Anda di halaman 1dari 14

BAB II

PENDIDIKAN AGAMA DAN BROKEN HOME

A. Pengertian Pendidikan Agama

Pendidikan adalah “ segala usaha orang dewasa dalam pergaulan dengan anak-

anak untuk memimpin perkembangan jasmani dan rohani kearah kedewasaan”.1

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses

pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki

kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia,

serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara" .

pendidikan merupakan pembentukan manusia kearah yang dicita-citakan sesuai

harapan dan tujuan yang diinginkan, sehingga terbentuklah anak yang berakhlak

mulia.dengan demikian pendidikan islam adalah proses pembentukan manusia kearah

yang dicita-citakan islam.pendidikan islam sebagai mata pelajaran yang wajib

diberikan pada tingkat dasar sampai dengan perguruan tinngi.

Pendidikan agama islam adalah upaya sadar dalam menyiapkan peserta didik

untuk mengenal, memahami, menghayati hingga mengimani, bertaqwa, dan

berahklak mulia dalam mengamalkan ajaran agama islam dari sumber utamanya kitab

suci al-Quran dan hadis, melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan, serta

penggunaan pengalaman.2

1 Ramayulis, ilmu pendidikan islam, cetakan, ke-I, (Jakarta, kalam mulia,


1994) hal. I
2
Abdul Ranchman Shaleh, pendidikan agama dan pembangunan watak bangsa (Jakarta: raja

1
Pendidikan agama akan membentuk suatu sikap keagamaan yang mencangkup

semua aspek yang berhubungan dengan keagamaan sepanjang bias dirasakan dan

dijangkau oleh anak didik dilingkungan keluarga dan sekolah. Dalam pengembangan

manusia seutuhnya sesuai norma agama. Pendidikan agama perlu diarahkan untuk

mengembangkan agama iman, akhlak, hati nurani, budi pekerti serta aspek

kecerdasan dan keterampilan sehingga terwujudnya keseimbangan. Pendidikan

agama sangat dibutuhkan dalam pembinaan agama anak karena dapat membentuk

kepribadian anak yang sedang berkembang sehingga tidak mudah terjerumus dalam

hal-hal yang tak diinginkan akibat pengaruh lingkungan ataupun masalah yang

dihadapi dalam kehidupan yang dijalaninya.

Zakiah Drajat dan kawan-kawan menjelaskan bahwa yang dimaksud pendidikan

agama islam adalah:

“ suatu usaha bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar nantinya setelah
selesai dari pendidikan dapat memahami apa yang terkandung di dalam islam secara
keseluruhan, menghayati makna dan maksud serta tujuannya dan pada ahirnya dapat
mengamalkan serta menjadikan ajaran-ajaran agama islam yang telah dianutnya itu
sebagai pandangan hidupnya sehingga dapat mendatangkan keselamatan dunia dan
akhirat kelak”.3
Menurut Drs. Ahmad D. Marimba mengantakan pendidikan agama islam

adalah:

“ bimbingan jasmani, rohani berdasarkan hukum-hukum agama islam menuju

grafindo persada, 2005), hal. 7


3 Zakiah darajat, ilmu pendidikan islam, cet. Ke-4 (Jakarta: bumi aksara. 2000)
hal. 38
terbentuknya kepribadian utama menurut ulkuran-ukuran islam.”4
Sedangkan menurut drs. Burlian shomad pendidikan agama islam adalah

pendidikan yang bertujuan membentuk individu menjadi mahkluk yang bercorak dari

derajat tinggi menurut ukuran Allah dan sisi pendidikannyan untuk mewujudkan

tujuan itu adalah Allah.5

Dari pengertian di atas dapat dipahami bahwa tujuan utama Pendidikan Agama

Islam adalah keberagamaan, yaitu menjadi seorang Muslim dengan intensitas

keberagamaan yang penuh kesungguhan dan didasari oleh keimanan yang kuat.

Upaya untuk mewujudkan sosok manusia seperti yang tertuang dalam definisi

pendidikan di atas tidaklah terwujud secara tiba-tiba. Upaya itu harus melalui proses

pendidikan dan kehidupan, khususnya pendidikan agama dan kehidupan beragama.

Pendidikan agama mempunyai kedudukan yang tinggi dan paling utama.

Karena pendidikan agama menjamin untuk memperbaiki akhlak anak-anak didik dan

mengangkat mereka kederajat yang tinggi, serta berbahagia dalam hidup dan

kehidupannya. Pedidikan agama membersikan hati dan mensucikan jiwa, serta

mendidik hati nurani dan mencetak mereka agar berkelakuan yang baik dan

mendorong mereka untuk melakukan pekerjaan yang mulia.

Pendidikan agama yang berlangsung dalam masyarakat harus menjadi

penunjang dan perlengkapan yang bisa mengembangkan pengetahuan dan wawasan

keagamaan anak. Dalam keluarga pendidikan agama harus menjadi pendorong yang
4 Drs. H. hamdani ihsan, Drs. H. A. Fuadi Ihsan, Filsafat Pendidikan Islam,( Bandung: Cv
Pustaka Setia,2007) hal. 15
5 Drs. H. hamdani ihsan, Drs. H. A. Fuadi Ihsan, Filsafat Pendidikan Islam,( Bandung: Cv
Pustaka Setia,2007) hal. 15
saling menguatkan agar tidak terjadi pertentangan antara satu dengan yang lain.

Pendidikan agama memelihara anak supaya tidak menuruti nafsu yang murka dan

menjaga mereka supaya jangan jatuh kelembah kehinaan dan kesesatan.

B. Pendidikan agama anak broken home

Broken Home adalah kurangnya perhatian dari keluarga atau kurangnya kasih

sayang dari orang tua sehingga membuat mental seorang anak menjadi frustasi, brutal

dan susah diatur.6 Broken home sangat berpengaruh besar pada mental seorang

pelajar hal inilah yang mengakibatkan seorang pelajar tidak mempunyai minat untuk

berprestasi. Broken home juga bisa merusak jiwa anak sehingga dalam sekolah

mereka bersikap seenaknya saja, tidak disiplin di dalam kelas mereka selalu berbuat

keonaran dan kerusuhan hal ini dilakukan karena mereka Cuma ingin cari simpati

pada teman-teman mereka bahkan pada guru-guru mereka. Untuk menyikapi hal

semacam ini kita perlu memberikan perhatian dan pengerahan yang lebih agar mereka

sadar dan mau berprestasi.

Siapa pun dia apapun profesi dan jabatannya sudah pasti orang tua

menginginkan anak-anaknya menjadi anak yang baik, yang dikatakan bermoral,

berbakti kepada orang tua, dan berguna bagi bangsa dan negara, kenyataannya

banyak sekali anak yang kelihatannya baik-baik pada awalnya, tetapi lambat laun ia

sering sekali melanggar norma, aturan bahkan dapat dikatakan tidak bermoral.

Kenyataan tersebut seperti yang sering dijumpai di sekolah-sekolah, seperti;

6 http://tipsanda.com/2010/07/06/tips-menjadi-anak-broken-home-yang-
baik/
adanya siswa suka membolos, tidak disiplin, berbohong, berani menentang guru dan

orang tua, bahkan ada yang lebih parah lagi seperti; perkelahian (tawuran), terlibat

dalam pergaulan bebas, terjerumus ke dalam lembah narkoba, mencuri, berjudi, dan

tindakan kriminal. Pendidikan agama sangat dibutuhkan dalam pembentukan anak

yang bermoral dan bertanggung jawab agar terciptanya ketenangan dan kenyamanan

dalam kehidupan sehari-hari.

1. Tujuan pendidikan agama islam anak broken home

Adapun tujuan pendidikan agama bagi anak broken home untuk membentuk

anak yang beriman dan bertawakal kepada tuhan yang maha esa serta berakhlak

mulia dan mampu menjaga kerukunan hubungan beragama.7 Pendidikan agama juga

dapat mengembangkan kemampuan peserta didik dalam mengambangkan,

memahami, menghormati dan mengamalkan nilai-nilai agama islam. Anak cenderung

menjalankan agama dalam kehidupan sehari-hari menjadikan agama sebagai landasan

etika dan moral dalam berinteraksi dalam masyarakat sehingga dapat menempatkan

diri sesuai kondisi yang di alaminya, sesulit apapun masalah menimpa keluarga,

sekecil manapun perhatian yang ia dapat tidak tetap optimis serta dijalaninya dengan

penuh kesabaran dan keikhlasan.

Islam itu agama Allah yang diturunkan kepada para nabi sejak nabi Adam As,

sampai kepada nabi Muhammad saw, yang berisi tentang hidup dan kehidupan

manusia, pendidikan agama islam yaitu pendidikan yang berdasarkan ajaran ajaran
7
Abdul Rachman Shaleh, Pendidikan Agama dan pembangunan watak bangsa(Jakarta: raja
grafindo persada, 2005), hal. 21
Islam yang metode dan metode dan materi pendidikan agama harus sesuai menurut

Al-Quran dan sunnah.

Tujuan agama Islam adalah adalah agar dapat menjadi manusia yang bertaqwa

untuk mencapai kebahagian dunia dan akhirat, sebab pendidikan agama tidak hanya

mengajarkan pengetahuan agama dan melatih keterampilan dalam melaksanakan

ibadah, akan tetapi jauh lebih luas dari pada itu. Agama Islam bertujuan membentuk

kepribadian anak yang sesuai dengan ajaran agama. Menurut Muhammad Fadhil Al-

Djamali, mengatakan. Tujuan pendidikan Islam ialah menanamkan makrifat

(kesadaran) dalam diri manusia terhadap dirinya sendiri sendiri selaku hamba Allah

dan kesadaran selaku anggota masyarakat serta menanamkan kemampuan manusia

untuk mengelola, memanfaatkan alam sekitar ciptaan Allah bagi kepentingan

kesejahteraan manusia dan kegiatan ibadahnya kepada khalik pecipta alam itu

sendiri.8

Masa remaja merupakan masa transisi baik fisi, emosi, maupun sosial, antara masa

kanak-kanak yang penuh kepolosan dan keceriaan pada masa ini pembentukan

kepribadian banyak terjadi perubahan yang berpengaruh besar dalam kehidupan. Pada

masa ini sangat dibutuhkan pendidikan agama yang maksimal agar terhindarnya dari

perilaku yang dapat merusak moral anak remaja itu sendiri.

2. Langkah-langkah dalam pembinaan agama anak broken home.

Pada hakikatnya keluargalah wadah pembentukan masing-masing anggotanya,


8 Muhammad fadhil Al-Djamali, fisafat pendidikan islam,cet.III,(jakarta:bumi aksara,1993),
hal. 133
terutama anak remaja yang masih berada dalam bimbingan tanggung jawab orang

tuanya, selain sebagai pembentukan masing-masing anggota terutama anak peranan

terpenting dalam keluarga memenuhi kebutuhan anak baik kebutuhan fisik maupun

psikis. Untuk membantu anak remaja di dalam melalui masa krisis serta masa

keguncangan yang sangat menentukan keadaan masa depannya diperlukan tindakan-

tindakan yang dapat membantunya mengatasi masalah sebagai berikut:

a. Menasihati dan memberi arahan

Kedua ini langkah-langkah yang sangat diperlukan dalam pembinaan agama anak.

Menasihati anak dengan cara yang baik dan benar dengan perkataan yang lemah

lembut akan membuat anak merasa di sayangi dan merespons dengan baik

perkataan kita.

b. Mengajarkan ilmu

Ilmu sangat penting dalam pembinaan anak terutama anak broken home, orang

yang mempunyai ilmu pengetahuan yang sempurna akan cenderung melakukan

kebaikan yang tidak akan merugikan masyarakat serta lingkungannya.

c. Melaksanakan pendidikan agama dan pembinaan akhlak.

Pembinaan agama diterima anak sejak kecil dari orang tua, guru, dan lingkungan,

akan menimbulkan dalam diri pribadinya unsur-unsur agama yang tumbuh dan

terjalin dalam diri pribadinya. hal itu sangat membantu anak remaja dalam

menghadapi berbagai masalah.9

d. Menguatkan sikap mental remaja supaya mampu menyelesaikan persoalan yang

9
dihadapinya.

e. Menyediakan sarana-sarana dan menciptakan suasana yang optimal demi

perkembangan pribadi yang wajar.

f. Usahakan memperbaiki keadaan lingkungan sekitar, terutama sosial dan

kesejahteraan keluarga.

g. Pendekatan keteladanan, yaitu upaya para pendidik memberikan keteladanan

kepada peserta didik dalam rangka melahirkan siswa yang berakhlakul karimah.

Sangat dituntut bagi guru untuk memberikan keteladanan ke arah akhlakul

karimah, apalagi kalau guru agama dapat dijadikan sebagai yang diidolakan oleh

siswa.10

C. Faktor-Faktor Terjadi Broken Home

Orang tua harus mampu mengendalikan diri dalam menyikapi masalah ini,

jangan sampai permasalahan mereka secara tidak langsung menjadi doktrin bumerang

negatif yang akan berkembang dalam psikis anak. Orang tua sebagai panutan

sekaligus guru yang menjadi contoh bagi anak dalam belajar untuk hidup melalui

berbagai proses yang semuanya tak lepas dari tanggung jawab mereka. Anak akan

tumbuh dan berkembang dengan baik bila orang tua juga mampu untuk mengontrol

dan mengatasi persoalan mereka sendiri tanpa harus menyosialisasikan perbedaan

pendapat yang mengarah ke konflik keluarga kepada anak. sebagai orang tua pastinya

tidak ingin anaknya menjadi hancur dalam kehidupannya di saat mereka ingin

10
Panut panuju dan ida umami,Psikologi remaja,(yogyakarta:.tiara wacana,1999) hal. 163
tumbuh dan berkembang dengan cinta kasih orang tuanya, Oleh sebab itu sebagai

orang tua berusahalah untuk mengendalikan hidup dalam situasi apapun demi anak-

anak kalian, jangan sampai Broken home menjadi budaya penghancur kehidupan.

Adapun faktor-faktor terjadi broken home adalah:

a. Kondisi ekonomi yang buruk

Suami atau istri tentu mengetahui tentang rumah tangganya dan kondisi rumah

tangganya. Manusia harus hidup sesuai rezeki yang didapatnya jangan terlalu

cemburu pada orang sekitar sehingga membebani suaminya dengan permintaan-

permintaan yang tak sanggup ia capai sehingga memaksa mendapatkan kekayaan

yang banyak untuk memenuhi permintaan istrinya.

b. Salah paham

Komunikasi sangat diperlukan dalam rumah tangga,begitu juga dalam hubungan

secara emosional. Dalam rumah tangga banyak terjadinya pertikaian ketika

menghadapi masalah untuk mengatasinya suami atau istri harus berusaha untuk

berbicara dengan penuh cinta dan kasih sayang serta berusaha mencari tahu apa

yang membuat pasangannya gelisah sehingga tidak ada sesuatu apapun yang

disembunyikan.

c. Kebudayaan Bisu dalam Keluarga

Kebudayaan bisu ditandai oleh tidak adanya komunikasi dan dialog antar anggota

keluarga. Problem yang muncul dalam kebudayaan bisu tersebut justru terjadi

dalam komunitas yang saling mengenal dan dalam situasi yang berjumpaan

bersifat sementara saja. Keluarga yang tanpa dialog dan komunikasi akan
menumbuhkan rasa frutasi dan rasa jengkel dalam jiwa anak-anak.

Kebudayaan bisu ditandai oleh tidak adanya komunikasi dan dialog antar

anggota keluarga. Problem yang muncul dalam kebudayaan bisu tersebut justru

terjadi dalam komunitas yang saling mengenal dan diikat oleh tali batin. Problem

tersebut tidak akan bertambah berat jika kebudayaan bisu terjadi di antara orang yang

tidak saling mengenal dan dalam situasi yang perjumpaan yang sifatnya sementara

saja. Keluarga yang tanpa dialog dan komunikasi akan menumpukkan rasa frustasi

dan rasa jengkel dalam jiwa anak-anak. Bila orang tua tidak memberikan kesempatan

dialog dan komunikasi dalam arti yang sungguh yaitu bukan basa basi atau sekedar

bicara pada hal-hal yang perlu atau penting saja; anak-anak tidak mungkin mau

mempercayakan masalah-masalahnya dan membuka diri. Mereka lebih baik berdiam

diri saja. Situasi kebudayaan bisu ini akan mampu mematikan kehidupan itu sendiri

dan pada sisi yang sama dialog mempunyai peranan yang sangat penting. Kenakalan

remaja dapat berakar pada kurangnya dialog dalam masa kanak-kanak dan masa

berikutnya, karena orangtua terlalu menyibukkan diri sedangkan kebutuhan yang

lebih mendasar yaitu cinta kasih diabaikan. Akibatnya anak menjadi terlantar dalam

kesendirian dan kebisuannya. Ternyata perhatian orangtua dengan memberikan

kesenangan materiil belum mampu menyentuh kemanusiaan anak. Dialog tidak dapat

digantikan kedudukannya dengan benda mahal dan bagus. Menggantikannya berarti

melemparkan anak ke dalam sekumpulan benda mati.

d. Perang Dingin dalam Keluarga

Dapat dikatakan perang dingin adalah lebih berat dari pada kebudayaan bisu.
1

Sebab dalam perang dingin selain kurang terciptanya dialog juga disisipi oleh rasa

perselisihan dan kebencian dari masing-masing pihak. Awal perang dingin dapat

disebabkan karena suami mau memenangkan pendapat dan pendiriannya sendiri,

sedangkan istri hanya mempertahankan keinginan dan kehendaknya sendiri, terima

kasih. Itulah berbagai penyebab keluarga menjadi keluarga yang broken home yang

dampaknya berimbas pada perkembangan remaja.

D. Dampak dari broken home

Keluarga adalah lembaga pertama dan utama dalam melaksanakan proses

sosialisasi pribadi anak.11 Di tengah keluarga anak mengenal bimbingan, pendidikan

serta cinta kasih sehingga keluarga sangat berpengaruh besar dalam pembentukan

watak dan kepribadian anak baik dan buruknya kehidupan dalam keluarga

memberikan dampak yang sama bagi perkembangan jiwa dan jasmani anak. seiring

dengan terjadinya konflik yang keseringan biasanya masing-masing pihak akan

mencari jalan hidup yang baru seperti pisah rumah.

Adapun dampak-dampak yang terjadi bagi anak broken home adalah sebagai

berikut:

a. kenakalan remaja

Bila rumah tangga terus menerus dipenuhi dengan konflik yang serius, menjadi

retak dan akhirnya mengalami perceraian yang akan mendapatkan kesulitan bagi

semua anggota masyarakat, terutama anak-anak. perpecahan harmonis dalam

11
Dra. Kartini kartono,kenakalan remaja.(Jakarta: raja grafindo persada,2006), hal.120
keluarga akan berdampak besar bagi anak akibat ia selalu menyaksikan dan

mengikuti pertengkaran antara ayah dan ibu. Mereka tidak tahu harus memihak siapa

mesti memilih yang mana yang baik baginya, anak akan tertekan, menderita, dan

merasa malu dengan ulah orang tua sehingga merasa bersalah mungkin merekalah

penyebab pertikaian tersebut.

Banyaknya konflik yang terjadi membawa ke dalam pemikiran yang salah

sehingga ia tidak tenang lalu melampiaskan kemerahannya keluar dengan menjadi

nakal, urak-urakan, berandalan, bertingkah laku semuanya sendiri serta membuat

onar yang merusak orang dan lingkungan sekitarnya.12

b. Orang tua yang Bercerai

Perceraian menunjukkan suatu kenyataan dari kehidupan suami istri yang tidak

lagi dijiwai oleh rasa kasih sayang, dasar-dasar perkawinan yang telah terbina

bersama telah goyang dan tidak mampu menopang keruntuhan kehidupan keluarga

yang harmonis. Perceraian menunjukkan suatu kenyataan dari kehidupan suami istri

yang tidak lagi dijiwai oleh rasa kasih sayang dasar-dasar perkawinan yang telah

terbina bersama telah goyah dan tidak mampu menopang keutuhan kehidupan

keluarga yang harmonis. Dengan demikian hubungan suami istri antara suami istri

tersebut makin lama makin renggang, masing-masing atau salah satu membuat jarak

sedemikian rupa sehingga komunikasi terputus sama sekali. Hubungan itu

menunjukkan situasi keterasingan dan keterpisahan yang makin melebar dan menjauh

12
Dra. Kartini kartono,kenakalan remaja.(Jakarta: raja grafindo persada,2006), hal. 121
3

ke dalam dunianya sendiri. Kasus perceraian sering dianggap suatu peristiwa

tersendiri dan menegangkan dalam kehidupan keluarga sehingga membawa dampak

besar yang akan menimbulkan stres, tekanan, dan perubahan fisik serta mental semua

anggota keluarga terutama anak.13

c. Kejiwaan

Seorang anak korban broken home akan mengalami tekanan mental yang

berat. Di lingkungannya. Misalnya, dia akan merasa malu dan minder terhadap orang

di sekitarnya karena kondisi orang tuanya yang sedang dalam keadaan broken home.

Di sekolah, di samping menjadi gunjingan teman sekitar, proses belajarnya juga

terganggu karena pikirannya tidak berkonsentrasi ke pelajaran. Anak itu akan menjadi

pendiam dan cenderung menjadi anak yang menyendiri serta suka melamun.

Pikiran-pikiran dan bayangan-bayangan negatif seperti menyalahkan takdir

yang seolah membuat keluarganya seperti itu. Seakan sudah tidak ada rasa percaya

terhadap kehidupan religi yang sudah mendarah daging sejak dia lahir dan lainnya.

Tekanan mental itu mempengaruhi kejiwaannya sehingga dapat mengakibatkan stres

dan frustrasi bahkan seorang anak bisa mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.

d. Pelampiasan Diri

Kemungkinan terjerumus dalam pengaruh negatif bagi orang tua (dewasa)

dalam konteks broken home ini sangat kecil. Orang tua dapat mencari solusi untuk

menenangkan pikirannya. Namun berbeda dengan seorang anak yang sedang

menghadapi situasi broken home. Anak-anak dapat saja terjerumus dalam hal-hal

13 Save M. Dagun. Psikologi Keluarga, (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), Hal. 114
negatif, apalagi dengan media informasi dan komunikasi yang menawarkan banyak

hal. Contoh konkretnya, merokok, minuman keras (alkohol), obat-obat terlarang

(narkoba) bahkan pergaulan bebas yang menyesatkan.

e. Refleksi
Mungkin mudah bagi orang tua untuk memvonis keputusan tentang perpisahan

atau perpecahan dalam rumah tangga, tapi tidak mudah bagi anak-anak mereka untuk

dapat menerima hal itu. Perpecahan dalam rumah tangga memang merupakan

masalah yang tidak mudah untuk dilepaskan dari kehidupan dalam rumah tangga.

Memang jika kita mengkaji lebih jauh kita akan dapat memahami sebagai suatu

persoalan yang wajar-wajar saja, jika semua masalah dapat diatasi dengan baik dan

bijaksana semua konflik yang dialami dalam rumah tangga akan terselesaikan.14

14 http://minalove.com/ref/contoh+keluarga+yang+broken+home.html