P. 1
DAFTAR PERATURAN PENERBANGAN DI INDONESIA, 2011

DAFTAR PERATURAN PENERBANGAN DI INDONESIA, 2011

4.0

|Views: 1,981|Likes:
Dipublikasikan oleh MEDIA DATA RISET, PT
Pemerintah dan operator Bandar udara (bandara) diminta lebih menyiapkan prasarana untuk mendukung operasional maskapai, menyusul meningkatnya jumlah penumpang. Bandara Soekarno-Hatta misalnya, pada 2016 akan memiliki kapasitas tampung penumpang sebanyak 65 juta orang per tahun. Saat ini, pelabuhan udara tersibuk di Indonesia itu memiliki kapasitas tampung di terminal hanya 22 juta penumpang. Padahal, arus penumpang pada 2010 mencapai 37,14 juta orang. Kawasan Soekarno-Hatta sudah tidak punya lahan, pengembangan sudah tidak bisa dilakukan lagi pada 2016.
Belakangan, bisnis industri penerbangan mengalami pertumbuhan cukup pesat. Pada 2009, angkutan udara telah mengangkut 43,8 juta penumpang dengan load factor (tingkat isian penumpang) 82%. Jumlah yang dilayani oleh angkutan udara mencapai 686 sektor terdiri dari 319 dilayani pesawat bermesin jet, dan 367 sektor dilayani pesawat bermesin propeler. Sementara sekitar 80%, pangsa dikuasai oleh perusahaan penerbangan swasta. Industri ini seolah-olah telah mematahkan mitos, swasta sangat sulit masuk dalam bisnis angkutan udara yang padat modal dan padat teknologi.
Minat swasta masuk dalam proyek bandara masih rendah. Pemerintah diminta untuk mencari lokasi pembangunan bandara yang strategis dan menawarkan terlebih dahulu pada swasta untuk proyek yang lokasinya punya potensi strategis dan menguntungkan. Selain itu, Pemerintah diimbau memberikan kemudahan dan insentif khusus pada swasta yang berminat dalam proyek tersebut. Jika hal itu dilakukan, akan banyak pengusaha yang berminat. Tahun ini, Kementerian Perhubungan, menawarkan tujuh proyek pembangunan bandara lokal yang dibiayai dengan sistem sharing. Ke-7 proyek itu, Bandara Tjilik Riwut Palangkaraya senilai Rp113,23 miliar, Kertajati Majalengka Rp21,63 triliun, Karimun Jaya Rp88 miliar, Bali Baru Rp5,1 triliun, Singkawang Kalimantan Selatan Rp420 miliar, Bandara Banten Selatan Rp850 miliar, dan Bandara Samarinda Baru Rp995 miliar. Rencananya, bandara itu akan dibangun dalam tiga tahap, tahap pertama rampung tahun ini senilai Rp10,69 triliun, tahap kedua pada 2018 senilai Rp5,53 triliun, dan pada 2028 dengan nilai Rp5,48 triliun.
Menurut ketentuan UU Penerbangan, sebanyak lima dari 10 pesawat harus dimiliki sendiri, sedangkan sisanya boleh menyewa. Ketentuan itu harus terpenuhi paling lambat pada 12 Januari 2012. Sejumlah airline (maskapai) berjadwal akan kesulitan memenuhi ketentuan mengoperasikan minimal 10 unit pesawat. Menurut Sekjen INACA, sulitnya maskapai membeli atau menyewa pesawat karena keterbatasan armada di tengah sulitnya mencari pinjaman dari lembaga pembiayaan. Jika aturan tersebut tetap diberlakukan, solusi bagi maskapai berjadwal adalah melakukan merger. Pengadaan pesawat membutuhkan dana yang cukup besar. Sebagai ilustrasi, harga pesawat baru seri Boeing 737 paling murah adalah Boeing 737-600 dengan harga terendah US$51,5 juta. Artinya, untuk membeli lima unit Boeing 737-600 dibutuhkan dana US$257,5 juta.
Menurut Kasubdit Angkutan Udara Berjadwal Kementerian Perhubungan, implementasi mengoperasikan 10 unit pesawat sudah tidak bisa ditunda lagi. Ketentuan merger dengan pihak asing, pemegang saham lokal harus memiliki 51% saham tunggal atau single majority. Sedangkan dengan maskapai nasional, sahamnya tidak diatur.
Menurut catatan, dari 16 maskapai berjadwal hanya tujuh yang saat ini sudah mampu memenuhi ketentuan jumlah pesawat, yaitu Garuda Indonesia, Merpati Nusantara, Lion Air, Batavia Air, Wings Air, Sriwijaya Air, dan Indonesai Air Transport. Sejumlah maskapai akan kesulitan memenuhi ketentuan pengoperasian minimal 10 unit pesawat. Tidak mudah bagi beberapa maskapai untuk pengadaan pesawat, akibat ketersediaan pesawat dan pembiayaan.
Di dalam daftar peraturan ini, dimuat berbagai peraturan yang berkaitan dengan bisnis penerbangan yang meliputi Undang-Undang tentang Penerbangan, Peraturan Menteri Perhubungan No. KM 8 Tahun 2010 tentang Program Keselamatan Penerbangan Nasional, Peraturan Direktur Jenderal Angkut
Pemerintah dan operator Bandar udara (bandara) diminta lebih menyiapkan prasarana untuk mendukung operasional maskapai, menyusul meningkatnya jumlah penumpang. Bandara Soekarno-Hatta misalnya, pada 2016 akan memiliki kapasitas tampung penumpang sebanyak 65 juta orang per tahun. Saat ini, pelabuhan udara tersibuk di Indonesia itu memiliki kapasitas tampung di terminal hanya 22 juta penumpang. Padahal, arus penumpang pada 2010 mencapai 37,14 juta orang. Kawasan Soekarno-Hatta sudah tidak punya lahan, pengembangan sudah tidak bisa dilakukan lagi pada 2016.
Belakangan, bisnis industri penerbangan mengalami pertumbuhan cukup pesat. Pada 2009, angkutan udara telah mengangkut 43,8 juta penumpang dengan load factor (tingkat isian penumpang) 82%. Jumlah yang dilayani oleh angkutan udara mencapai 686 sektor terdiri dari 319 dilayani pesawat bermesin jet, dan 367 sektor dilayani pesawat bermesin propeler. Sementara sekitar 80%, pangsa dikuasai oleh perusahaan penerbangan swasta. Industri ini seolah-olah telah mematahkan mitos, swasta sangat sulit masuk dalam bisnis angkutan udara yang padat modal dan padat teknologi.
Minat swasta masuk dalam proyek bandara masih rendah. Pemerintah diminta untuk mencari lokasi pembangunan bandara yang strategis dan menawarkan terlebih dahulu pada swasta untuk proyek yang lokasinya punya potensi strategis dan menguntungkan. Selain itu, Pemerintah diimbau memberikan kemudahan dan insentif khusus pada swasta yang berminat dalam proyek tersebut. Jika hal itu dilakukan, akan banyak pengusaha yang berminat. Tahun ini, Kementerian Perhubungan, menawarkan tujuh proyek pembangunan bandara lokal yang dibiayai dengan sistem sharing. Ke-7 proyek itu, Bandara Tjilik Riwut Palangkaraya senilai Rp113,23 miliar, Kertajati Majalengka Rp21,63 triliun, Karimun Jaya Rp88 miliar, Bali Baru Rp5,1 triliun, Singkawang Kalimantan Selatan Rp420 miliar, Bandara Banten Selatan Rp850 miliar, dan Bandara Samarinda Baru Rp995 miliar. Rencananya, bandara itu akan dibangun dalam tiga tahap, tahap pertama rampung tahun ini senilai Rp10,69 triliun, tahap kedua pada 2018 senilai Rp5,53 triliun, dan pada 2028 dengan nilai Rp5,48 triliun.
Menurut ketentuan UU Penerbangan, sebanyak lima dari 10 pesawat harus dimiliki sendiri, sedangkan sisanya boleh menyewa. Ketentuan itu harus terpenuhi paling lambat pada 12 Januari 2012. Sejumlah airline (maskapai) berjadwal akan kesulitan memenuhi ketentuan mengoperasikan minimal 10 unit pesawat. Menurut Sekjen INACA, sulitnya maskapai membeli atau menyewa pesawat karena keterbatasan armada di tengah sulitnya mencari pinjaman dari lembaga pembiayaan. Jika aturan tersebut tetap diberlakukan, solusi bagi maskapai berjadwal adalah melakukan merger. Pengadaan pesawat membutuhkan dana yang cukup besar. Sebagai ilustrasi, harga pesawat baru seri Boeing 737 paling murah adalah Boeing 737-600 dengan harga terendah US$51,5 juta. Artinya, untuk membeli lima unit Boeing 737-600 dibutuhkan dana US$257,5 juta.
Menurut Kasubdit Angkutan Udara Berjadwal Kementerian Perhubungan, implementasi mengoperasikan 10 unit pesawat sudah tidak bisa ditunda lagi. Ketentuan merger dengan pihak asing, pemegang saham lokal harus memiliki 51% saham tunggal atau single majority. Sedangkan dengan maskapai nasional, sahamnya tidak diatur.
Menurut catatan, dari 16 maskapai berjadwal hanya tujuh yang saat ini sudah mampu memenuhi ketentuan jumlah pesawat, yaitu Garuda Indonesia, Merpati Nusantara, Lion Air, Batavia Air, Wings Air, Sriwijaya Air, dan Indonesai Air Transport. Sejumlah maskapai akan kesulitan memenuhi ketentuan pengoperasian minimal 10 unit pesawat. Tidak mudah bagi beberapa maskapai untuk pengadaan pesawat, akibat ketersediaan pesawat dan pembiayaan.
Di dalam daftar peraturan ini, dimuat berbagai peraturan yang berkaitan dengan bisnis penerbangan yang meliputi Undang-Undang tentang Penerbangan, Peraturan Menteri Perhubungan No. KM 8 Tahun 2010 tentang Program Keselamatan Penerbangan Nasional, Peraturan Direktur Jenderal Angkut

More info:

Published by: MEDIA DATA RISET, PT on Mar 30, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/01/2014

pdf

text

original

PENAWARAN

DAFTAR PERATURAN PENERBANGAN DI INDONESIA, 2011
April, 2011

Pemerintah dan operator Bandar udara (bandara) diminta lebih menyiapkan prasarana untuk mendukung operasional maskapai, menyusul meningkatnya jumlah penumpang. Bandara Soekarno-Hatta misalnya, pada 2016 akan memiliki kapasitas tampung penumpang sebanyak 65 juta orang per tahun. Saat ini, pelabuhan udara tersibuk di Indonesia itu memiliki kapasitas tampung di terminal hanya 22 juta penumpang. Padahal, arus penumpang pada 2010 mencapai 37,14 juta orang. Kawasan Soekarno-Hatta sudah tidak punya lahan, pengembangan sudah tidak bisa dilakukan lagi pada 2016. Belakangan, bisnis industri penerbangan mengalami pertumbuhan cukup pesat. Pada 2009, angkutan udara telah mengangkut 43,8 juta penumpang dengan load factor (tingkat isian penumpang) 82%. Jumlah yang dilayani oleh angkutan udara mencapai 686 sektor terdiri dari 319 dilayani pesawat bermesin jet, dan 367 sektor dilayani pesawat bermesin propeler. Sementara sekitar 80%, pangsa dikuasai oleh perusahaan penerbangan swasta. Industri ini seolah-olah telah mematahkan mitos, swasta sangat sulit masuk dalam bisnis angkutan udara yang padat modal dan padat teknologi. Minat swasta masuk dalam proyek bandara masih rendah. Pemerintah diminta untuk mencari lokasi pembangunan bandara yang strategis dan menawarkan terlebih dahulu pada swasta untuk proyek yang lokasinya punya potensi strategis dan menguntungkan. Selain itu, Pemerintah diimbau memberikan kemudahan dan insentif khusus pada swasta yang berminat dalam proyek tersebut. Jika hal itu dilakukan, akan banyak pengusaha yang berminat. Tahun ini, Kementerian Perhubungan, menawarkan tujuh proyek pembangunan bandara lokal yang dibiayai dengan sistem sharing. Ke-7 proyek itu, Bandara Tjilik Riwut Palangkaraya senilai Rp113,23 miliar, Kertajati Majalengka Rp21,63 triliun, Karimun Jaya Rp88 miliar, Bali Baru Rp5,1 triliun, Singkawang Kalimantan Selatan Rp420 miliar, Bandara Banten Selatan Rp850 miliar, dan Bandara Samarinda Baru Rp995 miliar. Rencananya, bandara itu akan dibangun dalam tiga tahap, tahap pertama rampung tahun ini senilai Rp10,69 triliun, tahap kedua pada 2018 senilai Rp5,53 triliun, dan pada 2028 dengan nilai Rp5,48 triliun. Menurut ketentuan UU Penerbangan, sebanyak lima dari 10 pesawat harus dimiliki sendiri, sedangkan sisanya boleh menyewa. Ketentuan itu harus terpenuhi paling lambat pada 12 Januari 2012. Sejumlah airline (maskapai) berjadwal akan kesulitan memenuhi ketentuan mengoperasikan minimal 10 unit pesawat. Menurut Sekjen INACA, sulitnya maskapai membeli atau menyewa pesawat karena keterbatasan armada di tengah sulitnya mencari pinjaman dari lembaga pembiayaan. Jika aturan tersebut tetap diberlakukan, solusi bagi maskapai berjadwal adalah melakukan merger. Pengadaan pesawat membutuhkan dana yang cukup besar. Sebagai ilustrasi, harga pesawat baru seri Boeing 737 paling murah adalah Boeing 737-600 dengan harga terendah US$51,5 juta. Artinya, untuk membeli lima unit Boeing 737-600 dibutuhkan dana US$257,5 juta. Menurut Kasubdit Angkutan Udara Berjadwal Kementerian Perhubungan, implementasi mengoperasikan 10 unit pesawat sudah tidak bisa ditunda lagi. Ketentuan merger dengan pihak asing, pemegang saham lokal harus memiliki 51% saham tunggal atau single majority. Sedangkan dengan maskapai nasional, sahamnya tidak diatur.
1

Menurut catatan, dari 16 maskapai berjadwal hanya tujuh yang saat ini sudah mampu memenuhi ketentuan jumlah pesawat, yaitu Garuda Indonesia, Merpati Nusantara, Lion Air, Batavia Air, Wings Air, Sriwijaya Air, dan Indonesai Air Transport. Sejumlah maskapai akan kesulitan memenuhi ketentuan pengoperasian minimal 10 unit pesawat. Tidak mudah bagi beberapa maskapai untuk pengadaan pesawat, akibat ketersediaan pesawat dan pembiayaan. Di dalam daftar peraturan ini, dimuat berbagai peraturan yang berkaitan dengan bisnis penerbangan yang meliputi Undang-Undang tentang Penerbangan, Peraturan Menteri Perhubungan No. KM 8 Tahun 2010 tentang Program Keselamatan Penerbangan Nasional, Peraturan Direktur Jenderal Angkutan Udara No. SKEP/124/VI/2009 tentang Pedoman Pelaksanaan Bandar Udara Ramah Lingkungan (Eco Airport), dan kebijakan-kebijakan lainnya di sektor penerbangan. Kami berharap, Daftar Peraturan ini akan bermanfaat bagi kalangan bisnis terutama para pengambil keputusan di sektor penerbangan, serta bagi kalangan bisnis yang terkait secara langsung maupun tidak langsung dengan industri penerbangan seperti sektor perbankan, jasa asuransi dan kontraktor. Selain itu, Daftar Peraturan ini juga bermanfaat bagi para investor atau calon investor yang akan menjalin kerjasama dengan perusahaan yang aktif di bisnis penerbangan di Indonesia. Daftar Peraturan setebal seribu halaman lebih yang memuat sekitar 41 peraturan pemerintah terkait dengan bisnis penerbangan di Indonesia ini, kami tawarkan dengan harga Rp 5.000.000 (Lima Juta Rupiah) per 2 jilid. Untuk pemesanan dan informasi dapat menghubungi PT Media Data Riset melalui telepon (021) 809 6071, 809 3140 dan fax (021) 809 6071 dengan mengisi formulir terlampir. Pemesanan untuk luar negeri atau luar Jakarta akan ditambah biaya kirim. Demikian penawaran ini, atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.

Jakarta, April 2011 PT Media Data Riset

Drh. H. Daddy Kusdriana M.Si Direktur Utama

2

DAFTAR ISI

DAFTAR PERATURAN PENERBANGAN DI INDONESIA, 2011
April, 2011

1. PENDAHULUAN 2. OVERVIEW INDUSTRI PENERBANGAN 2.1. Gambaran Maskapai Penerbangan 2.1.1. Jumlah pesawat maskapai penerbangan 2.1.1.1. Pesawat Garuda tahun 2009 sebanyak 56 unit 2.1.1.2. Pesawat Lion Air dan Wing Air capai 78 unit 2.1.1.3. Merpati Nusantara Airlines 47 pesawat 2.2. Kinerja Penerbangan Meningkat 2.2.1. Penumpang pesawat domestik terus meningkat 2.2.2. Penerbangan internasional 2.3. Kinerja Maskapai 2.3.1. Lion Air kuasai penerbangan pada 2010 2.3.2. AirAsia rajai rute internasional 2.4. Persaingan Industri Penerbangan Kian Ketat 2.4.1. Persaingan rute penerbangan 2.4.1.1. AirAsia miliki enam rute penerbangan 2.4.1.2. Sriwjaya Air terbangi rute Mandala 2.4.2. Segmented di pasar domestik 2.4.2.1. Ekspansi maskapai Citilink Garuda 2.4.2.2. Beli 15 pesawat Perancis untuk Wing Air 2.4.2.3. Sriwijaya Air siapkan penerbangan feeder 2.5. Tiket 2.5.1. Tiket 5 rute domestik naik 60% 2.5.2. Tiket internasional akan naik 20% 2.6. Kebijakan Pemerintah 2.6.1. Perjuangkan seluruh maskapai lolos larangan terbang ke Eropa 2.6.2. Maskapai terancam dipangkas 2.6.3. Investor asing diminta patuhi UU Penerbangan 2.7. Pengadaan Pesawat 2.7.1. Twin Otter akan diproduksi di RI 2.7.2. N219 pesawat untuk landasan pendek 2.8. Bandara akan Diklasifikasi 2.8.1. Arus penumpang Bandara Juanda lampaui kapasitas 2.8.2. Maskapai persoalkan kesiapan bandara 2.8.3. Halim jadi bandara penerbangan domestik 2.8.4. Pengembangan Soekarno-Hatta 2.8.5. Minat swasta garap bandara rendah 2.8.6. Tender Bandara Banten 2.9. Perum Navigasi Beroperasi 6 Bulan Lagi 3

2.10. Profil Maskapai Penerbangan 2.10.1. IPO PT Garuda Indonesia Tbk raup Rp3,3 triliun 2.10.1.1. Alokasi Jamsostek 2.10.1.2. Pembentukan harga saham 2.10.1.3. Dibantu induk 2.10.1.4. Kinerja dan prospek 2.10.1.5. Modal 3 underwriter susut 2.10.1.6. Kursi direksi 2.10.1.7. Cetak laba bersih Rp1 triliun 2.10.2. Merpati Airlines 2.10.2.1. Incar laba Rp40 miliar 2.10.2.2. Pesawat China 2.10.2.3. Awasi maskapai BUMN 2.10.3. PT Pelita Air Service 2.10.3.1. Buka rute Jakarta– Balikpapan–Sorong 2.10.4. PT Mandala Airlines 2.10.4.1. Sejarah 2.10.4.2. Terbelit keuangan 2.10.4.3. Klaim tiket capai Rp42 miliar 2.10.4.4. Indigo hentikan kucuran dana 2.10.4.5. Calon investor buru Mandala 2.10.4.6. Merukh kandidat investor 2.10.4.7. Siap terbang lagi 2.10.5. PT Lion Mentari Airlines 2.10.5.1. Incar terminal Halim Perdanakusuma 2.10.5.2. Otoritas bandara 2.10.5.3. Go public 2.10.5.4. Lepas 30% saham 2.10.6. Sriwijaya Air 2.10.6.1. Penumpang naik 28,57% 2.10.7. PT Indonesia AirAsia 2.10.7.1. Akan "go public" 2.10.7.2. IPO hadapi kendala 2.10.7.3. Emiten penerbangan 2.10.7.4. Tingkat efektivitas tertinggi 2.10.8. PT Trigana Air Service 2.10.9. PT Sky Aviation 2.10.9.1. Incar penerbangan berjadwal 2.10.9.2. Beli pesawat 2.10.9.3. Alokasikan 60% kursi untuk ritel 2.10.10. Batavia Air 2.10.10.1. Ke Dili, Timor Leste 2.10.10.2. Sukses terbangkan jamaah umrah 2.10.11. Riau Air 2.10.11.1. Mendarat mulus di Melaka 2.10.11.2. Tambah pesawat

2.10.11.3. Kronologis krisis membelit Riau Air 2.10.12. PT Kartika Airlines 2.11. Kesimpulan dan Prospek

yang

3. DAFTAR PERATURAN 3.1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2009 Tentang Penerbangan 3.2. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2011 Tentang Angkutan Multimoda 3.3. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Perlakuan Pajak Pertambahan Nilai Atas Penyerahan Jasa Kebandarudaraan Tertentu Kepada Perusahaan Angkutan Udara Niaga Untuk Pengoperasian Pesawat Udara Yang Melakukan Penerbangan Luar Negeri 3.4. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2005 Tentang Perlakuan Pajak Pertambahan Nilai Atas Penyerahan Avtur Untuk Keperluan Penerbangan Internasional 3.5. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 70 Tahun 2001 Tentang Kebandarudaraan 3.6. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2001 Tentang Keamanan Dan Keselamatan Penerbangan 3.7. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2000 Tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1995 Tentang Angkutan Udara 3.8. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 76/PMK.03/2005 Tentang Tatacara Pemberian Fasilitas Pajak Pertambahan Nilai Tidak Dipungut Atas Penyerahan Avtur Untuk Keperluan Penerbangan Internasional 3.9. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 08 Tahun 2010 Tentang Program Keselamatan Penerbangan Nasional 3.10.Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 09 Tahun 2010 Tentang Program Keamanan Penerbangan Nasional 3.11.Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 11 Tahun 2010 Tentang Tatanan Kebandarudaraan Nasional 3.12.Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 13 Tahun 2010 Tentang Batas Kawasan Kebisingan Di Sekitar Bandar Udara Internasional Jakarta Soekarno-Hatta 3.13.Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 14 Tahun 2010 Tentang Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan Di Sekitar Bandar Udara Internasional Jakarta Soekarno-Hatta 3.14.Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 16 Tahun 2010 Tentang Peraturan Keselamatan Penerbangan Sipil (PKPS) Bagian 63 (Civil Aviation Safety Regulations (CASR) Part 63) 4

Tentang Persyaratan Personel Pesawat Udara Selain Penerbang Dan Personel Penunjang Operasi Pesawat Udara (Licensing Flight Crew Members Other Than Pilot, Flight Operation Officers, And Certification Of Flight Attendant) 3.15.Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 18 Tahun 2010 Tentang Perubahan Kedua Atas Keputusan Menteri Perhubungan Nomor Km 41 Tahun 2001 Tentang Peraturan Keselamatan Penerbangan Sipil Bagian 91 (Civil Aviation Safety Regulations Part 91) Tentang Peraturan Umum Pengoperasian Pesawat Udara (General Operating And Flight Rules) 3.16.Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 19 Tahun 2010 Tentang Peraturan Keselamatan Penerbangan Sipil Bagian 05 (Civil Aviation Safety Regulation Part 05) Tentang Satuan Pengukuran (Unit Of Measurements) 3.17.Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 26 Tahun 2010 Tentang Mekanisme Formulasi Perhitungan Dan Penetapan Tarif Batas Atas Penumpang Pelayanan Kelas Ekonomi Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri 3.18.Peraturan Menteri Perhubungan Nomor: KM 34 Tahun 2010 Tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 18 Tahun 2007 Tentang Tarif Angkutan Udara Perintis 3.19.Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 52 Tahun 2010 Tentang Peraturan Keselamatan Penerbangan Sipil Bagian 174 (Civil Aviation Safety Regulations Part 174) Tentang Pelayanan Informasi Meteorologi Penerbangan (Aeronautical Meteorological Information Services) 3.20.Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 55 Tahun 2010 Tentang Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan Di Sekitar Bandar Udara Lombok Baru 3.21.Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 10 Tahun 2009 Tentang Peraturan Keselamatan Penerbangan Sipil Bagian 171 (Civil Aviation Safety Regulations Part 171) Tentang Penyelenggara Pelayanan Telekomunikasi Dan Radio Navigasi Penerbangan (Aeronautical Telecommunication Service And Radio Navigation Service Providers) 3.22.Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 18 Tahun 2009 Tentang Perubahan Keempat Atas Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 18 Tahun 2002 Tentang Persyaratan-Persyaratan Sertifikasi Dan Operasi Bagi Perusahaan Angkutan Udara Niaga Untuk Penerbangan Komuter Dan Charter 3.23.Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 19 Tahun 2009 Tentang Perubahan Ketiga Atas Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 22 Tahun 2002 Tentang Persyaratan-Persyaratan

Sertifikasi Dan Operasi Bagi Perusahaan Angkutan Udara Yang Melakukan Penerbangan Dalam Negeri, Internasional Dan Angkutan Udara Niaga Tidak Berjadwal 3.24.Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 20 Tahun 2009 Tentang Sistem Manajemen Keselamatan (Safety Management System) 3.25.Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 24 Tahun 2009 Tentang Peraturan Keselamatan Penerbangan Sipil Bagian 139 (Civil Aviation Safety Regulations Part 139) Tentang Bandar Udara (Aerodrome) 3.26.Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 26 Tahun 2009 Tentang Sanksi Administratif Terhadap Pelanggaran Peraturan PerundangUndangan Di Bidang Keselamatan Penerbangan 3.27.Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 42 Tahun 2009 Tentang Perubahan Kelima Atas Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 18 Tahun 2002 Tentang Persyaratan-Persyaratan Sertifikasi Dan Operasi Bagi Perusahaan Angkutan Udara Niaga Untuk Penerbangan Komuter Dan Charter 3.28.Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM. 43 Tahun 2009 Tentang Perubahan Keempat Atas Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 22 Tahun 2002 Tentang Persyaratan-Persyaratan Sertifikasi Dan Operasi Bagi Perusahaan Angkutan Udara Yang Melakukan Penerbangan Dalam Negeri, Internasional Dan Angkutan Udara Niaga Tidak Berjadwal 3.29.Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 49 Tahun 2009 Tentang Peraturan Keselamatan Penerbangan Sipil Bagian 47 (Civil Aviation Safety Regulations Part 47) Tentang Pendaftaran Pesawat Udara (Aircraft Registration) 3.30.Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 61 Tahun 2009 Tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 60 Tahun 2008 Tentang Peraturan Keselamatan Penerbangan Sipil Bagian 45 (Civil Aviation Safety Regulations Part 45) Tentang Identifikasi Dan Tanda Pendaftaran Pesawat Udara (Identification And Registration Marking) 3.31.Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 19 Tahun 2008 Tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 18 Tahun 2007 Tentang Tarif Angkutan Udara Perintis 3.32.Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 25 Tahun 2008 Tentang Penyelenggaraan Angkutan Udara

3.33.Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 44 Tahun 2008 Tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 5 Tahun 2006 Tentang Peremajaan Pesawat Udara Kategori Transport Untuk Angkutan Udara Penumpang 3.34.Peraturan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor SKEP/21/I/2010 Tentang Kriteria Dan Penyelenggaraan Angkutan Udara Perintis 3.35.Peraturan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor SKEP/29/II/2010 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Pengukuran Dan Pengawasan Kualitas Koordinat Navigasi Penerbangan Dengan Sistem Geodesi Dunia (World Geodetic System) 1984 Bagian 173-4 (Advisory Circular Part 173-4) 3.36.Peraturan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor SKEP/47/IV/2010 Tentang Petunjuk Teknis Pemeriksaan Kargo Dan Pos Yang Diangkut Dengan Pesawat Udara Sipil Dan Tata Cara Pemberian Sertifikat Sebagai Regulated Agent 3.37.Peraturan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor SKEP/2759/XII/2010 Tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor SKEP/195/IX/2008 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Persetujuan Terbang (Flight Approval) 3.38.Peraturan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor SKEP/31/II/2009 Tentang Petunjuk Dan Tata Cara Penggunaan Perangkat Lunak Dalam Telekomunikasi Aeronautika Dan Pelayanan Radio Navigasi, Bagian 171-4 (Advisory Circular Part 171-4, Software And Its Use In Aeronautical, Telecommunication And Radio Navigation Service) 3.39.Peraturan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor SKEP/124/VI/2009 Tentang Pedoman Pelaksanaan Bandar Udara Ramah Lingkungan (Eco Airport) 3.40.Peraturan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor SKEP/195/IX/2008 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Persetujuan Terbang (Flight Approval) 3.41.Peraturan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor SKEP/251/XII/2008 Tentang Perubahan Atas Peraturan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor SKEP/195/IX/2008 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Persetujuan Terbang (Flight Approval)

5

FORMULIR PEMESANAN
PT MEDIA DATA RISET Jl. SMA XIV No. 12 A, Cawang–UKI, Jakarta 13630 Phone : (021) 809 6071, 809 3140 Fax : (021) 809 6071 E-mail : sales@mediadata.co.id
PENAWARAN

WS

DAFTAR PERATURAN PENERBANGAN DI INDONESIA, 2011
April, 2011

Edisi Bahasa Indonesia
Nama (Mr/Mrs/Ms) Position Nama Perusahaan NPWP No. Alamat

Telepon Tanda Tangan Tanggal

Fax :

Harga : Edisi Bahasa Indonesia

:

Rp 5.000.000 (lima juta rupiah )

Catatan : Harga belum termasuk pajak (10% PPn) Di luar Jakarta dan luar negeri; ditambah biaya pengiriman (Jasa Kurir) Pembayaran ( √ ) :
Cash Cheque

Transfer to - PT MEDIA DATA RISET AC. NO. 070 000 534 0497 BANK MANDIRI CAB. DEWI SARTIKA JAKARTA

6

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->