Anda di halaman 1dari 13

TUJUH PERUSAHAAN PPTKIS DIKENAI SANKSI SKORSING

Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi menjatuhkan sanksi skorsing


terhadap tujuh perusahaan Pelaksana Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Swasta
(PPTKIS) yang terbukti melakukan berbagai pelanggaran dalam proses persiapan dan
pemberangkatan TKI. Sanksi skorsing itu berupa penghentian sementara, sebagian atau
seluruh kegiatan penempatan TKI ke Luar Negeri.

Tujuh perusahaan PPTKIS yang dijatuhi sanksi skorsing adalah PT. Amanitama
Berkah Sejati, PT. Aqbal Duta Mandiri, PT. Tritama Megah Abadi, PT. Karya Pesona
Sumber Rejeki, PT. Duta Ampel Mulia, PT. Abdi Bela Persada, PT. Dasa Graha Utama.

Demikian diungkapkan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi dalam siaran


persnya di Jakarta pada Minggu (4/4). Sanksi Skorsing ini merupakan salah satu upaya
Kemenakertrans untuk meningkatkan standar pelayanan dalam perlindungan dan
penempatan TKI serta melakukan pengawasan yang lebih ketat dan selektif terhadap
keberadaan perusahaan PPTKIS.

Menakertrans menjelaskan sanksi skorsing dijatuhkan kepada tujuh perusahaan


PPTKIS karena melakukan beberapa pelanggaran. Salah satu jenis pelanggaran adalah
tidak memenuhi standar penampungan sebagaimana diatur dalam PER. 07/MEN/IV/2005
tentang Standard Tempat Penampungan Calon Tenaga Kerja Indonesia.

“Beberapa PPTKIS terbukti tidak memiliki tempat penampungan yang layak bagi
calon TKI yang hendak berangkat ke luar negeri. Perusahaan yang tidak memiliki sarana
dan prasarana penampungan TKI yang memadai memang wajib dikenai sanksi tegas, “
kata Menakertrans.

Berdasarkan hasil sidak dari Satuan Tugas (Satgas) Pemantauan dan


Pengawasan Penempatan dan Perlindungan TKI yang dibentuk
Kemenakertrans beberapa waktu lalu, beberapa perusahaan PPTKIS bahkan diketahui
tidak menyediakan tempat pelatihan, tempat makan, sarana MCK serta tempat tidur yang
layak dan manusiawi bagi calon TKI.
Sampai saat ini Direktorat Jenderal Pembinaan penempatan Tenaga Kerja (Ditjen
Binapenta) dan Satgas Pemantauan dan Pengawasan Penempatan dan Perlindungan TKI
Kemenakertrans terus melaksanakan audit manajemen terhadap seluruh PPTKIS di
Indonesia yang jumlahnya lebih dari 500 perusahaan. Audit ini dilakukan untuk
mengetahui kondisi riil tempat pelatihan calon TKI, fasilitas penampungan serta
dokumen perijinan PPTKIS.

Menakertrans menambahkan jenis pelanggaran lainnya yang dilakukan tujuh


PPTKIS yang di-skorsing sudah termasuk dalam kategori pelanggaran berat dan telah
memasuki ranah tindakan kriminal.

”Beberapa PPTKIS terbukti melakukan pemalsuan tanda tangan pejabat KBRI


dalam Perjanjian Kerja serta tidak memiliki Sertifikat Pelatihan CTKI sehingga
terindikasi adanya pemalsuan sertifikat pelatihan CTKI, ” kata Menakertrans.

Untuk menindaklanjuti dan menuntaskan permasalahan ini, Kemenakertrans akan


bekerja sama dengan Polri dan aparat hukum lainnya untuk melakukan langkah-langkah
penegakan hukum (law enforcement) untuk melindungi kepentingan TKI.

Dalam upaya meningkatkan perlindungan dan penempatan TKI, Kemenakertrans


telah menetapkan Sertifikasi Pelatihan CTKI untuk menjalani program pelatihan 200 jam
agar membentuk skill minimum para calon TKI sehingga diharapkan mampu cepat
beradaptasi dengan dunia kerja yang dihadapi di luar negeri.

Pusat Humas Kemenakertrans

KETENAGAKERJAAN

Tersedianya lapangan/kesempatan kerja baru untuk mengatasi peningkatan


penawaran tenaga kerja merupakan salah satu target yang harus dicapai dalam
pembangunan ekonomi daerah. Upaya tersebut dapat diwujudkan melalui peningkatan
pertumbuhan ekonomi khususnya investasi langsung (direct investment) pada sektor-
sektor yang bersifat padat karya, seperti konstruksi, infrastruktur maupun industri
pengolahan. Sementara pada sektor jasa, misalnya melalui perdagangan maupun
pariwisata. Tenaga kerja adalah orang yang siap masuk dalam pasar kerja sesuai dengan
upah yang ditawarkan oleh penyedia pekerjaan. Jumlah tenaga kerja dihitung dari
penduduk usia produktif (umur 15 thn–65 thn) yang masuk kategori angkatan kerja
(labour force).
Kondisi di negara berkembang pada umumnya memiliki tingkat pengangguran
yang jauh lebih tinggi dari angka resmi yang dikeluarkan oleh pemerintah. Hal ini terjadi
karena ukuran sektor informal masih cukup besar sebagai salah satu lapangan nafkah bagi
tenaga kerja tidak terdidik. Sektor informal tersebut dianggap sebagai katup pengaman
bagi pengangguran.
Angka resmi tingkat pengangguran umumnya menggunakan indikator
pengangguran terbuka, yaitu jumlah angkatan kerja yang secara sungguh-sungguh tidak
bekerja sama sekali dan sedang mencari kerja pada saat survei dilakukan. Sementara
yang setengah pengangguran dan penganggur terselubung tidak dihitung dalam angka
pengangguran terbuka, karena mereka masih menggunakan waktu produktifnya selama
seminggu untuk bekerja meskipun tidak sampai 35 jam penuh.
Berdasarkan hasil Sensus Penduduk 2000, penduduk berumur 15 tahun ke atas
yang termasuk angkatan kerja adalah 264.802 orang (BPS, 2005) atau 64,48 % dari
jumlah penduduk sebesar 410.682 jiwa. Dilihat dari lokasi, sebagian besar tinggal di desa
yaitu 211.681 jiwa, sedangkan di kota sebanyak 53.121 jiwa. Dari jumlah angkatan kerja
tersebut yang bekerja adalah sebesar 89,01%, sedangkan sisanya 10,99% tidak bekerja
atau menganggur. Dilihat aspek gender, sebagian besar yang menganggur adalah wanita
(17,42%), sedangkan yang laki-laki sekitar 5,32%.
Apabila dilihat dari jumlah pencari kerja yang tercatat pada Dinas Tenaga Kerja
dan Transmigrasi Kabupaten Bima (2006) sebagian besar berpendidikan SMU keatas
atau perguruan tinggi, yaitu sekitar 5.217 orang yang terdiri dari diploma III dan sarjana
(S1). Sempitnya lapangan kerja di Kabupaten Bima tidak terlepas dari masih rendahnya
potensi ekonomi yang dimanfaatkan terutama pada sektor pertanian. Adapun penyerapan
tenaga kerja yang baru lebih banyak mengandalkan sektor jasa pemerintahan melalui
kebijakan pemerintah pusat mengangkat tenaga honor daerah menjadi PNS dimana
selama 2005 s/d 2009 diperkirakan mencapai lebih dari 5.000 orang.
Hal lain yang perlu diperhatikan dalam analisis ketenagakerjaan adalah berkaitan
dengan rasio beban tanggungan atau burden of dependency ratio. Yang dimaksud dengan
dependency ratio adalah beban yang ditanggung oleh penduduk produktif terhadap
penduduk tidak produktif. Oleh karena itu, semakin banyak penduduk produktif yang
tidak bekerja, maka dengan sendirinya akan meningkatkan beban tanggungan. Kondisi ini
juga banyak ditemukan di Kabupaten Bima di mana masyarakatnya tinggal di wilayah
pedesaan yang mana laki-laki muda banyak tidak bekerja demikian pula dengan
wanitanya.
Masalah–masalah ketenagakerjaan di Kabupaten Bima yang paling menonjol antara lain :
1. Rendahnya minat tenaga kerja untuk menciptakan lapangan kerja baru melalui
kegiatan wirausaha, terutama tamatan dari sekolah kejuruan maupun SMA.
2. Kurangnya inovasi di bidang pertanian, industri dan sektor jasa dalam meningkatkan
investasi padat tenaga kerja.
3. Tenaga kerja berpendidikan sarjana umumnya bekerja sebagai setengah penganggur
karena memasuki bidang yang tidak sesuai dengan keahliannya dan bekerja kurang
dari 36 jam per minggu.
4. Minimnya investasi dan pabrik yang dapat menampung tenaga kerja skala besar.
5. Tidak seimbangnya antara permintaan dan penawaran tenaga kerja, yang disebabkan
oleh kualifikasi sarjana di Kabupaten Bima didominasi oleh ilmu–ilmu sosial
dibandingkan ilmu–ilmu eksakta yang lebih bersifat aplikatif.
6. Hambatan budaya yang lebih memandang PNS sebagai pekerjaan prestisius, sehingga
mematikan kreatifitas untuk bekerja di luar sektor jasa pemerintahan.
KEBIJAKAN KETENAGAKERJAAN

Dari kajian tekstual yang dilakukan KPPOD (2006) , dalam aspek kebijakan dan
regulasi (Perda/SK Kepala Daerah), peta persoalan umum yang menandai distorsi
kebijakan ketenagakerjaan di sejumlah daerah dalam masa pelaksanaan otonomi daerah
dewasa ini adalah :

Pertama, pelanggaran dalam hal perijinan dan pungutan terkait penggunaan tenaga kerja
asing. Padahal, Perijinan (menurut Pasal 42 UU No.13 Tahun 2003) maupun
pungutan (menurut Pasal 3 PP No.92 Tahun 2002) yang terkait dengan
penggunaan TKA berada di pusat.

Kedua, pungutan yang tidak proporsional dan amat lemah dalam acuan konsiderans.

Ketiga, diskriminasi gender. Di sejumlah daerah ditemukan cukup banyak perda yang
mengatur jam kerja lembur atau ijin kerja lembur malam bagi wanita dan
mengenakan pungutan (retribusi) tertentu atasnya.

Keempat, proteksionisme (perlindungan berlebihan) bagi tenaga kerja lokal. Tidak hanya
terjadi dalam sektor pemerintahan, dimana muncul tuntutan preferensi
berlebihan bagi putera daerah untuk duduk dalam jabatan-jabatan strategis
(politik dan birokrasi), gejala serupa juga terjadi dalam dunia swasta (bahkan
tidak sekedar sebagai tuntutan pemerintah) terkait pemberian kesempatan kerja,
dimana perusahaan wajib memberikan jatah, yang bahkan dengan patokan
kuota tertentu bagi putera daerah untuk sesuatu pekerjaan dalam perusahaan
tersebut.

Begitu pentingnya posisi pengaruh faktor Ketenagakerjaan di satu sisi dan


banyaknya persoalan pada sisi lain menyebabkan efek serius bagi kelancaran berusaha di
daerah. Semua itu menambah biaya tambahan (additional cost) dalam ongkos berbisnis
(cost of doing business), baik biaya waktu (banyaknya waktu untuk bernegosiasi dengan
pihak buruh dan pemda) maupun biaya material karena berbagai pungutan legal dan
ilegal yang ada. Kekakuan dalam kebijakan ketenagakerjaan kita maupun iklim kebijakan
makro yang terkait dengan pelaksanaan otonomi daerah merupakan peta jalan kemana
arah menelusuri persoalan.

Berdasarkan beberapa kasus daerah lain di atas, tampaknya persoalan kebijakan


ketenagakerjaan di Kabupaten Bima belum begitu kompleks sebagaimana dialami daerah
yang telah maju sektor industri dan jasanya. Bahkan, penanganan ketenagakerjaan di
Kabupaten Bima dari aspek upah saja belum dapat ditangani dengan baik, belum
masalah-masalah seperti keselamatan kerja dan perlindungan tenaga kerja lainnya sesuai
dengan amanat perundang-undangan di bidang ketenagakerjaan.
BURSA LOWONGAN KERJA DISERBU PELAMAR

Medan, Kompas - Sedikitnya 1.100 pencari kerja mencari lowongan kerja di


Uniplaza Job Exhibition 2004 yang digelar selama dua hari, 6-8 Agustus 2004, di Medan.
Berdasarkan waktu pendaftaran yang ditutup 31 Juli, sedikitnya 4.000 pencari kerja telah
mendaftarkan diri dalam bursa kerja itu.

Namun, tidak disebutkan jumlah lowongan kerja yang tersedia selama pameran.
Pasalnya, meski ke-11 perusahaan tersebut mendeskripsikan jenis lowongan kerja yang
tersedia, mereka tidak bersedia menerima langsung berkas lamaran kerja yang diajukan
pengunjung.

Pendaftaran bertujuan untuk membatasi peserta yang mengikuti paket diskusi dan
seminar mengenai karier yang diadakan secara gratis oleh panitia akibat keterbatasan
daya tampung ruangan. Hal ini sebagai upaya mencegah menumpuknya peserta di ruang
pamer.

Situasi ini juga tercermin dalam Indonesia Karir Expo 2004 di Gedung Tennis
Indoor Senayan, Jakarta. Sedikitnya 1.000 pencari kerja yang mencari lowongan di bursa
kerja harus berdesak-desakan. Namun, setelah masuk ke arena bursa, banyak dari para
pencari kerja yang kecewa karena perusahaan yang membuka lowongan hanya menerima
lamaran kerja tanpa ada wawancara langsung.

Kali ini 60 perusahaan menyediakan 2.000 lowongan, padahal jumlah pengunjung


diperkirakan 30.000 orang. Lowongan yang tersedia mulai untuk lulusan SLTA sampai
sarjana (S1). Kebanyakan yang dibutuhkan adalah para pencari kerja yang sudah
memiliki pengalaman.

Pertama kali
Bursa kerja yang diadakan Asian Agri Group bekerja sama dengan Pusat Jasa
Ketenagakerjaan Universitas Sumatera Utara ini merupakan yang pertama kali digelar di
luar Pulau Jawa. Bursa ini bertujuan mempertemukan pencari kerja dengan perusahaan
yang membutuhkan.
"Kami sengaja membentuk kelompok kecil untuk pengunjung agar mereka bisa
dengan santai mengenali perusahaan peserta pameran dan mendapatkan informasi
lowongan kerja yang mereka inginkan. Jika tidak dibatasi, kami khawatir tidak
terkontrol," kata Corporate Affairs Director Asian Agri Group Djoko Oetomo kepada
Kompas di hari pertama bursa kerja di Medan.

Namun, para pengunjung kecewa karena tidak dapat mengajukan berkas lamaran
mereka pada bursa kerja tersebut. Pasalnya, para peserta pameran baru merekrut tenaga
kerja baru setelah pameran usai.

"Memang kami disuruh mengirim lamaran melalui e-mail atau pos ke alamat yang
mereka berikan dan jika ada penerimaan baru dipanggil. Tetapi, sebenarnya saya
berharap pameran ini sekaligus dengan proses penerimaan kerjanya sehingga hasilnya
bisa tampak," kata Susi, sarjana teknik mesin Universitas Sumatera Utara.

Menurut Djoko, pihaknya berusaha menghindari terjadinya penumpukan


pengunjung pada gerai pameran di ruang pamer.

"Ini juga untuk menghindari timbulnya keributan akibat desak- desakan para
pengunjung selama pameran. Jadi, proses rekrutmen baru berlangsung setelah pameran
ini selesai," katanya.

Manajer Sumber Daya Manusia PT Riau Andalan Pulp & Paper (RAPP)
Bennidictus mengatakan, setiap tahun RAPP merekrut 100 sarjana yang baru lulus.
Mereka dibagi dalam empat-lima angkatan untuk dididik setiap tahun menjadi karyawan
yang andal.

Setelah membuka pameran Wali Kota Medan Abdillah mengatakan selama ini
jumlah pengangguran terbuka yang ada di Kota Medan bertambah 5 persen atau 100.000
penganggur setiap tahunnya. (HAM/ETA/TAV)
SERBUAN PENCARI KERJA DI INDONESIA TIDAK
TERSAMBUNGNYA PENDIDIKAN DAN KERJA

Jakarta, Kompas - Ribuan pemburu kerja yang rela berdesakan-desakan hingga


pingsan dalam Pameran Bursa Kerja Career 2003 di Hotel Kartika Candra, 15-16 Juli,
menunjukkan tidak tersambungnya dunia pendidikan dengan kepentingan dunia kerja.
Para pemburu kerja dengan berbagai latar belakang pendidikan terpaksa berebut
lowongan kerja yang jumlahnya minim. Di sisi lain, situasi ini juga menggambarkan
pasar saat ini dipenuhi tenaga kerja yang tidak memiliki kualifikasi khusus sehingga
lowongan apa pun diserbu.
"Ini fenomena lama yang muncul di permukaan. Tekanan tenaga kerja yang luar
biasa hingga peluang dan harapan sekecil apa pun harus diambil oleh mereka. Ini
problem hubungan antara pendidikan dan dunia kerja," kata pengamat sosial dari
Universitas Airlangga, Hotman Siahaan, yang dihubungi di Surabaya, Rabu (16/7).
Hotman mengatakan, fenomena itu juga menunjukkan adanya permasalahan
dalam sistem pendidikan. Output dunia pendidikan tidak bisa memenuhi kualifikasi dunia
kerja. Jual beli gelar dan komersialisasi pendidikan menjadikan pasar tenaga kerja tidak
diisi oleh orang yang berkualitas.
Pada hari kedua pameran, ribuan para pemburu kerja tetap memadati pameran itu.
Berbeda dengan hari pertama yang sempat kisruh, hari kedua para pemburu kerja mau
mengantre secara tertib. Meski demikian, antrean tetap panjang hingga pelataran Hotel
Kartika Candra dipenuhi mereka.
"Dari pameran ini menunjukkan adanya kesenjangan informasi antara perusahaan
dan para pelamar," kata Donnie Iriawan dari penyelenggara pameran.
Direktur PT Mitra Management, sebuah perusahaan konsultan pengembangan
sumber daya manusia, Nunuk Adiarni mengatakan, fenomena ini menunjukkan
kebutuhan lapangan kerja yang sangat luas. Pasokan tenaga kerja dari berbagai pintu
pendidikan begitu kuat menggelontor pasar, sedangkan peluangnya kecil.
"Mereka orang yang dahaga, memiliki pengharapan yang kuat untuk mendapat
pekerjaan. Begitu ada peluang kecil, langsung menyerbu. Dari fenomena ini juga
menunjukkan mereka adalah mayoritas tenaga kerja yang memiliki talenta yang minim.
Mereka yang menggelontori pasar tenaga kerja yang tidak memiliki kemampuan khusus,"
kata Nunuk.
Nunuk sepakat dengan patokan pertambahan pertumbuhan satu persen akan
menyerap tenaga kerja 400.000 orang. Dengan pertumbuhan saat ini, masih sulit terjadi
lowongan kerja yang besar. Pameran seperti itu memperlihatkan dengan jelas bahwa
perburuan tenaga kerja selama ini sebenarnya tengah terjadi.
Akan tetapi, di kalangan konsultan pengembangan sumber daya manusia
sebenarnya sudah sering mendapatkan serbuan seperti itu. "Misalnya kalau kita pasang
iklan lowongan, ribuan lamaran akan masuk. Mereka asal kirim meski tak sesuai
kualifikasi. Mereka tetap nekat mengirim lamaran. Lamaran seperti ini dalam hitungan
tidak sampai satu menit sudah masuk kotak sampah," katanya.
Nunuk mengatakan, dunia kerja akan tertarik terhadap pelamar yang memiliki
talenta khusus. Mereka akan melirik pertama kali dari daftar riwayat hidup yang
dikirimkan, yang merupakan gambaran dari sejarah pelamar. Selanjutnya baru akan
ditentukan lewat tes.
Hotman mengatakan, fenomena ini telah lama terjadi dan sangat klasik. Hal itu
terlihat dari ratusan pembawa map yang antre di pabrik-pabrik. "Di mana-mana seperti
itu, tiap hari mulai dari map lusuh sampai map yang berbagai macam masuk ke
perusahaan. Ini angka pengangguran yang sangat tinggi yang mencoba bertahan hidup,"
katanya.
Dalam angkatan kerja yang bergelar sarjana dan mendapat pendidikan yang
setengah-setengah itu akan muncul potensi eksploitasi ledakan yang luar biasa. "Mereka
memiliki ekspektasi yang sangat tinggi, tetapi performance-nya rendah. Ini sudah cukup
lama dan menjadi bukti tingkat pengangguran yang tinggi. Sementara lapangan kerja
tidak bertambah," kata Hotman.
Fenomena ini merupakan gabungan dari minimnya lapangan pekerjaan, baik di
kota maupun di desa. "Daya tampung desa makin kecil. Demikian pula kota-kota
penyangga juga sudah tidak bisa menampung. Tumpuan mereka akhirnya terjadi di kota,"
kata Hotman.
Jadi, saat ini ada perubahan, yaitu sejumlah perusahaan mulai kembali membuka
lowongan setelah krisis ekonomi yang banyak melakukan pemutusan hubungan kerja
(PHK). (B16/MAR).
TERGOLONG TINGGI, PENGANGGURAN DI SURABAYA

Surabaya, Kompas

Kota Surabaya sebagai kota industri dan kota jasa nomor dua di Indonesia,
ternyata masih belum mampu memberikan lapangan kerja bagi penduduk dan pendatang
di kota tersebut. Permasalahan ketenagakerjaan di Surabaya masih diwarnai oleh adanya
ketidakseimbangan antara persediaan dan kebutuhan tenaga kerja.Ketidakseimbangan itu,
antara lain disebabkan oleh pertumbuhan penduduk dan angkatan kerja yang tinggi.
Tingkat pertumbuhan penduduk Kota Surabaya selama kurun waktu 1980-1990
menunjukkan angka yang tinggi yaitu sebesar 2,06 persen per tahun.

Sejalan dengan tingginya pertumbuhan penduduk ini, menyebabkan pertumbuhan


angkatan kerjanya juga semakin tinggi. Berdasarkan data Survei Sosial dan Ekonomi
Nasional 1999 jumlah angkatan kerja diperkirakan menjadi 1.397.300 orang dari
1.052.050 orang pada tahun 1993.

Selain itu, kualitas angkatan kerja yang ada juga masih rendah. Hal ini
ditunjukkan dari data di Kantor Departemen Tenaga Kerja (Kandepnaker) Kodya
Surabaya dengan masih besarnya kelompok angkatan kerja yang berpendidikan SD ke
bawah, pada tahun 1999 sebanyak 477.280 orang, atau 34.16 persen dari seluruh
angkatan kerja.

Walau demikian dengan adanya program wajib belajar sampai dengan SLTP
tingkat partisipasi sekolah lanjutan akan semakin meningkat dan secara kuantitatif jumlah
angkatan kerja yang berpendidikan tinggi akan terus bertambah. Namun, tambahan
tersebut tidak selalu dapat menjamin kecocokan kualitas dan kualifikasi tenaga kerja,
dengan kebutuhan serta persyaratan jabatan.

Pada tahun 1999, angka pengangguran dan pencari kerja yang tercatat di Badan
Pusat Statistik Kodya Surabaya menunjukkan, jumlah pencari kerja di Surabaya
mencapai 134.392 orang, terdiri dari 71.592 orang laki-laki dan 62.800 orang perempuan.
Jumlah ini meningkat 46,75 persen jika dibandingkan dengan angka pengangguran tahun
1997 sebesar 91.581 orang.
Pengangguran tidak penuh tahun 1999 berjumlah 212.264 orang, terdiri dari
104.876 laki-laki dan 107.388 perempuan. Pengangguran tidak penuh adalah pekerja
yang jam kerja kurang dari 35 jam per minggu. Jika ditotal pengangguran penuh dan
tidak penuh berjumlah 346.656 orang, atau 24,81 persen dari total angkatan kerja.

Walau angka pengangguran cukup tinggi, namun angka pencari kerja yang datang
ke Kandepnaker Surabaya masih rendah. Pada tahun 1999, pencari kerja yang tercatat di
kantor itu sebanyak 14.995 orang, atau 11,16 persen dari total pengangguran yang ada.
Padahal, dengan mencatatkan diri ke kantor tenaga kerja, keinginan mereka untuk
mendapat pekerjaan bisa terpenuhi. Kandepnaker Surabaya pada tahun 1999 ini mencatat,
jumlah lowongan yang terdaftar melalui mekanisme antarkerja sebanyak 3.393 lowongan
kerja.

Tingginya angka pengangguran di Surabaya ini, ternyata masih ditambah lagi


dengan banyaknya pekerja yang di-PHK (pemutusan hubungan kerja) oleh perusahaan.
Data pekerja yang ter-PHK di Kandepnaker Surabaya pada tahun 1998 sebanyak 2.112
orang di-PHK massal, dan 904 orang di PHK perorangan. Tahun 1999 sebanyak 560
orang di-PHK massal dan 741 orang di-PHK perorangan. Sedangkan pada tahun 2000
lalu tercatat, 2.498 orang di-PHK massal, dan 678 orang di-PHK perorangan.

Melihat banyaknya pengangguran di Surabaya, Pemerintah Kota Surabaya


bersama-sama sektor swasta hendaknya mulai memikirkan pembukaan pasar kerja baru.
Namun, pembukaan pasar kerja ini jangan dilakukan dengan mentolerir keberadaan PKL
di sembarang tempat, melainkan dengan perbaikan infrastruktur kota atau perbaikan
kualitas sumber daya manusianya. (arn)
DIKUTIP DARI :
http://www.formulabisnis.com/lowongan_kerja/art-lowongan-kerja-5.php