Anda di halaman 1dari 6

PENAWARAN

DAFTAR PERATURAN PENERBANGAN DI INDONESIA, 2011


April, 2011

Pemerintah dan operator Bandar udara (bandara) diminta lebih menyiapkan prasarana
untuk mendukung operasional maskapai, menyusul meningkatnya jumlah penumpang. Bandara
Soekarno-Hatta misalnya, pada 2016 akan memiliki kapasitas tampung penumpang sebanyak 65
juta orang per tahun. Saat ini, pelabuhan udara tersibuk di Indonesia itu memiliki kapasitas
tampung di terminal hanya 22 juta penumpang. Padahal, arus penumpang pada 2010 mencapai
37,14 juta orang. Kawasan Soekarno-Hatta sudah tidak punya lahan, pengembangan sudah tidak
bisa dilakukan lagi pada 2016.
Belakangan, bisnis industri penerbangan mengalami pertumbuhan cukup pesat. Pada 2009,
angkutan udara telah mengangkut 43,8 juta penumpang dengan load factor (tingkat isian
penumpang) 82%. Jumlah yang dilayani oleh angkutan udara mencapai 686 sektor terdiri dari 319
dilayani pesawat bermesin jet, dan 367 sektor dilayani pesawat bermesin propeler. Sementara
sekitar 80%, pangsa dikuasai oleh perusahaan penerbangan swasta. Industri ini seolah-olah telah
mematahkan mitos, swasta sangat sulit masuk dalam bisnis angkutan udara yang padat modal dan
padat teknologi.
Minat swasta masuk dalam proyek bandara masih rendah. Pemerintah diminta untuk
mencari lokasi pembangunan bandara yang strategis dan menawarkan terlebih dahulu pada swasta
untuk proyek yang lokasinya punya potensi strategis dan menguntungkan. Selain itu, Pemerintah
diimbau memberikan kemudahan dan insentif khusus pada swasta yang berminat dalam proyek
tersebut. Jika hal itu dilakukan, akan banyak pengusaha yang berminat. Tahun ini, Kementerian
Perhubungan, menawarkan tujuh proyek pembangunan bandara lokal yang dibiayai dengan sistem
sharing. Ke-7 proyek itu, Bandara Tjilik Riwut Palangkaraya senilai Rp113,23 miliar, Kertajati
Majalengka Rp21,63 triliun, Karimun Jaya Rp88 miliar, Bali Baru Rp5,1 triliun, Singkawang
Kalimantan Selatan Rp420 miliar, Bandara Banten Selatan Rp850 miliar, dan Bandara Samarinda
Baru Rp995 miliar. Rencananya, bandara itu akan dibangun dalam tiga tahap, tahap pertama
rampung tahun ini senilai Rp10,69 triliun, tahap kedua pada 2018 senilai Rp5,53 triliun, dan pada
2028 dengan nilai Rp5,48 triliun.
Menurut ketentuan UU Penerbangan, sebanyak lima dari 10 pesawat harus dimiliki sendiri,
sedangkan sisanya boleh menyewa. Ketentuan itu harus terpenuhi paling lambat pada 12 Januari
2012. Sejumlah airline (maskapai) berjadwal akan kesulitan memenuhi ketentuan mengoperasikan
minimal 10 unit pesawat. Menurut Sekjen INACA, sulitnya maskapai membeli atau menyewa
pesawat karena keterbatasan armada di tengah sulitnya mencari pinjaman dari lembaga
pembiayaan. Jika aturan tersebut tetap diberlakukan, solusi bagi maskapai berjadwal adalah
melakukan merger. Pengadaan pesawat membutuhkan dana yang cukup besar. Sebagai ilustrasi,
harga pesawat baru seri Boeing 737 paling murah adalah Boeing 737-600 dengan harga terendah
US$51,5 juta. Artinya, untuk membeli lima unit Boeing 737-600 dibutuhkan dana US$257,5 juta.
Menurut Kasubdit Angkutan Udara Berjadwal Kementerian Perhubungan, implementasi
mengoperasikan 10 unit pesawat sudah tidak bisa ditunda lagi. Ketentuan merger dengan pihak
asing, pemegang saham lokal harus memiliki 51% saham tunggal atau single majority. Sedangkan
dengan maskapai nasional, sahamnya tidak diatur.

1
Menurut catatan, dari 16 maskapai berjadwal hanya tujuh yang saat ini sudah mampu
memenuhi ketentuan jumlah pesawat, yaitu Garuda Indonesia, Merpati Nusantara, Lion Air,
Batavia Air, Wings Air, Sriwijaya Air, dan Indonesai Air Transport. Sejumlah maskapai akan
kesulitan memenuhi ketentuan pengoperasian minimal 10 unit pesawat. Tidak mudah bagi
beberapa maskapai untuk pengadaan pesawat, akibat ketersediaan pesawat dan pembiayaan.
Di dalam daftar peraturan ini, dimuat berbagai peraturan yang berkaitan dengan bisnis
penerbangan yang meliputi Undang-Undang tentang Penerbangan, Peraturan Menteri
Perhubungan No. KM 8 Tahun 2010 tentang Program Keselamatan Penerbangan Nasional,
Peraturan Direktur Jenderal Angkutan Udara No. SKEP/124/VI/2009 tentang Pedoman
Pelaksanaan Bandar Udara Ramah Lingkungan (Eco Airport), dan kebijakan-kebijakan lainnya di
sektor penerbangan.
Kami berharap, Daftar Peraturan ini akan bermanfaat bagi kalangan bisnis terutama para
pengambil keputusan di sektor penerbangan, serta bagi kalangan bisnis yang terkait secara
langsung maupun tidak langsung dengan industri penerbangan seperti sektor perbankan, jasa
asuransi dan kontraktor. Selain itu, Daftar Peraturan ini juga bermanfaat bagi para investor atau
calon investor yang akan menjalin kerjasama dengan perusahaan yang aktif di bisnis penerbangan
di Indonesia.
Daftar Peraturan setebal seribu halaman lebih yang memuat sekitar 41 peraturan
pemerintah terkait dengan bisnis penerbangan di Indonesia ini, kami tawarkan dengan harga Rp
5.000.000 (Lima Juta Rupiah) per 2 jilid. Untuk pemesanan dan informasi dapat menghubungi PT
Media Data Riset melalui telepon (021) 809 6071, 809 3140 dan fax (021) 809 6071 dengan mengisi
formulir terlampir. Pemesanan untuk luar negeri atau luar Jakarta akan ditambah biaya kirim.
Demikian penawaran ini, atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.

Jakarta, April 2011


PT Media Data Riset

Drh. H. Daddy Kusdriana M.Si


Direktur Utama

2
DAFTAR ISI
DAFTAR PERATURAN PENERBANGAN DI INDONESIA, 2011
April, 2011

1. PENDAHULUAN 2.10. Profil Maskapai Penerbangan


2.10.1. IPO PT Garuda Indonesia Tbk raup
2. OVERVIEW INDUSTRI PENERBANGAN Rp3,3 triliun
2.1. Gambaran Maskapai Penerbangan 2.10.1.1. Alokasi Jamsostek
2.1.1. Jumlah pesawat maskapai penerbangan 2.10.1.2. Pembentukan harga saham
2.1.1.1. Pesawat Garuda tahun 2009 2.10.1.3. Dibantu induk
sebanyak 56 unit 2.10.1.4. Kinerja dan prospek
2.1.1.2. Pesawat Lion Air dan Wing 2.10.1.5. Modal 3 underwriter susut
Air capai 78 unit 2.10.1.6. Kursi direksi
2.1.1.3. Merpati Nusantara Airlines 47 2.10.1.7. Cetak laba bersih Rp1 triliun
pesawat 2.10.2. Merpati Airlines
2.2. Kinerja Penerbangan Meningkat 2.10.2.1. Incar laba Rp40 miliar
2.2.1. Penumpang pesawat domestik terus 2.10.2.2. Pesawat China
meningkat 2.10.2.3. Awasi maskapai BUMN
2.2.2. Penerbangan internasional 2.10.3. PT Pelita Air Service
2.3. Kinerja Maskapai 2.10.3.1. Buka rute Jakarta–
2.3.1. Lion Air kuasai penerbangan pada 2010 Balikpapan–Sorong
2.3.2. AirAsia rajai rute internasional 2.10.4. PT Mandala Airlines
2.4. Persaingan Industri Penerbangan Kian Ketat 2.10.4.1. Sejarah
2.4.1. Persaingan rute penerbangan 2.10.4.2. Terbelit keuangan
2.4.1.1. AirAsia miliki enam rute 2.10.4.3. Klaim tiket capai Rp42
penerbangan miliar
2.4.1.2. Sriwjaya Air terbangi rute 2.10.4.4. Indigo hentikan kucuran
Mandala dana
2.4.2. Segmented di pasar domestik 2.10.4.5. Calon investor buru Mandala
2.4.2.1. Ekspansi maskapai Citilink 2.10.4.6. Merukh kandidat investor
Garuda 2.10.4.7. Siap terbang lagi
2.4.2.2. Beli 15 pesawat Perancis untuk 2.10.5. PT Lion Mentari Airlines
Wing Air 2.10.5.1. Incar terminal Halim
2.4.2.3. Sriwijaya Air siapkan Perdanakusuma
penerbangan feeder 2.10.5.2. Otoritas bandara
2.5. Tiket 2.10.5.3. Go public
2.5.1. Tiket 5 rute domestik naik 60% 2.10.5.4. Lepas 30% saham
2.5.2. Tiket internasional akan naik 20% 2.10.6. Sriwijaya Air
2.6. Kebijakan Pemerintah 2.10.6.1. Penumpang naik 28,57%
2.6.1. Perjuangkan seluruh maskapai lolos 2.10.7. PT Indonesia AirAsia
larangan terbang ke Eropa 2.10.7.1. Akan "go public"
2.6.2. Maskapai terancam dipangkas 2.10.7.2. IPO hadapi kendala
2.6.3. Investor asing diminta patuhi UU 2.10.7.3. Emiten penerbangan
Penerbangan 2.10.7.4. Tingkat efektivitas tertinggi
2.7. Pengadaan Pesawat 2.10.8. PT Trigana Air Service
2.7.1. Twin Otter akan diproduksi di RI 2.10.9. PT Sky Aviation
2.7.2. N219 pesawat untuk landasan pendek 2.10.9.1. Incar penerbangan berjadwal
2.8. Bandara akan Diklasifikasi 2.10.9.2. Beli pesawat
2.8.1. Arus penumpang Bandara Juanda 2.10.9.3. Alokasikan 60% kursi untuk
lampaui kapasitas ritel
2.8.2. Maskapai persoalkan kesiapan bandara 2.10.10. Batavia Air
2.8.3. Halim jadi bandara penerbangan 2.10.10.1. Ke Dili, Timor Leste
domestik 2.10.10.2. Sukses terbangkan jamaah
2.8.4. Pengembangan Soekarno-Hatta umrah
2.8.5. Minat swasta garap bandara rendah 2.10.11. Riau Air
2.8.6. Tender Bandara Banten 2.10.11.1. Mendarat mulus di Melaka
2.9. Perum Navigasi Beroperasi 6 Bulan Lagi 2.10.11.2. Tambah pesawat
3
2.10.11.3. Kronologis krisis yang Tentang Persyaratan Personel Pesawat Udara
membelit Riau Air Selain Penerbang Dan Personel Penunjang
2.10.12. PT Kartika Airlines Operasi Pesawat Udara (Licensing Flight Crew
2.11. Kesimpulan dan Prospek Members Other Than Pilot, Flight Operation
Officers, And Certification Of Flight Attendant)
3. DAFTAR PERATURAN 3.15.Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 18
3.1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2010 Tentang Perubahan Kedua Atas
Tahun 2009 Tentang Penerbangan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor Km 41
3.2. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Tahun 2001 Tentang Peraturan Keselamatan
Nomor 8 Tahun 2011 Tentang Angkutan Penerbangan Sipil Bagian 91 (Civil Aviation
Multimoda Safety Regulations Part 91) Tentang Peraturan
3.3. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Umum Pengoperasian Pesawat Udara (General
Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Perlakuan Operating And Flight Rules)
Pajak Pertambahan Nilai Atas Penyerahan Jasa 3.16.Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 19
Kebandarudaraan Tertentu Kepada Perusahaan Tahun 2010 Tentang Peraturan Keselamatan
Angkutan Udara Niaga Untuk Pengoperasian Penerbangan Sipil Bagian 05 (Civil Aviation
Pesawat Udara Yang Melakukan Penerbangan Safety Regulation Part 05) Tentang Satuan
Luar Negeri Pengukuran (Unit Of Measurements)
3.4. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia 3.17.Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 26
Nomor 26 Tahun 2005 Tentang Perlakuan Tahun 2010 Tentang Mekanisme Formulasi
Pajak Pertambahan Nilai Atas Penyerahan Avtur Perhitungan Dan Penetapan Tarif Batas Atas
Untuk Keperluan Penerbangan Internasional Penumpang Pelayanan Kelas Ekonomi Angkutan
3.5. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri
Nomor 70 Tahun 2001 Tentang 3.18.Peraturan Menteri Perhubungan Nomor: KM 34
Kebandarudaraan Tahun 2010 Tentang Perubahan Kedua Atas
3.6. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 18
Nomor 3 Tahun 2001 Tentang Keamanan Dan Tahun 2007 Tentang Tarif Angkutan Udara
Keselamatan Penerbangan Perintis
3.7. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia 3.19.Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 52
Nomor 3 Tahun 2000 Tentang Perubahan Atas Tahun 2010 Tentang Peraturan Keselamatan
Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1995 Penerbangan Sipil Bagian 174 (Civil Aviation
Tentang Angkutan Udara Safety Regulations Part 174) Tentang Pelayanan
3.8. Peraturan Menteri Keuangan Nomor Informasi Meteorologi Penerbangan
76/PMK.03/2005 Tentang Tatacara Pemberian (Aeronautical Meteorological Information
Fasilitas Pajak Pertambahan Nilai Tidak Services)
Dipungut Atas Penyerahan Avtur Untuk 3.20.Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 55
Keperluan Penerbangan Internasional Tahun 2010 Tentang Kawasan Keselamatan
3.9. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 08 Operasi Penerbangan Di Sekitar Bandar Udara
Tahun 2010 Tentang Program Keselamatan Lombok Baru
Penerbangan Nasional 3.21.Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 10
3.10.Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 09 Tahun 2009 Tentang Peraturan Keselamatan
Tahun 2010 Tentang Program Keamanan Penerbangan Sipil Bagian 171 (Civil Aviation
Penerbangan Nasional Safety Regulations Part 171) Tentang
3.11.Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 11 Penyelenggara Pelayanan Telekomunikasi Dan
Tahun 2010 Tentang Tatanan Kebandarudaraan Radio Navigasi Penerbangan (Aeronautical
Nasional Telecommunication Service And Radio
3.12.Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 13 Navigation Service Providers)
Tahun 2010 Tentang Batas Kawasan 3.22.Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 18
Kebisingan Di Sekitar Bandar Udara Tahun 2009 Tentang Perubahan Keempat Atas
Internasional Jakarta Soekarno-Hatta Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 18
3.13.Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 14 Tahun 2002 Tentang Persyaratan-Persyaratan
Tahun 2010 Tentang Kawasan Keselamatan Sertifikasi Dan Operasi Bagi Perusahaan
Operasi Penerbangan Di Sekitar Bandar Udara Angkutan Udara Niaga Untuk Penerbangan
Internasional Jakarta Soekarno-Hatta Komuter Dan Charter
3.14.Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 16 3.23.Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 19
Tahun 2010 Tentang Peraturan Keselamatan Tahun 2009 Tentang Perubahan Ketiga Atas
Penerbangan Sipil (PKPS) Bagian 63 (Civil Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 22
Aviation Safety Regulations (CASR) Part 63) Tahun 2002 Tentang Persyaratan-Persyaratan
4
Sertifikasi Dan Operasi Bagi Perusahaan 3.33.Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 44
Angkutan Udara Yang Melakukan Penerbangan Tahun 2008 Tentang Perubahan Atas Peraturan
Dalam Negeri, Internasional Dan Angkutan Menteri Perhubungan Nomor KM 5 Tahun 2006
Udara Niaga Tidak Berjadwal Tentang Peremajaan Pesawat Udara Kategori
3.24.Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 20 Transport Untuk Angkutan Udara Penumpang
Tahun 2009 Tentang Sistem Manajemen 3.34.Peraturan Direktur Jenderal Perhubungan Udara
Keselamatan (Safety Management System) Nomor SKEP/21/I/2010 Tentang Kriteria Dan
3.25.Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 24 Penyelenggaraan Angkutan Udara Perintis
Tahun 2009 Tentang Peraturan Keselamatan 3.35.Peraturan Direktur Jenderal Perhubungan Udara
Penerbangan Sipil Bagian 139 (Civil Aviation Nomor SKEP/29/II/2010 Tentang Petunjuk
Safety Regulations Part 139) Tentang Bandar Pelaksanaan Pengukuran Dan Pengawasan
Udara (Aerodrome) Kualitas Koordinat Navigasi Penerbangan
3.26.Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 26 Dengan Sistem Geodesi Dunia (World Geodetic
Tahun 2009 Tentang Sanksi Administratif System) 1984 Bagian 173-4 (Advisory Circular
Terhadap Pelanggaran Peraturan Perundang- Part 173-4)
Undangan Di Bidang Keselamatan Penerbangan 3.36.Peraturan Direktur Jenderal Perhubungan Udara
3.27.Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 42 Nomor SKEP/47/IV/2010 Tentang Petunjuk
Tahun 2009 Tentang Perubahan Kelima Atas Teknis Pemeriksaan Kargo Dan Pos Yang
Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 18 Diangkut Dengan Pesawat Udara Sipil Dan Tata
Tahun 2002 Tentang Persyaratan-Persyaratan Cara Pemberian Sertifikat Sebagai Regulated
Sertifikasi Dan Operasi Bagi Perusahaan Agent
Angkutan Udara Niaga Untuk Penerbangan 3.37.Peraturan Direktur Jenderal Perhubungan Udara
Komuter Dan Charter Nomor SKEP/2759/XII/2010 Tentang
3.28.Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM. 43 Perubahan Kedua Atas Peraturan Direktur
Tahun 2009 Tentang Perubahan Keempat Atas Jenderal Perhubungan Udara Nomor
Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 22 SKEP/195/IX/2008 Tentang Petunjuk
Tahun 2002 Tentang Persyaratan-Persyaratan Pelaksanaan Persetujuan Terbang (Flight
Sertifikasi Dan Operasi Bagi Perusahaan Approval)
Angkutan Udara Yang Melakukan Penerbangan 3.38.Peraturan Direktur Jenderal Perhubungan Udara
Dalam Negeri, Internasional Dan Angkutan Nomor SKEP/31/II/2009 Tentang Petunjuk Dan
Udara Niaga Tidak Berjadwal Tata Cara Penggunaan Perangkat Lunak Dalam
3.29.Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 49 Telekomunikasi Aeronautika Dan Pelayanan
Tahun 2009 Tentang Peraturan Keselamatan Radio Navigasi, Bagian 171-4 (Advisory
Penerbangan Sipil Bagian 47 (Civil Aviation Circular Part 171-4, Software And Its Use In
Safety Regulations Part 47) Tentang Pendaftaran Aeronautical, Telecommunication And Radio
Pesawat Udara (Aircraft Registration) Navigation Service)
3.30.Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 61 3.39.Peraturan Direktur Jenderal Perhubungan Udara
Tahun 2009 Tentang Perubahan Atas Peraturan Nomor SKEP/124/VI/2009 Tentang Pedoman
Menteri Perhubungan Nomor KM 60 Tahun Pelaksanaan Bandar Udara Ramah Lingkungan
2008 Tentang Peraturan Keselamatan (Eco Airport)
Penerbangan Sipil Bagian 45 (Civil Aviation 3.40.Peraturan Direktur Jenderal Perhubungan Udara
Safety Regulations Part 45) Tentang Identifikasi Nomor SKEP/195/IX/2008 Tentang Petunjuk
Dan Tanda Pendaftaran Pesawat Udara Pelaksanaan Persetujuan Terbang (Flight
(Identification And Registration Marking) Approval)
3.31.Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 19 3.41.Peraturan Direktur Jenderal Perhubungan Udara
Tahun 2008 Tentang Perubahan Atas Peraturan Nomor SKEP/251/XII/2008 Tentang
Menteri Perhubungan Nomor KM 18 Tahun Perubahan Atas Peraturan Direktur Jenderal
2007 Tentang Tarif Angkutan Udara Perintis Perhubungan Udara Nomor SKEP/195/IX/2008
3.32.Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 25 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Persetujuan
Tahun 2008 Tentang Penyelenggaraan Terbang (Flight Approval)
Angkutan Udara

5
FORMULIR PEMESANAN
PT MEDIA DATA RISET WS
Jl. SMA XIV No. 12 A, Cawang–UKI, Jakarta 13630
Phone : (021) 809 6071, 809 3140
Fax : (021) 809 6071
E-mail : sales@mediadata.co.id

PENAWARAN

DAFTAR PERATURAN PENERBANGAN DI INDONESIA, 2011


April, 2011

Edisi Bahasa Indonesia

Nama
(Mr/Mrs/Ms)
Position
Nama Perusahaan
NPWP No.
Alamat

Telepon Fax :
Tanda Tangan

Tanggal

Harga :
Edisi Bahasa Indonesia : Rp 5.000.000 (lima juta rupiah )

Catatan : Harga belum termasuk pajak (10% PPn)


Di luar Jakarta dan luar negeri; ditambah biaya pengiriman (Jasa Kurir)

Pembayaran ( √ ) :

Cash
Cheque
Transfer to - PT MEDIA DATA RISET
AC. NO. 070 000 534 0497
BANK MANDIRI CAB. DEWI SARTIKA
JAKARTA