Anda di halaman 1dari 17

Tugas Kelompok

PERADABAN ARAB PRA-ISLAM


Disusun untuk memenuhi tugas:

Mata Kuliah : Sejarah Kebudayaan Islam.


Dosen : Akhmad Supriadi, S.HI, MSI

Disusun Oleh :

Zainuddin
NIM 1002120113

Rahmatullah
NIM 1002120093

Fitria
NIM 1002120101

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEEGRI PALANGKA RAYA


JURUSAN EKONOMI SYARIAH
2010/2011
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Allah Swt yang telah memberikan Rahmat, hidayah dan
petunjuk-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan penulisan makalah ini yang berjudul
“Arab Pta-Islam”.

Penulisan makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh dosen mata
kuliah yang bersangkutan, yaitu mata kuliah “Sejarah Peradaban Islam”

Kami menyadari sepenuhnya masih jauh dari kesempurnaan danbanyak terdapat


kesalahan baik dari segi penulisan maupun pembahasan, oleh karena itu kami mengharapkan
adanya kritik dan saran yang bersifat membangun demi perbaikan makalah ini.

Akhirnya semoga Tuhan YME senantiasa memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada
siapa saja yang mencintai pendidikan. Amien ya Robbal Alamien.

Palangkaraya, September 2010

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.............................................................................................................i
DAFTAR ISI.............................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar
Belakang..............................................................................................................1
1.2. Rumusan
Masalah.........................................................................................................1
BAB II PEMBAHASAN
1.3. Al-Qur’an................................................................................................................2
1.4. As-Sunnah................................................................................................................4
1.5. Aspek Ekonomi............................................................................................................5
1.5.1. Perdagangan......................................................................................................5
1.5.2. Pertanian............................................................................................................6
1.6. Aspek Kepercayaan......................................................................................................7
1.6.1. Penyembahan Berhala atau Paganisme..............................................................7
1.6.2. Agama Majusi atau Zoroaster............................................................................8
1.6.3. Agama Yahudi...................................................................................................8
1.6.4. Agama Nasrani atau Kristen..............................................................................8
1.7. Aspek
Kesusastraan......................................................................................................9
BAB III PENUTUP
3.1. Kesimpulan.................................................................................................................11
3.2. Saran...........................................................................................................................11
DAFTAR PUSTAKA.........................................................................................................12
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Arab pada masa sebelum islam lahir merupakan peradaban Jahiliyah menurut sebagian
besar sumber karena mereka dikenal sebagai penyembah berhala. Jahiliyah berarti
kebodohan, namun tidak seluruhnya bangsa Arab pra-Islam itu bodoh bila dilihat dari
berbagai aspek yang akan dibahas dalam makalah ini. Karena mereka mempunyai kemajuan
dalam berbagai bidang seperti bidang ekonomi ,kesusastraan, dan masih ada lagi yang akan
dijelaskan pada makalah ini.

B. RUMUSAN MASALAH

Adapun rumusan masalah dalam pembahasan makalah berikut ini:


1. Bagaimana bangsa Arab pra-Islam pada aspek sosial?
2. Bagaimana bangsa Arab pra-Islam pada aspek politik?
3. Bagaimana bangsa Arab pra-Islam pada aspek ekonomi?
4. Bagaimana bangsa Arab pra-Islam pada aspek kepercayaan?
5. Bagaimana bangsa Arab pra-Islam pada aspek kesusastraan?

BAB II
PEMBAHASAN

A. ASPEK SOSIAL

Bangsa Arab adalah salah satu dari bangsa Smith, yang mendiami daratan yang
dinisbahkan kepada bangsa mereka, yaitu jazirah Arab. Mereka terdiri dari tiga bagian:
a. Suku Arab Kuno (al-‘Arab al-Badi’ah)
Suku ini merupakan bangsa Arab paling kuno yang saat ini telah punah. Sejarah suku
ini telah diketahui dari kitab-kitab samawi yang terkenal, di antaranya adalah ‘Ad-
Tsamud, Tasm, Judais, dan Jurham.1
b. Suku Arab Lestari (al-‘Arab al-Baqiyah)
1) Arab Aribah (Arab Asli) : Mereka dari kelompok Quthan, dan tanah air mereka
yaitu Yaman. Di antara kabilah-kabilah yang terkenal, yaitu Jurham, Ya’rab, dan
dari Ya’rab ini keluarlah suku-suku Kahlam dan Himyar.
2) Arab Musta’rabah (Arab Pendatang) : Mereka ini adalah kebanyakan dari
penduduk Arab, dari dusun sampai ke kota, yaitu mereka yang mendiami bahagian
tengah jazirah Arab dan Negeri Hijaz sampai ke lembah Syam. Dinamakan Arab
Musta’rabah karena waktu itu Jurham dari suku Qathan mendiami Mekah, dan
mereka tinggal bersama Nabi Ibrahim AS serta ibunya, di mana kemudian Ibrahim
mengawini wanita mereka, dan kemudian Ibrahim dan anak-anaknya belajar
bahasa Arab. Dari merekalah lahir bermacam-macam kaum dan suku Arab,
termasuk kaum Quraisy, yang tumbuh dari induk suku Adnan. 2

Perlu diketahui bahwa bila dilihat dari asal-usul keturunan, penduduk jazirah Arab dapat
dibagi menjadi dua golongan besar, yaitu Qatahan dan Adnan (keturunan Ismail ibn Ibrahim).
Suku Adnan menempati wilayah utara Jazirah sedangkan Suku Qathan menepati wilayah
selatan jazirah Arab. Akan tetapi kedua golongan itu membaur karena perpindahan-
perpindahan dari utara ke selatan atau sebaliknya.3

Pada aspek ini, berdasarkan tempat tinggalnya, bangsa Arab ada yang tinggal di
pedalaman dan ada pula yang tinggal di kota.4 Penduduk pedalaman tidak mempunyai tempat
1
Sugiharto Sugeng, Sejarah Kebudayaan Islam,1,(Solo : PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, 2009), hlm. 14
2
Prof. A. Hasjmy, Sejarah Kebudayaan Islam,(Jakarta : Bulan Bintang, 1995), hlm. 18
3
Dr. Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam,(Jakarta : PT RajaGrafindo Persada, 2006), hlm 10
4
Sugiharto Sugeng, Sejarah Kebudayaan Islam,1, hlm. 14
tinggal atau perkampungan tetap. Contohnya suku Badui yang mempunyai gaya hidup
pedesaan dan nomadik, berpindah dari satu daerah ke daerah lain guna mencari air dan
padang rumput untuk binatang penggembalaan mereka, seperti kambing dan onta. Mereka
sangat menekankan hubunngan kesukuan, sehingga kesetiaan dan solidaritas kelompok
menjadi sumber kekuatan bagi suatu kabilah atau suku. Mereka suka berperang. Karena itu,
peperangan antarsuku sering sekali terjadi. Sikap ini tampaknya telah menjadi tabiat bangsa
Arab ketika itu. Dalam masyarakat suka berperang tersebut, nilai wanita menjadi sangat
rendah. Situasi ini terus berlanjut hingga agama Islam lahir. Akibatnya, kebudayaan mereka
tidak berkembang. Karena itulah bahan-bahan sejarah arab pra-Islam sangatlah langka.5
Menurut Ahmad Syalabi, sejarah mereka dapat diketahui dari masa kira-kira 150 tahun
menjelang lahirnya Islam. Sejarah mereka ini juga dapat diketahui dengan perantaraan syair-
syair atau cerita-cerita yang diterima dari perawi-perawi.6

Sebaliknya, penduduk kota mempunyai tempat tinggal mutlak di kota-kota dan mata
pencaharian mereka ialah bertani, berdagang dan berternak. Mereka biasanya memiliki
kecakapan dagang yang baik, dan cara bertani dan berternak yang cukup maju.7

Adapun sifat dan watak bangsa Arab Pra-Islam antara lain8:

a. Sifat watak yang terpuji


1) Pemberani, sikap yang menonjol pada bangsa Arab yang suka mengembara untuk
menghadapi tantangan hidup.
2) Suka hidup bebas, ini merupakan kebiasaan suku badui sejak dahulu berkelana untuk mencari
tempat yang subur dan ramai.
3) Memenuhi Janji, mereka menganggap janji sebagai hutang. Oleh karena itu mereka selal
memenuhinya. Apabila janji itu teringkari, mereka akan membunuh anaknyha atau membakar
rumah mereka sendiri.
4) Pantang mundur, dalam hal peperangan mereka akan menghalau lawan yang kerap
menghalanginya.
5) Suka Menolong, rasa senasib dan solidaritas sangat kuat dalam satu suku ialah faktor hal ini.

5
Dr. Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, hlm. 10
5

66
A. Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam, 1,(Jakarta : Pustaka Al-Husna, 1983), hlm. 29.
7
Prof. A. Hasjmy, Sejarah Kebudayaan Islam, hlm. 14
8
Sugiharto Sugeng, Sejarah Kebudayaan Islam,1, hlm. 15
b. Sifat watak yang tercela:
1) Menyembah berhala, sudah menjadi tradisi arab jahiliah. Konon ada 360 berhala mengelilingi
Ka’bah danmereka juga meletakkan berhala-berhala di bukit Safa dan Marwah.
2) Mengubur anak perempuan hidup-hidup, mereka merasa bersalah apabila melahirkan anak
perempuan. Karena perempuan lemah dan tidak mampu berperang.
3) Mengawini perempuan bekas istri ayahnya, apabila ayah meninggal, maka istri dari ayah tersebut
termasuk ibu kandung dapat menjadi warisan untuk putranya, termsasuk mengawininya. Biasanya
sang ayah memiliki istri lebih dari satu.
4) Berpesta pora dan mabuk-mabukan., termasuk meminum khamr.

Karena watak tercela inilah, sebelum Islam lahir, penghuni Jazirah Arab dikenal dengan
masyarakat Jahiliyah. Kata itu berakar dari kata Jahl yang berarti bodoh, lawan dari kata
‘Ilm, yang berati pandai dan mengetahui.9

B. ASPEK POLITIK

Orang-orang Arab di zaman Jahiliyah tidak mempunyai semacam pemerintahan seperti


terkenal sekarang. Mereka hanya mempunyai pimpinan yang mengurus hal-hal mereka dalam
keadaan perang dan damai.10Bangsa Arab di sekitar Mekah, khususnya suku bangsa Quraisy,
mengembangkan sistem pemerintahan Oligarki yang membagi kekuasaan berdasarkan bidang
tertentu. Seperti kepengurusan dalam bidang agama, kemiliteran, perekonomian, dsb.11

Ada beberapa kerajaan pada masa arab pra-Islam yang berdiri yang berdasarkan sifat dan
bentuknya ada dua macam :

a. Kerajaan bermahkota, tetapi tunduk pada kerajaan lain (mendapat otonomi dalam
negeri).
b. Kerajaan tidak bermahkota, tetapi mempunyai kemerdekaan penuh, ini lebih tepat
disebut induk Suku dengan Kepalanya. Ia mempunyai apa yang dipunyai oleh
kerajaan yang sebenarnya.

9
Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, (Jakarta : PT. Ichtiar Baru Van Hoeve,2002), hlm. 18
10
Prof. A. Hasjmy, Sejarah Kebudayaan Islam, hlm. 20.
11
Munthoha, dkk, 1998, Pemikiran dan Peradaban Islam, Yogyakarta: UII Press, hlm. 24.
Sering terjadi perang antarkaum, antarkabilah, antarsuku. Kadang-kadang ada perang
yang sampai puluhan tahun12, seperti:

a. Perang Busus : perang ini terjadi antara Kabilah Bakar dengan Kabilah Taghib selama 40
tahun, hanya karenas selisih mengenai seekor unta.
b. Perang Dahis : perang ini terjadi antara pimpinan Suku al-Ghubara dan Suku Dahis, juga
selama 40 tahun, hanya lantaran beberapa perselisishan kecil
c. Perasng Fujar : perang ini terjadi kira-kira 268 tahun sebelum Nabi Muhammad diutus
menjadi Rasul.

Perang terjadi antara beberapa kabilah dan suku, ganti berganti. Terjadinya selama bulan
haram, dalam masa mana berlangsug Pasar Ukaz. Soalnya juga kecil yaitu soal seekor unta
yang disembelih.

C. ASPEK EKONOMI

Salah satu sapek penting perekonomian Arab pra-Islam ialah perdagangan dan pertanian.

a. Perdagangan

Bangsa Arab dikenal sebagai pedagang yang giat bekerja. Mereka berdagang hingga ke
negeri-negeri di luar Jazirah Arab, seperti Syam, Yaman, Habasyah, mesir, dan Sudan.13
Kemajuan perdangan bangsa Arab pra-Islam dimungkinkan ialah pertanian yang telah maju.
Kemajuan tersebut ditandai dengan kegiatan ekspor-impor yang mereka lakukan. Yang
mereka ekspor ialah dupa, kemenyan, kayu gaharu, minyak wangi, kulit binatang, buah
kismis, anggur, dan barang dagangan lainnya. Yang diimpor ialah kayu untuk bahan
bangunan, bulu burung unta, budak, batu manusia, pakaian, dsb.14

Dalam menjalankan usaha dagangnya, bangsa Arab menggunakan beberapa cara berikut
ini.15

12
Prof. A. Hasjmy, Sejarah Kebudayaan Islam, hlm. 21
13
Sugiharto Sugeng,Sejarah Kebudayaan Islam, 1,(Solo : PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, 2009),
hlm. 20
14
Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, hlm. 36
15
Prof. A. Hasjmy, Sejarah Kebudayaan Islam, hlm. 20.
1) Kerja sama dengan cara bagi hasil, kerja sama ini dilakukan oleh dua pihak. Satu
pihak adalah pemilik dagangan, sedangkan yang lain adalah yang menjalankan
dagangannya. Keuntungannya dibagi dua
2) Berdagang dengan berombongan (Kafilah), beberapa pedagang berkumpul
membentuk kafilah, mereka dikawal oleh beberapa tentara untuk menjaga
kesalamatan dalam perjalanan ke daerah tujuan untuk berdagang.
3) Mengatur waktu perjalanan, supaya mendapat keuntungan yang besar, biasanya
bangsa arab menentukan hari yang tepat untuk berdagang. Misalkan mereka
berdagang pada musim panas dan musim dingin. Pada musim panas, mereka
berdagang ke Syam. Pada musim dingin mereka berdagang ke Yaman.

Mekah bukan saja merupakan pusat perdagangan lokal melainkan sudah menjadi jalur
perdagangan dunia yang penting saat itu, yang menghubungkan antara utara (Syam), timur
(Persia), dan barat (Mesir dan Abessinia).16Dagang yang paling ramai di Mekkah sendiri
yaitu selama musim “Pasar Ukaz”, yaitu dalam bulan-bulan Zulqaidah, Zulhijjah, dan
Muharram.17

Para pedagang tersebut menjual komoditas itu kepada konglomerat, pejabat, tentara, dan
keluarga penguasa. Karena komoditas tersebut mahal, terutama barang-barang impor yang
harus dikenai pajak yang sangat tinggi. Alat pembayarannya koin perak, emas, atau logam
mulia lain yang ditiru dari mata uang persia dan romawi. Beberapa koin tersebut masih
disimpan di timur tengah.18

b. Pertanian

Pertanian juga merupakan aspek perekonomian penting bagi Bangsa Arab. Penghasilan
mereka masing-masing berbeda-beda. Misalanya daerah tepian atau desa-desanya
menghasilkan kurma, anggur, kapas, sayur-mayur, dan sebagainya.19

Peralatan pertanian yang digunakan ialah semi modern, misalnya cangkul, bajak garu,
dan tongkat kayu untuk menanam. Penggunaan hewan ternak seperti unta, keledai, dan sapi

16
Munthoha, dkk, Pemikiran dan Peradaban Islam, hlm. 24.
17
Prof. A. Hasjmy, Sejarah Kebudayaan Islam, hlm. 21
18
Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, hlm. 37
19
K.H, Moenawar Chalil, Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad, 1,(Jakarta : Gema Insan Press,2001),
hlm.15
jantan sebagai penarik bajak dan garuserta pembawa tempat air juga sudah dikenal. Demikian
pula sistem irigasi telah mereka praktekkan. Mereka juga menggunakan pupuk alami untuk
menyuburkan tanah, seperti pupuk kandang, kotoran manusia, dan binatang tanah seperti
rayap dan cacing.20

Ada tiga sistem pertanian yang digunakan oleh para pemilik ladang atau sawah dalam
mengelola pertanian pada saat itu21:

1) Sistem sewa-menyewa dengan emas atau logam mulia lain, gandum, atau produk
pertanian sebagai alat pembayarannya.
2) Sistem bagi hasil produk, misalnya separuh untuk pemilik dan separuh untuk
penggarap, dengan bibit dan ongkos penggarapan dari pemilik.
3) Sistem pandego, yakni seluruh modal datang dari pemilik, sementara pengairan,
pemupukan, dan perawatannya dikerjakan oleh penggarap.

Oase juga berperan penting dalam pertanian Arab pra-Islam. Di daerah sekitar oase
tinggal beberapa suku bangsa Arab yang telah maju seperti Bani an-Nadir, Khazraj, Aus,
Hawazin, Juwainah, dan Quraisy.22

Perdagangan dan pertanian yan maju berdampak pada kemajuan kemajuan profesi lain
dalam perekonomian Arab pra-Islam.23

1) Industri rumah, industri yang sangat berkembang karena kebutuhan terhadapnya


makin mendesak. Wilayah industrinya yang menonjol ialah di Tihamah, Zamar,
wilayah Bani Sabiyah, Himdah, dan kampung Bani Sulaim.
2) Industri pertambangan, terdapat di dataran rendah Yaman, Ma’rib, Zamar, Khaulan,
Hajur, dll.
3) Industri tekstil, tenun, dan wol.

D. ASPEK KEPERCAYAAN

20
Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, hlm. 38
21
Ibid; hlm.. 39
22
Ibid; hlm. 38
23
Ibid; hlm. 40
Sebelum Islam lahir, di Arab telah berkembang berbagai jenis agama, ada yang asli
seperti penyembahan berhala atau paganisme dan agama yang berasal dari wilayah lain,
seperti Yahudi, Nasrani, Majusi atau Zoroaster.24 Menurut Nurcholis Madjid, masyarakat
Arab telah mengenal agama tauhid semenjak kehadiran Ibrahim AS. 25

a. Penyembahan berhala atau Paganisme

Penyembahan berhala dilakukan dengan berbagai cara oleh bangsa Arab. Beberapa cara
penyembahan berhala itu adalah sebagai berikut.26

1) Para penyembah berhala berjalan mengelilingi atau tawaf berhala atau patung. Sambil
berkeliling, mereka berdoa untuk meminta pertolongan. Mereka mengelilingi Kakbah
yang dipenuhi 360 berhala di sekitarnya sambil bertelanjang.27 Ada patung yang
terbesar di Kakbah, namanya Hubal. Mereka berhenti apabila berhala tersebut telah
memberi tanda bahwa permintaan mereka dikabulkan.
2) Para penyembah berhala mempersembahkan hewan kurban di hadapan mereka.
Kemudian, mereka mengatakan permintaanya sambil menyebut-nyebut nama berhala
tersebut. Mereka meyakini bahwa permintaanya akan cepat terkabul apabila mereka
menyembelih hewan kurban.
3) Para penyembah berhala menediakan sesajen di hadapan berhala. Sesajen itu bisa
berpa makanan, minuman, atau hasil panen. Sesajen itu ditujukan sebagai ucapan
terima kasih kepada berhala karena memberikan keberhasilan dalam kehidupan.
4) Para penyembah berhala memberikan sesajen di tempat-tempat yang dianggap
keramat sebagai penghormatan kepada jin atau roh nenek moyang yang membuat
tempat itu.
5) Sebagian bangsa Arab memuja malaikat. Mereka meyakini bahwa malaikat adalah
anak perempuan Tuhan.

b. Agama Majusi atau Zoroaster

Agama ini merupakan agama Persia kuno. Nama lainnya adalah Mazdaisme. Tuhannya
Ahura Mazda. Pada awalnya, agamaMajusi mengajarkan penyembahan kepada banyak dewa.
24
Ibid; hlm. 27
25
Munthoha, dkk, Pemikiran dan Peradaban Islam, hlm. 22
26
Sugiharto Sugeng, Sejarah Kebudayaan Islam, 1, hlm. 32
27
Munthoha, dkk, Pemikiran dan Peradaban Islam, hlm. 22
Kitab sucinya ialah Avesta dan dilengkapi dengan kitab. Ahura Avesta dilambangkan sebagai
api yang memberikan cahaya dan menerangi dan penghormatannya dilakukan di hadapan api
suci.

c. Agama Yahudi

Bersumber dari ajaran Nabi Musa. Kitab suci agama Yahudi adalah Taurat. Akan tetapi,
pemeluk agama ini menyimpang dari apa yang diajarkan Nabi Musa. Mereka
mengkhultuskan Uzair sebagai anak Tuhan. Mereka tidak mempercayai kenabian Isa dan
Muhammad SAW. Padahal, Taurat menyebutkan bahwa sesudah Nabi Musa akan datang
nabi-nabi berikutnya. Sebab mereka merasa derajat mereka paling tinggi di dunia.
Penganutnya Bani Israil pada saat itu.

d. Agama Nasrani atau Kristen.

Bersumber dari ajaran Nabi Isa. Kitab sucinya adalah Injil atau Al-Kitab. Seperti halnya
Yahudi, Kristen juga menyimpang dari ajaran Nabi Isa. Setelah Nabi Isa diangkat oleh Allah
SWT, mereka meyakini bahwa Nabi Isa adalah anak Tuhan. Mereka meyakini bahwa Tuhan
terdiri dari Tuhan Bapak, Tuhan Anak, dan Roh Kudus. Keyakinan itu desebut Trinitas.
Mereka juga digolongkan dalam ahlulkitab.

Dari sekian agama-agama tersebut diatas, ada juga yang karena ajaran agama Ibrahim
masih berbekas di kalangan bangsa Arab sehingga mereka tidak menyukai menyembah
berhala. Mereka ialah Waraqah bin Naufal dan Usman bin Huwairis, yang menganut Kristen,
Abdullah Ibnu Jahsy yang ragu-ragu (ketika Islam datang, ia menganutnya tetapi kemudian
ia menganut Majusi). Zaid bin Umar tidak tertarik kepada Majusi, tetapi juga enggan
menyembah berhala sehingga ia mendirikan agama sendiri dengan menjauhi berhala dan
tidak mau memakan bangkai dan darah.28 Bekas ajaran Nabi Ibrahim yang masih terasa ialah
Penyebutan Allah sebagai Tuhan, dan Ibadah Haji. Secara fisik peninggalan Ibrahim dan
Ismail yang masih terpelihara ialah Baitullah atau Kakbah yang berada di pusat kota
Mekkah.29

E. ASPEK KESUSASTRAAN

28
Munthoha, dkk, Pemikiran dan Peradaban Islam, hlm. 23
29
Ibid; hlm. 22
Dalam aspek ini, masyarakat Arab pra-Islam sangat maju. Bahasa mereka sangat indah
dan kaya. Genre sastra Arab jahiliyah yang paling populer ialah jenis puisi atau syair di
samping sedikit amsal (semacam kata pepatah atau kata-kata mutiara), dan pidato yang
pendek disampaikan oleh para pujangga, yang disebut prosa liris.30Syair-syair mereka sangat
banyak. Dalam lingkungan mereka seorang penyair sangat dihormati. Tiap tahun di Pasar
Ukaz diadakan deklamasi sajak yang luas.31

Sastra mempunyai arti penting dalam kehidupan bangsa Arab. Mereka mengabadikan
peristiwa-peristiwa dalam syair yang diperlombakan setiap tahun di pasar seni Ukaz,
Majinnah, dan Zu Majas.32 Sastra Arab pra-Islam adalah cerminan langsung bagi kehidupan
bangsa Arab tersebut.33

Ada dua sistem kesusastraan yang diterapkan masyarakat arab pra-Islam.34

a. Khitabah (berpidato) sangat maju, dan inilah satu-satunya publisistik yang amat luas
lapangannya. Sebagai penyair, orang-orang Arab sangat fasih berpidato, dengan
bahasa yang maha indah dan bersemangat. Ahli pidato mendapat derajat tinggi dalam
masyarakat, sama halnya dengan penyair.
b. Majelis al-Adab dan Sauqu Ukaz, telah menjadi kelaziman masyarakat Arab pra-
Islam, yaitu mengadakan majelis ini atau Nadwa (klub), di tempat mana mereka
mendeklarasikan sajak, bertanding pidato tukar-menukar berita dan sebagainya.
Terkenallah dalam kalangan mereka “Nadi Quraisy” dan “Darun Nadwah” yang
berdiri di samping Kakbah. Mereka juga mengadakan aswaq (pekan) dalam waktu
tertentu. Tiap-tap ada sauq berkumpullah ke sana para saudagar dengan barang
dagangannya, penyair dengan sajak-sajaknya, dan ahli pdato dengan khutbah-
khutbahnya. Aswaq yang sangat terkenal ialah Sauqu Ukaz atau “Pekan Ukaz” yang
diadakan pada suatu tempat tiada jauh dari kota Mekkah menuju thaf, yakni Pasar
Ukaz.

30
Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, (hlm. 27
31
Prof. A. Hasjmy,Sejarah Kebudayaan Islam,(Jakarta : Bulan Bintang, 1995), hlm. 22
32
Munthoha, dkk, Pemikiran dan Peradaban Islam, hlm. 24
33
Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, hlm. 25
34
Ibid, hlm. 23
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN

Berdasarkan penjelasan sebelumnya, dapat ditarik kesimpulan bahwa pada zaman arab
pra-Islam terdapat hal dalam berbagai aspek sebagai berikut:

1. Aspek sosial, arab terbagi dua yaitu Arab kuno dan Arab lestari. Adapun watak
positif mereka ialah pemberani, suka hidup bebas, memenuhi janji, suka menolong,
dan pantang mundur. Sedangkan watak negatifnya adalah menyembah berhala,
mengubur anak perempuan hidup-hidup, mengawini wanita bekas ayahnya, dan suka
berpesta pora dan mabuk-mabukkan. Karena watak negatiflah, mereka disebut
zaman Jahiliyah.

2. Aspek politik, sistem poltitk utama di arab pra-Isalm ialah Oligarki, sitem ini
mendominasi makkah oleh kaum kafir Quraisy dan ada dua kerajaan besar
berdasarkan sifatnya, yaitu kerajaan bermahkota dan tidak bermahkota. Perang
antark kabilah sering terjadi, ada tiga perang berdasarkan suku yang berperang, dan
masa perang, serta masalah penyebab perang, yaitu perang Busus, Dahis, dan Fujar.

3. Aspek ekonomi, aspek ini merupakan yang paling menonjol diantara yang lain,
terutama dalam hal berdagang dan bertani, karena letaknya strategis yaitu perbatasan
antara Eropa dengan Asia sebagai jalur perdagangannya. Bangasa Arab tersebut juga
unggul dalam pertanian meskipun daerah mereka sebagian besar gurun pasir.
Tertama pertanian kurma dan anggur.

4. Aspek keprcayaan, meskipun agama mereka sebagian besar adalah penyembahan


berhala dan majusi, ada agama lain yang juga berkembang yaitu agama Kristen,
Yahudi, kemudian kepercayaan teguh atas ajaran Allah dari Nabi Ibrahim AS.

5. Aspek kesusastraan, aspek ini tak kalah majunya dengan aspek Ekonomi, banyak
para penyair yang handal dan dihormati, mereka melakukan syair, puisi, dan pidato
pendek yang mereka sampaikan di khalayak ramai, dan perlombaan puisi, syair, dan
pidato si lakukan dalam ajang perlombaan setahun sekali di Pasar Ukaz, Majinnah,
dan Zu Majas.

B. SARAN

Tidak semua bangsa Arab Pra-Islam pada zaman Jahiliyah dikatakan bodoh dan tidak
beradab, mereka juga mempunyai kemajuan dari segi ekonomi dan kesusastraan, dan dua hal
tersebutlah yang harus kita ambil sebagai pelajaran untuk masa depannya.
DAFTAR PUSTAKA

Sugeng, Sugiharto, Sejarah Kebudayaaan Islam kelas III, Solo: Pt. Tiga Serangkai Pustaka
Mandiri, 2009.

Hasjmy, A, Sejarah Kebudayaan Islam, Jakarta: Pt. Bulan Bintang, 1995.


Yatim, Dr. Badri, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2006.

Syalabi, A, Sejarah dan Kebudayaaan Islam Jilid 1, Jakarta: Pustaka Al-Husna, 1983.

Munthoha, dkk, Pemikiran dan Peradaban Islam, Yogyakarta: UII Press, 1998.

_________, Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, 2002.

Chalil ,K.H, Moenawar, Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad Jilid 1, Jakarta : Gema Insan
Press,2001

Nurlatif., Politik dan Pemerintahan Arab Sebelum Islam,


http://nurlatif.blogspot.com/2008/06/politik-dan-pemerintahan-arab-sebelum.html