Anda di halaman 1dari 9

ILMU DASAR KEPERAWATAN IIA

“PENGUKURAN FERTILITAS TAHUNAN”

oleh:
Julvainda Eka Priya U (102310101032)
Ahmad Naufal Alfarisi (102310101040)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


UNIVERSITAS JEMBER
2011
PEMBAHASAN

A. Fertilitas

Fertilitas sebagai istilah demografi diartikan sebagai hasil reproduksi yang


nyata dari seorang wanita atau kelompok wanita. Dengan kata lain fertilitas ini
menyangkut banyaknya bayi yang lahir hidup. Fertilitas mencakup peranan
kelahiran pada perubahan penduduk.
Istilah fertilitas adalah sama dengan kelahiran hidup (live birth), yaitu
terlepasnya bayi dari rahim seorang perempuan dengan ada tanda-tanda
kehidupan; misalnya berteriak, bernafas, jantung berdenyut, dan sebagainya
(Mantra, 2003:145).
Seorang perempuan yang secara biologis subur (fecund) tidak selalu
melahirkan anak-anak yang banyak, misalnya dia mengatur fertilitas dengan
abstinensi atau menggunakan alat-alat kontrasepsi. Kemampuan biologis seorang
perempuan unuk melahirkan sangat sulit untuk diukur. Ahli demografi hanya
menggunakan pengukuran terhadap kelahiran hidup (live birth).
Pengukuran fertilitas lebih kompleks dibandingkan dengan pengukuran
mortalitas, karena seorang perempuan hanya meninggal satu kali, tetapi ia dapat
melahirkan lebih dari seorang bayi. Disamping itu seorang yang meninggal pada
hari dan waktu tertentu, berarti mulai saat itu orang tersebut tidak mempunyai
resiko kematian lagi. Sebaliknya seorang perempuan yang telah melahirkan
seorang anak tidak berarti resiko melahirkan dari perempuan tersebut menurun.
Memperhatikan kompleksnya pengukuran terhadap fertilitas tersebut, maka
memungkinkan pengukuran terhadap fertilitas ini dilakukan dengan dua macam
pendekatan : pertama, Pengukuran Fertilitas Tahunan dan kedua, Pengukuran
Fertilitas Kumulatif
1. Pengukuran Fertilitas Tahunan
pengukuran kelahiran bayi pada tahun tertentu dihubungkan dengan
jumlah penduduk yang mempunyai resiko untuk melahirkan pada tahun
tersebut. Pengukuran Fertilitas Tahunan terdiri dari :
a. Angka Kelahiran Kasar atau Crude Birth Ratio (CBR)
Angka Kelahiran Kasar dapat diartikan sebagai banyaknya kelahiran hidup
pada suatu tahun tertentu tiap 1000 penduduk pada pertengahan tahun. Atau
dengan rumus dapat ditulis sebagai berikut :

CBR =

Dimana :
CBR : Crude Birth Rate atau Angka Kelahiran Kasar
Pm : Penduduk pertengahan tahun
k : Bilangan konstan yang biasanya 1.000
B : Jumlah kelahiran pada tahun tertentu

Contoh soal :
Pada tahun 1975 jumlah penduduk indonesia pada pertengahan tahun
sebesar 136.000.000 orang, sedangkan jumlah kelahiran pada tahun tersebut
sebesar 5.834.400. tingkat fertilitas kasar untuk indonesia pada tahun 1975
adalah ?

CBR =

= 42,9
Ini berarti di indonesia pada tahun 1975 setiap 1000 penduduk terdapat
42,9 kelahiran
Kebaikan dari perhitungan CBR ini adalah perhitungan ini sederhana,
karena hanya memerlukan keterangan tentang jumlah anak yang dilahirkan dan
jumlah penduduk pada pertengahan tahun. Sedangkan kelemahan dari
perhitungan CBR ini adalah tidak memisahkan penduduk laki-laki dan
penduduk perempuan yang masih kanak-kanak dan yang berumur 50 tahun
keatas. Jadi angka yang dihasilkan sangat kasar.

b. Angka Kelahiran Umum atau General Fertility Rate (GFR)


Angka Kelahiran Umum adalah banyaknya kelahiran tiap seribu wanita
yang berumur 15-49 tahun atau 15-44 tahun. Dapat ditulis dengan rumus
sebagai berikut :

GFR =

Dimana :
GFR : Tingkat Fertilitas Umum
B : Jumlah kelahiran
Pf (15-49) : Jumlah penduduk perempuan umur 15-49 tahun pada pertengahan
Tahun
Contoh Soal
Pada tahun 1964 jumlah penduduk perempuan usia subur umur (15-49)
tahun di indonesia besarnya 30.351.000 jiwa, sedangkan jumlah kehiran pada
tahun tersebut sebesar 2.982.000 bayi. Tingkat fertilitas umum untuk indonesia
tahun 1964 adalah ?

GFR =

= 98,25
Ini berarti 98,25 kelahiran per 1000 perempuan usia15-49 tahun
Kebaikan dari perhitungan GFR ini adalah perhitungan ini lebih cermat
daripada CBR karena hanya memasukkan wanita yang berumur 15-49 tahun
atau sebagai penduduk yang exposed to risk. Kelemahan dari perhitungan GFR
ini adalah tidak membedakan risiko melahirkan dari berbagai kelompok umur,
sehingga wanita yang berumur 40 tahun dianggap mempunyai risiko
melahirkan yang sama besarnya dengan wanita yang berumur 25 tahun.

c. Angka Kelahiran menurut Kelompok Umur atau Age Specific Fertility


Rate (ASFR)
Terdapat variasi mengenai besar kecilnya kelahiran antar kelompok
penduduk tertentu, karena tingkat fertilitas penduduk ini dapat pula dibedakan
menurut: jenis kelamin, umur, status perkawinan, atau kelompok-kelompok
penduduk yang lain. Diantara kelompok perempuan usia reproduksi (15-49)
terdapat variasi kemampuan melahirkan, karena itu perlu dihitung tingkat
fertilitas perempuan pada tiap-tiap kelompok umur Age Specific Fertility Rate
(ASFR). Sehingga, ASFR dapat diartikan sebagai banyaknya kelahiran tiap
seribu wanita pada kelompok umur tertentu, dengan rumus sebagai berikut:

i
ASFR =
i

Dimana:
ASFR : Age Specific Fertility Rate
Bi : Jumlah kelahiran bayi pada kelompok umur i
Pfi : Jumlah perempuan kelompok umur i pada pertengahan tahun
k : Angka konstanta 1.000
Dari contoh perhitungan di atas terlihat bahwa tingkat fertilitas perempuan
tinggi pada kelompok umur 20-34 tahun, dan terendah pada kelompok umur
45-49 tahun.
Kebaikan dari perhitungan ASFR ini adalah perhitungan ini lebih cermat
dari GFR Karena sudah membagi penduduk yang exposed to risk ke dalam
berbagai kelompok umur. Dengan ASFR dimungkinkan pembuatan analisis
perbedaan fertilitas (current fertility) menurut berbagai karakteristik wanita.
Dengan ASFR dimungkinkan dilakukannya studi fertilitas menurut kohort.
ASFR ini merupakan dasar untuk perhitungan ukuran fertilitas dan reproduksi
selanjutnya. Kelemahan dari perhitungan ASFR ini adalah membutuhkan data
yang terinci yaitu banyaknya kelahiran untuk kelompok umur. Sedangkan data
tersebut belum tentu ada di tiap negara/daerah, terutama di negara yang sedang
berkembang. Jadi pada kenyataannya sukar sekali mendapat ukuran ASFR.
Kemudian pada perhitungan ini tidak menunjukkan ukuran fertilitas untuk
keseluruhan wanita umur 15-49 tahun.
d. Tingkat Fertilitas Menurut Urutan Kelahiran atau Birth Order
Specific Fertility Rates
Tingkat fertilitas menurut urutan kelahiran sangat penting untuk mengukur
tinggi rendahnya fertilitas suatu Negara. Kemungkinan seorang istri untuk
menambah kelahiran tergantung kepada jumlah anak yang telah dilahirkanya.
Seorang istri mungkin menggunakan alat kontrasepsi setelah mempunyai
jumlah anak tertentu, dan juga umur anak yang masih hidup. Tingkat fertilitas
menurut urutan kelahiran dapat ditulis dengan rumus :

i
BOSFR =

Dimana :
BOSFR = Birth Order Specific Fertility Rate
Bo = Jumlah kelahiran urutan ke I
Pf (15-49) = Jumlah perempuan umur 15-49 pertengahan tahun
k = Bilangan konstan = 1.000
Contoh :

Urutan kelahiran Tingkat kelahiran per 1000 perempuan umur 15-49

1942 1960 1967

Pertama 37,5 31,1 30,8

Kedua 22,9 29,2 22,6

Ketiga 11,9 22,8 13,9

Keempat 6,6 14,6 8,3


Kelima 4,1 8,3 4,8

Keenam dan 4,6 7,6 4,5


ketujuh

Kedelapan dan 3,9 4,3 2,7


urutan yang lebih
tinggi

GFR 91,5 118 87,6

penjumlahan dari tingkat fertilitas menurut urutan kelahiran


menghasilkan tingkat fertilitas umum.

DAFTAR PUSTAKA
Mantra, ida bagoes. 2003. Demografi Umum. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/18186/4/Chapter%20II.pdf
http://www.scribd.com/doc/50248180/4/BAB-4