Anda di halaman 1dari 24

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Dasar Teori


• Definisi
Jar Test adalah suatu percobaan skala laboratorium untuk
menentukan kondisi operasi optimum pada proses pengolahan air dan air
limbah. Metode ini dapat menentukan nilai pH, variasi dalam penambahan
dosis koagulan atau polimer, kecepatan putar, variasi jenis koagulan atau
jenis polimer, pada skala laboratorium untuk memprediksi kebutuhan
pengolahan air yang sebenarnya. Metode Jar Test mensimulasikan proses
koagulasi dan flokulasi untuk menghilangkan padatan tersuspensi
(suspended solid) dan zat – zat organik yang dapat menyebabkan
masalah kekeruhan, bau, dan rasa.
(http:// www.cee.vt.edu/ewr/environmental/teach/ wtprimer/jartest/jartest.html)
Jar Test mensimulasikan beberapa tipe pengadukan dan
pengendapan yang terjadi di clarification plant pada skala
laboratorium. Dalam skala laboratorium, memungkinkan untuk
dilakukannya 6 tes individual yang dijalankan secara bersamaan. Jar
test memiliki variabel kecepatan putar pengaduk yang dapat mengontrol
energi yang diperlukan untuk proses.
(The Nalco Water Handbook 2nd Edition, Hal 8.13)

• Prinsip Kerja Jar Test


Pada metode Jar Test, terdapat dua tahap proses yaitu koagulasi dan
flokulasi. Jar Test dilakukan dengan menggunakan alat yang disebut
dengan Flocculator (seperti ditunjukkan pada Gambar II.1).
(http:// www.labsource.co.uk/shop/images/SW6.jpg)
Flokulator adalah alat yang digunakan untuk flokulasi. Saat ini
banyak kita menjumpai berbagai macam flokulator, tetapi berdasarkan
cara kerjanya flokulator dibedakan menjadi 3 macam: yaitu
pneumatic, mekanik, dan baffle. Flokulator pada prinsipnya
bertugas untuk melakukan pengadukan lambat agar jangan sampai mikro
flok yang sudah menggumpal

II-1
II-2

Bab II Tinjauan Pustaka


pecah kembali menjadi bentuk semula, maka perlu adanya desain khusus
bentuk flokulator tersebut.

Gambar II.1 Flokulator


Flokulator secara pneumatic misalnya, dirancang dengan cara
mensuplai udara ke dalam bak flokulasi, cara kerjanya sama seperti
yang dilakukan pada aerasi, bedanya suplai udara yang diberikan
ke bak flokulasi tidak sebesar pada bak aerasi. Jenis flokulator ini
jarang sekali kita temukan saat ini, tetapi yang paling sering adalah
flokulator secara mekanis. Flokulator secara mekanis paling banyak kita
jumpai saat ini, bentuk serta desainnyapun bermacam-macam. Prinsip
kerja jenis flokulator ini adalah dengan cara pengadukan (mixing),
karena bentuknya yang bermacam-macam inilah maka bentuk ini
sangat familiar bagi seorang engineer. Bentuk yang terakhir adalah
dengan Baffle, jika dibandingkan dengan 2 jenis flokulator di atas,
maka jenis flokulator ini jarang atau bahkan tidak pernah kita jumpai
sekarang ini, pasalnya sistem Baffle mempunyai tingkat velositas G dan
GT sangat terbatas. http://inf ormasitender.blogspot.com/2008/04/simulasi-koagulasi-
flokulasi-dengan.html
Perlakuan yang dilakukan pertama kali adalah penambahan
koagulan pada air yang akan diuji, selanjutnya adalah tahap koagulasi
dengan pengadukan kecepatan tinggi hingga partikel besar terentuk
akibat proses netralisasi. Setelah koagulasi dilanjutkan dengan
flokulasi yang dilakukan dengan pengadukan kecepatan rendah
setelah ditambahkan flokulan seperti yang digambarkan pada Gambar II.2
berikut.

LABORATORIUM TEKNOLOGI PENGOLAHAN AIR


II-3

Bab II Tinjauan Pustaka

Gambar II.2 Proses Penambahan Flokulan

Langkah analisa adalah :


a. Koagulan ditambahkan pada sampel air keruh lalu dilakukan
pengadukan dengan kecepatan tinggi.
b. Setelah penambahan koagulan, pertumbuhan partikel terjadi
karena netralisasi muatan. Penambahan koagulan atau flocculant pada
molekul tinggi dapat ditambahkan.

c. Setelah itu dilakukan proses flokulasi, yaitu pada kecepatan


rendah berkisar antara 10 – 15 rpm.

LABORATORIUM TEKNOLOGI PENGOLAHAN AIR


II-4

Bab II Tinjauan Pustaka


d. Kemudian supernatannya diperiksa dan diuji setelah settling time selama
5 sampai 10 menit, dan sifat serta volume flok yang terapung dapat
dicatat.
(The Nalco Water Handbook 2nd Edition, hal 8.14)

- Koagulasi
Definisi
Koagulasi adalah proses penggumpalan partikel koloid karena
penambahan bahan kimia sehingga partikel-partikel tersebut bersifat
netral dan membentuk endapan karena adanya gaya
grafitasi.
(http:// www.f ree.vlsm.org/v12/sponsor/Sponsor-Pendamping/Praweda/Kimia.html)

Proses Koagulasi
 Secara fisika, koagulasi dapat terjadi dengan cara :
a. Pemanasan, kenaikan suhu sistem koloid menyebabkan tumbukan
antar partikel-partikel sol dengan molekul-molekul air bertambah
banyak. Hal ini melepaskan elektrolit yang teradsorpsi pada
permukaan koloid. Akibatnya partikel tidak bermuatan.
b. Pengadukan, contoh: tepung kanji
c. Pendinginan, contoh: agar-agar

 Secara kimia
Sedangkan secara kimia seperti penambahan elektrolit,
pencampuran koloid yang berbeda muatan, dan penambahan zat kimia
koagulan. Ada beberapa hal yang dapat menyebabkan koloid bersifat
netral, yaitu:
1. Menggunakan Prinsip Elektroforesis
Proses elektroforesis adalah pergerakan partikel-partikel koloid
yang bermuatan ke elektrode dengan
muatan yang berlawanan. Ketika partikel ini
mencapai elektrode, maka sistem koloid akan kehilangan muatannya
dan bersifat netral.
2. Penambahan koloid, dapat terjadi sebagai berikut :
Koloid yang bermuatan negatif akan menarik ion positif (kation),
sedangkan koloid yang bermuatan positif akan menarik ion
negatif

LABORATORIUM TEKNOLOGI PENGOLAHAN AIR


II-5

Bab II Tinjauan Pustaka


(anion). Ion-ion tersebut akan membentuk selubung lapisan
kedua. Apabila selubung lapisan kedua itu terlalu dekat maka
selubung itu akan menetralkan muatan koloid sehingga terjadi
koagulasi. Makin besar muatan ion makin kuat daya tariknya
dengan partikel koloid, sehingga makin cepat terjadi koagulasi.
3. Penambahan Elektrolit
Jika suatu elektrolit ditambahkan pada sistem koloid, maka partikel
koloid yang bermuatan negatif akan mengadsorpsi koloid
dengan muatan positif (kation) dari elektrolit. Begitu juga sebaliknya,
partikel positif akan mengadsorpsi partikel negatif (anion) dari
elektrolit. Dari adsorpsi diatas, maka terjadi
koagulasi. Dalam proses koagulasi,stabilitas koloid
sangatberpengaruh.stabilitasmerupakan daya tolak koloid
karena partikel-partikel mempunyai muatan
permukaan sejenis (negatif). Beberapa gaya yang menyebabkan
stabilitas partikel, yaitu:
• Gaya elektrostatik yaitu gaya tolak menolak tejadi jika
partikel- partikel mempunyai muatan yang sejenis.
• Bergabung dengan molekul air (reaksi
hidrasi)
• Stabilisasi yang disebabkan oleh molekul besar yang diadsorpsi
pada permukaan.
Suspensi atau koloid bisa dikatan stabil jika semua gaya tolak
menolak antar partikel leih besar dari ada gaya tarik massa, sehingga
dalam waktu tertentu tidak terjadi agregasi.
Untuk menghilangkan kondisi stabil, harus merubah gaya interaksi antara
partikel dengan pembubuhan zat kimia supaya gaya tarik menariklebih
besar. Untuk destabilisasi ada beberapa mekanisme yang berbeda:
a. Kompresi lapisan ganda listrik dengan muatan yang
berlawanan.
b. Mengurangi potensial permukaan yang disebabkan oleh adsorpsi
molekul yang spesifik dengan muatan elektrostatik berlawanan.
c. Adsorpsi molekul organik diatas permukaan partikel bisa membentuk
jembatan moleku diantara partikel.
d. Penggabungan partikel koloid kedalam senyawa presipitasi yang
terbentuk dari koagulan.

LABORATORIUM TEKNOLOGI PENGOLAHAN AIR


II-6

Bab II Tinjauan Pustaka

Secara garis besar (bedasarkan uraian diatas), mekanisme


koagulasi adalah :
1. Destabilisasi muatan negatif partikel oleh muatan positip dari koagulan
2. Tumbukan antar partikel
3. Adsorpsi

Faktor – faktor yang mempengaruhi koagulasi :


(1) Pemilihan bahan kimia koagulan
Pemilihan koagulan dan koagulan pembantu, merupakan suatu
program lanjutan dari percobaan dan evaluasi yang biasanya
menggunakan metode jar test. Seorang operator dalam pengetesan
untuk memilih bahan kimia, biasanya dilakukan di laboratorium. Untuk
melaksanakan pemilihan bahan kimia, perlu pemeriksaan terhadap
karakteristik air baku yang akan diolah yaitu :
 Suhu
 pH
 Alkalinitas
 Kekeruhan
 Warna
Efek karakteristik air baku yang akan diolah terhadap koagulan adalah:
o Suhu berpengaruh terhadap daya koagulasi dan memerlukan
pemakaian bahan kimia berlebih, untuk mempertahankan hasil yang
dapat diterima.
o pH Nilai ekstrim baik tinggi maupun rendah, dapat
berpengaruh terhadap koagulasi. pH optimum bervariasi tergantung
jenis koagulan yang digunakan.
o Alkalinitas yang rendah membatasi reaksi ini dan menghasilkan
koagulasi yang kurang baik, pada kasus demikian, mungkin
memerlukan penambahan alkalinitas ke dalam air, melalui
penambahan bahan kimia alkali/basa (kapur atau soda abu)
o Makin rendah kekeruhan, makin sukar pembentukkan flok.Makin
sedikit partikel, makin jarang terjadi tumbukan antar partikel/flok,
oleh sebab itu makin sedikit kesempatan flok berakumulasi.

LABORATORIUM TEKNOLOGI PENGOLAHAN AIR


II-7

Bab II Tinjauan Pustaka


o Warna, berindikasi kepada senyawa organik, dimana zat organik
bereaksi dengan koagulan, menyebabkan proses koagulasi
terganggu selama zat organik tersbut berada di dalam air baku
dan proses koagulasi semakin sukar tercapai.
(2) Penentuan dosis optimum koagulan
Untuk memperoleh koagulasi yang baik, dosis optimum
koagulan harus ditentukan. Dosis optimum mungkin bervariasi
sesuai dengan karakteristik dan seluruh komposisi kimiawi di dalam
air baku, tetapi biasanya dalam hal ini fluktuasi tidak besar, hanya pada
saat-saat tertentu dimana terjadi perubahan kekeruhan yang
drastis (waktu musim hujan/banjir) perlu penentuan dosis
optimum berulang-ulang.
(3) Penentuan pH optimum
Penambahan garam aluminium atau garam besi, akan menurunkan
pH air, disebabkan oleh reaksi hidrolisa garam tersebut, seperti yang
telah diterangkandi atas. Koagulasi optimum
bagaimanapun juga akan berlangsung pada nilai
pH tertentu.
Apabila muatan koloid dihilangkan, maka kestabilan koloid akan
berkurang dan dapat menyebabkan koagulasi atau penggumpalan.
Pengikatan koloid oleh koagulan ditunjukkan pada Gambar II.3.
Penghilangan muatan koloid dapat terjadi pada sel elektroforesis atau
jika elektrolit ditambahkan ke dalam sistem koloid. Apabila arus listrik
dialirkan cukup lama ke dalam sel elektroforesis maka
partikel koloid akan digumpalkan ketika mencapai elektrode.
Jadi, koloid yang bermuatan negatif akan digumpalkan di anode,
sedangkan koloid yang bermuatan positif digumpalkan di katode.
Koagulan yang paling banyak digunakan dalam praktek di
lapangan adalah alumunium sulfat [Al2(SO4)3], karena mudah diperoleh
dan harganya relatif lebih murah dibandingkan
denganjenis koagulan lain. (http:// www.apec-
vc.or.jp/e/modules/tinyd00/index.php?id=57&kh_open_cid_00=8)

LABORATORIUM TEKNOLOGI PENGOLAHAN AIR


II-8

Bab II Tinjauan Pustaka

Gambar II.3 Pengikatan koloid oleh koagulan


Koagulan
Koagulan adalah zat kimia yang menyebabkan destabilisasi muatan
negatif partikel di dalam suspensi. Zat ini merupakan donor muatan
positip yang digunakan untuk mendestabilisasi muatan negatip partikel.
Dalam pengolahan air sering dipakai garam dari Aluminium, Al (III) atau
garam besi (II) dan besi (III).
(http://smk3ae.wordpress.com/2008/08/05/bahan-kimia-penjernih-air-koagulan/)
Spesies koloid yang terdapat dalam air baku dan air limbah
diantaranya tanah liat, silika, besi dan logam berat lainnya, warna, dan
padatan organik seperti sisa-sisa mati organisme. Koloid juga dapat
dihasilkan dalam proses presipitasi seperti pelunakan kapur. Minyak dalam
air limbah juga sering berbentuk koloid. Di antara berbagai bahan
koloid dalam air, ada ukuran partikel yang lebih besar.
Gambar II.4 menggambarkan bagaimana bahan kimia ini
mengurangi daya hantar listrik yang berada pada permukaan
koloid, sehingga partikel koloid dapat menggumpal
(terbentuk flok). Tahap ini dimulai dengan bergabungnya flok – flok kecil
menjadi flok yang lebih besar kemudian mengendap. Tahap ini adalah
tahap koagulasi (netralisasi muatan).

LABORATORIUM TEKNOLOGI PENGOLAHAN AIR


II-9

Bab II Tinjauan Pustaka


a) Koagulasi : penambahan koagulan dapat menetralkan muatan
dan meruntuhkannya yang berada di sekitar koloid
sehingga dapat menggumpal.
b) Flokulasi : menghubungkan bahan kimia berupa flokulan agar
menggumpal sehingga membentuk partikel koloid atau flok
mengendap yang lebih besar.
(The Nalco Water Handbook 2nd Edition, hal 8.4)

Tabel II.1 adalah tabel yang menunjukkan perbedaan antara proses


koagulasi dan flokulasi yang dapat diuraikan sebagai berikut :
a) Koagulasi : proses-proses muatan netral atau koagulasi
b) Flokulasi : pembentukan flok atau flokulasi, begitu berbeda
bahwa setiap sistem mengandung padatan yang diolah secara
kimia lalu diproses, akan memiliki keterbatasan fisik sendiri.

LABORATORIUM TEKNOLOGI PENGOLAHAN AIR


II-10

Bab II Tinjauan Pustaka

Tabel II.1 Perbedaan antara proses koagulasi dan flokulasi

(The Nalco Water Handbook 2nd Edition, hal 8.8)

Gambar II.5 menggambarkan pengaruh dosis koagulan pada


rentang pH. pH optimum tetap hampir konstan, namun kisaran pH
menjadi kurang membatasi karena pengaruh meningkatnya dosis
koagulan.

Gambar II.5 Kurva efek penambahan koagulan pada kisaran pH tertentu

LABORATORIUM TEKNOLOGI PENGOLAHAN AIR


II-11

Bab II Tinjauan Pustaka


Karakteristik dari beberapa koagulan dan flokulan organik yang
sering digunakan dalam pengolahan air disajikan pada Tabel II.2.
Tabel II.2 Karakteristik bahan polymer organik

(The Nalco Water Handbook 2nd Edition, hal 8.12)

Terdapat bermacam – macam jenis koagulan yang umum dan


sering digunakan pada pengolahan air, seperti yang terlihat pada Tabel
II.3.
Tabel II.3 Jenis koagulan yang umum digunakan pada pengolahan air

REAKSI
DENGAN pH
NAMA FORMULA BENTUK OPTIMUM
AIR
Aluminium sulfat,
Al2(SO4)3.xH2O Bongkah,
Alum sulfat, Alum, Asam 6,0 – 7,8
Salum x = 14,16,18 bubuk
NaAlO2 atau
Sodium aluminat Na2Al2O4 Bubuk Basa 6,0 – 7,8
Polyaluminium Cairan,
Aln(OH)mCl3n-m Asam 6,0 – 7,8
Chloride, PAC bubuk
Kristal
Ferri sulfat Fe2(SO4)3.9H2O Asam 4–9
halus
Bongkah,
Ferri klorida FeCl3.6H2O Asam 4–9
cairan
Kristal
Ferro sulfat FeSO4.7H2O Asam > 8,5
halus
http://smk3ae. wordpress.com/

LABORATORIUM TEKNOLOGI PENGOLAHAN AIR


II-12

Bab II Tinjauan Pustaka


Alum/Tawas
Tawas/Alum adalah sejenis koagulan dengan rumus kimia Al2S04 11
H2O atau 14 H2O atau 18 H2O umumnya yang digunakan adalah 18 H2O.
Semakin banyak ikatan molekul hidrat maka semakin banyak ion lawan
yang nantinya akan ditangkap akan tetapi umumnya tidak stabil. Pada pH
<
7 terbentuk Al (OH)2+, Al (OH)2 4+, Al2 (OH)2 4+. Pada pH > 7 terbentuk
Al
(OH)-4. Flok –flok Al (OH)3 mengendap berwarna
putih.
Pada kekeruhan yang disebabkan tanah liat sangat baik
dihilangkan dengan batas pH antara 6,0 sampai dengan 7,8;
penghilangan warna umumnya dilakukan pada pH yang sedikit asam,
lebih kecil dari 6, bahkan di beberapa daerah harus lebih kecil dari 5.
Efisiensi penghilangan warna masih tetap tinggi dihasilkan pada
koagulasi dengan pH sampai 7 dengan dosis alum sulfat yang lebih tinggi
(sampai 100 mg/l), tetapi bila dosis alum sulfat lebih kecil (60 mg/l) pada
pH yang sama (sampai dengan 7), terjadi penurunan efisiensi
penghilangan warna secara drastis (sampai dengan 10
%).
PAC (Poly Alumunium Chloride)
PAC adalah suatu persenyawaan anorganik komplek, ion hidroksil
serta ion alumunium bertarap klorinasi yang berlainan sebagai
pembentuk polynuclear mempunyai rumus umum
Alm(OH)nCl(3m-n). Beberapa keunggulan yang dimiliki
PAC dibanding koagulan lainnya adalah :
1. PAC dapat bekerja di tingkat pH yang lebih luas, dengan demikian
tidak diperlukan pengoreksian terhadap pH, terkecuali bagi air tertentu.
2. Kandungan belerang dengan dosis cukup akan mengoksidasi senyawa
karboksilat rantai siklik membentuk alifatik dan gugusan rantai
hidrokarbon yang lebih pendek dan sederhana sehingga mudah untuk
diikat membentuk flok.
3. Kadar khlorida yang optimal dalam fasa cair yang bermuatan negatif
akan cepat bereaksi dan merusak ikatan zat organik terutama ikatan
karbon nitrogen yang umumnya dalam truktur ekuatik membentuk
suatau makromolekul terutama gugusan protein, amina, amida
dan penyusun minyak dan lipida.

LABORATORIUM TEKNOLOGI PENGOLAHAN AIR


II-13

Bab II Tinjauan Pustaka


4. PAC tidak menjadi keruh bila pemakaiannya berlebihan,
sedangkan koagulan yang lain (seperti alumunium sulfat, besi
klorida dan fero sulfat) bila dosis berlebihan bagi air yang
mempunyai kekeruhan yang rendah akan bertambah keruh. Jika
digambarkan dengan suatu grafik untuk PAC adalah membentuk garis
linier artinya jika dosis berlebih maka akan didapatkan hasil
kekeruhan yang relatif sama dengan dosis optimum sehingga
penghematan bahan kimia dapat dilakukan.
Sedangkan untuk koagulan selain PAC memberikan grafik
parabola terbuka artinya jika kelebihan atau kekurangan dosis akan
menaikkan kekeruhan hasil akhir, hal ini perlu ketepatan dosis.
5. PAC mengandung suatu polimer khusus dengan struktur polielektrolite
yang dapat mengurangi atau tidak perlu sama sekali dalam
pemakaian bahan pembantu, ini berarti
disamping penyederhanaan juga penghematan
untuk penjernihan air.
6. Kandungan basa yang cukup akan menambah gugus hidroksil dalam air
sehingga penurunan pH tidak terlalu ekstrim sehingga
penghematan dalam penggunaan bahan untuk netralisasi dapat
dilakukan.
7. PAC lebih cepat membentuk flok daripada koagulan biasa ini diakibatkan
dari gugus aktif aluminat yang bekerja efektif dalam mengikat
koloid yang ikatan ini diperkuat dengan rantai polimer dari gugus
polielektrolite sehingga gumpalan floknya menjadi lebih padat,
penambahan gugus hidroksil kedalam rantai koloid yang hidrofobik
akan menambah berat molekul, dengan demikian walaupun ukuran
kolam pengendapan lebih kecil atau terjadi over-load bagi instalasi
yang ada, kapasitas produksi relatif tidak terpengaruh.
(http://smk3ae. wordpress.com/2008/08/05/bahan-kimia-penjernih-air-koagulan/)

Flokulasi
Definisi
Flokulasi adalah proses pengadukan lambat agar campuran
koagulan dan air baku yang telah merata membentuk gumpalan atau flok
dan dapat mengendap dengan cepat.
http://envist2.blogspot.com/2009/05/flokulasi.html

LABORATORIUM TEKNOLOGI PENGOLAHAN AIR


II-14

Bab II Tinjauan Pustaka


Flokulasi adalah penyisihan kekeruhan air dengan cara
penggumpalan partikel untuk dijadikan partikel yang lebih besar.
Gaya antar molekul yang diperoleh dari agitasi merupakan salah satu
faktor yang berpengaruh terhadap laju terbentuknya partikel flok.
http://digilib.itb.ac.id/gdl.php?mod=browse&node=12
Flokulasi adalah suatu proses aglomerasi (penggumpalan) partikel-
partikel terdestabilisasi menjadi flok dengan ukuran yang memungkinkan
dapat dipisahkan oleh sedimentasi dan filtrasi.
http://envist2.blogspot.com/2009/11/hubungan-jar-test-dengan-unit-operasi.html

Proses Flokulasi
Proses flokulasi adalah proses pertumbuhan flok (partikel
terdestabilisasi atau mikroflok) menjadi flok dengan ukuran yang
lebih besar (makroflok).
http://envist2.blogspot.com/2009/11/hubungan-jar-test-dengan-unit-
operasi.html
Tujuan utama flokulasi adalah membawa partikel ke dalam
hubungan sehingga partikel-partikel tersebut saling bertabrakan,
kemudian melekat, dan tumbuh mejadi ukuran yang siap turun
mengendap. http://envist2.blogspot.com/2009/05/flokulasi.html
Proses flokulasi dalam pengolahan air bertujuan untuk
mempercepat proses penggabungan flok-flok yang telah dibibitkan pada
proses koagulasi. Partikel-partikel yang telah distabilkan selanjutnya
saling bertumbukan serta melakukan proses tarik-menarik dan
membentuk flok yang ukurannya makin lama makin besar serta mudah
mengendap. Gradien kecepatan merupakan faktor penting dalam desain
bak flokulasi. Jika nilai gradien terlalu besar maka gaya geser yang
timbul akan mencegah pembentukan flok, sebaliknya jika nilai gradien
terlalu rendah/tidak memadai maka proses penggabungan antar
partikulat tidak akan terjadi dan flok besar serta mudah mengendap
akan sulit dihasilkan. Untuk itu nilai gradien kecepatan proses
flokulasi dianjurkan berkisar antara 90/detik hingga
30/detik. Untuk mendapatkan flok yang besar dan mudah mengendap
maka bak flokulasi dibagi atas tiga kompartemen, dimana pada
kompertemen pertama terjadi proses pendewasaan flok, pada
kompartemen

LABORATORIUM TEKNOLOGI PENGOLAHAN AIR


II-15

Bab II Tinjauan Pustaka


kedua terjadi proses penggabungan flok, dan pada kompartemen
ketiga terjadi pemadatan flok.
Pengadukan lambat (agitasi) pada proses flokulasi dapat dilakukan
dengan metoda yang sama dengan pengadukan cepat pada proses
koagulasi, perbedaannya terletak pada nilai gradien kecepatan di
mana pada proses flokulasi nilai gradien jauh lebih kecil dibanding
gradien kecepatan koagulasi.
http://bulekbasandiang.wordpress.com/

Terdapat 2 (dua) perbedaan pada proses flokulasi yaitu :


1. Flokulasi Perikinetik adalah aglomerasi partikel-partikel sampai ukuran
μm dengan mengandalkan gerakan Brownian. Biasanya koagulan
ditambahkan untuk meningkatkan flokulasi perikinetik.
2. Flokulasi Ortokinetik adalah aglomerasi partikel-partikel sampai ukuran
di atas 1μm dimana gerakan Brownian diabaikan pada
kecepatan tumbukan antar partikel, tetapi memerlukan pengaduk
buatan (artificial mixing).
Setelah destabilisasi selesai mulai terbentuk agregasi partikel
yang mana diameternya lebih kecil dari 1 mikrometer untuk sementara
cuma bergerak berdasarkan difusi dan akan terjadi agregasi antar
mereka. Dengan ukuran flok dan partikel yang semakin besar
semakin penting terjadi agregasi yang disebabkan oleh
ortokinetik, maka perbedaan kecepatan diantara
partikel semakin besar, akan terjadi pembentukan flok. Dilain pihak jika
flok terlalu besar tidak bisa menahan tekanan abrasi didalam air,
artinya dengan nilai gradien kecepatan (G value) yang semakin besar
ukuran flok rata-rata akan menurun. Untuk mempertahankan nilai G yang
berhubungan dengan ukuran partikel, pada prakteknya dilakukan
semacam pengadukan pendahuluan (premixing) dengan nilai G yang
tinggi, kalau sudah terjadi flok, nilai G diturunkan. Semakin lama agregat
akan menumpuk semakin banyak, tahap berikutnya nilai G diturunkan.
Dalam beberapa instalasi, misalnya dari nilai G = 100/dt diturunkan
menjadi
10/dt. Dengan demikian ada kesempatan untuk menentukan daya enersi
yang akan dimasukkan ke dalam masing-masing tahap sesuai
dengan

LABORATORIUM TEKNOLOGI PENGOLAHAN AIR


II-16

Bab II Tinjauan Pustaka


kondisi air baku dan sesuai dengan sistem pemisahan yang akan
dilakukan selanjutnya.
Jika ditinjau dari mekanisme tersebut di atas, maka pada proses
flokulasi memerlukan waktu (yang dinyatakan oleh waktu tinggal/detensi
= td, dalam detik) yaitu waktu untuk memberi kesempatan ukuran
flok menjadi lebih besar dengan berbagai cara yang sudah diterangkan di
atas. Disamping memperhatikan waktu, pada proses flokulasi
diperhatikan pula kecepatan pengadukan (yang dinyatakan oleh gradien
kecepatan = G, dalam dt−1). Kombinasi dari kedua hal penting
tersebut, yaitu nilai G x td merupakan kriteria penting yang harus
dipenuhi pada proses flokulasi. Nilai spesifik adalah : 104 − 105. Jika nilai
spesifik G td dilampaui, maka flok yang sudah terbentuk akan pecah
kembali, sebaliknya jika kurang dari nilai spesifik, maka flok tidak
akan terbentuk seperti yang diharapkan. Untuk
menghasilkan flokulasi yang baik, maka perlu diperhatikan:
Nilai G : 20 – 70 dt−1.
Waktu tinggal (waktu ditensi) : 20 – 50 menit. Karena
proses flokulasi ini memerlukan waktu, dan kecepatan yang relatif
rendah, maka flokulasi dilakukan pada unit yang disebut “Pengadukan
lambat” atau biasa disebut “Flokulator” dimana jenis
pengadukan bisa berupa pengaduk mekanis atau
hidraulik.
Dengan dosis koagulan/flokulan pembantu (0,1–1 mg/l) kestabilan
flok bisa dipertahankan terhadap abrasi yang menjadi lebih besar
dengan adanya flokulan pembantu. Penambahan
koagulan/flokulan pembantu yaitu jenis polimer, flok yang
terbentuk akan lebih besar pada nilai G (gradien
kecepatan) yang sama. Harus ada selisih waktu antara
pembubuhan koagulan/flokulan pembantu dengan pembubuhan koagulan
(misalnya Al3+ atau Fe3+). Pembubuhan koagulan/flokulan pembantu
paling sedikit 30 dtk setelah pembubuhan koagulan.
Jika polimer dibubuhkan terlalu awal, kebutuhannya bisa jauh lebih
besar dibandingkan dengan adanya selisih waktu diantara kedua
pembubuhan tersebut di atas. Jika dicampur dengan efisien, pemakaian
koagulan/flokulan pembantu akan lebih baik, seperti yang terlihat pada
gambar II.6 flokulasi dengan polymer.

LABORATORIUM TEKNOLOGI PENGOLAHAN AIR


II-17

Bab II Tinjauan Pustaka


Efisiensi dari proses flokulasi pada prakteknya seringkali dapat
dilihat dari kualitas air setelah dilakukan pemisahan flok secara mekanik.
Dengan demikian, cara pemisahan zat padat atau flok sangat penting
dan sangat dipengaruhi oleh bentuk flok yang ada, misalnya untuk
melakukan flotasi diperlukan bentuk flok yang lain
berbeda dengan flok untuk sedimentasi. Jika dipakai
sedimentasi diperlukan flok dengan berat jenis dan diameter yang
besar. Pada proses flotasi dibutuhkan flok yang lebih kecil dan
mempunya berat jenis yang lebih ringan tetapi mempunyai sifat untuk
bergabung dengan gelembung udara. Untuk filtrasi dibutuhkan flok yang
kompak yang cukup homogen dengan struktur yang kuat terhadap
abrasi dan dengan sifat mudah melekat diatas partikel media
penyaring (filter) untuk menjamin pemisahan yang efisien dan operasional
penyaringan yang ekonomis.
Untuk efek penjernihan air secara keseluruhan, belum cukup
apakah flok bisa dipisahkan dari air secara efektif, karena belum dapat
menjamin dengan pasti apakah kualitas air yang diinginkan bisa tercapai
hanya dengan kondisi ini saja.
http://f orumbebas.com/thread-51688.html

Gambar II.6 Flokulasi dengan polymer

LABORATORIUM TEKNOLOGI PENGOLAHAN AIR


II-18

Bab II Tinjauan Pustaka


Faktor – faktor yang mempengaruhi flokulasi :
Untuk mencapai kondisi flokulasi yang dibutuhkan, ada beberapa
faktor yang harus diperhatikan, seperti misalnya :
1. Waktu flokulasi
2. Jumlah energi yang diberikan
3. Jumlah koagulan
4. Jenis dan jumlah koagulan/flokulan pembantu
5. Cara pemakaian koagulan/flokulan pembantu
6. Resirkulasi sebagian lumpur (jika memungkinkan)
7. Penetapan pH pada proses koagulasi
http://envist2.blogspot.com/2009/11/hubungan-jar-test-dengan-unit-operasi.html

Jenis Koagulan/Flokulan Pembantu (Coagulant/Flocculant Aids)


Koagulan yang umum dan sudah dikenal yang digunakan pada
pengolahan air adalah seperti yang terlihat pada tabel di bawah ini :
http://smk3ae. wordpress.com/
Polimer biasanya merupakan jenis koagulan/flokulan pembantu yang
banyak digunakan. Flokulan polimer adalah zat yang bisa terlarut dalam
air dengan berat molekul relatif (Mr) antara 1000 – 5.000.000 gr/mol
dalam proses komersil sering kali sampai 1.000.000 gr/mol yang
berbentuk pola kecil dinamik dengan ukuran beberapa ratus nanometer.
Jika mekanisme flokulasi didominasi oleh jembatan polimer, efisiensi
flokulasi biasa akan bertambah dengan penambahan berat molekul.
Pemanfaatan senyawa molekular yang sangat besar akan menaikkan
berat molekul dan akan menurunkan sifat pelarutan.
Bahan kimia polimer sering dipakai sebagai koagulan/flokulan
pembantu dalam proses flokulasi di IPA, polimer berfungsi
membantu membentuk makroflok yang akan menahan
abrasi setelah terjadi destabilisasi dan pembentukan
mikroflok disebabkan oleh koagulan.
Adsorpsi koagulan pembantu pada mikroflok penting, supaya
makroflok dapat terbentuk. Hal ini sangat dipengaruhi oleh karakteristik
batas permukaan antara molekul dan hal ini sangat tergantung
pada komposisi air. Sesuai dengan muatan elektrostatik dalam
larutan air,

LABORATORIUM TEKNOLOGI PENGOLAHAN AIR


II-19

Bab II Tinjauan Pustaka


koagulan/flokulan pembantu dikelompokkan menjadi “non ionogen, anion
aktif dan kation aktif “.
Selain itu juga bisa dikelompokkan dari komposisi kimiawi terutama
dari densitas muatan elektrostatik permukaan atas (status modifikasi
ko- polimer, lihat struktur formula a) dan berat molekul (molekular
medium, tinggi dan sangat tinggi).
Pada masa yang lalu, koagulan pembantu berasal dari proses alami
misalnya lumpur dan gel, sekarang ini hanya ada beberapa struktur
dasar monomer untuk koagulan/flokulan pembantu, kelompok/grup yang
paling penting berasal dari polimerisasi akrilamida.

Koagulan/f lokulan pembantu


a. Kopolimer dari akrilamida dan N,N−dimetil amino propilen akrilat
Sifat muatan elektrostatik : Ionik
Sifat : Kopolimer yang linier dan kationik kepadatan muatan
elektrostatik tergantung dari status kopolomerisasi (n/m + n) dan pH,
membentuk jarak yang sensitif terhadap hidrolisa
b. Poli (Natriumakrilat)
Sifat muatan elektrostatik : Anionik
Sifat : Polimer yang paling penting anionik dan segmen linier
dalam kopolimer dengan akril amida dan anionik
c. Poli akrilamida
Sifat muatan elektrostatik : Non
ionogen
Sifat : Molekul yang sangat panjang dan linier yang dikenal
sebagai flokulan pembantu yang ionogen.
Zat polimer itu sangat cocok berdasarkan struktur kimia untuk membantu
dalam proses flokulasi dan untuk mempengaruhi sifat flok.
Pembubuhan Koagulan/flokulan pembantu dilakukan setelah pembubuhan
koagulan.

LABORATORIUM TEKNOLOGI PENGOLAHAN AIR


II-20

Bab II Tinjauan Pustaka


Produk dari lumpur
Produk dari lumpur yang dimaksud adalah semua produk yang
diproduksi dari lumpur alami, dan bersifat sebagai ion.

Zat kimia pendukung


Bahan kimia pendukung lainnya yang dimaksud adalah zat kimia
yang digunakan untuk membantu berlangsungnya proses koagulasi-
flokulasi. Zat inibiasanya ditambahkan sebelum proses koagulasi
dilakukan. Zat ini ditambahkan dan berfungsi :
 Untuk penetapan pH
Penetapan pH yang dimaksud adalah penetapan pH optimum untuk
koagulasi, ditetapkan untuk memenuhi persyaratan pH berada
pada jangkauan yang disyaratkan untuk setiap jenis koagulan yang
digunakan. Zat kimia yang digunakan untuk penetapan pH pada
pengolahan air adalah:
− Untuk menaikan pH, Kapur : CaO, Ca(OH)2
− Soda abu (Sodium bikarbonat) : Na2CO3
− Soda api (Sodium hidroksida) : NaOH
− Untuk menurunkan pH, Asam sulfat : H2SO4, CO2
 Sebagai zat pemberat (Weighing agent)
Biasa digunakan pada pengolahan air dimana kekeruhan air relatip
rendah juga pada pengolahan air berwarna. Zat ini ditambahkan
untuk meningkatkan efisiensi proses koagulasi – flokulasi. Dengan
adanya partikel-partikel suspensi yang ditambahkan, akan terjadi
tumbukan antar partikel, sehingga terjadi aglomerasi antar partikel.
Disamping tumbukan antar partikel zat ini juga dapat meningkatkan
daya adsorpsi partikel/flok terdestabilisasi.
Zat pemberat (weighing agent) digunakan untuk menambah partikel
– partikel untuk tumbukan pada pembentukan/pertumbuhan flok
(membantu proses flokulasi). Zat ini biasanya digunakan untuk
mengolah air berwarna alami, karena sifat air yang relatif jernih, jadi
dengan kata lain zat ini ditambahkan untuk menaikkan kekeruhan
air. Flok yang

LABORATORIUM TEKNOLOGI PENGOLAHAN AIR


II-21

Bab II Tinjauan Pustaka


diproduksi dari air berwarna tinggi dengan menggunakan koagulan
garam besi atau alumunium, ternyata terlalu ringan untuk siap
diendapkan. Penambahan zat pemberat, yang mempunyai specific
gravity (berat jenis) relatif besar, menghasilkan aksi pemberatan, dan
flok mengendap dengan cepat.
Bahan/zat pemberat yang biasa digunakan adalah :
− Tanah liat (clay), pada prakteknya, diketahui bahwa banyaknya
tanah liat antara 10 – 50 mg/l dapat menghasilkan flok yang baik
dan cepat mengendap, berpengaruh pada perbaikan penghilangan
warna, dan memperbesar jangkauan pH yang diinginkan untuk
koagulasi. Dosis yang tepat yang diberikan pada air harus
ditentukan dengan ujicoba yang tepat (jar test).
− Lumpur/tanah, biasanya digunakan lumpur sungai, atau tanah dari
pinggir sungai dimana air baku diambil (sungai sebagai sumber air
baku).
− Bentonit sering digunakan dalam pengolahan air yang mengandung
warna tinggi dan kekeruhan rendah.
− Karbon aktif, selain sebagai adsorben juga bertindak sebagai
zat pemberat, jadi pemakaian karbon aktif bubuk mempunyai dua
fungsi, yaitu penyerap warna dan sebagai pemberat. Karbon aktif
disamping sebagai adsorben juga dapat dianggap sebagai zat
pemberat. Zat ini digunakan pada pengolahanair
berwarna disamping untuk
mengadsorpsi warna juga dapat menambah partikel-partikel
suspensi untuk tumbukan antar partikel.
 Sebagai Oksidan
Dalam hal ini oksidan diperlukan pada air baku sebelum diolah
dengan tujuan mengoksidasi senyawa-senyawa yang
mengganggu kelangsungan proses koagulasi – flokulasi,
seperti zat organik (senyawa pembentuk warna alami/zat humus), besi
dan mangan terlarut dan lain- lain. Senyawa-senyawa tersebut harus
dikonversikan menjadi bentuk yang tidak mengganggu terhadap
koagulasi/flokulasi.

LABORATORIUM TEKNOLOGI PENGOLAHAN AIR


II-22

Bab II Tinjauan Pustaka


Zat sebagai Oksidator yang biasa digunakan pada pengolahan
air adalah:
− Klor/senyawa klor, untuk mengoksidasi besi, mangan, zat organik,
tetapi dalam kasus zat organik alami pemakaian klor/senyawa klor
harus dibatasi dengan pertimbangan pada pembentukan THMs
(Tri halo metan) yang bersifat karsinogenik.
− Ozon (O3), digunakan untuk kasus yang sama dengan penggunaan
klor/senyawa klor, hanya pemakaian O3 relatif aman bila dibandingkan
dengan pemakaian klor/senyawa klor.
 Sebagai adsorben (penyerap)
Karbon aktif zat yang paling banyak digunakan sebagai adsorben,
terutama dalam kasus penghilangan zat organik yang terkandung
dalam air baku, dimana zat organik ini akan mengganggu proses
koagulasi, karena dapat mengurangi efisiensi kerja
koagulan. Zat ini biasa ditambahkan pada
air baku sebelum proses koagulasi dengan waktu kontak yang cukup
antara air dengan karbon aktip.
Disamping sebagai penghilang zat organik, karbon aktif juga dapat
menghilangkan warna dengan cara adsorpsi. Disamping karbon aktif,
zat lain sebagai adsorben seperti yang tergolong sebagai zat pemberat.
 Elektrolit
Jika ada koloid dengan muatan permukaan yang sama dan zat
suspensi ditambah dengan elektrolit (anion atau kation) dari garam
yang terdisosiasi/terurai (larutan koagulan), kemungkinan
akan terjadi akselerasi masing-masing partikel.
Efek itu disebut “indeferen” (tidak spesifik), karena elektrolit
hanya menyediakan ion dengan muatan yang berlawanan atau ion
dengan muatan yang sama. Jika ada ion dengan muatan yang
berlawanan, akan mengakibatkan terjadi gaya tolak menolak antar
partikel (double layer compression).
Elektrolit dengan muatan berlawanan ditambahkan ke dalam
suspensi, dapat berpengaruh langsung terhadap muatan dibatas

LABORATORIUM TEKNOLOGI PENGOLAHAN AIR


II-23

Bab II Tinjauan Pustaka

kelompok partikel, jika terjadi adsorpsi partikel langsung di


permukaan, akan terjadi penurunan muatan listrik atau netralisasi
muatan listrik. Jika hal ini terjadi, disebut sebagai ion bermuatan
berlawanan yang ditentukan oleh potensial muatannya dan koagulasi
dengan mekanisme tersebut, disebut “koagulasi adsorpsi”.
http://id. wordpress.com/tag/kimi/

LABORATORIUM TEKNOLOGI PENGOLAHAN AIR


II-24

Bab II Tinjauan Pustaka

LABORATORIUM TEKNOLOGI PENGOLAHAN AIR