Anda di halaman 1dari 42

Elemen Mesin II

Bantalan (Bearing)

Nama : Rifki ilyandi


Nim : 0807132800

Program Studi Teknik Mesin S1


Universitas Riau
Bantalan (Bearing)
 Pendahuluan
Bantalan (Bearing) merupakan salah satu
bagian dari elemen mesin yang memegang
peranan cukup penting karena fungsi dari
bantalan yaitu untuk menumpu sebuah poros
agar poros dapat berputar tanpa mengalami
gesekan yang berlebihan. Bantalan harus cukup
kuat untuk memungkinkan poros serta elemen
mesin lainnya bekerja dengan baik.
Bantalan diklasifikasikan menjadi
2 bagian yaitu :

1. Berdasarkan gerakan bantalan terhadap poros.


a. Bantalan Luncur

Pada bantalan luncur ini terjadi gesekan


luncur antara poros dan bantalan karena
permukaan poros ditumpu oleh permukaan
bantalan dengan perantara lapisan pelumas.
b. Bantalan Gelinding

Pada bantalan ini terjadi gesekan gelinding


antara bagian yang berputar dengan bagian
yang diam melalui elemen gelinding seperti
bola, rol jarum, dan rol bulat.
2. Berdasarkan arah beban terhadap poros
a. Bantalan Radial (beban putar)
Arah beban yang ditumpu bantalan ini adalah tegak
lurus sumbu poros.
b. Bantalan Aksial (beban takan)
Arah beban bantalan ini adalah sejajar dengan
sumbu poros.
Keuntungan dan kekurangan bantalan gelinding
dibandingkan bantalan luncur.

• Keuntungan
a. Gesekan kerja lebih kecil sehingga
penimbulan panas lebih kecil pada
pembebanan yang sama.
b. Gesekan mula jauh lebih kecil.
c. Jumlah bahan untuk pelumasan jauh lebih
sedikit.
• Kekurangan
a. Lebih berisik pada kecepatan yang sangat
tinggi.
b. Biaya awal yang lebih tinggi.
c. Desain yang lebih rumit.
Tipe bantalan gelinding dan penerapannya.
1. Single row groove ball bearings
Disamping dapat menahan beban
radial, jenis ini juga dapat menahan beban
aksial dalam dua arah. Karena konstruksinya
juga, jenis ini dapat menahan beban torsi.
Jenis ini juga digunakan untuk mengganti
dua buah bearing jika ruangan yang tersidia
tidak mencukupi.

Bearing ini mempunyai dua


baris elemen roller yang pada
umumnya mempunyai alur
berbentuk bola pada cincin
luarnya. Jenis ini memiliki
kapasitas beban radial yang besar
sehingga ideal untuk menahan
beban kejut
Jenis ini mempunyai dua alur pada satu
cincin yang biasanya terpisah. Efek dari
pemisahan ini, cincin dapat bergerak aksial
dengan mengikuti cincin yang lain. Hal ini
merupakan suatu keuntungan, karena apabila
bearing harus mengalami perubahan bentuk
karena temperatur, maka cincinnya akan dengan
mudah menyesuaikan posisinya. Jenis ini
mempunyai kapasitas beban radial yang besar
pula dan juga cocok untuk kecepatan tinggi.

Dilihat dari konstruksinya, jenis ini ideal


untuk beban aksial maupun radial. Jenis ini
dapat dipisah, dimana cincin dalamnya
dipasang bersama dengan rollernya dan
cincin luarnya terpisaj
Jenis ini sama seperti point 8, hanya
saja bearing jenis ini dapat diberi beban
aksial dalam dua arah.
Tipe bantalan luncur dan penerapannya

1. Bantalan luncur silinder penuh, digunakan untuk poros-


poros yang ukuran kecil berputar lambat dan beban ringan.
2. Bantalan luncur silinder memegas, digunakan pada poros-
poros mesin bubut, mesin frais dan mesin perkakas lainnya.
3. Bantalan luncur blah, digunakan pada poros-poros ukuran
sedang dan besar seperti bantalan pada poros engkol,
bantalan poros pada roda kendaraan dan lain-lain.
4. Bantalan inside, digunakan untuk poros dengan beban yang
sering berubah, misalkan bantalan poros engkol dari poros-
poros presisi.
5. Bantalan luncur sebagian, digunakan untuk poros yang
berputar lambat, beban berat tetapi tidak berubah-ubah.
Misalkan bantalan pada mesin-mesin perkakas kepala
cekam.
6. Bantalan bukan logam, digunakan untuk leher-leher poros
yang memerlukan pendingin zat cair dan tidak mendapat
beban berat. Pada lapisan juga berfungsi sebagai pelumas,
bahan lapisan yang digunakan yaitu karet, plastik dan ebonit.

7. Bantalan luncur tranlasi, digunakan untuk blok-blok luncur


gerak lurus, seperti blok luncur pada batang torak mesin uap
dan blok luncur pada mesin produksi.
Desain Jurnal Bearing
Istilah pada Journal Bearing
• O = pusat journal
• O′ = pusat bearing.
• R = radius bearing,
‘ • r = radius journal,
• and
• l = panjang bearing.

Diametral clearance. Selisih antara diameter bearing dengan


diameter journal
c=D–d
• Radial clearance. Selisih antara radius bearing
dengan radius journal

• Diametral clearance ratio. Rasio antara diametral


clearance dengan diameter journal
• Koefisien gesek dalam desain bearing mempunyai
peranan penting, karena berkaitan dengan
banyaknya daya yang hilang atau berubah menjadi
gaya gesek.
• Menurut hasil percobaan, koefisien gesek untuk full
lubricated journal bearing adalah fungsi dari 3
variabel
• Koefisien gesek dinyatakan dengan

• dimana
ZN/p disebut bearing characteristic number,
yang nilainya bervariasi. Variasi koefisien gesek
terhadap operasi bernilai ZN/p tampak pada gambar
berikut.
Bagian kurva PQ menggambarkan wilayah
dari lapisan cair pelumasan. Antara Q dan R,
viskositas (Z) atau kecepatan (N) adalah rendah,
atau tekanan (p) adalah besar dimana kombinasi
ZN/p akan mengurangi ketebalan lapisan
menjadikan bagian logam menyentuh logam
kontak. Batas pelumas atau ketidaksempurnaan
Pelumasan muncul antara R dan S pada kurva.
• K = bearing modulus
• Bearing tidak boleh beroperasi pada nikai K ini,
karena peningkatan N atau p akan memecah film
sehingga terjadi metal to metal contact.
• Akibatnya terjadi high friction, wear dan heating.
• Untuk mencegah hal di atas, maka desain yang tepat
biasanya ZN/p min = 3K dan untuk beban fluktuatif,
bisa mencapai 15K
Koefisien Gesek Journal Bearing
• Nilai koefisien gesek ditemukan dengan metode empiris oleh
McKee

Dimana
• N = Speed of the journal in rpm,
• p = Bearing pressure on the projected bearing area in
(N/mm2) = Load on the journal ÷ l × d
• d = Diameter of the journal,
• c = Diametral clearance.
• k = faktor koreksi untuk kebocoran lubricant.
– Nilainya tergantung rasio length to the diameter of the bearing (i.e. l /
d).
– k = 0.002 for l / d ratio of 0.75 to 2.8

• Berikut adalah patokan design value dari journal bearing


• Critical Pressure of Journal Bearing
• Adalah tekanan minimum agar film tidak pecah dan tidak
terjadi metal to metal contact

• Panas yang ditimbulkan Journal Bearing

• Dimana μ = Coefficient of friction,


W = Load on the bearing in N = p(l x d)
V = rubbing velocity of bearing (m/s) =
• Panas yang dibuang ke lingkungan (heat dissipated
by bearing) adalah

• Harga C
• Selisih temperatur bearing (tb) dan udara (ta) adalah setengah
dari temperatur film (t0) - temperatur udara (ta).

• Temperatur desain bearing umumnya 60oC


• Sedangkan panas yang mampu dibuang lubricant adalah

m
Prosedur Desain Journal Bearing
Prosedur ini berlaku jika beban, diameter poros dan putaran
poros diketahui
1. Menentukan panjang bearing dari tabel jenis machinery 
l/d
2. Memeriksa bearing pressure dari tabel yang sama, p = W/(l x
d)
3. Asumsi jenis pelumas dari tabel SAE dan operating
temperature (26.5°C - 60°C) dengan max temp 82°C untuk
high temp installation
4. Menentukan ZN/p dan diperiksa dengan tabel machinery
5. Menentukan c/d (tabel machinery)
6. Menentukan koefisien gesek
7. Menentukan panas yang dihasilkan
8. Menentukan panas yang dibuang
9. Menentukan thermal equilibrium untuk menjamin panas
yang dihasilkan sama dengan panas yang dibuang
• Jika panas yang dihasilkan > yang dibuang, dihitung ulang
atau diberi pendingin (cooler)
Contoh
• Desainlah sebuah journal bearing untuk centrifugal
pump dengan data berikut :
– Diameter journal = 100 mm
– Load on the journal = 20 000 N
– Speed of the journal = 900 r.p.m.
– Jenis oil SAE 10, absolute viscosity pada 55°C = 0.017 kg /
m-s; Ambient temperature of oil = 15.5°C
– Max bearing pressure untuk pump = 1.5 N / mm2.
• Hitung juga massa lubricating oil untuk artificial
cooling, jika kenaikan temperatur oil dibatasi 10°C.
– Heat dissipation coefficient = 1232 W/m2/°C.
Jawab
• W = 20 000 N ; N = 900 r.p.m. ; t0 = 55°C ; Z = 0.017 kg/m-s ;
ta = 15.5°C ; p = 1.5 N/mm2 ; t = 10°C ; C = 1232 W/m2/°C
1. Panjang journal (l), dari tabel machinery -> centrifugal
pump, l/d = 1 s/d 2. Misalnya diambil 1,6
• Maka l = 1,6 x 100 mm = 160 mm
2. Bearing pressure
• Karena tekanan kerja = 1,25 -> lebih kecil dari 1,5 (tekanan
maks), maka desain aman. Sehingga nilai l dan d dianggap
fix
3. Dari tabel machinery, nilai ZN/p untuk centrifugal pump =
28
maka

Karena nilai ZN/p > K, maka bearing bekerja pada kondisi


hidrodinamik
4. Clearance ratio (tabel machinery) c/d = 0,0013
5. Koefisien gesek

6. Panas yang dihasilkan


7. Panas yang dibuang

• Karena panas yang dibuang < panas yang dihasilkan, maka


temperatur desain harus dinaikkan (Z berubah) atau
menggunakan pendingin luar
• Jumlah (massa) lubricating oil -> m
• Panas yang mampu diserap :

• Qt harus sama dengan selisih panas yang tidak tercover


DAFTAR PUSTAKA
- file.upi.edu
- wahyukurniawan,.web.id
- wikipedia