Anda di halaman 1dari 5

Pendapat

Kemana Arah Penerbangan Komersial Indonesia?


Oleh:
Toto Hardiyanto Subagyo
Mobile : 0855 1042 159; e-Mail : thardiyanto@yahoo.co.uk

Pendahuluan
Tidak dapat dipungkiri bahwa industri penerbangan komersial Indonesia telah menjadi
pemicu dan pemacu bagi tumbuhnya industri-industri lain. Namun demikian kejelasan
akan arah pengelolaan industri penerbangan ini beserta ukuran-ukuran keberhasilannya
dipertanyakan mengingat akhir-akhir ini terjadi beberapa peristiwa kecelakaan baik kecil
maupun besar dalam waktu relatif singkat yang telah merenggut banyak nyawa, demikian
juga terjadinya penyimpangan-penyimpangan aturan yang tampak nyata disengaja
dilakukan oleh pihak-pihak penyelenggara penerbangan.

Prasyarat Penerbangan Komersial


Seorang ahli penerbangan menuliskan tiga hal penting yang berlaku dalam dunia
penerbangan komersial, yang disebutnya sebagai The Unique Characteristics of
Commercial Aircraft Flying: (Dempsey, P. S. and Gesell, L. E. Airline Management:
Strategies for the 21st Century. Coast Aire Publications, 1997).
 The airline industry is a service industry which is capital intensive, labour intensive,
and fuel intensive.
 Because it confines people in canisters of aluminium and steel, propelling them
through the skies at speeds of hundreds of miles an hour at elevations of several
miles above the sea level, it is potentially a highly dangerous industry.
 For that reason, it is highly regulated, and requires highly skilled and therefore,
adequately trained and paid employees.
Pertanyaannya adalah; “Apakah para pihak yang terlibat atau berperan dalam
penyelenggaraan penerbangan sudah memahami dan kemudian menggunakannya sebagai
dasar kegiatannya?” Seharusnya sudah, karena inilah sebenarnya prasyarat dalam
penyelenggaraan penerbangan.

1
Pendapat

Pihak-pihak Dalam Penyelenggaraan Penerbangan


Dalam penyelenggaraan penerbangan, ada tiga pihak/kelompok besar yang berinteraksi
dan saling pengaruh mempengaruhi, yaitu;
1. Provider, adalah airline atau air operator, airport, air traffic services, aircraft
maintenance and repair, ground handling, dan usaha lain yang terkait dengan
penyediaan atau penyelenggaraan penerbangan. Pihak/kelompok ini memiliki
kepentingan agar usahanya memberikan sisa hasil usaha yang cukup untuk menjamin
keberlangsungan usahanya. Untuk ini mereka memerlukan pelanggan atau pengguna
jasa yang mengenal, memilih, dan kembali memilih jasa yang disediakannya, bahkan
mau memberi masukan untuk penyempurnaan proses penyediaan jasa yang dimaksud,
yang selanjutnya dapat menjadi pelanggan yang setia, sehingga memberikan
keuntungan usaha.
2. Customer and consumer, adalah pihak pelanggan atau pengguna jasa. Kepentingan
pihak kedua ini adalah mendapatkan jasa penerbangan yang sesuai dengan
harapannya dan sebanding dengan nilai uang yang dibelanjakannya. Pihak ini akan
menilai (mempersepsikan) kualitas jasa yang diterimanya dari pihak pertama, dan ini
akan dapat memperkuat atau meningkatkan operasi tetapi juga sebaliknya dapat
memberhentikan operasi pihak/kelompok pertama tersebut diatas.
3. Regulator, adalah pihak pemerintah, yaitu pihak yang memiliki kepentingan agar
terjadi pertumbuhan industri penerbangan yang berarti. Pihak ini memiliki
kewenangan sekaligus tanggung jawab menetapkan kebijakan-kebijakan dan aturan-
aturan untuk mengarahkan interaksi pihak/kelompok pertama dan kedua guna
kepentingannya.
Dengan melihat hal-hal tersebut diatas, airline merupakan kegiatan yang langsung
berhadapan dengan pelanggan atau pengguna jasa penerbangan, dan menjadi terdepan
untuk membentuk persepsi masyarakat pengguna atas penyelenggaraan penerbangan.
Seorang pengamat penerbangan menggambarkan kegiatan airline sebagai: (Barry, W.S.
Airline Management. George Allen and Unwin, Ltd., 1965). “Airlines promise to get
people and goods to their destinations, based on the schedules that they publish”.

Tujuan Penyelenggaraan Penerbangan

2
Pendapat

Selanjutnya, dengan memenuhi prasyarat diatas, penyelenggaraan penerbangan yang


melibatkan ketiga pihak/kelompok tersebut harus memiliki tujuan dengan cakupan, antara
lain termasuk;
a. Terwujudnya jejaring penerbangan dengan rute-rute yang menghubungkan satu
tempat ketempat (tempat) lain, dan frekuensi penerbangan disertai jadwal yang dapat
diandalkan keteraturan dan ketepatannya, kapasitas daya angkut yang cukup/memadai
untuk melayani kebutuhan masyarakat didaerah penerbangan tersebut, kenyamanan
layanan yang sesuai dengan harapan yang dipersepsikan oleh masyarakat yang
dimaksud.
b. Harga jual yang sesuai dengan daya beli rata-rata masyarakat pelanggan/pengguna
jasanya, dan sepadan dengan nilai layanan yang akan atau diterima oleh masyarakat
tersebut, serta kemudahan memesan dan memperoleh jasa penerbangan yang
dimaksud.
c. Konsistensi penyelenggaraan penerbangan berikut layanan yang dijanjikan oleh
penyelenggara penerbangan, keselamatan dan keamanan, dan keteraturan/kesesuaian
pada aturan-aturan penerbangan dan standar industri, serta mengacu pada nilai-nilai
ekonomi usaha baik bagi penyelenggara penerbangan maupun juga masyarakat
pelanggan/penggunanya.
Pada akhirnya, terwujudnya suatu sistem yang dapat menjamin berlangsungnya operasi
penerbangan dalam berbagai situasi baik normal maupun tidak normal adalah tujuan
akhir terpenting. Ini merupakan wujud tanggung jawab dari Provider dan Regulator
terhadap masyarakat pelanggan dan pengguna jasa dalam permasalahan penerbangan
komersial Indonesia.

Selanjutnya, dengan memahami semua hal tersebut diatas, sudahkah dapat dijawab;
“Kemana Arah Penerbangan Komersial Indonesia?”

Menetapkan Arah Penerbangan Indonesia


Kesepahaman melalui keterlibatan intensif ketiga pihak/kelompok besar yang terlibat
dalam penyelenggaraan penerbangan komersial di Indonesia tidak dapat dilakukan bila
hanya ada instruksi pemerintah sebagai Regulator, atau bila hanya kumpul-kumpul

3
Pendapat

diantara asosiasi pelaku industri saja, atau hanya mendengarkan permintaan dan keluhan
pelanggan/pengguna jasa saja, bahkan mungkin hanya sambil lalu saja, masing-masing
pihak menerka-nerka lalu mereka-reka sendiri saja.

Suatu kerangka yang dapat ditawarkan untuk menetapkan arah penyelenggaraan


penerbangan komersial yang dimaksud, secara masing-masing pihak/kelompok, dan/atau
bersama, adalah;
1. Mengerti tujuan penerbangan komersial Indonesia (cakupan kinerja/parameter) dan
menetapkan sasaran-sasaran rinci (berupa angka-angka terukur) yang disepakati.
2. Memahami standar industri penerbangan, dan menta’ati aturan-aturan yang
mengikutinya, baik yang diatur secara Nasional maupun Internasional.
3. Mengelola Critical Success Factors (CSFs) dari organisasi usaha, termasuk
kompetensi profesi penerbangan yang ada pada masing-masing pihak/kelompok.
4. Mengatur sistem komunikasi yang efektif agar terjadi interaksi antara Regulator,
Provider, dan pelanggan/pengguna jasa, serta pihak-pihak lain terkait, termasuk
dengan memanfa’atkan teknologi informasi terkini.
5. Memperhitungkan aspek-aspek kontekstual yang berpengaruh pada industri
penerbangan dan organisasi usaha masing-masing pihak/kelompok.
6. Melakukan pengukuran-pengukuran pada kinerja penerbangan yang tercapai sesuai
dengan butir 1 dan 2 diatas.
7. Melakukan perbandingan-perbandingan antara kinerja yang tercapai dengan yang
sebelumnya, juga antara kinerja penerbangan Indonesia dengan Negara-negara lain
yang dianggap sesuai untuk diperbandingkan.
8. Menjadikan kegiatan ini sebagai kegiatan berlanjut (never ending process), misalnya
melalui penetapan kebijakan dan aturan-aturannya yang dapat menjamin kelanjutan
penggunaan kerangka ini.
Sebagai langkah awal yang nyata, dapat diusulkan untuk memulainya dengan melihat
kembali dan menyempurnakan, serta berusaha menggunakan rencana kerja Regulator
(Departemen Perhubungan, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara), yang sejak
beberapa tahun terakhir ini sudah terpampang pada halaman website Departemen
Perhubungan.

4
Pendapat

Keikutsertaan ketiga pihak/kelompok tersebut diatas tidak dapat digantikan atau


diabaikan karena inilah justru yang akan berfungsi sebagai fungsi pengendalian (control)
dari arah yang diharapkan. Karena penetapan arah penerbangan komersial Indonesia
memang harus dilakukan oleh Regulator melalui kebijakan-kebijakan dan aturan-aturan,
namun diwujudkan dalam bentuk kinerja operasi penerbangan oleh Provider, dengan
mengikuti persyaratan atau harapan pelanggan/pengguna jasa, serta memenuhi standar
industri.

Penutup
Kalau suatu kegiatan usaha tidak diketahui ukuran keberhasilannya maka kegiatan
tersebut tidak akan pernah bisa dikelola untuk diarahkan mencapai keberhasilannya
karena tidak ada ukurannya. Inikah yang terjadi pada dunia penerbangan Indonesia?,
tidak diketahui arahnya?, bila jawabannya “ya”, maka tidaklah heran bila setiap kejadian
baik kecil (incident) maupun kecelakaan besar (accident) dalam penerbangan Indonesia
(termasuk kebangkrutan perusahaan, penyimpangan prosedur, permasalahan hubungan
industrial, ketidak cukupan kompetensi profesi, dll.) tidak dapat dicegah apalagi
diantisipasi dan bahkan cenderung tidak bisa diselesaikan walaupun sudah terjadi.
Semoga tidak seperti ini adanya.

Jakarta, 17 Mei 2009

Toto Hardiyanto Subagyo


Mobile : 0855 1042 159
e-Mail : thardiyanto@yahoo.co.uk