Anda di halaman 1dari 19

PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA

PEWACANAAN WANAFARMA TEMPORER TANAMAN


ENDEMIK DENGAN METODE PENANAMAN
TUMPANGSARI DALAM USAHA PERCEPATAN
REHABILITASI LAHAN GUNDUL GUNUNG MERAPI

BIDANG KEGIATAN :
PKM-GT

DIUSULKAN OLEH :

Yanuar Sinto Anggoro (07/253849/FA/07815 Angkatan 2007)

Jefrina Ayu Wadhani (09/280659/FA/08283 Angkatan 2009)

UNIVERSITAS GADJAH MADA


YOGYAKARTA
2011
PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA

PEWACANAAN WANAFARMA TEMPORER TANAMAN


ENDEMIK DENGAN METODE PENANAMAN
TUMPANGSARI DALAM USAHA PERCEPATAN
REHABILITASI LAHAN GUNDUL GUNUNG MERAPI

BIDANG KEGIATAN :
PKM-GT

DIUSULKAN OLEH :

Yanuar Sinto Anggoro (07/253849/FA/07815 Angkatan 2007)

Jefrina Ayu Wardani (09/280659/FA/08282 Angkatan 2009)

UNIVERSITAS GADJAH MADA


YOGYAKARTA
2011

i
HALAMAN PENGESAHAN
1. Judul Kegiatan : Pewacanaan Wanafarma Temporer Tanaman
Endemik dengan Metode Penanaman
Tumpangsari dalam Usaha Percepatan
Rehabilitasi Lahan Gundul Gunung Merapi
2. Bidang Kegiatan : ( ) PKM-AI (√) PKM-GT
3. Ketua Pelaksana Kegiatan
a. Nama Lengkap : Yanuar Sinto Anggoro
b. NIM : 07/253849/FA/07815
c. Jurusan : Ilmu Farmasi
d. Universitas : Universitas Gadjah Mada
e. Alamat Rumah dan No HP : Sanggrahan, RT 02, RW 15, Tlogoadi, Mlati,
Sleman.
f. Alamat Email : yanz51nt0@gmail.com
4. Anggota Penulis : 2 orang
5. Dosen Pendamping
a. Nama Lengkap : Prof. Dr. Sudarsono, Apt.,
b. NIP : 195003241975101002
c. Alamat Rumah dan No HP : Perumahan Bale Agung, Kav 7, Jl. Kalimantan,
Sinduadi, Mlati, Sleman. (0811282101)

Yogyakarta, 2 Maret 2011


Menyetujui,
Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan
Riset dan Kerja Sama Fakultas Farmasi Ketua Pelaksana Kegiatan

Dr. Edy Meiyanto, M.Si., Apt. Yanuar Sinto Anggoro


NIP. 196205021989031006 NIM. 07/253849/FA/07815

Mengetahui,
Direktur Kemahasiswaan
Universitas Gadjah Mada Dosen Pendamping

Drs. Haryanto, M.Si. Prof. Dr. Sudarsono, Apt


NIP.195805021987031002 NIP. 195003241975101002

ii
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala anugerah dan bimbingan-
Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan PKM-GT dengan judul “Rehabilitasi Lahan
Gundul Gunung Merapi dengan Tanaman Obat Sebuah Usaha Pemulihan dan Pengembangan
Wisata Wanafarma” tepat pada waktunya.
Selama penyusunan karya tulis ini, penulis dibantu oleh beberapa pihak. Oleh karena
itu penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada :
1. Bapak Prof. Dr. Sudarsono, Apt., selaku dosen pendamping PKM GT 2011 ini.
2. Bapak Djoko Santosa, S.Si., M.Si. selaku pembimbing Kelompok Studi JATROPHA.
3. Bapak Edy Meiyanto selaku Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan Riset dan Kerja
Sama Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada.
4. Bapak Drs. Haryanto, M.Si. selaku Direktur Kemahasiswaan Universitas Gadjah
Mada.
5. Rekan-rekan di Kelompok Studi Jelajah Alam Tropis Pharmacy (JATROPHA) yang
telah memberikan dukungan dalam pengerjaan PKM-GT ini.

Yogyakarta, 2 Maret 2011

Penulis

iii
DAFTAR ISI
HALAMAN PENGESAHAN........................................................................................................................ii

KATA PENGANTAR.................................................................................................................................iii

DAFTAR ISI.............................................................................................................................................iv

RINGKASAN.............................................................................................................................................v

PENDAHULUAN......................................................................................................................................1

Latar Belakang...................................................................................................................................1

Tujuan dan Manfaat..........................................................................................................................2

GAGASAN...............................................................................................................................................2

Problematika yang Terjadi.................................................................................................................2

Solusi yang Ditawarkan......................................................................................................................3

Keterkaitan Problem dengan Solusi...................................................................................................6

Pihak yang Berpotensi Dilibatkan......................................................................................................7

Langkah Strategis yang Harus Dilakukan...........................................................................................9

KESIMPULAN........................................................................................................................................10

DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................................................11

LAMPIRAN............................................................................................................................................12

iv
RINGKASAN
Latar Belakang : Erupsi Merapi tahun 2010 menyebabkan kerusakan hutan parah. Ini
berakibat pada kondisi ekosistem yang telah setimbang sebelumnya. Penanaman tanaman
dalam rangka reboisasi terhambat akan belum siapnya lahan tanah akibat mineral dari debu
vulkanik.
Tujuan dan Manfaat : Tujuan dari gagasan ini adalah turut memberikan andil dalam
mempercepat proses rehabilitasi lahan gundul Merapi. Sedangkan manfaat yang diinginkan
yaitu terbukanya suatu pengetahuan mengenai pengelolaan hutan yang sustainable.
Gagasan : Gagasan utama dari PKM-GT ini adalah dikembangkannya suatu wanafarma
dengan fungsi sebagai tumbuhan perintis untuk mempersiapkan lahan.
Kesimpulan : Kesimpulan dari PKM-GT ini adalah bahwa wacana pengembangan wanafarma
dapat diterapkan dalam mempercepat rehabilitasi lahan gundul di lereng Merapi.

v
1
Pewacanaan Wanafarma Temporer Tanaman Endemik dengan Metode Penanaman
Tumpangsari dalam Usaha Percepatan Rehabilitasi Lahan Gundul Gunung Merapi

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Erupsi merapi tahun 2011 sangat luas dampaknya. Mulai dari dampak
psikis warga Yogyakarta, perekonomian, pendidikan, serta lingkungan mengalami
perubahan besar akibat erupsi merapi. Banyaknya korban jiwa, luka-luka,
kehilangan harta, serta rusaknya rumah dan lahan pekarangan memberikan efek
traumatik bagi kejiwaan warga Yogyakarta. Dunia pendidikan Yogyakarta pun
sempat lumpuh selama kurang lebih 2 minggu dikarenakan fokusnya civitas
akademika baik sebagai korban maupun relawan. Ini menunjukkan keistimewaan
tak hanya terletak pada pimpinan daerahnya tetapi juga warga DIY dengan
tingginya tingkat empati kepada orang lain. Lingkungan pun mengalami dampak
yang sangat besar. Lahan perkebunan sebagian besar gagal panen buah karena abu
merapi. Udara di hampir seluruh kawasan Yogyakarta tercemar abu selama
hampir satu bulan. Lahan hutan Taman Nasional Gunung Merapi-Merbabu rusak
lebih dari 30 hektar. Oleh karenanya pemulihan keadaan perlu segera dilakukan.
Lahan hutan Merapi yang rusak ternyata berdampak banyak bagi
kehidupan baik manusia maupun lingkungannya. Antara hutan, masyarakat, serta
lingkungan sekitar telah sejak lama terjadi kesetimbangan yang menyebabkan
ketergantungan satu sama lain. Hal ini tak lepas dari kearifan lokal serta sikap
saling toleran tiap elemen masyarakat yang menciptakan nuansa saling
membutuhkan. Dari nuansa ini kemudian berkembang menjadi suatu siklus
kehidupan yang sustainable. Kehidupan berpola sustainable telah diterapkan
masyarakat lereng merapi dalam segala bidang baik sosial, ekonomi, maupun
lingkungan. Oleh karenanya bila salah satu elemen utama yaitu hutan mengalami
perubahan besar hal ini tentu saja akan turut mengubah siklus kehidupan
sustainable tersebut.
Demi memulihkan pola kehidupan yang telah tercipta di lereng Gunung
Merapi maka saat ini pemerintah dan masyarakat perlu melakukan reboisasi
secara serius dan terpantau. Sehubungan dengan hal tersebut, maka
penyelenggaraan reboisasi ini harus memperhatikan aspirasi dan
2
Pewacanaan Wanafarma Temporer Tanaman Endemik dengan Metode Penanaman
Tumpangsari dalam Usaha Percepatan Rehabilitasi Lahan Gundul Gunung Merapi

mengikutsertakan masyarakat telah menjadi landasan yang utama. Bahkan


pemerintah wajib mendorong peran serta masyarakat melalui berbagai kegiatan di
bidang kehutanan yang berdaya guna dan berhasil guna (Pasal 70 UU Kehutanan
No. 41 Tahun 1999).
Usulan mengenai pemulihan hutan yang sesuai tentu saja akan sangat
diharapkan pada saat ini. Oleh karenanya gagasan ini diharapkan dapat turut
mempercepat pemulihan keadaan di Merapi.

Tujuan dan Manfaat


Tujuan dari program ini adalah :
o Turut mempercepat pemulihan keadaan lereng Merapi secara psikososial,
ekonomi, maupun ekologi.
o Turut memberikan andil dalam mempercepat proses persiapan lahan
Merapi untuk dilakukan reboisasi.
o Memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang pengelolaan hutan
secara terpadu.
o Mempererat hubungan pemerintah, peneliti, masyarakat, dan industri
dalam pengelolaan hutan secara sustainable.
Manfaat dari program ini adalah :
o Terbukanya suatu pengetahuan mengenai pengelolaan hutan secara
sustainable. .
o Membantu program pemerintah dalam melaksanakan rehabilitasi lereng
Merapi.

GAGASAN

Problematika yang Terjadi

Terjadinya erupsi Merapi tahun 2010 menyebabkan gundulnya lahan hutan


kawasan Taman Nasional Gunung Merapi. Material vulkanik yang menumpuk
3
Pewacanaan Wanafarma Temporer Tanaman Endemik dengan Metode Penanaman
Tumpangsari dalam Usaha Percepatan Rehabilitasi Lahan Gundul Gunung Merapi

pada lereng merapi sebanyak ratusan juta meter kubik merusak dan menutupi
lahan hutan yang dulu ditumbuhi banyak tumbuhan. Hal ini mengharuskan
dilakukannya rehabilitasi dalam memulihkan kondisi di lereng Merapi baik secara
psikososial dan ekonomi maupun secara ekologis.
Kini pemerintah telah mencanangkan program rehabilitasi yang juga
dibantu oleh LSM serta masyarakat. Pemerintah telah menganggarkan sebanyak
600 milyar rupiah dalam pelaksanaan rehabilitasi Merapi. Namun demikian
permasalahan muncul ketika tanaman yang ditanam masih belum kuat dalam
menerima mineral tanah akibat debu vulkanik. Oleh karenanya perlu dilakukan
persiapan lahan agar tanaman yang akan ditanami dapat bertahan. Secara alami
proses suksesi primer akan terjadi dengan dimulai oleh tumbuhan perintis.
Dengan demikian, bila lahan ini dilakukan penanaman tumbuhan perintis
diharapkan proses persiapan lahan akan lebih cepat.

Solusi yang Ditawarkan

Keadaan lahan di lereng Gunung Merapi tentu saja perlu untuk segera
diperbaiki. Adanya suatu hutan di lereng gunung selain untuk menjadi cadangan
air juga mengikat tanah agar tidak terbawa air. Terlebih pasca erupsi tumpukan
material lahar dingin sangat banyak. Dengan adanya perakaran dari pepohonan
tentu saja akan makin mempenguatkan tanah agar lebih menjadi padat sehingga
tak mudah terbawa air. Tentu saja usulan solusi yang ditawarkan tidak hanya
reboisasi namun lahan gundul itu untuk dijadikan sebagai wilayah taman nasional
dengan fungsi wanafarma. Diharapkan akan lebih banyak lagi fungsi lahan taman
nasional bila berkembang menjadi wanafarma.
Wanafarma berasal dari dua kata yaitu wana dan farma. Wana pada
Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai hutan, sedangkan farma
merupakan obat. Oleh karenanya secara sederhana wanafarma dapat diartikan
sebagai hutan penghasil obat-obatan. Konsep wanafarma merupakan kegiatan
pemanfaatan lahan dengan penanaman tumbuh-tumbuhan sebagai penghasil obat-
obatan di bawah tegakan hutan (Hutan Negara dan Hutan Rakyat). Dengan jenis
4
Pewacanaan Wanafarma Temporer Tanaman Endemik dengan Metode Penanaman
Tumpangsari dalam Usaha Percepatan Rehabilitasi Lahan Gundul Gunung Merapi

tanaman produktif tertentu yang bertujuan memperkaya atau meningkatkan nilai


hutan secara ekonomis dan ekologis sehingga berfungsi sebagai tumpangsari
secara permanen. Berdasarkan definisi tersebut dapat diketahui bahwa fungsi
wanafarma bukanlah hanya sebagai meningkatkan nilai hutan secara ekonomis
tetapi juga secara ekologis. Fungsi peningkatan nilai ekonomis dan ekologis inilah
yang nantinya akan dapat menarik minat masyarakat untuk turut serta aktif dalam
pelaksanaannya.
Wanafarma biasanya merupakan pengembangan dari hutan rakyat. Namun
demikian dapat pula wanafarma dikembangkan pada lahan hutan yang telah ada
secara alami. Paling tidak ada dua cara dalam pengembangan wanafarma.
Menurut Zuhud dkk (2006) pengembangan wanafarma dapat dilakukan dengan
cara in-situ dan ex-situ. Pengembangan wanafarma secara in-situ dilakukan pada
lahan alamiah seperti aslinya. Pengembangan bisa dilakukan di lahan-lahan hutan
yang rusak, lahan-lahan kosong, lahan rusak oleh penjarahan serta bencana
termasuk yang terjadi di Gunung Merapi. Pengembangan wanafarma secara ex-
situ yaitu pengembangan wanafarma di luar habitat aslinya. Secara ex-situ,
wanafarma dapat dikembangkan di kebun buatan. Cara seperti ini seperti
dilakukan di Perkebunan Inti Rakyat (PIR). Baik secara in-situ maupun ex-situ
pastinya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Bila wanafarma
dikembangkan secara in-situ maka keuntungan yang didapatkan tentu saja adalah
lebih mudahnya tanaman untuk beradaptasi pasca penanaman. Ini disebabkan
karena memiliki lingkungan yang sama dengan habitat aslinya. Namun demikian,
kerugian yang didapatkan adalah keterbatasan pengelola dalam merekayasa
lingkungan untuk mendapatkan metabolit yang sesuai dengan keinginan.
Sebaliknya, bila wanafarma dikembangkan secara ex-situ maka akan mendapatkan
keuntungan berupa kemudahan dalam merekayasa lingkungan agar didapat
metabolit sesuai standar yang diinginkan. Kerugiannya yaitu tidak semua tanaman
mudah untuk dikembangkan di lingkungan yang asing bagi tumbuhan tersebut.
Sebagai contoh adalah penanaman tanaman purwoceng (Pimpinella alpina)
sampai sekarang masih sulit untuk dikembangkan di luar Dieng. Meskipun saat ini
purwoceng mulai dapat dibudidayakan di B2P2TO2T (dulu BPTO)
5
Pewacanaan Wanafarma Temporer Tanaman Endemik dengan Metode Penanaman
Tumpangsari dalam Usaha Percepatan Rehabilitasi Lahan Gundul Gunung Merapi

Tawangmangu, namun untuk ke arah produksi simplisia masih belum mencukupi


ketersediaannya.
Rehabilitasi lahan gundul Merapi dapat dilakukan dengan pengembangan
wanafarma secara in-situ. Pengembangan secara in-situ tidak akan mengubah
bentuk hutan dari sebelum erupsi bila dilihat dari keragaman jenisnya. Dengan
demikian yang ditekankan hanya pemanfaatannya. Tanaman yang dikembangkan
bukanlah tanaman-tanaman yang sebelumnya tidak ada di lereng Merapi namun
tanaman yang dulu seperti aslinya (endemik merapi). Ketika penulis berbincang
dengan alm. Mbah Pudjo (menjadi korban meninggal erupsi Merapi tahun 2010),
seorang penduduk setempat Dusun Kinahrejo, kawasan Kali Kuning dulu pernah
ditanami dengan tanaman pinus secara massal sehingga menjadi kawasan hutan
homogen. Tindakan demikian menurut beliau kurang tepat karena pada akhirnya
menyebabkan hutan rawan kebakaran. Setelah dilakukan penelitian, guguran daun
pinus ternyata memang mudah terbakar karena kandungan minyaknya. Pendapat
seperti inilah yang nantinya harus dijadikan masukan serius dalam
mengembangkan kawasan wanafarma. Selain itu dapat pula bila terdapat
pengumpul tanaman obat sebelum terjadi erupsi, dijadikan sebagai sumber
masukan dalam menentukan tanaman apa saja yang harus ditanam untuk
merehabilitasi Merapi. Memang bila dilihat dari sisi saintifik terlihat tidak dapat
dibuktikan kebenarannya. Namun demikian, kearifan lokal merupakan sumber
ilmu yang didasari oleh pengalaman selama ratusan tahun. Oleh karenanya,
kearifan lokal tidak dapat diremehkan keberadaannya.
Pengembangan wanafarma dapat dilakukan secara permanen maupun
secara temporer. Secara permanen maka tanaman yang dikembangkan lebih cocok
berupa tanaman dengan habitus pohon karena memiliki daya ikat tanah yang kuat
sehingga melindungi terjadinya erosi atau bahkan lahar dingin. Pemilihan
tanaman obat dengan habitus pohon pun tidak lantas sembarangan. Untuk
pengembangan secara permanen lebih cocok diisi pohon-pohon yang dipanen
bukan batang atau akarnya tetapi pilih tanaman yang dipanen buah atau daunnya.
Dengan demikian kelangsungan hidup pohon akan terjaga lebih lama. Pada usulan
program ini, konsep wanafarma yang dikembangkan lebih cenderung pada
wanafarma yang bersifat temporer karena tumbuhan yang ditanam difungsikan
6
Pewacanaan Wanafarma Temporer Tanaman Endemik dengan Metode Penanaman
Tumpangsari dalam Usaha Percepatan Rehabilitasi Lahan Gundul Gunung Merapi

sebagai tumbuhan perintis. Tumbuhan perintis adalah tumbuhan yang berfungsi


untuk mempersiapkan nutrisi tanah agar tumbuhan yang akan mengisi lahan
selanjutnya secara permanen lebih mudah tumbuh. Pemilihan tanaman endemik
sebagai tanaman yang dikembangkan pada wanafarma yang digagas bertujuan
agar keaslian ekosistem dalam hutan di Merapi tidak berubah. Bila tanaman yang
dikembangkan merupakan tanaman asing dikhawatirkan nantinya akan merusak
kondisi tanah. Pada penerapannya nanti akan baik bila tanaman yang ditanam
merupakan tanaman semak yang dapat dipanen herbanya tiap tahun atau selama
jangka waktu kurang dari 5 tahun.
Solusi yang diusulkan merupakan solusi yang harusnya dapat turut
membantu mengatasi permasalahan lahan gundul Merapi. Oleh karenanya perlu
dilakukan analisis SWOT terhadap usulan mengenai pengembangan wanafarma
temporer dalam mempercepat pemulihan hutan. Gagasan yang diusulkan memiliki
Strength yaitu penggunaan tanaman obat dengan habitus semak yang endemik
Merapi. Dengan demikian pemulihan hutan tak akan terganggu ekosistemnya
karena telah sesuai dengan tanaman aslinya. Weakness dari gagasan ini adalah
program ini bukanlah program utama untuk mengatasi permasalah kekurangan
bahan industri herbal tetapi sebagai tujuan sampingan. Oleh karenanya bila akan
dilakukan wanafarma dengan maksud pemenuhan kebutuhan bahan baku industri
akan diperlukan lahan laen agar tidak menggangu ekosistem hutan Merapi.
Opportunity dari program yang digagas adalah telah ada antusiasme masyarakat
dalam merehabilitasi hutan. Selain itu sebelum adanya erupsi pun masyarakat
telah punya local wisdom yang turut menjaga kelestarian hutan. Sedangkan threat
dari gagasan ini adalah masih adanya lahar dingin yang terus mengganggu proses
reboisasi hutan. Oleh karenanya, percepatan rehabilitasi dengan wanafarma
seharusnya dilakukan di lokasi-lokasi yang memiliki potensi lahar dingin relatif
kecil.

Keterkaitan Problem dengan Solusi

Problematika yang dihadapi saat ini adalah keberadaan lahan hutan merapi
yang rusak parah oleh adanya erupsi merapi. Lahan hutan rusak baik disebabkan
7
Pewacanaan Wanafarma Temporer Tanaman Endemik dengan Metode Penanaman
Tumpangsari dalam Usaha Percepatan Rehabilitasi Lahan Gundul Gunung Merapi

oleh material lahar panas maupun material lahar dingin. Tutupan material
mencapai ratusan juta meter kubik. Dengan demikian topografi merapi sudah jauh
berubah bila dibanding dengan sebelum erupsi Merapi. Bahkan menurut beberapa
media cetak butuh setidaknya empat tahun untuk memulihkan lahan seperti awal
meskipun masih tanpa adanya tanaman yang tumbuh di atasnya.
Seperti telah diungkapkan sebelumnya, adanya bencana ini telah merubah
kesetimbangan ekosistem di sekitar hutan Merapi. Kehidupan manusia yang
berada di sekitar Merapi pun turut berubah. Padahal sebelum erupsi Merapi
masyarakat sangat bergantung pada keberadaan hutan. Termasuk kehidupan
ekonomi masyarakatnya. Oleh karenanya lahan gundul ini telah menjadi
keharusan untuk direboisasi. Meskipun demikian, dilakukannya reboisasi tidak
lantas mengatasi permasalahan. Selama dilakukan reboisasi, dapur masyarakat
sekitar Merapi tetap harus mengepul. Pengembangan wanafarma juga dapat
menghidupi dan mengedukasi masyarakat tentang tanaman obat.
Program ini dikatakan sebagai pemercepat rehabilitasi lahan bukan hanya
mempercepat pemulihan kehidupan ekonomi masyarakatnya dengan penjualan
simplisia tanaman obat. Penanaman semak-semak tanaman obat yang endemik
merapi, akan berfungsi pula sebagai tumbuhan perintis yang mempersiapkan
mineral dan biologis lahan. Dengan demikian bila ditanamkan secara tumpangsari
dengan tanaman permanen yang akan mengisi lahan diharapkan akan
pertumbuhan tanaman permanen.

Pihak yang Berpotensi Dilibatkan

Proses rehabilitasi lahan gundul Gunung Merapi dengan tanaman obat


endemik Merapi ini membutuhkan peran aktif dari berbagai pihak. Pihak yang
dilibatkan antara lain pemerintah dan masyarakat sebagai pelaku utama.
Pemerintah merupakan penyedia regulasi dalam pengaturan secara hukum dan
politik. Selain itu pemerintah dapat pula menyediakan modal/sarana untuk
memproduksi tanaman obat, sehingga kesulitan modal kerja pada masyarakat
untuk memulai usaha dapat teratasi. Sedangkan masyarakat bertindak sebagai
8
Pewacanaan Wanafarma Temporer Tanaman Endemik dengan Metode Penanaman
Tumpangsari dalam Usaha Percepatan Rehabilitasi Lahan Gundul Gunung Merapi

pengumpul/petani tumbuhan obat. Selain itu, dibutuhkan juga praktisi yang


berpengalaman yang nantinya akan memberikan bimbingan kepada masyarakat
berupa pengetahuan tentang cara mengembangkan atau membudidayakan
tumbuhan obat. Sistem bimbingan yang dilakukan dapat berupa bimbingan sambil
kerja dengan cara pendampingan.
Untuk menunjang keberhasilan program ini diperlukan pengembangan
kemitraan dengan berbagai industri obat Indonesia. Dengan demikian masyarakat
sebagai petani mendapatkan jaminan dalam memasarkan hasil panen, dan industri
obat mendapatkan keuntungan dengan adanya jaminan ketersediaan bahan baku
tanaman obat. Terdapat Bargaining Power yang seimbang dan menguntungkan
antara masyarakat sebagai petani tumbuhan obat dengan para pelaku industri obat
karena keduanya memperhatikan prinsip saling membutuhkan. Namun, dalam hal
ini juga dibutuhkan peran pemerintah sebagai fasilitator yang menjembatani
antara masyarakat dan para pelaku industri.
Fungsi peneliti dapat melibatkan lembaga-lembaga penelitian pemerintah
maupun melibatkan lembaga perguruan tinggi. Di wilayah DIY terdapat banyak
perguruan tinggi baik negeri maupun swasta. Bahkan di UGM ada fakultas yang
dapat berhubungan langsung dengan bidang yang akan dikembangkan yaitu
Fakultas Kehutanan dan Fakultas Farmasi.
Regulator dalam program pemerintah baik pemerintah pusat maupun
pemerintah daerah. Apabila program ini akan dijalankan, maka tetap harus
mengkonsultasikan kepada pihak pemerintah agar terjadi kesepahaman. Dengan
dukungan pemerintah program ini dapat kuat baik secara hukum maupun secara
politik.
Pelaksanaa, perawatan, dan pengelola harus melibatkan masyarakat secara
mandiri maupun dengan bantuan LSM. Namun demikian perlu diperhatikan
bahwa pengelolaan ini harus memperhatikan asas keadilan bagi masyarakat
sehingga terjadinya konflik horisontal akibat perebutan pengelolaan dapat
terhindar.
Dalam pengelolaan hasil panen dan pemasaran selain kerjasama dengan pihak
ketiga. Pihak ketiga yang dapat dilibatkan yaitu industri Farmasi ataupun dengan
dilakukan pemasaran ke pasar manca yang dapat dikelola oleh Asosiasi Produsen dan
9
Pewacanaan Wanafarma Temporer Tanaman Endemik dengan Metode Penanaman
Tumpangsari dalam Usaha Percepatan Rehabilitasi Lahan Gundul Gunung Merapi

Eksportir Tanaman Obat Indonesia (APETOI). Masyarakat juga dapat membentuk suatu
Koperasi Obat Herbal yang dapat menampung hasil panen dan juga sebagai salah satu
pengenalan produk terutama yang telah diolah. . Diperlukan juga dibentuknya suatu
kelompok tani yang nantinya dapat digunakan sebagai forum diskusi dalam pengelolaan
hasil panen. Dari kelompok tani nantinya dapat diatur beberapa hal yang meliputi
penentuan harga jual dan pemasaran sehingga diharapkan tidak ada monopoli harga dari
pihak industri maupun eksportir.
PUSKESMAS juga dapat berperan dengan menggunakan obat herbal hasil
budidaya dari wanafarma baik sebagai pengobatan primer ataupun sebagai pengobatan
komplementer yang sudah terbukti secara ilmiah melalui serangkaian penelitian. Hal ini
dapat terwujud terlebih saat dikombinasikan dengan program saintifikasi jamu dimana
pelayanan kesehatan juga berfungsi sebagai penelitian. Apalagi saat ini telah terbentuk
Ikatan Dokter Herbal Indonesia (IDHI).
Agar program ini dapat terlaksana, maka sumber permodalan pun harus jelas dan
tepat pada penggunaannya. Berikut ini adalah sumber modal yang diharapkan dapat
membantu mewujudkan usulan ini :
o Subsidi pemerintah yang berasal dari biaya pembangunan ataupun dana yang di
alokasikan khusus untuk penanganan pasca bencana.
o Menggunakan sistem kerjasama dengan suatu perusahaan swasta yang bergerak
dibidang obat herbal. Kerjasama ini atas dasar saling membutuhkan antara
masyarakat yang butuh modal kerja dan perusahaan butuh bahan baku. Sehingga
pihak perusahaan bertanggung jawab penuh dari proses perencanaan hingga
pembagian hasil.
o Modal berasal dari pinjaman bank dengan bunga ringan yang pelaksanaannya
diawasi dan dijamin oleh pemerintah.
o Sumbangan dari berbagai lembaga/instansi yang terkait dengan lingkungan
termasuk lembaga perguruan tinggi.
o Dana berasal dari masyarakat itu sendiri ( swadaya )

Langkah Strategis yang Harus Dilakukan

Program ini dapat diwujudkan dengan melakukan pendataan tanamaan asli


hutan Merapi terutama tanaman obat yang berhabitus semak. Pendataan dapat
10
Pewacanaan Wanafarma Temporer Tanaman Endemik dengan Metode Penanaman
Tumpangsari dalam Usaha Percepatan Rehabilitasi Lahan Gundul Gunung Merapi

dilakukan dengan mengambil sumber data primer maupun sekunder. Data primer
dapat diperoleh dari pengumpul obat maupun masyarakat yang telah lama tinggal
bersama hutan di Merapi. Data sekunder dapat diperoleh dari Dephut maupun
lembaga penelitian baik oleh perguruan tinggi maupun oleh lembaga penelitian
pemerintah. Hasil dari data tersebut kemudian diolah untuk menjadikan
pertimbangan apa sajakah tumbuhan yang akan ditanam dalam wanafarma secara
tumpangsari. Karena penanaman dilakukan secara tumpangsari dengan tanaman
pohon yang digunakan untuk reboisasi maka perlu diperhatikan potensi terjadinya
proses allelopathy, yaitu suatu fenomena biologis dalam mempengaruhi
organisme lain.
Apabila telah dilakukan pendataan tanaman hal selanjutnya yang dapat
dilakukan adalah penanaman tanaman obat tersebut. Penanaman ini dapat
dilakukan oleh lembaga pemerintahan yang dikoordinasi oleh pemerintah tingkat
kecamatan. Pada tahapan ini, pengembangan wanafarma dalam rangka percepatan
rehabilitasi harus sudah memiliki status hukum yang jelas. Selain itu telah
memiliki struktur pengelolaan yang jelas pula. Oleh karenanya peran bersama
antara pemerintah dan masyarakat sangat diperlukan pada tahapan ini sampai pada
tahap akhir.

KESIMPULAN

Kesimpulan dari karya tulis ini adalah :


• Program wanafarma dalam rangka melakukan percepatan rehabilitasi
ekosistem lereng Merapi memiliki dua fungsi yaitu mempercepat
perbaikan secara ekonomi dan perbaikan secara ekologi lahan.
• Percepatan rehabilitasi tercipta dengan memfungsikan wanafarma sebagai
tanaman perintis untuk mempersiapkan lahan yang dihijaukan kembali.
• Program ini membutuhkan kerjasama yang terjalin secara berkelanjutan
antara pemerintah, peneliti, masyarakat, dan industri.
11

DAFTAR PUSTAKA

Abdurachman, Nurwati Hadjib. 2006. Pemanfaatan Kayu Hutan Rakyat Untuk Komponen
Bangunan. Bogor : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan. Hlm. 130-148.
Dudung Darusman, Hardjanto. 2006. Tinjauan Ekonomi Hutan Rakyat. Bogor : IPB. Hlm. 4-
13.
Ervizal AM. Zuhud, 2009. Pengembangan Ethno-Forest-Pharmacy (ETNO-WANAFARMA) di
Indonesia. Bogor : Fakultas Kehutanan IPB.
Ervizal AM. Zuhud, Siswoyo, Agus Hikmat, Edhi Sandra. 2000. Pembangunan
Agrowanafarma Berbasis Potensi Bio-regional untuk Pengembangan Industri Obat Asli
Indonesia. Bogor : IPB
Rahmawaty. 2004. Tinjauan Aspek Pengembangan Hutan Rakyat. Sumatera Utara : Fakultas
Pertanian, USU.
12

LAMPIRAN
CURRICULUM VITAE

Nama : Yanuar Sinto Anggoro


Tempat dan Tanggal Lahir : Sleman, 20 Januari 1989
Alamat : Sanggrahan, RT 02, RW 15, Tlogoadi, Mlati, Sleman
No HP : 081931172344
NIM : 07/253849/FA/07815
Riwayat Pendidikan :
SD : SD N Banyuraden I, Gamping, Sleman (1995-1999)
SD N Jetis Pasiraman I, Yogyakarta (1999-2001)
SMP : SMP N 8 Yogyakarta (2001-2004)
SMA : SMA N 4 Yogyakarta (2004-2007)
Pendidikan Tinggi : Fakultas Farmasi UGM (2007-sekarang)
Riwayat Organisasi : Anggota aktif Bhisshak Hiking Association (2006-2007)
Anggota pasif Bhisshak Hiking Association (2007-skrng)
Ketua sementara BSO Jatropha UGM (2008)
Kadiv Petualangan KS Jatropha UGM (2008-2009)
Kadiv Lapangan KS Jatropha UGM (2009-sekarang)
Anggota KSR PMI Cabang Sleman (2009-sekarang)
Karya yang Pernah dibusat :
 Abon Jamur Tiram, Makanan Sehat Antikolesterol (PKM K 2010)
 Kedai Jamu Ilmiah, Peluang Bisnis Pendamping Program Saintifikasi Jamu (PKM GT
2010)

Yogyakarta, 2 Maret 2011

Yanuar Sinto Anggoro


NIM. 07/253849/FA/07815
13

CURRICULUM VITAE

Nama : Jefrina Ayu Wardani


Tempat dan Tanggal Lahir : Metro,3 Agustus 1991
Alamat : Jl. Lintas Liwa Fajar Bulan Lampung Barat
No HP : 085279471759
NIM : 07/280659/FA/08282
Riwayat Pendidikan
SD : SD N 1 Fajar Bulan
SMP : SMP N 1 Way Tenong
SMA : SMA N 5 Bandar Lampung
Pendidikan Tinggi : Fakultas Farmasi UGM minat Farmasi Klinik dan Komunitas
(2009-sekarang)
Riwayat Organisasi : Jatropha
Karya yang Pernah dibuat :-

Yogyakarta, 2 Maret 2010

Jefrina Ayu Wardani


NIM. 09/280659/FA/08282

Beri Nilai