Anda di halaman 1dari 12

Laporan Praktikum Tanggal Mulai : 10 Maret 2011

Metabolisme Zat Gizi Tanggal Selesai : 17 Maret 2011

PENGARUH PUASA TERHADAP KADAR GLUKOSA


DARAH DAN KANDUNGAN GLIKOGEN HATI TIKUS

Kelompok 4 :
Dewi Fitriyanti I14104003
Relina Kusumawardhani I14104011
Sofiatul Andariah I141040
Soffi I14104045
Hanum I141040
Dwi Nuraini I141040

Asisten Praktikum :
Eva Fitria
Asia Muflihah

Penanggung Jawab
Ir. Titi Riani, M. Biomed

DEPARTEMEN GIZI MASYARAKAT


FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2011
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Metabolisme karbohidrat merupakan salah satu jenis metabolisme yang
berlangsung dalam setiap tubuh makhluk hidup sepanjang hidupnya. Kandungan
penting dalam metabolisme karbohidrat diantaranya adalah glukosa. Glukosa
digunakan tubuh sebagai senyawa penting dalam sistem aktivitas tubuh sehari-
hari. Perombakan cadangan glukosa dalam darah dan otot menjadi glukosa
dikenal dengan nama glikogenolisis, sedangkan perubahan senyawa non-
karbohidrat seperti asam amino, laktat, maupun gliserol menjadi senyawa
glukosa dikenal dengan proses glukoneogenesis. Proses perubahan dari dan
menjadi senyawa glukosa ini dilakukan dalam tubuh untuk menjaga kondisi
homeostatis tubuh secara baik. Pada macam-macam kondisi, seperti puasa
glikogen hati akan menurun pada rentang waktu 18 jam karena terjadi proses
glikonelisis (Amalia 2011). Manusia mampu menyimpan glikogen hingga 450 gr
dimana 33.3% kandungannya berada di hati.
Glikogen hati berfungsi untuk menjaga kadar gula pasca absorpsi. Pada
saat konsumsi normal, glukosa dirubah menjadi glikogen oleh hormon insulin
sedangkan pada saat puasa/kelaparan kadar glikogen menurun drastis bahkan
dapat mencapai kadar nol karena terjadi proses glukoneogenesis yang berfungsi
menyediakan glukosa darah. Pada praktikum kali ini akan dilakukan pengukuran
kandungan glikogen darah pada kondisi konsumsi normal dan pada kondisi
puasa. Kandungan glikogen hati dinyatakan dan diukur secara tidak langsung
dengan menetapkan kadar glukosa yan berasal dari hasil hidrolisis glikogen hati.
Pengaruh puasa tersebut juga dapat dilihat pada pengukuran glukosa kedua
kelompok tikus.

Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk membuktikan bahwa dalam
keadaan puasa atau kelaparan kadar glikogen hati akan berkurang karena
dipecah (glikogenelisis) untuk mempertahankan kadar glukosa darah
TINJAUAN PUSTAKA
METODOLOGI
Praktikum pengujian glikolisis dalam sel darah merah ini dilakukan pada
tanggal 03 maret 2011 pada pukul 12.30-16.00 WIB. Tempat praktikum di
Laboratorium Metabolisme Zat Gizi lantai satu Departemen Gizi Masyarakat
Fakultas Ekologi Manusia IPB Darmaga.

Bahan dan Alat


HASIL DAN PEMBAHASAN
Glikolisis merupakan tahap awal metabolisme konversi glukosa menjadi
energi di dalam tubuh, dimana dalam proses tersebut mengkonversi glukosa
menjadi produk akhir berupa piruvat. Glikolisis dapat berlangsung dalam
keadaan aerob, bila persediaan oksigen cukup untuk mempertahankan kadar
NAD+ yang diperlukan, atau dalam keadaan anaerob (hipoksik), bila kadar NAD+
tidak dapat dipertahankan lewat sistem sitokrom mitokondrial dan bergantung
pada usaha temporer perubahan piruvat menjadi laktat.
Pada percobaan ini menggunakan sel darah merah sebagai sample
dalam proses glikolisis, yang menghasilkan asam laktat. Proses glikolisis yang
dilakukan dengan mengukur kadar glukosa dengan deproteinisasi metode o-
Toluidin, selanjutnya dilakukan pengukuran kadar glukosa dengan penambahan
larutan o-toluidin, dipanaskan selama satu menit dimana gula akan berkonjugasi
dengan o-toluidin dalam asetat panas yang akan memberikan warna biru-hijau
pada larutan. Penambahan pereaksi o-Toluidin berfungsi dalam proses
pengendapan protein sehingga glukosa dapat diukur dengan mengambil bagian
supernatannya. Kemudian larutan tersebut didinginkan dan diukur absorbansinya
dengan panjang gelombang 625 nm.
Pada percobaan kali ini dilakukan dengan tahap-tahap proses glikolisis,
deproteinasi protein, dan pengujian kadar glukosa. Percobaan ini menggunakan
tabung rangkap dua (duplo) pada masing-masing jenis sampel. Tabung uji yang
digunakan adalah tabung uji kontrol positif, negatif, dan inhibitor. Perbedaan
tabung uji kontrol positif dan negatif adalah perlakuan pemanasan yang
dilakukan pada kontrol negatif. Sedangkan pada tabung inhibitor akan dilakukan
pengamatan penurunan kadar glukosa jika ditambahkan inhibitor tertentu, seperti
larutan flourida. Pada masing-masing tabung uji dilakukan proses glikolisis
terlebih dahulu dengan masing-masing tabung uji (selain tabung uji standar dan
blanko) ditambahkan 0.5 mL sel darah merah dan 7 mL dapar KRP pH 7 yang
berfungsi sebagai larutan penyangga (buffer) larutan sehingga pH larutan relatif
stabil. Kemudian, ditambahkan dengan glukosa 0,5% sebanyak 1 ml. Setelah itu
diinkubasi pada suhu 37 oC selama 30 menit dan dilakukan deproteinasi protein
sebelum dilakukan pemeriksaan kadar glukosa.
Deproteinasi protein merupakan metode yang digunakan sebelum
pengujian kadar glukosa. Deproteinasi adalah pemisahan protein dari larutan
dengan proses hidrolisi protein menggunakan asam. Proses pengendapan
protein menurut (Poedjiadi 1994) dilakukan dengan menyesuaikan pH titik
isoelektrik protein yang diinginkan. Pada titik isoelektrik, kelarutan protein akan
berkurang hingga minimum dan protein mengendap. Metode deproteinasi yang
dilakukan pada percobaan kali ini adalah metode o-toluidin. Metode o-toluidin
dilakukan dengan perepaksi PCA 10% sebagai larutan pemecah protein
sehingga mampu mengendap di dasar larutan. Setelah dilakukan deproteinasi,
maka selanjutnya dapat dilakukan proses pengukuran kadar glukosa.
Pengukuran kadar glukosa dilakukan dengan pengambilan supernatan
(larutan bagian atas hasil deproteinasi) kemudian ditambahkan pereaksi otolidin
sebanyak 8 mL, penambahan pereaksi otolidin dimaksudkan untuk memecah
kembali protein yang ada dalam larutan. Pemanasan selama 8 menit bertujuan
untuk proses koagulasi protein sehingga protein akan terkoagulasi dan
mengendap didasar larutan, yang diharapkan larutan yang akan diukur
absorbansinya sudah bebas dari protein dan merupakan glukosa murni. Warna
larutan yang tampak adalah warna biru hijau. Larutan ini kemudian dibaca
absorbansi pada λ=625 nm. Hasil pengujian kadar glukosa dapat dilihat pada
tabel 1
Tabel 1 Hasil Rataan Pengujian Kadar Glukosa (mg/100ml)

Subjek Kontrol Kontrol Inhibitor


(+) (-)
Sampel 1 256.86 284.30 279.30
Sampel 2 161.45 253.80 186.20
Sampel 3 289.31 397.30 421.35

Berdasarkan tabel 1, kadar glukosa masing-masing sampel subjek


berbeda-beda, pada sampel 1 kadar glukosa dengan kontrol positif adalah
256.86 mg/100ml, sedangkan pada kontrol negatif kadar glukosa menurun
menjadi 284.30 mg/100ml, penambahan inhibitor memberikan hasil pengujian
glukosa menurun daripada kontrol negatif, yakni 279.30 mg/100ml. Sedangkan
pada sampel 2, kadar glukosa sampel kontrol positif adalah 161.45 mg/100ml,
kontrol negative meningkat menjadi 253.80 mg/100ml, kemudian sampel
penambahan inhibitor menurun kembali menjadi 186.20mg/100ml. Pada sampe
uji 3, kadar glukosa kontrol positif adalah 289.31mg/100ml, meningkat pada
kontrol negative yakni 397.30 mg/100ml, dan meningkat lagi pada penambahan
inhibitor, yakni 421.35mg/100ml.
Pada inhibitor ditambahkan larutan flourida sebagai penghambat proses
glikolisis. Fungsi dari inhibitor tersebut untuk menghambat proses glikolisis yang
akan menyebabkan kadar glikolisis lebih rendah. Hasil dari pemberian inhibitor
ini terjadi penurunan kadar glukosa yang ditunjukkan pada kadar glukosa sampel
1 dan sampel 2. Tetapi ini tidak terjadi pada sampel 3 yang menunjukkan
peningkatan kadar glukosa. Ini disebabkan karena human eror yang memiliki
banyak faktor kesalahan saat percobaan atau disebabkan oleh faktor lainnya.
Bila kadar laktat dalam darah meningkat, pH menurun, dan timbul tanda-tanda
yang diperkirakan, yakni pernafasan cepat dan kehabisan energi. Variasi kadar
laktat darah yang mengikuti perubahan-perubahan dalam aktivitas jasmani.
Laktat yang diproduksi dan dilepaskan kedalam darah diubah kembali menjadi
piruvat dalam hati apabila diperoleh cukup oksigen. Reaksi yang terjadi pada
Fermentasi Asam laktat yakni glukosa asam piruvat (proses glikolisis), dan
proses dehidrogenasi Asam Piruvat akan terbentuk Asam Laktat. Energi yang
terbentuk dari glikolisis hingga terbentu asam laktat 8 ATP – 2 NADH2 = 8 – 2 (3
ATP) = 2 ATP
Berlebihan glukosa di dalam darah disebabkan oleh tidak sempurnanya
proses metabolisme zat makanan dalam sel tubuh. Zat gizi dan sari makanan
diserap di usus halus dan dibawa oleh darah ke dalam sel. Di dalam sel, sari-sari
makanan tersebut diubah menjadi energi atau pun zat lain yang diperlukan
tubuh. Jika proses pengangkutan zat gula darah (glukosa) ke dalam sel
terganggu, maka glukosa tidak dapat terserap ke dalam sel dan tertinggal di
dalam darah. Inilah yang menyebabkan kadar gula darah menjadi tinggi.
Penyerapan glukosa ke dalam sel dibantu oleh sejenis hormon yang disebut
insulin.
KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Proses glikolisis dalam sel darah merah dapat diukur dengan mengetahui
kadar glukosa yang tersisa. Pada penambahan inhibitor, glukosa yang dihasilkan
akan lebih sedikit daripada pada sampel uji yang tidak diberi penambahan
inhibitor. Pengujian kadar glukosa dilakukan dengan proses glikolisis dan
deproteinasi terlebih dahulu. Berdasarkan hasil percobaan kadar glukosa pada
masing-masing sampel uji berbeda-beda, pada sampel 1, kadar glukosa inhibitor
sudah cukup sesuai yakni 279.30 mg/100ml, hasil ini lebih rendah daripada
kontrol uji negatif, tetapi masih lebih besar daripada kontrol positif. Hasil
pengaruh inhibitor ini masih dapat diterima. Hasil ini juga terjadi pada kadar
glukosa inhibitor pada sampel 2, dimana kadar glukosa inhibitor yakni
186.20mg/100ml, hasil ini lebih rendah dibandingkan sampel kontrol negative,
tetapi masih lebih tinggi daripada kontrol positif. Sedangkan data pada kadar
glukosa sampel uji 3 belum sesuai karena kadar glukosa inhibitor lebih tinggi
daripada kedua kontrol uji lain, yakni 421.35mg/100ml.

Saran
Praktikum glikolisis dalam sel darah merah kali ini sudah berlangsung
cukup baik, namun pada penambahan o-toluidin sebaiknya dilakukan dalam
ruang asam, karena larutan tersebut tergolong asam cukup kuat dan beberapa
praktikan merasa gatal dan pusing. Selain itu, teknik dan pemahaman praktikan
selama praktikum perlu ditingkatkan agar didapat data-data yang valid dan dapat
diolah pada penyusunan pembahasan selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA

Almatsier S. 2003. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Irawan Anwari.M. 2007. Glukosa dan Metabolisme Energi.


http://www.pssplab.com [6 Maret 2011]

Irawan Anwari.M. 2007. Karbohidrat. http://www.pssplab.com [6 Maret 2011]

Poedjiadi Supriyanti, T. 1994. Dasar-Dasar Biokimia. Jakarta : UI Press.

Septiandina Gusti. 2009. Proses Glikolisis. http:// etd.eprints.ums.ac.id [6 Maret


2011]

Sulthan Ihram. 2009. Penentuan Kadar Glukosa. http://library.usu.ac.id [6 Maret


2011]

Syamsir Elvira. 2010. Medicine and Health. http://id.shvoong.com [6 Maret 2011]


LAMPIRAN

Tabel 2 Hasil Pengukuran Absorbansi Kadar Glukosa Darah

Subjek Kontrol Kontrol Inhibitor Standar Blanko


(+) (-)
Sampel 1 0.463 0.633 0.525
0.224 0.126 0.221

Sampel 2 0.129 0.276 0.226 0.138 0,007


0.308 0.403 0.276
Sampel 3 0.449 0.511 0.560
0.323 0.544 0.558

Rumus Perhitungan Kadar Glukosa

Contoh Perhitungan :
1. Kadar Glukosa Kontrol (+) sampel 1 =

2. Kadar Glukosa Kontrol (+) sampel 1=


Karena contoh uji duplo, maka dicari
rataan = = 2,568
mg/ml

Gambar 2 Larutan Pengujian Glukosa

Gambar 3 Water Bath / Inkubator (untuk pemanasan)


Gambar 4 Centrifuge