Anda di halaman 1dari 103

ANATOMI

TELINGA
Telinga terbagi atas :
- Telinga luar (aurius external)
o Auriculum
o Meatus acusticus externa
o Membrana tymphani
- Telinga tengah (aurius media)
o Cavum tympani
o Tuba eustachius
o Antrum mastoid
o Cellulae
- Telinga dalam (aurius interna)
o Cochlea  alat pendengaran
o Canalis semisirkularis Alat
o Vestibulum keseimbangan

1
TELINGA LUAR
Auriculum
Dibentuk oleh kerangka tulang rawan dan
ada pula sebagian yang tidak dibentuk dari
tulang rawan. Auriculum ditutupi oleh kulit dan
menempel pada bagian kiri dan kanan kepala
oleh otot dan ligamentum. Bagian tulang rawan
ini bentuknya tidak teratur dan terdiri dari :
- Helicis
- Antehelicis
- Tragus
- Antetragus
- Concha

Kulit di bagian depan melekat erat dengan


perichondrium sehingga merupakan satu
lapisan saja, sedangkan di bagian belakang
menjadi bagian yang agak longer, sehingga
mudah terjadi infeksi (infeksi sering terjadi pada
bagian belakang telinga). Bagian yang tidak
bertulang rawan disebut lobulus.

Saraf yang memelihara auriculum adalah :


- Cervicalis (C2 dan C3)
- Cranialis (n V)  cabang-cabangnya :

2
o N. opthalmicus
o N. Maxillaris
o N. Mandibularis

Pembuluh lymph auriculum terdiri dari :


- Bagian posterior : menuju ke kelenjar pada
mastoid
- Bagian anterior : menuju ke kelenjar
parotis
- Bagian inferior : menuju kekelenjar
infraauricularis

Pembuluh darah pada auriculus :


- Arteriae : berasal dari cabang-cabang
kecil a. Carotis interna
- Venae : menuju ke v. jugularis externa
dan v. jugularis interna (pada jantung), tapi
ada sebagian juga yang menuju ke v.
Emissaria (pada sinus lateralis)  sinus
lateralis adalah pembuluh darah vena. Oleh
karena itu infeksi pada auriculum bisa
menyebabkan meningitis karena ada vena
pada auriculum yang berjalan menuju ke
otak.

Meatus Acusticus Externa

3
Merupakan suatu saluran yang panjangnya
kurang lebih 2,5 cm pada orang dewasa (dari
concha sampai dengan membran tympani).
Membran tympani ini memisahkan cavum
tympani dengan meatus acusticus externa.
Meatus acusticus externa terdiri dari 2
bagian :
1. Bagian luar (1/3 lateral) : Pars cartilaginous
2. Bagian medial (2/3 sisanya) : Pars osseus

Pars cartilaginous ini merupakan benjolan


ke atas dan ke belakang, sedang pars osseus
berjalan ke bawah dan ke depan, jadi meatus ini
merupakan suatu tabung yang bengkok. Pars
cartilaginous merupakan lanjutan dari tulang
rawan pada auriculum,yang ditutupi oleh kulit
yang sama dengan auriculum, melekat erat
pada pericondrium, sehingga pars cartilaginous
ini dapat digerakkan. Kulit di bagian ini
mengandung folikel rambut, glandula sebasea
dan glandula seruminalis. Produk dari glandula
sebasea dan glandula seruminalis adalah
serumen.
Pars osseus dibentuk dari os temporalis
yaitu pars tynpanica dan squama os temporalis.
Kulit yang menutupi pars osseus ini lebih tipis
dan melekat pada periosteum, sehingga tidak
mengandung folikel rambut maupun kelenjar.

4
Batas antara pars cartilaginous dan pars
osseus membentuk sudut tumpul yang
menghadap ke bawah. Lebih ke dalam dari
meatus ini terdapat suatu penyempitan yang
disebut isthmus kurang lebih 5 mm dari
membran tympani.
Saraf yang memelihara meatus acusticus
externus ini adalah N. Auriculotemporalis
(cabang N. V) dan juga terdapat nervus lain
yang penting yaitu cabang dari N. X (Arnold).
Pembuluh darah serta pembuluh lymph
disini sama dengan pada auriculum.

TELINGA TENGAH
Adalah suatu ruangan yang berisi udara dan
terdapat dalam os temporalis. Os temporalis
terdiri dari :
1.Os Petrosus :
a.Pars mastoidea
b.Pars pyramidalis
2.Pars Squamalis
3.Pars Tympanica
4.Proceccus Stylomastoideus
Semua rongga yang membentuk auriculus
media ini dilapisi oleh mukosa yang sejenis
dengan mukosa pada cavum nasi dan
nasopharynx. Selain itu mukosa aurius medius

5
ini juga merupkan lanjutan daripada mukosa
nasopharynx melalui tuba eustachius.
Arti kliniknya ialah bahwa radang pada
cavum nasi, sinus nasalis/paranasalis bisa saja
diteruskan ke dalam cavum tympani. Dan 90%
kasus otitis media berasal dari cavum nasi.

Cavum Tympani

Merupakan bagian yang terpenting dari


aurius media, menginat banyaknya struktur
padat yang terdapat didalamnya antar lain
tulang pendengaran yaitu : maleus, inkus
dan stapes.
Jarak anteroposterior : kurang lebih 15
mm
Jarak superior-inferior : kurang lebih 15
mm
Jarak lateral-medial : kurang lebih 6 mm.
Selain itu ada ukuran yang sangat sempit yaitu
hanya 2 mm.

Cavum tympani dibagi atas 3 bagian :


- Epitympani
- Mesotympani
- Hypotympani
Batas-batas cavum tympani :

1.Dinding superior (batas atas) :

6
Dibentuk oleh tulang yang sangat tipis,
kadang-kadang malah ditemukan suatu
dehidasi (celah). Tegmen tympani ini
merupakan batas antara cvum tympani
(epitympani) dengan fossa cranii media.
Dalam klinik batas ini harus diketahui
karena radang dapat meluas ke intracranial
melalui tegmen tympani.

2.Dinding inferior (batas bawah)


Juga berdinding tipis, berbatasan
dengan bulbus vena jugularis. Dalam klinik,
radang dari cavum tympani dapat meluas
ke bawah dan menyebabkan
thrombophlebitis.

3.Dinding posterior (dinding belakang)


Berhubungan dengan antrum mastoid
melalui suatu celah yang disebut aditus ad
antrum. Bagian atas dari aditus ini disebut
tegmen antri, yang berbatasan dengan
fossa cranii media. Kemudian di bawah
(dasar dari aditus ini) terdapat canalis N.
Fascialis pars verticalis beserta sarafnya (N.
Fascialis pars verticalis). Saraf ini keluar dari
os temporalis melalui foramen
stylomastoideus.

4.Dinding anterior (dinding depan)

7
Dinding ini dibentuk oleh a. Carotis
interna, muara tuba esutachius ke dalam
cavum tympani. Disini terdapat canalis dari
tulang yang berisi m. Tensor tympani.

5.Dinding medial
Dinding ini merupakan pemisah antara
cavum tympani dari labyrinth. Disini
terdapat beberapa struktur penting :
- Canalis semisirkularis lateralis
- Canalis N. Fascialis pars horizontalis
beserta sarafnya
- Foramen ovale  ditutupi oleh basis
dari stapes yang memisahkan cavum
tympani dengan skala vestibule
- Promontorium  disebabkan oleh
penoonjolan dari lingkaran (basis dari
cochlea).
- Foramen rotundum  ditutupi oleh
suatu membran (slaput) yaitu membran
tympani secundaria dan membran ini
memisahkan cavum tympani dengan
skala tympani.

6.Dinding lateral
Terdiri dari 2 bagian : pars osseus dan
pars membranasea.
Pars osseus merupakan dinding lateral dari
epytimpani dan hanya membentuk sebagian

8
kecil epytimpani, sedangkan pars
membranasea merupakan bagian terbesar
yang membentuk epitympani yang
merupakan membran tympani, yang
memisahkan cavum tympani dengan
meatus acusticus externa.

Membrana Tympani

Membrana tympani ini berbentuk kerucut


dengan basis yang lebar dan oval, dengan
puncak yang disebut umbo. Basis dari lingkaran
ini disebut margo tympani. Membrana tympani
ini terpasang miring, melekat pada suatu
cekungan tulang dengan perantaraan jaringan
ikat annulus tympanicus.
Bagian atas dari membran tympani (kira-
kira berbentuk bulan sabit) disebut pars flacida
atau membran sharppnell).
Bagian bawahnya berbentuk oval dengan
warna putih mutiara, disebut pars densa.
Pada bagian anterosuperior dari membran
tympani terdapat processus brevis. Kemudian
garis yang menghubungkan umbo dengan
prosessus brevis disebut manubrium mallei.
Dari umbo terlihat bagian berbentuk
segitiga yang disebut refleks cahaya. Adanya
refleks cahaya ini akibat posisi dari membran
tympani yang terpasang miring dengan

9
membentuk sudut 450. Yang paling sering
mengalami gangguan ialah tuba eustachius.
Pada membran tympani terdapat 2
pelipatan :
- Mulai dari proccesus brevis ke depan,
disebut plica maleolaris anterior.
- Mulai dari proccesus brevis ke belakang,
disebut plica maleolaris posterior.
Plika ini merupakan bagian dari pars tensa
dan pars flacida.

Histologis :
Membrana tympani terdiri dari 3 lapisan :
- Lapisan luar : terdiri dari epitel kulit
yang merupakan lanjutan dari kulit meatus
acusticus externa
- Lapisan tengah : disebut lamina propria,
terdiri dari 2 lapisan jaringan ikat yaitu :
o Lapisan jaringan ikat sirkuler
o Lapisan jaringan ikat radier
- Lapisan dalam : merupakan mukosa
yang melapisi cavum tympani (pars flacida).

Isi dari cavum tympani :


Berisi tulang-tulang pendengaran,
ligamentum, otot dan saraf

Tulang-tulang pendengaran
Maleus

10
- Caput
- Colium
- Proccesus brevis
- Proccesus longus
- Manubrium mallei
(caput mallei terdapat pada epytimpani
sedangkan bagian-bagian lain terdapat pada
mesotympani).

Incus
- Corpus
- Proccesus brevis
- Proccesus longus
Sebgaian besar incus berada pada epytimpani,
hanya sebagian kecil dari proccesus longus
yang berada mesotympani.

Stapes
- Capitulum
- Colum
- Crus anterior
- Crus posterior
- Basis
Caput mallei mengadakan articulation dengan
corpus dari incus, sedangkan proccesus longus
dari Incus mengadakan articulation dengan
capitulum dari stapes. Rangkaian ini disebut
ossicular chain. Gangguan pada ossikular chain
ini menyebabkan gangguan pendengaran, oleh

11
karena ini penting untu system konduksi pada
pendengaran.

Otot
1.M. tensor tympani
Otot ini berada pada suatu canalis pada
dinding anterior dari cavum tympani, di
sebelah atas dari tuba eustachius. Keluar
dari canalis ini, otot ini melanjutkan diri
sebagai tendon menjadi suatu benjolan
pada dinding cavum timpani dalam suatu
semicanal yang berakhir pada suatu
tonjolan tulang yang disebut proccesus
cochlearis. Kemudian tendon ini membelok
ke lateral dan berakhir pada collum malei,
dekat pada proccesus brevis. Fungsi otot ini
yaitu untuk meregangkan dan
mengendorkan cavum tympani.

2.M. Stapedius
Otot ini mulai dari suatu benjolan tulang
dari dinding posterior cavum tympani yang
disebut eminentia pyramidalis. Kemudian
tendonnya berakhir pada collum dari stapes.
Fungsi otot ini adalah untuk menatur
gerakan dari stapes.

Ligamentum

12
Berfungsi mempertahankan posisi tulang-
tulang pendengaran dari cavum tympani.

Saraf (corda tympani)


Berjalan dari cavum tympani, keluar dari N.
Fascialis pars verticalis (dinding posterior cavum
tympani), kemudian berjalan dalam cavum
tympani ke arah anterior, kemudian masuk ke
fissure petrotympanica, dimana terdapat pada
dinding anterior dan akhirnya saraf ini
mempersarafi lidah.
TUBA EUSTACHIUS

Merupakan saluran yang menghubungkan


cavum tympani dan nasofaring. Panjangnya
kurang lebih 37-40 mm. Dari muara tuba pada
cavum tympani menuju ke muara tuba di
nasofaring, tuba ini berjalan ke arah
inferomedial sehingga ada perbedaan level
antara muara pada cavum tympani dan muara
pada nasofaring (sekitar 15 mm).

Anatomi tuba eustachius ini dibagi menjadi


2 bagian : pars osseus dan pars cartilaginea.
Pertemuan antara pars osseus dan pars
cartilaginea merupakan daerah yang paling
sempit yang dinamakan isthmus.

13
Pars osseus bermuara pada dinding anterior
cavum tympani, bagian ini merupakan bagian
yang selalu terbuka dan merupakan 1/3 dari
panjang tuba.

Pars cartilaginea merupakan 2/3 dari


panjang tuba, berbentuk seperti terompet.
Bagian ini bermuara pada nasofaring dan selalu
berada dalam keadaan tertutup, hanya
sewaktu-waktu terbuka yaitu apabila ada
kontraksi dari m. levator dan m. tensor veli
palatina, yaitu pda waktu orang menguap atau
menelan.
Fungsi dari tuba eustachius :
1. Menjaga agar tekanan pada cavum tympani
sama dengan tekanan pada dunia luar  1
atm.
2.Menjamin ventilasi udara dari cavum
tympani.

Pada bayi ternyata tuba eustachius letaknya


lebih horizontal, lumennya relatif lebih besar
sehingga keadaan ini membawa akibat
seringnya terjadi otitis media pada bayi.

14
FISIOLOGI
PENDENGARAN
Proses pendengaran dibagi atas :
1. Fase konduksi  gerakan udara yang
berasal dari sumber bunyi menggetarkan
membran tympani diteruskan ke tulang
pendengaran (maleus, incus, stapes)
menimbulkan gelombang perilymf.
2.Gelombang perilymf ini menimbulkan
gelombang endolymf : menggerakkan organ
corti. Di dalam organ corti energi mekanik
dirubah menjadi energi listrik.
3. Energi listrik. Oleh N. VIII, diteruskan ke
batang otak kemudian ke korteks serebri
(pusat pendengaran  gyrus temporalis).

15
TES PENDENGARAN
Tujuan dari tes pendengaran :
1.Menentukan apakah pendengaran
seseorang normal atau tidak
2.Menentukan derajat kekurangan
pendengaran
3.Menentukan lokalisasi penyebab gangguan
pendengaran.

Gangguan pendengaran dibagi atas :


1. Tuli konduksi  conductive hearing loss
2. Tuli persepsi  sensory neural
hearing loss
3. Tuli campuran  mix hearing loss

Macam-macam tes pendengaran :


1.Tes bicara / suara:
a.Bisik
b.Konversi
2.Tes dengan garpu tala
3.Tes dengan audiometri

16
TES BISIK
Normal suara bisik dapat didengar 10-15 m.
Patokan  normal tes bisik 6 m.

Syarat melakukan tes bisik :


1.Ruangan
a.Harus ada jarak minimal 6 m (satu
sisi/diagonal)
b.Harus sunyi dan tidak bergema
2.Pemeriksa :
Harus mengucapkan kata-kata dengan
menggunakan cadangan udara paru
sesudah ekspirasi normal
3.Penderita :
a.Telinga yang akan dites menghadap
pemeriksa
b.Non test ear (telinga yang tidak
diperiksa) ditutupi dengan kapas yang
dibasahi dengan minyak, atau tragus

17
digerakkan (untuk masking) ke atas dan
ke bawah.
c. Mata penderita tidak boleh melihat
mulut pemeriksa
d.Kata yang didengar diulang dengan
suara yang keras.
4.Kata
a.Harus memakai 1 suku kata, tapi dalam
bahasa Indonesia sulit memakai kata
yang bersuku 1, oleh karena itu dipakai
kata dengan 2 suku.
b.Kata harus dimengerti oleh penderita
c. Kata dibagi atas :
i. Yang mengandung huruf lunak
(m,n,l,d,h,g,dll)
ii. Yang mengandung huruf desis
(s,c,f,j,v,z)

Pelaksanaan :
- Penderita berdiri/duduk di salah satu sudut
ruangan. Mata ditutup, telinga yang akan
dites menghadap ke pemeriksa.
Diterangkan cara-caranya pada penderita.
Ulangi kata yang didengar dengan ucapan
yang keras.
- Pemeriksa berdiri pada jarak 6 meter dan
mulai membisik.
- Sebut 10 kata : hitung berapa kata yang
diulangi tanpa salah (normal 80%), yaitu 8

18
dari 10 kata atau 4 dari 5 kata: bila belum
dapat mendengar pada jarak ini, pemeriksa
maju lagi 1 meter.
- Hasil tes bisik :
Ka Ki
d d
v
I I
 Apabila penderita tidak/kurang mendengar
huruf desis  tuli persepsi (ggn pd telinga dlm
keatas)
 Apabila penderita tidak / kurang mendengar
huruf lunak  tuli konduksi
 Apabila pada jarak 5 m penderita belum
bisa mendengar, pemeriksa maju 2 m lagi,
atau bila perlu, sampai berbisik di depan
telinga
 Apabila ia hanya bisa mendengar di depan
meatus  ad concha
 Apabila tidak mendengar di depan telinga 
pendengaran O.

TES KONVERSASI
Caranya sama, menggunakan percakapan
biasa. Hasilnya dituliskan sbb :
Ka Ki
d d
v

19
I I
s

TES DENGAN
GARPU TALA
Bunyi : ditumbulkan oleh getaran
C A B Gerakan titik A B A C A  1
getaran = 1 periode = 1 gerak = 1
double vibration

Frekuensi : jumlah getaran dalam 1 detik =


cycle per second. Satuannya = Hz.
Nada : bunyi tunggal dengan frekuensi
tertentu.
Tinggi rendahnya nada ditentukan
dengan frekuensi. Makin tinggi
frekuensi berarti makin tinggi nada,
sedangkan makin kecil frekuensi
berarti makin rendah nada.
Amplitudo : jarak AB atau AC
Besar amplitudo : menentukan keras lembutnya
suatu nada, intensitas diukur dalam
dB.
Telinga normal : 20 – 20.000 Hz
Ortu/bayi : 16 – 16.000 Hz.

20
Tes garputala terdiri dari :

1. Tes Schwabach
Dasar : gelombang endolimf dapat ditimbulkan
oleh :
- Getaran melalui udara
- Getaran melalui tulang

Normal : garputala mempunyai frekuensi 256


atau 512 Hz dan jika melalui tulang  lamanya
70 detik.
- tuli konduksi : > 70
- tuli persepsi : < 70

Tujuan :
Untuk membandingkan penghantaran bunyi
melalui tulang penderita dan pemeriksa.

Caranya :
Garputala digetarkan (256 atau 512 Hz) lalu
duletakkan tegak lurus pada planum mastoid
pemeriksa. Apabila bunyi sudah tidak didengar
lagi, segera garputala diletakkan pada planum
mastoid penderita. Sesudah itu, lakukan hal itu

21
sekali lagi tetapi sebaliknya lebih dahulu ke
telinga penderita lalu ke telinga pemeriksa.
Lakukan cara ini untuk telinga kiri dan kanan.

Hasil :
Pemeriksa Penderita
Normal - -
- -
Tuli konduksi - +, Schwabah
memanjang
- -
Tuli persepsi - -, Schwabah
memendek
+ -

2. Tes Weber
Dasar : Getaran melalui tulang akan diteruskan
ke seluruh bagian tulang tengkorak.

Tujuan : Membandingkan penghantaran bunyi


melalui sebelah kanan/kiri penderita.

Cara : Garputala digetarkan kemudian


diletakkan tegak lurus pada garis tengah
kepala. Mis: dahi, ubun-ubun, rahang, kemudian
suara yang paling keras di kiri atau kanan.
Hasil :
Ada beberapa kemungkinan:

22
- Bisa telinga kiri dan kanan sama keras
terdengarnya, maka ini bisa berarti :
o Normal
o Ada gangguan pendengaran yang
jenisnya sama
- Bisa kiri > kanan atau kiri < kanan
Lateralisasi ke kanan berarti :
o Adanya tuli konduksi sebelah kanan
o Telinga kiri dan kanan ada tuli konduksi,
tetapi yang kanan lebih berat dari yang
kiri.
o Terdapat tuli persepsi di sebelah kiri
o Keduanya tuli persepsi
o Keduanya tuli persepsi, lebih berat yang
kiri
o Kedua telinga tuli, kiri tuli persepsi,
kanan tuli konduksi.

3. Tes Rinne
Dasar : Getaran yang melalui udara adalah
lebih baik daripada yang melalui tulang  140
detik.

Tujuan : Membandingkan penghantaran bunyi


melalui tulang dan melalui udara pada
penderita.
Caranya :

23
Garputala digetarkan kemudian diletakkan
tegak lurus pada planum mastoid. Bila bunyi
sudah tidak terdengar lagi letakkan tegak lurus
di depan meatus acusticus externa. Waktu
garpu tala ditempatkan pada planum mastoid 
ini disebut posisi I. Sedangkan pada waktu
garputala diletakkan pada meatus acusticus
externa  disebut posisi II.

Hasil :
1. Kalau pd posisi II masih terdengar bunyi 
Rinne +
2. Kalau pd posisi II tidak terdengar bunyi 
Rinne –
3. Kalau pd posisi I terdengar berlawanan 
Rinne ragu-ragu.

Normal : Rinne +
Tuli konduksi : Rinne –
Tuli persepsi : Rinne +, Rinne
pseudonegatif,
Rinne ragu-ragu.

24
4. Tes untuk menentukan batas
pendengaran

Tujuan :
Untuk membandingkan penghantaran udara
antara pemeriksa dan penderita.
Tes ini menggunakan 1 set garputala, mulai dari
frekuensi 16, 32, 63, 128, 256, 512, 1024, 2048,
4096 Hz.

Caranya :
Garputala digetarkan dengan ujung jari
kemudian didengar oleh pemeriksa. Disini
pemeriksa harus normal pendengarannya.
Setelah pemeriksa hanya mendengar sayup-
sayup, garputala itu dipindahkan pada posisi
yang sama pada penderita. Kemudian
ditanyakan apakah penderita masih mendengar
atau tidak. Disini kita mencari nilai ambang. Jadi
semua garpu tala mulai dari frekuensi yang
terendah sampai yang tertinggi harus
digetarkan kemudian didengarkan satu per satu.
Ini dilakukan pada masing-masing telinga
sampai selesai, missal jika dilakukan pada
telinga yang kiri, harus kiri seterusnya sampai
selesai, baru telinga yang kanan.

25
Batas bawah : frekuensi yang terendah yang
masih dapat didengar oleh penderita. Secara
teoritis, frekuensi yang dimaksud adalah 16, 32,
64, tetapi sebenarnya getaran pada frekuensi-
frekuensi tersebut tidak dapat didengarkan,
hanya dapat dirasakan : dan baru mulai
terdengar pada frekuensi 128.

Nada rendah : frekuensi 16 sampai 256; ini


tidak akan didengar oleh penderita yang tuli
konduksi. Dan keadaan ini disebut  batas
bawahnya naik.

Batas atas : frekuensi tertinggi yang


didengar oleh penderita. Pada tuli persepsi
dikatakan batas atas menurun dimana penderita
tidak dapat mendengar frekuensi 4000 dan
2000.

26
TES DENGAN
AUDIOMETER
Audiometer termasuk dalam audiologi :
Audiologi : ilmu yang mempelajari tentang seluk
beluk pendengaran.
Audiometri : pemeriksaan seseorang dengan
menggunakan alat elektroakustik
Audiometer : alat elektronik yang dipakai untuk
pemeriksaan pendengaran
Audiogram : gambar hasil pendengaran dengan
audiometer

Ada yang membagi audiometer untuk orang


dewasa dan untuk anak-anak. Dan untuk orang
dewasa masih terbagi lagi atas :
- Subjektif :
o Pure Tone Audiometri (audiometri nada murni)
o Speech Tone Audiometri (audiometri nada tutur)
- Objektif :
o Impedance Audiometri  khusus untuk tuli
konduksi
o Elekro Receptive Audiometri  khusus untuk tuli
persepsi.
Pure Tone Audiometri
Disini pemeriksaan pendengaran memakai
alat elektroakustik yang menghasilkan pure

27
tone (nada murni) mulai dari frekuensi 125
sampai 8000 Hz. Ang diukur adalah nilai
ambang melalui udara (air conduction
threshold) dan nilai ambang melalui tulang
(bone conduction threshold).

Syarat pemeriksaan :
- Ruangan yang dipakai harus sunyi,
idealnya memakai soundproof room.
- Memakai audiometer sensitive dan
didengar dengan seksama
- Pemeriksaan dilakukan oleh orang yang
mengetahui tentang pemeriksaan.

Audiometer merupakan elektroakustik yang


dapat mengeluarkan nada-nada tunggal dengan
frekuensi dan intensitas yang dapat diukur.
Komponen utama audiometer :
1. Sumber getaran (oscillator)
2. Peredam intensitas (attenuator)

Sumber getaran untuk nada murni adalah


sebuah alat yang disebut oscillator. Bila
seseorang pemeriksa menginginkan suatu bunyi
dengan frekuensi tertentu, dapat diperoleh
dengan memutar tombol yang menunjukkan
frekuensi yang dimaksud. Kemudian dengan
menekan tombol penyaji, bunyi itu dapat
diterima oleh penderita melalui sebuah

28
headphone untuk penghantaran udara.
Sedangkan untuk penghantaran tulang
memakai vibrator. Audiometer menghasilkan
frekuensi 125, 250, 500, 1000, 2000, 4000,
6000, 8000 Hz. Sedangkan untuk vibrator hanya
dapat menghasilkan frekuensi 250 sampai 4000
Hz.

Tehnik pemeriksaan :
Kita cari nilai ambang untuk tiap frekuensi.
Dimulai dengan frekuensi 1000 Hz; oleh karena
dikatakan bahwa frekuensi ini paling sensitif,
kemudian frekuensi 2000, 4000, 6000, 8000 Hz.
Kemudian balik lagi pada frekuensi 1000, turun
500, 250, 125 Hz. Mulai dilakukan pada telinga
yang lebih baik pendengarannya. Diperiksa dulu
air conduction dengan memakai earphone,
kemudian setelah selesai pada kedua telinga
dengan semua frekuensi, periksa bone
conduction dengan memakai vibrator yang
diletakkan pada planum mastoid penderita. Dan
ada juga tombol tersendiri yang mengatur bone
atau air condition. Apabila penderita mendengar
bunyi maka ia harus memberi isyarat dengan
mengangkat tangan atau menekan tombol
khusus, sampai bunyi itu tidak terdengar lagi.
Hasil pemeriksaan dicantumkan pada kertas
yang disediakan dan hasilnya akan berupa

29
grafik yang akan digambar oleh pemeriksa.
Biasanya audiogram ini digambarkan yaitu :
- Frekuensi pada axis
- Intensitas pada ordinat.

Telinga kanan :
- Pada air conduction: ditandai dgn : 0 - - - 0
- - - 0 (merah)
- Pada bone conduction ditandai dg : 1 - - - 1 - -
- 1 (merah)

Telinga kiri :
- Pada air conduction: ditandai dgn : x - - - x
- - - x (biru)
- Pada bone conduction ditandai dg : I - - - I - - -
I (biru)

Apabila terdapat perbedaan yang besar


antara ketajaman telinga kanan dan kiri, maka
untuk non test air kita gunakan masking,
supaya telinga yang lebih baik pendengarannya
tidak ikut mendengar. Dalam audiometer ada
white noise, yaitu kumpulan bunyi dengan
macam-macam intensitas tertentu. Misalnya:
telinga kanan tuli berat dan telinga kiri tuli
ringan/normal. Maka jika melakukan
pemeriksaan terhadap telinga kanan, maka
telinga kiri harus di masking.

Yang dapat dibaca pada audiogram :

30
1. Derajat ketulian. Yang representative
adalah frekuensi 500, 1000 dan 2000 Hz.
Ketiga nilai ambang dari frekuensi ini
dibagi 3, hasilnya itu adalah rata-rata.
0-15 dB  normal
15-30 dB  tuli ringan
30-60 dB  tuli sedang
60-80 dB  tuli moderat
> 80 dB  tuli berat

2. Macam ketulian. Tuli konduksi, persepsi


atau campuran.
a.Tuli konduksi :
i. Bone conduction threshold : normal
ii. Air conduction threshod : menurun
Sehingga terdapat kesenjangan antara
bone conduction dan air conduction,
atau dikatakan air-bone gap.
b.Tuli persepsi :
i. Bone conduction threshold :
menurun
ii. Air conduction threshold : menurun
Biasanya bone conduction lebih tinggi
sedikit dari air conduction, tetapi kira-
kira pada level yang sama.
c. Tuli campuran :
i. Bone conduction threshold :
menurun
ii. Air conduction threshold : menurun

31
Biasanya air conduction lebih jelek
daripada bone conduction, sehingga
masih terdapat sedikit gap.

Audiometri Nada Tutur


(Speech Audiometri))

Kelemahan dari audiometri nada murni yaitu


yang diperiksa hanya nada-nada saja, dan ini
sebenarnya fisiologis untuk pendengaran,
karena nada-nada itu bukan bahasa. Pada
speech audiometri yang disajikan adalah kata-
kata. Kata-kata yang digunakan adalah kata-
kata untuk frekuensi percakapan, yaitu dengan

32
frekuensi 500, 1000, dan 2000 Hz. Disini alat
yang diperlukan :
- Ruang kedap suara
- Speech audiometri
- Tape recorder dengan rekaman kata-
kata L (untuk Indonesia digunakan
Gajah Mada Phonetically Balanced List).
- Kartu yang berisi kata-kata yang sesuai
dengan daftar kata-kata pada kaset.
- Formulir speech audiogram.

Caranya :
Telinga kiri dan kanan di test secara
terpisah/bergantian. Rekaman kata melalui tape
recorder dihubungkan melalui tape recorder dan
pendrita disuruh mengulangi kata-kata yang
didengar. Apabila tidak jelas mendengar, ia
boleh menebak. Disini akan dicari 3 titik penting
:
1. Titik 0% : Ini didapat pada intensitas
tertentu dimana penderita mulai
mendengar suara.
2. Speech reception threshold : titik ini
didapatkan apabila intensitas ditingkatkan,
maka pada intensitas tertentu penderita
dapat menirukan kata-kata sebanyak 50%.
3. Speech Discrimination Score : titik ini
didapatkan apabila dinaikkan sekitar 25-45

33
dB diatas SRT, maka diharapkan penderita
dapat menirukan dengan benar 90-100%.

Interpretasi :
Normal :
SDS sekitar 90-100%, didapatkan intensitas <
60 dB
SRT < 30%
0% 10-15%

Apabila ada gangguan tuli konduksi, maka


SDS kalau diberikan 60 dB, tidak akan mencapai
100%. Tapi apabila intensitas suara ditingkatkan
maka akan tercapai sampai kira-kira 100%.
Pada tuli konduksi, grafik akan bergeser ke
kanan.
Sedangkan pada tuli persepsi, SDS tidak
akan tercapai, atau dikatakan < 80%, bahkan
bisa menurun sampai 0%.Meskipun intensitas
suara ditingkatkan, SDS tidak akan mencapai
normal, malahan menjadi lebih buruk.
Pada tuli campuran, bila intensitas suara
ditingkatkan, SDS akan meningkat tapi tidak
memuaskan seperti pada tuli konduksi.

Petunjuk SDS menurut Hopkinson dan


Thompson :
80-100% : normal atau tuli konduksi

34
50-80% : tuli campuran presbyaccusis tapi tidak
disertai kelainan congenital
22-48% : ditemukan pada kelainan cochlea
< 22% : ditemukan pada kelainan retro cochlea

Kegunaan Speech Audiometry :


1. Dapat menentukan jenis ketulian
(konduksi, persepsi, campuran)
2. Menentukan lokasi dari penyebab
ketulian/kerusakan : telinga luar, tengah,
dalam, retrocochlear.
3. Menentukan kenaikan ambang
pendengaran setelah operasi
tympanoplastic
4. Untuk memilih alat pembantu
pendengaran (hearing aid) yang cocok.

Kelemahannya :
Tidak dapat mengetahui ketulian pada frekuensi
< 500 Hz atau > 2000 Hz (tuli karena
kebisingan atau keracunan obat  4000 Hz).

35
PENYEBAB KETULIAN /
GANGGUAN
PENDENGARAN
Berdasarkan waktu terjadinya gangguan
pendengaran, kita bagi ketulian atas:
1. Kongenital
Terjadinya ketulian sejak lahir, terbagi atas :
A. Herediter :
Terjadi aplasia atau agenesis. Disini
tidak terbentuknya telinga dalam dan sering
juga dengan tidak disertai beberapa organ
tubuh, sehingga manifestasi ini disebut
sindroma, yaitu :

Syndroma Modini :

36
Tidak terbentuknya dengan sempurna
labyrinth bagian tulang dan bagian
membran.

Syndroma Scheibe :
Disini labyrinth membran terjadi aplasia.

Syndroma Alexander :
Cochlea bagian membran terjadi aplasia
Oleh karena sindroma ini biasanya
bersamaan dengan organ lain, misalnya
jantung atau ginjal, sehingga dapat terjadi
tuli total. Dan karena ini merupakan
kumpulan gejala, maka orang ini tidak
bertahan hidup.

Abiotrofi / Tuli Heredo Degenerasi /


Tuli Heredo Degenerasi Saraf.

Tuli akibat saraf pendengaran, sehingga


kadang-kadang disebut pre senile familial
deafness. Disini terjadi proses degenerasi
yang progresif pada cochlea dan bisa terjadi
pada waktu anak-anak atau sesudah usia
dewasa.

Aberasi / Penyimpangan Kromosom


/ Trisomi.

37
Disini terjadi ekstra kromosom yang
menyebabkan anomaly sehingga
menyebabkan ketulian. Yang tersering
adalah trisomi 12 dan 18 atau golongan D
dan E. Biasanya terjadi juga kelainan pada
organ vital lain, dimana anak tidak dapat
bertahan hidup.

B. Prenatal (waktu kehamilan intrauterine)


Gangguan pendengaran akibat ibu hamil
mengalami keracunan obat-obatan
golongan streptomycin, kinine,
aminoglikoside dan derivatnya, preparat
salisilat, preparat Pb, dll. Juga penyakit pada
ibu hamil  Toxemia Gravidarum /
Hyperemis Gravidarum.

C. Bila ibu hamil terserang virus


Misalnya rubella (jarang di Indonesia),
parotitis epidemica, influenza, dan penyakit
virus lainnya. Penyakit menahun seperti DM,
tirotoksikosis, lues. Selain penyakit-penyakit
tersebut diatas, ada beberapa factor yang
menyebabkan anoksia (akibat tali pusat
melilit), narkose sewaktu ibu hamil;
kemudian pada waktu lahir (perinatal)
misalnya oleh karena trauma pada waktu

38
lahir, baik oleh alat yang membantu
persalinan, persalinan yang sukar dan lama.
Anoksia oleh karena lingkaran tali pusat
menyebabkan terjadinya obstruksi jalan
napas, dan ini mengancam gangguan pada
telinga dalam.

2. Tuli didapat ((acquisita))


Bisa terjadi tuli konduksi ataupun
persepsi. Pada tuli yang didapat, bisa tuli
konduksi, tuli persepsi atau keduanya.

Tuli konduksi : kelainan pada telinga luar dan


pada telinga tengah.
Pada telinga luar : oleh karena :
- Atresia
- Benda asing
- Infeksi kronis
- Tumor
Pada telinga dalam :
- Kelainan membran tympani : ruptur krn
dikorek-korek, barotraumas, trauma capitis,
radang.
- Kelainan cavum tympani : OMA, OMK
- Gangguan tuba eustachii.

Tuli persepsi :

39
Akut
1.Trauma :
a.Rudapaksa / kecelakaan ruptura
labyrinth
b.Operasi
2.Radang :
a.Infeksi bakteri
b.Komplikasi penyakit virus
3.Tumor :
a.Akustik neuroma
b.Tumor sudut cerebellum ponti
4.Lain-lain :
a.Otostosik
b.Endolimfatik hidrops
c. Gangguan vaskuler
d.Cochleaotosklerosis
e.Psikogen
f. Idiopatik

Kronik
- Presbiacusis
- Tumor
- Keracunan obat
- Komplikasi otitis media kronik
- Menierie disease
- Penyakit sistemik : lues, diabetes,
penyakit kolagen.

40
PENYEBAB KETULIAN
Diperlukan :
1. Anamnesa yang luas tentang riwayat
terjadinya gangguan pendengaran
2. Pemeriksaan THT umum dan khusus
3. Pemeriksaan penunjang (roentgen foto,
dsb)

Gejala dan tanda :

1. Tuli konduksi (CHL)


Transmisi gelombang suara tidak
mencapai telinga dalam secara efektif.

Gejala :
- Riwayat otorhea (infeksi telinga
sebelumnya)
- Perasaan seperti ada cairan di dalam
telinga
- Terjadi tiba-tiba oleh karena dikorek-korek
atau masuk air
- Dapat disertai tinnitus (nada rendah)
- Jika telinga kiri dan kanan yang terkena 
penderita bicara dengan suara pelan (soft
voice) misalnya otosklerosis

41
- Kadang-kadang mendengar suara lebih
jelas pada suasana ramai (parokokis
wilisians)
Tanda :
- Sekret telinga oleh karena terjadi
perforasi membran tympani
- Kadang-kadang telinga luar/membran
tumpani  normal
- Tes fungsi pendengaran :
o Tes bisik < 6 m : nada rendah sukar
o Garputala :
 Rinne (-)
 Webber lateralisasi kearah sakit
 Schwabach memanjang
o Audiogram :
 BC normal  ada airborne ap > 15
dB
 AC ↓
 Nada tutur :
• Nilai ambang bergeser ke kanan
pada audiogram
• Nilai diskriminan (SDS) dapat
melampaui 100% jika intensitas
suara diperkeras.

42
2. Tuli persepsi (SNL)
- Sering dijumpai
- Terutama pd pekerja industri, dan pada
orang tua
- Umumnya irreversible

Gejala :
- Jika bilateral dan sudah berlangsung lama,
percakapan harus lebih keras
- Sukar mendngar pada suasana gaduh
- Riwayat trauma kepala, trauma akustik,
alat-alat ototoksik, penyakit sistemik

Tanda :
- Fisik : telinga luar (membran tympani) 
normal
- Test pendengaran :
o Tes bisik < 6 m. Sukar mendengar kata-
kata dengan nada-nada tinggi.
o Garputala :
 Rinne (+), pseudonegatif, ragu-ragu
 Webber lateralisasi kearah sehat
 Schwabach memendek, batas atas
menurun
o Audiometri nada murni :
 Nilai ambang BC dan AC menurun
 Letak berat mengenai frekuensi
tinggi

43
 Kadang menurun pd frekuensi 4000
Hz
 Nada tutur :
• SDS tidak mencapai 100%
• Adanya recruitment

3. Tuli campuran
Merupakan kombinasi tuli persepsi dan
tuli konduksi. Mula-mula berupa tuli konduksi
yang berkembang mejadi tuli persepsi, ataupun
sebaliknya; misalnya:
- Presbiacusis : otitis media
- Trauma kepala yang kuat yang mengenai
telinga luar dan dalam.

Gejala :
Tergantung mana yang lebih dulu terjadi
atau bersamaan.

Tanda :
- Fisik : SNHL atau CHL
- Test pendengaran :
o Tes bisik < 6 m. Sukar mendengar kata
dengan huruf desis / lunak (nada rendah
/ tinggi).

o Garputala :
 Rinne (-)
 Webber lateralisasi kesisi sehat

44
 Schwabach memendek

- Audiometri nada murni


o Penurunan nilai ambang tulang dan
udara tapi ada gap > 15 dB
o Nada tutur : nilai diskriminan menurun,
tetapi tidak mencapai 100%, jika
intensitas suara ditingkatkan, ada
perbaikan tapi tidak mencapai 100%.

PATOLOGI MEATUS
ACUSTICUS EXTERNA
(MAE)

45
ATRESIA MAE
Bisa terjadi secara congenital, bisa terjadi
scara acquisita. Pengertian atresia sendiri
adalah tidak terdapatnya lumen (ini harus
dibedakan dengan stenosis).
Stenosis : lumen ada, tetapi menyempit.
Stenosis umumnya tergolong acquisita.
Beberapa penyebab menyempit/tertutupnya
meatus:
1.Adanya laceratio
2.Komplikasi dari operasi mastoid
(mastoidektomi)
3.Akibat kontak dari suatu korosif agen
4.Otitis eksterna yang kronis

Terapi:
Dilakukan dilatasi lumen yang
sempit/tertutup; biasanya digunakan tube dari
karet atau plastik. Kalau dengan cara ini tidak
berhasil, dilakukan suatu tindakan operasi,
dimana kita melebarkan meatus dengan
mengambil sebagian tulang yang merupakan
kerangka dari meatus akustikus eksterna.
CERUMEN OBTURANS

Adalah cerumen yang menyebabkan


penyumbatan. Dalam keadaan normal, kulit dari
pars cartilaginous (yang terdapat 1/3 lateral dari

46
meatus) didapati kelenjar sebasea dan kelenjar
ceruminalis yang memproduksi suatu material
yang disebut cerumen. Cerumen konsistensinya
agak cair dan berwarna coklat. Dengan gerakan
yang teratur dari medial ke lateral, dari epitel
meatus akustikus eksterna, cerumen ini akan
dikeluarkan.Tetapi pada keadaan-keadaan
tertentu bisa terjadi penumpukkan/penimbunan
cerumen di dalam meatus acusticus ekstena.
Cerumen yang tertimbun ini akan menyebabkan
timbulnya gejala. Gejala ini disebut sebagai
cerumen obturans.
Gejala-gejala yang dapat ditemukan adalah:
1. Penderita mengeluh pendengaran
berkurang (gangguan ringan sampai
sedang, tergantung penutupannya).
2. Tinitus (bunyi di telinga)
3. Rasa sakit/nyeri di dalam telinga, biasanya
karena terjadi dermatitis dari kulit yang
menutupi meatus acusticus eksterna.
Terapi:
Cerumen bisa dikeluarkan dengan alat
pengait, dengan syarat penerangan ke dalam
meatus harus baik (menggunakan lampu kepala
 head lamp). Kalau cerumennya lembek,
biasanya mudah dikeluarkan dengan melakukan
irigasi atau dipompa dengan air hangat, kadang-
kadang penderita datang dengan cerumen yang
keras dan kering sehingga sulit dikeluarkan

47
dengan alat pengait. Pada keadaan seperti ini,
penderita diberi obat tetes telinga semacam
minyak untuk melembekkan cerumen ini
(biasanya dipakai larutan Otalgin  Gliserin
antipirin). Gliserin : penghancur cerumen;
Antipirin : penghilang rasa sakit. Otalgin
diberikan 3-4 kali sehari. Setiap penderita bisa
diberikan 5 tetes. Ini bisa diberikan selama 5
hari sampai 1 minggu. Setelah itu bisa dilakukan
irigasi atau dipompa, dimana cerumen bisa
keluar dengan sempurna. Yang harus
diperhatikan sewaktu menggunakan alat
pengait, jangan terlalu banyak menyentuh
dinding meatus, karena akan terjadi rangsangan
pada N. X  terjadi refleks vagal dan penderita
akan kolaps.

KERATOSIS OBTURANS
Merupakan suatu massa seperti
cholestotatoma yang terdapat di dalam meatus
akustikus eksterna bagian dalam. Massa ini
tediri dari epitel skuamous yang mengalami
deskuamasi, dan warnanya putih. Biasanya
ditemukan bersamaan dengan cerumen.
Keratosis disini bisa menyebabkan erosi dari
meatus, dari bagian dalam sampai mencapai

48
tulang yang merupakan kerangka dari meatus.
Kalau kita mengeluarkan massa, biasanya akan
tampak bahwa meatus tersebut sudah
mengalami pelebaran. Kadang-kadang bisa
terjadi perforasi dari membran tympani. Hal ini
terjadi oleh karena tekanan yang berlangsung
dalam waktu yang lama oleh massa yang
dibentuk epitel skuamous tadi.

Sebagai penyebab dari keratosis ini adalah:


1.Deskuamasi epitel yang abnormal
2.Bersamaan dengan cerumen obturans
sehingga timbul penimbunan epitel
3.Terdapatnya mukosa respiratorius yang
abnormal pada kulit meatus acusticus
eksterna.

Gejala:
Gejala yang menonjol yang dirasakan
penderita adalah pendengaran yang berkurang.
Kalau keratosis sangat banyak, maka
pendengaran akan sangat berkurang. Gejala
lain adalah rasa sakit di dalam telinga.

Terapi:
Satu-satunya terapi adalah mengeluarkan
massa keratosis, bisa dengan alat pengait, dan
kalau tidak berhasil dengan cara ini, bisa

49
dilakukan irigasi (seperti pada cerumen
obturans). Kadang-kadang tindakan ini sukar
dilakukan, karena penderita merasa sakit, jadi
penderita harus di anastesi umum. Biasanya
digunakan injeksi ketaminex HCl (Ketalar);
merupakan anastesi yang baik yang digunakan
dalam waktu singkat (15-30 menit).

TRAUMA MEATUS ACUSTICUS


EXTERNA
DAN MEMBRAN TYMPANI
Beberapa penyebab trauma dan yang paling
sering adalah:
1. Kebiasaan mengorek telinga atau meatus
yang dikorek oleh orang lain (pada tukang
cukur), bisa juga oleh tindakan manipulasi
oleh dokter sendiri
2. Trauma kapitis
3. Trauma akibat tekanan dalam meatus yang
cukup tinggi, misalnya oleh pukulan
langsung dalam meatus.

50
4. Menyelam (diving), atau oleh bunyi suara
yang cukup keras dan mendadak
(petasan), atau tekanan udara yang cukup
tinggi (barotrauma).

Gejala : (yang menonjol)


1.Perasaan sakit yang mendadak dan hebat,
timbulnya tiba-tiba
2.Biasanya diikuti dengan perdarahan dari
bagian dalam meatus akustikus eksterna.
3.Adanya tinnitus yang menyebabkan
terjadinya gangguan pendengaran
(ketulian). Ketulian ini biasanya pada kasus
dengan ruptur dari membran tympani.
Pemeriksaan :
Dinding meatus akan didapatkan suatu
ekskorisasi, khususnya jika terjadi trauma tajam
yang langsung mengenai kulit meatus acusticus
eksterna. Kalau kita melihat membran tympani,
akan didapati rupture atau lobang yang
bentuknya tidak teratur, dan pada pinggiran
tepi membran yang berlobang akan ditemukan
bercak-bercak darah. Membran ini sendiri terdiri
dari banyak pembuluh darah, yang kalau pecah
akan menyebabkan perdarahan. Ini perlu
dibedakan dengan perforasi dimana disebabkan
oleh proses radang yang berasal dari otitis
media. Gambaran lobang yang terjadi adalah
licin dan pinggirannya teratur. Kalau membran

51
tympani sudah berlobang, biasanya refleks
cahaya negatif. Pada kedua keadaan ini terjadi
gangguan pendengaran akibat kerusakan itu.

Terapi:
Membersihkan (toilet) dari meatus acusticus
externa dari bekuan darah atau material lain; ini
dilakukan sampai bersih. Disini digunakan lidi
kapas (aplicator) dan tidak boleh dilakukan
irigasi. Setelah dilakukan toilet dari meatus,
meatus ditutupi oleh haas steril selama 3-4
hari.Setelah itu penderita diberikan antibiotika
untuk mencegah terjadinya infeksi sekunder.
Kalau terasa sakit diberi analgetik. Pemakaian
obat tetes telinga tidak dianjurkan. Karena yang
ditakutkan, kalau terjadi rupture membran, obat
ini akan membawa kuman masuk ke dalam
cavum tympani, dan ini dapat menyebabkan
komplikasi berupa otitis media.

52
OTITIS MEDIA
Dapat primer di meatus acusticus eksterna atau
manifestasi dari penyakit kulit.

Klasifikasi:
1. Otitis eksterna circum dan cripta 
berbatas jelas (furunculosis)
2. Otitis eksterna difusa
Newson mengklasifikasikan dalam 2
kelompok:
- Infeksi
 Bakterial
 Fungal
 Viral
- Reaktif
 Eczema
 Dermatitis seboroik
 Neuro dermatitis

53
OTITIS EXTERNA CIRCUM &
CRIPTA
Definisi:
Infeksi folikel rambut oleh staphylococcus,
lokasi pada meatus acusticus externa pars
cartilago.

Faktor yang berpengaruh:


- Korek telinga
- Maserasi kulit oleh karea pus, secret, air
yang masuk MAE
- Diabetes, alergi

Patologi:
- Mula-mula infiltrat subcutis dari MAE, bisa
satu atau multiple
- Bila dibiarkan, beberapa hari  abses
- Pada pemeriksaan sekitar furunkel  udem
 lumen MAE sempit
- Pembengkakan di muka dan di belakang
telinga (tergantung lokalosasi furunkel).

54
Gejala:
- Nyeri telinga spontan atau nyeri timbul bila
tragus ditekan, auriculum ditarik, atau luka
mulut/mengunyag.
- Cephalgia, tidak bisa tidur, febris
- Bila ada udem hebat  gangguan
pendengaran
- Dalam kasus yang hebat, udem sampai di
belakang teligna sehingga posisi auricular
terdorong ke depan. Sulcus datar dan
merah.

Diagnosa :  pemeriksaan
- Adanya pembengkakan, merah, pada pars
cartilage MAE 1/3 lateral
- Membran tympani normal
- Nyeri tekan tragus atau jika auriculum
ditarik
- Pembengkakan kelenjar limfe di depan
tragus, di bawah atau di belakang;
pembengkakkan di belakang telinga 
Mastoiditis Akuta (komplikasi OMK).

Terapi :
- Lokal: kompres solution Burowi (Pb
acetate) yang disaring hingga menjadi
hipertonik

55
- Masukkan tampon gaas pada MAE, tetesi
tiap 3 jam  2x24 jam
- Kausal  antibiotik (penicillin)
- Simptomatik

FURUNCEL
DD MASTOIDITIS AKUTA
MAE
Lamanya Beberapa hari Bbrp mgg / didahului
peny OM
Otore Tidak ada Beberapa mgg/bulan
Rasa sakit Jika auriculum / Planum mastoid nyeri
tragus ditekan tekan
Pendengaran Baik/sehat/kura Sangat berkurang
ng
X-foto Cellulae Cellulae mastoid kabur
mastoid normal

56
OTITIS EKSTERNA
DIFUSA
Faktor yang berpengaruh:
1.Eksogen:
a. Korek telinga  trauma local
b.Nanah akibat otitis media
c. Fornix caseosa pada bayi
d.Cuaca yang panas, lembab dan
berenang
Dulu  trauma local  sedikit aberasi pada
kulit meatus  mudah diinvasi kuman (port
d’entry)

2.Endogen :
a.Alergi
b.DM

 Turut berpengaruh:
- Bentuk tabung yang buntu pada satu
ujung  ventilasi jelek; cairan yang masuk
tertahan  lembab  iritasi kulit MAE

57
- Adanya secret / secret mongering dalam
MAE, mempermudah tumbuh jamur, terlebih
di daerah tropis.

Patologi:
- Kuman penyebab kebanyakan merupakan
flora dominant atau staphylococcus aureus
- Bordetella Pertusis
- Bordetella Pyocyaneus
- Fungi : Aspergillus Niger dan Candida
Albicans

Gejala :
- Pendengaran berkurang oleh adanya
lamel/akumulasi secret dalam MAE
- Gatal
- Tunnitus aurion oleh karena adanya
lamel/secret pada membran tympani
- Otore (bentuk basah)
- Rasa tidak enak sampai nyeri pada telinga.

Ada yang membagi perlangsungan otitis


eksterna difusa atas 2 stadium:
1. Akut : rasa tidak enak sampai nyeri hebat di
sekitar telinga
2. Kronik : gatal dan pendengaran menurun

58
Pemeriksaan :
- Kering : adanya lamel pada meatus
sampai membran tympani
- Basah : adanya secret encer  pus
- Dinding meatus merah dan udem
(sampai membran tympani)
- Campuran : adanya lamel dan secret 
adanya debris seperti keju

Bila tumbuh jamur, permukaan lamel yang putih


menjadi hitam, atau secret warna putih, atau
hitam.

Terapi :
- Toilet telinga : mengeluarkan lamel atau
cairan / secret
- Bila ada merah dan oedem MAE,
masukkan gaas dalam MAE dan diberi obat
tetes yang mengandung antiseptic (vioform)
dan hidrocortison.
- Ada obat tetes yang mengandung
antibiotik (neomycin)  hati-hati bisa timbul
dermatisasi pada kulit MAE
- Jangan korek-korek telinga
- Fungi  beri obat spesifik antifungi.

59
OTITIS EXTERNA
BULLOSA &
MYRINGITIS BULLOSA
Dibagi atas 2 bentuk: Serosa dan Haemorrhagis

Patologi:
Terdapat bulla yang berisi cairan pada kulit MAE
(bagian dalam) dan membran tympani.

Etiologi:
- belum jelas
- infeksi virus (seperti common cold)

Gejala:
Rasa ada benda, atau nyeri yang kadang-
kadang hebat, diikuti otore, (bila pecah) dan
pendengaran agak berkurang.

Pemeriksaan:
- Adanya bulla kecil/besar, satu atau
beberapa
- Bila pecah, secret serous/haemorrhagis
(campur darah).

Terapi:

60
- Pemberian antibiotik tidak ada pengaruh
 untuk inflamasi sekunder
- Analgetik
- Toilet telinga

HERPES ZOSTER
OTICUS
- Herpes zoster dari ganglion geniculatum
- Lesi kulit  erupsi pada kulit meatus,
membran tympani, auriculum terutama
daerah lamellae
- Erupsi akan mongering dan timbul
crusta 7-10 hari
- Pada membran tympani mengandung
saraf sensoris yang sangat peka.

61
TUMOR MAE
- Benigna
o Papiloma
o Fibroma
o Chondroma
o Angioma
- Adenoma
o Sebaseus adenoma (paling sering)
o Seruminosa
- Osteoma
- Maligna
o Squamous cell carcinoma (paling sering)
o Basal cell carcinoma
o Adenocarcinoma

PENYAKIT AURICULUM
KONGENITAL

62
Kelainan Ringan
- DARWIN’S TUBERCLE : sedikit elevasi
bagian postero superior heliks
- WILDERMUTH ‘S EAR : anti helix lebih
menonjol dari helix
- LOBULUS TAK BERBENTUK / KECIL /
TERBELAH : garis terbelah arahnya vertical
- BAT EARS : auricle sangat menonjol
disertai dengan pertumbuhan rambut dan
gangguan perkembangan mastoid,
penonjolan berkurang.

Kelainan bersamaan dengan kelainan


kepala dan leher, kelainan gen dan
ketulian.
SYNDROMA TREACHER – COLLINS
Berupa:
- Kelainan mata
- Hipoplasia wajah dan mandibula
- Kongenital atresia MAE dan miksotia

Tumor kongenital
CONGENITAL AURAL FISTULA (Fistula Auris
Kongenital) :

- Gangguan penutupan branchial cleft I

63
- Nampak fistula (lubang dekat anterior
crus ascendens dari heliks (90%)
- Biasanya berupa kantong/bercabang-
cabang
- Dinding kantong dibentuk oleh
skuamous epitel
- Ada factor herediter

Gejala :
- Hampir tidak diketahui penderita
- Keluar secret, bau
- Bila ostim menutup  retensi secret 
seperti kista
- Kadang-kadang timbul infeksi  abses
- Bagian perauriculer  merah, bengkak,
sakit.

Terapi :
- Bila tidak ada infeksi  biarkan saja
- Bila infeksi : beri antibiotik dan analgetik
- Bila abses :
 Insisi
 Kompres rivanol 1% atau boorwater 3%

- Bila keadaan sudah tenang  operasi


 Melalui fistel disuntik methylen blue
2%

64
 Insisi kulit bentuk elips mengelilingi
fistel
 Kulit dipisahkandari fistel secara
tumpul  diangkat, jangan sampai ada
yang tersisa.
 Kadang-kadang sukar karena sangat
luas dan berada dekat dengan N VII.

AQUISITA

OTAHEMATOME (Hematoma Auris)


- Pembengkakan daun telinga  darah
terkumpul antara cartilage dan

65
perichondrium (bagian bertulang rawan)
sehingga terjadi penimbunan.
- Disebabkan trauma : bangun dari tidur
yang lama
- Kulit biasanya biru
- Tidak ada rasa sakit

Terapi :
- Aspirasi : pada hematome baru dan
kecil
- Incisi : pilihan terbaik untuk mencegah
rekurensi / residif
o Dilakukan sesteril mungkin
o Incisi sepanjang infeksi
o Isi : darah, bekuan darah dikeluarkan, curettage.
o Bebat tekan, lekukan isi gaas supaya tekanan
sebaik mungkin
o 2-3 hari bebat dibuka, luka incisi menutup

Prognosis :
Bila dibiarkan  organisasi  retraksi 
deformitas daun telinga  cauli flower ear.
Aspirasi  sering residif, oleh karena itu harus
di aspirasi ulangan, karena jalan infeksi dapat
menjadi perichondritis.

PSEUDOOTAHEMATOME
- Isi cairan limf (bukan darah)

66
- Warna kulit normal, tidak nyeri dan
tidak panas
- Etiologi  tidak jelas
- Terapi = othaematome

PERICHONDRITIS AURICULA
Infeksi dari perikondrium  terkumpulnya
cairan / nanah antara perikondrium dan
kartilago.
 perikondrium : pensuplai makanan untuk
kartilago

Etiologi :
Luka baker akibat kecelakaan, operasi atau
infeksi superficial yang menyebar ke dalam,
misalnya:
- Sekunder infeksi othematome
- Furuncel MAE

Gejala :
- Auriculum merah dan bengkak
- Pada perabaan : panas dan nyeri
- Pembengkakan pada bagian bertulang
rawan
- Mula-mula pembengkakan keras 
lama-lama terbentuk infiltrat  terbentuk
cairan serous pus (abses)  fluktuasi.
Kadang-kadang hanya sebagian kecil yang

67
kena, tapi dapat seluruh bagian tulang
rawan.
- Nyeri hebat
- Gejala umum : febris, nadi meningkat,
malaise (kadang-kadang).

Terapi :
- Membatasi sekecil mungkin area infeksi
- Pada permulaan :
o Antibiotik sistemik
o Local : kompres
o Jika terbentuk abses  insisi.

ERYSIPELAS
Adalah infeksi akut pada kulit oleh streptokokus

Gejala :
- Auriculum kulit kemerahan, oedema,
berupa suatu erupsi dengan batas jelas
- Kemerahan in tidak terbatas hanya pada
auriculum, dapat juga mengenai kulit
sekitarnya (pipi)
- Pada pemeriksaan : kulit teraba panas
- Panas badan tinggi, menggigil
- Nadi cepat

Terapi :
- Penicilin
- Simptomatik

68
- Lokal

TUMOR AURICULUM

Ada yang jinak dan ada yang ganas :


- Jinak
o Papiloma
o Fibroma
o Chondroma
- Ganas :
o Squamous cell carcinoma : pada
permukaan seperti ulkus / luka yang
mengalami indurasi. Bisa mulai dari
bagian bawah atau diatas auriculum
o Basal cell carcinoma : biasanya pada
daerah tragus, heliks atau pada
permulaan dari meatus
o Melanoma meligna.

69
Bila :
- Dislokasi auriculum (+)
- Sulcus retroauricularis (-)
- Hiperemi terlihat sekitar telinga

Prognosa :
- Baik  bila terjadi abses subperiosteal
- Jelek  jika terjadi komplikasi intracranial

Terapi :
Puskesmas :
Incisi abses subperiosteal (dalam sumsum
tulang)  rujuk ke RS.

70
1. Mastoidektomi simpleks (Schwartze) /
Cortical mastoidektomi
Prinsip operasi :
Membuat hubungan antara antrum
mastoidea dengan dunia luar serta
mengeluarkan jaringan patologi yang
terdapat dalam antrum dan selulae; Jadi
disini tidak dilakukan tindakan pada MAE (ini
hanya emergency  untuk persiapan
operasi selanjutnya).

Teknik operasi :
- Buat incisi kulit ← 0,5 cm dibelakang
sulcus retroauricularis melengkung
sepanjang ← 5 cm.
- Incisi diteruskan ke subcutis 
periosteum
- Tulang dipahat  cari antrum
- Antrum dibersihkan dari jaringan
patologi
- Pasang drainage karet  keluar melalui
planum mastoideus
- Luka pada kulit dijahit.

2. Mastoidektomi radikal
Prinsip :

71
Membuar hubungan antara antrum dan
selulae (cavum tympani) dengan dunia luar
secara permanent.
Teknik operasi :
- Operasi dimulai dengan mastoidektomi
simpleks
- Dilakukan pengangkatan dinding
belakang MAE
- Tulang pendengaran yang rusak
dikeluarkan (stapes sebagai penutup
dari foramen ovale  basis stapes)
- Terbentuk rongga baru yang besar,
karena terbentuk rongga baru yang
besar oleh :
 Antrum dan selullae mastoid
 Cavum tympani
 MAE
- Pasang tampon (keluar melalui MAE)
- Luka incisi dijahit.

Catatan :
- Drainage pada mastoidektomi simpleks
dipasang 3-5 hari sampai tidak ada lagi
cairan yang keluar.
- Tampon pada mastoidektomi radikal
dicabut sedikit demi sedikit (mulai hari ke-3
sampai hari ke-5)
- Operasi disini bertujuan mencegah
infeksi naik ke intracranial.

72
OTITIS MEDIA PURULENTA
KRONIK
Sampai saat ini OMPK masih banyak
ditemukan di Indonesia dan merupakan
problema di masyarakat karena :
- Dari segisocial : pendengaran menurun /
tuli
- Dari segi medis : menyebabkan komplikasi
yang mengancam jiwa
penderita yaitu komplikasi
intracranial.

Definisi :
Infeksi kronik atau menahun jaringan
mukoperiosteum jaringan aurius media yang
menyebabkan perubahan patologis (tidak akan
kembali lagi ke keadaan normal).

73
Faktor penyebab :
- OMPA
o Yang tidak diobati
o Dengan pengobatan yang tidak cukup
- Infeksi saluran napas bagian atas yang
berulang-ulang, mis : rhinitis akuta,
pharyngitis, adenoitis/adenotonsilitis,
sinusitis.
- Penyakit kronis (menyebabkan
berkurangnya daya tahan tubuh) mis: TBC,
Malaria, DM
- Gizi jelek
- Hygiene jelek

Etiologi :
Infeksi dapat terjadi melalui 2 cara :
1.melalui tuba eustachii (ISPA), kuman :
a.S. Haemolitikus
b.Pneumokokus
2. Dari MAE melalui perforasi  cavum
tympani, kuman :
a.Staphylococcus
b.Bacilus coli
c. Proteus

Bentuk-bentuk OMPK :
1. MESOTYMPANI / TUBOTYMPANAL /
OMPK BENIGNE / SAVE TYPE/ TYPE
AMAN

74
Infeksi terjadi berulang-ulang melalui tuba
eustachii
Patologi :
- Terjadi kerusakan mukosa telinga
tengah tanpa kerusakan tulang,
- Sekret berbentuk mukoid / lender
Perforasi menurut tempat  sentral
Permulaan perforasi terjadi pada kuadran
anteroinferior  membesar  bentuknya
seperti ginjal.

Gejala dan tanda :


Anamnesa :
• Sekret telinga :
o Mukopurulent
o Tidak berbau, keluar terus menerus
o Sekret intermitten (jika ISNA)
• Pendengaran : berkurang (ringan s/d
berat) tergantung perubahan patologis
yang terjadi pada jaringan
mukoperiosteum cavum tympani.

Pemeriksaan :
• MAE : secret mukopurulent
• Membrana tympani : perforasi besar 
bentuk bulat/ginjal, tapi perforasi menebal
warna merah.

75
• Kadang-kadang ditemukan jaringan
granular yang berasal dari cavum
tympani, bila jumlahnya banyak akan
keluar dari cavum tympani dan masuk ke
MAE (ini bisa menutupi MAE).

Prognosa :
Umumnya baik untuk jiwa penderita, karena
tulang tidak ikut rusak dan komplikasi jarng
terjadi.

2. ATICOANTRAL / UNSAFE TYPE /


MALIGNA / DANGEROUS TYPE / OMPK
BERBAHAYA
Perforasi membran tympani :
- Marginal
- Total
- Atic
Perforasi total / marginal merupakan
kerusakan membran tympani yang luas
dimana annulus tympani ikut rusak  epitel
MAE tumbuh  cavum tympani 
epitympanum  antrum dan cellulae
mastoidea.
Sifat epitel MAE yang tumbuh  bagian atas
yang terlepas kemudian diganti oleh bagian
bawahnya  bila berjalan cukup lama,

76
bagian yang terlepas akan menumpuk 
CHOLESTOMA  menimbulkan tekanan
pada struktur sekitar  pressure atrophy,
erosi tulang, destruksi tulang.

Teori terjadinya CHOLESTOMA :


- Teori migrasi
Epitel MAE bertumbuh ke dalam cavum
tympani oleh karena perforasi total
membran tympani dan rusaknya
annulus.
- Teori metaplasia
Mukosa cavum tympani mengalami
perubahan bentuk dan sifat menjadi
sama dengan epitel MAE (epitel
berlapis)
- Teori invaginasi
Timbul tanpa adanya perforasi
membran tympani. Tekanan negative
yang lama dalam cavum tympani
menyebabkan membran tympani
tertarik ke dalam (terutama pars flacida)
sehingga terbentuk kantong sehingga
epitel akan bertumbuh terus, dimana
bagian atas akan terlepas dan
menumpuk dalam kantong 
CHOLESTOMA.

77
Gejala dan tanda :
Anamnesa :
- Otore yang berlangsung lama
- Sekret bau busuk dan encer
- Pendengaran sangat berkurang

Pemeriksaan :
- Perforasi membran tympani marginal,
total, atic
- Sekret encer, bau busuk karena
kerusakan tulang (banyak jaringan mati)
- Khas ditemukan cholesteatoma 
lempeng-lempeng putih (epitel yang
lepas, berwarna putih)
- Jaringan granulasi (+)
- Fungsi pendengaran sangat menurun
(CHL/MAL)
- X- foto mastoid  destruksi tulang 
tampak rongga karena antrum dan
cellulae menjadi satu).

Prognosa :
Jelek, karena setiap saat dapat terjadi
komplikasi. Yang paling berbahaya 
komplikasi intracranial  bisa menyebabkan
kematian.

78
Pengobatan OMPK :
OMPK : ada yang aktif dan ada yang tenang,
tetapi keduanya terjadi perforasi pada membran
tympani.
Secara OMPK stadium tenang terjadi :
1. Terapi konservatif
Pada OMPK stadium tenang terjadi :
- Perforasi membran tympani
- Sekret (-)
Disini tidak perlu pengobatan, cari
kemungkinan infeksi fokal sekitar telinga,
hidung, sinus paranasalis : ini untuk mencegah
OMPK tenang menjadi aktif. Bila pada tempat-
tempat tersebut ditemukan infeksi kronis,
tindakan yang perlu diambil :
- Adenotonsilitis  adenotonsilektomi
- Septum deviasi yang mengganggu 
septum koreksi (SMR)/sub mucosal
resection
- Sinusitis maxilaris kronis  irigasi /
punctie sinus/ operasi CWL Caldwell Luc.

2. Terapi operatif
Myringoplasty
Adalah operasi rekonstruksi terhadap
membran tympani yang mengalami perforasi,

79
ini dilakukan dibawah mikroskop operasi 
untuk penutupan lobang membran tympani.

Tympanoplasty
Adalah operasi rekonstruksi yang lebih luas
meliputi :
- Eksplorasi dan pembersihan jaringan
patologi dalam cavum tympani dan
mastoid
- Rekonstruksi bagian-bagian yang rusak
Catatan :
Tympanoplasty ada 5 type : pembagiannya
berdasarkan rekonstruksi tulang-tulang
pendengaran. Fungsi untuk mengganti maleus,
incus dan stapes.
Tujuan :
- Untuk menjaga telinga berada dalam
keadaan yang kering
- Memperbaiki pendengaran
- Menghindari komplikasi
- Mencegah reinfeksi
Bila tindakan operatif tidak dapat dilakukan oleh
karena :
- Faktor sosek
- Fasilitas operasi (-)

Maka sebagai tindakan pencegahan infeksi :


- Dilarang berenang

80
- Dilarang mengorek telinga
- Segera mengobati bila ditemukan infeksi
saluran napas bagian atas.

OMPK benigne yang aktif :


- Cari hal-hal yang menyebabkan OMPK
menjadi aktif
- Jaringan granulasi, polip MAE, merupakan
hambatan pada drainage
- Infeksi lokal di tempat lain : tonsillitis,
adenoiditis, sinusitis kronis
- Oleh karena gizi dan hygiene yang jelek
- Faktor alergi

Tindakan :
1. Bebaskan MAE dari jaringan granulasi atau
setiap polip sehingga secret dapat keluar
lancer.
a. Jaringan polip/granulasi diambil, secret
diisap (ini dilakukan dengan mikroskop
operasi)
b. Dengan lidi kapas  bersihkan secret
pd MAE
c. Dengan larutan peroksida 3%  teteskan
pada MAE, kalau secret dan kotoran banyak
akan tampak berbusa dan busa ini
dikeluarkan. Ini diteruskan sampai
bersih/tidak ada lagi pembentukan busa,
setelah itu diberi tetes antibiotika.
Tindakan I dan II  oleh dokter ahli THT
Tindakan III  oleh dokter umum

81
2. Pemberian antibiotika topical (tetes, bubuk)
yang disemprotkan ke dalam telinga. Obat
tetes telinga yang mengandung antibiotika :
Neomycin, Polimixin B, Tranicetin,
Chloramphenicol.

3. Pemberian antibiotika oral / parenteral


Tujuannya untuk mengobati infeksi pada
telinga maupun infeksi fokal.
Antibiotika yang dianjurkan :
- Oral  Ampicillin
- Parenteral  Ampicillin dan Pencillin
Idealnya sebelum pemberian antibiotika,
lakukan kultur dan tes kepekaan untuk
mengetahui obat yang tepat.
Pemberian antibiotika dan toilet telinga yang
teratur oleh karena sebagian besar pada anak-
anak ini merupakan infeksi lanjutan dari ISNA
(infeksi saluran napas akut) + hygiene / gizi
kurang.
Bila terapi konservatif sudah dijalankan 4-6
minggu dan secret tetap ada  tindakan
operatif.

Pengobatan operatif :
Tujuan :

82
1. Menghindari komplikasi / membersihkan
semua jaringan patologi
2. Mencegah kerusakan fungsi yang lebih lanjut
akibat adanya infeksi
3. Menghentikan pengeluaran secret secara
permanent
4. Bila sudah ada komplikasi  obati komplikasi

Indikasi operasi :
1. OMPK type benigne yang tenang :
a. Myringoplasty
b. Tympanoplasty
2. OMPK type benigne yang aktif : usahakan
dulu dengan terapi konservatif, kalau sudah
tenang, baru lakukan tindakan operatif.
3. OMPK type maligna : baik yang tenang
maupun yang aktif  perlu tindakan operatif.

Jenis operasi tergantung beberapa factor :


- Berat ringannya kerusakan cavum tympani
dan mastoid
- Luasnya penyebaran cholesteatoma
- Sarana operasi yang tersedia
- Operasi

Jenis operasi yang dapat dilakukan :


- Mastoidektomi simpleks
- Myringoplasty
- Tympanoplasty
- Mastoidektomi radikal

83
Komplikasi OMPK :
I. Intratemporal
a. Mastoiditis
b. Petrositis
c. Parese N. Fascialis
d. Labirintis

II. Intracranial
a. Abses ekstradural
b. Abses subdural
c. Abses otak
d. Meningitis (otogenic meningitis)
e. Hydrocehalus
f. Thromboflebitis sinus lateralis

MASTOIDITIS
KRONIS
Dapat terjadi akibat :
1.Lanjutan dari mstoiditis akut

84
Pada mastoiditis akut terjadi abses
retroauriculer, kemudian membuat fistel di
belakang telinga. Jadi, bila berlangsung > 6
minggu  mastoiditis kronik.
2.Dari mastoiditis akut yang ringan / tanpa
komplikasi abses retroauriculer :
a.Gejala tidak sehebat no. 1; pada
pemeriksaan ditemukan pus yang hanya
ada dalam jumlah sedikit dan tidak
terbentuk abses retroauriculer
b.Mastoiditis akut yang ringan ini bila
sudah berjalan > 6 minggu, juga disebut
mastoiditis kronik.
3.Adanya infeksi yang berulang-ulang dimana
infeksi ini terjadi melalui epitympanum

Patologi :
Dalam antrum dan cellulae mastoidea terjadi
pembentukan pus, jaringan granulasi dan jaringan
polip. Dinding cellulae mengalami destruksi akibat
osteomyelitis dimana akan timbul pembentukan
sequester yang kecil-kecil yang berasal dari
dinding sellulae.
Dapat juga terlihat adanya pembentukan
tuang-tulang yang baru dalam beberapa hal dapat
ditemukan cholesteatoma. (cholesteatoma sering

85
ditemukan pada perforasi marginal dan artic).
Jaringan granulasi terjadi akibat iritasi kronik dari
pus.

Diagnosa :
1. Anamnesa
a. Otore yang berulang-ulang, berlangsung
beberapa bulan sampai beberapa tahun;
sifat kontinyu/intermiten
b. Kurang pendengaran : derajat ringan
sampai berat bahkan sampai tdk
mendengar sama sekali
c. Pernah terjadi abses di belakang daun
telinga, yang kemudian pecah dan dari
lobang tadi keluar nanah terus menerus.

2. Inspeksi
Planum mastoideum : tidak ditemukan tanda-
tanda peradangan yang akut (tidak merah dan
tidak nyeri).
3. Palpasi
Bisa ditemukan nyeri tekan yang tidak hebat.
Bandingkan telinga kiri dengan yang kanan.

4. Otoscopy
Ditemukan secret pada MAE :
a. Mukopurulen
b. Kadang-kadang ditemukan bau yang
busuk (bisa disebabkan adanya
cholesteatoma ataupun nekrose jaringan).
Setelah dikeluarkan tampak perforasi

86
membran tympani dengan bentuk dan
tempat yang bermacam-macam, bisa :
 Total
 Subtotal
 Letak :
• Sentral
• Marginal
• Attic
Ditemukan juga adanya jaringan granulasi dan
polip pada MAE dan jaringan ini berasal dari
cavum tympani. Kadang-kadang secret yang
ditemukan bercampur darah jika adanya
jaringan granulasi.

5. Tes fungsi pendengaran :


a. Kurang pendengaran jenis konduksi (CHL)
b. Tuli campuran MHL

6. Pemeriksaan Foto Mastoid


a. Kerusakan cellulae mastoidea yang luas
b. Kerusakan akibat dari suatu
cholesteatoma
Kalau ditemukan gambaran radiolusent / hitam
 lubang berisi udara  kemungkinan ada
cholesteatoma.
Pada pneumatisasi, type normal ataupun
hiperpneumatisasi, mudah terjadi fistel
retroauriculer.
Pada tipe sklerotik, diagnosa agak sukar
karena dari luar prosesnya tidak begitu jelas.

87
Prognosa :
- Pendengaran : kurang baik
- Lebih buruk jika ditemukan adanya
cholesteatoma karena dapat merusak
struktur tulang sekitar, sehingga dapat
menimbulkan infeksi/komplikasi intracranial
sewaktu-waktu.

Terapi :
Tindakan operatif : karena telah terjadi
perubahan patologis yang irreversible sehingga
jaringan lunak ini harus dikeluarkan.

TINDAKAN OPERASI
- Dilakukan bila pengobatan
medikamentosa / konservatif tidak berhasil
- Dilihat ada kemungkinan akan terjadi
komplikasi / ada komplikasi

Tujuan operasi :
- Mengeliminer penyakit (jika ada
kemungkinan berkembang lebih lanjut)
- Untuk memperbaiki tuba eustachius,
karena operasi tanpa memperbaiki tuba
eustachius  tidak akan berhasil.

88
- Untuk dapat mencapai daerah yang
sakit

Tindakan operasi perlu direncanakan


dengan tahapan, untuk tiap kasus sesuai
patologi / kerusakan dan penyakit yang
ditemukan/dicurigai. Tindkan bedah yang
bertujuan untuk mengeliminer penyakit yaitu
mastoidektomi.

Ada beberapa bentuk mastoidektomi :

1. Simple Mastoidektomi /
Concervative Mastoidektomy /
Mastoidektomy Schwartze.
Ini dlakukan pada suatu mastoiditis yang
simple, tanpa kecurigaan adanya
komplikasi.
Operasinya sbb :
Mastoid dibuka dan seluruh system
cellulae atau rongga yang terdapat pada
tulang mastoid dikeluarkan dan dibersihkan.
Mula-mula dibuka bagian antrum mastoid,
kemudian daerah periantral, keatas,

89
menjurus ke depan, sinodural (antara fossa
cranial ant dan post).
Biasanya sinus lateral dan duramater
dari lobus temporal dibuka sehingga
tertinggal sisa-sisa tulang terbentuk
pinggiran antara MAE pars osseus dan
rongga operasi dari os mastoid tadi. Bagian
pinggiran tulang ini disebut fascial ridge,
karena di dalamnya terdapat nervus
fascialis.

2. Radical Mastoidektomi
Ditujukan pada mastoiditis dengan
komplikasi.
Operasinya sbb :
- Antrum mastoid dibuka
- Dinding lateral dari attic / rongga paling
atas cavum tympani dihilangkan dan
disini fascial ridge dibetel (sebagian
dihilangkan tanpa membuka canalis),
sehingga tidak menjadi lebih rendah.
- Jembatan yang dibentuk dinding luar
aditus ad antrum juga dikeluarkan.
- Dalam cavum tympani, semua sisa
tulang pendengaran dari membran
tympani dikeluarkan (semua jaringan
yang tampak sakit), sehingga terbentuk
rongga yang berbentuk ginjal pada akhir
operasi diusahakan ditutupi dengan skin

90
flop yang diambil dari MAE yang bisa
dilakukan graft.

3. Subradical mastoidectomy
Adalah suatu modifikasi mastoidektomi
radikal untuk mempertahankan fungsi
pendengaran (bila kita melihat tulang-tulang
pendengarannya tidak rusak/putus 
rangkaikan baik).
Dinding attic dan fascial ridge
diturunkan/dikeluarkan tapi sisa dari tulang
pendengaran nampak sehat / membran
tympani sisa masih dapat digunakan 
dipertahankan.
Yang biasa dilakukan adalah
Atticoantrumtomi.
Bagian-bagian os maleus yang sudah
rusak dapat dikeluarkan bersama ridgenya,
tetapi tetap dilakukan agar fungsi
pendengaran tetap ada.
Keuntungan : bila ternyata penyakit
tidak dieliminer sepenuhnya dan terjadi
infeksi ulang dapat dilakukan radikal
mastoidektomy.

91
OPERASI UNTUK MENGEMBALIKAN
FUNGSI PENDENGARAN

Ada macam-macam tindakan bedah yang


telah dibuat dan yang ternyata memuaskan
adalah operasi dengan mikroskop 
pembesaran lapangan pandang yang lebih
besar. Juga teknik-teknik graft, yaitu menanam
bagian-bagian tubuh pada daerah yang rusak.
Dan dengan dukungan antibiotika, semuanya
memberikan hasil yang lebih baik.

Tindakan operasi diatas terdiri dari 2


macam :

1. Myringoplasty

92
- Sangat simple
- Bisa dilakukan pada perforasi
membrane tympani (kerusakan hanya
pada membrane tympani, sedang tulang-
tulang pendengaran masih baik, mukosa
cavum tympani juga masih baik).
- Dilakukan juga pada telinga yang kering
(perforasi karena tertusuk sewaktu
mengorek telinga)
- Dasar dari operasi telinga : telinga
tenang dari infeksi agar graft dapat
bertumbuh dengan baik.
- Membran tympani ditutup oleh epitel
luar yang sudah masuh ke dalam cavum
tympani melalui perforasi
- Perforasi kecil  pertumbuhan ditahan
dengan pembakaran trikloracitil acid.
- Perforasi besar  myringoplasty
Epitel dikeluarkan dan diatasnya
dilakukan graft. Graft diambil dari kulit
bagian belakang auricular.

Langkah-langkah operasi :
a. Mengangkat epitel pinggir perforasi  1
mm, memakai mikroskop operasi dan
alat-alat operasi.
b. Mengambil graft (full tickness graft) dari
permukaan bagian belakang auricular; ini

93
harus cukup besar untuk menutup
perforasi yang telah dibersihkan. Agar
graft dapat ditunjang, maka dalam
cavum tympani diisi dengan salfoam.
Dari luar diberi packing disekitar, agar
epitel yang merupakan graft tadi tidak
bergeser. Graft harus persis cocok
dengan perforasi. Operasi dinyatakan
berhasil apabila graft ini tidak ditolak dan
rangkaian tulang-tulang berfungsi
dengan baik  sehingga membrane
tympani dapat berfungsi kembali.

2. Tympanoplasty

- Merupakan tahap yang lebih lanjut dari


myringoplasty
- Jika yang rusak : membrane tympani,
tualng-tulang pendengaran, atau bagian-
bagian lain yang terdapat dalam cavum
tympani.
- Tympanoplasty : operasi dan
rekonstruksi dari membrane tympani
- Bila kerusakan hanya pada bagian
konduksi dan tuba eustachius yang
terdapat antara cavum tympani dan
phatynx berfungsi normal, maka tindakan
plastic pada membrane tympani dapat

94
memulihkan kemampuan dengar
penderita.
- Luas dari operasi akan tergantung dari
tiap kasus
- Harus dilakukan pada telinga yang
kering
- Berhasil bila tuba eustachius berfungsi
baik kembali.

Langkah-langkah operasi :

1. Mengeluarkan jaringan parut yang


terdapat di cavum tympani yang dapat
menghalangi fungsi konduksi dari
tulang-tulang pendengaran yang rusak
dan ada yang tersisa dikeluarkan.
Cavum tympani dengan isi udara
merupakan lahan perambatan
gelombang bunyi.
2. Penempatan yang tepat dari graft untuk
menggantikan membrane tympani
sedemikian, sehingga dapat bersama-
sama dengan tulang pendengaran
mengadakan fungsi konduksi. Graft
yang mengganti membrane tympani
sekaligus merupakan dinding lateral dari
cavum tympani yang akan kita bentuk
sehingga udara sebagai perambatan

95
gelombang bunyi dapat kita
pertahankan.

Berdasarkan kerusakan, tympanoplasty dibagi atas


:
I. Graft dibuat langsung berhubungan
dengan maleus
Graft ditempatkan diatas perforasi
membrane tympani (hampir sama dengan
myringoplasty tapi sebagian maleus telah
rusak).

II. Graft dibuat langsung berhubungan


dengan incus
Os maleus diangkat oleh karena sudah
rusak, dan graft menggantikan membrane
tympani  berhubungan dengan incus.

III. Graft dibuat langsung berhubungan


dengan stapes
Tulang-tulang rawan sebagian besar telah
rusak, tinggal stapes; dan graft diletakkan
berhubungan dengan stapes. Rongga cavum
tympani kecil tapi tetap ada udara.

96
IV. Dibuat suatu “window” pada canalis
semisirkularis.
Graft ditempatkan diatas promontorium
(stapes sudah tidak ada lagi) sampai diatas
muara tuba eustachius di dalam cavum
tympani. Disini membrane dari foramen ovale
tidak berfungsi lagi, fenestra dibuat diatas
canalis semisirkularis.

Syarat-syarat berhasilnya operasi :


1. Bila dengan sangat teliti semua jaringan
yang sakit sudah diangkat  bila terjadi
infeksi lagi graft ditolak  operasi lagi.
2. Epitelialisasi harus adekuat
3. Tympanoplasty tidak dilakukan pada anak-
anak (karena gampang terinfeksi melalui
tuba eustachius).

97
KETULIAN DAN PENYEBAB
KETULIAN
Ketulian bervariasi dari yang enteng sampai
berat :
Pembagian :
- Tuli berat  Deafness
- Tuli enteng  Hearing loss / hearing
affect

Kurang pendengaran umumnya dibagi atas 2


tipe :
- Tipe konduksi
- Tipe sensory neural

Selain kedua tipe diatas bisa ditemukan


juga pada seseorang penderita tuli campuran
(mixed). Tipe-tipe pendengaran diatas
ditetapkan setelah penderita menjalani tes
pendengaran.

98
Tuli konduksi
Bila kerusakan / hambatan terjadi dari
konduksi impuls bunyi, bisa dimulai dari :
- MAE
- Membran tympani
- Cavum tympani
- Transmisi melalui stapes

Tuli persepsi
Bila gangguan terdapat pada bagian dimana
impuls bunyi menerima / meneruskan ke telinga
tengah, misalnya pada kerusakan :
- Organ corti
- N. Trochlearis
- Cabang acustic N. VIII
Ini dimulai dari end organ / organ penerima
impuls sampai ke otak.

Dikenal juga :
1. Tuli stimulatif
Terbagi atas :
a. Tuil histerical / psikis
b. Tuli dibuat-buat
2. Tuli congenital
a. Oleh perkembangan abnormal rumah siput
b. Penyakit congenital (syphilis congenital,
trauma wanita hamil)
c. Pengaruh obat yang dipakai untuk
menggugurkan kehamilan

99
d. Mis : kinine  terjadi intoksikasi N.
Cranialis sehingga anak lahir dengan tuli
persepsi
e. Ibu hamil menderita German measles 
virus menghentikan pertumbuhan alat
pendengaran pada trimester I kehamilan.

TULI KONDUKSI
Tuli konduksi bisa terjadi oleh karena :
- Hal-hal yang menyebabkan obstruksi dari
bunyi melalui MAE (mis : ada cerumen)
- Infeksi jamur dari MAE yang menyebabkan
pembengkakan dinding  terjadi penebalan
membrane tympani, sehingga gelombang
bunyi mengalami hambatan.
- Parasintese
- Perforasi membrane tympani
- Konduksi cavum tympani  abnormal
- Mukosa menebal  udara sedikit 
menghalangi gelombang bunyi.
- Perubahan patologis yang terjadi dalam
telinga tengah, misalnya persendian yang
menjadi kaku atau tulang-tulang
pendengaran yang dikoreksi / tulang patah /
rusak.

100
- Otosklerosis : penyakit yang menyebabkan
stapes terfiksasi pada foramen ovale 
perubahan jaringan menjadi padat  orang
tuli.

Gejala satu-satunya pada otosklerosis : kurang


pendengaran yang terjadi secara perlahan-lahan
pada usia muda (14-15 tahun) .
Yang harus diketahui :
- Ketulian  konduksi
- Umur
- Foto  otosclerosis

Dapat dioperasi untuk memperbaiki


pendengaran. Disini stapes dilepaskan dari
foramen ovale karena stapes lisis  diganti
dengan protease.
Dasar operasi : tetap mengusahakan
pendengaran tetap baik, dengan mengganti
stapes dengan kawat yang halus yang dibuat
seperti stapes, sehingga geombang bunyi dapat
berjalan dengan baik.

Penanganan :
Untuk tuli konduksi sekarang dapat dilakukan
dengan efektif, misalnya oleh infeksi dan
kelainan-kelainan diatas dapat dilakukan
operasi :
- Myringoplasty

101
- Tympanoplasty
- Fenestrase / stapes mobilisasi

TULI PERSEPSI
Akibat kerusakan / lesi yang terjadi mulai dari
perylimph  endolymph (pada waktu
gelombang bunyi berubah menjadi stimulus)
sel-sel rambut organ corti  N. craniails VIII 
mulai ke end organ  sepanjang perjalanan
sarafnya  ke cortex cerebri, mis. Pada stroke
atau trauma capitis.
Etiologi :
- Presbyaccusis :
Ketulian yang timbul akibat proses
ketuaan. Ketulian mulai sedikit- demi
sedikit pada nada yang tinggi (saraf-saraf
nada tinggi). Ketulian ini tidak ditetapkan
timbul pada suatu umur tertentu.
- Trauma acusticus
1. Noise exposure
2. Ledakan-ledakan yang keras  suatu
tekanan yag besar yang
menyebabkan :
 Membrana tympani robek
 Dislokasi tulang-tulang pendengaran

102
- Diskoneksi tulang-tulang pendengaran
- Intoksikasi dari sesuatu :
1. Obat
2. Virus
3. Bakteri
Virus  parotitis epidemika
Dulu : Neuritis N. cranialis VIII
Sekarang : virus masuk pada endolymph
sehingga terjadi degenerasi sel-sel
sensorik.
- Infeksi meningeal (pembuluh darah,
pembungkus saraf)
- Infeksi dengan obat-obatan seperti :
1. Kinine yang ototoksik
2. Streptomycin
3. Kanamycin
4. Neomycin
- Toksin pada infeksi Scarlet fever dan
measles
- Penyakit lain : syphilis, multiple sclerosis

Penanganan tuli neuro sensory : tidak ada


karena merupakan proses irreversible dan untuk
pencegahan diutamakan untuk usaha preventif.

103