Anda di halaman 1dari 53

BAB I PENDAHULUAN

1.1
Latar Belakang Masalah Sastra adalah karya sastra imajinatif bermedia yang nilai
estetikanya bernilai
dominan. Melalui karya sastra seorang pengarang bermaksud menyampaikan informasi
, gambaran atau pesan tertentu kepada pembaca. Sesuatu yang disampaikan itu bias
anya merupakan gagasan tentang kehidupan yang ada disekitar pengarang. Novel jug
a sebagai salah satu bentuk karya sastra yang dapat mengemukakan sesuatu secara
bebas, menyajikan sesuatu secara lebih banyak, melibatkan permasalahan yang lebi
h kompleks. Bentuk-bentuk karya sastra itu biasanya berupa prosa, puisi dan dram
a, disebut sastra. Berdasar sejarah perkembangan sastra di Indonesia, prosa dike
lompokkan menjadi dua yaitu prosa lama dan prosa baru, berupa cerpen dan novel.
Semua karya sastra termasuk novel merupakan sesuatu totalitas yang memiliki nila
i seni. Totalitas itu dibangun oleh unsur-unsur pembangun yaitu dari unsur intri
nsik dan ekstrinsik. Unsur intrinsik karya sastra yaitu unsur-unsur yang berada
dalam karya sastra itu sendiri dan sebagai unsur pembangun dalam tubuh karya sas
tra itu.
1
2
Unsur intrinsik pada karya sastra meliputi tema, alur, penokohan, latar, suasana
, gaya bahasa dan sudut pandang. Analisis struktural bertujuan memaparkan dengan
cermat fungsi dan keterkaitan antar berbagai unsur karya sastra yang secara ber
sama menghasilkan sebuah kemenyeluruhan. Analisis struktural merupakan hubungan
antar unsur yang bersifat timbal balik, saling menentukan, mempengaruhi yang sec
ara bersama membentuk satu kesatuan yang utuh. Membaca novel berupa nilai-nilai
dalam hal ini adalah nilai pendidikan yang digunakan sebagai cermin atau perband
ingan dalam kehidupan. Pada dasarnya karya sastra merupakan karya cipta yang men
gungkapkan kembali pengamatan dan pengalaman pengarang tentang peristiwa pada ke
hidupan yang menarik. Peristiwa-peristiwa itu merupakan peristiwa nyata atau mun
gkin hanya terjadi dalam dunia khayal pengarang. Sastra memiliki dunia sendiri.
Suatu kehidupan yang tidak harus identik dengan kenyataan hidup. Kesusastraan pa
da saat ini telah mengalami perkembangan yang pesat dan menggembirakan. Sepanjan
g sejarah kehidupan manusia, sastra akan terus bergerak, tumbuh dan berkembang.
Karya sastra adalah suatu hasil cipta manusia yang berdasarkan kenyataan dan dib
eri imajinasi pribadi lewat media lisan maupun tulisan.
3
Pada hakekatnya karya sastra mempunyai dua unsur pembangun yaitu unsur intrinsik
dan ekstrinsik. Unsur Intrinsik adalah unsur pembangun yang terdapat didalam ka
rya sastra itu sendiri. Unsur Ekstrinsik adalah dunia luar karya sastra yang tur
ut melatar belakangi dan menunjang lahirnya karya sastra. Novel “Menyemai Cinta di
Negeri Sakura” karya Lizsa Anggraeny dan Seriyawati menceritakan tentang seorang
wanita yang tinggal di Jepang tepatnya di Nagoya. Dia selalu menjaga pendirian i
slamnya. Dia bernama Ummu S menikah dengan pria pilihannya yang bernama Joy. Ber
harap berkecukupan dan kebahagiaan dalam hidupnya. Namun harapan itu hanyalah se
mu. Selama di Nagoya dia berhasil menyebarkan agama islam pada warga Jepang yang
minoritas islam itu. Mereka tertarik dengan ajaran Ummu S hingga semua anggota
berhasil membuat wadah atau organisasi islamiyah di berbagai daerah di Nagoya. I
a pun mampu mengajak sang suami menjadi muslim. Anakanaknya pun senang menggelut
i kegiatan rohani. Membaca novel “Menyemai Cinta di Negeri Sakura” terlihat jelas ba
hwa meski berada jauh dari keluarga dan sanak saudara, berada di negeri yang ind
ividualis dan tidak mempedulikan agama, ia tetap menjaga islam dan mampu menarik
masyarakat Nagoya untuk menjadi muslimin dan muslimah. Tetap rutin beribadah me
njalankan perintah Allah meski suara adzan lirih terdengar, masyarakat yang hany
a memikirkan karier dan segala sesuatu duniawiah saja.
4
Novel ini menitik beratkan pada aktivitas rohani, keteguhan seseorang terhadap a
gamanya yaitu islam.
1.2
Alasan Pemilihan Judul Setiap orang melakukan kegiatan pasti mempunyai alasan-al
asan tertentu
sesuai dengan kegiatan yang dilakukannya. Demikian juga dengan judul yang dikemu
kakan dalam penulisan ini yakni : 1. Novel Menyemai Cinta di Negeri Sakura memil
iki hikmah bahwa meski berada di Negeri minoritas muslim, ia dapat mempertahanka
n dan menyebar islam dalam bentuk kegiatan muslim yang makin mempererat ukhuwah
islam. 2. Mengetahui unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik dalam novel Menyemai C
inta di Negeri Sakura dan mengambil kandungan nilai pendidikan didalamnya.
1.3
Tujuan Penulisan Setiap kegiatan penulisan pasti mempunyai tujuan yang akan dica
pai. Tujuan
dari penulisan ini adalah : 1. Untuk mendikripsikan unsur intrinsik dan ekstrins
ik yang terdapat dalam novel Menyemai Cinta di Negeri Sakura karya Lizsa Anggrae
ny dan Seriyawati. 2. Untuk mengetahui nilai pendidikan dalam novel Menyemai Cin
ta di Negeri Sakura karya Lizsa Anggraeny dan Seriyawati.
5
1.4
Pembatasan Masalah
Masalah-masalah yang diidentifikasikan penulis tidak dapat dibahas semua menging
at keterbatasan penulis dalam penulisan ini. Dalam penulisan ini hanya akan diba
has sebagai berikut : 1. Analisis unsur intrinsik dan ekstrinsik dalam novel Men
yemai Cinta di Negeri Sakura karya Lizsa Anggraeny dan Seriyawati. 2. Nilai pend
idikan yang terdapat dalam novel Menyemai Cinta di Negeri Sakura karya Lizsa Ang
graeny dan Seriyawati.
1.5 Metode Pengumpulan Data Tehnik pengumpulan data dilakukan dengan studi kepus
takaan. Data didapat dalam bentuk tulisan, maka harus dibaca, disimak, hal-hal y
ang penting dicatat, kemudian juga mengumpulkan dan mempelajari sumber tulisan y
ang dapat dijadikan acuan dalam hubungannya dengan obyek yang akan diteliti. Has
il pemahaman yang berupa cuplikan-cuplikan dalam novel Menyemai Cinta di Negeri
Sakura yang relevan dan diklasifikasikan sesuai dengan fungsinya. Untuk mengumpu
lkan data perlu menggunakan tehnik-tehnik yang tepat dengan data yang hendak dic
ari atau dikumpulkan dalam penulisan. Adapun tehnik pengumpulan data yang penuli
s gunakan adalah non interaktif, yaitu catatan dokumen yang meliputi langkah-lan
gkah sebagai berikut :
6
1. Mencari sumber data dan mengumpulkan sumber data yang dapat digunakan sebagai
pendukung penulisan. 2. Membaca dengan cermat dan teliti terhadap sumber data y
ang primer dan mencatat yang penting berdasarkan kelompok kelas kata. 3. Mengump
ulkan data-data sekunder dari buku-buku referensi dan novel. 4. Merangkai teori
dengan catatan sehingga menjadi perangkat yang harmonis yang siap sebagai landas
an penulisan.
1.6 Sistematika Penulisan Sistematika penulisan atau renretan penulisan dari awa
l sampai akhir, tentang apa yang akan penulis teliti agar dapat dijadikan pedoma
n dalam pembahasan. Secara rinci, laporan hasil penulisan ini dibagi menjadi 5 b
ab, yaitu : Bab I Pendahuluan yang terdiri dari latar belakang masalah, alasan
pemilihan judul, tujuan penulisan, pembatasan masalah, metode pengumpulan data d
an sistematika penulisan. Bab II Landasan teori yang meliputi pengertian novel,
unsur pembangun
novel, dan nilai pendidikan dalam karya sastra. Bab III Pembahasan Masalah terdi
ri dari analisis unsur intrinsik dan ekstrinsik
novel serta sinopsis. Bab IV Penutup yang terdiri dari kesimpulan
BAB II LANDASAN TEORI
2.1
Pengertian Sastra Kata sastra dapat ditemukan diberbagai aspek dan konteks yang
berbeda.
Sastra merupakan istilah yang luas. Sastra dapat dipandang sebagai sesuatu hasil
yang dapat dinikmati, sastra juga merupakan suatu yang erat hubungannya dengan
ciri-ciri khusus suatu bangsa atau kelompok masyarakat. Kata kesusastraan berasa
l dari bahasa sansekerta. Kata kesusastraan terbentuk dari kata susastra dan imb
uhan ke-an. Sedangkan kesusastraan itu sendiri masih dapat dipecah lagi yaitu su
dan sastra yang berarti tulisan atau karangan. Susastra berarti tulisan atau ka
rangan yang indah dan baik, berimbuhan ke-an berarti segala hal atau sesuatu yan
g berhubungan dengan sastra. Kata kesusastraan dapat diartikan sebagai segala ni
lai kebaikan yang ditulis dengan bahasa yang indah. Sastra adalah ciptaan manusi
a kedalam bentuk sastra, baik tulisan maupun lisan yang dapat menimbulkan rasa s
enang. Dalam Teory Of Literature karangan Rene Wellek dan Austin Werren dalam te
ori kesusastraan menyatakan ciri-ciri atau sifat-sifat kesusastraan antara lain:
fiction (rekaan), imagination (daya angan) dan invention (daya cipta). Dalam me
mbaca dan memahami karya sastra kita selalu menghadapi keadaan
7
8 yang paradoksal. Pada satu pihak sastra merupakan keseluruhan yang bulat, oton
omi, disisi lain tidak berfungsi dalam situasi kosong. Beberapa pendapat diatas
dapat disimpulkan tentang pengertian sastra. Sastra adalah karya imajinatif berm
edia bahasa yang nilai atau unsur estetikanya dominan.
2.2 Pengertian Karya Sastra Sesuatu yang disampaikan oleh sastrawan dalam karyan
ya adalah tentang manusia dengan segala macam perilakunya. Kehidupan manusia ter
sebut diungkapkan lengkap dengan nilai-nilai yang terkandung didalamnya. Oleh ka
rena itu, karya sastra dapat menambah kekayaan batin setiap hidup dan kehidupan
ini. Karya sastra mampu menjadikan manusia memahami dirinya dengan kemanusiaanny
a. Setiap peristiwa yang terjadi dalam kehidupan ini terkandung nilai atau hikma
h yang dapat kita petik manfaatnya. Untuk dapat menangkap nilai-nilai tersebut d
iperlukan kepekaan dan kearifan. Bagi orang awam hal yang mungkin tidak dapat me
njadi semangat berarti bagi pengarang. Sesuatu yang dianggap tidak berarti oleh
masyarakat itu diolah oleh pengarang kemudian diwujudkan kembali dalam bentuk ka
rya sastra. Karya sastra memiliki fungsi ganda yaitu sebagai hiburan sedangkan d
isisi lain berusaha memberikan nilai-nilai yang bermanfaat bagi kehidupan. Fungs
i karya sastra bagi hidup dan kehidupan ke dalam lima kelompok, yaitu :
9
1.
Fungsi Rekreatif yaitu karya sastra dapat memberikan rasa senang,
gembira serta menghibur para pembaca. 2. Fungsi Estetis yaitu karya sastra itu i
ndah, secara otomatis karya sastra
akan memberi keindahan bagi penikmatnya. 3. Fungsi Didaktif yaitu karya sastra y
ang baik biasanya mampu
mengarahkan dan mendidik para pembaca karena nilai-nilai kebenaran yang terkandu
ng didalamnya. 4. Fungsi Moralitas artinya karya sastra yang baik biasanya selal
u
mengandung nilai-nilai moral yang tinggi. Dengan begitu pembaca akan tahu bagaim
ana moral yang baik dan buruk bagi dirinya. 5. Fungsi Religiusitas yaitu karya s
astra mengandung ajaran-ajaran agama
yang harus dan wajib diteladani oleh para penikmatnya. Sasaran karya sastra buka
nlah pikiran penikmat, melainkan perasaan. Karya sastra tidak bermaksud agar pen
ikmat tahu yang dikomunikasikan, melainkan mengajak apa yang dirasakan pengarang
. Karya sastra merupakan kehidupan buatan atau rekaan sastrawan. Kehidupan di da
lam karya sastra adalah kehidupan yang telah diwarnai dengan sikap
penulisnya, latar belakang pendidikannya, keyakinannya, dan sebagainya. Karya sa
stra merupakan wujud ungkapan perasaan pengarang. Jika dilihat dari sifatnya, sa
stra merupakan karangan fiksi atau non ilmiah. Seperti juga karangan lain, karya
sastra dibuat pengarang dengan maksud untuk mengkomunikasikan
10
sesuatu kepada pembacanya. Hanya karena sifat dasarnya yang berbeda dengan karan
gan lain, maka sesuatu yang dikomunikasikan tersebut juga berbeda. Macam karya s
astra antara lain :
1. Novel Istilah tentang novel antara Negara satu dengan Negara lain beragam. Da
lam Bahasa jerman disebut Novelle. Sedangkan dlam bahasa perancis disebut Nouvel
le. Kedua istilah tersebut dipakai dalam pengertian yang sama yaitu prosa yang a
gak panjang dan sederhana karena hanya menceritakan maksud kejadian yang memuncu
lkan suatu konflik yang mengakibatkan adanya perubahan nasib pelakunya. Beberapa
pendapat mengenai novel dikemukakan oleh para ahli sastra. Namun sampai saat in
i belum ada patokan yang dapat diterima oleh semua pihak. Novel dalam arti umum
berarti cerita berbentuk prosa dalam ukuran yang luas yaitu cerita dengan plot d
an tema yang kompleks, karakter yang banyak dan setting cerita yang beragam. Nov
el merenungkan dan melukiskan realitas yang dilihat, dirasakan dalam bentuk tert
entu dengan pengaruh tertentu atau ikatan yang dihubungkan dengan tercapainya ge
rak-gerik hasrat manusia. Novel memiliki ciri-ciri sebagai berikut : 1. Mencerit
akan sebagian kehidupan yang luar biasa 2. Terjadinya konflik hingga menimbulkan
perubahan nasib
11
3. Terdapat beberapa alur atau jalan cerita 4. Terdapat beberapa insiden yang me
mpengaruhi jalan cerita 5. Perwatakan atau penokohan dilukiskan secara mendalam
Novel ialah suatu cerita dengan alur panjang mengisi satu buku atau lebih yang M
engarang kehidupan manusia yang bersifat imajinatif The Advanced Meaner Of Curre
nt English, menceritakan kehidupan manusia hingga terjadinya konflik yang dapat
menyebabkan perubahan nasib bagi para pelakunya. Manfaat dari membaca novel adal
ah memberi kesadaran kepada pembaca tentang kebenaran-kebenaran hidup ini. Selai
n itu dapat memberikan kegembiraan dan kepuasan batin, memberikan penghayatan ya
ng mendalam terhadap apa yang kita ketahui, serta dapat menolong pembacanya menj
adi manusia yang berbudaya. Hasil cipta sastra akan selalu berbicara masalah man
usia dengan segala permasalahan hidupnya, baik hubungan manusia dengan manusia,
manusia dengan lingkungannya maupun manusia dengan penciptaNya. Hasil karya sast
ra novel mengandung keindahan yang dapat menimbulkan rasa senang, nikmat, terhar
u, menarik perhatian, menyegarkan perasaan pembaca, pengalaman jiwa yang terdapa
t dalam karya sastra memperkaya kehidupan batin manusia khususnya pembaca.
2. Cerpen
12
Cerpen mengalami perkembangan yang sangat pesat ketika masa penjajahan jepang. P
ada masa itu segala sesuatu dituntut serba singkat dan cepat. Karena pengaruh su
asana, maka dalam mengutarakan perasaannya pengarang juga mengikuti keadaan. Pen
garang mengutarakan segala sesuatu secara singkat dan memilih medianya yaitu ben
tuk cerpen. Cerpen singkatan dari cerita pendek. Oleh karena itu bentuknya yang
pendek, maka yang ditampilkan oleh cerpen hanyalah sebagian saja dari kehidupan
yang dialami oleh tokoh cerita. Sebuah cerpen pada dasarnya menuntut adanya perw
atakan yang jelas. Tokoh merupakan pusat sorotan dalam cerita. Unsur penokohan d
alam cerpen terasa lebih dominan, daripada unsur yang lain. Dengan membaca cerpe
n seorang pembaca akan memahami karakter tokoh cerita yang dimiliki. Jadi, memba
ca cerpen tidak sekedar mengetahui jalan cerita tetapi mengetahui manusia dengan
sifat-sifatnya. Suatu hasil sastra dapat dikategorikan ke dalam cerita pendek h
arus dilihat dari ruang lingkup permasalahan yang ditampilkan dalam karya sastra
tersebut. Biasanya cerpen hanya akan menampilkan suatu pokok permasalahan saja
dalam cerita. Karena permasalahan yang ditampilkan hanya satu atau permasalahann
ya tunggal, maka tidak memungkinkan tumbuhnya digresi dalam cerita pendek. Cerpe
n yaitu kisahan yang memberi kesan tunggal yang dominant tentang suatu tokoh dal
am latar dan satu situasi dramatik.
13
Predikat pendek pada kata cerita pendek bukan ditentukan oleh banyaknya halaman
untuk mewujudkan cerita itu atau sedikitnya tokoh yang terdapat dalam cerita itu
, melainkan lebih disebabkan oleh ruang lingkup permasalahan yang ingin disampai
kan oleh bentuk karya sastra tersebut. Jadi, sebuah cerita pendek belum tentu da
pat digolongkan ke dalam jenis cerita pendek apabila ruang lingkup permasalahan
yang persyaratan yang dituntut oleh cerita pendek. Berdasarkan uraian tersebut,
maka dapat disimpulkan bahwa cerpen hanya menceritakan permasalahan tunggal. Men
genai jumlah halaman tidak akan berpengaruh banyak terhadap jenis karya sastra i
ni. Cerita yang pendek belum tentu cerita pendek dan cerita agak panjang pun kad
ang-kadang dapat dikategorikan sebagai cerpen jika permasalahannya tunggal. Oleh
karena permasalahannya tunggal, maka cerpen cenderung pendek.
Perbedaan antara Novel dan Cerpen No 1 2 Novel Terjadi konflik batin Perwatakan
digambarkan secara detail Cerpen Tidak harus terjadi Perwatakan digambarkan seca
ra singkat
14 15
3 4
Alur lebih rumit Latar lebih luas dan waktunya lebih lama Novel lebih panjang
Akhir
ceritanya
sederhana Latar hanya sebentar dan terbatas Cerpen lebih pendek karangannya Unsu
r cerita dalam cerpen relative
5
karangannya daripada cerpen Unsur-unsur cerita lebih
6
dalam
novel
kompleks dan beragam dibandingkan cerpen Novel minimal halamannya 7 adalah 100 h
alaman Jumlah kata dalam 8 novel minimal 35.000 kata Lama 9 untuk
sederhana dan pasti tunggal Cerpen halaman
maksimal 30 kuarto
Jumlah kata dalam cerpen 10.000 kata Waktu dibutuhkan membaca hanya 10 menit 16
maksimal yang untuk cerpen
membaca novel kirakira 30-90 menit
No Persamaan antara Novel dan Cerpen 1 Keduanya sama-sama prosa baru 2 Mengandun
g unsur intrinsik
3 4
Sama-sama termasuk karya sastra Sama-sama termasuk cerita fiksi
3. Puisi Puisi yaitu salah satu bentuk/ ragam sastra yang diwujudkan dengan kata
kata/bahasa yang indah dan padat yang mengandung nilai-nilai. Jika dilihat dari
isinya puisi terdiri atas berbagai macam diantaranya yaitu Elegi, Balada dan Ode
. Jika dilihat berdasarkan zamannya, puisi dikelompokkan menjadi 3 yaitu puisi l
ama, puisi baru dan puisi modern. Puisi lama biasanya masih sangat mementingkan
masalah rima, irama dan aturan-aturan yang lain. Yang termasuk puisi lama yaitu
syair, pantun, gurindam dan seloka. Puisi baru sudah mulai meninggalkan aturan-a
turan dalam puisi lama. Hanya saja dalam puisi baru masih memperhatikan jumlah b
aris dalam tiap baitnya. Karya sastra puisi baru antara lain: distikon, tersina,
kuartren dan sebagainya. Puisi modern sudah jelas dari segala aturan seperti ya
ng mengikat pada puisi lama. Puisi modern biasanya mengutamakan isi daripada ben
tuknya. Misalnya rima, 17
irama dan yang lainnya menjadi aturan dalam puisi lama tidak lagi diperhatikan d
alam penyusunan puisi modern. Meskipun dalam puisi modern telah bebas dari segal
a aturan seperti yang mengikat pada puisi lama. Tetapi ia tetap berbentuk
puisi yang memiliki perbedaan dengan karya sastra yang lain. Karya sastra puisi
tetap menggunakan bahasa yang singkat dan padat.
BAB III PEMBAHASAN MASALAH
3.1
Analisis Unsur Intrinsik Novel
3.1.1 Alur/ Plot Alur adalah penceritaan rentetan peristiwa yang penekanannya di
tumpukan kepada sebab-akibat. Untuk merangkai peristiwa-peristiwa menjadi kesatu
an yang utuh, pengarang harus menyeleksi kejadian mana yang perlu dikaitkan sert
a mana yang kiranya harus dipenggal ditengah-tengah. Hal yang demikian berguna u
ntuk lebih menghidupkan cerita menjadi menarik sehingga pembaca berambisi terus
untuk menekuninya. Alur dalam cerita kadang sulit untuk dicari karena tersembuny
i dibalik jalan cerita. Namun, jalan cerita bukanlah alur. Jalan cerita hanyalah
manifestasi bentuk wadah, bentuk jasmaniah dari alur cerita. Dengan mengikuti j
alan cerita maka dapat ditemukan alur. Alur bisa dengan jalan progresif (alur ma
ju) yaitu dari awal, tengah, dan akhir terjadinya peristiwa. Tahap progresif ber
sifat linier. Jalan regresif (alur mundur) yaitu bertolak dari akhir cerita, men
uju tahap tengah atau puncak dan berakhir pada tahap awal. Tahap regresif bersif
at non linier. Ada juga tehnik pengaluran flash back (sorot balik) yaitu tahapan
nya dibalik seperti halnya
18 19
regresif. Flash back mengubah tehnik pengaluran dari progresif ke regresif. Sela
in yang tersebut diatas ada juga tehnik alur yang lain yaitu tehnik tarik balik
(back tracking) yang dalam tahap tertentu peristiwa ditarik ke belakang.
Alur adalah sambung-sinambungnya peristiwa berdasarkan hukum sebab akibat. Alur
tidak hanya mengemukakan apa yang terjadi, tetapi yang lebih penting ialah menje
laskan mengapa hal itu terjadi, dengan sambungsinambungnya peristiwa ini terjadi
lah sebuah cerita. Sebuah cerita bermula dan berakhir. Antara awal dan akhir ini
lah terlaksana alur itu. Tentu sudah jelas, alur itu mempunyai pula bagian-bagi
annya yang sederhana dapat dikenal sebagai permulaan, pertikaian dan akhir. Wala
upun cerita rekaan berbagai macam contoh, ada pola-pola tertentu yang hampir sel
alu terdapat dalam sebuah cerita rekaan, yang disebut struktur umum alur, yang d
igambarkan sebagai berikut : 1. paparan (exposition) Awal 2. rangsangan (incitin
g moment) 3. gawatan (rising action) 4. tikaian (conflict) Tengah 5. rumitan (co
mplication) 6. klimaks (climax) 7. leraian (falling action) Akhir 8. selesaian (
denouement) 20
Berdasarkan teknik pengaluran, novel Menyemai Cinta di Negeri Sakura menggunakan
alur sorot balik (flash back), yaitu urutan tahapannya dibalik seperti regresif
. Sorot balik dapat terlihat dalam kutipan berikut :
“Hari itu aku pergi berbelanja ke Supermarket yang agak jauh dari rumahku….” (Lizsa, 2
007 :166).
“Kejadian itu telah berlalu beberapa tahun, tetapi masih membekas kuat dalam ingat
an. Karena aku tak tahu mengapa pertanyaan seperti itu terlontar. Hingga kini ku
tak tahu jawabnya….” (Lizsa, 2007 :190). 3.1.2 Penokohan/ Perwatakan/ Karakter Peno
kohan merupakan proses yang digunakan pengarang untuk menciptakan tokoh-tokoh pe
laku cerita serta sifat atau gambaran yang berkenaan dengannya. Tokoh yang terda
pat dalam suatu cerita memiliki peran yang berbeda-beda. Menurut fungsinya, toko
h dibagi menjadi 3 yaitu : Tokoh Sentral yaitu tokoh yang menentukan gerak dalam
suatu cerita. Tokoh Utama yaitu tokoh yang mendukung suatu cerita baik tokoh pr
otagonis maupun antagonis.
Tokoh Pembantu yaitu tokoh yang hanya berfungsi melengkapi terjadinya suatu ceri
ta. Menurut perannya, tokoh dibagi menjadi 3 yaitu : Tokoh Protagonis yaitu pela
ku yang memiliki watak yang baik sehingga 21
disenangi pembaca. Tokoh Antagonis adalah pelaku yang tidak disenangi pembaca ka
rena memiliki watak yang tidak sesuai dengan apa yang diidamkan oleh pembaca.
Tokoh Tritagonis adalah pelaku yang membantu dalam suatu cerita, baik tokoh prot
agonis maupun antagonis. Penyajian watak dan tokoh serta penciptaan citra tokoh
terdapat beberapa metode, masing-masing dengan kelebihan dan kekurangannya. Ada
kalanya Pengarang melalui penceritaan mengusahakan sifat-sifat tokoh, pikiran, h
asrat dan perasaannya. Kadang menyisipkan komentar pernyataan setuju tidaknya ak
an sifat-sifat tokoh itu. Secara garis besar dapat mengenal watak para tokoh dal
am sebuah cerita yaitu melalui apa yang diperbuatnya melalui ucapan-ucapannya, m
elalui penggambaran fisik seorang tokoh, melalui pikiran-pikirannya dan melalui
penerangan langsung dari pengarang. Penokohan adalah penampilan watak atau karak
ter para tokoh oleh pengarang. Penampilan watak yang dilakukan oleh pengarang ad
a tiga macam cara yaitu : Cara Analitik yaitu pengarang secara langsung memapark
an watak tokohtokohnya. Misalnya, pengarang menyebutkan watak tokoh yang pemarah
, otoriter, sombong, kasar, dan sebagainya.
22
Cara Dramatik yaitu watak tokoh dapat disimpulkan dari pikiran, cakapan, perilak
u tokoh, bahkan penampilan fisik, lingkungan atau tempat tokoh, cara berpakaian
dan pilihan nama tokoh, dan sebagainya.
Cara Campuran yaitu gambaran watak tokoh menggunakan cara Analitik dan Dramatik
secara bergantian. Dalam novel “Menyemai Cinta di Negeri Sakura”, cara yang digunaka
n pengarang untuk menampilkan watak tokoh dalam ceritanya, menggunakan cara Anal
itik. Pengarang memaparkan watak tokoh-tokohnya yang ditunjukkan pada kutipan be
rikut ini : “Joy, seorang suami yang otoriter (perintah yang mutlak tidak boleh di
langgar). Namun, disisi lain sebenarnya ia sangat menyayangi istrinya yaitu Ummu
S.” ( Lizsa, 2007 :17). “Ummu S, istri Konsulat Bosnia. Lahir dan besar sebagai seo
rang muslim. Namun, tergerak hati untuk belajar agama di usia senja. Ia seorang
ibu rumah tangga, sabar dan pengalah.” (Lizsa, 2007 :15) “Saya percaya, galaknya mer
tua, cerewetnya mertua atau cap miring apalah yang ada pada mertua, tidak lebih
semata-mata karena mereka pun adalah manusia. Hamba Allah yang tak lepas dari si
fat baik dan buruk. Namun ada kalanya ibu mertua seperti sahabat yang bisa diaja
k curhat. Kalaupun ada pergesekan,saya anggap hal yang wajar tak perlu dimasukka
n dalam hati.” (Lizsa, 2007: 68-69). 23
Berdasarkan fungsinya, tokoh dalam novel “Menyemai Cinta di Negeri Sakura” menampilk
an tokoh protagonis dan antagonis. Tokoh utama yang protagonis adalah Ummu S, se
menjak dalam perantauan negeri Sakura, Nagoya
yang individualis, seorang suami yang otoriter. Namun ia tetap tegar dan tabah.
Yang akhirnya ia berhasil menarik warga masyarakat Nagoya untuk mengenal islam.
Hingga semua berhasil membangun organisasi islamiah di berbagai daerah. Anak-ana
knya pun ikut serta menggeluti islam serta suaminya pun mau untuk beragama islam
dan berubah menjadi sosok yang penyayang. Tokoh Antagonis adalah Joy suami Ummu
S sendiri. Ia tidak setuju dengan agama yang dianut Ummu S yaitu Islam. Dia ber
usaha mempengaruhi Ummu S untuk melepas jilbab kemana pun ia pergi. Akan tetapi
Ummu S mampu mengelak dengan berbagai akal untuk menjawabnya. Pernyataan tersebu
t terdapat dalam kutipan dibawah ini : “Sudah. Lepas aja tutup kepalanya itu…”katanya.
(Lizsa, 2007: 106) “Kalau bisa, jangan pakai itu, kata suamiku kedua kalinya. Lia
t tuh di TV, orang Islam ngebom Inggris,” katanya pula. Dia masih mencoba
menggoncangkan kemantapan hatiku….” (Lizsa, 2007: 107) Tokoh bawaannya yaitu Kiki, Y
osh, Chi-chi, Mertua Ummu S, Shota dan Takahashi. Disebut tokoh bawaan karena ke
munculannya berfungsi untuk mendukung tokoh utama, walaupun sebagian ada hubunga
nnya dengan tokoh utama. Dilihat dari cara menampilkan tokoh, dalam novel “Menyema
i Cinta di 24
Negeri Sakura”menggunakan tokoh bulat. Pengarang menampilkan tokoh protagonist Umm
u S selain menyoroti sifat baik, sabar, tabah, rajin sembahyang
dan penolong, juga menyoroti sifatyang tidak baik, tidak mensyukuri nikmat Allah
yang diberikan kepadanya.
3.1.3 Latar/ Setting Latar adalah tempat suatu peristiwa dalam cerita yang bersi
fat fisikal biasanya berupa waktu, tempat dan ruang. Termasuk didalam unsur lata
r adalah waktu, hari, tahun, periode sejarah, dan lain-lain. Latar cerita mencak
up kerengan-keterangan mengenai keadaan sosial dan tempat dimana peristiwa itu t
erjadi. Fungsi latar selain memberi ruang gerak pada tokoh juga berfungsi untuk
menghidupkan cerita. Dalam latar ini, pengarang menampilkan tokoh-tokoh dan peri
stiwa-peristiwa yang selain berkaitan untuk membangun cerita yang utuh. Kemuncul
an latar dalam cerita disebabkan adanya peristiwa, kejadian, juga adanya tokoh.
Tokoh dan peristiwa membutuhkan tempat berpijak,
membutuhkan keadaan untuk menunjukkan kehadirannya. Latar dalam novel “Menyemai Ci
nta di Negeri Sakura”meliputi aspek waktu, ruang dan suasana. 1. Waktu
25
Novel “Menyemai Cinta di Negeri Sakura” menggunakan istilah waktu dalam cerita seper
ti pagi, sore, malam, sekian hari, sekian minggu, sekian bulan dan sebagainya. T
erlihat dalam kutipan berikut : “Dua minggu kebelakang saya mendapat kabar gembira
dari seorang sahabat melalui telepon.” (Lizsa, 2007: 16) “…..Kejadian tersebut telah
berlalu lewat dari 10 tahun. Meski kini tak pernah lagi mengejar bus jurusan ini
. Namun peristiwanya masih lekat dibenak.” (Lizsa, 2007: 43) 2. Tempat Tempat yang
digunakan dalam novel “Menyemai Cinta di Negeri Sakura”di Negara Jepang tepatnya di
Nagoya. Tempat tinggal Ummu S setelah menikah dengan Joy. Terlihat dalam kutipa
n berikut : “Di Nagoya tempat tinggal saya ada kegiatan pengajian keluarga yang di
laksanakan tiap hari ahad pekan ke dua”. (Lizsa, 2007: 192) 3. Suasana Suasana yan
g tergambar dalam novel ini adalah suasana kota Nagoya yang Individualis. Negara
sekuler yang tak peduli akan keberadaan agama. Kehidupan bebas, hedonisme, sert
a mementingkan karier duniawiah saja.
26
3.1.4 Gaya bahasa Bahasa dalam karya sastra mempunyai fungsi ganda. Ia tidak han
ya sebagai alat penyampaian maksud pengarang, melainkan juga sebagai penyampaian
perasaan. Pengarang dalam menyampaikan tujuannya dapat menggunakan cara-cara la
in yang tidak kita jumpai dalam kehidupan seharihari. Cara-cara tersebut misalny
a dengan menggunakan perbandinganperbandingan, menghidupkan benda-benda mati, me
lukiskan sesuatu keadaan dan menggunakan gaya bahasa yang berlebihan. Usaha atau
tindakan yang dilakukan sastrawan agar pendengar atau pembaca tertarik dan terp
engaruh oleh gagasan yang disampaikan melalui tuturnya dengan pemilihan bahasa,
pemakaian ulasan, dan pemanfaatan gaya bertutur Bahasa dalam novel ini menggunak
an bahasa tak baku. Bahasa yang tidak sesuai dengan EYD. Terdapat dalam kutipan
berikut : “Nggak….nggak suka ah,”kata Kiki dengan wajah tak suka. (Lizsa, 2007:130) “Ah….m
asih agak sepi, nih,” batinku senang. (Lizsa, 2007: 119) Sementara gaya bahasa ant
ara lain meliputi :
27
Personifikasi Perbandingan Metafora Alegori Perumpamaan Majas Hiperbola
Pertentangan
Ironi Litotes Metonimia
Pertautan
Alusio Eufimisme Sinekdok Parsprototo Totemproparte
Serta menggunakan gaya bahasa personifikasi yaitu membandingkan benda yang terca
ntum dalam kutipan berikut : “….suara hati yang satu makin menonjolkan dorongannya.” “Ta
pi aku ragu, dan sedikit takut kalau nanti tak berjalan lancar….,” bisik hati yang l
ain. (Lizsa, 2007: 118)
28
3.1.5 Amanat Amanat adalah suatu ajaran moral atau pesan yang ingin disampaikan
pengarang. Amanat dipakai pengarang untuk menyampaikan tanggung jawab problem ya
ng dihadapi pengarang lewat karya sastra. Amanat merupakan pesan atau gagasan ya
ng mendasar yang dituangkan pengarang dalam karyanya untuk memecahkan peristiwa
yang terjadi. Istilah amanat berarti pesan. Amanat cerita merupakan pesan pengar
ang kepada pembaca atau publiknya. Pesan yang hendak disampaikan mungkin tersura
t. Tetapi mungkin juga tidak jelas, samara-samar atau tersirat. Amanat yang terd
apat dalam novel “Menyemai Cinta di Negeri Sakura” adalah : “Hendaknya seseorang bersa
bar dalam segala hal menghadapi cobaan hidup, tetap mempertahankan islam diri di
Negara yang minoritas Islam, hura-hura, hedonisme dan sebagainya. Dan setidakny
a kita mampu mengajak non muslim atau orang-orang tak beragama untuk bergabung m
asuk islam dengan teknik pengajaran yang menarik.” Inilah amanat yang dapat penuli
s ambil dari novel “Menyemai Cinta di Negeri Sakura”karya Lizsa Anggraeny dan Seriya
wati yang diambil secara tersirat.
29
3.1.6 Tema Pengarang dalam menulis ceritanya bukan sekedar mau bercerita tetapi
mau mengatakan suatu hal pada pembacanya. Sesuatu yang ingin dikatakan itu bila
suatu masalah kehidupan, pandangan hidupnya tentang kehidupan ini atau karakter
terhadap kehidupan ini. Kejadian dan perbuatan tokoh cerita, semua didasari oleh
ide dari pengarang. Berdasarkan keterangan diatas dan dengan membaca novel Meny
emai Cinta di Negeri Sakura karya Lizsa Anggraeny dan Seriyawati mengisahkan pel
aku utama yaitu Ummu S atau Mrs A, dengan segala permasalahan yang dihadapi maka
akan ditemukan ide dasar cerita atau tema yang terkandung didalam karya sastra
tersebut. Adapun tema dari novel ini ialah keteguhan hati dan pendirian agama da
lam negeri perantauan. 3.1.7 Sudut Pandang/ Point Of View Sudut Pandang ialah ca
ra pengarang menampilkan para pelaku dalam cerita yang dipaparkan. Sudut Pandang
merupakan hasil karya seorang pengarang sehingga terdapat pertalian yang erat a
ntara pengarang dengan karyanya.
30
Sudut Pandang/ Point Of View menyarankan pada cara sebuah cerita kisahan. Ia mer
upakan cara atau pandangan yang dipergunakan pengarang sebagai sarana untuk meny
ajikan tokoh, tindakan, latar dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita dalam
sebuah karya fiksi kepada pembaca. Pusat pengisahan meliputi : narrator omnisci
ent,narrator observer, narrator observer omniscient, serta narrator the third pe
rson omniscient. Sudut Pandang cerita itu sendiri secara garis besar dapat dibed
akan ke dalam 2 macam : persona pertama, gaya “aku”, dan persona ketiga, gaya “dia”. Pus
at pengisahan adalah posisi dan penempatan diri pengarang dalam cerita, atau dar
imana dia melihat peristiwa-peristiwa yang terdapat dalam cerita itu. Lizsa Angg
raeny dan Seriyawati menceritakan para pelaku dalam novel adalah pengarang sebag
ai orang pertama dengan kata aku atau –ku untuk tokoh utama. Dapat dilihat dalam k
utipan berikut : “Aku menguatkan diri sendiri dengan menceramahi diri, mengolok di
ri dan mempertanyakan langkah-langkahku selama ini.” ( Lizsa, 2007: 109) “Disinilah,
cintaku bersemi dan makin mekar kepadaNya. Yang kuharap hanyalah cintaNya.” (Lizs
a, 2007: 109)
31
3.2 Analisis Unsur Ekstrinsik Novel Dalam karya sastra, nilai-nilai pendidikan y
ang disampaikan penciptaannya dimuat didalamnya. Hasil karya sastra, pengarang t
idak hanya ingin mengekspresikan pengalaman jiwanya saja tetapi secara implisit
juga mempunyai maksud dorongan, mempengaruhi pembaca untuk memahami, menghayati
dan menyadari masalah serta ide yang diungkapan termasuk nilai-nilai pendidikan
yang terdapat didalam karya sastra tersebut. Pembaca bisa mengambil nilai-nilai
pendidikan yang terdapat didalamnya. Pembaca karya sastra bisa mengambil pelajar
an serta hikmah, nilai-nilai dan contoh-contoh dari karya sastra yang dibacanya
dengan penuh kesadaran sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pe
ndidikan dan pengajaran sastra jika ditangani dengan bijaksana, akan membawa kit
a dan anak-anak didik ke dalam kontak dengan pikiran-pikiran dan kepribadiankepr
ibadian besar dunia. Para pendidik dan pemikir besar dari berbagai zaman. Unsur
kepribadian dapat dilatih melalui pendidikan dan pengajaran sastra, meliputi : 1
. Penginderaan (Sensory)
32
Dalam pengambangan aspek ini studi sastra dapat digunakan untuk memperluas jangk
auan dari semua unsure penginderaan klasik yaitu pengliatan, pedengaran pengecap
, pembau, sentuhan, perabaan, pembeban. 2. Kecerdasan (intellect) Bentuk pendidi
kan yang paling bernilai adalah yang telah mengajarkan para siswa untuk memecahk
an masalah bagaimana memperoleh kebenarankebenaran yang memungkinkan. Untuk dapa
t menguji derajat atau peringkat keberhasilannya. Adapun sastra mengandung hal-h
al yang menjadi tuntutan dalam dunia pendidikan tersebut 3. Perasaan (feel) Sast
ra memberikan kepada kita sesuatu cakupan situasi dan kegawatan yang luas yang s
eakan-akan menstimulasi beberapa jenis respondensi emosional dan juga bahwa dala
m keseluruhannya penulis sastra lazim menyajikan situasisituasi itu dalam cara-c
ara yang memungkinkan kita untuk mengeksplorasi, mengkaji dalam perasaan kita da
lam suatu cara kemanusiaan yang layak. 4. Kesadaran Sosial Sastra berfungsi meng
hasilkan suatu kesadaran konprehensip terhadap orang lain. Penulis-penulis sastr
a modern, termasuk penulis sastra Indonesia, telah banyak berbuat untuk merangsa
ng minat dan simpati pada masalah-masalah kegagalan, ketidak beruntungan, ketert
indasan, ketidakberhasilan, pengucilan. Rasa hina dan sakit hati, yaitu mereka y
ang memerlukan protes. 33
5.
Kesadaran Religius Baik suka maupun tidak suka, apakah kita tahu betul atau tida
k, segala
pikiran dan perbuatan kita secara rutin didasarkan beberapa asumsi positif dan s
emua kecerdasan manusia pada abad ini, termasuk manusia Indonesia akan selalu di
dasarkan pada pragmatisme kehidupan mereka yang lebih daripada diatas landasan r
ohaniah atau spiritual yang rapuh. Berdasarkan uraian diatas, nilai-nilai pendid
ikan yang terkandung di dalam novel “Menyemai Cinta di Negeri Sakura”dapat dikaji da
n dianalisis. Unsur Ekstrinsik novel adalah unsur yang berasal dari luar cerita.
Meliputi nilai religi, nilai susila atau nilai estetika serta nilai sosial dan
sebagainya. Karya sastra mengandung nilai-nilai pendidikan yang tergantung pada
pengertian yang didapat pembaca lewat karya sastra yang dipahami. Nilai-nilai pe
ndidikan tersebut didapat dalam novel “Menyemai Cinta di Negeri Sakura” meliputi : 1
. Nilai Religi/ Nilai Agama Agama adalah risalah yang disampaikan Allah kepada N
abi sebagai petunjuk bagi manusia dalam menyelenggarakan tata cara hidup yang ny
ata serta mengatur hubungan dan tanggung jawab kepada Allah, dirinya sebagai ham
ba Allah, manusia dan masyarakat serta alam sekitarnya. Agama dan pandangan hidu
p kebanyakan orang menekankan kepada ketentraman batin, keselarasan dan keseimba
ngan serta sikap menerima 34
terhadap apa yang terjadi. Pandangan hidup yang demikian jelas memperhatikan bah
wa apa yang dicari adalah kebahagiaan jiwa, sebab agama adalah pakaian hati, bat
in atau jiwa. Kesadaran religius dalam upaya mengembangkan kepribadian melalui p
endidikan dan pengajaran. Nilai religius dalam novel “Menyemai Cinta di Negeri Sak
ura” antara lain : Salah satu keindahan itu adalah saya semakin menghargai gaungan
gema adzan. Ketika masih berada ditanah air, dimana suara adzan sangat mudah di
dengar. Di bulan Ramadhan amalan sunnah dihitung sebagai amalan fardlu diberi g
anjaran 700X lipat. Puasa fisabilillah akan dijauhkan wajahnya dari api neraka s
ejauh 70 tahun. Puasa Ramadhan akan memberi syafaat di yaumil akhir. Terbukanya
pintu surga Al-Rayyan bagi orang-orang yang berpuasa. Juga menghapus dosa-dosa y
ang lalu. (Lizsa, 2007: 188) Kegiatan para tokoh memberi nilai religius dapat te
rlihat dalam kutipan berikut: …..Allah membimbingnya untuk datang ke sebuah pengaj
ian keliling di daerahnya….(Lizsa, 2007: 17-18) Di Nagoya kota tempat tinggal saya
ada kegiatan pengajian keluarga yang dilaksanakan tiap hari ahad pekan kedua. A
cara itu diadakan dirumah salah satu keluarga secara bergantian tiap bulannya. (
Lizsa, 2007: 192)
35
2. Nilai Estetika Semua karya sastra atau karya seni memiliki keindahan apabila
terdapat keutuhan antara bentuk dan isi, keseimbangan dan keserasian penampilan
dari karya seni yang lain. Nilai keindahan akan tampak lebih relatif, jika yang
kita perhatikan adalah penilaian atau penghargaan terhadap sastra itu. Sastra se
bagai cabang seni akan melengkapi sentuhan estetis dengan mengembangkan aspek ra
sa ini demi sempurnanya aspek keindahan dalam sastra, yang dihubungkan dengan te
hnik cerita, gaya bahasa, unsur-unsur yang lain sebagai variasinya. Nilai esteti
ka adalah nilai kesopanan dan budi pekerti atau akhlak. Nilai susila adalah yang
berkenan dengan tata krama atau disebut beradab. Nilai susila atau estetika dap
at terlihat dalam kutipan berikut : “Saya mendengar itu hanya bisa ikut tersenyum
geli. Tapi tidak demikian dengan ibu dari sang anak tersebut. Mimik sang ibu ter
lihat kaget. Ia langsung mendekati saya dan berkata,” Maaf…maafkan anak saya…maaf ,”ujar
sang ibu. Bagi setiap orang yang melakukan suatu kesalahan hendaknya segera men
gucap maaf, itu adalah cara berperilaku yang baik. Terdapat kata membungkukkan b
adan, bagi orang Indonesia terutama Jawa itu menunjukkan sikap yang sopan dan me
nghormati orang lain. 3. Nilai Sosial
36
Keadaan seseorang sebagai individu tidak terlalu penting. Tetapi individu ini se
cara bersama membantu masyarakat yang selaras akan menjamin kehidupan yang lebih
baik bagi masing-masing individu. Manusia tidak bisa lepas hidup sendiri terpis
ah dari yang lainnya. Lebih-lebih bila seseorang belum mampu menyelesaikan kebut
uhan jasmaninya sendiri walaupun itu yang paling sederhana, seperti seorang anak
kecil yang belum mampu mengerjakan sendiri untuk mencukupi kebutuhannya seperti
misalnya mandi, makan, berpakaian, dan sebagainya tanpa bantuan orang lain baik
itu ayah, ibu maupun kakaknya. Dalam novel ini banyak terlihat interaksi sosial
yang terjadi. Antara lain : suasana kebersamaan, saling membantu, menghargai, m
enghormati dan menyayangi satu sama lain dalam mengerjakan sesuatu akan menghasi
lkan hal positif. Hal inilah yang dinamakan nilai kerukunan atau nilai sosial. M
anusia perlu dihargai, dihormati dan diperlakukan secara layak. Sudah sepantasny
a kita menghargai jerih payah dan keinginannya untuk membantu tugas rumah tangga
meski tanpa adanya limitasi pekerjaan. (Lizsa, 2007: 74) 4. Nilai Moral Moral m
erupakan tingkah laku perbuatan manusia dipandang dari nilai baikburuk, benar da
n salah berdasarkan adapt kebiasaan dimana individu itu berada. Pesan-pesan mora
l yang terdapat pada novel “Menyemai Cinta di Negeri Sakura” ini bisa diambil setela
h membaca dan memahami isi ceritanya. Penulis menemukan segi positif dan negatif
nya. Kedua hal itu perlu disampaikan, sebab 37
kita dapat memperoleh banyak teladan yang bermanfaat. Segi positif harus ditonjo
lkan sebagai hal yang patut ditiru dan diteladani. Demikian segi negatif perlu j
uga diketahui serta disampaikan kepada pembaca. Hal ini dimaksudkan agar kita ti
dak tersesat, bisa membedakan mana yang baik mana yang buruk. Seperti halnya ora
ng belajar. Ia akan berusaha untuk bertindak lebih baik jika tidak tahu hal-hal
yang buruk dan tidak pantas dilakukan. Nilai Moral dalam novel Menyemai Cinta di
Negeri Sakura, Jadilah seseorang yang menyemai cinta pada-Nya meski berada dala
m perantauan.
3.3 Sinopsis Cerita menggambarkan tentang kehidupan Mrs A atau Ummu S, hidup di
negeri Sakura dengan keislamannya. Menikah dengan pria pilihannya dengan harapan
hidup berkecukupan dan bahagia. Namun, ternyata kebahagiaan itu hanya semu. Ist
ri identik dengan pembantu bagi suami. Perlakuan kasar secara fisik/ melalui uca
pan yang melukai hati. Sering terlontar dari laki-laki yang menjadi Qawwam bagin
ya. Perintah-perintah otoriter yang mutlak tak dapat dilanggar. Lemahnya iman da
n tak kuatnya dasar pijakan Ruhiyah, menyebabkan dia terombang ambing dalam kehi
dupan. Ia seorang ibu rumah tangga, yang dianggap remeh ternyata tak sesederhana
yang dibayangkan. Melewati tahun pernikahan ke-8 sudah tak terhitung berapa ban
yak pertanyaaan sejenis tapi Ummu S belum bisa menjawab. 38
Masalah klasik ketidakcocokan antara mertua dan menantu sering terjadi setelah p
ernikahan. Yang awalnya begitu baik hati dan dirasa lebih perhatian daripada ibu
kandungnya sendiri. Seiring berjalannya waktu. Suatu hari ketika memandang cerm
in. Ummu S merasa banyak kekurangan dalam tubuhnya. Hidung yang tidak mancung *(
pesek = Bahasa Jawa), bulu mata yang tidak lentik, serta berbagai titik minus la
innya yang menimbulkan kekecewaan dalam diri, menimbulkan organ-organ yang tak m
enghargai kondisi apa adanya. Hingga ketika mencuci piring, tanpa disadari ibu j
ari tangan kirinya terluka oleh pecahan gelas yang ditumpuk bersama dengan pirin
g kotor. Sehingga dia harus dirawat ke UGD. Ternyata menurut ahli syaraf, otot i
bu jari tangan kirinya ada yang putus. Maka dari itu telapak tangan kirinya haru
s di gips selama 3 pekan. Dan perlu waktu kira-kira 3 bulan untuk mengembalikan
fungsi otot. Ini semua terjadi akibat dirinya yang tidak mensyukuri anugerah yan
g ada. Sekian lama Ummu S memakai jilbab membuat suaminya risih dan menyuruh unt
uk melepas jilbab. Ummu S hanya diam dan dengan ragu dia menuruti perintah suami
. Semakin lama akhirnya dia gerah dengan perbuatan buka tutup jilbab. Merasakan
dikejar oleh dosa, merasa mempermainkan Allah. Karena takut akan laknat Allah ma
ka ia pun menentang perintah suaminya dan kembali berjilbab sepenuhnya. Tiap mal
am memanjatkan dan memohon kekuatan dan kesabaran dan petunjuk-Nya. 39
Meskipun hidup jauh dari suasana keislaman, seperti tidak terdengarnya suara adz
an dari masjid-masjid, mushola ataupun langgar, ceramah-ceramah keagamaan di TV
atau majelis taklim, tetapi mereka yang minoritas senantiasa berusaha saling men
jaga keimanan dan membuat beragam kegiatan. Bahkan di negeri orang inilah rasa p
ersaudaraan sesama perantauan terasa mudah terjalin dan terikat kuat. Setelah ti
nggal di Jepang, tidak sedikit yang makin meningkat keimanannya dan memakai jilb
ab. Bahkan bisa mengajak teman-temannya sesama orang Indonesia memakai jilbab da
n juga membuat orang Jepang menjadi tertarik dengan agama islam. Di Nagoya, kota
tempat tinggal Ummu S ada kegiatan pengajian keluarga yang dilaksanakan tiap ha
ri ahad pekan kedua. Acara itu diadakan dirumah salah satu keluarga secara berga
ntian tiap bulannya. Lalu tiap hari Ahad di akhir bulan ada pengajian umum yang
sebelumnya dimulai dengan acara mengaji untuk anakanak. Selain itu, untuk menamb
ah jam belajar dan bermain bersama anak-anak, ada pula kegiatan mengaji tiap har
i Sabtu di Masjid Nagoya. Juga ada kegiatan mengkaji Al- Qur’an bagi ibu-ibu. Kelo
mpok mengaji Al- Qur’an ada beberapa kelompok berdasarkan wilayah tempat tinggal k
arena tempat tinggal mereka tersebar.
40
Untuk mereka para muslimah ada milis Fahima sebagai wadah forum silaturahmi musl
imah di Jepang yang mencakup sampai ke negara-negara lain. Ada muslimah dari Per
ancis, Singapura, Qatar, Amerika dan lain-lain. Meskipun hidup diluar negeri yan
g fasilitas keagamaannya masih kurang daripada di Indonesia, bukan berarti kehau
san mereka akan belajar dan menambah pengetahuan tentang agama Islam tidak tersa
lurkan. Justru dengan adanya fasilitas teknologi canggih, komunikasi antara mere
ka bisa berjalan
lancar. Ditambah dengan tersedianya transportasi yang beraneka ragam dan tepat w
aktu, membuat mereka mudah untuk melangkah kaki menuju majelis ilmu. Dan yang le
bih penting lagi, bukan berarti mereka akan dengan mudah berganti agama.
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil pembahasan terhadap landasan teori serta analis
is struktural novel menyemai Cinta di Negeri Sakura karya Lizsa Anggraeny dan Se
riyawati pada bab-bab sebelumnya, maka dapat disimpulkan sebagai berikut: Sastra
adalah karya imajinatif bermedia bahasa yang nilai atau unsur estetikanya domin
an. Karya sastra adalah sesuatu yang disampaikan oleh sastrawan dalam karyanya a
dalah manusia dengan segala macam perilakunya berupa rekaan dari sastrawan. Memi
liki 5 fungsi (Fungsi rekreatif, estetis, didaktif, moralitas dan religiusitas)
yang intinya sebagai hiburan dan memberikan nilai-nilai yang bermanfaat bagi keh
idupan. Macam-macam karya sastra modern antara lain : Novel, Cerpen, serta Puisi
. Hasil analisis unsur Intrinsik dan Ekstrinsik dalam novel Menyemai Cinta di Ne
geri Sakura karya Lizsa Anggraeny dan Seriyawati. Unsur Intrinsik meliputi : 1.
Alur/ Plot, tehnik pengaluran yang digunakan pengarang adalah tehnik
sorot balik/ Flash back yaitu urutan tahapan dibalik seperti regresif. 2. Penoko
han, dilukiskan dengan jelas dalam cuplikan-cuplikan novel.
Ummu S, tokoh yang menjunjung tinggi nilai-nilai religius dalam tiap langkah
41
42
3.
kehidupan dan tegar menghadapi setiap permasalahan hidup yang
dialaminya. Sedangkan tokoh lain berkarakter sesuai dengan sifatnya. 4. Latar, m
eliputi aspek tempat, waktu dan suasana. Latar tempat dalam
novel tersebut terjadi di beberapa tempat, antara lain di sebuah supermarket di
Jepang, Nagoya, Stasiun Tokyo dan lain-lainnya. Aspek waktu pada tahun 2000-an,
kebanyakan bahasa menggunakan bahasa tidak baku layaknya kehidupan saat ini. Sua
sana kehidupan yang dialami masyarakat Nagoya adalah karier, kesibukan yang dila
kukan semata hanyalah kepentingan karier namun masih bersosialisasi dengan masya
rakat meskipun ada yang bersifat individualis. 5. Amanat yang dapat dipetik adal
ah hendaknya seseorang bersabar dalam
menghadapi cobaan hidup, tetap mempertahankan islam diri di Negara lain, serta m
ampu mengajak masyarakat untuk ikut serta menjadi muslimin dan muslimah yang bai
k. 6. Tema yang terdapat adalah keteguhan hati dan pendirian agama dalam
negeri perantauan. 7. Gaya bahasa, dalam novel banyak menggunakan kata-kata tida
k baku
misal : Nggak…, Ah…, Agak…,…aja, dan lain sebagainya. Majas yang digunakan yaitu personi
fikasi.
43
8.
Sudut Pandang, pengarang sebagai orang pertama dengan kataaku atau –
ku untuk tokoh utama. Unsur Ekstrinsik yang ada antara lain nilai religi adanya
masjid tergambar dalam cerita novel meski hanya sedikit, acara siraman rohani da
n lain sebagainya, nilai sosial, saling membantu, menghargai, menyayangi satu sa
ma lain serta nilai estetika kesopanan dalam bertingkah laku yang dilakukan toko
h dalam novel adalah ucapan maaf bila sekiranya telah berbuat kesalahan. Itu aka
n lebih baik daripada tidak mengucap sekalipun.
DAFTAR ISI
JUDUL………………………………………………… PENGESAHAN……………………………………..… MOTTO………………………………………………. PERSEMBAHAN……
Halaman i ii iii iv v vi
1.1 Latar Belakang Masalah……………………………...… 1.2 Alasan Pemilihan Judul…………...……………………. 1.3 Tu
mpulan Data…………………………...... 1.6 Sistematika Penulisan………………………………...... BAB II LANDASAN TEO
1 4 4 5 5 6
2.1 Pengertian Sastra……………………………………….. 2.2 Pengertian Karya Sastra………………………………… 1 Novel…………
7 8 10 11
vi
3 Puisi…………………………………………………
16
BAB III
PEMBAHASAN MASALAH
3.1 Unsur Intrinsik Novel 3.1.1 Alur/ Plot …………………………………….. 3.1.2 Penokohan…………………………………….
3.2 Unsur Ekstrinsik dalam novel Menyemai Cinta di Negeri Sakura karya Lizsa Ang
graeny dan Seriyawati a. Nilai Agama/ Religi……………………………... b. Nilai Estetika…………………………………….
vii
BAB IV
PENUTUP
1.1 Kesimpulan………………………………………….... DAFTAR PUSTAKA
41
viii
PENGESAHAN
Diterima dan disetujui oleh guru pembimbing sebagai syarat mengikuti UAS dan UAN
SMA Al-Islam 1 Surakarta tahun pelajaran 2007/2008.
Surakarta, ……… Kepala Sekolah, Pembimbing,
Drs. H. M. Zaini, M,Sc NIP. …………………….
Ibu Riyanti BA NIP. …………………..
ii
MOTTO
Hidup itu memiliki makna. Allah akan memberi balasan kepada siapapun yang Berbua
t baik, meskipun kebaikan itu hanya sebesar biji dzarrah. [Penulis]
“Tidakkah kalian masuk surga hingga kalian beriman. Dan tidaklah kalian beriman hi
ngga saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan suatu amalan yang jika kalian
kerjakan niscaya kalian akan saling mencintai? Tebarkan salam diantara kalian.” [
HR Muslim]
iii
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat
dan hidayahNya, sehingga penulisan karya tulis ini bisa selesai. Maksud penulis
an karya tulis ini adalah sebagai salah satu syarat mengikuti UAS dan UAN di SMA
Al Islam 1 Surakarta tahun pelajaran 2007/2008. Tanpa adanya dorongan, bimbinga
n serta bantuan dari pembimbing dan beberapa pihak tidak mungkin dapat menyelesa
ikan karya tulis ini. Untuk itu, atas segala bimbingan dan bantuannya, tidak lup
a penulis mengucapkan terima kasih kepada yang terhormat : 1. 2. Bapak Drs. H. M
. Zaini, M.Sc, Kepala Sekolah SMA Al-Islam 1 Surakarta. Ibu Riyanti BA, selaku g
uru pembimbing yang telah memberikan bimbingan dan bantuan sehingga penulisan ka
rya tulis ini dapat diselesaikan dengan baik. 3. Ibu Umi Faizah Spd, selaku wali
kelas yang telah memberikan semangat dan dorongan sehingga penulisan karya tuli
s ini bisa terselesaikan. 4. Karyawan serta semua pihak yang tidak dapat sebutka
n satu per satu yang telah cukup banyak memberikan bantuan serta fasilitas sehin
gga penulisan dapat dilaksanakan dengan lancar. Penulis mengharapkan adanya pend
apat serta saran yang bersifat membangun bagi kesempurnaan karya tulis ini. Penu
lis v
PERSEMBAHAN
Kepersembahkan kepada : 1. Bapak dan Ibu tercinta di rumah 2. Adik-adik yang ter
sayang dirumah 3. Rekan-rekan semua 4. Semua pihak yang berkenan membaca karya t
ulis ini
iv
KANDUNGAN NILAI PENDIDIKAN DALAM NOVEL
MENYEMAI CINTA DI NEGERI SAKURA KARYA LIZSA ANGGRAENY DAN SERIYAWATI
Karya tulis ini disusun dan ditulis sebagai syarat mengikuti UAS dan UAN SMA Al-
Islam 1 Surakarta tahun 2007/2008. Oleh : NAMA : ARIFATUN NISAA
NO. INDUK : 5805
SEKOLAH MENENGAH ATAS AL-ISLAM 1 SURAKARTA 2007
DAFTAR PUSTAKA
Ali, Lukman. 1967. Bahasa dan Kesusastraan Indonesia Sebagai Cermin Manusia Indo
nesia Baru. Jakarta: PT Gunung Agung. Anggraeny, Lizsa dan Seriyawati. 2007. Men
yemai Cinta di Negeri Sakura. Sukoharjo: Penerbit Samudera. Arifin, Syamsir. 199
1. Kamus Sastra Indonesia. Padang: Angkasa Raya. Atmazaki, 1990. Ilmu Sastra: Te
ori dan Sastra. Padang: Angkasa Raya. Henry Guntur Tarigan. 1993. Prinsip-Prinsi
p Dasar Sastra. Jakarta: Penerbit Angkasa.