Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Maksud
1.1.1Memahami tentang bentang alam fluvial
1.1.2Mengetahui proses-proses yang membentuk bentang alam fluvial
1.1.3Mengetahui macam-macam bentang alam fluvial
1.1.4Mengetahui pembagian stadia sungai
1.1.5Memahami interpretasi peta topografi pada bentang alam fluvial

1.2 Tujuan
1.2.1Dapat memahami tentang bentang alam fluvial
1.2.2Dapat mengetahui proses-proses yang membentuk bentang alam
fluvial
1.2.3 Dapat mengetahui macam-macam bentang alam fluvial
1.2.4Dapat mengetahui pembagian stadia sungai
1.2.5Dapat memahami interpretasi peta topografi pada bentang alam
fluvial

1.3 Waktu Pelaksanaan Praktikum


1.3.1Praktikum Laboratorium
Dilaksanakan pada hari Jumat, 18 Maret 2011 pukul 13.00
WIB, bertempat di GKB Gedung C lantai 2 Universitas
Diponegoro
1.3.2Praktikum Lapangan
–Lokasi 1 : Kali Garang, pada tanggal 19 Maret 2011, pukul
08.00 WIB
–Lokasi 2 : Kali Alang, pada pada tanggal 19 Maret 2011,
pukul 10.07 WIB
1.1 Ruang Lingkup
1.1.1Ruang Lingkup Spasial

1
Praktikum ini mempunyai ruang lingkup spasial daerah
Kaligarang, dan Kali Alang.

1.1.2Ruang Lingkup Substansial


Praktikum ini mempunyai ruang lingkup subtansial
Kabupaen Semarang, Jawa Tengah.

BAB II
DASAR TEORI

2
2.1 Pengertian Bentang Alam Fluvial
Bentang alam fluvial adalah satuan geomorfologi yang
pembentukannya erat hubungannya dengan proses fluviatil. Proses
fluviatil adalah semua proses yang terjadi di alam baik fisika,
maupun kimia yang mengakibatkan adanya perubahan bentuk
permukaan bumi, yang disebabkan oleh aksi air permukaan, baik
yang merupakan air yang mengalir secara terpadu (sungai),
maupun air yang tidak terkonsentrasi ( sheet water).
Proses fluviatil akan menghasilkan suatu bentang alam
yang khas sebagai akibat tingkah laku air yang mengalir di
permukaan. Bentang alam yang dibentuk dapat terjadi karena
proses erosi maupun karena proses sedimentasi yang dilakukan
oleh air permukaan. Perlu diketahui bahwa air permukaan
merupakan salah satu mata rantai dari siklus hidrologi. Adanya air
permukaan sangat dikontrol oleh adanya air hujan, sedangkan besar
kecilnya jumlah air permukaan dipengaruhi oleh beberapa faktor,
yaitu antara lain kelerengan, iklim, litologi dan nilai curah hujan.
Sungai merupakan aliran air yang dibatasi suatu alur yang mengalir
ke tempat / lembah yang lebih rendah karena pengaruh gravitasi.
Sungai termasuk sungai besar, sungai kecil maupun anak sungai.

2.2 Macam-macam proses fluvial


Proses fluviatil dapat dikelompokkan menjadi tiga
macam yaitu:
1. Proses erosi
Menurut Sukmana, 1979, proses erosi adalah suatu proses
atau peristiwa hilangnya lapisan permukaan tanah yang
disebabkan oleh pergerakan air atau angin. Sedangkan Arsyad,
1982, mendefinisikan proses erosi sebagai peristiwa pindahnya
atau terangkutnya tanah atu bagian-bagian tanah dari suatu
tempat ke tempat lain oleh media alami. Menurut Holy,1980,

3
berdasarkan agen penyebabnya, agen penyebab erosi dapat
dibagi menjadi empat macam, yaitu erosi oleh air, erosi oleh
angin, erosi oleh gletser dan erosi oleh salju. Dalam bentang
alam ini, agen penyebab erosi yang paling dominan adalah air.
2. Proses Transportasi
Proses transportasi adalah proses
perpindahan/pengangkutan material yang diakibatkan oleh
tenaga kinetis yang ada pada sungai sebagai efek dari gaya
gravitasi.
3. Proses Sedimentasi
Adalah proses pengendapan material karena aliran sungai
tidak mampu lagi mengangkut material yang di bawanya.
Apabila tenaga angkut semakin berkurang, maka material yang
berukuran besar dan lebih berat akan terendapkan terlebih
dahulu, baru kemudian material yang lebih halus dan ringan.
Bagian sungai yang paling efektif untuk proses pengendapan
ini adalah bagian hilir atau pada bagian slip of slope pada
kelokan sungai, karena biasanya pada bagian kelokan ini
terjadi pengurangan energi yang cukup besar.
Ukuran material yang diendapkan berbanding lurus dengan
besarnya energi pengangkut, sehingga semakin ke arah hilir,
energi semakin kecil, material yang diendapkan pun semakin
halus.

2.3 Pola pengaliran


Satu sungai atau lebih beserta anak sungai dan cabangnya
dapat membentuk suatu pola atau system tertentu yang dikenal
sebagai pola pengaliran. Pola ini dapat dibedakan menjadi beberapa
variasi bergantung struktur batuan dan variasi litologinya.

4
a. Pola pengaliran rectangular, dimana anak sungai dan induk
sungainya membentuk sudut tegak lurus. Biasanya terdapat pada
daerah patahan yang bersistem teratur.
b. Pola pengaliran sejajar, dimana pola yang arah alirannya sejajar.
Pola ini berkembang pada daerah lereng mempunyai kemiringan
nyata.
c. Pola pengaliran dendritik, dimana pola pengalirannya berbentuk
cabang pohon ynag berarah dan tidak beraturan. Berkembang pada
daerah dengan resistensi beragam.
d. Pola pengaliran trellis, pola yang bernentuk seperti daun dengan
anak-anak sungai sejajar. Biasanya memanjang dan sejajar dengan
jurus perlapisan batuan.
e. Pola pengaliran radial, yaiu pola pengaliran yang arah-arah
pengalirannya menyebar ke segala arah dari satu pusat. Biasanya
berkembang pada kerucut gunung api, kubah stadia muda, dan bukit
kerucut.
f. Pola pengaliran annular, yaitu pola pengaliran dimana anak
sungainya mempunyai penyebaran yang melingkar, seiring dijumpai
pada daerah kubah stadia dewasa.
g. Pola pengaliran multi basinal, disebut juga sink hole yaitu pola
pengaliran yang tidak sempurna, kadang tampak kadang hilang.
Berkembang pada daerah karst.
h. Pola pengaliran contorted, adalah pola pengaliran yang arahnya
berbalik dari arah semula. Pola ini terdapat pada daerah patahan.

2.4 Macam-macam Bentang Alam Fluviatil


Bentang alam fluviatil dapat dibedakan menjadi
beberapa macam berdasar proses pembentukannya, antara lain:
a. Sungai teranyam (braided stream)
Sungai teranyam terbentuk pada bagian hilir sungai yang
mempunyai kemiringan datar atau hampir datar.

5
Pembentukannya dikarenakan oleh erosi yang berlebihan pada
daerah hulu sungai sehingga terjadi pengendapan pada bagian
alurnya dan membentuk gosong tengah (channel bar). Karena
adanya gosong yang banyak dan berjajar (berderet), maka
alirannya memberikan kesan teranyam.

Gambar 2.3.1 Sungai Teranyam


b. Bar deposit (endapan gosong)
Adalah endapan sungai yang terdapat pada bagian tepi atau
tengah alur sungai. Endapan pada tengah alur disebut sebagai
gosong tengah (channel bar) sedang endapan pada tepi disebut
sebagai gosong tepi (point bar)

Gambar 2.3.2 Endapan Gosong


c. Tanggul alam (natural levee)
Adalah tanggul yang terbentuk secara alamiah, hasil
pengendapan luapan banjir dan terdapat pada tepi sungai
sebelah menyebelah. Material pembentuk tenggul alam berasal
dari material hasil transportasi sungai saat banjir dan

6
diendapkan di luar saluran sehingga membentuk tanggul-
tanggul sepanjang aliran

Gambar 2.3.3 Tanggul Alam


d. Kipas alluvial (alluvial fan)
Adalah bentang alam alluvial yang terbentuk oleh
onggokan material lepas, berbentuk seperti kipas, biasanya
terdapat pada suatu dataran di depan gawir. Biasanya tersusun
oleh perselingan pasir dan lempung unconsolidated sehingga
merupakan lapisan penyimpan air yang cukup baik.

Gambar 2.3.4 Kipas Aluvial


e. Delta
Adalah bentang alam hasil sedimentasi sungai pada bagian
hilir setelah masuk pada daerah base level. Selanjutnya akan
dibahas sendiri pada bab bentang alam pantai dan delta

7
Gambar 2.3.5 Delta

2.5 Genesa Pembentukan lembah Sungai


Siklus lembah sungai dibagi menjadi tiga
tingkatan (stadia) yaitu muda dewasa dan tua :
a. Stadia muda, dicirikan oleh:
- biasanya di daerah hulu
- sungai sangat aktif, erosi berlangsung cepat
- erosi vertikal lebih kuat daripada erosi lateral
- lembah sungai mempunyai profil berbentuk V
- gradien sungai curam, terdapat jeram dan air terjun
- anak sungai sedikit dan kecil
- aliran sungai deras (energi pengangkutan besar)
- bentuk sungai relatif lurus
b. Stadia dewasa, ditandai oleh:
- kecepatan aliran mulai berkurang
- gradien sungai sedang, tidak terdapat jeram dan air terjun
- mulai terbentuk dataran banjir dan tanggul alam
- erosi lateral (ke samping) lebih kuat dari erosi vertikal
- mulai terbentuk meander sungai
- pada tingkat ini sungai mencapai kedalaman paling besar
c. Stadia tua, ditandai oleh:
- kecepatan aliran semakin berkurang
- lebih banyak sedimentasi daripada erosi

8
- berkembang di daerah hilir
- banyak terbentuk sungai meander, danau tapal kuda dan
tanggul alam
- terjadi pelebaran lembah walaupun sangat lembat

2.6 Morfometri
Morfometri merupakan penilaian kuantitatif terhadap
bentuk lahan, sebagai aspek pendukung morfografi dan
morfogenetik, sehingga klasifikasi semakin tegas dengan angka –
angka yang jelas.
Rumus kemiringan lereng dari peta topografi dan foto udara :
S = ( Dh / D ) X 100 % (sumber Van Djuidam, 1988)
Keterangan:
S = Kemiringan lereng (%)
Dh = Perbedaan ketinggian (m)
D = Jarak titik tertinggi dengan terendah (m)

Tabel 2.1 Hubungan kelas relief - kemiringan lereng dan perbedaan ketinggian.
(sumber: Van Zuidam,1985)
KELAS RELIEF KEMIRINGAN PERBEDAAN
LERENG ( % ) KETINGGIAN
(m)
Datar - Hampir datar 0-2 <5
Berombak 3-7 5 - 50
Berombak – 8 - 13 25 - 75
Bergelombang
Bergelombang – 14 - 20 75 - 200
Berbukit
Berbukit – Pegunungan 21 - 55 200 - 500
Pegunungan curam 55 - 140 500 - 1.000
pegunungan sangat > 140 > 1.000
curam

9
BAB III
METODOLOGI

3.1 Praktikum Laboratorium


3.1 Alat
- Pulpen/spidol/rapido/pilot DR
- Pensil dan Karet Penghapus
- Penggaris
- Pensil warna minimal 24 warna
- Isolasi bening
- Gunting
3.2 Bahan
- Peta Topografi
- Kertas millimeter blok
- Kertas kalkir minimal ukuran A4 dua kertas
3.3 Diagram Alir
Mulai

10
Persiapkan peta topografi

Membuat delineasi pada peta topografi di kalkir 1

Mewarnai satuan yang sudah dibagi di kertas kalkir 1


sesuai dengan bentang alamnya

Pada setiap satuan dibuat 5 sayatan kecil (memotong 5 garis kontur)

Menghitung persen kelerengan dan beda tinggi tiap satuan serta menentukan
nama satuan berdasarkan klasifikasi relief Van Zuidam

Menggambar pola pengaliran serta gambar jalan di kertas kalkir 2

Membuat Profil sayatan peta topografi


mewakili semua bentang alam minimal 15cm

selesai

3.2 Praktikum Lapangan


3.1 Alat
- Kompas geologi
- Alat tulis (pensil, pulpen dan karet penghapus)
- Kamera digital
3.2 Bahan
- Buku catatan lapangan
3.3 Diagram Alir
Mulai

Persiapkan alat – alat yang dibutuhkan

11
Persiapan sarana transportasi yang digunakan

Berangkat menuju lokasi pengamatan

Menentukan arah utara untuk patokan arah

Melakukan deskripsi pada stasiun pengamatan

Presentasi singkat hasil deskripsi

Selesai
BAB IV
MORFOMETRI

4.1 Sayatan Satuan Struktural Kotur Rapat


1. IK = 1/2000 x Skala
= 1/2000 x 25.000
= 12.5 cm
` ∆h = n x IK
= 5 x 12,5
= 62,5
D = p x skala
= 1 x 25.000
= 25.000 cm = 250 m
% = 62,5/250 x 100% = 25 %
2. D = P x Skala
= 1,5 x 25.000
= 37.500 cm = 375 m
% = 62,5/375 x 100% = 16,67 %
3. D = P x Skala
= 1,5 x 25.000

12
= 37.500 cm = 375 m
% = 62,5/375 x 100% = 16,67 %
4. D = P x Skala
= 1,4 x 25.000
= 35.000 cm = 350 m
% = 62,5/350 x 100% = 17,86 %
5. D = P x Skala
= 1,5 x 25.000
= 37.500 cm = 375 m
% =62,5/375 x 100% = 16,67 %

Rata-rata sayatan satuan struktural kontur rapat


Rata-rata kelerengan 25%+16,67%+16,67%+17,86%+16,67%5

18,57%

Setelah Prosentase kelerengan di rata-rata morfologi satuan


struktural kontur rapat menurut klasifikasi Van Zuidam adalah Berbukit -
Bergelombang.
Sedangkan beda tinggi pada morfologi ini diperoleh
Top Hill – Down Hill = 199 112 = 87 m

4.2 Sayatan Satuan Struktural Kontur Renggang


1. IK = 1/2000 x Skala
= 1/2000 x 25.000
= 12.5 cm
` ∆h = n x IK
= 5 x 12,5
= 62,5
D = p x skala
= 2,3 x 25.000

13
= 57.500 cm = 575 m
% = 62,5/575 x 100% = 10,87 %
2. D = P x Skala
= 2,8 x 25.000
= 70.000 cm = 700 m
% = 62,5/700 x 100% = 8,93 %
3. D = P x Skala
= 1,4 x 25.000
= 35.000 cm = 350 m
% = 62,5/350 x 100% = 17,86 %
4. D = P x Skala
= 1,7 x 25.000
= 42.500 cm = 425 m
% = 62,5/425 x 100% = 14,71 %
5. D = P x Skala
= 3,4 x 25.000
= 85.000 cm = 850 m
% =62,5/850 x 100% = 7,35 %
Rata-rata sayatan satuan struktural kontur renggang
Rata-rata kelerengan 10,87%+8,93%+17,86%+14,71%+7,35%5

11,95 %

Setelah Prosentase kelerengan di rata-rata morfologi satuan


struktural kontur renggang menurut klasifikasi Van Zuidam adalah
Bergelombang - Miring.
Sedangkan beda tinggi pada morfologi ini diperoleh
Top Hill – Down Hill = 170 94 = 76 m

4.3 Sayatan Satuan Fluvial


1.IK = 1/2000 x Skala

14
= 1/2000 x 25.000
= 12.5 cm
` ∆h = n x IK
= 1 x 12,5
= 12,5
D = P x Skala
= 1,4 x 25.000
= 35.000 cm = 350 m
% = 12,5/350 x 100 % = 3,57 %
2. D = P x Skala
= 2 x 25.000
= 50.000 cm = 500 m
% = 12,5/500 x 100 % = 2,5 %
3. D = P x Skala
= 1,4 x 25.000
= 35.000 cm = 350 m
% = 12,5/350 x 100 % = 3,57 %
4. D = P x Skala
= 2 x 25.000
= 50.000 cm = 500 m
% = 12,5/500 x 100 % = 2,5 %
5. D = P x Skala
= 0,5 x 25.000
= 12.500 cm = 125 m
% = 12,5/125x 100 % = 10 %
Rata-rata sayatan satuan Fluvial
Rata-rata kelerengan 3,57%+2,5%+3,57%+2,5%+10%5

4,43 %

15
Setelah Prosentase kelerengan di rata-rata morfologi satuan
Fluvial menurut klasifikasi Van Zuidam adalah Bergelombang -
Landai.

BAB V
HASIL DESKRIPSI

5.1 STA 1
Lokasi : Kaligarang, Semarang

meander material lepas

Gambar 5.1 Kaligarang Sebelah Kanan Jembatan

dataran banjir meander

16
point bar
material lepas

Gambar 5.2 Kaligarang Sebelah Kiri Jembatan


Morfologi Daerah : Perbukitan
Litologi : - Batuan Breksi Vulkanik - Batu Lempung
–Konglomerat
Bentuk Lahan : Bentang Alam Fluvial
Energi Transport : Besar
Proses Erosi : Erosi lateral lebih dominan
Sedimentasi : Lemah
Stadia Sungai : Stadi Dewasa
Dimensi : - kedalaman :½m
- lebar : 20 m
Daratan Banjir : Ada
Tata Guna Lahan : Sebagai jalur irigasi di Semarang
Dampak : - Positif : Tambang batu, irigasi
- Negatif : Banjir
Morfogenesa : Sungai ini terbentuk dari aliran air dari hulu menuju ke
hilir, aliran air juga mengerosi dataran-dataran yang di
laluinya sehingga terbentuk suatu alur dan terbentuk
sungai. Pada sungai ini erosi lateral lebih dominan,
mempunyai energi transport besar dan energy
sedimentasi lemah.

5.1 STA 2
Lokasi : Kali Alang, Semarang. meander

17
point bar
Gambar 5.3 Kali Alang
Morfologi Daerah : Perbukitan
Litologi : - Batu Lempung - Batu pasir
–Konglomerat
Bentuk Lahan : Bentang Alam Fluvial
Energi Transport : Kecil
Proses Erosi : Erosi lateral lebih dominan
Sedimentasi : Lemah
Stadia Sungai : Stadi Dewasa - tua
Dimensi : - kedalaman : 40 cm
- lebar : 20 m
Daratan Banjir : Ada
Tata Guna Lahan : Tambang Batu
Dampak : - Positif : Tambang batu, irigasi
- Negatif : Banjir
Morfogenesa : Sungai ini proses pembentukannya sama dengan sungai
yang pertama. Namun sungai ini memiliki energi
transport yang kecil, hal ini dapt dilihat dari material
sedimen sekitar sungai yag berukuran kecil. Sedangkan
untuk energi sedimentasinya kuat, karena pada sungai

18
ini proses sedimentasi lebih dominan dari proses
transportasi.

BAB VI
PEMBAHASAN

6.1 Praktikum Laboratorium


Warna Ungu tua menunjukkan dataran pada peta topografi tersebut
adalah sebuah dataran tinggi. Dataran tinggi tersebut termasuk dataran tinggi
yang terjal, di tandai dengan kontur-kontur yang rapat. Pada daerah berwarna
ungu tersebut dibuat 5 sayatan yang memotong lima kontur. Dari tiap sayatan
dihitung persentase kelerengannya dengan perhitungan morfometri. Setelah
itu dihitung rata-rata presentase kelerengannya dan didapat sekitar 18,57 %.
Persentase kelerengan ini menurut klasifikasi Van Zuidam termasuk dalam
daerah dengan relief berbukit - bergelombang. Sedangkan untuk beda
tingginya didapat Tophill pada daerah Kadirejo dengan ketinggian 199 m,
sedangkan Downhillnya terdapat pada daerah Benteran dengan ketinggian
112 m. Sehingga setelah dihitung dari rumus Tophill – Downhill, didapat
beda ketinggiannya sebesar 87 m.

19
Warna ungu muda menunjukan daerah yang memiliki kontur
renggang. Daerah ini meliputi daerah Benteran, G.Dukun, Gagan, Djembluk,
Kadirejo, Patjingkerep, Pringapus, dan daerah-daerah lain di sekitar daerah
tersebut. Sama dengan pada kontur rapat, pada kontur renggang ini juga
dibuat 5 sayatan yang memotong lima kontur. Kemudian dihitung persen
kelerengannya dengan perhitungan morfometri untuk masing-masing sayatan.
Setelah itu dihitung rata-rata persentase kelerengannya dan didapat persentase
sebesar 11,95 %. Dilihat dari presentase kelerengan tersebut, menurut
klasifikasi Van Zuidam daerah ini termasuk dalam klasifikasi bergelombang-
miring. Sedangkan untuk Tophillnya berada di daerah G.Kendil dengan
ketinggian 170 m, Downhillnya berada di daerah Sedang dengan ketinggian
94 m. Setelah dilakukan perhitungan didapat beda tinggi sebesar 76 m.
Morfologi denudasional ditandai dengan warna cokelat. Di
daerah denudasi tidak terdapat garis kontur, kalaupun ada hanya sedikit.
Morfologi denudasional terdapat di daerah Kemujon, Kemusu, Gujuban,
Klewor,Blumbang, Bawu, dan daerah lain di sekitarnya. Daerah tersebut
banyak digunakan sebagai daerah pemukiman penduduk.
Morfologi fluvial beserta dataran bajirnya ditandai dengan
warna hijau. Morfologi fluvial dalam praktikum ini adalah Kali Serang.
Sungai ini juga memiliki beberapa anak sungai yang menyebar disetiap
satuan morfologi seperti kali lebon dan kali sadong.. Sama seperti pada
morfologi satuan kontur rapat dan renggang, pada morfologi fluvial ini juga
dibuat 5 sayatan. Sayatan dimulai dari bibir sungai hingga ke garis kontur
terdekat. Masing-masing sayatan dihitung persen kelerengannya, kemudian
dicari rata-rata persen kelerengan dan didapatkan rata-rata persen kelerengan
sebesar 4,43 %. Berdasarkan klasifikasi Van Zuidam termasuk ke dalam
golongan berombak.

6.2 Praktikum Lapangan


6.2.1 STA 1
STA 1 bertempat di Kali Garang, Semarang. Vegetasi di
sekitar sungai adalah pepohonan dan morfologinya berupa perbukitan.

20
Litologi insitunya berupa batuan lanau, ada pula lempung. Sedangkan
litologi eksitunya adalah konglomerat dan batuan breksi vulkanik.
Sungai ini beserta dataran banjirnya memiliki lebar sekitar 18-20 m
dan kedalaman 0.5 – 1 m. Gradien sungainya setelah dilakukan
pengukuran didapatkan ±6ᵒ. Sungai ini memiliki arus yang cukup
deras. Pada sungai ini erosi lateral lebih dominan daripada erosi
vertikal, karena di dataran pinggir sungai masih nampak bekas-bekas
erosinya. Hal ini menandakan bahwa erosi yang berperan banyak
adalah erosi lateral.
Sudah terbentuk meander sungai. Meander sungai terbentuk karena
di bagian tengah, kecepatan air mengalir makin berkurang, tetapi
pengikisan yang bekerja masih tetap pengikisan secara vertikal dan
sudah mulai terjadi pengikisan secara horisontal ke dinding sungai.
Pengikisan yang bekerja secara horisontal atau erosi ke samping ini
disebut dengan erosi lateral. Setelah itu daya angkut sungai semakin
berkurang di daerah hilir dan dibeberapa tempat terjadi pengendapan-
pengendapan. Keseimbangan antara pengikisan dan pengendapan
mulai terlihat pada bagian-bagian yang mengalami sejumlah
pengendapan arus sungai akan mengalami pembelokan-pembelokan di
tempat pengendapan ini sehingga terbentuk meander. Selain meander,
juga di temukan gosong sungai yaitu pointbar yang berada di tepi dan
channelbar yang berada di tengah. Endapan gosong ini terdiri oleh
material-material yang ukurannya masih cukup besar. Material-
material tersebut antara lain batu konglomerat, batu lempung dan
batuan breksi vulkanik. Ukuran material yang cukup besar
menunjukkan bahwa sungai tersebut memiliki energi transportasi yang
cukup besar.
Sedangkan untuk proses sedimentasinya, dilihat dari air sungai
yang keruh dan material-material sedimen yang ukurannya cukup
besar dapat dikatakan proses sedimentasi dengan cara suspensi dan
traksi ataupun rolling. Proses sedimentasi dilakukan dengan energi
pengendapan yang kecil, karena materialnya cukup besar dan pada

21
sungai proses transportasi lebih dominan daripada sedimentasi.
Berdasarkan cirri-ciri sungai tersebut dapat diasumsikan bahwa sungai
Kaligarang termasuk sungai stadia dewasa.
Potensi positif dari sungai ini adalah untuk pengairan, dan potensi
negatifnya apabila sungai tidak mampu menampung debit air maka
akan terjadi banjir.
6.2.2 STA 2
STA 2 adalah di Kalialang. Di sekitar sungai terdapat morfologi
perbukitan yang sudah terdenudasi. Sungai ini memiliki lebar ± 20 m
dan kedalaman sekitar 40 cm. Litologi sungai ini adalah batu lempung
yang merupakan litologi insitu yaitu litologi asli dari daerah tersebut
dan litilogi eksitunya adalah konglomerat. Arus sungai termasuk
lemah, sudah terdapat meander dan juga gosong sungai. Berbeda
dengan gosong sungai di Kaligarang yang ukuran materialnya cukup
besar, gosog sungai di sungai ini sedikit lebih kecil. Hal ini
menandakan bahwa energi transportasinya lemah. Namun materialnya
masih dalam bentuk kerikil-kerakal. Proses transportasinya termasuk
suspensi dilihat dari air sungai yang keruh karena material erosi
bercampur dengan air dan rolling. Erosi pada sungai ini juga erosi
lateral , yaitu arah erosi yang horizontal. Di buktikan dengan adanya
dataran di pinggir sungai yang longsor dan melebarnya sungai ke
samping. Erosi lateral biasanya terdapat pada sungai stadia dewasa-
tua.
Energi pengendapannya cukup besar, dikarenakan material erosi
ukurannya tidak terlalu besar dan arus sungai yang lemah. Endapan
yang besar menyebabkan pendangkalan sungai. Endapan dapat berupa
pointbar yang terdapat di tengah aliran sungai, dan channelbar yang
terdapat di pinggir aliran sungai. Dari ciri-ciri tersebut dapat dikatakan
bahwa Kalialang termasuk ke dalam golongan sunai stadia dewasa
menuju tua.
Potensi positif dari sungai ini antara lain untuk tambang batu dan
juga pengairan. Sedangkan dampak negatifnya adalah banjir dan juga

22
erosi dataran pinggir sungai yang dijadikan tempat pemukinam
penduduk.

BAB VII
PENUTUP

7.1 Kesimpulan
7.1.2 laboratotium
Panjang Presentase Rata-rata Beda
Jenis
Sayatan (%) Kelerengan (%) Tinggi
d 1= 1 cm 25 %
d 2= 1,5 cm 16,67 %
Kontur
d 3= 1,5 cm 16,67 % 18,57 % 87 m
Rapat
d 4= 1,4 cm 17,86%
d 5= 1,5 cm 16,67%
d 1= 2,3 cm 10,87 %
d 2= 2,8 cm 8,93 %
Kontur
d 3= 1,4 cm 17,86 % 11,59 % 76 m
Renggang
d 4= 1,7 cm 14,71 %
d 5= 3,4 cm 7,53 %
d 1= 1,4 cm 3,57 %
d 2= 2 cm 2,5 %
Kontur
d 3= 1,4 cm 3,57 % 4,43 % -
Fluvial
d 4= 2 cm 2,5 %
d 5= 0,5 cm 10 %

7.1.3 lapangan

1. KaliGarang pada STA 1 termasuk sungai berstadia dewasa.

23
2. Pada STA 1 terdapat meander, point bar, dan channel bar.
3. Kali Alang pada STA 2 termasuk sungai berstadia dewasa – tua.
4. Pada STA 2 terdapat meander, point bar, dan channel bar dengan
ukuran material endapan berukuran lebih kecil daripada di STA 1.
7.1 Saran
1. Pemberian materi praktikum agar lebih awal.
2. Praktikum lapangan dilakukan pagi atau sore hari agar lebih kondusif.
3. Agar menjaga kebersihan dan kelestarian sungai

DAFTAR PUSTAKA
Endarto, Danang. 2005. Pengantar Geologi Dasar. Surakarta: UNS Press
http://www.aryadhani.blogspot.com
Diakses pada Minggu, 20 Maret 2011 pukul 21.00 WIB
http://ipankreview.wordpress.com/category/geomorfologi/
Diakses pada Selasa, 22 Maret 2011 pukul 08.00 WIB
http://www.geofacts.co.cc/2011/01/van-zuidam.html
Diakses pada Selasa, 22 Maret 2011 pukul 08.15 WIB

24