Anda di halaman 1dari 3

Nama : Azkiya Khoirul Anam (07520013)

Rifin Diding Rojali (07520014)

IKATAN AGAMA DAN NEGARA DALAM SEJARAH KEHIDUPAN


BANGSA JEPANG

Tidak diragukan lagi, Jepang atau yang sering disebut Negara Matahari
Terbit memiliki kehidupan keberagamaan yang unik. Keunikannya terletak pada
sikap yang bertentangan terhadap agama atau kehidupan agamis, ketika sebelum
dan setelah Perang Dunia II (PD II).

Corak keberagamaan masyarakat Jepang sebelum PD II dapat dilukiskan


dalam enam tema :

1. Hubungan erat antara manusia, Dewa, dan alam.

2. Corak agamis kehidupan keluarga.

3. Mementingkan purifikasi, ritual, dan jimat.

4. Sarat dengan festival local dan kultus perorangan.

5. Agama meresap dalam kehidupan sehari-hari.

6. Hubungan erat agama dan negara.

Sedangkan setelah PD II, masyarakat Jepang cenderung sangat sedikit


menaruh perhatian terhadap agama. Hal ini mungkin disebabkan karena corak
kehidupan industrial dan urban Jepang modern telah menyebabkan masyarakat
Jepang lebih banyak terlibat dengan hal-hal yang bukan agama. Atau mungkin
juga karena ada pemisahan antara agama dan negara (Jepang menjadi negara
sekuler) pasca kekalahan Jepang pada PD II.

Pada tulisan ini, titik tekan pembahasan lebih kepada hubungan erat agama
dan negara, yang merupakan tema keenam dari enam corak keberagamaan
masyarakat Jepang sebelum PD II.

Di bawah ini, akan dipaparkan mengenai bagaimana bentuk hubungan erat


antara agama dan negara dalam sejarah kehidupan bangsa Jepang. Dimulai dari
zaman prasejarah, masa awal sejarah, zaman pertengahan, hingga masa modern.
Jepang pada zaman prasejarah, tepatnya pada abad pertama masehi,
Jepang didiami oleh bangsa mongol yang memasuki Jepang bagian selatan dan
tengah melalui Korea. Beberapa abad kemudian suku Yamato masuk ke Jepang
dan berhasil menguasai wilayah Jepang. Sebelum agama konfusius dan Buddha
memasuki Jepang, agama asli Jepang belum terorganisir dan baru merupakan
kumpulan tanpa nama dari berbagai pemujaan terhadap alam, roh nenek moyang,
dan samanisme. Tidak ada pemisahan antara agama dan negara. Setiap suku
mempunyai dewanya sendiri, yang kadang-kadang dianggap sebagai nenek
moyangnya. Kepala suku bukan saja bertindak sebagai pemimpin politik, tetapi
juga sebagai pendeta tertinggi.

Pada masa awal sejarah, Jepang mulai memasuki masa sejarahnya sebagai
sebuah negara yang bersatu dan berdaulat, pengaruh paling utama terhadap
kehidupan spiritual bangsa Jepang berasal dari agama Buddha. Agama Buddha
menguasai istana. Pangeran Shotoku (574—622) adalah orang Jepang pertama
yang bersungguh-sungguh mempelajari pemikiran agama Buddha dan memeluknya
dengan penuh keyakinan. Pada tahun 604, agama Buddha dapat dikatakan sudah
menjadi agama negara. Perkembangan agama Buddha mencapai puncaknya pada
masa Nara (710—794). Pengaruh agama Buddha terhadap tata administrasi
kepemerintahan juga cukup besar.

Pada zaman pertengahan, agana Buddha yang semula dianggap asing, diubah
menjadi agama asli Jepang. Pada zaman Tokugawa, agama Jepang menjadi satu-
satunya agama negara. Pemerintah melakukan pengawasan terhadap agama
tersebut dan mempergunakannya untuk tujuan memelihara tertib sosial maupun
untuk mengatur kehidupan spiritual bangsa. Setiap penduduk diwajibkan
mencatatkan diri ke kelenteng-kelenteng sebagai pengikut agama Buddha.
Kegiatan lain, seperti perkawinan, perpindahan kerja, kelahiran, kematian,
perjalanan juga harus dilaporkan ke kelenteng-kelenteng. Dengan demikian, selain
tugas-tugas keagamaan, kelenteng-kelenteng tersebut juga menyelenggarakan
berbagai tugas kepemerintahan.

Masa modern dimulai sejak masa Meiji hingga meletusnya PD II. Pada
masa ini, kehidupan agama di Jepang sangat erat hubungannya dengan politik
kepemerintahan. Ada empat hal utama yang menjadi ciri pokok kehidupan agama
di Jepang, terutama terkait dengan agama shinto :

1. Usaha Pemerintah Menciptakan Negara Teokrasi

Pemerintah Meiji berusaha menciptakan sebuah negara yang didasarkan


atas konsep saisei itchi, kesatuan agama dan politik. Dengan kata lain,
pemerintah Meiji ingin mendirikan sebuah negara teokrasi berdasarkan
kultus agama Shinto.
2. Penataan Sistem Jinja

Pemerintah melakukan penataan tempat-tempat suci yang disebut jinja,


dan mendapatkan bantuan untuk kepentingan yang menyangkut organisasi
dan kepentingan kegiatan keagamaan di tempat-tempat suci tersebut.
Kegiatan-kegiatan baik dalam pelaksanaan upacara dan perayaan
keagamaandirasa tepat dan layak untuk mengembangkan karakter bangsa.

3. Campur tangan pemerintah dalam urusan agama.

Melalui mentri pendidikan dan para pejabat daerah pemerintahan


melakukan pengawasan dan campur tangan yang sempurna dalam urusan
agama. Dengan begitu, disatu pihak undang-undang organisasi keagamaan
memberikan kedudukan yang sah pada agama-agama yang ada di Jepang,
dan dilain pihak undang-undang tersebut dijadikan alat oleh pemerintahan
untuk mengatur dan mengawasi semua organisasi keagamaan yang ada.

4. Militerisasi Agama

Militerisasi agama sebenarnya sesuai dengan konteks pada waktu itu,


dimana bangsa Jepang dalam keadaan berperang. Semua badan keagamaan
telah digunakan untuk mempertebal semangat nasionalisme dan
militerisme. Upacara-upacara yang berhubungan dengan perang
diselenggarakan di berbagai tempat.

Akan tetapi, hubungan erat antara agama dan negara di Jepang berakhir
bersamaan dengan berakhirnya PD II. Kekalahan tersebut memaksa Jepang
menerapkan bentuk pemerintahan yang memisahkan kehidupan agama dari negara
(sekuler).