Anda di halaman 1dari 10

Perjuangkan Impian

Oleh : Faizal Syahrul Fahrudi

Hari ini, aku harus berbicara dengan orang tuaku. Tidak bisa kutunda-tunda lagi
masalah ini. Lagi pula tekadku sudah bulat. Pokoknya, setuju atau tidak setuju, aku tetap
ingin kuliah di Jepang. Itu sudah menjadi impianku sejak kecil. Nilai ujianku juga
memenuhi untuk mendapatkan beasiswa itu. Keterampilanku mengenai Jepang juga cukup
bagus. Sekarang saja aku sudah hafal 1200 huruf kanji. Dan kurasa, itu sudah cukup
meyakinkan mereka.
Sambil membawa lembaran formulir pendaftaran beasiswa Monbusho, aku
menemui ayahku yang sedang bersantai di ruang tamu. ”Yah, aku sudah membuat
keputusan tentang kuliahku.”
”Oh, kalau begitu kamu ingin masuk universitas mana?”
”Aku ingin kuliah di Jepang.”
”Kuliah di Jepang? Aku tidak setuju.”
”Lho. Kok tidak setuju?”
”Kamu itu masih belum cukup dewasa untuk hidup sendiri. Apalagi di luar negeri.”
”Tapi, itu kan mimpiku sejak dulu.”
”Lebih baik, kamu cari universitas dalam negeri saja. Seperti UGM atau UI,
kualitasnya kan juga bagus. ”
Tidak puas dengan jawaban ayah, aku langsung kembali ke kamar. Rasanya kecewa
sekali mendengar jawabannya. Aku dianggap seperti anak kecil yang belum bisa hidup
sendiri. Padahal usiaku sudah 18 tahun. KTP, SIM juga sudah punya. Namun aku tetap
berfikir positif. Mungkin sekarang bukan waktu yang tepat untuk membicarakannya. Akan
kucoba lagi kapan-kapan, semoga ayahku setuju.
Kuputuskan pagi ini untuk pergi ke Kedubes Jepang di Jakarta. Aku ingin
mendapatkan informasi lebih mendetail mengenai program beasiswa Monbusho. Namun,
sepertinya rencana ini akan sedikit terhambat. Sepeda motor milikku saja masih dipinjam
kakakku kuliah. Tidak mungkin aku naik angkot. Uang saja aku tidak punya. Kalau minta
uang ke ibu, nanti malah nggak boleh pergi. Benar-benar payah hari ini.
Karena tidak punya pilihan lain, aku menelpon Erik. Kusuruh dia untuk datang ke
rumahku. Beruntung, dia mau menolong. Sambil menunggu kedatangannya, aku
menghampiri ibuku yang sedang sibuk di dapur untuk meminta izin. ”Bu, aku mau jalan-
jalan sebentar dengan temanku. Boleh, kan?”
”Iya, tapi mana temanmu?”
”Sebentar lagi juga datang.”
”Kalau begitu hati-hati ya.”
”Iya, Bu.”
Beberapa saat kemudian, terdengar bunyi klakson kendaraan dari luar. Kulihat dari
balik jendela, ternyata Erik. Bagus, dia sudah datang. Kuhampiri dia, dan tanpa buang
waktu, kami langsung berangakat ke Kedubes Jepang.
Sesampainya, ada cukup banyak orang yang mengantri untuk seleksi dokumen. Ada
seorang perempuan yang sedang berdiri di depan lobby. Mungkin itu salah satu
pegawainya. Akhirnya aku bertanya kepadanya. ”Permisi. Apa anda pegawai disini?”
”Bukan. Saya peserta seleksi dokumen beasiswa Monbusho.”
”Oh, maaf saya salah orang.”
”Nggak apa-apa. Memangnya ada apa ya?”
”Saya sedang mencari informasi tentang program beasiswa ini.”
”Coba tanya sama perempuan di sebelah sana itu,” katanya sambil menunjuk
perempuan berbaju biru.
”Kalau begitu, terima kasih.”
”Sama-sama.”
Kuhampiri perempuan berbaju biru itu. Belum sempat kusapa, dia malah
menyapaku duluan. ”Selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu?”
”Bisakah saya mendapat informasi mendetail mengenai program beasiswa ini?”
Dia pun menjelaskan secara lengkap. Setelah puas dengan informasi yang kudapat, aku
segera berterima kasih dan keluar menghampiri Erik.
”Bagaimana? Sudah dapat informasinya?” Erik bertanya kepadaku.
”Ya. Tapi, batas waktu seleksi dokumen hanya sampai minggu depan.”
”Lalu?”
”Aku harus meyakinkan ayahku agar ia setuju aku kuliah di Jepang.”
”Jadi itu masalahnya. Begini, orang tua ingin anaknya sukses, dan anak juga ingin
meraih apa yang ia impikan, walaupun terkadang orang tua tidak setuju dengan
impian anaknya. Untuk itu, tunjukkan bahwa kamu benar-benar memperjuangkan
impianmu. Dengan begitu, orang tua akan mengetahui bahwa impian itu benar-
benar berarti bagimu.”
”Wah, makasih banyak atas nasehatnya,” jawabku dengan nada menyindir.
”Ya. Tapi jangan dianggap bercanda, itu serius. Ayo cepat naik!”
Dengan segera aku naik ke motornya. Motor itu berjalan begitu cepat dalam
perjalanan. Rumahku yang jaraknya cukup jauh saja ditempuh dalam waktu kurang dari 15
menit.
Sampai di rumahku, Erik memutuskan untuk langsung pulang. Aku pun langsung
masuk rumah. Kulihat, sepatu ayah ada di rak. Berarti ayah hari ini pulang lebih awal.
Namun, aku mengurungkan niatku untuk kembali membahas masalah semalam. Hari ini
aku benar-benar pusing memikirkan cara untuk meyakinkan ayahku. Akhirnya kuputuskan
untuk duduk-duduk di sofa sambil menonton televisi.
Ayah datang menghampiriku sambil membawa secangkir kopi panas. ”Ayah hari ini
kok pulang lebih awal?”
”Ayah sedang cuti. Kalau kamu dari mana tadi?”
”Dari jalan-jalan. Bosan di rumah terus.”
”O, lalu bagaimana dengan keputusanmu? Apa kamu berubah pikiran?”
”Aku sedang tidak ingin membahasnya. Mungkin lain kali.”
”Baiklah.”
Aku beranjak dari situ menuju ke kamar. Lalu, aku bermain game untuk
menghilangkan pusing. Ah, lega juga pikiranku sekarang. Setelah bosan bermain game,
kurebahkan tubuhku di atas kasur. Tiba-tiba ponselku berdering. Sebuah sms masuk dari
Rika. Dia mengajakku untuk bertemu di depan gedung bioskop, tempatku biasa berkumpul
dengan teman-teman yang lain dulu. Karena aku juga bosan di rumah, maka kusanggupi
ajakannya.
Karena jarak gedung bioskop yang tidak begitu jauh, aku memutuskan untuk
berjalan kaki kesana. Siang ini terasa begitu panas, baru berjalan beberapa meter saja aku
sudah keluar keringat. Namun, akhirnya aku bisa sampai walau harus dibasahi keringat.
Kulihat Rika melambaikan tangannya ke arahku. Segera kuhampiri dia. ”Hai, ada apa?”
”Aku hanya ingin mengembalikan komik ini.”
”Ha! Mengembalikan komik? Aku bela-belain kesini sampai mandi keringat, hanya
untuk mengambil komikku kembali?”
”Memangnya kau mau apa?”
”Mmm… Traktir nonton, dong.”
”Iya, deh. Kau ini masih belum berubah, ya.”
”Yah, itulah aku sulit untuk berubah.”
Setelah selesai, kami berpisah untuk pulang ke rumah masing-masing. Sampai di
rumah, aku langsung berbicara dengan ayahku. ”Yah, apa ayah masih tidak setuju dengan
keputusanku?”
”Ayah tetap tidak setuju, Nak. Lebih baik kamu kuliah saja disini, kehidupanmu
lebih terjamin, masa depanmu juga.”
Aku yang sudah bosan mendengar ketidaksetujuan ayah, menjadi emosi dan
berbicara dengan nada membentak. ”Aku sudah bosan mendengar jawaban yang sama!
Pokoknya, jika ayah tidak setuju, aku akan keluar dari rumah ini!”
”Baiklah! Ayah juga sudah bosan denganmu yang sulit diatur! Silakan keluar!”
Mendengar bentakan ayah, aku langsung keluar dari rumah. Kali ini aku benar-
benar serius. Selama ayah belum setuju, aku tidak akan kembali ke rumah. Sementara itu,
aku juga tidak tahu akan pergi kemana. Akhirnya aku menuju ke tempat tinggal Erik.
Walaupun jaraknya jauh, tapi tetap kutempuh dengan jalan kaki.
Di tengah jalan, aku bertemu lagi dengan Rika. Dia sedang membawa koran bekas.
”Hei, untuk apa koran itu, Rik?”
”Ini mau kujual, daripada menumpuk di rumah. Kamu sendiri mau kemana?”
”Aku mau ke rumah Erik. Duluan ya.”
”Iya, deh.”
Tanpa menghiraukannya lagi, kupercepat langkah menuju rumah Erik. Tiba di
depan rumahnya, aku langsung mengetuk pintu. Beberapa saat kemudian, Erik
membukakan pintu itu. Dia pun mempersilakan aku masuk. Lalu, kuceritakan maksud
kedatanganku itu. Beruntungnya, dia orangnya suka menolong teman, sehingga aku
diperbolehkan untuk menginap di rumahnya sampai masalahku ini selesai.
Pagi ini, aku harus membantu Erik membetulkan atap rumahnya yang bocor.
Hitung-hitung sebagai balas budi karena dia telah memberiku tempat menginap. Lagipula
ini juga untuk teman.
Kuambil tangga yang ada di dalam gudang, dan perlatan lainnya yang dibutuhkan.
Sementara yang akan membetulkan atapnya sendiri adalah Erik. Kubawa semua peralatan
itu ke halaman depan rumahnya. Baru saja kuletakkan peralatan itu, Erik malah
memanggilku. ”Hei… Kemari!”
”Ada apa?” jawabku sambil berlari.
”Aku tahu seseorang yang bisa menyelesaikan masalahmu.”
”Siapa?”
”Pokoknya, kau sudah kenal dengan orang itu.”
”Ayolah, terus terang saja.”
”Baik, orang itu ada disebelah sana,” katanya sambil menunjuk seorang perempuan
yang sedang membawa barang bekas.
Aku menatap perempuan itu dengan seksama. Rasanya aku tidak asing dengan
perempuan itu. Tapi, aku masih belum tahu.
”Heh, memang siapa dia?”
”Dia itu Rika.”
Disitu aku kaget, tidak mungkin Rika yang seorang anak direktur menjadi
pengumpul barang bekas. Karena semakin penasaran, aku menghampirinya. Dia tampak
kaget melihat kedatanganku. Aku pun bertanya mengapa dia menjadi pengumpul barang
bekas. Namun, tampaknya dia agak keberatan untuk menjawabnya.
Untuk itu, aku menjelaskan bahwa sebagai seorang teman, aku hanya ingin
mengetahui apa yang dia lakukan. Akhirnya, dia mau menjelaskan tentang keadaannya
sekarang. Dan ternyata, dia menjadi tukang pengumpul sampah, untuk membuktikan
kepada orangtuanya bahwa dia mampu membiayai kebutuhannya sendiri. Setelah
mengetahui hal itu, aku langsung meminta maaf, karena aku pernah memintanya untuk
mentraktirku menonton bioskop. Akhirnya dia mau memaafkanku, dan sebagai gantinya,
aku akan membantunya untuk mengumpulkan barang bekas. Tapi, karena aku masih ada
urusan dengan Erik, maka hal itu akan kulakukan kapan-kapan.
Erik yang dari tadi melihatku berbicara dengan Rika langsung memanggilku. ”Hei!
Sudah belum pacarannya?”
”Maaf, nggak dengar!” balasku sambil menuju ke arahnya.
”Ayo, cepat kita perbaiki atap ini.”
”Oh, baik.”
Rasanya aku merasa bersalah juga kepada ayah. Tidak seharusnya aku sebagai anak
bersikap seperti itu. Namun, aku juga ingin meraih impianku. Jika aku pulang, aku masih
belum memiliki cukup nyali. Apalagi kalau ayah tambah benci kepadaku, pasti urusannya
akan panjang. Tapi, jika aku pulang lalu minta maaf, mungkin ayahku akan memaafkanku,
tapi belum tentu dia menjadi setuju dengan keputusanku. Tak kusangka, masalahnya malah
jadi bertambah.
Tiba-tiba aku teringat Rika, dia berani mengambil resiko menjadi seorang
pengumpul barang bekas, untuk membuktikan pada ayahnya bahwa dia bisa membiayai
kebutuhannya sendiri. Sedangkan aku, masih dianggap seperti anak kecil oleh orangtuaku.
Sampai-sampai aku tidak diperbolehkan untuk meraih impianku ini. Aku ingin sekali
berbuat seperti yang Rika lakukan. Namun, aku masih tidak tahu bagaimana harus berbuat.
Akhirnya, aku membuat sebuah rencana untuk meminta maaf kepada ayah. Ini
merupakan sebuah rencana, karena selain meminta maaf, aku juga ingin agar orangtuaku
mengetahui seberapa besar perjuanganku untuk memperjuangkan impian itu. Bila rencana
ini berjalan dengan baik, maka sudah pasti aku akan tetap melanjutkan usahaku untuk
meraih beasiswa itu. Namun jika gagal, maka aku akan meminta maaf kepada ayah, dan
menuruti apa yang dia katakan.
Siangnya, aku menghampiri Erik yang sedang duduk termenung di depan rumah.
”Hei, aku butuh bantuanmu.”
”Bantuan apa?”
”Tolong sms Rika untuk datang kesini.”
”Wah, ada apa nih? Jangan-jangan…”
”Ah, jangan berfikir yang aneh-aneh. Ini menyangkut masalahku.”
”Iya, iya.”
Beberapa jam kemudian, Rika sampai di depan rumah. Tanpa basa-basi, aku
langsung menepati janjiku untuk membantunya mungumpulkan barang bekas. Erik yang
masih belum mengetahui permasalahannya, hanya garuk-garuk kepala. Tanpa mengeluh
sedikit pun, aku membantunya sampai sore. Dan hasil kerja kami hari ini sungguh
menguntungkan, karena hasilnya bisa tiga kali lipat dari hari biasa. Tentunya ini juga
karena ada aku yang membantu.
Sebelum aku pulang ke rumah Erik, kutitipkan surat yang telah kubuat untuk ayah
kepada Rika. Kujelaskan pula maksudku mengirim surat itu untuk ayah. Rika pun mengerti
dan mau mengantarkan surat ini untuk ayahku. Tak lupa kuucapkan terima kasih karena dia
telah membantuku.
Pikiran ini masih belum tenang. Apalagi perut ini, masih belum kenyang. Di depan
rumah Erik, aku menunggu kedatangan dua teman. Pertama, Erik yang sedang membeli
makanan di warung depan. Dan Rika yang akan membawa kabar tentang surat kemarin.
Kulihat Erik sudah muncul dengan dua bungkus nasi uduknya. Baguslah, perutku yang dari
tadi sudah berbunyi bisa terisi dengan nasi uduk ini. Sembari makan, aku masih menunggu-
nunggu kedatangan Rika.
Tak terasa satu bungkus nasi uduk telah habis. Namun Rika masih belum datang
juga. Namun baru saja kupikirkan, tiba-tiba Rika muncul lewat belakang rumah. ”Hei,
bagaimana surat kemarin?”
”Setelah membaca surat itu, ayahmu memintamu untuk datang menemuinya.”
”Lalu, selain itu apa yang ayah katakan?”
”Tidak ada, dia hanya memintamu untuk datang menemuinya.”
”Oh, kalau begitu, terima kasih, ya. Kau telah membantuku.”
”Sama-sama.”
Surat itu merupakan rencanaku yang sudah kupersiapkan dengan matang. Selain
permohonan maaf, surat itu juga berisi pembuktian bahwa aku telah belajar banyak tentang
Jepang, terutama budaya dan kehidupannya. Sehingga sudah pasti kalau aku tidak main-
main dengan impianku itu. Juga telah kucantumkan informasi mengenai beasiswa
Monbusho agar ayahku juga tahu bahwa aku telah berusaha untuk mendapatkan informasi
itu. Dan, tujuan dari surat itu hanyalah agar ayahku setuju dengan keputusanku dan mau
memaafkanku.
Aku menyanggupi permintaan untuk menemui ayah. Dengan diantar Erik, aku
berangkat menuju rumahku dengan hati penuh tanda tanya. Sementara, Erik hanya bisa
memberi dukungan untukku. Namun, itu sudah bisa membuatku merasa tenang.
Sampai di depan rumah, Erik memarkir sepeda motornya dan menunggu di luar.
Sementara, aku masuk dengan penuh keberanian yang kupaksakan. Sampai di ruang tamu,
aku benar-benar terkejut. Ayahku langsung memelukku. Saat itu juga, aku meminta maaf
kepada ayah dengan penuh rasa tulus. Ayahku juga meminta maaf padaku sembari
menahan air matanya, sehingga kami saling memaafkan satu sama lain.
Ibuku juga terlihat menahan air matanya. Setelah itu, aku disuruh duduk. Dan
ayahku menjelaskan tentang keputusannya. Ia akhirnya setuju dengan keputusanku, namun
ia berpesan kepadaku untuk tetap fokus pada pendidikan. Aku pun menyanggupinya.
Perasaanku seketika berubah menjadi bahagia.
Kemudian, aku pergi ke luar rumah untuk menemui Erik. Kuucapkan banyak terima
kasih padanya, karena dia selalu menolongku saat aku membutuhkan. Namun, sayangnya
tidak ada Rika disini, karena aku masih belum sempat mengucapkan terima kasih yang
sedalam-dalam untuknya. Akhirnya, aku hanya menitip salam untuk Rika lewat Erik.
Karena hari sudah mulai siang, Erik memutuskan untuk segera pulang.
Tiba-tiba ayah menghampiriku yang sedang berdiri di depan rumah.
”Ayah bangga kamu punya impian yang tinggi. Dan perjuangkanlah impianmu itu.
Teruslah perjuangkan, sampai kamu benar-benar telah mendapatkannya.”
”Baik, Yah.”
Hari ini juga, ayahku membantuku untuk mengurus dokumen-dokumen yang akan
dibawa untuk seleksi dokumen di Kedubes Jepang. Banyak sekali dokumen yang harus
diurus, namun ayah tetap membantuku mengurusnya dengan sabar dan tulus.

***
1. Saya akan bercerita tentang seseorang yang harus gigih memperjuangkan impian.
2. Kira-kira ringkasan ceritanya begini :
Aku yang memiliki impian untuk kuliah di Jepang, harus dihadapkan pada
kenyataan bahwa ayahnku tidak setuju kalau aku harus kuliah di Jepang. Sampai-
sampai aku diusir dari rumah karena membentak ayahku yang tetap tidak setuju
pada impianku. Namun, ketika aku mengenal sosok Rika dan Erik, pandanganku
terhadap sosok ayah mulai berubah. Aku memberanikan diri untuk meminta maaf
atas kesalahanku kepada ayah, dan ayahku akhirnya memaafkanku. Dia juga telah
sadar bahwa aku benar-benar telah memperjuangkan impianku, sehingga dia
menyetujui impianku untuk kuliah di Jepang.
3. Tokohnya saya rancang begini :
• Aku : seorang yang gigih memperjuangkan impiannya. Tidak mudah
menyerah, dan suka menolong teman.
• Ayah : seorang ayah yang tidak setuju terhadap impian anaknya. Namun
pada akhirnya, ayah setuju terhadap impian anaknya.
• Ibu : seorang yang penyabar.
• Erik : suka menolong teman, penyabar.
• Rika : pekerja keras, mandiri, tidak menyusahkan orang tua.
4. Setting :
• Kota : Jakarta
• Waktu :
o Tahun 2010
o Pagi hari
o Siang hari
o Sore hari
o Malam hari
• Tempat :
o Kedubes Jepang
o Rumahku
o Rumah Erik
o Gedung Bioskop

Oleh : Faizal Syahrul Fahrudi

Nama : Faizal Syahrul Fahrudi


Kelas : X-6
No. Absen : 13