Anda di halaman 1dari 31

Jika kita tak dapat mengakhiri

perbedaan yang ada. Paling tidak,


marilah kita menciptakan dunia yang
tentram dalam kondisi berbeda itu.”
John F. Kennedy, Mantan Presiden AS
Kementerian Pendidikan Nasional
Ditjen Manajemen Dikdasmen
Direktorat Pembinaan SMA
1. Peta Naskah
2. Latar Belakang
3. Landasan
4. Acuan Operasional SKM, PBKL, PSB
5. Tugas dan Fungsi Dit. Pembinaan SMA
6. Peran Pemerintah dan Pemerintah Daerah
7. Tujuan
8. Hasil yang Diharapkan
9. Pengertian
10. Profil
11. Strategi Pelaksanaan Program
12. Pengorganisasian
13. Bentuk Pembinaan 2010
14. Tahapan Pembinaan (2010-2012)
15. Pembiayaan
16. Kesimpulan
Konsep dan Strategi Implementasi
SMA Model SKM-PBKL-PSB

Konsep PBKL Konsep SKM Konsep PSB

1. Pola Pembinaan SKM dan PBKL Program dan Strategi


2. Juknis Pembinaan Implementasi KTSP Implementasi PSB

Panduan Panduan
Panduan
Penyelenggaraan Penyelenggaraan
Pengelolaan PSB
PBKL SKM
1. Panduan Website
2. Panduan BA-TIK
3. Panduan BU-TIK
34 Juknis KTSP 4. Panduan Kemitraan
5. Panduan Bimtek
6. Sup. dan Evaluasi
7. Modul Materi

Juknis Penyusunan Program Kerja Sekolah

Panduan dan Instrumen


Verifikasi-Supervisi dan Evaluasi SMA Model SKM-PBKL-PSB
©2010,Dit. Pembinaan SMA
PP 19/2005
Standar Nasional Pendidikan
1. Tujuan: menjamin mutu pendidikan nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan
bangsa dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat
2. Fungsi: sebagai dasar dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pendidikan
dalam rangka mewujudkan pendidikan nasional yang bermutu
3. Maksud: memacu pengelola dan penyelenggara satuan pendidikan agar dapat
meningkatkan kinerjanya dalam memberikan layanan pendidikan yang bermutu

1. Standar Isi, 2. SKL, 3. Standar Proses, 4. Standar Pengelolaan,


5. Standar Sarana dan Prasarana, 6. Standar Pembiayaan,
7. Standar Pendidik dan Tendik, 8. Standar Penilaian

1. Sekolah Kategori Standar

2. Sekolah Kategori Mandiri


3. Sekolah Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal
4. Sekolah Bertaraf Internasional
1. Mendorong sekolah mengupayakan
pemenuhan SNP Memprogramkan
2. Mempercepat pencapaian profil RSKM pembinaan lanjutan
/RSSN, PBKL, dan RPSB RSKM/RSSN, RPBKL,
3. Mewujudkan bentuk SKM, PBKL, dan RPSB secara
dan PSB komprehensif dalam
4. Mengintegrasikan SKM, PBKL , dan satu SMA
PSB dalam 1 (satu) SMA
Pelaksanaan SMA Model SKM-PBKL-PSB mengacu pada UU,
PP, Permendiknas, Renstra yang berkaitan dengan SNP,
SKM, PBKL, dan PSB :

1. UU No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional


2. PP No. 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan
3. PP No. 48/2008 tentang Pembiayaan Pendidikan
4. PP No. 17/2010 tentang Pengelolaan dan
Penyelenggaraan Pendidikan
5. Semua Permendiknas yang mengatur pelaksanaan 8 SNP
6. Renstra Kemendiknas 2010-2014
1. Kewajiban satuan pendidikan untuk menyesuaikan diri dengan
ketentuan PP No. 19/2005, Pasal 94, Butir b) paling lambat 7 (tujuh)
tahun setelah berlakunya PP tersebut.
2. Kepentingan pemerintah untuk memetakan sekolah/madrasah
menjadi sekolah/madrasah yang sudah atau hampir memenuhi SNP
dan sekolah/madrasah yang belum memenuhi SNP berkaitan dengan
diberlakukannya SNP.
3. Kewajiban pemerintah untuk melakukan pengkategorian sekolah/
madrasah yang telah memenuhi atau hampir memenuhi SNP ke
dalam kategori mandiri, dan sekolah/madrasah yang belum
memenuhi SNP ke dalam kategori standar.
4. Tanggung jawab Pemerintah dan Pemerintah Daerah untuk
membantu sekolah/madrasah yang masih dalam kategori standar
dalam upaya meningkatkan diri menuju kategori mandiri.
1. Satuan pendidikan berbasis keunggulan lokal merupakan satuan
pendidikan yang telah memenuhi SNP dan diperkaya dengan
keunggulan kompetitif dan atau komparatif daerah.
2. Pemerintah kabupaten/kota mengelola dan menyelenggarakan
paling sedikit 1 (satu) satuan pendidikan pada jenjang pendidikan
dasar dan menengah yang berbasis keunggulan lokal.
3. Keunggulan lokal dikembangkan berdasarkan keunggulan kompetitif
dan atau komparatif daerah di bidang seni, pariwisata, pertanian,
kelautan, perindustrian, dan bidang lain.
4. Satuan pendidikan dasar dan menengah yang dikembangkan menjadi
berbasis keunggulan lokal harus diperkaya dengan muatan
pendidikan kejuruan yang terkait dengan potensi ekonomi, sosial,
dan atau budaya setempat yang merupakan keunggulan kompetitif
dan atau komparatif daerah.
5. Pendidikan berbasis keunggulan lokal adalah pendidikan yang
memanfaatkan keunggulan lokal dalam aspek ekonomi, budaya,
bahasa, teknologi informasi dan komunikasi, ekologi, dan lain-lain
yang semuanya bermanfaat bagi pengembangan kompetensi peserta
didik.
6. Kurikulum SMA atau bentuk lain yang sederajat dapat memasukkan
pendidikan berbasis keunggulan lokal.
7. Pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global dapat merupakan
bagian dari semua mata pelajaran dan juga dapat menjadi mata
pelajaran muatan lokal.
8. Pendidikan berbasis keunggulan lokal dapat diperoleh peserta didik
dari satuan pendidikan yang bersangkutan atau dari satuan
pendidikan nonformal yang sudah terakreditasi.
9. Standar mutu di atas SNP yang berbasis keunggulan lokal dapat
dirintis pemenuhannya oleh satuan pendidikan yang telah memenuhi
SPM dan sedang dalam proses memenuhi SNP.
1. Kewajiban satuan pendidikan memiliki buku dan sumber belajar
lainnya antar lain jurnal, majalah, artikel, website, dan compact
disk.
2. Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan
secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, dan
memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta
memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreatifitas, dan
kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik
serta psikologis peserta didik.
3. Sekolah mengelola sistem informasi manajemen yang memadai
untuk mendukung administrasi pendidikan yang efektif, efisien, dan
akuntabel.
4. Pengembangan sistem pengelolaan pengetahuan untuk
mempermudah dalam berbagi informasi dan pengetahuan antar
peserta didik dan tenaga kependidikan.
5. Pengembangan pusat sumber belajar berbasis TIK pada pendidikan
dasar dan menengah.
1. Tugas : Melaksanakan penyiapan bahan perumusan
kebijakan, pemberian bimbingan teknis, supervisi, dan
evaluasi di bidang pembinaan sekolah menengah atas.
2. Fungsi :
a. Penyiapan bahan perumusan kebijakan di bidang
pembinaan sekolah menengah atas;
b. Penyiapan perumusan standar, kriteria, pedoman,
dan prosedur di bidang pembinaan SMA;
c. Pemberian bimbingan teknis, supervisi, dan
evaluasi di bidang pembinaan SMA.
1. Pemerintah menentukan kebijakan nasional dan standar
nasional pendidikan untuk menjamin mutu pendidikan
nasional.
2. Pemerintah daerah provinsi melakukan koordinasi atas
penyelenggaraan pendidikan, pengembangan tenaga
kependidikan, dan penyediaan fasilitas penyelenggaraan
pendidikan lintas daerah kabupaten/kota untuk tingkat
pendidikan dasar dan menengah.
3. Pemerintah kabupaten/kota mengelola pendidikan dasar
dan pendidikan menengah, serta satuan pendidikan yang
berbasis keunggulan lokal.
1. Memberikan pendampingan/pembinaan kepada sekolah
untuk mewujudkan SKM yang menyelenggarakan
pendidikan berbasis keunggulan lokal, memanfaatkan
teknologi informasi dan komunikasi dalam proses
pembelajaran, dan manajemen sekolah.
2. Menjalin kerja sama dan meningkatkan peran serta
pemangku kepentingan (stakeholder) pendidikan di SMA,
baik di tingkat pusat maupun daerah dalam memenuhi
SNP, dan menerapkan PBKL serta memfungsikan PSB di
sekolah.
3. Mewujudkan SMA Model SKM-PBKL-PSB untuk dapat
digunakan sebagai rujukan bagi SMA yang akan memenuhi
SNP dan menyelenggarakan PBKL dan PSB.
1. Terlaksananya pendampingan/pembinaan oleh Dit. Pembinaan
SMA, Dinas Pendidikan Provinsi, dan Dinas Pendidikan
Kabupaten/Kota terhadap SMA Model SKM-PBKL-PSB dalam
mewujudkan SMA Model SKM-PBKL-PSB;
2. Terlaksananya kerjasama antara Dit. Pembinaan SMA, Dinas
Pendidikan Provinsi, Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, dan
pemangku kepentingan lainnya dan berperan serta dalam
pelaksanaan program SMA Model SKM-PBKL-PSB.
3. Terwujudnya 132 SMA Model SKM-PBKL-PSB yang dapat
dijadikan rujukan dalam pemenuhan SKM, penyelenggaraan
PBKL dan PSB.
4. Terpahaminya Konsep dan Strategi Implementasi SMA Model
SKM-PBKL-PSB sekaligus sebagai acuan oleh institusi pembina,
pemangku kepentingan, dan SMA lain yang berkeinginan
mencapai SKM serta melaksanakan PBKL dan PSB.
SMA Model SKM-PBKL-PSB adalah SMA yang telah memenuhi/hampir memenuhi
8 (delapan) SNP, menyelenggarakan Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal
(PBKL), dan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam
proses pembelajaran dan manajemen sekolah.

Standar
Penilaian

Standar
Standar Isi Kompetensi
Lulusan

Pusat
PBKL Sumber
Belajar

Standar
Proses

Standar
Standar Standar Standar
Pendidik dan
Pembiayaan Sarpras Pengelolaan
Tendik
1. Standar Isi
a. Memiliki dokumen KTSP yang didukung dengan dokumen hasil analisis
konteks dan dokumen hasil analisis keunggulan lokal.
b. Dokumen KTSP telah dinyatakan berlaku oleh kepala sekolah dengan
pertimbangan dari komite sekolah dan diketahui oleh Dinas Pendidikan
Provinsi.
2. Standar Kompetensi Lulusan
a. Pencapaian rata-rata KKM peserta didik per mata pelajaran ≥ 75%.
b. NIlai kelulusan US minimal sama dengan KKM setiap mata pelajaran.
c. Tingkat kelulusan 100%
d. Tingkat lulusan yang diterima di Perguruan Tinggi ≥ 75%.
3. Standar Proses
a. Melakukan perencanaan proses pembelajaran berupa silabus, RPP, dan
bahan ajar yang disusun sesuai dengan ketentuan dan telah
mengintegrasikan PBKL dan TIK.
b. Melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan persyaratan rombongan
belajar (32 peserta didik), beban kerja minimal guru (24 jam tatap muka/
minggu), rasio buku teks untuk peserta didik 1:1 per mapel, rasio minimal
jumlah peserta didik terhadap guru 20:1.
c. Melaksanakan pembelajaran berdasarkan RPP dengan menerapkan kegiatan
tatap muka, kegiatan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur sesuai
tuntutan KD dengan memanfaatkan perpustakaan dan TIK.
d. Melaksanakan pembelajaran PBKL yang terintegrasi dalam mata pelajaran
mulok/keterampilan/yang relevan.
e. Melaksanakan dan melaporkan pengawasan proses pembelajaran dalam bentuk
pemantauan pembelajaran, supervisi pembelajaran, dan evaluasi
pembelajaran.
4. Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan
a. Memiliki lebih dari 75% pendidik yang telah memenuhi kualifikasi akademik,
latar belakang pendidikan, sertifikasi profesi guru, kompetensi TIK, dan
pengembangan bahan ajar.
b. Memiliki tenaga kependidikan sekurang-kurangnya terdiri atas kepala sekolah,
tenaga administrasi, tenaga perpustakaan, tenaga laboratorium yang telah
memenuhi persyaratan jenis, kualifikasi akademik, dan kompetensi di bidang
TIK.
c. Memiliki minimal 4 tenaga layanan khusus, yaitu penjaga sekolah, tenaga
kebersihan, pengemudi, tukang kebun, pesuruh sesuai dengan persyaratan.
5. Standar Sarana dan Prasarana
a. Memiliki minimum 3 rombongan belajar dan maksimum 27 rombongan
belajar.
b. Memiliki luas lahan sesuai persyaratan standar (Tabel 4.1 atau 4.2,
Permendiknas No. 24/2007) dan secara sah menempati lahan yang telah
disetujui untuk peruntukan sekolah.
c. Semua bangunan gedung memenuhi persyaratan luas, keselamatan,
kesehatan, menyediakan fasilitas dan aksesibilitas bagi penyandang cacat,
kenyamanan, sistem keamanan, dan ketersediaan listrik sesuai dengan
kebutuhan, serta terpelihara secara berkala.
d. Memiliki prasarana sekurang-kurangnya adalah ruang kelas, ruang
perpustakaan, ruang laboratorium biologi, ruang laboratorium fisika, ruang
laboratorium kimia, ruang laboratorium komputer, ruang laboratorium
bahasa, ruang pimpinan, ruang guru, ruang tatausaha, tempat beribadah,
ruang konseling, ruang UKS, ruang organisasi kesiswaan, jamban, gudang,
ruang sirkulasi, dan tempat bermain/berolah raga yang telah memenuhi
persyaratan luas dan kelengkapan sarana.
e. Memiliki sarana pendukung PSB berupa website dan perangkat audio visual
6. Standar Pengelolaan
a. Memiliki dokumen perencanaan program berupa Rencana Kerja Jangka
Menengah (RKJM) dan Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (RKAS) yang
dikembangkan berdasarkan visi, misi, dan tujuan sekolah.
b. Memiliki pedoman-pedoman (KTSP, kalender pendidikan/akademik,
struktur organisasi sekolah, pembagian tugas di antara guru, pembagian
tugas di antara tenaga kependidikan, peraturan akademik, tatatertib
sekolah, kode etik sekolah, biaya operasional sekolah) yang berfungsi
sebagai petunjuk pelaksanaan operasional dan struktur organisasi sekolah
yang diuraikan secara jelas dan transparan.
c. Melaksanakan rencana kerja bidang kesiswaan dalam bentuk memberikan
layanan konseling kepada peserta didik; melaksanakan kegiatan
ekstrakurikuler untuk para peserta didik; melakukan pembinaan prestasi
unggulan; melakukan pelacakan terhadap alumni dan didukung dengan
tersedianya petunjuk proses penerimaan peserta didik.
d. Melaksanakan rencana kerja bidang kurikulum dan kegiatan pembelajaran
berdasarkan persyaratan yang tertuang dalam KTSP, kalender pendidikan,
program pembelajaran, penilaian hasil belajar peserta didik, dan
peraturan akademik.
e. Melaksanakan rencana kerja bidang pendidik dan tenaga kependidikan
meliputi pemberdayaan, pengangkatan, promosi, penempatan, dan
pendayagunaan
f. Melaksanakan rencana kerja bidang sarana dan prasarana meliputi
pemenuhan, pendayagunaan, pemeliharaan sarana dan prasarana, dan
pengelolaan perpustakaan, laboratorium, fasilitas fisik untuk kegiatan
ekstrakurikuler.
g. Melaksanakan rencana kerja bidang keuangan dan pembiayaan mengacu
pedoman pengelolaan biaya investasi dan operasional.
h. Melaksanakan rencana kerja bidang budaya dan lingkungan sekolah untuk
menciptakan suasana, iklim, dan lingkungan pendidikan yang kondusif
dengan menerapkan tatatertib sekolah, dan kode etik sekolah.
i. Melaksanakan rencana kerja bidang peran serta masyarakat dan
kemitraan sekolah dengan sasaran menjalin kemitraan dengan lembaga
pemerintah dan non-pemerintah, berkaitan dengan input, proses, output,
dan pemanfaatan lulusan.
j. Melaksanakan pengawasan pengelolaan sekolah dalam bentuk
pemantauan, supervisi, evaluasi, pelaporan, dan tindak lanjut hasil
pengawasan.
k. Melakukan evaluasi dalam bentuk evaluasi diri, evaluasi pengembangan
KTSP, dan evaluasi pendayagunaan pendidik dan tenaga kependidikan.
l. Memperoleh sertifikat akreditasi dengan peringkat A .
m. Mempunyai kepemimpinan yang terdiri atas Kepala Sekolah dengan
dibantu 3 Wakil Kepala Sekolah yang diangkat sesuai dengan ketentuan.
n. Memiliki Sistem Informasi Manajemen (SIM) untuk mendukung administrasi
pendidikan yang efektif, efisien, akuntabel, dan mudah diakses didukung dengan
sumberdaya manusia yang kompeten.
7. Standar Pembiayaan
a. Mengalokasikan dan memenuhi biaya investasi, biaya operasi, biaya personal dan
non personal.
b. Memiliki program dan upaya sekolah menggali dan mengelola serta memanfaatkan
dana dari berbagai sumber.
c. Membuat laporan pertanggungjawaban secara akuntabel dan transparan.
8. Standar Penilaian Pendidikan
a. Menerapkan prinsip-prinsip penilaian.
b. Menerapkan teknik dan instrumen penilaian.
c. Menerapkan mekanisme dan prosedur penilaian.
d. Menerapkan penilaian oleh pendidik.
e. Menerapkan penilaian oleh satuan pendidikan.
9. Kesiapan Sekolah dan Dukungan Eksternal
a. Menyatakan kesiapan sebagai SMA Model SKM-PBKL-PSB dengan dukungan penuh
dari pendidik, tenaga kependidikan, dan tenaga administrasi.
b. Mengupayakan penggalangan dukungan dari eksternal sekolah seperti Komite
Sekolah, Dinas Pend. Prov., Dinas Pend. Kab./Kota, PT, LPMP/P4TK, asosiasi
profesi, dan lain-lain.
Mempelajari dan Penguasaan
Permendiknas
Memahami Substansi Strategi
8 SNP
Dokumen SNP Implement. 8 SNP

Instrumen Analisis Kontek Analisis


Analisis dan Skala Kesenjangan dan
Kondisi Prioritas Renc. Tindk. Lanjut

Juknis KTSP & Menyusun KTSP, RKJM,


Penyusunan KTSP, RKJM, dan RKAS
Program Kerja dan RKAS

Pelaksanaan Peningkatan
KTSP, RKJM,
Kegiatan Profil
dan RKAS
Sekolah SKM-PBKL-PSB

Instrumen
Supervisi dan Hasil dan
Supervisi dan
Evaluasi Rekomendasi
Evaluasi
1. Kebijakan SMA Model
2. Pedoman-pedoman SMA Model
3. Bimtek pengemb program SMA Model
4. Pemberian dana bantuan block grant
1. Rekomendasi 1. Rekomendasi
5. Supervisi dan evaluasi
penetapan SMA penetapan SMA
Model Model
2. Bantuan teknis, 2. Bantuan teknis,
manajerial, manajerial,
pendanaan pendanaan
pemenuhan pemenuhan
profil SMA Model profil SMA Model
3. Pemantauan, 3. Pemantauan,
supervisi dan supervisi dan
evaluasi proses evaluasi proses
dan hasil dan hasil
pelaksanaan pelaksanaan
program SMA program SMA
Model Model
4. Perluasan 4. Perluasan
sasaran SMA Perguruan Tinggi/P4TK/LPMP/ sasaran SMA
Model secara Dewan Pendidikan dan Pemangku Model secara
mandiri Kepentingan lainnya antar lain : mandiri
1. Kemitraan
2. Pendampingan
3. Konsultasi, koodinasi
4. Narasumber
5. Bantuan material pembelajaran
Penyusunan Sosialisasi, Asistensi,
Verifikasi Calon
Draf Program dan Sinkronisasi
SMA Model
SMA Model Prog. SMA Model
SKM-PBKL-PSB
SKM-PBKL-PSB SKM-PBKL-PSB
 Terpilih 132 SMA Model 132 SMA menyusun/mengembangkan Workshop 132 SMA untuk
 Peta kondisi awal SKM, PBKL, draf RKJM dan RKAS berdasarkan koordinasi, sosialisasi,
PSB hasil verifikasi sinkronisasi dan MoU BG

Supervisi Pelaksanaan Program Pemberian Dana


dan Evaluasi Kerja 1 Tahun dan Bantuan Block Grant
SMA Model Dana Bantuan SMA Model
SKM-PBKL-PSB Block Grant SKM-PBKL-PSB
 Penyaluran oleh Dit. Pemb. SMA
 Jumlah sesuai kemampuan
anggaran Pemerintah
 Periode pertanggungjawaban
Ketercapaian Bantuan Teknis, untuk 1 tahun pelajaran (Juli
Manajerial, dan tahun penerimaan s.d. Juni
Profil SMA Model Pendanaan Dinas Pendk. tahun berikutnya
SKM-PBKL-PSB Prov./Kab./Kota
 Penggunaan dan pertanggung
jawaban mengikuti ketentuan
yang berlaku
Target hasil tahun ke-3 (Tahun 2012) : Keterlibatan Dinas Pend. Prov. dan
132 SMA berkategori ’Siap SKM’ dan Kab/Kota sesuai dengan tugas dan tanggung
berkategori ’Sangat Baik’ untuk PBKL dan PSB jawabnya dalam pembinaan SMA untuk
yang dapat digunakan sebagai patok duga percepatan pemenuhan SNP, pelaksanaan
(benchmark) bagi SMA lain di sekitarnya. PBKL, pembelajaran berbasis TIK dan KTSP
Tingkat Nasional : Tingkat Nasional : Tingkat Nasional :
1. Penyusunan perangkat 1. Pengembangan perangkat 1. Koordinasi pembinaan tingkat
pendukung pendukung provinsi dan kab/ kota
2. Pemilihan dan penetapan 132 2. Koord. pembinaan tingkat 2. Asistensi dan sikronisasi program
SMA (verifikasi) provinsi dan kab/kota kerja sekolah
3. Sosialisasi tingkat prov dan 4. Asistensi dan sikronisasi program 3. Pemberian dana block grant
kab/kota kerja sekolah 4. Supervisi dan evaluasi
4. Asistensi dan sikronisasi program 5. Pemberian dana block grant 5. Pemantapan implementasi PBKL,
kerja sekolah 6. Supervisi dan evaluasi KTSP, dan PSB dalam bentuk
5. Pemberian dana block grant 7. Pengembangan implementasi peningkatan kualitas
6. Pengembangan PSB PBKL, KTSP, dan PSB
7. Supervisi dan evaluasi Tingkat Provinsi :
Tingkat Provinsi : 1. Pembinaan manajerial dan
Tingkat Provinsi : 1. Pembinaan manajerial dan teknis SMA Model secara
1. Rekomendasi calon SMA Model teknis SMA Model secara terprogram dengan
2. Sosialisasi program pembinaan terprogram dengan mengalokasikan sumber dana
SMA Model mengalokasikan sumber dana sesuai kebutuhan sekolah
3. Pembinaan manajerial dan sesuai kebutuhan sekolah 2. Koordinasi pembinaan dengan
teknis SMA Model 2. Koordinasi pembinaan dengan Dinas Pendk. Kab/Kota dan
4. Supervisi dan evaluasi Dinas Pendk. Kab/Kota dan pemangku kepentingan lainnya
pemangku kepentingan lainnya 3. Supervisi dan evaluasi
3. Supervisi dan evaluasi 4. Perluasan SMA Model
4. Perluasan SMA Model
Tingkat Kabupaten/Kota : Tingkat Kabupaten/Kota : Tingkat Kabupaten/Kota :
1. Rekomendasi calon SMA Model 1. Pembinaan manajerial dan 1. Pembinaan manajerial dan
2. Sosialisasi program pembinaan teknis SMA Model secara teknis SMA Model secara
SMA Model terprogram dengan terprogram dengan
3. Pembinaan manajerial dan mengalokasikan sumber dana mengalokasikan sumber dana
teknis SMA Model sesuai kebutuhan sekolah sesuai kebutuhan sekolah
4. Supervisi dan evaluasi 2. Koordinasi pembinaan dengan 2. Koordinasi pembinaan dengan
Dinas Pendk. Kab/Kota dan Dinas Pendk. Prov dan
Tingkat Sekolah : pemangku kepentingan lainnya pemangku kepentingan lainnya
1. Penyusunan RKJM dan RKAS 3. Supervisi dan evaluasi 3. Supervisi dan evaluasi
dengan prioritas pada stdr. isi, 4. Perluasan SMA Model 4. Perluasan SMA Model
SKL, stdr. proses, stdr. pengel.,
stdr. penil, stdr. Pend. & Tingkat Sekolah : Tingkat Sekolah :
tendik. 1. Penyusunan prog. 2011 dengan 1. Penyusunan program 2012/
2. Mensosialisasikan program SMA prioritas pada stdr. isi, SKL, 2013) dengan prioritas pada
Model dan mengupayakan dukng stdr. proses, stdr. pengelolaan, stdr. isi, SKL, stdr. proses, stdr.
pemangku kepentingan untuk stdr. penilaian, stdr. pend. dan pengelolaan, stdr. penilaian,
menjadi bagian dari peningk. tendik stdr. pendidik dan tendik dan
mutu sekolah 2. Pengembangan pelaksanaan standar lain untuk mencapai
3. Melaks prog SMA Model dengan PBKL, PSB, dan KTSP kondisi memenuhi/hampir
tingkat keberhasilan di atas 90% 3. Mengkongkritkan bentuk memenuhi 8 SNP
secara kualitatif dan Amat Baik dukungan pemangku 2. Peningkatan dan pemantapan
secara kuantitatif kepentingan dalam bentuk kualitas pelaksanaan PBKL, PSB,
dukungan nyata dan KTSP
4. Evaluasi diri terhadap proses
dan hasil pelaksanaan SMA
Model
 Pembiayaan pelaksanaan program implementasi SMA
Model SKM-PBKL-PSB yang berkaitan dengan
inventarisasi kondisi; Sosialisasi, asistensi, dan
sinkronisasi program kerja, pemberian dana bantuan
block grant, dan supervisi dan evaluasi dibebankan pada
anggaran Dit. Pembinaan SMA tahun berjalan sesuai
dengan ketentuan yang berlaku.
 Sedangkan pembiayaan di luar kegiatan di atas yang
berkaitan dengan pemenuhan SNP di tingkat Provinsi dan
Kabupaten/Kota dibebankan kepada Dinas Pendidikan
Provinsi, Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, dan Sekolah
sesuai dengan tugas, tanggung jawab dan
kewenangannya masing-masing.
1. SMA Model SKM-PBKL-PSB merupakan program bersama Dit. Pembinaan
SMA, Dinas Pendidikan Provinsi, Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota
dalam rangka peningkatan mutu SMA melalui pemenuhan SNP yang
menerapkan PBKL dan memanfaatkan TIK untuk pembelajaran dan
manajemen.
2. Sebagai program bersama, maka pola pembinaan sebagaimana
diuraikan dalam dokumen ini merupakan komitmen bersama sebagai
acuan pembinaan dan ditaati oleh semua pihak yang terlibat.
3. Mempertimbangkan berbagai keterbatasan, seperti pemahaman
substansi program, sumber daya manusia, dan infrastruktur pendidikan,
maka pelaksanaan program SMA Model SKM-PBKL-PSB dilakukan secara
bertahap dan berkelanjutan.
4. Pengembangan SMA Model SKM-PBKL-PSB merupakan salah satu strategi
percepatan pemenuhan SNP sebagai upaya untuk mewujudkan SMA
yang telah memenuhi/hampir memenuhi SNP. Berkembangnya SMA
Model dapat dijadikan inspirasi bagi sekolah lain di sekitarnya untuk
melaksanakan upaya pemenuhan SNP.
5. Penyebaran jumlah SMA di tingkat Provinsi dan Kabupaten/Kota tidak
merata, sehingga pemilihan SMA Model dilakukan secara proporsional
berdasarkan jumlah sekolah di wilayahnya.
6. SMA Model idealnya dikembangkan di setiap Kabupaten/Kota dengan
membina SMA pelaksana Rintisan SKM, Rintisan PBKL, dan Rintisan
PSB yang memenuhi persyaratan sebagai SMA Model. Namun kondisi
tiap daerah berbeda-beda dalam kesiapan dana, maka bagi daerah
yang siap dapat mengembangkan SMA Model dengan pola yang sama
seperti yang dikembangkan oleh Dit. Pembinaan SMA.
7. Pemberian dana bantuan block grant pada SMA Model terpilih
merupakan dana stimulus untuk membantu sekolah memenuhi
sebagian kecil program pemenuhan SNP.
8. SMA Model SKM-PBKL-PSB sebagai sekolah rujukan bagi sekolah lain di
sekitarnya harus siap melayani dan membantu memberikan konsultasi
dan bimbingan teknis kepada sekolah dalam pencapaian SNP,
pelaksanaan PBKL, dan PSB.
Kementerian Pendidikan Nasional
Ditjen Manajemen Dikdasmen
Direktorat Pembinaan SMA