Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Al-Qur’an bukanlah merupakan sebuah buku dalam pengertian umum,

karena ia tidak pernah diformulasikan, tetapi diwahyukan secara berangsur-

angsur kepada Nabi Muhammad SAW. Sesudai dengan situasi yang

menuntutnya. Al-Qur’an sendiri menyadari kenyataan ini sebagai sesuatu

yang akan menimbulkan keusilan di kalangan pembantahnya (QS. Al-Furqan:

32). Seperti yang diyakini sampai sekarang, pewahyuan Al-Qur’an secara

total dan secara sekaligus, itu tidak mungkin, karena Al-Qur’an diturunkan

sebagai petunjuk bagi kaum muslimin secara berangsur-angsur sesuai dengan

kebutuhan-kebutuhan yang ada.

Sebagian dari tugas untuk memahami pesan dari al-Qur’an sebagai suatu

kesatuan adalah mempelajarinya dalam konteks latar belakangnya. Latar

belakang yang paling dekat adalah kegiatan dan perjuangan Nabi yang secara

keseluruhan sudah terpapar dalam sunahnya, kita perlu memahaminya

lingkungan pergaulan Arab pada masa awal penyebaran islam dalam konteks

perspektif karena aktivitas Nabi berada di dalamnya. Oleh karena itu, adat

istiadat, lembaga-lembaga serta pandangan hidup bangsa Arab pada

umumnya perlu diketahui untuk memahami konteks aktivitas Nabi. Secara

khusus, situasi Mekah pra-Islam perlu dipahami secara mendalam. Apabila

tidak memahami masalah ini, kita tidak akan dapat memahami pesan-pesan

1
Al-Qur’an sebagai suatu keutuhan. Orang akan salah menangkap pesan-pesan

al-Qur’an sebagai suatu keutuhan. Orang akan salah menangkap pesan-pesan

al-Qur’an secara utuh, jika hanya memahami bahasanya saja, tanpa

memahami konteks historisnya. Untuk dipahami secara utuh, Al-Qur’an harus

dicerna dalam konteks perjuangan Nabi dan latar belakang perjuangannya.

Oleh sebab itu, hampir semua literature yang berkenaan dengan Al-Qur’an

menekankan pentingnya asbab an-nuzul (alasan pewahyuan).

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka yang menjadi rumusan masalah

dalam penulisan makalah ini adalah:

1. Apa pengertian Asbabun Nuzul?

2. Apa fungsi Asbabun Nuzul?

3. Bagaimana redaksi periwayatan Asbabun Nuzul?

4. Bagaimana berbilangnya Asbabun Nuzul Ayat?

C. Tujuan Penulisan.

Adapun yang menjadi tujuan dalam penulisan makalh ini adalah untuk

mengetahui beberapa hal berikut:

1. Pengertian Asbab Al-Nuzul

2. Fungsi Asbab Al-Nuzul

3. Redaksi periwayatan Asbab Al-Nuzul

4. Berbilangnya Asbab An-Nuzul ayat.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Asbab Al-Nuzul

Secara etimologis, asbab an-nuzul terdiri dari dua kata: asbab (jamak

dari sabab yang berarti sebab atau latar belakang) dan nuzul berarti turun.1

Banyak pengertian terminology yang dirumuskan oleh para ulama, di

antaranya:

1. Menurut Az-Zarqani;

“Asbab an-nuzul adalah hal khusus atau sesuatu yang terjadi serta

hubungan dengan turunnya ayat Al-Qur’an yang berfungsi sebagai

penjelas hukum pada saat peristiwa itu terjadi”.2

2. Ash-Shabuni:

“Asbab an-nuzul adalah peristiwa atau kejadian yang menyebabkan

turunnya satu atau beberapa ayat mulia yang berhubungan peritiwan dan

kejadian tersebut, baik berupa pertanyaan yang diajukan kepada nabi atau

kejadian yang berkaitan dengan urasan agama”.3

1
Drs. Ahmad Izzan, M.Ag, Ulumul Qur’an, Bandung, 2005, hlm. 177
2
Drs. Rosihan Anwar, M.Ag. Ulumul Qur’an, Bandung, 2004, hlm. 60
3
Ibid.

3
3. Shubhi Shalih:

Artinya:

“Asbab an-nuzul adalah sesuatu yang menjadi sebab turunnya satu atau

beberapa ayat al-Qur’an yang terkadang menyiratkan suatu peristiwa,

sebagai respon atasnya atau sebagai penjelas terhadap hukum-hukum

ketika peristiwa itu terjadi”.4

4. Mana’ Al-Qaththan:

Artinya:

“Asbab an-nuzul adalah peristiwa-peristiwa yang menyebabkan turunnya

Al-Qur’an, berkenaan dengan waktu peristiwa itu terjadi, baik berupa

satu kejadian atau berupa pertanyaan yang diajukan kepada Nabi”.5

5. M. Hasbi Ash-Shidieqi:

Mengartikan asbab an-nuzul sebagai kejadian yang karenanya diturunkan

Al-Qur’an untuk menerangkan hukumnya pada saat kejadian-kejadian itu

timbul dan suasana yang di dalamnya Al-Qur’an diturunkan secara

4
Ibid.
5
Ibid, hlm. 61

4
langsung sesudah sebab-musabab itu terjadi maupun terkemudian lantaran

sesuatu hikmah.6

Kendatipun redaksi pendefinisian di atas sedikit berbeda, semuanya

menyimpulkan bahwa yang disebut asbab an-nuzul adalah kejadian atau

peristiwa yang melatarbelakangi turunnya ayat Al-Qur’an, dalam rangka

menjawab, menjelaskan dan menyelesaikan masalah-masalah yang timbul

dari kejadian tersebut. Asbab an-nuzul merupakan bahan sejarah yang dapat

dipakai untuk memberikan keterangan terhadap turunnya ayat Al-Qur’an dan

memberinya konteks dalam memahami perintah-perintahnya. Sudah tentu

bahan-bahan sejarah ini hanya melingkupi peristiwa masa Al-Qur’an masih

turun (‘ashr at-tanzil).

B. Fungsi Asbab Al-Nuzul

Az-Zarqani dan As-Suyuthi mensinyalir adanya kalangan yang

berpendapat bahwa mengetahui asbab an-nuzul merupakan hal yang sia-sia

dalam memahami Al-Qur’an. Mereka beranggapan bahwa mencoba

memahami Al-Qur’an dengan meletakkannya dalam konteks waktu tertentu.

Namun, keberatan seperti ini tidaklah berdasar karena tidak mungkin

menguniversalkan pesan Al-Qur’an di luar masa dan tempat pewahyuan,

kecuali melalui pemahaman yang semestinya terhadap makna Al-Qur’an

dalam konteks kesejarahannya.

6
Drs. Ahmad Izzan, M.Ag., Ulumul Qur’an, Bandung, 2005, hlm. 177.

5
Sementara itu, mayoritas ulama sepakat bahwa konteks kesejarahan yang

terakumulasi dalam riwayat-riwayat asbab an-nuzul merupakan satu hal yang

signifikan untuk memahami pesan-pesan Al-Qur’an.

Dalam uraian yang lebih rinci, Az-Zarqani mengemukakan fungsi Asbab

Al-Nuzul dalam memahami Al-Qur’an yaitu sebagai berikut:

1. Membantu dalam memahami sekaligus mengatasi ketidakpastian dalam

menangkap pesan ayat-ayat Al-Qur’an. Umpamanya dalam Al-Qur’an

surat Al-Baqarah [2] ayat 115 dinyatakan bahwa timur dan barat

merupakan kepunyaan Allah. Dalam kasus shalat, dengan melihat dzahir

ayat di atas, seseorang boleh menghadap kea rah mana saja sesuai dengan

kehendak hatinya. Ia tidak berkewajiban untuk menghadap kiblat ketika

shalat. Akan tetapi, setelah melihat asbab an-nuzul-nya, kekeliruan

interpretasi tersebut sangat jelas sebab ayat di atas berkaitan dengan

seseorang yang sedang berada dalam perjalanan dan melakukan shalat di

atas kendaraan, atau berkaitan dengan orang yang berjihad dalam

menentukan arah kiblat.7

Contoh kedua, diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari, bahwa

Marwan menemui kesulitan ketika memahami ayat:

       


       
     
Artinya:

7
Drs. Rosihan Anwar, Ulumul Qur’an, Bandung, 2004, hlm. 64

6
Janganlah sekali-kali kamu menyangka, hahwa orang-orang yang

gembira dengan apa yang Telah mereka kerjakan dan mereka suka

supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan

janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa, dan bagi

mereka siksa yang pedih.

(QS. Ali Imran [3]: 188).

Marwan memahami ayat di atas sebagai berikut: Jika setiap orang

yang bergembira dengan usaha yang telah diperbuatnya dan suka dipuji

atas usahanya yang belum dikerjakan, akan disiksa, maka kita semua akan

disiksa. Ia memahami ayat tersebut seperti itu sampai Ibn bbas

menjelaskan bahwa ayat di atas diturunkan berkenaan dengan ahli kitab.

Ketika ditanya oleh Nabi tentang sesuatu, mereka menyembunyikannya

bahwa tindakannya di luar permintaan Nabi. Mereka beranggapan bahwa

tindakannya itu berhak mendapat pujian dari Nabi. Maka turunlah ayat

tersebut.8

2. Mengatasi keraguan ayat yang diduga mengandung pengertian umum.

Umpamanya dalam surat Al-‘Anam [6] ayat 145 dikatakan:

         


         
         
         

Artinya:

8
Ibid.

7
"Katakanlah: "Tiadalah Aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan
kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak
memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang
mengalir atau daging babi - Karena Sesungguhnya semua itu kotor - atau
binatang yang disembelih atas nama selain Allah."
(QS. Al-‘Anam: 145).

Menurut Asy-Syafi’i, pesan ayat ini tidak bersifat umum (hasr).

Untuk mengatasi kemungkinan adanya keraguan dalam memahami ayat

di atas, Asy-Syafi’i menggunakan asbab an-nuzul. Ayat ini menurutnya,

diturunkan sehubungan dengan orang-orang kafir yang tidak mau

memakan sesuatu, kecuali apa yang telah mereka halalkan sendiri.

Mereka mengharamkan apa yang telah dihalalkan Allah dan

menghalalkan apa yang telah diharamkan Allah merupakan kebiasaan

orang-orang kafir, terutama orang Yahudi, maka turunlah ayat di atas.

3. Mengkhususkan hukum yang terkandung dalam ayat Al-Qur’an bagi

ulama yang berpendapat bahwa yang menjadi pegangan adalah sebab

yang bersifat khusus (khusus as-sabab) dan bukan lafazh yang bersifat

umum (umum al-lafazh). Dengan demikian, ayat “zihar” dalam

permulaan surat Al-Mujadalah [58]. Yang (Khaulah binti Hakim Ibn

Tsa’labah), hanya berlaku bagi kedua orang tersebut. Hukum zihar yang

berlaku bagi selain mereka ditentukan dengan jalan analogi (qiyas).

4. Mengidentifikasikan pelaku yang menyebabkan turunnya ayat Al-Qur’an,

umpamanya, ‘Aisyah pernah menjernihkan kekeliruan Marwan yang

menunjuk Abd Ar-Rahman Ibn Abu Bakar sebagai orang yang

menyebabkan turunnya ayat: “Dan orang yang mengatakan kepada orang

8
tuanya “Cis kamu berdua … “ (QS. Al-Ahqaf: 17). Untuk meluruskan

persoalan, ‘Aisyah berkata kepada Marwan, “Demi Allah, bukan dia yang

menyebabkan ayat ini turun. Dan aku sanggup untuk menyebutkan siapa

orang yang sebenarnya”.

5. Memudahkan untuk menghapal dan memahami ayat, serta untuk

memantapkan wahyu ke dalam hati orang yang mendengarnya. Hal ini

karena hubungan sebab akibat (musabab) hukum, peristiwa dan pelaku,

masa dan tempat merupakan satu jalinan yang dapat mengikat hati.

C. Redaksi Periwayatan Asbabun Nuzul.

Ungkapan-ungkapan yang digunakan para sahabat untuk menunjukkan

sebab turunnya Al-Qur’an tidak selamanya sama.

Ungkapan-ungkapan itu beberapa bentuk sebagai berikut:

1. Sabab Al-Nuzul disebutkan dengan ungkapan yang jelas, seperti:

(Sebab turunnya ayat ini demikian). Ungkapan ini secara definitif

menunjukkan Sebab Al-Nuzul dan tidak mengandung kemungkinan

makna lain.

9
2. Sebab Al-Nuzul tidak ditunjukkan dengan lafal sebab, tetapi dengan

mendatangkan lafal yang masuk kepada ayat dimaksud secara

langsung setelah pemaparan suatu peristiwa atau kejadian. Ungkapan

seperti ini juga menunjukkan bahwa peristiwa itu adalah sebab baik

turunnya ayat tersebut. Misalnya ialah Sabab Al-Nuzul yang diriwayatkan

oleh Muslim dari Jabir. Jabir berkata: “Orang-orang Yahudi berkata:

“Barang siapa yang menggauli isterinya dari kubulnya dari arah

duburnya, anaknya akan lahir dalam keadaan juling”, maka Allah

menurunkan ayat:

öNä.ät!$|¡ÎS Ó^öym öNä3©9 (#qè?ù'sù öNä3rOöym 4’¯Tr& ÷Läê÷¥Ï©


( (#qãBÏd‰s%ur ö/ä3Å¡àÿRL{ 4 (#qà)¨?$#ur ©!$# (#þqßJn=ôã$#ur
Nà6¯Rr& çnqà)»n=•B 3 ̍Ïe±o0ur šúüÏZÏB÷sßJø9$# ÇËËÌÈ
(Al-Baqarah: 223).

3. Sabab Al-Nuzul dipahami secara pasti dari konteksnya. Dalam hal ini

rasul ditanya orang, maka ia diberi wahyu dan menjawab pertanyaan itu

dengan ayat yang baru diterimanya. Para mufassir tidak menunjukkan

sebab turunnya dengan lafal Sabab Al-Nuzul dan tidak dengan

mendatangkan . Akan tetapi Sabab Al-Nuzulnya dipahami melalui

konteks dan jalan ceriteranya, seperti sebab turunnya ayat tentang ruh dari

Ibnu Mas’ud terdahulu.

4. Sabab Al-Nuzul tidak disebutkan dengan ungkapan sebab secara jelas,

tidak dengan mendatangkan yang menunjukkan sebab, dan tidak

pula berupa jawaban yang dibangun atas dasar pertanyaan. Akan tetapi,

dikatakan:

10
Ungkapan seperti ini tidak secara definitive menunjukkan sebab, tetapi

ungkapan ini mengandung makna sebab dan makna lainnya, yaitu tentang

hukum kasus atau persoalan yang sedang dihadapi. Al-Zarkasyi

menyebutkan bahwa telah dimaklumi dari kebiasaan para sahabat dan

tabi’in bahwa jika salah seorang mereka berkata: “Ayat ini turun tentang

demikian, maka sesungguhnya ia maksudkan ayat ini mengandung hukum

ini; dan ini bukan sebab bagi turunnya ayat tersebut”. Namun, menurut

Al-Zarqani, satu-satunya jalan untuk menentukan salah satu dari dua

makna yang terkandung dalam ungkapan itu adalah konteks

pembicaraannya, tampaknya Al-Zarqani telah memberikan jalan tengah

untuk menyelesaikan persoalan ini. Selanjutnya, Al-Zarqani menjelaskan

bahwa jika ditemukan dua ungkapan tentang persoalan yang sama, salah

satu dari padanya secara nas menunjukkan sebab turunnya suatu ayat

atau kelompok ayat, sedang lainnya tidak demikian, maka diambil

ungkapan yang pertama, dan yang lainnya dianggap penjelasan bagi

hukum yang terkandunc, dalam ayat tersebut. Misalnya ialah riwayat

Muslim dari Jabir tentang sebab turun ayat yang

telah lalu dan riwayat Al-Bukhari dari Ibnu Umar. Innu Umar berkata

“Ayat:

11
diturunkan pada (masalah) mendatangi (menggauli) perempuan-

perempuan pada dubur mereka.

Menurut AI-Zarqani, yang menjadi pegangan dalam menerangkan

sebab turun ayat tersebut adalah riwayat Jabir, karena riwayatnya

bersifat naqli dan jelas menunjukkan sebab. Sedangkan riwayat Ibnu

Umar merupakan Istinbath (panggalian hukum) dan dipahamkan

sebagai penjelasan bagi hukum mendatangi (menggauli) isteri-isteri

pada dubur mereka, yaitu haram.9

Namun secara lebih ringkasnya ada dua jenis redaksi yang digunakan

oleh perawi dalam mengungkapkan riwayat asbab an-nuzul, yaitu sharih

(jelas) dan muhtamilah (kemungkinan). Redaksi sharih artinya riwayat

yang sudah jelas menunjukkan asbab an-nuzul, dan tidak mungkin

menunjukkan yang lainnya. Redaksi dikatakan sharih bila perawi

mengatakan:

Artinya:

“Sebab turun ayat ini adalah … “

Atau ia menggunakan kata “maka” (fa taqibiyah) setelah ia mengatakan

peristiwa tertentu. Umpamanya ia mengatakan:

9
Ahmad Syadali, dkk. Ulumul Qur’an, Bandung, 2000, hlm. 109

12
Artinya:

“Telah terjadi … , maka turunlah ayat … “

Artinya:

“Rasulullah pernah ditanya tentang …, maka turunlah ayat … “

Contoh riwayat asbab an-nuzul yang menggunakan redaksi sharih

adalah riwayat yang dibawakan oleh Jabir yang mengatakan bahwa orang-

orang Yahudi berkata, “Apabila seorang suami mendatangi “kubul”

istrinya dari belakang, anak yang lahir akan juling.” Maka turunlah ayat:

öNä.ät!$|¡ÎS Ó^öym öNä3©9 (#qè?ù'sù ö... ÇËËÌÈ

Artinya:

"Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam,

Maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja

kamu kehendaki.”

Adapun redaksi yang termasuk muhtamilah bila perawi

mengatakan:

Artinya:

“Ayat ini diturunkan berkenaan dengan … “

13
Umpamanya riwayat Ibn Umar yang menyatakan:

Artinya:

“Ayat istri-istri kalian adalah (ibarat) tanah tempat bercocok tanam,

diturunkan berkenaan dengan mendatangi (menyetubuhi) istri dari

belakang”.

(HR. Bukhari)

Atau perawi mengatakan:

Artinya:

“Saya kira ayat ini diturunkan berkenaan dengan … “

Atau

Artinya:

“Saya kira ayat ini diturunkan, kecuali berkenaan dengan … “

Mengenai riwayat asbab an-nuzul yang menggunakan redaksi

muhtamil, Az-Zarkasy menuturkan dalam kitabnya Al-Burnah fi ‘Ulum

Al-Qur’an:

14
Artinya:

“Sebagaimana diketahui, telah menjadi kebiasaan para sahabat Nabi


dan tabi’in, jika seorang di antara mereka berkata, “Ayat ini diturunkan
berkenaan dengan … “ Maka yang dimaksud adalah ayat itu mencakup
ketentuan hukum tentang ini atau itu, dan bukan bermaksud menguraikan
sebab turunnya ayat.

Kenyataan menunjukkan bahwa adakalanya ada beberapa riwayat

t e n t a n g s e b u a h a v a t . D a l a m h a l s e p e r t i i n i , u l a m a a h i i hadis

memiliki beberapa alternatif untuk menentukan riwayat-riwayat yang diterima

sebagai penjelasan tentang asbab an-nuzul ayat itu.

a. Bila salah satu di antara riwayat-riwayat itu bernilai shahih,, sedangkan

lainnya tidak, riwayat yang bernilai shahih-lah yang di terima sebagai

keterangan tentang asbdb an-nazul.

b. Bila dua riwayat atau lebih sama-sama shahih, dilakukan tarjih terhadap

rMayat 1ru. Pen-taijih-an itu dilakukan dengan mengarnbil hadis yang lebih

15
tinggi tingkat atau derajat keshahihannya atau hadis yang, perawinva

mengalami dan melihat langsung peristiwanya. Misalnya, riwayat Bukhari

dari Ibmi Mas'ud dengan riwayat at-Tirmidzi dari Ibnu Abbas tentang

masalah ruh pada Surat a]-Isrd', 17: 85. Riwayat yang berasal dari Ibnu

Mas'ud dipandang sebagai asbdb an-nuzf-nya karena Ibnu Mas'ud Nadir dan

melihat ketika peristiwa itu berlangsung, sedangkan riwayat dari Ibnu

Abbas tidak dipandang kuat. Manna al-Qaththan menjelaskan bahwa jika

benar ayat itu Makkiyah dan diturunkan sebagai jawaban atas sebuah

pertanyaan, pengulangan pertanyaan yang sauna di Madinah ridak

memerlukan penurunan wahyu untuk kedua. Tujuan utamanya adalah agar

Rasulullah Saw. menjawab mvab pertanyaan tersebut dengan avat yang

diturunkan sebelumnya.

c. Bila dua riwayat atau lebih sama-sama shahih dan tidak bisa ditarjih,

kedua riwayat itu harus dikompromikan. Misalnya, riwayat Bukhari melalui

jalur ‘Ikrimah dari Ibnu Abbas tentang Li’an (menuduh istri berbuat

zina tanpa mengajukan empat saksi yang kuat) yang tersebut dalam surat

an-Nur (24) ayat 6-9. Jika dibandingkan dengan riwayat Bukhari dan

Muslim dari Sahl bin Sa'ad, kedua riwayat sama-sama shahih dan sangat sulit

dilakukan tarjih. Langkah terbaik adalah mengompromikan kedua riwayat

itu. Peristiwa yang sama terjadi ketika peristiwa Hilal terjadi dan kebetulan

Uwainir mengalami kejadian serupa, ayat di atas diturunkan sebagai

jawaban atas persoalan mereka. Menurut Azzarqani, tidak ada keraguan

apa pun untuk menempuh jalan kompromi tentang persoalan ini.

16
Bahkan, lebih utama dilakukan kompromi dari pada menolak salah

satunya karena tidak ada 11j1mij.,mi amok mengompromikannya.

d. Bila ada dua riwayat atau lebih yang sama-sama shahih, kemudian sangat sulit

untuk di-tarjih clan atau dikompromikan karenajarak waktu ~zsbdban-

nuzfildari ayat tersebut sangat berjauhan, peristiwa itu dipandang sebagai

asbdb an-nuzid dan nuzul ayat itu berulang. Namun, Manna al-Qaththan

berpendapat bahwa perulanganturun sebuah ayat tidak begitu jelas

hikmahnya. Karena itu, is lebih menekankan pada upaya pen-tarjih-an.

Misalnya, riwayat Balhaqi dan a]-Bazzar dari Abu Hurairah tentang asbdb

an-nuzfil surat an-Nahl (16) ayat 126-128 bahwa ayat-aver itu turun pada

waktu Perang Uhud. Sebaliknya, menurut riwayat at-Tirmidzi dan Hakim

dari Ubay [)in Ka'ab, ayat-ayat itu turun pada waktu penaklukan kola

Mekkah (hathu Makkah). Karena kedua riwayat itu tidak bisa

dikompromikan karena masanya berjauhan.

BAB III
PENUTUP

A. Simpulan

Berdasarkan pembahasan pada baba sebelumnya maka dapat

disimpulkan beberapa hal berikut:

1. Asbab al-Nuzul adalah kejadian atau peristiwa yang melatarbelakangi

turunnya ayat al-Qur’an, dalam rangka menjawab, menjelaskan dan

menyelesaikan masalah-masalah yang timbul dari kejadian tersebut.

17
2. Fungsi asbab an-nuzul, di antaranya adalah mengatasi keraguan ayat yang

diduga mengandung pengertian umum.

3. Redaksi periwayatan Asbab An-Nuzul ada dua jenis, yaitu Sharih (jelas)

dan Muhtamilah (kemungkinan).

4. Ada 4 alternatif yang digunakan oleh ahli ulama hadis untuk menentukan

riwayat-riwayat yang diterima sebagai penjelasan tentang asbab al-nuzul

ayat.

B. Saran.

Tiada gading yang tak retak, tiada kesempurnaan di dunia ini, maka kritik

dan saran yang bertujuan untuk membangun makalah ini menjadi suatu

bacaan yang bermanfaat sangat diharapkan, terima kasih penulis ucapkan.

DAFTAR ISI

Anwar Rosihan, 2004. Ulumul Qur’an. Bandung; Pustaka Setia


Izzan Ahmad, 2005. Ulumul Qur’an. Bandumh; Pustaka Setia
Syadali Ahmad, 2000. Ulumul Qur’an. Bandumh; Pustaka Setia

18

Anda mungkin juga menyukai