Anda di halaman 1dari 47

BAB I

PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang Permasalahan


Universitas Indonesia (UI) sebagai salah satu universitas ternama dan
terkemuka di Indonesia memiliki potensi yang sangat besar untuk menjadi salah
satu universitas yang memiliki reputasi international (standar international).
Sebagai universitas terkemuka, UI telah memiliki sejumlah syarat yang
memungkinkannya go international. Syarat itu antara lain kualitas dan kuantitas
sumber daya manusia yang sangat memadai. Tentu saja syarat itu belum cukup,
dan masih dibutuhkan sejumlah syarat lainnya. UI harus didukung dengan
ketersediaan kurikulum yang bertaraf international, laboratorium yang standar,
perpustakaan yang representatif dan fasilitas pendidikan lainnya
(www.lib.ui.ac.id).
Menurut versi Times Higher Education Supplement (THES) World
University Rankings of 2009, UI menempati posisi 201 untuk peringkat dunianya.
Adapun indikator yang dijadikan rujukan THES dalam membuat ranking di
antaranya adalah Pertama, performa riset dan publikasi. Kedua, Performa dalam
pengajaran seperti selektivitas, efisiensi internal, prestasi mahasiswa, dan
sebagainya. Ketiga, internasionalisasi. Keempat, performa lulusan dalam kaitan
dengan penyerapannya oleh pasar tenaga kerja. Kelima, governance
(www.inilah.com). Pembangunan perpustakaan berbasis teknologi (digital
library) merupakan salah satu upaya UI menuju World Class University dan
masuk ranking 100 besar perguruan tinggi terbaik di dunia pada tahun berikutnya.
Bila hal ini terwujud, maka reputasi internasional pun akan mudah diraih. Sebab,
pengelolaan universitas, termasuk perpustakaan yang berbasis teknologi akan
menjadi salah satu daya tarik UI bagi calon mahasiswa dari dalam dan luar negeri.
Artinya, UI akan membuka peluang untuk memiliki international student atau
paling tidak memiliki kelas jarak jauh (distance education) yang mahasiswanya
tidak hanya dari seluruh Indonesia, tapi juga dari berbagai tempat di seluruh
dunia. Keberadaan mahasiswa internasional di Universitas Indonesia menjadi
pertanda bahwa UI telah memiliki reputasi internasional. Tentu saja itu hanya

1
dimungkinkan bila UI didukung pula oleh adanya ‘world class university library’
(www.lib.ui.ac.id).
Berdasarkan penjelasan di atas, bisa diketahui bahwa pendidikan memang
merupakan sesuatu yang dinilai sangat penting bagi semua kalangan. Maka,
tidaklah mengherankan bila setiap institusi pendidikan khususnya pada jenjang
yang lebih tinggi (universitas) berlomba-lomba untuk meningkatkan kualitas
universitas mereka. Pada umumnya, orang tua akan berusaha menyekolahkan
anaknya sampai pada jenjang yang setinggi-tingginya. Hal itu dikarenakan
pendidikan, khususnya pendidikan formal, dipercaya mampu untuk
mengembangkan potensi anak sehingga anak mampu memiliki daya saing. Untuk
itulah tidak jarang, agar mampu meningkatkan peluang kesuksesan anaknya di
masa depan, orang tua akan memilih institusi pendidikan dengan kualitas yang
paling baik. Lebih jauh lagi, institusi pendidikan yang berada di luar negeri pun
menjadi alernatif bagi mereka yang menginginkan pendidikan dengan kualitas
terbaik, khususnya jika telah memasuki jenjang perguruan tinggi.
Menurut Papalia (2008), pada masa transisi dari remaja menuju ke dewasa,
seorang anak memiliki keinginan untuk mencoba hal baru. Sebagai contoh,
seorang anak mulai terbuka terhadap pendidikan atau lingkungan kerja baru yang
terkadang jauh dari rumahnya. Selain menawarkan peluang untuk mengasah
kemampuannya, remaja yang menuju tahap dewasa ini juga akan
mempertanyakan asumsi yang sudah dipegang sejak lama, dan mencoba cara baru
memandang dunia. Ketika seseorang melanjutkan studi di luar negeri secara
otomatis orang tersebut akan menjadi mahasiswa asing yang jumlahnya minoritas
dibandingkan mahasiwa lokal. Menurut Santrock (2003) mahasiswa adalah
sekumpulan individu yang secara resmi terdaftar untuk mengikuti kegiatan belajar
di perguruan tinggi, sedangkan menurut Peraturan Menteri Nomor 25 tahun 2007
mahasiswa asing adalah warga negara asing yang mengikuti pendidikan pada
perguruan tinggi di Indonesia (Peraturan Menteri, 2007).
Namun, keputusan untuk melanjutkan studi di luar negeri tidak akan
secara langsung menjamin kesuksesan seseorang. Hal ini dikarenakan mahasiswa
tersebut harus beradapatasi dengan lingkungannya yang baru. Menurut Berry
(2006, dalam Hapsari, 2008), interaksi dengan budaya lain merupakan situasi

2
yang harus dialami oleh mahasiswa yang tinggal di luar negeri untuk melanjutkan
kuliahnya. Dalam sebuah studi lain juga disebutkan bahwa pelajar yang
melanjutkan studi di luar negeri sering menghadapi masalah dalam hal
penyesuaian terhadap lingkungan sosialnya yang baru (Al-Sharideh dan Goe,
1998). Permasalahan tersebut apabila tidak dapat diatasi dengan baik dapat
menjadi hambatan dalam mencapai kesuksesan akademik dan penyesuaian sosial.
Permasalahan yang sering dihadapi pelajar asing sangat beragam seperti
diskriminasi (Wan, 1999), kemampaun finanasial (Nicholson, 2001), juga
perbedaan bahasa, performa akademis, dan penyesuaian sosial (Sun, 2005).
Pengalaman mereka tinggal di negara lain ada yang menyenangkan dan
produktif, ada juga yang tidak nyaman dan tidak menyenangkan. Terdapat
pengalaman negatif seperti diskriminasi, homesickness, sampai tekanan akademis
yang berasal dari kampus yang dapat menjadi hambatan dalam proses belajar
(Hapsari, 2008). Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya permasalahan tersebut
timbul karena mahasiswa tersebut harus beradaptasi dengan lingkungan sosialnya
yang baru. Dalam prosesnya, mahasiswa tersebut dapat saja mengalami culture
shock yakni ketika individu memasuki budaya yang baru, tetapi ia masih
memegang kepercayaan dan nilai dari budaya sebelumnya sehingga menimbulkan
kebingungan dan rasa kehilangan identitas kulturalnya (Ward, Bochner &
Furnham, 2001)
Untuk itu kemampuan untuk menyesuaikan diri dari setiap individu,
dirasakan sangat penting dalam menghadapi lingkungan sosial yang baru,
termasuk mahasiswa dengan lingkungan barunya. Apabila ia mampu untuk
melakukan penyesuaian diri dengan baik, ia akan mampu untuk optimal dalam
belajar sehingga dapat mencapai prestasi yang memuaskan. Sebaliknya, apabila
individu tersebut tidak mampu beradaptasi dengan lingkungan sosialnya yang
baru, ia akan menghadapi hambatan, yang bila dibiarkan dapat mempengaruhi
kesuksesannya dalam hal akademis. Berdasarkan uraian di atas, peneliti merasa
tertarik untuk mengetahui gambaran penyesuaian diri pada mahasiswa, khususnya
mahasiswa asing yang melanjutkan studinya di Universitas Indonesia.

I.2. Perumusan Masalah dan Tujuan Penelitian

3
Perumusan Masalah
Masalah penelitian ini adalah "Bagaimanakah gambaran penyesuaian diri
mahasiswa asing yang baru belajar di Universitas Indonesia?"
Dari pertanyaan inti di atas, peneliti membuat beberapa pertanyaan
turunan, yaitu:
- Bagaimana karakteristik penyesuaian diri yang baik pada mahasiswa asing
yang baru belajar di Universitas Indonesia?
- Faktor apa saja yang dapat menghambat penyesuaian diri pada mahasiswa
asing?

Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang masalah dan perumusan masalah, maka
penulis merumuskan tujuan penelitian, yaitu untuk mengetahui gambaran
penyesuaian diri mahasiswa asing yang baru belajar di Universitas Indonesia.

I.3. Signifikansi (Manfaat Penelitian)


Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya literatur khususnya tentang
penyesuaian diri di kalangan mahasiswa asing di Universitas Indonesia. Selain
itu, informasi yang diperoleh dapat digunakan untuk membantu mahasiswa asing
yang akan menempuh pendidikan tingginya di Universitas Indonesia dalam
menyesuaikan diri dengan lingkungan baru dan mengantisipasi berbagai kesulitan
yang mungkin dihadapi selama masa transisi tinggal di Indonesia. Pihak
penyelenggara pendidikan juga dapat memakai informasi dari penelitian ini dapat
digunakan sebagai data sekunder dalam menyusun kebijakan UI berkaitan dengan
mahasiswa asing ke depannya.

I.4. Isu Etis


Dalam penelitian ini topik yang dipilih peneliti bukan merupakan
fenomena yang bersifat sensitif. Sehingga relatif tidak terdapat isu etis dalam
penelitian ini yang menyebabkan kerugian pada subjek penelitian.

I.5. Cakupan Penelitian

4
Mengingat topik penelitian ini cukup luas, maka hasil yang akan diperoleh
dari penelitian ini hanya sebatas gambaran penyesuaian diri mahasiswa asing dari
subek yang berasal dari beberapa negara. Selain itu, mungkin terdapat perbedaan
penyesuaian antara mahasiswa asing yang belajar di Universitas Indonesia dengan
mahasiswa asing yang belajar di universitas lain di Indonesia.

I.6. Identitas dan Keterampilan Peneliti


Peneliti belum memiliki pengalaman dalam melakukan penelitian
kualitatif. Namun, peneliti sudah mengetahui dasar-dasar dari penelitian kualitatif
seperti metode yang dapat digunakan dalam pengambilan data pada penelitian
kualitatif yaitu wawancara dan observasi yang telah diperoleh dari kuliah-kuliah
sebelumnya.

5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1. Mahasiswa
II.1.2. Pengertian Mahasiswa Asing
Menurut Santrock (2003), mahasiswa adalah sekumpulan individu yang
secara resmi terdaftar untuk mengikuti kegiatan belajar di perguruan tinggi.
Mahasiswa didefinisikan sebagai individu yang telah menyelesaikan Sekolah
Menengah Atas dan memasuki perguruan tinggi. Mahasiswa asing didefinisikan
sebagai warga negara asing yang mengikuti pendidikan pada perguruan tinggi di
Indonesia (Peraturan Menteri Pendidikan Nomor 25 tahun 2007).
Mahasiswa asing biasanya dikategorikan ke dalam istilah “sojourner” yang
dijelaskan sebagai berikut oleh Ward, Bochner dan Furnham (2001):
A "sojourner" is defined as a foreign language student on an extended
study visa in a new country. The term sojourner, who travels from one
culture to another for educational purposes (Ward, Bochner & Furnham,
2001), was used instead of the term international student because
international student is a term used by the academic or government
institutions to describe student fee structure and/or student visa status.

Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa "sojourner" sebagai


mahasiswa bahasa asing yang memperpanjang visa belajar di negara yang baru.
Istilah orang asing disini adalah mereka yang bepergian dari satu budaya ke
budaya yang lain untuk tujuan pendidikan, istilah ini tidak bisa disamakan dengan
istilah mahasiswa internasional karena mahasiswa internasional adalah istilah
yang digunakan oleh lembaga-lembaga akademis atau pemerintah untuk
menggambarkan struktur biaya siswa dan / atau status visa pelajar.
Pelajar yang menempuh pendidikan di luar negeri menghadapi berbagai
masalah, beberapa di antaranya adalah prestasi akademik, bahasa, tempat tinggal,
masalah ekonomi, dan ketidakmampuan mereka untuk diterima secara sosial,
kesehatan dan rekreasi, dan prasangka ras (Hammer, 1992).

6
II.2. Budaya
II.2.1. Pengertian Budaya
Trenholm dan Jensen (dalam Mulyana, 2005) mendefinisikan budaya
sebagai seperangkat nilai, kepercayaan, norma, dan adat istiadat, aturan dan kode,
yang secara sosial menjadi ciri khas sekelompok orang, mengikat mereka satu
sama lain dan memberikan kesadaran kolektif. Budaya sangat berperan penting
dalam kehidupan individu mengenai apa yang dibicarakan, bagaimana
membicarakannya, apa yang individu lihat dan perhatikan, serta apa yang
dipikirkan individu sangat dipengaruhi oleh budaya.
Mulyana (2005) menyatakan bahwa aspek budaya terbagi menjadi dua,
yakni aspek budaya terlihat dan tersembunyi. Aspek budaya terlihat adalah
pakaian, makanan, musik, kesenian, dan arsitektur. Adapun aspek budaya
tersembunyi adalah etika, nilai, konsep keadilan, perilaku, hubungan pria-wanita,
konsep kebersihan, gaya belajar, gaya hidup, motivasi bekerja, dan sebagainya.

II.2.2. Budaya Indonesia


Keanekaragaman suku bangsa dengan latar belakang kebudayaan berbeda
menjadi ciri khas bangsa Indonesia dan merupakan manifestasi unsur
ke-“bhinneka”-an. Pada kenyataannya penduduk Indonesia terdiri dari berbagai
suku-bangsa, besar (mayoritas) maupun kecil (minoritas), yang membaur dengan
bangsa-bangsa asing lainnya. Bangsa-bangsa asing yang pernah datang dan berada
di Indonesia inilah yang membawa pengaruh tersendiri dalam kebudayaan
Indonesia.
Dipandang dari sudut sosio-budaya Indonesia adalah “bhinneka tunggal
ika”. Bangsa Indonesia yang mendiami kepulauan nusantara terdiri atas
bermacam-macam suku bangsa dan ras yang berbeda-beda asal-usul dan
keturunannya. Kebhinnekaan suku bangsa dan keanekaragaman sifat geografis
nusantara mengakibatkan adanya beraneka ragam seni budaya, bahasa, adat
istiadat, tata cara, kebiasaan, status sosial, serta agama yang tumbuh dan
berkembang di bumi nusantara ini.
Meskipun penduduk Indonesia bersifat “bhinneka”, namun dalam
kehidupan sehari-hari mencerminkan ke-“ika”-an berupa satu kesatuan yang

7
tunggal. Semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” menggambarkan keadaan masyarakat
Indonesia yang mempunyai banyak perbedaan dalam kebudayaan karena adanya
berbagai suku bangsa dan golongan etnik. Secara keseluruhan corak kebudayaan
di Indonesia dibedakan atas tiga bentuk kebudayaan yang didasarkan pada
perbedaan latar belakang kebudayaan, adat istiadat, ras, serta bahasa, yaitu: 1)
Kebudayaan Melayu, 2) Kebudayaan Jawa, dan 3) Kebudayaan non-Melayu dan
non-Jawa (http://www.indonesiamedia.com).

II.3. Penyesuaian Diri


Individu memerlukan interaksi dengan lingkungan sosialnya karena dalam
lingkungan sosial individu dapat berkembang dan menyesuaikan diri. Bagi remaja
yang baru memasuki lingkungan perkuliahan, lingkungan kampusnya merupakan
lingkungan sosial yang utama dalam mengadakan penyesuaian diri, terutama pada
remaja / mahasiswa asing yang berasal dari negara yang berbeda dengan tempat ia
menempuh pendidikan tinggi. Apabila ia tidak dapat menyesuaikan diri dengan
lingkungannya, ia akan memiliki sikap negatif dan tidak bahagia yang dapat
mempengaruhi kelangsungan pendidikan dan kehidupannya di negara tuan rumah.

II.3.1. Pengertian Penyesuaian Diri


Davidoff (1991) mengatakan bahwa penyesuaian diri (adjustment) itu
merupakan suatu proses untuk mencari titik temu antara kondisi diri sendiri dan
tuntutan lingkungan. Penyesuaian diri dengan diri sendiri adalah bagaimana
individu mempersepsi dirinya sendiri, potensi-potensi yang dimiliki dan tingkat
kepuasan akan hasil atau pengalaman yang diperoleh. Penyesuaian diri dengan
lingkungan adalah bagaimana individu mempersepsi dan bersikap terhadap
realitas yang ada. Individu yang mempunyai penyesuaian diri yang baik dapat
mengendalikan perasaan cemas, khawatir dan marah apabila mendapat suatu
tekanan dari lingkungan. Hal ini disebabkan oleh adanya dorongan untuk
mengatasi hambatan-hambatan dalam mengaktualisasikan diri di lingkungan.
Menurut Calhoun dan Acocella (1995), penyesuaian diri dapat
didefinisikan sebagai interaksi individu yang kontinyu dengan diri individu
sendiri, dengan orang lain dan dengan dunia individu. Definisi penyesuaian diri

8
tersebut menunjukkan bahwa penyesuaian diri dapat digambarkan sebagai usaha
individu untuk saling mempengaruhi antara dirinya sendiri, dengan orang lain dan
dunia luar atau lingkungannya.

II.3.2. Jenis-jenis Penyesuaian


Menurut Ramsay dkk. (1999), penyesuaian bisa digambarkan sebagai
kesesuaian antara siswa dan lingkungan akademiknya. Penyesuaian dibagi
menjadi domain psikologis (emosional, mengacu pada kesejahteraan, depresi,
kecemasan, kelelahan) dan sosial budaya (perilaku, mengacu pada kemampuan
untuk menyesuaikan diri) (Brown dan Holloway, 2008).
a. Penyesuaian Psikologis
Penyesuaian psikologis dapat dipahami dalam bentuk kerangka stres dan
coping, diprediksi dan dijelaskan oleh variabel kepribadian dan dukungan
sosial. Permasalahan pada penyesuaian psikologis ditemukan oleh Cross.
Cross (1995) menemukan bahwa mahasiswa Asia Timur cenderung saling
tergantung dan menggunakan strategi coping tidak langsung. Namun,
ketika mereka belajar di budaya individualistik yang menghargai strategi
penanganan langsung, strategi penanganan yang tidak langsung yang
mereka gunakan menjadi tidak efektif. Akibatnya, mereka mengalami stres
dengan tingkat yang lebih tinggi. Umumnya penyesuaian berbicara, sosial
budaya dan psikologis saling berhubungan (Ward & Kennedy, 1994).
b. Penyesuaian Sosial Budaya
Penyesuaian social budaya dapat dilihat dari perspektif pembelajaran
sosial, diprediksi oleh variabel yang berhubungan dengan faktor kognitif
dan akuisisi keterampilan sosial (Ward dan Kennedy, 1999). Zimmermann
(1995) menganggap komunikasi sebagai kunci utama proses adaptasi, tapi
ia juga menyadari bahwa siswa internasional sering kali kekurangan
kesempatan untuk berkomunikasi dengan siswa lokal, akademisi, atau
bahkan siswa internasional lain dari berbagai negara dan budaya. Karena
kemampuan bahasa yang buruk, sedikitnya waktu dihabiskan untuk
kegiatan sosial, dan jarak besar antara budaya asli dan tuan rumah.

9
II.3.3. Karakteristik Penyesuaian Diri
Menurut Hariyadi, dkk (2003), terdapat beberapa karakteristik
penyesuaian diri yang positif, diantaranya :
a. Kemampuan menerima dan memahami diri sebagaimana adanya.
Karakteristik ini mengandung pengertian bahwa orang yang mempunyai
penyesuaian diri yang positif adalah orang yang sanggup menerima
kelemahan-kelemahan, kekurangan-kekurangan di samping kelebihan-
kelebihannya. Individu tersebut mampu menghayati kepuasan terhadap
keadaan dirinya sendiri, dan membenci apalagi merusak keadaan dirinya
betapapun kurang memuaskan menurut penilaiannya. Hal ini bukan berarti
bersikap pasif menerima keadaan yang demikian, melainkan ada usaha
aktif disertai kesanggupan mengembangkan segenap bakat, potensi, serta
kemampuannya secara maksimal.
b. Kemampuan menerima dan menilai kenyataan lingkungan di luar dirinya
secara objektif, sesuai dengan perkembangan rasional dan perasaan.
Orang yang memiliki penyesuaian diri positif memiliki ketajaman dalam
memandang realita, dan mampu memperlakukan realitas atau kenyataan
secara wajar untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Ia dalam
berperilaku selalu bersikap mau belajar dari orang lain, sehingga secara
terbuka pula ia mau menerima feedback dari orang lain.
c. Kemampuan bertindak sesuai dengan potensi, kemampuan yang ada pada
dirinya dan kenyataan objektif di luar dirinya.
Karakteristik ini ditandai oleh kecenderungan seseorang untuk tidak
menyia-nyiakan kekuatan yang ada pada dirinya dan akan melakukan hal-
hal yang jauh di luar jangkauan kemampuannya. Hal ini terjadi
perimbangan yang rasional antara energi yang dikeluarkan dengan hasil
yang diperolehnya, sehingga timbul kepercayaan terhadap diri sendiri
maupun terhadap lingkungannya.
d. Memiliki perasaan yang aman dan memadai
Individu yang tidak lagi dihantui oleh rasa cemas ataupun ketakutan dalam
hidupnya serta tidak mudah dikecewakan oleh keadaan sekitarnya.
Perasaan aman mengandung arti pula bahwa orang tersebut mempunyai

10
harga diri yang mantap, tidak lagi merasa terancam dirinya oleh
lingkungan dimana ia berada, dapat menaruh kepercayaan terhadap
lingkungan dan dapat menerima kenyataan terhadap keterbatasan maupun
kekurangan-kekurangan dan lingkungannya.
e. Rasa hormat pada manusia dan mampu bertindak toleran
Karakteristik ini ditandai oleh adanya pengertian dan penerimaan keadaan
di luar dirinya walaupun sebenarnya kurang sesuai dengan harapan atau
keinginannya.
f. Terbuka dan sanggup menerima umpan balik
Karakteristik ini ditandai oleh kemampuan bersikap dan berbicara atas
dasar kenyataan sebenarnya, ada kemauan belajar dari keadaan sekitarnya,
khususnya belajar mengenai reaksi orang lain terhadap perilakunya.
g. Memiliki kestabilan psikologis terutama kestabilan emosi
Hal ini tercermin dalam memelihara tata hubungan dengan orang lain,
yakni tata hubungan yang hangat penuh perasaan, mempunyai pengertian
yang dalam, dan sikap yang wajar.
h. Mampu bertindak sesuai dengan norma yang berlaku, serta selaras dengan
hak dan kewajibannya.
Individu mampu mematuhi dan melaksanakan norma yang berlaku tanpa
adanya paksaan dalam setiap perilakunya. Sikap dan perilakunya selalu
didasarkan atas kesadaran akan kebutuhan norma, dan atas keinsyafan
sendiri.
Heber dan Runyon (1984) menyebutkan beberapa ciri khas penyesuaian
diri yang sehat, yaitu :
1) Persepsi terhadap realitas
Individu mengubah persepsinya tentang kenyataan hidup dan
menginterpretasikannya, sehingga mampu menentukan tujuan yang
realistik sesuai dengan kemampuannya serta mampu mengenali
konsekuensi dan tindakannya agar dapat menuntun pada perilaku yang
sesuai.
2) Kemampuan mengatasi stres dan keecemasan

11
Mempunyai kemampuan mengatasi stres dan kecemasan berarti individu
mampu mengatasi masalah-masalah yang timbul dalam hidup dan mampu
menerima kegagalan yang dialami. Individu yang memiliki penyesuaian
diri yang baik akan belajar untuk menceritakan stres dan kecemasan yang
dirasakannya pada orang lain. Dukungan dari orang di sekitar dapat
membantu individu dalam menghadapi masalahnya.
3) Gambaran diri yang positif
Gambaran diri yang positif berkaitan dengan penilaian individu tentang
dirinya sendiri. Individu mempunyai gambaran diri yang positif baik
melalui penilaian pribadi maupun melalui penilaian orang lain, sehingga
individu dapat merasakan kenyamanan psikologis.
4) Kemampuan mengekspresikan emosi dengan baik
Emosi yang ditampilkan individu realistis dan secara umum berada di
bawah kontrol individu. Ketika seseorang marah, dia mampu
mengekspresikan dengan cara yang tidak merugikan orang lain, baik
secara psikologis maupun fisik. Individu yang memiliki kematangan
emosional mampu untuk membina dan memelihara hubungan
interpersonal dengan baik.
5) Memiliki hubungan interpersonal yang baik
Memiliki hubungan interpersonal yang baik berkaitan dengan hakekat
individu sebagai makhluk sosial, yang sejak lahir tergantung pada orang
lain. Individu yang memiliki penyesuaian diri yang baik mampu
membentuk hubungan dengan cara yang berkualitas dan bermanfaat.
Menurut Sunarto dan Hartono (1995), dalam melakukan penyesuaian diri
secara positif, individu akan melakukannya dalam berbagai bentuk, antara lain :
1) Penyesuaian dengan menghadapi masalah secara langsung.
Individu secara langsung menghadapi masalah dengan segala
akibatnya. Misalnya seorang siswa yang terlambat dalam menyerahkan
tugas karena sakit, maka ia menghadapinya secara langsung, ia
mengemukakan segala masalahnya kepada guru.
2) Penyesuaian dengan melakukan eksplorasi (penjelajahan).

12
Individu mencari bahan pengalaman untuk dapat menghadapi dan
memecahkan masalahnya. Misal seorang siswa yang merasa kurang
mampu dalam mengerjakan tugas, ia akan mencari bahan dalam upaya
menyelesaikan tugas tersebut, dengan membaca buku, konsultasi,
diskusi, dan sebagainya.
3) Penyesuaian dengan trial and error atau coba-coba.
Individu melakukan suatu tindakan coba-coba, jika menguntungkan
diteruskan dan jika gagal tidak diteruskan.
4) Penyesuaian dengan substitusi atau mencari pengganti.
Jika individu merasa gagal dalam menghadapi masalah, maka ia dapat
memperoleh penyesuaian dengan jalan mencari pengganti. Misalnya
gagal nonton film di gedung bioskop, dia pindah nonton TV.
5) Penyesuaian dengan menggali kemampuan pribadi.
Individu mencoba menggali kemampuan-kemampuan khusus dalam
dirinya, dan kemudian dikembangkan sehingga dapat membantu
penyesuaian diri. Misal seorang siswa yang mempunyai kesulitan
dalam keuangan, berusaha mengembangkan kemampuannya dalam
menulis (mengarang), dari usaha mengarang ia dapat membantu
mengatasi kesulitan dalam keuangan.
6) Penyesuaian dengan belajar.
Individu melalui belajar akan banyak memperoleh pengetahuan dan
keterampilan yang dapat membantu menyesuaikan diri. Misal seorang
guru akan lebih dapat menyesuaikan diri dengan banyak belajar
tentang berbagai pengetahuan keguruan.
7) Penyesuaian dengan inhibisi dan pengendalian diri.
Individu berusaha memilih tindakan mana yang harus dilakukan, dan
tindakan mana yang tidak perlu dilakukan. Cara inilah yang disebut
inhibisi. Selain itu, individu harus mampu mengendalikan dirinya
dalam melakukan tindakannya.
8) Penyesuaian dengan perencanaan yang cermat.
Individu mengambil keputusan dengan pertimbangan yang cermat dari
berbagai segi, antara lain segi untung dan ruginya.

13
Berdasarkan uraian dari beberapa tokoh di atas dapat disimpulkan bahwa
karakteristik penyesuaian diri yang baik, diantaranya adalah :
a. Kemampuan menerima dan memahami diri sebagaimana adanya.
b. Kemampuan menerima dan menilai kenyataan lingkungan di luar
dirinya termasuk orang lain secara objektif.
c. Memiliki perasaan yang aman dan memadai.
d. Kemampuan bertindak sesuai potensi dan norma yang berlaku.
e. Kemampuan berinteraksi dan memelihara tata hubungan dengan
orang lain.

II.3.4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penyesuaian Diri


Sawrey dan Telford (1968) mengemukakan bahwa penyesuaian bervariasi
sifatnya, apakah sesuai atau tidak dengan keinginan sosial, sesuai atau tidak
dengan keinginan personal, menunjukkan konformitas sosial atau tidak, dan atau
kombinasi dari beberapa sifat di atas. Sawrey dan Telford lebih jauh lagi
mengemukakan bahwa penyesuaian yang dilakukan tergantung pada sejumlah
faktor yaitu pengalaman terdahulu, sumber frustrasi, kekuatan motivasi, dan
kemampuan individu untuk menanggulangi masalah.
Menurut Schneiders (1964), faktor-faktor yang mempengaruhi
penyesuaian diri adalah:
a. Keadaan fisik
Kondisi fisik individu merupakan faktor yang mempengaruhi
penyesuaian diri, sebab keadaan sistem-sistem tubuh yang baik
merupakan syarat bagi terciptanya penyesuaian diri yang baik. Adanya
cacat fisik dan penyakit kronis akan melatarbelakangi adanya
hambatan pada individu dalam melaksanakan penyesuaian diri.
b. Perkembangan dan kematangan
Bentuk-bentuk penyesuaian diri individu berbeda pada setiap tahap
perkembangan. Sejalan dengan perkembangannya, individu
meninggalkan tingkah laku infantil dalam merespon lingkungan. Hal
tersebut bukan karena proses pembelajaran semata, melainkan karena
individu menjadi lebih matang. Kematangan individu dalam segi

14
intelektual, sosial, moral, dan emosi mempengaruhi bagaimana
individu melakukan penyesuaian diri.
c. Keadaan psikologis
Keadaan mental yang sehat merupakan syarat bagi tercapainya
penyesuaian diri yang baik, sehingga dapat dikatakan bahwa adanya
frustrasi, kecemasan dan cacat mental akan dapat melatarbelakangi
adanya hambatan dalam penyesuaian diri. Keadaan mental yang baik
akan mendorong individu untuk memberikan respon yang selaras
dengan dorongan internal maupun tuntutan lingkungannya. Variabel
yang termasuk dalam keadaan psikologis di antaranya adalah
pengalaman, pendidikan, konsep diri, dan keyakinan diri.
d. Keadaan lingkungan
Keadaan lingkungan yang baik, damai, tentram, aman, penuh
penerimaan dan pengertian, serta mampu memberikan perlindungan
kepada anggota-anggotanya merupakan lingkungan yang akan
memperlancar proses penyesuaian diri. Sebaliknya apabila individu
tinggal di lingkungan yang tidak tentram, tidak damai, dan tidak aman,
maka individu tersebut akan mengalami gangguan dalam melakukan
proses penyesuaian diri.
Keadaan lingkungan yang dimaksud meliputi sekolah, rumah, dan
keluarga. Sekolah bukan hanya memberikan pendidikan bagi individu
dalam segi intelektual, tetapi juga dalam aspek sosial dan moral yang
diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Sekolah juga berpengaruh
dalam pembentukan minat, keyakinan, sikap dan nilai-nilai yang
menjadi dasar penyesuaian diri yang baik (Schneiders, 1964).
Keadaan keluarga memegang peranan penting pada individu dalam
melakukan penyesuaian diri. Susunan individu dalam keluarga,
banyaknya anggota keluarga, peran sosial individu serta pola hubungan
orang tua dan anak dapat mempengaruhi individu dalam melakukan
penyesuaian diri. Keluarga dengan jumlah anggota yang banyak
mengharuskan anggota untuk menyesuaikan perilakunya dengan
harapan dan hak anggota keluarga yang lain. Situasi tersebut dapat

15
mempermudah penyesuaian diri, proses belajar, dan sosialisasi atau
justru memunculkan persaingan, kecemburuan, dan agresi.
e. Tingkat religiusitas dan kebudayaan
Religiusitas merupakan faktor yang memberikan suasana psikologis
yang dapat digunakan untuk mengurangi konflik, frustrasi dan
ketegangan psikis lain. Religiusitas memberi nilai dan keyakinan
sehingga individu memiliki arti, tujuan, dan stabilitas hidup yang
diperlukan untuk menghadapi tuntutan dan perubahan yang terjadi
dalam hidupnya (Schneiders, 1964). Kebudayaan pada suatu
masyarakat merupakan suatu faktor yang membentuk watak dan
tingkah laku individu untuk menyesuaikan diri dengan baik atau justru
membentuk individu yang sulit menyesuaikan diri.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang
mempengaruhi penyesuaian diri meliputi keadaan fisik, perkembangan dan
kematangan, psikologis, lingkungan, serta religiusitas dan kebudayaan.
Yusoff dan Chelliah (2010) di dalam penelitiannya juga menemukan
faktor-faktor yang mempengaruhi penyesuaian diri seseorang, khususnya
mahasiswa asing, yaitu:
1. Faktor Demografi
• Umur
Sumeria et al., (2008) menyatakan bahwa siswa yang lebih tua
dilaporkan memliki tingkat kecemasan yang lebih tinggi. Lebih lanjut,
Sumeria menjelaskan bahwa siswa yang lebih tua mungkin lebih
tradisional, lebih tahan terhadap perubahan, dan memiliki kesulitan
dalam menerima norma-norma budaya dan nilai suatu negara. Oleh
karena itu, mereka akan mengalami tingkat kecemasan yang lebih
tinggi selama periode penyesuaian mereka. Semakin muda usia siswa
internasional, semakin mudah dan cepat proses penyesuaian mereka
dalam negara asing (Tomich et al., 2003).
• Status Pernikahan
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Poyrazli dan Kavanaugh (2006),
ditemukan bahwa siswa internasional yang sudah menikah mengalami

16
tingkat ketegangan (strain) yang lebih rendah terhadap penyesuaian
sosial daripada yang masih single. Hal ini disebabkan karena siswa
yang sudah menikah, merasa tidak perlu untuk mengeksplorasi
kemungkinan bentuk hubungan lain, dan memenuhi kebutuhan akan
dukungan sosial di rumah melalui pasangan mereka atau keluarga.
Oleh karena itu, dalam kasus siswa internasional yang sudah menikah,
hubungan pernikahan dapat berfungsi sebagai buffer (penyemangat).
• Gender
Fong dan Peskin (1969) adalah orang yang pertama kali melakukan
penelitian terhadap perbedaan gender dalam adaptasi. Mereka
menyatakan bahwa siswa perempuan mengalami ketegangan lebih dari
rekan-rekan pria mereka. Penelitian lain yang juga meneliti siswa
internasional menunjukkan bahwa siswa perempuan memiliki reaksi
emosi, fisiologis, dan perilaku yang lebih tinggi terhadap stres (Misra
et al 2003.) dan juga lebih mungkin untuk merasa rindu dan kesepian
daripada siswa laki-laki (Rajapaksa dan Dundes 2002). Namun,
Sumeria et al. (2008) tidak menemukan hubungan antara perbedaan
gender siswa internasional terhadap depresi dan tingkat kecemasan.
Dengan demikian, perlu dicermati lebih lanjut mengenai perbedaan
gender ketika mengevaluasi penyesuaian mahasiswa internasional.
• Length of residence
Semakin lama individu bertempat tinggal di negara asing, semakin
baik proses penyesuaian mereka terhadap lingkungan baru (Ward dan
Kennedy 1992). Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh
Wilton dan Constantine (2003), yang menemukan bahwa lebih lama
tinggal di AS dikaitkan dengan rendahnya tingkat distres psikologis
antara mahasiswa internasional Asia dan Amerika Latin. Dalam
sebuah penelitian yang lebih baru yang melihat hubungan antara
attachment styles orang dewasa dan penyesuaian psikologis dan sosial
budaya di Polandia, Rusia, dan imigran Hungaria kepada masyarakat
Belanda (Polek et al., 2008), terbukti bahwa dengan menetap lebih

17
lama di suatu negara asing, tampaknya berkaitan positif dengan
identifikasi dan kontak dengan budaya penduduk asli.
2. Kemampuan Berbahasa Inggris
Kemampuan berbahasa Inggris dan penyesuaian tampaknya berkaitan
positif. Sebagai contoh, beberapa peneliti telah menyelidiki bagaimana
kemampuan bahasa siswa dalam bahasa Inggris mempengaruhi
penyesuaian mereka (Poyrazli et al, 2002; Swami et al, 2009). Poyrazli et
al. (2002) yang mengukur penyesuaian umum dalam studi mereka dengan
melibatkan kemampuan untuk menceritakan masalah yang berkaitan
dengan pendidikan, penyesuaian budaya, dan pembangunan hubungan
sosial dengan orang Amerika. Keberhasilan dalam hal-hal tersebut
tergantung pada kemampuan siswa untuk berkomunikasi dalam bahasa
Inggris. Demikian pula, Swami et al., (2009) menemukan bahwa
mahasiswa Malaysia dengan kemampuan bahasa Inggris yang tinggi akan
beradaptasi lebih baik di Inggris.
3. Dukungan Sosial
Salah satu faktor yang dapat meningkatkan penyesuaian adalah dukungan
sosial, yang dapat memberikan kesempatan bagi siswa internasional untuk
mengembangkan pemahaman tentang budaya baru. Sumeria et al., (2008)
mempelajari prediktor depresi dan kecemasan di kalangan siswa
internasional dan menemukan bahwa dukungan sosial memiliki kontribusi
yang signifikan terhadap model dalam memprediksi depresi. Secara
khusus, siswa dengan tingkat dukungan sosial yang lebih rendah
melaporkan tingkat depresi yang lebih tinggi. Selain depresi, mereka juga
menemukan bahwa dukungan sosial juga memberikan kontribusi yang
signifikan terhadap varians kecemasan, khususnya siswa dengan dukungan
sosial yang lebih rendah lebih mungkin untuk memiliki tingkat kecemasan
yang lebih tinggi.
4. Kepribadian
Selain variabel latar belakang yang telah dibahas di atas, variabel
kepribadian juga memainkan peran penting dalam penyesuaian. Bahkan,
Wang (2008) menekankan bahwa variabel kepribadian yang telah diteliti

18
secara individu maupun dalam kelompok kecil terhadap penyesuaian tanpa
memiliki kerangka kerja yang menyeluruh. Demikian pula, Polek et al.,
(2008) juga menyebutkan bahwa sedikitnya perhatian yang diberikan pada
faktor-faktor kepribadian dalam penelitian tentang penyesuaian. Perbedaan
kepribadian dalam menghadapi perubahan, berkontribusi untuk memahami
pengalaman penyesuaian yang berbeda di antara siswa internasional. Ward
et al., (2004) menemukan bahwa neurotisisme dan extraversion terkait
dengan adaptasi psikologis dan sosial budaya. Agreeableness and
conscientiousness juga terkait dengan kesejahteraan psikologis.
Pada penelitian ini, faktor-faktor penyesuaian diri yang digunakan adalah
yang diusulkan oleh Yusoff dan Chelliah (2010) karena lebih sesuai dengan
karakteristik subyek penelitian, yaitu mahasiswa asing.

II.4. Culture Shock


II.4.1. Pengertian Culture Shock
Istilah culture shock pertama kali dikenalkan oleh Oberg. Pada awalnya
definisi Culture shock menekankan pada komunikasi. Oberg mendefiniskan
culture shock sebagai kecemasan yang timbul akibat hilangnya sign dan simbol
hubungan sosial yang familiar. Oberg (Pyvis & Anne, 2005) menyatakan ada 6
karakteristik dari culture shock yaitu :
a. Ketegangan dalam penyesuaian psikologis

Orang-orang telah mengembangkan budaya adalah orang-orang


yang telah hidup bersama dan saling mempengaruhi satu sama lain.
Keseluruhan cara hidup tersebut termasuk nilai-nilai, kepercayaan, standar
estetika, ekspresi linguistik, pola berpikir, norma perilaku, dan gaya
komunikasi. Di sisi lain, semuanya adalah cara yang dapat menjamin
kelangsungan hidup masyarakat dalam lingkungan fisik dan lingkungan
manusia tertentu (Pusch, 1979, dikutip oleh Wan, 1999). Akibatnya,
orang-orang akan terbiasa dengan budaya mereka sendiri, namun orang-
orang akan butuh waktu untuk terbiasa dengan budaya yang baru atau
budaya lain (Young, 2004).

19
Memasuki budaya yang berbeda membuat individu menjadi orang
asing di budaya tersebut saat individu dihadapkan dengan situasi ketika
kebiasaan-kebiasaannya diragukan. Hal ini dapat menimbulkan
keterkejutan dan stress. Keterkejutan dapat menyebabkan terguncangnya
konsep diri dan identitas cultural individu dan mengakibatkan kecemasan.
Kondisi ini menyebabkan sebagian besar individu mengalami gangguan
mental dan fisik, setidaknya untuk jangka waktu tertentu. Reaksi terhadap
situasi tersebut oleh Oberg disebut dengan istilah culture shock
(Gudykunst dan Kim, 2003).
Gejala culture shock dapat berupa rasa kehilangan, kebingungan,
kecemasan, depresi, perasaan stres, dan seterusnya (Furnham & Bochner,
1986; Huntley, 1993). Culture shock adalah bentuk keterasingan karena
kurangnya pengetahuan, pengalaman sebelumnya terbatas, dan kekakuan
pribadi (Redden, 1979, dikutip oleh Sun & Chen, 1997,). Bagi siswa
lintas-budaya, culture shock mengarah ke keterkejutan bahasa, peran, dan
pendidikan (Cushner & Karim, 2004). Namun, menurut orang yang
berbeda dan situasi yang berbeda, culture shock dapat bervariasi secara
dramatis (Hodge, 2000). Selain itu, orang menghadapi culture shock di
berbagai tahap adaptasi mereka (Ting-Toomey & Chung, 2005). Sun dan
Chen (1997) menganggap culture shock sebagai aspek negatif dari
penyesuaian budaya karena menyebabkan emosi, perilaku, dan
kebingungan kognitif dan disorientasi. Namun, culture shock telah
dianggap sebagai reaksi yang normal, sebagai bagian dari proses rutin
adaptasi terhadap stres budaya (Furnham & Bochner, 1986).
Young (2004) mendefinisikan adaptasi lintas-budaya sebagai
keseluruhan fenomena individu yang direlokasi ke lingkungan sosial
budaya asing, berusaha untuk membangun dan memelihara hubungan
yang relatif stabil, timbal balik, dan fungsional dengan lingkungan itu.
Namun, pengalaman dan lama tinggal di luar negeri tidak dapat menjamin
meningkatkan pemahaman budaya lain (Hodge, 2000). Sebuah adaptasi
antar-budaya yang sukses memerlukan kepekaan terhadap perbedaan
budaya, keterbukaan, dan sikap positif, selain dari ketergantungan yang

20
berlebihan pada sistem pendukung etnis (Young, 2004). Wagner dan
Magistrale (1997) menegaskan bahwa pengalaman orang-orang trial and
error akan menjadi cara yang paling efektif untuk menyesuaikan diri
dengan budaya baru.

21
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini bertujuan untuk untuk melihat adanya hubungan strategi


coping terhadap derajat work family conflict dan juga untuk melihat jenis strategi
coping yang paling berpengaruh terhadap derajat work-family conflict pada
karyawan atau karyawati yang sudah berkeluarga. Metode penelitian yang
digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Di dalam bab ini
akan diuraikan juga mengenai pengertian pendekatan kuntitatif itu sendiri. Selain
itu, juga akan dibahas tentang subyek penelitian, metode pengumpulan data yang
digunakan, prosedur penelitian, dan prosedur analisis data.
III. 1. Pendekatan kualitatif
Pendekatan kuantitif dianggap tepat untuk diigunakan dalam penelitian ini
karena pendekatan yang dipilih memang sesuai dengan masalah penelitian, dan
memang merupakan pendekatan terbaik untuk menjawab permasalahan yang ada.
Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, informasi dapat digali sebanyak
mungkin dari suatu fenomena dengan lebih mendalam dan terperinci (Flick,
1998).

III.1.1. Studi Kasus dalam Penelitian Kualitatif


Dalam penelitian kualitatif ini, peneliti menggunakan studi kasus sebagai
tipe penelitian dalam pendekatan kualitatif. Studi kasus adalah penelitian pada
suatu fenomena khusus yang hadir dalam suatu konteks yang terbatasi (bounded
context), meskipun batas-batas antara fenomena dan konteks tidak jelas
sepenuhnya. Dengan menggunakan studi kasus, peneliti bisa mendapatkan
pemahaman yang utuh dan terintegrasi tentang hubungan antar berbagai macam
fakta dan dimensi dari kasus yang ada (Poerwandari, 2001)

III. 2. Subyek penelitian


III.2.1.Karakteristik Subyek Penelitian
Sesuai dengan permasalahan yang diajukan dan tujuan penelitian
penelitian ini, maka karakteristik subyek penelitian adalah mahasiswa asing

22
yang berasal dari negara di luar Indonesia dan sedang berkuliah di Universitas
Indonesia.

III.2.2.Teknik Pemilihan Subyek


Teknik pemilihan subyek yang digunakan adalah teknik non-probability
sampling. Teknik non-probability sampling memiliki beberapa tipe, dan yang
digunakan dalam penelitian ini adalah tipe snowball sampling (Kumar, 1999).
Snowball sampling adalah proses pemilihan sampel dengan menggunakan
jaringan (network). Beberapa indinvidu dalam sebuah kelompok dipilih dan
informasi yang dibutuhkan diperoleh dari mereka. Kemudian beberapa individu
tersebut akan diminta untuk mengidentifikasi atau merekomendasikan individu
lain dari sebuah kelompok dan memilih individu tersebut menjadi bagian dari
sampel. Pengambilan data dilakukan pada mereka, selanjutnya mereka akan
diminta kembali untuk mengidentifikasi dan merekomendasikan orang lain atau
teman mereka yang kira-kira dapat menjadi bagian dari sampel. Proses ini
berlanjut terus hingga data yang terkumpul sesuai dengan jumlah yang diinginkan
peneliti.

III. 2.3.Jumlah Subyek


Dalam penelitian dengan pendekatan kualitatif, tidak ada batas yang pasti
dalam hal jumlah subyek. Dalam pendekatan kualitatif yang penting adalah
seberapa mampunya seorang subyek memberikan informasi yang berguna dalam
penelitian (Taylor dan Bogdan, 1998). Namun, penelitian ini sebelumnya telah
dibatasi dalam hal jumlah subyek yang mana jumlah subyek disesuaikan dengan
jumlah anggota peneliti.

III.3. Metode Pengumpulan Data


Menurut Patton (1990, dalam Poerwandari, 2001), ada tiga cara yang bisa
digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian kualitatif, yaitu (1)
wawancara mendalam dan terbuka, (2) observasi langsung, dan (3) penelitian
dokumen-dokumen tertulis. Pada penelitian ini, metode yang digunakan adalah
wawancara mendalam.

23
Patton (1990, dalam Poerwandari, 2001), mengajukan tiga macam
pendekatan dasar dalam metode wawancara, yaitu:
1. Wawancara informal. Wawancara informal secara keseluruhan
berdasarkan perkembangan pertanyaan-pertanyaan secara spontan dalam
interaksi alamiahh antara subyek dengan peneliti.
2. Wawancara dengan pedoman umum. Peneliti dilengkapi dengan pedoman
wawancara yang sangat umum, dengan mencantumkan topik yang ingin
diteliti. Pedoman wawancara ini memeudahkan peneliti untuk
mengingatkan aspek-aspek apa saja yang harus ditanyakan, juga bisa
digunakan sebagai check list untuk memeriksa kembali apakah pertanyaan
tersebut relevan atau tidak dan tidak ada yang terlewati.
3. Wawancara dengan pedoman terstandar yang terbuka. Pedoman waancara
ditulis dengan rinci dan lengkap, disertai dengan sejumlah pertanyaan dan
penjabarannya dalam kalimat. Dalam metode ini peneliti menanyakan hal
yang sama pada subyek yang berbeda, dimana keluwesan dalam
mendalami jawaban menjadi terbatas.
Pada penelitian ini, pendekatan yang digunakan adalah wawancara dengan
pedoman terstandar yang terbuka. Dalam proses wawancara ini, peneliti akan
dilengkapi dengan pedoman wawancara. Pedoman wawancara berisi sejumlah
pertanyaan dan penjabarannya dalam kalimat dengan rinci dan lengkap.

III.3.1.Alat Bantu Penelitian


Beberapa alat bantu juga digunakan untuk memudahkan pengumpulan
data dalam penelitian kualitatif, selain peneliti sebagai instrumen utama dari
penelitian. Dalam penelitian ini, alat bantu yang digunakan adalah pedoman
wawancara dan alat perekam (tape recorder).
Pedoman wawancara berisi daftar pertanyaan berdasarkan topik penelitian
yang diajukan selama wawancara, yaitu tentang cara penyesuaian diri subyek,
keterampilan berkomunikasi subyek, dan masalah-masalah atau kesulitan apa saja
yang dialami subyek. Pedoman wawancara tersebut disusun berdasarkan teori-
teori yang sudah dijabarkan pada bab dua.

24
Alat perekam (tape recorder) digunakan agar peneliti dapat membuat
transkrip wawancara dari hasil wawancara. Poerwandari (2001) juga mengatakan
bahwa wawancara perlu direkam dan dibuat transkripnya secara verbatim (kata
per kata) agar dapat memudahkan peneliti dalam melakukan analisis dan
interpretasi data. Selain itu, dengan menggunakan alat perekam, peneliti bisa
mendapatkan informasi yang lebih banyak dibandingkan hanya mengandalkan
memori dan catatan tulisan tangan. Sebelum menggunakan alat perekam, peneliti
harus memberitahu dan meminta izin subyek yang bersangkutan.

III. 4. Prosedur Penelitian


III.4.1.Tahap Persiapan
Peneliti memulai dengan menyiapkan pedoman wawancara yang akan
digunakan saat pengumpulan data. Pertanyaan-pertanyaan yang dibuat didasarkan
pada teori yang sudah dibahas dalam bab dua yaitu teori mengenai penyesuaian
diri. Pada saat pembuatan pedoman wawancara, peneliti meminta bantuan dari
dosen yang mengajar untuk menilai dan mengevaluasi pertanyaan yang telah
dibuat peneliti yang akan digunakan saat wawancara nanti. Setelah menyusun
pedoman wawancara, peneliti akan melakukan uji coba (pilot study) pada dua
orang mahasiswa asing. Uji coba dilakukan untuk menguji kesesuaian maksud
pertanyaan yang diajukan dengan maksud yang ditangkap oleh subyek. Selain itu
juga, untuk melihat apakah subyek sudah cukup mengerti dan memahami maksud
setiap pertanyaan. Dari dua orang subyek uji coba, peneliti akan meminta
rekomendasi beberapa orang yang bersedia menjadi calon subyek yang nantinya
akan diwawancara.

III.4.2.Tahap Pelaksanaan
Saat mencari subyek, peneliti cukup kesulitan menemukan calon subyek
yang bersedia dan memiliki waktu yang sesuai dengan waktu yang dimiliki oleh
peneliti. Peneliti mencoba untuk meminta bantuan pada teman-teman peneliti
yang berkuliah di fakultas ilmu budaya (FIB) Universitas Indonesia. Karena
peneliti tahu bahwa mahasiswa asing yang berkuliah di UI sebagian besar
mengambil kuliah di beberapa jurusan atau program studi di FIB, khususnya

25
jurusan sastra. Selain itu, beberapa calon subyek juga diperoleh dari rekomendasi
subyek uji coba.
Setelah menghubungi para calon subyek dan meminta ketersediaanya
untuk diwawancarai, peneliti kemudian membuat janji untuk melakukan
wawancara. Peneliti menyerahkan sepenuhnya pada subyek untuk menentukan
waktu dan tempat melakukan wawancara. Sebelum melakukan wawancara
dimulai, peneliti memperkenalkan diri dan menjelaskan kepada subyek tentang
maksud dan tujuan dari wawancara yang akan dilakukan. Peneliti juga meminta
keediaan setiap subyek untuk merekam wawancara dengan alat perekam (tape
recorder). Selama wawancara, peneliti mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang
ada dalam pedoman wawancara kepada setiap subyek. Setelah semua pertanyaan
selesai, peneliti mengucapkan terima kasih dan menyerahkan bingkisan terima
kasih (reward) kepada subyek.
Berikut ini keterangan mengenai wawancara yang dilakukan dengan
masing-masing subyek:
1. Wawancara pertama dilakukan dengan subyek S pada tanggal 29
November 2010 di margonda residence, tempat tinggal subyek saat ini.
Wawancara dilakukan pada malam hari yang dimulai pukul 19.30 WIB.
2. Wawancara kedua dilakukan dengan subyek A pada tanggal 30 November
2010 di kos-kosan subyek. Wawancara dilakukan pada malam hari yang
dimulai pukul 19.00 WIB.
3. Wawancara ketiga dilakukan dengan subyek M pada tanggal 2 Desember
2010 di kos-kosan salah seorang teman subyek (subyek S). Wawancara
dilakukan pada sore hari yang dimulai pukul 15.30 WIB.
4. Wawancara keempat dilaksanakan pada tanggal 2 Desember 2010 dengan
subyek Y di kos-kosan salah seorang teman subyek (subyek S).
Wawancara dilakukan pada sore hari yang dimulai pukul 16.30 WIB.
5. Wawancara kelima dilaksanakan pada tanggal 7 Desember 2010 dengan
subyek JS di taman FIB UI. Wawancara dilakukan pada siang hari yang
dimulai pukul 12.15 WIB.
6. Wawancara keenam dilakukan dengan subyek MK di kos-kosan salah
seorang teman subyek (subyek S) pada tanggal 13 desember 2010.

26
Wawancara dilakukan pada malam hari yang dimulai pukul 19.00 WIB
sepulangnya subyek dari kegiatana UKM-nya.
Secara umum, wawancara dengan masing-masing subyek berlangsung
dengan lancar dan hanya bermasalah sedikit dengan ketersediaan dan
kesesuaian waktu subyek dengan peneliti. Semua subyek juga cukup ramah
dan terbuka kepada peneliti. Suasana dan tempat dilakukannya wawancara
juga cukup nyaman. Kemudian, setelah peneliti melakukan wawancara, hasil
wawancara dipindahkan dari bentuk rekaman suara menjadi bentuk verbatim
tertulis. Setelah itu peneliti melakukan koding pada hasil verbatim tetrulis,
guna memudahkan penelitit dalam melakukan analisa dan interpretasi data,
baik itu analisis intra maupun analisis inter, sesuai dengan proosedur
penelitian.

III.5. Prosedur Analisis Data


Bentuk data penelitian kualitatif tidak berupa angka, tetapi lebih banyak
berupa narasi, deskripsi, cerita, dokumen tertulis (gambar atau foto), ataupun
bentuk-bentuk bukan angka lainnya (Poerwandari, 2001). Pada penelitian ini, data
yang diperoleh adalah data berupa deskripsi yang diperoleh dari hasil wawancara.
Penelitian kualtitaif tidak memiliki aturan baku mengenai analisis, tidak seperti
penelitian kuantitatif yang memiliki teknik analisis yang jelas dan baku. Jorgensen
(dalam Poerwandari, 2001) mengatakan bahwa dalam analisis data kualitatif,
peneliti memecah atau membagi-bagi data-data ke dalam bagian-bagian yang
nantinya diorganisir agar dapat menemukan pola-pola di antaranya.

III.5.1.Jenis-jenis Analisis
Huberman dan Miles (1994, dalam Hapsari, 2005) mengatakan bahwa ada
dua jenis analisis yang bisa dilakukan dalam penelitian kualitatif, yaitu analisis
intra kasus (withhin case) dan analisis antar kasus (cross case). Dalam analisis
intra kasus, peneliti ingin melihat bagaimana subyek memberikan makna pada
kasus yang dialaminya. Dalam analisis intra kasus, peneliti akan menganalisis apa
yang terjadi, mengapa hal tersebut terjadi, dan bagaimana hal tersebut terjadi.

27
Tidak hanya analisis intra kasus, tetapi analisis antar kasus juga dilakukan agar
peneliti bisa mengetahui proses umum yang terjadi dalam setiap kasus.

III.5.2.Langkah-langkah Analisis
Dari hasil wawancara akan diperoleh data-data yang berbeda dari setiap
subyek. Data-data ini harus dianalisis agar fenomena yang diteliti dapat
memberikan pemahaman dan informasi yang lebih dalam lagi. Langkah-langkah
analisis yang dapat dilakukan adalah:
1. Organisasi data
Sesungguhnya pengolahan dan analisis data dimulai dengan
mengorganisasikan data. Data berupa hasil wawancara yang telah
diperoleh oleh peneliti harus disusun secara sistematis dan rapi, agar tidak
ada data yang hilang dan untuk memudahkan proses analisis. Highlen dan
Finley (1996, dalam Poerwandari, 2001) mengatakan bahwa organisasi
data yang sistematis memungkinkan peneliti untuk (a) memperoleh
kualitas data yang baik; (b) mendokumentasikan analisis yang dilakukan.
Serta (c) menyimpan data dan analisis yang berkaitan dalam penyelesaian
penelitian.
2. Koding
Melakukan koding bertujuan supaya peneliti dapat mengorganisasikan dan
membuat data yang sistematis secara lengkap dan detail sehingga dapat
memunculkan fenomena yang dipelajari. Semua peneliti kualitatif
menganggap tahap koding sebagai tahap yang penting, meskipun tidak
dipungkiri bahwa peneliti yang satu dengan peneliti lain memberikan
usulan prosedur yang tidak sepenuhnya sama. Beberapa langkah yang
dapat dilakukan peneliti ketika melakukan koding adalah : (a) peneliti
menyusun transkrip verbatim (kata demi kata) wawancara sedemikian
rupa, agar lebih mudah memberi kode atau catatan tertentu, (b) secara urut
dan kontinyu melakukan penomoran pada baris-baris transkrip, serta (c)
peneliti memebrikan nama untuk masing-masing berkas dengan kode
tertentu (Poerwandari, 2001).

28
III.5.3.Interpretasi
Setelah melakukan analisis, selanjutnya peneliti melakukan interpretasi
data. Kvale (1996, dalam Poerwandari, 2001) mengatakan bahwa interpretasi
mengacu pada usaha memahami data secara lebih ekstensif dan mendalam.
Peneliti memiliki perpesktif mengenai apa yang sedang diteliti dan
menginterpretasi data melalui perspektifnya tersebut. Peneliti beranjak melampaui
apa yang sudah dikatakan langsung oleh subyek. Hal ini diperlukan untuk
mengembangkan struktur-struktur dan hubungan-hubungan yang bermakna, yang
tidak segera tertampilkan dalam teks (data mentah dan transkripsi wawancara).
Dalam proses interpretasi juga diperlukan distansi (upaya mengambil jarak) dari
data melalui langkah metodis dan teoritis yang jelas, serta memasukkan data ke
dalam konteks konseptual yang khusus.

29
BAB IV
ANALISIS DAN INTERPRETASI

IV.1. Gambaran Umum


1. Gambaran Umum Subyek 1

KS merupakan warga negara Korea yang kuliah di fakultas Ilmu Budaya


dengan jurusan sastra Inggris. Tinggal di Indonesia sejak subjek berumur dua
puluh tahun yang tinggal di Indonesia selama delapan tahun di Indonesia.
Sekarang S sudah berumur sekitar 28 tahun dan bekerja sebagai Manager di
sebuah perusahaan Korea. Pengalaman tinggal di Indonesia adalah
pengalaman pertama S berpisah jauh dari keluarga. S pindah ke Indonesia
setelah ia gagal melanjutkan kegiatan perkuliahannnya di jurusan ekonomi
Universitas Seoul. Dan Shane datang ke Indonesia setelah ia melaksanakan
wajib militer di negaranya. Namun, Shane mengaku alasan pertama kali ia ke
Indonesia hanya sekedar untuk bermain-main saja dan memilih Indonesia
karena merasa sayang sekali telah belajar bahasa Indonesia sebelumnya
namun tidak tinggal di negaranya.

2. Gambaran Umum Subjek 2

AT adalah seorang mahasiswa asing dari Jepang yang sudah menetap


selama sepuluh bulan di Indonesia. Datang ke Indonesia ketika AT berumur
20 tahun. AT menjadi mahasiswa BIPA selama lima bulan kemudian
melanjutkan kuliah di jurusan sastra Indonesia. Ketika pertama kali di
Indonesia, Ai memilih untuk tinggal di tempat kos-kosan anak-anak Indonesia
yang berkuliah di Universitas Indonesia. Hal ini dilakukannya agar dia bisa
belajar bahasa Indonesia dengan baik.

3. Gambaran Umum Subjek 3

4. Gambaran Umum Subjek 4

Subyek wawancara berinisial Y, perempuan berusia dua puluh dua tahun


dan berkebangsaan Jepang. Hingga saat ini subyek sudah tujuh bulan berada

30
di Indonesia. Saat ini subyek tinggal di sebuah kos-kosan di dekat Detos
(Depok Town Square). Subyek sedang kuliah di Universitas Indonesia
mengambil jurusan sastra Indonesia yang sebelumnya subyek kuliah terlebih
dahulu pada program BIPA. Sebelumnya subyek juga mengambil jurusan
bahasa Indonesia di Jepang selama tiga tahun.

5. Gambaran Umum Subjek 5

Pada saat wawancara diketahui bahwa subjek berasal dari Korea Selatan
dan telah tinggal di Indonesia selama hampir 1, 5 tahun lebih. Alasan
kepindahannya dari Korea adalah karena ayahnya pindah kerja ke Jakarta. Hal
itu lah yang mendorong ia dan keluarganya pindah ke Jakarta sehingga ia dan
kakak-adiknya melanjutkan pendidiknanya di Indonesia. Pada saat di Korea,
subjek telah menempuh pendidikan formal hingga tingkat SMA sehingga
subjek saat tinggal di Indonesia langsung melanjutkan ke jenjang perguruan
tinggi. Namun, sebelum melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi subjek
mengambil program BIPA (Bahasa Indonesia Pengantar Asing) selama satu
tahun. Program BIPA adalah suatu program yang dikhususkan untuk orang
asing yang ingin mempelajari bahasa Indonesia. Setelah mengikuti program
BIPA selama satu tahun subjek meneruskan kuliah ke jurusan sastra Inggris di
Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB).

6. Gambaran Umum Subjek 6

MK adalah mahasiswi jurusan HI di universitas Khyusu, Jepang. MK


berumur 20 tahun dan sudah kuliah tingkat tiga di Jepang. Saat ini, subjek
sudah tinggal dan studi selama 8 bulan di Indonesia dan dalam waktu dekat
akan kembali ke Jepang untuk melanjutkan studi di Universitas Khyusu.
Subjek datang ke Indonesia dalam rangka pertukaran pelajar di Indonesia. Di
Indonesia MK tinggal di kos-kosan kober bersama temannya yang berasal dari
Jepang juga.

IV.2. Analisis Intra Subyek

31
IV.3. Analisis Antar Subyek
Berdasarkan hasil wawancara, Subyek 1, 2, 6 sudah dapat dikatakan lancar
dalam berkomunikasi dalam bahasa Indonesia, sedangkan subyek 3, 4, 5 masih
memiliki kesulitan dalam berkomunikasi dalam bahasa Indonesia. Tiga dari enam
subyek merasa kesulitan dalam masalah bahasa diantaranya kesulitan dalam
bahasa percakapan sehari-hari, bahasa gaul maupun masalah tata bahasa. Menurut
Hammer (1992) masalah kesulitan bahasa ini biasa terjadi pada mahasiswa asing
yaitu pelajar yang menempuh pendidikan di luar negeri menghadapi berbagai
masalah, beberapa di antaranya adalah prestasi akademik, bahasa, tempat tinggal,
masalah ekonomi, dan ketidakmampuan mereka untuk diterima secara sosial,
kesehatan dan rekreasi, dan prasangka ras. Adapun beberapa subyek yang tidak
mengalami kesulitan dalam berkomunikasi hal ini disebabkan latar belakang dari
mereka yang sudah mendapat pelajaran bahasa Indonesia di negara asalnya.
Menurut Zimmermann (1995) permasalahan penyesuaian sosial dan
budaya disebabkan oleh faktor komunikasi. Seseorang yang memiliki
keterampilan berkomunikasi yang cukup baik akan mengalami penyesuaian sosial
dan budaya yang baik, sedangkan seseorang yang memiliki keterampilan
berkomunikasi yang buruk maka akan mengalami permasalahan pada penyesuaian
sosial dan budaya. Hal ini mungkin disebabkan oleh banyak atau sedikitnya
informasi yang diperoleh seseorang ketika mereka berkomunikasi mengenai suatu
budaya sehingga mempengaruhi proses penyesuaian dirinya terhadap budaya
tersebut. Jika dilihat dari hasil wawancara dari beberapa subyek, terdapat tiga
subyek yang mengalami kesulitan berbahasa dan berkomunikasi tetapi mereka
sudah dapat menyesuaikan diri dengan kehidupan sosial dan budaya di Indonesia.
Hal ini membuktikan bahwa komunikasi bukan satu-satunya faktor yang
mempengaruhi penyesuaian seseorang terhadap sosial dan budaya. Menurut
Zimmermann (1995) komunikasi sebagai kunci utama proses adaptasi, tapi ia juga
menyadari bahwa siswa internasional sering kali kekurangan kesempatan untuk
berkomunikasi dengan siswa lokal, akademisi, atau bahkan siswa internasional
lain dari berbagai negara dan budaya dan juga besar atau tidaknya jarak antara
budaya asli dan tuan rumah.

32
Berdasarkan hal diatas, maka yang terjadi dari ketiga subyek (subyek
3,4,5) adalah walaupun mereka memiliki keterampilan berkomunikasi yang
kurang lancar namun mereka mempunyai banyak kesempatan untuk
berkomunikasi dengan siswa lokal. Hal ini terbukti dari subyek 3,4 dan 5
memiliki banyak teman yang dimiliki oleh yang berasal dari Indonesia sehingga
hal ini mempermudah proses penyesuaian diri subyek terhadap budaya di
Indonesia. Tidak hanya itu pandangan mengenai sedikitnya jarak perbedaaan
antara budaya asli dan budaya tuan rumah juga mempengaruhi proses penyesuaian
diri terhadap budaya baru. Hal ini dialami oleh subyek subyek 2 dan 3 yang
menganggap budaya Jepang memiliki kesamaan dengan budaya Indonesia.
Dengan kata lain, jarak perbedaan antar budaya tidak begitu jauh sehingga
mempermudah proses penyesuaian diri subyek terhadap budaya. Hal baru yang
ditemukan di dalam wawancara adalah bahwa keinginan yang berasal dari diri
untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan budaya baru juga mempengaruhi
penyesuaian diri mereka. Hal ini terbukti dari keenam subyek, semuanya merasa
perlu merubah diri mereka dengan lingkungan baru sehingga hal ini
mempermudah proses penyesuaian diri.
Sementara itu, jika hal ini dilihat dari teori yang dikemukakan oleh Yusoff
dan Chelliah (2010) di dalam penelitiannya dimana dia menemukan faktor-faktor
yang mempengaruhi penyesuaian diri seseorang, khususnya mahasiswa asing,
yaitu faktor umur, status pernikahan, gender, Length of residence, kemampuan
berbahasa Inggris, dukungan sosial, dan kepribadian.
Dari beberapa faktor di atas, yang muncul dari hasil wawancara kelompok
adalah faktor umur, length of residence, dukungan sosial dan faktor kepribadian.
Berikut penjelasannya :
1. Faktor Umur
Berdasarkan hasil wawancara, rata-rata subyek berumur 19-20 ketika
pertama datang ke Indonesia. Menurut Tomich (2003) Semakin muda
usia siswa internasional, semakin mudah dan cepat proses penyesuaian
mereka dalam negara
2. Faktor length of residence

33
Berdasarkan hasil wawancara, subyek 2, 3, 4 tinggal di Indonesia
kurang dari 1 tahun, sedangkan subyek 1,5 dan 6 tinggal di Indonesia
lebih dari 1 tahun. Subyek Semakin lama individu bertempat tinggal di
negara asing, semakin baik kemampuan penyesuaian mereka terhadap
lingkungan baru (Ward dan Kennedy 1992).
3. Faktor dukungan sosial
Salah satu faktor yang dapat meningkatkan penyesuaian adalah
dukungan sosial, yang dapat memberikan kesempatan bagi siswa
internasional untuk mengembangkan pemahaman tentang budaya
baru. Dukungan sosial dapat berupa penerimaan yang positif dan
komunikasi yang intens dengan teman-teman di lingkungan baru. Hal
ini terlihat dari kebanyakan subyek memiliki banyak teman-teman
dari Indonesia. Bentuk dukungan sosial ini bisa terlihat dari hasil
wawancara yaitu adanya persepsi positif subyek terhadap karakter
orang-orang Indonesia. Dari ke enam subyek dapat disimpulkan
bahwa orang Indonesia memiliki karakteristik sebagai berikut orang
Indonesia mudah akrab, baik, ramah, orang Indonesia mau berbicara
dengan orang lain yang tidak dikenal. Menurut Schneiders (1964),
salah satu faktor yang mempengaruhi penyesuaian diri adalah
keadaan lingkungan dimana keadaan lingkungan yang baik, damai,
tentram, aman, penuh penerimaan dan pengertian, serta mampu
memberikan perlindungan kepada anggota-anggotanya merupakan
lingkungan yang akan memperlancar proses penyesuaian diri.
Sebaliknya apabila individu tinggal di lingkungan yang tidak tentram,
tidak damai, dan tidak aman, maka individu tersebut akan mengalami
gangguan dalam melakukan proses penyesuaian diri.
4. Faktor kepribadian
Berdasarkan hasil wawancara ditemukan bahwa subyek memiliki
kepribadian yang beragam. Dimana subyek 1 dan 2 adalah orang yang
mandiri dan suka menciptakan suasana baik dan mudah akrab dengan
orang lain. Subyek 2 adalah orang yang pemalu dan manja,subyek 3
adalah orang yang lucu, ramah dan mudah bergaul. Subyek 4 adalah

34
orang yang berjiwa pemimpin dan bisa diandalkan, sedangkan subyek
5 lebih introvert. Meskipun mereka semua memiliki kepribadian yang
beragam, namun mereka sudah dapat berbaur dengan lingkungan
sekitarnya. Dari hasil wawancara menunjukkan bahwa faktor
kepribadian tidak begitu berpengaruh dalam proses penyesuaian diri.
Hal ini dikarenakan faktor yang lebih berperan dalam proses
penyesuaian diri adalah yang berasal dari luar diri individu yaitu dari
lingkungan sosial.
Menurut Cushner dan Karim (2004), pada siswa lintas-budaya, culture
shock mengarah keketerkejutan bahasa, peran, dan pendidikan. Subyek 6 yang
kini sudah dapat dikatakan lancar berkomunikasi dalam bahasa Indonesia
mengaku sempat dikagetkan dengan penggunaan bahasa Indonesia yang cukup
berbeda dengan apa yang dirinya pelajari selama 2 tahun di Jepang. Subyek 2
yang sudah melalui studi bahasa Indonesia selama 3 tahu di Jepang, juga
merasakan kesulitan penggunaan bahasa Indonesia untuk keperluan kesehari-
harian. Bahasa Indonesia yang diajarkan di kampus hanya sebatas bahasa formal
saja. Subyek 1 kami pada awalnya merasa iri pada orang Indonesia karena sudah
bisa berbahasa Indonesia dengan lancar, sedangkan dirinya belum bisa. Lalu
karena tekadnya untuk menjadi orang Indonesia, Shane terus berusaha belajar.
Untuk subyek 3,4, dan 5 hingga kini mereka masih merasakan kesulitan dalam
penggunaan bahasa Indonesia. Keterkejutan lainnya adalah keterkejutan peran,
dimana mereka berstatus menjadi warga negara asing di negara Indonesia. Jenis
interaksi sosial pada masyarakat Indonesia membuat subyek 6 bingung, misalnya
saja sikap kebanyakan orang Indonesia yang ramah terhadap warga asing
membuat subyek sulit membedakan antara orang yang berniat baik atau berniat
buruk kepadanya. Selanjutnya, perbedaan sistem pendidikan pada tatanan tata
tertib kelas juga sempat membuat ketidaknyamanan pada subyek kami yang
berasal dari Jepang. Ketidaktepatan waktu datang dosen, waktu pulang kuliah
yang dipercepat, kebiasaan mahasiswa dan bahkan dosen makan dan minum di
kelas, juga aturan larangan penggunaan bahasa asing di dalam kelas, membuat
para subyek asal Jepang merasa melakukan usaha keras untuk terbiasa dengan
hal-hal tersebut. Sedangkan subyek 1, yang berasal dari Korea lebih

35
menitikberatkan ketidaknyamanannya pada sistem akademik di FIB UI yang
dinilai kurang rapih.
Hal lain yang baru yang ditemukan dari hasil wawancara yang dilakukan
kepada 4 mahasiswa asal Jepang dan 2 mahasiswa asal Korea, dapat terlihat
secara umum mahasiswa Jepang dan Korea memiliki pola adaptasi yang unik dan
berbeda. Mahasiswa Jepang dapat dikatakan lebih membaurkan dirinya terhadap
lingkungan dan kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan kebanyakan masyarakat
Indonesia. Seperti pilihan tempat tinggal dan pilihan transportasi yang dipakai.
Mahasiswa Korea yang kuliah di UI kebanyakan tinggal di apartemen, sedangkan
mahasiswa Jepang lebih banyak yang tinggal di kos-kosan. Subyek yang berasal
dari Jepang mengungkapkan bahwa dengan tinggal di kos-kosan, mereka akan
lebih cepat mempelajari dan memahami budaya dan bahasa Indonesia. Sedangkan
kebanyakan mahasiswa Korea memanggil guru private untuk mengajari mereka
bahasa dan budaya Indonesia lebih mendalam. Selanjutnya, banyak mahasiswa
Korea yang pergi dan pulang kuliah menggunakan taxi, bukan angkot. Menurut
subyek yang berasal dari Jepang, mahasiswa dari negara maju seperti Korea dan
Jepang akan menganggap angkot sebagai alat transportasi yang terlalu kotor.
Walaupun begitu, semua subyek kami yang berasal dari Jepang mencoba untuk
terbiasa dengan hal tersebut.
Fumham dan Bochner (1986) dan Huntley (1993) menjelaskan bahwa
gejala culture shock dapat berupa rasa kehilangan, kebingungan, kecemasan,
depresi, perasaan stres, dan seterusnya. Pada keenam subyek yang kami
wawancarai,, mereka mengaku bahwa tidak merasakan kerinduan dan kehilangan
yang mendalam terhadap negara asal mereka. Hal ini terjadi karena faktor
komunikasi yang masih terjaga dengan keluarga dan teman-teman di negara asal
baik itu menggunakan telepon maupun internet. Namun ditemukan juga pada
situasi-situasi tertentu seperti pada saat sakit, pada saat makan di restoring
Jepang, dan pada saat teman-teman Asing yang lain pulang ke negara asal
membuat subyek 1, 2 dan 4 merindukan negara dan keluarganya. Namun, culture
shock telah dianggap sebagai reaksi yang normal, sebagai bagian dari proses rutin
adaptasi terhadap stres budaya (Furnham & Bochner, 1986).

36
37
BAB V
KESIMPULAN, DISKUISI, SARAN

V.1. Kesimpulan
Berdasarkan analisis intersubyek pada permasalahan ini, maka dapat
diperoleh beberapa hal-hal penting yaitu:
1. Masalah kesulitan bahasa ini biasa terjadi pada mahasiswa asing.
Berdasarkan hasil wawancara, beberapa subyek masih kesulitan dalam
melakukan komunikasi dengan menggunakan bahasa Indonesia yaitu
subyek 3, 4, dan 5. Sementara itu, subyek 1, 2, dan 6 sudah dapat
dikatakan lancar dalam berkomunikasi dengan menggunakan bahasa
Indonesia. Hal ini mungkin disebabkan oleh Subyek 3,4,5 sudah memiliki
sedikit kemampuan dasar berbahasa Indonesia sebelum subyek tinggal di
Indonesia. Namun, hal ini dialami berbeda oleh subyek 4 dimana subyek
sudah mendapatkan pelajaran bahasa Indonesia di Jepang selama 3 tetapi
masih mengalami kesulitan dalam melakukan percakapan sehari-hari. Hal
ini terjadi karena di Jepang subyek 4 hanya mendapatkan pelajaran bahasa
Indonesia secara teori.
2. Permasalahan penyesuaian sosial dan budaya tidak hanya disebabkan oleh
faktor komunikasi saja melainkan banyak faktor yang mempengaruhi
diantaranya adalah adanya kesempatan untuk berkomunikasi dengan siswa
lokal dan besar atau kecilnya jarak antara budaya asli dan tuan rumah. Hal
ini terlihat dari keenam subyek pada penelitian ini dapat melakukan
penyesuaian sosial budaya dengan baik.
3. Merujuk pada hasil penelitian Yusoff dan Chelliah (2010) dan hasil
wawancara kelompok, ditemukan faktor-faktor yang mempengaruhi
penyesuaian diri seseorang, khususnya mahasiswa asing yaitu:
a. Faktor umur,
b. Faktor length of residence
c. Faktor dukungan sosial
d. Faktor kepribadian.

38
V. 2. Diskusi
Peneliti menemukan beberapa persamaan dan perbedaan data dari masing-
masing subyek, setelah melakukan wawancara, kemudian dilanjutkan dengan
analisis dan interpretasi data. Perbedaan yang terjadi mungkin dikarenakan
perbedaan keterampilan masing-masing peneliti dalam melakukan wawancara,
sehingga terdapat data yang memiliki informasi yang cukup banyak dan data yang
memiliki informasi yang kurang tergali. Kekurangan dalam penelitian ini tidak
luput dari kesalahan peneliti. Peneliti merasa kurang dalam melakukan probing,
sehingga beberapa data tidak tergali lebih dalam. Dalam melakukan wawancara
dengan subyek, peneliti merasa kurang persiapan dalam peralatan. Dari enam
subyek yang diwawancara, rekaman dua orang subyek mengalami kesalahan
teknis. Hal ini disebabkan karena kelalaian subyek yang tidak mengecek kembali
alat perekam yang digunakan, sehingga membuat peneliti kehilangan sebagian
data rekaman. Akan tetapi masalah ini dapat diatasi karena setiap mewawancara
subyek masing-masing peneliti ditemani oleh satu atau dua orang rekan peneliti
lainnya, sehingga catatan masing-masing rekan peneliti dapat melengkapi bagian
rekaman yang hilang.
Selain itu, juga peneliti mengalami kesulitan dalam mendapatkan subyek.
Peneliti sulit untuk menyesuaikan waktu dengan subyek karena kesibukan peneliti
dengan mata kuliah lainnya dan kesibukan para subyek. Para subyek yang
berstatus mahasiswa asing juga tidak dapat diganggu atau tidak bersedia
melakukan wawancara di hari libur, sehingga menyulitkan peneliti dalam
mengatur waktu di hari kuliah. Akibatnya, keterlambatan peneliti dalam
melengkapi jumlah subyek menghambat kerja peneliti untuk melakukan analisis.
Di samping masalah teknis dan waktu, peneliti juga merasa kekurangan
dalam menyiapkan panduan wawancara. Hampir seluruh subyek sulit memahami
atau mengerti maksud pertanyaan peneliti. Hal ini mungkin disebabkan karena
keterbatasan kosakata bahasa Indonesia yang dimiliki subyek atau perbendaharaan
katanya yang tidak familiar dengan subyek. Bahkan salah seorang subyek
terpaksa menggunakan kamus bahasa Indonesia-Korea untuk memahami maksud
pertanyaan yang diajukan oleh peneliti. Karena subyek cukup kesulitan untuk
memahami maksud dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan, peneliti terpaksa

39
memberikan pertanyaan yang mengarahkan (leading) agar subyek dapat mengerti.
Masalah ini tentunya juga disebabkan oleh kekurangan peneliti dalam memilih
perbendaharaan kata dalam setiap kalimat pertanyaan. Seharusnya peneliti
meninjau terlebih dahulu kosakata yang familiar atau yang biasa digunakan oleh
mahasiswa asing pada umumnya agar pertanyaan yang diajukan dapat dipahami
dengan baik oleh subyek.
Dari hasil wawancara dengan masing-masing subyek, peneliti merasa data
atau informasi yang diperoleh belum cukup banyak. Hal ini mungkin dikarenakan
pertanyaan-pertanyaan yang diajukan belum dapat menggali informasi lebih
dalam dari subyek, ditambah subyek yang tidak mengerti maksud dari pertanyaan-
pertanyaan tersebut. Peneliti merasa perlu untuk mengevaluasi kembali
pertanyaan-pertanyaan yang terdapat dalam pedoman wawancara.

Secara keseluruhan penelitian yang telah dilakukan oleh penelitian


memiliki kesesuian dengan beberapa teori yang dikemukakan dalam makalah ini.
Namun, beberapa hal baru yang ditemukan dari hasil wawancara antara subyek
Jepang dan subyek Korea. Jepang dan Korea memiliki pola adaptasi yang unik
dan berbeda. Mahasiswa Jepang dapat dikatakan lebih membaurkan dirinya
terhadap lingkungan dan kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan kebanyakan
masyarakat Indonesia. Seperti pilihan tempat tinggal dan pilihan transportasi yang
dipakai. Mahasiswa Korea yang kuliah di UI kebanyakan tinggal di apartemen,
sedangkan mahasiswa Jepang lebih banyak yang tinggal di kos-kosan. Subyek
yang berasal dari Jepang mengungkapkan bahwa dengan tinggal di kos-kosan,
mereka akan lebih cepat mempelajari dan memahami budaya dan bahasa
Indonesia. Sedangkan kebanyakan mahasiswa Korea memanggil guru private
untuk mengajari mereka bahasa dan budaya Indonesia lebih mendalam.
Selanjutnya, banyak mahasiswa Korea yang pergi dan pulang kuliah
menggunakan taxi, bukan angkot. Menurut subyek yang berasal dari Jepang,
mahasiswa dari negara maju seperti Korea dan Jepang akan menganggap angkot
sebagai alat transportasi yang terlalu kotor. Walaupun begitu, semua subyek kami
yang berasal dari Jepang mencoba untuk terbiasa dengan hal tersebut.

40
Selain itu, terdapat beberapa kasus unik yang muncul pada subyek 3 dan 5.
Pada subyek 3 kemampuan beradaptasi dari subyek sudah cukup baik padahal jika
dilihat dari kemampuan bahasa dari subyek dapat dikatakan subyek 3 belum
lancar dalam berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Indonesia. Apalagi
subyek 3 tidak memiliki kemampuan dasar berbahasa Indonesia sebelumnya dan
subyek kuliah di Jepang dengan menggunakan bahasa Jepang sebagai bahasa
pengantar. Jika dilihat dari hal ini, seharusnya subyek mengalami penyesuaian diri
yang buruk karena menurut Zimmermann (1995) komunikasi sebagai kunci utama
proses adaptasi. Tetapi, karena keinginan diri yang kuat, persepsi diri yang positif
terhadap perubahan serta penerimaan dari lingkungan sosial yang positif sehingga
subyek 3 tidak mengalami kesulitan dalam hal beradaptasi di lingkungan baru.
Hal ini juga terjadi pada subyek 5 dimana subyek tidak memiliki kemampuan
dasar berbahasa Indonesia dan pengetahuan awal mengenai budaya Indonesia
karena tidak pernah mengetahui dan belajar sebelumnya. Ditambah lagi
kenyataaan bahwa subyek merupakan orang yang introvert yang tidak terlalu
memiliki banyak teman. Namun, ternyata dengan kondisi ini, subyek tetap mampu
beradaptasi dengan baik. Hal ini mungkin terjadi karena perbedaan orientasi hidup
dari subyek 5 yang mungkin saja tidak terlalu mementingkan perbedaan dalam
lingkungan sosial. Dari sini kami menemukan adanya perbedaan antara subyek 3
dengan subyek 5. Meskipun mereka berdua sama-sama tidak memiliki latar
belakang penguasaan Bahasa Indonesia atau informasi mengenai Indonesia
selama di negara asalnya, namun cara mereka dalam menyesuaikan diri terlihat
berbeda. Pada subyek ke 3 meskipun kemampuan komunikasinya kurang, dia
tetap merasa senang. Dia mengakui kelemahan yang dia miliki namun masih
berusaha bergaul dengan lingkungannya guna mengurangi kelemahannya dalam
bahasa Indonesia. Pada subyek 5 dirasakan individu tidak menyadari tentang
kekurangannya dan lebih menarik diri dari lingkungan sosial dengan lebih
berfokus pada kuliahnya. Hal inilah yang mungkin menyebabkan subyek 5 lebih
merasakan kerinduan dengan teman-temannya di negara asal, karena di
lingkungan barunya subyek tidak memiliki banyak teman.

41
V.3. Saran
V.3.1 Saran Untuk Subyek
- Subyek
V.3.2 Saran untuk Peneliti
- Peneliti harus mempersiapkan dan mengecek kembali peralatan yang
diperlukan sebelum melakukan wawancara dengan subyek.
- Peneliti perlu mencobakan alat perekam apakah sudah dapat merekam
suara dengan jelas dan mengecek kembali alat perekam yang
digunakan apakah sudah terekam dengan baik atau belum.
- Ketika membuat janji dengan subyek, hendaknya peneliti
menghubungi subyek jauh-jauh hari dan terus melakukan konfirmasi
dengan subyek mengenai waktu dan tempat akan dilakukan
wawancara.
- Untuk penelitian selanjutnya, peneliti perlu meminta saran dari subyek
uji coba dalam mengevaluasi kosakata atau pembendaharaan kata yang
familiar dan mudah dimengerti oleh mahasiswa asing. Hal ini
dilakukan agar jawaban dari setiap subyek sesuai dengan pertanyaan
yang diajukan dan agar peneliti tidak melakukan leading question
kepada subyek.
- Untuk penelitian selanjutnya, peneliti perlu membuat dan menyusun
pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan dengan lengkap, jelas, dan
sebaik mungkin agar dapat menggali informasi yang lebih banyak dan
lebih dalam.

42
DAFTAR PUSTAKA

Al-Sharideh, K. A., & Goe, W. R. (1998). Ethnic communities within the


university: An Examination of Factors Influencing the Personal adjustment
of international students. Research in Higher Education, 39(6), 699-725.
In A Literature Study of Cross-cultural Adaptation in North America:
Chinese Students’Difficulties and Strategies.
Calhoun, J.F. dan J. R. Acocella. 1995. Psikologi tentang Penyesuaian dan
Hubungan Kemanusiaan. Alih Bahasa : Satmoko. Edisi Ketiga. Cetakan
Pertama. Semarang: IKIP Semarang Press.
Chen, N. (1996). Public relations in China: the introduction and development of
an occupational field. In H. M. Culbertson & N. Chen (Eds.),
International public relations: a comparative analysis (pp. 121-153). In A
Literature Study of Cross-cultural Adaptation in North America: Chinese
Students’Difficulties and Strategies. New Jersey: Lawrence Erlbaum
Associates, Inc.
Cross, S.E.(1995). Self-construals, coping, and stress in cross-cultural adaptation,
Journal of Cross-cultural psychology, 26(6), 673-697. In A Literature
Study of Cross-cultural Adaptation in North America: Chinese
Students’Difficulties and Strategies.
Cushner, K. & Karim A. U. (2004). Study abroad at the university level. In D.
Landis, J. M. Bennett, & M. J. Bennett (Eds.), Handbook of intercultural
training (pp289-308). In A Literature Study of Cross-cultural Adaptation
in North America: Chinese Students’Difficulties and Strategies. Caliornia:
Sage Publications.
Davidoff. (1991). Psikologi Suatu Pengantar. Jilid 2. Alih Bahasa : Mari Jumiati.
Jakarta: Erlangga
Deddy Mulyana dan Jalaluddin Rakhmat. Komunikasi Antarbudaya:Panduan
Berkomunikasi dengan Orang-Orang Berbeda Budaya. 2006.
Bandung:Remaja Rosdakarya.hal.25
Flick, U. (1998). Adjustment: An Introduction to Qualitative Research. London:
SAGE publications.

43
Furnham, A.& Bochner, S. (1986). Culture shock: psychological reactions to
unfamiliar environments. In A Literature Study of Cross-cultural
Adaptation in North America: Chinese Students’Difficulties and
Strategies. New York: Methuen.
Hapsari, Mudi. (2008). Pengaruh Coping dan Dukungan Sosial terhadap
Acculturative Stress pada Mahasiswa Indonesia yang Kuliah di Luar
Negeri. Skripsi.
Hariyadi, Sugeng., Soeparwoto., Rulita Hendriyani., dan Liftiah. 2003. Psikologi
Perkembangan. Cetakan Pertama. Semarang: UPT MKDK Universitas
Negeri Semarang.
Hodge, S. (2000). Global smarts: the art of communicating and deal making
anywhere. In the world. In A Literature Study of Cross-cultural Adaptation
in North America: Chinese Students’Difficulties and Strategies. New
York: Wiley.

Kumar, R. (1999). Research Metodology. London: SAGE Publications.


Nicholson, M. W. (2001). Adaptation of Asian students to American culture. In In
the world. In A Literature Study of Cross-cultural Adaptation in North
America: Chinese Students’Difficulties and Strategies. New York: Wiley.
Papalia, Diane E., et.al. (2008). Human Development (Psikologi Perkembangan)
(9th Ed). Jakarta: Erlangga.
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 25 Tahun
2007 tentang Persyaratan dan Prosedur bagi Warga Negara Asing untuk
Menjadi Mahasiswa pada Perguruan Tinggi di Indonesia. Jakarta.
Poerwandari, K. (2001). Pendekatan kualitatif untuk penelitian perilaku manusia.
Depok: LPSP3 fakultas psikologi universitas indonesia.
Santrock, J. W. (2003). Adolescence: Perkembangan Remaja (6th Ed). Jakarta:
Erlangga.
Sunarto dan Hartono. 1995. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta : Direktorat
Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Taylor, S.J. & Bogdan, R. (1998). Introduction to Qualitative Research Methods:
A Guidebook and Resource (3rd ed.) Canada: John Wily and Sons, Inc.

44
Ting-Toomey, S., & Chung, L. C. (2005). Understanding intercultural
communication. In A Literature Study of Cross-cultural Adaptation in
North America: Chinese Students’Difficulties and Strategies. California:
Roxbury Publication Corporation.
Ward, C., Bochner, S., & Furnham, A. (2001). The Psychology of Culture Shock
(2nd Ed). London : Routledge.
Ward, C. & Kennedy, A. (1994). Acculturation strategies, psychological
adjustment, and sociocultural competence during cross-cultural transitions.
International Journal of Intercultural Relations, 18(3), 329-343. In A
Literature Study of Cross-cultural Adaptation in North America: Chinese
Students’Difficulties and Strategies.
Young, Y. K. (2004). Long-term cross-cultural adaptation. In D. Landis, J. M.
Bennett, & M. J. Bennett (Eds.), Handbook of intercultural training
(pp337-362). In A Literature Study of Cross-cultural Adaptation in North
America: Chinese Students’Difficulties and Strategies. California: Sage
Publications.
Zimmerman, S. (1995). Perceptions of intercultural communication competence
and international student adaptation to an American campus.
Communication Education, 44(4), 321-335. In A Literature Study of
Cross-cultural Adaptation in North America: Chinese Students’Difficulties
and Strategies.
(http://www.jakarta.go.id/jakartaku/pariwisata_budaya.htm) diakses pada tanggal
5 Novermber 2010, pukul 22.00 WIB
(http://www.eastasianculture.com/) diakses pada tanggal 5 November 2010, pukul
22.00 WIB
(http://www.indonesiamedia.com/2004/05/early/budaya/budaya-0504-
bhinneka.htm) diakses pada tanggal 5 November 2010, pukul 23.00 WIB.

45
Panduan Wawancara

1. Pertanyaan inti
Bagaimana gambaran karakteristik penyesuaian diri yang baik pada
mahasiswa asing yang baru belajar di Universitas Indonesia?
2. Pertanyaan turunan
• Keterampilan berkomunikasi
1. Bagaimana hubungan kamu dengan teman-teman baru yang
berbeda budaya dikampus?
2. Apakah kamu memiliki teman dekat?
• Pengalaman sebelumnya
1. Apakah kamu pernah tinggal di luar negeri dalam waktu yang lama
sebelumnya?
• Trait personal (mandiri atau toleransi)
1. Ceritakan kepada saya gambaran kepribadian kamu secara
umum? Kamu orangnya kayak apa?
2. Untuk menyesuaikan diri, apakah kamu berfikir untuk
merubah diri kamu sesuai dengan karakteristik lingkungan baru?
• Variasi kebudayaan :
1. Pada awalnya, apakah kamu merasa kesulitan berkomunikasi
dengan menggunakan bahasa Indonesia?
2. Bagaimana pendapatmu mengenai karakter orang-orang Indonesia?
3. Kesulitan apa yang kamu temui dalam menyesuaikan diri dengan
gaya hidup di Indonesia?
• Akademik
1. Bagaimana cara kamu menyesuaikan diri dengan sistem
perkuliahan di UI?
2. Menurut kamu, apa perbedaan sistem perkuliahan di Indonesia
dengan sistem perkuliahan di negara asalmu?
3. Kesulitan apa saja yang kamu hadapi di perkuliahan?
4. Bahasa pengantar apa yang dipakai pada perkuliahan?

46
• Homesickness
1. Apakah kamu pernah merasa rindu pada keluarga?
2. Pada situasi apa saja yang membuat kamu
merindukan keluarga ataupun negara kamu?
3. Pernahkah kamu merasa kesepian di kampus?
4. Jika iya, apa yang kamu lakukan ketika kamu
sedang merasa kesepian?
• Tahap adaptasi
1. Bagaimana cara kamu agar kamu diterima di lingkungan sosial di kampus?
2. Apa hal pertama yang kamu lakukan ketika pertama kali kuliah di UI?
3. Apa saja hambatan yang kamu rasakan untuk beradaptasi di Indonesia?
4. Berapa lama waktu yang kamu butuhkan untuk dapat berbaur
dengan lingkungan baru?
5. Apa yang kamu lakukan ketika kamu menghadapi masalah
dengan lingkungan baru?

47