P. 1
Audit

Audit

|Views: 293|Likes:
Dipublikasikan oleh 41f14nn

More info:

Published by: 41f14nn on Apr 01, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/09/2014

pdf

text

original

BAB 12 OVERALL AUDIT PLAN

Dalam bab ini, rencana dan program audit dibahas dalam bentuk tiga jenis tes audit : tes transaksi, prosedur penelaahan analitis dan tes langsung terhadap saldo perkiraan. JENIS - JENIS TES AUDIT Dalam menentukan kebenaran penyajian laporan keuangan, auditor menggunakan tiga jenis tes : tes transaksi, prosedur penelaahan analitis (analytical review procedures), dan tes langsung terhadap saldo perkiraan. Prosedur audit pada umumnya akan menerapkan salah satu dari ketiga jenis kategori ini. 1. Tes transaksi Tujuan dari tes pengujian transaksi adalah untuk menentukan apakah sistim akuntasi klien telah berfungsi sebagaimana mestinya. Suatu sistim dapat dikatakan telah berfungsi sebagaimana mestinya apabila setiap transaksi mendapatkan orientasi yang jelas, dicatat dan diperinci di dalam setiap buku harian dengan benar, serta dibukukan di dalam buku besar tambahan dan buku besar dengan benar pula. Tes transaksi menekankan pada penentuan apakah jumlah – jumlah yang bersangkutan adalah benar karena adanya pengendalian yang berfungsi sebagaimana mestinya ( pengujian ketaatan ), karena prosedur akuntasi telah diterapkan sebagaimana mestinya ( pengujian substantip ), atau keduanya. • Tes Ketaatan terhadap setiap transaksi Apabila auditor dapat mengungkapkan adanya pengendalian intern yang efektif, dia berhak untuk menarik kesimpulan bahwa laporan keuangan yang diperiksanya mengadung lebih sedikit kemungkinan kesalahan daripada apabila pengendalian sama sekali tidak ada, atau apabila pengendalian yang tidak efektif. Untuk mempertanggungjawabkan pengandalan sistem pengendalian intern, auditor harus menguji keefektifan dari sistim pengendalian intern yang bersangkutan . prosedur yang terkandung dalam rangka pengujian semacam ini disebut tes ketaatan. Apabila auditor bermaksud untuk mengandalkan suatu pengendalian yang meninggalkan suatu jejak audit, biasanya dia melakukan suatu

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Ignatius Sarto Budiman,SE, MM.

AUDITING I

1

tetapi pada umumnya tes ini lebih ditekankan pada neraca.SE. sebaliknya apabila auditor bermaksud untuk mengandalkan suatu pengendalian yang tidak meninggalkan jejak audit. 3. Apabila prosedur penelaahan analitis mengungkapkan adanya beberapa kesalahan. Sedangkan tes sustantif langsung terhadap PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Ignatius Sarto Budiman. Tes transaksi hampir selalu menekankan pada tes ketaatan karena hampir seluruh sistim akuntansi klien memiliki serangkaian pengendalian intern yang sesuai. Tes substantip terhadap setiap transaksi memberikan suatu dukungan tambahan terhadap keefektifan pengendalian yang ada. AUDITING I 2 . Prosedur penelaahan analitis Tujuan utama dari prosedur penelaahan analitis adalah untuk membantu auditor dalam menentukan luasnya tes audit lain yang diperlukan dalam situasi tertentu. Dalam hal ini tes ketaatan langsung adalah berupa pengamatan oleh auditor apakah kedua kelompk tersebut benar – benar melakukan perhitungan secara independen. Tes langsung terhadap saldo – saldo perkiraan Tes langsung terhadap saldo ini menitikberatkan pada saldo akhir buku besar umum baik untuk perkiraan – perkiraan neraca maupun laporan perhitungan rugi laba.tes ketaatan dengan memeriksa semua dokumen pendukungnya. mungkin diperlukan suatu investigasi lebih lanjut. Namun ada pula beberapa tes ketaatan langsung terhadap saldo – saldo. beberapa tes sustanyip dilakukan secara bersamaan dengan tes ketaatan ( dual purpose test. atau tes berfungsi ganda ) 2. • Tes substantip terhadap setiap transaksi Tes substantip adalah suatu prosedur yang dimaksudkan untuk menguji kesalahan dalam bentuk nilai uang yang secara langsung mempengaruhi kebenaran saldo – saldo laporan keuangan. Kesalahan semacam itu ( monetary errors ) merupakan suatu indikasi yang jelas mengenai kesalahan penyajian setiap perkiraan. dia harus mengujinya dengan mengajukan berbagai pertanyaan kepada karyawan dan mengamati pelaksanaan prosedur tersebut yang sesungguhnya. Dalam tes transaksi pada umumnya. MM. Kebanyakan dari tes langsung terhadap saldo perkiraan adalah berupa tes substantif.

auditor mendapatkan banyak penyimpangan ketaatan dan kesalahan penting. AUDITING I 3 . Analisa Audit 4 Rencana semula dari audit ini adalah mengikuti pendekatan yang digunakan dalam rencana audit 2. PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Ignatius Sarto Budiman. Tes analitis dilakukan secara meluas untuk mengurangi lebih banyak tes substantip. auditor memutuskan untuk menyelenggarakan setiap jenis tes dalam jumlah sedang. VARIASI DI DALAM PERENCANAAN AUDIT Rencana audit dapat bervariasi berdasarkan perbandingan dari ketiga jenis tes yang digunakan 1. tetapi hanya memiliki sedikit pengendalian intern. Audit semacam ini biasanya membutuhkan biaya yang tinggi karena banyaknya tes substantip secara mendetail yang harus dilakukan. 4. Yang ditekankan disini adalah tes substantip langsung terhadap saldo – saldo namun beberapa tes substantip dan tes analitis terhadap beberapa transaksi dilakukan juga. tetapi hanya memiliki sedikit pengendalian intern. Analisa Audit 1 Klien ini adalah sebuah perusahaan besar dengan sistim pengendalian intern yang canggih. MM. kecuali prosedur penelaahan analitis yang akan diselenggarakannya dengan lebih meluas. Biaya audit ini menjadi lebih tinggi karena tes transaksi telah dilakukan namun tidak dapat digunakan untuk mengurangi tes langsung terhadap saldo. maka audit ini diselenggarakan dengan biaya rendah 2. tes substantip terhadap transaksi dan tes langsung terhadap saldo dapat dikurangi. Karena penekanan terletak pada tes ketaatan dan tes analitis. Analisa Audit 3 Perusahaan ini berukuran sedang.SE. 3. Oleh karenanya. Tetapi dari tes transaksi dan analitis yang dilakukannya. Analisa Audit 2 Perusahaan ini berukuran sedang. Dengan demikian.saldo – saldo adalah berupa penghitungan kembali oleh auditor atas persediaan tersebut.

Merancang prosedur tes langsung merupakan suatu kegiatan subyektif dan membutuhkan pertimbangan yang sangat profesional. prosedur penelaahan analitis dan tes langsung terhadap saldo – saldo. PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Ignatius Sarto Budiman. Tes langsung terhadap saldo – saldo Perencanaan tes langsung terhadap saldo – saldo biasanya merupakan bagian tersulit dari seluruh proses perencanaan yang sebenarnya. AUDITING I 4 . yaitu tes transaksi. Tes transaksi Metode perancangan intern.SE. Prosedur penelaahan analitis Karena biayanya yang relatif murah. tes transaksi auditor disesuaikan bermaksud dengan tujuan pengendalian • • • • Apabila mengandalkan pengendalian yang ada dapat mengikuti 4 tahap ini Terapkan rincian setiap tujuan pengendalian intern terhadap kelompok transaksi yang akan diuji Tunjukanlah pengendalian tertentu yang terandalkan untuk setiap tujuan pengendalian intern Untuk setiap pengendalian intern yang direncanakan untuk diandalkan. dan menjelang akhir proses audit sebagai tes kesesuaian yang terakhir. MM.RANCANGAN PROGRAM AUDIT Program audit dirancang dalam tiga kelompok. selama pelaksanaan audit bersamaan dengan tes transaksi dan tes langsung terhadap saldo – saldo. Prosedur penelaahan analitis seringkali dilaksanakan pada tiga tahap: tahap perencanaan untuk membantu auditor menentukan bukti – bukti lain yang dibutuhkan untuk memenuhi risiko audit yang diharapkan. banyak auditor yang menyelenggarakan prosedur penelaahan analitis pada semua audit mereka. 1. 3. selenggarakanlah tes ketaatan sebagaimana mestinya Rancanglah tes substantip dengan mempertimbangkan kelemahan dalam pengendalian intern dan hasil dari tes ketaatan. 2.

auditor hatus telah memiliki suatu rencana audit yang digariskan dengan jelas dan suatu program audit yang pasyi untuk keseluruhan audit. Langkah 1 Langkah 2 Langkah 3 Langkah 4 Langkah 5 Langkah 6 Langkah 7 : Perencanaan Awal : Memahami latar belakang klien : Memperoleh informasi kewajiban hukum klien : Melaksanakan prosedur analitis pendahuluan : Menentukan materialitas dan menetapkan risiko audit yang dapat diterima dan risiko bawaan. MM.SE. AUDITING I 5 . : Memahami struktur pengendalian intern dan menetapkan risiko pengendalian : Mengembangkan rencana audit dan program audit menyeluruh Alasan merencanakan penugasan : • • • Memperoleh baham bukti kompeten yang cukup Menekan biaya audit Menghindari salah pengertian dari klien Langkah 1 Perencanaan awal audit : • • • • Menerima klien baru dan melanjutkan klien lama Mengidentifikasi alasan klien untuk diaudit Staf untuk penugasan Memperoleh surat penugasan Langkah 2 Memperoleh informasi mengenai latar belakang : • • • Memahami bidang usaha dan industri klien Meninjau pabrik dan kantor Mengidentifikasi pihak – pihak yang mempunyai hubungan istimewa PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Ignatius Sarto Budiman.PROSES AUDIT Tahap I Tahap II Tahap III Tahap IV : Perencanaan dan Perancangan pendekatan Audit : Pengujian atas pengendalian dan pengujian substantif atas transaksi : Pelaksanaan prosedur analitis dan pengujian terinci atas saldo : Penyelesaian audit dan laporan audit Tahap I Perencanaan dan Perancangan Pendekatan Audit Pada akhir tahap I.

TUJUAN PROSEDUR ANALITIS DALAM PERECANAAN AUDIT : • • Meningkatkan pemahaman auditor atas usaha klien dan transaksi atau peristiwa yang terjadi sejak tanggal audit terakhir Mengidentifikasikan bidang yang kemungkinan mencerminkan risiko tertentu yang bersangkutan dengan audit JENIS PROSEDUR ANALITIS. yaitu membandingkan data klien dengan : • • • • • Industri sejenis Data serupa periode sebelumnya Data serupa perkiraan klien Data serupa perkiraan auditor Hasil perkiraan yang menggunakan data non keuangan Prosedur analitis digunakan pada : • • • Tahap perencanaan audit Tahap pengujian sustantif Tahap review terhadap hasil audit Tujuan prosedur analitis pada setiap tahap: Tahap perencanaan • • • Memahami industri dan usaha di bidang klien Menilai kelangsung hidup Menunjukan kemungkinan salah saji ( arahan perhatian ) PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Ignatius Sarto Budiman.SE.• Mengevaluasi kebutuhan akan spesialis dari luar Langkah 3 Memperoleh informasi mengenai kewajiban hukum klien : • • • Akte Pendirian dan Anggaran Dasar Perusahaan Notulen Rapat Kontrak Langkah 4 Pelaksanaan Prosedur Analitis Pendahuluan: Konsep prosedur analitis Prosedur analitis meliputi perbandingan jumlah – jumlah yang tercatat dibandingkan dengan harapan yang dikembangkan oleh auditor. MM. AUDITING I 6 .

• Mengurangi pengujian terinci Tahap pengujian • • • • Menunjukan kemungkinan salah saji ( arahan perhatian ) Mengurangi pengujian terinci Menilai kelangsungan hidup Menunjukan kemungkinan salah saji Tahap penyelesaian Langkah 5 Menentukan materialitas dan menetapkan risiko audit yang dapt diterima dan risiko bawaan Langkah – langkah dalam menerapkan materialitas : Langkah 1 Langkah 2 Langkah 3 Langkah 4 Langkah 5 : Tentukan pertimbangan awal mengenai materialitas : Alokasikan pertimbangan awal mengenai materialitas ke dalam segmen : Estimasikan total salah gaji dalam segmen : Estimasikan salah gaji gabungan : Bandingkan estimasi gabungan dengan pertimbangan awal mengenai materialitas. MM. AUDITING I 7 .SE. Langkah 6 Memahami struktur pengendalian intern dan menetapkan risiko pengendalian Pemahaman struktur pengendalian intern : • • • • • Memahami lingkungan pengendalian Memahami penetapan risiko manajemen Memahami sistem komunikasi dan informasi akuntansi Memahami aktivitas pengendalian Memahami pemantauan Prosedur untuk memperoleh pemahaman SPI : • • • • Pengalaman auditor dalam periode sebelumnya atas satuan usaha tersebut Tanya jawab dengan pegawai klien Kebijakan dan pedoman sistem klien Inspeksi dokumen dan catatan PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Ignatius Sarto Budiman.

Seringkali. MM. Tahap II Tes Transaksi Sasaran tahap II adalah untuk mengevaluasi keefektifan dari pengendalian intern yang akan diandalkan oleh auditor. Prosedur perubahan analitis menilai kesesuaian umum dari setiap saldo dan transaksi. penetapan risiko pengendalian atau risiko bawaan semula ternyata terlalu kecil atau risiko audit yang dapat diterima terlalu besar maka tindakan yang harus dilakukan adalah : • • Auditor harus merevisi risiko –risiko tersebut Auditor harus mengevaluasi dengan seksama dampak revisi faktor risiko dan merevisi jumlah bahan bukti secukupnya.• Pengamatan atas aktivitas dan operasi satuan usaha Dokumentasi dari pemahaman SPI: • • • Deskripsi naratif Bagan arus Kuesioner pengendalian intern Langkah 7 Mengembangkan rencana audit dan program audit menyeluruh Merevisi risiko dan bahan audit Berdasarkan bukti yang dikumpulkan.SE. Pengendalian ini diuji dengan tes ketaatan dan sedikit tes sustantif terhadap setiap transaksi. Tahap III Tes langsung terhadap saldo – saldo Sasaran dari tahap III adalah mendapatkan tambahan bukti yang mencukupi untuk menentukan apakah saldo akhir dan catatan kaki di dalam laporan keuangan telah dinyatakan dengan wajar. Tahap IV Penyelesaian penugasan Penelaahan terhadap kejadian – kejadian yang penting setelah tanggal neraca. AUDITING I 8 . Di dalam tahap III ini terdapat 2 kategori yaitu : prosedur penelaahan analitis dan prosedur yang terperinci. Prosedur yang terperinci terutama dimaksudkan untuk menguji kesalahan dalam bentuk nilai uang pada saldo – saldo didalam laporan keuangan. kejadian – kejadian yang penting setelah tanggal neraca. namun sebelum diterbitkannya laporan keuangan serta laporan auditor akan menimbulkan suatu pengaruh terhadap keterangan – keterangan yang disajikan di dalam laporan keuangan. Beberapa prosedur peninjauan tertentu sengaja dirancang untuk PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Ignatius Sarto Budiman.

AUDITING I 9 .mengungkapkan setipa kekadian piutang yang mungkin perlu dinytakan di dalam laporan keuangan. MM.SE. PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Ignatius Sarto Budiman.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->