Anda di halaman 1dari 7

FISIKA

Besaran Fisis

Besaran adalah suatu pernyataan yang mempunyai ukuran (dapat dinyatakan dengan
angka) dan satuan. Besaran dapat digolongkan menjadi dua macam, yaitu besaran pokok
dan besaran turunan.

Besaran pokok adalah suatu besaran yang satuannya telah ditetapkan lebih dahulu untuk
menerapkan satuan-satuan selanjutnya pada besaran-besaran lain. Dalam fisika ada 7
macam besaran pokok, yaitu massa, panjang, waktu, suhu, kuat arus, intensitas cahaya,
dan jumlah zat.

Besaran turunan merupakan besaran-besaran yang satuannya ditentukan berdasarkan


satuan-satuan besaran pokok, contohnya seperti luas, volume, gaya, kecepatan,
percepatan, tekanan, berat, dan sebagainya.

Hukum-Hukum Gaya dan Gerak

Gaya adalah tarikan atau dorongan yang akan mempercepat atau memperlambat gerak
suatu benda.

Hukum I Newton berbunyi Sebuah benda dalam keadaan diam atau bergerak dengan
kecepatan konstan akan tetap diam atau akan terus bergerak dengan kecepatan konstan,
kecuali ada gaya eksternal yang bekerja pada benda itu. Secara matenatis hukum I
Newton dapat dituliskan sebagai berikut:

∑F = 0

Hukum II Newton berbunyi Percepatan sebuah benda berbanding lurus dengan gaya
total yang bekerja padanya, dan berbanding terbalik dengan massanya. Arah percepatan
sama dengan arah gaya total yang bekerja padanya. Secara matenatis hukum II Newton
dapat dituliskan sebagai berikut:

a = ∑F / m
dengan :
a = percepatan (m/s2)
m = massa benda (kg)
∑F = gaya total (N)
Hukum III Newton berbunyi Ketika suatu benda memberikan gaya pada benda kedua,
benda kedua tersebut memberikan gaya yang sama besar tetapi berlawanan arah
terhadap benda yang pertama. Secara matenatis hukum III Newton dapat dituliskan
sebagai berikut:

Faksi = -Freaksi

Perpindahan adalah perubahan kedudukan (posisi) suatu benda dalam selang waktu
tertentu sehingga hanya ditinjau dari kedudukan awal dan akhir, sedangkan jarak adalah
panjang lintasan yang ditempuh oleh suatu benda dalam selang waktu tertentu.

Kelajuan suatu benda merupakan perbandingan antara jarak yang ditempuh dengan
selang waktu yang diperlukan. Secara matenatis kelajuan dapat ditemukan dengan
perumusan sebagai berikut:

kelajuan = jarak / waktu

Kecepatan suatu benda merupakan perbandingan antara perpindahan yang ditempuh


benda dengan selang waktu yang diperlukan. Secara matenatis kecepatan dapat
ditemukan dengan perumusan sebagai berikut:

kecepatan = perpindahan / waktu

Jika selama geraknya benda mengalami perubahan kecepatan, maka perubahan kecepatan
tiap satuan waktu disebut dengan percepatan. Secara matenatis percepatan dapat
ditemukan dengan perumusan sebagai berikut:

percepatan = kecepatan / waktu → a = Δv/Δt → (vt – v0) / (t – t0)


dengan :
a = percepatan (m/s2)
Δv = perubahan kecepatan (m/s)
Δt = perubahan waktu (s)

Gerak lurus adalah gerak suatu benda yang lintasannya berupa garis lurus. Berdasarkan
kecepatannya, gerak lurus dibedakan menjadi dua, yaitu gerak lurus beraturan dan gerak
lurus berubah beraturan.

Gerak lurus beraturan merupakan gerak benda yang lintasannya berupa garis lurus dan
kecepatannya tetap. Benda menempuh jarak yang sama untuk selang waktu yang sama,
dan percepatannya sama dengan nol (a = 0). Gerak lurus berubah beraturan adalah gerak
benda yang lintasannya berupa garis lurus dan setiap saat kecepatannya selalu berubah
secara teratur.
Usaha, Energi, dan Daya

Usaha diartikan sebagai suatu yang dilakukan oleh gaya terhadap benda, sehingga benda
tersebut bergerak (mengalami perpindahan). Secara matenatis usaha dapat ditemukan
dengan perumusan sebagai berikut:

W=F.s
dengan :
W = usaha yang dilakukan (Joule)
F = gaya (Newton)
s = perpindahan (meter)

Untuk melakukan suatu usaha diperlukan sejumlah energi sehingga energi diartikan
sebagai kemampuan untuk melakukan usaha.

Energi potensial gravitasi adalah energi yang dimiliki benda karena kedudukannya. Jika
massa benda (m) dan letaknya di atas tanah setinggi (h) maka besarnya energi potensial
(Ep) benda sama dengan usaha yang dilakukan gaya beratnya selama jatuh, atau
dituliskan:

Ep = m . g . h
dengan :
Ep = energi potensial, satuan Joule (J)
m = massa benda, satuan kilogram (kg)
g = percepatan gravitasi, satuan (m/s2)
h = tinggi benda di atas tanah, satuan meter (m)

Energi kinetik merupakan energi yang dimiliki benda yang bergerak. Jika massa benda
yang bergerak m, kecepatan gerak v, maka besarnya energi kinetik dirumuskan:

Ek = 1/2 mv2

dengan :
Ek = energi kinetik, satuan Joule (J)
m = massa benda, satuan kilogram (kg)
v = kecepatan benda, satuan (m/s)

Jumlah energi potensial dan kinetik disebut dengan energi mekanik. Hukum kekekalan
energi mekanik menyatakan bahwa Pada suatu sistem yang terisolasi besarnya energi
mekanik adalah konstan. Secara matenatis hukum kekekalan energi mekanik dapat
dirumuskan sebagai berikut:

Emekanik = Ep + Ek = konstan
Daya didefinisikan sebagai laju untuk melakukan usaha atau usaha yang dilakukan mesin
tiap satuan waktu. Besaran daya dapat dirumuskan sebagai berikut.

P=W/t=F.s/t=F.v
dengan :
P = daya (J/s atau Watt)
W = usaha (Joule)
t = waktu (sekon)
F = gaya (Newton)
v = kecepatan (m/s)

Impuls dan momentum

Hasil kali gaya (F) dan selang waktu singkat (Δt) selama gaya bekerja disebut besaran
impuls dan diberi lambang I, sehingga:

I = F . Δt = F (t2-t1)
dengan :
I = impuls (Ns)
F = gaya bekerja (N)
Δt = selisih waktu (s)

Momentum adalah hasil kali antara massa benda dengan kecepatan gerak benda tersebut.
Secara matenatis momentum dapat dirumuskan sebagai berikut:

p=m.v
dengan :
p = momentum, satuan kg.m/s
m = massa benda, satuan kg
v = kecepatan benda, satuan m/s

Hubungan impuls dan momentum ialah bahwa impuls itu merupakan perubahan
momentum. Secara matenatis hal tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut:

I = Δp = p – p0 = mv – mv0 = m (v – v0)
dengan :
I = impuls
Δp = perubahan momentum
Hukum kekekalan momentum menyatakan bahwa Pada peristiwa tumbukan, jumlah
momentum benda-benda sebelum dan sesudah tumbukan adalah tetap, asalkan tidak ada
gaya luar yang bekerja pada benda-benda tersebut. Secara matematis dirumuskan:

p1 + p2 = p1'+p2' → m1v1 + m2v2 = m1v1' + m2v2'


dengan :
p1, p2 = momentum benda 1 dan 2 sebelum tumbukan
p1', p2' = momentum benda 1 dan 2 sesudah tumbukan
m1, m2 = massa benda 1 dan 2
v1, v2 = kelajuan benda 1 dan 2 sebelum tumbukan
v1', v2' = kelajuan benda 1 dan 2 sesudah tumbukan

Tumbukan sentral adalah tumbukan antara benda-benda yang arah kecepatannya terletak
pada satu garis lurus yang menghubungkan titik berat kedua benda tersebut. Di dalam
tumbukan selalu berlaku hukum kekekalan momentum. Koefisien elastisitas dari dua
benda yang bertumbukan sama dengan perbandingan negatif antara beda kecepatan
sesudah tumbukan dengan beda kecepatan sebelum tumbukan.

e = -(v1' – v2') / (v1 – v2)

Berdasaran kelentingan suatu benda, tumbukan dibedakan menjadi tiga : tumbukan


lenting sempurna dengan nilai e = 1, tumbukan lenting sebagian dengan nilai e antara 0
dan 1 (0 < e < 1), dan tumbukan tidak lenting sama sekali dengan nilai e = 0.

Suhu dan kalor

Suhu adalah ukuran derajat panas yang dimiliki suatu benda. Suhu dapat dinyatakan
dalam skala seperti Celsius, Fahrenheit, dan Kelvin. Perbandingan antara skala tersebut
dapat dituliskan:

°C = 5/9 (°F – 32) = K – 273

Kalor adalah suatu bentuk energi yang berpindah dari benda bersuhu tinggi ke benda
bersuhu rendah. Besarnya kalor yang diterima atau dilepas oleh suatu benda berbanding
lurus dengan massa benda, perubahan suhu, dan kalor jenis benda. Secara matematis
dirumuskan:

Q = m . c . ΔT
dengan :
Q = besarnya kalor (Joule)
m = massa benda (kg)
c = kalor jenis benda (J/kgK)
ΔT = T2 – T1 = perubahan suhu (Kelvin)
Besarnya kalor yang diperlukan atau dilepas zat untuk berubah wujud disebut kalor laten
(L). Secara matematis dirumuskan:

L = Q / m atau Q = m . L

Getaran

Getaran harmonis ialah gerak bolak balik benda melalui titik keseimbangannya. Contoh
gerka tersebut dapat kita lihat pada gerak bandul dan pegas.

Jarak suatu benda yang bergetar ketika menyimpang dari titik keseimbangan dinamakan
simpangan. Simpangan terbesar dari suatu getaran dinamakan amplitudo.

Waktu yang dibutuhkan oleh suatu benda untuk melakukan satu kali getaran dinamakan
periode getaran. Periode getaran diloambangkan dengan huruf T, dengan satuan dalam
SI adalah sekon (s).

Frekuensi getaran adalah banyaknya getaran yang dilakukan benda dalam satu sekon.
Frekuensi getaran dapat dilambangkan dengan huruf f, dengan satuannya adalah Hertz
atau getaran per sekon (s-1).
Hubungan antara periode dengan frekuensi adalah sebagai berikut.

T = 1/f atau f = 1/T


dengan :
f = frekuensi
T = peroide

Listrik statis

Ada dua jenis muatan listrik, yaitu muatan listrik positif dan negatif. Muatan listrik
sejenis saling tolak-menolak, sedangkan muatan listrik tidak sejenis saling tarik menarik.

Hukum Coulomb menyatakan bahwa Gaya tarik atau gaya tolak antara dua muatan
berbanding lurus dengan besar muatan masing-masing dan berbanding terbalik dengan
kuadrat jaraknya. Jika hukum itu dirumuskan, dapat ditulis sebagai berikut.

F = k.q1.q2/r2
Dengan k adalah konstanta pembanding, r jarak antara kedua muatan, q1 dan q2 muatan
benda masing-masing, dan F adalah gaya tarik atau gaya tolak yang disebut gaya
elektrostatis/gaya Coulomb. Besar k ditentukan dalam percobaan yang dilakukan dalam
ruang hampa. Dalam satuan SI harga k sangat dekat dengan 9 x109 Nm2/C2.
Medan listrik (E) adalah ruang di sekitar benda bermuatan listrik di mana benda
bermuatan lainnya dalam ruang ini akan mengalami gaya listrik. Secara matematis
dirumuskan:

E=F/q

Listrik dinamis

Kuat arus listrik didefinisikan sebagai banyaknya muatan yang mengalir melalui suatu
penampang konduktor tiap satuan waktu. Secara matematis dapat dituliskan:

I = q/t
dengan :
I = kuat arus listrik (A)
q = muatan listrik (C)
t = waktu (s)

Hukum ohm menyatakan bahwa Beda potensial antar ujung-ujung hambatan sebanding
dengan kuat arus listrik yag melalui hambatan tersebut. Secara matematis dapat
dituliskan:

R = V/I → V = I . R
dengan :
R = hambatan/resistor (ohm)
V = beda potensial (volt)
I = kuat arus listrik (ampere)

Hambatan kawat penghantar sangat tergantung pada panjang, luas penampang, dan jenis
kawat. Berdasarkan hasil percobaan didapatkan bahwa besarnya hambatan kawat
sebanding dengan panjang kawat dan berbanding terbalik dengan luas penampang kawat.
Secara matematis dapat dituliskan:

R = ρ.l / A
dengan :
R = hambatan kawat (ohm)
ρ = hambat jenis (ohmmeter = Ωm)
l = panjang kawat (m)
A = luas penampang (m2)

Pada rangkaian hambatan seri berlaku hubungan Rs = R1 + R2 + ... + Rn, sedangkan pada
rangkaian hambatan paralel berlaku hubungan 1/Rp = 1/R1 + 1/R2 + ... + 1/Rn.