Anda di halaman 1dari 13

Indikator premorbid (pra-sakit) pre-skizofrenia antara lain ketidakmampuan

seseorang mengekspresikan emosi: wajah dingin, jarang tersenyum, acuh tak


acuh. Penyimpangan komunikasi: pasien sulit melakukan pembicaraan terarah,
kadang menyimpang (tanjential) atau berputar-putar (sirkumstantial). Gangguan
atensi: penderita tidak mampu memfokuskan, mempertahankan, atau
memindahkan atensi. Gangguan perilaku: menjadi pemalu, tertutup, menarik diri
secara sosial, tidak bisa menikmati rasa senang, menantang tanpa alasan jelas,
mengganggu dan tak disiplin.

Gejala-gejala skizofrenia pada umumnya bisa dibagi menjadi dua kelas:

1. Gejala-gejala Positif

Termasuk halusinasi, delusi, gangguan pemikiran (kognitif). Gejala-gejala


ini disebut positif karena merupakan manifestasi jelas yang dapat diamati
oleh orang lain.

2. Gejala-gejala Negatif

Gejala-gejala yang dimaksud disebut negatif karena merupakan


kehilangan dari ciri khas atau fungsi normal seseorang. Termasuk kurang
atau tidak mampu menampakkan/mengekspresikan emosi pada wajah dan
perilaku, kurangnya dorongan untuk beraktivitas, tidak dapat menikmati
kegiatan-kegiatan yang disenangi dan kurangnya kemampuan bicara
(alogia).

Meski bayi dan anak-anak kecil dapat menderita skizofrenia atau penyakit
psikotik yang lainnya, keberadaan skizofrenia pada grup ini sangat sulit
dibedakan dengan gangguan kejiwaan seperti autisme, sindrom Asperger atau
ADHD atau gangguan perilaku dan gangguan Post Traumatic Stress Dissorder.
Oleh sebab itu diagnosa penyakit psikotik atau skizofrenia pada anak-anak kecil
harus dilakukan dengan sangat berhati-hati oleh psikiater atau psikolog yang
bersangkutan.

Pada remaja perlu diperhatikan kepribadian pra-sakit yang merupakan faktor


predisposisi skizofrenia, yaitu gangguan kepribadian paranoid atau kecurigaan
berlebihan, menganggap semua orang sebagai musuh. Gangguan kepribadian
skizoid yaitu emosi dingin, kurang mampu bersikap hangat dan ramah pada
orang lain serta selalu menyendiri. Pada gangguan skizotipal orang memiliki
perilaku atau tampilan diri aneh dan ganjil, afek sempit, percaya hal-hal aneh,
pikiran magis yang berpengaruh pada perilakunya, persepsi pancaindra yang
tidak biasa, pikiran obsesif tak terkendali, pikiran yang samar-samar, penuh
kiasan, sangat rinci dan ruwet atau stereotipik yang termanifestasi dalam
pembicaraan yang aneh dan inkoheren.

Tidak semua orang yang memiliki indikator premorbid pasti berkembang menjadi
skizofrenia. Banyak faktor lain yang berperan untuk munculnya gejala
skizofrenia, misalnya stresor lingkungan dan faktor genetik. Sebaliknya, mereka
yang normal bisa saja menderita skizofrenia jika stresor psikososial terlalu berat
sehingga tak mampu mengatasi. Beberapa jenis obat-obatan terlarang seperti
ganja, halusinogen atau amfetamin (ekstasi) juga dapat menimbulkan gejala-
gejala psikosis.

Penderita skizofrenia memerlukan perhatian dan empati, namun keluarga perlu


menghindari reaksi yang berlebihan seperti sikap terlalu mengkritik, terlalu
memanjakan dan terlalu mengontrol yang justru bisa menyulitkan penyembuhan.
Perawatan terpenting dalam menyembuhkan penderita skizofrenia adalah
perawatan obat-obatan antipsikotik yang dikombinasikan dengan perawatan
terapi psikologis.

Kesabaran dan perhatian yang tepat sangat diperlukan oleh penderita


skizofrenia. Keluarga perlu mendukung serta memotivasi penderita untuk
sembuh. Kisah John Nash, doktor ilmu matematika dan pemenang hadiah Nobel
1994 yang mengilhami film A Beautiful Mind, membuktikan bahwa penderita
skizofrenia bisa sembuh dan tetap berprestasi.

Obat neuroleptika selalu diberikan, kecuali obat-obat ini


terkontraindikasi, karena 75% penderita skizofrenia memperoleh
perbaikan dengan obat-obat neuroleptika. Kontraindikasi meliputi
neuroleptika yang sangat antikolinergik seperti klorpromazin,
molindone, dan thioridazine pada penderita dengan hipertrofi
prostate atau glaucoma sudut tertutup. Antara sepertiga hingga
separuh penderita skizofrenia dapat membaik dengan lithium.
Namun, karena lithium belum terbukti lebih baik dari neuroleptika,
penggunaannya disarankan sebatas obat penopang. Meskipun
terapi elektrokonvulsif (ECT) lebih rendah disbanding dengan
neuroleptika bila dipakai sendirian, penambahan terapi ini pada
regimen neuroleptika menguntungkan beberapa penderita
skizofrenia.

Hal yang penting dilakukan adalah intervensi psikososial. Hal ini


dilakukan dengan menurunkan stressor lingkungan atau
mempertinggi kemampuan penderita untuk mengatasinya, dan
adanya dukungan sosial. Intervensi psikososial diyakini berdampak
baik pada angka relaps dan kualitas hidup penderita. Intervensi
berpusat pada keluarga hendaknya tidak diupayakan untuk
mendorong eksplorasi atau ekspresi perasaan-perasaan, atau
mempertinggi kewaspadaan impuls-impuls atau motivasi bawah
sadar.

Tujuannya adalah :

1. Pendidikan pasien dan keluarga tentang sifat-sifat gangguan


skizofrenia.
2. Mengurangi rasa bersalah penderita atas timbulnya penyakit
ini. Bantu penderita memandang bahwa skizofrenia adalah
gangguan otak.
3. Mempertinggi toleransi keluarga akan perilaku disfungsional
yang tidak berbahaya. Kecaman dari keluarga dapat berkaitan
erat dengan relaps.
4. Mengurangi keterlibatan orang tua dalam kehidupan
emosional penderita. Keterlibatan yang berlebihan juga dapat
meningkatkan resiko relaps.
5. Mengidentifikasi perilaku problematik pada penderita dan
anggota keluarga lainnya dan memperjelas pedoman bagi
penderita dan keluarga.

Psikodinamik atau berorientasi insight belum terbukti memberikan


keuntungan bagi individu skizofrenia. Cara ini malahan
memperlambat kemajuan. Terapi individual menguntungkan bila
dipusatkan pada penatalaksanaan stress atau mempertinggi
kemampuan social spesifik, serta bila berlangsung dalam konteks
hubungan terapeutik yang ditandai dengan empati, rasa hormat
positif, dan ikhlas. Pemahaman yang empatis terhadap
kebingungan penderita, ketakutan-ketakutannya, dan
demoralisasinya amat penting dilakukan.

Prognosis Penyakit Skizofrenia


Fase residual sering mengikuti remisi gejala psikotik yang tampil
penuh, terutama selama tahun-tahun awal gangguan ini. Gejala dan
tanda selama fase ini mirip dengan gejala dan tanda pada fase
prodromal; gejala-gejala psikotik ringan menetap pada sekitar
separuh penderita. Penyembuhan total yang berlangsung sekurang-
kurangnya tiga tahun terjadi pada 10% pasien, sedangkan
perbaikan yang bermakna terjadi pada sekitar dua per tiga kasus.
Banyak penderita skizofrenia mengalami eksaserbasi intermitten,
terutama sebagai respon terhadap situasi lingkungan yang penuh
stress. Pria biasanya mengalami perjalanan gangguan yang lebih
berat dibanding wanita. Sepuluh persen penderita skizofrenia
meninggal karena bunuh diri.

Prognosis baik berhubungan dengan tidak adanya gangguan


perilaku prodromal, pencetus lingkungan yang jelas, awitan
mendadak, awitan pada usia pertengahan, adanya konfusi, riwayat
untuk gangguan afek, dan system dukungan yang tidak kritis dan
tidak terlalu intrusive. Skizofrenia Tipe I tidak selalu mempunyai
prognosis yang lebih baik disbanding Skizofrenia Tipe II. Sekitar
70% penderita skizofrenia yang berada dalam remisi mengalami
relaps dalam satu tahun. Untuk itu, terapi selamanya diwajibkan
pada kebanyakan kasus.

Hal yang penting dilakukan adalah intervensi psikososial. Hal ini dilakukan


dengan menurunkan stressor lingkungan atau mempertinggi kemampuan
penderita untuk mengatasinya, dan adanya dukungan sosial. Intervensi
psikososial diyakini berdampak baik pada angka relaps dan kualitas hidup
penderita. Intervensi berpusat pada keluarga hendaknya tidak
diupayakanuntuk mendorong eksplorasi atau ekspresi perasaan-perasaan,
atau mempertinggi kewaspadaan impuls-impuls atau motivasi bawah sadar.

Tujuannya adalah :

1. Pendidikan pasien dan keluarga tentang sifat-sifat gangguan skizofrenia.


2. Mengurangi rasa bersalah penderita atas timbulnya penyakit ini. Bantu
penderita memandang bahwa skizofrenia adalahgangguan otak.
3. Mempertinggi toleransi keluarga akan perilaku disfungsionalyang tidak
berbahaya. Kecaman dari keluarga dapat berkaitan erat dengan relaps.
4. Mengurangi keterlibatan orang tua dalam kehidupan emosional penderita.
Keterlibatan yang berlebihan juga dapat meningkatkan resiko relaps.
5. Mengidentifikasi perilaku problematik pada penderita dan anggota keluarga
lainnya dan memperjelas pedoman bagi penderita dan keluarga.
Psikodinamik atau berorientasi insight belum terbukti memberikan
keuntungan bagi individu skizofrenia. Cara ini malahan memperlambat
kemajuan. Terapi individual menguntungkan bila dipusatkan pada
penatalaksanaan stress atau mempertinggi kemampuan social spesifik, serta
bila berlangsung dalam konteks hubungan terapeutik yang ditandai dengan
empati, rasa hormat positif, dan ikhlas. Pemahaman yang empatis terhadap
kebingungan penderita, ketakutan-ketakutannya, dan demoralisasinya amat
penting dilakukan.

Prognosis Penyakit Skizofrenia


Fase residual sering mengikuti remisi gejala psikotik yang tampil penuh,
terutama selama tahun-tahun awal gangguan ini. Gejala dan tanda selama
fase ini mirip dengan gejala dan tanda pada fase prodromal; gejala-gejala
psikotik ringan menetap pada sekitar separuh penderita. Penyembuhan
total yang berlangsung sekurang-kurangnya tiga tahun terjadi pada 10%
pasien, sedangkan perbaikan yang bermakna terjadi pada sekitar dua per
tiga kasus. Banyak penderita skizofrenia mengalami eksaserbasi intermitten,
terutama sebagai respon terhadap situasi lingkunganyang penuh stress. Pria
biasanya mengalami perjalanan gangguan yang lebih berat dibanding
wanita. Sepuluh persen penderita skizofrenia meninggal karena bunuh diri.

Prognosis baik berhubungan dengan tidak adanya gangguan perilaku


prodromal, pencetus lingkungan yang jelas, awitan mendadak, awitan pada
usia pertengahan, adanya konfusi, riwayat untuk gangguan afek, dan
system dukungan yang tidak kritis dan tidak terlalu intrusive.
Skizofrenia Tipe I tidak selalu mempunyai prognosis yang lebih baik
disbanding Skizofrenia TipeII. Sekitar 70% penderita
skizofrenia yang berada dalam remisi mengalami relaps dalam satu
tahun. Untuk itu, terapi selamanya diwajibkan pada kebanyakan kasus.

forumsains.com
Gejala-gejala skizofrenia pada umumnya bisa dibagi menjadi dua kelas:

1. Gejala-gejala Positif 
Termasuk halusinasi, delusi, gangguan pemikiran (kognitif). Gejala-gejala ini disebut positif
karena merupakan manifestasi jelas yang dapat diamati oleh orang lain.

2. Gejala-gejala Negatif 
Gejala-gejala yang dimaksud disebut negatif karena merupakan kehilangan dari ciri khas
atau fungsi normal seseorang. Termasuk kurang atau tidak mampu
menampakkan/mengekspresikan emosi pada wajah dan perilaku, kurangnya dorongan
untuk beraktivitas, tidak dapat menikmati kegiatan-kegiatan yang disenangi dan kurangnya
kemampuan bicara (alogia).

Penderita Gangguan Kepribadian Skizoid menunjukkan pola melepaskan diri dari hubungan
sosial dan ragam emosi yang terbatas dalam situasi situasi interpersonal (Phillips dan
Gunderson, 2000). Mereka tampak menyendiri, dingin dan acuh tak acuh terhadap orang
lain. Istilah schizoid relatif sudah tua dan digunakan oleh Bleuler (1924) untuk
mendeskripsikan tentang orang orang yang memiliki kecenderungan untuk lebih melihat ke
dalam dan menjauh dari dunia luar. Orang orang ini dianggap kurang ekspresif secara
emosional dan mengejar interes interes yang tidak jelas. Individu individu dengan gangguan
kepribadian skizoid tampaknya tidak menginginkan dan juga tidak menikmati kedekatan
dengan orang lain, termasuk hubungan romantis atau seksual. Akibatnya, mereka tampak
dingin dan jauh. Mereka tampaknya juga tidak terpengaruh oleh pujian maupun kritik.

Prognosis pada pasien ini adalah:

              FAKTOR Indikator Pada Pasien Prognosis


PREMORBID 1.     Faktor kepribadian Cend Skizoid j

2.     Faktor genetik Ada j

3.     Pola asuh Demokratis b

4.     Faktor organik Tidak ada b

5.     Dukungan keluarga Ada b

6.     Sosioekonomi Ekonomi kurang j

7.     Faktor pencetus Ada

8.     status perkawinan Sudah menikah

9.     Kegiatan spiritual Baik


        FAKTOR MORBID 10.  Onset usia Remaja

11.  Perjalanan penyakit Kronis


12.  Respon terhadap terapi Baik

13.  Riwayat disiplin minum Jelek


obat

14.  Riwayat disiplin kontrol Jelek

15.  Riwayat peningkatan Ya
gejala

16.  Beraktivitas Menurun
Kesimpulan prognosis: Dubia ad malam

Kesimpulan

Skizofrenia adalah suatu deskripsi dengan variasi penyebab (banyak belum diketahui) dan
perjalanan penyakit (tak selalu bersifat kronis atau “deteriorating”) yang luas, serta
sejumlah akibat yang tergantung pada perimbangan pengaruh genetik, fisik, dan sosial
budaya. Pada kasus ini dikarenakan prognosisnya buruk, kemungkinan memerlukan waktu
yang lama dalam penatalaksanaannya. Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa lebih
dari periode 5 sampai 10 tahun setelah perawatan psikiatrik pertama kali di rumah sakit
karena skiofrenia, hanya kira-kira 10-20 % pasien dapat digambarkan memliki hasil yang
baik.Lebih dari 50% pasien dapat digambarkan memiliki hasil yang buruk, dengan
perawatan di rumah sakit yang berulang, eksaserbasi gejala, episode gangguan mood
berat, dan usaha bunuh diri. Walaupun angka-angka yang kurang bagus tersebut,
skizofrenia memang tidak selalu memiliki perjalanan penyakit yang buruk, dan sejumlah
faktor telah dihubungkan dengan prognosis yang baik.

Kekambuhan gangguan jiwa pisikotik adalah munculnya kembali gejala-gejala


pisikotik yang nyata. Angka kekambuhan secara positif hubungan dengan beberapa kali
masuk Rumah Sakit (RS), lamanya dan perjalanan penyakit. Penderita-penderita yang
kambuh biasanya sebelum keluar dari RS mempunyai karakteristik hiperaktif, tidak mau
minum obat dan memiliki sedikit keterampilan sosial, (Porkony dkk, 1993).

Porkony dkk (1993), melaporkan bahwa 49% penderita Skizofrenia mengalami rawat
ulang setelah follow up selama 1 tahun, sedangkan penderita-penderita non Skizofrenia
hanya 28% . Solomon dkk (1994), melaporkan bahwa dalam waktu 6 bulan pasca rawat
didapatkan 30%-40% penderita mengalami kekambuhan, sedangkan setelah 1 tahun pasca
rawat 40%-50% penderita mengalami kekambuhan, dari setelah 3-5 tahun pasca rawat
didapatkan 65%-75% penderita mengalami kekambuhan, (Porkony dkk, 1993).

Penderita dengan skizofrenia dapat mengalami remisi dan kekambuhan, mereka


dapat dalam waktu yang lama tidak muncul gejala, maka skizofrenia sering disebut dengan
penyakit kronik, karena itu perlu mendapatkan perhatian medis yang sama, seperti juga
individu-individu yang menderita penyakit kronik lainnya seperti hipertensi dan diabetes
mellitus.

Ada beberapa hal yang bisa memicu kekambuhan skizofrenia, antara lain tidak
minum obat dan tidak kontrol ke dokter secara teratur, menghentikan sendiri obat tanpa
persetujuan dari dokter, kurangnya dukungan dari keluarga dan masyarakat, serta adanya
masalah kehidupan yang berat yang membuat stress, (cybermed.cbn.net.id).

Empat faktor penyebab penderita kambuh dan perlu dirawat di rumah sakit, menurut
Sullinger, 1988:

Penderita

Sudah umum diketahui bahwa penderita yang gagal memakan obat secara teratur
mempunyai kecenderungan untuk kambuh. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan 25%
sampai 50% klien yang pulang dari rumah sakit tidak memakan obat secara teratur
(Appleton, 1982, dikutip oleh Sullinger, 1988).

Dokter

Makan obat yang teratur dapat mengurangi kekambuhan, namun pemakaian


obatneuroleptic yang lama dapat menimbulkan efek samping Tardive Diskinesiayang dapat
mengganggu hubungan sosial seperti gerakan yang tidak terkontrol.

Penanggung jawab penderita

Setelah penderita pulang ke rumah maka pihak rumah sakit tetap bertanggung jawab atas
program adaptasi penderita di rumah.
Keluarga

Berdasarkan penelitian di Inggris dan Amerika keluarga dengan ekspresi emosi yang tinggi
(bermusuhan, mengkritik, tidak ramah, banyak menekan dan menyalahkan), hasilnya 57%
kembali dirawat dari keluarga dengan ekspresi emosi yang tinggi dan 17% kembali dirawat
dari keluarga dengan ekspresi emosi keluarga yang rendah. Selain itu penderita juga mudah
dipengaruhi oleh stres yang menyenangkan (naik pangkat, menikah) maupun yang
menyedihkan (kematian/kecelakaan). Dengan terapi keluarga penderita dan keluarga dapat
mengatasi dan mengurangi stres. Cara terapi bisanya: mengumpulkan semua anggota
keluarga dan memberi kesempatan menyampaikan perasaan-perasaannya. Memberi
kesempatan untuk menambah ilmu dan wawasan baru kepada penderita ganguan jiwa,
memfasilitasi untuk menemukan situasi dan pengalaman baru bagi penderita.

Beberapa gejala kambuh yang perlu diidentifikasi oleh klien dan keluarganya yaitu:
menjadi ragu-ragu dan serba takut, tidak nafsu makan, sukar konsentrasi, sulit tidur,
depresi, tidak ada minat serta menarik diri, (Iyus, 2007).

Untuk dapat hidup dalam masyarakat, maka penderita skizofrenia perlu mempelajari
kembali keterampilan sosial. Penderita-penderita yang baru keluar dari RS memerlukan
pelayanan dari masyarakat agar mereka dapat menyesuaikan diri dan menyatu dalam
masyarakat. Tingginya angka rehospitalisasi merupakan tanda kegagalan dalam sistem
masyarakat. Penderita kronis di dalam masyarakat membutuhkan dukungan hidup yang
dapat dipertahankan untuk waktu yang lama. Beberapa penderita tetap dapat mengalami
kekambuhan meskipun mereka mendapatkan pelayanan pasca rawat (after care services)
pada instansi-instansi. Lin dkk (1982) melaporkan bahwa 36% dari penderita skizofrenia
yang tinggal di panti setelah perawatan di RS tetap mengalami kekambuhan, (Porkony dkk,
1993).

HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN SOSIAL KELUARGA DENGAN


KEKAMBUHAN SKIZOFRENIA
Sullivan mengemukakan teori psikodinamika skizofrenia berdasarkan perjalanan-
perjalanan klinik, di mana pusat dari psikopatologinya adalah gangguan kemampuan untuk
berhubungan dengan orang lain. Lingkungan, terutama keluarga memegang peran penting
dalam proses terjadinya skizofrenia. Pernyataan ini juga berlaku sebaliknya, lingkungan,
terutama keluarga memegang peran penting dalam proses penyembuhan skizofrenia. Sebab,
dikatakan oleh Sullivan bahwa skizofrenia merupakan hasil dari kumpulan pengalaman-
pengalaman traumatis dalam hubungannya dengan lingkungan selama masa perkembangan
individu (Kaplan dan Sadock, 2003).

Titik berat penelitian-penelitian tentang dukungan sosial keluarga dan gangguan psikotik
terutama skizofrenia adalah pada efek yang menghapuskan hubungan traumatik sendiri seperti
pernyataan emosi, rasa kebersamaan yang semu, mencari kambing hitam dan keterikatan
ganda. Aspek-aspek dukungan sosial keluarga terdiri dari empat aspek yaitu aspek informatif,
aspek emosional dan aspek penilaian atau penghargaan serta aspek instrumental,
sebagaimana yang dikatakan oleh House dan Kahn (1995) tersebut di atas di titik beratkan
pada besar dan padatnya jaringan kerja sosial, misalnya hubungan dengan keluarga dan sifat-
sifat hubungan sebelumnya, (Breier & Strauss, 1994).

Hal ini menunjukkan bahwa kuat lemahnya dukungan sosial keluarga terhadap penderita
berpengaruh terhadap tingkat kesembuhan skizofrenia. Semakin kuat dukungan sosial keluarga
terhadap penderita memungkinkan semakin cepat tingkat kesembuhan skizofrenia. Sebaliknya
semakin lemah dukungan sosial keluarga terhadap penderita memungkinkan semakin lama
tingkat kesembuhan skizofrenia. Demikian juga halnya dengan kekambuhan skizofrenia, terkait
dengan kuat lemahnya dukungan sosial keluarga.

Didapatkan 12 fungsi hubungan sosial dan 2 fase kebutuhan sosial yang penting selama
periode penyembuhan (Breier & Strauss, 1994). Fungsi-fungsi yang menolong dalam hubungan
sosial tersebut adalah 1) ventilasi, 2) tes realita, untuk menilai kemampuan penderita di dalam
membedakan realita, 3) macam dukungan sosial terutama keluarga, 4) persetujuan dan
perpaduan sosial terutama keluarga dan lingkungan dekatnya, di mana penderita ingin diterima
kembali dalam lingkungan sosialnya dan mengharapkan hubungan dengan orang-orang yang
dikenalnya sebelum ia masuk RS, 6) motivasi, 7) pembentukan, di mana penderita mencontoh
tingkah laku orang lain untuk meningkatkan fungsi sosialnya, 8) pengawasan gejala, 9)
pemecahan masalah, 10) pengertian yang empatik, 11) saling memberi dan menerima, 12)
insight.

Fase kebutuhan sosial adalah 1) fase penyembuhan, penderita sangat membutuhkan


perhatian dari keluarganya karena tidak dapat mandiri, fungsi hubungan sosial yang digunakan
di sini adalah macam dukungan dan ventilasi, 2) fase pembentukan kembali, fungsi hubungan
sosial yang digunakan adalah motivasi, saling memberi dan menerima, pengawasan gejala. 12
fungsi hubungan sosial dan 2 fase kebutuhan sosial yang penting selama periode
penyembuhan (Breier dan Strauss, 1994) tersebut sangat erat kaitannya dengan dukungan
sosial keluarga.

Pemberian obat antipsikotik dapat mengurangi resiko kekambuhan, tetapi obat-obatan


tersebut tidak dapat mengajarkan tentang kehidupan dan keterampilan meskipun dapat
memperbaiki kualitas hidup penderita melalui penekanan gejala-gejala. Pengajaran kehidupan
dan keterampilan sosial hanya mungkin didapat penderita melalui dukungan sosial keluarga.
Dari penelitian didapat bahwa 45% penderita skizofrenia yang mendapat pengobatan
antipsikotik akan mengalami kekambuhan dalam waktu 1 tahun pasca rawat, sedangkan
penderita yang diberi plasebo 70% kambuh, (Kaplan dan Sadock , 2003).

Hal ini berarti pengobatan skizofrenia harus dilakukan dengan cara interaksi
multidimensional. Gejala-gejala dan ketidakmampuan sosial serta ketidakmampuan individual
yang di tunjukkan merupakan hasil dari benturan-benturan yang dialami dalam kehidupan.
Angka kekambuhan dalam waktu 1 tahun pasca rawat pada penderita skizofrenia yang
mendapat latihan keterampilan sosial adalah 20%, penderita yang mendapat pengobatan
antipsikotik 41% dan 19% penderita yang pada keluarga diberikan psikoedukasi. Penderita
yang mendapat latihan keterampilan sosial, obat antipsikotik dan psikoedukasi keluarga
dilaporkan tidak ada yang kambuh, (Kaplan dan Sadock, 2003).
Para ilmuwan sudah lama mengetahui bahwa skizofrenia diturunkan, 1% dari populasi umum
tetapi 10% pada masyarakat yang mempunyai hubungan derajat pertama seperti orang tua,
kakak laki laki ataupun perempuan dengan skizofrenia. Masyarakat yang mempunyai hubungan
derajat ke dua seperti paman, bibi, kakek / nenek dan sepupu dikatakan lebih sering
dibandingkan populasi umum. Kembar identik 40% sampai 65% berpeluang menderita
skizofrenia sedangkan kembar dizigotik 12%. Anak dan kedua orang tua yang skizofrenia
berpeluang 40%, satu orang tua 12%.
 

adanya faktor keturunan yang menentukan timbulnya skizofrenia. Buktinya adalah


penelitiantentang keluarga-keluarga penderita skizofrenia, terutama anak-anak kembar satu
telur. Angkakesakitan bagi saudara tiri 0,9-1,8%, saudara kandung 7-15%, bagi anak dengan
salah salah satuorang tua yang menderita skizofrenia 7-16%, bila kedua orang tua menderita
skizofrenia 40-68%, bagi kembar dua telur 2-15%, bagi kembar satu telur 61-86%. Potensi
untuk mendapatkanskizofrenia diturunkan melalui gen yang resesif, potensi ini mungkin kuat,
mungkin juga lemah,tetapi selanjutnya tergantung pada lingkungan individu itu apakah akan
terjadi skizofrenia atau tidak.