Anda di halaman 1dari 4

Sterrenkundige Vereeniging) atau Perhimpunan Bintang Belanda.

Pembangunannya berlangsung sejak tahun 1923 sampai tahun 1928. Personel-


personel NISV, termasuk Bosscha dan sepupunya R Kerkhoven, berkonsultasi
dengan para astronom dan insinyur Belanda untuk mematangkan rencana
pendirian observatorium ini. Usaha ditunjang oleh sumbangan finansial dari
swasta (terutama Bosscha), sumbangan peralatan (antara lain beberapa
teropong kecil, alat ukur, dan jam) dari beberapa pribadi dan Leiden Sterrewacht
yang saat itu dipimpin Profesor Willem de Sitter. Sumbangan lain berupa
perpustakaan berasal dari Profesor Van de Sande Bakhuyzen, Direktur Leiden
Sterrewacht sebelum De Sitter.

Bersama astronom DR. J Voute yang kemudian menjadi direktur pertama


observatorium Bosscha, Bosscha pergi ke Jerman untuk membeli Teropong
Zeiss & Teropong Bamberg. Teropong Zeiss sendiri tiba di Lembang pada tahun
1928 dan diserahkan secara resmi kepada NISV pada 7 Juni 1928. Tanggal ini
kemudian diperingati sebagai hari pertama dioperasikannya teropong Zeiss.

Pada Tahun 1951, Observatorium Bosscha diserahkan kepada FMIPA UI.


Dengan berdirinya ITB pada tahun 1959, observatorium ini menjadi bagian dari
ITB. Saat ini, Observatorium Bosscha masih merupakan satu-satunya
observatorium besar di Indonesia dan berada di bawah administrasi Institut
Teknologi Bandung.

2. Fasilitas Penelitian

Observatorium ini dilengkapi dengan teleskop berbagai ukuran dan jenis.


Masing-masing teleskop memiliki sasaran objek pengamatan yang berbeda-
beda. Ada 5 teleskop yang aktif untuk penelitian astronomi. Kelima teleskop
tersebut adalah:

• Teleskop Refraktor Ganda Zeiss


• Teleskop Schmidt Bima Sakti
• Teleskop Refraktor Bamberg
• Teleskop Cassegrain GOTO
• Teleskop Refraktor Unitron

Selain teleskop, observatorium Bosscha juga dilengkapi dengan fasilitas


penunjang seperti perpustakaan, ruang ceramah umum, kamar ukur dan
bengkel.

3. Kegiatan

Sebagai sebuah observatorium, Obs. Bosscha memang digunakan untuk


pengamatan dan penelitian astronomi. Dengan fasilitas yang ada ditambah
posisi yang menguntungkan (dekat khatulistiwa), astronom Indonesia dapat
melakukan penelitian astronomi di sini. Bahkan astronom luarpun bisa
menggunakan fasilitas ini untuk penelitian.

Penelitian rutin yang dilakukan di Obs. Bosscha adalah pengamatan bintang


ganda visual dengan Refraktor Ganda Zeiss, sesuai dengan misi utama
pembangunan observatorium ini. Selain itu, jika ada objek menarik, misalnya ada
komet yang sedang mendekati matahari, ada nova, atau peristiwa astronomi
menarik lainnya, para peneliti Departemen Astronomi dan Obs. Bosscha juga
mengadakan pengamatan di sini. Dalam penelitian/pengamatan ini, mahasiswa
astronomi yang berminat bisa ikut terlibat.

Kegiatan pengabdian pada masyarakat dilakukan dengan menyebarkan ilmu


astronomi lewat penerimaan kunjungan, baik keluarga maupun rombongan.
Dalam acara kunjungan ke observatorium ini, jumlah anggota satu rombongan
dibatasi sesuai dengan kapasitas ruang ceramah dan demi menjaga proses
komunikasi supaya dapat berjalan efektif.

Setiap tahun pada bulan-bulan kering (musim kemarau) April-November,


diadakan acara malam umum. Dalam acara malam umum ini, pengunjung diberi
kesempatan mengintip objek langit (Bulan, planet, gugus bola, bintang ganda,
atau objek lain yang bisa diamati malam itu). Acara pengamatan ini
menggunakan dua teleskop: teleskop unitron, dan teleskop Bamberg.

Kegiatan baru di observatorium Bosscha adalah AstroCamp. Kegiatan ini


memungkinkan orang awam mengenal kehidupan astronom di observatorium. Di
dalam kegiatan ini peserta akan tinggal di dekat observatorium Bosscha dan
akan mendapatkan pendidikan dan pelatihan dasar astronomi selama dua hari
dua malam. Di dalam kegiatan ini juga para peserta dapat melakukan diskusi,
pengamatan dan pemotretan benda langit bersama astronom professional
menggunakan teropong bintang. Khusus bagi siswa SMP/SMU, kegiatan ini
merupakan suatu alternatif kegiatan yang positif untuk mengisi liburan.

4. Ancaman

Peneropongan bintang Bosscha memang menjadi suatu obyek wisata ilmu bagi
masyarakat. Dan sebagai sebuah observatorium terbesar di Asia Tenggara,
Observatorium Bosscha memiliki kontribusi yang tidak sedikit untuk kepentingan
pengamatan dan penelitian astronomi.

Sayangnya, observatorium yang usianya telah lebih dari 80 tahun ini menyimpan
segudang persoalan seiring dengan penurunan fungsi observatorium. Adalah
kerusakan lingkungan dan padatnya hunian di Lembang yang memicu gangguan
terhadap penelitian alam semesta itu.

Seiring maraknya permukiman, hotel, dan vila di Lembang, pencahayaan dari


hunian tersebut membuat langit malam di observatorium menjadi lebih terang
sehingga menyilaukan pengamatan obyek. Maraknya permukiman juga
menimbulkan perubahan temperatur dan aliran udara di sekitar kawasan
observatorium sehingga menyulitkan penentuan posisi bintang (astrometri).
Demikian pula tingginya frekuensi arus kendaraan yang melintasi jalan,
menyebabkan kadar aerosol di langit Lembang meningkat sehingga menyulitkan
penentuan astrometri dan pengukuran kuat cahaya (fotometri). Padahal,
penelitian astronomi sangat tergantung dengan kondisi langit.

Kondisi ini jauh berbeda ketika observatorium itu didirikan pada tahun 1923,
wilayah di sekeliling observatorium itu berupa perbukitan yang dipenuhi
tanaman. kepala Observatorium Bosscha-ITB Dr. Moedji Raharto menegaskan
betapa akan terganggunya aktivitas Bosscha dengan adanya rencana
pembangunan hunian kawasan resor seluas 75 hektar yang areanya memasuki
radius perimeter 2,5 km dari peneropongan bintang. Adanya konstruksi
bangunan dalam radius sejarak ini akan mempertinggi intensitas cahaya yang
akan mengurangi kualitas hasil pengamatan astronomis teleksop di Bosscha.
Selain itu ancaman deru campur debu -deru dari aktivitas pengunjung- dan -
partikel debu halus yang berterbangan ke angkasa- oleh ramainya aktivitas
orang berekreasi maupun selagi berkendaraan mobil, juga akan mempengaruhi
dan menurunkan kualitas hasil pengamatan teropong bintang Bosscha.

Selain paparan Prof Otto Soemarwoto tentang pentingnya pelestarian lingkungan


untuk setting Observatorium Bosscha, maka pakar senior ahli dari Teknik
Lingkungan ITB juga mengingatkan bahwa sesungguhnya untuk penetapan tata
ruang kawasan Bandung Utara seperti halnya di Lembang masih berlaku SK
Gubernur Jawa Barat No.181/Bappeda/tahun 1982 yang memuat ketentuan
yang wajib memperhatikan kaidah kelestarian lingkungan atas setiap
pembangunan fisik di kawasan tersebut. Jika ketentuan itu akhirnya bobol
dengan semena-mena dengan terus berlangsungnya pembangunan kawasan
resort wisata di kawasan halaman Bosscha , maka kejadian ini akan menjadi
sebuah bom waktu dengan efek bola salju yang dalam waktu singkat akan
benar-benar menghancurkan ekosistem Bandung Utara habis-habisan yang
serupa dengan kehancuran kawasan Bopunjur : Bogor-Puncak-Cianjur.

Sumber: IPTEKnet / Tim Portal