungan mereka…Hanya bagaimana seorang Paman
Umang sudah mengetahui hubungan mereka sejak awal masih menjadi teka teki buat aku.
Salam, vivo.java
3. noy
November 26th, 2009 at 9:03 am

bahasanya…gila bnerrr, kren abisss..


4. disa
October 31st, 2010 at 7:26 pm

paman umang si penggunting dalam lipatan, sang penusuk dari belakang karena
dendamnya pada nenek di balaskan lewat sang cucu.
pesan dalam cerpen: “jangan percaya pada siapapun, karena bisa saja bertanam tebu di
pinggir bibir, berbuah empedu didalam dada”
Leave a reply
Top of Form

Name (*)

E-mail (*)

URI

Message
663

Bottom of Form

Top of Form

Bottom of Form

• Entries (RSS)
• Comments (RSS)
Esensi Espresso
Lesbian, tahun 2010 sebentar lagi akan menjadi kenangan. Apakah 2010 adalah tahun yang sarat
dengan memori indah ataukah penuh dengan kesedihan? Enyahkan dukacita sebagai beban
hidupmu, jadikan sukacita sebagai harapan dan semangat untuk meninggalkan tahun 2010.

Lesbian, di akhir tahun ini, dewan redaksi berterimakasih untuk semua teman-teman lesbian
yang berani dan rela menulis untuk SepociKopi. Selama tahun 2010, kami sudah menyunting
lebih dari 500 naskah SepociKopi dan 300 naskah Camilan SepociKopi. Suatu pencapaian yang
luar biasa! Bulan depan, SepociKopi akan merayakan ulangtahun ke-4, semoga usaha kami
bekerja di sini tidak sia-sia. Semakin banyak lesbian yang tidak merasa sendirian lagi.

Lesbian, semoga semangat bekerja dan saling mengasihi di antara kaum lesbian kepada
masyarakat tetap membara. Redaksi mengucapkan selamat hari ibu, selamat Natal bagi yang
merayakan, dan selamat tahun baru 2011 bagi kita semua! Hohohoho....
• Komentar Anda
• Top Post For Today


• ithoitho: that's right.even temen2 saya ga
• ecka: filmnya kayak keren bgt buat
• noodle: "....Jangan menjadi lesbian yang hanya
• daun: Kl reinkarnasi, aku pgn jd
• B kid: bener tuh.. setuju bgt deh. kita mampu
• say czeka: dr mata katanya bs terlihat
• cumi_cumi_bakar: pemerintah...hura2 ngabisin duit anggaran..he3 yup,slamat datang

• cherry: @archi&angel : thanks girls


• Arie Gere: Ehem ehem :p

• cherry: sepertinya penonton kecewa hahahhahaha


○ Kalau Reinkernasi... (47 views)
○ Obrolan Cewek: 7 Tips Cara Meminta Maaf Pada Pasangan (25 views)
○ Mata Kekasihku (17 views)
○ Bengkel Menulis: Tips Menulis Novel Remaja (15 views)
○ Catatan Perjalanan Lesbian (12 views)
○ Ngaku Bukan Lesbian, Rihanna Rilis 'Te Amo' di Internet (10 views)
○ Obrolan Cewek: 12 Tips Selingkuh Aman (10 views)
○ Film: I Can't Think Straight - Ringan Tidak Berarti Dangkal (10 views)
○ Tajuk: Kebaruan dan Kita (9 views)
○ Hadiah Natal Terindah (8 views)

Stop Press!
Para pencinta SepociKopi,

Kami mempersembahan kaos SepociKopi yang bakal keren dipakai dalam berbagai acara.
Silakan pilih dan unduh sendiri desainnya, lalu kamu sablon sendiri di kaos warna favoritmu.

Satu desain pasti tidak cukup, dua juga pasti nggak... semuanya saja! Tenang kok, kaosnya
sangat lesbian-friendly dan hetero-friendly, jadi nggak bakal ketahuan! Kalau ketemu sesama
teman yang juga mengenakan kaos ini, cukup saling melirik penuh arti. Kodenya udah udah
dipatenkan di kepala masing-masing bo!

Salam SepociKopi!
CHECK THIS OUT
 Camilan Sepoci Kopi Teman Minum Kopi yang Lezat
 Say It Out Loud! Topik Bulan Desember 2010: Sweet Honeymoon!
 Community and TravelingLesbian Indonesia di berbagai penjuru kota dan sudut dunia

10/26 Balada Sitti Nurbaya di Kota Padang Tercinta


Oleh: Naomi Photo by Naomi Namaku Naomi. Aku dilahirkan di kota kecil bagian barat P..
Powered by Feed Informer
10/26 Balada Sitti Nurbaya di Kota Padang Tercinta
Oleh: Naomi Photo by Naomi Namaku Naomi. Aku dilahirkan di kota kecil bagian barat P..
Powered by Feed Informer

 The Planets Semesta Dunia Lesbian yang Tak Berbatas


Senggolan SepociKopi
Plurk.com

www.facebook.com/sepocikopi

www.twitter.com/sepocikopi
Twitter Buttons
Friendly Reminder
 Tulisan-tulisan situs SepociKopi adalah karya dan kreasi para penulis lesbian.
 Redaksi meminta dengan hormat kepada para pangunjung dan pembaca setia kami untuk
tidak melanggar kode etik serta menghormati hak cipta para penulis.
 Silakan mengutip tulisan di situs ini, tapi harap cantumkan nama penulis yang bersangkutan
dan sertakan link alamat SepociKopi (http://www.sepocikopi.com)
 Terima kasih atas kehormatan yang diberikan kepada kami agar kami dapat terus berkarya di
masa depan
 Redaksi memoderasi semua komen yang masuk
 Redaksi berhak menghapus komen yang bersifat SPAM, menyerang, menghina, fitnah,
melecehkan, curhat berlebih, SARA, obrolan chatting, atau tidak relevan dengan isi
tulisan.
ayah belanja blog Buku cinta Coming Out curhat dunia maya Ekonomi Film film festival
Gay God humor Intermezzo keluarga kesehatan kesetiaan kuliner label Lagu lingkungan
hidup makanan mantan media berita menulis musik narkoba pendidikan Perempuan
pergerakan pernik pernikahan sesama jenis Puisi Relationship Remaja sahabat
sejarah seksualitas sosial suicide tips Transgender Traveling tubuh
.: SELAMAT DATANG :.
 Home
 Opini
 Budaya/Hiburan
 Berita
 Humaniora
 Buku Tamu
Rubrik Tetap
 Tajuk - Suara aktual, berita terhangat
 Cerpen - Nikmati cerpen bertema LGBT karya penulis Indonesia yang telah diterbitkan di
media umum
 Bengkel Menulis - Tempat untuk meningkatkan kemampuan menulismu
 Have Your Say - Mutiara inspirasi kehidupan
 Obrolan Cewek - Temukan tips seru seputar dunia perempuan
 Cuci Mata - Mengupas gaya hidup manusia modern perkotaan: shopping, kuliner, dan
rileksasi
 Te.Lez.Kop - Catatan pinggir tentang dunia lesbian dari jarak yang dekat
 Lagak Lajang - Potret kehidupan lesbian lajang
 Poling - Ikuti polingnya, temukan faktanya
 Puisi - Kumpulan sajak bertema LGBT
 Kesehatan dan Seksualitas - Mari kenali tubuhmu
 S.O.S! - Pertolongan Pertama Pada Kegilaan
 Mix n' Match - Musik, hiburan, dan segala yang segar dari pop culture
 Noktah Merah - Mengenali sejarah, masa lalu, dan budaya homoseksualitas di berbagai
belahan bumi
 Persona - Kenali mereka, tokoh-tokoh yang membuat perbedaan
 Film - Film pilihan buat tontonan akhir pekan
 Buku - Review buku-buku rekomendasi buat Lesbian
 L'Amour - Cerita tentang cinta, kebersamaan, dan kebahagiaan semanis gula
 Around The Word - Berita menarik tentang dunia LGBT dari segala penjuru
 Side Effect - Fesyen, gaya berbusana, dan asesoris yang dikenakan oleh lesbian

Overall Top Posts


• Obrolan Cewek: 7 Tips Cara Meminta Maaf Pada Pasangan (17564 views)
• Kesehatan dan Seksualitas: Selaput Dara (9108 views)
• Ngaku Bukan Lesbian, Rihanna Rilis 'Te Amo' di Internet (8055 views)
• Obrolan Cewek: 12 Tips Selingkuh Aman (5514 views)
• Obrolan Cewek: 9 Tips Kegiatan Setelah Bercinta (5207 views)
• Eks Lesbian (4998 views)
• Cinta yang Salah (3992 views)
• Bengkel Menulis: Tips Menulis Novel Remaja (3453 views)
• Have Your Say: Pengakuan Berujung Maut (3206 views)
• Why do All Good Things Come to An End? (2990 views)

Berlangganan artikel SepociKopi via e-mail:


Top of Form

Mau Mengirim Naskah?


 Kirimkan Tulisan Anda kepada Kami

Visitor Number:
1.377.501 1.377.5001.377.500

Pengunjung Online

Powered by:

Meta
• Log in
• Valid XHTML
• XFN
• WordPress
Buku SepociKopi

Dapatkan di Toko Buku Online


 gramedia.com
 inibuku.com
 bukabuku.com
Copyright © 2007 - Sepoci Kopi - is proudly powered by WordPress
Dilectio Theme is created by: Design Disease brought to you by Smashingmagazine.com
Copy Protected by Chetans WP-Copyprotect.
Kuliah Kajian Prosa Fiksi dan Drama
Bahan Pengayaan
Kuliah Kajian Prosa Fiksi dan Drama II

CERPEN ‘KADO ISTIMEWA’


KARYA JUJUR PRANANTO
Kajian Semiotik Roland Barthes

1. Pengantar
Di dalam makalah ini akan dibahas sebuah cerpen Indonesia berjudul ‘Kado
Istimewa’[1] karya Jujur Prananto, terutama dari sudut tinjau teori struktural
(semiotik) sebagaimana dikembangkan oleh Roland Barthes. Cerpen karya Jujur
Prananto tersebut dipilih untuk dibahas karena menurut pembacaan awal saya
cerpen itu menampilkan tanda-tanda atau kode tertentu yang signifikan, baik dalam
hubungannya dengan teks itu sendiri maupun dalam hubungannya dengan
(penafsiran) pembaca.
Roland Barthes menyatakan bahwa di dalam memahami makna teks (sastra),
seseorang (pembaca) pertama-tama harus membedah teks itu baris demi baris,
seperti yang ia lakukan ketika membahas cerpen “Sarrasine” karya Honore de
Balzac yang kemudian ditulis dalam buku berjudul S/Z (1974). Baris demi baris itu
kemudian dikonkretisasikan menjadi satuan-satuan makna tersendiri. Namun,
setelah teks itu dibedah baris demi baris, satuan-satuan makna yang
dikonkretisasikan itu kemudian diklasifikasikan dan dirangkum menjadi lima sistem
kode yang memperhatikan setiap aspek signifikan, baik yang mencakupi aspek
sintagmatik maupun aspek semantik.
Lima kode itu yang tercakup ke dalam tiga level deskripsi naratif (fungsional, aksi,
dan narasi) itu meliputi (l) kode aksi/proairetic code, (2) kode teka-teki/hermeneutik
code, (3) kode budaya/cultural code, (4) kode konotatif/connotatif code, dan (5)
kode simbolik/symbolic field. Melalui lima sistem kode itulah makna sebuah teks
akan dapat dipahami walaupun pemahaman dengan cara demikian tidak menjamin
pembaca mampu menangkap keseluruhan makna teks tersebut.
Dalam makalah ini, cerpen ‘Kado Istimewa’ tidak akan dibedah baris demi baris,
tetapi akan langsung dipusatkan pada lima sistem kode di atas. Alasannya, dalam
menentukan totalitas makna teks sastra Barthes akhirnya lebih memusatkan
perhatiannya pada lima kode itu daripada satuan-satuan makna baris demi baris.
Akan tetapi, sebelum cerpen itu dianalisis secara lebih mendalam, terlebih dahulu
dipaparkan sinopsis ‘Kado Istimewa’ dan konsep teori Roland Barthes.
2. Sinopsis Cerpen ‘Kado Istimewa’
‘Kado Istimewa’ berkisah tentang wanita Jawa bernama Bu Kustiyah. Bu Kustiyah
bertekad menghadiri resepsi pernikahan putra Pak Hargi di Jakarta. Pak Hargi
adalah atasan Bu Kustiyah ketika zaman perjuangan dulu.
Pada awal cerita, Bu Kus yang tinggal di Kalasan mendapat kabar dari Wawuk,
anaknya yang sudah berkeluarga dan menetap di Jakarta. Kabar itu tentang
pernikahan putra Pak Hargi, atasan Bu Kus ketika masa perjuangan dahulu. Setelah
mendengar kabar itu, Bu Kus bertekad menghadiri resepsi pernikahan putra Pak
Hargi di Jakarta.
Pada hari menjelang acara ia bergegas naik kereta menuju Jakarta. Sesampainya di
Jakarta, Wawuk sangat kaget menerima kunjungan ibunya karena tidak memberi
kabar sebelumnya. Wawuk lebih kaget lagi setelah mengetahui tujuan ibunya
datang ke Jakarta untuk menghadiri resepsi pernikahan putra Pak Hargi. Wawuk
tidak bisa menghalangi niat ibunya walaupun ibunya tidak mendapat undangan.
Sebagai pengabdian dan penghormatan kepada Pak Hargi, Bu Kus merasa
sepantasnya datang mengucapkan selamat dan ikut berbahagia.
Totok, suami Wawuk, segera mencari informasi mengenai waktu dan tempat
resepsi pernikahan putra Pak Hargi. Bu Kus sangat senang sekaligus terkejut ketika
diberi tahu bahwa resepsi pernikahan itu dilangsungkan di sebuah hotel berbintang.
Bu Kus segera menyiapkan kado untuk putra Pak Hargi. Bu Kus berharap kadonya
itu mengingatkan Pak Hargi pada masa perjuangan dulu. Oleh karena itu, Bu Kus
membuat tiwul, makanan khas Jawa, yang pada masa perjuangan dulu menjadi
makanan sehari-hari.
Wawuk sangat cemas melihat sikap ibunya. Pada malam hari ibunya membuat tiwul
sendirian. Setelah matang Tiwul itu dimasukkan ke dalam sebuah nampan anyaman
bambu yang sudah dilapisi kain putih berbordir. Kemudian makanan itu dibungkus
rapi dengan kertas warna coklat. Wawuk melihat ibunya sungguh-sungguh
mempersiapkan kado tiwul makanan kesukaan Pak Hargi. Padahal sekarang, Pak
Hargi seorang pejabat dan sangat kaya. Wawuk merasa khawatir akan penampilan
ibunya pada acara resepsi nanti. Baju kebaya, sandal, dan tas yang akan dikenakan
ibunya tidak ada yang baru bahkan sudah beberapa tahun yang lalu.
Pada hari H, Wawuk dan suaminya mengantar Bu Kustiyah pergi ke hotel untuk
menghadiri resepsi pernikahan Pak Hargi. Penjagaan ketat mewarnai ruang resepsi
hotel Sahid Jaya. Di halaman bertebaran petugas security, lengkap mengenakan
setelan jas hitam dan handy-talky di tangan. Pintu masuk menggunakan detektor
beralarm. Bu Kus melihat semuanya itu dengan pandangan kagum, apalagi ketika
diberi tahu presiden juga diundang dan akan hadir.
Bu Kus masuk lewat pintu beralarm. Dia menitipkan kadonya pada petugas yang
cantik-cantik. Dia juga berpesan agar hati-hati menaruh kadonya jangan sampai
terbalik. Tamu yang diundang kurang lebih dua ribu orang. Bu Kus ikut antri menuju
pelaminan untuk bersalaman dengan pengantin dan Pak Hargi.
Setelah kurang lebih satu jam berdesakan, akhirnya Bu Kus sampai juga di tempat
pelaminan. Perasaannya berbinar dan ia pun berbisik dalam hati mengucap syukur
pada Yang Maha Kuasa. Dengan tangan gemetar, Bu Kus menghaturkan salam
pada Pak Hargi. Bu Kus tidak bisa menahan diri, ia menubruk dan menciumi tangan
Pak Hargi dan terisak-isak. Tentu saja, Pak Hargi mengerutkan kening walaupun Bu
Kus menyebut namanya dan menyebut nama teman-teman seperjuangannya
dahulu.
Bu Kus masih ingin mengingatkan Pak Hargi tentang dirinya tetapi Pak Hargi tidak
menanggapinya. Pak Hargi hanya mengucapkan terima kasih berkali-kali kepada Bu
Kus. Ketika antrian macet, Pak Hargi cepat menguasai diri dan mengucapkan terima
kasih atas kedatangan Bu Kus. Setelah itu, antrian kembali berjalan normal. Bu Kus
meninggalkan pelaminan dengan perasaan lega. Ruang resepsi yang maha indah
dan luas itu dirasakannya hangat menyambut kedatangannya. Ia mengajak Totok
dan Wawuk menjelajahi seluruh ruangan, mencicipi semua jenis makanan.
Seminggu kemudian, di rumah pengantin baru, rombongan saudara-saudara
kandung dan sepupu datang. Mereka melihat kado yang tersimpan dalam karung-
karung plastik yang belum dibuka sejak resepsi. Saudara-saudaranya disuruh
memilih dan mengambil kado sesuka hatinya. Sebagaimana orang kaya, kado yang
diterima kedua mempelai itu ada yang berupa mobil, kunci rumah, uang, dan
barang-barang mewah lainnya. Ketika salah seorang menemukan kado berbungkus
coklat dan berbau busuk, mereka membukanya. Tidak ada seorang pun yang tahu
apa nama makanan itu. Mereka memanggil pembantu rumah dan menyuruhnya
membuang kado makanan busuk itu.
3. Kerangka Pendekatan
Roland Barthes lahir di Cherbourg, Prancis, tanggal 12 November 1915. Ia
merupakan salah seorang penulis kontroversial yang pikiran-pikirannya sangat
tajam. Tulisan-tulisannya sulit dikelompokkan dalam satu aliran saja. Berdasarkan
tulisan-tulisannya, Barthes sering disebut seorang marxis, meskipun belum pernah
menjadi anggota partai komunis, seorang eksistensialis, strukturalis, post-
strukturalis, dan sebagainya.
Menurut Scholes (1977:148), Barthes adalah seorang penulis yang benar-benar
tidak sistematis, tetapi mencintai sistem, seorang strukturalis yang membenci
struktur, dan seorang ahli sastra yang memandang rendah karya sastra. Barthes
cenderung mengambil posisi radikal dalam mempertahankan dan mempertanyakan
sesuatu sehingga didapat hasil yang lebih masuk akal. Puluhan buku telah
dihasilkan oleh Barthes, dan banyak di antaranya telah diterjemahkan ke dalam
bahasa-bahasa lain, misalnya Mythologies (1975), Element de Semiologie (1964),
Essais Critiques (1964), Systeme de la Mode (1967), S/Z (1970), Roland Barthes par
Roland Barthes (1975), dan lain-lain.
Buku Barthes yang berjudul S/Z (1970) banyak mendapat tanggapan dan sorotan.
Buku itu terdiri atas 200 halaman yang merupakan analisis dan interpretasi atas
Sarrasine karya Honore de Balzac yang hanya terdiri atas 30 halaman. Dalam
menganalisis cerpen itu Barthes membahas dan menginterpretasikan makna baris
demi baris sehingga diperoleh satuan-satuan makna yang terpisah. Satuan-satuan
makna itu kemudian dirangkum dan diklasifikasikan ke dalam lima sistem kode
yang memperhatikan setiap aspek signifikan dalam teks; kode-kode itu meliputi
aspek sintagmatik dan semantiknya (Scholes, 1977:154-155).
Menurut Sturrock (1979:73), analisis yang dilakukan Barthes dalam S/Z itu
merupakan kerja yang luar biasa karena rata-rata setiap kata dalam Sarrasine
dianalisis menjadi enam atau tujuh kata. Adapun lima kode itu adalah sebagai
berikut. (1) Kode proairetik (proairetic code) atau kode tindakan. Dalam hal ini
setiap tindakan dalam cerita perlu diperhatikan, misalnya tindakan membuka pintu
sampai tindakan kegila-gilaan seorang seniman. Tindakan adalah sintagmatik,
mulai dari titik yang satu dan berakhir pada titik yang lain. Dalam sebuah cerita
tindakan-tindakan itu saling berhubungan dan sering tumpang tindih, tetapi dalam
cerita semua itu akan menjadi sempurna pada bagian akhirnya. (2) Kode
hermeneutik (hemeneutic code) atau kode teka-teki. Seperti kode tindakan, kode
hermeneutik termasuk dalam aspek ‘sintaksis’ naratif. Ketika pembaca bertanya-
tanya tentang siapa itu atau apakah maksudnya, dan kemudian pembaca
memperoleh jawabannya pada cerita itu juga, maka semua itu termasuk dalam
pembicaraan kode hermeneutik. (3) Kode budaya (cultural code). Dalam hal ini
Barthes mengelompokkan semua sistem ilmu pengetahuan dan sistem nilai yang
terdapat atau tersirat dalam teks itu, misalnya adanya kata-kata mutiara,
kebenaran saintifik, stereotipe-stereotipe pemahaman realistas manusia, dan
sebagainya. (4) Kode konotatif (connotative code). Kode ini berhubungan dengan
tema-tema sebuah cerita. Kode-kode ini melekat pada para tokohnya, nama yang
sama diberi atribut sama pula. (5) Kode simbolik (symbolic field). Kode ini
berhubungan dengan ‘tema’ dalam arti yang sebenarnya, yaitu tema keseluruhan
cerita.
Sebagaimana diketahui bahwa S/Z merupakan contoh penerapan teori pasca-
struktural oleh Barthes yang paling mengesankan. Ia memulainya dengan
singgungan atas kesia-siaan ambisi kaum naratologis strukturalis yang berusaha
melihat semua cerita di dunia dalam sebuah struktur tunggal saja (Selden,
1991:79). Itulah sebabnya, konsep Roland Barthes yang ditekankan pada lima kode
di atas akan dipergunakan sebagai dasar pemahaman makna cerpen ‘Kado
Istimewa’ karya Jujur Prananto.

4. Analisis
Roland Barthes menyebutkan adanya lima sistem kode untuk memahami makna
teks (karya) sastra. Seperti yang sudah dikemukakan di depan, di dalam makalah
ini pemahaman atas teks tersebut hanya akan dilakukan berdasarkan lima sistem
kode Barthes. Hal ini dilakukan karena dalam menentukan totalitas makna teks
sastra, Barthes lebih memusatkan perhatiannya pada lima kode itu daripada
satuan-satuan makna yang telah dijabarkan terlebih dahulu. Oleh karena itu, lima
kode itulah yang akan dipaparkan dalam bahasan ini.

(a) Kode Aksi/Tindakan/Proairetik (Proairetic Code)


Kode ini merupakan perlengkapan utama teks. Setiap aksi atau tindakan dalam
cerita dapat disusun atau disistematisasikan (codification). Dalam hal ini tindakan
adalah sintagmatik, berangkat dari titik yang satu ke titik yang lain. Tindakan-
tindakan tersebut saling berhubungan dan sering juga tumpang tindih. Pada
praktiknya, Barthes menerapkan juga prinsip penyeleksian, yaitu dengan mengenali
gerak, aksi, atau peristiwa.
Dalam cerpen ‘Kado Istimewa’, aksi atau tindakan yang dilakukan tokoh utama (Bu
Kus) mengindikasikan suatu gerak aktif dan dinamis. Hal ini dapat dilihat dari sikap
Bu Kus dari awal sampai akhir cerita. Sejak pertama kali mendapat kabar, Bu Kus
sudah bertekad untuk pergi. Di Stasiun, Bu Kus sudah tidak sabar ingin segera
sampai Jakarta. Di Jakarta, Bu Kus meminta menantunya (Totok) untuk mencari
informasi resepsi pernikahan. Setelah mengetahui waktu dan tempatnya, Bu Kus
sibuk mempersiapkan kado. Dan pada hari yang ditentukan, Bu Kus datang ke hotel
tempat resepsi untuk bersalaman dengan Pak Hargi. Tekad Bu Kus tampak pada
kutipan berikut.

Bu Kustiyah bertekad bulat menghadiri resepsi pernikahan putra Pak Hargi. Tidak
bisa tidak. Apa pun hambatannya. Berapa pun biayanya. Ini sudah jadi niatannya
sejak lama.
(hlm.9)

Setelah mempersiapkan segala sesuatunya, Bu Kus menyuruh pembantu


perempuannya memanggilkan dokar menuju stasiun kereta. Di stasiun, Bu Kus
duduk di peron menunggu kereta ekonomi jurusan Jakarta selama tiga jam. Ia
gelisah ingin segera sampai di Jakarta dan bersalam-salaman dengan Pak Hargi.
Oleh karena itu, ketika terdengar peluit kereta, Bu Kus tergopoh-gopoh naik ke atas
gerbong. Sikap Bu Kus yang tampak tidak sabar tampak pada kutipan berikut.

“Nanti saja, Bu! Baru mau dilangsir!”


Tapi Bu Kus sudah terlanjur berdiri di bordes.”Pokoknya sampai Jakarta!”.
“Tempat duduknya belum diatur, bu!”
“Pokoknya punya karcis!”
(hlm.12)

Setelah melalui kegelisahan yang panjang, akhirnya Bu Kus sampai juga di Jakarta.
Wawuk, anak perempuannya, kaget setengah mati melihat pagi-pagi ibunya muncul
di depan rumah. Wawuk lebih kaget lagi mendengar tujuan ibunya datang ke
Jakarta.

“Ya, Tuhan! Ibu mau datang ke resepsi itu????”


“Kamu sendiri yang bercerita Pak Gi mau mantu.”

(hlm.12)

“Ibu kan...tidak diundang?”


“Lho kalau tidak pakai undangan apa ya lalu ditolak?”
“Ah, kayak nonton wayang orang saja, pakai vip-vipan segala.”
(hlm.13)

Bu Kus ngotot untuk datang ke resepsi pernikahan putra Pak Hargi walaupun tidak
diundang. Bahkan, Bu Kus sedikit mengancam Wawuk seperti terlihat pada kata-
katanya berikut ini.

“Ingat, Wuk,” Bu Kus bicara dengan nada dalam. “Aku jauh-jauh datang ke Jakarta
ini yang penting adalah datang pada resepsi pernikahan putra Pak Hargi. Lain
tidak.”
` (hlm.13)

Sikap Bu kus yang sedikit mengancam Wawuk menunjukkan kesungguhan niatnya.


Wawuk dan suaminya tidak bisa membantah. Oleh karena itu, Totok-suami Wawuk-
mencari informasi mengenai resepsi itu sampai berhasil.
Setelah mendapat berita dari Totok tentang waktu dan tempat resepsi itu, Bu Kus
segera menyiapkan kadonya. Malamnya, Bu Kus sibuk di dapur. Wawuk terbangun
dari tidurnya mendengar suara-suara yang berasal dari dapur. Di dapur, Wawuk
melihat ibunya memasak dan ia sangat terkejut melihat apa yang dimasak oleh
ibunya.

“Tiwul gaplek? Buat apa?”


“Berhari-hari saya mencari kado yang tepat untuk putranya Pak Gi. Sesuatu yang
khusus, yang istimewa, dan terpenting yang bermakna. Baru kemarin saya
menemukan pilihan yang tepat. Kenapa bukan makanan zaman perjuangan?
Melihat kado yang isinya lain dari yang lain ini nanti tentulah putra Pak Gi akan
bertanya pada bapaknya. Pak Gi pasti akan terkesan sekali dan menerangkan
panjang lebar makna makanan ini dalam masa perjuangan.

(hlm.15)
Bu Kustiyah tidak mempedulikan Wawuk. Ia tetap saja memasak tiwul sampai
matang. Tiwul yang sudah matang itu kemudian ditata di sebuah nampan. Setelah
rapi, tiwul dalam nampan itu ditutup dengan kain putih berbordir. Bu Kus
membungkus kadonya dengan kertas coklat. Kado yang sudah dibungkus rapi itu
dengan hati-hati dibawanya pada acara resepsi pernikahan. Kekhawatiran Bu Kus
pada kadonya tampak pada kutipan berikut.

“tolong simpan baik-baik kado saya ini, Nak. Menaruhnya jangan sampai terbalik,
nanti tumpah semua. Isinya makanan istimewa.”

(hlm.16)

Sikap Bu Kus yang menitip pesan pada penerima tamu itu menunjukkan
perhatiannya. Bu Kus ingin kadonya itu disimpan dengan hati-hati dan tidak terbalik
agar isinya tidak tumpah. Ia berharap kadonya dibuka dan diketahui oleh Pak Hargi.
Bu Kus sudah membayangkan keluarga Pak Hargi itu akan menikmati makanan
tiwul buatannya sambil mendengarkan cerita perjuangan zaman dahulu.
Bu Kus, Wawuk, dan Totok menuju ke tempat resepsi di hotel Sahid Jaya. Resepsi
pernikahan itu akan dihadiri oleh presiden dan kurang lebih dua ribu orang tamu
yang diundang. Bu Kus sangat kagum dengan ruangan resepsi yang besar dan
indah.

Bu Kus makin lincah saja memasuki ruang resepsi. Decaknya berkali-kali terdengar
menyertai kekagumannya melihat ruangan yang teramat indah, besar, dan megah
ini.
(hlm.16)

Setelah kurang lebih satu jam antri, Bu Kus akhirnya sampai juga di tempat
pelaminan untuk bersalaman dengan Pak Hargi. Ketika sedang bersalaman dengan
Pak Hargi, Bu Kus tidak bisa menahan diri; dan sikapnya itu ditunjukkan dengan
menciumi tangan Pak Hargi sambil menangis.

Dengan tangan gemetar Bu Kus menghaturkan salam.


“Awet muda, Pak Gi. Benar-benar awet muda. Selamat Pak Gi.”
“Terimakasih... terimakasih...”
Rupanya Bu Kus tidak bisa menahan diri, menubruk tangan Pak Gi, mencium tangan
itu dan menangis terisak-isak.
“Kustiyah, Pak Gi. Saya Kustiyah. Dapur umum.”

(hlm.17)

Bu Kus menangis terisak-isak, padahal antrian masih begitu panjang. Ketika Pak
Hargi terlihat mengerutkan kening, Bu Kus menyebutkan nama teman-temannya.

“Pos Kalasan, Pak. Mas Aris, Mas Dal, Ngatimin cebol. Sekarang pada ngumpul di
Semarang.”
“Ooo...ya, ya.. “
“Semua di sana tetap kompak, Pak. Tapi jangan tanya Nyai Kemuning, Lho,” isak
tangis Bu Kus berbaur dengan tawa.

(hlm.17)

Bu Kus berusaha membawa ingatan Pak Hargi pada masa lalu dengan menyebut
Pos Kalasan dan nama teman-temannya. Akan tetapi, Pak Hargi tidak
menanggapinya dan hanya mengucapkan terima kasih. Rupanya Bu Kus masih
penasaran. Ia masih bertanya dan menunjukkan perhatiannya pada putra Pak Hargi
seperti berikut ini.
“Kapan kita bisa berbincang lebih banyak, Pak Gi?”
“Emm... kapan-kapan saja. Terima kasih atas kedatangannya.”
“Wah ini putranya Pak Gi, ya? Persis Bapak waktu muda dulu...”

(hlm.17)

Sesungguhnya Bu Kus masih ingin berbicara lebih lama, tetapi antrian para tamu
masih demikian panjang. Sikap Bu Kus yang agresif tersebut sangat bertentangan
dengan sikap Pak Hargi.

Pak Hargi sempat mengerutkan keningnya, tapi kemudian cepat menguasai


keadaan, mengesankan ia sudah terbiasa menghadapi situasi seperti ini.
(hlm.17)

Setelah bersalaman dengan Pak Hargi, Bu Kus merasa lega perasaannya. Ia


kemudian mengajak Wawuk dan suaminya menjelajahi ruangan dan mencicipi
semua jenis makanan yang disediakan.
Secara keseluruhan, aksi tokoh mengindikasikan gerak aktif dan dinamis. Hal itu
terbukti, sejak mendengar kabar dari Wawuk, tokoh (Bu Kus) langsung melakukan
suatu tindakan yang aktif. Tokoh segera mempersiapkan diri pergi ke Jakarta. Tokoh
menyuruh Totok (menantunya, suami Wawuk) untuk mencari informasi kapan dan
di mana resepsi pernikahan putra Pak Hargi. Tokoh mempersiapkan kado dengan
membuat makanan tiwul seorang diri. Oleh karena itu, kode aksi/
tindakan/proairetik yang terdapat dalam cerpen ini cukup bermakna, hal itu terlihat
melalui oposisi gerak: aktif.

(b) Kode Teka-Teki/Hermeneutik (Hermeneutic Code)


Kode ini berkisar pada tujuan atau harapan untuk mendapatkan jawaban atas teka-
teki (pertanyaan) yang muncul di dalam teks. Seperti halnya kode aksi, kode teka-
teki ini juga termasuk ke dalam aspek sintagmatik.
Kode teka-teki dalam cerpen ‘Kado Istimewa’ cukup bagus. Siapa sebenarnya Bu
Kus? Apakah benar Bu Kus pernah berjuang bersama Pak Hargi? Apakah benar Bu
Kus itu di bagian dapur umum? Bagaimanakah sikap Bu Kus apabila bertemu
dengan Pak Hargi? Apakah Pak Hargi yang akan menikahkan putranya itu benar
atasan Bu Kus? Bagaimanakah sikap Pak Hargi menerima kedatangan Bu Kus?
Apakah Pak Hargi itu juga mengingat Bu Kus sebagaimana Bu Kus mengingat Pak
Hargi? Apakah kado berupa makanan tiwul yang dibuat Bu Kus itu akan menjadi
kado yang istimewa bagi Pak Hargi? Dan apa yang akan terjadi dengan kado yang
telah dipersiapkan Bu Kus dengan susah payah itu? Pertanyaan-pertanyaan di atas
dapat terjawab setelah membaca keseluruhan teks ini.
Bu Kus datang ke resepsi pernikahan itu untuk mengucapkan selamat atas
pernikahan putra Pak Hargi. Akan tetapi, setelah keduanya berhadapan, Pak Hargi
tidak menunjukkan sikap berlebihan. Ia menerima Bu Kus sebagaimana menerima
tamu lain yang tidak istimewa. Bahkan, seolah-olah Pak Hargi tidak mengenal Bu
Kus dengan baik. Melihat ‘gelagat’ Pak Hargi, Bu Kus berusaha mengingat
kenangan masa lalu dengan menyebutkan beberapa tempat dan nama teman-
teman seperjuangannya dulu. Akan tetapi, Pak Hargi tetap saja bersikap biasa. Ia
hanya mengucapkan ‘terima kasih’ saja.

“Terimakasih... terimakasih...”
“Ooo... ya, ya...”
“Yayaya... terimakasih banyak, lho. Terimakasih.”

(hlm.17)

Sampai akhir cerita, pembaca tidak mengetahui apakah benar Pak Hargi itu betul-
betul atasan Bu Kus. Pembaca hanya mengetahui dan mengenal tokoh Pak Hargi
dari cerita Bu Kus sendiri, sedangkan tokoh Pak Hargi tidak menceritakan ‘masa
lalu’nya. Pembaca hanya mengetahui bahwa Pak Hargi adalah seorang pejabat
penting yang mengundang presiden pada acara pernikahan putranya. Pembaca
tidak mengetahui hubungan yang sebenarnya antara Pak Hargi dan Bu Kustiyah.
Jadi, teka-teki mengenai hubungan Bu Kus dengan Pak Hargi di masa lalu itu tetap
menjadi misteri.
Bu Kus yang telah bersusah payah menyiapkan kado (tiwul) untuk Pak Hargi itu
tidak mengetahui nasib kadonya. Sampai akhir cerita, pembaca hanya ingat bahwa
Bu Kus tetap akan membayangkan kadonya itu akan dibuka dan dinikmati oleh Pak
Hargi. Makanan tiwul itu tentulah --dalam bayangan Bu Kus-- akan membuat Pak
Hargi ingat masa lalu (masa perjuangan) dan akan menceritakan pengalaman yang
manis itu kepada putra-putrinya.
Melihat kado yang isinya lain dari yang lain ini nanti pasti akan terkesan sekali dan
menerangkan panjang lebar makna makanan ini dalam masa perjuangan.
(hlm.15)

Akan tetapi, Bu Kus tidak mengetahui apa yang terjadi dengan kadonya. Sampai
akhir cerita, tidak juga diceritakan siapa Pak Hargi, bagaimana sikap Pak Hargi
setelah mengetahui isi kadonya itu. Teka-teki mengenai kado istimewa Bu Kus
hanya diketahui oleh pembaca (real reader) karena ternyata tokoh Pak Hargi tidak
dimunculkan setelah acara resepsi itu. Melalui percakapan saudara-saudara
pengantin, pembaca mengetahui ‘nasib’ kado Bu Kustiyah, seperti berikut.
“Busyet! Bau busuk!”
Semua perhatian berpusat di sebuah kado berbungkus kertas coklat. Di berbagai
sudutnya tampak basah. Kado itu pun dibuka. Mereka tidak tahu apa nama
makanan dalam nampan anyaman bambu yang ditutup kain putih berbordir itu,
sebab rupanya sudah tak karuan dan berjamur di sana sini. Ada selembar kertas
bertulisan tangan yang sulit terbaca karena tintanya sudah menyebar kena lelehan
gula merah.
(hlm.19)
Kado berbungkus coklat yang isinya sudah jamuran itu ternyata makanan. Apalagi
ciri-ciri kado ‘busuk’ itu sesuai benar dengan kadonya Bu Kus, karena ada nampan
dan renda berbordir putih. Pembaca akhirnya akan merasa yakin bahwa kado itu
memang kado istimewanya Bu Kus setelah membaca kutipan berikut.

“Ibu... Kus... Kustijak.. Kustijah. Siapa sih dia?”


Pengantin pria mengamati kado ini. Mana gua tahu. Imaaah!!!”

(hlm.19)

Benar saja, kado makanan busuk itu ada tulisannya ‘Kustijah’. Ini berarti kado itu
benar-benar kado Bu Kustiyah. Cerpen ini diakhiri dengan sebuah ending yang
cukup mengejutkan. Akhirnya, teka-teki mengenai kado Bu Kus itu terjawab pada
bagian akhir cerpen, seperti berikut.

Pembantu perempuan muncul.


“Bawa keluar, nih!”
“Mau disimpan di mana, mas?”
“Disimpan? Buang!!!”
(hlm.19)
Kado Bu Kus itu diberikan kepada pembantu rumah tangga. Pengantin pria tidak
menyuruh menyimpan atau menikmati makanan itu, tetapi menyuruh
membuangnya. Bagian akhir cerpen ini telah menjawab teka-teki tentang kado Bu
Kustiyah.

(c) Kode Budaya (Cultural Code)


Kode ini berkaitan dengan berbagai sistem pengetahuan atau sistem nilai yang
tersirat di dalam teks. Bahasa atau kata-kata mutiara, benda-benda yang dikenal
sebagai benda budaya, dan stereotip pemahaman realitas manusia merupakan
beberapa contoh adanya kode budaya. Dapat dikatakan bahwa kode budaya
tersebut merupakan acuan atau referensi teks.
Kode budaya dalam cerpen ‘Kado Istimewa’, misalnya, tampak pada kutipan
berikut.

Pandangan Wawuk lalu bertumpu pada tas kulit ibunya di pembaringan. Tas itu
dibukanya. Kain kebaya di dalamnya ia kenal betul sebagai pakaian ibunya lima
atau enam tahun yang lalu. Juga selop hitam itu.
(hlm.14)

Bu Kus digambarkan sebagai seorang wanita Jawa setengah baya yang sederhana
karena ia dikodifikasi dengan kode-kode budaya tertentu (Jawa) dan hal itu tersirat
melalui benda-benda seperti tas kulit, kain kebaya yang sudah lima-enam tahun,
dan selop hitam yang dikenakannya. Bu Kus juga digambarkan sebagai seorang
(wanita) yang berpikiran sederhana.
“Berhari-hari saya mencari kado yang tepat untuk putranya Pak Gi. Sesuatu yang
khusus, yang istimewa, dan terpenting yang bermakna. Baru kemarin saya
menemukan pilihan yang tepat. Kenapa bukan makanan zaman perjuangan?
(hlm.15)

Kesederhanaan Bu Kus dapat dilihat dari kata-kata yang diucapkan kepada Wawuk,
juga pikiran-pikiran sederhananya sebagaimana wanita desa. Akan tetapi, Bu Kus
ingin memberikan kado yang istimewa karena Pak Hargi adalah atasan yang sangat
dihormatinya. Keputusan Bu Kus untuk membuat makanan tiwul adalah
kenangannya pada makanan ‘favorit’ Pak Hargi pada masa perjuangan dulu. Bu Kus
mengharapkan Pak Hargi akan mengingatnya melalui makanan tiwul. Ia berpikiran
praktis sebagaimana orang desa (Jawa) pada umumnya, yaitu menyiapkan
makanan berupa tiwul buatan sendiri.
Pakaian kebaya, tas kulit, selop hitam, tiwul, adalah benda-benda yang dapat
mengidintifikasi sosok Bu Kustiyah sebagai wanita desa dari Jawa.
Sementara itu, Pak Hargi digambarkan sebagai seorang pejabat yang kaya raya dan
berpengaruh. Pak Hargi adalah sosok manusia yang berkelas sosial tinggi dan
mempunyai kekuasaan di negeri ini. Hal ini terlihat dari resepsi pernikahan
putranya yang diselenggarakan di hotel mewah dengan ribuan tamu. Resepsi
pernikahan ini juga mengundang presiden. Hal ini menjelaskan kedudukan Pak
Hargi dalam hubungannya dengan orang nomor satu di sebuah negara. Pak Hargi
dan keluarganya mewakili sosok-sosok manusia yang hidup dalam budaya modern.
Apa yang dijelaskan di atas, tampak pada kutipan berikut ini.

Penjagaan ketat mewarnai ruang resepsi hotel Sahid Jaya. Di alaman bertebaran
petugas security, lengkap mengenakan setelan jas hitam dan handy-talky di
tangan. Pintu masuk hanya separuh terbuka kurang lebih cuma semeter, dilengkapi
dengan bingkai detektor beralarm.
(hlm.15)

Penjagaan yang ketat di hotel tempat resepsi, kehadiran presiden, dua ribu tamu
undangan, dan beragam makanan yang tersaji lengkap menunjukkan kode budaya
kehidupan orang kaya dan modern.
Kode-kode budaya itu tersirat dalam kata hotel yang mewah, ruang resepsi yang
indah, jenis-jenis makanan yang terhidang, dan ribuan tamu yang datang. Kado
yang berupa rumah, mobil, lemari es, barang elektronik, dan lain-lain yang diterima
pengantin pun menunjukkan kode budaya kehidupan metropolitan yang kaya dan
modern.
Dengan demikian, dalam cerpen ini terlihat adanya kehidupan manusia dalam
konteks budaya yang berbeda: kehidupan Bu Kus yang sederhana dan kehidupan
Pak Hargi yang mewah.
(d) Kode Konotatif (Conotative Code)
Kode ini berkenaan dengan tema-tema yang dapat disusun lewat proses
pembacaan teks. Jika di dalam teks dijumpai konotasi kata, frase, atau bahkan
kalimat tertentu, semua itu dapat dikelompokkan dengan konotasi kata, frase, atau
kalimat yang mirip. Jika di dalam teks ditemukan sekelompok konotasi, berarti di
dalamnya dapat ditemukan tema tertentu.
Dalam cerpen ‘Kado Istimewa’, tokoh Bu Kus adalah tokoh wanita Jawa yang
sederhana. Ia masih pula berpikir dengan pola yang sederhana. Walaupun tidak
diundang, Bu Kus tetap akan datang karena ia merasa bahwa Pak Hargi adalah
(mantan) atasannya yang harus tetap dihormati. Oleh karena itu, Bu Kus datang
untuk memberikan ucapan selamat dan ikut berbahagia. Untuk mengenang masa
lalunya yang indah, Bu Kus membuat makanan khas (tiwul) sebagai kadonya.
Sebagai bawahan, Bu Kus merasa berkewajiban untuk tetap menghaturkan rasa
hormat kepada Pak Hargi, seperti tampak pada kutipan berikut.

“Pak Hargi adalah atasan saya yang saya hormati,” begitu Bu Kus sering bercerita
pada para tetangganya. “Beliau adalah seorang pejuang sejati. Termasuk di antara
yang berjuang mendirikan negeri ini. Walupun saya cuma bekerja di dapur umum,
tetapi saya merasa bahagia dan berbangga bisa ikut berjuang bersama Pak Gi.”

(hlm.9)

Perasaan hormat itulah yang mengantarkan Bu Kus sampai di Jakarta dan datang
pada resepsi pernikahan putra Pak Hargi. Kode konotatif yang tampak kuat di
dalam cerpen ini adalah kode penghormatan dan atau pengabdian. Bu Kus bertekad
bulat untuk pergi ke Jakarta setelah mendengar Pak Hargi hendak mantu. Tidak ada
seorang pun yang berhak menghalangi niat Bu Kus untuk menghadiri resepsi
tersebut. Tekad Bu Kus yang bulat itu tampak pada kutipan di bawah ini.

Bu Kustiyah bertekad bulat menghadiri resepsi pernikahan putra Pak Hargi. Tidak
bisa tidak. Apa pun hambatannya. Berapa pun biayanya.Ini sudah jadi niatannya
sejak lama. Bahwa suatu saat nanti, kalau Pak hargi mantu ataupun ngunduh
mantu, Bu Kustiyah akan datang untuk mengucapkan selamat. Menyatakan
kegembiraan. Menunjukkan bahwa Bu Kus tetap menghormati Pak Gi, biarpun
zaman sudah berubah.
(hlm.9)

Penghormatan dan pengabdian Bu Kus terhadap Pak Hargi diwujudkan dengan


berbagai usaha dan cara. Misalnya, Bu Kus berusaha mencari informasi tentang
waktu dan tempat resepsi; Bu Kus datang ke resepsi tanpa membawa undangan;
Bu Kus menyiapkan kado buatan sendiri; dan Bu Kus menyalami dan mengucapkan
selamat kepada Pak Hargi sambil menangis terisak-isak. Di hadapan Bu Kus, Pak
Hargi adalah masih Pak Hargi yang dulu, yang tetap awet muda. Pengantin putra
dipandangnya sebagai Pak Hargi ketika muda dulu dan itu diucapkan Bu Kus seperti
berikut ini.

“Awet muda, Pak Gi. Benar-benar awet muda. Selamat Pak Gi.”
“Wah ini putranya Pak Gi, ya? Persis Bapak waktu muda dulu..”

(hlm.17)

Penghormatan Bu Kus terhdap Pak Hargi tidak berubah. Bu Kus menghormati Pak
Hargi sebagaimana ia menghormati Pak Hargi di masa lalu. Sudah tiga puluh tahun
Bu Kus tidak bertemu dengan Pak Hargi. Akan tetapi, rasa hormatnya tetap tidak
berubah karena zaman. Walaupun Pak Hargi tidak memberi respon seperti yang
diharapkannya, Bu Kus tetap berusaha dengan berbagai cara. Cara-cara Bu Kus
rupanya tidak ditanggapi oleh Pak Hargi. Beliau hanya menanggapi Bu Kus dengan
sikap yang biasa saja. Bahkan, putra Pak Hargi, seusai resepsi, membuang kado
yang telah disiapkan Bu Kus dengan cara istimewa. Dengan demikian, konotasi
yang terdapat dalam cerpen ini ialah: Niat baik (kebaikan) seseorang tidak selalu
diterima dengan baik pula, atau tidak semua orang mampu menghargai
pengorbanan orang lain.

(e) Kode Simbolik (Symbolik Field)


Kode simbolik berkaitan dengan tema dalam arti yang sebenarnya --sehingga erat
hubungannya dengan kode konotatif-- yaitu tema dalam keseluruhan teks cerita.
Simbol merupakan aspek pengkodean fiksi yang khas bersifat struktural. Hal
tersebut dilandasi oleh suatu gagasan bahwa makna dapat diformulasikan dari
beberapa oposisi biner (binary oppositions) atau pembedaan.
Dalam cerpen ‘Kado Istimewa’ terdapat oposisi yang menarik, yang kontras
(berlawanan). Pertama, Bu Kus (orang desa) akan menghadiri sebuah resepsi
pernikahan putra seorang pejabat (orang kaya) di sebuah hotel berbintang. Kedua,
kado tiwul yang dibuat Bu Kus (makanan khas daerah) sangat kontras dengan kado-
kado yang lain (seperti kunci rumah, mobil, lemari es, uang, dan barang-barang
elektronik lainnya). Kado-kado mewah yang diterima pengantin menunjukkan
kedudukan atau keberadaan si pemberi kado. Seperti tampak dalam kutipan
berikut.

“Kunci mobil ada nggak?’


“Bi-em double-yu, lho!”
“Ai, gilaaa!!! Kunci rumah?”
“Ada deh... “
“Amplop? Amplop?”
“Langsung masuk rekening... “
(hlm.19)
Kado berupa kunci rumah, mobil, dan uang yang masuk rekening sangat kontras
dengan kado dari Bu Kus yang hanya makanan tradisional, seperti tampak pada
kutipan berikut.

Kado itu pun dibuka. Mereka tak tahu apa nama makanan dalam nampan anyaman
banbu yang ditutup kain putih berbordir itu, sebab rupanya sudah tak karuan dan
berjamur di sana sini.

(hlm.19)

Bu Kus tidak mengetahui apa yang terjadi dan bagaimana nasib kadonya. Yang ada
di dalam bayangan Bu Kus adalah bahwa Pak Hargi menikmati makanan tiwul
buatannya. Di samping Pak Hargi, putra-putranya akan mendengarkan cerita pada
masa-masa perjuangan dulu. Bu Kus tidak menyadari kado makanan itu sampai
berjamur dan menimbulkan bau busuk. Pak Hargi juga tidak mengetahui isi kado
yang diberikan Bu Kus. Sampai akhir cerita, baik Bu Kus maupun Pak Hargi tidak
mengetahui peristiwa yang terjadi dengan kado itu. Sementara itu, putra Pak Hargi
tidak mengetahui alasan apa dan bagaimana pun tentang kado itu. Jadi, dalam
cerpen ini, latar belakang peristiwa yang terjadi pada satu tokoh tidak diketahui
tokoh yang lain.
Oposisi biner yang terdapat dalam cerpen ini adalah kehidupan Bu Kus dengan
kehidupan Pak Hargi yang sangat kontras (berlawanan). Di satu sisi, Bu Kus
berusaha keras mewujudkan ‘pengabdian dan rasa hormat’ kepada atasannya; di
sisi lain, Pak Hargi tidak mengetahui apapun yang telah dilakukan Bu Kus untuk
dirinya. Akibatnya, segala sesuatu yang telah dikerjakan (pengorbanan) Bu Kus
tidak mendapat respon (tanggapan) sebagaimana mestinya, sehingga akhir cerpen
ini menggambarkan suatu ketragisan. Ini merupakan sebuah ironi, dan ironi seperti
inilah yang merupakan wujud kode simbolik.

5. Penutup
Demikian proses dan hasil pemahaman makna atas cerpen ‘Kado Istimewa’ karya
Jujur Prananto berdasarkan konsep seperti yang telah dirumuskan oleh Roland
Barthes. Dari proses pemaknaan itu diperoleh simpulan bahwa ternyata lima kode
Roland Barthes itu (proairetic code, hermeneutic code, cultural code, connotative
code, symbolic field) dapat dimanfaatkan untuk menangkap makna yang di dalam
cerpen itu cukup beragam.
Meskipun keberagaman makna di dalam cerpen itu dapat ditangkap, tetapi makna-
makna itu terkesan terpisah-pisah, atau dengan kata lain, makna totalitasnya
menjadi kabur. Hal ini disebabkan karena kode-kodenya didasarkan pada aspek
yang berbeda-beda satu sama lain. Oleh karena itu, meskipun teori Roland Barthes
cukup berarti bagi suatu analisis teks sastra, analisis seperti itu masih perlu
didukung oleh teori atau pendekatan-pendekatan lain agar makna teks sastra itu
dapat dipahami secara lebih total.
DAFTAR PUSTAKA

Barthes, Roland. 1974. S/Z. Transleted by Richard Miller. New York: Hill and Wang.

Luxemburg, dkk. Pengantar Ilmu Sastra. Jakarta: Gramedia.

Pranoto, Jujur. 1992. Kado Istimewa. Jakarta: Gramedia.

Selden, Raman. 1991. Panduan Pembaca Teori Sastra Masa Kini. Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press.

Scholes, Robert. 1977. (seventh printing). Structuralism in Literature: An


introduction. New Haven and London: Yale University Press.

Sturrock, John. 1970. Srtucturalism and Since. From Levi Strauss to Derrida. Oxford:
University Press.

Teeuw, A. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra: Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Pustaka
Jaya.

[1] Cerpen ‘Kado Istimewa’ adalah cerpen terbaik harian Kompas tahun 1991.
Sebagai cerpen terbaik, ‘Kado Istimewa’ kemudian dijadikan judul kumpulan cerpen
bersama lima belas cerpen lainnya dan diterbitkan oleh Gramedia tahun 1992.

Diposkan oleh Jabrohim di 20.00

Label: Kuliah
Posted by PuJa on October 13, 2010

I Nyoman Suaka
http://www.balipost.co.id/
NAFAS otonomi daerah yang kini digulirkan dalam birokrasi pemerintahan, sebenarnya sudah
sejak lama dikenal dalam analisis karya sastra. Gerakan otonomi karya sastra dalam analisis
puisi, cerita pendek (cerpen) dan novel meniru semangat pendekatan struktural yang dicetuskan
dalam teori-teori sastra di negara Barat. Pendekatan struktural di negara maju tersebut,
khususnya di Amerika, mementingkan analisis karya sastra dari segi bentuk (struktur). Penganut
aliran ini menilai karya sastra sebagai suatu benda yang mandiri dan bersifat otonom, bebas dari
ikatan sejarah kemasyarakatan.
Walaupun dunia kesusastraan telah mengakui otonomi sastra sudah dipraktikkan sejak dulu,
tetapi sangat bertentangan dengan prinsip-prinsip otonomi yang disosialisasikan dalam jajaran
pemerintah. Guru Besar Universitas Leiden Belanda pakar dalam sastra Indonesia dan Melayu,
Arnold Teeuw (1983) mengatakan, pendekatan struktur tidak lain merupakan gerakan otonomi
karya sastra. Kendatipun aliran struktural ini berkembang pesat, Teeuw menilai, gerakan
otonomi sastra ini memiliki dua kelemahan pokok yaitu, melepaskan karya sastra dari kerangka
sejarah sastra, dan mengasingkan karya sastra dari lingkungan sosial budaya.
Terkait dengan kelemahan yang disebutkan terakhir itu, mengasingkan aspek sosial budaya,
justru konsep otonomi pemerintahan memberi peluang yang besar terhadap nilai-nilai sosial
budaya yang ada di masing-masing daerah. Dalam otonomi karya sastra, yang menekankan
kajian strukturalisme, potensi-potensi budaya diabaikan, bahkan boleh dikatakan ditolak. Hanya
mementingkan struktur yaitu unsur-unsur pembangunan karya sastra seperti alur cerita, latar,
penokohan, pengisahan serta gaya bahasa. Komponen karya sastra ini lebih populer diistilahkan
sebagai unsur intrinsik. Unsur ekstrinsik seperti terkait dengan sejarah, agama, filsafat psikologi,
ekonomi, sosial dan budaya yang sering muncul dalam karya sastra, tidak pernah disentuh dalam
setiap analisis. Semata-mata yang diperhatikan adalah teks sastra, sehingga hasil kajiannya agak
terbatas dan kurang memberi penghargaan terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam sastra
sebagai cermin kehidupan masyarakat.
Tulisan ini tidak bermaksud mengulas otonomi daerah sesuai dengan UU No. 22 tahun 1998,
tetapi lebih memfokuskan pada kesusastraan. Analisis struktural yang menekankan otonomi teks
sastra, menurut Teeuw, belum merupakan teori sastra. Bahkan tidak berdasarkan teori sastra
yang tepat dan lengkap sehingga dapat membahayakan pengembangan teori sastra. Analisis
berdasarkan konsep otonomi karya sastra juga menghilangkan konteksnya dan fungsinya.
Akibatnya, karya sastra itu “dimenaragadingkan” dan akan kehilangan relevansi sosial
budayanya.
Makna karya sastra (puisi, cerpen, novel) tidak hanya ditentukan oleh struktur itu sendiri, tetapi
juga latar belakang pengarang, lingkungan sosial budaya, politik, ekonomi dan psikologis
pengarangnya. Faktor-faktor ekstrinsik yang disebutkan tadi memberikan andil yang besar
kepada pengarang untuk melahirkan karyanya. Mengingat sastra tidak bisa dilepaskan dengan
realitas kehidupan masyarakat, maka faktor-faktor lingkungan, kebudayaan dan semangat zaman,
tak bisa diabaikan. Dengan demikian, gerakan otonomi karya sastra berarti menempatkan pada
ruang yang terpencil.
Pendekatan karya sastra dengan kajian ekstrinsik di Indonesia masih tergolong langka. Skripsi
kesarjanaan (S1) yang mengambil program studi sastra Indonesia, sebagian besar berpedoman
pada karya sastra bersifat otonomi. Mengingat seorang sastrawan dilahirkan dan dibesarkan
dalam lingkungan sosial budaya yang amat beragam, maka pendekatan otonomi itu dapat
ditinjau lagi untuk mengarahkan dengan pendekatan lain seperti pendekatan sosial budaya.
Sebagai “pisau” untuk “membedah” karya sastra dilihat dari unsur ekstrinsik, telah pula
diimbangi dengan teori-teori sastra yang mapan seperti sosiologi sastra, strukturalisme genetik,
postmodernisme, hermeneutik, resepsi dan lainnya. Semua teori-teori ini diadopsi dari dunia
Barat karena di dunia sana mengalami perkembangan yang pesat. Bagaimana dengan di
Indonesia?
Awal 1980-an banyak peneliti dan pengamat sastra mengusulkan perlunya diadakan diskusi di
tingkat nasional untuk menyusun teori sastra yang khas untuk situasi di Indonesia. Opini tersebut
kurang mendapat perhatian. Justru lahir polemik yang berkepanjangan dari sastrawan dan
budayawan tentang sastra konteksual. Pro-kontra pun muncul antara sastra dalam tradisi teks
dengan sastra kontekstual. Polemik dalam diskusi, seminar dan tulisan di media massa waktu itu
berhasil dibukukan Ariel Heryanto dengan judul “Perdebatan Sastra Kontekstual” (1985).
Asyik berdebat, teori-teori sastra khas Indonesia sampai kini belum muncul. Analisis dan kritik
sastra akademis sebagian besar tetap bertahan dengan memandang karya sastra yang bersifat
otonom. Kalau ada yang menyinggung dari sudut luar (kontekstual), pembahasannya bersifat
sambil lalu dan sepintas. Padahal telah terbukti, karya sastra yang bermutu selalu dikaitkan
dengan aspek kontekstual zamannya, baik menyangkut sejarah, agama, politik, sosial budaya dan
lain-lain.
Penelitian sastra berdasarkan struktur yang mandiri dan otonom sudah saatnya dialihkan pada
aspek ekstrinsik kontekstual untuk menghindari keterpencilan dunia kesusastraan di Indonesia.
Sebab penelitian dengan prinsip karya sastra memiliki otonomi, kurang memberikan tantangan
untuk memanfaatkan disiplin ilmu yang lain. Selain itu, juga kurang mengungkapkan kekayaan
karya sastra itu secara maksimal.
Filed under: Esai
Thursday, 27 November 2008 (12:33) | 79 views | 0 komentar | Print this Article

Maman S. Mahayana
Dalam perjalanan sastra Indonesia, periode pasca-reformasi merupakan masa paling semarak dan
luar biasa. Kini, karya-karya sastra terbit seperti berdesakan dengan tema dan pengucapan yang
beraneka ragam. Faktor utama yang memungkinkan sastra Indonesia berkembang seperti itu,
tentu saja disebabkan oleh perubahan yang sangat mendasar dalam sistem pemerintahan.
Kehidupan pers yang terkesan serbabebas-serbaboleh ikut mendorong terjadinya perkembangan
itu. Maka, kehidupan sastra Indonesia seperti berada dalam pentas terbuka. Di sana, para
pemainnya seolah-olah boleh berbuat dan melakukan apa saja.
Dibandingkan puisi, novel, dan drama, cerpen Indonesia pada paroh pertama pasca-reformasi
mengalami booming. Cerpen telah sampai pada jatidirinya. Ia tak lagi sebagai selingan di hari
Minggu. Kini, cerpenis dipandang sebagai profesi yang tak lebih rendah dari novelis atau
penyair. Cerpenis tak diperlakukan sebagai orang yang sedang belajar menulis novel. Kondisi ini
dimungkinkan oleh beberapa faktor berikut:
Pertama, kesemarakan media massa –suratkabar dan majalah—telah membuka ruang yang
makin luas bagi para cerpenis untuk mengirimkan karyanya. Di sana, rubrik cerpen mendapat
tempat yang khas. Cerpen ditempatkan sama pentingnya dengan rubrik lain. Bahkan, di surat-
surat kabar minggu, ia seperti sebuah keharusan. Di situlah tempat cerpen bertengger dan
menyapa para pembacanya. Maka, hari Minggu adalah hari cerpen.
Bayangkanlah, setiap minggu kita dihadapkan pada ratusan cerpen yang mengisi lembaran koran
Minggu. Di pelosok kota di Indonesia, cerpen masuk ke ruang publik dengan bebasnya. Pembaca
disuguhi beragam pilihan. Dalam kondisi overproduksi itu, menyeruak pula sejumlah antologi
cerpen. Ketika kita sedang menimang-nimang isi kocek dan tuntutan kebutuhan lain, muncul lagi
antologi cerpen yang lain. Mereka datang susul-menyusul. Penerbitan buku antologi cerpen,
seperti berlomba dengan penerbitan novel dan buku lain.
Kedua, adanya kegiatan lomba menulis cerpen, memungkinkan cerpen tak hanya berada di hari
Minggu, tetapi juga pada event atau peristiwa tertentu. Majalah Horison setiap tahun
menyelenggarakan lomba penulisan cerpen. Begitupun Diknas, Pusat Bahasa atau lembaga lain
yang juga melakukan kegiatan serupa. Sejak 1992, harian Kompas memulai tradisi baru dengan
memilih cerpen terbaik dan memberi penghargaan khusus untuk penulisnya. Kegiatan ini
mengangkat kedudukan cerpen dalam posisi yang istimewa.
Ketiga, terbitnya Jurnal Cerpen yang diasuh Joni Ariadinata, dkk. serta adanya Kongres Cerpen
yang diselenggarakan berkala dalam dua tahun sekali –di Yogyakarta (1999), Bali (2001),
Lampung (2003), dan kongres mendatang di Pekanbaru (November 2005), berhasil mengangkat
citra cerpen secara lebih terhormat. Kegiatan itu sekaligus untuk menyosialisasikan keberadaan
cerpen sebagai bagian dari kegiatan sastra. Bersamaan dengan itu, usaha sejumlah penerbit
melakukan semacam perburuan naskah cerpen untuk diterbitkan, memberi harga dan martabat
cerpen tampak lebih baik dibandingkan keadaan sebelumnya.
Meskipun posisi cerpen berada dalam keadaan yang begitu semarak dan memperoleh tempat
istimewa, dalam hal regenerasi boleh dikatakan belum cukup signifikan. Masalahnya, secara
substansial sejumlah cerpenis muda yang muncul belakangan, harus diakui, belum menunjukkan
usahanya mengusung sebuah gerakan estetik yang kemudian menjadi sebuah mainstream. Arus
besar cerpen Indonesia pascareformasi masih tetap didominasi nama-nama lama yang memang
telah menjadi ikon cerpen Indonesia kontemporer. Cerpen Indonesia mutakhir masih tetap tak
dapat menenggelamkan sejumlah nama yang muncul justru sebelum terjadi reformasi, seperti
Budi Darma, Hamsad Rangkuti, Kuntowijoyo, Danarto, dan sederet panjang nama lain yang
tergolong pemain lama. Mereka masih tetap menjadi bagian penting dalam peta cerpen Indonesia
pascareformasi. Jadi, cerpenis lama dan baru, kini bertumpukan, semua ikut menyemarakkan
peta cerpen Indonesia.
***
Bagaimana dengan kemunculan cerpenis baru dalam peta cerpen Indonesia? Memang ada geliat
yang tak dapat diabaikan. Martin Aleida misalnya, mengangkat tema korban politik bagi mereka
yang terlibat PKI. Tetapi Martin termasuk pemain lama. Setidaknya ia sudah matang sebelum
terjadi reformasi. Maka, ketika terbit Leontin Dewangga (2003), kita terkejut bukan karena ia
sebagai pendatang baru, melainkan pada hasratnya mengangkat tema yang tak mungkin muncul
pada zaman Orde Baru. Dari sudut itu, ia telah memperkaya tema cerpen Indonesia. Kasus
Martin Aleida tentu berbeda dengan Linda Christanty yang juga sebenarnya termasuk pemain
lama. Antologinya, Kuda Terbang Maria Pinto (2004) seolah-olah memperlihatkan
ketergodaannya pada model dan style yang sedang semarak pada saat itu. Pengabaian latar
tempat dengan permainan pikiran malah seperti sengaja membuyarkan unsur lain –yang dalam
kerangka strukturalisme justru menempati posisi yang sama penting. Style itu memang
pilihannya, dan Linda telah memilih cara itu.
Pendatang baru yang cukup menjanjikan muncul atas nama Eka Kurniawan. Karya pertamanya,
antologi cerpen Corat-Coret di Toilet (2000) mula hadir kurang meyakinkan. Tetapi ketika
novelnya Cantik itu Luka (2002) terbit yang ternyata mengundang kontroversi, namanya mulai
diperhitungkan. Setelah itu terbit pula novel kedua, Lelaki Harimau (2004) yang memamerkan
kepiawaian melakukan eksperimen. Dalam antologi cerpen yang terbit belakangan, Cinta tak
Ada Mati (2005), Eka belum kehilangan semangat eksperimentasinya. Cerpen yang berjudul
“Bau Busuk” menunjukkan kesungguhan Eka melakukan eksperimen.
Azhari, cerpenis kelahiran Aceh adalah pendatang baru yang lain lagi. Cerpennya, “Yang
Dibalut Lumut” yang menjadi Juara Pertama Lomba Penulisan Cerpen Festival Kreativitas
Pemuda, Depdiknas—Creative Writing Institute memperlihatkan kekuatannya dalam
mengungkap kepedihan rakyat Aceh yang terjepit dalam konflik bersenjata antara aparat
keamanan (: TNI) dan Gerakan Aceh Merdeka. Ia juga berhasil menyajikan sebuah potret
kultural dan tradisi rakyat Aceh yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan keseharian
masyarakat di sana. Antologi cerpen pertamanya, Perempuan Pala (2004) memperlihatkan sosok
Azhari yang matang dalam memandang persoalan Aceh dalam tarik-menarik sejarah dan
kebudayaannya yang agung dengan kondisi sosial dan politik yang menimpa rakyat Aceh yang
justru menebarkan luka dan kepedihan. Boleh jadi antologi ini merupakan potret yang
merepresentasikan kegelisahan masyarakat Aceh dalam tarik-menarik itu.
Dengan kekuatan narasi yang hampir sama, Raudal Tanjung Banua hadir meyakinkan. Antologi
cerpennya, Pulau Cinta di Peta Buta (2003), Ziarah bagi yang Hidup (2004), dan Parang tak
Berulu (2005) menunjukkan perkembangan kepengarangannya yang makin kuat. Lihat saja,
cerpennya ““Cerobong Tua Terus Mendera” terpilih sebagai penerima Anugerah Sastra Horison
2004. Cerpen yang lain, “Tali Rabab” termasuk 15 cerpen terbaik dalam sayembara itu. Salah
satu kekuatan Raudal adalah narasinya yang sanggup menciptakan suasana peristiwa begitu
intens, metaforis, dan asosiatif. Pembaca dibawa masuk ke dunia entah-berantah. Lalu, tiba-tiba
merasa ikut menjadi saksi peristiwa yang diangkat cerpen itu.
Sejumlah nama cerpenis lain yang kelak menjadi sastrawan penting Indonesia, dapat disebutkan
beberapa di antaranya: Teguh Winarsho (Bidadari BersayapBelati, 2002), Hudan Hidayat (Orang
Sakit, 2001; Keluarga Gila, 2003) Maroeli Simbolon (Bara Negeri Dongeng, 2002; Cinta Tai
Kucing, 2003), Satmoko Budi Santoso (Jangan Membunuh di Hari Sabtu, 2003), Mustofa W
Hasyim (Api Meliuk di Atas Batu Apung, 2004), Kurnia Effendi (Senapan Cinta, 2004; Bercinta
di Bawah Bulan, 2004), Moh. Wan Anwar (Sepasang Maut, 2004), Yusrizal KW (Kembali ke
Pangkal Jalan, 2004), Isbedy Stiawan (Perempuan Sunyi, 2004; Dawai Kembali Berdenting,
2004), Triyanto Triwikromo (Anak-Anak Mengasah Pisau, 2003), Damhuri Muhammad (Laras,
Tubuhku bukan Milikku, 2005). Keseluruhan antologi itu menunujukkan kekuatan narasi yang
lancar mengalir dan kedalaman tema yang diangkatnya. Dalam lima tahun ke depan, mereka
akan ikut menentukan perkembangan sastra Indonesia.
Selain nama-nama itu, cerpenis wanita yang muncul dalam lima tahun terakhir ini, juga tidak
dapat diabaikan kontribusinya. Selain Linda Christanty, masih ada deretan cerpenis wanita yang
sebenarnya lebih kuat dan matang. Oka Rusmini (Sagra, 2002), Djenar Maesa Ayu (Mereka
Bilang Saya Monyet, 2002; Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu, 2004), Maya Wulan
(Membaca Perempuanku, 2002), Intan Paramadhita (Sihir Perempuan, 2005), Nukila Amal
(Laluba, 2005), Weka Gunawan (Merpati di Trafalgar Square, 2004), Labibah Zain (Addicted to
Weblog: Kisah Perempuan Maya, 2005), Ucu Agustin (Kanakar, 2005), Evi Idawati (Malam
Perkawinan, 2005). Mereka berpeluang mengikuti jejak seniornya, Nh Dini, Titis Basino, Leila
S. Chudori, Ratna Indrswari Ibrahim atau Abidah el-Khalieqy.
Yang menarik dari karya cerpenis perempuan ini adalah semangatnya melakukan gugatan.
Tokoh-tokoh perempuan yang dalam banyak karya para penulis laki-laki kerap menjadi korban
dan tersisih, dalam karya para penulis perempuan itu, justru cenderung berada dalam posisi yang
sebaliknya. Tokoh laki-laki kerap digambarkan tersisih dan kalah sebagai pecundang di bawah
kekuasaan perempuan. Selain itu, mereka juga begitu berani mengangkat perkara seks untuk
membungkus pesan ideologi jendernya.
***
Deretan panjang nama-nama lain yang kerap muncul di hari Minggu, patut pula mendapat
perhatian. Tentu dengan melihat daya tahan dan konsistensinya mempertahankan kualitas dan
kontribusi mereka bagi pemerkayaan khazanah cerpen Indonesia mutakhir. Akhirnya, seperti
sinyalemen Budi Darma, dalam keadaan overproduksi, pengamatan cerpen Indonesia mutakhir
dengan analisis yang mendalam, tak mungkin dapat dilakukan dalam rentang waktu yang
pendek. Kita sekarang ini seperti sedang berhadapan dengan air bah yang bernama cerpen
Indonesia kontemporer dan kita hanyut terseret dalam gelombang besar deras arusnya.

Sumber: MAHAYANA-MAHADEWA.COM http://mahayana-


mahadewa.com/2008/11/27/cerpen-indonesia-kontemporer/#ixzz19qxn0ais
Under Creative Commons License: Attribution Non-Commercial Share Alike
Posted on Thursday, March 13 @ 05:46:15 EDT by redaksi-2

Anonymous writes "

Memperbincangkan sastra, selalu terbuka ruang dialogis bahkan dialektika. Sebab,


dimensi kasusastraan dalam konteks penciptaan terpaut antara dunia yang nyata
dan dunia yang maya.

Blog, baik itu di blogspot, multiply, wordpress, FS, dan semacamnya, menjadi
bentuk komunikasi baru di tengah maraknya bacaan masyarakat. Arena ekspresi
dan luapan rasa kedirian serta kemauan dan kemampuan menulis/ berpose sepuas-
semaunya. Kini blog berkembang luar biasa pesat, diminati, dan dijamin “bebas”
tanpa pembredelan.

Bahkan, pemerintah sudah menetapkan tanggal 27 Oktober sebagai Hari Blogger


Nasional. Tidak tanggung- tanggung, peresmiannya dilakukan oleh Menteri Negara
Komunikasi dan Informatika (Meneg Kominfo) Muhammad Nuh, di hadapan 500
peserta Pesta Blogger 2007.

Saat ini hampir semua orang dengan berbagai profesi, sudah memiliki blog pribadi.
Dunia maya (cyberspace) adalah dunia tanpa batas dan bisa memberi peluang
kepada siapa pun untuk berkarya. Ada semacam kesan bahwa blog adalah pelarian
bagi mereka yang sering dikecewakan oleh dunia cetak, komunitas sastra dunia
maya terus tumbuh subur, blog dan website pribadi tak henti bermunculan dan
secara rutin menampilkan karya-karya sastra si empunya.

Bukan hanya para penulis pemula, kaum muda, dan remaja saja. Tetapi sekelas
Gonawan Mohamad, Joko Pinurbo, Sujiwo Tejo, Putu Wijaya, Helvy Tiana Rosa, Dewi
Lestari, Emha, Seno Gumira Ajidarma, dan lain- lain semua punya alamat blog
sendiri, meski ada yang dibikinkan atau dikelola orang lain. Ada kabar, film Ayat-
Ayat Cinta, mampu memberikan bius untuk ditonton karena Hanung Bramantyo,
sutradaranya sangat rutin memberikan deskripsi dan narasi pembuatan filmnya
melalui blog di multiply.com, yang menurut penulis juga, sebuah doktrin untuk kita
semakin penasaran pada film- film Hanung.

Sedangkan komunitas, juga mendapatkan ruang apresiasi dalam manifestasi teks


diwujudkan dengan bentuk Kongres Komunitas Sastra Indonesia, yang sudah
membuat semarak peta sastra nasional. Pada perbincangan tentang komunitas
sastra yang digelar Komunitas Sastra Indonesia (KSI) di Kudus, Jawa Tengah, pada
19- 21 Januari 2008 lalu bertema Meningkatkan Peran Komunitas Sastra sebagai
Basis Perkembangan Sastra Indonesia. Secara otomatis, komunitas, sebagai bagian
integral dari kemunculan sastra menjadi perhatian serius.

Term berpikir saat ini mengarah, jika bernaung dalam wadah komunitas sastra
menjadi oase prospek serta kegandrungan tersendiri di kalangan sastrawan
(apalagi) sastrawan- sastrawan muda (atau yang baru mau jadi sastrawan). Sebagai
langkah menjanjikan untuk produktifitas dan pangsa pasar karyanya.

Minimal membuat jejaring untuk ikutan nongol menyabet status sastrawan. Tentu
saja jika disepakati sastrawan adalah juga profesi yang dapat membuat strata
sosial seseorang terangkat. Yah, minimal tidak disebut pengangguran intelektual.
Ada beberapa teman yang saya sendiri belum pernah membaca karyanya (dalam
bentuk buku tentu saja), di KTP status pekerjaanya tertulis, “sastrawan”. Duh, risih
rasanya telinga ketika ada yang menyebut secara narsis, “saya sastrawan”.
Langsung ingat teman yang lucu dan imut- imut akibat nyentrik- kenesnya
merendahkan kasta sakral seorang sastrawan. Yang memperoleh gelar mulia itu
dengan bermodal kongkow- kongkow saja dalam komunitas sastrawan.

Blog (masuk di dalamnya media cetak yang menampung sastra) dan komunitas
adalah proses penelusuran berkarya untuk menemukan makna (the meaning)
memang, tetapi dalam relevansinya dengan sastra yang lahir dari blog dan
komunitas, sebenarnya hanyalah ruang kosong hampa makna. Keduanya terarah
secara sistemik untuk “menjadi” tokoh imajiner dari pikiran kosongnya sendiri. Tak
jarang, karyanya kemudian sekedar menjadi teks cacimaki dan tumpukan keluh,
kata hati norak.

Ada jebakan keterasingan dan semakin asketis, asosial, dan kesunyian dalam dunia
nge-blog-nya. Ada dunia kecongkakan, eksklusif, ego sektoral, megalomaniak, dan
metagila dalam ber-komunitas-nya. Blog dan komunitas, memiliki titik dan
semangat membahayakan eksistensi sastra baik itu teks ataupun nilainya.
Peta sastra, jika dilakukan melalui komunitas seringkali terjebak pada siapa
pengarangnya dan dimana aktifnya dengan menisbikan karya. Sedangkan jika
melalui blog, yang lahir adalah kebinalan dan kegenitan sastra yang tendensius
pada kefrustasiannya.

Maka blog dan komunitas, seyogyanya hanya diletakan pada pijakan awal, sebagai
media kontemplasi dan promosi, bukan penegasan peta sebuah karya sastra.
Sebab dikhawatirkan yang ada dan dihadirkan hanyalah “kepentingan” kedirian
yang naïf, imajiner, dan utopis, sedangkan yang real tergusur ke tombol del-
recycle bin. Dan pada akhirnya empty recycle bin sastra berkualitas. Apalagi
alasannya hanya karena tak punya blog dan tidak aktif berkomunitas.

Sastra itu Bertugas

Pablo Neruda, peraih Nobel Sastra dari Chili, menegaskan bahwa para sastrawan
adalah pendidik bangsa. Ejawantah dari kekuatan sastra dalam rangka praksis-
sosial, ditransformasikan oleh Pramudya Ananta Tour dalam kalimat yang tajam
yakni, sastra itu bertugas, mempunyai fungsi praktis.

Konsekwensi dari paham pemegang mandat “pendidik” hingga “bertugas” itulah,


para sastrawan mulai aktif dalam komunitas- komunitas. Saat ini, setelah dominasi
sastra koran (mungkin masih, sebab belum ada kajian intensif yang mencabut
postulat itu) yang sebelumnya termediasi hanya dalam ranah cetakan berbentuk
jurnal dan buku, muncul blog dalam rangka kreatifitas interpersonal untuk melawan
dominasi media cetak. Jika ditilik kajian historis kesusastraan sekarang, parade
diskusi yang mensosialisasikan cyberspace, bahkan diskusi maya (mailing list)
belakangan ini diramaikan dengan blog dan komunitas. Inilah kemudian yang
penulis maksud, mengarah pada peniadaan bahwa sastra itu bertugas.

Canon Sastra yang Membias

Canon sebagai peta arah rujukan perkembangan sastra, lantaran tenggelam pada
isu komunitas dan blog, alat ukur baru pemetaan sastra semakin kabur dan bias.
Dan semua yang terkait dalam sejarah sastra yang benar pun, masih menjadi
polemik tak berkesudahan.

Menariknya, polemik itu jarang sekali yang serius berbasiskan kekuatan teks,
melainkan sekedar ungkapan tendensius pada proses membenarkan diri (baca;
komunitasnya) dan menyalahkan yang di luar dirinya. Parahnya lagi, jika ada unsur
kekuasaan ekonomi-politik yang turut ambil bagian dalam arah perkembangan
sastra.

Akar masalahnya, tentu ranah pembeda dan pengkotakan sastra yang pernah
menghangat, bahkan panas. Tetapi mengukir sejarah sastra misalnya, polemik
kebudayaan, Manikebu, serta pengugatan pada Angkatan 45.

Sekarang pernyataan Sastrawan Ode Kampung (Boemipoetra) yang melawan


eksploitasi seksual dalam karya sastra yang diarahkan pada Komunitas Utan Kayu
(KUK) yang dituduh sebagai pengusung sastra kelamin (baca; fiksi alat kelamin/
FAK) , disebut salah satunya terdapat dalam karya Ayu Utami “Saman”. Ada
anggapan Ayu Utami mampu menembus pentas sastra nasional, dengan novel
perdananya itu lantaran bernaung dalam KUK.

Padahal, sebagaimana dihina Saut Situmorang, dominasi-tunggal atas dunia sastra


kita adalah ambisi ekstra-literer dimulai dengan skandal menangnya novel jelek
berjudul Saman di Sayembara Roman Dewan Kesenian Jakarta 1998.
Lebih lanjut, dalam tulisan dari milis PPI-India yang diposting sendiri oleh Saut
Situmorang itu, siapa saja bebas menafsirkan legenda yang diciptakan seputar
Saman, sama seperti para penilai Prince Claus Award yang memenangkan Ayu
Utami pada tahun 2000 untuk novel satu-satunya itu (sebelum munculnya Larung).
Ayu Utami sekedar menghasilkan cakar-ayam, yang dinilai sebagai kolom di koran
nasional tiap hari Minggu.

Maka, semakin ada kesadaran yang mulai membumi bahwa perumusan canon
sastra, agar tak bias haruslah terpisah dari ekslusifitas baik dalam berkarya
(melalui blog) atau pun bernaung (dalam komunitas). Lihat saja fakta
menyeruaknya cacimaki sekarang, bermaksud membuat peta kesejarahan sastra
tetapi terbelenggu dalam ruang ego sentris yaitu, blog dan komunitas.

Sebenarnya blog dan komunitas hanyalah fakta ketakmampuan merealisasikan


teks sastra yang menjadi penunjuk arah, tepatnya adalah sebagai ekspresi
kegagalan.
Archive for the ‘Yusi Avianto Pareanom’ Category
Edelweiss Melayat ke Ciputat
November 28, 2010
Cerpen Yusi Avianto Pareanom (Koran Tempo, 28 November 2010) MINGGU, 10-10-10.
Beberapa orang memilih menikah atau melahirkan pada hari bertanggal biner itu. Aya ditemukan
pada hari tersebut dengan tubuh terpotong sepuluh dalam empat kantong plastik hitam besar.
Kantong-kantong yang ditaruh di pembatas jalur di jalan raya depan Pasar Ciputat, Tangerang
Selatan, itu selama tiga hari [...]
Posted in Yusi Avianto Pareanom | Tagged: Koran Tempo | 1 Comment »
Ajal Anwar Sadat di Cempaka Putih
July 27, 2010
Cerpen Yusi Avianto Pareanom (Koran Tempo, 25 Juli 2010) ANWAR Sadat menemui ajalnya
pada hari pertama ia menginjakkan kaki di Jakarta. Ia datang dari Semarang. Usianya pada hari
naas itu 28 tahun.
Posted in Yusi Avianto Pareanom | Tagged: Koran Tempo | 1 Comment »
Penyakit-penyakit yang Mengundang Tawa
February 28, 2010
Cerpen Yusi Avianto Pareanom (Koran Tempo, 28 Februari 2010) 1 SEEKOR kalajengking
mengeram di tenggorokannya. Setiap gerakan capit dan ekor tajam binatang itu sungguh
menyiksanya. Jangankan makan, menelan air pun terasa menyakitkan. Itulah yang ia rasakan
pada hari keempat dihajar cacar air, penyakit yang sebelumnya ia berhasil hindari dengan lihai
selama 41 tahun lebih.
Posted in Yusi Avianto Pareanom | Tagged: Koran Tempo | Leave a Comment »
Menyampaikan Ideologi Lewat Sastra
Selasa, 12 Agustus 2008 20:04:10 - oleh : admin

Oleh: Hamid Afif

Mencari definisi sastra sama sulitnya dengan mencari jarum jatuh di tumpukan
jerami. Permasalahanya karena dari dulu sampai sekarang belum ada kata sepakat
mengenai definisi itu dari pakar dan ahli sastra. Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono
selaku presiden sastra Indonesia yang juga mantan dekan fakultas sastra
Universtas Indonesia yang kini berubah menjadi fakultas budaya mendefinisikan
sastra sebagai sebuah kegiatan berbahasa. Dia menyebutkan bahwa sastra
Indonesia adalah sastra yang ditulis dalam bahasa Indonesia. Sastra Jepang adalah
sastra yang ditulis dalam bahasa Jepang, begitu seterusnya. Dari pengertian ini
berarti sastra adalah sebuah karya dalam bentuk tulisan. Dengan demikian definisi
yang diungkpakan oleh Djoko Damono sama seperti definisi kata sastra yang
terdapat dalam KBBI, sastra berarti huruf, gaya bahasa dan tulisan. Begitu juga bila
ditelisik dari asal kata sastra itu sendiri (sangsekerta) maka sastra berarti huruf ,
bahasa dan karya.

Tak salah bila kemudian ada yang bilang bahwa sastra adalah cerminan ide dalam
bentuk tulisan atau karyaSeperti halnya dengan apa yang diungkapkan oleh Nio Joe
Lan, ia mengemukakan bahwa sastra adalah pencerminan segala apa yang berada
dalam sanubari manusia. Tiap hasil sastra sebenarnya tak lain dan tak bukan
melainkan sebuah petunjuk dari sesuatu yang berada dalam lubuk hati manusia.
Tiap sajak pada hakekatnya adalah perwujudan keinginan, pengharapan, khayalan,
dan idam-idaman semua umat manusia. Makanya membaca novel, sajak, dan
sandiwara mempunyai dua arti. Pertama, membaca novel, sajak, dan sandiwara
untuk melewati waktu yang luang, tetapi dengan berbuat demikian, dengan cara
tak disadari kita sebenarnya mengambil tahu dunia pikiran orang-orang yang
dikisahkan dan keadaan masyarakat yang bersangkutan. Kedua, kita membaca
sebuah hasil karya sastra bukan sebagai pelewat waktu yang lapang melainkan
juga oleh karena kita secara sadar memang ingin mengetahui apa yang terjadi
dengan seseorang atau beberapa orang tertentu. Senada dengan diatas, aliran
formalisme Rusia juga sependapat bila sastra diartikan demikian, malahan mereka
mengatakan bahwa sastra adalah pembantu khusus bahasa.

Pun ada yang mengartikan sastra adalah sejarah yang diromanisasikan, layaknya
Nio Joe Lan dan aliran formalisme rusia. Tak salah bila selama ini konsepsi pikiran
kita selalu berkata bahwa sastra adalah yang indah dan romantis. Bila demikian
adanya maka aliran ini bertentangan dengan fungsi sastra itu sebagai pencatat
sejarah. Sebab karya sastra tidak hanya terbatas pada keindahan dan romantisme
belaka, semisal kitab negarakartagama, arthasastra, dan dharmasastra. Padahala
ketiga kitab itu adalah kitab-undang-undang, bahkan al-Qur’an dan hadits.
Seiring dengan berjalannya waktu maka alat atau wahana untuk
mengaktualisasikan segala cerminan ide dan pikiran tidak hanya terbatas pada
bahasa yang direfleksikan dengan tulisan saja, melainkan juga bisa melalui alat
atau media yang lainya. Semisal cerminan ide direfleksikan dalam bentuk gambar
(visual); lukisan karikatur, ilustrasi puisi, foto dan lain sebagainya, suara (audio);
sandiwara dan cerita. Atau bisa juga audio-visual layaknya sebuah film. Bila sudah
demikian, apakah masih layak jika definisi sastra diartikan sebagai cerminan ide
dalam bentuk tulisan? Jawabannya ada benak masing-masing. Dari beberapa
pengertian diatas, penulis lebih suka memaknai sastra sebagai ekspresi terhadap
sesuatu dengan atau tidak memakai tulisan, tapi bahasa(dalam arti luas). Seperti
definsi yang diungkapkan Enrique Anderson Imbert dalam muqadimah Manahiju al-
naqd al-adabi. Intinya sastra bagi penulis adalah ekspresi bahasa sebagai
perantara.

Dua Unsur Pembangun Sastra


Mahmud Tsanie dalam buku Bahasa Indonesia-nya menjelaskan bahwa unsur yang
mempengaruhi sastra banyak sekali. Bisa dari budaya dimana sastrawan itu tinggal
yang kemudian berpengaruh terhadap karya sastranya. Bisa juga karena kondisi
geografi yang kemudian memberi corak sastra. Atau bisa jadi karena kondisi politik.
Namun bisa jadi unsur yang mempengaruhi adalah pola pandang, ideology,
pemahaman, dan keyakinan yang dianut. Dari beberapa unsur tersebut bisa
dirampingkan menjadi dua unsur yakni unsur ekstrinsik sastra dan unsur intrinsik
sastra. Hal ini sesuai dengan apa yang dijelaskan Enrique Anderson Imbert, bahwa
unsur pembangun sastra ada dua, khariji (ekstrinsik) dan dakhili(intrinsik). Dengan
unsur yang membangun tersebut kemudian lahirlah apa yang dinamakan aliran-
aliran sastra. Di Indonesia kita mengenal aliran realisme, romantisme, surealisme
dan lain sebagainya. Di Rusia kita tahu aliran marxisme, formalisme, dan
modernisme. Aliran-aliran inilah yang kemudian membawa ideologinya masing-
masing. Seperti aliran marxisme, ideology yang dibawa dan diusung dalam karya-
karyanya adalah hal-hal yang berbau sosial. Beda dengan aliran formalisme, maka
hal yang diusung dan dijunjung tinggi dalam karya-karyanya adalah keindahan
bahasa. Tokoh seperti ini bisa dinisbatkan kepada Hamzah Fansuri yang mana
sajak-sajaknya selalu mengikuti kaidah dan rima akhir. Selain itu, dalam sastra
modern yang diwakili oleh Shake Spear lebih menekankan pada makna bahasa
ketimbang keindahan struktur kata. Sastrawan Indonesia yang bisa dikategorikan
kedalam aliran modernisme adalah W.S Rendra. Dengan demikian bisa dimaklumi
jika dikemudian ada macam dan corak warna sastra yang begitu banyaknya. Tidak
ada yang bisa disalahkan, karena apa yang mereka perbuat berdasarkan apa yang
mempengaruhi mereka, baik terpengaruh dari unsur intrinsik atau ekstrinsik. Yang
pasti kedua-duanya sangat berpengaruh dalam sebuah karya sastra.

Sastrawan dalam satu waktu tertentu biasa dipanggil pujangga. Ini semua
disebabkana karena pengaruh Plato yang sangat dominan. Mereka dengan
seenaknya memperkosa bahasa secara kreatif. Menggunakannya sesuai dengan
apa yang jadi imaginasi mereka. Kadang bahasa yang menurut kita adalah bahasa
yang sudah jelas makna dan maksudnya, ditangan para sastrawan bisa digubah
dengan penafsiran sastrawan itu sendiri dengan indah. Tak berlebihan bila
sastrawan kaliber Jamal D. Rahman dan Ahmadi Thoha mengatakan bahwa tingkat
paling artistik sebuah karya sastra bila bahasa yang digunakan adalah bahasa yang
sulit dimengerti oleh pembaca. Kalaupun bisa mencerna apa maksud yang
terkandung didalamnya harus mengerutkan kening terlebih dahulu guna mendalami
makna apa yang dimaksud oleh penulis. Hal yang demikian itu sah-sah saja karena
sebagai sistem komunikasi dan alat ekspresi bahasa antara lain memiliki sifat
arbitrer (manasuka). Ini sesuai dengan apa yang diungkapkan Plato, “keindahan
mutlak hanya terdapat pada tingkat dunia ide-ide yang mengatasi dunia ilahi, yang
tidak langsung terjangkau oleh manusia tetapi paling banter didekati lewat
pemikiran.” Sebagai contoh kasus adalah sajaknya Muchtar Lubis yang berjudul
harimau. Semua orang pasti akan mendefinisikan kata “harimau” sebagai seekor
hewan. Tapi siapa yang menyangka bila kata harimau di situ berarti manusia.

Dalam dunia sastra, wilayah sastra dibagi menjadi dua. Pertama, wilayah ekprsesif
yang bergerak dalam bidang ekpresi. Kedua, wilayah aprsesiatif yang bergerak
dalam bidang apresiasi sastra. Biasanya yang bergerak dalam wilayah kedua ini
adalah penikmat dan pemerhati sastra. Lain halnya dengan yang bergerak dalam
wilayah ekspresi. Biasanya mereka yang bergerak dalam wilayah ekspresi adalah
pekerja sastra sekaligus penikmat. Pada tataran ekpresi, unsur pembangun yang
paling menonjol dalam karakter karya sastra adalah unsur intrinsik yang dalam hal
ini ideologi, bukan berarti menafikan yang lain, tapi memang begitu kenyataanya.
Dalam banyak hal, sastrawan yang dipengaruhi oleh unsur intrinsik (ideologi)
cenderung menggunakan sastra sebagai “kendaraan kebenaran” yang mereka anut
dan mengesampingkan yang lain. Beda dengan sastrawan yang memang
memfungsikan sastra sebagai “pernyataan suatu perasaan tergerak.”

Islamisme Sastra
Adanya hari ini karena adanya hari kemarin, adanya kosong karena adanya penuh,
dan adanya pemikiran hari ini adalah karena adanya pemikiran hari kemarin.
Seperti telah disinggung diatas bahwa unsur intrisnsik (ideologi) sangat
berpengaruh terhadap sebuah karya sastra. Seperti halnya sejarah telah
mengatakan. Kalau dibelahan dunia lain kita mengenal sastrawan humanisme,
sosialisme, romantisme, dan seterusnya maka dalam beberapa tahun terakhir ini
muncul sekte sastra baru beridiologi ajaran agama (Islam). Dan sekarang ini sedang
marak-maraknya, khususnya ditanah air. Sebenarnya bila mau ditelisik agak jauh
maka kita akan menemukan beberapa hubungan antara agama dan sastra seperti
dikatakan Hamdan dalam esai sastranya di Cybersastra. Dia memaparkan
hubungan antara agama dan sastra sebagai berikut. Hubungan pertama yang
paling jelas antara sastra dan agama adalah kenyataan bahwa banyak karya sastra
yang merupakan ungkapan penghayatan seseorang terhadap Tuhan. Hubungan
yang kedua adalah penggunaan simbol-simbol berupa kosakata yang sudah umum
dipakai dalam kehidupan beragama sebagai tanda-tanda dalam karya sastra.
Ketiga, dalam menciptakan karya sastra, banyak pengarang yang tetap menjadikan
agama sebagai patokan, sedangkan pengarang yang lain menganggap karya sastra
bebas dari pengaruh agama. Perbedaan pendapat ini mengakibatkan terjadinya
perbedaan pendapat di kalangan para sastrawan dan ahli sastra. Keempat,
pembaca karya sastra menggunakan cakrawala harapannya dalam memahami
karya sastra. Pembaca yang berorientasi pada agama, tentunya mengharapkan
karya sastra itu tidak menentang agama (dalam arti agama formal) sehingga
penentangan agama lewat karya sastra akan mereka tanggapi secara negatif.
Kelima, Bagaimanapun, bisa dikatakan bahwa pengarang itu taat beragama atau
tidak, karyanya tetap harus mengandung nilai-nilai estetika dan sesuai dengan
konvensi sastra. Masyarakat sastralah yang akan memberikan penilaian karena
kebesaran karya sastra ditentukan dengan kriteria di luar estetika, misalnya agama.

keenam, ilmu sastra, sebagai sebuah pengetahuan ilmiah, memiliki peran


memberikan penjelasan ilmiah mengenai kaitan sastra dengan bidang-bidang lain
di luar sastra, misalnya agama. Dengan demikian, siapa saja yang akan
memberikan keterangan secara ilmiah mengenai keterkaitan sastra dengan bidang
lain, harus pula memahami ilmu sastra.

Dari hubungan diatas setidaknya kita bisa mengadakan beberapa pendekatan


dalam rangka mengharmoniskan gesekan antar aliran. Pendekatan yang pertama
adalah pendekatan ekspresif. Maksudnya adalah, karya sastra dipandang sebagai
ekspresi pengarang. Dan ini menjadi penting karena karya tersebut merupakan
potret dan konsep ideal yang diinginkan pengarang. Pendekatan yang kedua adalah
pendekatan pragmatik. Yang dimaksud pragmatik disini karya sastra dipandang
sebagai sarana mencapai tujuan pada pembaca. Seperti telah disinggung diatas,
ada sebuah pemahan bahwa karya sastra dianggap sebagai kendaraan kebenaran
pengarang. Yang ketiga adalah mimietik; karya sastra dipahami sebagai tiruan alam
semesta atau kehidupan. Dan yang terakhir adalah pendekatan objektif, dalam
artian sastra dianggap sebagai sesuatu yang berdiri sendiri. Tidak terkungkung oleh
apa adan siapa. Dari empat pendekatan diatas antara agama (Islam) dan sastra
tidak ada masalah berarti. Tapi ketika harus dibenturkan dengan pendekatan
objektivitas maka akan ditemukan garis singgung yang bisa jadi dapat membuat
kelompok lain tidak enak. Karena kecenderungan pendekatan objektivisme
mendorong pada penilaian relative; bila karya sastra diakui bernilai pada suatu
tempat dan waktu maka pada saat yang bersamaan juga harus diakui bernilai
ditempat lain. Ini yang tidak bisa. Selain relative juga absolute; harus bersandar
pada nilai-nilai dogmatis. Ini juga tidak bisa karena bisa jadi dogma Islam akan
berseberangan dengan dogma lain. Kemudian perspektif; harus dipandang dari
berbagai macam sudut dan pola pandang. Tidak melulu hanya dari satu model. Ini
juga mengundang kerawanan.
Dengan demikian jelaslah bahwa pemaksaan satu ideologi terhadap sastra dan
mengesampingkan yang lain hanya akan membuat yang lain merasa tidak
dianggap dan bahkan mengundang persengketaan dan dan perebutan wilayah
garapan sastra. Ini yang seharusnya dijauhi karena semestinya antar sesama yang
bekerjasama dalam kesamaan harus beda dan bersengketa hanya gara-gara
masalah yang sebenarnya tidak harus dipermasalahkan. Idealnya mungkin begitu
tapi pada kenyataannya sastra memang memberi kesempatan pada siapa saja
untuk melakukan penjajahan wilayah dan karena penjajahan serta pencaplokan
suatu wilayah akan menjadikan sastra semakin melebar sayapnya kemana-mana.
Yang semakin lama semakin menimbulkan warna warni dalam sastra itu sendiri.
Selain memang tidak ada secara de facto sebuah aturan yang melarang untuk
begitu itu.

Kritik Insani
Pada akhirnya pembaca yang akan menilai sebuah karya sastra. Dan pembacalah
sebenarnya objek dari karya sastra. Maka, pembaca karya sastra mau tidak mau
harus sudi kiranya meluangkan waktu sejenak untuk menilai sebuah karya sastra.
Bukan untuk apa, tapi untuk ikut memberikan sumbangsih kritik konstruktif
terhadap hasil karya pekerja sastra. Sekedar memberikan penilain dengan
pendekatan mana yang ia kehendaki. Sedari itu makanya bagi segenap pengrajin
dan pekerja ekspresif sastra untuk tidak sembrono menggunakan petunjuk-petunjuk
agama (Islam) dalam berkarya. Harus hati-hati dalam mengolah kata agar yang lain
tidak merasa asing dan terasing dengan idiom kosa kata baru. Dari uraian diatas
maka sebisa mungkin untuk tidak menggunakan simbol-simbol agama untuk
sebuah kepentingan. Harus diingat bahwa masyarakt sastra kita membentang luas
dari barat ketimur dan dari utara ke selatan dengan berbagai varian komunitas.
Biarkan hubungan kelembagaan sastra yang membidani lahirnya aturan dan
konvensi-konvensi sastra. Agama tidak usah diperturutkan. Kalaupun harus
menyampaikan ideologi maka sudah seharusnya tetap menghargai yang lain
dengan tidak membuat kapling sastra tersendiri, karena sastra adalah sastra.
Sastra bukanlah agama tapi agama bisa menunggangi sastra sebagai kendaraan
kebenaran agama. Tapi tidak sepatutunya menutup diri dengan yang lain, apalagi
acuh dan merasa diri paling baik diantara yang lain. Pakai ataupun tidak pakai
ideologi agama sastra akan tetap ada. Dan sastra tidak akan pernah sirna selama
orang masih bergelut dengan dunia ekspresi bahasa. Kalau bisa tidak usah pakai
symbol atau petunjuk-petunjuk agama unutk mengantarkan sebuah nilai pada para
pembaca. Kita menggunakan cara lain, yakni dengan cara memasukkan nilai saja
tanpa bajunya sekalian. Wallahu a’lamu bil shawab.

kirim ke teman | versi cetak


Berita "Sastra" Lainnya

Kenangan Ku

Tradisi Sastra Lisan Mulai Terlupakan

Cinta, Ambang Percaya dan Tidak Percaya

Puisi-puisi C Anwar

Cermin Disiplin Kerja