Anda di halaman 1dari 2

JAKARTA- Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI) yang digadang-

gadangkan pemerintah masih menuai polemik. Salah satunya, labelisasi RSBI ditengarai
menimbulkan kecemburuan sosial di tengah masyarakat.

Anggota Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Rohmani menjelaskan, faktanya


masyarakat yang bisa menikmati sekolah dengan predikat RSBI hanya kelompok
masyarakat tertentu. "Kebanyakan RSBI hanya bisa dinikmati oleh anak-anak yang
ekonomi orangtuanya mapan," ujar Rohmani seperti dikutip dari keterangan tertulisnya,
Senin (21/3/2011).

Politisi dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini menambahkan, kelompok masyarakat
miskin bisa dipastikan tak bisa mengenyam pendidikan di RSBI.

Menurutnya, seorang siswa yang bisa menikmati pendidikan di RSBI tidak dilihat
berdasarkan kemampuan akademik semata, namun juga berdasarkan kemampuan
membayar biaya yang telah ditetapkan sekolah.

"Bila ini yang terjadi, maka hal ini pertanda lonceng kematian untuk dunia pendidikan
kita," imbuhnya.

Rohmani menilai, tidak perlu ada labelisasi karena hal itu hanya akan mengotakkan
peserta didik. Menurutnya, yang perlu ditekankan adalah standarisasi pendidikan
nasional dengan mengacu pada tujuan dasar bernegara dan tujuan filosofis pendidikan.

"Bangsa ini harus memiliki standar pendidikan nasional sendiri untuk mencapai tujuan
didirikannya negara ini. Standar ini juga harus mengakomodasi kearifan lokal yang kita
miliki, meski bisa diperkaya dari negara-negara lain," imbuhnya.

Dia menyontohkan, konsep RSBI mengacu pada model pendidikan di negara lain seperti
yang diterapkan di Cambridge. "Menurut saya, proses pengkiblatan model pendidikan ini
merupakan pengkhianatan terhadap tujuan pendidikan nasional itu sendiri," paparnya
tegas.

Dia menyarankan, tidak perlu ada lagi istilah sekolah bernama bertaraf internasional yang
lebih menekankan sisi akademik. Nantinya, semua sekolah perlu dikembangkan menjadi
Sekolah Standar Pendidikan Nasional (SSPN). Untuk itu, perlu ada formula yang sifatnya
fundamental dengan mengakomodasi sisi akademik, moral, psikologi anak dan aspek
budaya bangsa.

"Sementara untuk pembiayaan harus ditanggung sepenuhnya oleh negara. Konstitusi


sudah menentukan bila sekolah wajib sembilan tahun ditanggung negara," kata Rohmani.

Masalah RSBI adalah salah satu agenda yang akan dibahas dalam rapat kerja Komisi X
DPR dengan Menteri Pendidikan Nasional, Muhammad Nuh. "Kalau boleh dibilang
pelaksanaan RSBI ini sudah salah kaprah. Harus diluruskan," tutur Rohmani
menegaskan. (rfa)(rhs)
Mengatasi Kecemburuan Sosial

Posted by Kisah Motivasi on 5:57 AM


Lingkungan sosial memang tak selalu menyenangkan. Terkadang orang-orang
terdekat Anda justru menyimpan rasa iri dan cemburu. Hal tersebut mengakibatkan
perasaan serta emosi Anda terganggu. Bagaimana cara mengatasinya? Ini dia!

1. Yang harus Anda yakini, rasa iri dan cemburu orang-orang sekitar belum tentu karena
kesalahan yang Anda perbuat. Jangan menghabiskan waktu untuk mencari kesalahan
apalagi menarik diri dari lingkungan sosial. Hal tersebut hanya merugikan Anda.

2. Jangan terlalu dimasukkan ke hati apapun yang dikatakan atau dilakukan orang yang
iri terhadap Anda. Jangan juga melawan kemarahan mereka dengan kemarahan juga.

3. Tetaplah bersikap baik terhadap orang-orang yang menyimpan rasa iri terhadap Anda.
Tunjukkan bahwa kepribadian Anda tak sesuai dengan yang mereka pikirkan. Tunjukkan
bahwa pikiran mereka selama ini terhadap Anda salah.

4. Jika memang orang-orang itu benar-benar tak bisa berbaik hati dengan Anda, jangan
terlalu dipikirkan. Tak selamanya semua orang bisa menyukai Anda, terimalah keadaan
itu.

5. Jadikan pengalaman ini sebagai pelajaran untuk membuat pribadi Anda lebih baik.
Jadikan ini sebagai bahan introspeksi diri.